Hasil pencarian
9768 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Empat Upaya Pembunuhan Hitler yang Gagal
UMUR adalah rahasia Tuhan. Berulangkali percobaan pembunuhan menghampirinya, nyawa Der Führer Adolf Hitler tetap selamat. Nyawa Hitler baru menguap di pengujung perang, 30 April 1945, atas keputusannya sendiri: bunuh diri di bunker -nya. Sejarawan Inggris Roger Moorhouse dalam bukunya, Killing Hitler: The Plots, The Assassins, and the Dictator Who Cheated Death, mengungkapkan, setidaknya terjadi 42 kali usaha mengincar nyawa Hitler, baik sebelum ia jadi Kanselir Jerman pada 1933 maupun sudah mengobarkan Perang Dunia II. Hanya sekali jiwa Hitler benar-benar terancam, yakni kala komplotan Plot 20 Juli (1944) meledakkan bom koper yang bikin Hitler luka-luka. Upaya pembunuhan Hitler juga pernah dilakukan salah satu kaki tangan terdekatnya, yakni Albert Speer. Speer merupakan arsitek cemerlang yang juga menteri Persenjataan dan Produksi Perang. Dia pernah mencoba membunuh Hitler dan upayanya jadi upaya terakhir sebelum Hitler bunuh diri.
- Perempuan-perempuan dalam Pelukan Hitler
RUANGAN sedalam 30 kaki di bawah tanah Gedung Kekanseliran Jermanitu begitu muram. Tak ada hiasan meriah, tiada jam dinding, tamu-tamu kehormatan, apalagi katering mewah. Situasi di Führerbunker itu sunyi meski mirip neraka di luarnya karena Pertempuran Berlin (16 April-2 Mei 1945) tengah berkecamuk. Entah tanggal 28 April malam atau 29 April dini hari, Adolf Hitler dan Eva Braunmenanti dengan sabar kedatangan seseorang pejabat yang bakal mempersatukan mereka secara resmi. Hitler berbusana jas formal seperti biasanya, sementara Eva mengenakan gaun taffeta sutera hitam yang membuatnya tetap anggun. Sebagai saksi, hadir Menteri Propaganda Joseph Goebbels dan Ketua Partai Nazi Martin Bormann. Orang yang dinanti, Walter Wagner, akhirnya hadir juga. Ia mesti melalui perjalanan mengerikan untuk mencapai Führerbunker . Bombardir tentara Uni Soviet kian hari kian merangsek ke Führerbunker . Wagner seorang pengacara yang juga kader Partai Nazi yang bekerja di kantor Kementerian Propaganda merangkap pejabat catatan sipil di pemerintah kota (pemkot) Berlin.
- Stauffenberg, Opsir Kepercayaan Hitler
DI tengah semilir angin di halaman Bendlerblock (Markas AD Jerman Nazi), dini hari, 21 Juli 1944, hatinya hancur. Pikirannya terbang jauh membayangkan nasib istri dan tiga anaknya. Pun begitu, Oberst (kolonel) Claus Graf von Stauffenberg masih bisa mengendalikan diri dengan menjaga sikap sebagai perwira meski ia bakal menjelang maut. Dari tempatnya ditahan dekat halaman, setidaknya dua kali Stauffenberg mendengar letusan-letusan senapan regu tembak yang menyasar dua koleganya. Stauffenberg di “kloter” ketiga tak lama kemudian menyusul ke tempat muasal letusan senjata itu bersama koleganya yang lain dan ajudannya, Letnan Werner von Haeften. Jarum jam yang nangkring di salah satu tembok bangunan Bendlerblock menunjuk pukul 1ketika para prajurit yang menahannya menyeret dan meninggalkannya dalam satu barisan dengan koleganya tanpa dibelenggu apapun. Tak lama kemudian, komandan regu tembak mulai memberi aba-aba.
- Laskar Muslim Hitler di Afrika Utara
“MUSUH dari musuhku adalah temanku.” Ungkapan politis tersebut cocok untuk menilai eratnya hubungan Adolf Hitler dengan kalangan dunia Arab di Perang Dunia II. Baik Der Führer dan Amin al-Husseini, wakil dunia Arab, punya musuh bersama: Sekutu dan Yahudi. Al-Husseini tak lain adalah Mufti Besar Yerusalem yang sempat memimpin Pemberontakan Arab di Palestina, 1936-1939. Meski disokong dana oleh bos fasis Italia Benito Mussolini, pemberontakan itu kandas. Al-Husseini lari ke Eropa hingga kemudian bersua Hitler di Berlin pada 28 November 1941. Dalam pertemuannya, Hitler menjanjikan sokongan penuh kepada Al-Husseini untuk jadi pemimpin dunia Arab, mulai dana, senjata, hingga pembentukan askar (laskar) alias prajurit muslim di bawah panji Nazi. Dalam gejolak Perang Dunia II, salah satu unit ternama hasil dari janji Hitler pada Al-Husseini itu adalah Divisi Gunung ke-13 “Handschar” di bawah naungan Waffen-SS (Pasukan Schutzstaffel).
- Akhir Hidup Pemeran Hitler
JIKA di Indonesia ada Amoroso Katamsi (almarhum) sebagai sosok paling cocok memerankan Soeharto dalam film, di Eropa ada Bruno Ganz. Aktor asal Swiss itu perannya dianggap paling mendekati figur diktator Nazi-Jerman Adolf Hitler dalam film Der Untergang ( Downfall ) yang rilis 2004. Sang aktor mengembuskan nafas terakhirnya di usia 77 tahun pada Sabtu, 16 Februari 2019 waktu setempat (Minggu, 17 Februari WIB). Ganz meninggal di kediamannya di Wädenswil, Swiss, setelah berjuang melawan kanker usus yang diidapnya sejak Februari 2018. Lahir di Zürich pada 22 Maret 1941, Ganz menyambi jualan buku sambil bersekolah. Kegandrungannya pada dunia seni peran membawanya hijrah ke Jerman dan bergabung ke Teater Schaubuehne di Berlin. Debutnya di dunia film dimulai dari figuran, sebagai pelayan hotel di film komedi Swiss, Der Herr mit der Schwarzen Melone (1960).
- Perdana Menteri Israel: Pemimpin Muslim Palestina di Balik Holocaust, Bukan Hitler
PERDANA Menteri Israel Benyamin Netanyahu membuat pernyataan kontroversial. Dalam pidatonya di hadapan peserta kongres zionisme sedunia di Yerusalem, Selasa, 20 Oktober 2015 dia mengatakan Adolf Hitler bukan orang yang memerintahkan pembunuhan massal warga Yahudi di Eropa. “Hitler hanya ingin mengusir warga Yahudi dari Jerman,” kata Netanyahu dalam pidatonya. Rencana Hitler itu disampaikan kepada Husseini saat mereka bertemu pada 25 November 1941, di Berlin, Jerman. Namun ide tersebut, demikian kata Netanyahu, ditentang oleh Mufti Agung Palestina Mohammad Amin al-Husseini, pemimpin tertinggi muslim di Palestina pada 1921-1948.
- Sengkarut Pohon Keluarga Hitler
GEDUNG flat dan pub tiga lantai milik keluarga Dafner di Salzburger Vorstadt 15, kota Braunau am Inn, Austria pada sekira pukul 6 petang 20 April 1889 punya penghuni baru. Di salah satu kamar flat sewaanya, seorang penghuni bernama Klara Pölzl melahirkan Adolf Hitler. Kelahiran Adolf kecil dirayakan dengan suka cita. Maklum, sejak dua tahun sebelumnya Klara dan suaminya, Alois Hitler Sr., dirundung nestapa bertubi-tubi. Adolf kecil tak pernah mengenal ketiga kakak kandungnya: Otto meninggal beberapa hari setelah lahir pada 1887, Gustav wafat pada 8 Desember 1887, dan Ida mangkat pada 2 Januari 1888 karena difteri. Adolf kecil merupakan anak keempat dari pernikahan Alois dengan Klara, istri ketiga Alois. Jika ditarik dari garis keturunan ayah, Adolf adalah anak ketujuh Alois yang gemar berselingkuh. Klara, ibunda Adolf, sebelum dinikahi sebagai istri sah kedua merupakan selingkuhan Alois.
- Mencari Untung di Tanah Pembuangan Boven Digoel
KAMP pengasingan Digoel, Papua menjadi momok tersendiri bagi siapapun yang coba-coba memberontak kepada pemerintah kolonial Belanda. Tak hanya dilingkupi hutan belantara sunyi, nyamuk-nyamuk penyebar malaria juga menghantui. Tunjangan minim juga tak cukup untuk penghidupan. Maka berjualan jadi salah satu cara untuk bertahan, sebagaimana dilakukan banyak penghuni Kampung C. Menurut eks Digoelis Muhammad Bondan seperti ditulis Molly Bondan dalam Spanning a Revolution: Kisah Mohammad Bondan, Eks-Digulis, dan Pergerakan Nasional Indonesia , Kampung C adalah kampung paling sibuk di Digoel karena sebagian besar penghuninya membuka warung kecil-kecilan di rumah mereka. “Wujud warung itu tidak lebih dari sebuah meja yang diberi taplak, diletakkan di depan pintu atau jendela yang terbuka, dengan di atasnya ditaruh barang-barang yang hendak dijual. Bagaimanapun kampung ini telah menjadi sesibuk seperti pusat perbelanjaan,” tulis Molly Bondan.
- Sepakbola di Tanah Buangan Boven Digoel
SEPAKBOLA memang olahraga sejuta umat. Dengan sebuah bola dan tanah lapang, orang-orang sudah bisa bermain sepakbola. Tak terkecuali para tahanan politik di Tanah Merah Boven Digoel, Papua. Sepakbola jadi andalan untuk memecah kesunyian kamp dan mengisi waktu luang. Sepakbola di Tanah Merah bermula ketika kaum buangan membentuk organisasi kesenian dan olahraga bernama Kunst, Sport en Voetbal Vereeniging Digoel (KSVD). KSVD dipimpin oleh buangan asal Bandung, Wiranta yang kemudian digantikan oleh Sabariman. KSDV seringkali mengadakan pertandingan. Selain sebagai olahraga, sepakbola juga sebagai hiburan. Tak butuh waktu lama, sepakbola menjadi olahraga favorit kaum buangan. Setelah KSVD, muncul kesebelasan-kesebelasan lain, seperti Sinar Perdamaian dan SH ( Sport for Health ).
- Membuang Orang Pergerakan ke Boven Digoel, Papua
MENTERI Sosial Tri Rismaharini lagi-lagi bikin sensasi. Dalam video yang belakangan viral, Risma terekam memaharahi beberapa anggota Aparatur Sipil Negara (ASN) di Balai Wyata Guna, Bandung. Risma mengangap mereka tidak tangkas bekerja menyiapkan makanan di dapur umum. Kemarahan Risma kiranya dapat dipahami. Namun, yang menjadi sorotan, Risma mengancam akan memutasi anak buahnya yang lalai itu ke Papua. “Dengar, saya nggak main-main, nggak ada yang susah buat saya pindahkan ke Papua,” begitu kata Risma. Alih-alih menuai simpati, ucapan Risma lebih terkesan bernada diskriminasi. Papua merupakan daerah paling timur sehingga sangat jauh dari pusat pemerintahan. Tak dapat dipungkiri, Papua memang belum semaju daerah lain di Indonesia. Dari pernyataan Risma, Papua seolah-olah menjadi tempat pembuangan bagi mereka yang terhukum. Pernyataan Risma itu mengingatkan kita kepada sikap represif pemerintah Hindia Belanda pada waktu lampau. Di masa kolonial, pemerintah Hindia Belanda merepresi orang-orang pergerakan dengan mengirimkannya ke penjara pengasingan di Papua. Penjara yang lebih mirip kamp interniran itu berlokasi di Boven Digoel, yang sekarang masuk wilayah Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua.
- Sebelum Niti Soemantri Berjasa di Bidang Koperasi
SETAMAT dari Normaal School (sekolah guru) pada 1920, Achmad Niti Soemantri menjadi guru pada Standard School (sekolah dasar lima tahun) di Cipanas, Cianjur. Lima tahun mengabdi di sana, pad 1925 dia pindah mengajar ke Volkschool (Sekolah Rakyat, sekolah dasar tiga tahun) di Cianjur. Namun, pemuda kelahiran Garut, 20 Agustus 1901 itu tak hanya menghabiskan waktunya untuk mengajar. Soemantri juga aktif di suratkabar mingguan Padjadjaran dan Matahari yang terbit di Bandung. Soemantri terseret arus pergerakan nasional yang paling menggeliat di era 1920-an, menjadi jejaring dari Sarekat Rakyat dan Partai Komunis Indonesia (PKI) seperti para haji di Banten. Dalam Pemberontakan PKI 1926, Soemantri terseret pula. Algemeen Handelsblad dan De Indisch Courant edisi 8 Desember 1926 menyebut, Soemantri adalah “pemimpin kerusuhan di Cianjur dan Sukabumi.” Di dua tempat itu, pemberontakan PKI dianggap gagal.
- Alkisah Foto Jenazah Aliarcham
Engkau tidak hilang bagi kami, tidak!/ Masa kini kami tumbuh dari masa lampaumu/ Tangan kami menganyam terus/ Karya suci dan perjoanganmu/ Kami meneruskan kata gairah/ Kehidupanmu dengan rasa bahagia/ Obor yang menyala di malam kelam anda/ Kami sampaikan kepada angkatan kemudian. Sajak gubahan penyair Belanda Henriette Roland Holst itu (dalam bahasa Belanda) tertulis di sebuah papan tulis hitam yang diambil dari sebuah sekolah. Digambar pula simbol palu arit pada papan itu lalu ditempatkan di belakang kepala jenazah Aliarcham. Pemimpin Digoelis itu meninggal dunia karena penyakit TBC pada Juli 1933 di atas sebuah perahu motor. Di Tanah Merah, seruan “Aliarcham meninggal!” menjalar ke seluruh kamp ketika perahu dari Tanah Tinggi itu tiba. Kematian Aliarcham telah menimbulkan rasa kehilangan yang berat bagi para Digoelis.





















