top of page

Hasil pencarian

9768 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Dalam Keadaan Sakit, Aliarcham Tetap Melawan

    KETIKA akhirnya dipindahkan ke Kamp Tanah Tinggi, Aliarcham mulai mengalami batuk-batuk. Kondisinya menjadi semakin parah dan diketahui ia mengidap penyakit Tuberkulosis (TBC). Kian hari badannya semakin kurus. Mukanya pucat dan matanya juga cekung. Sukimah adalah istri Aliarcham yang pada 1926 ikut dalam pembuangan ke Okaba. Ia turut pula ketika Aliarcham dipindahkan ke Tanah Merah dan kemudian ke Tanah Tinggi. Anak laki-laki mereka yang bernama Aneksimander juga ikut dalam pengasingan ini. Di Tanah Tinggi ketika Aliarcham mulai sakit, istrinya diminta kembali Jawa. Sukimah yang saat itu tengah mengandung diminta pulang agar melahirkan di Jawa. Lagi pula akan sangat berbahaya jika penyakit Aliarcham menular ke keluarganya.

  • Nasib Mereka yang Terbuang di Theresienstadt dan Boven Digoel

    SUDAH tak terhingga peneliti sejarah atau sejarawan mengulik dan mempublikasikan tulisan-tulisan sejarah tentang kamp-kamp pengasingan di delapan penjuru mata angin. Tetapi yang mengkomparasikannya satu sama lain, terlebih menilik kesamaan kehidupan orang-orang buangan di Eropa dan daratan Papua mungkin baru Prof. Rudolf Mrázek. Mrázek, sejarawan yang juga guru besar emeritus University of Michigan itu sampai melintas belahan bumi untuk melakoni riset dan wawancaranya dari Israel hingga Papua. Puncaknya, ia terbitkan bukunya pada 2020 dengan tajuk The Complete Lives of Camp People: Colonialism, Fascism, Concentrated Modernity (terj. Keseharian Orang Buangan di Kamp Kolonial ). Di dalamnya, Mrázek menyelami kehidupan para orang buangan di Kamp Ghetto Theresienstadt di kota Theresienstadt (kini Terezín, Czechia/Ceko) dan Kamp Pengasingan Boven Digoel di Tanah Merah, Papua yang berada di dua belahan bumi berbeda dengan jarak 13 ribu kilometer. “Mungkin bagi kalangan akademisi atau para ahli (sejarah), tidak masuk akal karena kedua kamp berada di dua sisi dunia yang berbeda. Satu kamp (Digoel) untuk para tahanan politik (tapol) komunis, orang-orangnya (Sutan) Sjahrir, pemuda liberal democrat, sosialis kiri, pemuda gerakan Islam yang semuanya musuh politik rezim (pemerintah Hindia Belanda). Dan (kamp) Theresienstadt untuk orang-orang Yahudi dan dijadikan propaganda politik (Nazi Jerman). Kedua orang-orang buangan itu memang kelihatan berbeda,” ujar Mrázek dalam Forum Diskusi Budaya Pusat Riset Masyarakat dan Budaya, Badan Riset dan Inovasi Nasional bertajuk “Keseharian Orang Buangan di Kamp Kolonial” secara daring di Youtube PMB BRIN , Senin (5/8/2024).

  • Djojotoegimin dan Musik yang Menghidupkan Digoel

    BUTUH waktu tiga hari naik kapal untuk mencapai Digoel dari Merauke. Nyamuk malaria atau keganasan buaya di Sungai Digoel dan bermacam gangguan alam lain akan selalu menjadi ancaman begitu sampai. Belum lagi, di tahun 1927 hinga 1940 itu, kesunyian Digoel yang terletak di pedalaman belantara Papua tak kalah menakutkan. Di sanalah mereka yang terkait Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) November 1926 dan Januari 1927 ditempatkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Atas nama Rust en Orde (Keamanan dan Ketertiban), mereka dikucilkan agar tak mengganggu apalagi merongrong penguasa. Di tempat seperti Digoel itulah kehadiran Djojotoegimin seharusnya menjadi penting. Setidaknya dia bisa menjadi “pembunuh” kesunyian Digoel. Sebab, sebelum dibuang ke Boven Digoel, dia memang seorang musisi profesional.

  • Digoelis Makassar Itu Bernama Paiso

    PERINGATAN kematian Sun Yat Sen dihelat orang-orang Tionghoa Makassar di sebuah sekolah di daerah Baloeng pada 1925. Tak hanya dihadiri 200 orang Tionghoa, sekira 30 orang bumiputra juga hadir di sana. Salah satunya yang bernama Paiso. Namun ketika di sana, Paiso langsung diamankan polisi. Paiso dikaitkan dengan komunisme. Meskipun menurut Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche Pers, 1925 no. 20 (14 Mei 1925) dalam pertemuan itu komunis sedang tidak menjadi bahasan, Paiso –yang disebut-sebut sebagai orang Jawa kelahiran 1894– sudah kadung dianggap orang berbahaya. Paiso, disebut Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië tanggal 8 Februari 1924, adalah sekretaris Sarekat Rakjat daerah Makassar. Sarekat Rakjat Makassar itu berdiri pada November 1923. Ketuanya Alibin, seorang guru sekolah milik Sarekat Islam yang berasal dari Minangkabau; Wakilnya Mohamad Ali, pekerja di kantor syahbandar Makassar; dan bendaharanya Abdul Maki. Sarekat Rakjat terkait dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

  • Digoelis Masuk Parlemen

    NAMA pria kelahiran Blora tahun 1912 ini mirip dengan nama seorang jenderal mayor Kementerian Pertahanan yang dieksekusi negara pada Desember 1948. Djokosudjono, nama pria ini, sejak usia 17 tahun sudah aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan ikut Partai Nasional Indonesia (PNI) dan aktif di serikat buruh. Di serikat buruh, antara 1931-1934 dia menjadi Sekretaris Persatuan Sarekat Sekerdja seluruh Indonesia. Dia pernah pula memimpin kongres buruh pertama di Surabaya. Sekitar 1935, bersama Musso, Pamudji, dan Achmad Sumadi, Djokosudjono membangun Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam gerakan bawah tanah. PKI kemudian dikenal sebagai PKI Ilegal. Namun perjuangan mereka tetap terendus aparat kolonial yang sejak 1934 menggalakkan penindakan terhadap gerakan nasionalis. Pada 1938, Djokosudjono ditangkap aparat hukum kolonial dan dibuang ke Boven Digoel. Untuk mencapai Boven Digoel yang terletak di pedalaman Papua, kala itu mesti ke Merauke dulu. Setelah itu dilanjutkan naik kapal sekitar 3 hari dari pelabuhan Merauke. Sebab, jalan darat belum ada.

  • Kesatria Ratu Belanda Menjaga Boven Digoel

    THOMAS Najoan merupakan orang buangan di Tanah Merah, Boven Digoel, yang suka bercanda. Orang-orang buangan suka dengan humornya. Suatu kali, dia ditanya kenapa kabur ke Australia tapi kembali lagi ke Digoel. “Australia tidak menyukai saya, maka kembalilah ke Om Bintang,” kata Thomas Najoan. Dalam pelarian berikutnya, Thomas Najoan tertangkap lagi. Mantri polisi yang dikenal sebagai Om Bintang lalu bertanya padanya kemana dia akan pergi. “Saya sedang mencari Stalin dan Trotsky, tapi rupa-rupanya saya selalu hanya bisa menemukan Om Bintang,” kata Thomas Najoan sebagaimana dicatat Sutan Sjahrir dalam Renungan dan Perjuangan .

  • Tri Ramidjo, Kecil di Digoel, Muda di Buru

    RUMAH berpagar kuning itu terletak berhadapan dengan lapangan serbaguna di sebuah perumahan di bilangan Kunciran, Tanggerang. Gerbang pagar setinggi dada orang dewasa itu segera dibuka setelah beberapa kali terucap salam. Seorang pria senja berkemeja putih dan bercelana panjang batik tampak berdiri di pintu menyambut dengan senyum dikulum. Tangan kirinya berpegangan pada tembok, menopang tubuh rentanya. “Tangan kanan saya kena stroke, tak bisa lagi digerakkan. Silahkan masuk,” katanya mempersilahkan. Dia pun menyeret langkahnya untuk duduk di kursi. Lelaki itu adalah Tri Ramidjo, biasa disapa Trikoyo, 85 tahun. Sakit tak pernah menghalanginya untuk beraktivitas. Trikoyo melek teknologi. Dia tak gagap menggunakan komputer dan akrab dengan internet. Sampai hari ini dia aktif sebagai anggota jejaring sosial Facebook  dan kerapkali membagi pengalaman hidupnya di berbagai mailing list . Semangatnya tak pernah pudar. “Tubuh saya sakit, tapi semangat saya masih selalu ada,” kata dia. Senyumnya selalu mengembang saat bercerita tentang pengalaman masa kecilnya di Boven Digoel, Papua. Pria kelahiran Kutoardjo, 27 Februari 1926 itu dibawa saat masih bayi oleh kedua orangtuanya, Kyai Dardiri Ramidjo dan Nyi Darini Ramidjo, ke Tanah Merah, Digoel. Kyai Dardiri dibuang ke Digoel karena turut aktif dalam pemberontakan komunis melawan pemerintah kolonial pada 1926. Dardiri dan Darini masih sepupuan. Mereka adalah cucu dari Kyai Hasan Prawiro, pengikut setia Pangeran Diponegoro yang mengobarkan perang Jawa pada 1825-1830.

  • Timnas Indonesia Digulung Jepang Bukan Cerita Baru

    USAI sudah perjalanan Timnas Indonesia dalam ronde ketiga kualifikasi Piala Dunia zona Asia. Di klasemen akhir Grup C, Indonesia menduduki peringkat ke-4 dan berhak lanjut ke babak selanjutnya. Namun, perjuangan masih panjang. Asa terus menyala bagi Timnas Indonesia untuk lolos ke putaran final Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat-Kanada-Meksiko. Kendati demikian, pelatih Patrick Kluivert dan jajarannya mesti melakukan evaluasi, sebab di laga terakhir Indonesia dibantai Jepang dengan skor telak 0-6. Secara kelas dan kualitas pemain, Indonesia memang kalah dari Jepang. Namun, kekalahan dengan selisih gol setengah lusin tanpa balas tentu menyedihkan sekaligus membuktikan rapuhnya pertahanan Jay Idzez dkk. Ini menjadi kekalahan terbesar Indonesia selama putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia. Bila dijumlah dari pertemuan pertama, maka gawang Indonesia telah dibobol Jepang 10 gol. Dengan skor dan lawan yang sama, Indonesia juga pernah mengalami kekalahan serupa di turnamen Merdeka Games Cup 1976. Harian Kompas , 11 Agustus 1976 memberitakan Timnas Garuda Indonesia “digunduli” Jepang 0-6 dalam pertandingan kedua turnamen tersebut di Stadion Negara Kuala Lumpur pada 10 Agustus 1976. Kekalahan ini merupakan kekalahan terbesar Indonesia dalam pertandingan-pertandingan sepanjang turnamen tersebut.

  • Niti Soemantri Digoelis Pemeduli Koperasi

    HUKUMAN pembuangan ke Boven Digoel di pedalaman Papua tak membuat Niti Soemantri jera. Hingga dipulangkan kembali ke daerah asalnya di Jawa Barat, Soemantri tak berhenti bergerak.   Soemantri, yang seorang guru di Hollandsch Inlandsch School (HIS) Pasoendan, aktif di Pegoejoeban Pasoendan. Dia rajin menghadiri rapat-rapat ataupun rapat umum organisasi tersebut di berbagai tempat. Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie  tanggal 2 September 1939 memberitakan, Soemantri hadir dan memberi pidato dalam rapat propaganda paguyuban tersebut di Ujungberung.   Aspek ekonomi merupakan hal yang amat penting bagi perorangan maupun organisasi. Oleh karenanya, Soemantri kemudian meluaskan sayap perjuangannya ke bidang ekonomi. Lebih tepatnya ekonomi kerakyatan, dengan perhatian pada koperasi. Menurut buku Orang Indonesia Terkemoeka di Djawa , Soemantri mendirikan Koperasi Oesaha Desa di Sukabumi pada 1932. Ia menjadi ketua dari koperasi yang didirikannya itu, yang agak mirip dengan Koperasi Unit Desa (KUD) yang berkembang pada era Orde Baru.

  • Baku Pukul di Penjara Digoel

    DUA narapidana yang kasusnya pernah bikin geger publik berduel di Lapas Gunung Sindur. Mereka adalah Very Idham Henyansyah alias Ryan Jombang terpidana hukuman mati kasus mutilasi berantai, dengan Habib Bahar bin Smith, ulama Front Pembela Islam terpidana kasus penganiayaan sopir taksi. Cekcok diantara keduanya dipicu perkara utang-piutang. Akibatnya, Bahar Smith menghajar Ryan Jombang sampai babak belur. Meski terjadi penganiayaan, Ryan Jombang dan Habib Bahar dikabarkan telah berdamai. Perkelahian di penjara memang acap terjadi. Kehidupan penjara yang keras kerap menyulut perselisihan di antara para penghuni penjara. Tidak hanya penjara yang menghukum pelaku kriminal, fenomena seperti itupun berlaku pula di penjara pengasingan kaum pergerakan. Tempat pembuangan yang bertempat di pedalaman Papua itu dikenal dengan nama Kamp Interniran Boven Digoel atau Tanah Merah. Inilah penjara yang dibuat pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk membungkam gerakan orang-orang bumiputra sejak akhir 1920-an hingga 1943. Di Digoel, orang-orang pergerakan yang diasingkan dibikin merana. Tidak hanya raga, jiwa para penghuni kamp ikut dipasung sebab tempat ini terisolasi dari dunia luar. Bentang alamnya yang penuh rawa dan belantara jadi sarang penyakit malaria. Jatah ransum bagi para Digoelis ini terbatas sedangkan kandungan gizinya jauh dari cukup. Mereka yang tidak kuat mental tinggal di sana akan mengalami depresi bahkan menjadi gila. Kondisi hidup yang sengsara turut mempengaruhi hubungan antar Digoelis yang menghuni kamp pengasingan.

  • Digoelis Menanti Kapal Putih

    DI BOVEN Digoel, salah satu hal yang bisa memecah kesunyian hutan belantara ialah bunyi sebuah suling kapal. Kapal itu begitu dinantikan oleh semua orang di Digoel baik kaum buangan mapun aparat militer dan sipil pemerintah kolonial. Kapal putih sang pembawa peradaban. Kapal ini sebenarnya bernama Fomalhout. Disebut kapal putih karena memang berwarna putih. Kapal ini satu-satunya penghubung Boven Digoel dengan dunia luar. Selain itu, kapal ini juga membawa tahanan baru dan membawa keluar tahanan yang dibebaskan dari Digoel. Kapal putih datang ke Digoel kira-kita delapan sampai 12 kali dalam satu tahun. Menurut Chalid Salim dalam Lima Belas Tahun Digul , jauh sebelum kapal putih tiba, kedatangannya sudah bisa diterka oleh mereka yang memiliki pendengaran tajam. “Mereka mendengar desah air sepanjang tepi sungai yang menuju ke utara. Apabila kemudian di kejauhan terdengar bunyi suling kapal, maka melonjaklah kami karena kegirangan!” ungkap Chalid Salim, adik Haji Agus Salim.

  • Menjadi Gila Akibat Isolasi di Digoel

    DI BOVEN Digoel, para tahanan politik memang tidak disiksa secara fisik oleh aparat kolonial. Mereka dibiarkan hidup dalam kamp yang terisolasi alam Papua. Serangan terhadap psikis sama bahayanya dengan malaria maupun diterkam buaya. Menurut Chalid Salim dalam Lima Belas Tahun Digul  menyusuri hutan bukan menjadi piihan yang menyenangkan bagi sebagian besar tahanan. Dari Tanah Merah misalnya, jika masuk hutan ke arah utara mereka akan sampai di Kamp Tanah Tinggi yang dihuni oleh orang-orang buangan yang tidak mau berdamai dengan penguasa. Tempat ini tentunya amat lebih buruk dari Tanah Merah. “Begitupun kita boleh jalan ke arah timur melalui pos missi Ninati yang terletak di Sungai Muyu. Tapi juga perjalanan ini tidak memberi hiburan! Maka kebanyakan penghuni memilih tetap tinggal 'di rumah saja', daripada bertualang yang tidak menyenangkan,” kata Chalid Salim.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page