Hasil pencarian
9805 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Badminton is Coming Home!
INDIA mencetak sejarah dalam olahraga bulutangkis. Kendati bukan unggulan, tim putra India untuk kali pertama sukses membawa pulang Thomas Cup usai memecundangi tim Indonesia di partai puncak dengan angka mencolok, 3-0, yang dilangsungkan di Impact Arena Nonthaburi, Thailand pada Minggu, 15 Mei 2022. Publik India pun geger. Negeri yang lebih kondang dengan olahraga kriket itu sekian lama telah menanti gelar perdana turnamen beregu. Disebutkan, grup WhatsApp tim Thomas India berganti nama grup menjadi “It’s coming home” –mengacu pada tempat kelahiran bulutangkis modern; sebagaimana semboyan Inggris ketika mendambakan kembali Piala Dunia. “Srikanth (Kidambi) dan saya sejak awal memutuskan untuk membuat pertemuan para pemain di mana kami semua berkesempatan bicara. Beberapa pemain kami pendiam dan dalam olahraga individu, ego bisa cepat memperburuk keadaan. Tetapi itu sudah jadi masa lalu. (Di Thomas Cup) tidak ada poin ranking, hadiah uang, hanya ada rasa lapar akan gelar. Itu yang ingin dicapai oleh semua dan itulah yang mendorong semangat kami,” kata pebulutangkis senior tim India Prannoy Haseena Sunil kepada BBC, Selasa (17/5/2022).
- Pieter Sambo Om Ferdy Sambo
KASUS penembakan Brigadir Yosua Hutabarat pada 8 Juli 2022 oleh Bhayangkara Dua Richard Eliezer Lumiu menyeret nama perwira tinggi polisi yang menjadi bos keduanya, Inspektur Jenderal (Irjen) Ferdy Sambo. Sang bos divonis bersalah oleh pengadilan karena terbukti mendalangi kasus tersebut dengan memerintahkan Richard menembak Yosua dan merekayasa cerita tentangnya menjadi insiden tembak-menembak. Yang pasti, orang Toraja dengan nama belakang Sambo menjadi tidak nyaman karena peristiwa memalukan tersebut. Irjen Pol. Sambo sendiri merupakan perwira tinggi asal Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Ada yang meyebut dia anak dari Mayjen Pol. Pieter Sambo. Ada pula yang menyebut dia sebagai keponakan Mayjen Pieter Sambo. Sejatinya, Ferdy Sambo adalah anak dari Willem Sambo, bukan anak Pieter Sambo. Willem adalah saudara dari Pieter. Pieter dan Willem bagian dari 13 bersaudara anak pasangan Tungguru Sambo alias Samuel Sambo dengan Lai’Sulle alias Damaris Taruklangi. Samuel merupakan seorang guru yang juga pemuka agama Kristen Protestan di Toraja.
- Revolusi Bulutangkis Prancis
TIM bulutangkis Prancis mencetak sejarah di Piala Thomas. Negara yang sebelumnya tak pernah dipandang, apalagi masuk sebagai negara top bulutangkis itu menumbangkan Indonesia 4-1 di pertandingan terakhir penyisihan Grup D pada 28 April 2026. Hasil tersebut mencoreng wajah perbulutangkisan Indonesia selaku pemegang terbanyak Piala Thomas. Untuk pertamakalinya, Indonesia gagal lolos dari penyisihan grup dalam turnamen edisi ke-31 itu yang digelar di Horsens, Denmark, 24 April-3 Mei 2026. Padahal, dari lima partai Indonesia hanya perlu menang dua partai dari Popov Bersaudara (Christo dan Toma Junior). Nahas, Jonathan Christie kalah dari Christo Popov (21-19, 21-14), Alwi Farhan menyerah dari Alex Lanier (21-16, 21-19), Anthony Ginting keok dari Toma Junior Popov (22-20, 15-21, 22-20), dan pasangan Muhammad Reza Pahlevi Isfahani/Sabar Karyaman Gutama ditundukkan Éloi Adam/Léo Rossi (21-19, 21-19). Alhasil kemenangan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri dari Christo Popov/Toma Junior Popov (21-18, 19-21, 21-11) tak berarti lagi.
- Jasir Hadibroto Bekas Banteng Raider Menghabisi D.N. Aidit
SEJAK zaman revolusi 1945–1949, Jasir Hadibroto, bekas perwira tentara sukarela Pembela Tanah Air (Peta), sudah jadi komandan pasukan campuran bekas Heiho, Peta, dan KNIL yang bersenjata lengkap. Ia pernah ikut bertempur di Banyubiru pada 8 Desember 1945 dalam Palagan Ambarawa. Kapten Jasir terus menjadi komandan setelah tahun 1950. Ia terbiasa memimpin pasukan terlatih dengan baik. Sekitar tahun 1953 ia menjadi salah satu komandan kompi pasukan Banteng Raider, yang terlibat dalam operasi penumpasan DI/TII di Tegal dan Brebes tahun 1952–1954. Jasir tentu saja dikenal oleh Kolonel Achmad Yani yang membentuk Banteng Raider di Jawa Tengah terkait dengan Gerakan Banteng Negara (GBN) dan juga dikenal Kolonel Soeharto yang menjadi Panglima Tentara Teritorium IV Jawa Tengah (Diponegoro).
- Lima Konser Band yang Memekakkan Telinga
MENDENGARKAN musik keras-keras baik langsung lewat konser-konser maupun dengan bantuan alat pengeras suara memang seru dan mengasyikkan. Namun konsekuensi sound horeg atau suara menggelegar yang memekakkan telinga di atas 85-100 desibel (dB) lebih mudah menimbulkan potensi kehilangan pendengaran. Menurut World Health Organization (WHO) dalam laporannya yang dirilis Juli 2019, “Make Listening Safe WHO: Estimaton of the Risk of Developing Hearing Loss Due to Exposure to Loud Sounds in Recreational Setting”, mendengarkan musik antara 75-100 dB lebih dari 15 menit sama mendengarkan bisingnya para pekerja industri selama delapan jam per hari yang akan mengekspos kondisi telinga dan bisa berdampak kehilangan pendengaran. “Suara alat pendengaran sejenis ear-bud maksimal berkisar 88-113 dB. Sementara rata-rata tingginya volume suara di diskotek juga berkisar antara 104-112 dB. Sedangkan dalam konser-konser, bisa lebih tinggi. Di Eropa, beberapa negara sudah membatasi standar keamanannya di batasan 80 dB saja selama 40 jam per pekan. Adapun Australia, Inggris, dan Kanada membatasi kebisingan di angka 85 dB untuk 40 jam per pekan.
- Gedoran Corregidor
PERASAAN Letjen Masaharu Homma membuncah. Malam itu, 6 Mei 1942, ia sudah ditunggu tamu istimewa di teras sebuah rumah bertembok putih di pesisir Bataan, Filipina. Namun, Panglima Tentara Angkatan Darat (AD) ke-14 Jepang itu mesti menjaga sikapnya sebagai pihak pemenang. Homma sengaja membuat tamunya, Letjen Jonathan Mayhew Wainwright IV, komandan pasukan Amerika Serikat di Filipina (USFIP), menunggu dengan cemas sedari pukul 4 hingga pukul 6 petang. Walau Wainwright sudah menyiarkan menyerahnya pasukan gabungan Amerika dan Filipina pada siangnya, serdadu Jepang belum berhenti bermanuver. Sejak memulai invasi ke Corregidor, sebuah pulau benteng yang jadi kubu pertahanan terakhir Amerika di Filipina, pada dini hari 5 Mei 1942, sedikit demi sedikit tentara Jepang menerabas perimeter-perimeter pertahanan. Walau sudah mendengar siaran menyerahnya Wainwright pada pukul 11 siang 6 Mei 1942, Homma belum berniat menghentikan laju pasukannya yang nyaris mencapai markas bawah tanah Wainwright di Bukit Malinta, Pulau Corregidor atau dalam catatan resmi Amerika bernama Fort Mills.
- Geliat Seni Rupa Semasa Pendudukan Negeri Sakura
SEJAK didirikan Agustus 1942, Sendenbu (Departemen Propaganda) menggenjot produksi alat propaganda lewat berbagai media. Radio, film, surat kabar, serta pameran dan pertunjukan seni merupakan media propaganda Jepang di Indonesia. Untuk memaksimalkan usaha propaganda tentang perang Asia Timur Raya, Jepang juga membentuk Biro Pengawas Siaran Jawa (Jawa Hoso Kanrikoru), Perusahaan Surat Kabar Jawa (Jawa Shinbunkai), dan Perusahaan Film Jepang (Nihon Eigasha Nichi’ei). Alhasil, banyak karya seni anak bangsa muncul semasa pendudukan Jepang. Hal itu mendorong Dewan Kesenian Jakarta membuat pameran arsip bertajuk “3,5 Tahun Bekerja”. “Arsip kesenian masa Jepang belum banyak digali. Padahal perlu adanya pembacaan ulang atas seni masa Jepang bukan hanya sebagai alat propaganda,” kata Afrizal Malna mewakili Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta kepada Historia.ID.
- Guru Pak Dirman
RUMAH di Jalan Pangadegan Jakarta Selatan ini tampak biasa-biasa saja. Bangunannya sudah tua. Namun, ada kemewahan yang sulit dinikmati di rumah-rumah di Jakarta. Pekarangannya luas, dengan pepohonan dan rumput hijau. Udara segar tersebar dengan baik bagi penghuninya. Di rumah itu, Poppy Julianti tinggal bersama anaknya, Miranti Soetjipto-Hirschmann, yang dikenal sebagai seorang wartawan. Dulu tentu rumah itu lebih ramai. Tidak hanya semua anaknya tinggal di sana, tapi juga ayah dan ibunya, Soewardjo Tirtosoepono dan Markamah, yang tinggal di salah satu pavilion rumah itu. Kenangan tentang Soewardjo, yang tutup usia tahun 1992, masih hidup dalam memori Poppy dan Miranti. Bertahun-tahun mereka membuatkan kronik riwayat hidup Soewardjo. Tak lupa mereka menyimpan dan merawat semua kenangan dari Soewardjo: catatan tangan, surat penghargaan, kartu-kartu. Tidak semua orang mengenal sosok Soewardjo Tirtosoepono. Tapi jika menyebut salah satu muridnya, semua orang pasti tahu: Soedirman.
- General Soedirman's Teacher
A HOUSE on Jalan Pangadegan, South Jakarta, looks unassuming. The building is old, but it has something considered luxuries to typical houses in Jakarta: a wide yard filled with lush trees and green grass, with a breeze of crisp fresh air. Residing inside the house are Poppy Julianti and her daughter, Miranti Soetjipto-Hirschmann, a journalist. The house, for sure, was more alive in the past. Poppy and all of her siblings lived there with their parents, Soewardjo Tirtosoepono and Markamah, who resided in one of the house's pavilions. The memory of Soewardjo, who died in 1992, is still fresh in Poppy and Miranti's mind. For years, they wrote a chronicle of Soewardjo's life story and kept and maintained all of Soewardjo's aide-mémoire: handwritten notes, letters of appreciation, and cards.
- Ketika Panglima Besar Soedirman Turun Gunung
PERJANJIAN Roem-Royen disepakati oleh pihak Indonesia dengan Belanda pada 7 Mei 1949. Salah satu klausul dalam kesepakatan itu adalah Belanda harus menarik pasukannya dari ibu kota RI Yogyakarta jika ingin melanjutkan proses penyelesaian konflik antar dua negara tersebut. “Itu yang menjadi tawaran mutlak dari pihak Indonesia,” ujar sejarawan Rushdy Hoesein. Karena ada desakan internasional yang sangat kuat, Belanda tak bisa menghindar dan terpaksa menyetujuinya. Maka, pada 29 Juni 1949, secara berangsur, tentara Belanda meninggalkan Yogyakarta. Kepergian mereka disusul dengan masuknya para prajurit TNI ke dalam kota Yogyakarta.
- Kisah Pematung Jenderal Soedirman di Usia Senja
INDONESIA memiliki banyak sekolah atau kampus seni di berbagai daerah yang sudah berdiri sejak lama. Banyak alumnusnya mewarnai sejarah seni Indonesia. Salah satunya Azmir Azhari, seniman patung realis, kelahiran 1953 di Payakumbuh, Sumatra Barat. Pria yang memiliki puluhan kucing ini dikenal karena patung-patung figur tokoh terkenal seperti Jenderal Soedirman di Purbalingga hingga patung Taufik Kiemas. Azmir tertarik dengan dunia seni sejak kecil. “Saya sejak SD sudah suka melukis, hingga kalau melihat gundukan tanah liat saya bikin patung, hingga lulus SMA tahun 1973 saya kuliah di ASRI di Yogyakarta sekarang namanya ISI, Awalnya saya ambil jurusan seni Lukis,” katanya.
- Raden Suprapto, Kawan Perjuangan Jenderal Soedirman yang Berakhir Mengenaskan
MASIH ingat film Pengkhianatan G30S/PKI? Dalam salah satu adegannya, ada seorang jenderal kesulitan tidur karena sakit kepala. Sang jenderal lalu membuat sketsa di atas kertas putih. Ketika istrinya menanyakannya sedang menggambar apa, jenderal tersebut menjawab sedang menggambar rencana Museum Perjuangan di Yogyakarta. Namun karena gambarnya dianggap aneh, sang istri pun berkomentar. “Kok kaya kuburan?” Jenderal yang digambarkan dalam film itu pun terdiam. Dialah Jenderal (Anumerta) Suprapto, satu dari enam perwira tinggi yang gugur oleh sepasukan Tjakrabirawa beberapa jam setelah adegan tersebut. Raden Suprapto lahir di Purwokerto, Jawa Tengah pada 20 Juni 1920 dari pasangan Raden Pusposeno dan Raden Ajeng Alimah. Bungsu dari sepuluh bersaudara itu memiliki lima saudara lak-laki dan empat saudara perempuan.




















