top of page

Hasil pencarian

9797 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kemal Idris Terhipnotis “Marilyn Monroe” di Paris

    DI tengah kegalauannya akibat beberapa rencana penugasan yang diberikan KSAD Jenderal TNI AH Nasution padanya semua dibatalkan, Kolonel Kemal Idris dipanggil Menpangad Letjen TNI Ahmad Yani. Kemal diberikan tugas baru oleh KSAD baru itu. “Kemal, sudahlah. Jangan dipikirkan. Cepat-cepatlah persiapkan diri. Saya baru senang kalau kamu naik pesawat terbang menuju Afrika!” kata Yani sebagaimana dikenang Kemal dalam otobiografinya yang ditulis Rosihan Anwar dan Ramhadhan KH, Kemal Idris Bertarung dalam Revolusi. Kemal ditugaskan memimpin pasukan Garuda III yang bertugas menjaga perdamaian di Kongo. Sejak merdeka dari Belgia pada 1960, negeri di tengah Afrika itu dilanda perang saudara. Gerakan nasionalis yang dipimpin Patrice Lumumba tak hanya membuat Belgia sakit hati melepas bekas koloninya itu, namun juga mengganggu kepentingan Amerika Serikat (AS) yang telah lama menguasai kekayaan alam Kongo sebagai kompensasi atas dukungannya atas kolonialisme Belgia di sana.

  • Duka Kemal Idris Dibuang ke Yugoslavia

    BEOGRAD, Yugoslavia, suatu hari di tahun 1974. Duta Besar Kemal Idris terlibat perdebatan sengit dengan Menlu Yugoslavia Melos Minie. Perdebatan mereka berkisar tentang reschedule utang Indonesia pada Yugoslavia. Kemal bersikeras agar Menlu Yugoslavia meneruskan ke pimpinannya agar mau reschedule utang Indonesia. “Pemerintah Indonesia akan membayar hutang itu semampu Indonesia mengembalikan tanpa ada pembatasan jumlah dan waktunya karena terikat dengan aturan IGGI,” kata Kemal sambil menggebrak meja, dikutip Rosihan Anwar, dkk. dalam biografi Kemal Idris Bertarung dalam Revolusi. Kemal menyadari sikap emosionalnya itu salah. Oleh karenanya dia langsung meminta maaf kepada menlu dan pejabat lain yang hadir. Namun, di luar dugaannya, upayanya tersebut membuahkan hasil. Pemerintah Yugoslavia bersedia mengadakan pembicaraan tentang reschedule utang Indonesia.

  • Cerita Sukarno Nonton Kabaret di Beograd

    KTT Non Blok di Beograd, Yugoslavia pada September 1961 mempertemukan Presiden Sukarno dengan Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito. Sebelumnya, Bung Karno telah tiga kali berkunjung ke Yugoslavia, yakni pada 1956, 1958, dan 1960. Tito selalu menyempatkan diri untuk kunjungan balasan. Saling kunjung itu membuat Tito jadi kenal betul dengan pribadi Sukarno. “Waktu ada Konferensi Non Blok di Beograd yang namanya Presiden RI kalau mau pergi ke gedung konferensi kerjanya ‘nebeng’ mobilnya presiden tuan rumah, berbeda dengan kepala-kepala negara lain yang disediakan mobil-mobil khusus untuk mereka,” kenang Guntur, putra sulung Bung Karno yang turut serta, seperti dikisahkannya dalam Bung Karno dan Kesayangannya. Walhasil, Tito punya peran tambahan menjadi tukang antar-jemput Sukarno selain sebagai tuan rumah penyelenggara konferensi. Dia menjemput Bung Karno dari Hotel Metropol, tempatnya menginap ke gedung konferensi. Setelahnya, dia mengantar kembali dari gedung konferensi ke Hotel Metropol.

  • Saat Jenderal Gatot Soebroto Beraksi di Yugoslavia

    SEPTEMBER , 1961. Presiden Sukarno berkunjung ke Yugoslavia dalam rangka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Non-Blok. Selain didampingi Letjen TNI Gatot Soebroto, Deputi Kepala Staf Angkatan Darat, Bung Karno juga mengajak putra sulungnya, Guntur. Rombongan Bung Karno menumpang pesawat carter Pan Am DC-707. Selain untuk menghadiri KTT Non-Blok, tujuan muhibah Sukarno adalah meninjau kapal perang pesanan Indonesia yang sedang dibuat di Yugoslavia. Sehubungan dengan kepentingan tersebut, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Abdul Haris Nasution telah tiba duluan di Yugoslavia. Adapun kapal perang yang tengah dipesan itu adalah jenis Submarin chaser buatan Yugoslavia, kapal anti kapal selam yang mampu bergerak cepat sebagai kapal pemuburu. Dalam penerbangan, Sukarno menuturkan betapa canggihnya kapal tempur pesanan TNI itu. Guntur antusias mendengarnya dan menanyakan berbagai hal, mulai dari meriam, radar, hingga daya tempuh tembakan. Sayangnya, Sukarno kurang begitu paham soal seluk-beluk alustista. Dia menyarankan Guntur untuk bertanya lebih lanjut kepada Jenderal Gatot.

  • Tito Sahabat Sukarno

    SOAL gaya berbusana Presiden Sukarno termasuk salah satu pemimpin negara yang paling necis di abad ke-20. Apakah itu dalam balutan seragam militer maupun pakaian sipil, ketika menghadiri hajatan formal Sukarno selalu terlihat dendi. Barangkali yang mampu menandingi Sukarno perkara fesyen ialah Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito. Penyandingan ini diakui sendiri oleh putra Bung Karno, Guntur Soekarnoputra. “Aku rasa nggak ada yang bisa ngalahin rapihnya dan menterengnya cara berpakaian Presiden; Pemimpin Revolusi Yugoslavia Josip Broz Tito, baik kalau ia sedang berpakaian secara sipil ataupun militer. Benar-benar bukan main ‘kemepyarnya’ cara dandanan pakaian ‘Banteng Neretva ini’,” kata Guntur dalam Bung Karno dan Kesayangannya.

  • Lempar Kebakaran Sembunyi Tangan

    TARAWEH berjamaah baru sampai rakaan keenam di masjid At-Taqwa, Karet Tengsin, Jakarta Pusat. Sebuah kegaduhan memecah kekhusyukan. Dari seberang masjid, sekelompok warga berlari dan berteriak, “Kebakaran… kebakaran…!” Tersentak, jemaah seketika bubar. Mereka keluar dan melihat api berjelanak dari permukiman padat yang tak jauh dari masjid. Kemiyem, seorang jemaah, cepat lari ke rumahnya. Dia menyelamatkan apa saja yang mampu dia bawa. Api hanya berjarak beberapa blok dari rumahnya yang sebagian besar terbuat dari kayu dan beratapkan seng. “Untung, waktu itu api belum sampai rumah saya. Keluarga saya akhirnya selemat,” kenang Kemiyem. Meski warga sigap, api lebih cepat membesar. Mobil pemadam kebakaran sulit menjangkau lokasi, tertahan di luar permukiman, karena jalan yang sempit. Tanpa ampun, si jago merah melahap permukiman itu pada 6 agustus 2012. Tercatat 286 rumah dan 400 ruko luluh lantak. Ribuan warga kehilangan tempat tinggal. Meski tak ada korban jiwa, sebagian warga harus mengubur keinginan pulang kampung. Termasuk Kemiyem.

  • Hikayat Demang Lehman dari Kesultanan Banjar

    GENDERANG perang itu akhirnya ditabuh. Seluruh Banjarmasin dilanda kekacauan hebat pada 1859. Rakyat yang tersulut amarah sudah tidak bisa lagi menmaklumi sikap keterlaluan orang-orang Belanda. Setelah seenaknya melakukan monopoli perdagangan, mereka malah turut campur dalam proses pergantian takhta Kesultanan Banjar. Mulanya kebencian rakyat ditujukan kepada Sultan Tamjid, pemimpin Banjar yang diangkat pemerintah Belanda. Selain dianggap boneka kolonial, perangai sang sultan juga tidak disenangi rakyat. Ia kerap menjalankan hal-hal yang dilarang oleh agama Islam. Namun pertentangan berubah menjadi keinginan mengusir para kolonial setelah keberadaan mereka semakin memberatkan kehidupan rakyat Banjarmasin. Pucuk perlawanan rakyat dipegang oleh Pangeran Hidayatullah, satu-satunya pewaris takhta yang diakui rakyat. Ia berjuang bersama pahlawan besar Banjarmasin, Pangeran Antasari, dan sejumlah bangsawan serta pemuka agama. Sang pangeran juga didampingi salah seorang pengikutnya yang paling setia: Demang Lehman.

  • Lapor Kebakaran Berhadiah Uang

    KEBAKARAN terjadi di kawasan permukiman padat penduduk di Tambora, Jakarta Barat, Kamis (27/10/2022) siang. Warga bahu-membahu memadamkan api dengan ember serta menghubungi petugas pemadam kebakaran. Kebakaran menyebabkan lima rumah hangus. Berbeda dengan masa kini di mana kebakaran dapat dilaporkan melalui telepon atau aplikasi pesan di ponsel pintar. Di masa lalu, informasi kebakaran kerap terlambat diketahui oleh brandweer atau pemadam kebakaran karena terbatasnya alat komunikasi. G.H. Von Faber dalam Oud Soerabaia menyebut rumah pribumi di Surabaya pada abad ke-18, yang sebagian besar dibangun dari bahan-bahan yang mudah terbakar, membuat upaya memadamkan api membutuhkan waktu yang lama. Alat yang digunakan untuk memadamkan api pun biasanya ember, panci, hingga wajan yang mudah ditemukan di dapur.

  • Agar Si Jago Merah Tak Lagi Marah

    BELAKANGAN ini Pemadam Kebakaran (Damkar) naik daun. Kendati semua orang tahu tugas dinas berslogan “Pantang Pulang Sebelum Padam” itu memadamkan kebakaran, masyarakat lebih memilihnya untuk bermacam urusan lantaran ketidakpercayaan terhadap polisi begitu tinggi. Terlebih, beberapa tahun terakhir masyarakat mulai tahu Damkar bisa melakukan pertolongan di luar bidangnya, mulai dari urusan remeh seperti mengganti bohlam lampu, melepaskan cincin, atau mengatasi sarang tawon hingga urusan yang menyangkut keselamatan jiwa-raga seperti melepas besi yang menjerat tubuh ataupun menangkap ular. Lantaran itulah baru-baru ini seorang perempuan asal Pekalongan yang menjadi korban penipuan mendatangi Damkar untuk mencurahkan isi hatinya. Putri, gadis itu, kecewa laporannya ke polisi sebelumnya tidak diindahkan dan dia malah ditawarkan membeli kue nastar buatan salah satu anggota di sana.

  • James Gavin, Jenderal Penerjun di Perang Dunia II

    MISI Boston merupakan salah satu misi pentingdalam Operasi Pendaratan Normandia pada 6 Juni 1944. Tujuannya untuk mengamankan kota di belakang garis pertahanan tentara Jerman di Pantai Utah. Kota Sainte-Mère-Église akhirnya berhasil diduduki satuan-satuan penerjun Divisi 82. Tiga bulan kemudian, Divisi 82 terlibat lagi dalam operasi penerjunan di Belanda. Operasi itu disusun dan dipimpin oleh Jenderal Bernard Law Montgemory, yang pernah mengalahkan pasukan Jerman di bawah Jenderal Erwin Rommel di El Alamein, Mesir. Ketika operasi bersandi Market Garden itu digelar pada 17 September 1944, Divisi 82 dipimpin Mayor Jenderal James Maurice “Slim Jim” Gavin. Dalam operasi itu, Gavin tidak duduk di balik meja. Dia ikut terjun di Belanda.

  • Kisah Polisi Kombatan di Balik Panggung Sejarah

    DALAM sejarah Perang Kemerdekaan Indonesia, peran polisi kalah mentereng dari tentara. Tengok saja perbandingannya dari representasi yang masuk album pahlawan nasional. Sampai saat ini, jumlah pahlawan nasional dari kalangan kepolisian hanya tiga tokoh. Sementara dari kalangan militer jauh lebih banyak. Para tokoh polisi yang menjadi pahlawan nasional itu yakni Moehammad Jasin, Soekanto Tjokrodiatmodjo, dan Hoegeng Imam Santoso. Dua nama pertama telah dikenal sejak masa revolusi. Soekanto sebagai Kapolri pertama peletak dasar institusi kepolisian sedangkan Jasin adalah komandan Brimob pertama. Ia dijuluki Bapak Brimob Indonesia. Jasin memulai kiprahnya sebagai komandan Polisi Istimewa –cikal bakal Korps Brimob– di Surabaya. Seperti Jasin, Bambang Soeprapto Dipokoesoemo juga berkedudukan sama di Semarang. Namun, namanya tidak banyak tercatat di buku-buku sejarah. Dia mungkin tidak setenar Soeprapto yang militer, perwira tinggi TNI AD yang menjadi pahlawan revolusi.

  • Komandan Polisi Istimewa Digebuki Anggota Laskar Naga Terbang

    LASKAR Naga Terbang lebih cenderung sebagai gerombolan pengacau ketimbang berjuang di medan tempur. Pemimpinnya bernama Timur Pane, seorang tokoh laskar yang terkenal beringas. Konon katanya, Timur Pane adalah seorang mantan copet di Medan yang kemudian ambil bagian dalam Perang Kemerdekaan di Sumatra Utara. “Ia seorang figur yang terkenal dan menggelisahkan di Sumatra Timur, mungkin juga sangat ditakuti, karena tindakannya kerap kali radikal, dan musuhnya yang ditangkapnya terus dipotong saja,” kata Mohammad Radjab, wartawan Antara yang pernah mewawancari Timur Pane di Parapat pada 15 Juli 1947, seperti dituturkannya dalam reportase Tjatatan di Sumatra (1947). Menurut Kementerian Penerangan, Timur Pane mengumpulkan beberapa barisan laskar dalam satu kesatuan pasukan yang besar. Dalam sekejap, Timur Pane mendaulat diri sebagai jenderal mayor sekaligus mengangkat serta anak buahnya menempati jabatan kolonel dan setara opsir.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page