top of page

Hasil pencarian

9871 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ahmad Yani dalam Seragam PETA

    MELETUSNYA Pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar pada 14 Februari 1945 mengubah situasi di semua daidan alias batalyon. Hampir semua perwira muda PETA berpangkat shodancho (komandan kompi, red.) ke atas dicurigai Jepang. Ahmad Yani dan Sarwo Edhie dua di antaranya. Pemberontakan para serdadu PETA di Daidan Blitar pimpinan Shodancho Supriyadi 76 tahun lampau memang akhirnya kandas. Sejumlah pelakunya ditangkap hingga dieksekusi. Beberapa di antaranya dinyatakan hilang secara misterius, termasuk Supriyadi. Ketika peristiwa itu meletus hingga dinetralisir Jepang, nyaris semua daidan di Jawa Tengah dan Jawa Barat belum mengetahuinya. Jepang menerapkan isolasi agar satu daidan dengan daidan lainnya yang tersebar dari Jakarta hingga Jawa Timur tak saling berhubungan. Maka pemberontakan PETA di Blitar, Cimahi, dan Cilacap pun tak terdengar daidan-daidan di kota-kota lain. Hanya beberapa perwira muda PETA yang menginsyafinya lewat sejumlah gelagat aneh Jepang di markas-markas mereka.

  • George Benson Kawan Yani

    INI bukan tentang George Benson pemilik tembang evergreen “Nothing’s Gonna Change My Love for You” yang sering konser jazz di Jakarta. Ini tentang George Benson yang jauh lebih dulu datang ke Jakarta. Tak hanya beda warna kulit, mereka juga beda profesi. George Benson yang ini ada dalam hubungan politik antara Indonesia dengan Amerika Serikat (AS). George Benson ini dikenal sebagai kawan Men/Pangad Letnan Jenderal Ahmad Yani. Keduanya sama-sama pernah belajar di Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat sekitar 1955. Seperti Yani, Benson Angkatan 45 juga –usia keduanya hampir sama; Yani kelahiran pertengahan 1922 sedangkan Benson kelahiran awal 1923. Bedanya, Yani perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang sejak 1945 berperang demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sementara Benson adalah lulusan Akademi Militer West Point angkatan 1945.

  • Yani yang Flamboyan, Nasution yang Puritan

    DI KOTA sejuk Bogor, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Letnan Jenderal TNI Abdul Haris Nasution sedang main golf bersama deputinya, Mayor Jenderal Ahmad Yani. Sambil menenteng stik golf, Nasution membuka perbincangan seputar gaya hidup masing-masing. Lagi asyik membeter lubang, Yani tetiba celetuk. “Jangan harapkan orang lain akan memikirkan apalagi mengurus kita. Hendaklah kita uruskan sendiri untuk kita pribadi,” demikian ujar Yani yang diceritakan ulang oleh Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 6: Masa Kebangkitan Orde Baru. Berbicara soal gaya hidup, Nasution dan Yani memang saling silang. Nasution menekankan kesederhanaan. Sementara Yani tampil lebih glamor.

  • Misi Peluncuran Roket Ahmad Yani

    MENJELANG akhir 1964, konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia kian memanas. Masing-masing angkatan bersenjata mengerahkan kekuatan tempurnya untuk berperang. Militer Inggris yang menyokong pembentukan Federasi Malaysia bahkan telah memindahkan armada kapal perangnya dari Laut Tengah ke perairan Malaysia. Inggris menyiapkan kapal induk andalannya HMS Eagle dan pesawat pengebom V (V Bombers). Sementara itu, pangkalan militer Inggris di Singapura diperlengkapi roket-roket anti pesawat udara. Menurut Jenderal TNI Abdul Haris Nasution, Inggris dan Australia mulai meningkatkan persiapan-persiapan militernya seiring dengan patroli pesawat AURI yang mendekati Australia. Pesawat pengebom TU-16 milik AURI pernah mencapai Darwin, Australia Utara, pada ketinggian yang tidak mampu dicapai pesawat pemburu Australia. Nasution yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan merangkap Kepala Staf Angkatan Bersenjata memperhitungkan Inggris dan Malaysia bersiap melakukan serangan balasan terhadap instalasi-instalasi militer Indonesia. Di tengah situasi genting itu, Indonesia terjepit baik di utara maupun selatan. Panglima Korps Komando (KKO, kini Marinir) Mayjen TNI Hartono justru mengumumkan bahwa Indonesia mengembangkan pembuatan roket antarkontinen. Maklumat Hartono yang bernada perang urat syaraf itu lantaran dia telah menyaksikan sendiri peluncuran roket “Ahmad Yani” buatan Angkatan Darat. Roket “Ahmad Yani” diluncurkan di Batujajar, Jawa Barat, pada 27 Juli 1964. Peluncurannya disaksikan oleh para deputi dari tiap matra dalam angkatan bersenjata, termasuk Hartono.

  • Ahmad Yani Berkelahi

    BUKAN balatentara Jepang yang pertama kali memperkenalkan Jenderal TNI Ahmad Yani pada dunia militer, melainkan tentara kolonial KNIL (Koninklijk Nederlandsch Indische Leger). Namun, ketika menjadi sersan KNIL, Yani punya pengalaman tak terlupakan: berkelahi dengan seorang Belanda yang tubuhnya lebih besar. Pemicunya, orang Belanda itu memaki ayah Yani. Tentu saja perkelahian itu tidak seimbang. Di tengah perkelahian, seorang kopral KNIL melintas. Bukannya membantu orang Belanda atau melerai perkelahian, kopral asal Ambon bernama Lopias itu malah membantu Yani. Pada dasarnya orang Ambon memiliki rasa setiakawan yang tinggi. “Orang Ambon baru sibuk bilamana ia sendiri, keluarganya, atau teman-temannya terancam, dan bersikap spontan tanpa memahami permasalahannya dahulu dalam mengambil keputusan,” catat Ernest Utrecht dalam Ambon: Kolonisatie, Dekolonisatie en Neo-kolonisatie. Dalam kasus Yani, orang Ambon rupanya bisa setiakawan kepada siapa saja yang lemah.

  • Ahmad Yani dan Panser Saracen

    DALAM rangka Operasi Trikora untuk merebut Irian Barat (Papua), Tentara Nasional Indonesia (TNI) membeli alutsista ke sejumlah negara Eropa. Pembelian alutsista itu dipimpin oleh Deputi II Kepala Staf Angkatan Darat Brigjen TNI Ahmad Yani sehingga disebut “Misi Yani.” “Brigadir Jenderal Ahmad Yani ditunjuk menjadi Ketua Staf Operasi dan untuk melengkapi persenjataan Indonesia dalam rangka pelaksanaan Trikora. Misi Yani berkunjung ke negara-negara Eropa untuk membeli senjata yang diperlukan,” ungkap Marieke Pandjaitan boru Tambunan dalam biografi suaminya, DI Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran. Demi melancarkan pembelian, Yani meminta bantuan para atase militer di masing-masing Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Di KBRI Bonn, Jerman Barat misalnya, Yani dibantu oleh Kolonel DI Pandjaitan. Sedangkan di KBRI London, Inggris, Yani dibantu Kolonel Sutojo Siswomihardjo. Di Inggris, Yani sukses memboyong sejumlah alutsista berupa puluhan kendaraan tempur lapis baja atau panser, termasuk Alvis Saracen yang pertama kali dibuat pada 1952.

  • Ryamizard Ryacudu Gagal Menjadi Panglima TNI

    KETIKA menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu membentuk Batalion Raider, satuan elite infantri dalam pasukan Kodam. Unit pasukannya berasal dari delapan batalion infantri pemukul Kodam dan dua batalion infantri Kostrad. Sepuluh batalion inilah yang dilebur menjadi Batalion Raider. Batalion Raider diresmikan pada 2003. Pasukan elite ini khusus dipersiapkan untuk menumpas pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Ryamizard mengklaim, gerakan pasukan Batalion Raider lebih cepat dari Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) TNI AU. “Kemampuannya itu untuk mengejar GAM tentunya akan lebih cepat lagi dari pasukan gerak cepat TNI yang telah ada selama ini,” ujar Ryamizard dalam Analisa, 24 November 2003.

  • Sepakbola Surabaya Punya Cerita

    SEDARI masa pergerakan, Surabaya sohor sebagai “dapurnya” nasionalisme. Segala segi kehidupan arek-arek Suroboyo sejak 1930-an, termasuk sepakbola, hampir selalu mengacu pada “promosi” ke-Indonesia-an. Sepakbola jadi alat perjuangan terhadap pemerintah Hindia Belanda. Permainan si kulit bundar begitu efektif untuk mengundang massa dan merekrut simpatisan. Terlebih, untuk golongan kelas dua (Timur Asing: Arab, Tionghoa) dan kelas terbawah (Bumiputera). Pertandingan-pertandingan bal-balan jadi “senjata” politik untuk menohok Nederlandsch Indische Voetbalbond (NIVB), induk sepakbola bentukan pemerintah Hindia Belanda. Sejak 1930, NIVB mendapat rival politis, PSSI. Setiap tim di bawah masing-masing federasi itu saling bersaing mencuri hati penggila bola di semua lapisan masyarakat.

  • Persebaya dalam Pusaran Masa

    SUATU siang di Surabaya. Selain terik matahari yang menyengat kulit, dalam perjalanan menuju Stadion Gelora 10 November menggunakan sepeda motor mata “disuguhi” grafiti dengan kata Persebaya di berbagai sudut kota. Grafiti-grafiti yang terdapat di pagar beton maupun tembok bangunan terbengkalai itu jadi penanda besarnya kecintaan arek-arek Suroboyo terhadap Persebaya Surabaya. Klub sepakbola yang sejak lahir hingga kini terus mengisi lembaran-lembaran sejarah persepakbolaan nasional itu lahir dari perjuangan tokoh-tokoh Bumiputera di masa sepakbola tengah berkembang pesat di berbagai kota di Hindia Belanda. Persebaya memang bukan yang pertama di Surabaya. Setelah orang-orang Belanda punya Oost Java Voetbalbond (OOJV) sejak 1907 yang berganti nama menjadi Soerabaiasche Voetbal Bond (SVB) mulai 1914, golongan Tionghoa lebih dulu punya klub sepakbola setelah mendirikan Tiong Hwa Soerabaia pada 1914.

  • Pemain Persebaya Gugur di Pertempuran 10 November

    PAGI ini, 10 November, 74 tahun lampau. Kota Surabaya diguncang hebatoleh bombardir Inggris dari udara, laut, dan darat. Ketenangan kota metropolitan di timur Pulau Jawa itu berubah jadi “neraka”. Alih-alih menyerah, arek-arek Suroboyo pilih melawan. Spirit mereka dibangkitkan salah satunya oleh pidato Soetomo alias Bung Tomo. “Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap merdeka atau mati,” kata Bung Tomo dalam pidatonya yang berapi-api.

  • Naga Wuhan di Bawah Mistar Persebaya

    ENAM abad setelah Laksamana Zheng He alias Cheng Ho datang ke Nusantara dan turut berlabuh di Surabaya, kiper muda dari negeri yang sama juga datang ke Surabaya. Dialah Zheng Cheng. Kiper kelahiran Wuhan pada 8 Januari 1987 itu tercatat jadi pesepakbola asal China pertama di Persebaya pada 2005. Saking berkesannya kenangan singkat itu, komisaris Persebaya Dahlan Iskan beberapa waktu lalu berniat kembali mendatangkan pemain dari Negeri Tirai Bambu lagi ketika bersua Xu Yong, konsul jenderal RRC di Surabaya. “Saya pernah mendatangkan Zheng Cheng saat masih menjadi pengurus Persebaya. Setelah bermain di Persebaya, kariernya kemudian melesat hingga jadi kiper timnas Tiongkok,” ungkap Dahlan, sebagaimana dilansir Harian Disway, 12 Maret 2024.

  • Grafiti Setelah Proklamasi

    WALI Kota Malang, Sutiaji menuliskan grafiti pertama di Jembatan Kedungkandang pada Senin (15/3/2021). Kegiatan ini untuk mengapresiasi komunitas seniman grafiti yang suka mengkritik dengan seni. Radarmalang.jawapos.com melaporkan, sekitar 20 komunitas dengan seratus orang lebih akan mengerjakan mural di Jembatan Kedungkandang ini selama dua minggu. Targetnya selesai sebelum ulang tahun Kota Malang. Wali Kota Sutiaji membuat grafiti titik. “Filosofinya titik, kita harus fokus. Kita berangkat dari satu titik dan menuju ke satu titik,” kata Sutiaji dikutip beritajatim.com. Sedangkan komandan Kodim 0833 menulis “TNI Bersama Rakyat” dan kepala Kejaksaan Negeri menulis “Orang Hebat Tidak Korupsi”. Tulisan-tulisan itu oleh warganet twitter diganti dan dijadikan meme. Dalam sejarah, grafiti menjadi slogan perjuangan setelah Proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page