top of page

Misi Peluncuran Roket Ahmad Yani

Meski dalam eksperimen, proyek uji coba roket Angkatan Darat menebar sinyal pertahanan Indonesia siap tempur dalam konfrontasi. Bubar setelah geger politik 1965.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Jenderal Abdul Haris Nasution, Wakil Panglima Besar Komando Ganyang Malaysia bersama rombongannya sedang memeriksa sebuah Roket Ahmad Yani II dalam posisi angkut. Sumber: Repro "50 Tahun ABRI".

26 Mei 2023
3 menit membaca

Diperbarui: 19 Jun

MENJELANG akhir 1964, konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia kian memanas. Masing-masing angkatan bersenjata mengerahkan kekuatan tempurnya untuk berperang. Militer Inggris yang menyokong pembentukan Federasi Malaysia bahkan telah memindahkan armada kapal perangnya dari Laut Tengah ke perairan Malaysia. Inggris menyiapkan kapal induk andalannya HMS Eagle dan pesawat pengebom V (V Bombers). Sementara itu, pangkalan militer Inggris di Singapura diperlengkapi roket-roket anti pesawat udara.


Menurut Jenderal TNI Abdul Haris Nasution, Inggris dan Australia mulai meningkatkan persiapan-persiapan militernya seiring dengan patroli pesawat AURI yang mendekati Australia. Pesawat pengebom TU-16 milik AURI pernah mencapai Darwin, Australia Utara, pada ketinggian yang tidak mampu dicapai pesawat pemburu Australia. Nasution yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan merangkap Kepala Staf Angkatan Bersenjata memperhitungkan Inggris dan Malaysia bersiap melakukan serangan balasan terhadap instalasi-instalasi militer Indonesia.


Di tengah situasi genting itu, Indonesia terjepit baik di utara maupun selatan. Panglima Korps Komando (KKO, kini Marinir) Mayjen TNI Hartono justru mengumumkan bahwa Indonesia mengembangkan pembuatan roket antarkontinen. Maklumat Hartono yang bernada perang urat syaraf itu lantaran dia telah menyaksikan sendiri peluncuran roket “Ahmad Yani” buatan Angkatan Darat. Roket “Ahmad Yani” diluncurkan di Batujajar, Jawa Barat, pada 27 Juli 1964. Peluncurannya disaksikan oleh para deputi dari tiap matra dalam angkatan bersenjata, termasuk Hartono.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page