Hasil pencarian
9871 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Jenderal Yani dan Para Asistennya
SEPEKAN setelah memegang tampuk kepemimpinan Angkatan Darat, Letjen Ahmad Yani meresmikan susunan stafnya. Tiga perwira tinggi diangkat sebagai deputi. Mereka antara lain: Deputi I/Operasi Mayjen Moersjid, Deputi II/Admistrasi Mayjen Soeprato, dan Deputi III/Pembinaan Mayjen Harjono Mas Tirtodarmo. Ketiganya merupakan wakil Yani yang membawahkan beberapa bidang. Untuk membantu kinerjanya, Yani dibantu oleh sejumlah asisten. Asisten I/Intelijen Mayjen Siswondo Parman, Asisten II/Mayjen Djamin Gintings, Asisten III/Personel Mayjen Pranoto Reksosamudro, Asisten IV/Brigjen Donald Isaac Pandjaitan. Selain itu, Yani menambah tiga asisten lagi yang di masa Nasution belum ada. Asisten V/Teritorial Brigjen Soeprapto Sokowati, Asisten VI/Kekaryaan Brigjen dr. Soedjono, dan Asisten VII/Keuangan Brigjen Ashari yang kemudian digantikan oleh Alamsyah Ratu Perwiranegara.
- Kisah Para Deputi Jenderal Yani
SETELAH membaca artikel “Jenderal Yani dan Para Asistennya”, Letjen TNI (Purn.) Sayidiman Suryohadiprodjo langsung memberikan tanggapan. Selain para asisten, menurutnya masih ada tiga jenderal lagi yang belum disebut perannya. Mereka adalah perwira tinggi yang menjabat sebagai deputi Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad). “Para deputi juga punya saham penting dalam mutu tinggi SUAD Yani,” ujar sesepuh TNI AD Angkatan ‘45 itu kepada Historia.ID. Para deputi yang dimakud ialah Mayjen Moersjid (Deputi I), Mayjen R. Soeprapto (Deputi II), dan Mayjen Mas Tirtodarmo Harjono (Deputi III). Ketiga deputi ini merupakan wakil Yani yang membawahkan beberapa asisten. Sementara pengangkatan asisten tidak terlepas dari rupa-rupa kompromi, namun tidak demikian halnya untuk para deputi.
- Profil Pahlawan Revolusi: Ahmad Yani, Jenderal Brilian Pilihan Sukarno yang Berakhir Tragis
“Lebih baik bermandi keringat di medan latihan daripada mandi darah di medan pertempuran.” Itulah pernyataan populer dari Ahmad Yani, Pahlawan Revolusi yang gugur di tangan sekelompok petualang militer pada dini hari 1 Oktober 1965. Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 19 Juni 1922 dari pasangan Sarjo bin Suharyo dan Murtini. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di Bogor pada 1935, Yani masuk Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sekolah setingkat sekolah menengah pertama, di Bogor. Lulus dari MULO pada 1938, Yani melanjutkan pendidikan ke Algemeene Middelbare School (AMS), setara dengan sekolah menengan atas, di Jakarta. Yani hanya menjalani pendidikan hingga kelas dua di AMS karena ada kewajiban mengikuti pendidikan militer dari pemerintah Hindia Belanda. Yani pun mengikuti pendidikan militer di Dinas Topografi Militer, Malang dan kemudian mengikuti sekolah militer lanjutan di Bogor.
- Jenderal Yani Menolak Nasakomisasi
JAKARTA, awal 1965. Slogan “Nasakom Jaya” yang berada di bilangan Jalan M.H. Thamrin tetiba menjadi “cacat”. Entah siapa yang melakukannya, Nasakom yang merupakan kepanjangan dari Nasionalis Agama Komunis, imbuhan “kom”-nya ada yang mencoret. Maka tinggalah kata “Nasa”. Peristiwa itu sampai ke telinga Presiden Sukarno. Tjtju Tresnawati (74) masih ingat bagaimana Si Bung Besar menjadi berang. Dalam suatu pidatonya yang disiarkan langsung oleh Radio Republik Indonesia (RRI), Tjutju yang saat itu tinggal di wilayah Mayestik, Jakarta Selatan masih sempat merekam dalam benaknya kemarahan tersebut. “Siapa itu yang berbuat nakal mencoret kata 'kom'? Bawa ke hadapan saya, biar saya jewer!,” ujar Bung Karno seperti didengar oleh Tjutju dalam siaran RRI itu.
- Ahmad Yani dalam Seragam PETA
MELETUSNYA Pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar pada 14 Februari 1945 mengubah situasi di semua daidan alias batalyon. Hampir semua perwira muda PETA berpangkat shodancho (komandan kompi, red.) ke atas dicurigai Jepang. Ahmad Yani dan Sarwo Edhie dua di antaranya. Pemberontakan para serdadu PETA di Daidan Blitar pimpinan Shodancho Supriyadi 76 tahun lampau memang akhirnya kandas. Sejumlah pelakunya ditangkap hingga dieksekusi. Beberapa di antaranya dinyatakan hilang secara misterius, termasuk Supriyadi. Ketika peristiwa itu meletus hingga dinetralisir Jepang, nyaris semua daidan di Jawa Tengah dan Jawa Barat belum mengetahuinya. Jepang menerapkan isolasi agar satu daidan dengan daidan lainnya yang tersebar dari Jakarta hingga Jawa Timur tak saling berhubungan. Maka pemberontakan PETA di Blitar, Cimahi, dan Cilacap pun tak terdengar daidan-daidan di kota-kota lain. Hanya beberapa perwira muda PETA yang menginsyafinya lewat sejumlah gelagat aneh Jepang di markas-markas mereka.
- George Benson Kawan Yani
INI bukan tentang George Benson pemilik tembang evergreen “Nothing’s Gonna Change My Love for You” yang sering konser jazz di Jakarta. Ini tentang George Benson yang jauh lebih dulu datang ke Jakarta. Tak hanya beda warna kulit, mereka juga beda profesi. George Benson yang ini ada dalam hubungan politik antara Indonesia dengan Amerika Serikat (AS). George Benson ini dikenal sebagai kawan Men/Pangad Letnan Jenderal Ahmad Yani. Keduanya sama-sama pernah belajar di Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat sekitar 1955. Seperti Yani, Benson Angkatan 45 juga –usia keduanya hampir sama; Yani kelahiran pertengahan 1922 sedangkan Benson kelahiran awal 1923. Bedanya, Yani perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang sejak 1945 berperang demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sementara Benson adalah lulusan Akademi Militer West Point angkatan 1945.
- Yani yang Flamboyan, Nasution yang Puritan
DI KOTA sejuk Bogor, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Letnan Jenderal TNI Abdul Haris Nasution sedang main golf bersama deputinya, Mayor Jenderal Ahmad Yani. Sambil menenteng stik golf, Nasution membuka perbincangan seputar gaya hidup masing-masing. Lagi asyik membeter lubang, Yani tetiba celetuk. “Jangan harapkan orang lain akan memikirkan apalagi mengurus kita. Hendaklah kita uruskan sendiri untuk kita pribadi,” demikian ujar Yani yang diceritakan ulang oleh Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 6: Masa Kebangkitan Orde Baru. Berbicara soal gaya hidup, Nasution dan Yani memang saling silang. Nasution menekankan kesederhanaan. Sementara Yani tampil lebih glamor.
- Misi Peluncuran Roket Ahmad Yani
MENJELANG akhir 1964, konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia kian memanas. Masing-masing angkatan bersenjata mengerahkan kekuatan tempurnya untuk berperang. Militer Inggris yang menyokong pembentukan Federasi Malaysia bahkan telah memindahkan armada kapal perangnya dari Laut Tengah ke perairan Malaysia. Inggris menyiapkan kapal induk andalannya HMS Eagle dan pesawat pengebom V (V Bombers). Sementara itu, pangkalan militer Inggris di Singapura diperlengkapi roket-roket anti pesawat udara. Menurut Jenderal TNI Abdul Haris Nasution, Inggris dan Australia mulai meningkatkan persiapan-persiapan militernya seiring dengan patroli pesawat AURI yang mendekati Australia. Pesawat pengebom TU-16 milik AURI pernah mencapai Darwin, Australia Utara, pada ketinggian yang tidak mampu dicapai pesawat pemburu Australia. Nasution yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan merangkap Kepala Staf Angkatan Bersenjata memperhitungkan Inggris dan Malaysia bersiap melakukan serangan balasan terhadap instalasi-instalasi militer Indonesia. Di tengah situasi genting itu, Indonesia terjepit baik di utara maupun selatan. Panglima Korps Komando (KKO, kini Marinir) Mayjen TNI Hartono justru mengumumkan bahwa Indonesia mengembangkan pembuatan roket antarkontinen. Maklumat Hartono yang bernada perang urat syaraf itu lantaran dia telah menyaksikan sendiri peluncuran roket “Ahmad Yani” buatan Angkatan Darat. Roket “Ahmad Yani” diluncurkan di Batujajar, Jawa Barat, pada 27 Juli 1964. Peluncurannya disaksikan oleh para deputi dari tiap matra dalam angkatan bersenjata, termasuk Hartono.
- Ahmad Yani Berkelahi
BUKAN balatentara Jepang yang pertama kali memperkenalkan Jenderal TNI Ahmad Yani pada dunia militer, melainkan tentara kolonial KNIL (Koninklijk Nederlandsch Indische Leger). Namun, ketika menjadi sersan KNIL, Yani punya pengalaman tak terlupakan: berkelahi dengan seorang Belanda yang tubuhnya lebih besar. Pemicunya, orang Belanda itu memaki ayah Yani. Tentu saja perkelahian itu tidak seimbang. Di tengah perkelahian, seorang kopral KNIL melintas. Bukannya membantu orang Belanda atau melerai perkelahian, kopral asal Ambon bernama Lopias itu malah membantu Yani. Pada dasarnya orang Ambon memiliki rasa setiakawan yang tinggi. “Orang Ambon baru sibuk bilamana ia sendiri, keluarganya, atau teman-temannya terancam, dan bersikap spontan tanpa memahami permasalahannya dahulu dalam mengambil keputusan,” catat Ernest Utrecht dalam Ambon: Kolonisatie, Dekolonisatie en Neo-kolonisatie. Dalam kasus Yani, orang Ambon rupanya bisa setiakawan kepada siapa saja yang lemah.
- Ahmad Yani dan Panser Saracen
DALAM rangka Operasi Trikora untuk merebut Irian Barat (Papua), Tentara Nasional Indonesia (TNI) membeli alutsista ke sejumlah negara Eropa. Pembelian alutsista itu dipimpin oleh Deputi II Kepala Staf Angkatan Darat Brigjen TNI Ahmad Yani sehingga disebut “Misi Yani.” “Brigadir Jenderal Ahmad Yani ditunjuk menjadi Ketua Staf Operasi dan untuk melengkapi persenjataan Indonesia dalam rangka pelaksanaan Trikora. Misi Yani berkunjung ke negara-negara Eropa untuk membeli senjata yang diperlukan,” ungkap Marieke Pandjaitan boru Tambunan dalam biografi suaminya, DI Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran. Demi melancarkan pembelian, Yani meminta bantuan para atase militer di masing-masing Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Di KBRI Bonn, Jerman Barat misalnya, Yani dibantu oleh Kolonel DI Pandjaitan. Sedangkan di KBRI London, Inggris, Yani dibantu Kolonel Sutojo Siswomihardjo. Di Inggris, Yani sukses memboyong sejumlah alutsista berupa puluhan kendaraan tempur lapis baja atau panser, termasuk Alvis Saracen yang pertama kali dibuat pada 1952.
- Ryamizard Ryacudu Gagal Menjadi Panglima TNI
KETIKA menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu membentuk Batalion Raider, satuan elite infantri dalam pasukan Kodam. Unit pasukannya berasal dari delapan batalion infantri pemukul Kodam dan dua batalion infantri Kostrad. Sepuluh batalion inilah yang dilebur menjadi Batalion Raider. Batalion Raider diresmikan pada 2003. Pasukan elite ini khusus dipersiapkan untuk menumpas pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Ryamizard mengklaim, gerakan pasukan Batalion Raider lebih cepat dari Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) TNI AU. “Kemampuannya itu untuk mengejar GAM tentunya akan lebih cepat lagi dari pasukan gerak cepat TNI yang telah ada selama ini,” ujar Ryamizard dalam Analisa, 24 November 2003.
- Sepakbola Surabaya Punya Cerita
SEDARI masa pergerakan, Surabaya sohor sebagai “dapurnya” nasionalisme. Segala segi kehidupan arek-arek Suroboyo sejak 1930-an, termasuk sepakbola, hampir selalu mengacu pada “promosi” ke-Indonesia-an. Sepakbola jadi alat perjuangan terhadap pemerintah Hindia Belanda. Permainan si kulit bundar begitu efektif untuk mengundang massa dan merekrut simpatisan. Terlebih, untuk golongan kelas dua (Timur Asing: Arab, Tionghoa) dan kelas terbawah (Bumiputera). Pertandingan-pertandingan bal-balan jadi “senjata” politik untuk menohok Nederlandsch Indische Voetbalbond (NIVB), induk sepakbola bentukan pemerintah Hindia Belanda. Sejak 1930, NIVB mendapat rival politis, PSSI. Setiap tim di bawah masing-masing federasi itu saling bersaing mencuri hati penggila bola di semua lapisan masyarakat.





















