Hasil pencarian
9870 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sukarno Meninggal Dunia
PADA 21 Juni 1970, Presiden Sukarno mengebuskan napas terakhirnya. Di pengujung hidupnya, dia jalani dengan memilukan. Setelah dijatuhkan pada Maret 1967 dengan naiknya Jenderal Soeharto menjadi presiden, Sukarno menjadi tahanan rumah di Istana Bogor, kemudian dipindahkan ke Wisma Yaso di Jakarta (Sekarang Museum Satria Mandala). Jusuf Wanandi, mantan aktivis KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), menyebut bahwa beberapa oknum dari intelijen Kopkamtib (Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) yang ingin membuktikan keterlibatan Sukarno dalam gerakan makar PKI (mungkin tanpa perintah Soeharto) menetapkan Bung Karno berstatus tahanan rumah, sementara penyelidikan berlangsung. “Laporan resmi pemeriksaan ini tidak pernah dikeluarkan,” katanya dalam Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1998. Sukarno dikucilkan dari rakyatnya di Wisma Yaso sejak pengujung Desember 1967. “Bahkan, keluarga dan kerabatnya pun sulit menemui Bung Karno. Untuk membesuk Bung Karno, mereka harus mendapat izin lebih dulu dari otoritas yang berwenang,” tulis sejarawan Bob Hering dalam Soekarno Arsitek Bangsa.
- Nasib Tragis Kapal Inggris
BERT “Curly” Harris selalu ingat hari ketika peristiwa yang merenggut nyawa Edwin, kakaknya, dan juga nyaris merenggut nyawanya terjadi. Peristiwa itu terjadi perairan Norwegia, Laut Utara, awal Perang Dunia II. Bert merupakan personil AL Inggris yang –diterima pada 14 Februari 1938– bertugas sebagai stoker di kapal perusak (destroyer) HMS Glowworm. Di kapal itu pula Edwin berdinas sebagai stoker. Menyusul pecahnya Perang Dunia (PD) II, Glowworm bersama beberapa destroyer lain ditugaskan mengawal kapal penjelajah berat HMS Renown melancarkan Operasi Wilfred pada 5 April 1940. Operasi penebaran ranjau di perairan Norwegia itu bertujuan untuk menutup jalur distribusi impor bijih besi Jerman dari Swedia. Inggris menggelarnya setelah gagal mendapat izin dari Swedia dan Norwegia untuk menempatkan pasukan di kota-kota utara dua negeri netral itu, terutama kota pelabuhan Narvik, Norwegia.
- Baret Merah Bikin Inggris Berdarah-darah
SETELAH pertempuran salah paham antara Yon 1/RPKAD melawan Yon 454/Diponegoro di luar PAU Halim Perdanakusuma pada pagi 2 Oktober 1965 mereda, Sersan mayor (Serma) Soediono mendapat perintah dari Kapten Oerip, atasannya di Kompi Ben Hur. Soediono diperintahkan sang komandan masuk ke Halim untuk menemui Komandan RPKAD (kini Kopassus) Kolonel Sarwo Edhie Wibowo guna melaporkan perkembangan situasi dan minta arahan lebih lanjut. Ditemani Kopral Miptah, Serma Soediono lalu berjalan kaki masuk ke Halim. Sempat salah masuk ke markas Kolaga, Soediono dan Miptah berhasil menemui Sarwo Edhie di Makoops AURI. Sarwo Edhie berada di Makoops AURI ditemani sejumlah petinggi AURI seperti Laksda Udara Sri Mulyono Herlambang. Di sana, Sarwo Edhie mendapatkan penjelasan bahwa AURI tidak punya rencana membombardir titik-titik vital AD sebagaimana diyakini Pangkostrad Mayjen Soeharto dan pimpinan AD. Maka begitu berhasil menemui sang kolonel, Soediono langsung menjalankan tugasnya. Dia diterima dengan baik oleh Sarwo Edhie. “Kolonel Sarwo Edhie mengenalnya dengan baik, karena dialah yang memberikan kenaikan pangkat luar biasa, menjadi Sersan Mayor di perbatasan Kalimantan Barat, berkat keberhasilannya menghancurkan perkubuan Inggris di Mapu, Sarawak,” tulis Aristides Katoppo, dkk. dalam Menyingkap Kabut Halim 1965.
- Inggris Menjarah Keraton Yogyakarta
KETURUNAN Sultan Hamengkubuwono II menuntut pemerintah Inggris mengembalikan harta Keraton Yogyakarta yang dijarah saat penyerangan Inggris pada 1812 yang disebut Geger Sepoy atau Geger Sepehi. Menurut mereka, totalnya mencapai 57.000 ton emas. Tuntutan itu disampaikan Sekretaris Pengusul Pahlawan Nasional Sultan Hamengkubuwono II, Fajar Bagoes Poetranto. “Kami meminta agar emas tersebut dikembalikan kepada pihak keraton atau para keturunan dari Sinuwun Sri Sultan Hamengkubuwono II,” katanya dalam keterangan tertulis, Sabtu (25/7), dikutip Kumparan.com. Jumlah 57.000 ton emas dipertanyakan oleh Poltak Hotradero, kepala divisi riset di Bursa Efek Indonesia. Poltak mencuit lewat akun twitter-nya: “Emas yang pernah ditambang sepanjang sejarah manusia cuma 190 ribu ton. Gimana bisa seperempatnya ada di Jawa?”
- Tantangan Mengembalikan Prasasti dari Inggris
KALA menguasai Jawa pasca-Geger Sepehi (Juni 1812), pemerintah kolonial Inggris “memanen” benda-benda budaya dan bersejarah di banyak tempat. Di Jawa Timur, mereka menjarah Prasasti Sangguran dan Prasasti Pucangan. Kini, seiring munculnya tuntutan pengembalian benda budaya dan bersejarah yang dijarah Inggris, muncul pula keinginan untuk memulangkan kedua prasasti tersebut. Namun, menurut sejarawan Peter Carey, tantangannya berliku untuk bisa menuntut kedua prasasti itu kembali ke Indonesia. “Butuh upaya yang gigih lantaran dua prasasti itu sudah berbaur dengan kebiasaan publik setempat di Inggris,” ujarnya dalam bincang virtual bersama Pemred Historia.ID Bonnie Triyana bertajuk “Memburu Harta Jarahan: Repatriasi Benda Bersejarah dari Negeri Penjajah”, Rabu, 5 Agustus 2020. Prasasti Sangguran yang kemudian dikenal dengan Minto Stone kini berada di pekarangan kediaman eks Gubernur Jenderal Inggris di India, Lord Minto, di Roxburghshire, perbatasan Skotlandia-Inggris. Prasasti berisi kutukan dan karma yang bertarikh 982 Masehi itu merupakan rampasan dari Mojorejo (kini dekat Kota Batu, Malang, Jawa Timur), salah satu wilayah yang direbut Inggris pasca-Geger Sepehi.
- Emas yang Dijarah Inggris
SELAIN menjarah manuskrip, bermacam benda budaya, dan batuan benteng ketika menaklukkan Yogyakarta, Inggris juga mengambil uang emas dan perak dari keraton. Sejarawan Peter Carey, dalam dialog sejarah “Repatriasi Benda Bersejarah dari Negeri Penjajah” live di saluran Youtube dan Facebook Historia.ID, Rabu (5/8/2020), menyebut jumlahnya 800.000 dolar Spanyol. Uang itu dibagi menjadi dua bagian: 400.000 dolar digunakan untuk membayar tunjangan (prize money) bagi perwira-perwira yang tidak tewas dalam perang, 400.000 dolar sisanya dikirim ke Benggala untuk diberikan kepada keluarga perwira dan prajurit. Dalam istilah Inggris harta tersebut disebut loot (jarahan) yang berasal dari kata India. Dan yang terjadi di Yogyakarta, loot ini dipakai untuk memberi tunjangan kepada pasukan Sepehi. Mereka diberi persentase dari harta jarahan. Di mana dalam serangan ke Keraton Yogyakarta itu, Inggris mengerahkan sekitar seribu prajurit yang sebagian besar merupakan pasukan Sepehi dari India.
- Perseteruan di Balik Pembantaian Massal Tionghoa
PERISTIWA pembantaian massal orang Tionghoa di Batavia pada 1740 tak hanya menyeret nama Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier (menjabat 1737–1741), tetapi juga Gustaf Willem Baron van Imhoff yang paling bertanggung jawab atas kejadian yang dianggap noda hitam dalam sejarah kota Batavia. Menurut pengarang Amerika Serikat, Willard A. Hanna, pada masa itu ribuan orang Tionghoa membanjiri Batavia karena tertarik oleh harapan kemakmuran di kota tersebut. Kehadiran orang-orang Tionghoa yang memenuhi kawasan pinggiran kota menyebabkan jumlah penduduk Tionghoa di kota dan sekitarnya meningkat hingga lebih dari 80.000 orang. Meski banyak yang bekerja di perkebunan tebu, pabrik gula, dan perusahaan kayu, namun tak sedikit pula menjadi gelandangan, yang beberapa di antaranya membentuk kelompok dan melakukan kejahatan kecil-kecilan hingga memicu kekacauan. Khawatir kondisi itu mengganggu stabilitas keamanan dan perekonomian, pemerintah di Batavia pun bertindak. “Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier dan Majelis Hindia Belanda yang bertindak atas saran dari van Imhoff, yang baru kembali dari perang merebut Ceylon (kini Sri Lanka, red.), memutuskan untuk menangkap secara besar-besaran dan mengekspor kelebihan buruh orang Tionghoa, yang menurut van Imhoff sangat dibutuhkan di Ceylon,” tulis Hanna dalam Hikayat Jakarta.
- Persaingan Inggris-Amerika di Tepian Rhine
HARI sudah beranjak petang saat pesawat Dakota yang membawa Perdana Menteri (PM) Inggris Winston Churchill mendarat di pangkalan udara Venlo, Belanda, 23 Maret 1945. Dengan ditemani sekretaris pribadinya, Sir John ‘Jock’ Colville, dan penasihat Angkatan Laut Letnan C.R. ‘Tommy’ Thompson, Churchill langsung diantar unit pengawalan Grup Angkatan Darat (AD) Inggris ke-21 menuju markas Marsekal Bernard Montgomery di Straelen, Jerman Utara. “Saya berkehendak mendampingi pasukan dalam penyeberangan (Sungai Rhine) dan Montgomery menyambut saya. Saya hanya membawa sekretaris Jock Colville dan Tommy. Saya terbang saat petang dari Norholt ke Venlo,” kenang Churchill dikutip sejarawan militer Inggris, Kapten (Purn.) Patrick Delaforce dalam Onslaught on Hitler’s Rhine. Churchill bersikeras untuk memantau langsung menjelang operasi besar-besaran Inggris mendesak Jerman ke tapal batasnya sendiri. Larangan dari banyak perwiranya, termasuk Montgomery sendiri, tak dia hiraukan.
- Darah Turki Perdana Menteri Inggris Boris Johnson
DI TENGAH kecamuk perang dan kelabunya langit Kyiv pada Sabtu, 9 April 2022, dua sosok pria berjalan keluar dari sebuah gedung pemerintahan ke jalan-jalan menuju pusat ibukota sambil menyunggingkan senyum. Yang satu mengenakan jas dengan dasi biru dan satunya lagi mengenakan jaket militer hijau polos. Pria berambut pirang yang mengenakan jas itu tak lain adalah Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson. Di sisi kirinya, sosok pria berjaket militer hijau, adalah tuan rumah, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Sebagian dunia internasional terhenyak. Itu adalah kunjungan rahasia PM Johnson yang ngotot ingin melihat langsung situasi Ukraina. Setelah menyapa beberapa warga sipil, PM Johnson berdiskusi serius dengan Zelenskyy di ruangan tertutup. Menukil laman resmi pemerintah Inggris, Sabtu 9 April 2022, PM Johnson mengaku terkesan dengan kepemimpinan Presiden Zelenskyy yang tetap bertahan bersama rakyatnya menangkal invasi dan mengecam tindakan Presiden Rusia Vladimir Putin.
- Sebelum Charles Menjadi Raja Inggris
MASIH mengenakan jubah penobatan dan Mahkota St. Edward, Raja Charles III melangkah keluar balkon Istana Buckingham, London, Sabtu (6/5/2023) petang. Dengan ditemani istri keduanya, Permaisuri Camilla, Charles III melambaikan tangan menyapa ribuan masyarakat di luar pagar yang menyambut hangat sang raja baru. Charles resmi menyandang status sebagai penguasa monarki Inggris Raya kelima dari Dinasti Windsor usai dinobatkan di Gereja Westminster Abbey pada paginya. Ia sudah memilih untuk tetap menggunakan nama “Charles III” sejak ibunya, Ratu Elizabeth II, wafat pada 8 September 2022. Kendati mendapat sambutan hangat, tak sedikit elemen masyarakat yang masih terus menyuarakan pembubaran monarki atau setidaknya menolak Charles menjadi raja. Mereka lebih menginginkan putra sulungnya, Pangeran William, yang melanjutkan takhta. Toh sejak lama ia jadi “media darling” media-media Inggris dalam konteks negatif.
- Bromo dalam Catatan Penjelajah Inggris
PEMANDANGAN alam Gunung Bromo yang memukau membuat kawasan ini menjadi salah satu objek wisata terpopuler di Jawa Timur. Wisatawan dari dalam maupun luar negeri datang silih berganti untuk melihat langsung keindahannya. Salah satunya adalah John Whitehead, penjelajah Inggris yang mendaki Gunung Bromo tahun 1880-an. Selama melakukan penjelajahan di kawasan Bromo, ahli ornitologi itu turut meneliti sejumlah burung. Kisah pendakian dan penjelajahan Whitehead di kawasan Gunung Bromo menjadi salah satu bagian dalam bukunya, Exploration of Mount Kina Balu, North Borneo yang dipublikasikan tahun 1893. Whitehead tak hanya menceritakan pengalamannya mendaki Gunung Bromo. Pria kelahiran 30 Juni 1860 itu juga menulis kesan-kesannya mengenai kebiasaan orang-orang Belanda. “Orang-orang Belanda memiliki beberapa kebiasaan aneh yang, secara keseluruhan, lebih cocok dengan iklim di wilayah koloni daripada kerapian penampilan pribadi mereka. Di pagi hari, para pria berkeliaran di sekitar rumah mereka dan kadang-kadang di jalan umum dengan piyama, yang terdiri dari luaran berbahan linen putih longgar dan celana panjang linen longgar yang berwarna mencolok dan bermotif mewah; sepasang sandal mandi melengkapi kostum tersebut,” tulis Whitehead.
- Al-Shifa, dari Barak Inggris hingga Rumah Sakit Terbesar di Gaza
SITUASI di Jalur Gaza, Palestina makin memilukan setelah lebih dari 40 hari digempur militer Israel. Dua rumahsakit di kota Gaza sudah terpaksa berhenti beroperasi. Lima hari lalu, PRCS atau Bulan Sabit Merah Palestina, dikutip Anadolu Ajansı, Minggu (12/11/2023), menyatakan Rumah Sakit Al-Quds yang berlokasi di Tel al-Hawa, Gaza, terpaksa berhenti beroperasi setelah padamnya listrik karena kekurangan bahan bakar. Pasien-pasiennya dan staf medisnya baru bisa dievakuasi tiga hari berselang. Hal serupa kemudian dialami Rumah Sakit Indonesia (RSI) yang berlokasi di Beit Lahiya, Gaza Utara. Tidak hanya kekurangan pasokan listrik, RSI –yang pasiennya sudah membludak lima kali lipat dari kapasitas maksimalnya– sudah tak lagi punya stok obat-obatan dan fasilitas medis lainnya hingga tak lagi bisa beroperasi sejak Kamis (16/11/2023).





















