Hasil pencarian
9823 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Khazanah Hantu Indonesia
MAJALAH Penjebar Semangat didirikan dr. Sutomo pada 1933. Majalah berbahasa Jawa ini awalnya menurunkan berita politik. Namun, lama-kelamaan tidak begitu laku. Akhirnya, membuka rubrik cerita hantu, “Alaming Lelembut.” Majalah lain yang memiliki cerita hantu adalah Joko Lodang dengan “Jagating Lelembut” dan Joyo Boyo dengan “Cerita Misteri.” “Cerita hantu di Panjebar Semangat muncul tahun 80-an ketika oplah mulai turun. Lama-lama jadi menu utama dan yang paling favorit. Hipotesis saya, kalau tidak ada cerita hantu, majalah ini tidak akan bertahan sampai sekarang,” kata Sunu Wasono, pengajar sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, dalam bincang ilmiah “Tema Horor dalam Masyarakat” di FIB UI, Depok, Jawa Barat (3/10). Menurut Sunu, yang membuat disertasi tentang dongeng lelembut di Penyebar Semangat pada 2015, cerita hantu mencerminkan pandangan atau kepercayaan masyarakat karena bersinggungan dengan kehidupan dan kematian. Dalam konsep Jawa, secara garis besar ada dua jenis kematian. Kematian yang baik seperti mati karena sudah tua, mati di jalan Tuhan, mati saat melahirkan atau dilahirkan. Yang kedua adalah kematian karena sebab-sebab yang tidak lumrah, seperti mati bunuh diri atau kecelakaan.
- Usai Reformasi, Pocong Mendominasi
PENGAJAR sastra Prancis Universitas Indonesia Dr. Suma Riella Rusdiarti punya perhatian menarik terkait Reformasi. Menurutnya, Reformasi tak hanya menggulingkan kediktatoran Soeharto dan mengembalikan demokrasi di Indonesia, tapi juga menumbangkan dominasi tokoh-tokoh mistis macam Nyi Roro Kidul atau Nyi Blorong sebagai hantu utama di layar lebar. Peran mereka digantikan oleh pocong. “Film dulu berkitan dengan mitos. Makin ke sini berkitan dengan pocong. Hantu khas Indonesia hari ini adalah pocong. Dua puluh tahun yang lalu, hantu pocong belum jadi hantu utama. Sesudah Reformasi, hantu pocong jadi pemeran utama dan muncul di layar,” ujar Riella. Jenis hantu pocong, yakni hantu berbungkus kain putih, sebenarnya telah ada sejak lama. Naskah-naskah Jawa kuna menamakan hantu jenis itu wedon. “Pocong dan wedon sama. Itu tradisi lisan. Munculnya sejak kapan, agak sulit dilacak,” kata Suwardi Endraswara, dosen bahasa Jawa di Universitas Negeri Yogyakarta. Suwardi menambahkan, wedon termasuk dalam arwah yang belum sempurna (nglambrang) dan menjadi anak buah dari penguasa lelembut di suatu wilayah.
- Amirmachmud Larang PKI Ikut Pemilu
WALI Kota Solo Gibran Rakabuming Raka kesal. Pasalnya, dirinya diserang dengan “senjata” yang sama untuk menyerang ayahnya dulu ketika berjuang untuk menjadi presiden. Seperti ayahnya, Presiden Joko Widodo, Gibran dikait-kaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Kekesalan Gibran pun dituangkannya dengan “nge-Twit” untuk merespon cuitan penyerangnya, @BudiSan42575425, itu. “Bilang ke korlap lu. Serangan2 seperti ini udah kalian lakukan di 2014 dan 2019. Sudah terbukti 2x kalah dan masyarakat tidak simpatik. Masa mau lu ulangin lagi pola seperti ini di 2024?” cuit Gibran lewat akun Twitter-nya, @gibran-tweet. Kendati PKI telah lama mati dan aturan pemilihan umum (umum) telah beberapakali berubah, isu PKI tetap digunakan sejumlah pihak hingga kini. PDIP, partai yang mengusung Presiden Joko Widodo, menjadi pihak yang apes lantaran paling sering jadi partai yang disasar serangan menggunakan “senjata” PKI jelang hingga bergulirnya tahun politik.
- Sudjojono Dipecat PKI
POLITISI Budiman Sudjatmiko resmi dipecat oleh PDI Perjuangan (PDIP). Surat pemecatan dikirim lewat kurir yang diterima oleh putrinya. Pemberhentian itu buntut dari deklarasi dukungan Budiman kepada Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pemilu 2024. PDIP sendiri menunjuk kadernya, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, sebagai capres. Surat pemecatan Budiman ditandatangani oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. Meski mengaku legowo, dalam keterangannya kepada media, Budiman tidak menyembunyikan rasa kecewanya. “[Surat pemecatan] diterima oleh putri saya yang kebetulan waktu kecil dikasih nama oleh Ibu Megawati,” kata Budiman. Bagi Budiman, inilah akhir kiprahnya di PDIP. Selah mendirikan Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan dipenjara rezim Orde Baru, Budiman menjadi kader PDIP sejak 2004. Dia pernah menjadi anggota DPR RI dua periode (2009 dan 2014) dari daerah pemilihan Jawa Tengah VII (Kabupaten Banyumas dan Cilacap).
- Dianggap PKI, Marsudi Dibui
KETIKA Indonesia baru saja merdeka, Soeharto tinggal di sekitar Wirogunan, Yogyakarta. Dekat dengan Dokter Sukiman, yang kemudian menjadi ketua Masyumi. Meski sebagai satu komandan tentara yang kuat di Yogyakarta, Soeharto yang hanya lulusan SD itu masih belum dianggap mengerti politik. “Nah ketika di rumah Sukiman ada diskusi, dia datang ingin mendengar. Tapi dia bingung, kemudian mencari masukan kesana-kemari. Piye? Piye? Nah kemudian dia ketemu Pak Marsudi, bekas Heiho. Pak Marsudi sudah punya hubungan dengan Kelompok Pathuk. Pak Harto lalu diajak mendengar diskusi,” kata Dayino dalam buku yang disusun Eros Djarot dkk., Siapa Sebenarnya Soeharto. Selama beberapa bulan, Soeharto menjadi pendengar setia di Marx House yang terletak di Pathuk, Yogyakarta. Di sana, beberapa intelektual terkemuka tanah air aktif berdiskusi dengan para pemuda dari berbagai latar belakang, tak terkecuali mereka yang dicap kiri. Soeharto menjadi dekat dengan orang-orang Pathuk yang sering keluar-masuk markasnya. Tak hanya Marsudi, tapi juga Sjam Kamaruzaman yang belakangan terlibat G30S.
- D.N. Aidit, Petinggi PKI yang Menutup Diri
D.N. Aidit sosok yang membosankan. Roman mukanya terlihat serius. Bicara hanya secukupnya. Bersenda gurau bukanlah kegemaran Aidit ketika kumpul bersama kawan-kawan. Disodorkan rokok pun menolak, karena dia memang bukan perokok. Itulah kesan yang ditangkap Bambang Sindhu, jurnalis Majalah Minggu Pagi, ketika menuliskan sosok Aidit dalam rubrik khas “Apa dan Siapa”. Aidit tidak seperti politisi kebanyakan. Dia malas mengumbar soal siapa dirinya kepada publik. “Aidit seorang yang tidak pernah bicara tentang dirinya, tidak pernah mau cerita dan omong-omong tentang ayahnya, ibunya, dan saudara-saudaranya. Tidak mau bicara mengenai keluarganya,” ulas Bambang Sindhu dalam Minggu Pagi, Edisi 2 Mei 1954.
- Sudharmono, Wakil Presiden yang Dituduh PKI
MESKI menyandang predikat RI-2, orang nomor dua setelah presiden, jabatan wakil presiden ternyata bisa bikin gempar seisi negara. Tengok saja pencalonan Gibran Rakabuming Raka yang mendampingi Prabowo Subianto dalam gelaran pilpres kemarin. Banyak pihak yang menentang pencalonan Gibran lantaran usianya masih muda dan berstatus anak Presiden Joko Widodo. Namun, Gibran terus melaju dan dipastikan menjadi wakil presiden setelah perolehan suara Prabowo-Gibran memenangkan pemilu. Selain Gibran, pada dekade 1980-an, pencalonan Sudharmono sebagai wakil presiden oleh Golkar juga pernah bikin gaduh. Tapi, bukan karena Sudharmono anak presiden. Masa lalu Sudharmono sebelum masuk TNI pernah dikaitkan dengan PKI. Tengara itu diyakini betul oleh mantan Pangkopkamtib Jenderal TNI Soemitro. “Dia [Sudharmono] itu merah,” kata Soemitro merujuk sosok Sudharmono kepada Salim Said dalam Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian.
- Ketika Nama PKI Diprotes
PADA 1950-an, berbagai persiapan dilakukan pemerintah untuk menyelenggarakan pemilihan umum (pemilu) nasional pertama di Indonesia. Selain membentuk dan melantik Panitia Pemilihan Indonesia (PPI) tahun 1953, pemerintah juga menyusun berbagai aturan terkait pelaksanaan pemilu yang dihelat pda September dan Desember 1955. Salah satu aturan berkaitan dengan syarat pengajuan nama dan tanda gambar partai politik maupun calon perseorangan yang ambil bagian dalam pemilu anggota DPR atau Konstituante. Partai dan kumpulan pemilih mengajukan nama dan tanda gambar kepada PPI mulai tanggal 1 Maret hingga 20 Mei 1954. Satu per satu partai dan kumpulan pemilih mengajukan nama dan tanda gambar yang akan digunakan dalam pemilu. Persoalan muncul ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) mengajukan nama “PKI dan orang tak berpartai”.
- Eks Pemilih PKI Pilih Golkar
USAI transisi kekuasaan dari Sukarno ke Soeharto, salah satu hal mendesak yang mesti dilaksanakan pemerintah adalah pemilihan umum (pemilu). Mulanya pemilu hendak diadakan pada Juli 1968, seperti telah direncakan MPR. Namun, Pejabat Presiden Soeharto merasa tahun itu bukan waktu yang baik untuk mengadakan pemilu. “Yang dilakukan Soeharto adalah mengundur pemilu itu,” kata sejarawan Asvi Warman Adam dalam diskusi buku Ken Ward berjudul NU, PNI dan Kekerasan Pemilu 1971 di Bakoel Koffie Cikini, Jakarta Pusat, 2 April 2024. Maka kemudian diputuskan pemilu diadakan pada Juli 1971. Dengan tiga tahun penundaan itu, ada waktu bagi pendukung Soeharto untuk memenangkan pemilu. Klik Soeharto pun memperkuat kendaraan politik mereka, Golongan Karya (Golkar) —yang bermula dari Sekretariat Bersama (Sekber) Golongan Karya (Golkar). Organisasi ini menghimpun Koperasi Usaha Gotong Royong (KOSGORO), Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR), Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) dan lain-lain. Golkar juga menjadi salah satu kontestan pemilu meski bukan partai.
- Alimin Si Jago Tua PKI
PASCA pemberontakan yang gagal di Madiun, sejumlah pentolan Partai Komunis Indonesia (PKI) diringkus tentara. Beberapa di antara mereka dieksekusi mati. Musso sang pemimpin pemberontakan ditembak langsung dalam suatu operasi pengejaran. Sementara itu, Amir Sjarifuddin bersama 10 petinggi PKI lainnya dieksekusi mati pada akhir 1948. “Muso tewas dalam pertempuran dengan pasukan Mobrig, yang dipimpin Jenderal Jasin. Sebelumnya, 29 Oktober, Djokosujono dan Maruto Darusman tertangkap, dan tanggal 31 Oktober itu, Amir Sjarifuddin serta Soeripno ditangkap juga. Mereka dihukum mati,” catat Abu Hanifah dalam kumpulan tulisan di jurnal Prisma, Agustus 1977. Alimin Prawirodihardjo, salah satu tokoh senior PKI, juga berkali-kali diberitakan termasuk yang ikut dieksekusi. Berita Indonesia, 4 November 1948, mengutip dari Antara menyebut Alimin telah ditembak mati pada 2 November 1948. Berita itu dikutip dan dimuat dalam berbagai suratkabar.
- Gembong PKI Ingin Jadi Tentara
MALAM 19 Agustus 1927, Kopral Kasmin dapat giliran jaga malam di tangsinya di Keresidenan Semarang. Ketika berjaga itu, Kasmin tiba-tiba didatangi seorang sipil. Orang ini mengaku katanya ingin jadi tentara kolonial Koninklijk Nederlandch Indische Leger (KNIL), seperti Kasmin, namun tak punya surat atau dokumen penting lain seperti surat pengantar dari kepala desa, yang biasa dipakai untuk teekensoldij masuk tentara. Orang tersebut sangat berharap kepada Kasmin agar mau membantunya. Dia menyodorkan uang kertas 20 gulden. “Apakah ini baik-baik saja?” kata orang itu kepada Kopral Kasmin tulis Raden Soeprono dalam R. Soeprono: Selangkah Tapak Tiga Zaman. Uang “terimakasih” itu tidaklah kecil jumlahnya. Antara 1930 hingga 1942, harga satu gram emas sekitar 1,5 hingga 2 gulden. Jika harga emas pada 1927 masih 1,5 gulden, dengan uang 20 gulden itu Kasmin bisa membeli 13 gram emas.
- Gedung Partai yang Terbengkalai
GEDUNG tinggi bercat putih itu lusuh tak terawat. Sebagian besar jendelanya tak berkaca dan jadi rumah yang nyaman bagi laba-laba. Halamannya penuh puing dan rumput liar. “Tempat ini sekarang sering dipakai acara uji nyali,” ujar Priyo, berusia 34 tahun, pedagang minuman yang mangkal di depan gedung tersebut. Uji nyali adalah acara televisi berbau mistis yang ditayangkan sebuah stasiun televisi swasta. Di depan gedung itu, tembok yang tertutup seng dipenuhi tetumbuhan rambat. Tak sembarang orang bisa masuk. Minimal mesti mengurus izin terlebih dulu kepada si empunya, sebuah hotel berbintang yang terletak persis di sampingnya. “Katanya sih mau dibikin restoran mewah. Tapi ada yang bilang mau dibuat hotel lagi,” kata Jumali, berusia 54 tahun, seorang tukang jahit yang biasa mangkal di sekitar tempat tersebut.





















