Hasil pencarian
9823 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Hantu Jepang di Kaki Semeru
KESEPAKATAN Perjanjian Renville antara Republik Indonesia dengan Belanda pada awal 1948, mewajibkan pihak Indonesa untuk menyerahkan para zanryu nihon hei (serdadu Jepang yang tetap tinggal dan memilih berjuang untuk Indonesia) kepada Belanda. Namun, permintaan itu direspons setengah hati. Secara diam-diam, TNI justru berupaya melindungi para eks serdadu Jepang itu. “Walau bagaimana pun kehadiran para zanryu nihon hei sangat menguntungkan untuk Indonesia, baik secara politik maupun militer,” ungkap sejarawan asal Jepang, Aiko Kurasawa. Guna menghindari itu, pada Juli 1948, Kolonel Sungkono, Gubernur Militer Jawa Timur, memanggil Tatsuo Ichiki, seorang Jepang yang sangat dituakan oleh para zanryu nihon hei. Terlebih keberpihakannya kepada Indonesia sudah sejak 1945, ketika ia bergaul akrab dengan diplomat senior Indonesia Haji Agus Salim di Jakarta.
- Proyek Rutin Hantu PKI
ISU kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) tampaknya tak pernah absen mewarnai perpolitikan Indonesia. Setiap tahun, isu ini dipakai oleh berbagai kalangan untuk berbagai kepentingan. Dan jualan isu ini sejak Orde Baru hingga Reformasi masih saja laku. Yang masih hangat misalnya pada demonstrasi menolak Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP). Demonstrasi di depan Gedung DPR RI, Rabu (24/6/2020) itu diwarnai aksi pembakaran bendera PKI dan bendera Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Partai palu arit yang telah dilarang sejak 1966 itu disangkutpautkan dengan munculnya RUU HIP. Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam, menyebut bahwa fenomena ini berkaitan dengan pemilihan presiden 2024 nanti. Asvi menengarai pihak-pihak yang berkepentingan menghidupkan isu komunisme adalah bagian dari rezim Orde Baru. Mereka hendak menjadikan isu komunisme kembali menjadi musuh bersama.
- Ketika Hollywood Takut Hantu Komunis
SUATU sore di pengujung September 1947 yang panas di sebuah desa di Kern County, California, Amerika Serikat (AS). Christopher Trumbo dan saudara kandungnya, Nikola Trumbo, hendak "ngadem" di teras rumah-peternakan (ranch) mereka yang menghadap ke Gunung Pinos. Selagi asyik, tiba-tiba Chris diberitahu Niki –panggilan Nikola– yang tangannya mununjuk ke arah sebuah mobil di kejauhan yang tengah bergerak di jalan desa. Kedua bocah itu tak sabar untuk menunggu mobil itu lebih dekat. Maklum, saat itu mobil masih jarang terlihat di desa mereka. Mobil yang lama “menghilang” terhalang dinding Bukit Rattlesnake itu akhirnya terlihat kembali, bahkan mendatangi rumah mereka. Dari ruang kemudi mobil kemudian turun seorang pria. Dia menanyakan kakak-beradik tadi, kemudian diantar Chirst dan Niki ke dapur rumah untuk menemui si empunya rumah, Dalton Trumbo, novelis cum penulis skenario terpopuler Hollywood. Pria bermobil itu ternyata Wakil Marshal David E. Hayden. Dia datang ke rumah Dalton untuk mengantarkan surat panggilan pengadilan kepada Dalton. Dalton diminta memberi kesaksian dalam perkara yang dituduhkan House Un-American Activities Committee (HUAC), sebuah komite yang dibentuk badan legislatif AS, yakni penyusupan komunis ke dalam industri film AS Hollywood.
- Misteri Rumah Hantu di Gang Pecenongan
MALAM telah larut tetapi kereta kuda tak henti berdatangan menuju sebuah rumah di kawasan Gang Pecenongan, Batavia tahun 1868. Di masa lalu, ketika listrik belum ada di Batavia, banyak penduduk di wilayah ini yang menggunakan lampu berbahan bakar minyak untuk menerangi area rumah mereka. Menurut Olivier Johannes Raap dalam Kota di Djawa Tempo Doeloe, salah satu yang banyak digunakan adalah cenong –semacam lampu gantung yang namanya diambil dari kata Betawi. Konon nama Pecenongan diambil dari lampu gantung ini. Sementara itu, kereta-kereta kuda yang berdatangan ke wilayah Pacenongan memiliki tujuan yang sama, yakni rumah Tuan E, seorang pria Belanda yang disebut sebagai “penguasa gang Pecenongan”. Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 19 Agustus 1868, melaporkan bahwa penduduk Batavia tengah dihebohkan dengan munculnya sebuah rumor yang menyebut bahwa rumah Tuan E. berhantu.
- Makhluk Halus dalam Catatan Perjalanan Orang Belanda
MEMASUKI abad ke-19, Hindia Belanda, khususnya Pulau Jawa, telah menarik minat banyak pelancong asing. Mereka umumnya menulis catatan perjalanan yang berisi tentang kondisi geografis dan keindahan alam daerah-daerah yang dikunjunginya. Tak jarang mereka juga menulis tentang kuliner dan kebiasaan-kebiasaan unik masyarakat setempat. Menurut Achmad Sunjayadi, pengajar dan peneliti di Program Studi Belanda dan Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, catatan perjalanan tak hanya berguna bagi penulis sebagai sarana aktualisasi diri, tetapi juga berharga bagi orang lain, terutama berkaitan dengan informasi wilayah yang dikunjungi. “Catatan perjalanan merupakan salah satu sumber untuk mengetahui kondisi masyarakat dan memberikan gambaran wilayah di Hindia Belanda,” tulisnya dalam Pariwisata di Hindia-Belanda (1891–1942). Kebanyakan penulis catatan perjalanan berasal dari Eropa dan Amerika dengan beragam latar belakang pekerjaan, mulai dari pegawai sipil, perwira militer, peneliti (naturalis), hingga pemuka agama. Salah satunya Augusta de Wit, kontributor The Strait Times, surat kabar berbahasa Inggris di Singapura. Penulis perempuan asal Belanda itu berkunjung ke Jawa pada 1894.
- Jenis-jenis Makhluk Halus
CLIFFORD GEERTZ dikenal sebagai antropolog yang menerbitkan karya-karya penting tentang Jawa dan Bali. Pada 1950-an, dia melakukan penelitian di Mojokuto, nama samaran untuk Pare, Jawa Timur, yang menghasilkan karya paling terkenal, yaitu The Religion of Java (1960), diterjemahkan menjadi Abangan, Santri, Priayi dalam Masyarakat Jawa (1983). Dalam buku tersebut, Geertz mengklasifikasikan masyarakat muslim di Jawa ke dalam tiga macam, yaitu abangan, santri, dan priayi. Di samping itu, yang menarik dalam buku tersebut, Geertz juga menguraikan jenis-jenis makhluk halus yang diyakini masyarakat Jawa. Pertama, memedi yaitu makhluk halus yang menakut-nakuti. Antara lain jrangkong (berbentuk kerangka manusia); wedon (jenazah berkain kafan); banaspati (berjalan di atas kedua tangannya sambil mulutnya menyemburkan api; kepalanya terletak pada tempat alat kelaminnya).
- Khazanah Hantu Indonesia
MAJALAH Penjebar Semangat didirikan dr. Sutomo pada 1933. Majalah berbahasa Jawa ini awalnya menurunkan berita politik. Namun, lama-kelamaan tidak begitu laku. Akhirnya, membuka rubrik cerita hantu, “Alaming Lelembut.” Majalah lain yang memiliki cerita hantu adalah Joko Lodang dengan “Jagating Lelembut” dan Joyo Boyo dengan “Cerita Misteri.” “Cerita hantu di Panjebar Semangat muncul tahun 80-an ketika oplah mulai turun. Lama-lama jadi menu utama dan yang paling favorit. Hipotesis saya, kalau tidak ada cerita hantu, majalah ini tidak akan bertahan sampai sekarang,” kata Sunu Wasono, pengajar sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, dalam bincang ilmiah “Tema Horor dalam Masyarakat” di FIB UI, Depok, Jawa Barat (3/10). Menurut Sunu, yang membuat disertasi tentang dongeng lelembut di Penyebar Semangat pada 2015, cerita hantu mencerminkan pandangan atau kepercayaan masyarakat karena bersinggungan dengan kehidupan dan kematian. Dalam konsep Jawa, secara garis besar ada dua jenis kematian. Kematian yang baik seperti mati karena sudah tua, mati di jalan Tuhan, mati saat melahirkan atau dilahirkan. Yang kedua adalah kematian karena sebab-sebab yang tidak lumrah, seperti mati bunuh diri atau kecelakaan.
- Usai Reformasi, Pocong Mendominasi
PENGAJAR sastra Prancis Universitas Indonesia Dr. Suma Riella Rusdiarti punya perhatian menarik terkait Reformasi. Menurutnya, Reformasi tak hanya menggulingkan kediktatoran Soeharto dan mengembalikan demokrasi di Indonesia, tapi juga menumbangkan dominasi tokoh-tokoh mistis macam Nyi Roro Kidul atau Nyi Blorong sebagai hantu utama di layar lebar. Peran mereka digantikan oleh pocong. “Film dulu berkitan dengan mitos. Makin ke sini berkitan dengan pocong. Hantu khas Indonesia hari ini adalah pocong. Dua puluh tahun yang lalu, hantu pocong belum jadi hantu utama. Sesudah Reformasi, hantu pocong jadi pemeran utama dan muncul di layar,” ujar Riella. Jenis hantu pocong, yakni hantu berbungkus kain putih, sebenarnya telah ada sejak lama. Naskah-naskah Jawa kuna menamakan hantu jenis itu wedon. “Pocong dan wedon sama. Itu tradisi lisan. Munculnya sejak kapan, agak sulit dilacak,” kata Suwardi Endraswara, dosen bahasa Jawa di Universitas Negeri Yogyakarta. Suwardi menambahkan, wedon termasuk dalam arwah yang belum sempurna (nglambrang) dan menjadi anak buah dari penguasa lelembut di suatu wilayah.
- Amirmachmud Larang PKI Ikut Pemilu
WALI Kota Solo Gibran Rakabuming Raka kesal. Pasalnya, dirinya diserang dengan “senjata” yang sama untuk menyerang ayahnya dulu ketika berjuang untuk menjadi presiden. Seperti ayahnya, Presiden Joko Widodo, Gibran dikait-kaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Kekesalan Gibran pun dituangkannya dengan “nge-Twit” untuk merespon cuitan penyerangnya, @BudiSan42575425, itu. “Bilang ke korlap lu. Serangan2 seperti ini udah kalian lakukan di 2014 dan 2019. Sudah terbukti 2x kalah dan masyarakat tidak simpatik. Masa mau lu ulangin lagi pola seperti ini di 2024?” cuit Gibran lewat akun Twitter-nya, @gibran-tweet. Kendati PKI telah lama mati dan aturan pemilihan umum (umum) telah beberapakali berubah, isu PKI tetap digunakan sejumlah pihak hingga kini. PDIP, partai yang mengusung Presiden Joko Widodo, menjadi pihak yang apes lantaran paling sering jadi partai yang disasar serangan menggunakan “senjata” PKI jelang hingga bergulirnya tahun politik.
- Sudjojono Dipecat PKI
POLITISI Budiman Sudjatmiko resmi dipecat oleh PDI Perjuangan (PDIP). Surat pemecatan dikirim lewat kurir yang diterima oleh putrinya. Pemberhentian itu buntut dari deklarasi dukungan Budiman kepada Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pemilu 2024. PDIP sendiri menunjuk kadernya, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, sebagai capres. Surat pemecatan Budiman ditandatangani oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. Meski mengaku legowo, dalam keterangannya kepada media, Budiman tidak menyembunyikan rasa kecewanya. “[Surat pemecatan] diterima oleh putri saya yang kebetulan waktu kecil dikasih nama oleh Ibu Megawati,” kata Budiman. Bagi Budiman, inilah akhir kiprahnya di PDIP. Selah mendirikan Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan dipenjara rezim Orde Baru, Budiman menjadi kader PDIP sejak 2004. Dia pernah menjadi anggota DPR RI dua periode (2009 dan 2014) dari daerah pemilihan Jawa Tengah VII (Kabupaten Banyumas dan Cilacap).
- Dianggap PKI, Marsudi Dibui
KETIKA Indonesia baru saja merdeka, Soeharto tinggal di sekitar Wirogunan, Yogyakarta. Dekat dengan Dokter Sukiman, yang kemudian menjadi ketua Masyumi. Meski sebagai satu komandan tentara yang kuat di Yogyakarta, Soeharto yang hanya lulusan SD itu masih belum dianggap mengerti politik. “Nah ketika di rumah Sukiman ada diskusi, dia datang ingin mendengar. Tapi dia bingung, kemudian mencari masukan kesana-kemari. Piye? Piye? Nah kemudian dia ketemu Pak Marsudi, bekas Heiho. Pak Marsudi sudah punya hubungan dengan Kelompok Pathuk. Pak Harto lalu diajak mendengar diskusi,” kata Dayino dalam buku yang disusun Eros Djarot dkk., Siapa Sebenarnya Soeharto. Selama beberapa bulan, Soeharto menjadi pendengar setia di Marx House yang terletak di Pathuk, Yogyakarta. Di sana, beberapa intelektual terkemuka tanah air aktif berdiskusi dengan para pemuda dari berbagai latar belakang, tak terkecuali mereka yang dicap kiri. Soeharto menjadi dekat dengan orang-orang Pathuk yang sering keluar-masuk markasnya. Tak hanya Marsudi, tapi juga Sjam Kamaruzaman yang belakangan terlibat G30S.
- D.N. Aidit, Petinggi PKI yang Menutup Diri
D.N. Aidit sosok yang membosankan. Roman mukanya terlihat serius. Bicara hanya secukupnya. Bersenda gurau bukanlah kegemaran Aidit ketika kumpul bersama kawan-kawan. Disodorkan rokok pun menolak, karena dia memang bukan perokok. Itulah kesan yang ditangkap Bambang Sindhu, jurnalis Majalah Minggu Pagi, ketika menuliskan sosok Aidit dalam rubrik khas “Apa dan Siapa”. Aidit tidak seperti politisi kebanyakan. Dia malas mengumbar soal siapa dirinya kepada publik. “Aidit seorang yang tidak pernah bicara tentang dirinya, tidak pernah mau cerita dan omong-omong tentang ayahnya, ibunya, dan saudara-saudaranya. Tidak mau bicara mengenai keluarganya,” ulas Bambang Sindhu dalam Minggu Pagi, Edisi 2 Mei 1954.





















