top of page

Hasil pencarian

9774 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • John le Carré di Antara Dunia Mata-mata dan Sastra

    NAMA David John Moore Cornwell mungkin terdengar asing bagi penikmat novel bertema intelijen, apalagi tema non-intelijen. Padahal hanya satu sosok yang menyandang namanya. Cornwell tutup usia pada Sabtu (12/12/2020) malam waktu setempat di Rumahsakit Royal Cornwall di Truro, Inggris. Dalam pernyataan keluarganya, Cornwell meninggal setelah lama menderita pneumonia . Sejumlah sejarawan dan novelis Inggris pun terpukul mendengar wafatnya salah satu novelis sohor Inggris era Perang Dingin itu. “Hati saya terasa sakit. Dia (Cornwell) adalah figur besar dalam sastra Inggris,” tutur sejarawan dan novelis Simon Sebag Montefiore sebagaimana dikutip BBC , Senin (14/12/2020). Jonny Geller, agen sekaligus manajer almarhum, menyatakan bahwa dunia novel akan sangat kehilangan sosok yang bisa membawa jutaan pembacanya memahami situasi politik dan manusianya yang kompleks di masa Perang Dingin. “Dia tokoh besar dalam sastra Inggris yang tiada duanya. Kita takkan melihat penulis yang seperti dia lagi. Kematiannya akan sangat berpengaruh pada setiap pecinta buku dan semua orang yang perhatian terhadap kondisi manusia (dalam dunia mata-mata, red. ). Ia sosok yang ramah, humoris, dan cerdas. Saya pribadi kehilangan seorang sahabat, mentor, dan inspirasi,” imbuh Geller. Sepanjang hayatnya, Cornwell yang menggunakan nama pena John le Carré sudah menghasilkan puluhan karya bertema intelijen, di mana 27 di antaranya adalah novel yang laris di pasar global. Beberapa dari karya best seller -nya diadaptasi ke layar kaca maupun layar lebar dengan judul serupa, antara lain: The Tailor of Panama (2001), The Constant Gardener (2005), Tinker Tailor Soldier Spy (2011), dan Our Kind of Traitor (2016). Karya-karya Cornwell bisa membawa para pembacanya menyelami alam kerahasiaan para karakter yang bergelut sebagai agen intelijen. Tak lain lantaran Cornwell merupakan mantan agen MI5 dan kemudian MI6, dinas intelijen Inggris yang beroperasi di area domestik dan luar negeri. Mata-mata Penulis Novel Mata-mata Lahir pada 19 Oktober 1931 di kota pelabuhan Poole, Inggris sebagai anak kedua pasangan Olive Moore Glassey dan Ronald Thomas Archibald ‘Ronnie’ Cornwell, sejak dini ia sudah belajar untuk jadi pria dewasa di jalanan. Hal itu disebabkan karena sejak usia lima tahun Cornwell sudah dititipkan ibunya ke asrama St. Andrew’s Preparatory School. Ayahnya jarang memberikan kasih sayang lantaran berkecimpung di “dunia hitam”. Ronnie merupakan anak buah bos geng Kray Twins. Ia sering dipenjara karena kasus penipuan asuransi. Menurut Adam Sisman dalam biografi sang novelis, John le Carré: The Biography , latar belakang keluarganya itu membuatnya mulai gemar menciptakan fantasi tersendiri dalam kepalanya yang kemudian ia tuangkan menjadi cerita fiktif dengan pena. “John le Carre pernah mengatakan: ‘Orang yang punya masa kecil tidak bahagia, biasanya sangat terampil menciptakan sesuatu. Saya seorang pembohong. Diciptakan, lahir, dan dilatih untuk berbohong.’ Sebagai seorang bocah, dia belajar untuk menciptakan dan merekayasa cerita fantasi untuk menghibur diri, untuk melarikan diri dari kenyataan. Ia lalu memanfaatkannya sebagai mata-mata dan kemudian penulis,” tulis Sisman. David Cornwell alias John le Carré mulai menulis novel bertema mata-mata saat masih bertugas di MI5. (Twitter @lecarre_news). Minimnya kasih sayang orangtua membuat Cornwell jadi anak yang sering mendapat masalah dengan gurunya selama di asrama. Meski begitu ia tetap mampu lulus hingga tingkat atas dan bahkan kuliah jurusan bahasa asing di University of Bern, Swiss tiga tahun pasca-Perang Dunia II berakhir. Di situlah ia yang menjadi poliglot tertarik pada dunia intelijen. Setelah lulus pada 1950, ia diterima di Korps Intelijen Angkatan Darat Inggris. Cornwell yang fasih bahasa Jerman ditugaskan sebagai anggota tim penerjemah dan interogasi mata-mata di Austria yang saat itu masih diduduki Sekutu. Kebanyakan yang diinterogasinya adalah pelarian dari Jerman Timur, yang dikhawatirkan disusupi agen rahasia Uni Soviet. Dua tahun bertugas di Austria, Cornwell kembali ke Inggris dan ditempatkan di MI5, dinas intelijen dalam negeri Inggris. Dalam salah satu tugas untuk mendeteksi kelompok-kelompok kiri di Inggris, ia menyamar jadi mahasiswa di Lincoln College di Oxford, kemudian di Millifield Preparatory School di Somerset, dan menjadi guru sastra Prancis dan Jerman di Eton College. Sejak menjadi perwira intel pada 1958 di bawah asuhan mata-mata senior MI5, Lord Clanmorris, Cornwell mulai tergelitik untuk berbagi cerita pengalamannya lewat karya fiksi. Di tahun 1958 itulah dia menulis novel mata-mata pertamanya, Call for the Dead, yang rampung dan dirilis pada 1961. Call for the Dead  (kiri) novel pertama John Le Carré dan Tinker Tailor Soldier Spy  salah satu karyanya yang terlaris. (Twitter @lecarre_news/ raptisrarebooks.com ). Novel yang mengisahkan sosok George Smiley, agen MI6 yang bertugas di luar negeri, itu memuat beberapa sosok yang terinspirasi dari orang-orang di sekitar Cornwell. Sosok Smiley sendiri merupakan kombinasi karakter bijak Vivian H. H. Green (mantan dosennya di Lincoln College) dan karakter cerdas Lord Clanmorris (bosnya di MI5) yang cekatan dan sigap bertindak di masa genting. Kepada atasannya, Cornwell berterus terang bahwa ia menulis novel tentang dunia intelijen. Atasannya, sebagaimana ditulis George Plimpton dalam artikel “John le Carré, The Art of Fiction” yang dimuat Majalah The Paris Review edisi Agustus 1997, mengaku tak keberatan asal Cornwell menerbitkannya dengan nama samaran. Cornwell lalu merilisnya dengan nama pena John le Carré di bawah Penerbit Victor Gollancz Ltd. Berulangkali ia ditanya dari mana mendapatkan inspirasi nama pena berbau nama Prancis itu. Namun setiap kali itu juga ia memberikan jawaban berbeda-beda. “Saat Anda berada di dinas intelijen dan Anda menulis buku, entah itu hanya buku tentang serangga, harus ditulis dengan nama samaran. Penerbit saya, Victor Gollancz, menyarankan nama yang monosilabel, seperti ‘Chuck-Smith’, misalnya. Saya sering bohong tentang dari mana saya dapat nama itu tapi sejujurnya saya tidak ingat dan sengaja saya bohong karena sering saya tidak bisa meyakinkan semua orang bahwa saya tidak ingat nama itu saya dapat dari mana,” aku Cornwell kepada Plimpton. Kegiatan menulis novel tetap dilanjutkan ketika Cornwell sudah dipindahtugaskan ke MI6 (dinas intelijen luar negeri Inggris) pada 1960. Dengan tugas samaran sebagai diplomat di Kedutaan Inggris di Bonn, Jerman Barat, Cornwell menelurkan novel-novel intelijen era Perang Dingin yang kemudian laris di pasaran. Hampir semuanya terinspirasi dari pengalaman Cornwell semasa tugasnya. Aktor watak Gary Oldman (kiri) memerankan karakter George Smiley dan John le Carré (kanan) yang jadi cameo dalam film Tinker Tailor Soldier Spy.  ( studiocanal.com ). Dalam Tinker Tailor Soldier Spy (1974), misalnya, ceritanya masih seputar tokoh George Smiley. Namun kali ini misinya memburu Bill Haydon, intel pengkhianat yang menjadi agen ganda di KGB (dinas intelijen Soviet). Tokoh Haydon diciptakan Cornwell yang terinspirasi Kim Philby di dunia nyata. Philby adalah agen MI6 yang kemudian jadi agen ganda dalam lingkaran “Cambridge Five”, semacam kelompok agen ganda yang bekerja untuk KGB pada medio 1964. Philby yang mencari suaka di Moskow, beberapa kali mengoper informasi rahasia kepada KGB yang berimbas pada kematian sejumlah agen lapangan Inggris, termasuk agen-agen yang disebar Cornwell. “Dia (Philby) adalah pengkhianat dan pembunuh. Dia mengkhianati orang-orang yang mati secara mengenaskan sebagai konsekuensi perbuatannya,” kata Le Carré, dikutip John L. Cobbs dalam Understanding John le Carré. Sejak terungkapnya borok Philby, karier Cornwell di MI6 pun tutup buku. Semenjak itulah Cornwell total bergelut dengan penanya sampai akhir hayatnya. Dari puluhan novelnya, Cornwell mengoleksi 21 anugerah penghargaan dan mendapat doktor honoris causa dari Universitas Oxford. Anugerah terakhir diterimanya beberapa bulan sebelum maut menjemput, yakni Olof Palme Prize, pada Januari 2020. Hadiah uangnya senilai USD100 ribu ia sumbangkan ke LSM kesehatan Médecins Sans Frontières.

  • Sekolah Masa Revolusi

    Lonceng sekolah berbunyi. Murid-murid masuk ke kelas. Seorang guru lelaki mengambil tumpukan rapor di mejanya dan memanggil nama muridnya satu per satu. Murid-murid cemas. Sampai di meja guru, murid melihat rapornya masing-masing. Ada yang wajahnya berubah senang, ada juga yang tegang. Sebagian murid tak naik kelas. Harus mengulang lagi setahun. Nilai rapornya jelek. Matanya basah. Murid lainnya tampak sumringah. Senyumnya lebar. Mereka naik kelas. Nilai rapornya bagus. “Ruang kelas dalam sekejap terisi oleh para pelajar yang bergembira diselingi dengan pelajar-pelajar yang berlinang-linang matanya. Banyak pula yang menangis terisak-isak terutama murid wanitanya,” cerita Asmadi tentang suasana pembagian rapor murid kelas 2 Sekolah Menengah Tinggi (SMT) di Malang pada Juli 1947 dalam Sangkur dan Pena. Salah satu murid itu bernama Rahmad. Dia termasuk beruntung. Nilai rapornya bagus sehingga bisa naik kelas. Padahal Rahmad juga seorang anggota Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) Batalyon 5000 di Malang, Jawa Timur, pada 1947. Waktunya sering terbagi antara belajar di sekolah dan berlatih di asrama untuk menghadapi tentara NICA. Selama masa 1945–1949, banyak pelajar setingkat SMP dan SMA bergabung ke TRIP. Sekolah mereka tetap jalan. Usia mereka sudah terlalu dewasa untuk duduk di bangku sekolah. Rahmad, misalnya, telah berusia 19 tahun saat menginjak kelas 2 SMT. Cerita Asmadi menunjukkan pendidikan di sekolah tetap berjalan walaupun dalam suasana perang.   Memasuki masa awal kemerdekaan, Indonesia berusaha merumuskan ulang sistem, konsep, dan tujuan pendidikan. Pendidikan menjadi salah satu kementerian dalam susunan pemerintahan Indonesia dengan nama Kementerian Pengajaran. Lalu berubah jadi Kementerian Pengajaran dan Kebudayaan. Menterinya pun silih berganti dalam waktu singkat. Pemerintah menetapkan pendidikan Indonesia bersendikan agama dan kebudayaan bangsa. Susunan pelajarannya terdiri atas pengetahuan umum, pendidikan budi pekerti, pendidikan semangat bekerja, kekeluargaan, cinta tanah air, dan keprajuritan. “Syarat itu diwajibkan untuk semua sekolah baik negeri maupun swasta,” catat Suradi HP dkk. dalam Sejarah Pemikiran Pendidikan dan Kebudayaan . Jenjang pendidikan tak banyak berubah. Sekolah dasar masih enam tahun, lalu berlanjut ke sekolah menengah pertama tiga tahun dan menengah atas tiga tahun. Penerapan kebijakan pendidikan ini tak mudah. Selama masa ini, pendidikan Indonesia mengalami masa krisis. Kementerian kesulitan menjalin komunikasi dengan sekolah-sekolah negeri dan swasta di daerah. Belanda menduduki beberapa wilayah di Jawa sehingga mempersulit penyelenggaraan pendidikan. Banyak sekolah dan sarananya juga rusak. “Sebagian dari gedung-gedung sekolah dimusnahkan oleh badan-badan perjuangan dan di antaranya ada juga yang untuk seterusnya dipakai sebagai kantor umum atau diduduki tentara. Alat pelajaran pun banyak yang hilang,” catat Helius Sjamsuddin dalam Sejarah Pendidikan di Indonesia Zaman Kemerdekaan (1945–1966). Selain itu, kelas-kelas juga tak jarang kosong. Murid-murid SMP dan SMA meninggalkan bangku sekolah untuk angkat senjata atau masuk palagan. “Banyak pelajar yang tidak dapat masuk sekolah, terutama mereka yang bertugas sebagai anggota tentara RI,” sebut Istingatun, mantan murid SMT Jakarta 1943–1945 dalam Jembatan Antar Generasi: Pengalaman Murid SMT Djakarta 1942–1945. Sebagian orang menganggap mereka keren. Pahlawan muda, berani, dan patriot. Tapi tak sedikit pula yang kecewa dengan keputusan murid-murid itu meninggalkan sekolah. “Untuk apa kita mengorbankan anak-anak kita secara percuma begitu. Mereka masih mempunyai hari depan yang lebih baik dan tidak hanya sekadar untuk memuaskan diri sendiri seperti mereka sekarang ini,” seru para penentang keikutsertaan pelajar dalam perang, seperti diungkap Asmadi dalam Pelajar Pejuang . Kelompok ini termasuk pula Ikatan Pelajar Indonesia (IPI). Mereka menggulirkan gerakan kembali ke sekolah bagi para pelajar. Selebaran tentang pelajar-pelajar yang tewas di palagan disebarkan saban hari. “TRIP mengorbankan pelajar mati konyol!” tulis sebuah selebaran. Gerakan ini cukup kuat memancing perdebatan di kalangan pelajar. “Berbagai anggota TRIP Staf I yang terdiri dari pelajar SMT berhari-hari lamanya memperdebatkan masalah itu,” lanjut Asmadi. Puncak perdebatan ditandai oleh kembalinya ratusan anggota TRIP ke sekolah. Ini terjadi menjelang musim kenaikan kelas. Yang jadi masalah, gedung sekolahnya seringkali tak layak dan cukup untuk menampung pelajar. Di samping itu juga sekolah kekurangan guru. Banyak guru juga ikut larut dalam kancah revolusi. Kegiatan di sekolah juga berlangsung sulit. Para pelajar telah banyak lupa dengan materi pelajaran. “Otak yang sudah lama terlatih untuk itu telah menjadi beku,” ungkap Asmadi. Pemerintah juga belum mencetak buku-buku pelajaran. Sehingga para murid menyalin ulang pelajaran dari papan tulis. Hampir seluruh waktu belajar habis untuk menyalin. Setelah itu, barulah para murid mendapat penerangan dari para guru. Menyalin kesannya sepele. Tapi bagi para murid, itu menjadi kegiatan yang membosankan. Apalagi kualitas alat tulis dan buku mereka sangat buruk. “Sedang asyik-asyiknya menulis tiba-tiba pensilnya patah atau kertasnya sobek,” terang Asmadi. Masalah lainnya, salinan itu cepat luntur. Lebih lagi bila terkena air. “Tulisan-tulisan yang dengan susah payah digoreskan ke dalamnya akan hilang tanpa bekas,” kata Asmadi. Lama berjuang di palagan membuat tabiat para murid berubah. Mereka jadi lebih pandai mengayunkan sangkur ketimbang pena. Lebih takut terhadap pelajaran dan susah konsentrasi pada ujian. Padahal di palagan mereka tak takut musuh dan mati. Konsentrasi terus pada posisi pertahanannya. Tapi di kelas, semuanya berubah. Para murid kesulitan menghadapi pelajaran ilmu alam, mekanika, kimia, aljabar, ilmu bumi, bahasa Inggris, Jerman, dan Indonesia. Mereka harus bersusah payah menghafal kembali materi tersebut. “Harus banyak mengurangi saat-saat mengaso dan tidur,” kata Asmadi. Saking stresnya dengan pelajaran, tak jarang para murid jatuh sakit. “Tak sedikit di antara pelajar-pelajar itu berubah menjadi kurus karenanya,” terang Asmadi. Keadaan mulai berangsur normal setelah 1949. Perang dengan Belanda berakhir. Sekolah-sekolah mulai bisa memperbarui fasilitasnya. Undang-undang pendidikan pun segera disusun. Gelombang pelajar kembali ke sekolah kian banyak. Sebagian mereka telah lewat umurnya untuk dikategorikan sebagai pelajar SMP atau SMA. Tapi mereka acuh dengan itu. Buat mereka ilmu di sekolah juga perlu diraih kembali.

  • Hikayat Sunan Prapen

    Pertengahan abad ke-16, kegaduhan terjadi di wilayah Tengah dan Timur Pulau Jawa. Wafatnya pemimpin kharismatik Demak, Sultan Trenggana, membuat kekosongan kekuasaan terjadi di kerajaan Islam terbesar di Jawa tersebut. Perebutan kekuasaan pun tidak terhindarkan antara Pajang dan Jipang, yang semakin memperkeruh suasana di Jawa kala itu. Akibatnya, banyak negeri  vasal yang memutuskan hubungan dengan Demak dan memilih merdeka. Satu di antara negara yang telah sepenuhnya merdeka itu adalah Giri Kedaton di Gresik, Jawa Timur. Sebenarnya, sejak kejatuhan Majapahit pada 1527, Giri tidak pernah merasa ada di bawah kuasa Demak. Mereka menganggap diri sebagai negeri merdeka dan bebas. Sebagaimana diuraikan H.J De Graaf dan TH. Pigeaud dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa , baik dalam tutur Demak maupun Giri tidak pernah disebutkan adanya pendudukan atas Giri. Namun kejatuhan itu telah membuat wilayah Gresik secara umum terbebas dari bayang-bayang kuasa Demak. Di wilayah Giri Kedaton, kekuasaan tertinggi dipegang oleh pemimpin agama. Tempat itu sejak abad ke-15 telah digunakan oleh para ulama untuk menuntut ilmu dan menyebarkan ajaran Islam. Sewaktu keributan di Demak terjadi, pemimpin agama di Giri diduduki oleh Sunan Prapen, atau dikenal juga dengan nama Sunan Mas Ratu Pratikal. Dia diangkat pada 1548, menggantikan adiknya Sunan Seda-ing-Margi yang tewas di dalam sebuah perjalanan. “Sunan Prapen ialah pemimpin agama di Giri. Selama pemerintahannya yang panjang sekali (dari tahun 1548 sampai kira-kira tahun 1605) ia banyak berjasa membentuk dan memperluas kekuasaan “kerajaan imam” Islam, baik di Jawa Timur dan Jawa Tengah maupun di sepanjang pantai pulau-pulau Nusantara Timur,” kata Graaf dan Pigeaud. Sunan Prapen diketahui merupakan cucu Sunan Giri, salah seorang Wali Songo. Selama berada di bawah pimpinannya, Giri mencapai masa keemasannya. Daerah itu menjadi pusat peradaban Islam, serta pusat ekspansi Jawa di bidang ekonomi dan politik. Menurut Bagenda Ali dalam Awal Mula Muslim di Bali Kampung Loloan Jembrana Sebuah Entitas Kuno , Sunan Prapen juga menjadikan Giri tempat penyebaran Islam ke wilayah Indonesia bagian timur, termasuk Bali yang amat kental dengan kehinduannya dan Nusa Tenggara. Islamisasi Bali dan Nusa Tenggara Tidak dijelaskan dengan pasti kapan Sunan Prapen melakukan Islamisasi di Bali dan Nusa Tenggara. Namun menurut David D. Harnish dalam Between Harmony and Discrimination: Negotiating Religious Identities within Majority-Minority Relationships in Bali and Lombok , Sunan Prapen pergi ke Bali dan Lombok dalam misi penyebaran Islam yang dijalankan Giri. “Sunan Prapen asal Gresik memang menyiarkan Islam di Buleleng, sebelum akhirnya melanjutkan ke wilayah Lombok. Dia membangun Mushola di Buleleng untuk memfasilitasi para pedagang Muslim yang datang ke Buleleng,” tulis Dhurorudin Mashad dalam Muslim Bali: Mencari Kembali Harmoni yang Hilang . Di Lombok, ditemukan banyak bukti keberadaan Giri. Di Desa Dasan Geres, Gerung, Lombok Barat, terdapat sebuah tempat bernama Giri Menang. Tempat itu dipercaya sebagai persinggahan Sunan Prapen selama proses penyebaran Islam di Lombok. Ditemukan juga masjid tua di beberapa lokasi di Lombok Utara dan Lombok Tengah. Selain itu, ada Kelurahan Prapen di Praya, Lombok Tengah, yang dipercaya diambil dari nama Sunan Prapen. “Situs-situs itu menjadi bukti perjalanan Islam dari Jawa ke wilayah Lombok,” tulis Harnish. Di Nusa Tenggara, Sunan Prapen pergi ke banyak tempat, seperti Sumbawa, Bima, Dompu, Lombok, hingga sekitar pegunungan Rinjani, sebelum akhirnya kembali ke Bali untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Jawa Timur. Proses pengenalan Islam yang dilakukan Sunan Prapen tidak selamanya berjalan mulus. Menurut Harnish, banyak masyarakat yang kembali ke kepercayaan lamanya begitu Sunan Prapen meninggalkan tempat mereka. Tidak adanya pemimpin agama yang sekualitas Sunan Prapen disebut menjadi alasan kondisi itu terjadi. Tempat Berlindung Para Raja Pada 1549, sebagai simbol kebebasan dari belenggu Demak, Sunan Prapen membangun sebuah kedaton baru di Giri, menggantikan kedaton milik kakeknya yang dibangun pada 1488. Menurutnya kedaton lama itu tidak menunjukkan kekuasaan dan kejayaan para pemimpin agama di Giri. Sehingga perlu dilakukan perubahan. Selain itu bangunan baru tersebut, kata de Graaf, menjadi bukti bahwa seorang pemimpin agama ingin disejajarkan dengan raja-raja yang merdeka. Sebagai pemimpin agama, Sunan Prapen lebih banyak memusatkan usahanya untuk memperluas kekuasaan rohani. Di samping kegiatan-kegiatan dagang ke wilayah timur untuk keperluan ekonomi Giri. Menurut De Graaf, dia tidal terlalu mencampuri urusan politik penguasa-penguasa di pedalaman Jawa Tengah. Bahkan di Jawa Timur pun Sunan Prapen tidak memperlihatkan usaha-usaha mencari kekuasaan lebih besar. Banyak penguasa Jawa menganggap Sunan Prapen seorang alim yang bijak. Diceritakan dalam Serat Kandha , Sunan keempat Giri itu pernah menjadi pendamai antara pasukan Mataram dan pasukan Surabaya yang bertempur pada 1589. Kedaton Giri juga oleh Sunan Prapen dijadikan tempat berlindung bagi raja-raja Jawa Tengah dan Jawa Timur yang terdampak pertempuran tersebut. “Menjelang akhir hidupnya yang panjang itu, Sunan Prapen menyatakan keinginan menghormati kakeknya, Prabu Satmata, pendiri dinasti pemimpin-pemimpin rohani di Giri. Ia telah memberi perintah untuk membuat cungkup di atas makam kakeknya. Rupanya, ia menyadari bahwa kekuasaannya di Jawa Timur terletak atas dasar rohani yang kukuh, yang telah diletakkan oleh seorang ulama, yakni kakeknya itu,” tulis De Graaf dan Pigeaud. Sunan Prapen hidup hingga mencapai usia lebih dari 100 tahun. Menurut penuturan pelaut Belanda Olivier van Noort, ketika singgah di Gresik pada 1601, dia mendengar bahwa daerah itu dipimpin oleh seorang tua berusia 120 tahun. “Istri-istrinya yang banyak itu mempertahankan hidupnya dengan menyusuinya seperti seorang bayi,” tutur Olivier. Dalam berita-berita Cina juga disebutkan tentang raja tua yang umurnya lebih dari seratus tahun. Sunan Prapen diperkirakan wafat pada 1605. Dia dimakamkan di sekitar Giri Kedaton, bersama pemimpin-pemimpin agama Giri lainnya.

  • Ketika Presiden Soeharto Dijahili Pangeran Kamboja

    Presiden Soeharto pernah kecele di negeri orang. Sewaktu kunjungan kenegaraan ke Kamboja, panitia penyambutan salah putar lagu. Niatnya ingin memberikan kesan seperti di rumah sendiri. Tapi siapa sangka, berkumandanglah lagu “Gendjer-Gendjer” mengiringi kedatangan rombongan Soeharto. Lagu itu terlarang karena lekat dengan citra Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dibasmi oleh rezim Soeharto.

  • Memahami Preman yang Diberantas Gajah Mada

    KAPOLDA Metro Jaya, Inspektur Jenderal Polisi Fadil Imran berbicara kepada wartawan di Polda Metro Jaya. Ia mengibaratkan aksinya seperti Gajah Mada memberantas premanisme. Menurut Fadil, sosok Gajah Mada dinantikan masyarakat untuk menghentikan aksi preman kampung yang kerap mengganggu. Selama ini preman di Jakarta bertindak seolah tak tersentuh hukum. Masyarakat yang ingin melawan preman itu takut dianiaya, dikeroyok, dan diancam. Sebaliknya, lanjut Fadil, masyarakat pasti senang jika kampungnya terbebas dari premanisme. “Tiba-tiba ada sosok satu orang namanya Gajah Mada datang kemudian berantem sama ini preman, preman ini terbunuh, kira-kira masyarakat ini senang enggak ?” kata Fadil sebagaimana dikutip CNN Indonesia . Sesungguhnya tak jelas siapa yang disebut preman dalam kehidupan politik Gajah Mada. Tergantung dari sisi mana memahami jalannya cerita. Gajah Mada Menyelamatkan Jayanagara Sepak terjang Gajah Mada mencuat sejak namanya disebut pertama kali di  Serat Pararaton  sebagai penyelamat raja dalam pemberontakan Ra Kuti. Peristiwa ini terjadi pada era kekuasaan Jayanagara, penguasa kedua Majapahit. Ra Kuti merupakan salah seorang dari tujuh  dharmaputra  yang dibentuk Kertarajasa Jayawardhana atau Raden Wijaya.  Pararaton  menjelaskan,  dharmaputra  ialah  pangalasan wineh suka. Artinya, pegawai yang diistimewakan. Sepuluh tahun berlalu sejak Jayanagara menggantikan Wijaya pada 1309. Kuti dan komplotannya memutuskan untuk menumbangkan pemerintahan. Gerakannya dianggap mengancam hingga raja diungsikan ke tempat persembunyian di luar keraton.  Menurut sejarawan dan mantan Duta Besar Kanada untuk Indonesia, Earl Drake dalam  Gayatri Rajapatni , situasi waktu itu paling merisaukan dari yang pernah terjadi karena meletus langsung di ibu kota. Di tengah kondisi itu, Gajah Mada yang masih tergabung dalam pasukan Bhayangkara,   pasukan khusus pengawal raja, muncul dengan siasatnya. Berkatnya kelompok Kuti dibinasakan. Mengapa Kuti yang kedudukannya dianggap istimewa oleh penguasa sebelumnya kemudian melawan? Raja yang Lemah Bukan hanya Kuti yang tak puas. Sebelumnya telah mencul gerakan yang dicap sebagai pemberontakan. Misalnya, gerakan Ra Nambi pada 1316 M dan Ra Semi pada 1318 M. Nambi adalah sahabat seperjuangan Raden Wijaya. Ia sempat menjabat  patih   amangkubhumi ,   jabatan yang kemudian diduduki Gajah Mada, sebelum mati dilabeli pemberontak. Sementara Semi, sama seperti Kuti, merupakan bagian dari tujuh  dharmaputra . Kendati begitu, Serat Pararaton  dan  Kidung Sorandaka , mengajukan tokoh Mahapati sebagai penyebab kerusuhan di Majapahit. Semua pemberontakan akibat fitnah dan adu domba Mahapati. Namun, perannya itu masih dipertanyakan. Sejarawan Slamet Muljana dalam Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit  berpendapat nama Mahapati seakan muncul tiba-tiba dalam perpolitikan Majapahit. Sebelumnya, Mahapati tak pernah dikenal di antara nama pejuang Singhasari dan Majapahit. Misalnya, ketika melawan tentara Tartar (Mongol). Kalau benar fitnah Mahapati yang mengakibatkan pergolakan di Majapahit, maka Nambi, Semi, dan Kuti bukan pemberontak. Demikian pula Ranggalawe dan Lembu Sora yang melawan pemerintahan Wijaya. Sebaliknya, jika Mahapati hanya tokoh yang ditambahkan saat Serat Pararaton dan Kidung Sorandaka ditulis, maka nama-nama itu memang melakukan pemberontakan. Menurut N.J. Krom, ahli sejarah Jawa dan purbakala, peran Mahapati sengaja ditambahkan kemudian agar berbagai pemberontakan yang terjadi pada awal berdirinya Majapahit bisa menjadi masuk akal. Motif itu bisa dimengerti mungkin karena penulis Serat Pararaton  dan  Kidung Sorandaka sulit memahami bagaimana bisa tokoh-tokoh yang berjasa bagi negara, dipercaya pemerintah, bisa berbalik mengacungkan senjata. Namun, pemberontakan bisa saja terjadi karena dipicu oleh ketidakpuasan pada pemerintah. Sebab, Jayanagara dijuluki Kala Gemet . Julukan ini dipakai oleh pengarang  Kidung Ranggalawe  dan  Pararaton  ketika menceritakan Jayanagara.  Slamet Muljana menjelaskan kata  kala  berarti penjahat. Ini mengandung arti ketidaksukaan rakyat atau pengarang Kidung Ranggalawe dan Pararaton  terhadap Jayanagara. Sementara kata gemet  adalah bentuk yang berubah dari kata  gamet  dan  gamut  yang artinya lemah.  Pararaton  menyebut Jayanagara banyak menderita sakit. “Demikianlah Kala Gemet  adalah nama paraben  yang mengandung arti ‘penjahat yang lemah’,” tulis Slamet. Gajah Mada di Balik Kematian Jayanagara Jayanagara membentuk pasukan Bhayangkara yang dipimpin Gajah Mada untuk menghadapi kemelut dalam pemerintahannya. Kesatuan ini melindunginya setiap saat. “Raja baru ini tampaknya sama sekali tak peduli dengan aspirasi dan kebutuhan mereka (rakyat, red. ),” tulis Drake. Puncaknya, Gajah Mada yang dianggap paling berjasa melindungi Jayanagara justru diyakini sebagai dalang di balik kematiannya. Drake percaya Gajah Mada andil dalam kematian Jayanagara. Drake menyebut desakan halus Gayatri telah membulatkan tekad Gajah Mada. Gayatri mencurigai Jayanagara berupaya menghalangi pernikahan kedua putrinya, Tribhuwana Tunggadewi dan Bhre Daha. Sebab, dia bermaksud memperistri kedua saudari tirinya itu.  Pararaton mencatat tak ada ksatria yang diizinkan datang ke Majapahit. Jika ada, mereka dibunuh. “Rencana busuk ini dirancang agar putri-putri Gayatri tak bisa menikmati perkawinan normal. Raja takut mereka akan menghasilkan pewaris takhta,” catat Drake. Gajah Mada pun bersiasat. Dia mendekati Tanca, seorang  dharmaputra sekaligus sahabat Kuti. Menurut Pararaton ,   Tanca pernah mengadu pada Gajah Mada kalau istrinya digoda Jayanagara. Dendam Tanca dimanfaatkan Gajah Mada. Kesempatan datang ketika diminta mengobati Jayanagara, Tanca menikamnya. Pararaton  dan Nagarakrtagama  mencatat kematian Jayanagara pada 1250 Saka (1328 M). Gajah Mada menggunakan Tanca untuk menyingkirkan penguasa yang tak disukai rakyat. Setelah itu, ia membunuh Tanca. “Demikianlah rahasia itu tertutup. Orang ramai hanya tahu Gajah Mada membalaskan kematian sang prabu dan menusuk Tanca sampai mati,” catat Slamet Muljana.*

  • Harun Kabir, Penyelamat Keluarga Bung Karno

    SUATU senja di bulan September 1945. Hetty Kabir masih ingat beberapa mobil berhenti depan rumahnya di Jalan Ciwaringin No. 33 Bogor. Dari salah satu kendaraan tersebut, keluarlah Achmad Subardjo, Chaerudin Achyar, Presiden Sukarno beserta keluarganya (Fatmawati, Guntur Sukarnoputra, mertua Bung Karno: Hasan Din dan Siti Chadijah). Sebagai tuan rumah, sang ayah Harun Kabir menyambut hangat para tamu penting itu. Tak perlu waktu lama, dari perbincangan singkat antara Bung Karno dengan ayahnya, putri kedua Harun Kabir itu langsung paham bahwa sang presiden akan menitipkan Guntur (putra mereka yang belum berusia 1 tahun), Hasan Din dan Siti Chadijah di rumahnya selama waktu yang tak bisa ditentukan. “Mereka bertiga akan tinggal  bersama kami karena saat itu situasi Jakarta sangat tidak aman,” kenang almarhum Hetty Kabir dalam suatu wawancara yang dilakukan pada 2016. Cerita Hetty itu terkonfirmasi dalam buku Catatan Kecil Bersama Bung Karno Bagian I , karya Fatmawati. Istri Sukarno kelahiran Bengkulu itu membenarkan jika keluarga besar Presiden Sukarno sempat “mengungsi” ke Istana Bogor yang sudah dikuasai oleh para pemuda. Kepindahan tersebut terjadi karena di Jakarta teror tentara NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda bentukan H.J. van Mook) mulai merajalela. Namun ketika di Istana Bogor pun, Fatmawati merasakan hal serupa. Dia tidak merasa betah dengan “situasi revolusiener” di sekitar istana yang banyak melibatkan para jago dan pemuda-pemuda setempat. “Bung Karno dan aku pulang kembali ke Jakarta, tetapi Guntur dan nenek-kakeknya tetap tinggal di Bogor, bersama keluarga Harun Kabir,” ungkap Fatmawati. Siapakah sebenarnya sosok Harun Kabir? Pemerintah Jawa Barat mengakui sosok Harun Kabir sebagai tokoh pejuang di era revolusi. Namanya bahkan tertabalkan di tiga kota: Bogor (Jalan Kapten Harun Kabir yang lalu berganti menjadi Jalan Taman Safari), Cianjur (Jalan Mayor Harun Kabir) dan Sukabumi (Jalan Kapten Harun Kabir). Namun sejatinya Harun Kabir bukanlah berasal dari Bogor, Cianjur atau Sukabumi, seperti banyak diyakini oleh beberapa peneliti sejarah di Jawa Barat. Aslinya dia adalah menak Bandung dan putra tunggal dari Raden Kabir Natakusumah, keturunan langsung dari Bupati Bandung ke-5 Raden Wiranatakusumah I (1769-1794). “Ayah saya lahir di Kapatihan pada 5 Desember 1910,” ungkap almarhum Hetty Kabir (putri ke-2 pasangan Harun Kabir dan R.A. Soekrati). Menjelang pemerintah Hindia Belanda runtuh, Harun Kabir menjabat sebagai Asisten Residen Bogor. Ketika militer Jepang berkuasa (1942—1945), dia ditempatkan sebagai pejabat di Zaimubu  (Departemen Keuangan), Jakarta. Pasca proklamasi 17 Agustus 1945, Harun lantas mendirikan Lasykar 33 yang memakai rumahnya sebagai markas besar.  “Saya ingat beliau sempat menjadi komandan saya di Lasykar 33,” ungkap Sukarna, veteran pejuang kemerdekaan kelahiran 1921. Pada awal 1946, Lasykar 33 dilebur ke dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Menurut buku Siliwangi dari Masa ke Masa karya Dinas Sejarah Kodam III, beberapa bulan kemudian, Divisi Siliwangi mendapuk Harun Kabir sebagai Kepala Staf Brigade Surjakantjana, dengan pangkat mayor. Namun kemudian karena ada pembenahan struktur dari Markas Besar Tentara (MBT) di Yogyakarta, semua pangkat perwira diturunkan menjadi satu tingkat. Harun pun turun pangkat menjadi kapten. Sebagai kepala staf brigade yang membawahi Bogor, Cianjur dan Sukabumi, mobilitas Kapten Harun begitu tinggi. Kendati awalnya dari dunia sipil, Kapten Harun dikenal sebagai sosok perwira yang sangat disiplin dan loyal kepada Republik. “Harun Kabir adalah perwira yang sangat cakap,” ujar Letnan Kolonel (Purn) Eddie Soekardi, eks Komandan Brigade Surjakantjana Divisi Siliwangi (1946-1947). Kesaksian soal itu terlontar pula dari mulut Hetty Kabir. Dia masih ingat bagaimana sang ayah sering jarang pulang ke rumah karena selain sibuk bertugas juga menghindari pengawasan intelijen militer Belanda. “Ayah memang menjadi incaran tentara Belanda. Begitu kritisnya situasi itu, hingga kami harus diungsikan ke rumah kerabat di Garut ” kenang perempuan kelahiran tahun 1936 itu. November 1947, Harun Kabir dan keluarga menyingkir ke wilayah selatan Cianjur. Mereka kemudian diamankan di sebuah bukit yang merupakan ladang huma. Bukit Cioray namanya. Karena pengkhianatan orang terdekatnya, persembunyian Harun Kabir lantas terendus oleh pasukan khusus Belanda. Tanpa memberikan kesempatan untuk diadili. Harun Kabir beserta dua pengawalnya kemudian dihukum mati di depan istri dan ketiga putrinya.*

  • Fakta dan Dramatisasi The Professor and the Madman

    DI sebuah lorong gelap ruang bawah tanah di London, Inggris pada suatu hari di tahun 1872, dr. William Chester Minor (diperankan Sean Penn) dituntun sipir menuju ruang sidang dengan raut wajah dingin. Ia didakwa membunuh seorang pria bernama George Merrett.                                                                                Namun karena pertimbangan ketidakwarasan Minor, hakim mengamini kesimpulan tak bersalah dari para juri. Minor lalu divonis tahanan di Rumahsakit Jiwa Broadmoor. Kehebohan berita tentang kasus yang menjadi pemberitaan berbagai suratkabar itu sampai ke filolog James Murray (Mel Gibson). Tak dinyana, Murray di kemudian hari bersua langsung dengan Minor dalam misi besar merampungkan kamus besar bahasa Inggris terbitan Oxford University Press. Begitulah prolog film drama The Professor and the Madman  yang disajikan sutradara PB Shemran alias Farhad Safinia . Sosok dr. William Chester Minor yang diperankan Sean Penn. ( eaglepictures.com ). Adegan lantas beralih ke sebuah rapat di aula perpustakaan besar di Universitas Oxford. Para akademisinya sedang mendengarkan dengan seksama presentasi Murray. Murray merupakan orang yang dipercaya memimpin perampungan proyek kamus The New English Dictionary on Historical Principles. Proyek tersebut mangkrak dua dekade meski telah dipegang para profesor di Universitas Oxford. Pemilihan Murray tak lepas dari dukungan sahabatnya, Frederick James Furnivall (Steve Coogan). Furnivall percaya bahwa perumusan kamus itu butuh sebuah gebrakan dan metode-metode non-konvensional. Dalam pandangannya, orang yang tepat hanya Murray yang dikenalnya punya segudang pengetahuan linguistik meski putus sekolah sejak usia 14 tahun. Murray juga merupakan poliglot 11 bahasa yang fasih dialek Aramaik, Koptik, Vaudois, Teutonik, Syria, hingga Provençal meski tak punya satupun gelar sarjana. Dengan pengetahuan skill Murray itulah Furnivall mengajukan nama Murray. Gebrakan Murray dimulai dengan mengajukan permohonan partisipasi semua orang yang hidup di bawah payung kolonialisme Britania Raya dan dilegitimasi Universitas Oxford. Dari semua kontribusi via surat yang datang kepadanya, Murray menyaringnya bersama tim yang ia bentuk. Istri dan 11 anaknya ada di dalam tim. Mel Gibson (kanan) memainkan tokoh editor Kamus Besar Bahasa Inggris Oxford James Augustus Henry Murray. (Tangkapan layar Mola TV). Meski begitu, tetap ada sejumlah kata yang sukar ditemukan definisinya oleh Murray dan timnya. Bahkan sampai membuatnya frustrasi. Di tengah kefrustrasian itu, muncullah beberapa kontribusi solutif dari seorang pasien RSJ Broadmoor. Kontributor itu adalah Minor. Besarnya arti kontribusi Minor membuat Murray membulatkan tekad untuk menjenguk Minor ke RSJ Broadmoor. Di situlah kedua figur yang sangat berjasa meracik kamus Oxford bertatap muka. Bagaimana kelanjutan drama yang menaungi keduanya? Baiknya Anda saksikan sendiri The Professor and the Madman yang sudah diputar di bioskop-bioskop sejak 10 Mei 2019 namun masih bisa ditonton secara streaming lewat Mola TV yang menayangkannya sejak 8 Oktober 2020. Dramatisasi The Professor and the Madman bisa jadi salah satu tontonan menghibur sekaligus mencerahkan di masa pandemi COVID-19 ini. Kamus hasil karya dua tokoh utama dalam film itu begitu lekat dengan kita mengingat sejak abad ke-20 kamus itu sudah tersebar luas, termasuk ke Indonesia. Belum lagi secara teknis, di mana pengambilan gambarnya sedari awal hingga akhir diproses dengan presisi oleh editor Dino Jonsater. Sisi entertainment kian kuat dengan iringan musik klasik dari komposer Bear McCreary. Penonton bakal terbawa ke suasana London era pertengahan abad ke-19. The Professor and the Madman diadaptasi dari biografi dr. Chester Minor karya jurnalis Simon Winchester, The Surgeon of Crowthorne: A Tale of Murder, Madness and the Love of Words yang terbit 1997. Setahun kemudian, Mel Gibson mendapatkan hak untuk memfilmkannya walau upaya mengangkat kisahnya ke layar perak baru bisa digarap mulai 2016 dan rampung dua tahun kemudian. Sebelum memfilmkan, Gibson dan sang sutradara terlibat konflik dengan Voltage Pictures selaku distributor. Lantaran dialihwahanakan dari buku ke layar lebar, dramatisasi dimasukkan demi menghasilkan racikan film yang menarik meski harus melenceng dari fakta. Penyebutan “profesor” pada tokoh Murray contohnya. Meski gelar profesi itu tak pernah disandang Murray, tim produksi berdalih memakai sebutan itu berdasarkan apa yang ditulis Winchester. Winchester sendiri pada 1998 mengubah judulnya menjadi The Professor and the Madman: A Tale of Murder, Insanity, and the Making of the Oxford English Dictionary setelah menerima saran untuk edisi yang khusus dirilis di Amerika dan Kanada. Adalah Larry Ashmead, editor Penerbit Harper Collins, yang menyarankan Winchester mengubah judulnya agar kisah perumusan kamus itu lebih mengundang minat pembaca. “Dia (Ashmead) bilang, ‘Saya bisa membuatnya laris. Kita bisa membuat kisah perumusan kamus menjadi cerita keren. Penerbit di Inggris menyebut The Surgeon of Crowthorne . Tapi tiada satupun di sini (Amerika) yang tahu di mana itu Crowthorne. Kita beri judul The Professor and the Madman. ’ Tetapi saya katakan tidak ada seorang profesor di antara mereka. Namun Larry meyakinkan saya untuk tetap memakai judulnya dan hasilnya terjual jutaan copy ,” tulis Winchester dalam kolom obituari mengenang Ashmead yang dimuat The Guardian , 28 September 2010. Dramatisasi tak sesuai fakta lain adalah tentang pemberian terbitan pertama kamus Oxford yang memuat ribuan entri kontribusi Minor. Dalam film, kamus itu diberikan langsung oleh Murray saat menjenguk Minor di Broadmoor. Padahal, menurut Winchester dalam biografi Minor, kamus itu diberikan oleh Eliza Merrett, janda enam anak yang suaminya dibunuh Minor. Kolase tokoh Eliza Merrett, janda korban yang didramatisir memiliki hubungan asmara dengan dr. Minor. ( eaglepictures.com ). Dramatisasi tak sesuai fakta terpenting adalah soal asmara di antara Minor dan Eliza Merrett (diperankan Natalie Dormer). Minor kenal Eliza setelah dikenalkan sipir RSJ Broadmoor Muncie (Eddie Marsan). Muncie mendatangi Eliza untuk memberikan uang pensiunan Minor sebagai purnawirawan kapten Angkatan Darat Amerika, sesuai permintaan Minor. Sebagaimana dituliskan Winchester, memang benar bahwa Minor rutin mengirimkan uang pensiunannya kepada Eliza semenjak jadi pasien di RSJ Broadmoor. Minor bahkan juga mengirimkan uang hibah dari ibu tirinya yang dikirimkan dari Amerika. Namun, perkenalan Minor dan Eliza bukan diperantarai sipir RSJ, melainkan dari utusan Kedutaan Amerika di London. Setelah perkenalan itu, Eliza mengunjungi Minor di Broadmoor pada awal 1880. Keduanya akhirnya saling berkirim surat dan Eliza kemudian sering mengirimkan paket buku dari London ke RSJ Broadmoor. “Salah satu yang dikirimkannya adalah terbitan pertama Murray kamus edisi pertama yang diterbitkan pada April 1879,” tulis Winchester. Dari hubungan itu, Minor perlahan jatuh hati pada Eliza. Dalam film, cinta yang dirasakan Minor tetap berkalang rasa bersalah. Karena itu Minor sampai melakoni autopenectomy (memotong alat kelamin sendiri) demi mencegah perasaannya terhadap Eliza bergulir lebih jauh. Padahal menurut Winchester, Minor melakukannya setelah mengalami schizophrenia . Ia berhalusinasi melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak. Winchester tak pernah mengungkapkan ada hubungan lebih intim antara Eliza dan Minor. “Tidak ada suasana khusus yang eksis dalam pertemuan antara Minor dan Eliza selain sekadar pertemuan biasa dan formal. Dalam setiap pertemuannya, Minor selalu mengemukakan rasa penyesalannya. Tetapi Eliza sudah memaafkan kejadian itu dan menerimanya dengan lapang dada. Eliza memahami bahwa pembunuhan itu terjadi ketika Minor tak mengetahui mana orang yang benar dan salah,” sambung Winchester. Deskripsi Film: Judul: The Professor and the Madman | Sutradara: Farhad Safinia (P.B. Shemran) | Produser: Nicholas Chartier, Gaston Pavlovich | Pemain: Mel Gibson, Sean Penn, Natalie Dormer, Steve Coogan, Ioan Gruffud, Stephen Dillane, Eddie Marsan, Jennifer Ehle | Produksi: Icon Entertainment International, Fastnet Films, Voltage Pictures | Distributor: Vertical Entertainment | Genre: Drama Biopik | Durasi: 124 Menit | Rilis: 10 Mei 2019, 8 Oktober 2020 ( MolaTV ) .

  • Addio Paolo Rossi!

    BELUM habis pemberitaan tentang kepergian Diego Maradona, dunia sepakbola kembali ditinggal satu bintangnya, yakni Paolo Rossi. Pahlawan Timnas Italia di Piala Dunia 1982 itu mengembuskan nafas terakhirnya di usia 64 tahun pada Rabu (9/12/2020) di Roma, Italia. Pihak keluarga menyebutkan, Rossi wafat setelah lama berjuang melawan kanker paru-paru. Sejumlah rekannya di skuad Gli   Azzurri (julukan Timnas Italia) 1982 pun meluapkan kepedihannya. “Saya tak tahu mesti berkata apa, seperti petir di siang bolong. Kami selalu punya hubungan baik dengan Paolo. Sosok yang ramah dan pintar. Kabar ini sesuatu hal yang sulit saya cerna,” kata kiper sekaligus kapten Italia Dino Zoff, dikutip La Gazzetta dello Sport , Kamis (10/12/2020). Paolo Rossi (tengah) dikabarkan meninggal setelah menderita kanker paru-paru ( figc.it ) Menimpali Zoff, bek kanan Pietro Vierchowod merasa kabar duka itu jadi pukulan yang menambah pahitdalam situasi negerinya di masa pandemi COVID-19. “Dia pemain hebat di Piala Dunia 1982 dan lebih dari itu, ia pribadi yang sensitif dan baik. 2020 menjadi tahun yang diawali dan berakhir dengan buruk. Sebuah kehilangan besar bagi sepakbola dunia,” ujarnya. Nama Rossi memang tak setenar Maradona. Namun bersama Garrincha (Brasil) dan Mario Kempes (Argentina), Rossi punya catatan rekor dalam sejarah Piala Dunia yang belum bisa disamai bintang manapun hingga kini. Transformasi "Pablito" Seperti anak-anak di Italia di zamannya, Rossi sudah mengenal si kulit bundar sejak dini dan memainkannya di jalanan sepulang sekolah. Pria kelahiran Santa Lucia, dekat Kota Prato, 23 September 1956 itu sudah meretas karier sepakbolanya di usia muda dengan bergabung ke klub amatir Coiano Santa Lucia, kemudian Cattolica Virtus. “Ibunya Paolo Rossi bekerja di perusahaan saya. Pablito (julukan Rossi) menendang bola pertamanya dengan dilatih saya sebelum pindah ke Cattolica Virtus. Malam di mana ia mencetak tiga gol ke gawang Brasil, saking girangnya saya sampai kena serangan jantung,” kenang Rodolfo Becheri, bos sebuah perusahaan perdagangan sekaligus presiden Coiano Santa Lucia, kepada La Repubblica , 25 April 2012. Sempat menembus skuad utama Juventus, Paolo Rossi lantas dipinjamkan ke Como ( juventus.com/paolorossiacademy.com ) Kala menginjak usia 16 tahun, pemuda kurus itu terdeteksi radar pencari bakat klub Juventus, Italo Allodi, kala menengok kompetisi U-16 di Prato. Rossi bermain sebagai spesialis winger (sayap)kanan. Allodi segera menawarkan Rossi untuk mempertajam skill -nya di akademi Juventus dan bersambut. Rossi bahkan sudah menembus skuad utama Bianconeri (julukan Juventus) pada 1973. Namun, Rossi tipe pemain yang rentan cedera lutut sehingga jarang dimainkan. Akibatnya, Juventus meminjamkannya ke Como selama semusim (1975-1976). Sialnya, Rossi juga gagal bersinar. Titik balik karier Rossi terjadi semusim kemudian saat klub Serie B Vicenza Calcio meminjamnya dari Juventus tak lama dari kembalinya Rossi dari Como. Oleh allenatore (pelatih) Giovan Battista Fabbri, karakter bermain dan posisi Rossi diubah dari pemain pelari dari sektor sayap menjadi penyerang tengah. Dari Fabbri pula Rossi mendapat tempaan teknik finishing dan positioning di kotak penalti. Hasilnya, di akhir musim Rossi mendapat anugerah sepatu emas sebagai top skordengan 21 gol sekaligus mengantarkan Vicenza meraih juara Serie B musim 1976-1977. “Fabbri sudah seperti ayah buat saya. Sosok family man klasik dan selalu memberi nasihat, serta selalu melindungi Anda. Dia juga bisa memastikan persatuan yang solid di antara pemain. Saya berutang banyak padanya karena dialah yang mengubah saya dari winger menjadi penyerang tengah,” kenang Rossi dalam wawancaranya dengan Tutto Juve , 23 September 2013. Pasca-dibuang Juve, Paolo Rossi melejit di Vicenza di bawah asuhan GB Fabbri (lrvicenza.met'paolorossiacademy.com) Prestasi itu membuat pelatih Timnas Italia Enzo Bearzot memanggil Rossi ke skuad jelang persiapan Piala Dunia 1978. Di turnamen itu, skuad Italia didominasi pemain muda. Sebagai hasil besutan Fabbri di Vicenza, Rossi jadi lebih fleksibel untuk bertukar peran dari penyerang tengah kembali jadi pemain sayap dengan dua rekannya di lini depan: Roberto Bettega dan Franco Causio. Di Piala Dunia 1978 pula Rossi mendapat julukan “Pablito” (Paolo kecil) dari fans tuan rumah Argentina. Julukan itu disematkan padanya berkat aksi-aksi ciamiknya yang mengundang decak kagum. Lewat tiga gol dan empat assist yang dibuatnya selama turnamen, Rossi sebagai debutan muda meraih penghargaan bola perak alias pemain terbaik kedua sepanjang turnamen. Habis Skandal, Terbitlah Trofi Piala Dunia Selepas Piala Dunia 1978, Rossi dibeli Vicenza dari Juve dengan banderol selangit, 2,6 miliar lira. Nilai transfer itu mendaulat Rossi jadi pemain termahal pada masanya. Namun sial bagi Rossi karena lagi-lagi dibekap cedera lutut. Akibatnya Vicenza di musim 1978-1979 jatuh lagi ke Serie B. Rossi akhirnya dipinjamkan ke Perugia. Di Perugia, Rossi diterpa cobaan paling getir dalam kariernya. Ia terkena imbas Skandal Totonero atau pengaturan skor di musim 1979-1980 yang melibatkan lima klub Serie B dan delapan klub Serie A, termasuk Perugia. Dari penyelidikan Guardia di Finanza, dinas khusus di bawah naungan Kementerian Keuangan Italia, didapati ada dua pelatih dan 20 pemain dari 13 klub yang terlibat aktif dalam aktivitas perjudian sepakbola dan pengaturan skor. Rossi termasuk di antara 20 pemain itu. “Rossi selalu menyanggah keterlibatannya dan bukti-bukti terhadapnya sebagian besar hanya berdasarkan kata ‘si anu’ dan ‘si anu’. Mungkin saja dia dijadikan kambing hitam karena reputasinya atau bisa saja memang dia benar-benar terlibat. Terlepas dari itu, dia tetap disanksi larangan berman tiga tahun yang kemudian dikurangi menjadi dua tahun,” tulis Nick Holt dalam Mammoth Book of the World Cup. Paolo Rossi berjasa besar kala Italia meraih trofi Piala Dunia ketiganya pada 1982 ( fifa.com ) Meski masih dihukum larangan bermain, Rossi masih diminati Juventus yang merekrutnya kembali pada 1981. Setahun kemudian setelah terbebas dari sanksi, Rossi kembali dipanggil Bearzot ke Timnas Italia. Keputusan berani Bearzot memasukkan nama Rossi ke skuad Italia di Piala Dunia 1982 Spanyol itu membuatnya kebanjiran kritik. Namun, Rossi mampu memberi bukti bahwa keputusan Bearzot bukanlah blunder . Mark Ryan mengungkapkan dalam Lowdown: A Short History of the World Cup , di balik buruknya penampilan Italia di babak grup, tim asuhan Bearzot itu masih bisa lolos dan bahkan mencapai partai puncak. Dari total 10 gol di sepanjang turnamen, enam di antaranya diciptakan Rossi. “Terlepas dari bintang-bintang Amerika Selatan yang sedang bersinar seperti Maradona (Argentina), serta Paulo Falcão dan Zico (Brasil), Paolo Rossi yang justru mencuri perhatian. Menarik karena Italia sebenarnya tampil buruk di fase grup sampai media-media Italia mencibir agar Bearzot sebaiknya membawa tim pulang dari Spanyol. Tetapi entah bagaimana Italia mampu melaju ke fase berikutnya,” tulis Ryan. Rossi jadi kunci keberhasilan Italia melaju. Di perempatfinal kala bersua Brasil di Estadi de Sarrià, Barcelona, 5 Juli 1982, Rossi membalikkan cacian publik Italia menjadi sanjungan lewat hattrick untuk mengunci kemenangan 3-2. Rossi lantas mengubur cap skandal suapnya dengan mencetak sebutir gol dalam kemenangan 3-1 Italia atas Jerman Barat di partai final yang dihelat di Estadio Santiago Bernabéu, 11 Juli 1982. Namun ketika laga berakhir, alih-alih bereuforia dengan berlarian seperti rekan-rekannya, Rossi justru mengunci pandangannya ke arah papan skor. “Saya melihat papan skor. Saya memandangi kerumuman penonton dan rekan-rekan yang merayakan. Tetapi di dalam hati saya terdapat rasa pahit. Saya berkata dalam hati: ‘Sekarang kamu harus menghentikan waktu.’ Itu adalah momen yang takkan saya alami lagi sepanjang hidup saya. Saya merasa, di sinilah akhir perjalanannya,” tutur Rossi kepada Storie di Calcio , 4 Juli 2015. Kolase Paolo Rossi kala berseragam Perugia, AC Milan, hingga Hellas Verona ( paolorossiacademy.com ) Itu jadi trofi Piala Dunia ketiga Italia setelah tahun 1934 dan 1938. Rossi sendiri dianugerahi sepatu emas karena menjadi top skor dengan enam gol, dan bola emas sebagai pemain terbaik. Tiga prestasi yang digapai secara bersamaan itu: trofi Piala Dunia, bola emas, dan sepatu emas, mensejajarkan Rossi dengan Garrincha (Brasil) dan Mario Kempes (Argentina) yang masing-masing meraihnya di Piala Dunia 1962 dan Piala Dunia 1978. Di antara para bintang sepakbola Italia, Rossi jadi pemain ketiga yang meraih Ballon d’Or (1982). Rossi juga tercatat sebagai pemain tersubur timnas di Piala Dunia (1978 dan 1982) dengan total sembilan gol. Rekor tersebut baru bisa disamakan oleh Roberto Baggio dan Christian Vieri beberapa tahun kemudian. Di senjakala kariernya, Rossi mulai sering dicadangkan Juventus gegara rentan cedera. Meski begitu, ia turut berandil mengantarkan Juventus menyabet scudetto Serie A musim 1981-1982 dan 1983-1984, Coppa Italia 1982-1983, Piala Winners 1983-1984, Piala Champion 1984-1985, dan UEFA Super Cup 1984. Setelah dilepas Juventus dan ditampung AC Milan pada 1985, Rossi lantas menutup kariernya di Hellas Verona setahun kemudian. Setelah pensiun, Rossi tetap tak bisa jauh dari sepakbola. Hingga akhir hayatnya, Rossi eksis sebagai komentator di berbagai media seperti Sky dan Rai Sport . Atas dedikasinya terhadap sepakbola dunia, pada 2007 Rossi dianugerai Golden Foot. Namanya juga dimasukkan ke dalam daftar Hall of Fame FIGC (otoritas sepakbola Italia) pada 2016. Addio! Riposare in Pace , Paolo Rossi!

  • Riwayat Pertapaan di Lereng Gunung Ungaran

    HUTAN pinus, hawa sejuk, udara yang bersih, jauh dari hiruk pikuk suasana perkotaan yang ruwet. Di kawasan semacam itulah Kompleks Candi Gedongsongo berada. Secara berkelompok candi-candi dibangun di atas bukit dan mengikuti kontur lereng Gunung Ungaran. Jika hari cerah, Gunung Telomoyo, Merbabu, Merapi, Sumbing, dan Sindoro terlihat di kejauhan. Kompleks Candi Gedongsongo terletak di Desa Candi, Kecamatan Bandungan, dan Desa Jubelan, Kecamatan Sumowono, yang masuk wilayah Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Nama Gedongsongo diberikan oleh penduduk setempat, yang dapat diartikan sebagai rumah ( gedong ) yang berjumlah sembilan ( songo ). Keberadaan candi-candi ini diungkapkan kali pertama oleh Joan Gideon Loten, pejabat Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC), pada 1740. Th. Stamford Raffles dalam bukunya The History of Java  mencatat kompleks tersebut dengan nama “Gedong Pitoe” karena hanya ditemukan tujuh kelompok bangunan. Penelitian yang dilakukan para arkeolog Belanda awal abad ke-20 menemukan dua kelompok candi lain, sehingga namanya diubah menjadi Gedongsongo. Saat ini hanya lima kelompok candi yang masih utuh. Letaknya berpencar. Dimulai dari Candi Gedong I yang terletak paling bawah sampai Candi Gedong V yang tertinggi. Semua kelompok candi didirikan di puncak-puncak bukit yang berbeda. Keberadaannya dibagi menjadi dua oleh ngarai sedalam 50 m. Di sanalah mengalir mata air panas belerang. Gedong I, II dan III terletak di sisi timur ngarai. Sementara kelompok candi lainnya berada di sebelah baratnya. Candi-candi Gedongsongo ini bersifat Hindu-Siwa. Sebuah yoni masih ditemukan di ruangan Candi Gedong I. Yoni melambangkan Dewi Uma atau Parwati yang merupakan pasangan dari Dewa Siwa. Arca Durga Mahisasuramardini juga masih bisa dilihat di relung utara candi. Ada pula arca Ganesa di relung sebelah timur dan Agastya di relung selatan Candi Gedong III. Kendati tak ada prasasti yang menyebutkan masa pembangunan candi, berdasarkan ciri-ciri arsitekturnya, Candi Gedongsongo mempunyai Gaya Klasik Tua atau disebut pula Gaya Mataram Kuno. “Candi Gedongsongo diperkirakan dibangun pada abad ke-8, sedikit lebih muda dari Candi Dieng, yaitu pada masa Kerajaan Mataram Kuno,” sebut Edi Sedyawati dkk dalam Candi Indonesia: Seri Jawa . Tempat Bagi Para Pertapa Arkeolog Veronique Myriam Yvonne Degroot dalam disertasinya di Universitas Leiden berjudul “Candi, Space, and Landscape: a Study on the Distribution, Orientation, and Spatial Organization of Central Javanese Temple Remains” berpendapat, ada alasan kuat untuk bilang bahwa Candi Gedongsongo, dan juga Candi Dieng, tidak berdiri di tengah permukiman. Areanya begitu luas. Wilayahnya berada di ketinggian yang tak cocok untuk budidaya padi basah. Sudah begitu letaknya terpencil. Degroot menyimpulkan, lingkungan di sekitar Gedongsongo lebih cocok sebagai tempat semedi bagi para pertapa dan atau tempat ziarah. Lydia Kieven, arkeolog asal Jerman, dalam Menelusuri Figur Bertopi dalam Relief Candi Zaman Majapahit menulis keterpencilan gunung menarik peziarah yang mencari kesunyian untuk inspirasi dan memahami pengetahuan religius. “Kemungkinan besar, peziarah dari semua bagian masyarakat, khususnya anggota aristokrasi dan bahkan raja-raja, menyepi ke pertapaan guna mencari pengetahuan dan kekuatan spiritual,” tulis Lydia. Degroot punya alasan lain kenapa Gedongsongo layak sebagai tempat semedi. Dia mencermati ada beberapa tahapan pembangunan percandian ini. Berdasarkan orientasi, denah, dan dimensinya, Candi Gedongsongo III, IV, dan VI adalah yang paling awal dibangun. Sementara Gedongsongo I dibangun pada masa berikutnya. “Gedongsongo II dalam hal ini tidak pasti. Secara denah dan dimensi jelas berbeda dari Gedongsongo I, tetapi tidak serupa pula dengan Gedongsongo III, IV dan VI,” jelas Degroot. Tak ada pola yang jelas dalam perencanaan pendirian kompleks percandian ini. Hubungan antarbangunan tampak longgar atau, paling banter, tidak terencana. Sangat mungkin tempat-tempat ini berkembang secara organik dari inti bangunan asli, berbeda dari kompleks candi yang berpola konsentris seperti Kompleks Candi Prambanan yang seluruhnya direncanakan sejak awal. Selain itu, candi-candi Gedongsongo memiliki masa huni yang sangat lama. “Sebuah prasasti abad ke-14 lebih jauh memberi kesaksian bahwa Gedongsongo masih digunakan kala itu,” kata Degroot. Penanaman pohon di area Candi Gedongsongo lewat program Candi Darling. (Dok. Bakti Lingkungan Djarum Foundation). Rawan Longsor Suasana hening di lereng gunung memang mendukung pelaksanaan ritual yang sempurna.Namunsayangnya, karakteristik kawasan Gedongsongo merupakan ekosistem Gunungapi Ungaran yang punya permasalahan, yaitu rawan longsor. Bencana ini juga mengancam bagi keberadaan candi-candi di sana. Menurut Asmara Dewi Balai, peneliti Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, dalam “Implementasi Manajemen Risiko dalam Konservasi Kawasan Cagar Budaya (Studi Kasus Kawasan Candi Gedongsongo)” dimuat Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 9 No. 2, Desember 2015, selain rawan longsor, kawasan ini rentan oleh perubahan status hutan produksi menjadi hutan wisata dan pertanian yang tak sesuai kemampuan lahan. Sayuran wortel, kol, rumput gajah merupakan tanaman musiman di sana. “Pemanfaatan pertanian musiman oleh warga setempat yang sebenarnya tidak dibolehkan karena tidak sesuai karakteristik lingkungannya,” lanjut Asmara. “Perlu penyesuaian jenis tanaman dengan memperhatikan teknik penanaman dan jenis tanah.” Deddy Erfandi, peneliti Badan Litbang Pertanian pada Balai Penelitian Tanah, dalam “Sistem Vegetasi dalam Penanganan Lahan Rawan Longsor pada Areal Pertanian”, dimuat pada Prosiding Seminar Nasional Pertanian Ramah Lingkungan , menjabarkan soal penanganan longsor melalui pengelolaan vegetasi. Tanaman keras yang dijadikan sebagai pagar pada pertanaman semusim bisa menghambat aliran permukaan dan erosi. Perakarannya juga bisa menjadi pengikat struktur tanah. Upaya pelestarian kawasan Kompleks Candi Gedongsongo pernah dilakukan oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation melalui Gerakan Siap Darling (Siap Sadar Lingkungan). Lewat program Candi Sadar Lingkungan (Candi Darling),mereka menanami areal Candi Gedong I dengan bambu jepang, hujan mas, pucuk merah, tabebuia rosea , pinus, cemara, puspa, serta akar wangi. Lalu di kawasan Candi Gedong IV ditanami pinus, cemara, puspa, dan akar wangi. Euthalia Hanggari Sittadewi, peneliti Pusat Teknologi Reduksi Risiko Bencana (PTRRB), dalam “Peran Vegetasi dalam Aplikasi Soil Bioeningeering ” di Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana Vol. 12 No. 2, Desember 2017,mencatat lereng yang tertutupi vegetasi seperti rumput dan bambu membuat lapisan tanah paling atasnya terlindungi. “Untuk kasus tertentu, di mana lereng sangat curam sulit ditanami tanaman besar, maka untuk menstabilkan lereng masih dapat dilakukan dengan penanaman tanaman perdu atau semak kecil,” katanya. Menurutnya, tanaman akar wangi atau rumput vertiver merupakan salah satu yang dapat mengendalikan erosi. Akar wangi mempunyai sistem penetrasi akar yang dalam dan kemampuan mengikat tanah yang baik dan dapat hidup pada berbagai jenis tanah. Dengan begitu apa yang dilakukan gerakan Candi Darling di Gedong Songo kala itu diharapkan bisa mengedukasi, khususnya kepada generasi muda, untuk bisa ikut merawat dan menjaga lingkungan. Salah satunya dengan menghijaukan situs-situs bersejarah warisan leluhur. Gerakan ini telah mengajak 250 mahasiswa ikut serta merawat Kawasan Gedong Songo. Mereka berasal dari 54 universitas di Indonesia, seperti Universitas Diponegoro, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, dan Universitas Negeri Semarang. Bagaimanapun, seperti misalnya diCandi Gedongsongo, situs bersejarah dan lingkungan sekitarnya merupakan kesatuan yang tak terpisah. Bukan hanya candi yang harus dijaga. Kawasannya juga mesti dipelihara. Program penghijauan kawasan candi, karenanya, patut dilanggengkan.Tentunya demi mencegah suasana yang dulu dibangun para pembuat candi-candi Gedongsongo itu sirna.

  • Ketika Dendam Hungaria Terhadap Soviet Terbalaskan di Australia

    Bersama teman-temannya di timnas polo air Hungaria, Ceszi Gyarmati, kapten tim, begitu antusias sore (6/12/56) itu. Mereka menunggu dimulainya laga semifinal polo air putra Olimpiade Melbourne 1956 yang akan mereka mainkan.  “Kami dipesankan harus menang, namun jangan berkelahi, jangan bertinju, dan jangan bermain kasar,” kata Gyarmati menirukan pesan pelatihnya, dikutip Suratkabar The   Age  edisi 7 Desember 1956. Tak hanya datang dari instruksi pelatih, tekad menang itu datang dari dalam diri masing-masing pemain karena lawan yang bakal mereka hadapi adalah Uni Soviet. Kurang dari sebulan sebelumnya, negeri pemimpin Blok Timur itu bertindak brutal memadamkan hasrat para pemuda-rakyat Hungaria untuk merdeka lewat aksi demonstrasi. “Pertandingan Olimpiade 1956 di Melbourne menawarkan kesempatan bagi Hungaria untuk membalas dendam terhadap Uni Soviet hanya sebulan setelah tank Soviet menghancurkan revolusi mereka dengan menyerang Budapest,” tulis Roger I. Abrams   dalam  Playing Tough: The World of Sports and Politics . Revolusi 1956 di Hungaria merupakan protes pemuda terhadap Republik Rakyat Hongaria yang menjadi kepanjangan tangan Soviet. Protes itu dimulai dengan aksi mahasiswa ke gedung parlemen di ibukota, Budapest, pada 23 Oktober. Mereka menuntut sistem politik lebih demokratis dan bebas dari penindasan Soviet. Aksi berubah menjadi kacau setelah sekelompok delegasi mahasiswa yang hendak menyiarkan tuntutan di kantor radio malah ditahan. Tuntutan pembebasan mereka oleh rekan-rekan demonstran justru dijawab dengan tembakan oleh aparat polisi rahasia Allamvedelmi Hatosag (AVH).   Kematian beberapa demonstran membuat kerusuhan segera menyebar. Para demonstran yang didukung rakyat segera membentuk milisi-milisi untuk memerangi AVH dan pasukan Soviet. Mereka membebaskan tahanan politik dan membunuh beberapa pemimpin AVH. Pemerintahan PM Andras Hegedus pun jatuh. Tuntutan para demonstran dikabulkan Partai Buruh Hungaria, yang pimpinannya direbut oleh para politisi pendukung aksi, lewat penunjukan kembali Imre Nagy –anggota partai yang dikeluarkan karena kritiknya terhadap kebijakan Stalinis– menjadi perdana menteri. Nagy melakukan sejumlah gebrakan dalam pemerintahan keduanya. Selain membubarkan AVH, Nagy meminta Soviet menarik pasukannya dari Hungaria, yang sudah berada di sana sejak usai Perang Dunia II; menyatakan keluarnya Hungaria dari keanggotaan Pakta Warsawa; dan ke dalam, menghapus aturan satu partai sebagai respon terhadap tuntutan perbaikan sistem politik lebih demokratis. Soviet yang merasa kehilangan kontrol atas Hungaria setelah kenaikan Nagy tak tinggal diam. Pada 4 November 1956, militer Soviet menginvasi Hungaria. Perlawanan gerilya yang datang dari para pemuda militan Hungaria segera dihancurkan pada 10 November, mengakibatkan tewasnya sekira 3000-an penduduk Hungaria dan pengungsian sekitar 200 ribu lainnya. Perlakuan kejam diberlakukan militer Soviet terhadap siapapun yang melawan, termasuk Nagy yang kemudian ditangkap dan digantung. Invasi dan kekejaman aparat militer Soviet itulah yang terpatri kuat dalam benak para anggota timnas polo air Hungaria. Invasi itu juga membuat tempat latihan mereka sampai dipindah mulai dari ke luar ibukota Budapest hingga ke Cekoslowakia. Kepastian mereka berangkat ke Olimpiade Melbourne didapat pada tanggal 30 Oktober ketika Nagy merestui keberangkatan mereka dengan misi mengusung Hungaria merdeka. Setelah itu, mereka tak mendapat berita lagi tentang situasi negerinya. Mereka baru dapat berita kembali, yang amat mengagetkan, setelah tiba di Melbourne pada 20 November. Meski benak mereka berkecamuk oleh berita buruk dari negerinya, tim polo air Hungaria berhasil bermain baik dalam olimpiade yang dibuka pada 22 November 1956 itu. Usai mengalahkan Amerika Serikat 6-2, mereka kemudian berturut-turut mengalahkan Jerman Barat dan Italia masing-masing 4-0. Kemenangan itu membawa mereka masuk ke semifinal, bertemu Soviet. Maka begitu mendapati lawan mereka di semifinal adalah Soviet, mereka begitu antusias untuk menang. “Mereka mulai menembak kami, para bajingan itu. Api dalam diri kami berdenyut sangat kuat,” kata Istvan Hevesi, anggota tim polo Hungaria, dikutip Simon Burnton dalam “50 Stunning Olympic Moments No7: Hungary v Soviet Union: Blood in the Water” yang dimuat theguardian . com . Meski pesan pelatih untuk bermain bersih terus dipegang masing-masing pemain Hungaria, mereka tetap mencari cara agar dapat memenangkan pertandingan melawan Soviet. “Kami membayangkan jika mereka akan marah, mereka akan mulai berkelahi, dan begitu mereka berkelahi mereka takkan bermain bagus dan jika mereka tak bermain bagus kami akan mengalahkan mereka, dan jika kami mengalahkan mereka kami akan memenangkan Olimpiade,” kata penyerang tengah Ervin Zador. Untuk dapat memenangkan pertandingan, para pemain Hungaria sepakat mesti menerapkan perang urat syaraf. “Saya memiliki cukup (kemampuan, red .) bahasa Rusia untuk melakukan apapun – kami menggunakan ucapan lisan, berharap mereka akan bereaksi secara fisik,” sambung Zador, dikutip Kirsty Reid dalam “Blood in the Water: Hungary’s 1956 Water Polo Gold” yang dimuat di bbc . com , 20 Agustus 2011. Ketika hari yang ditunggu tiba, 6 Desember, para pemain Hungaria telah siap secara mental. Mental mereka makin kuat dengan dukungan komunitas Hungaria di Melbourne yang datang ke stadion untuk menyaksikan laga tersebut. Begitu peluit tanda dimulainya pertandingan dibunyikan, pertarungan panas pun dimulai. Saling pukul dan tendang dari masing-masing tim mewarnai pertandingan tersebut. Wasit sampai mengeluarkan lima pemain akibat permainan kasar mereka. Suasana makin panas karena para fans Hungaria acap meneriakkan “Rusia pulang!” “ memainkan olahraga sama seperti mereka menjalankan hidup mereka –dengan kebrutalan dan mengabaikan fair play,” kata Zador sebagaimana dikutip Sheldon Anderson dalam The Politics and Culture of Modern Sports . Strategi para pemain Hungaria memancing emosi para pemain Soviet berjalan dengan baik. Mereka sudah memimpin 4-0, dua gol di antarnya dicetak Zador, ketika pertandingan masih menyisakan beberapa menit lagi. Namun di masa akhir  laga itulah Zador terlibat konflik dengan Valentin Prokopov. Akibatnya, bawah mata kanan Zador langsung ditinju Prokopov sehingga mengalirkan darah segar. Ketika Zador naik ke atas kolam, orang-orang Hungaria di stadion langsung marah tak terima. Sambil mencela dan meludahi para pemain Soviet, mereka menuju tepi kolam namun berhasil dicegah aparat keamanan yang memberi pengawalan pada tim Soviet. Wasit yang melihat langsung menghentikan pertandingan meski masih menyisakan beberapa menit. Hungaria dinyatakan menang. “Kami merasa kami bermain tidak hanya untuk diri kami sendiri tetapi untuk seluruh negara kami,” kata Zador, yang kemudian enggan pulang ke Hungaria setelah merebut medali emas usai mengalahkan Yugoslavia di final, dikutip Roger I. Abrams dalam Playing Tough: The World of Sports and Politics .

  • Operasi CIA di Indonesia dari Masa ke Masa

    CENTRAL Intelligent Agency (CIA) telah lama beroperasi di Indonesia. Berbagai peristiwa, mulai dari pemilihan umum pertama tahun 1955 hingga Peristiwa 1965 yang diikut penggulingan pemerintahan Presiden Sukarno, diduga turut melibatkan agen intelijen rahasia Amerika Serikat ini. Sejarawan Baskara T. Wardaya dalam Dialog Sejarah “Spionase CIA dari Masa ke Masa” di saluran Youtube  dan Facebook   Historia , Kamis, 10 Desember 2020, menjelaskan bahwa embrio CIA bermula dari Office of Strategic Services (OSS), yang dibentuk pada 1942 untuk mengumpulkan informasi-informasi dari Uni Soviet. Namun, tampaknya hampir semua operasi OSS gagal. Bahkan, OSS sendiri malah diinfiltrasi oleh agen Inggris dan Soviet. OSS kemudian beralih target dari Uni Soviet ke negara-negara yang dianggap dekat dengan Soviet maupun negara-negara yang berideologi atau condong ke komunisme dan sosialisme. Setelah OSS dirombak beberapa kali, pada 1947 Amerika Serikat membentuk CIA. “Dalam perkembangan berikut, tujuannya diperluas. Tidak hanya melawan ideologi Soviet yang komunis tadi tetapi juga lalu memperjuangkan kepentingan ekonomi Barat,” jelas Baskara. CIA kemudian menjalankan berbagai operasi di negara-negara yang dianggap “kiri” dan memiliki pengaruh ekonomi. Pada 1953, CIA menjalankan operasi menurunkan Perdana Menteri Iran Mossadegh terkait isu nasionalisasi perusahaan minyak. Di Guatemala, pada 1954 CIA juga berhasil menjalankan misi melengserkan Presiden Jacobo Arbenz yang mendukung landreform . Di benua Afrika, pada 1961 CIA menjalankan operasi di Kongo untuk menggulingkan Patrice Lumumba yang dekat dengan Soviet. Pada tahun yang sama, di Kuba Fidel Castro juga dijadikan sasaran CIA namun gagal. Dan pada 1964, operasi CIA bershasil menjatuhkan Persiden Brazil Joao Gullard yang mendukung landreform  dan condong ke sosialis. Di Indonesia, redaktur Historia . ID  Hendri F. Isnaeni menyebut agen-agen Amerika Serikat telah diselundupkan sejak 1944 melalui Operasi Iceberg. Ketika Jepang sudah kalah, pada September 1945 agen OSS masuk ke Indonesia bersamaan dengan pendaratan pasukan Sekutu. Tujuan kedatangan agen OSS ialah untuk menggali informasi kebijakan-kebijakan pemerintah Indonesia. Namun, mereka pernah tak didengar oleh pemerintah Amerika Serikat karena pengaruh Belanda. Belanda menyebut para pemimpin Indonesia adalah komunis sehingga membuat Amerika mendukung Belanda kembali menduduki Indonesia. Padahal, menurut agen OSS sendiri, pemimpin-pemimpin Indonesia saat itu adalah para nasionalis. Amerika Serikat baru sadar bahwa pemerintah Indonesia saat itu bukan komunis setelah pecah Peristiwa Madiun. Agen CIA pertama, Arthur Champbell, kemudian dikirim ke Indonesia. Champbell kemudian memfasilitasi hubungan Amerika Serikat dengan Indonesia terutama dalam urusan militer. Intervensi CIA di Indonesia terus berlanjut setelah itu. Pada Pemilu 1955, mereka membantu partai-partai Islam, rival Partai Komunis Indonesia (PKI). Operasi-operasi menjatuhkan Sukarno juga dijalankan. Yang paling menghebohkan adalah propaganda film porno Sukarno. “Sampai 1965, CIA terus melakukan operasi bagaimana caranya untuk menggulingkan pemerintahan Sukarno yang dianggapnya cenderung ke kiri,” kata Hendri. Salah satu peristiwa yang secara gamblang memperlihatkan intervensi CIA di Indonesia ialah pemberontakan PRRI dan Permesta. Agen-agen CIA berkeliaran di Sumatra dan memasok senjata dengan operasi yang dinamakan Operasi HAIK. Namun, operasi yang medukung perlawanan terhadap pemerintah pusat ini gagal. Semenjak agen Allen Pope ditangkap, Operasi HAIK dibubarkan. Namun, menurut Baskara, satu hal penting di sini adalah bahwa AS kemudian menyadari bahwa Angkatan Darat ternyata anti-komunis. Dan sejak itu, sekira 2500 perwira AD disekolahkan di Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat. Di Kansas, para perwira itu bertemu dengan perwira sejenis dari Brazil, Chile, hingga Argentina yang juga sama-sama disekolahkan. Mereka, kata Baskara, kelak menjadi bagian dari operasi CIA di negeri masing-masing. “Kalau misalnya ada kemiripan (penggulingan pemerintahan) antara Brazil, Indonesia, dengan Chile dengan Argentina, Bolivia, mungkin di situ titik temunya. Dan saya kira ini penting untuk digarisbawahi dan penting juga untuk diteliti menurut saya,” sebut Baskara. Baskara menegaskan bahwa penggulingan Persiden Brazil Joao Gullard pada 1964 menginspirasi CIA menggulingkan Sukarno pada 1965. Dalam konteks Brazil dan Indonesia, kedua negara sama-sama tengah menjalankan landreform . “Itu ancaman bagi Amerika. Maka dilakukan upaya untuk membantu menyingkirkan kelompok kiri. Presidennya yang kiri untuk diganti dengan sistem pemerintahan yang kanan dan pro-Barat dalam sistem ekonomi yang pro-modal asing,” ungkap Baskara. Peristiwa kelam 1965 yang berujung jatuhnya Sukarno kemudian menginspirasi penggulingan Salvador Allende di Chile pada 1973. Operasi ini bahkan dinamai Jakarta Method. Jurnalis Vincent Bevins meneliti dan menuliskannya dalam buku The Jakarta Method  (2020). Keberhasilan operasi di Chile berlanjut dengan Operation Condor. Burung kondor dipakai karena merupakan simbol Chile. Operasi ini merupakan operasi menyingkirkan aktivis-aktivis kiri di seluruh Amerika Tengah dan Amerika Selatan.*

  • Koneksi India Ahmad Subardjo

    AWAL tahun 1927, kongres antikolonial berlangsung di Burssel, Belgia. Sebanyak 21 negara dari 5 benua mengirimkan utusannya, baik resmi atau pun sekadar mengirimkan aktivis perkumpulan yang aktif menentang imperialisme. Utusan dari Indonesia juga turut hadir, dengan Bung Hatta sebagai ketua rombongan. Bersama empat orang lainnya, Bung Hatta duduk sebagai perwakilan Perhimpunan Indonesia. Kongres yang berlangsung dari tanggal 10-15 Februari 1927 di Istana Egmont tersebut membahas masalah-masalah kolonial dari berbagai sisi. Para utusan juga mengemukakan kondisi di negaranya masing-masing, dan dampak yang ditimbulkan kolonialisme terhadap kehidupan masyarakat di tanah airnya. Di akhir rapat, kongres membentuk “League against Imperialism and for National Independence” dengan sekretariat tetap di Berlin, Jerman. “Karena saya menaruh perhatian mengenai perkembangan dari kongres ini, yang saya anggap sangat penting dalam sejarah dunia, saya mengambil keputusan untuk mengamati kegiatan sekretariat tersebut dari dekat,” kata Ahmad Subardjo dalam Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi. Ahmad Subardjo datang bersama utusan dari Perhimpunan Indonesia. Namun sewaktu rombongan kembali ke Belanda, dia memilih tetap tinggal di Jerman. Di sanalah kemudian Subardjo bertemu seorang tokoh dari India yang selama kongres cukup menonjol bernama Virendranath Chattopadhaya (akrab dipanggil Chatto). Chatto merupakan keturunan keluarga terkemuka di Bengal, India. Dia telah menetap cukup lama di Jerman sebagai orang buangan setelah usahanya menyelundupkan senjata dari Eropa ke India dalam suatu upaya penggulingan pemerintah Inggris pada waktu Perang Dunia I gagal. Dia dijatuhi hukuman mati. Tetapi entah bagimana caranya Chatto berhasil meloloskan diri dan akhirnya hidup dalam pengasingan di Jerman. Menurut Subardjo, kawan Indianya itu adalah seorang yang pintar, periang, menarik, serta mengesankan. Kegemarannya pun cukup unik: membaca dan menyanyikan sajak Hindu. Chatto bekerja di kantor Sekretariat Kongres Liga. Dia bertugas mengerjakan hasil-hasil konferensi dan menerbitkannya. “Kami menjadi kawan baik. Inilah sebabnya kenapa saya suka pergi ke Berlin karena mempunyai Chatto sebagai penduduk lama dari kota tersebut dan penunjuk jalan yang berpengalaman dan pemimpin,” ucapnya. Chatto memberi banyak pelajaran tentang perjuangan kepada Subardjo. Pernah satu waktu, Subardjo mendengar kabar tentang penangkapan kawan-kawannya di PI oleh pemerintah Belanda. Tanpa pikir panjang, dia mempersiapkan kepulangan ke Belanda. Menurutnya itu adalah suatu bentuk rasa setia kawan. Namun segera dicegah oleh Chatto. Dia menyebut perasaan seperti itu sangatlah baik, tetapi dalam politik terkadang emosi berlebihan tidaklah baik, hanya akan mencelakakan. Maka Chatto pun menawarkan sebuah solusi. “Mengapa tidak menghadiri konferensi Liga yang sedang kami selenggarakan,” ujar Chatto. “Kamu harus berbicara di sana mengecam tindakan-tindakan penindasan dari pemerintah Belanda.” Subardjo setuju. Dia lalu pergi ke Brussel pada pertengahan 1927. Di depan para peserta Liga, Subardjo memberikan pidato tentang penindasan yang dilakukan Belanda di negerinya. Para hadirin memberi kesan baik terhadap pidatonya itu. Dukungan pun mengalir kepadanya. Bahkan banyak yang mendoakan nasib baik untuk kemerdekaan tanah airnya. Selama di Berlin, Subardjo rupanya memiliki hubungan istimewa dengan koneksi-koneksi India-nya yang lain. Mereka datang langsung dari India dan memutuskan menetap di Berlin akibat kondisi gawat di negerinya. Satu yang cukup dekat dengan Subardjo adalah keponakan Chatto bernama Naidu. Dia tercatat sebagai mahasiswa kedokteran di Universitas Berlin. Naidu juga ternyata putra Ny. Saroniji Naidu, seorang tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan di India. Anggota keluarga lainnya adalah Harindranath Chattopadhaya, adik Chatto. Harin, biasa Subardjo menyapanya, diketahui seorang yang berbakat di bidang kesusastraan. Karya-karya syairnya banyak diterbitkan di India. “Saya suka kepadanya. Dia sangat periang, dan bisa mengambil hati saya, dan sebagai penyair dia bersemangat tinggi. Tetapi ia juga suka kepada segala apa yang baik di dunia, seperti saya, dia juga suka makan enak dan mendengarkan musik populer di café-café atau restoran-restoran di Kurfurstendamm, Jerman,” kata Subardjo.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page