Hasil pencarian
9774 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Duel Preman Medan Zaman Perang Kemerdekaan
Rawan. Kata itu menggambarkan keadaan keamanan di kota Medan pada zaman revolusi. Pemerintah Republik Indonesia (RI) kala itu memang belum mantap. Koordinasi antara pusat dengan daerah masih kacau. Sementara kekuasaan tentara Jepang maupun tentara Sekutu tidak dihiraukan orang lagi. Walhasil gerombolan bandit merajalela di sepenjuru kota. Praktik kriminalitas seperti perampokan dan pencopetan seolah tidak terbendung. Dalam situasi penuh ketidakjelasan itu, tersebutlah nama salah satu pentolan preman Medan bernama Amat Boyan. “Amat Boyan, salah seorang residivis yang amat bengal, ‘king’ daripada para penjahat di kota Medan kala itu,” demikian diungkapkan Biro Sejarah Prima dalam Medan Area Mengisi Proklamasi . Menurut Tengku Luckman Sinar dalam Kronik Mahkota Kesultanan Serdang , Amat Boyan berbasis di Tembung, sebelah tenggara kota Medan. Amat Boyan seperti dituturkan seniman Augustin Sibarani dalam Karikatur dan Politik , termasuk kriminal kelas kakap yang melarikan diri dari penjara. Kejagoan dan sisi brutalnya dipergunjingkan banyak orang. Ulah Amat Boyan yang kerap kali meresahkan mendapat sorotan dari para anggota Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) Medan yang dipimpin oleh Sarwono Sastro Sutardjo. Pada 25 November 1945, Sarwono membentuk badan intelijen dan polisi istimewa bernama Markas Pengawal Pesindo. Mereka yang terlibat dalam badan itu bertujuan menguasai kota Medan dengan jalan menghimpun para bandit lokal. Untuk menundukkan Amat Boyan, ditunjuklah Sibarani, inspektur umum Markas Pengawal Pesindo. Sibarani adalah mantan petinju. Postur tubuhnya besar, tegap, dan kekar. Dia bertugas mengumpulkan semua pencopet, penggarong, dan para residivis lainnya di kota Medan. Hingga suatu ketika, Sibarani harus menguji nyali Amat Boyan, preman yang paling disegani. Sewaktu berhadapan dengan Amat Boyan, Sibarani memberikan dua pilihan. Pilihan pertama, Amat Boyan tunduk kepada Markas Pengawal Pesindo. Pilihan kedua, adu kekuatan dalam duel satu lawan satu tanpa senjata kecuali tangan dan kaki telanjang. Sibarani menjanjikan, kalau Amat Boyan menang, dia boleh keluar menghimpun kekuatan sendiri. Amat Boyan memilih menantang Sibarani untuk baku hantam. Pertarungan antara Amat Boyan dan Sibarani pun terjadi. Duel para abang jago itu berlangsung seru dan lama. Para anggota Markas Pengawal Pesindo menyaksikannya dengan antusias. “Akhirnya, setelah babak belur, Amat Boyan terpaksa mengaku kalah kepada Sibarani dan bersedia menjalankan perintah-perintah Markas Pengawal Pesindo,” tulis Biro Sejarah Prima. Pada 1 Desember 1945, Sarwono membentuk unit pasukan yang berada langsung di bawah pimpinannya sendiri. Barisan bersenjata ini dinamakan “Pasukan Cap Kampak". Dalam Pasukan Cap Kampak, Amat Boyan menjadi salah satu penggeraknya. Mereka menjadi kelompok laskar yang turut mewarnai perang revolusi di kota Medan. Bagaimana sepak terjang Amat Boyan selanjutnya? Nantikan di artikel berikutnya. (Bersambung).
- Angin Muson, Mesin Perkembangan Budaya
Angin muson memungkinkan budaya dan pengetahuan berpindah tempat. Tanpa angin ini pertukaran budaya dan perdagangan maritim di Nusantara sulit terjadi. “Mesin dari perkembangan budaya itu sebetulnya angin muson,” kata Iwan Pranoto, profesor pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB, dalam diskusi daring Jaya Suprana Show, berjudul “Mengintip Matematika Sriwijaya-Nalanda”, Selasa (8/12/2020). Secara geografis, wilayah Asia Tenggara merupakan kawasan strategis. Letaknya di pertemuan dua lautan, Samudra Indonesia dan Pasifik. Wilayahnya berada di tengah rute pelayaran India dan Tiongkok. Faktor ini membuat perannya penting dalam sejarah hubungan perdagangan maritim antara Tiongkok dan India. “Kalau Tiongkok menggunakan narasi jalur sutra, kemudian Indonesia menawarkan jalur rempah, yang fundamental sebenarnya angin muson itu,” lanjut Iwan. Singgih Tri Sulistiyono, sejarawan Universitas Diponegoro,menjelaskan soal angin muson dalam tulisannya, “Peran Masyarakat Nusantara dalam Konstruksi Kawasan Asia Tenggara sebagai Poros Maritim Dunia pada Periode Pramodern” yang terbit di Jurnal Sejarah Citra Lekha , Vol. 5, No. 1, April 2020. Menurut Singgih, angin muson memungkinkan orang-orang yang menghuni wilayah itu mengambil bagian penting dari pelayaran dan perdagangan maritim internasional. Perubahan arah angin muson sangat bisa diprediksi. Perubahan arahnya terjadi secara periodik dalam setiap tahun. Karenanya, perubahan angin muson dijadikan patokan para petani dalam menanam produk pertanian dan perkebunan. Pun oleh para pelaut dalam pelayaran, perdagangan maritim, dankepentingan migrasi. Selama musim kemarau, sekira April sampai Oktober, angin muson bergerak dari timur dan tenggara menuju ke barat. Kecepatan tertinggi terjadi pada Agustus. Di bagian selatan Asia Tenggara atau di tengah kepulauan Indonesia, khususnya di kawasan Laut Jawa, transisi dari musim hujan (muson barat) ke musim kemarau (muson timur) dimulai lebih awal , yaitu pada Maret dan April. Selama pancaroba ini arah angin sering berubah-ubah. Lalu pada Oktober, arah angin mulai berubah hingga November. Pada Desember, angin barat mulai bergerak ke arah yang konstan. Kecepatan tertingginya terjadi pada Januari dan Februari. Dalam pelayaran dan perdagangan maritim pergerakan angin muson sangat menentukan. “Aktivitas pelayaran dan perdagangan secara reguler diuntungkan dari perubahan periodik yang disebabkan oleh angin muson ini,” tulis Singgih. Bertukar Ilmu dan Budaya Lokasi geografis Asia Tenggara yang sangat strategis, tak cuma berkaitan dengan ekonomi, tapi juga politik dan budaya. “Posisi geografis yang strategis ini telah menempatkan Asia Tenggara sebagai pintu masuk vital dalam hubungan kuno pusat ekonomi, politik dan budaya antara India dan Cina,” catat Singgih. Misalnya, jalur perdagangan yang mengikutsertakan Selat Malaka dan Samudera Hindia seringkali dihubungkan dengan kemunculan kekuatan politik Melayu dan Sriwijaya. Sebagaimana pendapat sejarawan Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680, pelayaran yang berdasarkan angin musim inilah yang mengakibatkan lahirnya bandar-bandar perdagangan. Posisi Swarnadwipa (Sumatra) pada era Sriwijaya berjaya, sekira abad ke-7 sampai ke-12, merupakan titik yang strategis dalam pelayaran dunia. Titik temu antarnegara inilah kemudian yang membuat Sumatra menjadi tempat singgah para pelayar dari berbagai negara. Para pelayar yang melakukan perjalanan dengan rute Tiongkok-India biasanya akan singgah di Sumatra. Minimal mereka menghabiskan waktu setengah tahun. Mereka mengikuti musim angin yang berganti enam bulan sekali. Angin ini pula yang membawa I-Tsing atau Yi Jing mampir tiga kali ke wilayah yang dia sebut Laut Selatan. I-Tsing merupakan biksu asal Tiongkok dari masa Dinasti Tang yang melakukan perjalanan ziarah ke India. I-Tsing mendarat pertama kali di Fo-shi (Sriwijaya) pada 672 setelah berlayar 20 hari dari Guangzhou. Kedua kalinya dia ke Melayu yang sudah menjadi bagian dari Sriwijaya , setelah belajar sepuluh tahun (675-685) di Nalanda. Ketiga kalinya, dia kembali ke Sriwijaya dan tinggal selama lima tahun (akhir 689-695) setelah tanpa sengaja terbawa kapal ke Tiongkok pada 689. “I-Tsing itu terdampar berhenti karena badai.Pada 672 tujuan utamanya nggak ke Nalanda, nggak berencana singgah dulu ke Melayu,” jelas Retno Purwanti, peneliti Balai Arkeologi Sumatra Selatan, dalam dialog sejarah “Jejak Sriwijaya di Bumi Jambi” live di kanal Youtube dan FacebookHistoria.id . Demikian halnya dengan kedatangan Atisha Dipankara Sri Jnana ke Swarnadwipa pada 1012-1024. Dia merupakan guru Buddha dari Kekaisaran Pala yang melakukan perjalanan ke Swarnadwipa dengan menumpang kapal pedagang. Tujuan Atisha adalah menerima ajaran langsung dari Sherlingpa Darmakirti, guru Buddhis dari Swarnadwipa yang tersohor pada masa itu. Melihat masanya, kata Junus Satrio Atmodjo, arkeolog yang kini menjadi bagian dari Tim Ahli Cagar Budaya Nasional (TACB), abad ke-11 adalah era ketika perdagangan maritim Nusantara, khususnya Sumatra, begitu ramai. “Kalau lihat banyaknya temuan keramik Tiongkok, dari Dinasti Sung, perdagangan saat itu lagi seru-serunya,” kata Junus. Karenanya dengan kembali mengutip Iwan Pranoto, embusan angin muson membuat hubungan antarkawasan menjadi cukup mudah. Khususnya dalam hal pertukaran barang, ilmu, dan budaya.
- Pesona Wonder Woman dalam Empat Wajah
SECANTIK Aphrodite, sebijak Athena, segesit Hermes, dan sekuat Hercules. Begitulah William Moulton Marston menciptakan karakter perempuan dahsyat Wonder Woman. Lama tak beraksi di versi live action , superhero ber-alter ego Diana Princes yang muncul sejak 1941 itu comeback di bawah naungan waralaba DC Extended Universe (DCEU) dalam Wonder Woman 1984. Jagat maya sontak heboh selepas pihak distributor Warner Bros merilis trailer terbarunya, Senin (7/12/2020). Wonder Woman 1984 yang tertunda penayangannya akibat pandemi COVID-19, baru akan tayang di bioskop-bioskop terbatas di Inggris mulai 16 Desember 2020 dan 25 Desember 2020 di Amerika Serikat. Pemutaran secara global akan dilakukan via streaming di HBO Max, juga pada 25 Desember 2020. Aktris cantik Gal Gadot untuk ketiga kalinya memerankan Diana Princes alias Wonder Woman. Gal nongol pertama kali dalam Batman v Superman: Dawn of Justice (2016), dilanjutkan di Wonder Woman (2017) dan Justice League (2017). “Di film pertama ( Wonder Woman , 2017) menjadi awal kelahiran Wonder Woman dan untuk pertama kali dia mengenali kekuatannya sendiri. Dari sosok Diana, dia menjadi Wonder Woman. Di film pertama dia melihat kemanusiaan dari sisi luar dan vokal saat melihat kejahatan, dan menegaskan tentang bagaimana cara melawannya,” ujar Gal kepada The Beat , Sabtu (5/12/2020). Bedanya, dalam Wonder Woman 1984 karakter Diana Prince mulai memahami kerumitan kehidupan manusia di beragam aspek yang ia selami. Diana Prince berbagi penderitaan dan guncangan kehidupan hingga merasakan yang namanya kesepian, sebagaimana manusia biasa lain. Peran pertama sebagai Wonder Woman (2016) terjadi dalam versi live action setelah hampir empat dekade karakter itu menghilang. Dari sekian aktris yang di- casting Zack Snyder, sutradara Batman v Superman , Gal jadi pilihan utama setelah menyisihkan sejumlah nama seperti Élodie Yung dan Olga Kurylenko. “Seperti yang dibayangkan publik, kami sudah mencoba sekumpulan aktris. Namun yang saya lihat dari Gal adalah, dia kuat, cantik dan sosok yang ramah, di mana hal itu menjadi menarik karena di saat yang sama dia juga sosok yang garang. Kombinasi antara garang dan ramah itulah yang kami cari,” papar Snyder dalam wawancaranya dengan FilmInk , 5 Januari 2016. Gal Gadot sebagai Diana Prince/Wonder Woman (tengah) dalam Batman v Superman. ( warnerbros.com ). Sebagaimana Ban Affleck yang banyak diprotes fans DC Comics, pemilihan Gal sebagai Wonder Woman pun awalnya setali tiga uang. Namun seiring produksi selesai dan Batman v Superman dirilis, kritik-kritik dan protes itu berbalik jadi pujian. Termasuk dari sineas Patty Jenkins yang menggarap Wonder Woman (2017). Wonder Woman sendiri merupakan proyek yang mangkrak sejak 1996. Setelah silih berganti dipegang sineas mulai dari Ivan Reitman, Jon Cohen, hingga Joss Wheldon, akhirnya rumah produksi Warner Bros menjatuhkan pilihan pada Jenkins dan masuk produksi pada 2015. Pun dengan para aktris yang akan memerankannya. Sejak 1996, bermunculan nama-nama kondang mulai dari Sandra Bullock, Mariah Carey, Catherine Zeta-Jones, Lucy Lawless, Kate Beckinsale, Angelina Jolie, Jessica Biel, Élodie Yung, Olga Kurylenko. Akhirnya pilihan jatuh kepada Gal. Aktris kelahiran Petah Tikva, Israel, 30 April 1985 itu tergolong junior di Hollywood. Debutnya baru dijalaninya pada 2009. Kepopuleran Gal melonjak setelah membintangi empat film waralaba Fast & Furious: Fast & Furious (2009), Fast Five (2011), Fast & Furious 6 (2013), dan Furious 7 (2015). “Mereka mencari hal yang sama seperti yang saya inginkan – semua nilai-nilai yang dimiliki Wonder Woman. Dia (Gal) berbagi setiap kualitas yang dipunyai Wonder Woman. Hal seperti itu jarang ditemukan. Dalam casting biasanya semua akan terkuak apakah orang itu akan sangat otentik dengan karakternya, hingga karakter itu sendiri diidentikkan dengan mereka, seperti Christopher Reeve (pemeran Superman era 1980-an) dan Lynda Carter (pemeran Wonder Woman 1975-1979),” kata Jenkins, sineas yang kembali menyutradarai sekuel Wonder Woman 1984, kepada majalah Playboy , 1 Juni 2017. Lynda Carter Kolase Wonder Woman kala diperankan Lynda Jean Cordova Carter. ( ABC /Instagram @reallyndacarter). Empat dasawarsa sebelumnya, karakter Wonder Woman dipopulerkan Lynda Carter hingga menjadi identik dengannya selama empat tahun. Aktris kelahiran Phoenix, Arizona, Amerika Serikat pada 24 Juni 1951 itu terjun ke dunia hiburan pasca-memenangi kontes kecantikan Miss World USA 1972. Warner Bros berada di balik pengorbitan karakter Wonder Woman yang sebelumnya hanya eksis di media komik-komik terbitan DC Comics. Warner memulainya dengan pilot project bertajuk The New Original Wonder Woman yang penyutradaraannya dipercayakan pada Leonard Horn. Kepopuleran Lynda sebagai ratu kecantikan se-Amerika pada 1972 jadi salah satu faktor utama pemilihannya oleh produser Douglas S. Cramer lewat beberapa kali casting . Proyek pilot itu sukses kala diputar pertama kali oleh stasiun TV ABC pada 7 November 1975 yang berujung pada kelanjutan proyeknya sebagai film seri. Dalam tiga season serial Wonder Woman periode 1975-1979, reputasi Lynda Carter turut melonjak. Terlebih karakternya muncul seiring derasnya arus gerakan feminisme gelombang kedua (1960-an hingga 1980-an), di mana dua isu paling penting yang disuarakan adalah diskriminasi gender dan persamaan hak. Lynda adalah salah satu simpatisannya dari golongan selebriti. “Menurut saya Wonder Woman adalah juara sejatinya kaum feminis. Saya pikir dia memberi citra diri yang lebih baik bagi para perempuan,” tutur Lynda dikutip Carney Maley dalam artikelnya, “Bonding in the Air” yang dihimpun dalam Bound by Love: Familial Bonding in Film and Television since 1950. Namun, kepopuleran film seri Wonder Woman tak hanya mengidentikkan Lynda dengan perempuan super itu tapi juga membuatnya perlahan dijadikan simbol seks oleh kaum Adam. Penyebabnya ada pada kostum vulgar Wonder Woman yang dipakai Lynda. Kostumnya berupa korset merah dengan belahan dada terbuka dan underpant ketat bercorak bintang-bintang. Kostum itu dibuat hampir sama dengan yang ada dalam komik. Kostum Wonder Woman dalam komik sejatinya berubah-ubah dari masa ke masa. Di era “Golden Era” 1940-an, wujud kostum berupa korset dan rok selutut. Pada masa “Bronze Age” di awal 1970-an, kostum bertransformasi menjadi korset dan celana ketat, seperti yang digambarkan Lynda Carter dalam film serinya. Adapun di masa modern di bawah DCEU, sejak era “The New 52” (2011), kostum yang dipakai Gal Gadot seperti gladiator, berupa korset pelindung dada dan rok mini. “Saya tak pernah bermaksud menjadi objek seks siapapun kecuali suami saya. Saya tak pernah berpikir sebuah poster tubuh saya terpajang di toilet pria. Saya benci pria memandangi saya dan memikirkan apa yang mereka pikirkan. Dan saya tahu apa yang mereka pikirkan tentang saya,” tutur Lynda dikutip Herbie J. Pilato dalam Glamour, Gidgets, and the Girl Next Door: Television’s Iconic Women from the 50s, 60’s, and 70’s. Cathy Lee Crosby Cathy Lee Crosby memainkan karakter Wonder Woman dengan kostum berbeda. (IMDb). Walau Lynda Carter paling diidentikkan dengan Wonder Woman, toh dia bukan yang pertama. Figur pertama yang memerankan Wonder Woman di versi live action tak adalah Cathy Lee Crosby. Aktris kelahiran Los Angeles, 2 Desember 1944 itu merupakan atlet tenis profesional pada 1960-an. Dia gantung raket setelah terjun ke dunia hiburan lewat drama seri It Takes a Thief (1968). Cathy dipilih Douglas S. Cramer, salah satu bos Warner Bros, memerankan Wonder Woman sebagai film percontohan Wonder Woman (1974). Pemilihan tersebut ditentang penulis skenario Stanley Ross hingga akhirnya memutuskan keluar dan posisinya digantikan John D.F. Black. “Cathy Lee Crosby adalah (pilihan) keliru! Wonder Woman rambutnya gelap. Cathy perempuan baik. Tetapi dia orang yang salah untuk peran itu. Saya takkan mau melakukannya,” kata Ross dikutip Mark Phillips dan Frank Garcia dalam Science Fiction Television Series: Episode Guides, Histories, and Casts. Sebagai Wonder Woman, Cathy tampil dengan deskripsi berbeda dari komik. Selain rambutnya pirang, kostumnya pun serba tertutup. Maka saat dirilis lewat pemutaran perdananya di stasiun TV ABC , 12 Maret 1974, Wonder Woman berdurasi 75 menit itu rating -nya tak meledak. Padahal, akting Cathy terbilang menawan. Terutama pada adegan-adegan action , di mana Cathy juga belajar beladiri untuk peran itu. “Itu kisah fantasi. Jika Anda ingin melihat sesuatu yang mencerminkan kehidupan nyata, Anda salah. Karena semua orang pun tahu itu hanya fantasi. Namun ini adalah waktunya di mana perempuan harus berada di atas pria. Saya juga tak melihat diri saya sebagai simbol seks potensial. Akan sangat konyol berpikir bahwa saya hanya mengandalkan wajah cantik namun tak bisa berakting,” kata Cathy kepada Suratkabar The Ledger , 17 Maret 1974. Dalam wawancaranya dengan Inside Edition , 1 April 2016, Cathy minim berkomentar soal perbandingan kostumnya dengan yang dipakai Lynda maupun Gal. “Oh…kostum saya lebih ‘menarik’ dan ‘berwarna’” katanya merujuk cuplikan Wonder Woman dalam seri yang dimainkan Lynda dan Gal dalam Batman v Superman . “Tapi adalah hal yang besar bahwa saya adalah (pemeran Wonder Woman) yang pertama,” tandasnya. Ellie Wood Walker Ellie Wood Walker tercatat jadi aktris pertama yang memerankan Wonder Woman pada 1967. ( Hero-A-Go-Go ). Cathy boleh saja mengklaim sebagai pemeran Wonder Woman pertama. Namun, dia pemeran Wonder Woman pertama yang naik tayang. Sejatinya, aktris pertama pemeran Wonder Woman adalah Ellie Wood Walker. Menukil Michael Eury dalam Hero-A-Go-Go: Campy Comic Books, Crimefighters & Culture of the Swinging Sixties , Ellie dilibatkan produser William Dozier, bos rumah produksi Greenway Productions, dalam film percontohan Who’s Afraid of Diana Prince? (1967). Film parodi berdurasi lima menit itu disutradarai Leslie H. Martinson. Dozier ingin mengangkat karakter DC Comic lain ke versi live action terinspirasi dari kesuksesan film seri Batman (1966-1968). Namun, setelah pilot project itu rampung, filmnya justru ditolak pihak distributor 20th Century Fox sehingga gagal ditayangkan di manapun. Alasan penolakannya antara lain, pihak distributor tak tertarik dengan sosok Ellie. Pun dengan jalan cerita yang tak identik dengan edisi komik manapun. “Kegagalannya terletak pada pundak produsernya. Dozier seperti tak punya pemahaman yang jelas tentang nilai-nilai yang diperjuangkan karakternya,” tandas Eury.
- Kado Pahit Ulang Tahun Jenderal Moersjid
Siti Rachma Moersjid akan menyiapkan jamuan besar. Dua hari lagi sang suami, Mayor Jenderal Moersjid merayakan ulang tahun ke-44. Tapi bak petir di siang bolong, hari itu mendadak berubah menjadi malapetaka. “Pada pagi hari 8 Desember 1969, ayah diminta menghadap Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) dan disitulah surat penahanan diberikan oleh KASAD, Pak Umar Wirahadikusuma,” tutur Siddharta Moersjid kepada Historia.id . Pada waktu itu, Moersjid baru saja mengakhiri masa dinasnya sebagai duta besar RI untuk Filipina. Setelah kembali ke Jakarta bulan Oktober, Moersjid dikembalikan ke Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) tanpa jabatan. Kabar yang beredar, Moersjid terlibat konflik dengan Marshall Green, asisten menteri luar negeri Amerika Serikat urusan Timur Jauh. Insiden itu hampir berujung baku hantam sehingga Moersjid dipanggil pulang ke Indonesia. MBAD bukan tempat yang asing bagi Moersjid. Pada 1962, dia pernah menjadi orang nomor dua di sana ketika menjabat Deputi 1/Operasi Menteri Panglima Angkatan Darat. Waktu itu, pucuk pimpinan Angkatan Darat masih diemban Letnan Jenderal Ahmad Yani. Sepulangnya Moersjid dari Filipina, semuaya berubah. Rezim telah berganti dari Presiden Sukarno ke Jenderal Soeharto. Pimpinan Angkatan Darat kini dijabat oleh Umar Wirahadikusumah. Pemanggilan Moersjid juga berkaitan dengan upaya pihak militer menjadikannya saksi sehubungan dengan rencana untuk mengadili Sukarno. Bagi sebagian kalangan, Moersjid disebut-sebut sebagai salah satu jenderal yang pro-Sukarno. Jenderal Abdul Haris Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 6: Masa Kebangkitan Orde Baru menyebutkan bahwa Moersjid adalah seorang perwira tinggi pengaggum Bung Karno. Dan sebaliknya, kata Nasution, Sukarno begitu mempercayai Moersjid. Entah intrik politik apa yang terjadi di belakang layar, tiada seorang pun yang mengetahui. Seperti diungkapkan sesepuh TNI AD Letjen (Purn.) Sayidiman Suryohadiprodjo kepada Historia.id , “rupanya ada orang-orang di sekitar Presiden Soeharto yang menganggap Pak Moersjid seorang Sukarnois.” Sayidiman sendiri tidak tahu persis siapa “pembisik” tersebut. Kendati demikian, kejadian yang menimpa Moersjid pada 8 Desember 1969 masih terekam jelas dalam memori putranya, Siddharta. Saat itu, Siddharta baru saja pulang sekolah. Setiba di rumah, Moersjid sang ayah bergegas keluar rumah, menenteng koper dan mengenakan pakaian harian tentara. “Sida, Papa pergi dulu, jagain mama di rumah,” demikian pesan pamit dari Moersjid. Sementara itu, ibunda Siti Rachma terpaku mengiringi kepergian sang suami. Air mata-nya meleleh di pipi. “Saya selalu ingat, karena tanggal 10 Desember adalah ulang tahun Ayah. Dan saat Ayah saya kembali ke rumah untuk ambil pakaian dan pamit sama Ibu, saat itu Ibu sedang mempersiapkan masakan untuk tanggal 10,” kenang Siddharta. Hari itu jadi momen duka bagi Moersjid sekeluarga. Rencana selamatan ulang tahun dua hari lagi pupus seketika lantaran Moersjid berangkat ke Rumah Tahanan Militer (RTM) Budi Utomo. Selama empat tahun Moersjid mendekam dalam tahanan tanpa melalui proses pengadilan. Peristiwa itu begitu mengecewakan hati sang istri sehingga dia memusnahkan semua atribut militer milik Moersjid lengkap dengan lencana dan tanda jasa. Sampai saat ini, mengapa Moersjid dijerumuskan ke dalam penjara rezim Orde Baru tetap menjadi tanya yang belum terjawab bagi keluarganya. Apalagi siapa yang terlibat di dalamnya pun masih seperti kabut gelap. Ketika Moersjid ditahan, tidak banyak informasi yang diperoleh oleh keluarganya. Moersjid sendiri hingga akhir hayatnya masih dikejar pertanyaan, “Siapa yang telah memfitnah diriku?” seperti dicatat wartawan senior Julius Pour dalam obituari Moersjid di Kompas , 25 Agustus 2008. Secercah terang barangkali dapat terkuak bilamana surat pemanggilan Moersjid ke Indonesia ditemukan. Surat tersebut berasal dari Kementerian Luar Negeri yang waktu itu dijabat oleh Adam Malik. “Banyak sekali yang saya tidak dapatkan,” kata Siddharta. “Yang sampai sekarang ingin saya ketahui adalah surat Pak Adam Malik saat memanggil pulang Ayah.” Keluarga besar masih berharap, suatu saat keadilan sejarah bagi mendiang Moersjid akan tersingkap. Dengan demikian, periode paling kusut dalam sejarah politik Indonesia ini perlahan-lahan kian benderang.
- Mental Korupsi Pejabat Pribumi
Salah seorang menteri dalam Kabinet Indonesia Maju lagi-lagi tersandung kasus korupsi. Setelah sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, kali ini penyalahgunaan kekuasaan dilakukan Menteri Sosial Juliar Peter Batubara. Ia bersama empat lainnya ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi atas penyelewangan dana bantuan sosial penanganan Covid-19. Dugaan tindak korupsi itu terbongkar lewat Operasi Tangkap Tangan KPK pada Minggu (06/12/2020). Dilansir CNN Indonesia , para penyidik KPK berhasil mengamankan uang tunai sekitar 14,5 miliar rupiah dalam berbagai bentuk pecahan uang. Diketahui Juliar meminta jatah 10 ribu dari setiap paket bantuan senilai 300 ribu. “Itu uang rakyat, apalagi ini terkait dengan bansos, bantuas sosial dalam rangka penanganan covid dan pemulihan ekonomi nasional. Bansos itu sangat dibutuhkan untuk rakyat,” ujar Presiden Joko Widodo seperti dikutip laman resmi Sekertaris Negara RI. “Saya tidak akan melindungi yang terlibat korupsi dan kita semua percaya KPK bekerja secara transparan, secara terbuka, bekerja secara baik, profesional,” lanjutnya. Masyarakat pun ramai mengecam tindakan menteri sosial itu. Di media sosial Twitter , banyak masyarakat yang mengungkapkan kekecewaan terhadap penyelewengan dana bantuas sosial tersebut. Tindakan Juliari dan sejumlah pejabat di Kemensos begitu melukai kepercayaan rakyat. Terutama di tengah situasi bencana saat ini. Dalam sejarah, praktik memperkaya diri pernah menjadi bagian dari masyarakat tradisional Indonesia. Tindakan tersebut kerap dilakukan oleh pejabat tinggi dan bangsawan pribumi abad ke-17 sampai abad ke-19. Mereka menggelapkan dana pembangunan wilayah, hasil penggarapan tanah serta pajak yang disetorkan kepada pemerintah Belanda. Bahkan praktek tersebut dilakukan pula oleh pemilik lahan kepada para pekerjanya. Menurut Erlina Wiyanarti dalam Korupsi Pada Masa VOC dalam Multiperspektif , mental korup erat kaitannya dengan mental loyal terhadap keluarga, desa, atau kelompok berdasarkan agama, bahasa, etnik, dan kasta, baik di level lokal maupun nasional. Hal itu terlihat pada masyarakat Jawa abad ke-17 sampai ke-18 yang menganggap nilai-nilai solidaritas utama dilakukan pada sanak saudara dahulu, baru kemudian lingkungan masyarakat. Di dalam kehidupan bangsawan kala itu, kata Erlina, banyak orang menggantungkan hidup kepadanya. Tidak hanya sanak saudara terdekat, tetapi para abdi dan pelayan juga ada dalam tanggungan para bangsawan tersebut. Maka tidak heran, meski para bangsawan berusaha hidup sederhana, kebutuhan sehari-hari tetap banyak. Itulah yang membuat mereka terkadang harus berhutang kepada pejabat Belanda atau menggelapkan harta demi menyambung hidup. “Tradisi loyal terhadap family dalam budaya masyarakat Jawa merupakah salah satu etika kebangsawanan,” ungkap Erlina. “Kewajiban dia sebagai pegawai publik kepada kantornya adalah kewajiban kedua dari kewajiban mereka kepada keluarga dan komunitasnya. Loyalitas model tersebut jelas telah menjadi salah satu akar dari tumbuhnya bahkan menguatnya mental dan perilaku korup.” Ironinya, ada juga bangsawan dan priyayi yang melakukan korupsi karena kebiasaan mengikuti gaya hidup seorang raja. Sebagai pemilik kursi tertinggi birokrasi tradisional, kedudukan raja jelas lebih tinggi dari bangsawan. Mereka memiliki hak atas segala kemewahan yang ada di atas tanah kuasanya. Sedangkan seorang bangsawan memiliki derajat kemewahan yang terbatas. Meski begitu tidak sedikit dari mereka yang berusaha menghadirkan gaya hidup istana ke tempatnya. Sehingga memunculkan hasrat untuk terus mendulang harta yang terkadang tidak didapat dari jalan biasa. Dijelaskan Marwati Djoened Pusponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia Jilid III: Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesia , lahan untuk para perjabat dan bangsawan berbuat culas begitu lebar. Mereka biasanya dipercaya oleh penguasa daerah untuk mengurusi pengelolaan lahan, upeti, hingga pemungutan pajak. Dengan tidak adanya pengawasan yang jelas, para pejabat bebas melakukan penyelewengan di dalam tugasnya tersebut. Seperti terjadi di wilayah Priangan antara abad ke-17 hingga abad ke-18, yang bupatinya banyak berprilaku korup. Erlina menyebut jika para bupati kala itu melakukan tindakan-tindakan yang menguntungkan diri sendiri dan memeras rakyatnya. Mereka seringkali membayar sangat rendah usaha para petani kopi, sementara mereka memperoleh harga tinggi dari para pejabat VOC. Harga perpikul kopi pun terkadang dinaikkan oleh para pejabat korup tersebut. “Para bupati itu –karena terikat oleh adat istiadat untuk menyokong sebagian besar sanak saudara dan sejumlah besar pengikut mereka dengan penghasilan yang bertambah itu, yang sering kali menyebabkan mereka menghabiskan lebih banyak uang daripada yang bisa mereka peroleh– segera jatuh dalam utang berat yang harus mereka bayar dengan bunga satu persen sebulan,” kata Bernard H.M. Vlekke dalam Nusantara: Sejarah Indonesia . Keserakahan akan harta dan miskinnya integritas para pejabat, imbuh Erlina, merupakan mental yang menyuburkan korupsi. Namun dari perspektif budaya, yang dalam hal ini budaya Jawa di masa lalu, ia juga mencatat bahwa tindakan korupsi akibat gaya hidup hedonis tidak bisa disamakan dengan pengertian korupsi modern yang rasional. Ketika kekuasaan bertumpu pada pola birokrasi patrimonial, penyelewengan harta akan dianggap sebagai hal yang lazim dilakukan para pemilik kekuasaan. “Masyarakat Jawa yang feodal menganggap segala tindakan yang kini dianggap merupakan tindakan korupsi adalah sesuatu yang wajar, artinya selama masyarakat berpandangan seperti itu maka hal demikian tidaklah dilihat sebagai sesuatu yang salah,” kata Erlina.
- Gerakan Anti-Gundul Pelajar Masa Jepang
Matahari bersinar terik pagi itu. Wajah murid-murid Sekolah Menengah Tinggi (SMT) Jakarta penuh peluh. Mereka masih senam pagi atau taiso bersama seorang guru di lapangan. Mereka kelihatan senang meski lelah. Ini kebiasaan baru murid sekolah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia. Tujuannya agar murid lebih disiplin dan fisiknya kuat. Seorang pengawas sekolah ( minami san ) lalu memanggil guru di lapangan. Dia menyampaikan SMT Jakarta akan memberlakukan aturan kepala gundul untuk guru dan murid-murid lelaki. Guru meneruskan informasi itu ke para murid. Karuan wajah murid-murid lelaki berubah muram. Aturan menggunduli rambut berlaku umum di tiap jenjang pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah bala tentara Dai Nippon. Dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. “Kita harus gundul seperti keadaan mereka,” kata Daan Jahja, mantan murid sekolah umum, yang kelak menjadi Panglima Divisi Siliwangi dalam Di bawah Pendudukan Jepang: Kenangan Empat Puluh Dua Orang yang mengalaminya . Tapi sekolah swasta seperti pesantren tak wajib mengikutinya. “Di sekolah agama kami belajar waktu itu, Balige, kami diberi kebebasan berpakaian seperti pakaian pemuda sekarang, celana panjang, baju putih, rambut tidak usah gundul, dan berpeci, tidak diharuskan memakai pakaian sebagaimana chugako yang harus memakai pakaian Jepang,” sebut Darwis Abdullah, mantan murid sekolah swasta di Balige, Sumatra Utara. Menurut orang Jepang, kepala gundul bagi murid laki-laki mencerminkan kedisiplinan, kerapian, dan kekuatan ala prajurit militer. “Hal demikian sudah menjadi tradisi di Jepang kali itu,” kata Eddy Djoemardi Djoekardi dalam Jembatan Antar Generasi: Pengalaman Murid SMT Djakarta 1942–1945. Kebijakan menggunduli kepala itu juga tak lepas dari orientasi pendidikan mereka di Indonesia. “Tujuan pendidikan pada zaman Jepang di Indonesia adalah menyediakan tenaga-tenaga buruh kasar secara cuma-cuma ( Romusha ) dan prajurit untuk membantu peperangan bagi kepentingan Jepang,” catat Setijadi dalam Pendidikan di Indonesia 1900–1974. Jepang semula menerapkan penggundulan kepala kepada murid-murid sekolah dasar, lalu menengah, dan mahasiswa perguruan tinggi. Sebermula murid-murid lelaki menerima saja kebijakan ini. Lagipula kalau tak mau gundul, mereka tak boleh masuk ke sekolah. Belakangan pengawas sekolah Jepang dan orang-orang Jepang seringkali bertindak memaksa dan main kasar. Pukulan kerap melayang kepada guru-guru dan murid yang dianggap bersalah. Tak peduli laki-laki atau perempuan. Operasi penggundulan kepala itu sampai melibatkan tentara seperti menimpa mahasiswa Ika Daigaku (Sekolah Tinggi Kedokteran). “Pihak Jepang membawa sejumlah serdadu lengkap dengan senjata yang siap tembak. Tentu di antara mahasiswa ada yang mau dan ada yang tidak mau. Yang kontra mulai mangkir-mangkir ke kuliah dan bergabung dengan kelompok gerakan bawah tanah,” lanjut Eddy. Dari sini muncul penolakan terhadap penggundulan kepala ini secara luas. Antara lain dari murid-murid SMT Jakarta. Ada murid pelopornya, tapi dirahasiakan. “Karena di antara siswa SMT ada juga kaki tangan Jepang,” tambah Eddy. Dukungan anti-gundul muncul pula dari guru-guru bangsa Indonesia. Mereka mencoba memberi pengertian kepada pengawas sekolah Jepang bahwa rambut itu sakral bagi sebagian besar orang Indonesia. “Sehingga disentuh saja tidak boleh,” terang Eddy. Tapi pengawas Jepang justru tambah berang mendengar penjelasan itu. Dia menganggap alasan itu hanya dibuat-buat. Senyampang itu, dia menarik dan menjambak rambut guru tersebut ke belakang. Bruk. Guru itu jatuh ke lantai. Pengawas itu lalu berteriak pada murid lelaki. Murid perempuan juga kena hardik. Dia menganggap murid perempuan ikut mendukung gerakan anti-gundul di SMT. “Kami anak-anak perempuan ikut mendukung dan mogok belajar,” ungkap Indraningsih Wibowo kepada Eddy dalam Jembatan Antar Generasi. Akibatnya mereka semua kena hukuman. Karena gerakan anti-gundul ini, situasi SMT Jakarta sempat tegang. Sebagian kecil murid lelaki memilih jalan tengah dengan mencukur pendek rambutnya. Tapi tak sampai gundul. Sebagian besar mereka tetap berambut seperti biasa. Mereka berjaga di pintu masuk sekolah untuk melarang masuk murid-murid gundul. Sekolah akhirnya meliburkan aktivitas belajar-mengajar selama beberapa hari. Para murid, guru, dan orangtua sempat cemas dengan keputusan libur itu. Mereka mengira pengawas sekolah melaporkan urusan ini ke Kempeitai atau polisi rahasia Jepang yang terkenal suka menyiksa. Kecemasan mereka kian besar setelah mendengar Abdul Fatah, salah satu murid anti-gundul di Jakarta, dibawa ke rumah seorang penilik sekolah ( Shidokan ) selama sebulan. “Secara berganti-ganti diinterogasi oleh orang-orang Kempeitai ,” terang Eddy. Tapi kekhawatiran mereka sirna. Tak ada laporan ke Kempeitai . Pengawas sekolah mengalah dengan membiarkan murid-murid lelaki berambut seperti sediakala. “Kemenangan ada di pihak SMT Djakarta,” kenang Eddy. Pendudukan Jepang di Indonesia berakhir pada 1945. Aturan sekolah pun berubah. Tak ada keharusan gundul pada masa revolusi. Malah rambut gondrong dipandang sebagai simbol perjuangan. Sebab para murid ikut berjuang ke palagan. Tak ada waktu untuk mengurusi rambut. Semakin gondrong, semakin berjuang.
- Henriëtte Sang Induk Ayam Belanda yang Tua
Pada awal 1927, ketika Partai Nasional Indonesia (PNI) hendak lahir, Sukarno mendapat kiriman buku dari kawannya Samuel Koperberg. Meski baru membuka-buka halamannya, Sukarno sudah terkesan dengan buku De held en de schare (Pahlawan dan Kawanan) karya Henriëtte Roland Holst itu. “Dan sekarang saya punya kesan bahwa ini buku yang bagus, ditulis oleh seseorang penuh semangat revolusioner seperti H. Roland Holst. Gairah ini sudah menyenangkan si pembaca; komunis atau sosialis, revolusioner atau konservatif. Iya kan?/bukan begitu?” tulis Sukarno dalam suratnya kepada Koperberg, 28 April 1927. Sukarno kelak membaca buku-buku lain Henriëtte seperti Kapitaal En Arbeid In Nederland yang kini koleksinya tersimpan di Museum Kepresidenan Balai Kirti. Nama Henriëtte kemudian juga kerap disebut Sukarno seperti dalam Indonesia Menggugat dan Sarinah . Sementara, para tokoh Perhimpunan Indonesia (PI) seperti Mohammad Hatta dan Ali Sastroamijoyo juga punya ikatan sendiri dengan Henriëtte. Politikus Militan Henriëtte Roland Holst lahir pada 24 Desember 1869 di Noordwijk, Belanda dengan nama Henriëtte Goverdina Anna van der Schalk. Ia adalah seorang sosialis militan sekaligus penyair dan penulis terkemuka pada paruh pertama abad ke-20. Pemikiran Henriëtte banyak dipengaruhi oleh Karl Marx melalui Das Kapital . Pada 1897 ia bergabung dengan Sociaal Democratische Arbeiders Partij (Partai Buruh Sosial Demokrat Belanda). Henriete menjadi salah satu propagandis utama partai. Tak hanya aktif di Belanda, Henriëtte juga malang melintang di kancah politik internasional. Ia bersahabat dengan Rosa Luxemburg dan Leo Trotsky, dua revolusioner yang kemudian dia tulis biografinya. Henriëtte menerbitkan karya monumentalnya Kapitaal en Arbeid In Nederland (Capital and Labour) pada 1902. Meski sempat menarik diri dari politik sejak 1912, ia kembali aktif karena menentang Perang Dunia I. Henriëtte juga ambil bagian dalam Konferensi Zimmerwald di Swiss pada 1915, tempat pertemuan sosialis internasional pertama digelar untuk menyerukan perdamaian dunia. Pada 1918, Henriëtte bergabung dengan Partai Komunis Belanda. Ia mengunjungi Russia pada 1921 dan menghadiri kongres Komunis Internasional. Namun, sejak itu ia justru mencatat kekecewaan terhadap situasi di Russia. “Sejak tahun 1918 dia memainkan peran utama dalam gerakan komunis Belanda, tetapi pada tahun 1927 dia keluar dari partai tersebut untuk mendukung sosialisme yang berwarna religius,” tulis Jaqueline Bel dalam Women’s Writing from the Low Countries 1880-2010 An Anthology. Dari Belanda, Henriëtte menaruh perhatian pada perjuangan kemerdekaan Indonesia dan dekat dengan para mahasiswa PI. Moh. Hatta adalah salah satu anggota PI yang cukup mengenal perempuan yang kerap disapa Tante Yet itu. Keduanya sering bertemu dalam perdebatan yang membahas kolonialisme di Indonesia. Hubungan mereka masih terjalin ketika Hatta kembali ke Indonesia dan diasingkan ke Banda Neira. Dalam suratnya kepada Johannes Eduard Post, Hatta bahkan meminta bantuan Eduard Post untuk mendapatkan buku Das Kapital jilid II dari Henriëtte. “Apakah ibu Holst bisa membantu dalam hal ini. Dia kenal seluruh karya Marx dan tidak butuh Marx lagi untuk perkerjaan dia. Buat perkerjaan teoretis saya, saya membutuhkannya,” tulis Hatta kepada Eduard Post, 8 September 1939. Ali Sastroamijoyo juga punya kesan sendiri terhadap Henriëtte. Dalam Tonggak-Tonggak di Perjalananku , Ali bercerita sering mendapat buku dari Henriëtte dan sering mendengar pidato-pidatonya dalam berbagai pertemuan di Belanda. “Terkenal sebagai seorang sosialis berhaluan kiri, meskipun sosialismenya berdasarkan keagamaan . Sudahsejak kamidipenjara dia menaruh simpati pada pergerakan kita. Sering saya menerima buku dari dia yang berguna sekali untuk mengisi waktu saya di sel,”tulis Ali . Ali mengenang Henriëtte sebagai seorang singa podium. Ketika berpidato di depan kaum buruh, misalnya, Henriëtte selalu menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Ali terkesan dengan ini mengingat Henriëtte adalah seorang penyair. Penyair Sosialis Soal kepenyairan, sastrawan M.R. Dayoh punya pengalaman sendiri tentang Henriëtte. Ketika menjadi guru di Malang, ia membuat puisi-puisi bertema kelaparan dan kemelaratan. Malangnya, karena puisi-puisnya ia dimutasi dari Christelijke Kweekschool ke Ambonse School. Namun puisinya terus disebarkan di kalangan pegawai Pangreh Praja hingga sampai kepada Domine Jensen, seorang kepala gereja dan pecinta sastra. Jansen memuji puisi Dayoh yang menggunakan bahasa Belandaitu dan menyarankan Dayoh untuk menghubungi Henriëtte agar mendapat bimbingan. Dayohpun kemudian bersurat kepada Henriëtte dan ternyata mendapat sambutan baik. “Permintaan Dayoh itu diterimanya dan Dayoh menganggap Henriëtte Roland Holst sebagai ‘ibu angkatnya’ dengan sebutan ‘Induk Ayam Belanda yang Tua’," tulis Anita K. Rustapa dalam Antologi Biografi Pengarang Sastra Indonesia, 1920-1950. Sejak itu, Dayoh makin dekat dengan Henriëtte melalui surat-menyurat. Dayoh kemudian mendapat hadiah buku-buku karangan Henriëtte seperti Het Eeuwige voor dan Tussen Tijd en Euwigheid. Menilik karya-karya Henriëtte, Jacqueline Bel menyebut jejak kepenyairan Henriëtte tak lepas dari pandangan politiknya. Tentu saja sosialisme menjadi topik utamanya. “Koleksinya dapat dibaca dengan sempurna sebagai produk sastra otonom, tetapi juga mencerminkan perkembangan politiknya. Dalam De Nieuwe Geboort (The New Birth), koleksi keduanya dari tahun 1902, misalnya, ia menggambarkan pelukannya terhadap sosialisme dalam puisi-puisi yang penuh harapan akan masa depan,” tulis Jacqueline Bel. Sajak-sajak Henriëtte ternyata telah menembus belantara hutan Digul, Papua, tempat para perintis kemerdekaan dibuang sejak 1926. Sajak Henriëtte muncul ketika Aliarcham meninggal. Pada sebuah papan tulis hitam, sajak Henriëtte dibubuhkan, menemani kepergian salah satu pemimpin komunis itu. Sebait sajak Henriëtte juga ditemukan dalam buku catatan di saku celana Subianto, adik ekonom Soemitro Djojohadikusumo yang menjadi salah satu prajurit yang gugur dalam Pertempuran Lengkong, Tangerang (1946). Selain puisi dan naskah drama, Henriëtte menulis biografi tokoh-tokoh seperti Jean-Jacques Rousseau (1912), Leo Tolstoy (1930), Romain Rolland (1946), dan Mahatma Gandhi (1947). Selama Perang Dunia II, Henriëtte aktif dalam perlawanan terhadap Nazi terutama melalui puisi-puisinya. Henriëtte alias Tan Yet, “ Sang Induk Ayam Belanda yang Tua” itu meninggal pada 21 November 1952 di Amsterdam.
- Konsep Toleransi Mohammad Natsir
Oktober 1967. Ketegangan antar umat Islam dan Kristen terjadi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Pada awal bulan itu, sekitar 20 gereja dan sekolah Kristen dirusak oleh sekelompok pemuda. Disinyalir perusakan dilakukan sebagai buntut pernyataan seorang guru sekolah Protestan di kota itu yang menghina agama Islam. Sebelumnya, Juni 1967, gesekan antar umat juga terjadi di Meulaboh, Aceh Barat dan Sumatera Selatan. Sebuah gereja di masing-masing daerah dibakar oleh penduduk Muslim. Pemicunya adalah pembangunan gereja itu dianggap tidak pantas karena dilakukan di tengah pemukiman Muslim yang hanya dihuni oleh sedikit umat Kristiani saja. “Sejak naiknya Orde Baru, hubungan umat Islam dan Kristen di Indonesia memperlihatkan perkembangan baru. Jumlah konflik Islam-Kristen menanjak tajam, terutama dalam bentuk penutupan, perusakan, dan pembakaran gereja,” ungkap Ihsan Ali-Fauzi, dkk dalam Kontroversi Gereja di Jakarta . Kala itu, pembakaran gereja di Makassar menjadi isu nasional. Pemerintah berusaha keras mencari solusi penyesaian masalah yang ditakutkan terus menyebar. Tokoh-tokoh dari kedua agama pun diminta memberikan penjelasan dan membantu menyelesaikannya. Satu tokoh Muslim yang paling “diburu” tanggapannya terkait kejadian itu adalah Mohammad Natsir. Saat peristiwa pembakaran terjadi, Natsir tengah melakukan kunjungan ke Timur Tengah. Mantan ketua Partai Masyumi itu baru tiba di tanah air pada Rabu, 4 Oktober 1967, tiga hari pasca kejadian. Setiba di Jakarta, beberapa wartawan media massa segera menyambangi kediamannya. Di antara wartawan yang mewawancarainya adalah J. Lasut dari Sinar Harapan . Diceritakan Natsir dalam Islam dan Kristen di Indonesia , Lasut langsung menanyai soal tanggapan Natsir tentang tindakan pengrusakan gereja. Dengan spontan Perdana Menteri ke-5 Indonesia itu menjawab: “tidak baik”. Tetapi Natsir juga menekankan bahwa kejadian itu sebagai satu ekses. Begitu pula kegiatan kristenisasi terhadap orang-orang Islam merupakan satu ekses. Natsir lalu mengaitkannya dengan prinsip Pancasila, yang menyatakan adanya kebabasan menganut agama. “Ini bukan berarti bahwa mengkristenkan orang-orang Islam itu sesuai dengan Pancasila. Kalau toh mau berlomba-lomba akan mengembangkan agama masing-masing itu silahkan dilakukan di kalangan bangsa Indonesia yang belum menganut suatu agama. Kalau orang Islam dikristenkan, itu bertentangan dengan prinsip itu,” ujar Natsir. Natsir juga mempertanyakan pendirian gereja di Meulaboh, yang menurutnya di tempat itu hampir tidak dijumpai penduduk Kristiani. Ia menganggap bahwa kekuasaan materi dan keuangan yang dimiliki orang-orang Kristen bisa digunakan untuk upaya kristenisasi umat Islam yang kala itu hidup dalam kemiskinan. Kelemahan seperti itulah yang bisa menjadi ancaman bagi umat Islam Indonesia. Sebagai contoh, Natsir menyebut jika di Yogyakarta pernah ada pembagian beras oleh orang-orang Kristen kepada penduduk Muslim yang miskin dengan menganjurkan para penerima masuk Kristen. “Kebebasan seperti itu adalah satu ekses, sebagaimana merusakkan gereja-gereja yang dimaksud itu juga adalah satu ekses pula. Dan kalau hal-hal seperti itu diteruskan, maka berakhirlah Pancasila sebagai platform atau mimbar bersama,” lanjut Natsir. Perihal peristiwa pembakaran gereja, Natsir sadar bahwa hal itu pasti melukai umat Kristiani. Tetapi ia meminta kejadian tersebut jangan dilihat dari gejala yang terlihat saja, harus ditelusuri juga persoalan-persoalan yang ada di baliknya. Ibarat seorang sakit malaria, kepalanya panas, lantas diberi kompres es, tidaklah akan menghilangkan penyakitnya itu. Perlu dicari penyebab utama penyakit agar penanganannya tepat, karena kondisi panas hanyalah suatu gejala dari malaria saja. Kepada para wartawan, Natsir menegaskan agar identitas orang-orang Islam jangan diganggu. Begitu juga sebaliknya. Baginya, perdamaian nasional hanya dapat tercapai jika tiap golongan agama menghormati identitas golongan lain. Di samping sekuat tenaga memelihara identitasnya masing-masing. “Jiwa Kristus yang begitu murni jangan dipakai untuk tujuan yang tidak murni dan ikhlas jangan sampai menjadi sutau peaceful aggression , suatu penyerangan bersemboyan damai,” ucap Natsir. Pemerintah sendiri melakukan berbagai upaya mediasi untuk menyelesaikan konflik antar umat beragama di Makassar tersebut. Salah satunya mengadakan pertemuan pada 30 November 1967, bertajuk “Musyawarah Antar Umat Beragama”, di Jakarta. Menurut Andi Rahman Alamsyah, dkk dalam Gerakan Pemuda Ansor: Dari Era Kolonial hingga Pascareformasi , pemerintah mengundang tokoh-tokoh Islam dan Kristen untuk duduk bersama membahas penyelesaian masalah tersebut.
- CIA dan Karikatur Bintang Timur
TAMPANGNYA cakap, postur badannya tinggi, dan penampilannya simpatik. Dia memakai pakaian lengkap dengan jas dan dasi. Sikapnya sopan dan bersahabat. Diplomat Amerika Serikat itu bernama Mr. Heyman. Sementara itu, Augustin Sibarani (1925–2014), pelukis dan karikaturis terkemuka Indonesia, hanya bersepatu sandal, berkemeja agak urakan dan keringatan. Dia datang dengan agak lari-lari dari kantor redaksi Bintang Timur .
- Serangan Udara Amerika yang Tergesa-gesa
Kemarin, 4 Desember, 37 tahun silam, ada yang tak biasa di langit Bikfaya, 15 mil timur Beirut, Lebanon pada pagi. Dari rumahnya, Joe Cherabie melihat langit lebih terang dan berisik dari biasanya. Situasi mencekam. “Langit penuh dengan asap bola api dan tembakan anti-pesawat. Saya bisa mendengar bom meledak di kejauhan,” ujarnya sebagaimana dimuat The New York Times , 5 Desember 1983. Apa yang dilihat Joe merupakan pertempuran udara antara pesawat-pesawat AL Amerika Serikat (AS) melawan senjata-senjata anti-pesawat yang ditembakkan milisi-milisi Muslim yang didukung militer Syria. Pertempuran dibuka oleh AS sebagai pembalasan atas serangan bom terhadap barak marinir AS di Bandara Internasional Beirut pada 23 Oktober 1983. Kebaradaan pasukan AS di wilayah itu –sejak Agustus 1982– sebagai bagian dari pasukan perdamaian PBB, United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Pasukan perdamaian itu dibentuk pada 19 Maret 1978 untuk memastikan penarikan mundur pasukan Israel dari Lebanon sehingga bisa memulihkan perdamaian. Lima hari sebelumnya, 14 Maret, militer Israel menginvasi Lebanon Selatan dengan alasan untuk memulihkan keamanan akibat seringnya dijadikan sasaran serangan oleh PLO. Sejak akhir 1960-an, militer Israel dan milisi PLO saling serang di Lebanon Selatan. Intensitas konflik meningkat setelah Israel memutuskan mendukung milisi Katolik Maronite dan milisi Kristen lain untuk merebut kekuasaan di Lebanon Selatan. Dengan dukungan itu Israel berharap dapat mengusir PLO dan mengeliminasi pengaruh Syria agar dapat mendudukkan Bachir Gemayel, pemimpin milisi Kristen, ke kursi penguasa Lebanon. Dengan begitu, Lebanon pro-Israel akan terbentuk. Namun, PLO yang disokong Syria –sekutu Uni Soviet– di samping Hezbollah dan milisi Islam lain tak pernah menghentikan perlawanan. Perang saudara di Lebanon pun berjalan mengerikan dengan banyak korban sipil. Bahkan milisi Druze, Syiah, dan Amal sepakat bahwa Amerika harus pergi dari wilayah konflik. Pasukan perdamaian PBB pun tak dapat berfungsi efektif. Banyak personil pasukan perdamaian malah jadi korban serangan baik dari kubu pasukan Israel maupun lawannya. Pada pagi 23 Oktober 1983, bom yang diangkut truk milisi Muslim Lebanon menghancurkan barak Marinir AS di Bandara Internasional Beirut. “Bom tersebut, menghasilkan kawah sedalam delapan kaki di lantai beton bertulang, menewaskan 220 Marinir dan 21 personil medis AL dan puluhan personil lain yang ditugaskan sebagai pasukan pendarat,” tulis Robert W. Love dalam History of the US Navy: 1942-1991 . Serangan terhadap pasukan AS berhenti sampai situ saja. “Sepanjang November, posisi Marinir AS di Bandara Internasional Beirut menjadi sasaran serangan penembak jitu serta serangan mortir, artileri, dan roket,” tulis David Locke Hall dalam The Reagan Wars: A Constitutional Perspective on War Powers and The Presidency . Meski begitu, militer AS tetap memilih bertahan. Berbeda dari militer Prancis yang sampai mengusulkan kepada AS untuk membentuk pasukan gabungan guna menyerang barak Baalbek, AS hanya memindahkan sebagian pasukannya ke kapal-kapalnya yang berlabuh di lepas pantai Beirut. Saat opsi serangan udara balasan sudah dikeluarkan Presiden Ronald Reagan pun, militer AS tetap berupaya menentangnya. Gabungan Kepala Staf maupun sejumlah jenderal lapangan, terutama panglima Marinir Jenderal Kelly yang khawatir pasukannya akan jadi sasaran lebih jauh, beranggapan bahwa serangan balasan hanya akan membuat pasukan AS di Lebanon dijadikan sasaran lebih jauh. Opsi pembalasan Reagan dikeluarkan setelah sebuah pesawat F-14 AL AS yang melakukan pengintaian rutin di atas Lebanon hampir dimangsa tembakan anti-pesawat dan rudal SA-7 milik Syria. Meski sempat ditentang sejumlah jenderalnya, opsi itu akhirnya dilanjutkan. Skema serangan udara itu pun dibuat dengan tergesa-gesa. “Diberitahu sebelumnya bahwa perintah serangan mungkin akan turun setiap saat, komandan udara angkatan laut di tempat kejadian, Laksamana Muda Jerry Tuttle, di atas kapal induk USSIndependence memulai perencanaan serangan menggunakan pesawat baik dari Independence maupun USSJohnF. Kennedy dengan target waktu maksimal pukul 11.00 waktu setempat keesokan paginya,” tulis Benjamin S. Lambeth dalam The Transformation of American Air Power . Sempat diinterupsi oleh European Command AS –bermarkas di Stuttgart, Jerman Barat– agar misi serangan udara dimulai pada pukul 06.30 pagi, serangan udara AS akhirnya dijalankan berdasarkan skema yang dibuat Tuttle dan Deputy Chief of Naval Operation Laksamana Madya James Lyons namun dengan waktu yang dimajukan. Menjelang pukul 8.00 waktu setempat, 28 pesawat –terdiri dari A-6 Intruder dan A-7 Corsair – dari kapal induk USS Independence dan USS Kennedy berangkat menuju sasaran. Target mereka adalah situs radar Syria di dekat Beirut dan dua titik tempat dikerahkanya hampir 30 peluncur rudal mobil Syria. Sepanjang perjalanan menuju target, pesawat-pesawat mendapat beragam tembakan anti-pesawat dari darat. “Pesawat-pesawat AS melaporkan tembakan anti-pesawat dan peluncuran rudal SA-7 dan SA-9,” tulis David Locke. Tak satupun dari mereka yang tersentuh peluru lawan. Sebaliknya, pesawat-pesawat serbu AS itu berhasil mengebom situs pertahanan anti-serangan udara di Pegunungan Shuf dan Metu, timur-laut Beirut. Satu tempat penyimpanan amunisi, satu situs anti-pesawat, dan sebelas target lainnya juga berhasil dihancurkan. Yang terpenting, tulis Robert W. Love, “Serangan itu telah merusak situs radar dan melumpuhkan dua baterai rudal, tetapi Syria berhasil memperbaiki radar itu dan beroperasi dua hari kemudian.” Namun, dalam perjalanan kembali ke kapal induk, pesawat-pesawat itu mendapat serangan lebih hebat. Saksi mata Zouk Mikhael mengatakan bahwa sepasang pesawat AL AS yang hendak kembali usai menyelesaikan misi di pegunungan timur Beirut terus memuntahkan bola api ( flare ) agar membingungkan rudal-rudal pencari panas yang ditembakkan Syria. Perlawanan terhadap pesawat-pesawat AS juga disaksikan Joe Cherabie dari rumahnya di Bikfaya. “Saya bisa mendengar bom meledak di kejauhan. Mereka melakukan setidaknya dua kali melewati sasaran di belakang pegunungan. Ketika pesawat-pesawat itu kembali menuju laut, salah satunya terkena rudal, mulai berasap dan jatuh ke arah Beirut,” ujarnya sebagaimana dikutip The New York Times. Pesawat yang jatuh di dekat Pelabuhan Beirut itu merupakan pesawat A-7 Corsair yang dihantam rudal SA-7 saat hendak kembali ke USSIndependence . Pilotnya, Commander Edward T. Andrews, berhasil menyelamatkan diri dengan kursi lontar dan kemudian diselamatkan seorang nelayan sebelum dijemput helikopter AL yang membawanya ke Independence . Pesawat AL kedua yang menjadi korban adalah A-6 Intruder kursi ganda yang berpangkalan di USS John F. Kennedy . Baik pilotnya, Letnan Mark Adam Lange, maupun navigatornya, Letnan Robert Goodman, berhasil keluar dari cockpit menggunakan kursi lontar saat pesawat mereka dihantam rudal. “Namun parasut Lange malfungsi dan dudukan kursi lontarnya mengamputasi kakinya ketika dia menyentuh tanah,” tulis Robert Love. Akibatnya, Lange kehabisan darah dan meninggal di tengah kepungan milisi lawan. Sementara, Goodman ditawan milisi tersebut dan dijadikan bahan propaganda oleh Syria di Lebanon. Goodman dibebaskan sebulan kemudian setelah kandidat presiden dari Demokrat Jesse Jackson berkunjung ke Lebanon dan menegosiasikan pembebasannya.
- Badai Tentara Merah Menyapu Pasukan Baja Jerman
SEMALAMAN Heinz Otto Fausten berjuang mati-matian melawan cuaca minus 30 derajat Celcius yang membekukan tubuh di tengah Operasi Barbarossa (invasi Jerman Nazi atas Uni Soviet). Bersama beberapa rekannya di batalyon intai panzergrenadier Divisi Lapis Baja ke-7, Fausten berdiam di sebuah kantung pertahanan di tepi barat stasiun dan Kanal Moskow-Volga. Titik itu merupakan posisi terdekat pasukan Jerman dari gerbang barat kota Moskow yang berjarak 30 kilometer dari Kremlin, pusat pemerintahan komunis Uni Soviet. Fausten berharap pagi 5 Desember 1941 membawakan sedikit kehangatan dari sinar mentari. Namun apa lacur, mata prajurit panzergrenadier (infantri mekanis) Jerman itu justru melihat gelombang manusia dari pihak musuh. “Kanal Moskow-Volga terhampar di hadapan kami dan di seberang tepiannya, terdapat gelombang pasukan Rusia yang tiba-tiba datang. Banyaknya jumlah mereka membuat kami tak bisa berkata-kata. Barisan mereka bergerak tanpa ujung, serdadu yang naik ski dengan mantel putih mereka. Ada juga barisan tank dan unit-unit artileri serta kendaraan tempur lain yang tak terhingga jumlahnya. Dari mana datangnya mereka?” kenang Fausten dikutip David Stahel dalam The Battle for Moscow. Serdadu Jerman di garis depan front Timur di gerbang kota Moskow. (Bundesarchiv). Pagi itu jadi penanda berakhirnya laju ofensif Jerman sekaligus menutup buku Operasi Barbarossa. Itu juga jadi penanda titik balik pertama dalam Pertempuran Moskow. Sebelumnya, Soviet acap jadi pihak yang bertahan. Gelombang Tentara Merah yang dilihat Fausten tak lain adalah lima divisi pasukan gelombang pertama Angkatan Darat (AD) ke-31 di bawah Kolonel Jenderal Ivan Konev yang berbasis di Front Kalinin. Gelombang kedua menyusul menjelang siang, memukul AD ke-9 Jerman di timur Kalinin. Jumlah itu baru sebagian kecil dari kekuatan Tentara Merah yang melancarkan serangan balik kolosal keesokannya, 6 Desember 1941, lewat Front Barat dan Front Barat Daya. Untuk memukul balik Jerman sekaligus menamatkan ofensif Barbarossa, Panglima Front Barat Soviet Marsekal Georgy Zhukov punya modal besar berupa 1,2 juta personil segar dari Siberia yang tersebar di 58 divisi infantri, 1.700 tank, dan 1.500 pesawat. Peta serangan balik Tentara Merah (kiri) yang dipimpin Kolonel Jenderal Ivan Stepanovich Konev. ( mil.ru ). Rencana serangan balik itu sudah dipersiapkan Marsekal Zhukov sejak akhir November. Setelah beberapakali bersurat dan mengontak Stalin via telepon, Zhukov bisa meyakinkan Stalin untuk memberikan puluhan divisi segar dari Siberia yang sebelumnya jadi barisan cadangan di bawah wewenang Stavka atau dewan tertinggi militer Soviet. “Tetapi apakah Anda yakin musuh telah mencapai situasi kritis dan mereka takkan punya kemampuan mengeluarkan kekuatan baru untuk melanjutkan ofensif?” tanya Stalin kepada Zhukov via telepon, dikutip Otto Preston Chaney dalam Zhukov: Revised Edition. Zhukov memaparkan lebih dalam bahwa Heeresgruppe Mitte (Grup AD Tengah) Jerman di bawah Generalfeldmarschall Fedor von Bock sudah kewalahan akibat cuaca yang membekukan. Kalaupun masih ada serangan, itu berasal dari sisa unit-unit Jerman dan bukan pasukan baru dari barat. Untuk menyapu pasukan Jerman yang kelelahan itu, Zhukov butuh pasukan baru yang lebih segar. Kekacauan Pasukan Jerman Sedianya Marsekal Bock hendak melanjutkan ofensif lewat Operasi Tyhpoon yang tertunda pada 6 Desember. Itu dia rencanakan tiga hari sebelumnya dengan bekal pasukan yang ada tanpa tambahan bantuan dari Adolf Hitler. Namun melihat situasi serangan balik Tentara Merah, pada 5 Desember malam Von Bock mengirim kabel ke Berlin bahwa Operasi Typhoon sudah berakhir. Pesan Bock ke Berlin diterima Kepala Staf Komando Tertinggi (OKH) AD Jerman Kolonel Jenderal Franz Halder. Bunyinya, sebagaimana dikutip Stahel, “Tidak ada lagi kekuatan (ofensif). Serangan besok oleh Grup Lapis Baja ke-4 mustahil dilancarkan. Terkait penarikan mundur yang dibutuhkan akan dilaporkan lagi esok hari.” Pada 5 Desember malam hingga menjelang 6 Desember dini hari itu Marsekal Bock juga mengizinkan Grup Lapis Baja ke-2 pimpinan jago tank termasyhur Jenderal Heinz Guderian untuk mundur dari garis selatan dekat kota Tula. Juga AD ke-2 yang diperintahkannya untuk mundur sejauh 50 kilometer dari Kursk untuk konsolidasi. Hampir semua pasukan baja di bawah Marsekal Bock mundur dari garis terdepan masing-masing demi mencegah pengepungan dan kehancuran total. Mulai dini hari 7 Desember 1941, inisiatif ofensif sudah resmi direbut Tentara Merah. Kolase gelombang serangan balik Tentara Merah memukul mundur Jerman dari gerbang kota Moskow. (Twitter @EmbassyofRussia/ mil.ru ). Sementara, sejak 6 Desember Hitler yang menerima laporan di markasnya di Wolffschanze, Polandia, tak terima alasan para perwira OKH yang merestui langkah mundur Marsekal Bock. Ia bersikeras setiap kubu terdepan dipertahankan sampai prajurit dan peluru terakhir. “ Fuhrer , seperti biasanya, mulai bermonolog tanpa akhir. Tak percaya akan pasukan segar Rusia, menganggap itu hanya gertakan belaka, berasumsi bahwa yang menyerang balik hanyalah pasukan cadangan terakhir,” kenang Mayor Gerhard Engel, ajudan Hitler, sebagaimana dikutpi Evan Mawdsley dalam December 1941: Twelve Days that Began a World War. Namun, Hitler akhirnya mau berkompromi. Pada 8 Desember 1941 ia mengeluarkan Instruksi No. 39. Menurut George E. Blau dalam The German Campaign in Russia: Planning and Operations, 1940-1042, isinya: semua pasukan Jerman di front Rusia untuk berada dalam status defensif, bukan untuk menarik mundur secara besar-besaran. Poin-poinnya, disebutkan Blau antara lain, Grup AD Tengah hanya menarik mundur beberapa divisi mekanis untuk dikonsolidasikan lagi, mempertahankan beberapa fasilitas di garis belakang dan jalur komunikasi, Grup AD Selatan agar membuat kubu pertahanan terkuat dengan merebut Sevastopol, dan Grup AD Utara agar menunggu kedatangan pasukan bantuan. Tiga tokoh penting Jerman di Pertempuran Moskow: Generalfeldmarschall Moritz Albrecht Franz Friedrich Fedor von Bock, Generaloberst Heinz Wilhelm Guderian & Adolf Hitler. (Bundesarchiv). Namun instruksi itu datang terlambat. Di berbagai kubu, pertahanan Jerman kian hari kian payah. Di hari yang sama dengan datangnya instruksi Hitler, pasukan baja Jenderal Guderian makin terdesak diserang dari tiga jurusan oleh AD ke-10 dan AD ke-50 Soviet di kota Tula. Ia menyesalkan keputusan OKH sebelumnya yang tak berdasarkan kenyataan di lapangan. “Saya tak pernah bisa percaya bahwa sebuah posisi militer yang amat brilian bisa dihancurkan hanya dalam dua bulan. Jika sebuah keputusan bisa diambil dalam waktu yang tepat untuk memencarkan kekuatan dan menahan diri di sepanjang musim dingin demi bisa beradaptasi lebih dulu, kami takkan berada dalam bahaya seperti sekarang,” tulis Guderian dalam suratnya tertanggal 8 Desember, dikutip Mawdsley. Yang lebih disesalkan Marsekal Bock adalah penolakan OKH terhadap permintaan pasukan bantuan segar dari Prusia Timur. OKH hanya mengizinkan Bock mundur hingga Sungai Oka pada 14 Desember. Namun karena keputusan OKH tak seizin Hitler, sang diktator justru membatalkan arahan mundur itu. Akhir Pertempuran Moskow Tentara Merah kian hari kian sukses mendesak Jerman mundur dari Moskow dan kota-kota penyangganya dengan serangan baliknya. “Sejak 6 Desember 1941, pasukan di front terdepan di hadapan musuh yang kelelahan, terus-menerus melancarkan serangan balik menentukan terhadap pasukan-pasukan sayap musuh. Hasilnya musuh terus mundur, meninggalkan persenjataannya dengan kekalahan besar,” kata Marsekal Zhukov dalam laporannya kepada Stalin, dikutip Chaney. Memasuki 16 Desember, Tentara Merah mampu membersihkan kota Kalinin, Klin, dan Yelets dari sisa-sisa pasukan Jerman. Saat Natal 25 Desember 1941, mereka bahkan bisa mengepung pasukan baja Guderian di Chern meski Guderian sendiri bisa meloloskan diri ke garis pertahanan Sushka-Oka. Pasukan Jerman yang kepayahan dipukul mundur Tentara Merah dari gerbang kota Moskow. (Bundesarchiv/ mil.ru ). Pasukan Jerman tak hanya kepayahan namun juga kondisi morilnya menurun drastis. Terlebih setelah banyak pergantian kepemimpinan. Di tanggal 25 Desember itu pula Hitler membebastugaskan para perwira lapangan yang menurutnya tak becus. Selain Marsekal Bock, yang dibebastugaskan Hitler yakni Jenderal Erich Hoepner (Panglima Grup Lapis Baja ke-4) dan Guderian. Hitler juga memecat Panglima Tertinggi AD Jerman Generalfeldmarschall Walther von Brauchitsch dan wewenang atas pasukan di Rusia dipegang Hitler sendiri. Keputusan Hitler itu menambah panjang daftar blundernya. Menurut Marsekal Bock, ketidakbecusan itu sudah terjadi sejak musim panas 1941 dengan pengalihan tujuan Operasi Barbarossa dari Moskow ke ke Leningrad di utara dan Kiev di selatan. Akibatnya, peluang menang lewat Blitzkrieg di musim panas terbuang percuma. “Sekian lama saya meminta otoritas OKH untuk langsung menyerang musuh ketika masih lemah. Kita bisa saja mengakhiri perlawanan musuh musim panas lalu. Agustus lalu jalan menuju Moskow masih terbuka; kita bisa masuk ke ibukota Bolshevik dengan kemenangan dinaungi cuaca musim panas. Kepemimpinan tinggi militer membuat kesalahan besar saat memaksa Grup AD mengadopsi posisi bertahan Agustus lalu. Sekarang kita harus membayar kesalahan itu,” tulis Marsekal Bock di buku hariannya, dikutip Alfred W. Turney dalam Disaster at Moscow: von Bock’s Campaign 1941-1942. Pemimpin tertinggi Uni Soviet Joseph Vissarionovich Stalin (kiri) & Marsekal Georgy Konstantinovich Zhukov yang puas mengusir Jerman dari gerbang kota Moskow. ( mil.ru ). Hitler akhirnya harus kehilangan muka di front timur, terutama kegagalannya merebut Moskow. Per 7 Januari 1942, Pertempuran Moskow berakhir dengan kemenangan besar Tentara Merah. Operasi Barbarossa pun musnah. Pertempuran Moskow berakhir setelah Zhukov menghentikan sementara ofensif terus-menerus sebulan penuh. Alasannya, makin mendesak posisi-posisi Jerman dengan garis ofensif yang makin melebar, makin tipis pula garis terdepan Soviet. Zhukov khawatir garis itu terputus jika sewaktu-waktu Jerman berinisiatif menyerang balik. Toh maksudnya untuk mengamankan Moskow sudah tercapai dengan memukul mundur Jerman hingga 160 kilometer dari barat ibukota. Selain itu, 58 divisi Tentara Merah butuh sedikit istirahat untuk melanjutkan gerak majunya menuju Warsawa dan Berlin. Zhukov akhirnya bisa terlelap setelah berhari-hari terjaga hanya dengan terus-menerus menenggak kopi. Telepon dari Stalin pun tak bisa membangunkannya. “Kita tak bisa membangunkannya. Biarkan ia terlelap,” kata Stalin kepada salah satu staf Zhukov di sambungan telepon, dikutip Chris Bellamy dalam Absolute War: Soviet Russia in the Second World War. Meskipun keinginan Stalin menghancurkan total Grup AD Tengah Jerman tak tercapai, baginya melihat Moskow aman dari ancaman Jerman sudah lebih dari cukup. Untuk itu Tentara Merah membayar mahal serangan baliknya dengan kehilangan hampir 139 ribu serdadunya yang tewas. Sementara, Jerman kehilangan lebih dari 60 ribu prajuritnya.
- Sembilan Anak dan Ayah di Arena F1 (Bagian II – Habis)
SUDAH tujuh dasawarsa Formula One (F1) bergulir sejak ajang perdananya pada 1950. Sejak itu pula bermunculan regenerasi pembalap dari ayah ke anak yang meramaikan pentas balap mobil kasta teratas itu. Ada 13 pasang ayah-anak yang membalap di lintasan F1. Mick Schumacher jadi yang teranyar. Mick adalah putra Michael Schumacher, pemilik tujuh gelar dunia F1 (1991-2012). Rekor itu belum bisa dipecahkan pembalap manapun saat ini. Namun, tim Haas F1 memastikan perekrutan Mick pada musim 2021 bukan semata untuk jadi bayang-bayang sang ayah. “Mick memenangkan banyak balapan, mengoleksi raihan podium dan membuktikan punya bakat luar biasa pada 2020 (di Formula 2, red. ). Saya yakin dia pantas mendapatkan kesempatan balapan di Formula 1 berdasarkan performanya sendiri dan saya sangat menantikan kontribusi Mick di dalam maupun di luar trek,” ujar team principal Haas F1 Guenther Steiner di laman resmi tim , Selasa (1/12/2020). Dari ke-13 pasangan ayah dan anak di pentas F1, tak semuanya punya kiprah cemerlang baik si ayah maupun si anak. Empat pasang ayah-anak dengan karier tak moncer adalah Manfred (1980-1985) dan Markus Winkelhock (2011-2012), Jonathan 1983-1989) dan Jolyon Palmer (2016-2017), Satoru (1987-1991) dan Kazuki Nakajima (2007-2009), serta Jan (1995-1998) dan Kevin Magnussen (2014-2020). Sisanya, sembilan pasang ayah-anak, punya tinta emas dalam sejarah F1. Sebelumnya sudah diuraikan empat pasang ayah-anak pembalap F1 nan gemilang. Berikut empat lainnya: Wilson dan Christian Fittipaldi Wilson Fittipaldi Júnior (kiri) & Christian Fittipaldi. ( formula1.com / forzaminardo.com ). Seperti halnya keluarga Brabham atau Schumacher, nama Fittipaldi juga turut menggurita di kancah F1 lantaran hampir semua anggota keluarganya bersentuhan dengan dunia balap. Wilson Fittipaldi Jr. yang lahir di Hari Natal tahun 1943 di São Paulo, Brasil, jadi pionirnya. Olahraga balap sejak kecil bukan barang baru baginya mengingat sang ayah, Wilson Fittipaldi Sr., merupakan jurnalis dankomentator balap motor dan mobil. Namun, karier Wilson di F1 sepanjang 1972-1975 bersama tim Brabham dan Copersucar –yang didirikannya sendiri– justru berada di bawah bayang-bayang sang adik Emerson Fittipaldi. Emerson dua kali merebut gelar juara dunia F1, musim 1972 dan 1974. Satu-satunya podium yang dicicipi Wilson hanya juara ketiga di Grand Prix Brasil pada musim 1972. Meski begitu, putranya, Christian Fittipaldi, bisa jadi kebanggaan buat Wilson yang pensiun sejak 1976. Lahir pada 18 Januari 1971 di kota yang sama dengan Wilson, Christian beruntung punya dua mentor hebat, ayahnya dan pamannya, untuk meniti kariernya yang dimulai di ajang gokar. Debut Christian di F1 dilakoni pada musim 1992 bersama tim Minardi. Ian C. Friedman dalam Latino Athletes menuliskan, Christian bisa promosi ke F1 setelah menjadi pembalap termuda yang lulus dan mendapatkan FIA Formula One Super License pada usia 18 tahun. Tetapi sialnya beberapa kali problem teknis mobil dan kecelakaan yang mengakibatkannya patah kaki membuat kiprah Christian di F1 tak berumur panjang. Seiring pulih dari cedera, Christian beralih ke ajang lain pada 1994 dan menunjukkan tajinya di ajang balap Championship Auto Racing Teams (CART) sepanjang 1995-2004. Dia juga menjadi pembalap non-Amerika Serikat pertama di NASCAR pada 2002, menjuarai 24 Hour Daytona 2004 di tim Bell Motosports, dan mempopulerkan ajang Stock Car di Brasil pada 2005-2010, serta dua kali kampiun WeatherTech Sports Car pada 2014 dan 2015. “Dengan berbagai alasan, saya memang tak punya kesuksesan besar sebagaimana yang saya harapkan (di F1 dan NASCAR, red. ). Tetapi saya senang punya kesempatan di Brasil di mana kini semua orang mengenal balapan Stock Car yang berkembang pesat,” tutur Christian dikutip Friedman. Gilles dan Jacques Villeneuve Joseph Gilles Henri Villeneuve (kanan) & Jacques Joseph Charles Villeneuve. ( formula1.com / redbull.com ). “Takkan ada yang mengingat juara dua.” Ungkapan familiar di beragam kompetisi itu untuk beberapa saat jadi tekanan bagi Gilles Villeneuve. Lahir di Sain-Jean-sur-Richelieu, Quebec, Kanada pada 18 Januari 1950, Gilles bersama sang adik, Jacques-Joseph Villeneuve, sudah menggilai balap mobil sejak muda. Gilles menembus F1 pada 1977 dengan direkrut tim Marlboro McLaren. Sebelum datangnya Niki Lauda, Gilles jadi saingan terberat pembalap legendaris Inggris James Hunt. Di luar trek, Gilles dikenal sebagai pribadi santun dan ramah. Tetapi ketika sudah masuk kokpit jet darat, ia berubah jadi sosok nekat sebagaimana James Hunt. “Dia (Gilles) pembalap tergila dan ternekat yang pernah saya temui di Formula 1. Padahal faktanya, pribadinya punya karakter yang sensitif dan menyenangkan di luar trek dan tak terlihat seperti pembalap nekat, tetapi itu yang membuatnya jadi seseorang yang unik,” kenang Lauda dalam otobiografinya, To Hell and Back . Musim 1979 jadi puncak karier Gilles bersama Ferrari. Hampir sepanjang musim dia bersaing ketat dengan Jody Scheckter untuk berebut gelar. Sial, Gilles harus puas sebagai juara dua. Kesialan puncak Gilles tiba beberapa musim kemudian. Di GP Belgia, 8 Mei 1982, Gilles mengalami kecelakaan hebat yang kemudian merenggut nyawanya. Kala Gilles wafat, Jacques, putranya, baru berusia 11 tahun. Ia tumbuh jadi pemuda yang juga menyenangi balapan di bawah bimbingan sang paman, Jacques Sr., hingga melakoni debutnya di F1 pada 1996 bersama tim Williams. Seperti ayahnya, Jacques tipe pembalap yang cepat namun selalu berusaha tampil elegan. Meski Jacques paling anti melakoni manuver-manuver kontroversial, tetap saja dia kena sial mobilnya jadi korban manuver kotor Michael Schumacher di GP Eropa musim 1997. Jacques bahkan sampai bertengkar dengan Schumi gara-gara itu . Musim 1997 itu juga jadi musim di mana Jacques akhirnya juara dunia.Gelar itu menjadikannya pembalap Kanada pertama yang mampu jadi kampiun F1. “Ayah pembalap yang sangat cepat. Dia penyuka kecepatan dan adrenalin, selalu terburu-buru ingin menyalip pembalap lain. Dan dia mengalami kecelakaan hebat. Sulit mengatakan kemampuan saya didapat dari ayah tapi yang pasti saya punya perasaan kecepatan dan kemampuan itu darinya,” kenang Jacques, dikutip Gerald Donaldson dalam Gilles Villeneuve: The Life of the Legendary Racing Driver. Nelson dan Nelson Piquet Jr. Nelson Piquet Souto Maior (kiri) & Nelson Angelo Tamsma Piquet Souto Maior Jr. ( sfcriga.com / nascar.com ). Nelson Piquet merupakan satu dari lima pembalap F1 yang punya tiga koleksi juara dunia. Ia juga pembalap legendaris Brasil kedua yang juara dunia setelah Emerson Fittipaldi. Lahir di Rio de Janeiro, Brasil pada 17 Agustus 1952, Piquet terjun ke dunia balap karena terinspirasi Fittipaldi yang dua kali juara dunia F1. Tiga gelar Piquet masing-masing diraih saat memiloti kokpit Brabham pada musim 1981 dan 1983, serta mobil Williams di musim 1987. “Untuk jadi juara dunia Anda butuh banyak keberuntungan di mana itu hal terpenting. Ada banyak pembalap hebat yang jadi juara dunia. Namun Anda juga butuh mobil, mesin, pilihan ban dan tim yang tepat. Saya memiliki itu semua,” jelas Piquet sebagaimana dikutip Maurice Hamilton dalam Formula One, The Champions: 70 Years of Legendary F1 Drivers. Selepas Piquet pensiun dari F1 pada 1991, baru 17 tahun berselang nama Piquet kembali nongol di grid F1. Nama itu disandang putranya, Nelson Piquet Jr. Mobil dan dunia balap baru jadi hobi Piquet Jr. di usia delapan, usia di mana dia baru mengenal ayahnya. Ayah dan ibunya berpisah saat Piquet Jr. masih bayi dan ia dibawa tinggal bersama ibunya, Sylvia Tamsma, di Monaco. Saat umur delapan, dia pindah tinggal dengan ayahnya di Brasil. Meski begitu, Piquet Jr. mengaku awal kariernya tak di bawah bimbingan sang ayah. Piquet Sr. hanya menyokong dana saat Piquet Jr. memulai kariernya dari ajang gokar pada 1993. Debutnya di F1 baru terjadi pada 2008. “Saya memang menyandang namanya. Tetapi saya selalu berusaha sendiri. Ayah hanya sekadar melihat saya balapan namun saya tak pernah bergantung padanya, terlepas dari sisi finansial. Semua hal teknis, hanya bergantung pada saya dan para mekanik,” terang Piquet Jr. kala diwawancara The Guardian , 5 Oktober 2005. Akan tetapi, Piquet Jr. gagal menyamai apalagi melewati reputasi sang ayah. Menduduki kokpit tim Renault di musim 2008 dan 2009, Piquet Jr. hanya mampu sekali naik podium sebagai runner-up di GP Jerman 2008. Pada GP Singapura di musim yang sama, Piquet Jr. bahkan jadi sorotan komisi disiplin FIA setelah diduga menabrakkan mobilnya sendiri demi memberi kesempatan rekan setimnya, Fernando Alonso, untuk menang. Piquet Jr. mengakuinya lantaran ia diperintahkan bos timnya dan itu jadi titik konfliknya dengan tim Renault. Pada musim 2009, Piquet Jr. hanya bertahan hingga paruh musim. Beralih dari F1, Piquet Jr. memilih ajang NASCAR hingga Formula E dan keluar sebagai juara dunia di musim 2014/2015 bersama tim China Racing/NEXTEV. Jos dan Max Verstappen Johannes Franciscus 'Jos' Verstappen (kanan) & Max Emilian Verstappen. ( formula1.com / redbull.com ). “Jos the Boss” julukannya. Salah satu maestro balap asal Belanda yang malang-melintang di F1 sepanjang 1994-2003. Sebagaimana pembalap kebanyakan, Johannes Franciscus ‘Jos’ Verstappen yang lahir di Montfort, 4 Maret 1972 itu memulainya di ajang gokar sejak usia delapan tahun. Namun, kegemilangan di F1 hanya terjadi di musim perdananya ( 1994). Dia dua kali berdiri di podium sebagai juara ketiga di GP Hungaria dan Belgia. Selebihnya ia bak pembalap penggembira di hampir setiap seri hingga pensiun pada 2003. Seperti para seniornya, ia pun menurunkan bakat balapnya ke putra sulungnya, Max Verstappen. Max yang lahir di Hasselt, Belgia, 30 September 1997, bersentuhan dengan dunia balap sejak dini mengingat sang ibu, Sophie Kumpen, juga pembalap gokar semasa mudanya. Meski kemudian ayah dan ibunya berpisah dan Max tinggal dengan Sophie di Maaseik, kota perbatasan Belgia dengan Belanda, hampir setiap hari dia menghabiskan waktu bersama ayahnya di seberang perbatasan. “Sebenarnya saya tinggal di Belgia hanya menumpang tidur. Seharian saya selalu ke Belanda ke tempat ayah dan menemui teman-teman saya. Saya dibesarkan sebagai orang Belanda dan hingga sekarang itu yang saya rasakan,” ujar Max, disitat GP Fans , 3 Juli 2019. Berangsur-angsur Max membangun kariernya dari Formula Renault pada 2013, Formula Three setahun berselang. Puncaknya, dia mendapatkan kursi di F1 bersama tim Scuderia Toro Rosso juga pada 2014 selepas lulus dari tim junior Red Bull. Debutnya dilakoninya musim 2015. Sedikit demi sedikit dia melejit hingga jadi salah satu pesaing serius langganan juara Lewis Hamilton, utamanya setelah Max dipromosikan ke tim utama Red Bull pada 2016. Pada musim 2019 ia mencuat jadi juara tiga. Kini di musim 2020 yang menyisakan dua seri, Verstappen di posisi yang sama masih sikut-sikutan dengan Valtteri Bottas untuk berebut status runner-up lantaran Hamilton di puncak klasemen takkan terkejar. Namun peluang Verstappen untuk punya capaian melebihi sang ayah –juara dunia F1– masih terbuka di musim 2021.





















