Hasil pencarian
9740 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Cara Mengiklankan Film pada Zaman Belanda
SEJUMLAH poster film terpasang berjejer di bagian depan bioskop-bioskop ibu kota dan berbagai daerah lainnya. Sebagai informasi kepada para pengunjung bioskop, di bagian atas poster disematkan tulisan “sedang tayang” atau “akan tayang”. Sebelum ditayangkan di bioskop, potongan-potongan adegan film ( trailer ) diiklankan di berbagai media, seperti televisi, YouTube, dan berbagai media sosial untuk menarik perhatian publik. Berbeda dengan masa kini yang serba digital, di masa lalu film yang akan ditayangkan di bioskop diiklankan dengan cara unik menggunakan delman atau sado. Tanu Trh dalam Kisah Jakarta Tempo Doeloe menyebut penggantian film yang ditayangkan di bioskop Batavia pada zaman kolonial Belanda biasanya terjadi 3–4 malam sekali dan diumumkan kepada khalayak ramai dengan cara diarak, sehingga disebut “bioskop ngarak”. “Sebuah delman atau sado disewa, dipajangi poster-poster film yang akan diputar malam itu serta nama bioskop bersangkutan,” tulis Tanu.
- Ho Im, Iklan Dukacita Tionghoa
CALON presiden Joko Widodo tak ambil pusing dengan kampanye hitam yang menyebut dirinya keturunan Tionghoa dan bernama Oey Hong Liong. Namun Jokowi angkat bicara ketika kempanye hitam itu sudah keterlaluan berupa berita dukacita “RIP Ir. Herbertus Joko Widodo (Oey Hong Liong)” yang beredar di jejaring sosial. Jokowi menyebut kampanye hitam itu “brutal”. Menurut Iwan Awaluddin Yusuf, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, dalam Media, Kematian, dan Identitas Budaya Minoritas , iklan dukacita erat kaitannya dengan upaya penyebarluasan kabar meninggalnya seorang etnis Tionghoa kepada keluarga dan sanak famili sesama Tionghoa. Mereka menyebut iklan dukacita sebagai Ho Im. “Iklan berita keluarga tentang kematian dan perkawinan bagi pembaca Tionghoa peranakan lebih penting daripada editorial yang hebat,” tulis Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik .
- Nostalgia Si Unyil, Hiburan Anak-anak di Zaman Orde Baru
SIAPA yang tak mengenal Si Unyil?Program televisi di TVRI ini pernah menjadi tayangan yang paling dinanti anak-anak pada zaman Orde Baru. Episode pertama serial Si Unyil tayang pada 5 April 1981 dan ditayangkan terus-menerus hingga menjadi program fiksi yang paling lama disiarkan di Indonesia. Sejak 1981 hingga 1993 Si Unyil telah tayang sebanyak 603 episode. Si Unyil, yang mengenakan kopiah hitam dengan sarung dililitkan ke bahu, digambarkan sebagai anak berusia sekitar tujuh tahun yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Bersama kawan-kawannya, Usro, Cuplis, Si Ucrit, Endut, dan Meilani, Unyil mencoba memecahkan berbagai masalah di Desa Suka Maju. Selain itu, di setiap episode Unyil berinteraksi dengan karakter lain seperti Pak Raden, Mbok Bariah, Pak Ogah, dan Pak Ableh.
- Butuh Uang untuk Lebaran, Sukarno Lelang Peci
MOTOR listrik Gesits milik Presiden Joko Widodo dilelang dalam acara konser virtual "Berbagi Kasih Bersama Bimbo" pada Minggu, 17 Mei 2020. Motor bertanda tangan Jokowi itu laku Rp2,5 miliar. Pemenangnya M. Nuh yang disebut sebagai pengusaha dari Jambi. Ternyata, setelah ditelusuri, dia adalah buruh harian lepas. Dia mengira telah menang hadiah dalam acara lelang itu. Warganet pun menyebutnya telah nge- prank Jokowi. Kejadian serupa tapi tak sama pernah dialami Presiden Sukarno. Sama-sama lelang di bulan puasa, bedanya Jokowi melelang motornya untuk warga terdampak pandemi virus corona ( Covid-19), sedangkan Sukarno melelang peci untuk zakat fitrah. Sukarno tak punya uang menjelang Lebaran. Dia meminta bantuan orang kepercayaannya, Roeslan Abdulgani. Roeslan mulai dekat dengan Sukarno saat menjabat sekretaris jenderal Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Setelah itu, dia menjabat menteri luar negeri, wakil ketua Dewan Pertimbangan Agung, menteri penerangan, dan wakil perdana menteri.
- Penjaga Alexandria yang Menolak Tunduk pada Napoleon
SITUASI geopolitik di Eropa pada pengujung abad ke-18 turut berpengaruh ke Afrika Utara, bahkan Nusantara. Revolusi di Prancis yang berujung pada lahirnya Republik Prancis Pertama (1792), dimanfaatkan perwira militer jenius dan berdarah dingin Napoleon Bonaparte untuk memperluas ekspansi secara tidak langsung ke Jawa dan “menyenggol” wilayah Kekhalifahan Turki Utsmani di Mesir. Bergolaknya Eropa sejurus Napoleon melancarkan Perang Revolusi Prancis (1792-1802), berimbas ke Hindia Timur (kini Indonesia). Masa itu bertepatan dengan kondisi Kongsi Dagang Hindia Timur VOC berada di pengujung kebangkrutan akibat kekalahan Republik Belanda dari Inggris dalam Perang Inggris-Belanda Keempat (1780-1784). “Kerapuhan VOC sudah tampak nyata ketika terjadi Perang Inggris-Belanda Keempat. Upaya membendung Inggris dengan inisiatif-inisiatif baru dalam hal pertahanan VOC tak bisa diwujudkan akibat guncangan geopolitik seiring Revolusi Prancis 1798,” tulis Gerrit Knapp dalam Genesis and Nemesis of the First Dutch Colonial Empire in Asia and South Africa, 1596-1811.
- Orang Somalia Lebih Mengenal Sukarno
PADA 5 April 1964, pukul 23.00, KRI Dewa Ruci merapat di pelabuhan Djibouti, Somalia. Muncullah para pekerja pelabuhan. Mereka berdiri berkelompok memandangi tiang-tiang Dewa Ruci dan tali-temali yang memenuhi geladak. Mereka kemudian pergi ke haluan dan ramai memperdebatkan patung Dewa Ruci yang tepaku kokoh di bawah cocor. Kemudian terjadi komunikasi dalam bahasa Inggris yang sangat kaku. Kemampuan bahasa Inggris awak Dewa Ruci memang belum begitu bagus, begitu pula dengan bahasa Inggris mereka tidak lebih baik. Kendati begitu, dengan isyarat tangan dan bahasa tubuh yang universal, komunikasi dapat berjalan secukupnya.
- Kisah Pasukan Kristen dan Muslim Mengusir Invasi Viking
SEJAK penaklukan Kerajaan Hispania oleh Kekhalifahan Umayyah kurun 711-715 Masehi, wilayah Andalusia (kini wilayah selatan Spanyol) pada abad ke-9 bergeliat sebagai pusat keilmuan dunia Islam di bumi belahan barat. Namun yang tak disangka, bangsa Viking di masa yang sama juga tengah gencar berekspansi ke selatan. Wilayah Andalusia termasuk yang dibidik. “Mulai 834 (Masehi) serangan-serangan bangsa Viking berubah menjadi ekspedisi berskala besar. Setiap biara, gereja, dan kota di Kepulauan Britania diserang dan dijarah orang-orang Nordik dari utara – kini Denmark, Swedia, dan Norwegia. Berturut-turut London dijarah (pada 841) kemudian Nantes, Rouen, Paris, dan pedalaman Gaul. Orang-orang Nordik dari Swedia juga merebut kota Kiev, di mana pemimpinnya, Rurik, mendirikan ibukota permanen setelah memperbudak para penduduk Slavik,” ungkap Arthur Herman dalam The Viking Heart: How Scandiavians Conquered the World.
- Menyibak Mitos Haji Djamhari
DALAM historiografi populer, nama Haji Djamhari sering disebut sebagai penemu rokok kretek. Namun, selama bertahun-tahun sosok ini dipandang sebagai figur mitologi. Sebuah legenda lokal yang tidak memiliki dasar historis yang kuat. Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat Kudus, Haji Djamhari hidup pada akhir abad ke-19. Dia dikisahkan mengalami sakit di bagian dada yang sudah lama dideritanya. Setiap kali serangan sesak napas datang, dia merasakan penderitaan yang begitu berat. Dalam upaya meredakan penyakit tersebut, dia mencoba menggunakan minyak cengkih dengan mengoleskannya pada dada dan punggungnya. Cara itu memberinya sedikit kelegaan, meskipun belum benar-benar menyembuhkan.
- Catatan Snouck Hurgronje Tentang Kebiasaan Umat Islam di Hindia Belanda
MINAT besar Christiaan Snouck Hurgronje terhadap pemikiran dan kehidupan umat Islam Hindia Belanda yang ditemui di Arab Saudi membawanya berlayar ke wilayah koloni itu. Perjalanannya dimulai pada 1889, setahun setelah pria kelahiran Oosterhout, 8 Februari 1857 itu ditunjuk menjadi pejabat negara yang diutus ke Hindia Belanda. Menurut peneliti sekaligus dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jajang A. Rohmana, keputusan Snouck menerima tugas sebagai pejabat negara di wilayah koloni cukup menarik perhatian sejumlah pihak. “Setelah melakukan perjalanan ke Makkah dan banyak menulis tentang komunitas ulama-ulama Nusantara yang ada di Makkah, Snouck kembali ke Belanda. Kemudian barulah dia datang ke Hindia Belanda. Banyak orang yang menebak-nebak apa motif dan tujuan Snouck melakukan perjalanan ke Hindia Belanda, terlebih pada saat itu Snouck ditawari untuk menjadi seorang profesor di Leiden,” jelas Jajang dalam dialog sejarah Historia.ID berjudul “Snouck Hurgronje: Agen Pengetahuan atau Spionase Belanda?”
- Demi Minyak Pasukan Khusus Dikirim Ke Jambi
CORNELIS Plaatzer masih berusia 20 tahun ketika mendaftar jadi relawan Angkatan Darat Kerajaan Belanda (Koninklijk Landmacht/KL) tak lama usai Perang Dunia II. Pemuda asal Putten, Belanda ini kemudian dikirim ke Indonesia yang baru merdeka guna mengembalikan kontrol Belanda yang lepas usai dikalahkan Jepang. Belanda harus menjalani perang melawan Indonesia demi merebut kembali wilayah yang dulu disebutnya Hindia Belanda itu. Cornelis Plaatzer datang ke Indonesia sebagai bagian dari Batalyon 2 Resimen 9 KL. Cornelis Plaatzer lalu terpilih masuk pasukan khusus penerjun payung berbaret merah. Akhir 1948 dia tinggal di sekitar Bandung, dalam sebuah barak tentara. Kesatuannya adalah kompi para dari Regimen Special Troepen (RST), dia salah satu pasukan terjun. Pada 20 Agustus 1948, anak dari Jan Plaatzer dan Jannetje Kool ini mendapat pangkat kopral sementara.
- Cara Gratis Dapat Kapal Perang
SUATU hari, India meluncurkan satelit barunya, tetapi jatuh di Samudra Hindia. Pecahannya terdampar di perairan Aceh. Begitu mendapat laporan, Asisten Operasi Kasum ABRI Laksda TNI Soedibyo Rahardjo segera mengirim pesawat C-130 Hercules untuk mengambil pecahan itu. Tak banyak yang tahu, rongsokan apa yang harus buru-buru diambil itu. Waktu diangkut, pilot mengomel, “rongsokan gini aja kok harus dibawa ke Jakarta.” Begitu mendarat di Halim Perdanakusumah, Soedibyo menyimpannya di gudang khusus. Dikunci dan dijaga ketat.
- Nasionalisme Peci Sukarno
PEMUDA itu masih berusia 20 tahun. Dia tegang. Perutnya mulas. Di belakang tukang sate, dia mengamati kawan-kawannya, yang menurutnya banyak lagak, tak mau pakai tutup kepala karena ingin seperti orang Barat. Dia harus menampakkan diri dalam rapat Jong Java di Surabaya, Juni 1921. Tapi dia masih ragu. Dia berdebat dengan dirinya sendiri. “Apakah engkau seorang pengekor atau pemimpin?” “Aku seorang pemimpin.” “Kalau begitu, buktikanlah,” batinnya lagi. “Majulah. Pakai pecimu. Tarik nafas yang dalam! Dan masuklah ke ruang rapat... Sekarang!” Setiap orang ternganga melihatnya tanpa bicara. Mereka, kaum intelegensia, membenci pemakaian blangkon, sarung, dan peci karena dianggap cara berpakaian kaum lebih rendah. Dia pun memecah kesunyian dengan berbicara: ”…Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.”






















