top of page

Hasil pencarian

9825 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Benteng Kuno Dayak dari Masa Tradisi Berburu Kepala

    DULU, ketika orang-orang Dayak masih sering memburu kepala musuh-musuhnya, mereka membangun perlindungan di balik benteng kayu ulin yang kokoh. Batang-batang kayu ulin disusun utuh berjajar begitu rapat menyerupai pagar keliling yang sangat tinggi. Beberapa di antaranya dilengkapi dengan menara pengintai. Sepasang haramaung diletakkan untuk menjaga pintu masuknya. Macan dahan ini menjadi simbol keberanian dan perlindungan bagi masyarakat Ngaju. Dulu di depan pagar juga akan ada sosok muka dengan mata melotot dan lidah terjulur. Si muka seram di tiang kambelawit inilah penghalau setiap hal buruk yang datang. Kini yang ada hanyalah tiang kosong yang tampak di permukaan tanah. Pencuri telah mengambil patung macan penjaga itu dengan memangkasnya dari tiang. Patung kambelawit itu juga sekarang sudah tak utuh lagi. Tiangnya pun telah aus. Sementara itu, sebagian besar tiang pagar sudah tak terlihat. Banyak yang hilang. Ada pula yang terpendam di dalam tanah.

  • Perluasan Lahan Pertanian pada Zaman Kuno

    MESKI penduduknya belum padat, orang-orang zaman kuno sudah membutuhkan perluasan lahan pertanian. Namun, perluasan lahan pertanian tidak bisa sembarangan. “Dalam masyarakat agraris, tanah menjadi sangat penting karena merupakan lahan olahan,” kata I Gusti Made Suarbhawa, kepala Balai Arkeologi Bali, dalam webinar “Pertanian di Bali: Dulu, Kini, dan Akan Datang” yang diadakan Balai Arkeologi Bali via zoom, Selasa, 30 Juni 2020. Pertanian merupakan mata pencaharian sebagian besar penduduk Bali Kuno. Ketika membutuhkan lahan lebih luas, mereka memanfaatkan hutan kerajaan atau hutan larangan. Namun, ada prosedur yang harus dipatuhi.

  • Terowongan Kuno di Bawah Bendungan

    PROYEK Bendungan Tamblang di Buleleng, Bali yang masih berjalan kelak akan memenuhi kebutuhan irigasi. Pada masa lalu pernah ada pembuatan saluran irigasi di tempat yang sama. Terowongan air kuno itu ditemukan di bawah poros fondasi utama Bendungan Tamblang. Tim peneliti Balai Arkeologi Bali sudah meninjau terowongan kuno itu pada 8 Desember 2020. Peneliti mencatat terowongan itu memiliki lebar 70 sentimeter dan tinggi 170 sentimeter. Ada banyak ceruk kecil di dinding terowongan. Kemungkinan dulu digunakan sebagai tempat menaruh sumber penerangan selama proses pembangunan. Agaknya sedimen sudah masuk ke dalam lubang terowongan yang berada di tebing tepi Sungai Aya itu. Keberadaan terowongan air di proyek Bendungan Tamblang menambah penemuan sistem irigasi peninggalan masa Bali Kuno. Balai Arkeologi Bali memperkirakan terowongan kuno itu merupakan peninggalan abad 11. Mereka mengambil rujukan dari Goa Raksasa yang memiliki kemiripan dimensi.

  • Kegagalan Cinta dalam Kisah Zaman Kuno

    CERITA bermula ketika Panji Kudawaningpati, putra mahkota Kerajaan Jenggala, mengunjungi kepatihan. Ia jatuh cinta pada putri Patih Kudanawarsa. Panji pun menikahi Dewi Angreni, putri sang patih. Padahal, Panji sudah bertunangan dengan Sekartaji, putri Kerajaan Kediri. Panji tak mau menikah dengan perempuan lain karena sudah memperistri Angreni. Karenanya Raja Jenggala menyuruh Brajanata untuk membunuh Angreni agar perkawinan Panji dan Sekartaji dapat terlaksana. Panji sedih dan memutuskan berkelana. Panji mengubah namanya menjadi Klana Jayengsari. Dalam pengembaraan, dia melakukan berbagai penaklukkan. Dia mencari kematian lewat pertempuran agar bisa segera berkumpul dengan Angreni.

  • Dewi Sri dan Hariti dalam Masyarakat Jawa Kuno

    PEREMPUAN atau ibu dalam berbagai peradaban kuno dianggap sumber kehidupan. Penjelmaannya sebagai dewi kesuburan dan reproduksi. Di Indonesia, dewi ibu atau dewi kesuburan identik dengan Dewi Sri. Arkeolog Titi Surti Nastiti dalam “Dewi Sri dalam Kepercayaan Masyarakat Indonesia” yang terbit dalam jurnal Tumotowa Vol. 3 No. 1 (2020), menjelaskan kata “Sri” diambil dari bahasa Sanskerta, śrī. Artinya kesuburan, kekayaan, keberuntungan, kesehatan, keindahan, dan personifikasi. Śrī juga biasa dipakai sebagai awalan menyebut nama orang terhormat atau suci, misalnya Śrī Krisna. Pun dalam bahasa Indonesia, misalnya Sri Baginda. Dewi Sri dihormati masyarakat Jawa, Sunda, dan Bali. Legendanya di setiap daerah hampir sama, yakni tentang tumbuhan yang berasal dari tubuh seorang perempuan. Cerita Dewi Sri tertua ditemukan dalam teks Tantu Panggelaran yang ditulis pada abad ke-16. Teks ini berkisah tentang keadaan Pulau Jawa ketika baru diciptakan. Dewa-dewa turun untuk menyempurnakannya. Termasuk Batara Wisnu dengan Batari Sri yang menjelma jadi raja di Mdang Gana bernama Sang Kandyawan dan permaisurinya. Pasangan ini dikaruniai lima orang putra.

  • Mengatur Orang Asing di Jawa Kuno

    ORANG-orang dari mancanegara sudah sejak lama datang ke Jawa. Pemerintah kerajaan di Jawa pun merasa perlu membentuk petugas dan sistem untuk mengatur keberadaan orang-orang asing itu. Munculnya aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta dalam berbagai prasasti merupakan bukti bahwa pengaruh asing sudah diterima masyarakat Nusantara. Contohnya prasasti-prasasti dari Kutai di Kalimantan dan Tarumanegara di Jawa yang berasal dari abad ke-5. “Tapi dulu belum ada penyebutan yang eksplisit tentang orang asing. Baru ada pada masa Airlangga. Selanjutnya makin sering muncul di Prasasti Majapahit,” kata Asri Hayati Nufus dalam webinar berjudul “Kajian Prasasti Masa Airlangga” yang diadakan Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia (PAEI) dalam rangka purnabakti arkeolog Universitas Indonesia, Ninny Soesanti pada Selasa (25/05/2021).

  • Main Judi Masa Jawa Kuno

    BANGO Samparan, seorang penjudi dari Karuman. Suatu hari, dia kalah judi, ditagih tak bisa membayar. Dia kemudian pergi bertapa di Rabut Jalu. Di sana, dia mendengar suara dari langit yang menyuruhnya pulang ke Karuman. Kata suara itu: “Anak saya yang akan melunasi utangmu. Namanya Ken Angrok.” Bango Samparan pun pulang. Dia berjalan semalaman sampai akhirnya bertemu anak yang dimaksud. Dia bawa pulang anak itu dan jadi anak angkat. Besoknya, Bango Samparan mengajak Ken Angrok pergi ke tempat judi. Di sana, dia diajak berjudi oleh malandang. Dia menang. “Sungguh pertolongan dewa,” pikirnya. Bango Samparan kemudian pulang bersama Ken Angrok.

  • Pakaian pada Masa Jawa Kuno

    PADA 992, raja Jawa mengirim utusan ke Cina. Utusan itu membawa persembahan berupa kain sutra bersulam hiasan bunga, sutra bersulam benang emas, dan sutra beraneka warna lainnya. Penduduk Jawa memelihara ulat sutra. Mereka menenun kain sutra yang halus, sutra kuning, dan kain dari katun. Demikianlah berita Sejarah Dinasti Sung (960–1279) mencatat produksi kain di Jawa. Informasi mengenai pembuatan dan penjualan pakaian juga tercatat dalam prasasti. Sebagian besar prasasti mencatat pakaian atau kain merupakan hadiah (pasek pasek) yang diberikan kepada pejabat yang menghadiri upacara penetapan daerah perdikan (sima). Jenis pakaiannya disebut wdihan.

  • Pakaian Mewah pada Masa Jawa Kuno

    ORANG Jawa Kuno sehari-hari mengenakan kain yang menutupi dada hingga bawah lutut. Rambut mereka dibiarkan terurai. Sementara raja memakai mantel dari sutra, sepatu dari kulit, dan rambutnya disanggul memakai kerincingan emas. Demikian catatan utusan Dinasti Sung saat mendatangi Jawa pada abad ke-10. Pada masa itu, pakaian bukan sekadar penutup tubuh, tetapi juga mencerminkan status sosial. Hal itu digambarkan dalam relief candi. Pada relief Prambanan dan Borobudur, laki-laki dan perempuan berpakaian dengan membiarkan bagian dada terbuka. Rambutnya disanggul, diurai sebahu, atau memakai penutup kepala.

  • Memulangkan Artefak Kuno Yunani dari Genggaman Inggris

    SUDAH dua abad lamanya Marmer Parthenon berdiam di Inggris. Sudah bertahun-tahun pula pemerintah Yunani berupaya merepatriasinya, namun hingga sekarang belum juga berbuah. Meski begitu, pihak Inggris bukan berarti tak mau membuka pintu kerjasama. Marmer Parthenon atau acap disebut Marmer Elgin adalah kumpulan artefak kuno berupa 17 patung dan relief berbahan marmer hasil karya seniman Yunani, Phidias. Mulanya, Marmer Parthenon berada di Kuil Parthenon dan bangunan kuno lain di Kompleks Akropolis, Athena, Yunani yang berasal dari masa antara 447-438 SM. Di antara karya itu menggambarkan banyak kisah pertempuran kaum Lapith dan makhluk mitos Centaur. Pada awal abad ke-19, ke-17 artefak itu dibawa Duta Besar (Dubes) Inggris untuk Kesultanan Utsmaniyah Thomas Bruce, alias Lord Elgin, ke Inggris. Sejak 1816, artefak itu menjadi koleksi milik British Museum, London.

  • Susu Kedelai Saridele

    SEJAK tahun 1950, slogan “Empat Sehat Lima Sempurna” yang dipelopori oleh Poorwo Soedarmo selaku ketua Lembaga Makanan Rakyat dikampanyekan secara luas. Konsep tersebut terdiri dari makanan pokok (karbohidrat), lauk-pauk (protein), sayuran, buah-buahan, dan disempurnakan oleh susu. Slogan tersebut masih melekat dalam ingatan masyarakat sebagai simbol pentingnya gizi seimbang. Namun, pada masa itu, susu tidak mudah diperoleh. Dalam Alamanak Pertanian tahun 1954 dijelaskan, susu tergolong mahal karena bergantung pada impor. Susu encer dalam kaleng dijual Rp4,50 per liter, sedangkan susu peras di Jakarta antara Rp4 hingga Rp5. Harga tersebut membuat masyarakat sulit membeli susu, terlebih produksi susu dalam negeri belum memadai. Persoalan lain muncul karena keterbatasan sapi perah. Sekalipun jumlah ternak dapat ditambah, ketersediaan pakan masih sangat terbatas. Melihat kondisi tersebut, pemerintah mencari alternatif pengganti susu sapi yaitu kedelai. Lahirah susu nabati bernama Saridele. Dalam Sejarah Kesehatan Nasional jilid I disebutkan, penyediaan susu tersebut sejalan dengan program pemerintah di bidang kesehatan, seperti higiene lingkungan, kesehatan ibu dan anak, kesehatan sekolah, kesehatan perusahaan, pendidikan kesehatan rakyat, serta perbaikan gizi masyarakat. Program-program itu mendapat dukungan dari WHO, UNICEF, FAO, dan USAID. Bantuan tersebut turut digunakan untuk memberantas penyakit frambusia, malaria, tuberkulosis, kusta, dan penyakit lainnya. Surat kabar Java Bode, 21 Januari 1955, memberitakan, Indonesia menerima bantuan sebesar US$4.750.000 dari UNICEF untuk mengatasi persoalan kesehatan. Salah satu program unggulannya adalah pembangunan pabrik susu nabati di Yogyakarta. UNICEF bekerja sama dengan FAO menyediakan perlengkapan produksi Saridele yang terbuat dari kedelai dan kacang tanah. Pembangunan pabrik menjadi langkah penting bagi pemerintah Indonesia untuk mengembangkan industri susu nasional. Sultan Hamengkubuwono IX menyediakan lahan seluas dua hektar di Muja Muju untuk mendirikan pabrik NV Saridele. Yogyakarta dipilih karena wilayah tersebut merupakan sentra penghasil kedelai dan kacang tanah. Selain itu, ada sumber yang menyebut pemilihan Yogyakarta karena dekat dengan daerah rawan kekurangan gizi seperti Gunungkidul. NV Saridele memiliki target produksi sebesar 593 nutrisi protein per tahun. Namun, proses produksi awal mengalami kendala. Kualitas bahan baku yang belum stabil membuat produksi beberapa kali gagal, sementara Saridele satu-satunya susu lokal yang tersedia. Keterbatasan tenaga ahli juga menjadi tantangan tersendiri. Karena belum tersedia teknisi khusus untuk mengoperasikan mesin pabrik, produksi melibatkan insinyur Angkatan Udara. Pemimpin pertama NV Saridele adalah Letnan Dua Angkatan Udara Suwadi. Dia sebelumnya bertugas sebagai insinyur di Bandung, tetapi ditarik ke Yogyakarta untuk memimpin pabrik susu. UNICEF memberikan bantuan mesin pengolah susu, sedangkan FAO melatih tenaga ahli pangan. Bantuan pinjaman mesin dari UNICEF harus dikembalikan dalam bentuk 150 ribu kaleng susu yang akan didistribusikan kepada masyarakat selama lima tahun pertama produksi Saridele. Produk Susu Saridele. (sarihusada.co.id). Produk Saridele kemudian diuji selama enam bulan. Dalam Kabinet Karya: Menjelang Dua Tahun Kabinet Karya terbitan Kementerian Penerangan tahun 2002 disebutkan Inspeksi Kesehatan Jawa Timur menerima sebagian besar produksi Saridele untuk dibagikan kepada anak-anak sekolah dan berbagai bagian dari Dinas Kesehatan Provinsi. Distribusi tersebut masih bersifat penelitian karena beberapa wilayah masih terancam bahaya kelaparan. NV Saridele kemudian berkembang menjadi produsen susu bayi. Pabrik Saridele inilah cikal bakal pabrik susu bayi SGM yang dikenal luas di Indonesia. Tahun 1962, NV Saridele dinasionalisasi menjadi PN Sari Husada berdasarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 83 Tahun 1961 tentang pendirian Perusahaan Negara “SARI HUSADA” yang diundangkan pada 17 April 1961 dengan modal awal sebesar Rp35 juta. Perubahan besar terjadi ketika UNICEF membantu pengembangan Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) melalui pembagian susu skim. Dalam Perjuangan dan Pengabdian Mosaik Kenangan Prof. Dr. Satrio, Menteri Kesehatan Prof. Dr. Satrio atas nama dokter ahli anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menugaskan PN Sari Husada membuat susu bayi bernama SGM, singkatan dari “Susu, Gula, Minyak”. Susu ini dibuat dari bubuk skim yang dicampur gula, lemak nabati, vitamin, dan mineral. SGM diuji kepada pasien bayi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta dan mendapat respons baik dari masyarakat. Dalam Angkasa terbitan Dinas Penerbangan TNI AU tahun 1965 disebutkan Prof. Te Bek Siang bersama dokter-dokter bagian anak RSCM menguji susu bubuk SGM pada bayi selama sepuluh bulan dengan hasil yang sangat memuaskan. Bahkan, dalam majalah Ekonomi, Keuangan dan Bank bagian II edisi 1–10 tahun 1965 disebutkan 1.025 bayi menjadi bukti keberhasilan penelitian penggunaan susu SGM di RSCM Jakarta. Pada 1965, PN Sari Husada secara resmi ditugaskan memproduksi susu bubuk khusus bayi bernama SGM. Langkah ini dilakukan karena sebelumnya kebutuhan susu bayi masih bergantung pada produk impor seperti Camelpo dan Eledon. Namun, tantangan ekonomi kembali muncul ketika Undang-undang Nomor 2 Tahun 1965 menetapkan pajak penjualan sebesar 20% terhadap produksi susu bayi. Pemerintah kemudian menganggap susu bayi memiliki fungsi medis sehingga layak digolongkan sebagai obat-obatan dan memperoleh keringanan pajak. Arsip Inventaris Ekuin tanggal 30 Agustus 1966 menunjukkan PN Sari Husada menghadapi tekanan ekonomi yang berat akibat tambahan Pajak Penjualan sebesar 400%. Dalam surat kepada Direktorat Pajak Tidak Langsung, perusahaan menjelaskan bahwa beban pajak tersebut mengancam keberlangsungan produksi susu bayi SGM meskipun sebelumnya pemerintah telah menurunkan pajak penjualan dari 20% menjadi 10% demi menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat. Inventaris Arsip Ekuin tanggal 27 September 1966. (Arsip Nasional RI). Permohonan tersebut direspons pemerintah. Arsip Inventaris Ekuin tanggal 27 September 1966 menunjukkan bahwa Departemen Kesehatan meminta pembebasan Pajak Penjualan untuk susu bayi SGM kepada Menteri Keuangan. Pemerintah menilai susu bayi memiliki fungsi medis dan sangat penting bagi pemenuhan gizi masyarakat. Produksi SGM juga sebagai langkah menuju kemandirian industri susu nasional agar tidak bergantung pada produk impor. Sebulan kemudian, arsip Inventaris Ekuin tanggal 4 Oktober 1966 memperlihatkan langkah pemerintah dalam memanfaatkan bantuan luar negeri untuk mendukung produksi susu bayi. Pemerintah Inggris memberikan bantuan penanganan bencana alam, yang sebagian dialokasikan untuk pembelian susu bayi. Akan tetapi, karena harga susu impor jadi mahal, pemerintah mengimpor skim milk dari Hongkong untuk diolah PN Sari Husada menjadi susu bayi SGM. Kebijakan tersebut agar harga susu terjangkau dan menjangkau masyarakat luas. Perkembangan PN Sari Husada terus mengalami perubahan. Tahun 1968, perusahaan ini di bawah PT Kimia Farma sebagai BUMN. Pada 1972, Kimia Farma melakukan joint venture dengan PT Tiga Raksa. Kemudian pada 1983, Sari Husada melakukan IPO di Bursa Efek Jakarta. Pada 1992, PT Tiga Raksa menjadi pemegang saham mayoritas perusahaan. Perjalanan perusahaan berlanjut hingga memasuki pasar internasional. Pada 1998, Sari Husada menjalin aliansi dengan Nutricia International BV (Royal Numico NV). Setelah Danone Group mengakuisisi Royal Numico pada 2008, Danone menjadi pemegang saham mayoritas Sari Husada. Hingga kini, Sari Husada terus memproduksi berbagai produk nutrisi untuk ibu dan anak dari pabriknya di Yogyakarta dan Klaten, Jawa Tengah, dengan dukungan riset internasional dari Danone Research Center di Belanda, Singapura, dan Indonesia. Sejarah Saridele hingga SGM menunjukkan perkembangan industri susu di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan bisnis pangan, tetapi juga erat dengan upaya pemenuhan gizi nasional. Dari upaya mengganti susu sapi dengan kedelai, bantuan internasional, hingga lahirnya susu bayi SGM, seluruh proses tersebut menjadi bagian penting dari sejarah kesehatan masyarakat Indonesia.*

  • Jual-Beli Semasa Bali Kuno

    TAWAR-menawar antara pedagang dan pembeli riuh di Pasar Tradisional Sukawati, Bali, pada 18 Oktober 2022. Pasar yang sudah ada sejak tahun 1983 ini masih menjadi idola wisatawan saat berkunjung ke Bali. Suasana pasar menjadi sensasi tersendiri bagi para wisatawan untuk mengunjunginya. Pasar Sukawati awalnya merupakan pasar seni patung hasil kreativitas seniman Bali. Seiring berjalannya waktu, rupa-rupa benda tersedia di sana. Pengunjung umumnya membeli berbagai souvenir untuk oleh-oleh. Kegiatan jual-beli di pasar sudah ada di Bali sejak sekitar abad IX. Pada masa Bali Kuno, pasar dikenal dengan berbagai istilah seperti pèkèn, tèntèn, pasar, dan rgas pasar. Istilah terakhir merupakan istilah khusus untuk pasar yang buka pada hari-hari tertentu (pasaran).

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page