top of page

Hasil pencarian

9627 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Hind Rajab dan Keheningan yang Memekakkan Telinga

    DI rooftop kantor call center Palestine Red Crescent Society di Ramallah, Tepi Barat, siang, 29 Januari 2024, itu Omar Alqam (diperankan Motaz Malhees) diri bersenda-gurau dengan rekan-rekannya. Namun begitu kembali menerima panggilan di meja kerjanya seusai jam istirahat itu, perasaannya tak pernah lagi sama usai mendengar tangisan bocah 6 tahun, Hind Rajab. Dengan headset -nya, Omar mendengar dengan seksama suara permintaan tolong dari ujung telepon. Sebagai sukarelawan call center PRCS, Omar berusaha menenangkan si penelepon yang berada di utara Kota Gaza. Sejak Oktober 2023 di mana Israel menggempur Jalur Gaza secara membabi-buta dari darat dan udara, semua panggilan darurat warga Gaza dialihkan ke kantor pusat PRCS di Ramallah, sekitar 83,6 kilometer dari Jalur Gaza. “Aku takut. Mereka menembak. Aku mohon jemput aku, ” pinta Hind Rajab. “Siapa namamu?” tanya Omar. “Hind Rajab Hamada. Tolong jangan tinggalkan aku. Aku sendirian,” jawab si bocah. Ternyata situasinya amat gawat. Hind Rajab terjebak dalam kemelut. Serangan tank Israel menghancurkan mobil Kia Picanto hitam yang membawa Hind Rajab beserta sepasang paman dan bibi, serta ketiga sepupunya. Hanya Hind Rajab yang selamat dan terus bersembunyi di kursi belakang mobil sambil minta pertolongan via ponsel. Selugas itu sineas Kaouther Ben Hania mengisahkan awal tragedi Pembunuhan Hind Rajab dalam dokudrama bertajuk The Voice of Hind Rajab . Di antara tiga film di tahun ini – Close Your Eyes Hind dan Hind Under Siege – yang juga sempat diracik sineas-sineas lain tentang tragedi itu, The Voice of Hind Rajab mengangkat lagi kisahnya hanya dengan point of view sukarelawan PRCS yang menerima panggilan darurat Hind Rajab. Tidak hanya Omar yang berusaha menenangkan Hind Rajab. Saat ia harus melapor ke penyelianya, Mahdi Aljamal (Amer Hlehel), headseat -nya diserahkan kepada Rana Faqih (Saja Kilani) dan kadang kepada Nisreen Qawas (Clara Khoury) untuk terus berbicara dan menenangkan Hind Rajab. Dari pencarian data sinyal yang dilakukan Mahdi, diketahui posisi Hind Rajab ada di sebuah jalan dekat SPBU Fares di kawasan Tel al-Hawa, Kota Gaza, Jalur Gaza. Unit ambulans PRCS yang hanya berjarak 2,5 km atau 8 menit dari lokasi Hind Rajab (Willa) Tapi untuk menjemputnya menjadi problem tersendiri. Di Gaza Utara hanya tersisa satu ambulans dan tim first responder : Yusuf Zeino dan Ahmad Madhoun. Mahdi tak ingin gegabah mengirim keduanya meski hanya berjarak 8 menit dari Hind Rajab, sebab militer Israel tak pandang bulu menghantam ambulans manapun tanpa koordinasi keamanan. Koordinasi keamanan melalui setidaknya tiga perantara antara PRCS, Palang Merah Internasional, dan militer Israel. Prosesnya butuh berjam-jam, itupun jika diberi izin dan rute yang disetujui. Padahal, kondisi Hind Rajab sudah begitu gawat. Omar frustrasi. Dia tak berdaya menolong Hind Rajab. Lalu, dari ujung telepon terdengar semburan tembakan dan teriakan Hind Rajab. Hanya keheningan yang tersisa. Omar dan kawan-kawan tenggelam dalam keputusasaan. Apa yang terjadi pada Hind Rajab? Mengapa proses mendapatkan izin penyelamatannya begitu berbelit-belit dan memakan waktu berjam-jam? Baiknya Anda saksikan sendiri The Voice of Hind Rajab . Setelah world premier -nya tayang di Festival Film Venice pada 3 September 2025 dan menerima standing ovation selama 23 menit 50 detik. Film yang juga turut disokong para elite Hollywood sebagai produser eksekutifnya –seperti Brad Pitt, Joaquin Phoenix, Alfonso Cuarón dan Rooney Mara– itu kemudian diputar di berbagai negara, termasuk di beberapa bioskop di Indonesia mulai 26 November 2025. Melawan Lupa Hind Rajab dan Perjuangan Penanggap Pertama Sutradara Ben Hania dan tim produksi tak menghadirkan dokudrama ini muluk-muluk secara sinematografinya. Filmnya bahkan hanya di- shoot di satu lokasi: kantor call center PRCS Ramallah. “Saya sengaja membuatnya hanya di satu lokasi dan tak menyajikan kekejamannya (Israel) karena gambaran-gambaran itu sudah banyak ada di layar kita, di lini masa, di ponsel kita. Yang saya inginkan adalah fokus pada sesuatu yang tak kasat mata: menunggu, rasa cemas, keheningan yang tak tertahankan ketika pertolongan tak jua datang. Kadang apa yang tak bisa Anda lihat itu lebih menghancurkan dari apa yang bisa kita lihat,” dikutip Deadline , 22 Juli 2025. Tidak satu pun adegannya sepanjang durasi 89 menit diiringi music scoring. Toh rekaman asli suara Hind Rajab –yang totalnya berdurasi sekitar 70 menit– sudah cukup membuat penonton bisa menyesapi rasa marah, frustrasi, dan kepedihan dari percakapan Omar dkk. dengan Hind Rajab. Ditambah keheningan yang terasa setelah terdengar rentetan senjata dan jeritan Hind Rajab begitu memekakkan telinga. “Jantung dari film ini sangatlah sederhana dan (tetapi) sangat sulit untuk diterima. Saya tidak bisa terima bahwa ada di dunia ini seorang anak meminta pertolongan dan tidak ada satupun yang datang. Rasanya seperti dunia sudah terbalik dan menghimpit saya. Luka itu, kegagalan itu, adalah tanggung jawab kita semua,” tambah sineas asal Tunisia tersebut. “Saya juga bicara dengan ibu kandung Hind, orang-orang yang berada di ujung telepon yang berusaha menolongnya. Saya mendengarkan mereka, saya menangis, saya menulis (naskahnya). Ini bukan sekadar cerita tentang Gaza. Ini adalah kedukaan universal yang berbicara dengan sendirinya. Dan saya percaya film jadi alat yang lebih kuat daripada breaking news yang gaduh atau rasa lupa dari scrolling (media sosial). Film bisa merawat ingatan. Film bisa melawan amnesia”. Hal lain yang juga ditonjolkan The Voice of Hind Rajab agar tak juga dilupakan publik adalah soal perjuangan para sukarelawan call center dan para penanggap pertama PRCS. Badan kemanusiaan dan pertolongan medis di bawah organisasi Bulan Sabit Merah dan Palang Merah Internasional yang juga berperan banyak menyelamatkan warga sipil Gaza sejak gempuran Israel medio Oktober 2023 hingga hari ini. Meski sudah disepakati gencatan senjata pada 10 Oktober, zionis Israel belum berhenti membantai warga sipil Gaza. Adegan Omar Alqam menunjukkan foto asli Hind Rajab (Mime Films) PRCS sendiri didirikan Dr. Fathi Arafat, adik bungsu pejuang Palestina, Yasser Arafat, pada 57 tahun silam, tepatnya 26 Desember 1968, di bawah naungan PLO atau Organisasi Pembebasan Palestina. Legalitasnya sebagai badan kesehatan dan keselamatan baru diresmikan pada 1 September 1969. PRCS mulai mendirikan klinik-kliniknya pasca-Perjanjian Kairo pada 2 November 1969. PRCS tidak hanya mendirikan kliniknya di kamp-kamp pengungsi di Mesir dan Yordania tapi juga di Lebanon. Inisiatif itu begitu cepat “menular” dan bahkan beberapa klinik secara spontan mengubah nama kliniknya dengan papan nama “Palestine Red Crescent Society”. Hal ini ditemukan sendiri oleh Dr. Fathi Arafat ketika mengunjungi Kamp Pengungsi Tall al-Za’atar di Beirut Timur, Lebanon pada akhir 1969. Ketika ia mendatangi kliniknya sudah ada papan nama PRCS. Dengan ditemani seorang perawat Palestina bernama Nidal, Fathi Arafat menengok keperluan-keperluan dan perlengkapan seadanya di klinik itu. “Kami mendengar bahwa kita sudah mendirikan Bulan Sabit Merah, jadi kami tak ingin menunggu lama. Kami ambil bangsal-bangsal ini dan kami tempatkan tempat tidur kecil, beberapa peralatan, wastafel, dan sebuah selimut putih besar, di mana seorang pelukis di kamp ini melukiskan sebuah (simbol) bulan sabit dan menuliskannya ‘Palestine Red Crescent Society’,” ucap Nidal kepada Fathi Arafat, dikutip Rex Brynen dalam Sanctuary and Survival: The PLO in Lebanon. Inisiatif itu lantas juga mendapat dukungan dari pemerintah Mesir, Lebanon, dan Suriah yang juga terlibat dalam Perjanjian Kairo. Sehingga kemudian PRCS tidak hanya memiliki sejumlah klinik tetapi juga beberapa rumah sakit. “Bulan Sabit Merah Palestina diresmikan pada 1969 (oleh PLO) dengan mengemban tanggung jawab menyediakan fasilitas-fasilitas medis bagi semua warga Palestina, baik sipil maupun para kombatan. Faslitas gratis yang ditawarkan PRCS bagi warga Palestina membutukan banyak keperluan dari (bantuan) negara-negara Arab. PRCS merespon dengan membuka pintu lebar-lebar bagi siapapun yang membutuhkan perawatan medis,” ungkap pernyataan PLO, dikutip Jillian Becker dalam The PLO: The Rise and Fall of the Palestine Liberation Organization. Mulai 1996, PRCS memiliki lebih dari 100 mobil ambulans yang dioperasikan di Tepi Barat dan Gaza. Satu dasawarsa berselang, PRCS – bersamaan dengan MDA atau Perisai David Merah dari Israel, diakui sebagai bagian dan anggota ICRC atau Komite Palang Merah Internasional. Hanya saja sejak Intifada Kedua sepanjang 2000-2008, ambulans-ambulans Bulan Sabit Merah Palestina mulai ikut jadi sasaran Israel. Militer zionis itu menuduh ambulans-ambulans itu dipergunakan para Pejuang Hamas sebagai transportasi pasukan dan persenjataan. Amnesty International dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membantahnya. “Tidak ada penggunaan ambulans-ambulans PRCS untuk mengangkut senjata atau amunisi dan tidak ada penyalahgunaan emblem oleh PRCS,” ungkap kesimpulan Dewan HAM PBB dalam laporannya, “Human Rights in Palestine and Other Occupied Arab Territories: Report of the United Nations Fact Finding Mission on the Gaza Conflict” yang disampaikan pada sesi ke-12 pertemuan Dewan HAM PBB, 15 September 2009. Tak ayal sejak saat itu koordinasi PRCS dengan Palang Merah Internasional beserta Israel acap dipersulit. Hal itu turut tergambarkan di beberapa adegan di film The Voice of Hind Rajab , di atas. Bahwa jika ingin mengirim ambulans ke suatu lokasi di Gaza, PRCS di Ramallah terlebih dulu mesti berkoordinasi dengan Palang Merah Internasional di Yerusalem. Lalu Palang Merah International akan mengkomunikasikannya lagi dengan COGAT atau Koordinator Aktivitas Pemerintah Israel di Wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza, baru ditembuskan ke komando militer lapangan di Gaza. Jika diberi lampu hijau, COGAT akan mengkomunikasikannya kembali kepada Palang Merah Internasional. Baru Palang Merah Internasional akan menginfokan ke PRCS lagi. Sisanya baru PRCS menggerakan ambulans dan para penanggap pertama mereka di Gaza untuk bergerak dengan rute-rute yang sudah ditentukan. Itu pun jika diberikan izin, sebagaimana di atas, akan perlu waktu berjam-jam. Bila ditolak, baik oleh COGAT atau militer di lapangan, PRCS harus mengulang proses melelahkan itu dari awal lagi. Dalam film di atas, ketika tengah frustrasi dengan penolakan COGAT dan militer Israel, pada akhirnya PRCS mencoba “jalan belakang” dengan berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan Palestina. Hasilnya sempat menimbulkan harapan karena PRCS mendapat rute untuk ambulansnya guna mencapai lokasi Hind Rajab dan lampu hijau. Nahas, ambulans yang dikendarai duet penanggap pertama tadi: Zeino dan Madhoun, ikut ditembaki tank Israel, hanya sekitar 300 meter dari lokasi Hind Rajab. Baik Zeino, Madhoun, dan Hind Rajab pun jadi martir. Jasad ketiganya baru ditemukan pada 10 Februari 2024 ketika terjadi gencatan senjata sementara dan pasukan Israel mundur dari kawasan Tel al-Hawa. Tragedinya dan rekaman suara Hind Rajab sempat viral di media sosial dan kanal-kanal berita dunia meski begitu cepat pula tragedinya terlupakan, sebagaimana pembantaian anak-anak Gaza lain oleh zionis Israel. “Setelah banyak kejahatan yang dilakukan, pemerintah Israel selalu punya modus standar: menyangkal, mengalihkan, merekayasa, dan menunggu sampai perhatian dunia berganti ke tempat lain. Kebanyakan media massa ikut berkolaborasi dengan strategi ini yang membuat Israel bisa terus melanjutkan genosidanya. Dalam kasus (Hind Rajab) ini, Israel mengklaim tidak ada pasukan mereka di area itu,” tulis kolumnis Owen Jones di artikel The Guardian , 18 Agustus 2024, “Hind Rajab’s death has already been forgotten. That’s exactly what Israel wants”. Namun banyak masyarakat dunia tak begitu saja ikut arus “strategi” Israel itu. Para mahasiswa Universitas Columbia di New York yang pro-Palestina yang berunjuk rasa pada 29 April 2024, menduduki gedung kampus Hamilton Hall dan menamainya dengan “Hind’s Hall”. Rapper Macklemore merilis lagu protes bertajuk “Hind’s Hall” pula pada 6 Mei 2024 untuk mengenangnya. Sebuah organisasi non-profit Hind Rajab Foundation (HRF) pun didirikan di Brussels, Belgia, medio 2024. Pada 3 Mei 2025, HRF merilis laporan investigasinya dan menemukan klaim bahwa sosok yang paling bertanggungjawab atas pembantaian keluarga Hind Rajab dan kedua penanggap pertama PRCS adalah komandan Brigade Lapis Baja ke-401 Israel, Letkol Beni Aharon sehingga HRF mengajukan kasusnya ke ICC atau Pengadilan Kejahatan Internasional. Tak ketinggalan sebuah komisi PBB di bawah Dewan HAM PBB, Independent International Commission of Inquiry on the Occupied Palestinian Territory including East Jerusalem and Israel, pada 16 September 2025 lalu merilis laporannya terhadap genosida Israel terhadap Gaza bertajuk “Legal analysis of the conduct of Israel in Gaza pursuant to the Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide”. PBB menyertakan tragedi Hind Rajab sebagai salah satu tindakan Israel dalam melakukan genosida di Gaza. “Komisi (PBB) menyoroti pembunuhan lima anak dekat SPBU Faris di kawasan Tel al Hawa di Kota Gaza pada 29 Januari 2024. Pada insiden itu Bashar Hamada Hamouda dan Enaam Mohammad Hamada terbunuh oleh pasukan Israel ketika mengendarai mobil bersama lima anak (empat perempuan dan satu laki-laki) termasuk Layan Hamada yang berusia 15 tahun dan sepupunya, Hind Rajab, berusia 5 tahun. Komisi menemukan bahwa mobil mereka dibidik dan ditembaki beberapa tank, menewaskan orangtua Layan, Bashar dan Eenam, dan tiga saudarinya, membuat Layan dan Hind terluka...pasukan Israel juga menembakkan peluru-peluru tank ke ambulans yang datang ke lokasi untuk mencegahnya mendatangi korban. Hind masih hidup hingga pukul 19:00 hari itu dan kemudian meninggal,” tulis salah satu poin laporan tersebut. Deskripsi Film J udul: The Voice of Hind Rajab Sutradara: Kaouther Ben Hania | Produser: Nadim Cheikhrouha, Odessa Rae, James Wilson Pemain: Motaz Malhees, Saja Kilani, Amer Hlehel, Clara Khoury, Nesbat Serhan Produksi: Mime Films, Tanit Films, Film4, MBC Studios. Watermelon Pictures, Plan B Entertainment Genre: Dokudrama Durasi: 89 Menit Rilis: 3 September 2025 .

  • Pesta Panen dengan Ulos Sadum dan Tumtuman

    WARNA-warni ceria begitu melekat pada motif Ulos Sadum. Dalam tradisi adat Batak, Ulos Sadum berfungsi sebagai handehande, atau kain yang disampirkan pada bahu. Keidentikannya dengan warna-warna cerah seperti merah menggenggam arti sebagai simbol kebahagiaan. Ulos Sadum biasanya dikenakan oleh gadis yang belum menikah. “Sebenarnya yang sudah menikah juga bisa pakai, tapi yang saya mengerti biasanya dipakai untuk gadis yang belum menikah dan pada acara pesta. Cukup ikonik ya Sadum ini, kalau misalnya kita pikir, seperti apa bentuk ulos itu, terus kita pernah lihat yang warna-warni, itulah Sadum. Dan Sadum itu juga macam-macam, ada Sadum Angkola, ada Sadum Toba,” terang Kerri Na Basaria Panjaitan dalam pertunjukan wastra ulos bertajuk “ Mauliate” di Tobatenun Studio & Gallery, Jakarta, 4 Desember 2025. Mauliate  sendiri, lanjut Kerri, berarti terimakasih dalam bahasa Batak Toba. Pertunjukan wastra ini sebagai bentuk ucapan syukur atas satu tahun yang telah dilalui. Terinspirasi dari Festival Gotilon , tradisi untuk mengucap syukur atas tuaian hasil panen di Tanah Batak. Pesta panen gotilon  dulu menjadi ritus adat dalam masyarakat Batak Toba dan berlangsung dua kali dalam setahun. “Tradisi gotilon  telah berlangsung lama sebelum masuknya agama Kristen. Setelah Kristen masuk, [ gotilon] tetap dirayakan di lingkungan gereja,” kata Kerri yang juga pendiri social enterprises  Tobatenun. Ulos Sadum. (Dok. Tobatenun). Ulos Sadum ditenun menggunakan teknik songket yang dalam bahasa Batak disebut jungkit. Teknik jungkit dibuat dengan metode pakan tambah, yaitu menggandakan pakan (benang horizontal yang bergerak) terhadap lungsi (benang vertikal yang diam) untuk menghasilkan motif timbul. Selain ditenun dengan motif-motif warna cerah, Ulos Sadum menjadi populer karena biasa dipakai dalam acara mangulosi  untuk parboru, yang berarti memakaikan ulos untuk perempuan. Selain Ulos Sadum, ulos lain yang ditampilkan ialah Ulos Tumtuman. Dalam bahasa Batak, tumtuman berarti mengikat. Dahulu, Ulos Tumtuman digunakan sebagai ikat kepala laki-laki, khususnya anak laki-laki tertua sebagai simbol kesulungan. Seperti Ulos Sadum, Ulos Tumtuman juga dibuat dengan teknik songket atau jungkit. Dalam P esona Kain Indonesia: Kain Ulos Danau Toba,  Threes Emir dan Samuel Wattimena menyebut Ulos Tumtuman yang ditenun dengan teknik pakan tambahan atau songket digunakan sebagai tali (ikat kepala) raja atau tetua Batak. Tali-tali yang bermotif digunakan oleh anak sulung atau tuan runah yang sedang menyelenggarakan acara adat Batak. Tak hanya itu, motif Tumtuman banyak terinsipirasi dari ikat pinggang ( hohos ) para raja yang disebut suranti , serta selendang pelengkap ulos hande  bagi tokoh kerajaan dan permaisuri. Motifnya juga memiliki kemiripan dengan bagian tinorpa  pada Ulos Ragi Hidup, bagian yang memiliki teknik tenun serupa. Ulos Tumtuman. (Dok. Tobatenun). “Tapi kemudian ia (Ulos Tumtuman) menjadi satu kain set sebagai sarung atau selendang dan menjadi simbol yang cukup luks. Karena dulu orang Batak suka pakai Songket Palembang kalau beracara. Kenapa kita enggak bisa pakai motif-motif kita sendiri padahal kita banyak sekali motif [Batak] yang kaya. Lahirlah Tumtuman ini menjadi satu jenis ulos yang bisa bersanding setara dengan Songket Palembang,” jelas Kerri. Artisan Ulos Sadum dan Ulos Tumtuman tersebar di penjuru Tanah Batak. Mulai dari Silindung dan Tarutung di Tapanuli Utara hingga Angkola dan Mandailing di Tapanuli Selatan. Melalui pertunjukan wastra ini, Kerri berharap membangkitkan minat dan ketertarikan generasi muda terhadap kebudayaan Batak sebagai wujud pemajuan kebudayaan bangsa.*

  • Onghokham Sejarawan Selebritas

    SEBELUM kajian sejarah publik berkembang seperti sekarang, penulisan sejarah Indonesia berkutat pada tema-tema sejarah politik dan peristiwa besar. Namun, Onghokham mengulik tema yang tak banyak dilirik para sejarawan sejawatnya. Dia menulis tentang sejarah kuliner, sejarah seksualitas, hingga sejarah alam gaib. Apa yang dilakukan Ong terbilang nyentrik dan unik. Apalagi Ong menuangkannya dalam kolom pers dengan bahasa popular. Selain itu, produktivitas Ong menulis di media membuat namanya dikenal publik. “Pada tahun 1970-an, 1980-an, Ong satu-satunya sejarawan senior yang menulis tentang ilmunya dalam media-media. Itu yang membuat Ong menjadi semacam celebrity historian  pada zaman itu,” kata sejarawan David Reeve dalam diskusi bertajuk “Onghokham Sejarawan Multidimensi” di Gramedia Jalma, Blok M, Jakarta Selatan, 5 Desember 2025. David Reeve merupakan sejarawan Australia dari Universitas New South Wales sekaligus sahabat dekat Onghokham. Reeve termasuk yang mendampingi Ong di masa-masa terakhirnya hingga wafat pada 30 Agustus 2007. Reeve menulis kenangan tentang Ong sekaligus perjalanan hidupnya sebagai seorang sejarawan dalam biografi berjudul Tetap Jadi Onghokham: Sejarah Seorang Sejarawan  yang terbit pada 2024. David Reeve dalam diskusi publik bertajuk “Onghokham Sejarawan Multidimensi”. (Martin Sitompul/Historia.ID). Tidak seperti Ong, menurut Reeve, sejarawan pada masa itu tidak tertarik menuliskan pemikiran atau riset mereka di media. Reeve menyebut nama-nama sejarawan beken seperti Sartono Kartodirdjo , Taufik Abdullah , dan Mona Lohanda yang merasa segan menulis untuk media massa. Bagi mereka, menulis artikel di media massa hanya sementara, tidak berbobot, terlalu singkat, murahan, bahkan terkesan seperti pelacur intelektual. Berbeda halnya dengan melakukan riset panjang, meneliti arsip, dan membukukannya yang dirasa lebih kekal sebagai warisan intelektual. “Mereka tidak mau membuang talenta dan bakat mereka untuk menulis di pers. Lain sekali dengan sekarang, semua sejarawan muda sekarang buru-buru lari terbirit-birit untuk muncul di media, muncul di televisi, podcast , dan sebagainya,” tandas Reeve dengan bahasa Indonesia yang fasih. Di antara para begawan itu, Reeve mengklaim, Onghokham adalah sejarawan senior satu-satunya yang aktif menulis dalam pers. Aktivitas Ong sebagai sejarawan-kolomnis di media dimulai setelah dirinya menyelesaikan studi doktoral dari Universitas Yale pada 1975. Ong menulis sejarah di media-media terkemuka seperti Kompas , Tempo , The Jakarta Post , hingga jurnal Prisma . Sebagai sejarawan-kolumnis, Ong kerap mengangkat isu sejarah yang aktual, terkadang tabu, namun sebenarnya lekat dengan kehidupan manusia sehari-hari. Ia misalnya menulis tentang “Kekuasaan dan Seksualitas: Lintasan Sejarah Pra dan Masa Kolonial” dalam Prisma , edisi Juli 1991 yang mengangkat tema khusus “Seks dalam Jaring Kekuasaan”. Dalam edisi Prisma Februari 1983, Ong menulis tentang budaya korupsi di Indonesia, “Tradisi dan Korupsi”. Ong juga menulis tentang sejarah tempe dalam Kompas , 1 Januari 2000, “Tempe Sumbangan Jawa untuk Dunia”. Ong bahkan pernah menjadi pembicara dalam “Konferensi Tuyul ” di Semarang pada 1985, yang berkaitan dengan kepercayaan mistik tradisional masyarakat Jawa. Ratusan orang hadir dalam seminar yang diselenggarakan Yayasan Parapsikologi Semesta itu. Hampir semuanya berasal dari kalangan dukun dan paranormal. Ong barangkali satu-satunya sejarawan yang memberikan pemaparan dari perspektif sejarah. Ong kemudian menjelaskan bahwa eksistensi tuyul dan makhluk demit lainnya, seperti Nyai Blorong dan Nyai Roro Kidul , dibentuk lewat konstruksi sosial budaya masyarakat sebagai legitimasi. Ong menuliskannya dalam artikel di Kompas , 13 November 1985, “Legitimasi Melalui Alam Gaib”. “Ong selalu tertarik dengan kepercayaan-kepercayaan tradisional terutama di Jawa. Dan salah satunya adalah Ong menjadi ahli tuyul. Ong terkenal karena tuyul,” tutur Reeve, “Ong adalah satu-satunya sejarawan atau ilmuwan serius terkenal dan muncul di Konferensi Tuyul di Semarang.” Onghohkam semasa muda. Di lingkungan akademis, Ong dikenal sebagai sejarawan dan dosen jurusan sejarah Universitas Indonesia (UI). Namun, ketertarikan Ong untuk menulis dalam pers sudah dilakoninya jauh sebelum menjadi mahasiswa sejarah UI. Ong awalnya menempuh studi hukum di UI seangkatan dengan Harry Tjan Silalahi yang kemudian menjadi politisi Partai Katolik. Namun, Ong tak kerasan belajar hukum. Ong lebih gandrung sejarah, yang menurut Reeve, terinsipirasi dari guru sejarahnya, Broeder Rosarius di HBS (setara SMA) Surabaya. Ketika masih kuliah hukum, Ong mulai menulis di majalah Star Weekly  pada 1950-an. Ong banyak menulis tentang sejarah orang Tionghoa peranakan. Hingga pada 1960, Ong memutuskan pindah menjadi mahasiswa sejarah di Fakultas Sastra UI. Setelah memperoleh gelar sarjana dengan risetnya tentang Gerakan Samin dan Runtuhnya Hindia Belanda, Ong kemudian melanjutkan pendididikan doktoral ke Universitas Yale. Di Amerika, Ong meraih dua keberhasilan. Pertama, gelar doktor dengan disertasi tentang Karesidenan Madiun Abad 19, dan yang kedua, keahlian memasak. Ong lebih bangga pada bagian yang terakhir. “Dia lulus dari Yale tahun 1975 dan kembali ke Jakarta untuk menjadi publik intelektual, sejarawan publik,” tutur Reeve. Menurut Reeve, periode 1971–2001 adalah tahun-tahun produktif Ong sebagai sejarawan publik. Selain menulis kolom sejarah di media, Ong juga banyak diwawancarai wartawan untuk diminta tanggapannya atas apa yang terjadi dari sudut pandang sejarah. Atas caranya menyampaikan sejarah, Ong menjadi favorit wartawan. Tidak hanya wartawan domestik, tapi juga wartawan asing seperti dari Amerika, Jepang, Belanda, dan Australia. “Jadi, Ong adalah [nara]sumber yang sangat baik untuk wartawan-wartawan. Dia tahu topik-topik yang sangat hangat. Dan dia bisa menghubungkan politik hari ini dengan sejarah,” terang Reeve. Dengan pengetahuannya yang luas, begitu pula caranya bertutur, Ong juga menjadi tamu langganan kedutaan asing. Ong sering kali diundang oleh kedutaan dengan alasan yang sama seperti wartawan. Sebagai sejarawan, Ong mengerti konteks politik modern. Dia tahu cerita-cerita mutakhir dari suratkabar sekaligus membicarakan sejarah Indonesia. Selain itu, Ong punya selera humor yang bagus seperti pelawak tunggal atau komika di zaman sekarang. “Di kedutaan, orang suka mengeremuni Ong dan kadang-kadang tertawa. Ong bikin jokes yang saya kira, dia dengan sengaja mengarangnya di rumah dan persiapannya matang. Tapi, kalau kita ke dinner  lain minggu itu, jokes  yang sama keluar lagi. Hanya jokes- nya yang sama tapi audiensnya baru,” celetuk Reeve. Tak pelak, lingkungan pergaulan Ong begitu luas, tak terbatas di kalangan sejarawan. Popularitas Ong juga relatif lebih dikenal. Pada tahun-tahun produktifnya, Ong kesohor sebagai sejawaran yang doyan pesta, makan, dan minum. Namun, Ong juga meninggalkan legasinya: artikel-artikel sejarah yang tersebar di berbagai media masa yang masih relevan untuk dibaca.*

  • Perang Jawa Memicu Kemerdekaan Belgia dari Belanda

    LUKISAN penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh jadi simbol perlawanan bangsa Indonesia atas kolonialisme Belanda. Seperti diketahui, Perang Jawa yang dinyalakan Diponegoro antara 1825–1830, menyebabkan kerugian besar bagi Belanda. Kas pemerintah kolonial habis terkuras. Begitu pula tentaranya banyak berguguran di tangan pasukan Diponegoro. Hanya lewat tipu muslihat, Belanda akhirnya berhasil menangkap Diponegoro sekaligus mengakhiri Perang Jawa. Tidak hanya berkecamuk di Jawa, perlawanan Diponegoro turut mengguncang kekuasaan Belanda di daratan Eropa. Konsentrasi yang tercurah sepenuhnya terhadap Perang Jawa memicu revolusi di salah satu koloni Belanda, yaitu Belgia. Revolusi Belgia berujung pada kemerdekaan Belgia tanggal 4 Oktober 1830 sekaligus memisahkan diri dari Kerajaan Belanda. “Perang Diponegoro ternyata sangat berkaitan sekali dengan negara Belgia. Pada 1825 sampai 1830, fokus Belanda tercurah kepada Perang Diponegoro, termasuk keuangan, logistik, dan lain-lain. Akibatnya, negara jajahan Belanda seperti Belgia tidak terperhatikan sehingga terjadi revolusi Belgia. Dan akhirnya Belgia bisa merdeka dari Belanda,” terang Suryagung, arsiparis sekaligus ketua tim pameran dan diorama ANRI, ketika memandu Historia.ID  dalam pameran arsip 75 tahun hubungan Indonesia dan Belgia di Gedung ANRI di Jl. Gadjah Mada, Jakarta Barat, (9/12). Arsip Perang Jawa yang berkaitan dengan Belgia dalam pameran arsip  “Belgia dan Indonesia: Arsip Persahabatan”. (Faraya Maulida/Historia.ID). Dalam pameran arsip bertajuk “Belgia dan Indonesia: Arsip Persahabatan” itu, lukisan penangkapan Diponegoro menjadi wahana pembuka untuk memaknai hubungan historis Indonesia-Belgia. Selain itu, tersua beberapa arsip, antara lain Arsip Diponegoro: Yogyakarata Residency , No. 214, tentang maklumat perang pemerintah kolonial Belanda terhadap Pangeran Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi. Arsip tersebut juga menyatakan rasa frustrasi pemerintah kolonial untuk meringkus kedua pangeran Jawa tersebut. Satu arsip lagi menyangkut pelukis Raden Saleh dalam Algeemene Secretarie MGS , No. 4551. Arsip ini memuat surat keputusan bertanggal 24 Juni 1859, No. 49, yang menetapkan penugasan Raden Saleh sebagai pelukis kerajaan untuk menyelesaikan dan memperbaiki koleksi potret Gubernur Jenderal di Istana Buitenzorg (Bogor), sekaligus menetapkan pembayaran honorariumnya. Fakta menarik tentang Raden Saleh bahwa gurunya adalah pelukis terkemuka kebangsaan Belgia. “Raden Saleh sendiri belajar melukis secara formal kepada pelukis Belgia Antoine Auguste Joseph Payen. Sebagai salah satu pelukis Indonesia terbesar, ternyata Raden Saleh belajarnya sama pelukis Belgia. Orang Belgia sangat bangga sekali dengan fakta itu,” tutur Suryagung. Lukisan Antoine Auguste Joseph Payen karya Raden Saleh (1847). (Katalog pameran arsip 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Belgia). Selain Payen, Raden Saleh juga terinspirasi oleh karya seni Belgia yang dipamerakan di berbagai kota Eropa antara 1842 hingga 1844. Karya-karya maestro seni Belgia turut memberikan pengaruh mendalam terhadap gaya artistik dan proses kreatif Raden Saleh. Namun, koneksi Indonesia-Belgia tak berhenti di Raden Saleh. Pada 1855, Belgia telah membuka konsulat yang pertama di Batavia. Seturut catatan Regeering Almanak voor Nederlandsh-Indie 1898, Belgia kemudian membentuk lagi kantor konsulat di Semarang, Surabaya, Padang, dan Makassar. Menjelang berakhirnya masa kolonial Hindia Belanda, Arsip Konsulat Jenderal Belgia 1938–1940 menunjukkan keberadaan sebuah konsulat Belgia di Medan. Berdirinya konsulat Belgia di sejumlah kota membuktikan kepentingan ekonomi Belgia maupun komunitas Belgia sudah eksis di Hindia Belanda. Ketika Indonesia merdeka, Belanda kembali datang untuk menjajah kembali. Di masa perang mempertahankan kemerdekaan, Indonesia juga menjalankan perjuangan secara diplomatik. Belgia pun hadir di sela-sela perjuangan diplomasi Indonesia. Dalam Komisi Tiga Negara (KTN), Belgia mewakili Belanda, Australia mewakili Indonesia, sedangkan Indonesia dan Belanda menunjuk Amerika Serikat sebagai mediator. Komite ini bertujuan untuk menghentikan permusuhan dan memfasilitasi perundingan damai antara Indonesia dengan Belanda pasca agresi militer Belanda pertama pada 1947. Hasil prakarsa KTN ini kemudian menghasilkan perundingan lanjutan yang dikenal sebagai Perundingan Renville pada awal 1948. “Belgia hanya mewakili Belanda dan itu tujuannya untuk perdamaian. Bukan semata-mata mendukung Belanda untuk tetap berkuasa di Indonesia. Mereka kan pernah dijajah Belanda juga,” beber Suryagung. Belgia termasuk salah satu negara Eropa paling awal yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Hubungan diplomatik dengan Belgia secara resmi terjalin pada 1949, ditandai dengan penunjukkan Ide Anak Agung Gde Agung sebagai duta besar Indonesia pertama untuk Belgia. Sementara itu, Belgia menunjuk Paul Vanderstichelen sebagai duta besar Belgia pertama untuk Indonesia. Presiden Soeharto menjadi presiden Indonesia pertama yang berkunjung ke Belgia pada 1972. Dilanjut dengan kunjungan balasan Raja Baudouin dan Ratu Febiola ke Indonesia pada 1974. Raja dan Ratu Belgia itu mendatangi sejumlah destinasi wisata Indonesia, mulai dari Kebun Raya Bogor, Candi Borobudur, hingga air terjun Sipiso-piso yang menghadap Danau Toba. “Raja Baudouin dan Ratu melakukan kunjungan ke Indonesia selama 13 hari. Betah juga ya mereka di sini,” ujar Suryagung berkelakar. Cuplikan komik Tintin di Bandara Kemayoran. Pencipta karakter Tintin, Hagen, merupakan komikus kebangsaan Belgia. (Faraya Maulida/Historia.ID). Hubungan diplomatik Indonesia dengan Belgia terus terjalin pada pemerintahan-pemerintahan selanjutnya. Presiden Abdurrahman Wahid, Joko Widodo, hingga Prabowo Subianto telah melakukan kunjungan kenegaraan ke Belgia. Pada 2008, Pangeran Philippe yang kini menjadi raja Belgia juga berkunjung ke Indonesia. Jalinan bilateral kedua negara meliputi berbagai bidang kerja sama: politik, ekonomi, hingga seni dan pengetahuan. Duta Besar Belgia untuk Indonesia Frank Felix mengakui kilas balik yang menarik mengenai hubungan mendalam dan abadi antara Indonesia dengan Belanda. “Dari masa pasca Perang Jawa, yang turut membentuk kondisi bagi revolusi dan kemerdekaan Belgia pada tahun 1830, hingga peran penting Belgia dalam Commitee of Good Offices  atau Komisi Tiga Negara, yang mendukung perjalanan Indonesia menuju kedaulatan. Sejarah bersama kita kaya dan beragam, dari kunjungan kenegaraan timbal balik pada 1970-an hingga puluhan kerja sama yang bermanfaat dalam bidang pendidikan, pembangunan, perdagangan, investasi, dan budaya,” kata Frank Felix dalam testimoninya untuk pameran 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Belgia. Pameran arsip “Belgia dan Indonesia: Arsip Persahabatan” berlangsung hingga Januari 2026.*

  • Bintang Telenovela Venezuela di Layar Kaca Indonesia

    ARTIS Venezuela pernah memesona penonton Indonesia. Salah satunya bintang telenovela Gabriela Spanic. Ia sampai berkunjung ke Indonesia untuk menemui penggermarnya pada 2000. Gaby disambut bak ratu. Kemanapun ia pergi selalu dirubungi para penggemarnya.  “Saya senang berada di Indonesia. Hingga penerbangan selama 14 jam dari Venezuela ke Jakarta, lelahnya hilang semua,” tutur Gaby dalam bahasa Spanyol, seperti dikutip Bali Post , 2 April 2000.  Gabriela “Gaby” Spanic lahir di Ortiz, negara bagian Guarico, Venezuela, 10 Desember 1973. Gaby mempunyai saudari kembar, Daniela yang berprofesi sebagai model. Gabriela Spanic mengawali kariernya sebagai artis telenovela setelah memenangi kontes kecantikan Miss Guarico pada 1992. Namanya melejit di Indonesia setelah sukses membintangi telenovela La Usurpadora  pada 1998.  La Usurpadora ( Wanita Perampas Kekuasaan ) diproduksi oleh Televisa, rumah produksi telenovela asal Meksiko, sebanyak 102 episode. Ketika tayang di Indonesia pada 1999, serial telenovela ini lebih dikenal dengan Cinta Paulina yang tayang di stasiun televisi TPI setiap hari Senin sampai Jumat pukul 18.00-19.00. Dalam Cinta Paulina , Gaby berpasangan dengan aktor asal Meksiko, Fernando Colunga, yang dijuluki raja telenovela.  Cinta Paulina  berkisah tentang Paola Bracho dan Paulina Martinez, sepasang saudari kembar yang tak saling kenal. Paulina hidup miskin bersama ibunya di kota tepi pantai Cancun, Meksiko. Sementara itu, Paola diadopsi keluarga kaya yang kemudian dinikahi sebagai istri kedua oleh pengusaha tajir, Carlos Daniel Bracho, yang diperankan Fernando Colunga.  Konflik bermula ketika Paola tidak sengaja berpapasan di hotel mewah langganannya dengan Paulina yang bekerja sebagai pelayan hotel. Kesempatan itu dimanfaatkan Paola untuk memaksa dan menjebak Paulina untuk mengisi perannya di rumah keluarga Bracho. Paulina menyamar sebagai Paola di tengah keluarga Bracho, sedangkan Paola bersenang-senang dengan lelaki lain.  Gabriela Spanic dalam serial telenovela La Usurpadora . (IMDb). Namun, Paulina dengan karakternya yang tulus justru diterima oleh keluarga Bracho, termasuk Abuela Piedad (Libertad Amarque), nenek Carlos Daniel Bracho, serta Carlitos (Sergio Miguel) dan Lisette (Maria Solares), anak-anak Carlos Daniel Bracho dari pernikahan pertamanya dengan Elizabeth. Berbeda dengan Paola yang dibenci karena sifatnya yang arogan dan suka foya-foya, terutama oleh iparnya seperti Estafania (Chantal Andere), adik angkat Carlos Daniel Bracho. Jalan cerita kian pelik setelah Paola kembali dari plesirannya dan meminta Paulina untuk hengkang. Di sisi lain, Paulina telah berhasil merebut hati keluarga Bracho yang menginginkannya tetap tinggal.  Atas kepiawaiannya memainkan dua peran antagonis dan protagonis sekaligus di Cinta Paulina , masyarakat Indonesia terutama kaum ibu begitu menggandrungi sosok Gabriela Spanic. Selain itu, Gaby berparas jelita bak bidadari, dengan mata bulat dan senyum menawan khas wanita Venezuela. Begitu populernya telenovela yang dibintangi Gaby ini sampai melahirkan fenomena “demam Cinta Paulina” , ketika orang tak ingin melewatkan jam tayangnya dan sudah bersiap di depan televisi pukul enam sore.  “Gabriela Spanic atau Gaby yang dalam Cinta Paulina  berperan sebagai si jahat Paola sekaligus si baik Paulina, menjadi populer berkat La Ususpadora  yang telah ditayangkan di lebih dari 12 negara. La Usurpadora  yang ditayangkan di AS awal tahun 1999, menurut KMEX-TV termasuk disukai pemirsa dan berada di atas telenovela populer lainnya, Acapulco Cuerpo y Alma ,” lansir Kompas , 11 November 1999.  Berkunjung ke Indonesia   Pada 2000, Gabriela Spanic diundang ke Indonesia dalam rangka jumpa penggemar. Gaby menyinggahi sejumlah tempat wisata seperti Candi Borobudur, Candi Prambaranan, Keraton Yogyakarta, dan Malioboro. Setelah penayangan perdananya, Cinta Paulina ditayangkan bergiliran oleh stasiun televisi swasta Indonesia lainnya. Di stasiun televisi lokal seperti JTV Surabaya, telenovela ini bahkan ditayangkan dalam sulih suara bahasa Jawa.  Tak hanya di Indonesia, popularitas La Usurpadora  menyebar ke berbagai negara. Telenovela ini sukses dan dijual ke 57 negara. Menurut Bali Post , Gaby dan pasangan mainnya, Fernando Colunga diberi gelar superstar oleh Univision Communications Inc., jaringan televisi berbahasa Spanyol terbesar di Amerika. Dari polling yang mereka lakukan, Cinta Paulina terpilih sebagai telenovela terfavorit dan Gaby sebagai bintang utamanya menyabet gelar bintang yang paling digemari. Corraima Torres dalam serial Kassandra. (IMDb). Selain Gabriela Spanic, Miguel de Leon, yang tak lain suami Gaby sendiri, merupakan aktor asal Venezuela yang cukup dikenal di Indonesia. Aktor kelahiran Caracas ini paling diingat atas karakternya dalam serial telenovela Carita de Angel  yang tayang di RCTI pada 2000. Dalam C arita de Angel , Miguel berperan sebagai Luciano, ayah dari pemeran utama Dulcemaria (Daniela Aedo). Pernikahan Miguel dengan Gaby berakhir setelah mereka bercerai pada 2003.  Sebelum Gabriela Spanic, beberapa artis Venezuela lainnya juga berhasil merebut perhatian penonton Indonesia, seperti Coraima Torres dan Astrid Carolina Herrera. Coraima Alejandra Torres lahir di Valencia, Venezuela pada 1973. Ia dikenal atas peran utamanya dalam serial Kassandra  (1992) dan kemudian Suenosy Espejos ( Cermin Impian , 1995).  “Banyak permintaan dari pemirsa penggemar telenovela yang menanyakan kapan lagi SCTV menampilkan Kasandra (Corraima Torres) dalam telenovela yang lain. Namun, permintaan itu baru dapat kami penuhi sekarang,” ungkap Uki Hastama, humas stasiun televisi SCTV dikutip Berita Yudha , 27 Desember 1996.  Sementara itu, Astrid Carolina Herera termasuk artis Venezuela yang lebih dulu malang melintang dalam dunia telenovela. Astrid yang lahir di Caracas, Venezuela pada 23 Juni 1963 memenangkan kontes kecantikan dunia Miss World pada 1984. Setelahnya, ia membintangi sejumlah serial telenovela. Salah satunya yang paling terkenal di Indonesia ialah Morena Clara ( Si Cantik Clara ) pada 1995, yang tayang di SCTV pukul 11.00-12.00 WIB setiap Senin-Jumat. Astrid berperan sebagai Clara, pemeran utama, yang berkisah tentang perjuangan mencari jati diri sebagai anak yang terbuang. Tayang sebanyak 137 episode, serial ini termasuk telenovelanya yang paling sukses di dunia.  Astrid juga pernah berkunjung ke Indonesia pada 1995. Seperti dilansir Berita Yudha , 27 Juni 1995, kedatangan Astrid ke Indonesia dalam acara temu penggemar di Plenary Hall Jakarta Hilton Convention Center. Astrid mengunjungi sejumlah kota besar, seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.  Namun, dari semuanya, Gabriela Spanic barangkali artis telenovela Venezuela yang paling dikenal dan berkesan bagi masyarakat Indonesia. Sampai saat ini, Gaby masih eksis di dunia hiburan Amerika Latin. Meski terlihat menua karena faktor usia, sisa-sisa kecantikannya masih terpancar.*

  • Prajurit Keraton Ikut PKI

    WOENTOE dan Tombeng merupakan dua pemuda asal Minahasa yang menjadi tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL). Keduanya bertugas di Batalyon Infanteri ke-15 di Cimahi, Bandung. Pada pertengahan 1927, keduanya berada di Semarang entah karena sedang bertugas atau ada kegiatan lain non-tugas. Ketika di Semarang itu lah pada 13 Juli 1927 Woentoe dan Tombeng bertemu seorang Kopral Wakidi alias Prawirosoengoto dari Legiun Mangkunegara. Ketiganya lalu membicarakan politik.  Algemeen Dagblad  tanggal 26 Juli 1927 menyebut, selain membicarakan tentang Rusia dan Tiongkok yang bergolak, mereka bicara soal “pemerintahan asing dan kaum kapitalis.”     Kopral dari pasukan keraton Mangkunegara itu kemudian kembali ke Solo. Legiun Mangkunegara merupakan hulptroepen  (pasukan bantuan) bagi militer Belanda. Ketika itu yang berkuasa di keraton Mangkunegaran adalah Kanjeng Pangeran Aria Adipati Mangkunegoro VII (Raden Soerjo Soeparto). Woentoe dan Tombeng kemudian juga pergi ke Solo naik mobil. Kedua orang Minahasa itu menuju tangsi tentara kavaleri di Solo guna mereka mencari prajurit kavaleri KNIL bernama Rangkap. Ternyata Rangkap baru saja dari Manado.   Rangkap amat senang bertemu Woentoe dan Tombeng. Suasana hangat menyelimuti pertemuan mereka bertiga. Rangkap lalu diajak ikut dalam sebuah pertemuan di rumah Atmodikromo, yang juga serdadu Mangkunegara, pada Jumat (15 Juli 1927) malam.   Atmodikromo alias Soekarmin berpangkat soldaat   schoenmaker  (prajurit pengurus sepatu) di Legiun Mangkunegara. Ia bawahan dari Wakidi. Di sana, Rangkap berkenalan dengan pria yang tampak hebat di matanya dengan lencana kopral di seragamnya. Wakidi lalu bercerita soal pangkatnya.   “Saya telah melakukan yang terbaik dan belum lama ini diangkat menjadi kopral juru tulis," terang Wakidi kepada Rangkap. Usia Wakidi alias Prawirosoengoto ketika itu 44 tahun. Sedangkan Soekarmin masih 33 tahun. Singkat kata, Rangkap tertarik ikut gerakan yang dihelat di rumah Soekarmin itu. gerakan yang dimaksud adalah gerakan politik. Orang Minahasa dalam KNIL punya catatan setidaknya tiga kali memberontak terhadap Belanda di abad ke-20. Rangkap lalu diberi uang 500 gulden dan diminta mengajak prajuarit-prajurit kavaleri lain di kesatuannya untuk mendukung gerakan rahasia mereka. Rangkap setidaknya hendak membujuk 36 prajurit kavaleri di Solo untuk ikut dalam gerekan. Pun Kopral Prawirosoengoto, juga terus mencari kawan di kesatuannya.   “Dalam bulan ini, akan ada pemberontakan komunis, dan saat itu kau tidak boleh menembak mereka,” terang Kopral Prawirosoengoto.    Di masa itu, prajurit yang terlibat dalam komplotan itu makan mie yang cukup enak dan tak lupa mengajak orang-orang yang mau ikut untuk makan enak pula. Rangkap juga suka berbagi uang kepada kawan-kawannya di kesatuannya yang orang Madura. Masing-masing 5 gulden. Namun, tiada rahasia yang benar-benar aman di dalam kesatuan militer. Dua di antara kawannya itu lalu melapor kepada Kapten Gaerlings di garnisun Solo tentang adanya gerakan makar. Kerusuhan yang direncanakan terjadi pada 17 dan 18 Juli 1927 di Solo itu akhirnya mati sebelum lahir. Pembersihan dengan cepat dilakukan. Rangkap jelas diperiksa komandan kesatuannya, Letnan Dua Fockema. Kopral Prawirosoengoto dan Atmodikromo juga kena gulung.   Rencana pemberontakan militer itu kerap dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada 13 November 1926, orang sipil banyak terlibat pemberontakan yang terkait dengan PKI pula. Seperti orang sipil yang terlibat pemberontakan PKI pada 13 November 1926 di Jawa, Atmodikromo dan Wakidi juga diberi hukuman yang sama. De Indische Courant tanggal 20 Juli 1928 memberitakan, Kopral Prawirosoenggoto alias Wakidi dan Prajurit Atmodikromo alias Soekarmin lalu dibuang ke Boven Digoel. Keduanya adalah propagandis Sarekat Rajat Baroe yang tinggal di Surakarta. Kedua bekas Legiun Mangkunegaran itu pun menjalani isolasi di tengah belantara Papua yang sunyi dan sulit untuk melarikan diri.*

  • Sekolah Tertua di Depok

    SEDARI usia 18 tahun, Johanna Laurentia Laurens sudah menjadi guru. Mula-mula dia mengajar di Bogor, lalu Batavia, Solo, Pontianak, Makassar, Batavia, Tangerang, dan terakhir Sukabumi. Dia pensiun pada 1923 di Sukabumi lalu kemudian tinggal di Depok.   Pada 1948, Johanna sudah berusia 80 tahun. Diperkirakan dia lahir sekitar 1868 di Depok. Johanna  dari keluarga guru. Kakeknya seorang guru terpandang. Tuan Laurens yang dikenal sebagai Masteeer Toea alias Tjang Mètèng, demikian orang-orang menyapanya.   Tjang Mètèng, disebut Jan-Karel Kwisthout dalam Drie eeuwen Depok , guru pertama pada Depoksche School yang dirintis misionaris Kristen di Depok. Koran Het Nieuws van den dag voor Ned. Indie  tanggal 1 Juli 1939 menyebut Tjang Mètèng pernah sekolah di Jakarta dan diajar pendeta Inggris EW King, yang melayani Gereja Rehoboth di Jatinegara. Riwayat Depok terkait dengan komunitas Kristen Protestan pribumi di selatan Jakarta –Depok dianggap singkatan dari De Eerste Protestantse Organisatie van Kristenen (artinya Organisasi Kristen Protestan Pertama). Dulunya, kawasan Depok adalah tanah milih pegawai tinggi bagian pembukuan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) kaya raya bernama Cornelis Chastelein (1657-1714). Yano Jonathan dalam Depok Tempo Doeloe  mencatat, pada 18 Mei 1696, Cornelis Chastelein membeli tanah-tanah itu dari VOC. Tanah itu lalu diberdayakan hingga menghasilkan tebu, lada, pala dan kopi. Chastelein yang punya banyak budak memberdayakan mereka untuk menggarap tanah-tanah itu. Tanah-tanah itu kemudian dibagikan kepada 12 keluarga budak-budaknya yang masuk Kristen. Marga-marga para budaknya itu adalah Bacas, Isakh, Jonathans, Jacob, Joseph, Leon, Laurens, Leander, Tholense, Soedira, Samuel, dan Zadokh. Para bekas budak Chastelein itu dianggap sebagai Kristen pribumi pertama di tanah itu.   Gereja tempat orang-orang Kristen Depok itu menjadi tujuan dari pelayanan pendeta-pendeta Eropa.  De Locomotief  tanggal 5 Juli 1939 menyebut Scheurkogel, Akersloot, W. Medhurst dan H. Wentink adalah misionaris yang melayani gereja Depok pada abad ke-19. Semasa Medhurst melayani di sana, terjadi hal penting: sebuah sekolah diadakan. Diperkirakan sekolah itu dimulai pada 1830. Empat tahun kemudian, Medhurst melaporkan sekolah itu punya 52 murid.   Tjang Mètèng diajak Medhurst mengajar di sekolah itu. Tjang Mètèng kemudian dibantu Meester Jacob, saudaranya. Dengan menggunakan bahasa Melayu sebagai pengantarnya, mata pelajaran yang diberikan adalah membaca, menulis dengan huruf Latin dan Arab, aritmatika, menyanyi, dan agama. Tambahan terjadi ketika Wentink melayani gereja di Depok, di mana kerajinan tangan juga diajarkan.   Mula-mula sekolah itu menempati gedung yang akan rusak. Kemudian pada 1837, kegiatan belajar-mengajar diadakan di gedung baru. Dari masa ke masa, gedungnya pun mengalami perbaikan dan perluasan. Gedung sekolah ini dulunya sering disebut sebagai Russische Gevangenis (Penjara Rusia) setelah diperluas. Sekolah ini dulunya dikenal sebagai sekolah Kristen dengan doa yang mengawali dan mengakhiri hari belajarnya. Beberapa bulan setelah Indonesia Merdeka, kerusuhan anti-Belanda yang membabibuta di Depok terjadi pada Oktober 1945. Gedoran Depok, demikian orang menyebutnya, membuat nyawa orang-orang Depok terancam amuk massa rakyat yang tak mengenyam pendidikan formal sekolah-sekolah kolonial dulu.   Nyawa Johanna Laurentia Laurens juga terancam. Namun, nyawa pensiunan guru ini tertolong berkat bantuan dua mantan muridnya yang tergabung dalam Tentara Nasional Indonesia (TNI). Mula-mula dia diamankan di Kamp Bogor sebelum dibawa ke Jakarta. Setelahnya, Johanna tinggal di Jalan Mampang.   Sementara itu, sekolah pertama di Depok tempat kakek Johanna bernama Tjang Mètèng mengajar dulu, tetap bertahan mesti telah berganti “wajah”. Gedung Ebenhaezer, demikian tempat itu disebut, sempat menjadi gedung pertemuan Komunitas Depok dan kendati tetap menghelat kegiatan belajar-mengajar.   “Kini, Ebenhaezer telah kembali pada fungsi semulanya sebagai gedung sekolah dengan nama SMA Kasih,” tulis Praswasti Pembangunan Dyah Kencana Wulan dalam Digitalisasi Depok Lama: Sejarah, Peristiwa, dan Tinggalan Materinya .*

  • Buku Sejarah Indonesia, Highlight Akar Peradaban hingga Menjadi Indonesia

    PENULISAN kembali sejarah Indonesia yang jadi bagian dari perayaan 80 tahun kemerdekaan Indonesia, akhirnya tiba pada peluncurannya . Kendati sempat menimbulkan polemik, buku sebanyak 11 jilid itu diluncurkan pada Minggu (14/12/2025) petang di Plaza Intan Berprestasi, Kementerian Kebudayaan RI, Jakarta. Buku itu berjudul Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global.  Ditulis oleh 123 penulis dari 34 perguruan tinggi dan 11 penulis dari lembaga non-perguruan tinggi se-Indonesia. Tak lupa diampu 20 editor jilid dan tiga editor umum: Prof. Dr. Susanto Zuhdi (Universitas Indonesia), Prof. Dr. Jajat Burhanudin (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), dan Prof. Dr. Singgih Sulistiyono (Universitas Diponegoro). “Kita memfasilitasi para sejarawan menulis sejarah. Kalau sejarawan tidak menulis sejarah, lantas bagaimana kita merawat memori kolektif bangsa kita?” ujar Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon dalam agenda peluncuran buku tersebut. Ke-10 jilidnya meliputi sejarah panjang bangsa Indonesia sedari awal. Menurut editor umum Singgih, 10 jilid plus 1 jilid “Faktaneka dan Indeks” mencoba menarasikan proses “menjadi Indonesia” yang dimulai dari periode yang sangat awal, tepatnya di Jilid 1, Akar Peradaban Nusantara. Lalu Jilid 2, Nusantara dalam Jaringan Global: Perjumpaan dengan India, Tiongkok, dan Persia berkelindan ke Jilid 3, Nusantara dalam Jaringan Global: Timur Tengah. “Dari jilid satu terjadi komunikasi dan interelasi di antara berbagai macam suku bangsa di Indonesia. Kemudian juga berinteraksi dengan dunia global yang kemudian akhirnya disusul juga karena kegiatan perdagangan, pelayaran. Akhirnya kita terlibat secara aktif di dalam perdagangan dan pelayaran internasional dengan India, dengan China, dengan Persia. Kemudian juga disusul dengan jejaring pelayaran dan maritim dengan Timur Tengah sehingga menghasilkan kebudayaan Indonesia, kebudayaan Nusantara yang sangat khas dan berbeda dengan kawasan lain,” jelas Singgih. Lantas disusul Jilid 4 Interaksi Awal dengan Barat: Kompetisi dan Aliansi  (IV). Lalu Jilid 5 Masyarakat Indonesia dan Terbentuknya Negara Kolonial 1800-1900 , hingga Jilid 6 Pergerakan Kebangsaan , serta Jilid 7 Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan, dan Jilid 8 dengan tajuk Konsolidasi Negara Bangsa: Konflik, Integrasi dan Kepemimpinan Internasional (1950-1965). “Kita, ada satu jilid yang meneruskan jilid sebelumnya, yaitu bagaimana pemimpin kita pada waktu itu di bawah Bung Karno (Presiden Sukarno, red), melakukan konsolidasi negara bangsa dan mencoba menampilkan diri sebagai pemimpin dunia. Kemudian disusul dengan masa pemerintahan Orde Baru yang dipandang berfokus kepada stabilitas ekonomi, politik, dan keamanan. Meskipun di balik itu ada banyak paradoks yang terjadi sehingga akhirnya nanti ditutup dengan jilid yang terakhir tentang konsolidasi demokrasi,” tambahnya. Yang dimaksud adalah Jilid 9 Pembangunan dan Stabilitas Nasional: Era Orde Baru, (1967-1998). Lantas ditutup dengan Jilid 10 Dari Reformasi ke Konsolidasi: Demokrasi (1998-2024) , serta Jilid 11 Faktaneka dan Indeks. Meski tentunya diakui pula oleh Menteri Fadli Zon bahwa ke-11 jilid buku Sejarah Indonesia  itu belumlah sempurna. Makanya ia hanya menegaskan bahwa buku itu seperti sekadar  highlight  atau pembuka jalan bagi sejarah-sejarah yang lebih detail lagi. “Saya kira ini  highlight. Kalau sejarah kita ditulis secara lengkap harusnya 100 jilid. Jadi ini adalah  highlight dari perjalanan soal akar peradaban Nusantara. Ada sejarah yang saya kira penting untuk kita tulis dari salah satu jilid ini tetapi harus kita pertajam, perluas karena kroniknya cukup lumayan banyak, dinamikanya banyak, yaitu sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia 1945-1950. Kita juga perlu menulis sejarah tentang Majapahit yang komprehensif, sejarah tentang Sriwijaya, sejarah tentang Pajajaran, tentang kerajaan-kerajaan, kesultanan-kesultanan, maupun perjuangan-perjuangan lainnya,” terang Fadli. Menetapkan Hari Sejarah Selain peluncuran buku, Fadli Zon juga menetapkan tanggal 14 Desember sebagai Hari Sejarah lewat Surat Keputusan Menteri Kebudayan No. 206/M/2025 tentang Hari Sejarah tanggal 8 Desember 2025. “Ada usulan dari Masyarakat Sejarawan Indonesia tentang penetapan Hari Sejarah. Disesuaikan dengan satu peristiwa seminar sejarah pada tanggal 14 Desember 1957 di Universitas Gadjah Mada (UGM) karena waktu itu kita baru merdeka, lagi melakukan konsolidasi dan menuliskan sejarah dengan cara pandang Indonesia, Indonesia-sentris,” jelasnya. Sebagaimana diketahui, lanjut Fadli, Belanda punya versi berbeda ketika menulis jejak sejarahnya di Indonesia. Sehingga kemudian banyak menimbulkan terminologi-terminologi berbeda dalam sebuah peristiwa sejarah. “Belanda tidak merasa pernah menjajah Indonesia, mungkin, dan apa yang dilakukan merupakan bagian dari modernisasi. Bagi kita apa yang terjadi itu adalah penjajahan. Bagi Belanda Aksi Polisionil. Bagi kita Agresi Militer. Jadi banyak terminologi-terminologi yang berubah dan saya kira ini merupakan satu tuntutan zaman, bagaimana kita memandang sejarah dari perspektif Indonesia dari sisi Indonesia-sentris ini,” lanjutnya. Seperti disebutkan di atas, penetapan tanggal 14 Desember seolah turut memperingati bagaimana tokoh-tokoh sejarah, politikus, cendekiawan, hingga jurnalis berkumpul di UGM dalam Seminar Sejarah Nasional I, 14-18 Desember 1957. Seminar itu bak upaya lanjutan dari terbentuknya Panitia Sedjarah Nasional tahun 1951 yang anggota-anggotanya antara lain Mohammad Yamin, Husein Djajadiningrat, dan RM Ngabehi Poerbatjaraka. Seminar Sejarah Indonesia I di UGM pada 14-18 Desember 1957 disokong Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. Dalam seminar itu, visi dan aspek Indonesia-sentris –sebagaimana digaungkan Fadli Zon– sejatinya sudah eksis sejak seminar itu. Soal visi dan aspek Indonesia-sentris hingga periodisasi sejarah, para hadirin sama-sama satu kata. Hanya saja ketika sudah menyangkut konsepsi filsafat, terjadi “pertempuran” argumentasi dan retorika panas antara Moh. Yamin dan Soedjatmoko. Yamin adalah eks Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1953-1955) dan sudah punya reputasi dengan karya historiografi 6000 Tahun Merah Putih (1951) yang kata pengantarnya diberikan langsung oleh Presiden Sukarno. Sedangkan Soedjatmoko berasal dari kalangan diplomat dan kaum intelektual Partai Sosialis Indonesia (PSI). Ia hadir untuk mewakili Mohammad Hatta yang sakit dan berhalangan hadir. “Yang satu (Yamin) pacak dan lincah yang lain (Soedjatmoko) agak kaku bicaranya. Yang satu bertubuh lebar, sedangkan yang lain jangkung dan langsing. Yang satu orator, yang lain esais. Yang satu pandai mengucapkan kata-kata dan semboyan yang saban-saban memancing tepok tangan yang riuh dari pendengar yang berjumlah ratusan orang. Yang lain senantiasa berbicara dengan tenang; paling banyak reaksi di muka pendengarnya berupa senyuman,” tulis mingguan Star Weekly edisi 28 Desember 1957. Pada perdebatan itu, tampak panitia seminar cenderung mendukung Yamin. Akan tetapi tak sedikit komunitas sejarah yang terbatas condong mendukung Soedjatmoko. Hadir pula dalam seminar itu Sartono Kartodirdjo yang masih sejarawan muda. Ia mengakui meskipun seminar itu belum signifikan menghasilkan buku sejarah versi Indonesia-sentris, setidaknya sudah ada kesadaran menuju ke sana dan jadi tonggak penting penulisan sejarah di era berikutnya. “Meskipun seminar tidak memenuhi harapan peserta, tetapi tidak sedikit manfaatnya untuk memperdalam kesadaran akan peranan sejarah nasional sebagai sarana penting untuk pendidikan warga negara Indonesia, terutama untuk menimbulkan kesadaran nasionalnya dengan mengenal identitas bangsanya melalui sejarahnya,” tulis Sartono di kolom prakata buku Sejarah Nasional Indonesia (1975).*

  • Opsir Jepang Membelot di Front Sumatra

    PASCA Jepang menyerah kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945, nasib para serdadu Jepang di Indonesia mengalami ketidakjelasan. Resminya, mereka harus menyerahkan diri kepada Sekutu sebagai pemenang perang. Namun nyatanya sebagian kecil memilih untuk membelot ke kubu pejuang Indonesia dan terlibat aktif dalam perlawanan terhadap Belanda pada 1946-1949. Mengacu kepada catatan arsip Yayasan Warga Persahabatan Indonesia-Jepang yang berkedudukan di Jakarta, usai Perang Dunia II terdapat 903 eks serdadu Jepang yang ikut andil dalam Perang Kemerdekaan Indonesia. Namun menurut peneliti sejarah asal Jepang Eiichi Hayashi, jumlah sebenarnya bisa jadi lebih banyak dari itu.

  • 20 Januari 1946: Tentara Jepang Dipukul Mundur ke Medan

    BERITA menyerahnya Jepang kepada Sekutu cukup mengejutkan sejumlah pemimpin Aceh, khususnya yang bekerja sama dengan Jepang. Tersiar pula kabar pasukan Sekutu akan tiba di Aceh untuk merampas senjata Jepang dan mengembalikan mereka ke negerinya.  Rakyat Aceh lebih dulu merampas senjata Jepang dengan penuh perjuangan. Jepang menolak menyerahkannya lantaran terikat kesepakatan dengan Sekutu. Amran Zamzami dalam Peranan Rakyat Aceh dalam Perang Kemerdekaan 1945–1949 menulis, perampasan senjata di sejumlah tempat meninggalkan korban jiwa dari pihak Aceh.

  • Posisi AURI dalam Pertempuran Laut Aru

    PETAKA terjadi di Laut Arafuru (Aru) pada 15 Januari 1962. Satu dari tiga kapal Motor Torpedo Boat (MTB) AL bernama KRI Matjan Tutul tenggelam kena sergapan kapal perang Belanda. Misi pendaratan di Pantai Selatan Papua itu berakhir dengan kegagalan sekaligus kekalahan telak. Dalam pertempuran yang tidak seimbang itu, Deputi Kepala Staf AL Komodor Josaphat "Yos" Sudarso yang berada dalam KRI Matjan Tutul gugur. Pada 19 Januari 1962, Presiden Sukarno menggelar rapat Dewan Pertahanan Nasional di Istana Bogor. Sejumlah perwira tinggi hadir, termasuk Kepala Staf AD, Kepala Staf AU, Kepala Staf AL, dan Kepala Kepolisian RI. Dengar pendapat dalam pertemuan itu menimbulkan friksi antar matra. Angkatan Udara (AURI) dianggap tidak memberikan perlindungan yang memadai dalam operasi inflitrasi tersebut.

bottom of page