Hasil pencarian
9710 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ketika Rahib Katolik Bertamu ke Majapahit
BAPA Suci umat Katolik, Paus Fransiskus, dijadwalkan melawat ke Indonesia awal September ini. Paus Fransiskus menjadikan Indonesia, negara dengan penduduk mayoritas muslim, sebagai destinasi pertama dalam perjalanan apostoliknya ke kawasan Asia Pasifik. Selain Indonesia, pemimpin Takhta Suci Vatikan itu juga akan ke Papua Nugini, Timor Leste, dan Singapura. Paus Fransiskus dijadwalkan bertandang ke Jakarta kurun 3-6 September dengan aneka agenda, mulai dari bersua presiden beserta para pejabatnya dan para tokoh masyarakat lintas agama di Istana Negara, hingga pertemuan dengan para agamawan Katolik di Gereja Katedral Jakarta. Tak ketinggalan, Paus juga akan memimpin misa akbar terbuka di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Indonesia sendiri sudah menjalin hubungan diplomatik dengan Takhta Suci Vatikan sejak 1950. Pun sudah pernah dua kali kedatangan sang pemimpin Katolik. Pertama , kunjungan Paus Paulus VI pada Desember 1970. Kedua , Paus Yohanes Paulus II yang melawat pada Oktober 1989. Keduanya sama-sama disambut Presiden Soeharto.
- Nawaksara Ditolak, Terbit TAP MPRS XXXIII/1967
SILATURAHMI kebangsaan yang dihadiri Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri dan perwakilan keluarga Presiden RI ke-1 Sukarno dihelat pimpinan MPR RI hari ini, Senin, 9 September 2024. Selain Megawati, hadir pula di Ruang Delegasi, Gedung Nusantara V MPR/DPR/DPD RI itu Guntur Soekarnoputra sebagai perwakilan keluarga Bung Karno. Dalam pertemuan itu, Ketua MPR Bambang Soesatyo bersama pimpinan MPR lain menyerahkan surat pimpinan MPR tentang dicabutnya TAP MPRS Nomor 33/MPRS/1966. TAP MPRS Nomor 33 produk hukum yang mengakhiri kekuasan Sukarno sebagai presiden. Ia merupakan "kunci penyelesaian" kemelut politik tanah air yang membara sejak G30S meletus tahun 1965.
- Ozzy Osbourne Ditolak Jadi Tentara
DISLEKSIA tak hanya membuat John Michael Osbourne alias Ozzy Osbourne merasa menjadi bocah terbodoh dan jadi bahan olok-olok di kelasnya. Dia juga sampai putus sekolah hinggga masa remajanya menjadi kacau. Ozzy yang dari keluarga kelas pekerja itu tumbuh menjadi bocah bandel. Kendati begitu, dia terpikir untuk membuat ayahnya senang. “Umurku 17 tahun dan uring-uringan waktu mencoba masuk tentara. Aku ingin melihat dunia dan tembak orang sebanyak mungkin,” aku Ozzy seperti dicatat Harry Shaw dalam Ozzy Talking Ozzy Osbourne in His Own Words . Namun, asa Ozzy pupus. Pada 1965, militer Inggris menolak remaja bermasalah yang pernah tiga minggu dipenjara itu.
- Mitologi Toar-Lumimuut, Malesung, dan Minahasa
PADA suatu hari di zaman dahulu, Putri Rumimoto alias Lumimuut mesti menyeberangi lautan demi mencapai sebuah tempat. Maka, dengan kawalan Panglima Tumura alias Toar dan pasukannya, Lumimuut pun mengarungi lautan. Ombak sedang besar dan arus laut begitu kuat saat itu karena badai sedang “pentas”. Nahas pun tak bisa ditolak. Lumimuut beserta para pengawalnya hanyut dibawa ombak ke arah selatan. Mereka akhirnya menemukan sebuah pulau yang dinamakan Luzon dan Luzon Baru. Pulau Luzon kemungkinan Pulau Luzon yang di Filipina. Pulau Luzon Baru itu disebut pula sebagai Molusan. “Moluson kemudian disebut Malesung oleh keturunannya,” tulis A.E. Sinolungan di artikelnya di Majalah Maesan nomor 10, September 1986, hingga ada istilah zaman Malesung.
- Gula dari Tulang-Belulang Prajurit di Waterloo
HINGGA detik ini, baru dua sisa kerangka manusia yang ditemukan tim sejarawan dan arkeolog yang bekerjasama dengan yayasan Waterloo Uncovered di situs Pertempuran Waterloo yang kondang itu. Puluhan ribu lainnya masih menimbulkan pertanyaan besar sampai jawabannya diungkap tim. Pertempuran Waterloo, 18 Juni 1815, jadi momen penentuan bagi petualangan Napoléon Bonaparte menaklukkan Eropa. Namun, pasukan koalisi gabungan Inggris, Prussia, Belanda, Kerajaan Hanover, Nassau, dan Brunswick berhasil menghabisi pasukan Prancis dalam pertempuran yang menewaskan lebih dari 60 ribu prajurit baik di pihak Prancis maupun pasukan koalisi itu. Dari puluhan ribu prajurit yang tewas itu, sebuah kerangkanya ditemukan pertama kali pada medio Juli 2012. Kerangka itu terpendam di dekat parkiran mobil salah satu situs memorial Waterloo, Lion’s Mound di Wallonia, Belgia. Menukil Independent , 5 April 2015, kerangka prajurit itu bahkan teridentifikasi bernama Friedrich Brandt, berusia 23, dan merupakan kombatan dari Kerajaan Hanover yang bersekutu dengan Inggris.
- Kala Napoléon Dianggap Putra Nabi
LUKISAN cakrawala yang didominasi terik mentari perlahan membiru berhias gradasi jingga saat Brigjen Jean-Pierre Doguereau bersama detasemen artilerinya tiba di desa sekitar Rahmanieh (kini El Rahmaniya), Mesir, 19 Juli 1798. Ia bersyukur perjalanan pasukannya tak menemui gangguan kala berangkat dari Wardan di pagi buta. Sebaliknya, penduduk desa justru berbaik hati dengan berbagi makanan dengan pasukannya yang kelelahan plus perlengkapan dan pakaian yang sama sekali tak ramah cuaca ekstrem Mesir yang panasnya menyengat. “Kami berangkat bersama (pasukan infantri) Demi-Brigade ke-13 pada 19 Juli sebelum fajar dan melewati beberapa desa yang cocok untuk istirahat. Kami beristirahat di bawah pohon saat mengetahui Jenderal Bonaparte tidak jauh dari posisi kami dan diharapkan bisa bertemu dengannya malam ini juga setelah menikmati telur dan persediaan lain dari para penduduk,” tulis Brigjen Doguereau dalam catatannya, Journal de l’Expédition d’Égypte ( Guns in the Desert: General Jean-Pierre Doguereau’s Journal of Napoleon’s Egyptian Expedition ). Jenderal Napoléon Bonaparte malam itu memang sudah mengaso di kampnya di Rahmanieh. Meski begitu, isi kepala sang panglima tertinggi militer Republik Prancis terbagi antara dua hal. Pertama, kabar tentang perselingkuhan istrinya, Joséphine, dengan Hippolyte Charles di Paris. Kedua, kabar pendaratan pasukan Kesultanan Utsmaniyah di Aboukir.
- Napoleon Mati Muda di Bonjol
DI BAWAH pimpinan Kapten Kraft, sepaasukan kecil tentara Hindia Belanda bergerak ke arah Semawang, tempat 500 orang pasukan Padri berada. Kubu kaum Padri itu sendiri dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Perang Padri bukan hal mudah bagi Belanda. Terlebih, Perang Jawa membuat fokus dan finansial pemerintah kolonial jadi bermasalah Hindia Belanda. Maka setelah Perang Jawa (1825-1830) selesai, Perang Padri kembali menjadi lebih fokus pemerintah lagi. Pada 27 April 1835, Kapten Kraft menyerang benteng pertahanan orang Padri, namun gagal. Kemalangan Kapten Kraft berlanjut. Pada 3 Mei 1835, Kapten Kraft sedang bersana prajurit peniup terompet ( Hoornblazer ) bernama Valour. Mereka bertarung melawan tiga orang Padri. Salah satunya berhasil melukai Valour, namun Kapten Kraft berhasil membunuhnya.
- Ketika Napoleon Kena Batunya di Rusia
SEBAGAI seorang presiden dari satu-satunya negara Uni Eropa yang memiliki nuklir, Emmanuel Macron membuka opsi deterrence atau penggentar untuk menangkal Rusia yang dianggap sebagai ancaman bagi Eropa. Rusia kini masih bertahan dengan invasinya ke Ukraina sejak Februari 2022. Pada Rabu (5/2/2025) lalu, Presiden Macron akan membuka opsi dan pembahasan untuk memperluas program penangkalan nuklir. Tidak hanya dengan para sekutunya di Eropa, Macron juga berharap Amerika Serikat mendukungnya untuk “mengeroyok” Rusia. Presiden Rusia Vladimir Putin yang dituding sebagai ancaman bagi Eropa mencoba meresponsnya dengan kepala dingin. Dengan setengah menyindir, Putin mengingatkan Prancis dan siapapun tentang kegagalan memalukan Napoleon Bonaparte yang kondang itu di tanah Rusia pada 213 tahun lampau.
- Strategi Napoleon di Balik Kabut Austerlitz
HUJAN salju dan kabut menyamarkan persiapan La Grande Armée, pasukan tersohor Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte (diperankan Joaquin Phoenix) di Desa Telnitz, wilayah Kekaisaran Austria pada pagi 2 Desember 1805. Sesaat setelah pengintai melihat pergerakan pasukan Austria, Napoleon segera menyiagakan para jenderalnya. Napoleon sengaja hanya menempatkan satu resimen di Dataran Tinggi Pratzen. Pasukannya yang lebih besar plus meriam-meriamnya bersembunyi di balik pepohonan di lembah Goldbach di sisi kanan desa. Tak berapa lama, infanteri dan kavaleri musuh menyerbu kubu pertahanan pasukan Prancis yang berkemah di desa. Pertempuran Austerlitz pun dimulai.
- Napoleon yang Sarat Dramatisasi
DI tendanya yang terletak di padang pasir dekat Kairo, Mesir, Jenderal Napoleon Bonaparte (diperankan Joaquin Phoenix) makan siang dengan lahap beberapa waktu pasca-Pertempuran Piramida (21 Juli 1789). Sang adik Lucien Bonaparte (Matthew Needham) turut menemani di hadapannya. “Apakah ada batasan dari hal yang mestinya aku katakan padamu?” ujar Lucien. “Seharusnya tidak ada,” jawab Napoleon. Lucien pun memberanikan diri membongkar rahasia bahwa Joséphine (Vanessa Kirby), istri Napoleon, main serong dengan seorang perwira muda Hippolyte Charles (Jannis Niewöhner). Napoleon pun langsung menatap nanar dan selera makannya hilang mendengar kabar tak sedap itu.
- Para Perempuan dalam Buaian Napoleon
SUATU malam di sebuah pesta pada akhir abad ke-18, sesosok puan jelita berambut pendek (diperankan Vanessa Kirby) mencuri perhatian Napoleon Bonaparte muda (Joaquin Phoenix). Pun juga sebaliknya. Di tengah keriuhan bangsawan dan perwira yang berpesta, keduanya sama-sama merapat untuk menuntaskan rasa penasaran, siapa gerangan dirinya? Saat itu nama Napoleon baru mulai naik daun. Perwira muda asal Pulau Korsika itu belum lama “menyelamatkan” revolusi Prancis dengan meraih kemenangan genting di Pengepungan Toulon (29 Agustus-19 Desember 1793).
- Leon Salim Bocah Pergerakan Nasional
MOHAMAD Noer dan Idroes pusing pada hari itu. Guru kelas dan guru kepala di Vervolgschool (Sekolah Sambungan) milik pemerintah di Danguang-Danguang itu harus menyambut kedatangan Inspektur Pendidikan Pribumi yang seorang Belanda. Tiga siswa mereka dipanggil hari itu. Siswa-siswa itu dihadapkan ke inspektur Belanda tersebut. “Mulai hari ini Tuan tidak boleh lagi bersekolah di sini. Tuan dikeluarkan. Tuan tidak akan diterima belajar di sekolah-sekolah gubernemen (pemerintah) karena tuan mendirikan dan memimpin Barisan Pemuda,” kata si inspektur kepada ketiga siswa tadi. Ketiga siswa itu terkejut. Mereka tidak menyangka akan diperlakukan seperti itu. Kejadian yang terkisah dalam Pengalaman Tak Terlupakan Pejuang Kemerdekaan Sumbar-Riau itu terjadi pada 1925.






















