top of page

Hasil pencarian

9627 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Omar Dani, Sukarno Kecil dari AURI

    JAKARTA, 19 Januari 1962. Pukul 10 pagi, dua perwira Angkatan Udara menghadap Presiden Sukarno di Istana Merdeka. Yang pertama adalah orang nomor satu di jajaran AU, Laksamana Suryadi Suryadarma. Seorang lagi, perwira menengah, penerbang tulen berpangkat kolonel udara. Sosoknya tampan, jangkung, dan berkumis tipis. Omar Dani, namanya. “Mulai saat ini kamu yang bertanggung jawab atas AURI. Ada pertanyaan?” kata Presiden Sukarno kepada Omar Dani sebagaimana terkisah dalam biografinya Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku: Pledoi Omar Dani yang disusun Benedicta Surodjo dan J.M.V. Soeparno.

  • Petualangan Interniran Jerman di Pulau Nias

    MEI 1940, kabar jatuhnya Belanda ke tangan Nazi Jerman menggemparkan seluruh negeri jajahan. Kota Rotterdam hancur lebur digempur pasukan Hitler. Perlawanan tentara Belanda berhasil dimatikan. Ratu Wilhelmina pun terpaksa kabur ke London, Inggris pada 15 Mei 1940. Jatuhnya Negeri Belanda itu menimbulkan keresahan di kalangan pejabat tinggi di seluruh wilayah jajahannya, terutama di Hindia Belanda yang memiliki kekayaan alam melimpah. Menurut Nino Oktorino dalam Nazi di Indonesia: Sebuah Sejarah yang Terlupakan , dalam keadaan seperti itu Gubernur Jenderal A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer langsung mengumumkan keadaan darurat di Hindia Belanda.

  • Kisah Prajurit Doyan Kawin

    DI usia 18 tahun,  Tjo Peng An sudah berani mengawini Kho Misin Nio. Perkawinan pemuda-pemudi Tionghoa satu kampung itu terjadi atas perjodohan orangtua si gadis. Pesta pernikahan pun dihelat pada tahun 1918 itu juga. Hadir dalam pernikahan di Karanganyar itu para pemuka Tionghoa setempat.   Namun, setelah kawin dengan Kho Misin Nio, Tjo Peng An masuk ke dalam dunia pengangguran sehingga dia sulit membiayai hidup istrinya. Kondisi itulah yang membualatkan tekadnya untuk meninggalkan istrinya dengan orang tuanya, sementara Tjo Peng An pergi merantau ke Karangjambu. Kemungkinan, Karangjambu –juga Karanganyar–itu berada di Kabupaten Purbalingga.   Di Karangjambu, Tjo Peng An ditampung oleh seorang Jawa bernama Amatredjo. Induk semangnya itu punya seorang putri bernama Moertidjah. Tjo Peng An kepingcut pada putri induk semangnya itu. Gayung bersambut, Amatredjo bahkan tak keberatan putrinya dikawini Tjo Peng An yang ekonominya tidak meyakinkan itu. Tjo Peng An sendiri lalu ke Purworejo, di mana depot perekrutan tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) berada. Tjo Peng An berjuang ingin keluar dari kesulitan ekonominya dengan cara umum yang dilakukan para pemuda Jawa di sekitar Banyumas dan Purworejo era itu, jadi serdadu. Dia pun mendaftarkan dirinya. Tjo Peng An tak pakai nama Tionghoa-nya kala mendaftar, tapi memakai nama Jawa: Kartopawiro.   Di ketentaraan, tulis Algemeen Handelsblad tanggal 9 Juli 1930, dirinya punya kelebihan. Alhasil dia bisa dapat pangkat hingga Hospitaalsoldaat  (prajurit kesehatan) kelas dua.   Tjo Peng An alias Kartopawiro kemudian masuk Islam demi bisa kawin dengan Moertidjah binti Amatredjo. Begitu semua persyaratan telah dipenuhi, pesta perkawinan mereka dihelat di Batavia. Setelah di Batavia, Hospitaalsoldaat  Kartopawiro ditugaskan ke luar daerah Jawa selama beberapa tahun. Moertidjah sebagai Nyonya Kartopawiro tentu harus mau ikut ke mana Kartopawiro bertugas. Namun, kemudian hubungan Kartopawiro dengan Moertidjah tidak awet. Kartopawiro menceraikan Moertidjah.   Usai bercerai, Kartopawiro pada 1925 mengambil cuti untuk menjenguk orangtuanya di Karanganyar. Di sana, dia bertemu lagi dengan Kho Misin Nio yang lama ditinggalkannya namun belum diceraikannya. Maka Kho Misin Nio dijadikannya lagi sebagai istrinya, dengan cara yang lebih resmi di mata hukum Belanda, Staatsblad  1924 No. 557, jo 558.   Setelah cuti, Kartopawiro ditugaskan ke Magelang. Sementara Kho Misin Nio tetap tinggal di kampungnya. Jauh dari istri sah, Kartopawiro di Magelang kepincut dengan perempuan setempat yang bernama Paryem. Kartopawiro ingin menikahinya tapi sengaja diam-diam saja soal perkawinan sahnya dengan Kho Misin Nio, yang tak dia ceraikan.   Paryem akhirnya dinikahi Kartopawiro. Kabar perkawinan Kartopawiro itu sampai juga ke telinga orangtua Kho Misin Nio. Maka keluarga Kho Misin Nio pun bergegas ke Magelang. Kartopawiro dilabrak. Kartopawiro kemudian memutuskan hubungan perkawinannya dengan Paryem.   Namun, itu belum bisa memuaskan hati Kho Misin Nio. Istri Kartopawiro itu lalu melaporkan ke pihak militer. Alhasil, Kartopawiro alias Tjo Peng An dihukum pengadilan militer dua bulan kurungan karena perkawinannya yang tumpang tindih. Begitulah yang dikisahkan koran Algemeen Handelsblad tanggal 9 Juli 1930 dan Deli Courant  edisi 1 Juli 1930.*

  • Banjir Besar di Jakarta

    MENJELANG akhir tahun, sejumlah daerah di Indonesia rawan banjir, termasuk Jakarta yang berstatus ibu kota negara. Siklus banjir di Jakarta sudah seperti bencana berkala. Selain macet, banjir menjadi momok yang ditakuti warga Jakarta, namun sialnya masih belum teratasi hingga kini. Banjir yang melanda Jakarta pada 1977 barangkali termasuk banjir paling besar sepanjang sejarah. Pada hari Rabu, 19 Januari 1977, hujan deras mengguyur sepanjang hari. Akibatnya, sejumlah kawasan terendam air. Banjir ini disebut-sebut yang terbesar di Jakarta sejak 1892. “Sedikitnya 100.000 jiwa terungsikan,” lansir Kompas , 20 Januari 1977. Daerah paling parah terdampak banjir adalah tiga kecamatan di Jakarta Pusat, antara lain Senen, Cempaka Putih, dan Gambir. Hujan yang turun sedari pagi menyebabkan sejumlah kantor meliburkan pegawainya. Menjelang sore, sepanjang Jl. Thamrin dari bundaran air mancur ditutup untuk lalu-lintas karena ketinggian air mencapai satu meter. Kendaraan-kendaraan yang melintasi jalanan tersebut tak dapat bergerak sehingga terpaksa ditinggalkan pemiliknya. Banjir betul-betul membuat lalu-lintas Jakarta lumpuh. Taksi pasang tarif tinggi untuk jarak dekat dan tidak mau membawa penumpang melintasi rute yang tergenang banjir. Banyak mobil mogok karena mesinnya kemasukan air. Mobil Gubernur Ali Sadikin bahkan tidak mampu menembus ketinggian air hingga mogok di depan Gedung PLN. Sementara itu, para gelandangan aji mumpung menawarkan jasa dorong mobil dengan memasang harga mahal. “Bahkan ada yang minta dengan kekerasan jumlah ribuan rupiah. Rp3.000 (kini setara Rp142.000, red ) untuk seorang pendorong. Para pemilik kendaraan banyak yang lapor mengenai hal ini. Mereka tidak berdaya karena jumlah para ‘penjual jasa’ itu banyak sekali,” sebut Kompas . Banjir di Jakarta pada 1977, menurut sejarawan Restu Gunawan, bukan merupakan banjir kiriman karena curah hujan mencapai 240 milimeter setelah hujan selama sepuluh jam. Ini merupakan curah hujan tertinggi sejak 1892 yang saat itu mencapai 286 milimeter. Di Jakarta Selatan, daerah Pondok Karya dan Kebayoran Baru juga kebanjiran. “Sementara itu, di Jakarta Utara, banjir melanda Cilincing, Sunter, Lagoa, Rawa Badak, Muara Karang, Kapuk Muara, Penjaringan, Kamal, dan Pejagalan. Di bagian timur, akibat Sungai Sunter meluap, daerah yang dilanda banjir adalah Cempaka Putih dan Sunter,” tulis Restu dalam Gagalnya Sistem Kanal: Pengendalian Banjir Jakarta dari Masa ke Masa . Kawasan elite seperti Jl. Medan Merdeka dan Silang Monas termasuk titik terparah yang terendam banjir. Tugu Monas yang menjulang megah tampak kontras dengan pemandangan sekitarnya yang tampak seperti kali. Padahal, Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto direncanakan untuk meninjau diorama Supersemar dalam Museum Monas pada hari Jumat, 21 Januari 1977. Keadaan banjir tidak memungkinkan kunjungan Presiden Soeharto. Agendanya dibatalkan. Menurut berita Sinar Harapan , banjir menerjang masuk sampai ke ruangan diorama Museum Monas. Sebanyak delapan mobil sedot tinja dikerahkan guna menyedot air dari ruang-ruang museum. Diperkirakan ketinggian air yang merendam Museum Monas mencapai 60 cm. “Akibat hujan yang turun sejak tengah malam beberapa tempat di ibukota lagi-lagi tergenang air. Kawasan Monas dan Medan Merdeka dekat Istana tidak luput dari gangguan air tersebut. Nampak Museum Monas di ruangan diorama dengan genangan air yang sebagian sudah disedot oleh 8 mobil tinja. Menurut rencana Presiden dan Ny. Tien Soeharto Jumat pagi akan mengadakan peninjauan dalam musim ini, kunjungan tersebut dibatalkan,” diwartakan Sinar Harapan , 20 Januari 1977. Dari rencana semula meninjau Museum Monas, kegiatan Presiden Soeharto lantas dialihkan untuk meninjau banjir. Dengan menumpang pesawat helikopter milik Pertamina, Soeharto dan Ibu Tien berangkat dari Parkir Timur Senayan menuju daerah industri Pulogadung, Cakung, Grogol, Pulomas, dan Jalan Jakarta Bypass . Selama peninjauan ini, Soeharto beberapa kali mengabadikan daerah terdampak banjir dari udara dengan kameranya. Selain itu, Soeharto memberikan bantuan 50 ton beras setiap daerah walikota yang terkena banjir. Seperti diterangkan dalam Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973—23 Maret 1978 , Soeharto kemudian memanggil sejumlah pejabat tinggi ke kediamannya di Jl. Cendana 8, Menteng, Jakarta Pusat. Antara lain Menteri Perdagangan ad interim J.B. Sumarlin, Kepala Bulog Bustanil Arifin, Dirut Pertamina Piet Harjono, dan Direktur Pembekalan Dalam Negeri Pertamina Yudo Sumbogo. Soeharto menginstruksikan langkah-langkah menjaga kelancaran arus barang-barang kebutuhan pokok seperti gula dan minyak. Dia berharap harga barang-barang kebutuhan pokok dapat dikendalikan. “Pesta air” yang melanda Jakarta, seperti disebut laporan Tempo , 5 Februari 1977, menyebabkan sekira 40 persen wilayah DKI Jakarta tergenang. Persentasi ini meningkat drastis dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 17 persen. Namun, kecekatan petugas-petugas Pemprov DKI Jakarta dalam menyelamatkan para korban banjir cukup diapresiasi sehingga mereka tak menderita lebih parah. Barangkali karena sudah cukup berpengalaman dari peristiwa-peristiwa serupa sebelumnya. Sementara itu, Gubernur Ali Sadikin mengatakan, diperlukan biaya sebesar 1 miliar dolar AS untuk mengatasi banjir di Jakarta. “Kalau biaya itu harus dibebankan kepada DKI, sampai kiamat tak akan ada uangnya. Padahal, dengan banjir baru-baru ini warga ibukota sudah merasa seperti kiamat sudah datang,” tandas Ali Sadikin seperti dikutip Tempo . Pada Februari 1977, Jakarta kembali diguyur banjir. Namun, dampaknya tidak sebesar seperti di bulan Januari sehingga relatif teratasi. Sementara itu, agenda Soeharto meninjau diorama Supersemar di Museum Monas baru dilaksanakan pada 18 Maret 1977. Soeharto bersama Ibu Tien berkunjung ke Monas didampingi Kepala Pusat Sejarah ABRI Nugroho Notosutanto. Soeharto menyetujui diorama di museum sejarah Monas yang menggambarkan suasana menjelang terbitnya Surat Perintah 11 Maret 1966, sebagai awal berdirinya Orde Baru.*

  • Pengusaha Hiburan Malam Naik Haji

    DI suatu malam, datanglah seorang perempuan yang disebut-sebut istri muda walikota Ambon ke klub malam bernama Latin Quarter. Tanpa ada walikota Ambon yang menjadi suaminya, perempuan itu datang ditemani beberapa laki-laki. Salah satu laki-laki itu bertanya ke kasir tempat Gito Rollies dan Gaga Abulhayat melayani pelanggan dan menanyakan bill  yang harus dibayar. Rp14.950 jumlah tagihan yang harus dibayar rombongan istri muda pejabat itu untuk makan-minum di klub tersebut.   Rombongan tersebut tak mau membayar tunai. Keributan pun terjadi antara laki-laki dalam rombongan istri muda itu dengan pekerja klub. Dalam peristiwa itu, Paul Houbert Endoh Fuhrer, pekerja klub yang juga vokalis band Cockpit, luka berat dan harus dirawat di rumahsakit. Selang beberapa waktu, suami dari istri muda tadi pun tak jadi walikota Ambon lagi.   “Pendeknya tamu itu raja, jadi kita tidak boleh menggunkan tindakan tegas yang bisa membuat mereka kapok datang,” kata Abulhayat di majalah Aktuil  nomor 161, Februari 1975. Abulhayat sejatinya bisa main keras kepada tamu bermasalah. Namun, itu opsi pamungkas. Kepuasan tamu adalah segala-galanya dalam bisnis hiburan. Tamu harus dilayani, bahkan jika sang tamu itu hanya seorang tukang becak pun tukang bikin onar.   Latin Quarter dikelola oleh pengusaha bernama Abulhayat. Pada 1975 itu tak hanya Latin Quarter yang diurusnya, tapi juga Copacobana dan Binaria Seaside di Jakarta dan Blue Ocean di Surabaya. Selain mengelola klub, Abulhayat juga seorang pencari bakat dan manajer artis. Di antara artis orbitannya adalah Dorce Gamalama, Grace Simon, dan Emilia Contesa.   Sejak bocah, Abulhayat sudah dekat dengan dunia seni dan hiburan. Pria asal Madura yang lahir pada 1926 ini terganggu masa mudanya karena Perang Dunia II. Setelah perang, ia mengikuti panggilan revolusi kemerdekaan Indonesia yang meletus sejak 1945. Seperti pemuda lain, dia masuk kemiliteran. Setelah perang melawan tentara Belanda berlalu, dirinya terus berkarier di militer, tapatnya di Polisi Militer Angkatan Darat (POMAD), Corps Polisi Militer (CPM). Semasa menjadi PM, dirinya pernah diperbantukan di bawah Menteri Agama Saifuddin Zuhri sebagai ajudan dengan pangkat mayor. Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren  menyebut Mayor Abulhayat ikut dalam rombongan menteri agama ke Lebanon dan Yerusalem pada 1964.   Sebelum ke sana, rombongan menteri itu juga pergi ke Makkah. Di sana mereka melakukan umrah. Namun, kesehatan Abulhayat terganggu di negeri yang panas dan kering kerontang itu.   “Bapak Mayor CPM Abulhayat yang sakit keras di Makkah dibawa dengan ambulans ke Arafah. Semua yang sakit akan dibawa, yang penting asal berada di Arafah waktu wukuf supaya memenuhi syarat berhaji,” ingat Misbach Yusa Biran dalam Kenang-kenangan Orang Bandel . Misbach ikut ke Saudi ketika itu. Dia terlibat dalam pembuatan film tentang haji.   Padang Arafah kala itu masih tanpa pohon –kini, banyak pohon mindi ( Pohon Sukarno ) di sana. Terik mataharinya di siang bolong sangat panas. Banyak yang meninggal dunia di sana, seperti tokoh 10 November 1945 di Surabaya Bung Tomo .   Banyak jamaah haji percaya hal di luar nalar manusia kerap terjadi di Makkah dan Padang Arafah. Itu juga dialami Abulhayat.   “Aneh sekali, ketika Mayor Abulhayat akan dibantu turun dari ambulans, beliau bisa berjalan dan selanjutnya terus sehat,” kenang Misbach yang mendirikan lembaga arsip film Sinematek .*

  • Wanita Perkasa Pembela Jelata

    API Kartini, tokoh emansipasi perempuan Indonesia, menyala dalam dadanya. Sepanjang hidupnya, Surastri Karma (S.K.) Trimurti tak pernah mengesampingkan pentingnya pendidikan politik bagi perempuan. Sebuah lagu berjudul “Dialog Suami-Istri” bisa mewakili kekaguman sejumlah orang akan peran Trimurti, juga Kartini, dalam pendidikan. Lagu ini, dibawakan kakak-beradik Rita Ruby Hartland dan Yan Hartland, begitu akrab bagi pencinta musik country  era 1980-an. Liriknya menyiratkan kebahagiaan sepasang suami-istri karena putri mereka menjadi seorang guru, yang mengamalkan ilmu untuk perangi kebodohan hingga jauh ke ujung desa. Begini sepenggal liriknya: Pergilah anakku simpan doaku… songsonglah tugasmu dengan senyummu banyak saudaramu yang masih buta huruf ajarilah mereka… Jadilah Kartini atau S.K. Trimurti pintarkanlah bangsamu. Namun, Trimurti bukan sekadar seorang pendidik. Dia juga wartawan, pengarang, politisi, serta aktivis buruh dan perempuan tiga zaman yang menunjukkan diri sejajar dengan sejawatnya, kaum lelaki. Dia pejuang perempuan yang komplet, yang disegani kawan maupun lawan. “Trimurti dikenal keberaniannya, kelincahan otaknya dalam perdebatan politik dan ketajaman penanya,” tulis Achmad Subardjo Djojoadisuryo dalam Lahirlah Republik Indonesia . “Yu Tri adalah satu pribadi yang istimewa dan yang jarang terdapat di kalangan masyarakat Indonesia. Api yang tetap menyala dalam tubuhnya tak mungkin dapat dipadamkan,” tulis Adam Malik dalam otobiografinya, Mengabdi Republik . “Bagi saya pribadi Yu Tri tetap Yu Tri, seorang ‘wanita jantan’ tanpa takut dan tanpa pamrih telah mengabdikan dirinya untuk kemerdekaan bangsa dan negara dan seiring ditimpa percobaan namun sama sekali tidak menyebabkannya menyesal.”* Berikut ini laporan khusus S.K. Trimurti S.K. Trimurti Gadis Berlawan dari Sawahan S.K. Trimurti Bergerak S.K. Trimurti Bukan Tokoh Kelas Berat S.K. Trimurti di Tengah Perpecahan S.K. Trimurti Menteri Bersandal S.K. Trimurti di Tengah Tokoh Kiri S.K. Trimurti Murid Politik Bung Karno S.K. Trimurti Menyalakan Api Kartini S.K. Trimurti dan Sayuti Melik Pecah Kongsi Perkawinan S.K. Trimurti Biarkan Batin Melayang

  • Persekutuan Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja

    DARI basis kekuasannya di Bakkara, Sisingamangaraja suatu kali melawat ke daerah Simalungun. Turut mendampinginya beberapa pengikut orang dari Aceh dan Toba. Namun, mendekati Pematang Raya, Tuan Rondahaim Saragih, penguasa Kerajaan Raya, enggan menyambut rombongan Sisingamangaraja. Tuan Rondahaim hanya bersedia menerima Sisingamangaraja di Dalig Raya, berjarak 5 km dari Pematang Raya, sebagai gerbang depan kerajaannya. “Dalig Raya adalah juga kampung saya, kesana saja Oppung  (Kakek), biar nanti saya yang menghadap kesana,” kata Rondahaim, sebagaimana dituturkan Pdt. Wismar Saragih dalam Barita Ni Tuan Rondahaim  atau Riwayat Hidup Tuan Rondahaim . Dinasti Sisingamangaraja kesohor sebagai raja-imam yang berkuasa di Tanah Batak. Pengaruhnya cukup diakui sampai ke wilayah kerajaan tetangga seperti Simalungun maupun Aceh. Tuan Rondahaim sendiri, dalam catatan Wismar Saragih, menaruh hormat pada Sisingamangaraja yang dipanggilnya “ Oppung ”. Namun, menurut hemat Rondahaim, jika Sisingamangaraja berkunjung ke Raya, tentulah banyak orang gentar, karena mengangapnya sebagai imam atau datu  agung yang diutus Allah. Penyambutan terhadap Sisingamangaraja dapat berakibat habisnya harta rakyat untuk dipersembahkan kepadanya. Itu sebabnya, Rondahaim lebih memilih untuk menyambutnya di Dalig Raya dan dia sendiri yang langsung memberikan persembahan bagi Sisingamangaraja. “Kemudian diperintahkanlah agar semua rakyat mengantarkan persembahan masing-masing kepada Sisingamangaraja. Tuan Rondahaim mempersembahkan ringgit sebanyak $120. Masyarakat Raya berikut penghulu masing-masing berbondong-bondong mengantarkan persembahan syukurnya karena negeri disinggahi Sisingamangaraja,” tutur Wismar. Setelah memberikan persembahan kepada Sisingamangaraja, Tuan Rondahaim meminta kepada Sisingamangaraja agar perkaranya dengan Tuan Dolok Kahean didamaikan. Menurut pengaduan Rondahaim, Tuan Dolok Kahean suka menyamun ke wilayah Raya. Selain itu, pengantar mesiu Tuan Rondahaim yang melintasi Dolok Kahean, kerap kali dihadang dan disita bawaannya. Mendengar masalah tersebut, Sisingamangaraja menyuruh orang menjemput Tuan Dolok Kahean. Tuan Rondahaim pun kembali ke Pematang Raya. Seperti dijelaskan dalam Barita Ni Tuan Rondahaim , Tuan Rondahaim sejatinya telah menyiapkan siasat agar “balik modal” dan tak kalah wibawa dengan Sisingamangaraja. Kepada salah satu panglimanya, Tuan Bulu Raya Jombit diperintahkan untuk mengepung dan mengacungkan bedil begitu Tuan Dolok Kahean datang. Untuk menebus kebebasannya, Tuan Dolok Kahean harus membayar $1000. Begitulah yang terjadi setibanya Tuan Dolok Kahean di Dalig Raya. Demi memadamkan huru-hara dan pertumpahan darah, Sisingamangaraja bersedia menebusnya. Sisingamangaraja pasang badan karena harus menjamin keselamatan Tuan Dolok Kahean yang diundang datang atas permintaannya. Sisingamangaraja pun tampaknya menyadari perbuatan orang Raya yang terkesan menjebak dirinya. Uang tebusan itu konon diserahkan dalam sepiring besar uang ringgit dan setelah dihitung berjumlah $700. Setelah perkara beres, uang tersebut diantarkan kepada Tuan Rondahaim. Tuan Dolok Kahean dibebaskan. Sementara itu, Sisingamangaraja kembali ke Toba melewati Dolok Saribu. Rombongan Sisingamangaraja membawa serta beberapa orang Dolok Kahean, karena sudah membayar hutang mereka. Rencananya mereka hendak dijual sebagai budak belian. Namun, ditengah jalan, orang-orang Dolok Kahean ini melarikan diri setelah “dikompori” utusan Tuan Rondahaim. “Mereka pun lari ke Sinondang. Ada 50 orang banyaknya. Sebagian mereka itu dijadikan menantu oleh Tuan Rondahaim dan tinggal di Sinondang,” catat Wismar Saragih, “Demikianlah usaha Tuan Rondahaim agar dimuntahkan kembali apa yang sempat dimakan Sisingamangaraja dari Simalungun.” Namun, Wismar Saragih tak menyebut titimangsa maupun Sisingamangaraja ke berapa yang bertemu dengan Tuan Rondahaim. Menurut Augustin Sibarani, pertemuan Sisingamangaraja dengan Tuan Rondahaim, terjadi pada 1871 sehingga dapat disimpulkan itu adalah Sisingamangaraja XI atau bernama asli Raja Ompu Sohahuaon. Penerusnya, Patuan Bosar yang kemudian bergelar Sisingamangaraja XII baru berkuasa pada 1875. “Pada 1871 Raja Sisingamangaraja XI telah mengadakan suatu pertemuan tingkat tinggi dengan Teuku Nangta Sati dari Aceh untuk menggariskan suatu dasar pertahanan antara Aceh dan Tanah Batak. Pada tahun itu juga Raja dari Bakkara ini telah berkunjung ke Pematang Raya di Simalungun untuk menemui Raja Rondahaim Saragih guna membicarakan suatu perjanjian pertahanan bersama,” sebut Sibarani dalam Perjuangan Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII . Sementara itu, Walter Bonar Sidjabat, sejarawan penulis biografi Sisingamangaraja XII , mengatakan Sisingamangaraja XI dan Sisingamangaraja XII berkenalan baik dengan Tuan Rondahaim. Sisingamangaraja XII juga pernah berkunjung ke Raya. Bersama Tuan Rondahaim, keduanya mengadakan kerja sama dalam mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Efeknya secara historis terjadi di daerah Deli dan Serdang. “Setelah kunjungan Sisingamangaraja XII ke Raya, maka para pendukung Tuan Rondahaim pun, segera membakari banyak gudang-gudang tembakau di daerah Deli Serdang. Pembakaran ini dilakukan dengan memberikan uang bagi kuli gintrokan  (kontrak) sebanyak 20 ringgit seorang, asalkan orang bersangkutan berhasil membakar bangsal atau gudang pengeringan daun tembakau di perkebunan di daerah Deli Serdang itu,” ungkap Sidjabat dalam Ahu Si Singamangaraja . Semasa Rondahaim berkuasa, Kerajaan Raya tak dapat ditaklukkan Belanda. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya perkebunan yang dikuasai Belanda di daerah Kerajaan Raya. Sebaliknya, Rondahaim bersama pasukannya kerap menebar ancaman terhadap basis-basis ekonomi Belanda di kawasan Sumatra Timur. Perlawanan Rondahaim terhadap Belanda mulai berlangsung sejak 1871 hingga 1890. Surat-surat kabar sezaman berbahasa Belanda kerap memberitakan aksi-aksi yang dilancarkan Rondahaim yang menyebabkan pemerintah kolonial kerepotan. “Tuan Rondahaim pada akhirnya berlebihan. Ia menyerbu Padang dan Bedagei, dan rakyatnya menderita akibatnya. Semua upaya damai untuk membujuknya agar mengakui supremasi Belanda gagal. Ia memproklamirkan kemerdekaannya ketika penguasa Batak lainnya telah menyerah,” demikian diwartakan Deli Courant , 27 Februari 1935. Perlawanan Rondahaim terhenti menyusul wafatnya pada 1892. Sementara itu, Sisingamangaraja XII terus menyalakan perlawanan lebih lama lagi terhadap Belanda. Sisingamangara XII berjuang hingga gugur di tangan anak buah Kapten Hans Christoffel pada 1907. Baik Sisingamangaraja XII maupun Tuan Rondahaim telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.*

  • Pemerintahan Seumur Jagung

    CHARLES Olke van Der Plas, pemimpin Recomba (Regeringscommissaris voor Bestuursaangelegenheden) atau pemerintahan peralihan Belanda, merangkul kalangan bangsawan yang tergabung dalam Partai Rakyat Jawa Timur. Tujuan partai yang berdiri pada 14 Juni 1947 ini adalah menuntut hak menentukan nasibnya atas dasar demokrasi dan bekerja sama dengan golongan-golongan lain tanpa memandang kebangsaan, bahasa, dan agama. Menurut Marsudi, dosen Universitas Negeri Malang, partai itu didirikan oleh bangsawan lokal yang telah menikmati masa jaya bersama Belanda dan kemudian dikecewakan oleh pemerintah pendudukan Jepang maupun Republik. Munculnya partai ini tak lepas dari upaya Belanda untuk membangkitkan kembali bekas-bekas sekutunya di Jawa Timur demi memperoleh dukungan dalam pembentukan Negara Jawa Timur.

  • Walter Spies dan Renaisans Bali

    WALTER SPIES sedang frustrasi. Hubungan yang telah dia jalin selama beberapa tahun dengan Friedrich Murnau, sutradara film kenamaan asal Jerman, memburuk. Spies, pelukis berkebangsaan Jerman yang lahir di Moskow, Rusia, pada 1895, bertemu Murnau pada 1919 ketika dia berusia 24 tahun. Saat itu dia baru memulai karier sebagai pelukis dan mengadakan pameran perdana. Murnau kemudian menyediakan studio untuk Spies melukis, juga mempercayakan kerja artistik film-filmnya. Hubungan mereka retak. Spies akhirnya memutuskan bahwa, ”nyaris tak mungkin bagi dirinya untuk merasa nyaman di Eropa,” sebagaimana dikisahkan Robert F. Aldrich dalam Colonialism and Homosexuality .

  • Teqball, dari Mana Asalnya?

    TUAN rumah Thailand menyapu bersih lima medali emas dari cabang teqball, cabang olahraga debutan yang dipertandingkan di SEA Games 2025. Apa itu teqball? Sejak kapan mulai eksis dan bagaimana permainan itu bisa menjadi olahraga tercepat yang diakui secara internasional sejak kemunculannnya? Arham Syahban dalam Olahraga Teqball mencatat, teqball pertamakali dikembangkan pada 2012 oleh trio asal Hungaria: Gábor Borsányi, Viktor Huszár, dan György Gattyán. Nama teqball sendiri singkatan dari technique ball dan permainannya ibarat perpaduan antara sepakbola dan tenis meja atau ping-pong. “Olahraga berbasis sepakbola yang dimainkan dengan peralatan unik, namun sangat sederhana dengan ukuran bola sepak nomor 5 biasa. Karena permukaan meja yang melengkung, bola selalu memantul ke luar, menuju ke arah pemain. Meja unik yang melengkuk dikenal sebagai ‘ teq table ’,” jelas Arham. Sistem permainannya mirip tenis meja. Bisa dimainkan pemain tunggal maupun ganda dengan total tiga set permainan dan masing-masing set terdiri dari 12 poin. Setiap pemain atau tim akan berganti serve saban empat poin. Karena berbasis sepakbola, permainannya juga dimainkan dengan larangan menyentuh bola dengan tangan atau lengan. Teqball juga diimbuhi peraturan bahwa setiap pemain dilarang menyentuh bola dengan anggota tubuh yang sama dua kali berturut-turut. Setiap pemain hanya dibolehkan maksimal tiga kali menyentuh bola sebelum harus memantulkan bola ke arah lawan “Olahraga ini menuntut kombinasi kecepatan, kelincahan, ketepatan, dan strategi yang tinggi. Meskipun sederhana tetapi memiliki banyak manfaat bagi setiap pemain sepakbola. Ini mengembangkan keterampilan teknis bola, kapasitas aerobik, koordinasi, dan kemampuan kognitif dalam lingkungan yang sehat, kompetiti, dan menyenangkan. (Oleh karenanya) tahun demi tahun teqball mulai menarik minat dari berbagai negara di seluruh dunia,” tambahnya. Teqball dalam perjalanannya tidak hanya dimainkan dengan bola sepak semata. Permainan ini memunculkan olahraga baru, di antaranya teqvoly (dengan kombinasi bola voli), teqis (tenis), dan teqping (ping-poing/tenis meja). Tiga pendiri teqball dan FITEQ, ki-ka: Viktor Dénes Huszár, György Zoltán Gattyán & Gábor Borsányi ( fiteq.org ) Inspirasi Sederhana dari Újpest “Mimpi masa kecil jadi nyata,” begitu kata Borsányi, co-founder teqball ketika ditanya presenter Teqvoly TV Nagy Orsolya, 29 Agustus 2022. Teqball lahir dari pengalaman Borsányi sendiri sebagai mastermind -nya. Ia sendiri lahir dan besar di Újpest, salah satu distrik di ibukota Budapest, pada 4 Agustus 1977. Sebagaimana anak-anak sebayanya, Borsányi mengenal sepakbola semasa kecilnya pada 1980-an. Mereka memainkannya di lapangan beton di antara bangunan-bangunan apartemen. “Dan saat kami bosan dengan sepakbola biasa, kami memainkan tenis dengan kaki di meja ping-pong beton buat bersantai. Namun karena permukaan mejanya rata, bolanya sulit untuk berpindah. Dari situlah ide simpel itu bermula,” lanjutnya. Borsányi mengenyam pendidikan sembari berkarier di sepakbola. Ia pernah bermain di klub kasta kedua di liga Hungaria, Rákospalotai EAC. Namun ia pensiun dini demi fokus pada pekerjaan dan membangun bisnis peralatan olahraga. Inspirasi lama itu, kenang Borsányi, bersemi kembali ketika pada suatu hari di musim panas tahun 2000. Saat itu ia sudah bekerja di sebuah perusahaan dekat Danau Balaton, Siófok. Danau itu jadi salah satu destinasi wisata terbesar di Hungaria yang memancing banyak turis dari negara-negara Eropa lain. Suatu hari di musim panas 2000, ia melihat sebuah tim sepakbola dari kasta pertama liga di Hungaria tengah berlibur dan bersantai memainkan olahraga tenis kaki dengan meja ping-pong beton dengan seorang Jerman yang usianya lebih tua. Mereka bermain sambil bertaruh 1.000 forints. Borsányi tertarik ikutan. “Nilai taruhan itu tak membuat saya gentar, tidak juga ketika faktanya orang asing asal Jerman itu konon mantan pemain Bundesliga (Liga Jerman), karena saya memang sangat ingin memainkannya. Benar-tidaknya dia pemain Bundesliga, faktanya saya menang,” tambah Borsányi. Dari situlah Borsányi mulai terpikir bahwa mungkin saja akan lebih menyenangkan jika bidang mejanya dibuat melengkung. Idenya itu lantas disampaikannya kepada Huszár, sahabat, pakar komputer, dan tetangga Borsányi, medio 2012. “Sekitar 15 tahun lalu tetangga dan teman baik, Gábor Borsányi, memainkan sepakbola di meja ping-pong. Sebuah pengalaman yang terpatri di kepalanya selama lebih dari 1o tahun. Gabor mendatangi saya dan menceritakannya. Sebagai eks-pesepakbola profesional ia melihat olahraga itu terlalu agresif untuknya dan ia mencemaskan risiko cedera. Akan tetapi sepakbola selalu jadi cinta abadinya. Itulah ide awal teqball, permainan sepakbola paling bersih yang pernah lahir,” kata Huszár kepada majalah ISPO , 17 April 2022. Dengan dibantu Huszár, Borsányi lantas mulai mengembangkan mejanya yang dibuat melengkung dan aturan-aturannya. Mejanya sendiri akhirnya dibuat dimensi panjang 3 meter; lebar 1,5 meter; tinggi lengkungan tengah 76 cm, dan tinggi lengkungan kedua ujung sisinya 56,5 cm. “Jujur, pengembangannya tidak sederhana. Butuh waktu empat tahun bagi kami untuk menciptakan desain khusus mejanya dan konsep teqball. Kami memulainya dengan banyak bertukar pikiran dan menjajal memainkannya dengan berbagai bentuk meja di garasi kami,” lanjutnya. Ide itu turut menarik perhatian György Gattyán. Pebisnis dengan berbagai “kerajaan” bisnis, termasuk pendiri situs webcam dewasa, LiveJasmin. Bersama Gattyán, Huszár dan Borsányi mendirikan organisasinya, Fédération Internationale de Teqball (FITEQ) pada 2017. Untuk diseminasinya, olahraga teqball turut dipopulerkan oleh eks-megabintang asal Brasil, Ronaldo de Assis Moreira alias Ronaldinho Gaucho sebagai duta teqball “Kami bahkan sudah memikirkan siapa orang yang sempurna untuk mempromosikan teqball sejak 2012 dan orangnya adalah Ronaldinho, seorang bintang kondang yang jadi simbol permainan dengan teknik tinggi, di mana ia juga mampu melakukan trik-trik luar biasa dengan presisi dan riang gembira, serta senyum lebar,” sambung Borsányi. Maka mulai 2017, teqball mulai begitu pesat menyebar ke segala pojok dunia, termasuk Indonesia. Di tahun yang bersamaan dengan penyelenggaraan Asian Games 2018, teqball mulai hadir di Indonesia. “FITEQ mendorong teqball di Indonesia selama Asian Games 2018. Kemudian FITEQ memberikan mandat kepada Erick Thohir sebagai Ketua Penyelenggaraan Asian Games (INASGOC), untuk mendirikan organisasi olahraga teqball di Indonesia. Saat berada di Jakarta, Viktor Huszár, Wakil Presiden FITEQ, menyatakan meskipun baru muncul di Asian Games 2018, ia mengklaim teqball akan menjadi cabang resmi di Asian Beach Games 2020 dan Asian Games Hangzhou 2022. Pada masa itu teqball telah menjadi anggota Dewan Olimpiade Asia (OCA),” sambung Arham. Lantas pada 2 Maret 2020, Pengurus Pusat Indonesia Teqball (PP Inatez) dibentuk dengan Hellen Sarita de Lima sebagai ketuanya. PP Inateq turut membina 11 pengurus provinsi. Setahun berselang, tepatnya pada 1 Maret 2021, PP Inateq resmi jadi anggota Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dan Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KOMI). Meski begitu pada Juni 2023 federasinya bertransformasi menjadi Pengurus Pusat Persatuan Olahraga Teqball Seluruh Indonesia (PP POTSI). Selain menggelar kejurnas, federasi pun menggelar seleksi untuk kemudian diikutsertakan ke SEA Games 2025. Kendati tergolong olahraga baru di Indonesia, setidaknya di SEA Games 2025 sudah turut menggondol prestasi. Memang selama penyelenggaraan event -nya di Chonburi Sports School kurun 10-13 Desember 2025, Thailand menjadi juara umumnya dengan menyapu bersih lima medali emas di lima kategori: tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran. Kontingen teqball Indonesia sendiri berada di urutan kedua dengan total perolehan lima medali berupa tiga perak dan dua perunggu. Masing-masing tiga peraknya diraih Yoga Ardika Putra (tunggal putra), La Ode Mardan/Husni Uba (ganda putra), dan Zikhra Dwi Putri (tunggal putri). Adapun dua perunggunya didapat Akyko Micheel Kapito/Gabriella Jessica Pongbura (ganda putri) dan Muhammad Azwar/Sumaya (ganda campuran).*

  • Lagu “Titik Noda” Melesatkan D’Llyod

    INDUSTRI musik Indonesia menggeliat setelah 1969. Setelah Koes Plus keluar dari kemalangannya lewat album Dheg Dheg Plus , pada 1970 band yang digawangi Koeswoyo bersaudara itu keluar-masuk studio rekaman hingga menghasilkan puluhan album di dekade 1970-an. Beragam genre, mulai dari pop, Jawa, melayu hingga rohani Kristen gigarapnya. Koes Plus punya Tonny Koeswoyo, yang tak hanya bisa memimpin tapi juga mampu membuat lagu yang laris manis. Namun, era tersebut tak hanya milik Koes Plus . Nama-nama lain bermunculan dan ikut berkibar pula. Antara lain D'Lloyd, band dari sebuah perusahaan pelayaran dengan nama mirip. Djakarta Lloyd adalah perusahaan pelayaran nasional yang didirikan beberapa pejuang kemerdekaan yang kritis seperti Kolonel Darwis Djamin dan pengacara Mr. Budhyarto Martoatmodjo. Seperti perusahaan dan lembaga negara sebelum era 1970-an, perusahaan ini pun punya band. Anggotanya lebih lebih dari empat orang. Ketika Koes Plus yang baru muncul 1969 terpuruk, perusahaan tadi baru memulai band mereka. Mereka menerima seorang pemuda dari Ambon untuk mengelola band perusahaan tersebut. Band itu lalu dinamai berdasarkan nama perusahaan: D’Lloyd. Pemuda Ambon yang mengelola D'Lloyd tadi tapi tak langsung bergabung. Dia hanya mengelola bak seorang manajer. Bartje van Houten, namanya. Dia sudah merantau di Jakarta pada 1967. Ketika baru tiba di Jakarta, dia bermain gitar melodi untuk band Sari Agung. Selain pandai bermain gitar, Bartje juga pandai membuat lagu. Rekan-rekan Bartje kontribusinya tak kalah penting di band. Ada Andre Gultom yang memainkan flute (seruling logam) dan saxophone selain bernyanyi; Budiman Pulungan yang memainkan keyboard; Sangkan Panggabean alias Papang pada bass; Chairoel Daoed pada drum; dan Syamsuar Hasyim alias Syam yang vokalis. Mereka membuat lapisan suara pada lagu-lagu yang dimainkan D’Lloyd menjadi tebal, seperti kebanyakan band era itu. Syam punya suara yang sesuai tren zaman itu, cocok untuk menyanyikan lagu berlanggam Melayu. Era 1970-an itu, musik pop melayu punya banyak pendengar sama seperti musik pop Jawa dan lain-lain. Suatu kali, Bartje menulis lagu tentang seorang yang sedih ditinggal kekasihnya. Refrein lagu itu, “kasihnya telah pergi, meninggalkan titik noda,” belakangan lekat dengan ingatan banyak orang. Sebagian orang menafsirkan refrain tadi bahwa yang ditinggalkan adalah seorang perempuan dalam kondisi sudah ternoda atau tidak perawan lagi. Di era itu, keperawanan seorang gadis masih dipandang penting. Era 1970-an juga marak dengan peredaran dan penggunaan obat terlarang seperti ganja di samping pergaulan bebas muda-mudi. Bartje menangkap permasalahan anak muda itu dan menuangkannya dalam lagu berjudul "Titik Noda". Bersama sembilan lagu lain dalam album D'Lloyd Volume I, lagu "Titik Noda" direkam pada 1970 di bawah label Sakura. Lagu ini menjadi lagu andalan D’lloyd. “Pemuda berusia 23 tahun inilah yang berhasil mengangkat nama D’Lloyd melalui ciptaannya Titik Noda,” kabar Suara Karya tanggal 29 Januari 1974. Pemuda 23 tahun yang dimaksud adalah Bartje. Setelah Volume I dirilis, album lain dipersiapkan D'Lloyd sambil menyanggupi undangan manggung di Jakarta dan kota-kota lain. Kecakapan Bartje tak hanya dikenal karena "Titik Noda" saja. "Mengapa Harus Jumpa " dari album Volume 12 dan "Apa Salah dan Dosaku" dari album Volume 6 pun ciptaan Bartje. Namun Bartje bukan satu-satunya pencipta lagu di D'Lloyd. Dalam lagu-lagu berirama Melayu, peran Sam cukup besar. Lagu pop melayu terkenal D’Lloyd adalah "Keagungan Tuhan". Pernah ada film dengan judul sama pada 1980, dan lagu "Keagungan Tuhan" itu dinyanyikan penyanyi cilik Puput Novel. Lagu D’Lloyd lain yang terkenal adalah " Hidup Di Bui ", yang pernah diributkan sebagian pihak.*

bottom of page