- 11 Mar 2025
- 6 menit membaca
Diperbarui: 9 Mar
SEBAGAI seorang presiden dari satu-satunya negara Uni Eropa yang memiliki nuklir, Emmanuel Macron membuka opsi deterrence atau penggentar untuk menangkal Rusia yang dianggap sebagai ancaman bagi Eropa. Rusia kini masih bertahan dengan invasinya ke Ukraina sejak Februari 2022.
Pada Rabu (5/2/2025) lalu, Presiden Macron akan membuka opsi dan pembahasan untuk memperluas program penangkalan nuklir. Tidak hanya dengan para sekutunya di Eropa, Macron juga berharap Amerika Serikat mendukungnya untuk “mengeroyok” Rusia.
Presiden Rusia Vladimir Putin yang dituding sebagai ancaman bagi Eropa mencoba meresponsnya dengan kepala dingin. Dengan setengah menyindir, Putin mengingatkan Prancis dan siapapun tentang kegagalan memalukan Napoleon Bonaparte yang kondang itu di tanah Rusia pada 213 tahun lampau.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












