top of page

Hasil pencarian

9631 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Melacak Jejak Silam Freeport Mengeksploitasi Bumi Papua

    PADA 1959, Jean Jacques Dozy, seorang geolog anggota Ekspedisi Colijn yang pernah melakukan pendakian ke Puncak Cartenz pada 1936, kedatangan seorang tamu. Si tamu tadi bertanya kepadanya tentang keadaan Papua yang pernah dikunjunginya. “Katanya Anda pernah mengunjungi New Guinea (nama Papua saat itu,  red. ) dan menemukan badan bijih ( ore body ) ini. Seberapa besarnya?” tanyanya pada Dozy, sebagaimana dikutip dari buku Grasberg karya George A. Mealey.

  • Burung Parrot dan Kisah Cinta Presiden Amerika

    PRESIDEN Amerika Serikat Andrew Jackson memiliki banyak hewan peliharaan. Salah satu yang paling terkenal adalah seekor burung parrot bernama Poll. Kehadirannya di prosesi pemakaman sang presiden menghebohkan para pelayat. Poll juga menjadi bukti besarnya cinta Andrew kepada istrinya, Rachel Donelson. Kisah cinta mereka disebut paling legendaris di Negeri Paman Sam.

  • Munculnya Si Doel (Bagian III–Habis)

    SAYUP-SAYUP terdengar lantunan adzan mengiringi monolog Sabeni (diperankan Benyamin Sueb) sembari menatap hampa ke langit petang di halaman belakang rumahnya. Di belakangnya, Kasdoellah alias Si Doel (Rano Karno) menyarungkan goloknya usai memotong kayu bakar lalu ikut hanyut mendengarkan ocehan Sabeni, babenya itu.

  • Mengenal Tang Soo Do dari Cobra Kai

    AULA di dojo  Miyagi-Do di West Valley, California yang tenang mendadak digelayuti nuansa kekhawatiran ketika sensei  Daniel LaRusso (diperankan Ralph Macchio) berhadapan dengan kawan lamanya dari Okinawa, sensei Chozen Toguchi (Yuji Okimoto). Utamanya ketika Chozen mengingat beladiri agresif musuh yang akan mereka hadapi bersama, sensei  Terry Silver (Thomas Ian Griffith), yang belum lama merebut dojo  Cobra Kai dari sensei John Kreese (Martin Kove).

  • Kisah Jack, Primata yang Jadi Petugas Sinyal Kereta

    CAPE Government Railways, operator kereta api milik pemerintah di Cape Colony, Afrika Selatan, membuka jalur pertama dari Cape Town ke Port Elizabeth pada akhir tahun 1800-an. James Edwin Wide direkrut sebagai petugas kereta api. Bertugas di kota pedalaman Uitenhage, Wide dijuluki “Jumper” karena keahliannya melompat dari satu kereta ke kereta lain yang sedang melaju.

  • UU PMA, Legislasi Sarat Kontroversi

    DUA bulan setelah kudeta militer yang akhirnya menggulingkan Presiden Sukarno, CEO Freeport Langbourne Williams menelepon Forbes Wilson, geolog Freeport. Dia mendapat kabar baik dari dua eksekutif Texaco bahwa negosiasi Ertsberg akan segera dimulai.

  • CIA Menggulingkan Sukarno demi Emas di Papua

    PADA akhir Agustus 2017, pemerintah mengumumkan bahwa Freeport bersedia melepas 51% sahamnya. Keputusan ini disambut gembira. Namun, itu tidak akan menguntungkan Indonesia sampai Freeport sepakat untuk mengubah hal mendasar dalam pengawasan operasional. Hal itu disampaikan Greg Poulgrain, sejarawan University of Sunshine Coast, Brisbane, Australia, dalam acara bedah buku terbarunya, The Incubus of Intervention , di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, 5 September 2017. Poulgrain mengatakan dengan perubahan mendasar dalam pengawasan operasional, Indonesia memiliki hak untuk mengaudit Freeport. “Hal ini harus diupayakan agar Indonesia bisa mengonfirmasi kekayaaan Freeport yang sebenarnya. Freeport tidak memberikan secara rinci kekayaannya ke Jakarta,” kata Poulgrain. Tambang emas di Papua yang dikuasai Freeport ditemukan oleh geolog Belanda, Jean Jacques Dozy bersama dua temannya pada 1936. Pihak Freeport mengaku memperoleh laporan penelitian Dozy dari perpustakaan di Leiden, Belanda. Dozy membantahnya. “Cerita bahwa Freeport menemukan laporan penelitian Dozy sebelum Perang Dunia II di perpustakaan merupakan kebohongan besar. Karena orang yang membuat Forbes Wilson (geolog pada Freeport Sulphur) tertarik dengan temuan Dozy adalah keluarga dekat Dozy,” kata Poulgrain. Poulgrain mewawancarai Dozy setelah 20 tahun menemukan Ertsberg di Papua. Dozy mengungkapkan bahwa dia menemukan gunung emas bukan gunung tembaga. “Ertsberg merupakan tambang emas terbesar di dunia dan Grassberg yang berada di bawahnya ternyata lima kali lebih besar,” kata Poulgrain. Penemuan itu membuat Amerika Serikat memihak Indonesia dalam sengketa Irian Barat (kini Papua) dengan Belanda. Amerika mendorong Belanda untuk melepaskan Papua. Menteri Luar Negeri Belanda Joseph Luns mengatakan Amerika memaksa Belanda keluar dari Papua setelah menolak kerja sama penambangan sumber emas dan tembaga. Akan tetapi setelah berhasil mendepak Belanda dari Papua, Amerika juga tidak berhasil masuk lantaran kebijakan ekonomi Sukarno. Oleh karena itu, Direktur CIA Allan Dulles, berusaha menggulingkan Sukarno. Menurut Poulgrain, sejak lama Dulles mengetahui kekayaan alam di Indonesia. Ketertarikannya terhadap Indonesia dimulai pada 1928 ketika dia bekerja sebagai pengacara muda yang memenangkan kasus hukum melawan Henri Deterding dari Royal Dutch Petroleum Company yang berniat membangun industri minyak di Indonesia. “Dari sini dia memiliki akses untuk mengetahui tentang tambang di Hindia Belanda,” kata Poulgrain. Selain itu, Dulles menganggap pemerintahan Sukarno berbahaya dan cenderung mendukung komunisme. Sebaliknya, Presiden John F. Kennedy melihat Sukarno sebagai seorang nasionalis. Kennedy memberhentikan Dulles sebagai direktur CIA pada 1961 karena CIA beroperasi di Indonesia selama enam tahun di antaranya mendukung PRRI/Permesta. Pada 22 November 1963, Kennedy dibunuh dalam kunjungan ke Dallas, Texas. Presiden Lyndon Johnson memasukan Dulles sebagai anggota Komisi Warren yang menyelidiki kematian Kennedy. Dulles menyimpulkan pelaku pembunuhan Kennedy adalah Lee Harvey Oswald. Poulgrain justru menduga Dulles kemungkinan dalang pembunuhan Kennedy. Sebab, Kennedy percaya Sukarno bukan seorang komunis dan berusaha menjadi mediator konfrontasi Indonesia-Malaysia. “Kennedy dibunuh tahun 1963 agar tidak jadi datang ke Jakarta pada awal 1964. Bagi saya ini menarik. Karena Kennedy ingin menengahi masalah agar kedua belah pihak tidak kehilangan muka,” ujar sejarawan Asvi Warman Adam. Menurut Poulgrain, bila Kennedy jadi ke Jakarta dan menjalin kerjasama dengan Sukarno, rencana Dulles menjatuhkan Sukarno bisa gagal dan posisinya akan lebih kuat. “Ketika politik Indonesia memanas dan perubahan haluan menjadi pro-Barat di masa Soeharto, Freeport berhasil masuk,” kata Poulgrain. Asvi mengeritik metode penelitian yang dilakukan Poulgrain yang mewawancarai Dozy setelah 20 tahun penemuannya atas gunung emas di Papua. “Sejarah lisan atau wawancara merupakan pelengkap kalau sumber-sumber tertulis tidak ditemukan. Sejarah lisan akan melengkapi itu supaya lebih sempurna. Sejarah lisan ini memiliki jebakan apalagi kalau dilakukan 20 atau 30 tahun sesudah peristiwa itu terjadi. Orang yang diwawancara atau pelaku sejarah itu punya kesempatan kedua untuk memperhebat dirinya atau mereduksi kesalahannya. Itu jebakan dari sejarah lisan,” kata Asvi. Asvi memberikan contoh Poulgrain menulis bahwa kematian Sekretaris Jenderal PBB Dag Hammarskjold merupakan siasat Allan. Dag dinilai ikut campur masalah Papua karena berkeinginan untuk membantu rakyat Papua dengan merencanakan program ekonomi. Hal ini dianggap akan mengganggu rencana Allan. “Tidak mudah untuk menyimpulkan bahwa Dag terbunuh karena urusan Papua,” tegas Asvi.*

  • Tiga Sopir Palang Merah yang Jadi Pesohor Dunia

    PALANG Merah Internasional muncul pada 1863, setelah pengalaman Jean Henry Dunant (1828-1910) dalam Pertempuran Salferino (1859). Pengalaman itu dibukukannya dalam Un Souvenir de Solferino  (1862).

  • Seniman Tunanetra di Balik Pengembangan Alat Musik Kolintang

    UNESCO resmi mengakui kolintang bersama kebaya dan Reog Ponorogo sebagai warisan budaya takbenda ( representative list of the intangible cultural heritage of humanity ). Hal ini diumumkan dalam sidang ke-19 The Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Paraguay, Kamis (5/12/2024).

  • Kedaulatan Pangan Kedaulatan Angan-Angan

    DALAM konteks politik dan ekonomi, kata ‘pangan’ kerap dilekatkan dengan ‘kedaulatan’. Kedaulatan pangan merupakan jalan untuk mencapai ketahanan, keamanan, dan kesejahteraan hidup masyarakat. Dan pada masa-masa jelang pemilihan umum, para calon presiden dan pasangannya kerap menggunakan ‘kedaulatan pangan’ sebagai jargon kampanyenya. Namun siapapun yang pernah terpilih menjadi presiden Indonesia, pada kenyataannya tidak kunjung mampu memenuhi kondisi pangan yang berdaulat untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang makmur dan sejahtera.

  • Ozzy Osbourne Ditolak Jadi Tentara

    DISLEKSIA tak hanya membuat John Michael Osbourne alias Ozzy Osbourne merasa menjadi bocah terbodoh dan jadi bahan olok-olok di kelasnya. Dia juga sampai putus sekolah hinggga masa remajanya menjadi kacau. Ozzy yang dari keluarga kelas pekerja itu tumbuh menjadi bocah bandel. Kendati begitu, dia terpikir untuk membuat ayahnya senang.

  • Manuel Noriega, Si Muka Nanas yang Kotor

    PERAYAAN Natal 1989 datang lebih awal di Gedung Putih. Malam, pada 19 Desember, Presiden George Herbert Walker Bush menyambut hangat tamu-tamunya. Dia tak terlihat lelah meski beberapa jam sebelumnya dia rapat serius dengan para pembantu dekatnya. Selesai acara dia masuk kamar. Keesokan harinya, pukul 07.00, televisi di AS menayangkan pernyataan presiden perihal serangan AS ke Panama dini hari lewat “Operation Just Cause”. Tujuan operasi: menangkap diktator Jenderal Noriega yang dituding telah dan terus melakukan kejahatan seperti penyelundupan obat terlarang, pemerasan, pembunuhan, dan pencucian uang. Dan perintah itu Bush keluarkan di kamarnya usai perayaan Natal itu. Nasib Noriega di ujung tanduk. Manuel Antonio Noriega lahir di Panama City, 11 Februari 1934, anak seorang akuntan yang menikahi pembantu rumah tangganya. Noriega masuk sekolah bergengsi National Institute. Lalu mendapat beasiswa di Akademi Militer Peru dan lulus tahun 1962. Kembali ke Panama, dia masuk National Guard dengan pangkat pembantu letnan. Noriega bertugas di Komando (distrik) Chiriqui, provinsi terbarat Panama. Pada 1968, Brigjen Omar Efrain Torrijos Herrera, panglima National Guard, menggulingkan pemerintahan sipil Amulfo Arias dan mengambil-alih kekuasaan di Panama. Dimulailah pemerintahan militer yang antidemokrasi dan korup. National Guard, yang terlibat dalam perdagangan heroin sejak akhir 1940-an, menjadi andalan untuk mendapat pemasukan dari bisnis kotor. Belum genap setahun, Wakil Kastaf AB Kolonel Amado Sanjur, dengan dukungan CIA, melakukan kudeta. Di sinilah nama Noriega mulai diperhitungkan. Kala itu Noriega komandan Garnisun David, sebuah tempat terpencil 560 km dari Panama City. Noriega tak mendukung kudeta. Dari David, dia menggalang kekuatan dan melancarkan serangan kilat. Sanjur menyerah. Torrijos tak jadi terguling. Noriega naik pangkat jadi letnan kolonel lalu menjadi kepala intelijen militer. Noriega jadi anak emas Torrijos. Baru setahun menjabat, Noriega sudah mengendalikan bagian-bagian vital seperti jawatan imigrasi, pelabuhan, dan bandara. Noriega juga mempererat hubungan dengan badan-badan intelijen AS, terutama CIA. Sejak mahasiswa Akademi Militer, Noriega sudah direkrut CIA guna mengontrol peredaran narkotika dari Panama-AS. “Dia dipastikan telah menjadi agen bayaran CIA yang mengantongi US$200.000 setahun,” tulis Endang SN dalam Noriega, Presiden dan Narkotik . Tapi pada saat bersamaan, Noriega justru menjadi andalan para kartel obat bius dan pelaku kejahatan kotor lainnya. Salah satunya Kartel Medellin, pengedar terbesar asal Kolombia, yang pada 1984 mengontrol 80% pasar kokain di AS.   “Kartel membayar Noriega 1.000 dolar per kg kokain untuk izin pengapalan barang haram itu melintasi Panama kemudian ke Kosta Rika dan Florida, atau ke Meksiko lalu Los Angeles,” ujar Carlos Lehder Rivas, salah seorang gembong obat bius Kartel Medellin, dalam buku Ron Chepesiuk, The War on Drugs: An International Encyclopedia . Noriega juga dikenal kejam, tak segan menyingkirkan lawan-lawan politiknya. Dia membunuh para pemimpin Gerakan Pembebasan Panama, pendeta Hector Gallegos, diduga kuat ikut mendalangi pembunuhan presiden Ekuador yang baru terpilih Jaime Roldos, Hugo Spandafora, dan Torrijos sendiri. Torrijos tewas dalam kecelakaan pesawat yang ditumpanginya pada 1981. Tapi banyak orang yakin pesawat itu meledak oleh roket orang-orang Noriega. Noriega jadi orang terkuat di Panama. Dia naik pangkat menjadi jenderal dan memimpin National Guard. Dia lalu mendudukkan Nicolas Arditor Barletta sebagai presiden boneka, yang kemudian dia ganti dengan Carlos Duque setahun kemudian karena Barletta berusaha membuka kasus pembunuhan Spandafora. Dia mengendalikan Parlemen. Praktis tak ada yang bisa mengusik kekuasaannya. Dua upaya kudeta terhadap dirinya pada Maret 1988 dan Oktober 1989 pun gagal. Pengusiknya justru Amerika, negara yang telah dia beri izin membangun fasilitas militer di Panama. Ini terutama karena Noriega mulai main mata dengan Castro. AS “kebakaran jenggot”. Cibiran yang beredar terhadap AS, terutama CIA: Noriega lebih tau seluk-beluk CIA ketimbang orang CIA sendiri. Pada 20 Desember 1989, dengan kekuatan 20 ribuan personel dan sejumlah pesawat tempur, AS menyerang Panama. Tentara Noriega melawan tapi tak bisa mengimbangi kekuatan militer AS.  Panama City porak-poranda. Korban berjatuhan, termasuk warga sipil. Komisi Penyelidik Independen Invasi AS atas Panama, yang berkantor di New York, menyebutkan 1.000 hingga 4.000 rakyat Panama terbunuh, ribuan lainnya terluka, dan lebih dari 20 ribu orang kehilangan rumah. Karena terdesak, Noriega meminta perlindungan Kedubes Vatikan di Panama. Setelah pengepungan selama berhari-hari, pukul 08.50 tanggal 3 Januari 1990 Noriega menyerah. Noriega diterbangkan ke Miami. Di pengadilan AS di Miami, Florida, Noriega diadili dan dihukum 40 tahun penjara dengan tuduhan menjadi pengedar narkotika, memeras, serta melakukan pembunuhan dan penipuan di Panama. Ini pengadilan kali pertama dilakukan AS terhadap seorang kepala negara asing. Di negerinya sendiri, Noriega divonis hukuman 60 tahun penjara dalam pengadilan in absentia  atas tuduhan kejahatan penggelapan, korupsi, dan pembunuhan lawan-lawan politiknya. Banyak orang percaya penangkapan Noriega adalah taktik Bush agar skandal masa lalunya tak terbongkar. Noriega punya kartu truf Bush karena pernah berhubungan erat ketika sama-sama menjadi kepala intelijen. Noriega juga membantu Bush dalam skandal Iran-kontra. “Hingga hari ini, tidak pernah terdengar ataupun ada investigasi Kongres terhadap peristiwa dahsyat itu, meski peristiwa itu melanggar banyak perjanjian dan kesepakatan internasional, Konstitusi AS, serta kedaulatan dan kemerdekaan Panama,” tulis Gavriella Gemma dan Teresa Gutierrez dalam The US Invasion of Panama: The Truth Behind Operation ‘Just Cause’ , yang merupakan laporan hasil Komisi Penyelidik Independen Invasi AS atas Panama. Pada 26 April 2010, setelah menjalani hukuman 20 tahun penjara di AS, Noriega diesktradisi ke Prancis untuk menghadapi dakwaan pencucian uang. Di Panama, keluarga korban atas pelanggaran HAM yang dilakukan Noriega protes. Mereka berharap Noriega dikembalikan ke Panama supaya bisa diadili. Akhirnya, pada 11 Desember 2011, Noriega diekstradisi ke Panama, dan dipenjara di penjara El Renacer untuk menjalani hukuman total 60 tahun atas kejahatan yang dilakukan selama pemerintahannya. Ia meninggal dunia pada 29 Mei 2017 di usia 83 tahun.*

bottom of page