top of page

Hasil pencarian

9631 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Tiga Sopir Palang Merah yang Jadi Pesohor Dunia

    PALANG Merah Internasional muncul pada 1863, setelah pengalaman Jean Henry Dunant (1828-1910) dalam Pertempuran Salferino (1859). Pengalaman itu dibukukannya dalam Un Souvenir de Solferino  (1862).

  • Seniman Tunanetra di Balik Pengembangan Alat Musik Kolintang

    UNESCO resmi mengakui kolintang bersama kebaya dan Reog Ponorogo sebagai warisan budaya takbenda ( representative list of the intangible cultural heritage of humanity ). Hal ini diumumkan dalam sidang ke-19 The Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Paraguay, Kamis (5/12/2024).

  • Kedaulatan Pangan Kedaulatan Angan-Angan

    DALAM konteks politik dan ekonomi, kata ‘pangan’ kerap dilekatkan dengan ‘kedaulatan’. Kedaulatan pangan merupakan jalan untuk mencapai ketahanan, keamanan, dan kesejahteraan hidup masyarakat. Dan pada masa-masa jelang pemilihan umum, para calon presiden dan pasangannya kerap menggunakan ‘kedaulatan pangan’ sebagai jargon kampanyenya. Namun siapapun yang pernah terpilih menjadi presiden Indonesia, pada kenyataannya tidak kunjung mampu memenuhi kondisi pangan yang berdaulat untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang makmur dan sejahtera.

  • Ozzy Osbourne Ditolak Jadi Tentara

    DISLEKSIA tak hanya membuat John Michael Osbourne alias Ozzy Osbourne merasa menjadi bocah terbodoh dan jadi bahan olok-olok di kelasnya. Dia juga sampai putus sekolah hinggga masa remajanya menjadi kacau. Ozzy yang dari keluarga kelas pekerja itu tumbuh menjadi bocah bandel. Kendati begitu, dia terpikir untuk membuat ayahnya senang.

  • Manuel Noriega, Si Muka Nanas yang Kotor

    PERAYAAN Natal 1989 datang lebih awal di Gedung Putih. Malam, pada 19 Desember, Presiden George Herbert Walker Bush menyambut hangat tamu-tamunya. Dia tak terlihat lelah meski beberapa jam sebelumnya dia rapat serius dengan para pembantu dekatnya. Selesai acara dia masuk kamar. Keesokan harinya, pukul 07.00, televisi di AS menayangkan pernyataan presiden perihal serangan AS ke Panama dini hari lewat “Operation Just Cause”. Tujuan operasi: menangkap diktator Jenderal Noriega yang dituding telah dan terus melakukan kejahatan seperti penyelundupan obat terlarang, pemerasan, pembunuhan, dan pencucian uang. Dan perintah itu Bush keluarkan di kamarnya usai perayaan Natal itu. Nasib Noriega di ujung tanduk. Manuel Antonio Noriega lahir di Panama City, 11 Februari 1934, anak seorang akuntan yang menikahi pembantu rumah tangganya. Noriega masuk sekolah bergengsi National Institute. Lalu mendapat beasiswa di Akademi Militer Peru dan lulus tahun 1962. Kembali ke Panama, dia masuk National Guard dengan pangkat pembantu letnan. Noriega bertugas di Komando (distrik) Chiriqui, provinsi terbarat Panama. Pada 1968, Brigjen Omar Efrain Torrijos Herrera, panglima National Guard, menggulingkan pemerintahan sipil Amulfo Arias dan mengambil-alih kekuasaan di Panama. Dimulailah pemerintahan militer yang antidemokrasi dan korup. National Guard, yang terlibat dalam perdagangan heroin sejak akhir 1940-an, menjadi andalan untuk mendapat pemasukan dari bisnis kotor. Belum genap setahun, Wakil Kastaf AB Kolonel Amado Sanjur, dengan dukungan CIA, melakukan kudeta. Di sinilah nama Noriega mulai diperhitungkan. Kala itu Noriega komandan Garnisun David, sebuah tempat terpencil 560 km dari Panama City. Noriega tak mendukung kudeta. Dari David, dia menggalang kekuatan dan melancarkan serangan kilat. Sanjur menyerah. Torrijos tak jadi terguling. Noriega naik pangkat jadi letnan kolonel lalu menjadi kepala intelijen militer. Noriega jadi anak emas Torrijos. Baru setahun menjabat, Noriega sudah mengendalikan bagian-bagian vital seperti jawatan imigrasi, pelabuhan, dan bandara. Noriega juga mempererat hubungan dengan badan-badan intelijen AS, terutama CIA. Sejak mahasiswa Akademi Militer, Noriega sudah direkrut CIA guna mengontrol peredaran narkotika dari Panama-AS. “Dia dipastikan telah menjadi agen bayaran CIA yang mengantongi US$200.000 setahun,” tulis Endang SN dalam Noriega, Presiden dan Narkotik . Tapi pada saat bersamaan, Noriega justru menjadi andalan para kartel obat bius dan pelaku kejahatan kotor lainnya. Salah satunya Kartel Medellin, pengedar terbesar asal Kolombia, yang pada 1984 mengontrol 80% pasar kokain di AS.   “Kartel membayar Noriega 1.000 dolar per kg kokain untuk izin pengapalan barang haram itu melintasi Panama kemudian ke Kosta Rika dan Florida, atau ke Meksiko lalu Los Angeles,” ujar Carlos Lehder Rivas, salah seorang gembong obat bius Kartel Medellin, dalam buku Ron Chepesiuk, The War on Drugs: An International Encyclopedia . Noriega juga dikenal kejam, tak segan menyingkirkan lawan-lawan politiknya. Dia membunuh para pemimpin Gerakan Pembebasan Panama, pendeta Hector Gallegos, diduga kuat ikut mendalangi pembunuhan presiden Ekuador yang baru terpilih Jaime Roldos, Hugo Spandafora, dan Torrijos sendiri. Torrijos tewas dalam kecelakaan pesawat yang ditumpanginya pada 1981. Tapi banyak orang yakin pesawat itu meledak oleh roket orang-orang Noriega. Noriega jadi orang terkuat di Panama. Dia naik pangkat menjadi jenderal dan memimpin National Guard. Dia lalu mendudukkan Nicolas Arditor Barletta sebagai presiden boneka, yang kemudian dia ganti dengan Carlos Duque setahun kemudian karena Barletta berusaha membuka kasus pembunuhan Spandafora. Dia mengendalikan Parlemen. Praktis tak ada yang bisa mengusik kekuasaannya. Dua upaya kudeta terhadap dirinya pada Maret 1988 dan Oktober 1989 pun gagal. Pengusiknya justru Amerika, negara yang telah dia beri izin membangun fasilitas militer di Panama. Ini terutama karena Noriega mulai main mata dengan Castro. AS “kebakaran jenggot”. Cibiran yang beredar terhadap AS, terutama CIA: Noriega lebih tau seluk-beluk CIA ketimbang orang CIA sendiri. Pada 20 Desember 1989, dengan kekuatan 20 ribuan personel dan sejumlah pesawat tempur, AS menyerang Panama. Tentara Noriega melawan tapi tak bisa mengimbangi kekuatan militer AS.  Panama City porak-poranda. Korban berjatuhan, termasuk warga sipil. Komisi Penyelidik Independen Invasi AS atas Panama, yang berkantor di New York, menyebutkan 1.000 hingga 4.000 rakyat Panama terbunuh, ribuan lainnya terluka, dan lebih dari 20 ribu orang kehilangan rumah. Karena terdesak, Noriega meminta perlindungan Kedubes Vatikan di Panama. Setelah pengepungan selama berhari-hari, pukul 08.50 tanggal 3 Januari 1990 Noriega menyerah. Noriega diterbangkan ke Miami. Di pengadilan AS di Miami, Florida, Noriega diadili dan dihukum 40 tahun penjara dengan tuduhan menjadi pengedar narkotika, memeras, serta melakukan pembunuhan dan penipuan di Panama. Ini pengadilan kali pertama dilakukan AS terhadap seorang kepala negara asing. Di negerinya sendiri, Noriega divonis hukuman 60 tahun penjara dalam pengadilan in absentia  atas tuduhan kejahatan penggelapan, korupsi, dan pembunuhan lawan-lawan politiknya. Banyak orang percaya penangkapan Noriega adalah taktik Bush agar skandal masa lalunya tak terbongkar. Noriega punya kartu truf Bush karena pernah berhubungan erat ketika sama-sama menjadi kepala intelijen. Noriega juga membantu Bush dalam skandal Iran-kontra. “Hingga hari ini, tidak pernah terdengar ataupun ada investigasi Kongres terhadap peristiwa dahsyat itu, meski peristiwa itu melanggar banyak perjanjian dan kesepakatan internasional, Konstitusi AS, serta kedaulatan dan kemerdekaan Panama,” tulis Gavriella Gemma dan Teresa Gutierrez dalam The US Invasion of Panama: The Truth Behind Operation ‘Just Cause’ , yang merupakan laporan hasil Komisi Penyelidik Independen Invasi AS atas Panama. Pada 26 April 2010, setelah menjalani hukuman 20 tahun penjara di AS, Noriega diesktradisi ke Prancis untuk menghadapi dakwaan pencucian uang. Di Panama, keluarga korban atas pelanggaran HAM yang dilakukan Noriega protes. Mereka berharap Noriega dikembalikan ke Panama supaya bisa diadili. Akhirnya, pada 11 Desember 2011, Noriega diekstradisi ke Panama, dan dipenjara di penjara El Renacer untuk menjalani hukuman total 60 tahun atas kejahatan yang dilakukan selama pemerintahannya. Ia meninggal dunia pada 29 Mei 2017 di usia 83 tahun.*

  • Setelah Jadi ABRI, Polisi Jadi Alat Politik Penguasa

    KRITIK terhadap Kepolisian RI sehubungan dengan dugaan ketidaknetralan institusi keamanan tersebut dalam Pemilu 2024, terutama Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), masih terus berjalan. Sejumlah politikus PDI P bahkan sampai membuat istilah “Partai Coklat” untuk menamakan korps Bhayangkara itu.

  • Cerita Dua Arca Ganesha di Pameran Repatriasi

    SEBONGKAH batu yang terpahat begitu halus itu menampakkan sesosok Ganesha yang sedang duduk di atas setumpukan tengkorak. Tangan kanan belakangnya menggenggam parasu  (kapak), tangan kiri belakang memegang aksamala  (tasbih), dan kedua tangan depannya masing-masing memegang modaka  (cawan), serta belalainya sedang menghisap modaka  di tangan kiri depannya.

  • Karya Seniman Belanda yang Tertinggal di Istana Bogor

    SEJAK 2020, pemerintah Belanda dan Indonesia disibukkan perkara repatriasi benda-benda seni dan bersejarah yang dijarah di masa kolonial dari Belanda ke Indonesia. Lantas, muncul persoalan mengenai apakah repatriasi bakal berlaku sebaliknya: pengembalian benda-benda seni dari Indonesia ke Belanda?

  • The Children’s Train dan Nasib Anak-anak Korban Perang di Italia

    SEORANG violinis terkemuka Italia, Amerigo Speranza (diperankan aktor Italia Stefano Accorsi), bersiap tampil dalam pertunjukan musik ketika ia mendapat panggilan telepon yang mengabarkan ibunya meninggal dunia. Kabar mengejutkan itu membuat ingatannya kembali ke tahun 1940-an, ketika ia dan ibunya, Antonietta (diperankan Serena Rossi), menjadi saksi kehancuran kota Naples di masa Perang Dunia II.

  • Sekolah Dokter Dulu Sekolah Miskin

    DEMI mempertahankan laba pengusaha dan kas Kerajaan Belanda, pemerintah kolonial Hindia Belanda amat memperhatikan bisnis-bisnis di Hindia Belanda. Kesehatan pribumi sebagai penunjang, di mana mereka menjadi mayoritas tenaga kasar dalam bisnis-bisnis itu, pun mau tak mau ikut diperhatikan. Salah satunya dengan mendirikan sekolah kedoktera pada pertengahan abad ke-19.

  • Kisah Jongkie Sugiarto, Montir Mobil Kepresidenan RI

    JONGKIE Sugiarto dibangunkan dari tidurnya pada suatu malam di tahun 1976. Jam menunjukan pukul 11 malam. Sepasukan Corps Polisi Militer (CPM) datang menjemput Jongkie malam itu. “Saya pikir ada apa. Apa tetangga saya ditangkap? Ternyata saya dipanggil ke Istana karena besoknya jam 10 pagi Presiden Marcos dari Filipina datang mendadak dan mobil harus disiapkan malam itu juga,” kenang Jongkie.

  • Ketika Kapolri Hoegeng Iman Santoso Kena Peremajaan

    KEMUNCULAN kasus Sum Kuning –gadis penjual telur yang diperkosa sekelompok pemuda anak gedongan– yang sensitif bagi banyak pejabat Orde Baru, lalu kasus penyelundupan mobil mewah oleh pengusaha Robby Tjahyadi dkk., dan kematian Rene Conrad membuat kepolisian menjadi sibuk. Instansi yang dikepalai Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso yang dikenal antisuap dan antikorupsi itu pun berupaya berbuat maksimal.

bottom of page