Hasil pencarian
9627 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kiprah Buruh Nasionalis
KETIKA dibui pada 1930, Sukarno didakwa atas tuduhan menebar kebencian terhadap pemerintah kolonial. Dalam kerangkeng penjara Sukamiskin di Bandung, pemimpin PNI itu menuliskan pidato pembelaannya. “Bangsa yang terdiri dari kaum buruh belaka dan menjadi buruh antara bangsa-bangsa, Tuan-tuan Hakim, –itu bukan nyaman! Tidakkah oleh karenanya, wajib tiap-tiap nasionalis mencegah keadaan itu dengan sekuat-kuatnya? Tidakkah hal ini saja sudah cukup buat membenarkan kami punya pergerakan?” kata Sukarno dalam pledoinya, Indonesia Menggugat.
- Tinju Kiri Muhammad Ali di Jakarta
PERTARUNGAN Muhammad Ali yang paling diingat publik adalah ketika dia menghadapi Joe Frazier pada 8 Maret 1971 di New York, Amerika Serikat. Ali kalah dalam pertandingan bertajuk “Pertarungan Abad Ini” untuk kali pertama setelah menang 31 kali berturut-turut. Gelar juara dunia kelas berat pun lepas dari genggamannya. Publik menanti pertarungan Ali-Frazier selanjutnya. Sebagai pemanasan melawan Frazier, Ali menjalani satu pertandingan di Jakarta. Promotor Raden Sumantri berhasil menggelar pertandingan Ali melawan Rudi Lubbers, juara tinju kelas berat asal Belanda. Awalnya akan dilaksanakan di Surabaya pada 14 Oktober 1973, tapi pertandingan dialihkan ke Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 20 Oktober 1973.
- Empati Muhammad Ali untuk Palestina
MUHAMMAD Ali tak pernah takut mempertaruhkan karier tinjunya. Meski sempat kena sanksi akibat menolak ikut wajib militer sebagai buntut protesnya terharap Perang Vietnam, juara dunia kelas berat itu tak segan mengamplifikasi empatinya terhadap Palestina. Pada 28 April 1967, Ali menolak wajib militer Perang Vietnam (1955-1975). Akibatnya, ia terancam hukuman penjara 5 tahun, sanksi larangan bertinju selama 3 tahun serta dikenai denda 10 ribu dolar. Padahal saat itu Ali sedang berada di puncak kariernya dengan koleksi gelar kelas berat WBA, WBC, NYSAC, dan The Ring.
- Pencarian Islam Muhammad Ali
RUANG rawat nomor 263 di Scottsdale Osborn Medical Center, Arizona, Amerika Serikat (AS) pada pukul 20.30 tanggal 3 Juni 2016 sudah ramai dengan keluarga Muhammad Ali. Anak-anak dan istrinya mulai mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk ajal menjemput. “Ali dirawat karena infeksi pernapasan. Sebelumnya ia juga sempat dirawat karena infeksi tapi berhasil sembuh lagi. Tetapi kali ini, setelah beberapa hari perawatan, kondisinya melemah. Keluarganya sudah menemaninya saat ventilator yang menyambung hidupnya dilepaskan. Ali kesulitan bernafas,” tulis jurnalis Jonathan Eig dalam Ali: A Life.
- Sebelum Muhammad Ali Unjuk Gigi
HARI itu, 17 Januari 1942, di sebuah rumah lima kamar di lingkungan miskin Jalan Grand Avenue 3302 kota kecil Louisville, Kentucky, Amerika Serikat, seorang bayi dengan berat 2,9 kilogram lahir dari rahim Odessa Lee Grady. Bayi itu dinamai menurut nama suaminya, Cassius Marcellus Clay Jr. Kelak, sang bayi jadi idola global, Muhammad Ali. Cassius kecil merupakan anak sulung dari dua bersaudara pasangan Odessa dan Cassius Marcellus Clay Sr. Keluarga kulit hitam kelas menengah itu hidup dengan ekonomi pas-pasan, di mana Odessa –sebagaimana perempuan kulit hitam kebanyakan– merupakan pembantu rumah tangga dan suaminya seorang pelukis papan iklan sekaligus musisi musiman.
- Jenderal “Jago Perang” Belanda Meregang Nyawa di Pulau Dewata
SEDARI remaja, pria kelahiran Maastricht, Belanda, 30 April 1797 ini sudah jadi tentara. Dia masih 17 tahun ketika terlibat dalam Perang Napoleon sebagai letnan dua di resimen ke-22 militer Prancis. Dia ada di sana sewaktu Napoleon kalah di Waterloo. Andreas Victor Michiels, nama pria itu, akhirnya memilih melanglang buana ribuan kilometer dari tanah kelahirannya. Pada 3 Juli 1817, dia sudah berada di Batavia. Dia menjadi letnan satu pada batalyon perintis tentara kolonial Hindia Belanda.
- Sukarno dan Skandal Diplomat 20 Persen di Denmark
SUKARNO geram. Tampilan muka sebuah majalah remaja terbitan Amerika Serikat memperlihatkan gadis striptis setengah telanjang, hanya memakai celana dalam, dan berdiri di samping Sukarno yang berpakaian seragam militer lengkap. Sukarno menyebut itu adalah rekayasa foto. “Ini adalah perbuatan kotor yang dilakukan terhadap seorang kepala negara. Apakah aku harus mencintai Amerika kalau ia melakukan perbuatan seperti itu terhadap diriku?” ujar Sukarno dalam otobiografi Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams.
- Tidak Lagi Memunggungi Afrika
DARI tanggal 21 Agustus sampai 24 Agustus Presiden Joko Widodo melakukan lawatan ke empat negara Afrika: Kenya, Tanzania, Mozambik, dan Afrika Selatan. Momen ini historis karena merupakan kunjungan luar negeri pertama Jokowi ke kawasan Afrika selama menjabat sebagai presiden. Jokowi berpendapat bahwa hubungan antara Indonesia dan Afrika telah terjalin panjang. Indonesia merupakan inisiator dari Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang diadakan di Bandung tahun 1955. Hubungan antara Indonesia dan Afrika berlanjut dalam Gerakan Non-Blok yang dianggap sebagai pewaris dari aspirasi perdamaian dan non-blok dari KAA. Jokowi menekankan bahwa ‘Spirit Bandung inilah yang akan saya bawa dalam kunjungan ke Afrika dengan memperkokoh solidaritas dan kerja sama di antara negara-negara Global South.
- Pesta Liar dan Skandal Bintang Besar Hollywood
KASUS hukum yang menjerat rapper terkenal Amerika Serikat Sean “Diddy” Combs turut menyeret nama sejumlah pesohor Hollywood, mulai dari Jennifer Lopez, Leonardo DiCaprio, Jay-Z, Beyoncé, hingga Justin Bieber. Para bintang terkenal itu diduga mengetahui tindak kejahatan yang dilakukan P. Diddy. Salah satunya berkaitan dengan Freak Off , pesta liar besar-besaran yang kerap diadakan oleh sang rapper dan dihadiri banyak selebritis papan atas. Pesta mewah yang berlangsung selama beberapa hari itu dilaporkan sarat akan tindakan kejahatan, termasuk kekerasan seksual. Skandal ini mulai menjadi sorotan publik setelah mantan kekasih Diddy, Cassie Ventura, mengajukan gugatan kepada pelantun lagu I’ll Be Missing You itu pada November 2023. Cassie menuding Diddy “menjebak” dirinya selama sepuluh tahun atas “pelecehan, kekerasan, dan perdagangan seks yang dilakukan berulang kali.” Gugatan yang diajukan Cassie akhirnya memicu kemunculan gugatan-gugatan lain terhadap Diddy.
- Tenun Nusantara Merambah Generasi Muda
KAIN tenun lurik biasanya dipakai sebagai busana tradisional masyarakat Solo. Tapi, pernahkah terbayang motif garis-garis tenun lurik melekat pada celana jins, jaket, dan ragam busana lain yang biasa dipakai oleh anak-anak muda? Tenun tentu tak lagi dipandang sebagai pakaian tradisional semata ataupun objek koleksi para kolektor wastra. “Ini perpaduan antara pattern (desain) yang biasa kita pakai di koleksi sebelumnya dengan wastra lurik. Warnanya kita tabrakin menjadi sesuatu yang lebih fun untuk dipakai. Sebuah pieces yang lebih modern dan bisa dipakai untuk apa aja, fashion event apapun tujuannya biar bisa dipakai ke semua umur,” ungkap Reva Marchelin, penata fesyen Moneyman Works, dalam konferensi pers pertunjukan fesyen “VERSI” yang diselenggarakan Cita Tenun Indonesia (CTI) di Senayan City, 25 September 2024.
- Kisah Anak-anak Marhaen
WALUJO Martosugito masih ingat kejadian setengah abad lalu itu. Suatu siang saat dirinya dan Wakil Perdana Menteri Roeslan Abdulgani tengah berbincang dengan Presiden Sukarno di bagian belakang Istana Negara, seorang perwira tiba-tiba datang menghadap. Ia melaporkan bahwa Istana Negara sudah dikepung oleh para demonstran dari KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). “Dilapori itu, Bung Karno sama sekali tidak panik. Ia malah bilang supaya dinamika anak-anak muda jangan dimatikan,” ujar lelaki kelahiran Klaten 80 tahun lalu tersebut.
- Mengenang Amelia Earhart yang Mampir di Bandung
GRAND Hotel Preanger, Bandoeng. Begitu keterangan yang tercetak di kop surat bertanggal 22 Juni 1937 dengan sisipan potret seorang perempuan pionir dirgantara berambut pendek mengenakan jaket kulit. Itulah potret Amelia Earhart si perempuan pilot pencari tantangan keliling dunia. Tapi surat yang dimaksud bukanlah surat dari tulisan tangan Earhart, melainkan navigator yang menemani Amelia berkeliling dunia, Frederick Joseph Noonan. Suratnya ditujukan untuk salah seorang sahabat perempuannya di Amerika Serikat (AS), Helen Day.






















