top of page

Hasil pencarian

9710 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sebelum Achmad Albar Sukses di Indonesia

    ACHMAD Albar alias Iyek hanya satu dari sekian anak Jakarta yang merasa terkekang. Pasalnya, politik anti-Barat pemerintah membuat anak muda Indonesia diharamkan menyanyikan lagu-lagu pop dan rock Barat yang sedang naik daun di era 1960-an. Musik Barat seperti rock dicap sebagai musik setan atau diistilahkan Ngak Ngik Ngok. Tak hanya musiknya saja, penampilannya juga dilarang. “Di zamannya Sukarno itu kita dilarang pakai jins ketat, rambut panjang juga gak boleh. Mainkan lagu The Beatles pun kita nyolong-nyolong,” kenang Achmad Albar dalam di Pameran Retrospektif God Bless 50 tahun pada 19 Februari 2024. Di tahun-tahun terakhir pemerintahan Sukarno, Iyek –yang pernah main di film Djenderal Kantjil ketika masih bocah– pun hijrah ke Belanda. Ibunya, Farida Alhasni, khawatir dengan situasi politik yang memburuk pasca-G30S meski anaknya bukan orang politik.

  • Nyanyi Sunyi Rambut Kribo

    KERITING, tebal, dan mengembang. Begitulah gaya rambut yang menjadi ciri khas Eddi Brokoli, penyanyi dan aktor Indonesia. Dengan gaya rambut Afro itu, di Indonesia dikenal dengan sebutan kribo, dia jadi mudah dikenali para penggemarnya. Gaya rambut itu mulai dipopulerkan empat dekade lalu. Mulanya, pada pertengahan 1960-an, orang-orang kulit hitam di Amerika Serikat mendefinisikan ulang diri mereka. Dipicu peristiwa pembunuhan tokoh hak asasi manusia Afrika-Amerika, Malcolm X, pada 21 Februari 1965, mereka melancarkan sebuah “revolusi sunyi”, tanpa turun ke jalan. Orang-orang kulit hitam berhenti meluruskan rambut dan mulai menonjolkan kebanggaan warisan rasial melalui gaya rambut. Carole Elizabeth Boyce Davies dalam buku Encyclopedia of the African Diaspora menyebut, gaya rambut Afro mendapatkan makna politis begitu menjadi simbol Black Power Movement .

  • God Bless di Mata Roy Jeconiah

    Roy Jeconiah, eks vokalis Boomerang, tak pernah lupa sebuah kejadian kendati kejadian itu sudah 30 tahun. Pasalnya, kejadian itu merupakan salah satu tonggak penting baginya dalam bermusik. Saat itu, tahun 1993, Roy dan band rocknya yang bernama Lost Angels menjadi band pembuka bagi supergrup rock Indonesia God Bless. Itu artinya, Roy mendapat kehormatan bisa sepanggung dengan band idolanya.  “Kalau God Bless, masa kecil saya sudah mendengar lagu-lagu God Bless. Sampai SMP dan mulai main band, lagunya termasuk yang dimainkan di band saya,” aku Roy di hadapan Ian Antono, Ahmad Albar serta para pengunjung “Pameran Retrospektif God Bless 50 tahun” pada 19 Februari 2024. Penikmat musik rock Indonesia era 1990-an tentu mengenal Boomerang. Band ini sezaman dengan Zamrud dari Cimahi. Tak hanya orang dewasa zaman itu, bocah SD pun tahu band asal Surabaya ini. Hit terkenal Boomerang antara lain “Bawalah Aku”, “Kisah”, “Pelangi”, dan “Bungaku”.

  • Hari Tersedih God Bless

    Waktu itu, Selasa, 9 Juli 1974, Teddy Sundjaja dan Ian Antono belum bergabung dengan God Bless yang didirikan dan dipimpin oleh Achmad Albar. God Bless juga belum merilis satu album pun, tetapi sudah dikenal sebagai band panggung yang sohor di Jakarta. Hari itu, beberapa mobil sudah siap mengantar personel God Bless dan kolega menuju Jalan Pegangsaan, ke markas band Gypsy, yang pernah diperkuat pembetot bass bersuara merdu Christian Rahadi alias Chrisye. Gypsy juga pernah diperkuat Nasution bersaudara. Salah satunya pencipta lagu Nuansa Bening , Keenan Nasution. Sesama band Jakarta, mereka   cukup akrab. Bahkan, beberapa personel Gypsy pernah bermain untuk God Bless. Achmad Albar alias Iyek menganjurkan agar semuanya naik mobil. Namun, Fuad Hassan rupanya sedang ingin naik sepeda motornya, kebetulan merek Yamaha. Kunci motor sempat disembunyikan.

  • Duel God Bless vs Soneta Group

    MALAM 31 Desember 1977 di Istora Senayan, Jakarta.   Duel dua band besar yang berpengaruh dalam blantika musik Indonesia. Di awal acara, ketika gong berbunyi, wakil band masing-masing membawa dua ekor burung merpati lalu melepaskannya ke angkasa. Tak hanya dua merpati,   balon-balon pun dilepas ke udara. Seorang penonton maju membawa koin untuk mengundi siapa yang lebih dulu naik panggung. Alhasil, God Bless tampil lebih dulu. Kala itu, God Bless diawaki Teddy Sunjaya (drum), Yocky Soeryoprayogo (organ), Ian Antono (gitar), Donny Fattah Gagola (bass), dan tentu saja Achmad Syech Albar sebagai vokalis. “Dengan peralatan yang berkekuatan 4.000 watt, Achmad melepaskan lagu-lagu Carry on Warward Son, Silver Spoon, She Pass Away, You Have it All, — juga hitnya Neraka Jahanam ,” demikian laporan   majalah Tempo , 14 Januari 1978. Saat itu, God Bless sudah merilis album rock , yang meski comot sana-sini, terbilang hebat dalam sejarah musik rock  Indonesia.

  • Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

    KABAR duka datang dari belantika musik rock tanah air. Donny Fattah, pencabik bas sekaligus salah seorang pendiri band rock legendaris God Bless, tutup usia pada Sabtu, 7 Maret 2026. Manajemen God Bless melalui akun Instagram -nya, @goodblessrocks, mengabarkan almarhum meninggal dunia di Rumahsakit Fatmawati, Jakarta.   Peran Donny amat besar di God Blesss. Selain penjaga keharmonisan band, selaku basis Donny produktif menulis lagu dan konsisten menjaga ritme lagu-lagu God Bless yang jelas bukan kaleng-kaleng.   Sedari awal, God Bless sudah punya beberapa lagu bagus. Lagu-lagu itu muncul di album pertama, God Bless  (1976), dengan Ahmad Albar yang kribo sebagai sampul albumnya. Bersama sutradara Syumandjaya, Donny menulis lagu “Huma di Atas Bukit”. Selain itu, juga lagu “She Passed Away” dan “Setan Tertawa”.   “Tiga lagu ini menjadi kebanggaan God Bless karena sebelumnya supergroup Jakarta ini biasa mengcover lagu barat,” catat Bens Leo dalam Bens Leo dan Aktuil: Rekam Jejak Jurnalisme Musik  dan Majalah Aktuil  edisi 243 tahun 1978.   Selain muncul di album perdana God Bless, “Huma di Atas Bukit” muncul di film Laela Majenun karya Syumandjaya yang dibintangi pula oleh Ahmad Albar. “She Passed Away” juga muncul dalam film Si Doel Anak Modern , yang juga dimainkan Syumandjaya bersama Ahmad Albar pula plus Benyamin S.   Waktu album perdana itu dirilis, rata-rata usia para personel God Bless masih 20-an tahun. Donny yang kelahiran Makassar, 24 September 1949, masih sekitar 27 tahun. Namun, Donny yang sejak usia belasan tahun sudah main band di Jakarta itu rupanya sudah memikirkan Indonesia.   “Sebagai generasi muda yang sedang tumbuh dalam pencarian identitas diri, kita dihadapkan kegamangan ketika melihat para pemimpin yang kala itu tidak lagi mencerminkan semangat 45. Mereka berpesta pora, sementara dimana-mana rakyat menderita,” terang Donny seperti dicatat Alex Palit dalam God Bless and You - Rock Humanisme .   Lewat lagu kritikan itu, Donny menyuarakan kesenjangan generasi muda dan generasi tua yang sedang berkuasa. Dengan lirik yang amat lugas dan sederhana, seharusnya lagu mudah dipahami orang-orang yang pernah “makan” bangku sekolahan meski tak dijelaskan siapa para pembuat dosa dalam lagu tersebut.   Generasi tua yang berkuasa di era album itu dirilis adalah mereka yang lahir antara tahun 1900 hingga 1929, biasa digolongkan sebagai “ Great Generation ” alias Generasi Hebat. Sementara, Donny dan personel God Bless lain adalah pemuda kelahiran 1945 hingga 1950-an, tergolong generasi “ Baby Boomers ” alias yang lahir setelah Perang Dunia II.   Era 1970-an, saat album God Bless  dirilis, adalah era Orde Baru. Era tersebut dianggap pendukung Orde Baru sebagai era pertumbuhan ekonomi meski realitasnya pertumbuhan itu jauh dari kata merata seperti yang diinginkan Pancasila. Kesenjangan sosial saat itu diwarnai pula oleh korupsi. “Mereka lupa Tuhan ada, setan tertawa berpesta pora, membawa lagu ia berkata, tambah kawan masuk neraka,” tulis Donny dalam lagu “Setan Tertawa”.   Lagu “Setan Tertawa” dibuat di era korupsi mulai marak di Indonesia. Penguasa suka mengutuk orang tak beragama atau tak bertuhan, namun mereka sendiri banyak mengabaikan perintah Tuhan.   Donny dengan demikian mengutuki penguasa-penguasa yang satu generasi dengan ayahnya. Di antara yang berkuasa itu bahkan ada yang kawan seperjuangan ayahnya sewaktu revolusi ‘45. Waktu lagu itu ditulis, ayah Donny yang bernama Eddy Medau Gagola dan populer sebagai Eddy Gagola, sudah meninggal dunia. Eddy Gagola termasuk Angkatan 45.   “Ayahnya seorang Sangir Talaud seorang letkol (letnan kolonel) AD yang pernah pegang wakil Kostrad KODAM V Jaya. Orangtuanya ini meninggal dunia pada 1965 yang menyebabkan Donny harus meninggalkan bangku kuliah yang ketika itu baru saja memasuki tingkat persiapan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,” tulis Bens Leo.   Sewaktu revolusi kemerdekaan Indonesia (1945-1949), Eddy Gagola mula-mula anggota laskar Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS). Kecerdasannya membuat dia menjadi perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI) ketika berperang melawan tentara Belanda. Edy Gagola sudah letnan di era revolusi. Pada awal 1950, Eddy sudah berpangkat kapten dan ditempatkan di Sulawesi Utara hingga naik pangkat lagi. Eddy Gagola dekat dengan pemimpin Permesta Letnan Kolonel Herman Nicolas Ventje Sumual.   “Mayor Eddy Gagola adalah staf saya dulu masa perang gerilya di Jogja. Ia perwira yang cerdas,” kata Ventje Sumual dalam Memoar Ventje H.N. Sumual .   Sang pemimpin Permesta itu cukup menghormatinya Eddy. Sebagai salah satu orang penting di Sulawesi pada 1950-an, Eddy ikut menandatandatangani deklarasi Permesta, yang merupakan upaya koreksi daerah kepada pusat dan menjadi isu penting pada 1957.   Eddy menikahi seorang perempuan Jawa bernama Moerdiyah Kartoatmodjo. Keduanya lalu dianugerahi putra yang diberi nama Gideon Patta Onda Gagola alias Donny Fattah.   Donny memilih berbeda jalan hidup dari ayahnya yang militer. Donny yang tak bisa jadi dokter lalu bergelut dengan musik. Sewaktu bekerja sebentar di Kedubes RI di Kanada, Donny memanfaatkannya untuk belajar lebih tentang bas pada basis cum  pentolan grup Rush, Geddy Lee. Sekembalinya ke tanah air, Donny lalu memperkuat Equator Child dan Fancy Jr. Bersama gitaris Ludwig Lemans dan drummer Fuad Hassan, Donny juga terlibat dalam proyek Deddy Dores and The Road yang merilis album lagu-lagu melankolis seperti “Tinggal Kenangan”.   Ludwig datang ke Indonesia dari Belanda bersama Ahmad Albar. Keduanya sukses bermusik di Belanda lewat Clover Leaf. Di Indonesia, keduanya bersama Donny dan Fuad lalu membentuk God Bless.   Dengan segala masalahnya, Donny hidup dengan musik hingga tua. Donny sempat rekaman bersama adiknya, Rudi Gagola, dalam D&R . Di era 1990-an, bersama gitaris God Bless Ian Antono dan Albar, Donny memperkuat Gong 2000 hingga band tersebut dibubarkan pada 2000. Meski ada masa Donny absen, Donny terus bertahan di God Bless hingga akhir hayatnya. Selamat jalan, Donny!*

  • Cornelis Speelman di Tengah Kemelut Mataram

    PERJANJIAN Bongaya yang disepakati pada 18 November 1667 menjadi kemenangan VOC dalam Perang Makassar. Perjanjian tersebut merampas hegemoni regional Makassar dan menempatkannya di bawah kekuasaan VOC. Tak hanya itu, Perjanjian Bongaya menjadi bukti bahwa VOC berhasil meredam perlawanan salah satu lawan paling gigih, sehingga kerajaan-kerajaan lain semakin waspada terhadap VOC. Perjanjian ini melambungkan nama Cornelis Speelman, pemimpin ekspedisi militer dalam Perang Makassar. Sejarawan Belanda, Frederik Willem Stapel mencatat dalam “Cornelis Janszoon Speelman”, yang termuat di Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië , 1936, Perang Makassar menjadi perhatian para petinggi VOC di Negeri Belanda, yakni Heeren Zeventien atau Dewan Tujuh Belas. Perjanjian Bongaya dianggap sebagai langkah penting dalam upaya VOC mengamankan dan memonopoli perdagangan di Hindia Timur. “Dewan Tujuh Belas tidak hanya mengirimkan surat yang berisi apresiasi atas keberhasilan pasukan Speelman di Makassar, tetapi juga berterima kasih kepada sang pemimpin ekspedisi militer itu dengan menyisipkan kata-kata pujian untuknya,” tulis Stapel. Surat itu juga mengumumkan bahwa mereka memutuskan untuk mempromosikan Speelman menjadi anggota Dewan Hindia, dan sebagai pengakuan atas kesuksesannya, Speelman mendapat hadiah medali rantai emas yang nilainya mencapai ribuan gulden. Keberhasilan Speelman memimpin ekspedisi militer dalam Perang Makassar membuat namanya muncul dalam rapat-rapat pejabat VOC. Kali ini untuk mengembalikan kestabilan di Mataram karena Susuhanan Amangkurat I tengah menghadapi perlawanan yang semakin kuat. Menurut Sejarawan Gerrit Knaap dalam Genesis and Nemesis of the First Dutch Colonial Empire in Asia and South Africa, 1596–1811 , salah satu faktor yang memperumit situasi adalah orang Makassar yang berpindah-pindah. Setelah mengalami kekalahan di tangan VOC dan Arung Palakka, banyak orang Makassar meninggalkan Sulawesi Selatan dan bermigrasi ke wilayah lain di Nusantara. Pada 1674, sekitar 800 orang Makassar berlayar dengan sekitar 30 kapal dan menetap di bagian timur Mataram. Banyak di antara mereka yang tinggal di tempat yang disebut Demung. Di sana, mereka bekerjasama dengan Trunajaya, seorang pangeran dari Madura, yang melakukan perlawanan kepada Amangkurat I. “VOC menganggap orang Makassar di Mataram sebagai faktor risiko. Oleh karena itu, pada awal 1676, VOC mengirim armada delapan kapal ke Jawa Timur untuk melakukan aksi gabungan dengan pasukan darat Mataram. Setelah negosiasi gagal meyakinkan orang Makassar untuk kembali ke tempat asal mereka secara sukarela, pertempuran pun meletus. Aksi awal mengecewakan karena kesulitan dalam mengoordinasikan operasi antara VOC dan Mataram. Pada September 1676, Mayor Christiaan Poleman dengan 900 orang akhirnya berhasil merebut Demung. Setelah itu, orang Makassar pindah ke Madura,” tulis Knaap. Tak lama setelah orang Makassar bergabung dengan Trunajaya di Madura, mereka kemudian menyeberangi Selat Madura ke Jawa. Trunajaya bermarkas di Surabaya, sementara pasukan dan sekutunya maju sepanjang pantai utara menuju Jawa Tengah. Pasukan yang dikirim Mataram untuk menahan pergerakkan mereka dikalahkan pada Oktober 1676. Orang Madura dan Makassar menguasai seluruh pantai Jawa Timur dan Tengah. Kondisi inilah yang membuat pejabat VOC berunding untuk melancarkan aksi nyata dalam meredam kemelut Mataram. Penyebabnya, pada November 1676 orang Madura dan Makassar menyerang Jepara, tempat pabrik Belanda termasuk pasukan kecil VOC yang membantu otoritas lokal mengusir musuh. Pada tahap ini, Trunajaya dan orang Makassar sudah mulai menjauh, yang menyebabkan pihak terakhir mundur ke Jawa Timur. Sementara itu, baik Amangkurat I maupun Trunajaya berusaha memenangkan dukungan VOC. VOC mengutus Cornelis Speelman memimpin ekspedisi ke Jepara untuk memediasi kedua belah pihak. Sementara itu, atas undangan pemimpin lokal setempat, orang Belanda membangun benteng di dekat kota Jepara, yang menjadi benteng pertama VOC di wilayah Mataram. “Fakta ini segera membuat Speelman condong ke pihak Mataram, dan pada awal 1677 dia menandatangani perjanjian dengan Susuhunan, yang mengatur bahwa VOC akan memberikan bantuan militer kepada pihak Mataram sebagai imbalan atas penggantian biaya perang,” tulis Knaap. Setelah urusan di Jepara selesai, Speelman dan pasukannya tiba di Surabaya pada April 1677 untuk menemui Trunajaya. Speelman berupaya meyakinkan Trunajaya agar mengakui Amangkurat I sebagai Susuhunan dan mundur ke Madura. Tetapi Trunajaya menolak sehingga Speelman mendeklarasikan perang. Speelman mendaratkan pasukan, dan setelah negosiasi baru yang sia-sia, posisi Madura dihancurkan pada 13 Mei 1677. Trunajaya berhasil melarikan diri ke pedalaman. Dua bulan berselang, dari Surabaya ketika penyakit merenggut banyak korban di kalangan Belanda, ekspedisi militer diluncurkan untuk membumihanguskan Madura. Dari pedalaman Jawa, Trunajaya mengumpulkan pasukan baru dan menghancurkan keraton di Plered, sekitar Yogyakarta saat ini, tidak jauh dari pantai selatan Jawa. Amangkurat I melarikan diri ke Tegal di pantai utara yang menjadi tempat meninggalnya. Putra mahkota menggantikan posisinya sebagai Amangkurat II. Di tengah kemelut Mataram, Speelman menerima surat penting dari Batavia. Isinya mengumumkan bahwa Dewan Tujuh Belas dalam surat tanggal 21 Oktober 1676 menetapkan, jika Gubernur Jenderal VOC Joan Maetsuycker meninggal, posisinya akan digantikan oleh Rijckloff van Goens, dan Speelman akan dipromosikan menjadi penasihat pertama dan Direktur Jenderal.*

  • Menelusuri Tradisi Beli Pakaian Baru Jelang Lebaran

    PEMERINTAH melarang tradisi mudik Lebaran pada 2021. Tujuannya menekan penyebaran Covid-19. Tapi pemerintah mengimbau masyarakat tetap meneruskan tradisi lain menjelang Lebaran: beli pakaian baru. “Ada bagusnya Lebaran kita tetap menggunakan baju baru sehingga muncul aktivitas ekonomi,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani pada 22 April 2021. Tradisi membeli pakaian baru jelang Lebaran dan memakainya sewaktu Lebaran telah berjejak cukup lama di Indonesia. Snouck Hurgronje, penasihat urusan pribumi untuk pemerintah kolonial, mencatat kebiasaan ini pada awal abad ke-20. “Dimana-mana perayaan pesta ini disertai hidangan makan khusus, saling bertandang yang dilakukan oleh kaum kerabat dan kenalan, pembelian pakaian baru, serta berbagai bentuk hiburan yang menggembirakan,” tulis Snouck dalam suratnya kepada Direktur Pemerintahan Dalam Negeri, 20 April 1904, yang termuat dalam Nasihat-Nasihat Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889–1939 Jilid IV.

  • Warna-warni Mudik Lebaran Tahun Ini di Jakarta

    ORANG Indonesia begitu semangat memasuki bulan suci Ramadan. Salah satunya kegiatan pulang ke kampung halaman atau lebih dikenal dengan istilah mudik. Kata mudik berasal dari kata udik yang artinya hulu. Alkisah, pada zaman dahulu sebelum migrasi urban terjadi di kota-kota besar Indonesia, banyak wilayah kampung disebut udik. Ini misalnya tersua di Batavia. Berbagai hasil pangan diambil dari wilayah-wilayah di luar tembok kota di selatan atau wilayahhulu (udik). Para petani tersebut membawa hasil pangan mereka untuk dijual melalui sungai di wilayah hilir (kota) dari sanalah kemudian tercipta istilah hilir-mudik.  Mudik berkembang di berbagai negara terutama yang penduduknya mayoritas muslim dan Indonesia termasuk didalamnya. Mudik di Indonesia menjadi tradisi tahunan jelang Lebaran. Itulah kesempatan bagi masyarakat untuk bertatap muka dengan sanak saudara, berpisah sebentar dari kepenatan kota tempat mereka bekerja.

  • Sejarah Mudik Lebaran

    BULAN Suci Ramadhan 1442 H hampir usai. Umat Islam di seluruh dunia telah menjalankan ibadah puasa selama hampir tiga minggu lamanya. Mereka kini tengah bersiap menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri (diperkirakan jatuh pada 12 Mei 2021). Di Indonesia, perayaan Hari Raya Idul Fitri ditandai dengan adanya tradisi berkumpul bersama sanak saudara, yakni tradisi mudik. Masyarakat merayakan puncak dari bulan puasa tersebut dengan pulang ke kampung halamannya masing-masing. Hal itu biasanya dilakukan oleh mereka yang bekerja di kota-kota besar. Bahkan menjadi hal yang lumrah ketika perjalanan pulang itu memakan waktu yang panjang karena mereka terjebak kemacetan di jalan. Namun sama seperti tahun sebelumnya (2020), pemerintah Indonesia mengeluarkan larangan mudik lebaran tahun 2021. Penyebaran pandemi Covid-19 yang semakin marak menjadi pertimbangan pemerintah mengeluarkan larangan tersebut. Dalam keterangan pers-nya, Presiden Joko Widodo mengatakan kalau pelarangan mudik bertujuan menghambat perluasan virus, serta menjaga tren menurunnya kasus aktif di Indonesia dalam dua bulan terakhir.

  • Kisah dalam Seporsi Opor Lebaran

    KETUMBAR, jintan, jahe, kemiri dan beberapa bumbu lainnya dihaluskan. Selanjutnya ditumis hingga harum bersama daun salam, daun jeruk, lengkuas, dan batang serai. Jika sudah wangi, masukan ayam kampung, aduk merata hingga berubah warna. Menyusul kemudian santan cair dan santan kental dituang secara terpisah.  Berbagai rempah dan bumbu masakan itu yang menciptakan sepanci opor ayam untuk sajian Lebaran. Sebagaimana ditulis Murdijati Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada, dkk. dalam Kuliner Yogyakarta: Pantas Dikenang Sepanjang Masa ,   opor biasa disajikan terutama pada saat tradisi Syawalan bersama ketupat. “Di Yogyakarta khususnya, pada saat Lebaran (1 Syawal) biasanya diselenggarakan tradisi Syawalan sebagai ungkapan syukur karena telah selamat menjalankan ibadah puasa dan juga untuk menyongsong hari raya Idulfitri,” tulis Murdijati.

  • Awal Mula Pelesiran Lebaran ke Kebun Binatang

    BAGI banyak orang Indonesia, Idulfitri tidak hanya ditandai dengan silaturahmi antarkeluarga dalam bentuk mudik seorang anak ke rumah orang tuanya, atau kunjungan dari satu keluarga ke keluarga lainnya. Lebaran juga identik dengan kunjungan lainnya, yakni kunjungan ke kebun binatang. Mereka yang mudik bertandang ke kebun binatang di kampung halamannya. Mereka yang tidak mudik juga tidak diam saja di rumah, dan ada yang memilih datang ke kebun binatang di kota tempatnya tinggal sebagai cara hemat mencari hiburan di hari libur. Keluarga-keluarga Indonesia, dengan berbagai sarana transportasi yang mereka punya, dengan bahagia plesiran ke kebun binatang, terutama pada hari kedua Lebaran. Di sana mereka membentangkan tikar, menikmati makanan tradisional dari rantang yang dibawa dari rumah, berbincang di bawah naungan pohon-pohon besar yang membawa angin semilir yang sejuk, dengan sesekali ditingkahi beragam suara hewan.

bottom of page