Hasil pencarian
9862 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Pemimpin Ideal ala Sunda
TERSEBUTLAH pada zaman dulu kala hidup seorang raja bernama Prebu Niskala Wastu Kancana. Dia telah memerintah selama 104 tahun. Pemerintahannya dinilai sangat baik. Saking baiknya dia disamakan dengan Sang Hyang Indra, raja para dewa. Karena kebajikan sang prabu, para rama yang memimpin desa-desa dapat dengan tentram mengurus bahan pangan. Para resi dapat pula tentram melaksanakan tugasnya sebagai pendeta. Kerajaannya aman sejahtera Kisah itu muncul dalam Carita Parahyangan. Menurut arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar dalam Siliwangi, Sejarah, dan Budaya Sunda Kuna, tokoh raja atau prebu, rama, dan resi sering muncul di berbagai kitab Sunda Kuno. Mereka selalu disebutkan sebagai tiga orang pemimpin yang menjaga rakyat dari kekeliruan.
- Muslim Pertama di Tatar Sunda
SELAMA ini tidak diketahui secara pasti kapan Islam dikenal oleh masyarakat di tatar Pasundan. Yang jelas dari hasil penelitian J.C. van Leur yang dipublikasikan dalam Indonesia Trade and Society: Essay in Asian Social Economic History diketahui bahwa penyebaran Islam di pulau Jawa masuk melalui pantai utara oleh para saudagar Arab. Sejarawan A. Sobana Hardjasaputra dalam bukunya Cirebon dalam Lima Zaman: Abad ke-15 hingga Pertengahan Abad ke-20 juga meyakini jika Jawa Barat menjadi daerah pertama yang disinggahi Islam setelah pantai Sumatera. “Berdasarkan letak geografisnya, dan dihubungkan dengan peranan saudagar-saudagar Muslim, mungkin pantai utara Jawa Barat adalah daerah di Pulau Jawa yang lebih dahulu dimasuki agama Islam,” tulisnya. Mulanya hubungan masyarakat Sunda dengan orang-orang Arab ini hanya terbatas pada kepentingan ekonomi saja, tetapi lambat laun mereka mulai mengenal aktivitas keagamaan yang dijalankan para saudagar Muslim tersebut. Hal itu membuat masyarakat Sunda Hindu tertarik untuk mempelajarinya. Sehingga mulai terbentuklah kelompok-kelompok Muslim di Jawa Barat.
- Celaka di Selat Sunda
ARKEOLOG maritim asal Australian National Maritime Museum (ANMM) James Hunter gundah. Bangkai kapal-kapal perang Dunia II di bawah Laut Jawa dan laut-laut lain di Asia Tenggara terancam bahaya. Mereka bukan terancam oleh alam tapi oleh tangan-tangan jahat pencuri dan penjarah. Dia tak pernah mengira kejahatan tersebut juga menyasar benda-benda bersejarah (baca: bangkai kapal perang semasa PD II). Setahu Hunter, dulu pencurian dan penjarahan hanya terjadi pada bangkai-bangkai kapal dagang kecil dan sedang. Hunter baru mengatahui pencurian dan penjarahan terhadap bangkai kapal perang setelah ANMM mendapat info dari komunitas selam Indonesia. “Saya sudah berkecimpung di bidang ini selama 20 tahun, dan saya belum pernah mendengar adanya perongsokan benda bersejarah, terutama lambung baja seberat 8000 ton, benar-benar dicolong. Saya tak bisa mempercayainya. Saya hampir menolak untuk mempercayainya,” ujarnya sebagaimana diberitakan theguardian.com.
- Nyirib, Tradisi Urang Sunda yang Mulai Punah
AKI Ucup masih ingat rutinitas mengasyikan itu. Selalu tiap tahun, bertempat di Sungai Cimandiri, Sukabumi, dirinya bersama-sama orang-orang sekampung melaksanakan nyirib (sering juga disebut marak). Itu nama sejenis tradisi orang Pasundan untuk kegiatan menangkap ikan secara bergotong royong. “Dari kecil hingga dewasa, nyirib itu adalah kegiatan yang sering kami tunggu-tunggu karena selain untuk hiburan, kami pun bisa bertukar kabar tentang kondisi masing-masing dengan sesama penghuni kampung,” ujar lelaki berusia 91 tahun itu. Menurut Aan Merdeka Permana, tradisi nyirib atau marak sejatinya sudah ada sejak era kerajaan-kerajaan Sunda berjaya. Selain untuk pemenuhan kebutuhan pangan sehari-hari, nyirib juga dilaksanakan sebagai bentuk upaya penguatan sosial dan solidaritas di kalangan masyarakat Sunda.
- Kampung Sindangbarang Menghadirkan Sejarah dan Budaya Sunda
ANDA ingin berkunjung ke masa lalu? Datanglah ke Kampung Sindangbarang Desa Pasireurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Selain menghadirkan suasana rumah adat Sunda, di kampung yang terletak dalam wilayah kaki Gunung Salak tersebut, anda akan mendapatkan makanan khas Sunda zaman baheula dan kesenian Sunda yang sekarang nyaris punah. Adalah Maki, panggilan akrab Achmad Mikami Sumawijaya, yang membangun kampung sejarah dan budaya itu di lahan seluas 8600 meter persegi. Hampir delapan tahun dia merintis upaya itu. Langkah pertamanya membangun beberapa jenis rumah adat khas Sunda Bogor: imah gede, girang serat, saung taluh, saung lisung, leuit, pasanggrahan, imah kokolot, bale pangriungan, tampian dan saung sajen. Dia juga menghidupkan tradisi lokal setempat, seperti seren taun, parebut seeng, malem opatwelasan, rebo kasan dan angklung gubrag. “Upaya revitalisasi budaya ini takan terjadi tanpa bantuan dari para sesepuh Bogor dan para inohong (pejabat) Jawa Barat,” ujar lelaki kelahiran Jakarta, 11 Mei 1970 itu.
- Anak Raja Sunda Mencari Islam
SELAMA lebih dari 500 tahun, Pakuan Pajajaran berhasil menjaga ajaran Hindu tetap hidup di tatar Sunda. Puncaknya, di bawah kuasa Prabu Siliwangi –bernama asli Raden Pamanah Rasa atau Pangeran Jaya Dewata– Pajajaran menjadi Kerajaan Hindu-Budha terbesar di barat pulau Jawa. Namun besarnya pengaruh Prabu Siliwangi di tatar Sunda tidak menjadi jaminan ajaran Hindu akan tetap bertahan di sana. Itu terbukti para leluhur Sunda gagal mewariskan keyakinan yang dianutnya itu kepada generasi setelahnya. Antara Hindu dan Islam Dikisahkan naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, pada 1422, Prabu Siliwangi mempersunting putri Ki Gedheng Tapa, Nyai Subang Larang. Peneliti Atje, dalam Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari, menyebut Ki Gedheng Tapa sendiri adalah seorang penguasa tanah dan syahbandar Muara Jati yang tinggal di daerah kekuasaan Kerajaan Sunda Galuh.
- Prabu Siliwangi Ada Delapan
PRABU Siliwangi telah menjadi identitas orang Sunda. Mereka meyakini bahwa Prabu Siliwangi adalah Sri Baduga Maharaja, raja Kerajaan Sunda. Namun, Prof. Dr. Ayatrohaedi, arkeolog, ahli bahasa, peneliti sejarah Sunda, dan guru besar arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia, punya pendapat berbeda mengenai jati diri Prabu Siliwangi. Dia juga meluruskan bahwa nama kerajaan yang benar adalah Sunda sedangkan Pajajaran, lengkapnya Pakwan Pajajaran, adalah ibukotanya. Ayat memiliki pendapat berbeda setelah meneliti Naskah Wangsakerta dari Cirebon sejak akhir tahun 1970-an. Naskah berbahasa Cirebon ini ditulis selama 21 tahun (1677-1698) dengan aksara Jawa dan tebal tiap buku atau jilid sekitar 200 halaman. Para penyusunnya mengatakan bahwa Naskah Wangsakerta adalah “buku induk” riwayat Nusantara untuk menjadi pegangan bagi mereka yang ingin mengetahui riwayat dan kisah tanah kelahiran dan para leluhur mereka. “Dalam kaitannya dengan tokoh Prabu Siliwangi, naskah itu bagiku merupakan pembuka jalan untuk memasuki kegelapan mengenai tokoh itu,” kata Ayat dalam memoarnya, 65=67: Catatan Acak-acakan dan Cacatan Apa Adanya.
- Mencari Prabu Siliwangi
KEAN Santang menetapkan pilihannya beralih agama, memeluk Islam sebagai jalan hidup. Pilihan itu berseberangan jalan dengan ayahnya, Prabu Siliwangi, raja Pajajaran. Kean Santang (juga kerap disebut Kian Santang atau Keyan Santang) lantas pergi berkeliling Jawa untuk menimba ilmu dan memperdalam pengetahuan agama. Di sela pengembaraan, ia berganti nama menjadi Sunan Rahmat. Ia mengemban tugas mengislamkan wilayah barat Pulau Jawa. Dan salah satu tujuan utamanya, mengajak sang ayah beralih keyakinan. Ajakan itu ditolak Sang Prabu dan para pengikutnya. Pertempuran pun tak terelakkan. Prabu Siliwangi bersama para pengikutnya melarikan diri ke hutan Sancang di selatan Garut. Putranya terus memburu. Demi menghindari pertempuran lebih lanjut dengan anaknya, Sang Prabu ngahiang (moksa) dan bersalin rupa menjadi Macan Putih. Sementara para pengikutnya berubah wujud menjadi Macan Sancang.
- Demi Jalan Layang, Bunker Jepang Dihancurkan
DI WILAYAH Pattunuang –jalan poros Maros menuju Camba dan Kabupaten Bone– pembangunan jalan layang tahap pertama sudah dimulai awal tahun 2016. Kendaraan berat hilir mudik. Tebing-tebing karst terlihat memutih karena telah dipotong. Tanah merah bercampur batuan telah tersingkap. Ratusan pepohonan pun sudah tertebas tak tahu di mana lagi. Belum hilang rasa penasaran itu, ketika sampai di kelokan pertama menuju tanjakan, memasuki kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul), saya kembali terperangah melihat sebuah bangunan kotak terbuat dari beton. Seakan berdiri telanjang, tanpa penghalang dan pelindung. Inilah bunker peninggalan Jepang. Tempat untuk mengintai dan perlindungan dari musuh. Beberapa tahun lalu pertama kali mengetahui adanya bunker di tempat itu, saya harus menghentikan kendaraan dan menelisik lebih detail. Berjalan menanjaki tebing karst untuk memastikannya. Tapi kini, melintas dengan kecepatan pun hanya perlu menoleh untuk melihat keberadaan bunker.
- Cerita dari Lampegan
SENJA baru saja jatuh di Stasiun Lampegan, Cianjur ketika sebuah lokomotif yang membawa 4 rangkaian gerbong keluar dari mulut terowongan Lampegan. Bak ular besi raksasa, rangkaiannya meliuk-liuk. Sesekali suara klakson berbunyi nyaring, mengingatkan orang-orang yang terlihat masih santai melewati rel di pintu perlintasan. “Awas! Awas kereta api lewat! Kereta api lewat!” teriak penjaga pintu perlintasan. Lampegan merupakan salah satu perlintasan kereta api tertua di tanah Jawa. Dibuat sekitar tahun 1879, mengacu pada angka yang tertera di atas pintu terowongan sepanjang 415 meter tersebut. Proses pembangunannya sempat menemui kesulitan karena harus menembus Gunung Kancana. Namun, setelah bagian tengah bukit besar itu diledakkan dengan dinamit, pembangunan berjalan lancar.
- Lobang Maut Saudara Tua
SELINTAS lubang besar di dinding tanah merah laiknya terowongan pertahanan gerilyawan Viet Cong. Saat menuruni tangganya yang berjumlah 132, situasi rapat dan terlindungi sangat terasa. Begitu rapatnya hingga saat memasuki lebih dalam, bau lembab tanah yang mendominasi udara pengap pun menyeruak tajam di rongga hidung. Menurut pemandu, Jefry (45), di goa yang panjangnya 1470 meter tersebut –sisanya 4730 meter belum tereksplorasi– ribuan pekerja paksa (romusha) mati mengenaskan. Bukti kisah horor tersebut terekam dari banyaknya ruangan mirip penjara yang difungsikan sebagai tempat penyiksaan. Dengan rongga berbentuk setengah lingkaran yang rata-rata tingginya dua meter –kecuali beberapa rongga memaksa para pengunjung membungkuk– goa ini ditujukan untuk pertempuran gerilya panjang melawan Sekutu.
- Kisah Horor Tambang Batubara Loa Kulu
SETELAH tentara Jepang memasuki daerah sekitar Sungai Mahakam, arus lalu lintas kapal niaga berkurang. Setidaknya kapal-kapal pengangkut batubara tak lewat lagi. Sebelum 1942, arus kapal yang melintas lima kali lebih banyak dibanding pada zaman Jepang. Penguasa Jepang membatasi pelayaran di pesisir Kalimantan dan sekitarnya. Ekonomi di sana memburuk setelah Maret 1942. Perdagangan antar-daerah menjadi sepi. Pertanian padi di sekitar Loa Kulu, hulu sungai Mahakam (sekarang Kabupaten Kutai Kartanegara) tidaklah bisa diharapkan untuk mencukupi semua perut warga daerah itu. Tanpa beras, rakyat Loa Kulu terancam kelaparan di zaman pendudukan Jepang. Menurut Het Dagblad, 1 Oktober 1946, daerah tersebut bergantung pangan dari luar. Daerah ini sangat bergantung pada beras dari Sulawesi Utara maupun Sulawesi Selatan. Selain dengan uang, dulunya beras sering ditukar dengan rotan, damar, dan lilin lebah yang dikirim ke Jawa, ikan asin, kayu dan lain-lain.





















