top of page

Hasil pencarian

9857 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Abdul Razak Melawan Jepang di Papua

    Di balik minimnya peran militer Belanda dalam Perang Dunia II di front Pasifik, ada peran orang-orang Indonesia yang berdinas dalam militer Belanda. Terutama di daerah Indonesia Timur. Beberapa misi penyusupan digalang oleh Netherlands East Indies Forces Intelligence Service (NEFIS) di sekitar Papua. Misi di daerah Papua yang diduduki Jepang sangat berat. Penyusup yang tertangkap bisa dihukum mati Jepang. Salah satunya misi Langs sekitar Agustus 1944. “Misi ini dipimpin oleh Komandan Letnan Laut Kelas Tiga Mohammed Abdul Razak, dengan seorang kopral Eropa, dua operator radio Eropa, dan enam tentara orang Indonesia,” tulis Louis de Jong dalam Het Koninkrijk der Nederlanden in de Tweede Wereldoorlog Deel IIC Nederlandsch Indie III . Baca juga:  Bangsawan Jawa Memilih KNIL Mereka diterjunkan dengan parasut ke sekitar Kepala Burung. Razak, disebut koran Nieuwe courant , 1 November 1947, memimpin tujuh orang Indonesia sebagai anak buahnya dalam upaya mengumpulkan data intelijen terkait posisi tentara Jepang di sana. Salah seorang di antara anggota misi itu yang berdarah Indonesia mengalami patah kaki pada awal operasi. Tim yang dipimpin Razak, menurut J.J. Nortier dalam Acties in de Archipelde intelligence-operaties van NEFIS-III in de Pacific-oorlog , bergerak ke Inam di mana salah seorang yang terluka ditinggal di bivak mereka. “Karena kekuatan misinya yang sangat lemah, dia tidak berpikir bahwa masuk lebih dalam ke hutan yang tidak ramah itu tidak disarankan,” tulis Nortier. Misi itu berhasil menjalin kontak dengan orang-orang asli Papua. Misi itu jelas sulit bagi Razak. Usianya belum genap 23 tahun ketika memimpin misi itu. Pria kelahiran 20 November 1921 itu jelas tampak seperti anak kemarin sore dalam misi sulit di zaman Jepang itu. Misi mereka berakhir pada akhir 1944 dan kembali ke tempat aman lagi. Baca juga:  NEFIS Belanda Mengawasi Indonesia dari Australia Mohammed Abdul Razak baru empat tahun bergabung sebagai militer. Sebagai orang Indonesia, Razak tentu lebih paham dan cukup aman jika ditugaskan ke wilayah Hindia Belanda. NEFIS kemudian menempatkannya di sekitar Papua setelah Jepang makin lemah dan NICA berdiri di Australia. Razak seperti kebanyakan anggota militer, yang ketika Indonesia merdeka berada di luar negeri atau jauh dari Pulau Jawa, tak tahu kabar Proklamasi kemerdekaan. Selain Razak, Letnan Laut Kelas Tiga Subijakto juga terlambat datang. Kerajaan Belanda menghargai misi rahasia Razak di Papua pada zaman pendudukan Jepang. Dia dianugerahi bintang Bronzen Leeuw (Singa Perunggu) oleh Kerajaan Belanda pada 1947.Ketika itu pangkatnya Letnan Laut Kelas Dua bagian mesin di Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Baca juga:  Serdadu KNIL Jawa di Kalimantan Utara Ketika berdinas di Ambon pada 1940-an, Razak adalah perwira intelijen. Buku Mengenal Laksda Jos Sudarso, 24 Nopember 1925–15 Januari 1962 , menyebut Razak melakukan screening terhadap awak-awak kapal RI yang menyusup ke daerah Indonesia timur dan tertangkap di Ambon. Salah satu dari mereka adalah Yos Sudarso. Rupanya, Razak yang pada 1947 berusia 26 tahun memilih meninggalkan kehidupan mapan sebagai perwira Angkatan Laut Belanda. Ketika itu sedang terjadi perang antara Indonesia dan Belanda. Koran Nederlandsche Staatscourant , 8 September 1948, menyebut bahwa Koninklijk Besluit No. 47 tanggal 30 Juni 1948 menyatakan Letnan Laut Kelas Dua bagian mesin M. Razak telah diberhentikan dengan hormat atas permintaannya sendiri dari Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Razak menyusul Subijakto yang sejak awal tahun 1947 sudah bukan anggota Angkatan Laut Belanda. Razak bergabung dalam Koninklijk Marine atau Angkatan Laut Kerajaan Belanda sejak pertengahan 1940. Koran Bataviaasch Nieuwsblad , 27 Juli 1940, menyebut dia dilantik menjadi adelborst (taruna Angkatan Laut) di Surabaya. Dia adalah taruna bagian stoomvaart (mesin kapal) di Koninklijk Instituut voor de Marine (KIM). Soerabaijasch Handelsblad , 3 November 1941, menyebut pada 1941 Razak sudah menjadi kopral taruna. Baca juga:  Kisah Taruna Indonesia dalam Angkatan Laut Belanda Selain Razak, orang Indonesia di angkatannya adalah Nacis Djajadiningrat, Sidik Moeljono, dan Hadjiwibowo. Ketiganya bagian administrasi. Kecuali Nacis, kedua kawannya itu jadi tawanan perang di Makassar dan Jakarta pada masa pendudukan Jepang. Taruna yang tidak tertawan biasanya terus bertugas hingga setelah Jepang kalah. Mereka punya adik kelas orang Indonesia pada 1941, seperti Washington Siahaan, Maurit Nelwan, dan Carl Tauran. Setelah 1950-an, Razak bekerja di pelayaran sipil. H.R. Soenar Soerapoetra dalam otobiografinya, Profil Seorang Bahariwan , menyebut Razak sempat menjadi Kepala Bidang Lalu Lintas Muatan di Yayasan Penguasaan Pusat Kapal-Kapal (Pepuska). Maurit Nelwan menjadi Kepala Bidang Perbekalan di sana. Belakangan, Pepuska berkembang menjadi PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni). Banyak bekas taruna Angkatan Laut Belanda menjadi orang penting. Nacis Djajadiningrat pernah menjadi asisten Subijakto ketika menjadi Kepala Staf Angkatan Laut dan berpangkat terakhir Laksamana TNI. Hadjiwibowo menjadi bos PT Unilever Indonesia. Sidik Moeljono yang ahli pangan pernah menjadi orang penting di Bulog. Washington Siahaan, adik kelasnya, pernah menjadi pembantu Kepala Staf Angkatan Darat Abdul Haris Nasution dan ketika meninggal pada 1960-an mencapai pangkat Brigadir Jenderal Angkatan Darat.*

  • Dari Lapangan Berujung Penembakan

    Tendangan kungfu melayang di Stadion Kanjuruhan, Malang usai pertandingan Arema vs Persebaya. Pelakunya bukan pemain sepakbola, melainkan aparat tentara berbaret hijau. Akibatnya, seorang penonton yang memasuki lapangan terkapar di pinggir lapangan. Aksi barbar aparat belum berhenti sampai di situ. Polisi berbondong-bondong ikut memukuli penonton pakai pentungan. Tembakan gas air mata jadi senjata pamungkas. Banyak penonton yang tergencet di pintu keluar karena berdesak-desakan. Padahal, penggunaan gas air mata telah dilarang oleh federasi sepakbola internasional (FIFA). Seratusan orang akhirnya meregang nyawa kehabisan oksigen. Tragedi yang terjadi pada akhir pekan kemarin (1/10) itu jadi bencana terburuk dalam sejarah sepakbola Indonesia. Cara bengis aparat meredam penonton menuai kecaman. Alih-alih pengamanan, tindakan tersebut dinilai banyak kalangan lebih mendekati pembunuhan massal.    Baca juga:  Lima Petaka Mengerikan di Stadion Sepakbola Dalam skala yang lebih kecil, kekerasan di lapangan sepakbola yang melibatkan kepolisian pernah terjadi setengah abad silam. Pelakunya bahkan masih taruna polisi. Peristiwa itu sampai membuat malu Kapolri Jenderal Hoegeng Iman Santoso.    Pada 6 Oktober 1970, tepat hari ini 52 tahun yang lalu, pertandingan persahabatan antara mahasiswa ITB Bandung dengan Taruna Akabri-Polisi berujung insiden penembakan. Peluru menerjang tubuh mahasiswa ITB bernama Rene Louis Conrad hingga tewas. Saling ejek antar suporter memang telah terjadi dalam pertandingan yang dimenanangkan mahasiswa ITB dengan skor 2-0 itu. Baku hantam hampir pecah di lapangan. Usai pertandingan, perkelahian berlanjut ke luar lapangan. Ketika taruna di dalam bus perjalanan pulang, Conrad melintas dengan menunggangi motor Harley Davidson di Jl. Ganeca. Taruna yang memendam jengkel sejak dari lapangan pun meludahi Conrad dari dalam bus. Merasa dilecehkan, Conrad membalas taruna dengan ajakan berduel. Para taruna turun mencegat Conrad. Perkelahian tak imbang menyebabkan Conrad jatuh dari sepeda motor, lantas dikeroyok ramai-ramai. Salah seorang taruna bahkan melepaskan tembakan hingga mengantarkan Conrad menemui ajalnya. Baca juga:  Jenderal Ibrahim Adjie Tembak Mati Perampok “Delapan perwira polisi diajukan sebagai tertuduh dalam sidang Mahkamah Militer Priangan-Bogor, yang memeriksa perkara pembunuhan Rene Louis Coenraad, mahasiswa Elektronik Institut Teknologi Bandung (ITB),” lansir Kompas , 9 November 1973.  Peristiwa tersebut membuat malu Kapolri Jenderal Hoegeng Iman Santoso. Kesalahan berat dalam kasus ini, menurut Hoegeng, adalah penggunaan senjata api oleh salah seorang taruna. Apalagi penggunaan senjata apinya mengakibatkan kematian orang lain. Yang lebih memprihatinkan Hoegeng, penggunaan senjata api dilakukan oleh seorang calon polisi terhadap orang sipil tak bersenjata.  “Saya sendiri merasa malu sebab hal itu dapat merusak citra kepolisian Indonesia, khususnya merusak citra taruna dan AKABRI-Kepolisian,” kata Hoegeng dalam otobiografinya yang disusun Abrar Yusra dan Ramadhan K.H, Polisi: Idaman dan Kenyataan . Baca juga:  Hoegeng, Polisi Anti Suap Hoegeng langsung turun tangan untuk pengusutan kasus Conrad. Ia pergi ke Bandung mengadakan pembicaraan dengan Rektor ITB Prof. Dr. Dody Tisnamidjaja. Kepada rektor dan mahasiswa ITB, Hoegeng memberi jaminan akan membawa kasus Rene Conrad ke pengadilan. Jaminan Kapolri Hoegeng ini ternyata mampu menenangkan mahasiswa yang sebelumnya gencar melayangkan protes. Mahasiswa, seperti disebut Aris Santoso dkk dalam Hoegeng: Oase Menyejukan di Tengah Perilaku Koruptif Para Pemimpin Bangsa, awalnya bertanya-tanya soal penanganan kasus ini. Maklum, yang diduga sebagai pelakunya adalah taruna Akabri-Polisi, yang walau bagaimanapun masih bagian dari kalangan penegak hukum, meskipun baru berstatus siswa. Yang diinginkan mahasiswa hanyalah ketegasan sikap dari kapolri. Pengadilan digelar di Mahkamah Kepolisian Langlangbuana VII pada akhir 1973. Namun, saat itu Hoegeng tak lagi menjabat kapolri. Akhir dari kasus ini sendiri tak berhasil menyeret pelaku penembakan sebenarnya. Hanya Bripda Djani Maman Surjaman yang ditumbalkan jadi terdakwa. Baca juga:  Bripda Djani Dikorbankan “Banyak yang tidak puas kenapa Djani Maman Surjaman yang diajukan ke pengadilan,” terang Hoegeng. Secara tersirat, Hoegeng mengindikasikan adanya campur tangan kekuasaan dalam kasus ini. “Tegaknya hukum dan keadilan dalam kenyataannya merupakan proses yang memiliki banyak dimensi dan melibatkan banyak lembaga,” ungkapnya. Bripda Djani adalah bintara Brimob yang kebetulan sedang piket di tempat kejadian perkara. Ia divonis 5 tahun 8 bulan penjara, namun setelah banding menjadi 1 tahun 6 bulan. Taruna Akpol yang disebut-sebut sebagai pelaku lolos dari pengadilan. Di antara mereka bahkan ada yang melenggang jadi perwira tinggi Polri.

  • Setahun Pos Bloc Jakarta

    Para model lenggak-lenggok mengenakan pakaian bertemakan vintage . Peragaan busana itu digelar di Pos Bloc Jakarta di Jalan Pos No. 2, Pasar Baru, Jakarta Pusat, pada 27 September 2022. Sejak diresmikan tahun lalu pada 10 Oktober 2021, Pos Bloc Jakarta menjadi tempat alternatif yang menarik untuk dikunjungi. Bekas gedung kantor pos ini menjadi ruang kreatif publik yang memadukan seni, budaya, hiburan, dan sejarah. Pos Bloc Jakarta buka setiap hari kerja mulai pukul 10:00 hingga 21:00 WIB dan pada akhir pekan mulai pukul 07:00 sampai 21:00 WIB. Sejak dibuka jumlah pengunjung rata-rata 2.000 orang per hari yang sebagian besar anak-anak muda. “Orang Indonesia sangat berbeda kebiasaannya dengan orang Eropa, tempat nongkrong atau kafe-kafe lebih sering dikunjungi daripada museum,” ujar Niko Tomas, salah satu pengunjung yang sedang memotret bangunan Pos Bloc. Mengutip posindonesia.co.id , Pos Bloc Jakarta merupakan proyek cipta ruang ( placemaking ) hasil kolaborasi PT Pos Indonesia (Persero) melalui anak perusahaannya, PT Pos Properti Indonesia dengan pihak swasta, PT Ruang Kreatif Pos. Sebelumnya, perusahaan ini membangun ruang kreatif publik M Bloc Space di Jakarta Selatan. Rencananya menyusul Pos Bloc Surabaya dan Pos Bloc Bandung. Pengunjung Pos Bloc Jakarta rata-rata anak muda. (Melan Eka Lisnawati/Historia.ID). Pos Bloc Jakarta merupakan perpaduan modern, minimalis, dan kuno. Berlatar cat putih dengan tiang-tiang kayu berwana abu gelap, serta pilar besar menjadi ciri khas arsitekturnya.Kursi-kursiberjejer bagi pengunjung yang ingin menikmati pemandangan sembari menyaksikan kendaraan berlalu-lalang. Masih di area yang sama, terdapat kotak surat peninggalan kantor pos zaman dulu bertuliskan “Brievenbus”, posisinya persis di depan M Bloc Market bersebelahan dengan Starbucks. Masuk melalui pintu utama disuguhkan ruangan yang luas dengan tempat duduk seperti di bioskop. Baca juga:  M Bloc dari Gudang Kosong Jadi Tempat Nongkrong Arsitektur atap gedung dihiasi warna cokelat kental beserta kipas dan corong lampu kuno, sepintas mirip stasiun Jakarta Kota. Di samping kanan dan kiri terdapat stan makanan, minuman, pakaian, tas, hingga kosmetik. Produk-produk tersebut hasil kerjasama pengelola Pos Bloc Jakarta dengan UMKM di Jakarta. Pesona klasik yang ditawarkan Pos Bloc Jakarta menarik bagi anak muda untuk sekadar meneguk secangkir kopi. Polesan dua pintu tempo dulu dengan jendela kaca besar menjadi objek foto anak-anak muda. Prasasti pahlawan revolusi di Pos Bloc Jakarta. (Melan Eka Lisnawati/Historia.ID). Di area belakang, pengunjung disuguhi pemandangan hijau nan klasik bertemakan kafe outdoor . Di tengah-tengahnya terdapat tugu prasasti untuk mengenang pahlawan revolusi,yaitu Imang, Paimin, Sarmada, dan M. Soetojo. Pegawai jawatan PTT (Pos, Telegraf, Telepon) di Jakarta ini gugur dan hilang antara Agustus–Desember 1945. Di setiap sudut tembok dihiasi lukisan-lukisan gedung dari masa ke masa. “Tempat wisata yang baru beroperasi satu tahun ini, selalu ramai dikunjungi terutama dari sore sampai malam hari. Intensitas pengunjung pun didominasi oleh kalangan muda-mudi,” ujar penunggu salah satu gerai. Gedung Pos Bloc Jakarta dikenal sebagai Gedung Filateli Jakarta. Nama itu terpampang di bagian depan atas gedung. Gedung bekas Kantor Pos dan Giro Pasar Baru ini memiliki sejarah panjang. Windoro Adi dalam Batavia 1740 mencatat, gedung kantor pos ini dirancang oleh arsitek J. van Hoytema pada 1913. Gedung itu dibangun karena kawasan pemerintahan baru Weltevreden yang –meliputi Gambir, Senen, dan Tanah Abang– berdampingan dengan kawasan pendidikan dan perdagangan membutuhkan dukungan layanan penghubung pengiriman dokumen dan komunikasi. Baca juga:  Jakarta dalam Kartu Pos Dalam Ensiklopedi Jakarta Volume 2 disebutkan, secara fisik bentuk bangunan Gedung Kantor Pos dan Giro Pasar Baru menunjukkan arsitektur Belanda dengan relung sertakaca-kaca berkembang yang menghiasi bagian depan gedung, bentuknya mirip bangunan Stasiun Kereta Api Jakarta Kota.Arsitek Hoytema merancang gedung itu dengan gaya arsitektur Art Deco yang dipengaruhi aliran Art and Craft pada detail interiornya. Atap terbuat dari seng dengan tiang-tiang besi pipih sebagai penyangga.Seiring perkembangan zaman, terdapat penambahan ruangan pada bagian ruangan induk tanpa mengubah struktur bangunan lama, karena bangunan lama yangbertingkat dua terbuat dari papan dengan tiang besi berada di dalam ruang bangunan induk. Dalam perjalanan sejarahnya, gedung itu berganti-ganti nama. Buku Gedung Tua di Jakarta terbitan Dinas Museum dan Sejarah Pemerintah DKI Jakarta tahun 1993 menyebut, gedung Kantor Pos Pasar Baru semula lebih dikenal dengan sebutan Gedung PTT atau Kantor PTT. Nama Gedung PTT Pasar Baru dikenal sejak zamanpenjajahan sampai tahun 1945. Pada masa revolusi, namanya berubah menjadi Kantor Pos dan Telegraf Pasar Baru, lalu berganti lagi menjadi Kantor Pos Kawat Pasar Baru. Presiden Sukarno meresmikan pembangunan Gedung Pos Ibukota (GPI) pada November 1963. (IPPHOS). Pada November 1963, Presiden Sukarno meletakan batu pertama peresmian pembangunan gedung pos baru yang disebut Gedung Pos Ibukota (GPI) atau disebut juga KantorPos Ibukota Jakarta Raya. Sudarmawan Juwono dalam Selayang Pandang Arsitektur Kantor Pos Tempo Doeloe menjelaskan, gedung GPI berbentuk persegi enam dengan bangunan terbesar dan tertinggi berlantai enam yang menghadap ke Lapangan Banteng. Aktivitas pelayanan jasa pos dipindahkan ke gedung GPI.Kantor pos lama menjadi bagian dari kompleks GPI yang difungsikan sebagai kantor pelayanan filateli sehingga dikenal sebagai Gedung Filateli Jakarta. “Lingkungan kantor pos lama menjadi sepi karena terjadi penurunan kegiatan pelayanan pos menjadisebatas pelayanan filateli dan penjualan benda koleksi lainnya; tidak seberapa ramai dibandingkan dengan aktivitas pelayanan jasa pos,” tulis Sudarmawan. Baca juga:  Indonesia Dukung Palestina dengan Prangko Untuk menjaga dari penghancuran, Gedung Kantor Pos dan Giro Pasar Baru ditetapkan sebagai cagar budaya pada 1999. Akhirnya, pada 2021 Gedung Filateli Jakarta itu direvitalisasi menjadi ruang kreatif publik Pos Bloc Jakarta. Pos Bloc Jakarta telah menjadi tempat bagi anak-anak muda berkreasi. Setiap akhir pekan, pengelola menyediakan tempat bagi mereka untuk unjuk bakat, mulai dari penampilan band, catwalk , wirausaha, dan lain-lain. “Makanan dan minuman di sini enak dan worth it bagi anak muda, secara tidak langsung tempat ini juga bermanfaat mengenalkan sejarah kepada tiap pengujung,” ujar Helena, pengunjung yang masih mengenakan seragam SMA.* Penulis adalah mahasiswa magang dari Politeknik Negeri Jakarta.

  • A Journey to Greatness: Chess in Indonesia

    ON the seventh floor of Nusantara I Building of the House of Representatives of the Republic of Indonesia (DPR RI) in Senayan area, Jakarta, Utut Adianto was welcoming a guest. In a room with a large oval table situated in the center, some of his colleagues were taking a lunch break. Utut himself chose to sit in the smaller adjacent room where he carried his day-to-day responsibility as the Floor Leader of Indonesian Democratic Party of Struggle.

  • Tinggi Badan Pas-Pasan Tapi Jadi Jenderal

    Setelah memperbolehkan keturunan PKI dan menganulir tes keperawanan dalam pendaftaran masuk TNI, Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa mengambil kebijakan merevisi aturan dalam penerimaan taruna Akademi Militer (Akmil) tahun 2022. Andika menurunkan syarat tinggi badan calon taruna Akmil dari 163 cm –sempat 165 cm– menjadi 160 cm untuk laki-laki dan 157 cm menjadi 155 cm untuk wanita. Perubahan ini membuka kesempatan lebih besar bagi anak-anak di seluruh Indonesia yang rata-rata tingginya 160 cm untuk masuk Akmil di Magelang. Persyaratan tinggi badan belum menjadi persoalan pada awal kemerdekaan. Bahkan, tinggi badan tidak menjadi syarat masuk Akademi Militer Tangerang. Tata Usaha Markas Tentara Keamanan Rakyat Keresidenan Jakarta yang mengeluarkan pengumuman penerimaan calon taruna Akademi Militer pada 10 November 1945 hanya mensyaratkan: umur 18–25 tahun, badan sehat, kemauan sungguh untuk mempertahankan Indonesia tetap merdeka, dan serendah-rendahnya tamat SMP. Baca juga:  Sulitnya Didi Kartasasmita Mundur dari Dinas Militer Sementara itu, pada masa penjajahan, militer Belanda tampaknya menyadari postur orang Indonesia tidak tinggi. Oleh karena itu, pemuda Indonesia dengan tinggi 160 cm diterima masuk Akademi Militer di Negeri Belanda. Pemuda itu adalah Raden Didi Kartasasmita. Dia salah satu pemuda Indonesia yang pernah jadi taruna (kadet) di Koninklijk Militaire Academie (KMA) atau Akademi Militer Kerajaan Belanda di Breda. Koran De Standard , 1 Juli 1935, menyebut sersan kadet Didi Kartasasmita lulus ujian perwira untuk tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) pada tahun itu. Didi lulus sekolah menengah Hogare Burger School (HBS) di Bandung. Tidak semua pemuda Indonesia bisa bersekolah di HBS. Biasanya golongan priayi tertentu saja yang bisa sekolah di sana. Sebagaimana orang-orang pada zamannya, Didi menganggap tinggi badan sebagai kekurangan. “Kalaulah ada kekurangannya pada diri saya, ialah ukuran tubuh. Tinggi badan saya hanya 160 cm saja. Ini batas minimal untuk siswa KMA,” kata Didi Kartasasmita dalam biografinya, Perjuangan bagi Kemerdekaan . Didi menjadi taruna terkecil di KMA Breda antara tahun 1932 hingga 1935. Baca juga:  Didi Kartasasmita dan Pengkhianatan Seorang KNIL Didi diperbolehkan memakai karaben (senapan dengan ukuran pendek) dalam setiap latihan. Namun, dia bukan taruna yang tidak terampil di lapangan dalam pendidikan calon perwira itu. “Saya berhasil memperoleh penghargaaan sebagai ahli pelempar granat ( granaat-werper ). Selain itu saya pun termasuk salah seorang pemain anggar untuk floret dan sabel,” kata Didi yang memudakan umurnya dua tahun ketika mendaftar KMA, dari kelahiran 1911 menjadi 1913. Setelah lulus dari KMA Breda, Didi diangkat menjadi Letnan Dua Infanteri KNIL. Semula ditempatkan di Jawa, dia kemudian ditempatkan di Malukusejak 1938. Sebelum pulang ke Jawa, Didi terlibat dalam pertempuran Ambon melawan tentara Jepang pada 1942. Laki-laki asal Tasikmalaya ini berperan penting dalam menghimpun tandatangan mantan perwira KNIL untuk mendukung Republik Indonesia yang baru merdeka. Jenderal Mayor TNI Didi Kartasasmita (kanan) dan Letnan Jenderal TNI Oerip Soemohardjo di Yogyakarta. (IPPHOS).  Meski pernah menerima Didi yang tingginya hanya 160 cm di KMA Breda, namun KNIL tidak menerima pemuda Boediardjo yang tingginya kurang dari 165 cm untuk masuk pendidikan calon pilot KNIL. “Maka saya tetap putuskan jadi serdadu dengan upah 1 gulden 76 sen seminggu. Selain itu mendapatkan jaminan pakaian, kesehatan dan perumahan alias tangsi. Tidak untuk jadi penerbang, jadi juru radio pun boleh,” kata Boediardjo, lulusan MULO Magelang, dalam Siapa Sudi Saya Dongengi . Belakangan pengalaman Budirardjo sebagai ahli radio berguna bagi perjuangan Indonesia. Dia melatih ahli-ahli radio pada masa revolusi kemerdekaan. Baca juga:  Boediardjo dan Radio PC2 Penjaga Eksistensi Indonesia Di era Orde Lama, rupanya Akademi Militer di Magelang pernah menerima taruna dengan tinggi 156 cm. Pemuda itu adalah Slamet Murtedjo alias Slamet Singgih, yang mendaftar dua kali pada 1961 dan 1962. Pada 1961, Slamet ditolak karena berat badannya hanya 42 kg, sementara syarat minimal berat badan 45 kg. Waktu itu tinggi badan minimal 155 cm. Setelah gagal pada 1961, Slamet berjuang menaikan berat badan untuk mendaftar lagi pada 1962. “Tes awal bisa saya lalui karena berat badan saya sudah 46 kg dan tinggi badan saya 156 cm. Tetapi pada waktu tes tinggi badan, saya turunkan menjadi 155 supaya melebihi indeks,” kata Slamet Singgih dalam Intelijen: Catatan Harian Seorang Serdadu . Tes selanjutnya yang membuat Slamet risau adalah wawancara karena dia meresa sering gagap jika bicara. Namun, tes itu bisa dilaluinya. Slamet Singgih saat menjabat Komandan Kesatuan Intel BIA (Badan Intelijen ABRI). (Repro  Intelijen: Catatan Harian Seorang Serdadu ). Slamet akhirnya diterima sebagai taruna Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang, Jawa Tengah. Slamet satu angkatan bersama bekas prajurit komando dari Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang diberi kesempatan masuk Akademi Militer Magelang. Slamet sangat khawatir dengan masalah kesehatannya karena bisa membuatnya dikeluarkan dari AMN. Dia adalah taruna yang secara akademis biasa saja. Ketika menjadi kopral taruna dia pernah sakit abses dan nyaris tidak bisa ikut ujian sersan. Namun, dia selalu lulus dan tak pernah tinggal kelas. Baca juga:  Slamet Singgih, Benny Moerdani, dan Dara Intelijen Indonesia “Untuk prestasi di bidang fisik, semenjak menjadi calon prajurit taruna sampai sersan mayor taruna (sermatar) saya patut berbangga diri, karena di bidang fisik saya tidak berada di posisi buncit. Bahkan untuk mata pelajaran Cross Country dan halang rintang kebetulan saya selalu berada di lima besar,” kata Slamet. Bahkan, dalam tes lari road and field , dari 426 taruna, Slamet yang sejak bocah menjadi atlet sepatu roda,finis nomor satu bersama Anggiat Sinaga. Padahal, ketika start Slamet terdesak ke belakang, namun satu persatu taruna yang mendahuluinya saat start dilewatinya. Seperti Didi Kartasasmita, Slamet Singgih juga mencapai bintang alias jenderal. Didi terakhir di TNI sebagai Jenderal Mayor. Sementara Slamet, yang bertugas sebagai perwira bidang intelijen, terakhir di TNI sebagai Brigadir Jenderal.*

  • Jaminan Keselamatan Rakyat saat Melakukan Perjalanan

    Travelling sudah menjadi gaya hidup muda-mudi generasi milenial dan generasi Z. Work from Bali, misalnya, sempat gencar saat pandemi dan pembatasan kegiatan perkantoran. Para pekerja memanfaatkan momen ini untuk bekerja dari luar kota atau tempat-tempat wisata di daerah luar tempat tinggal mereka. Banyak pula masyarakat yang memiliki anggaran khusus untuk travelling. Fenomena tersebut pun dijadikan peluang usaha berbagai pihak. Banyak tempat wisata kini menyediakan penginapan, mulai dari hotel berbintang, cottage , villa, resor, hingga hostel. Bahkan,  warga yang memiliki rumah cukup besar dengan fasilitas lengkap akan menyediakan kamar tersendiri untuk disewakan kepada wisatawan, dikenal dengan homestay . Pendirian homestay saat ini diatur oleh Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif No. 4 tahun 2021 tentang Standar Kegiatan Usaha. Sarana dan prasarana apa saja yang harus ada saat pendirian homestay (pondok wisata) ditentukan dalam peraturan tersebut. Baca juga:  Awal Mula Pariwisata di Indonesia Sejatinya, peraturan semacam itu bukan hanya ada di masa kini. Pada 1865, Sultan Hamengkubuwono VI menulis surat untuk Tumenggung Natapraja selaku jaksa hukum pradata, berisi tentang peraturan mengenai perundang-undangan tradisional. Peraturan tersebut digunakan untuk mengadili rakyat yang berselisih. Salah satu yang diatur adalah perihal menginap di perjalanan. Ada dua teks yang mengatur mengenai penginapan dan orang yang menginap ketika di perjalanan, yaitu Serat Angger Pradata Awal dan Serat Angger Pradata Akhir . Serat yang terakhirmerupakan penyempurna dari Serat Angger Pradata Awal . Pada Serat Angger Pradata Awal dikatakan apabila rakyat Kasultanan Yogyakarta melakukan perjalanan dan harus bermalam di desa-desa, maka pilihlah tempat menginap di rumah pembesar, perangkat desa, dan pemimpin agama. Ada perbedaan jaminan keselamatan bagi tamu dengan tujuan bekerja dan bukan. Jika tamu bertujuan bekerja, maka jaminan keselamatan diberikan selama ia perlu menginap. Sedangkan tamu dengan tujuan selain bekerja, jaminan keselamatan yang diberikan hanya satu hari satu malam. Jika tamu yang menginap mengalami kehilangan barang bawaan, keluarga yang diinapi harus mengganti rugi sebesar tiga kali lipat ( tribaga ). Selanjutnya akan ada sumpah antara tamu dan tuan rumah di hadapan seluruh warga desa. Apabila ditemui tanda-tanda pencurian dari pihak lain, ganti rugi akan dikembalikan. Baca juga:  Pesona Wisata Pulau Dewata Peraturan ganti rugi karena kehilangan ini berbeda apabila terjadi pada perangkat desa. Apabila perangkat desa mengalami kehilangan saat menginap di rumah rakyat kecil, maka tuan rumah tidak akan dituntut ganti rugi. Hal tersebut dianggap sebagai kesalahan pejabat perangkat desa itu sendiri. Oleh sebab itu, untuk perangkat desa yang sedang melakukan perjalanan, dianjurkan memilih rumah pejabat setempat untuk tempat menginap. Apabila rumah pejabat perangkat desa jauh, boleh di rumah rakyat kecil namun harus dijaga oleh semua orang di desa tersebut. Maka jika  tamu kehilangan, seluruh rakyat desa bertanggung jawab dengan mengganti rugi. Dalam hal ini jika pemilik rumah kecurian, hal pertama yang dilakukan adalah memberitahu pada tamu yang menginap. “Jika ditemukan bukti, barang yang hilang berada pada yang menginap atau pembantunya, yang menginap harus menggantinya seperti keadaan semula. Dalam hal itu yang kehilangan harus disumpah, barangkali ia angruba gini (memasang jebakan). Jika sudah ketahuan barang buktinya, orang yang kehilangan segera memberitahu kepada pemerintah, serta barang buktinya dipegang oleh pejabat kliwon ke atas,” demikian kata Serat Angger Pradata Awal . Lukisan Sultan Hamengkubuwono VI di Yogyakarta tahun 1963 karya Adolphe François. ( collectie.wereldculturen.nl ). Peraturan jaminan keamanan bukan hanya mengatur tentang benda-benda saja namun jiwa tamu juga dijamin. Penduduk desa yang diinapi harus bertanggung jawab jika terjadi pemukulan terhadap tamu. Apabila ada tamu yang menginap dipukuli hingga menderita luka, maka penduduk desa didenda 25 reyal dan bila meninggal, didenda 50 reyal. Denda dapat dikembalikan jika sudah diketahui pelaku pemukulan tersebut dan nanti pemerintah pusat yang akan mengurus perkaranya. Penjelasan lebih lanjut pada peraturan-peraturan sebelumnya ditulis kembali pada Serat Angger Pradata Akhir . Serat ini mengatur, ketika pejabat perangkat desa bermalam karena suatu perjalanan, di manapun pilihannya, di rumah rakyat kecil maupun rumah pejabat, tetap dijamin keamanannya. Jika tamu dengan titel pejabat desa kehilangan barang, maka si pemilik rumah harus mengganti. Jika dibegal dalam perjalanan, juga harus dilindungi dengan cara membunyikan kentongan di rumah terdekat untuk segera memburu pencuri. Baca juga:  Wisata Sumatra Era Kolonial Untuk rakyat yang memiliki kebutuhan bekerja dan berdagang, dalam peraturan awal diperbolehkan menginap sepanjang kebutuhan waktunya. Akan tetapi pada Serat Angger Pradata Akhir disarankan untuk bergantian dari satu rumah ke rumah lain dan salah satu rumahnya harus rumah lurah. “Apabila lurah sedang bepergian, maka kamituwa punya kewajiban untuk melindungi tamunya selama sehari semalam,” kata Serat Angger Pradata Akhir. Oleh sebab itu, jika terjadi kemalingan maka pemilik rumah harus mengganti tiga kali lipat. Kemudian apabila suatu hari si maling dapat ditangkap, harus diselesaikan dengan musyawarah. Demikianlah jaminan keselamatan rakyat saat melakukan perjalanan pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VI.

  • Lima Petaka Mengerikan di Stadion Sepakbola

    MATA dunia tertuju kepada Indonesia. Ironisnya bukan karena prestasi, tapi tragedi. Peristiwa pahit di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang pada 1 Oktober 2022 masuk dalam catatan hitam tragedi terbesar di stadion sepakbola. Ia menempati urutan kedua setelah Petaka Estadio Nacional di Lima, Peru, 58 tahun silam. Dari beragam sumber disebutkan korban Tragedi Kanjuruhan mencapai 174 orang tewas sementara sekira 300 lainnya luka berat dan ringan. Sementara, versi Polri menyebutkan korban tewasnya 125 jiwa dan 325 luka-luka. Tragisnya, 33 di antara korban tewas masih anak di bawah umur. Banyak media mancanegara menyoroti tindakan represif aparat keamanan. Terutama, dalam penggunaan gas air mata yang penggunaannya dalam pengamanan suporter di dalam stadion dilarang dalam regulasi FIFA. Aksi solidaritas elemen Persija, Persib, Bali United dan Persis Solo yang berduka atas Tragedi Kanjuruhan. (Twitter @Persija_Jkt/@BaliUtd/@persisofficial/@persib). CBS News pada 2 Oktober melaporkan tragedi itu dengan tajuk “125 die as tear gas triggers crush at Indonesia soccer match”. Sementara, New York Times merilis dengan tajuk “Fans Fled as Police Fired Tear Gas, Causing Deadly Rush For Exits”. Reuters juga menyoroti hal yang sama lewat tajuk “Indonesia soccer stampede kills 125 after police use tear gas in stadium”. Kendati sebelumnya pihak kepolisian mengatakan penggunaan gas air mata sudah “sesuai prosedur”, upaya tersebut tetap melanggar  aturan FIFA yang dirilis pada 2012, yakni Stadium Safety and Security Regulations. Penggunakan senjata api dan gas air mata dalam prosedur pengamanan sama sekali tidak dibenarkan. Ada delapan poin terkait keamanan yang diatur regulasi tersebut: manajemen prosedur, stewards atau personil keamanan, kapasitas maksimal, antisipasi struktural dan teknis (stadion), crowd management , dan pelayanan darurat. “Dalam hal keamanan, para stewards harus dilatih secara reguler dalam hal prosedur-prosedur darurat, penggunaan peralatan darurat, prosedur-prosedur evakuasi, dan pemeriksaan pra-pertandingan,” tulis Eric C. Schwarz dkk. dalam Managing Sport Facilities and Major Events . Adanya pelanggaran prosedur pengamanan itu membuat pihak-pihak di luar dunia sepakbola pun ikut angkat bicara mengomentari Tragedi Kanjuruhan. Amnesty International salah satunya. “Kami mendesak pihak terkait melakukan investigasi yang independen dan menyeluruh menyoal penggunaan gas air mata di stadion dan memastikan mereka yang terlibat dibawa ke persidangan terbuka. Kami juga mendesak kepolisian meninjau kebijakan penggunaan gas air mata dan senjata lainnya untuk memastikan tragedi memilukan itu terulang lagi,” ujar Amnesty International di laman resminya , 2 Oktober 2022. Sejarah mengatakan, dari sejumlah petaka di dalam stadion yang terjadi di berbagai belahan dunia, semua tak lepas dari tindakan represif pihak keamanan. Termasuk lima petaka terparah berikut ini: Tragedi Stadion Mateo Flores Sisa-sisa insiden tragis di Estadio Mateo Flores. (tdifh.blogspot.com). Kondisi Stadion Mateo Flores (kini Estadio Nacional Doroteo Guamuch Flores) dan panitia pertandingan yang “mata duitan” jadi kombinasi menakutkan bagi suporter yang antusias ingin jadi saksi laga Grup 1 Kualifikasi Piala Dunia 1998 Zona CONCACAF (Amerika Tengah dan Karibia) antara tuan rumah Guatemala kontra Kosta Rika, 16 Oktober 1996. Panitia pelaksana (panpel) lokal mencetak tiket hingga 45.796, melebihi kapasitas stadion yang saat itu hanya bisa menampung 37.500 penonton. Stadion yang dibangun pada 1948 itu punya lima sektor tribun. Akan tetapi desain stadionnya nyaris tak berubah seiring bergulirnya zaman hingga tak berbanding lurus dengan meningkatnya antusiasme penonton. Alhasil akses keluar-masuk di masing-masing tribun sangat tidak laik. “Tragedinya terjadi saat masa pemanasan tim, di mana kerumunan suporter di tribun selatan bertumbangan, terdesak sampai ke pagar, dan terinjak-injak. Tercatat 83 orang dilaporkan meninggal (sumber lain menyebut 80-100 jiwa) dan antara 150-200 lainnya terluka. Kebanyakan korban tewas karena mengalami asphyxiation (kehabisan nafas, red .). Penyebabnya tak lain karena kelebihan kapasitas karena ribuan tiket tambahan tersebar secara ilegal,” ungkap John Nauright dan Charles Parrish dalam Sports Around the World: History, Culture and Practice. Laga Guatemala kontra Kosta Rika itu pun ditunda atas perintah langsung Presiden Guatemala, Álvaro Arzú, yang menyaksikan langsung dari tribun VIP. Selain menetapkan tiga hari berkabung, pemerintah Guatemala juga memerintahkan CDGA (Confederatión Deportiva Autonóma de Guatemala) menginvestigasi kasusnya didampingi tim evaluasi dari FIFA. Untuk sementara, Timnas Guatemala mesti menjalani laga kandang kualifikasinya di Amerika Serikat, tepatnya di Stadion Memorial Coliseum, Los Angeles. Di sisi lain, investigasi menghasilkan fakta bahwa terdapat 13 oknum panpel diketahui terlibat sindikat tiket ilegal, namun tak satupun yang kemudian diganjar hukuman. Dari evaluasi yang dilakukan, dikeluarkan keputusan yang mengharuskan pengelola stadion melakukan renovasi, khususnya di akses-akses keluar-masuk tribun. Untuk menghindari terulangnya tragedi, CDAG diharuskan mendesain ulang rencana evakuasi. Sementara FIFA melalui perwakilan Amerika Tengah, Rafael Tinoco, merekomendasikan stadionnya mesti dilakukan modifikasi untuk memenuhi standar keamanan yang ditentukan oleh komisi FIFA. “Infrastruktur (stadion) yang sudah berdiri sejak 1950 itu harus dimodel ulang. Sebagai langkah pertama, bagian eksternalnya (akses) harus dimodifikasi,” ungkap Rafael Tinoco, utusan FIFA untuk Amerika Tengah, dikutip Prensa Libre , 15 Oktober 2006. Tragedi Stadion Dasharath Rangasala Sejumlah suporter yang berupaya menyelamatkan diri dari kondisi cuaca angin topan dan hujan es di Kathmandu. ( Kathmandu Post , 12 Maret 1988) Stadion di ibukota Nepal, Kathmandu, yang dibangun pada 1956 itu jadi venue utama dalam setiap laga-laga Timnas Nepal maupun event - event bergengsi level klub. Termasuk event Tribhuvan Challenge Shield yang mempertemukan klub tuan rumah Janakpur Cigarette Factory kontra Mukti Joddha asal Bangladesh pada 12 Maret 1988. Namun, panpel agaknya kurang siap mengantisipasi faktor cuaca. Hujan deras yang turun di pagi harinya hingga membuat panpel ingin menunda pertandingan, berubah cerah pada siangnya. Panpel akhirnya memutuskan laga tetap digulirkan pada petang hari sesuai jadwal. Keputusan panpel itu namun justru jadi blunder. Cuaca cerah petang itu tiba-tiba berubah menjadi hujan es disertai angin topan. Tak ayal 30 ribu penonton yang menyesaki Stadion Dasharath panik lalu mencari tempat berlindung. Nahas bagi mereka, dari empat sektor tribun Stadion Dasharath, hanya tribun utama di sisi barat yang memiliki atap. Saat puluhan ribu penonton ingin memaksa masuk ke tribun utama, mereka dipukul mundur aparat keamanan. “Badai yang disertai petir, angin kencang, dan hujan es membuat panik 30 ribu fans. Sejumlah saksi mata menyatakan banyak penonton yang berteriak histeris saat berusaha menyelamatkan diri menuju delapan pintu keluar tapi ironisnya hanya satu yang terbuka (di tribun selatan, red .),” demikian diberitakan suratkabar Los Angeles Times , 13 Maret 1988. Puluhan ribu penonton itu pun berdesakan hingga saling menggencet di satu pintu keluar itu. Akibatnya, 93 orang tewas karena terinjak-injak dan kehabisan nafas dan lebih dari 100 lainnya terluka. Usai tragedi itu, mulai dari panpel hingga aparat keamanan saling lempar tanggung jawab. Sebuah komisi yudisial yang dibentuk pasca-tragedi itu kemudian memutuskan pemerintah memberi santunan sebesar 450 dolar kepada keluarga korban tewas dan 90 dolar kepada keluarga korban yang terluka. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nepal, Keshar Bahadur Bista, dan Presiden ANFA (induk sepakbola Nepal) Kamal Thapa mengundurkan diri dari jabatannya. Tragedi Hillsborough Tugu peringatan Tragedi Hillsborough. (liverpoolfc.com). Alan Radford, pemuda kelahiran Liverpool, selalu tak nyaman bahkan geram bila bertemu angka 97. Ia punya memori kelam dengan angka 97. Pasalnya, angka itu merupakan jumlah korban dari sebuah tragedi yang juga dialaminya. “Jika saya melihat angka 97 di televisi, itu akan membuat saya marah. Hillsborough menewaskan lebih dari 97 orang. Saya yakin itu,” kata Radford kepada The Athletic , 15 April 2022. Hillsborough yang dimaksud Radford merupakan Tragedi Hillsborough yang terjadi di Stadion Hillsborough, Sheffield, Inggris pada 15 April 1989. Tragedi terjadi dalam helatan laga semifinal FA Cup yang mempertemukan Liverpool dan Nottingham Foreset. Saat laga, kericuhan terjadi hingga mengakibatkan 97 orang tewas dan 766 luka-luka. Radford jadi satu dari sekian penyintas yang masuk daftar pemeriksaan “Taylor Report”, sebuah investigasi yang dilakoni hakim agung Lord Taylor. Sebagaimana Radford, Richard Wilsonyang kelahiran Blackpool juga mengalami luka ringan saat berusaha menyelamatkan diri. Kendati luka fisiknya lekas sembuh, luka batinnya tetap belum hilang hingga ia acap menghindari kehidupan sosial karena tak ingin banyak mendapat pertanyaan dari keluarga dan kerabatnya. “Saya teringat tentang bagaimana saya bisa selamat. Rasa bersalah saya masih sama sebagaimana di tahun 1989. Di dalam hati saya bertanya: ‘Siapa orang yang saya injak?’ Saya tahu saat itu saya berdiri di atas tubuh dua orang. Saya berpikir: ‘Apakah berat tubuh saya membunuh seorang anak?’” kenang Wilson pahit. Baik Wilson maupun Radford di hari itu berada di tribun barat, lokasi tempat terjadinya desakan penonton terparah jelang laga dimulai. Sementara, dari luar, ribuan suporter lain memaksa masuk ke tribun barat meski panpel sudah mengatur fans Liverpool ke tribun utara dan barat. Tetapi karena keretaapi yang mengangkut massa Liverpool datang terlambat, para fans yang ikut telat itu mengalir secara spontan hanya ke tribun barat sebagai yang terdekat dari stasiun. Ribuan fans yang memaksa masuk itu mengakibatkan ribuan lainnya yang sudah di dalam terhimpit dan tergencet sampai ke pagar pembatas besi yang lantas roboh. Sejumlah fans yang tadinya tergencet di pagar pun bertumbangan dan terinjak-injak oleh fans lain di belakang. Kekacauan makin parah lantaran aparat kepolisian menghalau suporter dengan cara-cara represif. Tragedi itu kemudian jadi titik balik persepakbolaan Inggris setelah dilakukan transformasi lewat “Blueprint for the Future of Football” yang dikeluarkan FA (induk sepakbola Inggris). Selain peniadaan pagar pembatas di stadion-stadion, cetak-biru itu meneptakan penggencaran edukasi suporter oleh masing-masing klub, pengetatan pengawasan potensi hooliganisme lewat CCTV, dan penerapan prosedur pengelolaan dan pengamanan kerumunan suporter yang lebih humanis dengan mengandalkan stewards atau pihak keamanan masing-masing klub. Tragedi Stadion Ohene Djan Patung perunggu untuk memperingati Tragedi di Stadion Accra. (sportsauthority.gov.gh). Kombinasi antara panpel ceroboh, kondisi stadion buruk, dan tindakan brutal aparat keamanan sebagaimana yang terjadi di Guatemala pada 1996 terulang di Accra, Ghana, pada 9 Mei 2001. Hasilnya, hari itu Stadion Ohene Djan (kini Accra Sport Stadium) jadi saksi bisu momen terkelam sepakbola di Benua Hitam. Sebanyak 126 orang tewas dan ratusan lainnya mesti dirawat di rumahsakit. Petakanya bermula dari kekecewaan puluhan ribu suporter klub Asante Kotoko. Lantaran timnya kalah 1-2 dari Accra Hearts of Oak, mereka bertindak anarkis dengan melempar kursi dan botol ke lapangan. Tindakan itu kemudian diladeni aparat keamanan. Sejumlah akses keluar-masuk tribun sengaja dikunci aparat. “Polisi lalu mulai menembakkan gas air mata ke tribun-tribun. Yang menyelamatkan saya adalah, saya melepas baju untuk menutupi mulut saya,” kata Deputi Menteri Olahraga Ghana Joe Aggrey yang turut terdampak gas air mata di tribun utama, dikutip BBC , 10 Mei 2001. Tembakan gas air mata dan peluru plastik dari aparat kepolisian itu lantas menyebabkan panic attack para suporter di sejumlah tribun. Lantaran sejumlah pintu sudah dikunci, beberapa akses yang tersisa jadi sasaran mereka untuk keluar sehingga menimbulkan bottleneck. Para para suporter menumpuk, saling menggencet, dan terinjak-injak. Insiden pahit itu memicu keprihatinan Presiden Ghana, John Kufuor, yang lalu menetapkan tiga hari berkabung dan Premier League Ghana dihentikan selama sebulan. Pemerintah kemudian membentuk komisi independen untuk menginvestigasinya. Hasilnya, enam anggota kepolisian didakwa dengan pasal pembunuhan. Akan tetapi di persidangan, keenamnya dinyatakan tak bersalah. Jaksa gagal membuktikan gas air mata sebagai penyebab kematian 126 orang itu. Kematian mereka disebabkan karena terinjak-injak suporter lain. Tragedi Estadio Nacional Peru Ribuan suporter yang ditembakkan gas air mata pada Tragedi Estadio Nacional. (tvperu.gob.pe). Dalam satu kedipan mata, euforia yang membuncah dari puluhan ribu fans Timnas Peru yang memadati Estadio Nacional, Lima, Peru pada 24 Mei 1964 berubah jadi amarah. Gol striker Victor Lobatón di masa injury time ke gawang Argentina dianulir wasit Ángel Eduardo Pazos asal Uruguay. Padahal, saat itu Peru sedang tertinggal 0-1. Mereka hanya butuh hasil imbang untuk bisa lolos kualifikasi Zona CONMEBOL sehingga berhak berangkat ke Olimpiade Tokyo. Walau laga belum berakhir, Pazos terpaksa menghentikan pertandingan lantaran para suporter tuan rumah di beberapa tribun mulai bertindak anarkis. Beraneka macam benda berterbangan ke arah lapangan sebagai luapan emosi kekecewaan 45 ribu penonton. “Setelah para pemain kedua kesebelasan dikawal aparat ke ruang ganti, seorang suporter, Negro Bomba, menyusup ke dalam lapangan untuk menyerang wasit. Polisi menghalaunya dengan brutal dan memancing amarah suporter lainnya. Polisi sampai harus menggunakan tongkat dan menembakkan gas air mata untuk membendung massa suporter yang membanjiri lapangan,” ungkap Nauright dan Parrish. Tak hanya mengarah pada suporter yang menginvasi lapangan, polisi juga menembakkan gas air mata ke kerumunan suporter di tribun utara. Hasilnya, ribuan suporter di tribun itu panik. Sebagian besar gagal menyelamatkan diri lantaran akses pintu keluar yang terhubung dengan tangga terkunci. Tak ayal terjadi penumpukan mengerikan di beberapa tangga menuju pintu keluar. Tekanan dari himpitan ribuan orang itu akhirnya merobohkan pintu besi dan insiden saling menindih dan injak tak terelakkan. Petaka itu kemudian memakan korban jiwa hingga 328 orang dan 500 lainnya luka-luka. “Tidak selesai sampai di situ, massa yang berhasil keluar melakukan pengerusakan terhadap sejumlah kendaraan. Para polisi berseragam yang ditemui di jalan-jalan jadi sasaran amuk. Kerusuhan menjalar sampai seantero kota hingga memaksa pemerintah menerjunkan militer dan menetapkan status darurat serta jam malam,” tandas Nauright dan Parrish.*

  • Purnawirawan Jenderal Pendiri Arema

    Sejak dulu tentara dekat dengan olahraga. Tak heran jika banyak pensiunan jenderal yang menjadi pengurus organisasi olahraga. Salah satu purnawirawan yang aktif dalam olahraga adalah Mayor Jenderal TNI (Purn.) Acub Zainal. Dia sudah menaruh perhatian pada olahraga ketika menjabat Panglima Kodam XVII Cendrawasih dan gubernur Irian Jaya (1973–1975). Acub membangun kebanggaan masyarakat Papua lewat olahraga terutama sepakbola, atletik, dan tinju. Dia ikut membangun tim Persatuan Sepakbola Indonesia Jayapura (Persipura). Setelah selesai menjabat gubernur Irian Jaya, dia mengelola klub sepakbola di Jawa. Menurut Nurinwa Ki S. Hendrowinoto dalam biografi Acub Zainal: I Love the Army , Acub pernah membawa Persija keluar sebagai juara utama dalam kejuaraan Marah Halim Cup tahun 1977. Pada tahun itu juga, dia mulai bertugas sebagai manajer tim nasional PSSI ke SEA Games. Baca juga:  Perkesa 78, Kisah Klub Sepakbola Orang Papua Pada November 1978, Acub mendirikan klub sepakbola Perkesa 78. Dia membawa beberapa pemain asal Papua untuk memperkuat Perkesa 78 dalam kompetisi Galatama (Liga Sepakbola Utama). Sayangnya, para pemain Perkesa 78terlibat skandal suap. Acub yang marah sekaligus sedih membubarkan Perkesa 78. Dia juga mundur sebagai Ketua Bidang Pembinaan Kesebelasan Nasional ketika PSSI dipimpin Ali Sadikin. Kekecewaan Acub sedikit terobati ketika dia diminta memimpin klub Niac Mitra Surabaya. “Di bawah pimpinan Acub Zainal, Niac Mitra berhasil keluar sebagai juara kompetisi Galatama 1980/1982,” tulis Nurinwa. Niac Mitra kembali juara Galatama pada 1982/1983 dan 1987/1988. Ketika kasus suap melanda Galatama, Acub diangkat menjadi Ketua Tim Peneliti dan Penanggulangan Masalah Suap (TPPMS) PSSI pada 1984. Acub Zainal menghadap Presiden Soeharto. (Repro  Acub Zainal: I Love the Army ). Kegagalan dengan Perkesa 78 tak menghentikan Acub untuk membangun klub sepakbola. Pada 11 Agustus 1987, dia bersama anaknya, Lucky Zaenal, mendirikan klub sepakbola baru, PS Arema di Malang, Jawa Timur. Arema kerap diartikan sebagai Arek Malang. Arema merupakan klub swasta yang membutuhkan sponsor dan bukan berharap pada pemerintah daerah. Mulanya Arema tak diacuhkan kebanyakan orang Malang. Acub yang bukan konglomerat berjuang keras di tahun-tahun pertama Arema. Hanya dalam waktu tiga tahun, Arema yang berjuluk Singo Edan mulai menunjukkan prestasinya. Arema menempati peringkat empat dalam Galatama tahun 1990. Akhirnya, Arema berhasil merebut gelar juara Galatama 1992/1993. Pemainnya, Singgih Pitono menjadi top scorer dengan 15 gol. Baca juga:  Acub Zainal dan Lotere untuk PON “Dari prestasi ini, hal yang membanggakan Acub Zainal adalah Arema meraih juara dengan kekuatan bangsa sendiri, dan lewat tangan pelatih lokal Gusnul Yakin,” tulis Nurinwa. Ini berkat kepemimpinan Acub yang disiplin. “Acub Zainal itu bisa menempatkan dirinya dalam posisi yang benar. Jika sudah menugaskan seorang pelatih, Acub tak pernah mencampuri urusan pelatih. Dia tahu hanya bisa memberi motivasi,” kata Andi Slamet, tokoh sepakbola asal Surabaya. Acub selalu mendukung langkah bawahannya. Tetapi dia bisa bertindak tegas kepada bawahannya jika dianggap indisipliner. Seperti terjadi pada Sinyo Aliandoe, pelatih yang membawa Arema ke urutan enam dalam Galatama 1987/1988. Baca juga:  Sejarah Rivalitas Persebaya-Arema Keberanian dan sikap tegas Acub ditunjukkan ketika dia menjadi manajer tim nasional yang akan disiapkan untuk SEA Games di Manila. PSSI menolak membiayai kelebihan satu pemain ketika tim nasional akan berlaga di turnamen Merdeka Games 1991 di Malaysia. Itu tidak menyurutkan tekad Acub. Dia berada di pihak pelatih, bukan pengurus PSSI. “Kalau perlu, seorang pemain itu kami biayai sendiri. Sebab, seperti dikatakan trio pelatih, pengiriman ini sangat penting bagi pemain itu sendiri. Agar pemain tidak canggung lagi saat bermain bersama di SEA Games Manila,” kata Acub. Pernyataan Acub ini sekaligus membela trio pelatih tim nasional:Anatoly Polosin, V.I. Urin, dan Danurwindo. Acub Zainal yang lahir pada 19 September 1927, meninggal dunia pada 4 Oktober 2008. Sepeninggal Acub, Arema tidak hanya bertahan, t et api juga menjadi kebanggaan warga Malang. *

  • Pelajaran Berharga dari Tragedi Sepakbola

    TIDAK hanya jadi perhatian nasional, tragedi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur (Jatim) pada Sabtu (1/10/2022) juga jadi perhatian dunia. Sebanyak 174 jiwa melayang sia-sia dan lebih dari 300 lainnya luka-luka. Peristiwa getir itu bermula selepas peluit panjang tanda berakhirnya laga Liga 1 antara Arema FC melawan Persebaya yang berkesudahan 3-2 untuk kemenangan tim tamu. Tak terima, sejumlah oknum Aremania (sebutan fans Arema FC) menumpahkan kekecewaan dengan menyerbu ke lapangan yang kemudian dipukul mundur aparat kepolisian. Bentrokan antara suporter dan aparat pun tak terelakkan. Aparat tak hanya menggunakan pentungan dan tameng, tapi kemudian menembakkan gas air mata. Bukan hanya untuk membubarkan suporter yang turun ke lapangan tapi juga ke beberapa tribun. Baca juga: Hilang Nyawa Suporter Bola Salah Siapa? Akibatnya, suporter yang memadati stadion yang dibangun pada 1997 dan diresmikan Presiden Megawati Soekarnoputri pada 2004 itu dilanda kepanikan. Di setiap pintu keluar sektor tribun terjadi penumpukan suporter yang serentak menyelamatkan diri dari gas air mata yang memedihkan mata dan menyesakkan nafas. Korban jiwa kemudian berjatuhan. Presiden Joko Widodo, yang prihatin, langsung memerintahkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit mengusut kejadian itu dan meminta PSSI untuk sementara menyetop Liga 1 hingga evaluasi dan prosedur pengamanan pertandingan dirampungkan. Serupa dengan Presiden Jokowi, Presiden FIFA Gianni Infantino juga turun tangan. Sebuah tim investigasi dikirimkannya ke Malang. “Ini hari yang kelam bagi semua yang terlibat dalam sepakbola dan sebuah tragedi di luar pemahaman kita. Dari hati yang terdalam, saya turut berbelasungkawa kepada para keluarga korban yang kehilangan atas insiden tragis ini,” kata Infantino di laman resmi FIFA, Minggu (2/10/2022). Presiden FIFA Gianni Infantino menyampaikan duka mendalam untuk Tragedi Kanjuruhan ( fifa.com ) Apapun alasannya, penggunaan gas air mata dalam event sepakbola tidak dibenarkan dan melanggar aturan FIFA. Regulasinya tercantum dalam pasal 19 (b) FIFA Stadium Safety and Security Regulations yang berbunyi: “Pengendalian kerumunan oleh pihak keamanan tidak boleh menggunakan senjata api maupun gas air mata.” Jangankan di dalam stadion, di luar pun penggunaan gas air mata tetap dilarang. Di Eropa, aparat yang menembakkan gas air mata takkan lolos dari jerat hukum. Itu bisa dilihat misalnya pada kerumunan fans Liverpool di luar Stade de France, Paris, di akhir Mei 2022. Baca juga: Gas Air Mata Awalnya untuk Perang Saat itu, ribuan fans Liverpool berkerumun di luar stadion menunggu laga final Liga Champions antara Liverpool kontra Real Madrid. Untuk mengurai kerumunan yang berpotensi ricuh, Kepolisian Paris menembakkan gas air mata dan semprotan merica. “Saya sepenuhnya menyadari bahwa orang-orang yang punya niat baik, bahkan membawa keluarga, ditembakkan gas air mata. Dan saya meminta maaf atas kejadian itu walau harus saya tekankan lagi, tidak ada cara lain,” ungkap Kepala Kepolisian Paris Didier Lallement di hadapan Senat Prancis, dikutip USA Today , 9 Juni 2022. Lantas, ketika korban sudah berjatuhan, siapa yang mesti bertanggung jawab atas tragedi Kanjuruhan? Para pemain dan ofisial Arema FC melakukan doa bersama untuk para korban Tragedi Kanjuruhan (Twitter @AremafcOfficial) Pelajaran Tragis dari Inggris Puluhan ribu mil dari Malang, suasana kontras terjadi di London dan Manchester, Inggris pada 1 Oktober 2022. Kendati “panas”, dalam derbi big match Arsenal kontra Tottenham Hotspurs dan Manchester City kontra Manchester United itu keamanan dan kenyamanan tetap terpelihara. Kendati stadion-stadion Premier League tanpa pagar pembatas, puluhan ribu suporter Tottenham dan Manchester United sebagai pihak yang keok tetap pulang dengan tertib dan aman. Padahal, banyak dari mereka juga membawa keluarga. “Kami mendukung permainan (sepakbola) yang aman. Setiap level sepakbola di Inggris berkomitmen untuk memastikan anak-anak bisa bersenang-senang, dan memiliki pengalaman positif dan inklusif. Oleh karenanya kami mendukung ‘Play Safe’, sebuah kampanye sepakbola nasional yang aman,” ungkap operator Liga Inggris, Premier League di akun Instagram -nya, @premierleague , Minggu (1/10/2022). Baca juga: Perang Sepakbola dan Kemerdekaan Kroasia Akan tetapi, atmosfer sepakbola yang aman dan nyaman di Inggris bukan “jatuh dari langit”, apalagi sejak dulu Inggris dikenal dengan hooliganisme-nya yang anarkis dan barbar. Ada proses panjang dengan pengalaman pahit dan tragis yang jadi bahan ajarnya. Kunci utamanya, para stake holders di Inggris punya keberanian dan kemauan. Berbeda dari Indonesia yang menteri terkaitnya berharap Tragedi Kanjuruhan tak berbuah sanksi FIFA, di Inggris perdana menterinya pernah berani menarik semua level sepakbola negerinya dari glamornya pentas dunia. Pasca-Perang Dunia II, sepakbola Inggris memang bangkit lagi tapi sejak saat itu juga tak pernah sepi dari kejadian memilukan. Tragedi di Stadion Burnden Park, Bolton, pada 9 Maret 1946 contohnya. Saat itu, tuan rumah Bolton Wanderers menjamu Stoke City di babak keenam FA Cup yang berakhir imbang tanpa gol. “Stadionnya hanya berkapasitas 69.500 tapi pada laga itu yang menyesaki Burnden Park sampai 80 ribu gegara antusiasme sepakbola pasca-perang. Aksesnya juga menjadi masalah karena salah satu tribunnya masih digunakan Kementerian Penyediaan Perlengkapan (perang) untuk gudang dan depot,” tulis Paul Brown dalam Savage Enthusiasm: A History of Football Fans. Plakat peringatan Bencana Burnden Park ( bwfc.co.uk ) Saking sesaknya, dua pembatas stadion roboh. Para penonton yang saling berdesakan dan berhimpitan pun meluap ke dalam lapangan. Saling injak dan tindih satu sama lain tak terelakkan. Akibatnya, 33 orang tewas dan 400 lainnya terluka. Korban jiwa lebih banyak terjadi di Stadion Valley Parade, Bradford, pada 11 Mei 1985, kala Bradford City berhadapan dengan Lincoln City di partai terakhir Divisi Championship (kasta kedua Liga Inggris, red). Puntung rokok penonton memicu kebakaran di Tribun Blok G dan mengakibatkan kepanikan ribuan penonton yang berdesakan di pintu keluar. Sebanyak 56 orang menjadi korban jiwanya dan 265 lainnya luka-luka. Baca juga: Bencana di Stadion Ibrox Di tahun yang sama, terjadi peristiwa tragis yang jadi titik balik dalam sepakbola Inggris: Tragedi Heysel di Belgia. Momennya  terjadi dalam partai final Champions Cup (kini Liga Champions) yang mempertemukan Liverpool dan Juventus, 29 Mei 1985 di Stade du Heysel (kini Stade Roi Baudouin). Tragedi itu dipicu oleh tawuran antara suporter Liverpool dan Juventus di luar stadion yang bahkan sudah terjadi sejak petang sebelum laga dimulai. Bentrokan berlanjut ketika masing-masing kubu suporter berada di dalam stadion dan saling berbalas lemparan batu. Memorial Tragedi Heysel yang jadi salah satu petaka paling kelam dalam sepakbola dunia ( liverpoolfc.com ) Pagar-pagar pembatas didobrak dan dirobohkan, di mana perkelahian kedua kubu akhirnya bentrok juga dengan aparat kepolisian. Peristiwa brutal itu menyisakan duka lantaran menewaskan 39 orang dan dan melukai 600 lainnya. Tak hanya 14 suporter Liverpool yang diseret ke pengadilan dengan dakwaan pembunuhan, sejumlah perwira polisi yang bertindak brutal juga menghadapi dakwaan yang sama. Tragedi ini kemudian menjadi perhatian PM Margareth Thacther. “Wanita Besi” itu memerintahkan FA (induk sepakbola Inggris) untuk menarik klub-klub Inggris dari semua kompetisi Eropa seiring dilakukan evaluasi secara holistik usai pemberian sanksi kepada klub-klub Inggris oleh UEFA dan FIFA. “Kita harus membersihkan permainan (sepakbola) ini dari hooliganisme di negeri kita sendiri dan setelah itu mungkin baru bisa membolehkan sepakbola kita bermain di luar negeri lagi,” ujar Thatcher dikutip Jim White dalam A Matter of Life and Death. Baca juga: Lembaran Getir Tragedi Heysel Beberapa evaluasi dibicarakan sang PM dengan FA dan Football League sebagai operator liga. Hasilnya, pemberlakuan kartu pengenal bagi ofisial, dan pemasangan pagar serta CCTV. Namun lima bulan pasca-absen dari pentas Eropa dan gelaran liga sudah berjalan aman selama beberapa tahun, muncul Tragedi Hillsborough. Peristiwanya terjadi saat perhelatan laga semifinal FA Cup antara Liverpool dan Nottingham Forest di Stadion Hillsborough, 15 April 1989. Montase Tragedi Hillsborough yang jadi titik balik sepakbola Inggris ( contrast.org ) Tragedinya bermula dari penumpukan suporter di lorong dan pintu masuk yang sempit di Sektor 3 dan 4. Penonton memaksa masuk saat laga sudah berjalan. Hal itu mengakibatkan penumpukan di dalam tribun. Banyak suporter yang harus memanjat pagar pembatas lapangan hanya untuk menyelamatkan diri agar tak terinjak-injak atau tertindih ribuan suporter lain. Di hari nahas itu, total 97 orang tewas dan 766 lainnya terluka. Ratu Elizabeth II, Paus Yohannes Paulus II, hingga Presiden Amerika Serikat George H.W. Bush menyatakan duka cita. PM Margaret Thatcher langsung bertolak ke Hillsborough didampingi Menteri Dalam Negeri Douglas Hurd. “PM Thatcher merasakan kepedihannya saat melihat para korban meninggal dan terluka dan mendukung dibentuknya ‘Investigasi Taylor’ (Investigasi Hakim Agung Lord Taylor, red. ) yang dalam laporannya mengkritik cara kepolisian dalam mengendalikan massa,” ungkap Charles Moore dalam Margaret Thatcher: Herself Alone. Baca juga: Stigma Kekerasan Suporter Fanatik Investigasi Taylor itu secara tidak langsung jadi pendorong transformasi sepakbola Inggris. Pada 17 Juli, FA bersama klub-klub Inggris menyepakati sebuah perjanjian dan merilis sebuak cetak biru, “FA Blueprint for the Future of Football”, seiring lahirnya Premier League sebagai pengganti Football League. Isinya tak hanya pembagian komersialisasi yang layak tapi juga upaya membentuk mental suporter menjadi lebih baik. “Untuk melengkapi transformasi besar sepakbola Inggris, para suporternya juga mesti diperlakukan sebagai konsumen ketimbang sekadar fans biasa. Ini berkaitan dengan penyediaan fasilitas dan kualitas venue . Kebanyakan stadion di Inggris saat itu peninggalan era Edwardian yang tidak nyaman dan tanpa kualitas hiburan yang memadai,” tulis D. M. Webber dalam “Post-Crisis Football: The Great Transformation of the English Game” yang termaktub dalam buku Football and Supporter Activism in Europe: Whose Game Is It?. Semenjak itu, sesuai rekomendasi “Laporan Taylor”, setiap stadion di Inggris harus melepas pagar pembatas agar tak membuat suporter seperti tahanan perang dan menghindari Tragedi Hillsborough. Semua stadion diwajibkan menghilangkan tribun berdiri dan diganti all-seater stadia alias kursi individu. Dalam hal keamanan di dalam stadion, wewenangnya tak lagi diserahkan kepada kepolisian tapi kepada pihak keamanan masing-masing klub yang tentu tanpa senjata dan prosedur represif. “Pasca-Tragedi Hillsborough, pemerintah membentuk Football Licensing Authority di bawah Football Spectators Act. Fungsinya adalah mendesain alur keamanan lewat sejumlah dokumen pengamanan di stadion yang disebut ‘Pedoman Hijau’. Salah satu manifestasi dari kejadian Hillsborough dalam Laporan Taylor adalah penyerahan tanggungjawab keamanan di dalam stadion dari kepolisian ke steward (pihak keamanan) klub masing-masing,” ungkap Richard Cox, Dave Russell, dan Wray Vamplew dalam Encyclopedia of British Football. Baca juga: Akar Seteru Suporter Oranye dan Biru Para stewards di Inggris yang sudah punya prosedur pengamanan suporter yang mapan ( thefa.com )

  • Tajir Melintir Teuku Markam

    Sebastian Tanamas baru sebulan tinggal di Jakarta. Ia meninggalkan ketentaraan dengan pangkat terakhir Letnan. Sebastian kemudian jadi orang pelarian, ke Jepang, karena bergabung dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Selama lima tahun di Jepang, Sebastian mengerjakan berbagai profesi. Mulai dari fotografer, wartawan, hingga penyiar radio Nihon Hoson Kyokai  (NHK). Pada Mei 1963, Sebastian memutuskan pulang ke Indonesia. “Dari Jepang, waktu itu saya membawa sebuah mobil sedan merek Dodge,” kenang Sebastian Tanamas dalam otobiografinya Tak Menggantang Asap: Otobiografi Seorang Pejuang dan Pengusaha Industri Kerajinan. Sekali waktu, Bastian hendak menjumpai seorang kawan di Jl. Sudirman. Namun, sewaktu melintas di dekat Jembatan Semanggi, mobilnya tertabrak sedan yang dikemudikan seorang wanita cantik. Bastian sendiri selamat dari kecelakaan tersebut. Tapi mobilnya ringsek karena terbalik hingga menghantam sebatang pohon. Baca juga:  Masa Lalu Orang Kaya Baru Bastian termangu di pinggir jalan, tak mempedulikan polisi yang sibuk mengukur-ukur tempat kejadian peristiwa kecelakaan. Tiba-tiba datanglah sebuah sedan mewah. Dari mobil itu keluar sesosok pria berbadan tegap mengenakan celana pendek. Dalam hati Bastian, kalau bukan orang kaya tentulah seorang penggede. Lelaki itu menghampiri perempuan yang menabrak mobil Bastian. Rupanya, perempuan itu adalah sekretarisnya. Sejurus kemudian, dengan suara lantang ia bertanya siapa pemilik mobil yang ringsek. “Saya, Pak,” jawab Bastian. “Sekarang Saudara mau apa? Mau diperkarakan atau mau damai,” ujar si lelaki setengah menggertak. Mendengar lagaknya, darah Bastian mendesir. Tapi, dia masih bisa menahan diri. Bastian melihat lelaki itu bertolak pinggang sambil menghisap rokok. Lantas, ia minta rokok. Lelaki itu mengulurkan tangan kirinya seraya mencabut sebatang rokok. Tak lupa dinyalakannya korek api buat Bastian. Baca juga:  Apakah Aidit Seorang Perokok? “Mau damai boleh, mau diperkarakan juga tidak apa-apa,” kata Bastian setelah dua isapan rokok. Semula Bastian mengira dia merasa ditantang. Nyatanya tidak. Dia langsung berteriak keras pada polisi yang lagi mencermati TKP, “Sudah! Kami damai. Kalian pergi saja, tak ada persoalan,” teriaknya. Kepada Bastian, ia lantas berbicara dengan nada rendah. “Dik, sekarang bawa saja mobilmu ke bengkel saya. Berobatlah dulu setelah itu datang ke kantor saya,” katanya sembari menyerahkan selembar kartu nama. Dari kartu nama itu, Bastian mengetahui identitas lelaki yang dihadapinya:  Kapten Teuku Markam . Markam dikenal sebagai pengusaha karet ternama, pemilik perusahaan PT Karkam (Kulit Aceh Raya Kapten Markam). Sementara wanita sekretaris itu, seperti disebut Kompas 20 Maret 1968, bernama Ratna Kartika Markam alias Ellen Tan Eng Lan yang belakangan menjadi istri Markam. Markam juga dikenal luas sebagai orang dekat Presiden Sukarno. Sejumlah proyek mercusuar yang digagas Bung Karno didanai oleh Markam. Di antaranya Gelanggang Olahraga Senayan dan pucuk emas Monumen Nasional (Monas). Baca juga:  Galang Dana Dwikora ala Sukarno Mobil Sebastian Tanamas akhirnya diderek ke bengkel di Jl. Medan Merdeka Utara. Lokasinya berdekatan dengan Istana Negara. Sekarang, di lokasi bengkel itu berdiri bangunan kantor Mahkamah Agung RI. Keesokan hari, Bastian datang bersama istrinya ke kantor Markam. Anak buah Markam melayani pasangan suami-istri itu dengan hangat. Markam menawarkan dua pilihan: mobil direparasi atau diganti dengan yang baru. Tawaran untuk reparasi diterima Bastian karena mesin mobilnya masih bagus. Markam langsung membuat perhitungan dengan Bastian. “Adik tentu bekerja dan butuh uang untuk transportasi. Untuk itu, saya beri ongkos taksi untuk 8 jam sehari selama tiga bulan,” katanya. Markam memanggil stafnya untuk mencari informasi ongkos taksi di Jakarta per jamnya. Baca juga:  Ongkos Diplomasi  $250 dari Bung Karno Total ongkos taksi yang diberikan Markam sebesar Rp500 x 8 jam x 90 hari. Jadi, semuanya berjumlah Rp480.000. Uang sejumlah itu di tahun 1963 sudah banyak. Padahal, Bastian saat itu masih belum mendapat pekerjaan. Markam bahkan kasih tawaran untuk memodali Bastian usaha studio foto di salah satu rumahnya, di Jl. Sambas, atau tokonya di Senen. Namun, setelah menilik relasi Markam yang dekat dengan Sukarno, Bastian menolaknya. Meski demikian, uang dari Markam ada pula hikmahnya buat Bastian. Bukannya dipakai untuk ongkos sewa taksi, uang itu malah jadi modal Bastian untuk mengontrak rumah di Pejompongan, Jakarta Pusat. Bastian memboyong istri dan kelima anak pindah ke sana. Tadinya mereka menebeng di kediaman orang tua Bastian di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Setelah mendapat tempat menetap, barulah Bastian mendapat pekerjaan sebagai guru bahasa Jepang di sebuah sekolah. “Ternyata Markam begitu baik. Saya tak menduga sebelumnya akan mendapatkan ‘uang taksi’ untuk tiga bulan lamanya,” kenang Sebastian Tanamas.    Baca juga:  Mengatasi Kisruh Taksi Markam memang dikenal sebagai pengusaha yang royal. Keroyalan itu juga diceritakan oleh jurnalis kawakan Rosihan Anwar.  Ia mengisahkan tentang Kolonel Hidayat Martaatmadja, mantan Panglima Teritorium Sumatra, yang tak punya rumah sewaktu memasuki zaman Republik (1950-an). Melihat ada rumah “potensial” di Jl. Cik di Tiro, Menteng, Jakarta Pusat, Hidayat melapor kepada Menteri Negara Stabilisasi Ekonomi Kolonel Suprayogi. “Ibu (Ratu Aminah, istri Hidayat) belum punya rumah,” kata Rosihan dalam Petite Histoire Indonesia Jilid 3. Mengetahui hal itu, Markam tergerak. “Harga rumah itu Rp 40.000, dan dengan pertolongan pengusaha Markam yang memberi uang, rumah bisa dibeli,” ungkap Rosihan.     Tapi, pundi-pundi Markam tak selalu mempan untuk membeli apa saja yang diinginkannya. Aliran dananya mandek ketika membentur “tembok” bernama Hoegeng Iman Santoso. Suatu ketika, Markam butuh paspor diplomatik untuk bepergian ke luar negeri. Ia pun mengupayakannya. Namun, permintaan itu ditolak oleh Kepala Jawatan Imigrasi Hoegeng. Pasalnya, Markam bukan diplomat. Hoegeng hampir saja menendang Markam ke luar pintu ruangan kantornya lantaran disuguhkan sejumlah uang oleh Markam. Baca juga:  Ketika Hoegeng dan Teuku Markam Bersitegang “Ia gelagapan juga. Maklumlah postur tubuh saya besar juga. Melebihi tinggi rata-rata orang Indonesia,” kata Hoegeng dalam biografinya yang disusun Ramadhan KH dan Abrar Yusra Polisi: Idaman dan Kenyataan . Hoegeng yang menjadi Kapolri periode 1968—1971, memang dikenal sebagai polisi jujur yang anti-suap.

  • Nasi dalam Centhini

    Diet mengurangi konsumsi nasi sedang tren belakangan ini. Banyak yang meyakini, mengurangi karbohidrat dari nasi membuat tubuh semakin sehat. Ahli Gizi UGM Rahadyana Muslichah mengatakan bahwa pemenuhan kebutuhan karbohidrat saat diet tidak hanya bisa didapat dari nasi putih saja. “Variasikan dengan bahan pangan lain seperti singkong, ubi, atau beras merah yang mengandung serat,” kata Rahadyanan, dilansir dari berita ugm.ac.id ,  11 Januari 2022. Pada 2012, Pemerintah Kota Depok bahkan mengeluarkan peraturan,  SK wali kota Depok No. 010/27-um,  yang menganjurkan warganya tidak mengonsumsi nasi setiap hari Selasa . Melalui  program ber- tagline “One Day No Rice”, warga Depok diharapkan mencari alternatif makanan mengandung karbohidrat seperti umbi-umbian. Konon, peraturan itu terinspirasi dari kesuksesan program serupa di Korea Selatan. Baca juga:  Sehidup Semati Bersama Nasi Bukan perkara mudah, memang, menghilangkan kebiasaan makan nasi di negeri ini. Nasi sudah lama menjadi makanan utama masyarakat Indonesia. Bahkan, sampai ada anggapan di masyarkat bahwa seseorang yang belum makan nasi maka dianggap belum makan.  Banyak catatan kuno “mengabadikan” tentang nasi dan segala macam yang menyertainya, semisal Prasasti Paradah (943 M) dan Prasasti Panggumulan (902 M). Akan tetapi  Serat   Centhini  yang datang jauh setelah itu menunjukkan keunikan yang dimiliki nasi. Nasi ,  menurut serat tersebut, tidak hanya didapat dari beras olahan biji padi. Sekul   / sega , istilah yang digunakan Centhini  untuk nasi, saat itu juga dapat dibuat dari olahan jagung. Jenis-jenisnya dapat berupa gaga  (beras merah), beras biasa, ketan, dan jagung. Berbagai jenis beras. ( freepik.com ). Selain menginformasikan bahan dasar nasi, Centhini juga menyebutkan cara pengolahan nasi, yang antara lain berupa nasi liwet. Ada dua cara membuat nasi liwet, menurut serat  Centhini . Pertama, menggunakan kendhil (periuk kecil) dan cara kedua, menggunakan dandang. Penggunaan kedua jenis alat masak itu berangkat dari jumlah nasi yang diperlukan. Kendhil dipilih bila jumlah nasi yang diperlukan sedikit, sementara dandang digunakan bila keperluannya banyak. Seberapa banyak orang Jawa memasak nasi, biasanya ditentukan dari keperluannya. Saat itu, nasi masih umum dijadikan jamuan istimewa tuan rumah kepada para tamunya, bukan barang konsumsi harian seperti kini. Hal itu bisa dilihat antara lain dari pupuh 56 Centhini, yang mengisahkan sebuah kunjungan yang dilakukan Raden Jayangresmi (Syeh Amongraga), buyut dari Sunan Giri sepuh. “Usai perjalanan panjang, Raden Jayangresmi bersama Gatak-Gatuk sampai di Bogor, kemudian makanan yang disajikan adalah nasi liwet dengan lauk berbagai masakan yang dibuat dari bahan dasar ikan tambra,” kata Centhini . Baca juga:  Ikan, Kuliner Favorit Sejak Dulu Centhini juga menyebutkan fungsi lain nasi sebagai medium manusia untuk bersedekah. Hal ini digambarkan oleh tokoh utama dalam karya sastra Serat Centhini, Syeh Amongraga dan Niken Tembanglaras. “Sepeninggalan Syeh Amongraga, setiap hari Jumat, Senin, dan Kamis Kliwon, Niken Tembanglaras selalu memberikan sedekah.” Sedekah yang dilakukan Tembangraras berbeda-beda. Ada yang diniatkan untuk memuliakan para nabi, atau kemuliaan wali, dan ada pula yang untuk memuliakan leluhur. Untuk memuliakan para nabi, hidangan yang disedekahkan berupa nasi langgi dengan lauk ayam dan lalapan cabai yang sudah dicuci bersih. Adapun untuk memuliakan wali, terdiri dari beras (belum dimasak), nasi golong, pecel ayam, jangan (sayur) menir, beraneka macam ikan, serta macam-macam lalaban. Kemudian saat memuliakan leluhur, sajiannya berupa nasi langgi, janganpindhang merah putih, nasi tumpeng, nasi golong, nasi liwet, nasi megana, daging burung, ikan laut, ikan air tawar, bermacam-macam sayuran, bermacam-macam buah, dan jajanan pasar. Baca juga:  Sajian dari Beragam Pasar Kuliner Tingginya “status” yang dimiliki nasi di masyarakat menjadikannya lebih umum digunakan sebagai suguhan untuk para tamu dalam acara-acara khusus besar maupun kecil. Mulai dari syukuran dan ruwatan anak hingga pernikahan atau upacara tradisional. “Untuk keperluan acara ruwatan dengan pertunjukan wayang, disajikan nasi tumpeng sembilan jenis yaitu: tumpeng tutul, tumpeng lugas, tumpeng kendhit, tumpeng yang pucuknya diberi cabai merah, tumpeng megana dengan sayuran, tumpeng megana dengan lauk ayam, tumpeng rajeg, tumpeng berpuncak telur, dan tumpeng sembur,” kata Timbul Haryono dalam “Serat Centhini sebagai Sumber Informasi Jenis Makanan Tradisional Masa Lampau”, termuat di Jurnal Humaniora edisi Juni-Agustus 2008. Umumnya, orang yang akan mengadakan hajatan mengumpulkan beras dalam jumlah banyak. Seringkali beras itu dikumpulkan sedikit demi sedikit dalam rentang waktu yang panjang. Penanganannya pun tidak sembarangan. Baca juga:  Rias Pengantin ala Serat Centhini “Oleh karena itu beras ditempatkan di suatu ruangan tertentu ( gedhong beras ) dilengkapi sesaji,” kata Wahjudi Pantja Sunjata dalam buku Kuliner dalam Serat Centhini . Selain beras, tempat-tempat yang berkaitan dengan makanan juga perlu diberi sesaji, seperti sesaji pawon (dapur), gedhong ulam ( alas makan), dan gedhong sekul (tempat nasi). Ini harus dilakukan sebelum memasang janur kuning yang dipasang di kanan-kiri gapura orang yang memiliki hajat (tarub). Kuliner-kuliner yang disebutkan di Serat Centhini masih sering ditemukan pada masa kini meskipun tidak sepenuhnya hadir saat ritual dan perayaan. Akan tetapi, nasi tetap berada di posisi utama dalam dunia grastonomi Jawa.

  • Menengok Sejarah Glodok

    Belum lama ini publik dikejutkan dengan penemuan jembatan Glodok kuno di lokasi proyek MRT Jakarta fase 2A Glodok–Kota. Jembatan itu ditemukan satu meter di bawah persimpangan Jalan Pinangsia Raya dengan Pintu Besar Selatan dan Pancoran. Sejarawan Alwi Shahab dalam Batavia Kota Banjir  menyebut pada masa lalu kawasan Glodok dan Pancoran dihubungkan oleh sebuah kanal. Oleh karena itu dibangun jembatan untuk menghubungkan kedua daerah tersebut. Namun, pada awal abad ke-20 kanal di kawasan Pancoran ditutup dan kini merupakan bagian dari jalan raya dan pertokoan. Sementara jembatan Glodok yang menghubungkan kawasan Glodok dan Pancoran dibongkar. Ketika Belanda menduduki Batavia, Glodok merupakan salah satu kawasan yang tak pernah sepi dari aktivitas masyarakat. Kawasan ini juga dikenal sebagai salah satu pecinan tertua di Indonesia. Baca juga:  Pembantaian Orang Tionghoa dari 1740 Hingga 1998 Sejarah kawasan ini berkaitan dengan peristiwa pembantaian orang-orang Tionghoa di Batavia pada 1740. Kedatangan orang Tionghoa dalam jumlah besar menyebabkan dibukanya wilayah di sekitar Batavia. Mereka membuka perkebunan gula yang menjadi satu-satunya ekspor asli Batavia pada abad ke-17 dalam bentuk gula mentah maupun arak. Perkembangan komunitas Tionghoa itu membuat VOCkhawatir.Karena sulit mengawasi orang Tionghoa di luar tembok kota, VOC pun mengeluarkan peraturan yang semakin lama semakin keras. Mulanya VOC menetapkan kuota orang Tionghoa yang diizinkan diangkut dengan kapal jung. Namun, aturan ini diakali dengan mendaratkan para tenaga kerja di luar pelabuhan Batavia, kemudian mereka diselundupkan ke dalam kota. Gesekan antara VOC dengan orang Tionghoa di sekitar Batavia kian terlihat setelah VOC menurunkan harga dan kuota produksi gula yang dialokasikan untuk penggilingan tebu di sekitar Batavia. Kebijakan itu diambil VOC sebagai dampak melimpahnya persediaan gula di pasar dunia. Kebijakan VOC itu menyebabkan banyak kuli Tionghoa kehilangan pekerjaan. Kondisi itu meningkatkan angka kriminalitas karena sejumlah kuli membentuk gerombolan pencuri. Untuk menangani hal itu, VOC merencanakan pemindahan paksa para migran yang tidak terdaftar ke pos-pos terdepan Belanda di wilayah Ceylon (kini Sri Lanka). Di sisi lain, kekhawatiran muncul di kalangan orang-orang Tionghoa yang berada di wilayah Batavia. Tersiar kabar bahwa rencana pemindahan para migran merupakan kedok untuk membuang mereka ke laut. Baca juga:  Saksi Bisu Kerusuhan Mei 1998 di Glodok Sejarawan Susan Blackburn dalam Jakarta: Sejarah 400 Tahun menyebut pada 1740 wilayah sekitar Batavia menjadi saksi pemberontakan petani Tionghoa. Mereka berbaris menuju pusat kota Batavia sembari membawa senjata buatan sendiri. Meski orang Tionghoa yang tinggal di kota terhitung sedikit atau tak pernah melakukan kontak dengan orang Tionghoa di luar dinding kota, beredar isu bahwa orang-orang Tionghoa di dalam dinding kota Batavia berencana membantu para pemberontak. “Ketika gerombolan orang Cina yang bersenjata seadanya ini menyerang kota pada 8 Oktober, mereka dapat diusir dengan mudah, tapi orang Cina yang tinggal di dalam kota tidak luput dari kekerasan,” tulis Susan. Imbas pemberontakan tersebut ribuan rumah orang Tionghoa dijarah dan dibakar. “Kemungkinan korbannya lebih dari 1.000 orang Cina,” tulis Susan. Menurut Alwi Shahab, ketika pembantaian ini terjadi, perkampungan orang Tionghoa berada kira-kira di sebelah utara Glodok, di kawasan Kali Besar. VOC kemudian membangun perkampungan baru untuk mereka yang berlokasi sedikit di luar tembok kota yang kini dikenal dengan nama Glodok. Budayawan Rachmat Ruchiat dalam Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta menyebut ada sejumlah kisah mengenai asal-usul kata Glodok. Pertama, kata itu disebut berasal dari kata grojok yang mengacu pada bunyi suara kucuran air dari pancuran. Pada 1670, di area itu terdapat semacam waduk penampungan air yang dikucurkan dengan pancuran kayu dari ketinggian sekitar 10 kaki. “Kata grojok diucapkan oleh orang-orang Tionghoa totok, penduduk mayoritas kawasan itu zaman dulu. Kemudian berubah menjadi glodok sesuai dengan lidahnya,” tulis Rachmat. Sumber lain menyebut kata Glodok berawal dari jembatan bernama Jembatan Glodok. Jembatan itu melintas di atas Kali Besar yang berada di kawasan tersebut. Menurut Rachmat, yang mengutip Frederik de Haan, jembatan itu dinamai demikian karena dahulu di ujungnya terdapat tangga-tangga yang menempel pada tepi kali yang dibuat pada 1643. Kala itu tangga tersebut biasa digunakan untuk mandi dan mencuci oleh penduduk sekitar. Tangga semacam itu dalam bahasa Sunda disebut golodok , sama seperti sebutan bagi tangga rumah. Baca juga:  200 Tahun, Pasar Baru Terus Melaju Sementara itu, Alwi Shahab dalam Betawi: Queen of The East mencatat, kawasan itu mulanya adalah tempat pemberhentian kuda-kuda penarik beban untuk diberi minum. Masih di sekitar Glodok terdapat pula kawasan Pancoran yang dahulu merupakan tempat penjernihan air. “Nama Pancoran digunakan karena di tempat ini dulu ada air mancur. Para penduduk siap antri selama beberapa jam untuk mengambil air dari kali Molenvliet (Ciliwung) yang telah disaring terlebih dahulu,” tulis Alwi. Air dari penampungan itu juga disalurkan ke kawasan kastil melalui Pintu Besar Selatan. Konsep menyalurkan air dengan menggunakan saluran itu telah dikembangkan sejak masa pemerintahan Gubernur Jenderal Durven (berkuasa 1728–1732). Meski begitu proses menyalurkan air ini baru dilaksanakan pada masa kepemimpinan Gubernur Jenderal van Imhoff (berkuasa 1743–1750). Saluran air yang terbuat dari kayu itu berbentuk balok persegi empat yang dilubangi kemudian disambung satu sama lain dengan direkatkan menggunakan timah. Saluran air itu kemudian disalurkan ke air mancur yang berada di halaman balaikota atau Stadhuis (kini Museum Sejarah Jakarta), untuk memenuhi kebutuhan air warga di dalam tembok kota. Seiring berjalannya waktu , aktivitas perekonomian di kawasan Glodok terus berkembang hingga sekarang . Sebagai salah satu pusat perekonomian yang sibuk di Jakarta, kawasan ini bahkan sempat menjadi pusat perdagangan gelap uang dolar sampai pertengahan tahun 1960-an. *

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page