top of page

Purnawirawan Jenderal Pendiri Arema

Acub Zainal, purnawirawan jenderal yang mendirikan klub-klub sepakbola. Salah satunya Arema.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Pertandingan Arema lawan Sriwijaya FC di Stadion Kanjuruhan, Malang. (Fernando Randy/Historia.ID).

3 Okt 2022
3 menit membaca

Diperbarui: 4 hari yang lalu

SEJAK dulu tentara dekat dengan olahraga. Tak heran jika banyak pensiunan jenderal yang menjadi pengurus organisasi olahraga. Salah satu purnawirawan yang aktif dalam olahraga adalah Mayor Jenderal TNI (Purn.) Acub Zainal. Dia sudah menaruh perhatian pada olahraga ketika menjabat Panglima Kodam XVII Cendrawasih dan gubernur Irian Jaya (1973–1975).


Acub membangun kebanggaan masyarakat Papua lewat olahraga terutama sepakbola, atletik, dan tinju. Dia ikut membangun tim Persatuan Sepakbola Indonesia Jayapura (Persipura). Setelah selesai menjabat gubernur Irian Jaya, dia mengelola klub sepakbola di Jawa.


Menurut Nurinwa Ki S. Hendrowinoto dalam biografi Acub Zainal: I Love the Army, Acub pernah membawa Persija keluar sebagai juara utama dalam kejuaraan Marah Halim Cup tahun 1977. Pada tahun itu juga, dia mulai bertugas sebagai manajer tim nasional PSSI ke SEA Games.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page