top of page

Hasil pencarian

9858 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Menengok Sejarah Glodok

    Belum lama ini publik dikejutkan dengan penemuan jembatan Glodok kuno di lokasi proyek MRT Jakarta fase 2A Glodok–Kota. Jembatan itu ditemukan satu meter di bawah persimpangan Jalan Pinangsia Raya dengan Pintu Besar Selatan dan Pancoran. Sejarawan Alwi Shahab dalam Batavia Kota Banjir  menyebut pada masa lalu kawasan Glodok dan Pancoran dihubungkan oleh sebuah kanal. Oleh karena itu dibangun jembatan untuk menghubungkan kedua daerah tersebut. Namun, pada awal abad ke-20 kanal di kawasan Pancoran ditutup dan kini merupakan bagian dari jalan raya dan pertokoan. Sementara jembatan Glodok yang menghubungkan kawasan Glodok dan Pancoran dibongkar. Ketika Belanda menduduki Batavia, Glodok merupakan salah satu kawasan yang tak pernah sepi dari aktivitas masyarakat. Kawasan ini juga dikenal sebagai salah satu pecinan tertua di Indonesia. Baca juga:  Pembantaian Orang Tionghoa dari 1740 Hingga 1998 Sejarah kawasan ini berkaitan dengan peristiwa pembantaian orang-orang Tionghoa di Batavia pada 1740. Kedatangan orang Tionghoa dalam jumlah besar menyebabkan dibukanya wilayah di sekitar Batavia. Mereka membuka perkebunan gula yang menjadi satu-satunya ekspor asli Batavia pada abad ke-17 dalam bentuk gula mentah maupun arak. Perkembangan komunitas Tionghoa itu membuat VOCkhawatir.Karena sulit mengawasi orang Tionghoa di luar tembok kota, VOC pun mengeluarkan peraturan yang semakin lama semakin keras. Mulanya VOC menetapkan kuota orang Tionghoa yang diizinkan diangkut dengan kapal jung. Namun, aturan ini diakali dengan mendaratkan para tenaga kerja di luar pelabuhan Batavia, kemudian mereka diselundupkan ke dalam kota. Gesekan antara VOC dengan orang Tionghoa di sekitar Batavia kian terlihat setelah VOC menurunkan harga dan kuota produksi gula yang dialokasikan untuk penggilingan tebu di sekitar Batavia. Kebijakan itu diambil VOC sebagai dampak melimpahnya persediaan gula di pasar dunia. Kebijakan VOC itu menyebabkan banyak kuli Tionghoa kehilangan pekerjaan. Kondisi itu meningkatkan angka kriminalitas karena sejumlah kuli membentuk gerombolan pencuri. Untuk menangani hal itu, VOC merencanakan pemindahan paksa para migran yang tidak terdaftar ke pos-pos terdepan Belanda di wilayah Ceylon (kini Sri Lanka). Di sisi lain, kekhawatiran muncul di kalangan orang-orang Tionghoa yang berada di wilayah Batavia. Tersiar kabar bahwa rencana pemindahan para migran merupakan kedok untuk membuang mereka ke laut. Baca juga:  Saksi Bisu Kerusuhan Mei 1998 di Glodok Sejarawan Susan Blackburn dalam Jakarta: Sejarah 400 Tahun menyebut pada 1740 wilayah sekitar Batavia menjadi saksi pemberontakan petani Tionghoa. Mereka berbaris menuju pusat kota Batavia sembari membawa senjata buatan sendiri. Meski orang Tionghoa yang tinggal di kota terhitung sedikit atau tak pernah melakukan kontak dengan orang Tionghoa di luar dinding kota, beredar isu bahwa orang-orang Tionghoa di dalam dinding kota Batavia berencana membantu para pemberontak. “Ketika gerombolan orang Cina yang bersenjata seadanya ini menyerang kota pada 8 Oktober, mereka dapat diusir dengan mudah, tapi orang Cina yang tinggal di dalam kota tidak luput dari kekerasan,” tulis Susan. Imbas pemberontakan tersebut ribuan rumah orang Tionghoa dijarah dan dibakar. “Kemungkinan korbannya lebih dari 1.000 orang Cina,” tulis Susan. Menurut Alwi Shahab, ketika pembantaian ini terjadi, perkampungan orang Tionghoa berada kira-kira di sebelah utara Glodok, di kawasan Kali Besar. VOC kemudian membangun perkampungan baru untuk mereka yang berlokasi sedikit di luar tembok kota yang kini dikenal dengan nama Glodok. Budayawan Rachmat Ruchiat dalam Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta menyebut ada sejumlah kisah mengenai asal-usul kata Glodok. Pertama, kata itu disebut berasal dari kata grojok yang mengacu pada bunyi suara kucuran air dari pancuran. Pada 1670, di area itu terdapat semacam waduk penampungan air yang dikucurkan dengan pancuran kayu dari ketinggian sekitar 10 kaki. “Kata grojok diucapkan oleh orang-orang Tionghoa totok, penduduk mayoritas kawasan itu zaman dulu. Kemudian berubah menjadi glodok sesuai dengan lidahnya,” tulis Rachmat. Sumber lain menyebut kata Glodok berawal dari jembatan bernama Jembatan Glodok. Jembatan itu melintas di atas Kali Besar yang berada di kawasan tersebut. Menurut Rachmat, yang mengutip Frederik de Haan, jembatan itu dinamai demikian karena dahulu di ujungnya terdapat tangga-tangga yang menempel pada tepi kali yang dibuat pada 1643. Kala itu tangga tersebut biasa digunakan untuk mandi dan mencuci oleh penduduk sekitar. Tangga semacam itu dalam bahasa Sunda disebut golodok , sama seperti sebutan bagi tangga rumah. Baca juga:  200 Tahun, Pasar Baru Terus Melaju Sementara itu, Alwi Shahab dalam Betawi: Queen of The East mencatat, kawasan itu mulanya adalah tempat pemberhentian kuda-kuda penarik beban untuk diberi minum. Masih di sekitar Glodok terdapat pula kawasan Pancoran yang dahulu merupakan tempat penjernihan air. “Nama Pancoran digunakan karena di tempat ini dulu ada air mancur. Para penduduk siap antri selama beberapa jam untuk mengambil air dari kali Molenvliet (Ciliwung) yang telah disaring terlebih dahulu,” tulis Alwi. Air dari penampungan itu juga disalurkan ke kawasan kastil melalui Pintu Besar Selatan. Konsep menyalurkan air dengan menggunakan saluran itu telah dikembangkan sejak masa pemerintahan Gubernur Jenderal Durven (berkuasa 1728–1732). Meski begitu proses menyalurkan air ini baru dilaksanakan pada masa kepemimpinan Gubernur Jenderal van Imhoff (berkuasa 1743–1750). Saluran air yang terbuat dari kayu itu berbentuk balok persegi empat yang dilubangi kemudian disambung satu sama lain dengan direkatkan menggunakan timah. Saluran air itu kemudian disalurkan ke air mancur yang berada di halaman balaikota atau Stadhuis (kini Museum Sejarah Jakarta), untuk memenuhi kebutuhan air warga di dalam tembok kota. Seiring berjalannya waktu , aktivitas perekonomian di kawasan Glodok terus berkembang hingga sekarang . Sebagai salah satu pusat perekonomian yang sibuk di Jakarta, kawasan ini bahkan sempat menjadi pusat perdagangan gelap uang dolar sampai pertengahan tahun 1960-an. *

  • Anak Tiran Masuk Istana

    MAKIN dekat “tahun politik”, situasi di tanah air makin panas. Ada satu perdebatan yang meresahkan publik, yakni mantan narapidana (napi) korupsi diperbolehkan maju sebagai calon anggota legislatif (caleg). Pangkalnya kemungkinan putusan Mahkamah Agung (MA) Nomor 30/PHUM/2018 yang dikeluarkan empat tahun silam. Putusan tersebut tidak membatasi hak politik seseorang untuk dipilih dan memilih. MA merilis putusan itu dengan bendasar pada payung hukum: Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang (UU) Nomor 36 Tahun 1999 tentang HAM. Meski Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah mengeluarkan Peraturan KPU Nomor 20 Tahun 2018 yang melarang eks-koruptor ikut Pemilu 2019, larangan tersebut hanya bersifat normatif lantaran tidak diatur dalam undang-undang. Maka setelah KPU membuka pendaftaran bakal calon partai politik (parpol) peserta Pemilu 2024 pada 1-22 Agustus 2022, kekhawatiran terhadap para kembalinya eks napi koruptor mencalonkan diri mencuat. Kekhawatiran diperkuat dengan masing-masing parpol yang tidak mempermasalahkan pernah-tidaknya para pendaftar caleg mereka tersangkut skandal rasuah. Berbeda dari pendaftaran caleg, hingga kini eks-koruptor masih tidak boleh maju sebagai calon presiden dan wakil presiden (capres dan cawapres). Larangan itu berdasarkan pasal 169 UU No. 7 Tahun 2017, yang berbunyi: “...tidak pernah mengkhianati negara serta tidak pernah melakukan tindak pidana korupsi dan tindak pidana berat lainnya.” Namun, itu tetap perlu terus diperhatikan lantaran tidak tertutup kemungkinan UU tersebut bisa direvisi dengan bermacam dalih. Jangan sampai di masa mendatang eks-koruptor atau keluarganya tak hanya bisa masuk gedung parlemen tapi juga istana seperti yang terjadi di negara tetangga, Filipina. Ferdinand Romualdez 'Bongbong' Marcos Jr. presiden terpilih Filipina periode 2022-2028. (ops.gov.ph). Dari Marcos ke Marcos Di Filipina, Ferdinand Romualdez Marcos Jr. yang notabene anak mantan tiran korup Ferdinand Emmanuel Edralin Marcos Sr. bisa maju dan bahkan menang pada Pilpres Filipina 9 Mei 2022. Ia maju dengan kendaraan politik Partai Partido Federal ng Pilipinas (PFP). Berpasangan dengan Sara Duterte yang merupakan putri Presiden Rodrigo Duterte, sosok yang akrab disapa Bongbong Marcos itu meraup 31,6 juta suara (58,77) persen, mengalahkah tiga pesaingnya: Leni Robredo (independen, 27,94 persen), Manny Pacquiao (Partai PROMDI, 6,81 persen), dan Isko Moreno (Partai Aksyon, 3,59 persen). Terpilihnya Bongbong Marcos lantas menjadi kontroversi lantaran menandai comeback -nya “Dinasti Marcos” ke Istana Malacañan setelah Ferdinand Marcos (1965-1986). Pelantikannya pada 30 Juni 2022 pun diwarnai aksi unjuk rasa yang khawatir rezim kelam dalam sejarah itu bisa berulang atau bahkan ditulis ulang. Akibatnya setelah Bongbong ditetapkan sebagai pemenang pilpres, panic buying terjadi di sejumlah toko buku yang menjual beraneka buku tentang rezim berdarah Ferdinand Marcos. Masyarakat meyakini buku-buku tentang ayah Bongbong bukan tidak mungkin ditarik dari peredaran mengingat Wapres Sara Duterte juga menjabatan sebagai menteri pendidikan. “Mereka (pembeli) terdorong panic buying . Mereka khawatir dan takut buku-buku itu semuanya akan direvisi,” sebut seorang pemilik toko buku, Alexine Parreno, dikutip Reuters , 27 Mei 2022. Bongbong Marcos (kanan) & pasangan cawapresnya, Sara Vicenta Zimmerman Duterte-Carpio. (Twitter @indaysara). Professor Ramon Guillermo, guru besar di University of the Philippines, juga khawatir. “Jika (keluarga) Marcos kembali berkuasa dan keluarga Duterte mendukung mereka, kita bisa saja mengalami situasi yang lebih sulit dalam mengajarkan tentang apa yang telah terjadi di masa lalu,” ujarnya. Ferdinand Marcos mulai berkuasa sebagai Presiden Filipina pada 30 Desember 1965. Sosok kelahiran Ilocos Norte pada 11 September 1917 itu sekolah hukum di University of the Philippines sebelum direcoki Perang Dunia II. Pada Desember 1938, Marcos didakwa dalam kasus pembunuhan Julio Nalundasan yang merupakan rival politik ayahnya, Mariano Marcos. Meski begitu dakwaan itu kemudian dibatalkan Mahkamah Agung pada 22 Oktober 1940 karena dianggap kurangnya bukti. Marcos dilepaskan dari cap tersangka dengan mengikuti pelatihan pasukan cadangan Amerika Serikat, ROTC (Reserve Officers’ Training Corps), di kampusnya pada 1941. Ferdinand Emmanuel Edralin Marcos Sr. saat menjadi prajurit USAFIP di Perang Dunia II. (Wikipedia). Setelah lulus pelatihan ROTC, Marcos dimasukkan ke dalam USAFIP (United States of America Force in Philippine) dengan pangkat letnan tiga dan turut angkat senjata dalam upaya menangkal invasi Jepang pada Desember 1941. Tapi Marcos yang ditugaskan di sektor G-2 (intelijen) di Divisi Infantri ke-21 Amerika ditawan Jepang dalam Pertempuran Bataan (7 Januari-9 April 1942) kendati dibebaskan pada 4 Agustus 1942. Menurut sejumlah dokumen militer Amerika, Marcos dibebaskan Jepang dengan imbalan mendukung José Paciano Laurel yang akan dijadikan presiden boneka Jepang. “Dari dokumen-dokumen itu menyebutkan Marcos bersedia bekerjasama dengan para politisi Filipina yang berkolaborasi dengan (pemerintahan) pendudukan Jepang selama 1942-1944. Dokumen itu, beberapa ditulis tangan sendiri oleh Marcos, bahwa ia akan mendukung Laurel menjadi Presiden Republik Filipina pada Oktober 1943. Marcos punya utang budi, di mana pada 1940 Laurel sebagai hakim MA me n uliskan opini yang membatalkan dakwaan Marcos atas kasus pembunuhan lawan politik ayahnya,” tulis suratkabar The Washington Post , 24 Januari 1984. Maka ketika Marcos berkampanye untuk menjadi anggota senat pada 1962, klaimnya sebagai pahlawan perang diragukan banyak pihak –perdebatan ini berlangsung hingga akhir rezim Marcos. Marcos dengan bangga mengklaim bahwa dia veteran Filipina dengan medali kehormatan terbanyak, 33 medali, di mana dua di antaranya adalah medali Distinguished Service Cross dan Medal of Honor. “Sejumlah peneliti dan sejarawan sempat melakukan upaya pemeriksaan selama 18 bulan untuk memverifikasi klaim penghargaan itu, baik dari pemeriksaan arsip militer Amerika dan memoar tentang para penyintas perang asal Amerika dan Filipina. Sementara dari dokumen Kedutaan Filipina (di Amerika) mengungkapkan hanya ada sebuah salinan rekomendasi (medali) Silver Star tahun 1963 yang ditandatangani oleh seorang perwira Filipina. Akan tetapi dokumen itu tak mengonfirmasi bahwa dia (Marcos) benar-benar diberi medali penghargaan itu,” ungkap The Washington Post , 18 Desember 1983. Ferdinand Marcos didampingi keluarganya saat dilantik sebagai Presiden Filipina ke-10 pada 1965. (malacanang.gov.ph). Di tengah kontroversi itu, Marcos tetap “memoles” cerita versi dirinya untuk memuluskannya menjadi presiden Senat Filipina pada 1963 dengan kendaraan politik Partai Nacionalista. Seiring angin yang berpihak padanya, Marcos bertarung di Pilpres 1965 berpasangan dengan Fernando Lopez. Ia menang tipis dengan 3,8 juta suara (51,94 persen) dari rivalnya, Diosdado Macapagal (42,88 persen). “Dia menang dalam pemilu dengan mempropagandakan anti-korupsi dan menguatkan janji itu saat pelantikannya. Dia berseru, ‘dengan dukungan masyarakat kita akan membuat negeri kita menjadi besar lagi,’” ungkap Thomas M. Leonard dalam Encylopedia of the Developing World. Dimulailah era Ferdinand Marcos usai dilantik pada 30 Desember 1965. Dengan menjanjikan banyak program pembangunan infrastruktur dan pertanian dengan berutang pada negara-negara asing, Marcos justru membawa negerinya bergolak tak lama setelah sebagai petahana memenangi Pilpres 1969. Ia sampai menetapkan status darurat militer selama 14 tahun (1972-1981) lewat Proklamasi Nomor 1081 Tanggal 21 September 1972. Marcos berdalih status darurat militer itu untuk menangani ancaman komunis CPP (Partai Komunis Filipina) dan pemberontak separatis Mindanao. Namun nyatanya, sebagaimana di masa transisi pasca-Tragedi 1965 di Indonesia, Marcos memanfaatkan masa-masa itu untuk menyingkirkan pula banyak lawan politiknya di luar kaum komunis dan separatis. Harian Sunday Express  edisi 24 September 1972 dengan halaman muka yang mengumumkan darurat militer. Catatan Amnesty International pada 1 September 1976 menyebutkan, era berdarah tirani Marcos itu memakan korban tak terkira dari kalangan lawan politik, aktivis pelajar, buruh, petani, hingga jurnalis. Tercatat terdapat 3.257 jiwa yang jadi korban extrajudicial killing , 35 ribu kasus penyiksaan, 77 kasus penghilangan paksa, dan 70 ribu kasus penahanan tanpa peradilan. Belum lagi menyoal perkara kultur korupsi dan kleptokrasi oleh Marcos dan para kroninya. Terlebih budaya korup ini sudah dibawa Marcos ke istana presidennya sejak ia menjabat wakil rakyat dan anggota kongres. “Marcos dengan cermat melihat kekuasaan politik sangat bertautan erat dengan kekayaan. Oleh karenanya ia meraup keuntungan sekaligus untuk memastikan rival-rival politiknya yang potensial tak bisa ikut memanfaatkan kekayaan yang bisa digunakan untuk melawannya. Baik anggota keluarga dan kawan-kawan terdekatnya memonopoli kegiatan ekonomi gula, kelapa, dan produksi terigu. Dia juga mengarahkan alokasi kredit pemerintah kepada kroni-kroninya. Bank pemerintah DBP dijadikan bank swasta agar para kroninya bisa melakukan pinjaman dan menyuntikkan dana ketika perusahaan-perusahaannya kolaps,” catat David G. Timberman dalam A Changeless Land: Continuity and Change in Philippine Politics. Kemudian saat tekanan di dalam negeri maupun internasional mulai tak terbendung lagi, Marcos dan keluarganya melarikan diri ke Hawaii. Gerakan EDSA atau Revolusi Kekuatan Rakyat sukses meruntuhkan rezim Marcos. Pemerintahan Filipina pun berganti ke tangan Presiden Maria Corazon Sumulong Cojuangco “Cory” Aquino. Nyatanya usai Marcos kabur ke Hawaii, ditemukan pula sejumlah dokumen yang mencatatkan kleptokrasi Marcos di Istana Malacañan. Disebutkan ia sampai ikut membawa kabur 5-10 triliun dolar uang negara. Tak lupa dokumen terkait harta simpanan Marcos di sejumlah bank di Swiss. Dalam pelariannya, Ferdinand Marcos malah disambut Gubernur Negara Bagian Hawaii, George Ariyoshi. (Armed Forces of the Philippines). Pemerintah Filipina lewat Presidential Commission on Good Government (PCGG) sejak 1986 itu juga berupaya untuk mengambilalih harta haram Marcos itu dibantu politikus cum pengacara Swiss, Sergio Salvioni. Rekening-rekening atas nama Marcos dan istrinya, Imelda, kemudian dibekukan terlebih dulu sebelum akhirnya berhasil dikembalikan kepada negara pada 1999 di masa Kepresidenan Benigno Aquino III. “Total nilai rekening-rekening yang dibelukan di Zurich, Jenewa, dan Fribourg pada 1986 adalah 356 juta dolar, di mana pada 1999 saat ditransfer kembali ke Manila, meningkat dengan bunga mencapai 681 juta dolar,” tulis Salvioni dalam catatannya bertajuk “Recovering the Proceeds of Corruption: Ferdinand Marcos of the Philippines” yang termuat dalam buku Recovering Stolen Assets. Marcos sendiri menghembuskan nafas terakhir pada 15 Januari 1989 atau tiga tahun pascakabur dari Manila karena penyakit pneumonia. Menjelang ajalnya di Rumahsakit St. Francis, Honolulu, Marcos sempat berharap bisa dimakamkan di tanah airnya. Pihak keluarganya bahkan sampai menawarkan untuk mengembalikan 90 persen harta milik Marcos untuk negara tapi tawaran itu ditolak Presiden Cory Aquino. Setelah wafat, jasad Marcos terpaksa dikebumikan pemakaman pribadi Byodo-In Temple di Pulau Oahu. Meski begitu kemudian jasadnya diperbolehkan untuk dibawa pulang ke kampung halamannya, Ilocos Norte pada 1993 atas izin Presiden Fidel Ramos. “Semoga para sahabat dan para pembenci bisa melihat lebih jauh sosok yang sebelumnya berdiri tegak di atas visinya, kasih sayangnya, dan besarnya cinta kepada negeri,” tutur Bongbong Marcos terkait wafatnya sang ayah, dikutip Associated Press , 29 September 1989. Gerakan massa pada Revolusi EDSA. (Repro People Power: The Philippine Revolution of 1986 /malacanang.gov.ph). Bongbong Marcos sendiri yang lahir pada 13 September 1957 di Manila, sedianya sudah kembali dan bahkan mulai masuk politik Filipina lagi pada 1991 atau dua tahun sebelum jenazah ayahnya dipulangkan dari Hawaii. Di masa ayahnya berkuasa dan sebelum melarikan diri ke Hawaii, Bongbong juga sudah mengecap pengalaman politik sebagai Wakil Gubernur Negara Bagian Ilocos Norte (1980-1983) dan naik jadi gubernur menggantikan tantenya pada 1983 sampai terjadinya Revolusi EDSA pada 1986. Bongbong Marcos kembali pada 1991 atas izin Presiden Cory Aquino dengan alasan agar ia dan keluarganya bisa dihadapkan pada sejumlah dakwaan penggelapan pajak. Seiring proses pemeriksaan, Bongbong kembali ke jalur politik dan terpilih jadi anggota legislatif mewakili Ilocos Norte dan pada 1995 mengajukan diri sebagai calon anggota senat. Di sisi lain kemudian Bongbong dihadapkan pada hukuman penjara. Laporan United Press International , 31 Juli 1995 menyebutkan, Bongbong divonis tujuh tahun penjara dan denda senilai 138.491 peso usai diputuskan bersalah telah menggelapkan pajak semenjak ia menjadi Gubernur Ilocos Norte sepanjang 1982-1985. Namun setelah mengajukan banding pada 1997, Marcos terhindar dari hukuman bui dan sekadar diperintahkan membayar kekurangan pajak senilai 30 ribu peso dan dendanya senilai dua ribu peso. Selebihnya, Bongbong yang mengembalikan kejayaan dinasti politik di Ilocos Norte, makin berkibar di arena politik, baik di tingkat legislatif maupun di level senat. Bahkan pada 2016, Bongbong memberanikan diri maju jadi cawapres menemani capres Miriam Defensor Santiago walau kalah dengan perolehan suara terkecil, 3,42 persen dari sejumlah calon lainnya. Lawatan Presiden Bongbong Marcos ke Istana Bogor. (ops.gov.ph). Baru pada Pilpres 2022, Bongbong lebih pede maju sebagai capres dan sebagaimana bisa ditilik hasilnya, ia menang untuk mengikuti jejak ayahnya duduk di kursi kepresidenan. Satu negara tetangga pertama yang ia kunjungi usai menjabat tak lain adalah Indonesia, sekaligus memperingati 75 tahun hubungan diplomatik RI-Filipina. Lawatannya disambut langsung Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) di Istana Bogor pada 5 September 2022. “Jakarta menjadi lawatan pertama kepresidenan tak lain karena sejumlah alasan. Salah satunya karena kita tak hanya dekat secara geografis tapi juga dalam hal kultur dan etnisitas. Dan saya pikir dengan kemitraan kita yang kuat perlahan akan membawa kita keluar dari pandemi ekonomi…dalam dua tahun lagi kita akan memperingati 75 tahun hubungan diplomatik yang akan terus diperkuat dan itu jadi relasi terlama bagi kami. Bahkan kita sudah punya relasi sebelum menjadi sebuah negara dari kepulauan selatan kami ke Indonesia selama ribuan tahun,” ujar potongan pidato Presiden Marcos, dikutip dari laman resmi kepresidenan Filipina, 5 September 2020.*

  • Di Balik Topeng Betawi

    Selain ondel-ondel, kesenian khas Betawi adalah Topeng Betawi. Seni tradisi ini melintasi zaman berhadapan dengan modernisasi di ibu kota DKI Jakarta. Ini berkat para penggiat yang menjaga warisan leluhurnya. Topeng Betawi bertahan hingga sekarang karena kesenian ini diwariskan dari generasi ke generasi. Sebagaimana disebut dalam buku Topeng Betawi terbitan tahun 1979, kesenian ini merupakan warisan secara turun-temurun . T okoh-tokoh kesenian Topeng Betawi dari berbagai per kumpulan mengetahui kesenian yang mereka geluti dari orang tua mereka. Orang tua mereka sendiri mewarisi dari kakek ( engkong ) mereka. Pada masa lalu, banyak di antara pemain Topeng Betawi terdiri dari seorang suami, istri, dan anak-anaknya. Dalam suatu pertunjukan Topeng Betawi sering membawa anakkecil. Hal ini disebabkan seluruh anggota keluarga ikut menjadi anggota Topeng Betawi, sehingga tidak ada orang yang bisa menjaga anaknya di rumah.Dengan demikian terjadilah proses pengenalan seni dalam diri anak kecil yang ikut dalam rombongan. Salah satu penggiat Topeng Betawi adalah Andi Supardi (62), pemimpin sanggar Kinang Putra yang biasa pentas di Setu Babakan. “Tarian topeng ini diperkenalkan oleh Mak Kinang dan Kong Djiun pada tahun 1918, hingga sekarang tarian ini sudah dilestarikan oleh tiga generasi,” ujar Bang Andi, cicit dari Mak Kinang binti Kinin dan Djiun bin Dorak. Baca juga:  Tari Topeng Rasinah Melintasi Sejarah Mak Kinang dan Djiun memiliki tiga anak, yaitu Bokir, Dalih, dan Kisam. Sejak kecil mereka sering ikut orang tuanya mengamen Topeng Betawi. Mereka kemudian mendirikan sanggar Topeng Betawi masing-masing: Setia Warga (Bokir), Kinang Putra (Dalih), dan Ratna Sari (Kisam). Selain sebagai seniman Topeng Betawi, H. Bokir terkenal sebagai aktor dan pelawak. “Dalam kenyataannya pada kumpulan-kumpulan Topeng Betawi yang hidup sekarang, para anggota pemainnya masih ada hubungan kerabat antara satu dengan yang lain,” sebut buku Topeng Betawi. Menurut Sal Murgiyanto, kritikus tari, dalam Tradisi dan Inovasi: Beberapa Masalah Tari di Indonesia , Topeng Betawi berasal dari Cirebon masuk ke Jakarta lewat Indramayu dan Karawang. Bekas-bekas pengaruh Topeng Cirebon pada Topeng Betawi tampak pada gerak tari, bentuk topeng, dan pakaiannya, sedangkan lagu-lagu pengiringnya menggunakan lagu Sunda. Instrumen pengiring terdiri atas rebab, kromong tiga, gendang, kecrek, dan pertunjukannya terdiri atas tiga bagian. Pertama, lagu-lagu instrumental dan vokal yang diikuti dengan dua fragmen tari: topeng kedok dan kembang topeng dengan bodoran. Kedua, lakon Topeng Betawi biasanya dilakukan semalam suntuk. Ketiga, tambahan lakon Jantuk, yaitu tokoh tua bertopeng hitam sembab –seperti tokoh Temben di Jawa Tengah– yang biasanya memberi nasihat-nasihat mengenai masalah perkawinan dan kehidupan rumah tangga. Dalam perkembangannya, bagian kedua yang memaparkan cerita tentang kehidupan sehari-hari lebih ditonjolkan sehingga sering terjadi hanya bagian ini saja yang dipentaskan tanpa memakai topeng. Baca juga:  Memperingati Maestro Tari Topeng Mimi Rasinah “ Oleh karena itu, istilah ‘topeng’ di Jakarta tidak selalu berarti sebuah tontonan dengan para pelaku memakai topeng, tetapi sebagai ‘tarian’ atau ‘drama rakyat’ yang lebih menekankan pada unsur humor,” tulis Sal Murgiyanto. Hal ini dapat dipahami mengingat di Losari, Cirebon, juga ada kebiasaan beberapa lakon topeng yang dipertunjukkan tanpa topeng. Dalam Topeng Betawi, Sal Murgiyanto menambahkan, bahasa yang digunakan adalah bahasa Betawi pinggiran atau Betawi Ora yang sedikit berbeda dengan bahasa Betawi di Jakarta Pusat. Pakaian yang dipergunakan para pemainnya adalah pakaian sehari-hari.Pentas yang dipakai berbentuk arena dengan sebuah tiang lampu minyak bersumbu tiga di tengahnya. Andi Supardi (62) tengah melatih anak-anak gerakan Tari Topeng Betawi. (Melan Eka Lisnawati/ Historia.ID ).  Ragam Tari Topeng Betawi Saat ini ada beberapa jenis Tari Topeng Betawi antara lain Topeng Kedok atau Topeng Tunggal, Lipet Gandes, Enjot-enjotan, dan Ronggeng Topeng. Bang Andi menjelaskan, T ari T openg tunggal diperankan oleh tokoh Panji, Samba, dan Jingga . Ketiga tokoh tersebut menari dengan gerakan yang berbeda sesuai karakter yang diperankan. Panji mem ainkan peran sebagai tokoh yang lemah lembut, Samba berkarakter centil dan ceria, sedangkan Jingga ber peran gagah dan lebih terlihat kelaki-lakian. “Tari Topeng Betawi ini tidak berkaitan dengan cerita Ramayana ataupun Panji yang sering dikaitkan dengan topeng. Tarian topeng lebih menitik beratkan pada sifat manusia,”kata Bang Andi. Baca juga:  Kebaya Encim, Busana Tradisional Betawi yang Melintasi Zaman Menurut Bang Andi, dahulu garakan Tari Topeng Betawi langsung dipraktikkan di atas panggung. Namun, sejak tahun 1980-an pola Tari Topeng Betawi disamakan sehingga seluruh sanggar di Jakarta pola tariannyamemiliki kesamaan. Gerakan Tari Topeng Betawi mengandalkan ketahanan kaki. Penari akan menurunkan badan hingga kaki menopang badan. Penari harus luwes dalam memutar bagian tangan di beberapa bagian gerakannya. Penari juga menggerakkan bagian pinggul yang menimbulkan teriakan atau siulan dari penonton. Selain itu, gerakan lainnya adalah goyang , gibang , pablang , kewer , dan lain-lain. Ada tiga syarat menjadi penari Tari Topeng Betawi, yaitu ajer artinya penari harus riang dan ceria apapun yang akan terjadi di panggung; penari tidak boleh menunjukkan wajah murung atau sedih dihadapan penonton; dan gendes artinya penari dituntut lemah gemulai dalam melakukan gerakan tari sehingga dapat menari dengan lepas tanpa beban. Baca juga:  Cinta Mati Batik Betawi Tema yang dibawakan dalam pertunjukan Tari Topeng Betawi beragam tentang kehidupan di masyarakat, cerita legenda, kritik sosial, dan cerita klasik lainnya. Kostum penari biasanya tergantung pada tema yang dipentaskan. Namun, tidak akan lepas dari kostum adat khas Betawi. Seiring perkembangan zaman, pertunjukan Tari Topeng Betawi tidak hanya dikampung-kampung, tetapi juga di acara-acara penting di pusat kesenian, upacara resmi kenegaraan danmancanegara. Saat ini Tari Topeng Betawi telah ditetapkan sebagai cagar budaya yang dilindungi oleh Dinas Kebudayaan DKI Jakarta. Melestarikan Budaya Betawi Topeng Betawi telah berusia lebih dari seabad. Kesenian khas Betawi ini dapat bertahan berkat kepedulian berbagai pihak. “Peran penting dari keturunan, seniman, hingga para pemangku jabatan dibutuhkan untuk bersama-sama menjembatani dan melindungi kekayaan budaya Betawi, salah satunya Tari Topeng Betawi,” kata Bang Andi. Bang Andi juga berharap para orang tua mau mengenalkan kesenian khas Betawi sehingga kepedulian tertanam sejak dini. Dari kepedulian inilah akan timbul rasa cinta terhadap kebudayaan sendiri. Baca juga:  Mencegah Kemusnahan Bahasa Betawi “Apalagi terjadi kolaborasi di ranah pendidikan. Misalnya mewajibkan setiap sekolah di DKI Jakarta untuk memiliki ekstrakurikuler tari. Serta hotel-hotel di Jakarta setiap mengadakan acara, harus yang pertama ditampilkan adalah tarian Betawi karena kita ini tuan rumah,” kata Bang Andi. Selain itu, Bang Andi mengingatkan, generasi sekarang jangan sampai kacang lupa kulitnya. “Boleh suka dengan budaya luar, tapi jangan sampai budaya sendiri dilupakan. Orang luar negeri bahkan banyak yang tertarik dengan budaya kita sehingga mereka berani mengularkan kocek sendiri untuk mempelajari budaya Indonesia,”kataBang Andi.* Penulis adalah mahasiswa magang dari Politeknik Negeri Jakarta.

  • Mula Rok di Jawa

    New York Fashion Week 2022 baru saja digelar di New York, Amerika Serikat (AS) pada 9-14 September 2022. Salah satu yang trending dalam pagelaran busana tersebut adalah busana rok. Para desainer mencoba mengulang kembali ketenaran gaya busana era 1950-an. Rok dan gaun dari bahan kulit dan jeans terlihat membalut tubuh model dengan panjang yang beragam, mulai dari di atas lutut hingga semata kaki. Namun, bukan hanya para model yang mengenakannya.  “Di New York Fashion Week, kami melihat para desainer dan pengunjung pameran mengenakan rok denim sepanjang betis atau lebih panjang dipadukan dengan kemeja putih, kardigan rajut, dan jaket denim,” demikian dilansir fashionista.com 23 September 2022. Beberapa pengamat fashion memprediksi, gaya seperti ini akan nge -tren di tahun 2023. Tren masa lalu akan kembali dianggap keren. Baca juga:  Celana Superpendek yang Menggoda Pada 1950-an, Amerika Serikat sedang “dilanda” gaya busana vintage. Ciri-cirinya gaya pakaian perempuan lebih feminin dan didominasi warna-warna soft . Tren seperti ini mulai mendunia sejak tahun 1920. Meski saat itu Paris masih menjadi kiblat mode Hindia Belanda, geliat busana gaya Amerika sudah mulai bersaing melalui majalah-majalah yang memuat bintang film Amerika. Kala itu, di Jawa perempuan masih menggunakan busana tradisional seperti jarik dan kebaya. Akan tetapi, fesyen ala Barat sudah mulai masuk. Gaya yang dianggap kosmopolitan ini ditandai dengan kemeja safari dan celana panjang untuk laki-laki, kemeja perempuan dan rok panjang untuk perempuan. Rok dibawa oleh perempuan Eropa yang datang ke Jawa. Kala itu kaum perempuan Eropa juga menggunakan pakaian Jawa seperti kebaya dan kain batik (jarik), namun pakaian-pakaian tersebut hanya digunakan saat di dalam rumah. Peraturan dari pemerintah Hindia Belanda, saat keluar rumah perempuan-perempuan Eropa di Jawa harus tetap menggunakan pakaian layaknya di negeri asal. Peraturan ini dibuat sebagai penanda kontrol pemerintah Hindia Belanda penduduk di Jawa. Gadis sekolah di Jawa. ( digitalcollections.universiteitleiden.nl ). “Biasanya, perempuan Eropa memiliki langganan tukang jahit,” tulis peneliti BPNB Yogyakarta Dwi Ratna dalam makalah berjudul “Kain Kebaya dan Rok Pakaian Perempuan Yogyakarta Awal Abad ke-20”. Panjang rok yang digunakan perempuan Eropa juga menandai aktivitas yang sedang dilakukan. Japon sebutan untuk rok panjang digunakan untuk acara-acara resmi. Kemudian rok yang lebih pendek digunakan untuk aktivitas harian yang lebih santai. Baca juga:  Awas, Ada Busana Seksi! Penggunaan rok kemudian diadopsi perempuan bumiputra lewat sekolah-sekolah dengan penggunaan seragam. Awalnya, hanya putri-putri dari keraton yang dapat memakai pakaian Barat mengingat sarana pendidikan terbatas hanya untuk anak pegawai Eropa dan anak bangsawan. Kemudian, penggunaan rok menyebar ke kalangan lebih luas menyusul penerapan Politik Etis yang memungkinkan kalangan bangsawan rendahan mengenyam pendidikan dasar. “Gadis-gadis Jawa yang belajar di sekolah-sekolah Belanda mulai memakai baju terusan pada tahun 1920-an . Secara umum, para perempuan Jawa tidak memakai baju terusan gaya Barat sampai setelah masa kemerdekaan. Mereka yang memakai baju terusan sebelum tahun 1940 adalah gadis-gadis usia sekolah, putri-putri kaum bangsawan yang mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah bagi orang Eropa di Jawa,” kata Jean Gelman Taylor dalam tulisannya, “Kostum da Gender di Jawa Kolonial tahun 1800-1940”, yang termuat di buku Outward Appearances suntingan Henk Schulte Nordholt dan Imam Aziz. Baca juga:  Revolusi Celana Seksi Penggunaan rok semakin masif lantaran sekolah dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah atas mewajibkan murid-murid putri menggunakan seragam rok. Memasuki tahun 1930, rok dengan setelan atasan dan bawahan, dilengkapi sepatu, kaos kaki, dan ikat pinggang, identik dengan gadis sekolah. Setelan kemeja dan rok semakin eksis ketika kegiatan kepanduan mulai dilakukan murid-murid sekolah. Para siswa wajib menggunakan seragam yang telah ditentukan saat mengikuti kepanduan. Murid sekolah di Pendopo Jawa 1932. ( digitalcollections.universiteitleiden.nl ). “Seorang ibu yang saat itu mengikuti kegiatan kepanduan menyebutkan, bahwa biarpun untuk pergi ke sekolah pada hari-hari biasa dia tidak memakai pakaian Barat dan sepatu karena tidak punya, namun untuk kegiatan kepanduan ia akan meminta orang tuanya membelikan meskipun barang bekas,” tulis Dwi Ratna Nurhajarini . Rok dan dress kemudian dikenakan oleh para perempuan dewasa pribumi yang telah sadar akan peran-peran baru mereka. Pemakaian rok menyebar ke perempuan-perempuan yang bekerja di sektor agama dan kesehatan. Gadis non-bangsawan yang menggunakan dress dan rok adalah perempuan-perempuan yang terdaftar sebagai siswa sekolah keagamaan. Mereka merupakan calon suster atau biarawati. Selain itu, rok juga dikenakan perempuan yang bekerja sebagai perawat. Uniknya, seragam perawat digunakan sebagai pakaian luar saja sementara di dalamnya mereka tetap menggunakan kebaya. Baca juga:  Kronik Rok Mini Rok dan dress bisa didapatkan pada jual beli di pasar. Sejak pertengahan abad ke-20, toko-toko sepanjang Malioboro mulai menjual pakaian jadi untuk perempuan seperti kemeja, baju terusan, dan rok panjang maupun pendek. Kain-kain lembaran juga dijual oleh orang-orang India yang kondang sebagai “toko Bombay”. Seiring perjalanan waktu, rok, dress , dan kemeja untuk perempuan mulai menjamur ke gaya busana perempuan. Di tempat-tempat publik seperti kawasan wisata, perlahan mulai ditemukan perempuan pribumi menggunakan rok. Pakaian perempuan ala Barat menjadi penanda awal perempuan dapat beraktivitas secara setara dengan laki-laki di ruang publik pada masa kolonial.

  • Peanuts, Sugar, and A Man from Fukien

    HIS name was Khoe Tjong Hok. After going through a grievous divorce from his wife, he departed his home in Semarang, Central Java, leaving behind his wealthy father and an infant son. On foot, he embarked on a journey northeast.

  • Miss Riboet Memadukan Seni dan Olahraga

    Deretan toko menghiasi sisi jalan kawasan pertokoan Blok M, Jakarta Selatan. Toko-toko itu menjual berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari kopi, makanan, hingga obat-obatan. Ada pula toko yang menjual alat musik dan olahraga. Keberadaan toko ini bukan hal baru di Jakarta dan berbagai daerah. Bagaimanakah awal mulanya? Tokoh yang berperan dalam munculnya toko alat musik dan olahraga adalah Miss Riboet, penyanyi dan aktris layar lebar yang populer tahun 1920-an. Lagu-lagu yang dinyanyikannya menjadi tren di kalangan masyarakat. Beberapa lagunya yang terkenal di antaranya “Koki Naik Taxi”, “Rudjak Uleg”, dan “Mina Mana Kondemu”. S uara Miss Riboet juga kerap terdengar di radio Nirom (Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij). Miss Riboet menjelma menjadi primadona. Tak sedikit label rekaman yang mengajaknya bekerja sama, salah satunya Beka. Denny Sakrie dalam 100 Tahun Musik Indonesia menulis Miss Riboet merekam sekitar 188 lagu pada label asal Jerman tersebut. Ketenaran dan kesuksesan lagu-lagu yang dinyanyikan Miss Riboet bahkan membuatnya disebut sebagai artis rekaman tersukses di Indonesia pada masanya. “Siapa yang mempunyai mesin bicara (gramofon) tentu tidak senang kalau tiada mempunyai pelat Miss Riboet, sebab pertama suaranya merdu serta terang, dan amat menyenangkan kepada yang mendengarnya pendek saja hati yang sakit bisa dihiburkannya,” tulis surat kabar Bintang Hindia , 21 Juli 1928, sebagaimana dikutip Fandy Hutari dalam Para Penghibur . Baca juga:  Siong Vo, Legenda Sepatu Bola Menurut Fandy, sebelum terkenal, Miss Riboet sudah enam tahun bermain opera. Ia pun terus mengasah kemampuannya dalam bernyanyi dan akting. Pertemuan Miss Riboet dengan Tio Tek Djien, yang kemudian menjadi suaminya, mendorong lahirnya Miss Riboet Orion. Misbach Yusa Biran dalam Sejarah Film 1900–1950 Bikin Film di Jawa menyebut Tio Tek Djien yang berpendidikan tinggi jatuh cinta pada primadona bernama Miss Riboet, kongsinya bermain di Taman Hiburan Orion, Pekalongan, milik orang tua Tio. Tio kemudian menikah dengan Miss Riboet dan mendirikan kongsi sendiri yang dinamai seperti nama sang primadona di tahun 1925. Miss Riboet. ( Pinterest ). Bersama suaminya, Miss Riboet memimpin rombongan sandiwaranya hingga berkembang menjadi besar setelah Nyoo Cheong Seng bergabung dalam rombongan tersebut. Menurut Misbach, Nyoo yang pernah berprofesi sebagai wartawan tahu betul pentingnya publisitas. Ia menggunakan pers untuk mempropagandakan Toneel Melajoe . Sementara itu, Miss Riboet yang populer di kalangan masyarakat ambil bagian dalam pementasan sandiwara yang ditampilkan grupnya. Kelihaiannya dalam memainkan anggar membuatnya kian tersohor. “Ia sangat menonjol ketika berperan menjadi perampok perempuan, dalam ‘Juannita de Vega’ karya Antoinette de Zema,” tulis Fandy. Kepiawaian Miss Riboet bermain anggar berkaitan erat dengan visi grup operanya yang tak hanya menjadi perkumpulan seni tetapi juga olahraga, sesuatu yang jarang pada masa itu. Remy Sylado dalam Ensiklopedi Musik Jilid II menulis Miss Riboet membuat tradisi baru dalam dunia kesenian, yakni setiap seniman musik dan teater yang ingin bergabung dalam grup seninya tak hanya harus menguasai seni tetapi juga sepakbola. “Untuk diterima dalam Miss Ribut rupanya harus bisa segala; sandiwara, musik, dan sepakbola. Malahan yang tidak bisa sepakbola jangan melamar!” tulis Amir Pasaribu dalam Analisis Musik Indonesia . Baca juga:  Sepakbola Seniman Panggung Para pemain sandiwara grup Miss Riboet Orion harus bisa bermain sepakbola bukan tanpa alasan. Selain menampilkan pertunjukan sandiwara, para pemain juga kerap mengikuti pertandingan sepakbola di berbagai kota yang disinggahinya. Keikutsertaan grup Miss Riboet Orion dalam kompetisi sepakbola menjadi cara untuk menarik minat penonton agar menyaksikan pertunjukan mereka. Tak jarang surat kabar mengumumkan jadwal maupun hasil pertandingan sepakbola yang diikuti tim sepakbola Miss Riboet Orion. Misalnya, dalam surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad , 6 Mei 1931, diumumkan tim sepakbola Miss Riboet Orion akan bertanding melawan Voetbalbond Batavia en Omstreken (VBO) atau Persatuan Sepakbola Batavia dan Sekitarnya di lapangan UMS. Lambat laun tak hanya Miss Riboet Orion yang menggabungkan pertunjukan seni dan olahraga. Kelompok tonil Dardanella yang didirikan A. Piedro juga turut menjajal dunia sepakbola. Perpaduan antara seni dan olahraga yang dipelopori Miss Riboet Orion mendorong lahirnya ide menjual alat musik bersamaan dengan peralatan olahraga.Sehingga, pengunjung yang datang ke toko hendak membeli pianika atau suling, di lain waktu datang untuk membeli raket bulutangkis atau bola tenis.*

  • Thomas Wanggai, Bapak Republik Melanesia Barat

    HURU-hara menggemparkan distrik Abepura di kota Jayapura, Papua. Amukan massa yang tersulut amarah berujung aksi pembakaran. Sejumlah kios di Pasar Abepura habis dilalap api. Kurang dari enam mobil hangus dan hancur. Puluhan bangunan di jalur Sentani-Abepura sepanjang 20 km rusak berat. Ada yang menyobek bendera Merah Putih sementara yang lain menaikkan panji Bintang Kejora. “Kerusuhan melanda Sentani-Abepura hari Senin (18/3) segera setelah kedatangan jenazah Dr. Thomas Wanggai, terhukum kasus subversi yang meninggal di Jakarta,” demikian berita Kompas , 19 Maret 1996. Semua bermula dari isu Thomas Wanggai dibunuh dalam tahanan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang, Jakarta Timur. Ketika jenazah tiba di Bandara Sentani, ribuan massa simpatisan telah menanti. Mereka mendadak berubah beringas setelah aparat menolak memperlihatkan jenazah Tom Wanggai untuk disemayamkan di aula Universitas Cenderawasih (Uncen). Begitu dihormatinya Thomas Wanggai sehingga kematiannya jadi simbol perlawanan terhadap pemerintah Indonesia. Bendera Bintang 14 Pada 14 Desember 1988, sekira 60 orang berkumpul di Stadion Mandala, Jayapura. Mereka menghadiri upacara pembacaan proklamasi Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang kesekian kalinya. Namun, ada yang berbeda hari itu. Bendera yang dikibarkan bukanlah Bintang Kejora, melainkan Bendera Bintang 14. Naskah proklamasi maupun Bendera Bintang 14 itu dirancang oleh Thomas Wanggai. Thomas Wapai Newei Serampayai Wanggai adalah pendukung OPM berpendidikan tinggi. Ia lahir di kampung Ambai, Serui pada 5 Desember 1937. Gelar sarjana hukumnya direngkuhnya dari Okoyama State University pada 1969. Pada saat menempuh pendidikan di Jepang itulah Tom bertemu dengan Mimie Teruko Kohara yang kemudian menjadi istrinya. Setelah itu, Tom meraih gelar doktor bidang administrasi negara di Florida University pada 1985. Tom Wanggai bekerja di kantor gubernuran sebagai staf ahli Bappeda Pemda Papua. Dibandingkan dengan gerakan nasionalisme Papua sebelumnya, menurut George Junus Aditjondro, gerakan Tom Wanggai mendapat perhatian paling luas dan terbuka dari masyarakat Papua. Berbeda dengan para pendahulunya yang selalu menggunakan entitas dari zaman kolonial Belanda, yakni Papua Barat, Tom menamakan negeri merdeka yang dibayangkannya: Melanesia Barat. Entitas ini merujuk pada rumpun ras masyarakat di kawasan Pasifik Selatan. Tapi, gagasan Tom Wanggai tentang perjuangannya mendirikan Negara Republik Melanesia Barat berlandaskan ke-Kristenan adalah daya pikat bagi masyarakat. “Yang jelas proklamasi Tom Wanggai punya appeal yang besar terhadap sebagian penduduk kota Jayapura dan kota-kota satelitnya. Proklamasi Tom Wanggai juga punya appeal secara khusus bagi kalangan terdidik dan pegawai negeri yang berasal dari Kabupaten Yapen-Waropen,” ungkap Aditjondro dalam Cahaya Bintang Kejora: Papua Barat dalam Kajian Sejarah, Budaya, Ekonomi, dan Hak Asasi Manusia . Bendera Bintang 14 dijahit sendiri Teruko Wanggai, istri Tom Wanggai. Sementara itu, Tom Wanggai mendaulat dirinya sebagai presiden Republik Melanesia Barat. Aktivis Papua Merdeka Filep Karma mengenal kiprah Tom Wanggai. Dalam catatannya Seakan Kitorang Setengah Binatang: Rasialisme Indonesia di Tanah Papua, Filep mengatakan, “Wanggai berpendapat bendera Bintang Kejora dari 1961 warnanya terlalu Eropa: merah, putih, biru.” Namun, tersirat motif lain di balik pilihan Tom Wanggai mendirikan Negara Melanesia Barat. Gerakan kemerdekaan itu, seperti ditulis Philipus Robaha, aktivis Solidaritas Nasional Mahasiswa Pemuda Papua (Sonamappa), dalam artikelnya di kanal laolao-papua.com , disebut-sebut pelarian atas kegagalan Tom Wanggai menjadi gubernur Papua. Pada 1987, Tom Wanggai kalah bersaing melawan Barnabas Suebu dalam pemilihan gubernur. Rumor ini jadi cerita dari mulut ke mulut yang berkembang hingga sekarang. Barnabas Suebu sendiri pada 2017 didakwa bersalah atas kasus korupsi. Ia mendekam di LP Sukamiskin, Bandung. Misteri di LP Cipinang Gerakan Tom Wanggai meresahkan otoritas pemerintah Indonesia di Papua. Setelah peristiwa pengibaran Bendera Bintang 14, ia ditangkap. Pengadilan Negeri Jayapura menjerat Tom Wanggai dengan dakwaan perbuatan makar dan vonis hukuman penjara 20 tahun. Sementara, istri Tom dikenai hukuman 8 tahun penjara. Dari LP Jayapura, Tom kemudian dipindahkan ke LP Cipinang, Jakarta Timur.    Pada 12 Maret 1996, Tom Wanggai ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di selnya. Sekujur tubuhnya kaku membiru. Kepala LP Cipinang menyatakan Tom Wanggai meninggal karena menderita penyakit. Temuan-temuan kejanggalan kemudian menyingkap tabir penyebab kematian Tom yang masih berselubung tanda tanya. Tokoh gerakan Papua Pdt. Socrates Sofyan Yoman tidak percaya dengan pernyataan pihak LP Cipinang. Dalam Pemusnahan Etnis Melanesia di Papua Barat, ia menyebut kematian Tom Wanggai tidak wajar. Pendapat ini diperkuat oleh penelitian jurnalis Australia, Robin Osborn, yang mengatakan Tom Wanggai adalah salah satu korban penyiksaan dalam penjara. Diduga kuat, Tom Wanggai dibunuh oleh tentara Indonesia. Konfirmasi mengenai laporan tersebut, ungkap Osborn, berasal dari dokumen resmi. Beberapa di antaranya sampai ke tangan OPM, atau media massa di Indonesia (yang tidak bisa menerbitkannya), atau ke wartawan asing, lembaga-lembaga bantuan serta pekerja gereja dan akademisi.  Sementara itu, menurut mantan komisioner Komnas HAM Decki Natalis Pigay, kematian Tom Wanggai tidak lepas dari wacana politik resistensi lokal OPM akibat keberaniannya memproklamasikan kemerdekaan Republik Melanesia Barat. Patut dicatat bahwa Tom Wanggai melakukan itu di tengah-tengah kota satelit Jayapura sedangkan para pendahulunya kebanyakan bergerak di tengah hutan belantara pedalaman Papua. Banyak kabar yang beredar di tengah masyarakat seputar meninggalnya Tom Wanggai. Kepala LP Cipinang jadi sasaran tudingan. Ia dianggap turut bertanggung jawab karena terlambat mengirimkan Tom yang sakit keras itu ke Palang Merah Internasional. Polemik juga berlanjut pada persoalan hilangnya jenazah Tom Wanggai dari lemari kamar mayat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo tanpa sepengetahuan pihak keluarga. Desas-desus inilah yang kemudian meletupkan kerusuhan saat jenazah Tom Wanggai dipulangkan ke Papua. “Pada saat itu rakyat Irian termasuk kalangan terpelajar, mahasiswa, serta masyarakat biasa berduyun-duyun menuju Bandara Sentani untuk menyambut seorang tokoh yang dihormati sebagai simbol intelektual Irian,” kata Pigay dalam Evolusi Nasionalisme dan Sejarah Konflik Politik di Papua. Raga Thomas Wanggai memang telah lama meninggalkan dunia ini. Tapi ideologinya untuk mendirikan negara merdeka yang terpisah dari Republik Indonesia masih hidup dalam dada sebagian orang Papua sampai saat ini. Entah sampai kapan.*

  • Chris John Antara Tinju dan Wushu

    MARIA Rosa Christiani, putri mantan bintang tinju Indonesia Chris John , mengikuti jejak kesuksesan ayahnya mengecap prestasi. Maria mengalungi medali emas nomor taolu kelas A (senior) di Jatim Open Wushu Championship pada Minggu (18/9/2022) lalu. Kejuaraan Jatim Open itu jadi pembuka dari rangkaian agenda Kejurnas Wushu, 16-22 September 2022. Ajang tersebut sebagai persiapan Indonesia menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia Wushu Junior, 2-11 Desember 2022. Sebelumnya, putri pertama Chris John, Maria Luna Ferisha, juga menggeluti wushu. Atlet putri yang akrab disapa Fey itu tercatat pernah menyabet medali perak di nomor taichi pada Kejurnas Wushu 2019. Seperti kedua putrinya, Chris John sebelum dikenal sebagai petinju Indonesia paling sukses mengglobal dengan gelar juara tinju dunianya pernah meraih sejumlah prestasi di cabang wushu. Pria kelahiran Jakarta, 14 September 1979 itu bahkan pernah menjalani dua cabang sekaligus sampai di masa awal masuk tinju profesional. “Banyak yang berpikir dulu saya wushu dulu, makanya di sini saya perjelas juga. Awalnya memang saya di tinju amatir dulu. Baru setelah masuk pro (awal karier), saya coba di event-event wushu,” kenang Chris saat berbincang dengan Historia , 2 Juli 2022. Maria Rosa Christiani (kiri) & Maria Luna Ferisha, dua putri Chris John yang menggeluti wushu. (Instagram @chrisjohnindonesia). Dari Tinju ke Wushu, Kembali ke Tinju Sebagaimana banyak kisah atlet legendaris, “DNA” olahraga Yohannes Christian ‘Chris’ John menurun dari mendiang ayahnya, Djohan Tjahjadi (Tjia Foek Sem). Sejak usia dini, Chris dan adiknya, Adrian, sudah mulai dilatih sang ayah yang kariernya hanya sampai level amatir di tingkat lokal. Chris berkisah bahwa di masa amatir pada 1970-an, Djohan acap berlatih dan bertanding diam-diam tanpa sepengetahuan orangtuanya yang tak mendukung kariernya. Tak ayal ketika Chris lahir, Djohan amat mendukungnya menjadi petinju hingga berupaya membimbing langsung latihan sejak Chris kecil. “Dia punya ambisi bahwa, ‘saya ingin kalau punya anak cowok, saya akan latih dia.’ Akhirnya terwujud, saya lahir di tahun 1979 di Jakarta, di usia lima tahunan sudah dilatih tinju oleh ayah saya. Jadi memang saya awal-awal dilatih tinju oleh ayah saya. Terus akhirnya dari Jakarta kami harus pindah ke desa kecil di Banjarnegara, mulai dari situ saya mulai digembleng di sana,” sambung Chris. Dari kedua putranya, Djohan menyadari Chris yang paling punya bakat. Maka Chris di usia 14-15 tahun mulai sering dibawanya ke sejumlah event amatir lokal semacam antar-kecamatan dan antar-kabupaten. Talenta Chris rupanya juga diendus pelatih kondang Sutan Rambing. “Terus dari amatir itu saya sempat mewakili Banjarnegara untuk bisa bertanding di Porda 1995. Dari situ ada salah satu pelatih senior, Sutan Rambing, cukup memperhatikan saya. Ada satu juga pemerhati, pengurus Pertina di Jawa Tengah, Pak Sudarsono, dia sudah melihat saya. Dia bilang, ‘Oh... kayaknya anak ini cukup berbakat’,” lanjutnya. Djohan Tjahjadi alias Tjia Foek Sem. (Instagram @chrisjohnindonesia). Sutan, yang melihat Chris sebagai bibit muda dengan prospek cerah, menawarkan pelatihan yang lebih mumpuni di Sasana Orang Tua, Semarang, Jawa Tengah. Djohan, yang merasa kemampuannya melatih putranya masih terbatas, mengikhlaskan Chris ditempa di Semarang dengan program-program pelatihan dan fasilitas lebih baik dengan harapan putranya bisa punya prestasi yang jauh lebih baik darinya. Tetapi di sasana itu rupanya Chris tak hanya mengikuti program-program latihan tinju. Belakangan, menjelang Kejurda Wushu 1996, Sutan Rambing mengarahkan Chris dan beberapa petinju muda lain untuk menggeluti wushu sekaligus. “Kebetulan di sasana itu juga diadakan kepelatihan atau pemusatan latihan untuk Kejurda untuk wushu nomor sanda , jadi seperti kickboxing -lah. Pak Sutan Rambing berpikir, ya kenapa enggak? Petinju bisa masuk kok. Dengan dia bisa mukul, pakai pukulan aja sudah enggak masalah. Paling tetap pakai aturan di wushu, pukulan enggak boleh bertubi-tubi, satu arah. Para petinju waktu itu beberapa yang terjun di wushu sanda juga dan cukup menorehkan prestasi, termasuk saya,” tambah Chris. Meski belum lama mendalami wushu, Chris berhasil juara di cabang wushu PON 1996 yang masih eksebisi. Ia lalu terpilih masuk Timnas Wushu Indonesia untuk SEA Games 1997. Lagi-lagi, Chris berhasil meraih emas. Mengutip buku Chris John: Legenda Baru Dunia Tinju Indonesia , Chris melakoni debutnya di ajang multi-event se-ASEAN itu dengan menghasilkan medali emas. Sejak itulah Chris menjalani dua jalur karier sekaligus yang hebatnya juga bergelimang prestasi di tinju kelas bulu. Di antaranya juara (amatir) Mahesa Cup 1997 dan Kejurnas Junior 1998. “Kemudian PON (2000) di Surabaya juga dapat emas. Beberapa kejurda juga dapat emas. Sampai akhirnya saya di wushu sekaligus di tinju. Apalagi saat-saat itu juga ada gelaran tinju profesional di televisi ya. Ya sudah, sambil ikut itu dan kalau ada pertandingan wushu yang bisa saya ikuti, saya ikuti. Karena waktu itu level-levelnya di tinju masih bisa saya peganglah ya, untuk bisa konsentrasi di tinju maupun di wushu,” kata Chris. Chris John memulai karier amatirnya digembleng ayah sendiri. (Instagram @chrisjohnindonesia). Selepas Kejurnas Junior 1998, Chris menasbihkan diri jadi juara nasional usai mengalahkan Muhammad Alfarizi di level senior Kejurnas 1999. Pertarungan itu jadi salah satu duel paling berkesan bagi Chris. “Saya menghadapi (almarhum) Alfarizi, di ronde-ronde awal kena pukulan telak hingga hidung saya patah. Saya juga terjatuh dengan pukulan itu di awal-awal ronde. Setelah itu saya teringat kata-kata ayah, untuk kemudian saya bisa bangkit,” kenang Chris. Ketika pada 1999 Chris mulai membulatkan tekad untuk masuk tinju pro, namanya masih tercatat sebagai atlet wushu. Chris turut mempersembahkan medali perunggu di SEA Games 2001. Di tahun yang sama, Chris juga sukses melingkarkan sabuk juara tinju PABA usai mengalahkan Soleh Sundava. “(Tahun) 2000-2001, level saya mulai naik, di tinju saya juara PABA. Itu saya masih di wushu juga. Sampai akhirnya 2003 saya dapat kesempatan kejuaraan dunia di Bali lawan Oscar León, gelar kosong (kelas bulu WBA, red .) waktu itu. Akhirnya kita mulai berpikir sepertinya fokus di tinju aja, makanya saat itu juga wushu saya lepas,” tutur legenda berjuluk The Dragon tersebut. Chris John yang masih menggeluti wushu hingga SEA Games 2001. (Instagram @chrisjohnindonesia). Pilihannya tak keliru. Chris sukses menggondol sabuk kelas bulu WBA di “Pulau Dewata” pada 26 September 2003 usai menang angka dari Oscar León Navas asal Kolombia. Chris kemudian tercatat sebagai petinju Indonesia ketiga yang punya gelar dunia. Ia mewujudkan mimpinya mengikuti salah satu idolanya, Ellyas Pical, yang jadi petinju Indonesia pertama dengan gelar dunia (versi IBF) pada 1985. Petinju Indonesia kedua dengan gelar dunia yakni Nico Thomas, yang memegang IBF pada 1989. “Itu (Ellyas Pical) idola saya juga dari kecil, untuk bisa menjadi seperti Ellyas Pical yang dikagumi banyak orang. Pertamakali saya punya role model , Ellyas Pical. Dulu kalau dia tanding, rame masyarakat datang ke rumah saya karena kebetulan televisi waktu itu enggak banyak. Sementara petinju luar, saya senang dengan gayanya Oscar De La Hoya yang taktis dan counter-boxer ,” lanjutnya. Kendati sudah lama gantung sarung tinju, nama Chris saat ini masih lekat di kepala para penggemar tinju. Chris tak hanya bisa mengikuti jejak idolanya menjadi juara dunia, namun juga mewujudkan impian sang ayah. Terlebih, gelar juara dunia WBA-nya terus ia pertahankan hingga satu dekade kemudian sebelum gantung sarung tinju. “(Chris John) itu petinju kita satu-satunya yang terlama, di seluruh dunia (mempertahankan gelar). More than 10 years . Enggak sedikit itu waktunya. Sepuluh tahun lebih dia jadi juara. Enggak gampang itu (diikuti petinju lain),” tandas pengamat tinju M. Nigara kepada Historia. Chris John (kanan) ditemani sang istri, Anna Maria Megawati saat mengumumkan pensiun pada Desember 2013. (Randy Wirayudha/Historia.ID).

  • Sepak Terjang Pasukan 303

    Kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat yang dilakukan Inspektur Jenderal Polisi Ferdy Sambo, diikuti kabar adanya jaringan perjudian Konsorsium 303. Angka ini merujuk Pasal 303 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang mengatur tentang perjudian. Adanya Konsorsium 303, yang katanya terkait Ferdy Sambo, tentu mencemarkan angka 303. Padahal ada aset negara yang memakai angka itu, yakni Batalyon Infanteri (Yonif) Raider 303. Yonif Raider 303 yang berada di bawah Brigade Infanteri 13/Galuh Divisi Infanteri 1/Kostrad punya sejarah panjang. Kesatuan ini berawal dari Batalyon Pengawal Markas Besar Tentara (MBT) yang dipimpin oleh Mayor Ir. R. Sudarto dan wakilnya Kapten A. Nasuhi yang berkedudukan di Bintaran, Yogyakarta. Menurut buku Siliwangi dari Masa ke Masa , dari September 1945 sampai September 1949, batalyon ini aktif dalam perang kemerdekaan menghadapi Jepang, Belanda, dan penghancuran PKI Musso di Madiun. Pada awal Agustus 1948, Batalyon Sudarto dikirim untuk menumpas PKI di Wonogiri, Baturetno, dan Wuriantoro. Dua kompi pasukan kalong PKI di bawah eks Mayor Sampir menyerah. Batalyon Sudarto kemudian bergerak ke daerah Pumeng Donorejo, Melati, Trenas, dan Pacitan. Di daerah Melati, Batalyon Sudarto berhasil menangkap gembong PKI eks Kolonel Yusuf Bakhri cs., merampas mesiu, peralatan, dan senjata. Batalyon Sudarto selanjutnya bergerak ke Pringsewu, Pringgadani, Sawangan, dan Tawangmangu, kemudian kembali ke Yogyakarta. Baca juga:  Kisah Batalyon Sepatoe Roesak Ir. R. Sudarto, Komandan Batalyon Pengawal Markas Besar Tentara (MBT), cikal bakal Yonif 303. ( Page Facebook Magelang Kembali ). Pada November 1948, Batalyon Sudarto mengadakan konsolidasi di Magelang. Letkol Sudarto kemudian menjadi Komandan Brigade XVII yang dibentuk untuk menampung kesatuan-kesatuan pelajar yang tergabung dalam Tentara Pelajar.Sebelum menjadi Brigade XVII, brigade ini bernama Kesatuan Reserve Umum W (KRU W). Sementara KRU Z masuk organik menjadi batalyon dari Brigade XIV/Siliwangi. Pada 17 Desember 1948, batalyon ini bergerak ke daerah Temanggung. Setelah Agresi Militer Belanda II, pada 19 Desember 1948 batalyon ini melakukan long march menuju Jawa Barat. Baca juga:  Kompi Kristen di Batalyon Hizbullah Kivlan Zen, mantan Komandan Yonif Raider 303/SSM Kostrad, dalam Personal Memoranda dari Fitnah ke Fitnah , menyebut bahwa Batalyon Infanteri Sudarto sebagai pengawal Presiden Sukarno tahun 1945 sampai akhir November 1948. Kemudian bertempur bersama Siliwangi melawan komunis dan Belanda pada saat Bung Karno ditawan Belanda. Setelah Bung Karno dibebaskan dan kembali ke Yogyakarta, Yonif Sudarto tetap mengikuti Siliwangi dan ikut kembali ke Jawa Barat. Selanjutnya, Yonif Sudarto dipecah menjadi dua di Selawu, dekat Tasikmalaya. Dua kompi dipimpin oleh Kaharudin Nasution menjadi Yonif 303 dan berbasis di Cikajang, Garut. Sedangkan dua kompi dipimpin oleh Mung Parhadimulyo menjadi Yonif 305 dan berbasis di Karawang. Sehingga, tunggul atau lambang kedua yonif ini sama-sama tengkorang putih menggigit belati. Yang membedakan sesantinya: Yonif 303/Setya Perlaya sedangkan Yonif 305/Tengkorak. Llambang Yonif 303/Setya Perlaya Divisi Siliwangi. (Repri Siliwangi dari Masa ke Masa ). Buku Siliwangi dari Masa ke Masa menyebut Yonif 303 lahir pada 1 September 1949 yang berturut-turut mengalami pergantian nama menjadi Batalyon D, Batalyon 123, dan Batalyon 303/Setya Perlaya. Setelah pengakuan kedaulatan (27 Desember 1949), batalyon ini terus mengadakan konsolidasi di bawah Mayor A. Nasuhi. Dalam perjalanan sejarahnya, selain melawan PKI dan Belanda, Yonif 303/Setya Perlayajuga ikut menumpas Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) Westerling pada Januari 1950 di Bandung, PRRI pada 1959 di Sumatra, DI/TII Jawa Barat, DI/TII Kahar Muzakkar, dan PKI di Jawa Barat dan Jawa Tengah pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965. Baca juga:  Sepakterjang Batalyon yang Hilang Pada 1986, Yonif 303/Setya Perlayadi bawah Mayor Kivlan Zen ditugaskan ke Timor Timur. Kivlan mengaku selalu berhasil dalam pertempuran melawan pasukan Fretilin sehingga mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa menjadi Letnan Kolonel. Pada saat Kivlan memimpin pasukan Yonif 303/Setya Perlayadi Timor Timur, Kostrad memberikan kesempatan untuk mengubah tunggul atau lambang kesatuan yang semula berada di bawah Kodam III/Siliwangi, Kodam IV/Diponegoro, Kodam V/Brawijaya, dan Kodam VII/Wirabuana menjadi tunggul kesatuan di bawah Kostrad. Kivlan menganggap sesanti Setya Perlaya tidak dipahami prajurit karena berasal dari bahasa Sanskerta. Oleh karena itu, dia mengganti sesanti Setya Perlaya dengan Setia Sampai Mati (SSM). Sehingga, kesatuan ini disebut Yonif Raider 303/SSM Kostrad .*

  • Awal Mula Pipa Plastik di Indonesia

    PIPA PVC ( polyvinyl chloride ) atau lebih dikenal dengan pipa paralon merupakan salah satu material yang penting dalam pembangunan rumah atau gedung. Pipa yang terbuat dari bahan baku polivinil klorida ini biasanya digunakan untuk mengalirkan air dan instalasi listrik. Pipa plastik jadi pilihan selain harganya terjangkau, juga lebih ringan sehingga proses pemasangannya lebih mudah. Pipa PVC tersedia dalam beragam jenis dan ukuran. Mereknya menentukan kualitas dan harga. Namun, apapun mereknya, orang menyebutnya paralon. Nama ini diambil dari merek Pralon, pionir pipa PVC di Indonesia, yang didirikan oleh Pandji Wisaksana alias Phan Wan Sin. Pandji lahir di Bandung, Jawa Barat pada 27 Juni 1925. Mantan wartawan Bandung Herald , harian mandarin pertama di Bandung pada masa pendudukan Jepang, ini dikenal sebagai perintis industri plastik di Indonesia.

  • A Music Legend from Batak Land

    TO welcome the historic Kongres Pemuda II  (the Second Youth Congress), the committee held a contest challenging the youth to compose the national anthem. The prize was no less fascinating: the winner's name would be immortalized as the songwriter of Indonesia's national anthem. The competition soon enough became the talk of the town after various newspapers announced it.

  • Posisi Barlian dalam PRRI

    Tiga perwira menengah di Sumatra membentuk dewan-dewan untuk mencari solusi atas permasalahan antara pusat dan daerah pada 1950-an. Letnan Kolonel Ahmad Husein memimpin Dewan Banteng di Sumatra Barat. Kolonel Muludin Simbolon memimpin Dewan Gajah di Sumatra Utara. Sedangkan Letnan Kolonel Barlian memimpin Dewan Garuda di Sumatra Selatan. Barlian merupakan Panglima Tentara dan Teritorium II Sumatra Selatan yang belakangan wilayahnya menjadi bagian dari Komando Daerah Militer (Kodam) Sriwijaya, yang membawahkan Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, dan Lampung. Daerah-daerah itu dulunya bagian dari Keresidenan Palembang. Sejarawan Audrey Kahin dalam Dari Pemberontakan ke Integrasi: Sumatra Barat dan Politik Indonesia 1926–1998  menyebut Barlian sebagai pengusul diadakannya pertemuan yang kemudian diadakan di Sungai Dareh, Sumatra Barat, pada 9 Januari 1958. Barlian juga yang mengundang politisi sipil seperti mantan Perdana Menteri Mohammad Natsir, mantan Perdana Menteri Burhanudian Harahap, dan mantan Ketua PDRI Sjafrudin Prawiranegara. Baca juga:  Sukarno dan Trauma PRRI Pertentangan antara pusat dan daerah berkembang menjadi pemerintahan tandingan bernama Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Mantan Menteri Keuangan Sumitro Djojohadikusumo juga ikut serta di dalamnya. Di antara dewan-dewan itu, posisi Dewan Garuda lebih dekat dengan Jawa. Jawa adalah kunci di mana pusat pemerintahan dan kekuatan terbesar militer berada. “Karena dekat dengan Jawa dan keberadaan pasukan Jawa dalam jumlah besar di daerahnya, Barlian bertindak hati-hati, dan Dewan Garuda tidak memutuskan hubungannya dengan pemerintah pusat atau mengambil tindakan lanjutan untuk beberapa bulan lamanya,” tulis Kahin. Barlian tidak benar-benar menjadikan Palembang sebagai milik PRRI. Meski Barlian pernah mengambil alih kontrol pemerintah sipil dari tangan gubernur pada 9 Maret 1958. Kahin menyebut Barlian meminta bantuan Dewan Banteng. Ahmad Husein bersedia mengirim 1.200 tentara untuk memperkuat Palembang jika didatangi tentara dari Jawa. Baca juga:  Kisah Jenaka Para Petinggi PRRI/Permesta Beruntunglah pemerintah pusat,karena sebelum tahun 1958, ada seorang perwira TNI asal Jawa di Palembang yang menjabat komandan Resimen Infanteri 5, yakni Mayor Djuhartono. Dia menentang dewan-dewan perjuangan daerah yang melawan pemerintah pusat. Djuhartono sempat menjadi penentang Barlian yang nyaris ikut PRRI. Djuhartono bergerak dan sempat mengungsi ke luar kota, di mana Lapangan Udara Talang Betutu berada. Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Kolonel Abdul Haris Nasution pun diminta datang ke Palembang. Peristiwa Mayor Djuhartono itu terjadi pada 30 Maret 1957. “Kami mendarat dalam curah hujan yang keras, yang datang menjemput adalah komandan AURI Talang Betutu bersama pejabat komandan Resimen 5,” kata Nasution dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas: Jilid 4 Masa Pancaroba . Barlian terus menjadi Panglima di Sumatra Selatan. Djuhartono lalu ditarik dari Palembang. Buku Untuk Diingat dan Dikenang Menyambut HUT KODAM IV Sriwijaya ke XXVII menyebut Djuhartono katanya terpengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI) lantaran peristiwa itu. Belakangan Djuhartono menjadi Ketua Golongan Karya sebelum Orde Baru berjaya. Setelah Peristiwa Mayor Djuhartono daerah Tentara dan Teritorium II kemudian terbelah menjadi dua. Ada yang menolak dan ada yang berpihak kepada PRRI. Mereka yang berpihak kepada PRRI adalah Mayor Nawawi. Letnan Kolonel Barlian, Panglima Tentara dan Teritorium II Sriwijaya di Sumatra Selatan. (Wikimedia Commons). Kahin menyebut Barlian tidak mendukung pemutusan hubungan terbuka dengan pemerintah pusat di Jakarta. Dia menolak PRRI tapi enggan menahan Mayor Nawawi ikut PRRI, meski Nasution sebagai atasannya memerintahkannya. Barlian tampak bersikap netral. Tidak masuknya kawasan Sumatra Selatan ke dalam PRRI menjadi kabar buruk bagi PRRI pusat di Sumatra Barat. Jika Sumatra Selatan bergabung dalam PRRI, maka Sumatra Selatan akan menjadi medan perang antara tentara PRRI dengan tentara pemerintah yang akan dikirim dari Jawa. Sumatra Selatan tentu menjadi sasaran pertama pemerintah pusat sebelum memasuki Sumatra Barat. Tanpa adanya Sumatra Selatan dalam PRRI, maka kerja tentara pemerintah pusat menjadi semakin mudah.Sumatra Barat dan sekitarnya segera menjadi sasaran penting. Tanpa Sumatra Selatan, PRRI juga kekurangan sumber daya. Tak hanya sumber daya manusia tapi juga sumber daya alam. Sumatra Selatan sejak lama merupakan daerah yang kaya hasil perkebunan dan energi bahan bakar seperti minyak bumi dan batubara. Baca juga:  Meriam PRRI yang “Bikin Ngeri” A. Yani Jika Sumatra Selatan terlibat penuh dalam PRRI, tentu PRRI akan mempunyai posisi yang kuat dan lebih sulit dihadapi oleh tentara pemerintah pusat. Namun, dengan posisi netralnya saja PRRI dengan cepat digulung pemerintah pusat. “Letnan Kolonel Barlian selaku Panglima TT II/Sriwijaya tidak dapat menerima kekerasan bersenjata dalam menangani pergolakan daerah,” tulis Hendarmin Djarab dkk. dalam Mendahului Semangat Zaman: Letkol Barlian Panglima TT II Sriwijaya 1956–1958 . Barlian melihat risiko kegagalan gerakan PRRI sendiri jelas sangatlah besar. Barlian, yang kelahiran Tanjung Sakti, kaki Gunung Dempo dekat Pagaralam, 22 Juli 1922 itu adalah anak seorang wakil kepala marga. Pernah belajar di HIS di Bengkulu dan MULO di Malang, serta bekerja di kantor pemerintah. Di zaman Jepang, dia menjadi perwira Gyugun (tentara sukarela) yang dilatih di Pagaralam. Di masa revolusi kemerdekaan di Bengkulu, diamenjadi Komandan Brigade TNI. Saat ini, Barlian adalah tokoh Sumatra Selatan yang cukup dikenang. Namanya telah menjadi nama jalan yang cukup penting di kota Palembang. Tempatnya dulu dihormati sebagai P anglima yang menjauhkan Sumatra Selatan dari perang dan pembantaian.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page