Hasil pencarian
9817 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Stadion Terbesar Dunia Stadion Buruh
PERANG Korea (1950-1953) jadi penanda pemisahan dua Korea. Gengsi berbau politis acap mewarnai persaingan Korea Selatan dan Korea Utara. Mulai dari budaya, senjata hingga olahraga. Khusus olahraga, Korea Utara (Korut) boleh bangga punya arena olahraga monumental yang diakui sebagai yang terbesar sekolong langit. Meski rezim terus berganti dan karakter pemerintahannya tetap represif, prestis bidang olahraga tak pernah dilupakan sejak rezim Kim Il-sung hingga cucunya Kim Jong-un. Selain prestasi, yang bisa dibanggakan Korut dalam olahraga tak lain adalah stadion. Negeri itu punya Stadion Rungrado 1 Mei atau Stadion May Day. Ia terletak di ujung selatan Pulau Rungra yang berada di tengah-tengah Sungai Taedong, tak jauh dari ibukota Pyongyang.
- Menyuarakan Nasib Buruh Perempuan
PADA peringatan Hari Perempuan Sedunia 2020, Aliansi Gerakan Perempuan Anti-Kekerasan (Gerak Perempuan) menyerukan untuk Melawan Kekerasan Sistematis terhadap Perempuan. Beberapa poin masalah yang diangkat ialah ketiadaan regulasi yang memberikan perlindungan terhadap perempuan baik dalam undang-undang maupun peraturan turunannya serta kondisi kerja yang tidak ramah perempuan. Contoh paling anyar ialah nasib buruh PT Alpen Food Industri (PT AFI) yang memproduksi es krim Aice. Mereka mengeluhkan kondisi kerja yang tak sejalan dengan ketentuan. Beberapa di antaranya, diskriminasi pengupahan, risiko mengalami pelecehan dan kekerasan seksual, kontaminasi lingkungan, dan shift kerja ibu hamil pada malam hari. Dalam rilisan persnya, Gerak Perempuan menyebutkan akibat dari kondisi kerja yang eksploitatif ini, sepanjang 2019, terjadi 14 kasus keguguran yang dialami buruh perempuan dan 6 orang lainnya kehilangan bayi yang baru dilahirkan.
- MS Kaban, Cheng Ho, dan Buruh Cina
JUMAT (11/1), M.S. Kaban selaku bekas menteri kehutanan era kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang kini menjabat Ketua Dewan Syuro Partai Bulan Bintang, berkicau begini –dengan pengubahan redaksional seperlunya– dalam akun twitter pribadinya: “Cheng Ho pernah membawa puluhan kapal lengkap dengan pasukan untuk menyerang Majapahit karena tidak mau tunduk membayar upeti kepada kaisar China. Di era Presiden Jokowi, mendarat dengan aman dan tenang ribuan orang RRC di Morowali pakai pesawat China Airlines.” Di tengah sentimen anti-Cina yang acap dijadikan komoditas politik belakangan ini, ada tiga hal yang perlu diluruskan dalam kicauan tersebut.
- Kenangan yang Tertinggal di Tanamur
SEBUAH pahatan bertulis Tanamur di sisi kanan atas bangunan itu masih terbaca jelas. Pagarnya tertutup rapat. Hampir tak ada celah untuk mengintip. Tak ada juga tanda-tanda aktivitas manusia di dalamnya. Sepi. Hanya keadaan sekitar yang ramai pedagang makanan dan warung asongan. Kontras dengan suasana 40 tahun lalu saat hentakan musik disko memenuhi Tanamur, diskotek pertama dan tertua di Jakarta. “Kuping saya sampai pengang seharian setelah mengunjungi Tanamur malam itu,” kenang Firman Lubis. Firman, kini lebih dikenal sebagai penulis buku tentang sejarah Jakarta, saat itu baru menjadi dosen muda di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ia dan kawan-kawannya mengunjungi Tanamur pada 1971. “Waktu itu saya ingin tahu seperti apa diskotek Tanamur,” kata Firman.
- Sejarah Klub Malam di Indonesia
PEMERINTAH Provinsi DKI Jakarta memberikan penghargaan kepada diskotek Colosseum pada malam Anugerah Adikarya Wisata 2019 di Jakarta, 6 Desember 2019. Pemberian penghargaan itu diwakilkan oleh deputi gubernur DKI Jakata. Adikarya Wisata adalah penghargaan dari pemerintah DKI Jakarta untuk penggiat pariwisata di Jakarta. Tim juri Adikarya Wisata memandang Colosseum berkontribusi mempromosikan pariwisata di Jakarta sehingga layak menerima penghargaan. Mengalahkan 30 nominator lain dalam kategori serupa. Di samping kategori diskotek dan klub malam, Adikarya Wisata mempunyai 30 kategori penghargaan lain. Antara lain bar, restoran, maskapai penerbangan, dan hotel. Keputusan tim juri menuai celoteh minor dari banyak kalangan. Mereka menilai Colosseum tak pantas menerima penghargaan lantaran pernah menjadi tempat transaksi narkoba. Sebagian lainnya berkeberatan karena melihat keberadaan diskotek dan klub malam tidak sesuai dengan norma agama.
- Jenderal Disko
MENTERI Pertahanan Prabowo Subianto, yang juga calon presiden, ingin memakmurkan petani di Indonesia. Bahwasanya petani bukanlah profesi yang menyusahkan, bahkan bisa membanggakan. Dengan demikian, jumlah petani produktif akan terus meningkat; anaknya petani mau jadi petani. Isu tersebut disampaikan Prabowo dalam acara “Dialog Capres bersama Kadin”, pada 12 Januari 2024 silam. Prabowo mencontohkan kehidupan petani di desa-desa di Jerman. “Saya pernah ke desanya Jerman. (Petaninya, red.) bau tai sapi, tapi mobilnya Golf. Rumahnya bagus. Dia kerja di ladang, sore-sore sudah langsung ganti baju. Malam-malam dia dansa di disko. Anak-anak muda mau jadi petani di Jerman. Kita harus bikin anak-anak muda Indonesia mau jadi petani di Indonesia,” imbuhnya. Gara-gara pernyataan visioner sekaligus kontroversi itu, lema disko sempat ramai mewarnai linimasa sosial media. Disko merupakan irama musik dari piringan hitam yang membuat penikmatnya bakal berajojing ria. Ia biasanya disajikan di diskotek atau klub malam dengan fasilitas musik piringan hitam. Di Indonesia, alunan musik disko mulai menggeliat sejak dekade 1970-an, seiring menjamurnya diskotek di kota-kota besar.
- Sejarah Musik Dugem
CERITA ini tentang musik kaum muda. Musik yang mampu membawa mereka ke dunia lain. Dunia tanpa waktu kemarin dan esok. Dunia yang cuma punya waktu sekarang. Kaum muda menikmati musik ini sembari bergoyang di bawah lampu kelap-kelip. Sekarang mereka menyebutnya musik ajeb-ajeb atau dugem (dunia gemerlap). Tapi dulu ia bernama disko. Semua bermula dari kerisauan generasi baby boomers di Amerika Serikat dan Eropa. Mereka lahir seusai Perang Dunia II dan tumbuh besar dengan hasrat menata ulang kehidupan secara lebih tertib. Mereka sekolah, bekerja, menikah, lalu punya anak. Lama-lama kehidupan begitu membosankan dan melelahkan bagi baby boomers. Stres menyerang dan pikiran terkekang. Mereka butuh hiburan setelah bekerja keras. Di negeri Barat sana, “bersantai adalah produk dari kerja keras,” tulis Erwin Ramedhan dalam “Gaya Hidup Disco di Jakarta” termuat di Prisma, 6 Juni 1977.
- CIA dalam Gerakan Buruh Indonesia
HARRY Goldberg dan istrinya, Rose, tiba di Jakarta pada September 1951. Dia ditugaskan oleh Jay Lovestone untuk memasuki gerakan buruh di Indonesia. Sebelumnya, dia dan Irving Brown, membantu memecah gerakan buruh di Italia. Tak lama setelah tiba di Indonesia, Goldberg mengabarkan kepada Lovestone bahwa kehadirannya diketahui oleh Presiden Sukarno. “Kami diberitahu bahwa Sukarno tahu kami ada di sini dan apa yang kami lakukan. Kami harus memperhatikan langkah kami,” kata Goldberg sebagaimana dikutip Ted Morgan dalam A Covert Life: Jay Lovestone, Communist, Anti-Communist, and Spymaster. Awalnya, Lovestone seorang pemimpin komunis. Dia menjabat sekretaris eksekutif Communist Party USA (CPUSA) pada 1920-an. Namun, dia kemudian keluar dan mendirikan Lovestoneite, gerakan oposisi terhadap komunis, pada 1930-an. Para anggotanya sering menyebut organisasinya Communist Party (Opposition) atau CPO.
- Peristiwa G30S di Kota Salatiga
PADA 1962, Mia Bustam, istri pelukis Sudjojono, diminta menjadi anggota penilai lomba kebersihan dan keindahan kota. Tugasnya keliling kota-kota di Jawa Tengah. Dalam bukunya Dari Kamp ke Kamp: Cerita Seorang Perempuan, Mia menceritakan tentang apa saja yang ia jumpai dalam tiap kunjungannya. Ketika bercerita tentang Salatiga, Mia tak ingat apa saja yang ia nilai terkait perlombaan itu. Mia justru mengenang bahwa penduduk Salatiga dan sekitarnya banyak yang berpendirian kiri. Ia juga menyebut walikota Salatiga saat itu merupakan anggota PKI. Walikota yang dimaksud Mia adalah Bakri Wahab, yang menjabat sejak 1961. Menurut laporan Majalah Lentera Nomor 3/2015, Bakri Wahab berasal dari Pekalongan. Badanya agak gemuk, rambutnya keriting, wajahnya seperti orang Arab. Ia menempati rumah tak jauh dari kantor CS PKI Salatiga.
- Balada Patung Buruh Tani Pertama di Salatiga
SEBIDANG tanah di Jalan Jenderal Sudirman Salatiga itu ditumbuhi semak belukar yang mulai meninggi. Sulur-sulur tanaman liar juga mulai merambati pagar seng tebal yang tergembok rapat. Inilah lokasi bekas kantor Comite Seksi PKI Salatiga, tempat patung buruh tani pertama di Indonesia pernah berdiri. Menjelang ulang tahun ke-45 PKI pada 23 Mei 1965, sejumlah monumen kebesaran komunis dibangun di berbagai kota. Tugu palu arit menjadi yang paling menonjol. Di Cililitan, Jakarta, tugu putih setinggi kira-kira 12 meter berdiri dihiasi palu arit berwarna keemasan. Sementara di Palembang, tugu palu arit menghiasi Jalan Jenderal Sudirman dan Monumen Banting Stir dibangun dekat Jembatan Ampera. Tugu palu arit raksasa dengan tinggi sekitar lima meter juga dibangun di Surabaya, sekaligus menjadi podium rapat umum ulang tahun ke-45 partai merah itu. Tugu serupa juga didirikan di Medan melengkapi rapat raksasa PKI yang dihadiri 15.000 massa.
- Pendidikan Seks dalam Serat Nitimani
KENDATI masih dianggap tabu oleh banyak kalangan masyarakat, pendidikan seks dianggap oleh sebagian kalangan perlu diberikan sedini mungkin agar anak-anak paham. Banyak media memberitakan tentang itu saat ini. Banyaknya kasus pelecehan atau bahkan pemerkosaan membuat urgensi pendidikan seks semakin tinggi. Pendidikan untuk remaja atau dewasa juga tak kalah penting. Banyak juga orang dewasa yang belum paham seks. Dalam kebudayaan Jawa, pendidikan seks sudah ada sejak dahulu. Umumnya ditulis dalam bentuk karya sastra melalui serat-serat. Pada 1816 sebuah materi ajar tentang seks muncul dalam serat berjudul Serat Nitimani, tanpa diketahui nama penulisnya. Serat yang ditulis di wilayah Surakarta ini berupa karya sastra dalam bentuk piwulang (nasihat) yang berisi ajaran dalam melakukan hubungan seks.
- Menengok Sejarah Gowok
“…Maksud kedatanganku kemari adalah ingin menyerahkan anakku Bagus Sasongko kepada Nyai Lindri. Dia akan nyantrik di sini beberapa waktu lamanya. Kuserahkan anakku sepenuhnya ke tanganmu, Nyai, supaya dia nanti memperoleh bekal kehidupan ketika akan memasuki alam kedewasaan,” kata Wedana Randu Pitu ketika mengantarkan putranya kepada seorang wanita dewasa yang dikenal dengan sebutan gowok dalam novel Nyai Gowok karangan Budi Sardjono. Di masa silam, tradisi memberikan pendidikan berumah tangga, termasuk di dalamnya pendidikan seks, kepada calon suami yang tengah mempersiapkan diri menuju jenjang pernikahan dilakukan oleh masyarakat di wilayah Jawa, salah satunya di daerah Banyumas. Tradisi ini dinamakan gowokan. Minimnya informasi mengenai seluk-beluk kehidupan rumah tangga, serta pandangan bahwa membicarakan pendidikan seks merupakan hal yang tabu, membuat para orang tua khawatir anak mereka tak bahagia dalam berumah tangga. Kekhawatiran itu mendorong lahirnya gagasan agar laki-laki yang hendak menikah dididik terlebih dahulu oleh orang yang telah berpengalaman.





















