Hasil pencarian
9810 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Di Balik Kacamata Jacqueline Kennedy
PADA masa hidupnya, Jacqueline Kennedy Onassis adalah seorang trendsetter di dunia fashion. Semasa mendampingi John F. Kennedy atau JFK, Jackie mencuri perhatian dengan gaun-gaun yang feminin, elegan, namun tetap menonjolkan individualitas. Aktivitasnya di berbagai jamuan kenegaraan bersesuaian dengan gaya berbusananya. John F. Kennedy tewas dengan tragis dalam peristiwa penembakan di Dallas Texas pada 22 November 1963. Jackie memperlihatkan keberanian dan kelasnya sebagai perempuan. Hanya 99 menit setelah peristiwa penembakan itu, masih mengenakan baju yang ternoda darah almarhum suaminya, Jackie Kennedy berdiri mendampingi Wakil Presiden Lyndon Johnson mengambil sumpah kepresidenannya. Setelah menjanda beberapa lama, Jackie menikah dengan raja kapal Aristotle Socrates Onassis pada 20 Oktober 1968. Peran barunya sebagai istri seorang multijutawan disebut-sebut sebagai salah satu alasan perubahan gaya berbusananya.
- Melihat Lebih Jernih dengan Kacamata
DI AWAL penemuannya, kacamata hanya dipakai kalangan terbatas seperti ahli mekanik (pembuat jam dan perhiasan) serta para pemikir (pendeta biara, fisikawan, dan filsuf). Lalu kacamata berkembang sesuai kebutuhan manusia, dari mengatasi gangguan penglihatan hingga bagian dari gaya hidup. Berikut ini perjalanan sejarah kacamata. Smaragdus Kaisar Nero, penguasa Romawi pada 54–68 SM, merasa terganggu penglihatannya karena silau sinar matahari saat menyaksikan pertandingan gladiator di Colloseum, Roma. Menurut sejarawan Pliny (23–71 SM), Nero lalu mengenakan batu permata hijau atau disebut smaragdus yang sudah diasah untuk mengurangi silau.
- Awal Mula Kacamata
KONON, kacamata adalah salah satu benda terpenting yang pernah ditemukan manusia sejak mereka menemukan api dan roda. Untuk sampai ke bentuknya sekarang, kacamata mengalami perkembangan yang panjang. Dari awal sebagai "batu baca" hingga bertransformasi menjadi gaya hidup dan aksesori mode. Sulit membuktikan siapa penemu kacamata yang asli. Banyak yang menunjuk Benjamin Franklin sebagai penciptanya. Namun, sebenarnya ide tentang kacamata sudah ada sekira 400 tahun sebelum 1700-an, ketika Franklin mulai aktif. Batu Zamrud Kaisar Nero Benda yang difungsikan sebagai kacamata yang pertama kali diketahui digunakan oleh Kaisar Nero dari Roma yang berkuasa pada 54 sampai 68 M. Dia menggunakan batu zamrud ketika sedang menyaksikan pertandingan gladiator. Namun, tak diketahui dengan pasti apakah itu artinya sang kaisar memang memiliki masalah dengan penglihatannya atau dia hanya sekadar menghindari silaunya sinar matahari.
- Siapakah Sukri Hadikusumo Ketua Pemilu 1955?
PERTEMUAN Puan Maharani (PDIP) dan Agus Harimurti Yudhoyono (Demokrat) pada Minggu (18/6/2023) menandai kian intensnya manuver politik yang dilakukan partai-partai politik jelang Pemilihan Umum (pemilu) 2024. Maklum, hajatan demokrasi lima tahunan itu tinggal hitungan bulan. Toh, manuver politik bukanlah hal baru dalam masa-masa menjelang pemilu. Pemilu 1955 yang menjadi pemilu pertama di Indonesia pun diwarnai banyak manuver sebelum penyelenggaraannya. Pemilu 1955 sendiri diselenggarakan oleh panitia bernama Panitia Pemilihan Indonesia (PPI). Kendati berjalan lancar dan sesuai dengan tanggal yang dijadwalkan, tetap saja ada kekurangan wajar yang umum pada tiap hajatan. Selain dikarenakan usia Republik Indonesia masih belia, faktor yang menyebabkan adanya kekurangan dalam Pemilu 1955 adalah mepetnya waktu persiapan dan masih kuatnya ketidakstabilan politik khususnya di pusat. Kabinet jatuh-bangun, militer berkonflik dengan politisi sipil, dekolonisasi masih berjalan –setidaknya Irian Barat masih terus dipertahankan Belanda– merupakan masalah-masalah utama yang menjadi aral dalam kehidupan bernegara.
- Bung Karno di Meksiko
DI BANDARA Ezeiza, Buenos Aires, Presiden Arturo Frondizi melepas keberangkatan Presiden Sukarno. Dari Argentina, Bung Karno meneruskan perjalanan ke Meksiko pada 26 Mei 1959. Setibanya di Mexico City, ibu kota Meksiko, Presiden Adolfo Lopez Mateos menyambut rombongan Bung Karno di lapangan terbang. Dia gembira atas kunjungan perdana Bung Karno ke Meksiko. “Presiden Sukarno dalam sambutannya menyatakan, bahwa kedatangannya di Meksiko membawa salam dari rakyat Indonesia kepada rakyat Meksiko guna mempererat persahabatan kedua bangsa. Selesai upacara penyambutan di lapangan terbang Mexico City, kedua kepala negara kemudian menuju ke Hotel Belgrado,” demikian dilansir Harian Umum, 29 Mei 1959. Meksiko menjadi negara terakhir yang dikunjungi Bung Karno dalam lawatannya ke negara-negara Amerika Latin. Presiden Lopez Mateos bersama pejabat tinggi seperti Menteri Luar Negeri Manuel Tello dan Menteri Dalam Negeri Diaz Ordaz turut langsung menjemput Bung Karno. Bung Karno dan Lopez Mateos berjabat tangan erat saat keduanya bertemu. Pembicaraan mereka tampak cair layaknya sepasang teman lama yang sudah lama tidak bertemu. Di sepanjang jalan dari bandara menuju hotel, Bung Karno dan Presiden Lopez disambut anggota-anggota tantara dan rakyat Meksiko. Lagu kebangsaan “Indonesia Raya” begitu digemari warga Meksiko yang kental dengan kultur seninya.
- Bung Karno Meninjau Ibukota Brasilia
PERPINDAHAN ibukota Indonesia dari Jakarta ke Ibu Kota Nusantara (IKN) dipastikan berlangsung pada tahun ini. Upacara hari kemerdekaan 17 Agustus 2024 mendatang bakal menjadi debut perdana IKN sebagai ibukota Indonesia yang baru. Sampai saat ini, pemerintah terus menggeber pembangunan IKN lengkap dengan sarana dan infrastrukturnya. Dari Jakarta ke IKN membentang jarak 1700 km atau 44 jam perjalanan darat. Perjalanan darat lebih lama karena kedua kota berada di pulau berbeda. Jakarta di Pulau Jawa sedangkan IKN di Pulau Kalimantan. Bentangan jarak ini menjadikan perpindahan ibukota ke IKN sebagai perpindahan ibukota yang terjauh di dunia. Selain Indonesia, Brasil adalah negara yang melakukan pemindahahan ibukota. Sebelum bertempat di Brasilia, ibukota Brasil terletak di Rio de Janeiro, di pesisir tenggara Brasil. Meski masih satu daratan, jarak antara Brasilia dan Rio de Janeiro juga cukup jauh, yakni 1166 km atau 15 jam 14 menit perjalanan darat.
- Bung Karno di Rio de Janeiro
BRASIL menjadi negara pertama yang disambangi Presiden Sukarno dalam rangkaian kunjungan kenegaraan ke Amerika Selatan. Waktu itu, ibukota Brasil masih Rio de Janeiro. Rombongan Presiden Sukarno tiba di sana pada 17 Mei 1959. “Presiden Brasil Juscelino Kubitschek, wakil presidennya, dan seluruh Kabinet Brasilia menyambut kedatangan Presiden Sukarno beserta rombongan di lapangan terbang Rio de Janeiro pada hari Minggu untuk mengadakan kunjungan selama 5 hari di negeri itu,” lansir Harian Umum, 19 Mei 1959. Keadaan di Brasil kurang begitu baik bertepatan dengan kedatangan Bung Karno. Bukan karena adanya gejolak politik, melainkan terjadinya bencana alam. Banjir besar melanda beberapa daerah di Brasil, juga Uruguay dan Bolivia. Banjir tahun 1959 ini merupakan yang paling besar sejak 25 tahun terakhir. Meski kebanjiran, pemerintah Brasil dan masyarakat Rio tetap antusias menyambut Bung Karno. Selain sebagai tamu penting, sambutan hangat diterima Bung Karno lebih-lebih sebagai pemimpin negara Asia pertama yang ke sana.
- Bung Karno, Presiden Asia Pertama ke Amerika Latin
TEMBAKAN kehormatan berdentum sebanyak 22 kali ke atas udara ketika Presiden Sukarno menginjakan kaki di Rio de Janeiro, ibu kota Brazil. Biasanya tembakan kehormatan dilepaskan sebanyak 21 kali untuk menyongsong tamu agung. Presiden Juscelino Kubitschek, wakil presiden, dan seluruh menteri kabinet pemerintah Brazil menyambut langsung kedatangan Bung Karno di lapangan terbang Rio de Janeiro pada 17 Mei 1959. “Presiden Sukarno adalah seorang tokoh Asia pertama yang melawat ke Amerika Latin, dan mungkin karena terlalu gembira atau jadi perlambang, dentuman meriam yang semestinya 21 kali diletuskan 22 kali,” lansir mingguan Istimewa, 31 Mei 1959. Kedatangan Presiden Sukarno ke Brazil merupakan rangkaian lawatannya ke berbagai negara sejak Maret 1959. Bung Karno bertolak ke Amerika Selatan dari Roma setelah menyelesaikan kunjungan kenegaraanya di Eropa. Selain Brazil, Sukarno juga mengagendakan kunjungan ke negara-negara Amerika Latin lainnya.
- Menggoreng Sejarah Donat
DONAT, kudapan berbentuk lingkaran dengan lubang di tengah menjadi makanan ringan favorit banyak orang. Di waktu-waktu tertentu, donat menjadi makanan yang selalu ada atau pilihan utama dalam suatu acara. Sebut saja ketika seorang pegawai berhenti dari pekerjaannya, donat seringkali dibagikan kepada rekan-rekannya di hari terakhir ia bekerja. Tak jarang donat juga dipilih sebagai pengganti kue ulang tahun dalam sebuah pesta kejutan. Bersama hot dog, pie apel, dan Buffalo Wings, donat disebut sebagai makanan khas Amerika Serikat. Meski begitu, donat muncul dari perpaduan berbagai budaya yang membentuk kultur Amerika. Donat yang dalam bahasa Inggris ditulis doughnuts atau donuts dipengaruhi oleh kudapan dari Eropa. Tak heran bila asal-usul donat dikaitkan dengan sejumlah negara di Benua Biru. Peneliti makanan, Heather Delancey Hunwick dalam Doughnut: A Global History menyebut ada klaim yang meyakini donat Amerika berasal dari Prancis. “Klaim ini berkaitan dengan keberadaan calas, sebuah kudapan berbahan dasar beras dari New Orleans, dan kerabat dekatnya, beignet de riz dari Carolina Selatan, yang dikaitkan dengan imigran Huguenot. Di seluruh wilayah Selatan yang berbahasa Prancis, para chatelaines beralih ke resep dari buku-buku resep Prancis seperti Le Nouveau cuisinier royal et bourgeois karya François Massialot, yang salinannya ditemukan di inventaris rumah tangga Louisiana pada 1769,” tulis Hunwick.
- Mas Slamet Dikutuk Kaum Republik
KELOMPOK kanan reaksioner Belanda selalu menganggap Sukarno seorang pengkhianat atau quisling –diambil dari nama Perdana Menteri Norwegia yang bekerjasama dengan tentara Nazi selama Perang Dunia II– yang menjual bangsanya kepada Jepang. Sebaliknya, kaum Republiken menganggap kolaborasi Sukarno dengan Jepang hanyalah perkara strategi perjuangan merebut kemerdekaan. Justru orang-orang yang anti-Jepang dan anti-Republik serta pro-Belandalah yang pantas disebut quisling; salah satunya Mas Slamet, pendiri Partai Demokrat. Mas Slamet tak hanya mencap Indonesia sebagai bentukan Jepang, dia juga menganggap bendera merah putih sebagai produk Jepang. “Mr. Slamet di dalam surat terbuka kepada Ratu Wilhelmina terkesan tidak mengenal makna simbolis bendera merah putih bagi gerakan nasional di negerinya,” tulis Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah.
- Mas Slamet Hina Sukarno
MR. Mas Slamet kecewa berat pada golongan Republiken yang dianggapnya kolaborator fasis Jepang. Padahal, menurut dia Jepang banyak mendatangkan kesengsaraan pada rakyat. Mas Slamet lantas menggantungkan nasib kepada Ratu Belanda dengan harapan Ratu bisa melakukan sesuatu untuk rakyat Indonesia. Dia pun pergi ke Belanda, bersikeras bertemu Ratu Wilhelmina. Peyandang gelar mester in de rechten (sarjana hukum) itu mengatakan kepergiannya ke Belanda bukan untuk jalan-jalan menyenangkan diri melainkan menerangkan kesulitan rakyat Indonesia di bawah pendudukan Jepang. “Tuan Sukarno atau tuan Sjahrir atau siapa orangnya tidak akan setuju dengan rencana saya ini. Tuan Sukarno dan kawan-kawannya adalah orang-orang yang sama dengan fasis, yang telah melakukan perbuatan-perbuatan dengan tipu muslihat ketika Jepang berlutut,” tulis Zaman Baroe, 6 Juni 1946.
- Mas Slamet Anti Kemerdekaan Indonesia
SESUDAH proklamasi kemerdekaan timbul masalah kesiapan menerima negara baru. Sejarawan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern menulis, banyak raja dan kaum ningrat, yang didukung Belanda dan mendapatkan kekayaan darinya, tak mengakui kemerdekaan Indonesia. Mereka sama sekali tak tertarik revolusi, apalagi dengan pemimpin Republik di Jakarta yang radikal. Kaum aristokrat mengganggap mereka tak lebih dari bandit tak beradab yang tak pantas memimpin Republik ini karena tak berdarah biru. Mas Slamet salah satunya. Dia adalah pegawai tinggi yang bekerja di kantor keuangan Jakarta. Kariernya cemerlang, sempat menjabat sebagai Adjunct Inspecteur van Financien atau ajun pemeriksa keuangan di era Belanda masih berkuasa.





















