top of page

Hasil pencarian

9815 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Layar Belum Terkembang

    ANGIN ribut, petir, dan badai menerjang wilayah kerajaan Mataram. Pohon-pohon tumbang. Di laut selatan, ombak menggunung. Fenomena alam tak biasa itu membuat Nyai Roro Kidul sebagai penguasa laut selatan terkejut. Dia berdiri di tepi laut untuk mencari tahu penyebabnya. Dia mendapati Panembahan Senapati sedang bersemedi. Kepada sang raja Mataram itu dia memohon.

  • Jejak Islam di Batik Besurek

    Pengaruh Islam terhadap ragam hias tekstil terjejak pada batik besurek khas Bengkulu. Motifnya biasanya hanya berupa huruf Arab gundul yang tak punya makna khusus –kecuali beberapa jenis kain, terutama untuk upacara adat. Lalu ada perpaduan motif flora dan fauna –yang sudah distilisasi hingga tak dikenali lagi bentuk aslinya– sebagai simbol hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Dalam Pengaruh Islam dalam Seni Wastra Indonesia , katalog dalam pameran di Museum Tekstil Jakarta, Judi Achjadi dan Benny Gratha menulis, keberadaan kain besurek di Bengkulu diperkirakan muncul awal abad ke-16 seiring masuknya pengaruh Islam. “Tradisi membatik ini sudah ada sejak Kerajaan Jambi,” ujar Benny. Selain di Bengkulu, batik besurek pernah dikerjakan di Cirebon. Untuk memenuhi kebutuhannya, Kerajaan Jambi bahkan memesan batik dari Cirebon. Dari sinilah perpaduan terjadi. Muncul beragam motif. “Koleksi besurek Museum sendiri sekitar enam lembar saja,” kata Benny. Pada mulanya kain besurek digunakan sebagai perlengkapan upacara daur hidup seperti kelahiran, cukur rambut anak, perkawinan, hingga kematian. “Dengan menggunakan atribut pakaian yang bertuliskan mantara atau ayat suci Alquran diharapkan acara itu akan berlangsung lancar dan terhindar dari bahaya,” kata Benny. Munculnya teknologi cap ( printing ) membuat kain besurek menjadi terjangkau kantong khalayak dan popular. Ia mulai dipakai bukan hanya untuk keperluan adat.

  • Ujung Dunia Sang Orator

    TIBA di Ende pada 14 Januari 1934 dengan kapal Van Riebek, tak ada yang menyambut kedatangannya. Hanya beberapa petugas kolonial dan polisi yang selalu menaruh curiga. Sukarno mulai menjalani masa pengasingan di Ende akibat aktivitas politiknya yang dianggap membahayakan pemerintah kolonial.

  • Berpikir Lurus dan Jernih

    Bagi penggemar film nasional, nama Salman Aristo (40 tahun) pasti tak asing. Dia pernah menjadi penulis skenario, sutradara, produser, atau ketiganya sekaligus. Salman mulai menulis naskah skenario pada 1999. Namun film pertamanya sebagai penulis skenario adalah Brownies (2005). Film ini mengantarkannya masuk nominasi penulis naskah terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2005. Sejak itu, dia dipercaya menggarap naskah skenario film yang menjadi box office . Sebut saja Alexandria (2007), Ayat-Ayat Cinta (2007), Laskar Pelangi (2008), Garuda di Dadaku (2009), Sang Penari (2011). Salman menjadi co-produser dalam film horor Jelangkung 3 (2007). Debutnya sebagai produser adalah film Queen Bee (2009). Dia lalu menjajal bangku sutradara, sekaligus sebagai penulis skenario dan produser, saat menggarap film Jakarta Maghrib (2010). Pada 2012, dia kembali menjadi sutradara untuk film Jakarta Hati . Dalam kehidupannya sehari-hari maupun kariernya, Salman bilang amat terpengaruh oleh sosok Mohammad Hatta, mantan wakil presiden Indonesia pertama. Kepada Historia , dia bercerita mengenai kekagumannya pada Hatta, khususnya dalam membentuk logika berpikirnya. Apa yang membuat Anda mengagumi Hatta? Saya mengaguminya sebagai sosok pemikir, kejernihan pikirannya, terlepas dari sikap politiknya. Pengaruhnya sangat besar. Dia mengajarkan bagaimana memiliki pola pikir yang lurus. Bagaimana awalnya bisa mengenal Hatta? Almarhum bapak gue Hattais. Di rumah lebih banyak buku Bung Hatta dibanding Bung Karno. Lalu pola didikan bapak gue, yang dari kecil harus bisa menjelaskan apapun. Membuat logika pikiran itu runut. Misalnya, kenapa gue minta gitar. Itu nggak akan dapet kalau nggak bisa menjelaskan why -nya. Mungkin terpola begitu. Akhirnya lebih bisa nyambung dengan pemikiran Hatta, dengan tulisan-tulisannya. Hatta memberi pengaruh ketika Anda menulis? Sangat. Gue pembaca sejarah. Ada banyak tokoh yang di titik ini memberi inspirasi guesoal A, soal B. Tapi, itu tadi, Hatta meletakkan dasar logika berpikir gue . Membuat guemeluruskan logika berpikir. Dalam menulis selalu begitu. Premisnya apa, duduk permasalahannya gimana. Gue harus punya logika berpikir yang beres dulu, bagaimana melihat suatu permasalahan dengan jelas, dan gue harus tahu dulu apa yang mau ditulis. Ini lagi mau apa, mau ke mana arahnya cerita. Apa yang paling Anda ingat dari Hatta? Waktu kelas 1 SMP, gue baca buku Hatta dari koleksi bokap . Judulnya Pengantar ke Djalan Ilmu dan Pengetahuan. Karya yang luar biasa. Sejak itu gue jadi pengagum berat Bung Hatta. Buku itu tipis. Isinya tentang logika dasar yang mengubah pola pikir gue . Gue bingung kenapa buku itu nggak pernah masuk kurikulum. Bukunya mudah dibaca, mudah dimengerti. Apa yang bisa Anda pelajari dari buku itu? Hatta mampu menyampaikan gagasannya dengan cara simpel. Gue baca bukunya sangat mudah, dibanding baca buku Tan Malaka, misalnya, yang waktu SMP pusing dan baru ngerti pas kuliah apa maksudnya. Bung Hatta hanya sekali lewat. Namun bukan berarti tidak berbobot. Dia berbicara dengan jelas dan jernih, mudah dimengerti, tetapi bukan kacangan dan tanpa pesan. Secara pribadi gue juga berusaha melakukan hal sama dalam menulis skenario. Bagaimana pesannya mudah disampaikan, tetapi bukan kacangan. Bagaimana cara Anda mengingat idola Anda itu? Saya bikin skenarionya, tentang Hatta, terlepas nanti difilmkan atau nggak .

  • Rektor Tak Lulus Kuliah

    Keputusan bahwa rektor akan ditentukan oleh presiden mendapat soroton. Wewenang menunjuk rektor pernah dimiliki oleh Presiden Sukarno. Salah satunya, ketika dia mengangkat Kolonel M. Jasin, Panglima Kodam I/Iskandar Muda menjadi rektor pertama Universitas Syah Kuala (Unsyiah) di Banda Aceh. Penunjukan tersebut karena Jasin berhasil menciptakan keamanan di Aceh setelah membujuk Daud Beureueh, pimpinan DI/TII turun gunung. Didirikan pada 2 September 1961, Unsyiah merupakan perguruan tinggi negeri tertua di Aceh. Pendirian Unsyiah dikukuhkan dengan Kepres No. 161 tahun 1962 tanggal 24 April 1962. Tiga hari kemudian, Sukarno melantik Jasin menjadi rektor. Saat dilantik, Jasin enggan mengenakan pakaian resmi akademik. Dia dilantik dengan mengenakan pakaian militer. Menariknya, Jasin sebenarnya ingin melanjutkan studinya di Fakultas Hukum Unsyiah setelah gagal menyelesaikannya di Universitas Padjadjaran, Bandung, karena tugas militer. “Niat ini terpaksa saya tanggalkan juga, karena aneh bahwa seorang rektor juga menjadi mahasiswa di universitasnya sendiri,” kata Jasin dalam memoarnya Saya Tidak Pernah Minta Ampun kepada Soeharto. Khawatir menimbulkan isu militer masuk kampus, Jasin menerima pengangkatan itu sebagai dalam keadaan darurat. Dia pun hanya mengurusi pencarian dana untuk kampus. Dia tidak mengurusi langsung bidang akademik yang diserahkan kepada Syamsuddin. Dia diundang rapat dengan dosen bila mereka memerlukan keputusan dari rektor. “Keadaan kurang aman cukup lama membuat kesulitan mencari dana. Untuk itu diperlukan kekuasaan yang dapat dengan cepat mengalirkan dana ke universitas. Dan tugas saya memang dalam bidang ini,” kata Jasin. Namun, Jasin tidak menyebutkan bagaimana dan dari mana dia mendapatkan dana. Jasin berpendapat bahwa pendirian Unsyiah terkesan agak dipaksakan karena pendanaan sebenarnya belum tersedia. Selain sebagai bagian dari pembangunan kebudayaan dan pendidikan di Aceh, dia memandang pendirian universitas itu “merupakan penebusan kesalahan Bung Karno karena janjinya terhadap rakyat Aceh yang telah begitu banyak berjasa dalam menyumbang Republik, agak lama terabaikan.” Besarnya sumbangan rakyat Aceh dalam perjuangan kemerdekaan membuatnya disebut Daerah Modal Republik Indonesia. Jasin tak lama menjabat rektor Unsyiah. Dia mengajukan pindah kepada Kasad Jenderal TNI Achmad Yani. Alasannya, dia tidak ingin terlalu lama bertugas di suatu daerah. Dia menjabat Panglima Kodam I/Iskandar Muda selama dua setengah tahun. Pada 1965, Brigjen TNI Jasin menjabat Atase Militer di Moskow, Uni Soviet. Pasca peristiwa Gerakan 30 September, dia melakukan screening terhadap mahasiswa Indonesia di seluruh Eropa Timur. Sebagai Panglima Kodam VIII/Brawijaya di Jawa Timur, dia menggelar Operasi Trisula untuk memburu anggota PKI di Blitar. Kariernya di militer sampai menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat. Sempat menjabat sekretaris jenderal Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik, Jasin mengisi masa pensiun dengan berwiraswasta. Bersama tokoh-tokoh terkemuka, dia menandatangani Petisi 50 yang mengkritik Presiden Soeharto. Dia meninggal pada 7 April 2013.

  • Si Pitung dari Ciamis

    TERSEBUTLAH di Tasikmalaya dan Ciamis, Jawa Barat pada tahun 1920. Kondisi ekonomi tak menentu. Harga-harga kebutuhan pokok tak terjangkau oleh rakyat kecil hingga menyebabkan kelaparan dan penindasan oleh para rentenir. “Dalam situasi seperti itu, salah seorang anggota Sjarikat Islam (SI) afdeeling B bernama S.Gunawan membentuk Sjarikat Rakjat (SR),” ujar Muhajir Salam, sejarawan Tasikmalaya kepada Historia . SR banyak mendapat dukungan dari rakyat. Bukan hanya rakyat kebanyakan tapi juga sejumlah jawara (pendekar). Salah satunya bernama Djoeminta. Dengan kondisi masyarakat di sekitarnya, Djoeminta merasa prihatin dan iba hati. Karena uang tak punya, ia lantas menggunakan keahliannya berkelahi untuk menolong rakyat miskin, laiknya Si Pitung yang pernah menjalankan aksi-aksi serupa di Batavia puluhan tahun sebelumnya. “ Ia kerap mengambil secara paksa bahan-bahan makanan yang berada di tangsi-tangsi milik tentara Belanda,” tulis Dharyanto Tito Wardani dalam “Menabuh Genderang Perang: Pemberontakan Sarekat Rakyat di Priangan Timur” ( Jurnal Historia Soekapoera Vol.4 No.1, 2016) Menurut Dharyanto, selain dari tangsi-tangsi militer Belanda, Joeminta pun merampok kantor-kantor pemerintahan kolonial. Hasil dari rampokan tersebut lantas didistribusikan oleh Djoeminta kepada rakyat miskin di seluruh Ciamis. Tak jarang, saat membagikan hasil rampokan itu, Djoeminta lakukan sendiri dengan memanggul beras-beras langsung ke rumah-rumah rakyat miskin. Pihak pemerintah Hindia Belanda tentu saja marah dengan aksi-aksi Djoeminta. Mereka lantas mengerahkan para centeng dan jawara untuk menangkap Si Pitung dari Ciamis itu. Namun keahlian bela diri Djoeminta tak jua tertandingi. Alih-alih berhasil menangkap sang perampok budiman tersebut, para centeng malah banyak yang keok saat bertarung melawannya. Polisi pun lantas dikerahkan untuk meringkusnya. Tetapi Djoeminta selalu dapat meloloskan diri. Rupanya kebaikan dan kejujuran pribadinya membuat rakyat selalu berupaya menyelamatkan Djoeminta dari kejaran aparat kolonial dan para centeng. Tidak hanya merampok, Djoeminta pun aktif dalam kegiatan-kegiatan politik yang digarap oleh SR. Bahkan, menurut Dharyanto, SR mempercayainya sebagai tenaga agitasi dan propaganda sekaligus sebagai ahli mobilisasi massa dalam berbagai vergadering (rapat massa). Justru saat vergadering di Desa Maleber, Djoeminta diringkus oleh polisi Hindia Belanda pada sekitar 1924. Ia kemudian dibuang ke Boven Digul. Setelah beberapa tahun, Djoeminta dipulangkan ke Jawa Barat dan menetap di wilayah Banjar Patroman. Merasa hidupnya terus diawasi, ia memutuskan untuk pensiun dari dunia politik serta menyibukan diri dalam keseharian sebagai petani dan pengajar Al Qur’an hingga akhir hayatnya.

  • Jebakan Hoax dari Rezim Soeharto hingga Kini

    ORDE Baru Soeharto dibangun dari hoax. Hari-hari awal pasca-G30S adalah periode krusial hoax sejarah diciptakan. Pada periode krusial itulah narasi tentang para jenderal yang dimutilasi oleh Gerwani berkembang. Hasil visum dokter yang mengotopsi jenazah para jenderal yang dibuka kemudian membuktikan bahwa itu hoax.

  • Jebakan Warisan Inggris di Indonesia

    Tak lama Inggris bercokol di tanah Jawa. Hanya lima tahun, sejak 1811-1816. Tak banyak pula sumber tertulis mengenai pandangan Jawa terhadap pendudukan kolonialisme Inggris. Sebaliknya, dari perspektif Inggris lebih banyak ditemukan. Namun, wawasan menarik dari perpektif Jawa terungkap dengan baik lewat Babad Bedhah ing Ngayogyakarta (1816). Babad ini adalah buku harian milik seorang pangeran senior di Keraton Yogyakarta, Pakde Pangeran Diponegoro, Pangeran Aryo Panular (1771-1826). Pangeran Panular mengawali babadnya di tengah-tengah serangan Inggris ke Yogyakarta pada pagi buta 20 Juni 1812 dan mengakhirinya pada Agustus 1816. Sejarawan Peter carey mengungkapkan, babad ini memberikan sudut pandang baru mengenai pendudukan Inggris di Jawa. Babad ini berisi keprihatinan, ketakutan, dan aspirasi dari seorang Pangeran Jawa pada masa itu. Panular juga melukiskan kondisi cerminan kepribadian kebudayaan dan masyarakat dari keraton yang dihancurkan oleh trauma Perang Jawa. Satu masyarakat yang tidak hanya penuh kesangsian akan masa depan, tetapi juga memelihara kemegahan masa lalu. “Babad ini memetakan nasib masyarakat di ambang era baru, membantu memperbaiki posisi tak imbang antara sejarah penjajah dengan yang dijajah,” ungkap Peter Carey dalam peluncuran buku terbarunya, Inggris di Jawa, dalam diskusi berjudul The Meaning and Legacy of Raes for Present-Day Indonesia, di Kedutaan Besar Inggris, Jakarta, Kamis (25/5). Sementara dari pihak Inggris, pandangan terhadap Jawa banyak diungkapkan, misalnya Sir Stamford Raffles lewat History of Java. Dalam hal ini, Farish Ahmad Noor, sejarawan dari Nanyang University, Singapura, berpendapat, karya ini harus dimaknai dengan kekinian. “Ini bukan soal sejarah Jawa, tapi sejarah Raffles sendiri,” ujarnya. Menurutnya, membaca buku ini haruslah seperti membaca sebuah teks. Kuasa yang dihasilkan karya itu luar biasa besar. Buku ini menentukan perspektif penjajah mengenai Jawa. “Buku ini semacam power , kuasa, lebih everlasting . Jadi bukan hanya dalam bentuk meriam, bom, dan lain-lain,” ujar Farish. Karya ini, kata Farish, merupakan laporan kepada pemerintah kolonialis apa yang dia lakukan di daerah jajahannya. “Saya berjaya,” lanjutnya. History of Java juga akhirnya mampu mentransformasikan sosok Raffles dari seorang kolonialis menjadi ilmuwan. Apa efeknya hingga kini? Farish menekankan, salah satunya soal budaya komodifikasi saat ini tak bisa lari dari abad 19. Lewat karya itu, Raffles sedang merekayasa Jawa. “Suatu idea yang bisa memberikan justifikasi terhadap kebijakan politik dan propaganda,” ungkapnya. Berkatnyalah rekonstruksi mengenai stereotip Asia, khususnya Jawa, terbentuk dan terus diwariskan hingga sekarang. “Isinya bahwa Jawa is not good enough, tidak terlalu beradab, primitif, dan lain-lain. Efeknya sampai sekarang,” tutur dia. Memasuki era komodifikasi seperti sekarang, Farish melihat masyarakat kekinian seperti kembali dalam kebekuan tulisan History of Java . Orang Jawa yang berblangkon, berkain batik, seakan menjadi sesuatu yang esensial bagi budaya Jawa. “ It’s a trap! (Ini jebakan),” serunya. “Bukan Rafflesnya yang penting tapi kompeninya. Ini bicara soal negara yang paling berkuasa saat itu.”

  • Cara Orba Kuasai Berita

    Reformasi telah bergulir 19 tahun. Keran demokratisasi terbuka lebar, kebebasan pers mengalir deras. Media bermunculan bak cendawan di musim hujan. Kebebasan mengemukakan pendapat kini dijamin oleh pemerintah. Tetapi, masih ada sebagian kalangan yang merindukan masa-masa rezim Soeharto berkuasa. Slogan “enak jamanku, tho ?” belakangan menyeruak.

  • Pengusaha Tionghoa Penyelundup Senjata

    PADA 17 Maret 2014, Pemerintah Provinsi Lampung memberikan penghargaan kepada delapan tokoh Lampung, salah satunya Ang Tiauw Bie sebagai tokoh pelayaran. Sebenarnya, Ang lahir di Pandeglang, Banten pada 1892 –sumber lain menyebut dia berasal dari Tangerang, Banten. Kemiskinan membuat Ang tak bisa sekolah. Sulung dari lima bersaudara pasangan Ang Sioe Hok dan Tan Djin Nio ini kemudian bekerja sebagai penjaga kebun kelapa. Pak Ubi, demikian sapaannya semasa muda, kemudian belajar berdagang kopra dari pamannya, Ang Sioe Tjwan. Dia mondar-mandir Merak-Lampung. Pada 1930-an, dia menetap di Teluk Betung, Lampung, untuk berdagang hasil bumi dan mendirikan usahanya sendiri, pabrik minyak kelapa dan pabrik sabun. Menurut Twang Peck Yang dalam Elite Bisnis Cina di Indonesia dan Masa Transisi Kemerdekaan 1940-1950 , di antara pengusaha-pengusaha baru di berbagai bidang usaha di Sumatra dan Jawa, Ang adalah satu-satunya peranakan yang menguasai bahasa Indonesia dan berhasil sukses. Di rumah, dia menggunakan bahasa Indonesia dan sedikit menguasai bahasa Hokkien. Sebelum perang, Ang telah menjadi pengusaha berpenghasilan besar. Selain memiliki pabrik kelapa sawit kecil bernama Swan Liong, dia juga bermitra dengan seorang warga negara Jerman dalam kepemilikan sebuah kapal kayu berbobot mati 25 ton yang digunakan untuk mengekspor hasil-hasil bumi. “Dia seorang big brother di sebuah organisasi Cina peranakan tradisional: Ho Hap yang fungsi utamanya di abad ke-20 berkaitan dengan kesejahteraan sosial kalangan peranakan, termasuk dalam hal pemakaman orang meninggal dan perlindungan terhadap anggota-anggotanya,” tulis Twang. Namun, menurut Twang, terdapat indikasi bahwa Ho Hap berprinsip anti-Belanda. Ia organisasi masyarakat Tionghoa yang tidak dianggap bermusuhan oleh pihak Jepang. Menurut Sam Setyautama dalam Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia , ketika Jepang datang pada 1942, pabriknya dibumihanguskan, namun setahun kemudian dia berhasil membangunnya kembali. Setelah pabriknya beroperasi kembali, dia membuka kebun kopi di Waylima, Simpang Kiri, dan Bernung, Lampung Selatan. Dia juga membuka kebun kelapa Sibalong di Kalianda, Lampung. Namun, menurut Twang, Ang berhubungan dekat dengan Gunseikanbu (pemerintah militer Jepang). Pabrik minyak kelapanya di Tanjung Karang bahkan berganti nama menjadi Yamato. Dia sukses menjalankan usahanya. Pada masa revolusi kemerdekaan, perdagangan Ang semakin maju sehingga dia dapat membeli dua kapal layar yang dinamai Sri Menanti dan Sri Nona untuk mengangkut hasil bumi ke Jawa dan Singapura. “Kapal-kapal itu sekembalinya dari Singapura diisinya senjata untuk keperluan TNI (Tentara Nasional Indonesia),” tulis Sam. Twang menambahkan bahwa selama masa revolusi, Ang digambarkan sebagai “tokoh pemimpin Cina di Teluk Betung, seorang penyelundup senjata.” “Seperti sejumlah totok penyelundup lainnya, keluarga Ang ikut ambil bagian dalam operasi penyelundupan yang berpusat di Palembang, Jakarta, dan Lampung,” tulis Twang. Tentu saja, penyelundup senjata legendaris adalah Laksamana John Lie (Jahja Daniel Dharma) yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pertama dari Tionghoa. Namanya juga dijadikan nama KRI John Lie. Pada 1948, Ang mendirikan firma NV Handel Mij Swan Liong di Jakarta yang mengurusi perdagangan hasil bumi, bertindak selaku agen komisi, dan mengelola gudang-gudang penyimpanan. Awal era 1950-an, dia melanjutkan operasi pabrik minyak kelapanya yang telah dimekanisasi dan dipindahkan dari Tanjung Karang ke Teluk Betung. Pada saat yang sama, Ang menjalankan usaha pelayaran (Swan Liong NVHM Bagian Pelayaran). Sebelum tahun 1950, firma ini hanya memiliki dua perahu kecil bernama Teluk No. 1 dan Teluk No. 2 –mungkinkah nama itu perubahan dari Sri Menanti dan Sri Nona ? Memasuki tahun 1951, dia menambah lima kapalnya sehingga kapalnya sampai Teluk No. 7 –sumber lain menyebut dia memiliki kapal Teluk 1-9 dan 11. Masing-masing kapal berbobot mati sekitar 100 ton, melayani pelayaran antarpulau, terutama antara Jakarta, Lampung, Palembang, dan Pontianak. Dengan perusahaan pelayarannya itu, menurut Siauw Giok Tjhan dalam Lima Jaman Perwujudan Integrasi Wajar , Ang menjadi salah seorang pelopor dalam usaha perhubungan antarpulau. Dia usahawan besar dan perusahaannya berkembang dengan baik. Perusahaan pelayarannya kemudian berganti nama menjadi PT Naga Berlian. Sedangkan perusahaan dagangnya menjadi PT Naga Intan. “Anak cucunya yang memperoleh didikan sekolah yang cukup tinggi ternyata tidak dapat mempertahankan dan mengembangkan usaha yang telah dimulainya itu,” kata Siauw Giok Tjhan. Menurut Sam, Ang bergaul dengan para petinggi negara antara lain Sukarno, Mohammad Hatta, Sultan Hamengkubuwono IX, dan Residen Lampung Basyid. Atas jasanya menyelundupkan senjata untuk perjuangan kemerdekaan, pada 1958 Menteri Pertahanan Djuanda menganugerahkan penghargaan Satyalencana Persiapan Kemerdekaan Kesatu dan Kedua. Pada 1959, dia mendapat penghargaan Satyalencana Gerakan Operasi Militer III dan IV. Yang menarik, pada 15 Januari 1960, Sukarno memberinya nama: Anggakusuma. Dan pada 20 Februari 1963 dia diakui sebagai veteran Republik Indonesia dengan Keputusan No. 35/H/Kpts/MUV/63. Ang pernah menjadi direktur Thong Bie Kongsi sewaktu perusahaan itu berubah menjadi PT Dayasakti di Teluk Betung. Usahanya melebar ke bidang farmasi, apotek, dan pabrik obat. Dia banyak membantu perkumpulan sosial seperti Ho Hap (Tolong Menolong) dan Hok Kian Hwee Koan (Perkumpulan Sosial Dharma Bakti). Dia juga banyak menyumbang pada klenteng Thai Hien Bio di Teluk Betung dan klenteng di Banten. Dia meninggal pada 10 September 1971 dan dimakamkan di Kebon Nanas, Jatinegara, Jakarta Timur.*

  • Dari Matulessia Menjadi Matulessy

    Pada 15 Mei 1817, Kapitan Pattimura memimpin penyerangan ke benteng Belanda, Duurstede. Tanggal itu diperingati sebagai Hari Pattimura. Pattimura merupakan gelar yang disandang oleh Thomas Matulessia yang lahir pada 1783 di negeri Haria. Thomas adalah anak kedua dari pasangan Frans Matulessia dan Fransina Silahoi. Kakak Thomas adalah Johannis. Leluhur keluarga Matulessia berasal dari Seram. Turun-temurun mereka berpindah ke Haturessi (sekarang negeri Hulaliu). Moyang Thomas berpindah ke Titawaka (sekarang negeri Itawaka). Di antara turunannya ada yang menetap di Itawaka, ada yang berpindah ke Ulat, ada yang kembali menetap di Hulaliu, dan ada yang berpindah ke Haria. Yang di Haria menurunkan ayah dari Johannis dan Thomas. Ibu mereka berasal dari Siri Sori Serani. Thomas tidak menikah. Sedangkan Johannis menurunkan keluarga Matulessy yang berdiam di Haria. Zeth Matullesy, seorang pegawai pekerjaan umum Provinsi Maluku, menjadi ahli waris Thomas dan Johannis, yang memegang surat pengangkatan Kapitan Pattimura sebagai Pahlawan Nasional. Dia juga menyimpan pakaian, parang dan salawaku milik Pattimura. “Keluarga Matulessia beragama Kristen Protestan. Nama Johannis dan Thomas diambil dari Alkitab,” tulis I.O. Nanulaitta dalam Kapitan Pattimura . Nanulaitta terlibat dalam penyusunan naskah Perjuangan Pattimura dalam Pengembangan Ampera dari Masa ke Masa pada 1966 yang disusun oleh Panitia Penggalian Sejarah Pahlawan Nasional Pattimura. Belakangan, ada pendapat bahwa Pattimura adalah muslim. Menurut Nanulaitta, pengangkatan Thomas sebagai panglima perang dan bergelar Pattimura ditetapkan dalam Proklamasi Haria pada 29 Mei 1817. Proklamasi ini berisi 14 keberatan atas kekejaman Belanda sehingga rakyat mengangkat senjata. Proklamasi yang ditandatangani oleh 21 raja ini, juga menjadi dasar hukum bagi perang melawan Belanda yang pecah pada 15 Mei 1817. Perlawanan Pattimura berakhir pada 16 Desember 1817. Dia bersama Kapitan Anthone Rhebok, Letnan Philip Latumahina, dan Said Perintah (Raja Siri Sori Islam), digantung di luar benteng Victoria, Ambon. Menurut Nanulaitta, berdasarkan keterangan beberapa orang yang bermaga Matulessy, setelah perang Pattimura, Belanda tidak menerima raja, patih, murid, pegawai, serdadu atau agen polisi, yang bermarga Matulessia. Matulessia merupakan perubahan dari Matatulalessi (mata: mati, tula: dengan, lessi: lebih). “Fam itu harus diganti, lalu ada keluarga yang berganti fam menjadi Matulessy atau Matualessy,” tulis Nanulaitta. Namun, ada yang tetap memakai Matulessia. Di Hulaliu, keluarga itu mengganti namanya menjadi Lesiputih artinya putih lebih yang mengandung makna orang putih yang menang. Pada 1920, atas rekes (surat permohonan) dari keluarga tersebut, Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum, memutuskan mengizinkan keluarga Lesiputih memakai nama Matulessy lagi.

  • Siapa Sebenarnya Kakek Gajah Mada?

    “Pada saka 1213/1291 M, Bulan Jyesta, pada waktu itu saat wafatnya Paduka Bhatara yang dimakamkan di Siwabudha…Rakryan Mapatih Mpu Mada, yang seolah-olah sebagai yoni bagi Bhatara Sapta Prabhu, dengan yang terutama di antaranya ialah Sri Tribhuwanottunggadewi Maharajasa Jayawisnuwarddhani, cucu-cucu putra dan putri paduka Bhatara Sri Krtanagarajnaneuwarabraja Namabhiseka pada waktu itu saat Rakryan Mapatih Jirnnodhara membuat caitya bagi para brahmana tertinggi Siwa dan Buddha yang mengikuti wafatnya paduka Bhatara dan sang Mahawrddhamantri (Mpu Raganatha) yang gugur di kaki Bhatara.” Demikian bunyi Prasasti Gajah Mada yang bertarikh 1273 saka atau tahun 1351. Sebagai mahamantri terkemuka, Gajah Mada dapat mengeluarkan prasastinya sendiri dan berhak memberi titah membangun bangunan suci (caitya) untuk tokoh yang sudah meninggal. Prasasti itu memberitakan pembangunan caitya bagi Kertanagara. Raja terakhir Singhasari itu gugur di istananya bersama patihnya, Mpu Raganatha dan para brahmana Siva dan Buddha, akibat serangan tentara Jayakatwang dari Kadiri.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page