top of page

Hasil pencarian

9795 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • The Mercy, Berlayar dan Tak Kembali

    DI tengah kerumunan wartawan dan pengunjung pameran Earls Court Boat Show ke-25 tahun 1967, Donald Crowhurst (diperankan Colin Firth) tenggelam dalam lamunan kala mendengarkan kisah Sir Francis Chichester (Simon McBurney) di atas panggung. Sir Francis merupakan pelaut pertama yang berlayar mengelilingi bumi seorang diri (1966-1967). Sir Francis yang mengambil jalur lautan selatan mengarungi tiga samudera dengan sekali pemberhentian di Sydney, Australia. Hari itu, Suratkabar The Sunday Times  menggelar Golden Globe Race 1968-1969 guna menantang para pelaut untuk berlayar mengelilingi bumi non-stop. “Satu-satunya hal yang bisa saya bayangkan untuk lebih menguji seseorang mengarungi dunia sendirian adalah dengan tidak berhenti sama sekali. Seseorang pernah berkata bahwa gelombang di lautan selatan tak bisa diukur dengan inci atau kaki tapi tingkat rasa takut. Seseorang juga harus menjawab tantangan untuk keluar dari bayang-bayang orang lain dan dengan alasan itu saja, kita harus bersyukur dengan luasnya lautan dan itu jadi panggilan bagi para petualang,” kata Sir Francis di atas panggung. Pidato itu menggugah nyali Crowhurst, pelaut amatir yang sedang membangun ekonominya dengan menjual perangkat navigator elektronik. Ia menganggap jika bisa ikut perlombaan Golden Globe Race berhadiah 5.000 poundsterling itu, perusahaan yang tengah dibangunnya, Electron Utilisation Teignmouth, akan ikut terkenal. Sir Francis Chichester kala berpidato di Boat Show 1968 ( studiocanal.com ) Walau Clare Crowhurst (Rachel Weisz) istrinya mengkhawatirkan akan terjadi apa-apa pada suaminya, Crowhurst bersikukuh mengikuti ajang tersebut. Rumah dan aset perusahaannya pun diagunkan pada seorang investor, Stanley Best (Ken Stott), demi mendapatkan dana membangun trimaran (perahu berlambung tiga) yang didesainnya sendiri. Untuk menggalang dukungan materi dan sponsor lain, Crowhurst menyewa jasa eks wartawan Rodney Hallworth (David Thewlis) sebagai humasnya. Namun, keraguan justru muncul dalam benaknya pada malam sebelum keberangkatan. Perasaan ingin mundur memenuhi batin Crowhurst. Ia sampai diperingatkan Hallworth dan Best bahwa dukungan sponsor tak bisa ditarik kembali dan rumah serta aset perusahannya akan disita jika mundur. Situasi penuh dilematis itu sekadar bagian dari prolog drama biopik bertajuk The Mercy garapan sineas James Marsh. Drama tersebut diangkat dari kisah nyata petualangan Crowhurst mengarungi lautan. Cerita lalu berganti ke momen pagi 31 Oktober 1968. Tanggal ini merupakan hari terakhir pemberangkatan peserta. Kolase Crowhurst di atas geladak perahu trimaran Teignmouth Electron  ( studiocanal.com ) Crowhurst jadi peserta terakhir yang berangkat. Setelah dilepas keluarga, warga, hingga Walikota Teignmouth Arthur Bladon (Geoff Bladon) di Dermaga Teignmouth, dia berangkat menyusul delapan pelaut yang sudah berangkat beberapa bulan sebelumnya menggunakan Teignmouth Electron , wahana laut trimarannya. Hampir setiap pekan sekali ia melaporkan perjalanannya melalui telepon, dua catatan harian, dan masing-masing satu alat perekam dan kamera video yang disediakan BBC sebagai salah satu sponsornya. Namun, ratusan hari sendiri hanya ditemani terik matahari siang dan ganasnya ombak lautan perlahan memengaruhi kondisi mental Crowhurst. Keadaan menjadi kian berat karena mesin trimarannya mati. Praktis Crowhurst tinggal mengandalkan angin untuk menggerakkan layar perahunya. Jiwanya perlahan terganggu. Ia mulai berhalusinasi. Namun yang terpenting, ia sadar takkan bisa pulang karena sejak hari ke-125 ia memalsukan laporan lokasinya. Alih-alih bicara jujur kepada istri dan Hallworth bahwa ia tak pernah berlayar sampai ke selatan Samudera Atlantik, Crowhurst malah merekayasa perjalanannya. Dia bilang, sudah melewati Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Bagaimana Crowhurst yang terombang-ambing di lautan bisa bertahan dengan mentalnya yang mulai terganggu itu? Saksikan kelanjutan kisah The Mercy di aplikasi daring Mola TV. Menghormati Kisah Nyata Plotnya sederhana. Iringan music scoring nan melankolis garapan mendiang komposer Jóhann Jóhannsson juga tak terlalu mendominasi setiap adegan. Marsh seolah membiarkan suara alam seperti deburan ombak atau hembusan badai mendominasi guna mengarahkan nuansa entah mengerikan, tragis, atau yang menyentuh. Tak banyaknya dramatisasi kisah Crowhurst dalam film ini bukan tanpa alasan. Marsh beralasan mengapa dia memilih meracik filmnya seotentik mungkin sesuai fakta adalah demi menghormati sosok Crowhurst dan keluarganya. “Filmnya dibuat seakurat mungkin dari buku harian dan rekaman komunikasinya. Saat Anda dikonfrontasikan dengan kisah nyata, di situlah Anda tahu tak bisa mengubahnya. Anda harus menghormati kisah nyata dengan tidak mengikuti narasi film konvensional sebagaimana lazimnya,” kata Marsh kepada Vulture Hound , 30 Mei 2018. Kolase Crowhurst yang ditimpa kemalangan selama pelayaran ( studiocanal.com ) Baginya, kisah Crowhurst sudah menjadi narasi menarik dan tragis. Penjelasannya panjang, dari mulai bagaimana seorang pebisnis medioker menantang dirinya sendiri agar bisa dibanggakan keluarga, konflik batin dari seseorang yang mempertaruhkan segalanya demi kehormatan, hingga seseorang yang kemudian menyadari bahwa dirinya mulai dilanda gangguan mental akibat “terisolasi” di lautan. Patut diacungi jempol adalah Colin Firth. Dia mampu membawakan semua itu dengan apik. Walau hanya berbekal membaca dua buku harian Crowhurst dan biografi The Strange Last Voyage of Donald Crowhurst (1970) karya Nicholas Tomalin dan Ron Hall, Firth bisa menghadirkan dilema, rasa putus asa dan konflik batin yang dialami Crowhurst. Simon Crowhurst, salah satu putra Donald Crowhust, sampai mengakui bahwa peran yang dimainkan Firth sangat menyentuh. Meski begitu, Simon tak serta-merta mengatakan yang dilakonki Firth sesuai dengan apa yang dialami ayahnya. Pasalnya, untuk itu ada alasan tersendiri yang dia pun belum mengetahui pasti. “(Peran Firth) menangkap beberapa emosi yang menyedihkan. Hal lainnya lebih kompleks dan sulit untuk diuraikan. Terutama terkait (adegan) pikiran ayah saya yang mulai kebingungan. Anda bertanya-tanya apakah rekonstruksi memori itu benar. Khususnya saat ia mengalami stres: apakah itu yang dirasakan ayah saya? Apakah itu yang ada di kepalanya ketika ia membuat keputusan-keputusan yang berakhir buruk?” ungkap Simon kepada The Guardian , 3 Februari 2018. Colin Andrew Firth (kiri) yang memerankan sosok Donald Charles Alfred Crowhurst ( studiocanal.com/Teignmouth & Shaldon Museum) Terobsesi Petualangan Sebagaimana digambarkan dalam film, Crowhurst begitu terobsesi dengan para penjelajah Inggris, terutama Kapten Robert Scott yang menjelajahi Antarktika pada 1910 dan Sir Edmund Hillary yang mendaki Gunung Everest pada 1949. “Semua khayalan harus disingkirkan. Sementara mimpi-mimpi adalah benih dari tindakan-tindakan,” kata Crowhurst mengutip catatan harian Kapten Scott sebelum tewas di Kutub Selatan. Dalam kehidupan nyata, Crowhurst mendambakan jadi penjelajah lautan sejak kecil. Sebagaimana dituliskan Hall dan Tomalin, Crowhurst yang lahir di Ghaziabad, India pada 1932 punya mainan perahu kesayangan di samping menyimpan sebuah buklet berisi kisah ekspedisi. “Dia punya buklet berjudul Heroes All , di mana di dalamnya berisi satu cerita, ‘Alone Around the World’, tentang pelaut solo bernama Alain Gerbault. Pesan dari kisah itu sangat menggugahnya: ‘Petualangan berarti mengambil risiko pada sesuatu…seseorang yang tak pernah berani takkan pernah berhasil; seseorang yang tak pernah mengambil risiko takkan pernah menang’,” tulis Tomalin dan Hall. Namun, nyali Crowhurst baru tergugah setelah mendengar pelaut tua cum veteran Perang Dunia II Chichester berhasil berlayar solo mengelilingi dunia hanya dengan sekali pemberhentian di Sydney (1966-1967). Walau mengidap kanker paru-paru sejak 1958, Chichester yang berusia 65 tahun itu mampu melakoninya seorang diri menggunakan perahu Gypsy Moth IV. Dimulai di Plymouth pada 27 Agustus 1966, Chichester berlabuh di Sydney pada 12 Desember setelah 107 hari mengarungi lautan. Itu terpaksa dilakukannya untuk memperbaiki dasar lambung perahunya. “Mari akui bahwa setelah 107 hari sendirian, Anda takkan merasa normal seperti biasanya. Kondisi saya lebih kurus dan nyeri di mana-mana. Kulit saya kian keriput dan kering. Saya merasa pelayaran ini membuat saya sadar bahwa ada sebuah batasan. Saya merindukan kekuatan tubuh saya di masa muda. Dan saya bisa mengerti bagaimana seseorang bisa berubah menjadi gila,” kata Chichester kepada Sydney Morning Herald , 13 Desember 1966. Sosok asli Sir Francis Charles Chichester ( npg.org.uk ) Chichester yang melanjutkan pelayarannya ke arah timur menuju Amerika Selatan akhirnya tiba kembali di Plymouth pada 28 Mei 1967. Keberhasilannya membuat Chichester diberi gelar “Sir” oleh Ratu Elizabeth II sehingga nama resminya menjadi Sir Francis. “ BBC menyiarkan langsung saat ia berlutut di hadapan ratu dalam upacara penobatan dengan sebilah pedang. Pedang yang sama saat kerajaan menobatkan Francis Drake 400 tahun sebelumnya. Bukan kebetulan rute Sir Francis keliling dunia mengingatkan pihak kerajaan pada masa berabad-abad lalu. Dia memang mengejar rekor waktu penjelajah dari era Victoria yang biasanya pulang membawa rempah-rempah, emas, wol, dan gandum,” ungkap Chris Eakin dalam A Race Too Far. Hal itu membuat Crowhurst mengaguminya, bahkan sampai iri kendati sebelumnya dia kolektor banyak buku karya Sir Francis tentang penerbangan dan pelayaran. Keirian itu membuatnya menolak ikut perayaan penyambutan kepulangan Sir Francis maupun saat penobatannya. “Ketimbang ikut merayakan ia malah berlayar ke Selat Bristol dengan temannya, Peter Beard dan hanya menyaksikan siaran ulangnya lewat televisi. Crowhurst mencibir (perayaan Sir Francis) dan berkata: ‘Apa yang bikin heboh? Chichester bukan orang pertama yang mengelilingi dunia. Perahunya pun buruk dan dia berhenti sekali di Australia. Satu-satunya hal hebat tentang pelayaran itu hanyalah usia tua Chichester’,” sambung Tomalin dan Hall. Crowhurst di geladak trimaran Teignmouth Electron yang didesainnya sendiri ( teignheritage.co.uk ) Iri hati itu jadi satu faktor pendorong Crowhurst berambisi ikut Golden Globe Race 1968-1969 yang dihelat The Sunday Times. Crowhurst akhirnya berhasil mewujudkan mimpinya dengan mengikuti lomba tersebut. Namun, tragis menimpa Crowhurts. Ia tak pernah kembali. Sejak komunikasinya di akhir Juni, ia hilang tanpa kabar. Baru pada pagi, 10 Juli 1969, Teignmouth Electron ditemukan terombang-ambing di 1.800 mil barat daya Kepulauan Inggris oleh kapal pos Inggris RMV Picardy . Sebelum mendapati realitas itu, nakhoda Picardy Kapten Richard Box berupaya mendekati Teignmouth Electron namun tak mendapati adanya tanda-tanda kehidupan di atas dek trimaran itu. Sang pelaut mungkin tengah tertidur di dalam kabin, pikirnya. Maka peluit kapal dibunyikan sekencang mungkin sebanyak tiga kali. Namun, tiada respon balik yang didapatkan dari Teignmouth Electron . Box akhirnya memerintahkan empat anak buahnya menurunkan sekoci dan naik ke atas trimaran itu. “Kepala kelasi Joseph Clark bersama tiga krunya memasuki kabin dan menyadari perahunya ditinggalkan pemiliknya begitu saja. Saat keluar, Clark memberikan sinyal jempol ke bawah pada kaptennya. Dari pengamatan Clark, keadaan kabin seperti ditinggalkan dengan sengaja. Karena segala sesuatunya berada pada tempatnya, termasuk buku catatan dan perangkat radio. Hanya kronometer perahunya yang hilang,” lanjutnya. Peta rute Golden Globe Race 1968-1969 ( nasa.gov ) Dua buku catatan harian itupun diperiksa. Input terakhir di catatan navigasinya bertanggal 24 Juni dan catatan komunikasi radionya tertulis tanggal 29 Juni. Sementara, salah satu kru Picardy teringat nama Teignmouth Electron. Dari suratkabar The Sunday Times yang dibawa kru itu diketahui bahwa perahu itu memang ikut perlombaan Golden Globe Race dengan pelautnya bernama Donald Crowhurst. Awak Picardy akhirnya mengevakuasi Teignmouth Electron ke dek kapal. Kapten Box segera mengontak London dan minta bantuan pencarian orang hilang pada Angkatan Udara Amerika Serikat. Namun setelah sehari tanpa hasil, pencarian itu dihentikan dan Kapten Box membawa Teignmouth Electron ke Santo Domingo, Republik Dominika. Sir William Robert Patrick Knox-Johnston di atas perahu Suhaili  jadi satu-satunya yang menyelesaikan perlombaan ( goldengloberace.com ) Tiga catatan lalu dibaca dengan seksama oleh Kapten Box. Tak ditemukan adanya tanda-tanda bencana. Semua pesan radio tertulis dengan rapi. Catatan navigasi juga dituliskan dengan baik. Tapi di tiga halaman terakhir, Kapten Box mendapati sebuah misteri dengan tulisan filosofis. “ Alas , aku takkan melihat mendiang ayahku lagi. Alam tak mengizinkan Tuhan berbuat dosa kecuali satu–yaitu rahasia. Inilah akhir permainanku dan akan diselesaikan sebagaimana yang diinginkan keluargaku. Ini sudah berakhir. Inilah belas kasihnya,” demikian bunyi catatan akhir yang dibaca Kapten Box itu. Mendiang Crowhurst ternyata merekayasa jalur pelayarannya, diketahui dari dua buku harian yang ia tinggalkan di kabinnya . Ketika rekayasa itu sampai ke telinga publik Inggris, keluarga Crowhurst pun kian tertekan. Media massa gencar menyebut mendiang Crowhurst sebagai penipu. Hanya beberapa pihak yang berbesar hati memperlihatkan rasa empatinya.Salah satunya Robin Knox-Johnston, satu-satunya peserta yang mampu menyelesaikan perlombaan itu. Dia menyumbangkan hadiah lima ribu poundsterlingnya buat keluarga Crowhurst. Katanya, tak satupun manusia yang berhak menghakimi dia begitu kejam. “Walau pada 1970 Crowhurst dianggap sebagai penipu yang berakhir menyedihkan, kini ia dianggap sebagai pahlawan yang tragis, seseorang yang jiwanya tersiksa, dan terasing dengan dunia mapan. Terlepas dari kecurangannya, ia adalah seorang berani lagi cerdas yang terpaksa bertindak demikian karena keadaan. Fakta bahwa dia membayarnya dengan lebih mahal dari yang sepantasnya jadi bukti akan kualitas dirinya,” ungkap Jonathan Raban dalam artikel “The Long, Strange Legacy of Donald Crowhurst” dalam majalah Cruising World edisi Januari 2001. Deskripsi Film: Judul: The Mercy | Sutradara: James Marsh | Produser: Graham Broadbent, Scott Z. Burns, Peter Czernin, Nicolas Mauvernay, Jacques Perrin | Pemain: Colin Firth, David Thewlis, Rachel Weisz, Ken Stott, Simon McBurney | Produksi: BBC Films, Blueprint Pictures, Galatée Films | Distributor: StudioCanal | Genre: Drama Biopik | Durasi: 110 Menit | Rilis: 28 November 2017, Mola TV

  • Manuskrip-manuskrip tentang Pandemi di Dunia Islam

    ANGKA kenaikan penderita Covid-19 di Indonesia meningkat pesat sepanjang akhir Juni 2021. Pemerintah berupaya mencegah persebaran virus dan dampak sosial-ekonominya dengan penebalan PPKM. Tapi pada sisi lain, sebagian masyarakat tak percaya dengan pandemi. Ini mempersulit ikhtiar pencegahan wabah. Mereka yakin pandemi sebagai buah konspirasi elit global. Beberapa orang bahkan berada pada posisi ekstrem fatalis (menerima nasib) dan angkuh terhadap pandemi. Seringkali mereka menggunakan dalil agama Islam untuk mendukung posisinya. Banyak pula yang menyebarkan hoaks konspirasi wabah berbalut dalil agama Islam. Pandemi bukanlah hal baru bagi masyarakat dunia, termasuk dalam sejarah masyarakat muslim. Dr. Syamsuddin Arif, pakar kajian sains Islam, peneliti senior Institute of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Jakarta, menyebut masyarakat muslim pada masa lampau pernah beberapa kali menghadapi wabah. Salah satunya saat wabah melanda Mesir pada bulan Muharram 816 H (1416 M). Ketika itu 100 orang Mesir meninggal setiap hari akibat wabah. Selain Mesir, wabah parah juga pernah melanda wilayah peradaban Islam dari Anatolia (sekarang wilayah Turki) hingga Suriah. Jejak wabah dalam dunia Islam juga terungkap dalam karya-karya ulama besar pada masa lampau. Karya itu bukan hanya menjabarkan sejarah wabah sejak kurun pertama tahun Hijriah (622 M), tapi juga mengangkat sains wabah dan ilmu kesehatan atau medis. Contohnya karya Jalal al-Din al-Suyuthi dari abad ke-15 M. “Pendek kata, kaum muslimin sudah berkali-kali mengalami musibah serupa sejak kurun pertama Hijriah,” sebut Syamsuddin dalam kata pengantarnya di buku Wabah dan Ta’un: Tinjauan Hadith, Kedokteran, dan Sejarah , terjemahan dan penelaahan dari kitab Ma Rawah al-Wa’un fi Akhbar al-Tha’un  karya Jalal al-Din al-Suyuthi yang terbit abad ke-15 M. Kisah Pilu Wabah Karya al-Suyuthi membahas kemunculan wabah dan ta’un , cara penularan wabah, jenis-jenis wabah (termasuk Wabah Hitam di Eropa pada abad ke-15 M), perbedaan ta’un dan wabah, karantina, dampak sosial-ekonomi wabah, dan kisah-kisah pilu dan kelam sekitar wabah. Al-Suyuthi menyebut wabah sebagai penyakit yang menular kemana-mana. Sekarang istilah medisnya pandemi dan epidemi. Sementara ta’un adalah penyakit mematikan yang aneh luar biasa. “Setiap ta’un adalah wabah, tetapi tidak setiap wabah adalah ta’un ,” sebut al-Suyuthi. Al-Suyuthi juga mengungkap kisah pilu seputar wabah di Syam, Suriah pada 80 Hijriah (702 M). Ada seorang anak kecil yang sampai disusui anjing ketika wabah berjangkit. Semua bermula dari keluarganya yang meninggal dunia akibat wabah. Hanya tersisa anak kecil di keluarga itu. Al-Suyuthi, mengutip penulis kitab Al-Mir’ah , menuturkan sekelompok orang menyaksikan anak itu terkulai lemah di rumah. “Kemudian ada anjing masuk dari sela-sela dinding dan menjilati anak itu. Anak itu merangkak kepadanya sampai ia menghisap susu anjing tersebut,” kutip al-Suyuthi dalam Wabah dan Tha’un: Tinjauan Hadith, Kedokteran, dan Sejarah. Syamsuddin mencatat setidaknya ada 56 karya ulama yang mengangkat bahasan wabah dan penyakit mematikan dari abad ke-3 sampai ke-15 Hijriah. Manuskrip itu terawat dengan baik di pusat penelitian seperti al-Furqan Foundation, London, Inggris; İslam Araştırmaları Merkezi (İSAM), Istanbul, Turki; dan Institut für Geschichte der Arabisch-Islamischen Wissenschaften (IGAW), Frankfurt, Jerman. Soal wabah pun termaktub di dalam karya para ulama masa lampau di tanah Melayu. Sebut saja Bustan al-Salatin  karya Nur al-Din al-Raniri, ulama Melayu sohor dari Aceh yang hidup pada abad ke-17 M. Di dalam “B ab Ketujuh Fasal Ketiga: Pada Menyatakan Ilmu Tashrih dan Ilmu Tibb ”, al-Raniri menyebut salah satu khasiat cuka ( khall ) sebagai obat terhadap sejumlah wabah ( wabak) penyakit. Belum Banyak Dikaji Syamsudin menyebut sebenarnya ada ribuan kitab kuno tentang pandemi dan penyakit mematikan ( ta’un ) dari berbagai antero dunia. Tapi pengkajian para sarjana kiwari tentangnya baru terbatas pada kira-kira 56 kitab. “Sejauh ini belum banyak dilakukan kajian akademik yang serius untuk meneliti dan menguraikan isi kitab-kitab tersebut dari berbagai perspektif,” terang Syamsuddin. Masih ada ribuan kitab karya para ulama masa lampau bertema medis yang masih belum dikaji dengan lebih mendalam. Ribuan kitab sudah masuk ke dalam katalog-katalog manuskrip berbagai perpustakaan. Tapi untuk memproses informasi di dalamnya perlu ikhtiar lebih banyak. “Meskipun sudah dikatalog, para peneliti tetap harus melakukan proses ekstraksi informasi sendiri, baik secara manual maupun digital, untuk mengungkap isi masing-masing naskah kitab-kitab tersebut,” tulis Syamsuddin. Pengkajian manuskrip-manuskrip tersebut tak semata untuk melestarikan warisan ilmiah, tetapi juga dapat dimanfaatkan dalam memajukan dan mengembangkan tradisi ilmiah masyarakat dengan pendekatan multidisiplin keilmuan. Syamsuddin berharap para akademisi dan pakar di bidangnya itu nantinya akan dapat menelaah, menggali, dan melanjutkan karya-karya para ulama ini di masing-masing bidang kepakarannya. “Jadi kalau dia profesor ilmu kedokteran, itu bagaimana dia di samping berkarier secara klinis di rumah sakit, dia juga membaca dan bisa mendiskusikan, dan bisa mengulas dan membuat artikel ilmiah yang dipublikasi di dalam jurnal-jurnal akademik tentang satu bab di kitab-kitab para ulama,” ungkap Syamsuddin dalam acara daring peluncuran buku Wabah dan Ta’un: Perkembangan Tahqiq Turath dan Sains Islam pada 20 Juni 2021. Diapresiasi Dunia Barat Dunia akademik Barat sangat mengapresiasi sejarah keilmuan medis. Contohnya para pelajar dan akademisi ilmu-ilmu medis di Harvard. Mereka menelaah sejarah keilmuan medis di beragam dunia, termasuk di dunia Islam pada masa lampau. “Mereka (para profesor) di Harvard masih tetap mengajar sejarah medis, bukan hanya yang ada di Barat, akan tetapi juga di wilayah-wilayah dunia yang bukan Barat, termasuk di Cina dan India. Mereka (juga) mengajar sejarah Islamic medicine . Dan sebenarnya mereka mengapropriasi (menyesuaikan), serta terus melakukannya,” lanjut Syamsuddin. Sementara masyarakat di Indonesia belum mencapai taraf itu. “Cuma kalau di Indonesia hal ini masih belum banyak yang bisa mengapresiasi dan memahami itu kan. Dia pikir, kalau belajar farmasi ya jadi apoteker. Kalau belajar ilmu kedokteran ya jadi dokter, kerja di industri, kerja di Kimia Farma, buat Pedagang Besar Farmasi (PBF). Ya, yang kayak gitu lah,” lanjut Syamsuddin. Mengkaji ulang manuskrip sains medis bukan hal yang mudah. Menurut Syamsudin, beragam pendekatan metode harus digunakan untuk mencapai hasil yang baik. Seperti penguasaan ilmu filologi, tahqiq, kodikologi, paleografi, dan pendekatan historis untuk memetakan keabsahan dan keaslian manuskrip itu. Tak hanya itu, manuskrip kadang diperdagangkan oleh segelintir orang. Untuk memperolehnya kembali agar itu bisa bermanfaat bagi banyak orang, perlu penebusan harga. Syamsuddin bercerita tentang Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, sejarawan dan filsuf dari Malaysia, membeli sebuah manuskrip karya al-Biruni sekira tahun 1994. Syamsuddin mendapatkan kabar dari seniornya, Zainal Abidin Bagir, adik Haidar Bagir bos penerbit Mizan, yang ketika itu menjadi mahasiswa. Dari keterangan Zainal, Prof. al-Attas membeli naskah itu senilai 40.000 ringgit Malaysia. Ketika itu biaya sebuah pesta pernikahan di Malaysia senilai 10.000 ringgit. “Untuk membeli sebuah manuskrip, setara dengan empat kali menikah di Malaysia,” ujar Syamsuddin. Tapi pada akhirnya, pengkajian ilmiah manuskrip-manuskrip itu telah menyumbang referensi bagi umat manusia dalam menghadapi persoalan pandemi hari ini.*

  • Menggali Isi Prasasti Airlangga di Museum India

    PESTA pernikahan Airlangga dan putri Dharmawangsa Tguh belum juga usai. Tiba-tiba huru-hara datang. Haji Wurawari menyeruduk membawa petaka di tengah kemeriahan pesta. Orang-orang berteriak. Keraton dibakar, runtuh habis tak bersisa. Seluruh Jawa bagaikan tertimpa pralaya. Banyak pembesar yang tewas. Pertama-tama Sri Maharaja Dharmawangsa Tguh. Ketika peristiwa itu terjadi Airlangga masih berumur 16 tahun. Dia lari ke hutan menyelamatkan diri dengan hanya ditemani oleh Narottama, pengikut setianya. Semenjak itu hari-harinya dihabiskan di hutan, berpakaian kulit kayu, makan apapun yang dimakan oleh para orang suci dan penghuni hutan. Teman bicaranya adalah para pertapa ( rsi ). Peristiwa tergulingnya kekuasaan Dharmawangsa Tguh oleh raja bawahannya, Haji Wurawari itu dikenang sebagai peristiwa pralaya, yakni kehancuran dunia pada akhir zaman Kaliyuga yang tak terelakan. Kisah itu diabadikan di dalam Prasasti Pucangan yang dikeluarkan oleh Airlangga, salah satu raja yang memerintah Kerajaan Mataram Kuno setelah pusatnya berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Ada dua prasasti berlainan yang terpahat pada satu batu Prasasti Pucangan. Di sisi depan memakai bahasa Jawa Kuno   dari tahun 963 Saka (1041 M). Sedangkan di sisi sebaliknya memakai bahasa Sanskerta dari tahun 959 Saka (1037 M). Menurut Vernika Hapri Witasari, arkeolog Universitas Indonesia dalam skripsinya “Prasasti Pucangan Sansekerta 959 Saka (Suatu Kajian Ulang)” tahun 2009, kedua prasasti itu ditulis dalam aksara Jawa Kawi akhir sebagaimana prasasti Airlangga lainnya. “Kedua prasasti sepertinya saling mengisi informasi,” jelas Vernika. Sayangnya, belum diketahui pasti di mana prasasti ini ditemukan pertama kali. Airlangga sendiri menerbitkan Prasasti Pucangan untuk memperingati pembuatan pertapaan di lereng Gunung Pugawat. Jadi, menurut Vernika kemungkinan Prasasti Pucangan terletak tidak jauh dari pertapaan. “Brandes dalam bukunya Oud Javaansce Oorkonden menyebutkan prasasti ini berasal dari daerah Surabaya,” tulisnya.  Penemu Prasasti Pucangan juga tidak jelas. Namun, prasasti itu ditemukan pada masa Thomas Stamford Raffles di Jawa. Dia kemudian mengirimkan Prasasti Pucangan kepada Gubernur Jenderal Lord Minto di Kalkuta, India. Sehingga prasasti ini juga dikenal dengan Calcutta Stone. “Tidak ada keterangan yang menjelaskan mengenai fisik prasasti kecuali prasasti itu sudah tak terbaca lagi karena hurufnya sudah aus,”   tulis Ninie Susanti, arkeolog Universitas Indonesia, dalam Airlangga: Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI. Menurut Ninie,   Prasasti Pucangan salah satu prasasti Airlangga yang sangat penting karena memuat riwayat hidupnya dengan jelas. Silsilah Wangsa Isana Secara garis besar Prasasti Pucangan memuat silsilah Wangsa Isana. Silsilah keluarga yang tercantum dalam prasasti dimulai dari Mpu Sindok hingga Airlangga. Mpu Sindok atau Dyah Sindok bergelar Sri Isanatungga. Kedudukan Mpu Sindok di masa pemerintahan Rakai Layang Dyah Tlodhong dan Rakai Sumba Dyah Wawa, yakni berturut-turut sebagai rakryan mapatih i halu  dan rakryan mapatih i hino , yang biasanya dijabat oleh kerabat dekat raja. “Tentu dia masih anggota wangsa Sailendra,” jelas   Vernika. Mpu Sindok membangun kembali Mataram di Jawa Timur ketika pusat kerajaan itu berpindah karena sebab yang masih diperdebatkan. Dia pun dianggap sebagai cikal bakal wangsa yang baru, yaitu wangsa Isana. Selanjutnya Mpu Sindok memerintah sejak 929–948 M, menggantikan pemerintahan Dyah Wawa di Jawa Tengah. Menurut Prasasti Pucangan berbahasa Sanskerta, Mpu Sindok mempunyai putri bernama Sri Isana Tunggawijaya yang bersuami Sri Lokapala. Dia sempat memerintah kerajaan menggantikan ayahnya. Dia disebut dengan Srisanatunggavijayeti rarajarajni, artinya yang mulia paduka Raja Isanatunggawijaya. Vernika menjelaskan, nama putri Mpu Sindok disebutkan pula dalam Prasasti Silet (940 Saka). Dia disebut sebagai Srisanawijaya maharaja. “Dia diberi gelar maharaja untuk menunjukkan dialah yang menggantikan ayahnya duduk di atas takhta, bukan suaminya,” jelas Vernika. Berbeda dengan istrinya, Sri Lokapala tak disebutkan dalam prasasti lain selain Prasasti Pucangan. Di Prasasti Pucangan,   dia pun disebutkan setelah nama istrinya. Namun, dia kemudian mengambil pemerintahan kerajaan. Dalam Prasasti Pucangan terdapat keterangan “seorang anak laki-laki yang unggul yang memerintah bumi”.  “Jadi kemungkinan takhta kerajaan yang sebelumnya sempat dipegang Sri Isanatunggawijaya, beralih ke Sri Lokapala setelah mereka menikah,” jelas Vernika. Disebutkan mereka memiliki putra bernama Sri Makutawangsawarddhana. Darinya lahir putri yang diberi nama Mahendradatta atau Gunapriyadharmmapatni. Gunapriyadharmmapatni kemudian menikah dengan Udayana, raja Bali dari wangsa Warmadewa. Kemudian lahirlah Airlangga. Berikutnya disebutkan kalau Dharmawangsa Tguh yang mewarisi takhta di Jawa Timur. Airlangga, mungkin keponakannya, yang lahir di Bali diundang ke istananya di Jawa Timur dan dinikahkan dengan putrinya. “Maka segeralah tersebar luas kemasyhuran tabiat mulia Erlangga di mana-mana,” catat prasasti itu.  Menurut Ninie dalam laporan penelitian berjudul   “Prasasti-Prasasti Sekitar Masa Pemerintahan Raja Airlangga: Suatu Kajian Analitis” tahun 1996,   dengan menerbitkan prasasti yang memuat silsilah keluarganya, Airlangga sedang melegitimasi kedudukannya di singgasana. Silsilah semacam itu tak disebutkan dalam Prasasti Pucangan berbahasa Jawa Kuno. Sisi prasasti yang berbahasa Jawa Kuno berisi tentang maklumat Airlangga agar wilayah Pucangan, Barahem, Bapuri, tanah milik Wargga Pinhai ditetapkan sebagai sima untuk pembangunan bangunan suci.  Serangan Raja Airlangga Maklumat Airlangga berupa pemberian gelar kehormatan, hak istimewa, dan hak tanah sima  merupakan penghargaan kepada orang-orang yang berjasa memperkuat kedudukannya. Di dalam Prasasti Pucangan, Airlangga memberitakan pula musuh-musuh yang berhasil ditundukkan sebagai pengakuan atas hegemoninya.  Prasasti Pucangan berbahasa Jawa Kuno mencatat beberapa penyerangan yang dilakukan Airlangga antara tahun 1029 (951 Saka) sampai 1037 (959 Saka). Di antaranya serangan Airlangga ke wilayah Wuratan. Dia mengalahkan rajanya yang bernama Wisnuprabhawa pada 1029 (951 Saka). Rupanya raja ini adalah putra dari raja yang ikut menyerang Dharmmawangsa Tguh hingga terjadi Pralaya. Selanjutnya pada 1031 (953 Saka) Airlangga mengalahkan Haji Wengker yang bernama Panuda. “...yang hina seperti Rawana,” catat peasasti itu.  Panuda sempat melarikan diri meninggalkan keratonnya di Lewa. Namun,   dia dikejar ke Desa Galuh dan Barat. Pada 1031 (953 Saka) anaknya dapat dikalahkan, keratonnya pun dihancurkan sampai tak bersisa. Pada 1032 (954 Saka), giliran Haji Wurawari yang dilibas Airlangga. Dengan dikalahkannya Haji Wurawari, maka lenyaplah segala perusuh di tanah Jawa. Sementara dalam Prasasti Pucangan berbahasa Sanskerta disebutkan bahwa pada tahun itu Airlangga juga menyerang seorang ratu perempuan yang gagah perkasa seperti raksasa. Walaupun sulit, Airlangga berhasil menang. Dia mendapat banyak sekali harta rampasan yang dibagikan kepada pasukannya.  Prasasti Pucangan masih menyebut satu serangan lagi kepada Haji Wengker. Ia mungkin memberontak pada 1035 (957 Saka).  “Dengan dibinasakannya Raja Wijayawarmma dari Wengker, maka disebutkan gerakan penaklukan Raja Airlangga telah selesai,” jelas Ninie.  Menurut Ninie, dalam Prasasti Pucangan berbahasa Sanskerta, masa kemenangan dan aman ini diungkapkan dalam kalimat, “maka dia pun duduk di atas singgasana dan meletakkan kakinya di atas kepala musuh-musuhnya”.  Maksudnya adalah semua musuh, mulai dari sebelah timur, selatan, dan barat, telah ditaklukkan Airlangga. “Untuk melepas nazarnya raja membangun pertapaan di Gunung Pugawat,” jelas Ninie. Masa konsolidasi berakhir bersamaan dengan mulainya masa keemasan. Raja Airlangga memerintah dengan damai. “Masa tenang dan tentram tanpa peperangan berlangsung antara 1035 sampai 1042,” jelas Ninie.*

  • Ketika Hoegeng dan Teuku Markam Bersitegang

    ADA anekdot lucu dari Gus Dur tentang polisi. Katanya, hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia. Pertama, polisi tidur. Kedua, patung polisi. Dan ketiga, Jenderal Hoegeng. Dari ketiganya, hanya Hoegeng yang berwujud manusia. Hoegeng pernah menjabat sebagai kepala Kepolisian Republik Indonesia periode 1968 sampai 1971. Kejujuran Hoegeng kiranya bukan isapan jempol semata. Pada reputasinya melekat citra polisi anti suap. Selama mengabdi di kepolisian, Hoegeng berkali-kali menghadapi orang-orang punya kuasa yang coba menyogoknya. Pada pertengahan 1950-an, Hoegeng ditempatkan di Medan sebagai kepala reserse kriminal. Belum sempat menempati rumah dinas, Hoegeng ditawari mobil dan rumah oleh seorang pengusaha Tionghoa sebagai gratifikasi. Hoegeng tahu dia sedang berurusan dengan pengusaha yang bergerak dalam bisnis gelap penyelundupan. Tawaran itu dia tolak mentah-mentah. Hoegeng bahkan memulangkan kembali barang-barang perabotan mewah yang sempat dikirimkan si pengusaha tersebut.

  • Pajak Masa Revolusi Kemerdekaan

    PANDEMI Covid-19 selama hampir satu setengah tahun ini menguras keuangan negara. Pertumbuhan ekonomi Indonesia turun. Defisit APBN mencapai 6,1% PDB. Pendapatan negara menyusut hingga -16,0 %, sedangkan pengeluarannya membengkak jadi 12,3%. Keadaan sulit ini mendorong pemerintah berencana memajaki sembako pangan premium. Rencana ini sampai ke masyarakat dalam narasi pajak semua sembako. Karuan orang semaput dan marah-marah. Saat keadaan rakyat sedang susah, malah dipajakin. Maka sekonyong-konyong Menteri Keuangan Sri Mulyani blusukan ke pasar menjelaskan rencana sesungguhnya. Menengok ke masa lalu, penerapan pajak pada masa sulit pernah pula terjadi ketika Indonesia baru saja merdeka. Saat itu, menurut Oey Beng To dalam Sejarah Kebijakan Moneter Indonesia Jilid I (1945–1958) , Republik membutuhkan pembiayaan untuk mempertahankan kemerdekaannya. Pembiayaan itu antara lain diperoleh dari dana kemerdekaan, pinjaman nasional, candu, dan mencetak uang sendiri.

  • Napoléon Sang Pahlawan Revolusi Prancis

    PULAU Corsica sejak awal Juni 1793 sudah membara. Revolusi Prancis yang digadang kaum Republik untuk menumbangkan monarki sedang memasuki tahun keempatnya. Gejolaknya yang dibuat pelik “Rezim Teror” menjalar ke berbagai wilayah hingga ke Ajaccio dan kota-kota lain di Corsica yang jadi pulau kelahiran seorang perwira artileri muda bernama Napoleone di Buonaparte. Sang perwira muda itu sejak awal memilih keberpihakannya pada kaum revolusioner Prancis, seperti Antoine Christophe Saliceti –yang juga kelahiran Corsica– dan Augustin Robespierre, adik pemimpin revolusi Maximilien Robespierre. Akibatnya, Napoleone terpaksa bermusuhan dengan mentor politiknya, Pasquale Paoli, yang menghendaki Corsica berpihak pada Inggris demi bisa merdeka dari Republik Prancis. Imbasnya, tulis Robert Harvey dalam The War of Wars: The Epic Struggle Between Britain and France, 1789-1815 , Napoleone sempat ditangkap pengikut Paoli di kota Corsacci . Beruntung ia ditolong beberapa temannya sehingga bisa melarikan diri ke Ajaccio dan kemudian ke Bastia untuk minta bantuan Saliceti. Casa Buonaparte di Ajaccio, Pulau Corsica (Fondation Napoléon/ The English Illustrated Magazine   1895 ) Tetapi Paoli membuat perhitungan tanpa ampun. Para pendukungnya membakar Casa Buonaparte, kediaman keluarga Napoleone, dan menghancurkan lahan pertanian keluarganya di Ajaccio. Maria Letizia Ramolino, ibu Napoleone, dan anak-anaknya sampai bersembunyi untuk menyelamatkan diri. “Dibantu Saliceti, Napoleone datang dengan 400 pasukan ekspedisi Prancis. Sementara pasukannya menyerang para pengikut Paoli, Napoleone menjemput ibu dan para saudaranya menuju Calvi. Sayangnya di sana pasukan Napoleone dikalahkan dan lolos secara dramatis dari penangkapan Inggris. Pada 10 Juni 1793, keluarganya bisa dibawa berlayar ke Toulon dengan kapal kargo,” terang Harvey. Setibanya di kota pelabuhan Toulon keesokan harinya, perwira muda itu mengganti identitasnya dengan nama yang lebih berbau Prancis: Napoléon Bonaparte. Di Toulon pada medio Agustus itu kaum federalis dan royalis mulai berontak kepada kaum republik. Para pemberontak bahkan menyambut musuh lama, Inggris, dengan tangan terbuka kala armada Inggris pimpinan Laksamana Samuel Hood tiba. Hal itu mendorong militer Prancis mengonsolidasi 19 ribu pasukannya dari sekitar Touloun. Namun, pasukan itu kekurangan perwira lapangan lantaran para pemimpin mereka sebelumnya yang berasal dari golongan bangsawan banyak melarikan diri akibat revolusi. Komandan pasukan itupun hanya dipimpin Jenderal Jean-François Carteaux yang sebelumnya hanya pelukis tanpa pengalaman militer. Lebih runyam lagi ketika komandan artileri di pasukan itu, Kolonel Elzéar Auguste Cousin de Dommartin, terluka dalam perjalanan di Ollioules saat hendak menggabungkan diri ke induk pasukan. Saliceti yang sudah jadi wakil Corsica di Konvensi Nasional Republik di Paris akhirnya merekomendasikan Napoléon jadi penggantinya. Lukisan Kapten Napoléon jelang Pengepungan Toulon karya Joseph Louise Hippolyte Bellangé (McGill University) Merebut Toulon Memasuki Agustus 1793, kota Toulon praktis sudah dikuasai kaum pemberontak yang disokong Inggris, Spanyol, Kerajaan Napoli, dan Kerajaan Sardinia. Selain dilindungi tembok kota, pertahanan Toulon disokong belasan benteng yang diperkuat 2.000 pasukan Inggris, masing-masing 6.000 prajurit Spanyol dan Napoli, 800 kombatan Sardinia, serta didukung 74 kapal perang gabungan yang standby di pelabuhan. Napoléon yang resmi diangkat jadi komandan artileri pada 16 September 1793 dalam rangka Pengepungan Toulon, prihatin pada kondisi pasukannya. Unit artilerinya hanya dilengkapi tak lebih dari selusin meriam dan kekurangan amunisi serta kru. Padahal saat mengamati posisi-posisi pertahanan musuh, Napoléon berkeyakinan artileri akan memegang peranan terbesar dalam merebut Toulon. “Seseorang bisa bertahan 24 atau jika diperlukan 36 jam tanpa makan, namun tidak satupun orang bisa bertahan dalam tiga menit tanpa bubuk mesiu,” ungkap Napoléon dalam The Corsican: A Diary of Napoleon’s Life in His Own Words yang dira n gkum Robert Matteson Johnson. Ilustrasi Napoléon membangun baterai untuk membombardir benteng-benteng pelindung Toulon (Musée de l'armée) Napoléon pun bergerak cepat mengumpulkan kekuatan unitnya hanya dalam tiga hari. Ia meminta sejumlah bantuan meriam beserta amunisinya dari pasukan-pasukan Prancis di Marseille dan Avignon hingga akhirnya memiliki 100 meriam. Ia juga meminta bantuan tambahan pasukan infantri dari Jenderal Carteaux untuk dilatih kilat jadi kru meriam. Para perwira menengah lapangan yang pensiun dipaksa bertugas lagi lewat bantuan surat perintah Saliceti dan Robespierre. Tak lupa ia juga mengatur jalur transportasi untuk pengiriman 100 ribu kantong pasir dari Marseille.  Pasir itu digunakan untuk membangun baterai-baterai baru guna mengepung Toulon dengan 100 artileri meriam, howitzer, dan mortir yang diawaki 1.500 personel dan dipimpin 64 perwira lapangan. “Meriam-meriam inilah yang akan merebut benteng-benteng itu. Tiga hari setelah saya tiba, pasukan sudah punya artileri yang terorganisir,” kata Napoléon. Napoléon memulainya dengan membangun dua baterai di Bukit Saint-Laurent dan Pantai Brégallion di timur laut Pelabuhan Toulon. Akibatnya, sejumlah kapal Inggris yang merapat di pesisir Benteng l’Eguilette di selatan lokasi baterai-baterai Napoléon, terpaksa menyingkir ke Pelabuhan Toulon. Napoléon berupaya merebut Benteng l’Eguilette agar bisa menempatkan meriam-meriamnya. Selain lebih dekat, dari sana meriam-meriam itu lebih leluasa membombardir Toulon. Tetapi, ia butuh tambahan pasukan infantri untuk memukul garnisun Inggris di Bukit Mont Caire sebelum bisa merebut Benteng l’Eguilette. Maka ia minta bantuan Jenderal Carteaux tambahan 3.000 infantri untuk bisa menyerang bukit itu. Namun, Carteaux ternyata hanya membantu 400 prajurit pimpinan Mayjen Henri François Delaborde. Akibatnya, rencana serangan Napoléon pada 22 September gagal. Sialnya, dalam dua hari Inggris berhasil memperkuat Mont Caire dengan membangun Benteng Mulgrave berikut puluhan meriamnya. Peta Pengepungan Toulon (Royal Collection Trust) Jenderal Jacques François Dugommier, atasan Carteaux, yang mendengar keluhan Napoléon, lantas memecat Carteaux. Ia pegang sendiri pasukannya pada medio November. Melihat konsolidasi Inggris-Napoli di Mont Caire, Dugommier mempercayakan semua rencana penyerangan pada Napoléon yang baru dipromosikan jadi mayor. Semua sumber daya pun dikerahkan sesuai strategi yang dicanangkan Napoléon. “Hanya ada satu rencana yang memungkinkan –rencananya Bonaparte,” tulis Dugommier kepada Kementerian Perang di Paris, dikutip Frank McLynn dalam Napoleon: A Biography . Napoléon membangun lagi dua baterai yang posisinya sangat dekat dengan Benteng Mont Caire. Pada 30 November, dua baterai itu diserang pasukan Inggris-Napoli yang dikomando Jenderal Charles O’Hara. Namun, Dugommier dan Napoléon bisa mumukul mundur lagi bahkan melukai O’Hara hingga membuatnya menyerahkan diri pada Napoléon. Ironisnya, 12 tahun sebelumnya di Yorktown ia juga ditangkap dan menyerahkan diri kepada George Washington dalam Perang Kemerdekaan Amerika Serikat. Napoléon yang dipromosikan jadi kolonel lalu mendesain serangan ke Benteng Mulgrave dengan menggunakan 32 ribu personel, 12 ribu di antaranya pasukan infantri Jenderal Dugommier dan lima ribu pasukan baru pimpinan Jenderal Jean François Cornu de La Poype. Kolase ilustrasi pertempuran di Mont Caire kala Jenderal Charles O'Hara menyerahkan diri pada Napoléon (Library of Congress) Diiringi hujan deras pada 16 Desember malam, pasukan Prancis menyerang serentak dan Napoléon terjun langsung pada serangan gelombang kedua. Derasnya hujan membuat meriam dan senapan jadi tak berguna selain sebagai alat pukul dan serangan bayonet. Tak ayal pertarungan jarak dekat antara pasukan Prancis dengan Inggris-Napoli berlangsung sengit. Napoléon bahkan terluka kena bayonet di pahanya walau tetap bertahan memimpin serangan. Lepas dini hari 17 Desember, Prancis akhirnya menguasai Benteng Mulgrave. L’Eguilette dan Tour de la Balaquier menyusul jatuh menjelang pagi. Siangnya, Napoléon langsung menempatkan 10 meriamnya menghadap Pelabuhan Toulon. Laksamana Samuel Hood p un panik. Ia buru-buru mengevakuasi pasukan gabungan dan melarikan puluhan kapalnya dari pelabuhan. Belasan ribu warga Toulon yang sebelumnya memberontak berusaha ikut kabur kapal-kapal Inggris. Toulon praktis jadi kota terbuka untuk direbut Napoléon. Lukisan kekacauan evakuasi di Pelabuhan Toulon karya André Ferraud (Brown University) Akibatnya, warga yang hendak kabur namun tertinggal jadi korban balas dendam pasukan Prancis. Pembantaian mulai terjadi pada 18 Desember pagi. Pasukan Prancis yang gelap mata menghabisi sekira 200 jiwa per hari hingga dua pekan berikutnya. Kabar kemenangan gemilang di Toulon itu –jadi kemenangan pertama Napoléon yang membuatnya mulai dikenal kalangan militer maupun politisi republik– sampai ke kota-kota lain. Republiken dalam waktu sekejap merebut kembali beberapa wilayah yang dikuasai pemberontak. Revolusi Prancis terselamatkan. “Saya menjanjikan Anda kesuksesan yang brilian, dan, seperti yang Anda lihat, saya telah memenuhi janji saya,” tukas Napoléon dalam suratnya kepada Kementerian Perang, dikutip David P. Jordan dalam Napoleon and the Revolution.

  • Ketika Ahmad Subardjo Hampir Dibunuh

    SUATU hari di awal 1946, Ahmad Subardjo menerima undangan untuk menghadiri Kongres Partai Buruh di Blitar. Dia lantas pergi bersama Sukiman Wirjosandjojo, Iwa Kusuma Sumantri, dan Ki Hajar Dewantara. Keempatnya pergi mengendarai mobil dari Yogyakarta pada sore hari dan tiba di Blitar pada tengah malam. Kala itu, empat tokoh pergerakan kemerdekaan, yang tiga di antaranya masuk jajaran kabinet presidensial, tersebut sudah tidak aktif di kursi pemerintahan Republik. Ahmad Subardjo, misalnya, sejak November 1945 telah meletakkan jabatannya sebagai menteri luar negeri. Begitu pula Iwa Kusuma Sumantri dan Ki Hajar Dewantara, sebagai menteri sosial dan menteri pengajaran, tidak lagi terlibat di kabinet baru pimpinan Sutan Sjahrir. Lantas dalam kapasitas apa mereka hadir di Kongres Partai Buruh di Blitar? Diceritakan Ahmad Subardjo dalam otobiografinya Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi , selepas meninggalkan jabatan menteri, mereka kembali bertemu di Yogyakarta. Pada sebuah kesempatan, Subardjo diperkenalkan oleh Sukiman kepada Jenderal Sudirman. Ketika itu Sudirman tengah membentuk Badan Penasehat Politik, yang salah satu tugasnya memberi analisa tentang situasi politik khusus menghadapi Belanda. Sukiman lalu merekomendasikan Subardjo dan Iwa karena keduanya pernah belajar di Belanda. Sementara dirinya dan Ki Hajar Dewantara telah lebih dahulu menerima jabatan tersebut. Maka Badan Penasehat Politik Jenderal Sudirman resmi diisi oleh empat tokoh itu. Di dalam kongres, anggota Partai Buruh membicarakan tentang keikutsertaan mereka dalam perjuangan kemerdekaan. Partai Buruh berusaha memberikan sumbangan moril dan tenaga-usaha dalam menghadapi Belanda yang hendak mengupayakan kembali penjajahan di Republik Indonesia. Badan Penasehat Politik Jenderal Sudirman hadir untuk memberikan masukan-masukan. Di akhir kongres, beberapa resolusi diambil dan disepakati oleh seluruh anggota kongres. Setelah kongres berakhir, Subardjo dan lainnya kembali ke Yogyakarta. Di Madiun, rombongan berhenti sebentar untuk menemui Residen Madiun Susanto Tirtoprodjo. Dahulu dia bersekolah di Belanda dan menjadi anggota Perhimpunan Indonesia. Subardjo dan Susanto dahulu berkawan cukup baik. Di sana rombongan menumpang istirahat, sambil sedikit berbincang tentang situasi di tanah air. Dari Madiun perjalanan pulang dilanjutkan melalui Solo. Di kota itu juga Subardjo hendak menemui kawan baiknya, Sosrokartono. Dia seorang wartawan dan nasionalis sejati. Hobinya, imbuh Subardjo, mengumpulkan data-data, berita-berita dan bahan-bahan untuk perjuangan kemerdekaan, berdasarkan informasi yang dia dapat dari seluruh jaringannya di pulau Jawa. “Dr. Kartono ialah nasionalis sejati, tidak berpartai, sehingga mempunyai pendirian yang bebas dari pro atau kontra terhadap sesuatu ideologi. Dia hanya mementingkan keselamatan negara dari penjajahan kembali Belanda,” kata Subardjo. Karena ingin bertukar pikiran dengan kawannya itu, Subardjo izin meninggalkan rombongan. Dia berpisah di Solo bersama Mangkudimulyo dan berangkat menggunakan mobil ke kediaman Kartono. Sementara Sukiman, Iwa, dan Ki Hajar meneruskan perjalanan dengan mobil lain ke Yogyakarta. Sesampainya di tujuan, Subardjo langsung disambut Kartono. “Ini suatu rahmat Tuhan, bahwa saudara mampir di rumah kami, justru karena saudara berada dalam keadaan bahaya”. Subardjo tidak mengerti dengan maksud kawannya itu. “Saya mendapat informasi bahwa organisasi Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) yang didirikan Sutan Sjahrir dan mendukung politiknya, sudah mengetahui bahwa saudara pergi ke Blitar dan mereka mempunyai rencana untuk mencegat saudara di Klaten di tempat mereka bermarkas. Rencananya ialah untuk menculik saudara dan membunuhnya di suatu tempat,” ujar Kartono. “Jadi janganlah meneruskan perjalanan pulang ke Yogyakarta untuk menghindari penculikan saudara. Tinggal saja dulu di rumah kali, sampai kami mendapat kabar dari pembantu-pembantu saya bahwa Klaten menjadi all clear ,” lanjutnya. “Terima kasih atas info itu,” kata Subardjo. “Kebetulan saya mempunyai famili yang menjabat administrator perusahaan gula di Tasikmadu, luar kota Solo. Saya akan berdiam di sana buat beberapa hari, sehingga saya tidak usah mengganggu saudara dengan menginap di tempat saudara.” Setelah selesai dengan urusannya di kediaman Kartono, Subardjo kemudian melanjutkan perjalanan ke Tasikmadu di Karanganyar. Di sana Subardjo bersembunyi selama lebih kurang sepuluh hari. Sedangkan Mangkudimulyo langsung melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta. Dan benar saja, berdasar informasi Mangkudimulyo, di Klaten mobilnya ditahan oleh Pesindo. “Mana Subardjo?” tanya pemimpin Pesindo. “Tidak ada,” jawab Mangkudimulyo. “Di mana dia berada?” tanyanya lagi. “Kurang tahu, dia turun di Madiun,” terang Mangkudimulyo. Karena jelas Subardjo tidak ada di mobil tersebut, Mangkudimulyo diperbolehkan melanjutkan perjalanan. Dia tiba di Yogyakarta dengan selamat. “Demikianlah peristiwa Klaten itu, yang membuktikan bahwa gerak-gerik saya diperhatikan oleh golongan sosialis untuk dilenyapkan dari bumi ini. Berkat perlindungan Tuhan Yang Maha Esa saya terhindar dari pembunuhan oleh lawan politik saya,” kata Subardjo.*

  • Seruan Panglima Besar Soedirman kepada Masjumi dan PKI

    DELAPAN bulan hampir berlalu sejak Insiden Madiun meletus pada 18 September 1948. Namun perseteruan antara orang-orang komunis dengan orang-orang islam masih berlangsung secara keras di Jawa Timur. Kendati pemerintah Republik Indonesia (RI) pimpinan Sukarno-Hatta memutuskan untuk membebaskan sebagian besar pengikut Front Demokrasi Rakyat/Partai Komunis Indonesia (FDR/PKI). Menurut sejarawan Harry A. Poeze, banyak para pengikut FDR/PKI yang lolos dari operasi penumpasan tentara pemerintah meneruskan perjuangan mereka dengan bergerilya di hutan-hutan Jawa Timur. Selain menghadapi militer Belanda, kekuatan-kekuatan bersenjata itu juga tetap mempertahankan pertikaian mereka dengan militer Indonesia dan unsur-unsur anti komunis lainnya. “Yang sudah (pasti) terjadi justru saling bentrok. Pasukan-pasukan FDR dan Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) berhadapan dengan kesatuan-kesatuan Hizbullah (Masjumi),” ungkap Poeze dalam Madiun 1948: PKI Bergerak.

  • Sukarno Mengunjungi Bali

    PADA suatu hari, Sukarno meminta Soeharto, dokter pribadinya, untuk bersiap karena sewaktu-waktu akan mengajaknya ke Bali. Jadwal penerbangannya belum ditentukan karena harus memilih waktu yang tepat untuk menghindari sergapan pesawat terbang Sekutu. Ketika waktu keberangkatan ditetapkan, ternyata Sukarno didampingi Mohammad Hatta dan Ahmad Subardjo. Laksamana Tadashi Maeda, kepala Kaigun Bukanfu  atau kantor penghubung Angkatan Laut Jepang di Jakarta, mengantarkan mereka sampai tangga pesawat. “Maksud perjalanan ke Bali itu untuk menemui Laksamana Yaichiro Shibata, Panglima Kaigun (Angkatan Laut) Jepang yang membawahi Nusantara, kecuali Sumatra dan Jawa,” kata Soeharto dalam memoarnya, Saksi Sejarah . Shibata sebenarnya bermarkas di Ujung Pandang. Karena kota itu menjadi sasaran pengeboman pesawat Sekutu, untuk sementara dia bermarkas di Singaraja. Penerbangan ke Denpasar tidak mengalami gangguan. Setiba di sana, mereka naik mobil menuju penginapan di Kintamani. Sejarawan Geoffrey Robinson dalam Sisi Gelap Pulau Dewata: Sejarah Kekerasan Politik menyebutkan, pada pengujung Juni 1945, Sukarno, pemimpin kaum pejuang Republik Indonesia yang kelak menjadi presiden, diundang ke Bali untuk menghadiri rapat umum dan bertemu para pemimpin Bali. “Sukarno mengunjungi Singaraja pada 24 dan 25 Juni 1945,” tulis Robinson. “Dalam catatan hariannya, raja Buleleng hanya merekam detail kunjungan ini.” Sukarno diterima di kantor Karesidenan oleh tokoh-tokoh penting Jepang dan para pemuka Bali pada 24 Juni 1945. Keesokan harinya, 25 Juni 1945 pukul 2.30 sore, Sukarno menghadiri pertemuan para pemuka Bali di gedung Sjukai  (Dewan Karesidenan) di Singaraja. Pukul 5 sore, dia menyampaikan amanat dalam rapat umum di lapangan depan kantor polisi, dan malamnya bergabung dengan tamu-tamu terhormat menonton pertunjukan tari Bali. “Sayangnya, raja [Buleleng] tidak mengatakan apa pun tentang isi pidato publik Sukarno,” tulis Robinson. Kiri-kanan: Tadashi Maeda, Ahmad Subardjo, dan Yaichiro Shibata. (Perpusnas RI). Soeharto menyebut bahwa maksud Sukarno ke Bali adalah bertemu Shibata. Pembicaraan mereka berlangsung di kediaman Shibata di Singaraja. Pembicaraan berlangsung beberapa kali dan Sukarno selalu didampingi Hatta dan Subardjo. Subardjo memberi tahu Soeharto bahwa Shibata bersimpati pada perjuangan mewujudkan Indonesia merdeka, dan akan memberikan segala bantuan yang mungkin dapat dia berikan. “Janji itu betul-betul dipenuhinya,” kata Soeharto. “Beberapa hari setelah Proklamasi kemerdekaan, Shibata yang pada waktu itu berada di Surabaya, menyerahkan banyak senjata kepada pemuda-pemuda kita.” Setelah selesai urusan dengan Shibata, Sukarno mengunjungi sebuah pura, tempat ayahnya, R. Soekemi Sosrodihardjo, bertemu pertama kali dengan ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai pada 1890-an. Sebagai pencinta seni, Sukarno kemudian mengunjungi rumah-rumah seniman di antaranya pelukis Jerman Walter Spies, yang terletak di sebuah lembah di tepi jalan yang menuju ke pesanggrahan Kintamani. “Di rumah seniman itu pulalah saya baru tahu bahwa Pak Bardjo pun seorang seniman,” kata Soeharto. “Dia memainkan biola milik Walter Spies dan memperdengarkan sebuah serenade yang amat disenangi Bung Karno.”*

  • De Oost dan Ikhtiar Menyembuhkan Luka Lama

    Ada tiga pendekatan untuk memahami film. Pertama , sebagai sebuah karya seni yang mempresentasikan realitas secara estetis. Kedua , sebagai diskursus publik karena film memvisualisasi ragam aspek kehidupan manusia yang berkaitan dengan historis, kultural, sosial maupun ideologis. Ketiga , makna dan peran kehadiran film tersebut di tengah masyarakat.     Sebagai sebuah karya seni, film De Oost  karya sutradara Jim Taihutu layak mendapat apresiasi karena berhasil memvisualisasikan karakter manusia dalam kemelut sejarah rekolonisasi Belanda atas Indonesia. Namun disadari atau tidak, penggambaran Timur yang eksotis melalui citra perempuannya, alunan bunyi gamelan serta indahnya alam Indonesia, cerminan pandangan orientalis yang masih melekat erat dalam benak orang Barat. Persis dengan apa yang pernah disampaikan oleh Edward Said dalam bukunya Orientalisme  bahwa “Timur” (Orient) memang nyaris merupakan temuan Eropa, dan sejak zaman kuno telah menjadi tempat yang penuh romansa, makhluk-makhluk eksotik, kenangan-kenangan yang manis, pemandangan yang indah dan pengalaman yang mengesankan. “De Turk” mungkin jauh lebih pas menjadi judul film ini daripada De Oost . Hampir separuh lebih cerita dari film ini mengisahkan tentang Raymond “De Turk” Westerling, serdadu legendaris yang pernah mengatakan kepala Sukarno lebih murah dari harga sebutir peluru dan bertanggung jawab atas pembunuhan ratusan bahkan mungkin ribuan jiwa rakyat Indonesia yang berhasrat mempertahankan kemerdekaannya. Sekilas, film De Oost mirip film laga perang Vietnam minus Rambo di dalamnya. Sebagian besar lakon film De Oost diperankan oleh orang Barat. Kecuali sebagai figuran, hanya kurang dari lima jari aktor Indonesia yang memainkan peran sentral dalam film ini. Di antara penggambaran “Timur” yang indah dan eksotis itu, film ini juga menampilkan sisi kelam sejarah sebuah negeri yang dilanda aksi kekerasan karena keinginan Belanda untuk kembali merekolonisasi Indonesia setelah lepas kendali selama 3,5 tahun masa pendudukan Jepang. Untuk tujuan itu, pemerintah Belanda memobilisasi anak-anak muda Belanda dengan dalih membebaskan Indonesia dari cengkeraman Sukarno, si boneka fasis Jepang. “ Indie Moet Bevrijd ,” kata mereka berpropaganda. Dalam film ini anak-anak muda tersebut diperankan oleh Martin Lakemeier (Johan De Vries), Jonas Smulders (Mattias Cohen), dan Coen Bril (Eddy Coolen). Jiwa muda yang penuh avonturisme dibungkus semangat pembebasan, mendorong mereka pergi ke Indonesia. Namun satu hal yang mereka tak sadari: sebelum 15 Mei 1940 Belanda adalah negeri merdeka, sementara Indonesia sebelum invasi Jepang Maret 1942 adalah koloni Belanda. Dalam satu sisi, film ini berhasil menampilkan kompleksitas sejarah Belanda usai Perang Dunia II. Gambaran itu terlihat pada sosok karakter Johan De Vries, anak seorang tokoh Nationaal Sosialistische Bond (NSB) kolaborator Nazi, pergi ke Indonesia untuk membebaskan koloni Belanda dari cengkeraman fasisme Jepang. Sebuah ironi yang tak mungkin dipungkiri. Di sisi lain, kompleksitas sejarah di Indonesia pada masa akhir pendudukan Jepang tidak terlihat dalam film ini. Tak ada satu pun adegan tentang kehidupan para perempuan, orang tua dan anak-anak kecil Belanda serta Indo yang baru saja dibebaskan setelah melewati tiga tahun masa penderitaan di dalam kamp interniran. Inilah periode paling traumatik bagi mereka, sehingga bisa dimengerti mengapa sebagian warga Belanda bereaksi keras atas film De Oost ini. Satu-satunya adegan tentang Jepang dalam film ini tampak saat seorang rakyat jelata dianiaya tiga serdadu Jepang dan kejadian itu berakhir setelah Raymond “De Turk” datang memaksa serdadu Jepang itu pergi. Gambaran lain tentang Jepang tercermin dari pidato komandan tentara Belanda, “racun Jepang telah menyebar luas ke seantero koloni kita yang indah.” Kalimat ini mencerminkan cara pandang Belanda yang simplistis dalam melihat hubungan Jepang dengan gerakan nasionalisme Indonesia. Kekalahan Belanda atas Jepang pada 9 Maret 1942 menandai runtuhnya negara Hindia Belanda. Dalam 3,5 tahun pendudukan Jepang, gerakan nasionalis Indonesia menemukan momentum kebangkitannya. Pemimpin gerakan nasionalis Indonesia seperti Sukarno, Hatta, dan Sutan Sjahrir dibebaskan dari penjara kolonial. Kecuali Sjahrir yang memilih berjuang di bawah tanah, Sukarno dan Hatta menggunakan momentum politik tersebut untuk memperkuat kesadaran kebangsaan Indonesia. Selalu ada harga yang harus dibayar demi kemerdekaan dan selalu ada implikasi dari sebuah keputusan politik. Kerja sama dengan Jepang di satu sisi membuka jalan menuju kemerdekaan Indonesia, di sisi lain mendatangkan korban jiwa yang tak sedikit dalam hal Romusha, Jugun Ianfu, dan kekerasan terhadap warga sipil Belanda dan Indo.    Sementara itu, seperti yang ditunjukan dalam film ini, kehadiran Belanda pascakekalahan Jepang juga tak diinginkan oleh rakyat Indonesia. Itu terlihat secara nyata dalam grafiti “Dutch Go Home” dan secara simbolis saat anak-anak kecil melempari truk yang ditumpangi Johan De Vries ketika tiba di Indonesia. Ejekan “monyet” yang beberapa kali keluar dari mulut para serdadu Belanda dalam film ini juga menarik untuk diperhatikan. Umpatan monyet merupakan bentuk rasisme yang berakar jauh ke masa awal kedatangan Belanda ke Indonesia. Mereka percaya bahwa manusia Nusantara tak lebih dari makhluk belum sempurna melalui proses evolusinya. Pandangan ini seolah mendapatkan legitimasi saintifik dari para etnolog dan antropolog fisik Eropa yang marak berkembang pada abad ke-19.   Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 telah membuyarkan mimpi indah pada kolonialis dan imperialis Belanda. Bayangan tentang Timur yang eksotis dan penuh keindahan semakin jauh di depan mata. Maka datanglah Raymond “De Turk” ke Timur demi menjaga keberlangsungan mimpi indah itu, kendati kehadirannya jadi mimpi buruk bagi rakyat yang jadi korban kebrutalannya. Ketika saya diminta menulis tanggapan –dari perspektif Indonesia– mengenai film De Oost ini, saya teringat kembali pada kisah guru saya, sejarawan Anhar Gonggong yang harus kehilangan ayah, dua kakak lelaki, serta seorang pamannya yang tewas dibunuh serdadu Westerling di Sulawesi Selatan. Dia tak menuntut pembalasan apapun atas kematian orang-orang yang dicintainya itu. Menurutnya, mereka sudah menunaikan tugasnya demi kemerdekaan Indonesia.  Film De Oost membawa kembali bayangan masa lalu peristiwa itu, membuka luka lama bagi kedua bangsa. Namun demikian film ini harus pula dimaknai sebagai bentuk keberanian menghadapi masa lalu yang penuh luka dan air mata, demi menyingkirkan beban sejarah yang menghalangi langkah damai menuju masa depan. Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Belanda di koran NRC edisi 17 Juni 2021.

  • Pembantaian Nazi di Biara Ardennes

    USAI mengintai wilayah antara Bandara Carpiquet dan Desa Rots di barat Caen, Normandia, Prancis pada 8 Juni 1944 pagi, Prajurit Jan Jesionek kembali ke markas Resimen di Biara Ardennes. Remaja 16 tahun asal Polandia yang diwajibmiliterkan oleh Nazi dan ditempatkan di Kompi Intai ke-15 Resimen Panzer Grenadier ke-25 Divisi Panzer SS ke-12 “Hitler Jugend” itu mencoba mencari kendaraan agar bisa kembali ikut ke dalam patroli. Dia akhirnya mendapatkan sebuah sepeda motor. Sial, dari pemeriksaan singkat didapati sepeda motor itu ternyata tak layak jalan. Jesionek pun terpaksa menunggu perbaikan sepeda motornya itu. Ketika perbaikan selesai menjelang tengah hari, Jesionek melihat dua prajurit SS mengawal tujuh tawanan asal Kanada menuju halaman biara. Ketujuh tawanan itu merupakan personel Resimen North Nova Scotia Highlanders (NNSH) dari Brigade ke-9 Divisi Infanteri ke-3 Kanada. NNSH mendarat di pantai Juno, Normandia pada 6 Juni 1944 (D-Day). Bersama Resimen Lapis Baja ke-27 “Sherbrooke Fusiliers”, NNSH melanjutkan gerak majunya ke selatan keesokan harinya dari Villons-les-Buisson. Kedua resimen menempati sisi terkiri lantaran Brigade Infantri ke-185 AD Inggris yang –maju dari pantai Sword– diplot melindungi dari kiri, terhenti langkahnya. Akibatnya, ada celah kosong di sayap kiri pasukan Sekutu.

  • Pinjaman Nasional 1946, Pinjaman Warga untuk Republik

    PUSAT pemerintahan Indonesia pindah dari Jakarta ke Yogyakarta pada Januari 1946. Kala itu Jakarta tak aman lagi untuk pemerintahan Republik. Pertempuran antara pejuang Republik dengan serdadu Belanda dan tentara Sekutu meletus di beberapa tempat. Suara tembakannya terdengar hingga rumah presiden dan wakil presiden Indonesia. Kepindahan ke Yogyakarta menjadi salah satu upaya darurat untuk menyelamatkan masa depan Republik. Selain masalah keamanan, Republik juga berhadapan dengan masalah ekonomi. Keuangan Republik baru ini kembang-kempis alias bokek. Bahkan, menurut Oey Beng To dalam  Sejarah Kebijakan Moneter Indonesia Jilid I (1945–1958),  Republik hampir kehabisan uang tunai ketika pusat pemerintahan hijrah ke Yogyakarta. Untungnya Republik masih punya cadangan emas batangan dan candu. Tapi ini pun belum cukup untuk memperpanjang umur Republik. Perlu cara lain untuk membiayai Republik. Salah satunya dengan mencetak uang sendiri. Tapi pencetakan ini membutuhkan waktu. Sementara kocek Republik terus defisit untuk pembayaran pegawai dan delegasi ke luar negeri. Prawoto Soemodilogo, mantan penasehat Cuo-Sangi-In (Dewan Pertimbangan Pusat) bagian Ekonomi pada masa Jepang, mengusulkan agar pemerintah menarik dana dari masyarakat. Dana itu nantinya dianggap sebagai pinjaman negara dari rakyatnya. Termasuk dari orang asing. “Pinjaman itu harus disertai dengan kampanye dan publikasi yang besar,” kata Prawoto, dikutip John O. Sutter dalam Indonesianisasi: Politics in a Changing Economy, 1940–1955. Ide itu cukup menarik bagi pemerintah Republik. Menteri Keuangan Soerachman Tjokroadisoerjo kemudian membicarakan gagasan ini dengan Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP) –semacam DPR sementara. BP KNIP menyepakati cara ini. Tapi mereka ingin membatasi pinjaman pada warga Indonesia, bukan orang asing. Pemerintah menargetkan pinjaman dari warganya sebesar satu miliar rupiah. Dana itu akan dialokasikan untuk persiapan pendirian bank sirkulasi uang milik Republik (Poesat Bank Indonesia), menutup defisit anggaran, modal awal untuk kredit bank (Bank Rakyat Indonesia), dan proyek rekonstruksi. Ada sedikit keraguan dari pemerintah Republik ketika menggulirkan rencana ini. Tenaga penerangan untuk mengabarkan program ini terbatas. “Penerangan tidak dapat diadakan secukupnya berhubung dengan kesukaran-kesukaran teknis, seperti sukarnya perhubungan serta keadaan politik yang amat keruh,” terang Oey Beng To. Belum lagi soal kepercayaan warga Republik terhadap program Pinjaman Nasional. “Bagi negara baru, mengadakan pinjaman nasional serupa itu benar-benar merupakan suatu ujian besar bagi kepercayaan warga negara kepada pemerintahnya,” tambah Oey Beng To. Di luar dugaan, warga Republik ternyata menanggapi baik program Pinjaman Nasional. “Rencana pinjaman itu mendapat sambutan yang sangat memuaskan dari rakyat. Di mana-mana orang berusaha keras untuk menyediakannya,” tulis Pramoedya Ananta Toer dalam Kronik Revolusi Indonesia Jilid II (1946). Tapi warga Republik harus menahan hasratnya lebih dulu. Sebab pemerintah belum resmi mengeluarkan aturan tentang Pinjaman Nasional. Setelah dua bulan didengungkan, Pinjaman Nasional resmi dikeluarkan pemerintah pada 29 April melalui Undang-Undang No. 4 Tahun 1946. UU itu memuat bentuk Pinjaman Nasional. Warga akan memberikan pinjaman ke negara dalam bentuk uang rupiah dengan bukti surat pengakuan utang (obligasi) yang hanya dapat dimiliki warga negara Republik. Surat itu tak dapat dilepaskan kepada warga negara lain dan badan hukum negara lain. Negara akan mengganti utang dan bunga kepada warga selambatnya 40 tahun setelah Pinjaman Nasional digulirkan. Pemerintah juga menyatakan pinjaman itu akan berguna untuk menarik uang Jepang yang terlalu banyak beredar di masyarakat. Peredaran itu membuat tingkat inflasi tinggi sehingga merugikan Republik. Hanya dalam waktu 45 hari setelah pengumuman Pinjaman Nasional, dana yang terkumpul sudah mencapai 80 persen. Warga tumpah-ruah antre di bank-bank yang menjadi lokasi pembelian obligasi. “Hari pertama pendaftaran pinjaman nasional bank-bank dipadati oleh orang yang ingin membeli obligasi. Di Garut, pedagang Cina mengadakan pasar malam dan keuntungannya digunakan untuk membeli obligasi,” tulis Antara , 24 Mei 1946. Dari penjualan obligasi, Republik mendapat dana segar hingg Rp500 juta. Sekira Rp318 juta berasal dari Jawa dan Rp208 juta merupakan pembelian dari Sumatra. Kurang dari setahun, target Pinjaman Nasional berhasil tercapai. “Berkat Obligasi Nasional tersebut, keuangan negara dapat diperkuat dan Poesat Bank Indonesia serta Bank Rakyat Indonesia segera dapat ikut serta menggerakkan perkreditan secara teratur, baik bagi pertanian maupun kerajinan rakyat,” tulis Oey Beng To. Tapi pengembalian Pinjaman Nasional itu justru bermasalah. Buruknya pencatatan, dokumentasi, dan pengarsipan menyebabkan pemerintah gagal bayar pokok pinjaman dan bunganya ke para krediturnya. Ditambah lagi keadaan semakin runyam akibat Agresi Militer Belanda I dan II. Oey Beng To menyebut kejadian-kejadian itu telah melenyapkan Pinjaman Nasional 1946 dari perhatian umum.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page