Hasil pencarian
9737 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Mengokohkan Balet Nasional Indonesia
THE Little Ballet Group, grup balet pertama Indonesia, berhasil menggelar pertunjukan perdananya pada 24 Agustus 1959. Grup ini terdiri dari pebalet Indonesia: Farida Oetoyo, Julianti Parani, Jimmy Tan, Louise Pandelaki, dan Wim Roemers. Hampir semuanya berusia 20-an tahun. Kecuali seorang bernama Nyonya Leska Ong.
- Kisah Benda-Benda Bersejarah Indonesia Dibawa ke Negeri Orang
Alfred Russel Wallace, seorang naturalis Inggris, sempat mampir ke Mojokerto dalam ekspedisinya di Kepulauan Nusantara. Di sana ia menginap di rumah Mr. Ball, lelaki Inggris yang telah lama tinggal di Jawa. Oleh kenalan barunya itu, Wallace diantarkan ke Desa Mojoagung. Dalam perjalanan mereka berhenti untuk mengamati puing-puing kota kuno Majapahit. Sampai di rumah seorang wedana atau kepala distrik Mojoagung, ia melihat sebuah relief dewi yang terpajang. Relief pada batu andesit itu tingginya tak sampai perut orang dewasa. Tadinya, panil batu itu terkubur di suatu tempat dekat Mojoagung. Wallace mengaguminya. Ketertarikannya itu sampai terlihat di ekspresi wajahnya. Ball pun memintakan relief itu untuknya. "Senang sekali ternyata wedana itu langsung memberikan," kata Wallace. Sosok perempuan dalam relief itu adalah Durga Mahisasuramardini. Ia memiliki delapan tangan dan berdiri di atas punggung seekor mahisa (kerbau). Salah satu tangan kanannya menarik ekor mahisa . Sementara tangan kirinya menjambak rambut asura (raksasa) yang keluar dari kepala mahisa . Tangan lainnya memegang bermacam-macam senjata. "Dewi ini sangat dipuja oleh orang-orang Jawa masa lampau sehingga patungnya sering ditemukan di puing candi-candi yang terdapat di bagian timur Pulau Jawa," lanjut Wallace. Keesokannya, relief yang didapat Wallace secara cuma-cuma itu dikirim ke Mojokerto. "Akan saya bawa nanti kembali ke Surabaya," ujar Wallace. Kisah Wallace mendapatkan cenderamata berupa temuan arkeologis itu dicatat dalam karyanya, The Malay Archipelago yang terbit pada 1869. Perilakunya tak begitu mengejutkan. Kala itu, artefak dari Nusantara memang biasa dijadikan cenderamata, hadiah, bahkan hiasan taman di kediaman para pejabat kolonial. Maka tak mengherankan kalau di antaranya kini terpajang cantik di museum-museum di negeri orang. Dibanding Wallace, masih ada yang lebih parah. Ia adalah Frederik Coyett, orang Eropa pertama yang mengunjungi Borobudur pada 1733. Ia tertarik pada relief dan arca Buddha di candi itu. Ia pun membawa beberapa arca ke Batavia. Menurut Jean Gelman Taylor, sejarawan dari University of New South Wales, Australia dalam “Visual History a Neglected Resource for the Longue Durée”, termuat di Environment, Trade and Society in Southeast Asia a Longue Durée Perspective, oleh-oleh arca itu oleh Coyett kemudian ditempatkan di taman villa yang ia bangun sesaat sebelum kematiannya pada 1736. “Kemudian tanah miliknya pindah kepemilikan kepada komunitas Tionghoa Batavia yang juga tertarik pada arca Buddha, mengubah tempat tinggal Coyett menjadi Kuil Cina dan tanah pemakaman yang dikenal sebagai Klenteng Sentiong,” jelas Taylor. Ada lagi Nicolaus Englehard, gubernur pantai timur laut Jawa pada 1801-1808. Setelah sempat melakukan perjalanan ke tiga situs kuno di Yogyakarta: Candi Prambanan, Kota Gede, dan Pesanggrahan Gembirowati, tiba-tiba minat Englehard terhadap tinggalan purbakala tersulut. Begitulah kata sejarawan asal Belanda, Marieke Blombergen dan Martijn Eickhoff dalam “A Wind of Change on Java’s Ruined Temples: Archaeological Activities, Imperial Circuits and Heritage Awareness in Java and the Netherlands (1800-1850)” termuat di BMGN - Low Countries Historical Review (2013). Englehard pun mengisi tahun-tahun berikutnya dengan berbagai “kegiatan arkeologis” lainnya. Contohnya pada 1804, ia mulai mengumpulkan arca-arca kuno di Jawa untuk dipajang di kediamannya, "De Vrijheid", di Semarang. Di antara arca-arca itu ada yang berasal dari Candi Singasari di Malang. Kebetulan, Englehard baru menemukan kembali candi dari abad ke-13 itu setahun sebelumnya. Menurut Ann R. Kinney dalam Worshiping Siva and Buddha: The Temple Art of East Java dari candi yang diyakini sebagai pendharmaan Raja Kertanegara itu,ada enam arca utama yang dibawa Englehard. “(Arca-arca itu, red .) akhirnya membentuk inti dari koleksi seni Indonesia di Rijksmuseum voor Volkenkunde di Leiden,” jelasnya. “Selama abad ke-19, arca-arca lainnya terus dipindahkan ke Holland atau Batavia, atau diberikan kepada pejabat tinggi yang berkunjung.” Nasib artefak sebagai buah tangan berlanjut pada masa kedudukan Inggris di Jawa. Bahkan menurut Peter Carey, sejarawan asal Inggris, mereka adalah pencuri aset Indonesia nomor wahid. Setidaknya ada dua benda cagar budaya penting asal Indonesia yang kini nasibnya masih di negeri orang karena dibawa oleh Sir Stamford Raffles. Prasasti Sanguran atau dikenal dengan Minto Stone sudah lebih dari 200 tahun berdiri di halaman belakang rumah keluarga Lord Minto dalam keadaan tertutup lumut dan lapuk. Padahal prasasti dari 982 M ini memuat catatan pemberian status sima oleh raja Medang di Jawa Tengah, Dyah Wawa kepada Desa Sanguran, yang mungkin letaknya di sekitar Malang sekarang. Dari tempat ditemukannya di Malang, Prasasti Sanguran dikirim ke Kolkatapada April 1813. Menurut sejarawan asal Inggris, Hadi Sidomulyo (Nigel Bullogh) dan Peter Carey dalam “The Kolkata (Calcutta) Stone” termuat di Jurnal The Newsletter (2016) terbitan International Institute for Asian Studies, prasasti ini dimaksudkan sebagai hadiah dari Raffles kepada pelindungnya, Gubernur Jenderal India, Lord Minto. Minto yang mengakhiri masa jabatannya pada Desember tahun itu, membawanya pulang ke Skotlandia. Prasasti itu kemudian diletakkan di tanah leluhurnya di Roxburghshire. “Paling tidak, itu menunjukkan Minto menghargai barang itu dan bersusah payah memilikinya, diangkut ke tanah miliknya di Skotlandia, meskipun beratnya lebih dari tiga ton,” kata Hadi. Beda nasibnya dengan Prasasti Pucangan atau yang dikenal dengan Calcutta Stone. Kini, kata Hadi, ia tersimpan tak terawatt di Museum India. Padahal Prasasti Pucangan yang berasal dari 1041 M itu unik karena satu-satunya yang menyimpan catatan kronologis tentang pencapaian Airlangga, penguasa di Kahuripan, disertai silsilahnya sebagai pewaris keluarga raja yang sah. “Kolkata Stone, di sisi lain, disimpan di Museum India di mana sekarang hampir dilupakan, mengalami degradasi karena keingintahuan kecil, terperangkap di gudang museum asing seolah-olah akibat kecelakaan historis,” catat Hadi. Menurut Hadi, tak jelas bagaimana dan kapan Prasasti Pucangan menemukan jalannya ke Kolkata. “Yang kita tahu, bahwa itu adalah salah satu dari dua prasasti batu Jawa yang penting, yang dikirim ke India selama periode pemerintahan Raffles,” jelasnya lagi. Kemungkinan, Mackenzie menemukannya ketika bertamasya ke wilayah Mojokerto sekarang pada Maret 1812. Lalu ia membawanya ke Surabaya melalui sungai Kali Mas. "Rincian pengirimannya ke Kolkata belum diketahui, tetapi prasasti itu cukup masuk akal berada di antara barang-barang yang menemani Mackenzie sekembalinya ke India pada Juli 1813," kata Hadi. Arca Prajnaparamita atau dikenal dengan Arca Ken Dedes. Kini menjadi koleksi Museum Nasional, Jakarta. (Wikipedia). Jadi Koleksi Museum Luar Negeri Belum lagi cerita Raja Chulalongkorn dari Siam (Thailand) yang membawa pulang sembilan gerobak penuh arca dan karya seni Jawa Kuno, sebagai ganti patung gajah yang sekarang terpajang di halaman depan Museum Nasional, Jakarta. Pada 1896, baginda berkunjung ke Jawa. Ia meminta izin kepada pemerintah kolonial Belanda untuk membawa pulang arca-arca itu. Dalam Borobudur: Golden Tales of the Buddhas , John Miksic, arkeolog University of Singapore, mengungkapkan oleh-oleh yang diminta sang raja itu termasuk 30 relief, lima arca Buddha dan dua arca singa dari Candi Borobudur, beberapa langgam Kala yang biasanya ada di bagian atas pintu masuk candi, serta arca Dwarapala yang merupakan temuan dari Bukit Dagi, yaitu bukit yang berada sekira beberapa ratus meter di barat laut Candi Borobudur. Namun setidaknya, benda-benda ini masih bernasib baik. Sofwan Noerwidi, arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, dalam "Ganesa Pemimpin Para Gana: Dua Arca Ganesa Singasari Koleksi Museum di Negeri Orang", termuat dalam Arca: Sepilihan Teks dan Foto tentang Seni Arca Klasik mengatakan satu paket arca Buddha dari Borobudur itu kini diletakkan di kuil Wat Phra Kaeo, di dalam kompleks istana. Sementara di Museum Nasional Bangkok tersimpan pula koleksi arca dan relief dari Prambanan, Plaosan, dan Jawa Timur. "Di museum inilah kita temukan kembaran arca Ganesha Singasari di Leiden yang ditempatkan di tengah-tengah Java Room, dan dilengkapi dengan altar yang nampaknya digunakan oleh sebagian pengunjung," jelasnya. Museum di Leiden, atau namanya Rijksmuseum Volkenkunde sudah lama diketahui menyimpan banyak harta karun Singhasari. Di sana terpajang cantik arca Brahma, Nandi, Durga, Ganesha, Bhairawa, Mahakala, dan Nandiswara dari Singhasari. "Karena itu, jika kita ke Candi Singasari, kita hanya akan menemukan arca Agastya di bilik selatan, fragmen arca Dewa Candra dan Surya, serta arca Dewi Parwati yang belum selesai di pelataran candinya," kata Sofwan. Yang mungkin bernasib lebih menggembirakan lagi adalah di antara mereka yang kemudian berhasil kembali ke tanah air. Misalnya, keropak Negarakrtagama yang hanya ada satu-satunya di dunia. Lontar ini, kata arkeolog Nunus Supardi, dalam "Ken Dedes Pulang Kampung" termuat di Jurnal Prajnaparamita (2016), dirampas dari Puri Cakraningrat, Lombok, ketika Belanda menyerbu puri itu. Pada 1972, keropak Negarakrtagama resmi diizinkan pulang kampung. Sekarang ia disimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Ada juga arca Prajnaparamita. Konon, arca yang dikenal sebagai arca Ken Dedes ini berasal dari Candi Cungkup Putri yang lokasinya tak jauh dari Candi Singasari. Sebelum akhirnya kembali ke tanah air, dan menjadi koleksi masterpiece di Museum Nasional, Jakarta, arca Ken Dedes juga pernah menjadi penghuni Rijksmuseum Volkenkunde. Nunus menjelaskan Ken Dedes ditemukan pada 1819 oleh D. Monnereau, seorang pegawai Belanda di dekat Singhasari. Arca itu kemudian diserahkan kepada C.G.C. Reinwardt pada 1820, lalu dibawanya ke Belanda. "105 tahun kemudian, pada 1975 Ken Dede bisa dibawa pulang kembali ke tanah air," kata Nunus. Pada awal tahun 2020, sebanyak 1.500 benda bersejarah yang sebelumnya ada di Museum Nusantara di Kota Delft, Belanda, dipulangkan ke Indonesia melalui proses repatriasi. Dulunya koleksi itu merupakan barang-barang dari Indonesia yang dibawa ke Belanda pada masa kolonial.
- Kegagalan Kepala Stasiun CIA di Jakarta
DALAM rapat mingguan di Gedung Putih pada empat bulan pertama tahun 1957, Direktur CIA Allen Dulles, membawa catatan-catatan ringkas dari telegram yang dikirimkan kepala stasiun CIA di Jakarta. Inti dari pesan telegram itu bernada memanas-manasi: “Situasi kritis… Sukarno seorang komunis terselubung… Kirimkan senjata.”
- Chailan Si Peliput Kongres Perempuan Pertama
DALAM Kongres Perempuan Pertama, 1928, ada satu perempuan yang hadir khusus untuk meliput acara tersebut. Dialah Chailan Syamsu Datuk Tumenggung, tokoh perempuan yang lantang menyuarakan hak pilih bagi perempuan pribumi dan penghapusan perkawinan anak. Chailan meliput atas perintah Pejabat Penasihat Urusan Pribumi CH O van der Plas. Van der Plas merupakan atasan suami Chailan yang bekerja sebagai pegawai pemerintah Hindia-Belanda. Dalam tugas ini, Chailan diminta untuk membuat laporan rinci tentang penyelenggaraan dan pembahasan dalam kongres tersebut. Meski ditugaskan oleh pejabat Hindia, laporan Chailan, seperti dikutip Susan Blackburn dalam Kongres Perempuan Pertama, Tinjauan Ulang, bernada simpatik. Ia mencatat ide-ide perempuan tentang perkawinan yang adil juga penghapusan perkawinan anak. Ada sekira 600 perempuan hadir dalam kongres tersebut. Tak semua hadirin berasal dari kalangan “tak berpendidikan”. Chailan heran karena tak ada istri pejabat dan wartawan Eropa yang hadir, padahal pers Indonesia terwakili dengan baik. Ia juga mengkritik panitia kongres yang tak mengundang organisasi perempuan di Jawa Barat. Ketika Chailan mengkonfirmasi hal tersebut, rupanya panitia tak tahu kalau di Jawa Barat sudah ada organisasi perempuan. Chailan sendiri juga aktif dalam gerakan perempuan. Ia merupakan ketua Persatuan Isteri Pegawai Bumiputra (PIPB) dan Sarekat Kaum Ibu Sumatera (SKIS). Chailan lahir di Bukittinggi, 6 April 1905. Setelah menikah dengan Lanjumin Datuk Tumenggug, ia tinggal di Batavia. Keaktifannya dalam gerakan makin menjadi setelah pindah ke kota ini. Ketika gerakan perempuan Indonesia belum memperjuangkan hak pilih, Chailan memilih bergabung dengan Asosiasi Hak Pilih Perempuan (Vereeniging voor Vrouwenkiesrecht, VVV). Lantaran cukup aktif, ia dipercaya duduk sebagai anggota dewan VVV cabang Batavia. Chailan menjadi satu di antara sedikit perempuan Indonesia yang bergabung dengan organisasi yang digagas feminis Belanda Aletta Jacobs itu. Selain Chailan, perempuan Indonesia yang bergabung dengan VVV ialah Rukmini Santoso (adik Kartini) dan Nyonya Abdul Rachman (nama dirinya tidak diketahui) . Ketika VVV hendak mengubah haluan dengan memperjuangkan hak pilih hanya untuk perempuan Eropa, Chailan menolak keras. Penolakan Chailan dan para pendukungnya tak membuahkan hasil. “Dia meninggalkan posisi dewan setelah setahun, secara formal karena banyaknya pekerjaan di tengah krisis dunia namun pengunduran dirinya bisa jadi karena perbedaan pendapat antara dia dan anggota dewan VV lain tentang posisi perempuan Indonesia dalam asosiasi,” tulis EIsbeth Locher-Scholten, dalam Women and The Colonial State. Setelah keluar dari VVV, ia aktif mengkampanyekan pentingya hak pilih di kalangan perempuan pribumi. Dalam Kongres Perempuan Indonesia III, 1938, Chailan memberi pidato tentang pentingnya kehadiran perempuan dalam pembentukan kebijakan dan hak pilih perempuan pribumi. Kongres yang tergugah dengan pidatonya pun menyepakati bahwa soal hak pilih harus terus diperjuangkan sekaligus menyatakan bahwa para perempuan akan berjuang di ranah politik. Chailan bersama Maria Ullfah pun diajukan sebagai anggota Dewan Rakyat oleh para perempuan. Selain menyuarakan soal politik perempuan, sejak 1930 Chailan aktif dalam penghapusan perkawinan anak. Ia pun salah satu perempuan yang ikut berkontribusi dalam Indisch Vrouwen Jaarboek (Buku Tahunan Perempuan Indies, 1936), kompilasi tulisan perempuan Indies dari semua ras. Menurut Susan Blackburn dalam Women and The State Modern Indonesia , tulisan Chailan diambil dari observasinya pada masyarakat urban di sekitarnya. Misalnya saja, ketika Chailan menyebut adanya penurunan praktik perkawinan anak, ia tidak menyebutkan data secara spesifik. Namun, menurut Susan, karyanya cukup penting untuk melihat kondisi perkawinan anak di era tersebut. “Perlahan, orang akan meyadari bahwa perkawinan anak sejatinya merupakan kanker di sekitar kita yang harus dilawan secara keras,” tulis Chailan.
- Martir Letnan Kadir dan Seloroh Kopral Panamo
BEBERAPA saat sebelum terjadi pertempuran di Desa Mardinding, Tanah Karo, Letnan Kadir Saragih menatap puncak bukit yang ada di desa tersebut. Cukup lama dia menatapi Bukit Mardinding itu. Dengan tatapan takjub, Kadir berujar dengan lepas kepada kawan sekompinya. “Alangkah indahnya puncak bukit itu. Suatu tempat perhentian yang menyenangkan,” ujar Kadir. Dia melanjutkan, “Kalau nanti ada diantara kita yang gugur ditembus peluru senjata Belanda, kita makamkan di atas bukit ini sebagai tugu kenang-kenangan, sebagai ‘benteng kemenangan'.” Ucapan Letnan Kadir tersebut tercatat dalam buku harian komandan resimennya, Letkol Djamin Gintings yang pada 1964 diterbitkan dalam memoar berjudul Bukit Kadir . Letnan Kadir adalah Komandan Seksi 2 Kompi 1 Batalion XV yang ditugaskan dalam operasi dadakan menggempur kubu pertahanan Belanda di Mardinding. Dalam kenangan Djamin Gintings, Letnan Kadir merupakan perwira muda berbadan tegap. Tingginya lebih kurang 160 cm. Menurut kawan-kawannya, Letnan Kadir memilki paras muka yang bisa menarik perhatian kaum Hawa. “Tetapi sampai akhir hidupnya dia belum mempunyai kekasih selain daripada perjuangan,” tulis Djamin Gintings. Dalam keadaan siap tempur, Letnan Kadir menampilkan laku yang aneh. Kepada Sersan Mayor Bantaryat Sinulingga, Kadir menyerahkan pedangnya. Sinulingga pun terheran-heran melihat tindakan komandannya. “Tuan sendiri pakai senjata apa?" tanya Sinulingga. “Saya bawa sebuah pentungan,” jawab Kadir. “Saya kira sudah cukup sekedar untuk menghajar mereka (tentara Belanda - red ) agar mereka tahu kena pentungan tentara Indonesia,“ tukasnya. Selain Kadir, seorang prajurit bernama Kopral Panamo memperlihatkan gelagat yang tidak kalah anehnya. Seperti Letnan Kadir, Kopral Panamo seorang prajurit anggota Kompi 1. Badannya gemuk pendek dan berkulit hitam. Panamo dikenal suka melawak dan membuat kawannya-kawannya tertawa. Menurut Djamin Gintings, sejak agresi militer Belanda pertama, Panamo mengurusi bagian perbekalan makanan. Tidak heran bila Panamo selalu lapar dan doyan makan. Menjelang penyerbuan, Kopral Panamo mengambil seutas rotan. Ketika rekannya bertanya untuk apa gerangan, Panamo mengatakan rotan itu akan digunakan sebagai tali ranselnya. Tetapi sembil tertawa, Panamo berseloroh, “Kalau nanti saya tewas tali ini untuk mengikat mayat saya.” Semua temannya-temannya termasuk Panamo sendiri tertawa lepas. Pertempuran pun berlangsung dari tengah hari hingga pukul 5 sore. Ketika desing peluru saling berbalas, Letnan Kadir maju menyerbu pos tentara Belanda sambil berseru “Maju” dan “Merdeka.” Tiba-tiba sebuah peluru menembus dada Kadir dan dia gugur seketika. Kopral Panamo yang kocak itu juga terkena tembakan di perutnya. Panamo sempat bertahan dari luka beratnya. Tali rotan yang sudah dipersiapkannya ternyata berguna menjadi tambahan pengikat alat pemikut tandu ketika Panamo dibawa ke tempat yang lebih aman. Di tengah jalan, Panamo kehausan. Teman-temannya memberi air minum. Namun setelah minum, Panamo meronta, “Perutku. Tolong pijak biar semua air keluar.” Dia kesakitan usai meminum air itu. Ketika berada di pinggang bukit, Panamo tidak mampu lagi bertahan. Dia mengehembuskan nafas penghabisan setelah memekikkan “Merdeka”. Di lembah bukit Mardinding itulah Kopral Panamo dimakamkan. Sementara Letnan Kadir dimakamkan di puncak bukit, sebagaimana permintaannya sebelum pertempuran berlangsung. Letkol Djamin Gintings menamakan puncak Bukit Mardinding sebagai Bukit Kadir dan lembahnya sebagai Lembah Panamo. Untuk mengenang keduanya, sang komandan resimen menuliskan untaian sajak. Di puncak bukit terletak pusara Pahlawan kadir yang gagah perkasa Sebagai tugu pahlawan bangsa Mempertahankan tanah air Indonesia Itulah……….Bukit Kadir Di lembah bukit Panamo berkubur Demi perjuangan ia tersungkur Gugur sebagai pahlawan bertempur Untuk kemerdekaan yang subur Itulah……….. Lembah Panamo
- Hidup di Kawasan Rawan Banjir
Memasuki tahun 2020, banjir melanda sejumlah wilayah di Jakarta dan sekitarnya. Genangan air sempat melumpuhkan berbagai akses jalan dan fasilitas umum, termasuk merendam rel dan landasan bandara. Ini bukan pertama kalinya banjir merendam Jakarta. Menurut Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, selama air dibiarkan masuk dari selatan ke Jakarta tanpa pengendalian di wilayah selatan, banjir akan terus terjadi. "Apa pun yang kita lakukan di pesisir termasuk di Jakarta tidak akan bisa mengendalikan airnya," kata Anies seusai memantau banjir melalui helikopter dari kawasan Monas. Anies pun mengapresiasi pembangunan dua bendungan di Bogor, Jawa Barat, untuk mengendalikan air masuk ke Jakarta. Bendungan Sukamahi dan Bendungan Ciawi tengah dibangun Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Dua bendungan ini diprediksi rampung pada 2020. "Kuncinya ada di pengendalian air sebelum masuk ke kawasan pesisir," tegas Anies. Seorang anak membawa bonekanya melewati banjir di Jakarta. (Fernando Randy/Historia). Kerugian besar akibat banjir pernah dirasakan Raja Airlangga, penguasa Kahuripan pada 1019-1042, dan rakyatnya. Lewat Prasasti Kamalagyan yang ia keluarkan pada 1037, diketahui kalau Bengawan (Sungai Brantas) sering menjebol tanggul di Waringin Sapta. Luapannya pernah membawa banyak dampak kerugian. "…demikianlah banyaknya tanah pertanian yang sawah-sawahnya tertahan dan terkena (hasil buminya) oleh sungai kecil yang akhirnya menjadi bengawan menerobos di…," catat prasasti itu. "…Waringin Sapta, sehingga kuranglah milik raja dan binasalah sawah-sawahnya." Ninie Susanti, arkeolog Universitas Indonesia dalam Airlangga, Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI, menjelaskan sungai yang meluap itu tiba-tiba mengalir ke timur. Karenanya tanaman-tanaman rusak. Lalu lintas sungai serta hubungan dengan negeri Janggala dan laut pun terputus. Akibatnya, tak hanya di sektor pertanian karena sawah-sawah warga yang terendam. Tapi juga perdagangan dan agama. "Khususnya perdagangan yang menggunakan aliran Sungai Brantas sebagai jalur perdagangannya," jelas Ninie. Begitu pula nasibnya dengan desa-desa, bangunan-bangunan suci dan pertapaan-pertapaan. Berdasarkan prasasti itu, epigraf Boechari dalam "Perbanditan di Jawa Kuno", termuat di Melacak Sejarah Kuno Lewat Prasasti , menjelaskan desa-desa yang terdampak berada di sebelah hilir, yaitu desa-desa Lasun, Palinjuwan, Sijanatyasan, Panjigantin, Talan, Dasapangkah, dan Pangkaja. Berikut juga semua jenis sima , terutama di antaranya adalah sima bagi Sang Hyang Dharma di Isanabhawana yang bernama Surapura. "Desa dan sima itulah yang selalu ditimpa banjir dan terendam sawah-sawahnya jika Bengawan (Brantas) meluap di Waringin Sapta. Akibatnya sawah hancur. Pemasukan pajak pun berkurang," katanya. Bukan tak tahu risikonya, kata Ninie, Airlangga memang sengaja memindahkan pusat kerajaannya lebih ke pedalaman yang dekat dengan aliran Sungai Brantas. Prasasti Kamalagyan menyebutkan pusat kerajaan berada di Kahuripan. Kemungkinan letaknya di wilayah Mojokerto sekarang. Sebelumnya pusat kerajaan ada di Wwatanmas. Alasan pindahnya karena Airlangga ingin memajukan pertanian sawah sekaligus menghidupkan kembali pelabuhan perdagangan regional dan lokal. "Delta Sungai Brantas adalah daerah yang sangat potensial dengan tingkat kesuburan tinggi untuk mengembangkan pertanian," kata Ninie. Airlangga juga ingin menghidupkan pelabuhan-pelabuhan di tepi sungai di wilayah pedalaman. Fungsi pelabuhan ini untuk mengumpulkan hasil pertanian sebelum dibawa ke pelabuhan yang lebih besar. Warga membawa barang-barang melewati banjir di Jakarta. (Fernando Randy/Historia). Melihat pusat kerajaannya yang baru rawan banjir Airlangga pun mengambil dua cara: membangun bendungan yang menahan air banjir dari Kali Brantas dan memecah aliran sungai menjadi beberapa cabang. Menurut prasasti yang ditemukan di Klagen, Desa Tropodo, Sidoarjo, Jawa Timur itu, Sungai Brantas tak hanya sudah ditambak sekali atau dua kali. Tapi masih saja jebol. "Tak hanya sekali dua kali penduduk Waringin Sapta membuat tanggul luapan bengawan. Tapi tak pernah berhasil," kata Boechari. Karenanya raja turun tangan. Airlangga memerintahkan semua penduduk untuk bekerja bakti membangun bendungan. Ketika selesai, luapan air terhenti. Aliran bengawan dipecah menjadi tiga, mengalir ke utara. Itu sesuai dengan pernyataan dalam prasasti. "Sempurna dan kuat dan jalan air yang menerobos sudah tertutup, sungai bengawan bercabang tiga arusnya dan mengalir ke arah utara," catat keterangan dalam Prasasti Kamalagyan. Jika benar Kahuripan di wilayah Mojokerto sekarang, di tempat ini sekarang Sungai Brantas membelah menjadi dua. Lewat Kali Porong, air mengalir ke timur. Semetara lewat Kali Mas, air mengalir ke utara. Tetapi tak berhenti di situ. Raja memikirkan pula pemeliharaan bendungan selanjutnya. Ia menyadari banyaknya orang yang berniat menghancurkannya. "Karena bendungan itu tak dapat ditinggikan maka hendaknya ia dijaga," jelas Boechari. Untuk itulah penduduk Desa Kamalagyan diperintahkan untuk bertempat tinggal di tepi bangunan di Waringin Sapta. Tugas mereka mengawasi semua orang yang hendak mengancam keselamatan bendungan itu. Sebagai gantinya, raja menjadikan Desa Kamalagyan sebagai desa perdikan ( sima ). Artinya raja mengurangi beberapa macam pajak yang harus diserahkan kepadanya. Hasil dari sima digunakan untuk kepentingan peneliharaan bendungan di Waringin Sapta. Menurut Boechari, tugas menjaga bendungan itu lebih untuk menghindari dari tindakan sabotase. Rupanya pada masa itu tak banyak yang mendukung pemerintahan Airlangga. "Karena ia anak raja Bali, sekalipun ibunya keturunan Isana. Mereka tahu bahwa ada orang yang lebih berhak atas takhta kerajaan, yaitu anak Dharmawangsa Tguh, yang mungkin masih bayi atau masih dalam kadungan," jelas Boechari. Kendati begitu, berkat bendungan itu penduduk desa bersuka cita karena dapat mengolah kembali sawahnya. Para pedagang juga dapat berperahu dari hulu sungai untuk mengambil dagangan ke Hujung Galuh, tempat transaksi para pedagang dan nakhoda dari pulau lain. "Sehingga sukalah hati orang yang berlayar menuju ke hulu, setelah mengambil muatan di Hujung Galuh…" catat Prasasti Kamalagyan. "Penduduk desa yang sawahnya kebanjiran dan hancur amat bersenang hati sekarang, karena sawah mereka dapat dikerjakan kembali."
- Lima Kebakaran Hutan Terbesar di Australia
JIKA di Indonesia punya siklus banjir besar musiman, Australia punya musim kebakaran hutan. Lazimnya terjadi di masa peralihan tahun. Yang terjadi tahun ini merupakan yang terbesar semenjak peristiwa pertama yang tercatat 169 tahun lampau. Hingga kini pemerintah Australia masih berupaya memadamkan kebakaran hutan yang sejak Agustus 2019 itu. Meluas ke enam negara bagian, kebakaran itu sudah melalap total 5.919.500 hektar lahan hutan dan pemukiman, termasuk di dalamnya 1.516 rumah dan merenggut 19 nyawa. Kebakaran itu juga mengakibatkan sejumlah wilayah di South Island, Selandia Baru terkena hujan abu sejak 1 Januari 2020. Kebakaran hutan di Australia biasanya dipicu musim kemarau yang disusul gelombang panas. Dari masa ke masa seiring perubahan iklim, kebakaran hutan di Australia kian sering terjadi. “Bahkan bencana seperti ini takkan menggugah tindakan politis apapun. Kenapa? Karena kita masih gagal memahami keterkaitan antara krisis iklim dan peningkatan cuaca ekstrem dan bencana alam seperti #AustraliaFires. Itu yang harus diubah saat ini,” cetus aktivis perubahan iklim Greta Thunberg di akun Twitter -nya, 22 Desember 2019. Selain karena kemarau panjang, kebakaran hutan di Australia kerap terjadi akibat gelombang panas ekstrem dan kecerobohan manusia. Kebakaran dahsyat pertama tercatat terjadi pada 1851. Selain karena kemarau, kebakaran itu dipicu ulah manusia lantaran di masa itu tengah “haus” berburu emas. Kebakaran hutan kian sering terjadi setelah dekade 1960-an. Berikut lima kebakaran dahsyat di Australia di masa lampau: Kebakaran “Black Thursday” 1851 Sejak pertengahan tahun 1850 kawasan Victoria didera gelombang panas dan kekeringan dahsyat. Hal itu memicu kebakaran hutan besar pada Kamis, 6 Februari 1851. Si jago merah melalap lima juta hektar atau seperempat luas Koloni Victoria (pada 1901 Victoria baru resmi berstatus negara bagian federal Australia). Sebelum 2018, kebakaran itu jadi kebakaran pertama dan terbesar yang tercatat para ilmuwan Barat. Selain gelombang panas yang mencapai 47,2 derajat celcius dan kekeringan, menurut Margaret Kiddle dalam Men of Yesterday: A Social History of the Western District of Victoria, 1834-1890 , kebakarannya disebabkan oleh bara bekas api unggun yang ditinggalkan para pemburu emas di Plenty Ranges. Bara api itu tertiup angin kencang ke semak-semak kering. Kebakaran hutan itu merembet ke sejumlah wilayah pertanian dan peternakan di Plenty Ranges, Portland, Western Port, Wimmera, Dandenong, Gippsland, hingga Mount Macedon. Kebakaran itu menewaskan 12 orang dan sekira sejuta domba serta ribuan hewan ternak lain. “Beruntung pada Jumat siang turun hujan ringan yang mendinginkan atmosfer, sekaligus memadamkan kebakarannya perlahan,” sebut suratkabar The Launceston Examiner , 8 Februari 1851. Kebakaran “Black Friday” 1939 Kendati bukan yang terbesar, kebakaran pada Jumat, 13 Januari 1939 ini tergolong yang paling banyak memakan korban. Menukil Lewis Wendy dkk. dalam Events That Shaped Australia , kebakaran hutan ini menghanguskan total dua juta hektar atau sepertiga wilayah Victoria. Total 71 orang tewas akibat kebakaran ini. Lebih dari 1.000 rumah hangus kala kebakaran hutan ini merembet ke kota-kota di sekitarnya, di antaranya Hill End, Narbethong, Nayook West, Noojee, Woods Point, Omeo, Pomonal, Warrandyte, Yarra Glenn, dan Adelaide Hills. Penyebab kebakaran ini bukan faktor alam. “Jutaan hektar hutan dilalap api dan mengakibatkan banyaknya properti dan nyawa melayang, kebakaran ini disebabkan oleh tangan manusia,” sebut hakim Leonard E. B. Stretton dari Royal Commission. Kebakaran baru padam saat hujan deras turun pada 15 Januari 1939. Kebakaran New South Wales 1951 Sepanjang November 1951-Januari 1952, kebakaran hebat melanda Piliga, Wagga, Dubbo, Forbes, dan Mangoplah di negara bagian New South Wales hingga ibukota Canberra. Data “ACT and South-West NSW Bushfire, 1951” di situs Australian Disaster Resilience mengungkap, total sekira empat juta hektar hangus tertelan si jago merah. Termasuk 10 ribu hektar di Canberra, Australian Capital Territory (ACT). Tidak hanya ratusan rumah dan peternakan, 13 orang (11 di NSW; 2 di Canberra) tewas oleh kebakaran itu. Untuk menanggulanginya, terutama yang menjalar ke wilayah-wilayah permukiman, pemerintah federal mengerahkan aparat pemadam kebakaran dan personil militer. “Hujan lebat di sepanjang pesisir selatan dan sebagian Riverina turut mempercepat pemadaman kebakaran. Kerugian di New South Wales mencapai tiga juta poundsterling (keseluruhan 6 juta pounds),” tulis suratkabar The West Australian , 28 Januari 1952. Kebakaran New South Wales 1974 Kebakaran besar kembali terjadi di sejumlah wilayah New South Wales dalam kurun Desember 1974-Januari 1975. Api merambat hingga memusnahkan 4,5 juta hektar lahan, menewaskan tiga orang serta melukai 100 lainnya dan menghancurkan 40 rumah. Mengutip “The Australian Bushfire Cooperative Research Centre Program” karya Laksamana Madya (purn.) Ian Donald George MacDougall, ketua BCRC atau Pusat Riset dan Kerjasama Kebakaran Hutan, kebakaran itu jadi yang terparah di negeri kanguru dalam rentang tiga dekade terakhir. “Sebelumnya lebih dulu terjadi kebakaran di Far West seluas 3,755.000 hektar, 50 ribu hewan ternak musnah. Di Cobar Shire lahan yang terbakar seluas 1,5 juta hektar, di mana puncaknya terjadi di pertengahan Desember (1974). Di Moolah-Corinya seluas 1.117.000 hektar dan sebagian besar apinya dipadamkan tim pemadam selain dibantu hujan,” ungkap MacDougall. Kebakaran New South Wales 1984 Dalam artikelnya yang sama, MacDougall juga mencatat kebakaran dahsyat lain, yakni kebakaran di New South Wales satu dasawarsa berselang, akhir Desember 1984-Februari 1985. Selain menghanguskan sekira 3,5 juta hektar lahan, kebakaran itu juga memusnahkan 40 ribu hewan ternak dan menewaskan empat orang. “Pada Hari Natal (25 Desember) tercipta 100 titik api yang dipicu sambaran petir. Hasilnya 500 ribu hektar terbakar. Yang terbesar di Cobar, terjadi pada pertengahan Januari dengan menghanguskan 516 ribu hektar dari total 3,5 juta hektar keseluruhan yang memunculkan angka kerugian 40 juta dolar Australia,” sebut MacDougall.
- Operasi Rahasia CIA Paling Sukses di Indonesia
KONFLIK memperebutkan Irian Barat mendorong Indonesia untuk meningkatkan kemampuan militernya. Awalnya, Indonesia akan membeli alutsista ke Amerika Serikat. Namun, Amerika Serikat tak mau menjual alutsista kepada Indonesia karena terikat persekutuan dengan Belanda dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
- Jejak Demak di Palembang
KEBERHASILAN Pajang menguasai Demak berujung duka. Pihak yang kalah terpaksa menerima segala titah penguasa baru. Memang tidak selamanya buruk. Namun tidak pula diterima begitu saja. Semangat penolakan dari rakyat Demak masih terasa di sebagian daerah. Meski akhirnya mereka tersingkir hingga ke tepi laut. Setelah memastikan penetapan kekuasaan atas bekas wilayah Demak, Pajang mulai bertindak agresif terhadap bekas penduduk Demak. JJ Meinsma dalam Babad Tanah Jawi: Jaavanse Rijkskroniek menyebut jika segala perlawanan para penguasa bekas bawahan Demak berhasil ditumpas oleh Pajang. Hingga tidak ada seorang pun yang berani melakukan perlawanan, kecuali Jipang. Tindakan memasukan bekas rakyat Demak ke Pajang tidak berjalan lancar. Banyak penguasa dan priyai Demak yang menolak Pajang. Mereka lebih memilih melarikan diri dan hidup mandiri, ketimbang ada di bawah kuasa Jaka Tingkir, raja Pajang. Ke mana rakyat Demak itu pergi? Mereka berlayar menuju wilayah Palembang, Sumatera Selatan. Diperkirakan sampai sebelum 1572. “Tatkala negeri Demak dikalahkan oleh Sultan Pajang, maka banyaklah raja-raja dan priyai yang lari, maka yang masuk ke Palembang bernama Gedeng Sura,” tulis Roo de la Faille dalam Dari Zaman Kesultanan Palembang . Lantas mengapa Palembang yang dipilih oleh para pelarian itu sebagai tempat menetap? Alasannya adalah kota bekas wilayah milik Sriwijaya itu pernah bekerja sama dengan Demak pada masa pemerintahan Raden Patah (1500-1518) dalam rencana penyerangan terhadap wilayah Malaka. Menurut Tome Pires dalam Suma Oriental , Demak yang sedang berusaha menjadi kekuatan maritim, meminta bantuan Palembang untuk memukul Portugis dari Malaka. “Negeri Palembang merupakan negeri terbaik yang dimiliki oleh Pate Rodim (Raden Patah), bahkan melebihi negerinya sendiri. Namun negeri ini telah dihancurkan oleh kita (Portugis). Rakyat Palembang berperang di Malaka secara terpaksa dan kini mereka semua tewas,” ucapnya. Embrio Kesultanan Palembang Ki Gedeng Sura dan para Priyai Demak dikisahkan berhasil mendarat di Palembang. Mereka tiba ketika kekuatan Kerajaan Palembang telah melemah pasca serbuan ke Malaka. Menurut HJ De Graaf dalam Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senapati , Ki Gedeng Sura berasal dari Surabaya. Ia dahulu mengabdikan dirinya kepada Demak. Ketika kerajaan itu jatuh, Ki Gedeng Sura memilih untuk pergi ketimbang tunduk di hadapan Pajang. Dari hasil penelitian De Graaf, Ki Gedeng Sura telah membangun pemerintahan di Palembang sejak 1572. Ia memegang kekuasaan tertinggi di dalam pemerintahannya itu. Namun De Graaf tidak menyebut nama kerajaannya. Sehingga diperkirakan jika kekuasaannya ada pada cakupan yang tidak terlalu besar. Agama kerajaan itu kemungkinan besar bercorak Islam, jika melihat latar belakang Ki Gedeng Sura. Keberadaan orang-orang dari Jawa dalam pemerintahan di Palembang diperkuat oleh tulisan pejabat Belanda Willem van Thijen, “De Instructie door Willem van Thjien, opperhoofd van Palembang voor Zijn opvolger Sr. Willem Bolton” dalam De Graaf . Thijen menyebut jika orang-orang ini terdesak oleh suatu kekuatan sehingga mereka terpaksa menetap di Palembang. “Penduduk kerajaan ini berasal dari Jawa. mereka baru tinggal seratus tahun di sana. Pada abad ke-16, antara putra-putra bupati tertinggi yang sudah meninggal di Jawa, timbul persengketaan yang meluas sedemikian rupa, sehingga putra yang pertama atau yang tertua berhasil meraih gelar Susuhunan atau Kaisar bagi dirinya, dan merampas daerah milik adik-adiknya,” tulis Thijen. Seorang penguasa yang wilayahnya terampas, lanjut Thijen, mengumpulkan sejumlah besar pengikut yang masih bertahan. Mereka pun terpaksa melarikan diri ke laut karena tidak ada lagi tempat bernaung yang aman. Penguasa dari Jawa mula-mula membangun kekuasaannya di pesisir. Semenjak itu jumlah penduduknya semakin bertambah. Kerajaan baru itu tidak hanya dihuni oleh orang-orang dari Jawa saja tetapi juga penduduk Sumatera. Ki Gedeng Sura diketahui secara terbuka menampung banyak pelarian dari daerah-daerah sekitar yang ingin mencari tempat aman dari tempat tinggal mereka sebelumnya. “Jadi berita Belanda tersebut mendukung cerita tutur tentang pelarian melalui laut yang dilakukan oleh para pendiri dinasti Palembang, karena takut akan kekerasan tindakan Pajang,” ucap De Graaf. Pada 1596 Kesultanan Banten melakukan penyerangan ke Palembang. Sultan Banten, kata De Graaf, mendapat nasihat dari seorang pengembara yang mengaku sebagai keluarga Sultan Demak di masa silam. Menurut Si Musafir, Palembang masih dikuasai oleh kafir sehingga Banten harus menaklukannya agar Islam berkembang pesat di sana. Di samping kejengkelan Si Musafir terhadap Ki Gedeng Sura yang sudah tidak pernah memberikan sembah puja (upeti) kepadanya. Serangan Banten terhadap Palembang berhasil menjatuhkan kekuatan di sana. Islam pun akhirnya dapat berkembang lebih pesat di bawah kuasa Kesultanan Banten. Tidak lama kemudian dibangun pemerintahan baru, yakni Kesultanan Palembang. Para pemimpinnya tercatat sebagai keturunan Ki Gedeng Sura dan para pelarian Demak.
- Candi Misterius di Pedalaman Sumatra
Ignatius Suharno, arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi, menunjukkan sebuah peta yang berisi titik-titik merah dan garis meliuk-liuk biru. Ia menjelaskan titik-titik merah itu mewakili candi dan garis biru mewakili kanal-kanal yang melingkupinya. Ada sekira sebelas kompleks candi yang tersebar di kawasan seluas 3000-an ha. Itu baru jumlah yang sudah dinamai dan dibuka untuk pengunjung. Selain itu masih ada puluhan gundukan tanah yang diduga di dalamnya menyimpan struktur bangunan kuno. "Ada 80-an menapo atau gundukan tanah yang mengandung reruntuhan bangunan kuno," kata Suharno, ketika ditemui di kawasan Candi Tinggi, salah satu candi dalam gugusan Kompleks Percandian Muarajambi, di Muaro Jambi, Jambi. Candi yang sudah nampak dan punya nama panggilan di antaranya Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Candi Astano. Datuk Ibrahim Akbar, mantan Kepala Desa Muaro Jambi tahun 1980-an, menyebut nama-nama itu merupakan ciptaan masyarakat sekitar candi. Candi Tinggi misalnya, dinamai begitu karena masyarakat melihat candi itu berupa gundukan tanah yang paling tinggi di antara lainnya. Kendati begitu, pria berusia 73 tahun itu, belum lahir ketika akhirnya candi-candi di sana ditemukan kembali. Ia hanya mendengar cerita itu dari para pendahulunya. Candi-candi di Muaro Jambi mulai ditemukan pada 1820 oleh seorang perwira Angkatan Laut Kerajaan Inggris bernama S.C. Crooke. Setelahnya berbagai penelitian pun dilakukan. Pada 1954, akeolog R. Soekmono melakukan peninjauan terhadap peninggalan purbakala di Sumatra Selatan. Ia lalu mampir ke Muaro Jambi yang dulunya masih menjadi bagian wilayah itu. Tempat-tempat yang dikunjungi antara lain Candi Astano, Gumpung, dan Tinggi. Ketiganya masih berupa gundukan tanah tertutup rapat vegetasi hutan. Pembersihan kawasan candi baru dilakukan pada 1976. Dari situ nampaklah tujuh reruntuhan candi: Kotomahligai, Kedaton, Gedong I, Gedong II, Gumpung, Tinggi, Kembarbatu, dan Astano. Pemugaran dilakukan dua tahun kemudian. Penelitian arkeologi mulai aktif dilakukan sejak 1981. Awalnya oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Lalu dilanjutkan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi dan Balai Arkeologi Sumatra Selatan. “Dari dulu sudah tahu ini namanya candi, tapi tak tahulah untuk apa. Kerajaan tahunya. Tapi tak tahu ini kerajaan apa,” kata Ibrahim. Untuk Keagamaan dan Pendidikan Candi-candi di Muaro Jambi tersebar dari barat ke timur, sepanjang 7,5 km, mengikuti aliran Sungai Batanghari. Memang belum jelas betul dulunya bangunan-bangunan kuno itu dipakai untuk apa. Banyak peneliti yang mengaitkan sisa-sisa bangunan itu dengan mahavihara yang pernah didatangi oleh I-Tsing pada abad ke-7. Sementara Suharno, yang memelihara dan melestarikan kompleks percandian di Muaro Jambi menjelaskan, sejauh ini bangunan-bangunan kuno itu ditafsirkan pernah berfungsi sebagai pusat keagamaan. “Perlu dibedakan antara pusat kerajaan dan pusat keagamaan. Masyarakat kalau bicara candi, pikirnya pasti ini pusat kerajaan," katanya. "Padahal ini pusat keagamaan. Muarajambi ini pusat keagamaan Buddha." Tanda-tandanya, antara satu candi dan candi lainnya dibatasi oleh pagar keliling. Ini untuk membagi wilayah sakral dan profan. "Ada kolam, setiap candi pasti dilengkapi kolam. Air melambangkan kesucian," lanjutnya. Itu dikuatkan hasil penelitian Musawira, lulusan arkeologi Universitas Jambi. Khususnya di Candi Gumpung, dia melihat adanya bekas-bekas kegiatan agama pada masa lalu berupa temuan bata setengah lingkaran yang merupakan bagian dari stupa. Ada pula lantai pradaksina patha pada candi induknya. Pradaksina patha adalah lantai untuk melakukan ritual pradaksina, yaitu mengelilingi candi searah jarum jam. Di depan candi induk itu, ditemukan pula dua kolam. “Sebelum ritual mereka mensucikan diri, lalu mereka ke candi induk melakukan pradaksina . Kemungkinan yang di candi induk untuk para petinggi, nah yang di perwara (candi pendamping, red.) buat umat kebanyakan," kata Musawira. Sementara Asyhadi Mufsi Sadzali, arkeolog Universitas Jambi, ketika ditemui di Kompleks Percandian Muarajambi, mengatakan dengan banyaknya candi di dalam kompleks percandian itu, belum ada yang membahas masing-masing fungsinya. “Apakah terus digeneralisir? Kan harus dijawab masing-masing fungsinya. Belum ada sejauh ini,” katanya. Jika Candi Gumpung digunakan untuk kegiatan ibadah, bagaimana dengan Candi Kedaton yang memiliki begitu banyak ruang dan halaman? Di kompleks candi seluas 5 ha itu ditemukan pula sumur dan kuali kuno. “Di Kedaton, apakah itu asrama? Ada sumur, ada kuali di sana. Apakah biksu waktu itu memasak? Apakah mereka melibatkan warga lokal? Penyuplai beras siapa? Dari mana suplainya?” ujarnya. Kajian fungsi bangunan pernah dilakukan arkeolog Agus Widiatmoko dalam disertasinya. Kesimpulannya, bangunan yang berpagar sedikit, misalnya satu, diidentikan dengan bangunan keagamaan. “Pembagian ruang yang lebih banyak itu pendidikan. Apakah belajar atau asrama ini perlu dijawab,” kata Asyhadi. Namun, menurut pria yang akrab disapa Didi itu, penemuan arca Prajnaparamitha bisa dijadikan penguat pendapat itu. Tokoh itu identik sebagai Dewi Pengetahuan dan Kebijaksanaan. “Jadi relasinya dengan pengetahuan,” kata Asyhadi. Ada pula arca Dwarapala, atau arca penjaga yang ditemukan di Candi Gedong II. Di Muarajambi karakter penokohannya berbeda dengan di kebanyakan candi. “Di sini (Dwarapala, red .) senyum, tak ada seram-seramnya. Malah sangat welcome . Ini artinya mungkin menyambut bukannya menjaga sesuatu dengan seram,” lanjutnya. Pun dilihat dari lokasinya, menurut Asyhadi, gugusan Kompleks Percandian Muarajambi secara keseluruhan cocok sebagai tempat belajar atau berupa mahavihara . Dalam membangun mahavihara para pendirinya pasti memilih lokasi yang jauh dari keramaian. Kalau tak di gunung, maka di tengah hutan. “Untuk mencari tempat yang sunyi dan cocok untuk belajar, jauh dari godaan duniawi,” kata Asyhadi. “Kita lihat sekarang sungai ini (Batanghari, red .) begitu luas dan lebar. Bayangkan ribuan tahun lalu mungkin lebih lebar lagi, artinya akses lalu lalang susah dan jarang dilakukan.” Adapun gaya arsitektur candi di Kompleks Percandian Muarajambi yang polos dan sederhana bisa memperkuat dugaan kalau percandian itu memang berkaitan erat dengan pendidikan. “Kalau untuk peribadatan akan digunakan yang lebih raya. Namun lagi-lagi tulisan yang membahas ini secara spesifik belum ada,” kata Asyhadi.






















