Hasil pencarian
9816 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Mabuk Saat Berpesta dan Berdoa
Pada suatu jamuan pesta di Majapahit, santapan sedap dihidangkan bagi orang banyak. Makanan serba berlimpah. Minuman mengalir dengan deras. Segala minuman keras tersedia, tuak kelapa dan tuak siwalan, arak, kilang, brêm, dan tampo. Itulah minuman utama, tak ada yang mampu menghadapinya. Wadahnya emas beraneka ragam bentuknya. Porong dan guci berdiri berpencar-pencar berisi minuman keras dari aneka bahan. Beredar putar seperti air mengalir. Yang gemar, minum sampai muntah serta mabuk. “Merdu merayu nyanyian para biduan melagukan puji-pujian Sri Baginda. Makin deras peminum melepaskan nafsu. Habis lalu waktu, berhenti gelak gurau,” tulis Mpu Prapanca dalam Desawarnana atau yang dikenal dengan Nagarakrtagama. Ahli epigrafi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Titi Surti Nastiti lewat “Minuman Pada Masyarakat Jawa Kuno” dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi V, menyebutkan bahwa minuman merupakan salah satu jenis sajian yang disuguhkan dalam pesta-pesta masyarakat Jawa Kuno. Ada yang tanpa dan ada yang dengan alkohol. Nama-nama minuman beralkohol muncul dalam berbagai prasasti. Khususnya prasasti yang berisi tentang upacara penetapan sima (tanah perdikan atau tanah bebas pajak), pada bagian penutup yaitu acara makan bersama sebagai rangkaian upacara. Contohnya, Prasasti Watukura (902) menyebut mastawa , pāṇa, siddhu, cinca, dan tuak. Prasasti Rukam (907), Prasasti Lintakan (919), dan Prasasti Paradah (943) menyebut tuak, cinca, dan siddhu . Dalam Prasasti Sanguran (928) disebutkan siddhu dan cinca. Prasasti Alasantan (939) menyebut tuak dan siddhu. Selain dalam prasasti, keterangan tentang minuman beralkohol juga dimuat dalam karya kesusastraan. Misalnya, Kakawin Ramayana yang dibuat sekira abad ke-9. Dalam kisah tentang Rama dan Sita itu, minuman beralkohol muncul dalam beberapa kesempatan. Saat kisah di Kerajaan Alengka, para raksasa punya kebiasaan minum darah dan berbagai minuman keras seperti tuak, siddhu, brěm, mastawa, dan pāṇa. Pāṇa yang sedap dan mastawa yang harum juga disajikan bagi Sita ketika di Alengka . Saat itu, Sita dalam keadaan riang karena tahu suaminya masih hidup. Ia bergabung dan bersukaria dengan para dayang yang bermain musik, menyanyi, dan menari. Minuman beralkohol juga dikonsumsi bangsa kera yang menjadi sekutu Rama menyerang Alengka. Minuman itu menjadi salah satu angan Subali menjelang kematiannya. Sementara tuak biasa dihidangkan untuk menyambut tamu agung sebagaimana digambarkan dalam kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular pada masa puncak kejayaan Majapahit. Di antaranya disebutkan seluruh pengiring Raja Kasi telah mendapat bagian nasinya yang berlimpah-limpah. " Tuak , badèg, waragang, kilang, brêm, tampo mengalir tanpa henti pada akhirnya tak tergambarkan," tulis sang Mpu. Ery Soedewo, arkeolog dari Balai Arkeologi Medan, dalam “Produk Local Genius Nusantara Bernama Tuak” yang terbit di Jejak Pangan dalam Arkeologi menjelaskan, gambaran tentang aktivitas di mana minuman beralkohol dihidangkan umumnya adalah kegiatan yang sifatnya duniawi. Namun, kehadiran minuman itu dalam aktivitas sakral juga ditemukan dalam sumber tertulis Jawa Kuno. Misalnya dalam Serat Pararaton . Pararaton digubah pada 1478 dan 1486, lalu disalin pada 1613. Nama penggubahnya tak disebutkan. Di dalamnya digambarkan akhir riwayat Kertanegara, Raja Singhasari, dalam serangan Jayakatwang, raja Gelang-Gelang, bawahan Kerajaan Kediri. Dalam salah satu bagian Kertanegara digambarkan sebagai sosok yang pijêr anadah sajêng. " Selalu atau gemar minum tuak," jelas Ery. Bahkan Pararaton mengisahkan, sang raja tengah mabuk-mabukan ketika pasukan Jayakatwang menggempur keratonnya. "Radja Civa-Buddha (Krtanagara) selalu minum tuak, diberitahu bahwa diserang oleh Daha, tidak percaya," tulis Pararaton . "Maka ketika Kertanagara sedang minum tuak bersama patihnya mereka dibunuh. Mati, Kebo Tengah membela, mati Manguntur." Sementara Prasasti Gajah Mada (1351) mengungkap hal yang berbeda. Di sana disebutkan kalau Kertanegara tewas dalam serangan itu bersama para brahmana. Ery mengungkapkan, peristiwa kematian Kertanegara dalam kondisi mabuk bersama para brahmana sebenarnya adalah gambaran praktik ritus Buddha Tantrayana yang dianutnya. "Jadi bukan bentuk kegemaran Kertanegara terhadap minuman keras khususnya tuak ( sajêng ), atau dalam terminologi sekarang sebagai orang yang alkoholik," lanjutnya. Sebelum akhirnya meregang nyawa, Kertanegara tengah melakukan upacara terakhir untuk membangkitkan kekuatan lain di luar dirinya. Dia mendapatkannya melalui ritual Tantrayana, sekte yang sering dianggap sebagai jalan mempercepat diri mendapatkan kekuatan. Aliran keagamaan yang dianut Kertanegara itu dapat disimpulkan lewat Kakawin Nagarakrtagama. Pun dari kenyataan dia ditahbiskan sebagai Jina di Kuburan Wurara pada 1289. Menurut Slamet Muljana dalam Menuju Puncak Kemegahan, dengan menjadi Jina, artinya Kertanegara tak hanya menguasai kekuatan gaib di semesta alam. Dia pun menguasai kerajaan secara nyata. "Dengan tingkatannya itu, bagi Kertanagara tak ada lagi hal yang terlarang. Dia bisa dengan sadar melakukan pancamakara, atau ma lima," jelasnya.
- Maestro Gamelan di Kiri Jalan
Pada tahun 1893, Slamet Soekari lahir di Surakarta. Karena berasal dari keluarga miskin, Soekari tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Sejak umur 12 tahun ia telah menjadi abdi dalem karawitan dan hidupnya bergantung pada keraton Surakarta. Setelah menempa ilmu karawitan bertahun-tahun, sekitar tahun 1912, Slamet dianugerahi gelar pangkat jabatan menengah, Raden dan nama baru Pontjopangrawit. Pangrawit adalah jabatan bagi ‘ nayaga terkemuka yang bersangkutan dengan karawitan’. Sedangkan nama Pontjo dipilihnya sendiri. Pontjopangrawit kemudian bergabung dengan lembaga Pananta Dibya yang berdiri tahun 1914. Lembaga ini bertujuan untuk memperbaiki dan menyusun kembali praktik-praktik serta upacara seni pagelaran keraton. Selain itu, lembaga ini juga aktif dalam diskusi-diskusi politik. Hubungan Pontjopangrawit dengan politik kelak membawanya ke kamp Digul hingga pusaran tragedi 1965. Diasingkan ke Digul Ketika pada 1915-1925 Belanda berangsur-angsur mengambil alih tanah kerajaan, sentimen anti-Belanda pun semakin timbul. Pananta Dibya kemudian menjadi wadah pemikiran dan kegiatan radikal. Tidak sedikit anggotanya juga bergabung dengan organisasi kaum komunis dan nasionalis. Gerakan antikolonial semakin masif dan pada 1926-1927 terjadi pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Ribuan orang ditahan dan sebagian dikirim ke kamp Tanah Merah, Digul Atas. Meski tidak terlibat langsung dengan pemberontakan PKI, Pontjopangrawit turut ditangkap. “Bagaimanapun juga ia tidak terlibat langsung dalam aksi perlawanan ini. Tapi ia ikut ambil bagian dalam rapat-rapat, di mana ia selalu dengan terang-terangan menyatakan pandangannya yang sangat antikolonial, dan ini tentu saja menjadi catatan penguasa,” sebut Margaret J. Kartomi dalam Gamelan Digul Dibalik Sosok Seorang Pejuang. Pontjopangrawit ditangkap pada 1926 dan dikirim ke kamp Tanah Merah pada Maret 1927. Di pengasingan inilah, ia membuat gamelan dari perkakas seadanya seperti kaleng-kaleng susu dan rantang yang kemudian dikenal sebagai Gamelan Digul. Gamelan Digul menjadi hiburan bagi para tahanan di tengah kondisi kamp yang buruk. Gamelan ini sekaligus menjadi simbol hubungan Australia dan Indonesia ketika revolusi. Gamelan Digul kini berada di Universitas Monash, Australia. Pontjopangrawit dibebaskan dan pulang ke Surakarta pada 1932. Tak lama, ia kembali menjadi abdi dalem keraton. Dia mendapat gaji yang cukup dari keraton. Kedudukan yang terhormat juga membantunya memperbaiki reputasi. Namun, Soedarto, anak tunggal Pontjopangrawit pergi dari rumah karena tidak tahan dengan ejekan sebagai "anak komunis". Soedarto hidup miskin di luar rumah dan tak pernah berdamai dengan Pontjopangrawit. Seorang Maestro Sementara itu, Pontjopangrawit semakin terkemuka. Ia menguasai ratusan gendhing gamelan serta mendapat kesempatan bergaul dengan ahli-ahli karawitan terkemuka dan pembaharu. Pada 1933, Pontjopangrawit mempelopori pengangkatan genre siteran yang berasal dari desa. Di luar keraton, Pontjopangrawit membuka sanggar karawitan bersama rekan-rekannya. Namun, karena masih dicap sebagai eks-Digulis, kelompoknya tak pernah diundang ke radio-radio Belanda seperti kelompok karawitan lainnya. Pada 1930-an, Pontjopangrawit pernah membantu mengembangkan repetoar dan teknik pergelaran orkes gamelan Thai baru. Gamelan dilaras menurut sistem nada tradisional Thai. Orkes gamelan itu, oleh Raja Thailand dihadiahkan kepada S.P. Paku Buwana X pada kunjungan ke Surakarta. Meski mengabdi pada kraton, Pontjopangrawit tetap kritis terhadap konsevatisme keraton dan kurangnya dukungan keraton terhadap perjuangan antikolonial. Bersama beberapa abdi dalem lainnya, pada 1948, Pontjopangrawit meninggalkan pengadiannya pada keraton. Pada awal 1950-an, Pontjopangrawit mendapat kehormatan dari Presiden Soekarno bersama kaum perintis kemerdekaan lainnya atas perjuangan sepanjang 1910-an sampai 1920-an, saat diasingkan ke Digul Atas, serta dukungan aktif selama revolusi 1945-1949. Pada 27 Agustus 1950 Koservatori Karawitan (Kokar) Indonesia didirikan di Surakarta. Pontjopangrawit menjadi pengajar penuh sampai mengundurkan diri pada 1963. Ia lalu melanjutan mengajar di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI). “Konon dikatakan bahwa ia bisa memainkan gambang di belakang punggungnya (seperti pianis ahli Nicholas Slonimsky yang bisa memainkan piano dengan cara seperti itu),” papar Kartomi. Selain itu, menurut beberapa bekas muridnya, saat mengajar, Pontjopangrawit duduk di depan murid-murid, mengajar rebab dan gender secara terbalik, sehingga memudahkan para murid menirunya. Hardja Susilo, etnomusikolog dan pengajar gamelan di Universitas Hawaii dalam Enculturation and Cross-Cultural Experiences in Teaching Indonesian Gamelan menyebut permainan gamelan Pontjopangrawit termasuk yang paling kompleks dan sulit pola melodinya. “Beberapa pertunjukan, seperti permainan rebab Ki Pontjopangrawit, terlalu rumit untuk ditranskripsikan. Ada terlalu banyak detail, yang tidak bisa diwakili oleh sistem notasi. Ketika kami memasukkan data ke dalam melograf Charles Seeger, sebuah mesin yang dapat menyalin peristiwa melodi tunggal dengan sangat terperinci, kami menghadapi masalah yang berbeda. Karena mesin itu sangat sensitif, ia memberikan terlalu banyak detail dalam transkripsi. Ini menunjukkan segala macam mikroton yang menghambat upaya kami untuk menemukan pola melodi,” jelas Susilo. Hilang Pasca 1965 Pontjopangrawit tiba-tiba hilang pada akhir 1965, pasca peristiwa G30S.“Tampaknya ia terperangkap dalam kejadian-kejadian menggemparkan yang menyusul usaha kudeta atas Presiden Soekarno pada 30 September tahun itu,” sebut Kartomi. Belum jelas bagaimana posisi Pontjopangrawit dalam PKI maupun Lekra. Menurut Hersri Setiawan, mengutip Kartomi, “oleh pimpinan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) Jawa Tengah, bahwa selama tahun 1960-an sampai 1965 Pontjopangrawit adalah ‘orang Lekra yang tidak aktif dan tidak diaktifkan.” Sementara itu Tri Ramidjo, eks tapol yang pernah tinggal berdekatan dengan rumah Pontjopangrawit di Surakarta, berdekatan pula dengan rumah Kiai Haji Muchlas, ayah M.H. Lukman (Wakil Ketua CC PKI) menggambarkan hubungan Pontjopangrawit dengan lagu-lagu kiri. “Di rumah Oom Pontjo Pangrawit ini penuh dengan alat musik gamelan, ada gambang, bonang, saron dan entah apalagi namanya aku tak tahu. Semuanya adalah buatan Oom Pontjo. Beliau pintar sekali menabuh gamelan dan bahkan dengan kaleng-kaleng susu yang dibuatnya gamelan itu bisa melagukan lagu Darah Rakyat , Internasionale , lagu 1 Mei , Mariana Proletar , de Rode Vandel , dll. Aku sudah lupa lagu de Rode Vandel , tapi yang lain aku masih ingat notnya,” kata Ramidjo dalam Kisah-Kisah dari Tanah Merah. Kapan dan bagaimana Pontjopangrawit meninggal tidak diketahui. Menurut Kartomi, kemungkinan Pontjopangrawit meninggal pada 10 November 1965. Hal ini berdasarkan fakta bahwa Pontjopangrawit tidak nampak mengajar lagi sejak Hari Pahlawan 1965. Sedangkan menurut Hersri, nama Pontjopangrawit juga tak pernah ada di tahanan. Namun menurut versi pemerintah, melalui batu nisan di makam Desa Gurawan, pinggiran Surakarta, ditulis bahwa Pontjopangrawit meninggal pada 11 Oktober 1971. Pihak keluarga menyangsikan itu. “Semua eks tapol Digul lainnya yang terkenal di daerah Surakarta dikumpulkan, ditahan dan dibunuh di penjara segera sesudah kejadian yang dinamakan kudeta 30 September 1965. Bagaimana mungkin Bapak Pontjopangrawit tidak ditangkap dan dibunuh bersama mereka itu?” kata keluarga Pontjopangrawit seperti dikutip Kartomi.
- Saat Pengusaha-Pejuang Apes
SAAT menjadi liaison officer di Kemerterian Kemakmuran, Hasjim Ning, keponakan Bung Hatta yang jadi konglomerat nasional, menyaksikan bagaimana Menteri Kemakmuran Adenan Kapau Gani marah kepada NICA di suatu hari pada 1947. Kemarahan Gani, yang dikenal sebagai “Raja Penyelundup”, disebabkan oleh kesewenang-wenangan tentara Belanda menggeledah kapal milik Indonesia di tengah laut pada 1947. Padahal, kapal itu mengangkut beras bantuan pemerintah Indonesia untuk pemerintah India. Kemarahan Gani juga disebabkan ketidakpedulian para serdadu Belanda terhadap penjelasan dan protes berkali-kali kapten kapal. Gani yang tak menolerir pelanggaran itu pun langsung melayangkan protes mengingat itu bukan pertama kalinya serdadu Belanda melanggar kapal Indonesia. Lantaran sikap Belanda tetap seperti sebelumnya, Gani tak lagi bisa memendam amarahnya ketika tak lama kemudian serdadu Belanda menyeret paksa kapal milik AS Isbrandsen Lijn ke Tanjung Priok untuk menyita muatannya. Gani melayangkan protes keras. Muatan dalam kapal itu dikatakannya milik sah pemerintah Indonesia. Pemerintah Belanda menampik protes Gani. Menurut mereka, muatan dalam kapal merupakan hasil perkebunan milik Belanda yang ada di berbagai tempat di Jawa Barat. Sontak, sikap Belanda membuat Gani mencari cara lain untuk menghadapinya. Dia lalu memanggil Hasjim. “Bung, bakar gudang tempat menyimpan barang-barang kita itu,” kata Gani kepada Hasjim yang dituliskan Hasjim dalam otobiografinya, Pasang-Surut Pengusaha Pejuang . Hasjim langsung bergerak melaksanakan perintah itu. Setelah hampir sebulan memantau situasi lapangan, Hasjim memutuskan menggunakan para serdadu yang sekaligus bandit untuk dijadikan eksekutor. “Mereka suka foya-foya dan mabuk-mabukan. KL dan KNIL yang demikian cukup banyak ditemui di Jakarta. Tapi yang mau mengerjakan pembakaran itu mestilah mereka yang pernah ‘menikmati’ uangku,” kata Hasjim. Pada tanggal tua, saat kantong para serdadu Belanda telah menipis, Hasjim pun menemui dua serdadu Belanda yang dikenalnya. Di sebuah bar di Kramat, Hasjim “mencekoki” keduanya hingga mabuk. Sambil meninggalkan uang f 100 untuk bayar minuman, Hasjim lalu berdiri untuk pamit karena banyak pekerjaan. Karuan tindakan Hasjim mengagetkan dua serdadu Belanda tadi. Seolah tak membutuhkan, sambil ngeloyor Hasjim berkata pada serdadu-serdadu tadi. “Kalau kau mau uang lebih banyak, aku punya pekerjaan buatmu.” Tawaran itu pun disambut nafsu oleh dua serdadu mabuk tadi. Setelah diberitahu pekerjaan itu berupa membakar gudang di Tanjung Priok, dua serdadu tadi saling berpandangan dan akhirnya menyanggupi. “Kau akan bayar berapa?” kata salah seorang serdadu. “Berapa kau mau?” Hasjim balik bertanya. “Lima ribu.” “Okey. Setelah kau lakukan, aku bayar. Kalian tahu di mana aku tinggal.” Lima hari kemudian, pembakaran sebuah gudang di Tanjung Priok menjadi pemberitaan berbagai media massa. Hasjim membacanya. Dia lingkari berita itu dengan pena merahnya. Lalu, dia tunjukkan kepada Menteri AK Gani. Sang menteri girang bukan kepalang. “Anak-anak mana yang melakukannya?” kata Gani. “KNIL. Bayarannya lima ribu gulden,” jawab Hasjim. “Gila kau. Siapa yang beri izin kau bayar sebanyak itu?” “Bung, gudang itu sudah mereka bakar. Nanti mereka akan datang minta uangnya. Aku harus bilang apa?” “Sungguh gila jij, Hasjim. Jij tidak bilang padaku lebih dahulu. Sekarang aku tidak punya uang.” Alhasil, Hasjim pun terpaksa mengeluarkan tabungannya untuk mengupah dua serdadu tadi.
- Yang Terbuang Setelah Perang
KEKALAHAN Jepang dalam Perang Dunia II menyisakan masalah baru dengan Indonesia, wilayah jajahan Belanda yang sempat diambil alih Jepang. Mahasiswa Indonesia yang studi di Jepang dalam program nantoku terlantar pasca kapitulasi. Mereka terpaksa tinggal di Jepang sampai kemerdekaan Indonesia diakui oleh dunia internasional. Di Indonesia, anak-anak yang lahir hasil kawin campur perempuan Indonesia dan laki-laki Jepang ikut jadi korban. Mereka tidak diperkenankan tinggal di Indonesia karena dianggap berkewarganegaraan Jepang. Korban perang dari arus bawah itulah yang diteliti sejarawan Jepang Aiko Kurawasawa dalam buku terbarunya Sisi Gelap Perang Asia . Buku ini merupakan cuplikan kisah-kisah human interest dari disertasi kedua Aiko di Universitas Tokyo berjudul “ Sengo Nihon Indonesia kan Keishi ” (Hubungan Indonesia-Jepang Pascaperang). Aiko mengatakan itu terjadi pada periode gelap hubungan Jepang dan Indonesia. “Antara 1945—1957 belum ada hubungan resmi antara Indonesia dan Jepang. Saya mengambil nasib orang-orang kecil; orang biasa yang hidup di dalam kedua negara tersebut dalam masa itu,” kata Aiko dalam peluncuran bukunya di ruang seminar Pusat Data dan Dokumentasi Ilmiah LIPI, Jakarta Jumat, 20 September 2019. Aiko juga mengangkat kisah perempuan Indonesia yang menikah dengan tentara Jepang. Banyak dari mereka-- yang kemudian diboyong ke Jepang-- mengalami kesulitan menghadapi situasi hidup serba baru dan serba berbeda, mulai dari tata cara penyelenggaraan pernikahan, status penikahan, hingga menjalani rumahtangga. Tak aneh jika kemudian sebagian besar pernikahan itu harus berakhir dengan perceraian. Bedah buku Sisi Gelap Perang Asia karya Aiko Kurawasawa di di ruang seminar PDDI LIPI, Jakarta Jumat, 20 September 2019. (Fernando Randy/Historia). Orang-orang itulah yang kemudian berjuang mati-matian agar dapat kembali pulang ke tanah air. Mereka yang disebut oleh Aiko, sebagai “korban perang”, dibiarkan terlantar di tempat yang tidak semestinya. Akibat perang, mereka termarjinalkan dan harus mengalami kesukaran dan rupa-rupa cerita sedih. Orang-orang kecil yang kehidupannya diganggu ini akhirnya berhasil mencari solusi dan mendapatkan kembali keselamatannya untuk memulai kehidupan baru di zaman pascaperang. Sejarawan LIPI, Asvi Warman Adam yang jadi salah satu pembedah buku menyoroti tentang repatriasi pekerja paksa romusha. Banyak dari romusha yang dibawa dari Jawa ke berbagai wilayah jajahan Jepang. Nasib malang tidak dapat ditolak. Begitu Jepang kalah mereka ditinggalkan begitu saja di tempat kerja. Asvi mencatat, dari 300.000 romusha hanya 52.117 yang berhasil dipulangkan. “Ini sangat tragis,” kata Asvi, “Orang-orang yang terlantar karena perang; orang-orang yang nasibnya dipermainkan karena situasi politik dan peperangan pada saat itu.” Mengenai romusha, Asvi menguak satu hal yang kontroversial, yaitu mengenai peran Sukarno. Apakah Sukarno bersalah soal romusha? Menurut Asvi, Sukarno – yang juga diakuinya sendiri dalam otobiografinya Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat – terlibat dan mendukung program pengiriman romusha . Demikian kutipannya, “Sesungguhnya akulah – Sukarno – yang mengirim mereka kerja paksa. Ya, aku lah orangnya. Aku menyuruh mereka berlayar menuju kematian. Ya.. ya.. akulah orangnya. Aku membuat pernyataan untuk menyokong pengerahan romusha .” Sementara itu, sejarawan Rushdy Hoesein yang turut membedah buku menyoroti dari perspektif militer. Usai Jepang kalah perang, banyak dari prajuritnya yang bertugas di Indonesia menolak kembali ke Jepang. Mereka lebih memilih menetap di Indonesia atau berjuang untuk Indonesia. Hal ini bertentangan dengan perjanjian pascaperang antara tentara Sekutu pemerintah Jepang. Aiko Kurasawa, sejarawan Keio University yang meneliti hubungan Indonesia Jepang selama lebih dari 30 tahun. (Fernando Randy/Historia). Yang menarik, bila Aiko menguak kesengsaraan perempuan Indonesia yang dinikahi lelaki Jepang maka Rushdy menyatakan sebaliknya. Rushdy yang kenal banyak veteran perang Indonesia jebolan PETA (Pembela Tanah Air) mengatakan, lelaki Indonesia yang menikahi perempuan Jepang dan tinggal di Indonesia umumnya hidup lebih bahagia. “Banyak sekali mantan tentara Jepang yang terlibat dalam pasukan PETA itu ketika masih hidup pada setiap tanggal 17 Agustus mereka hadir dalam upacara peringatan proklamasi kemerdekaan di Yayasan PETA,” kenang Rushdy yang menulis disertasi tentang peran Sukarno dalam Perjanjian Linggadjati. Hubungan diplomatik Indonesia dan Jepang secara resmi baru terjalin pada 1958. Ini terjadi seiring dengan kesepakatan Jepang membayarkan pampasan perang kepada Indonesia. Dengan demikian, relasi kedua negara memasuki babak baru sebagai sesama negara berdaulat.
- Kisah Penakluk Angkasa Borneo
Lelaki itu berperawakan tinggi besar. Rambutnya sudah memutih. Usianya menginjak 82 tahun. Tapi suaranya masih jelas dan ingatannya sempurna. Pramono Adam, Kolonel Penerbang (Purn.), bercerita kepada Historia tentang pengalamannya selama menjadi pilot Angkatan Udara Republik Indonesia di Kalimantan pada masa Dwikora (Dwi Komando Rakyat) 1963—1965. Pramono Adam saat melihat koleksi tanaman di halaman belakang rumahnya. (Fernando Randy/Historia). Masa itu Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia. Musababnya Inggris berniat membentuk Federasi Malaya (nama lama Malaysia) di utara Kalimantan tanpa membicarakannya dengan Indonesia. Presiden Sukarno tersinggung, merasa dilangkahi, dan menentang rencana itu. Dia pikir rencana itu juga sebentuk kolonialisme baru. Tidak sesuai dengan semangat zaman. Maka dia berseru, “Ganyang Malaysia!” Berbagai hiasan bertema Angkatan Udara banyak terlihat di rumah Pramono Adam di kawasan Bogor. (Fernando Randy/Historia). Ketika Historia menemui Pramono, dia tengah asik berbincang dengan dua veteran Indonesia, Tatang Kurniadi dan M. Husni. Cerita Pram, begitu dia dipanggil, keluar begitu detail. Membuat pendengarnya seolah ikut merasakan apa yang dia rasakan dulu. Misalnya ketika dia dan kawan-kawannya kesulitan makan saat zaman Jepang menduduki Indonesia. “Saya masih ingat betul ketika dulu harus makan telur dibagi untuk delapan orang. Biar kenyang, kami tambahkan belerang,” katanya sambil tersenyum. Pram seringkali melihat ke jendela untuk menunggu tukang koran langganannya. (Fernando Randy/Historia). Walau sudah berusia 82 tahun ingatan Pramono Adam akan semua pengalamannya masih sempurna. (Fernando Randy/Historia). Kisah lainnya lebih seru. Pram menuturkan, suatu hari dia pernah mengantar Brigjen TNI Soemitro, Pangdam IX/Mulawarman, dari markasnya di Balikpapan (timur) hingga ke Long Bawang (utara). Jaraknya sekira 700 kilometer dengan topografi berbukit-bukit dan hutan lebat. Long Bawang ketika itu adalah zona tempur utama antara Indonesia dan Malaysia. Pram dan Soemitro menggunakan helikopter. Mereka ditembaki oleh Inggris dengan meriam. Pram bersama dengan sesama veteran pejuang Indonesia Tatang Kurniadi dan M. Husni. (Fernando Randy/Historia). “Awalnya hanya untuk mengantar kemudian kembali ke Tarakan. Tapi malah disuruh menginap. Besoknya kami pulang. Bila terlambat sepersekian detik mungkin kami tidak selamat, karena setelah itu peluru meriam musuh dari perbatasan Malaysia menghanguskan seluruh Long Bawang,” sambungnya. Istri Pram, Sri Ningsih selalu setia berada di sampingnya baik saat masih bertugas dulu hingga kini saat pensiun. (Fernando Randy/Historia). Pram menghabiskan sore harinya dengan menyiram dan memeriksa tanamannya. (Fernando Randy/Historia). Semua peristiwa tersebut sudah berlalu. Kini Pram menjalani hari baru. “Sekarang tinggal menikmati hidup, bangun pagi baca koran, sore hari siram tanaman, lalu nonton tv sama istri. Saya tidak pernah tidur di atas jam sembilan malam. Tidur terlalu malam tidak baik untuk orang seusia saya ini,” tutur pria yang dikarunai empat orang anak tersebut. Berbagai hiasan dan karat di mobil Pram, menghiasi rumahnya sekarang. (Fernando Randy/Historia). Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Begitulah kehidupan Pram sekarang. Anak dan cucunya mengikuti jejak Pram menjadi pilot. “Mereka bukan pilot helikopter, tapi pilot maskapai penerbangan,” katanya. Pram memperlihatkan foto-fotonya dulu saat masih bertugas bagi negara. (Fernando Randy/Historia). Cerita Pram tentang masa konfrontasi Indonesia-Malaysia masih banyak. Menanti terus untuk digali. “Kami selalu suka berbagi cerita, pintu rumah saya selalu terbuka untuk semua orang yang ingin mendengar kisah saya, terutama anak-anak muda,” tutupnya. Pram dan istrinya Sri Ningsih, selalu membuka pintu rumahnya untuk anak-anak muda yang ingin mendengar kisah perjuangnya. (Fernando Randy/Historia).
- Nestapa Yahudi Afrika demi Tanah yang Dijanjikan
SUATU hari di utara Ethiopia akhir 1979. Kabede Bimro (diperankan Michael K. Williams) berkejaran dengan waktu menyelamatkan puluhan saudara seagamanya, Yahudi, dari sebuah desa. Teriknya matahari di siang itu terasa lebih “menusuk” baginya gara-gara ancaman genosida dari sekelompok pemberontak bersenjata. Konflik pemberontak melawan pemerintah tengah berkecamuk kala itu. Puluhan ribu nyawa melayang. Sungai-sungai yang memerah karena tercampur darah jadi pemandangan baru di negeri itu. Beruntung, Kabede punya kenalan agen intelijen IsraelMossad, Ari Levinson (Chris Evans) dan Sammy Navon (Alessandro Nivola). Mereka nyaris jadi santapan para pemberontak jika Ari tak cerdik meloloskan dirihingga bisa sampai ke Kamp Pengungsi Gedaref di selatan Sudan, dekat perbatasan dengan Ethiopia. Adegan yang langsung memompa adrenalin itu membuka film The Red Sea Diving Resort garapan sineas Gideon Raff. Film ini menggambarkan misi klandestin agen-agen Mossad dibantu CIA (Dinas Intelijen Amerika Serikat) menyelamatkan para pengungsi Yahudi Ethiopia dari negerinya. Adegan Ari Levinson (diperankan Chris Evans) usai meloloskan para pengungsi Yahudi dari genosida menuju kamp pengungsian di perbatasan Ethiopia/Sudan (Foto: bronstudios.com ) Di awal film, Raff menyelipkan narasi tertulis tentang para Yahudi Afrika yang menanti hingga 2.700 tahun untuk menebus impian menuju “Tanah yang Dijanjikan”, Yerusalem. Juga bagaimana Mossad melancarkan serangkaian operasi klandestin demi membawa para saudara mereka “pulang” ke Yerusalem. Adegan lantas berpindah ke markas Mossad di Ben Gurion. Ari mempresentasikan rencananya yang diyakininya lebih manjur untuk menyelamatkan para saudara mereka meski rencana itu tak disukai dua atasannya, Ethan Levin (Ben Kingsley) dan Barack Isaacs (Mark Ivanir).Presentasinya justru menarik minat seorang pejabat teras Mossad, Jenderal Weiss (Danny Keogh), yang akhirnya memberi lampu hijau. Di atas kertas, rencananya simple: Mossad mendanai penyewaan Red Sea Diving Resort,sebuah resort terbengkalai di tepi Laut Merah, dari pemerintah Sudan. Operasional hotel lalu dijalankan para agen Mossad sebagai penyamaran untuk penyelamatan ribuan pengungsi Yahudi Ethiopia. Dalam operasi itu, Mossad bekerjasama dengan pasukan elit Angkatan Laut Israel, yang menyediakan kapal komando untuk untuk mengangkut pengungsi. Kapal komando itu disamarkan sebagai kapal minyak. Selepas mendapat izin, Ari membentuk timnya. Semua merupakanagen Mossad yang sudah lama dikenalnya: Sammy, Rachel Reiter (Haley Bennett), Jake Wolf (Michiel Huisman), dan Max Rose (Alex Hissell). Hingga misi penyelamatan ke-17, mereka tanpa cela berhasil membawa puluhan hingga ratusan pengungsi Yahudi Ethiopia di malam buta sebelum “dioper” ke personel AL Israel. Tim Mossad yang mengelola hotel samaran Red Sea Diving Resort (Foto: IMDb) Misi klandestin itu akhirnya tercium komandan intel Sudan, Mukhabarat, Kolonel Abdel Ahmed (Chris Chalk). Sempat sekali Ari dkk. lolos dari tuduhan sang kolonel bengis itu, akhirnya di suatu malam misi mereka tercium si kolonel yang baru saja menghabisi 30 pengungsi Yahudi di Kamp Gedaref. Bagaimana kelanjutan misi oleh para agen Mossad itu? Sejauh mana peran CIA lewat agennya yang menyamar jadi atase kebudayaan,Walton Bowen (Greg Kinnear)? Aih, jauh lebih baiksaksikan sendiri film yang rilis di AS sejak 31 Juli 2019 itu. Yang pasti, sinematografinya menarik meski music scoring dari komposer Mychael Danna - nya minimalis. Pun begitu,sepertinya film ini takkan hadir di bioskop-bioskop Indonesia. Terlebih setelah Netflix membeli hak tayang global untuk diputar layanan streaming -nya. Kisah Nyata yang Disamarkan Kendati akting para pemain pendukung dan Chris Evans –dengan daya tariknya sebagai eks jagoan super Captain America di Avengers: Endgame – cukup apik, film ini menuai kritik yang tidak sedikit. Kritikus Peter Debruge dari dalam ulasannya di Variety menulis, filmnya terlalu menggambarkan para pemeran kulit putih sebagai juru selamat utama. Padahal , dalam sejarahnya misi-misi penyelamatan itu banyak melibatkan aktivis Yahudi Afrika. K arakter para penyelamat itu disimplifikasi ke dalam satu tokoh Kabedde yang diperankan Michael K. Williams. “Filmnya memarjinalkan keberanian para pengungsi Ethiopia itu sendiri,” sebutnya. Raff selaku sutradara cum penulis skenariosama sekali tak menggambarkan bagaimana para aktivis Aliyah dan Beta Israel, komunitas yang mewadahi para Yahudi Ethiopia, turut menyabung nyawa dalam menyeberangkan para pengungsi dari Ethiopia ke Sudan, sebagaimana fakta sejarahnya dalam beragam operasi Mossad. Kendati disebutkan The Red Sea Diving Resort tak berdasarkan buku Mossad Exodus: The Daring Undercover Rescue of the Lost Jewish Tribe karya jurnalis militer senior IsraelGad Shimron, banyak karakter dan jalan cerita film diambil dari buku itu. Buku itu merupakan buku pertama yang membongkar operasi-operasi dengan durasi terlama Mossad di Sudan. Kabede Bimro yang diperankan Michael K. Williams (kiri) dan sosok asli aktivis Yahudi Farede Yazazao Aklum (Foto: BRON Studios/Repro "The Road to Jerusalem") “Penyamaran” Raff dilakukan dengan menyamarkan nyaris 100 persen nama karakter, bahkan nama hotel dalam film. Semua nama agen yang dikisahkan Raff bukan identitas asli. Keputusan itu agaknya sengaja diambil Raff untuk melepaskan diri dari bayang-bayang Shimron. Shimron sendiri dalam pengisahannya menyamarkan beberapa karakter , di antaranya Farede Yazazao Aklum , yang jadi inspirasi karakter Kabede ; dan Yola Reitman , yang menginspirasi karakter Rachel Reiter, agen cantik yang menyamar jadi manajer hotel. Yang menarik, dari Aklum-lah pemerintah Israel membuka mata terhadap nestapa para Yahudi di Ethiopia. Aklum, dalam buku Shimron, melarikan diri dari kampung halamannya di Tigray, Ethiopia, sejauh 300 mil ke Khartoum, Sudan dan menulis surat permintaan pertolongan kepada Perdana Menteri (PM) Israel Menachem Begin. Upaya Aklum berhasil, Begin lantas menugaskan Mossad menyelamatkan mereka dengan bantuan Beta Israel. “Mulanya pemerintah Israel dikontak oleh para aktivis Beta Israel, meminta apakah mereka (Israel) bisa membantu. Jadi memang mulanya ada permintaan tolong (dari Aklum via Beta Israel),” ungkap Jon Abbink, peneliti politik Afrika dari Universitas Leiden, dikutip Time , 9 Agustus 2019. Brosur Arous Holiday Village yang tersebar di agen-agen wisata Eropa Hotel yang jadi saksi bisu operasi penyelamatan itu juga disamarkan dengan nama yang jadi judul film buku,The Red Sea Diving Resort. Aslinya, mengutip Shimron, hotel itu bernama Arous Holiday Village. Uniknya, brosur hotel ini tersebar luas di antara sejumlah agen wisata di Eropa, hingga turis-turis Eropa berdatangan ke Sudan meski negeri itu dilanda perang saudara. Hikmahnya, Mossad leluasa melakukan penyamaran yang mendekati sempurna dengan mengoperasikan hotel palsu itu menjadi hotel sungguhan. Brosur-brosur yang tersebar menggambarkan betapa indahnya pemandangan dan pengalaman wisata yang ditawarkan Arous Holiday Village. Hanya saja sebelum buku Shimron terbit pada 1998, publik tiada yang mengetahui bahwa para turis itu dilayani para agen Mossad.
- Pergundikan di Perkebunan
ATIMAH hanya bisa pasrah. Perempuan asal Jawa itu tak berhasil mengubah nasibnya kendati telah merantau. Alih-alih bisa memeperbaiki kehidupan ekonominya dan membantu keluarga, Atimah justru mengalami nasib yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Semua itu bermula di perkebunan Deli, tempat Atimah bekerja menjadi buruh. Pada paruh kedua abad ke-19, buruh-buruh perempuan pribumi direkrut dalam skala besar. Di satu sisi, perekrutan itu untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja. Di sisi lain, merupakan siasat para direksi perkebunan untuk memenuhi kebutuhan sosial dan seksual para pekerja perkebunan yang masih bujang. Mayoritas buruh perempuan didatangkan dari Jawa dan berasal dari kelompok masyarakat yang sangat miskin. Bagi mereka, kontrak kerja sebagai kuli di perkebunan Sumatera merupakan jalan keluar bagi kehidupan yang tanpa masa depan. Begitu tiba, para kuli perempuan langsung diperiksa di sebuah kamar kecil di kantor Perkebunan Deli. Di dalam kamar itu terdapat bangku istirahat, meja, cermin, dan peralatan cuci. Pengawas kulit putih kemudian memeriksa mereka satu per satu. Sudah dianggap wajar bila pegawai kulit putih mendapat kesempatan pertama memilih kuli perempuan yang baru tiba. Kuli yang dianggap paling menawan kemudian diambil menjadi gundik pengawas perkebunan. Para kuli perempuan terpilih tak punya daya untuk menolak. Penolakan dianggap sebagai sikap membangkang yang hanya berujung siksaan. Hubungan yang terjalin dari kekuasaan si lelaki kulit putih kepada para kulinya menyebabkan relasi ketertindasan yang berlapis. Menurut Reggie Baay dalam Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda, praktik pergundikan di perkebunan jauh lebih buruk dari pergundikan di tangsi maupun di tengah masyarakat sipil. Praktik pergundikan ini bahkan amat didukung oleh pemilik perkebunan. Para pemuda yang akan berangkat ke perkebunan di Hindia-Belanda disarankan memiliki gundik agar terbebas dari pekerjaan rumah selepas kerja dan kebutuhan seksualnya terpenuhi. Setiap perjanjian kontrak dengan para asisten perkebunan menjanjikan beberapa fasilitas kepada para pengawas kulit putih bujangan, seperti tempat tinggal dengan kamar berkelambu berikut perabot kayunya, bak mandi, dan kuli kontrak gratis untuk mengurus rumah (gundik) atau disediakan 10 gulden untuk menyewa seorang pelacur. Banyak asisten yang akhirnya memilih kuli kontrak untuk mengurus rumah tangga sekaligus teman tidur. Namun demikian, pegawai kulit putih muda tidak diperkenankan menikah selama enam tahun pertama masa kerja. Mereka dianggap tak mampu menghidupi keluarga Eropa dengan gajinya. Sementara, pernikahan antara lelaki Eropa dan nyai pribumi pun muskil dilakukan dan hanya menimbulkan keterkejutan bagi masyarakat Eropa. Lagipula, perusahaan tidak dapat menerima hal tersebut. Kalaupun akan menikahi gundiknya, para administrator perkebunan harus menunggu hingga pensiun agar kariernya tidak terganggu. Para buruh perempuan yang diambil jadi gundik terbebas dari status kuli kontrak berdasarkan aturan yang keluar pada awal abad ke-20. Mereka pun tak lagi kekurangan makan akibat upah yang amat kecil. Dengan upah dua setengah gulden per bulan atau delapan sen per hari, para buruh perempuan bahkan tidak bisa memenuhi kebutuhan makan. Menurut Van den Brand dalam De Millionen uit Deli , kuli perempuan setidaknya butuh 15 sen per hari untuk makan, belum termasuk kebutuhan lain. Jika diasumsikan warung di perkebunan mematok harga lebih mahal, setidaknya dalam sehari butuh 17 sen. Selain itu, di beberapa perkebunan ada aturan bahwa para perempuan tidak akan mendapat upah jika tidak bekerja. Sementara, pengawas perkebunanlah yang menentukan kapan si kuli perempuan bekerja. Sikap semena-mena ini ditambah pula larangan mencari penghasilan tambahan di perkebunan sekitar. Sistem yang mencekik itu membuat para kuli perempuan umumnya tidak mampu bertahan hidup. Tak mengherankan jika banyak dari kuli perempuan yang tidak menjadi gundik memilih prostitusi sebagai jalan keluar dari masalah. Para pemilik perkebunan senang-senang saja ketika kuli perempuan diambil menjadi gundik atau terjebak praktik prostitusi. Sejak awal, itulah salah satu alasan perekrutan mereka. Nasib buruh yang dilacurkan sama buruknya dengan para gundik pegawai kulit putih. Di tangan orang Eropa, mereka jadi korban kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan kekuasaan. Dalam Menjinakkan Sang Kuli, Jan Breman menyebut tuan kebun biasanya lelaki muda berperangai kasar dan agresif. Hubungan homoseksual yang jamak di Perkebunan Deli membuat para pengawas kulit putih seolah perlu menegaskan maskulinitas dan preferensi heteroseksual mereka. Caranya, bersikap kasar dan dengan hidup bersama perempuan (gundik). Maskulinitas beracun ini pula yang menyengsarakan hidup para buruh dan gundik perkebunan. Lelaki kulit putih, tulis Van den Brand, memperlakukan perempuan dengan sadis. Mereka tak segan memukul dan menyiksa gundik atau kulinya sendiri. Petugas hukum JTL Rhemrev mencatat seorang administrator Perkebunan Tanjung Kasau bernama Van Beneden punya reputasi buruk dalam memperlakukan gundik dan buruh perempuannya. Ia tak segan menyiksa mereka berkali-kali untuk satu kesalahan. Penganiayaan ini tercatat pula dalam laporan Van den Brand. Seorang buruh perempuan seringkali mendapat hukuman berat untuk kesalahan ringan seperti mengangkat sarungnya, tidak sengaja mengganggu tidur pemilik perkebunan, atau kurang bersih saat mencabuti rumput. Atimah bahkan mengalami penyiksaan nirmanusiawi. Lantaran sedang mengandung delapan bulan, Atimah tak bisa mengumpulkan ulat cukup banyak. Asisten perkebunan bernama Moens lantas menyiksanya dengan pukulan rotan kemudian pinggangnya diinjak-injak. “Tanpa mengindahkan keadaan sang perempuan yang sedang hamil tua,” tulis Rhemrev. Akibat penyiksaan itu, Atimah jatuh sakit dan tidak mendapat penghasilan karena tidak bisa bekerja. Dua minggu kemudian, ia melahirkan bayinya dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Kepala si bayi ringsek di sebelah kiri hingga mata kirinya tak terlihat. Menjadi nyai tak lantas bebas dari penganiayaan. Dalam penelitian tentang penyelewengan yang terjadi di Deli, Rhemrev mencatat bahwa seorang gundik bernama Karimah dikurung berminggu-minggu di dalam kamar oleh tuannya dan dipukuli hingga berdarah. Buruh lain disiksa karena menolak pinangan pegawai kulit putih untuk jadi nyainya. Kedudukan inferior para buruh perempuan dan rasisme menjadi faktor tingginya kesewenang-wenangan dan buruknya nasib mereka.
- Minuman Beralkohol Khas Nusantara
Negeri ini sangat kaya. Terdapat sebuah gua di mana air garam keluar dengan sendirinya. Orang-orang di negeri ini membuat arak dari bunga pohon kelapa yang menggantung. Panjang bunganya lebih dari tiga kaki. Tebalnya sebesar lengan orang dewasa. Untuk menjadi arak, bunganya akan dipotong dan niranya dikumpulkan. Rasanya manis. Jika mereka meminumnya, mereka cepat mabuk. Proses pembuatan minuman memabukan itu tertulis dalam catatan Sejarah Lama Dinasti Tang (618-907) dan Sejarah Baru Dinasti Tang. Penulisnya membicarakan negara bernama Ho-ling atau Kalingga yang terletak di sebelah timur Sumatra dan sebelah barat Bali. Ery Soedewo, arkeolog Balai Arkeologi Medan, dalam “Produk Local Genius Nusantara Bernama Tuak” yang terbit di Jejak Pangan dalam Arkeologi menjelaskan, minuman yang menurut berita Tiongkok itu diolah dari air bunga kelapa, merujuk pada bahan bakunya yang berasal dari nira kelapa. Hasil olahannya kini dikenal sebagai tuak kelapa. Sejauh ini catatan itu merupakan sumber tertua tentang cara pembuatan tuak. Menurut Ery, nampaknya si penulis catatan benar-benar pernah mencicipi tuak kelapa Ho-ling. “Ia dapat menggambarkan citarasanya sekaligus dampaknya setelah meminum cairan beralkohol dari nira kelapa itu,” tulis Ery. Dari Nusantara, sumber-sumber tertulis tertua tentang tuak berasal dari abad ke-10 hingga abad ke-14. Artinya, itu dari masa Kerajaan Mataram Kuno (Medang) hingga Kerajaan Majapahit. Bukan cuma tuak, masyarakat juga mengenal banyak jenis minuman beralkohol. Berdasarkan prasasti dan naskah, minuman beralkohol yang dikenal di antaranya sura, waragang, sajeng, arak/awis, tuak, minu, jatirasa, madya, māsawa/māstawa , sajěng, tampo, pāṇa, siddhu , baḍyag/baḍeg, buḍur, brěm, cinca, duh ni nyū, juruh, dan kinca. Titi Surti Nastiti, ahli epigrafi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas), dalam “Minuman Pada Masyarakat Jawa Kuno” termuat di Pertemuan Ilmiah Arkeologi V menyebutkan bahwa secara umum, minuman yang mengandung alkohol oleh orang Jawa Kuno biasanya disebut madya. Misalnya, naskah Adiparwa menyebut madya naranya, sajêng (minuman beralkohol namanya sajêng ) . Naskah itu disalin ke dalam bahasa Jawa Kuno pada era Raja Dharmawangsa Teguh yang memerintah di Medang Kahuripan (991-1016). Sajêng adalah minuman beralkohol yang dibuat dari palem. Dalam Adiparwa disebutkan minuman yang disebut sajêng di antaranya waragang, tuak, baḍyang, tuak tal, dan buḍur. Dalam Kakawin Ramayana yang dibuat sekira abad ke-9disebutkan beberapa jenis madya, seperti mastawa dan pāṇa. Prasasti Pangumulan A dari 824 Saka (902) juga menyebut jenis-jenis madya :“Demikianlah minuman keras yang diminum ada tuak, siddhu, ada jatirasa, dan air kelapa ( dun ni nyūng) .” Titi menyebutkan bahwa, dun ni nyūng (air kelapa) dalam Prasasti Pangumulan dikategorikan ke dalam salah satu jenis minuman keras. Berbeda dengan Kakawin Ramayana , disebutkan duh nikaṅ nyū sebagai air kelapa yang belum diolah. “Dengan riang gembira sambil saling berebut monyet-monyet mengunyah dan mematahkan tebu, mereka berjalan di jalan raya sambil mengenyangkan badan dengan meminum air kelapa, mengambil dagingnya sampai jatuh ke dada,” sebut naskah itu. Selain Prasasti Pangumulan A, nama-nama minuman beralkohol muncul dalam berbagai prasasti, khususnya yang berisi tentang upacara penetapan sima (tanah perdikan atau tanah bebas pajak) . Khususnya, pada bagian penutup, yaitu acara makan bersama sebagai rangkaian upacara. Contohnya, Prasasti Watukura (902) yang menyebutkan mastawa , pāṇa, siddhu, cinca, dan tuak. Prasasti Rukam (907) menyebut tuak, cinca, dan siddhu. Begitu pula Prasasti Lintakan (919) dan Prasasti Paradah (943). Dalam Prasasti Sanguran (928) disebutkan siddhu dan cinca. Sedangkan dalam Prasasti Alasantan (939) disebutkan tuak, siddhu. Bahan Baku Mudah Di antara minuman beralkohol yang disebut dalam prasasti dan naskah, dibuat dari beragam tumbuhan yang banyak tumbuh di Nusantara. Titi menjelaskan, siddhu adalah minuman keras yang disuling dari semacam gula. Asam Jawa digunakan untuk membuat cinca. Sementara tuakada beberapa jenis, yaitu tuak kelapa dan tuak siwalan. Tuak kelapa dibuat dari air kelapa. Tuak siwalan atau terkadang disebut tuak tal terbuat dari air siwalan atau tal. Adapun arak biasanya menggunakan air nira dari pohon aren. Namun, ada pula yang dari beras. Jenis arak yang disebutkan dalam naskah di antaranya adalah arak merah ( awis bang ) dan arak harum ( arak arum ). Kakawin Arjunawijaya yang digubah Mpu Tantular menyebutkan jenis-jenias brěm yang dinamakan sesuai bahannya. Menurut Titi keterangan itu memberikan penjelasan bahwa brem dibuat dari beras yang diketahui bisa berasal dari padi, jagung, dan gadung. “ Tampo dengan pengasih, kilang disertai dengan brem beras, brem jagung, dan brem gadung,” tulis naskah Arjunawijaya. Serupa dengan brěm, minuman bernama tampo dibuat pula dengan cara fermentasi. Bahannya dari beras atau singkong. Ada pula yang dibuat dari anggur, yaitu minu. Namun, minuman ini masih jadi pertanyaan apakah asli Nusantara atau impor. Pasalnya, pada masa itu anggur belum dibudidayakan. “Dengan ditemukannya wadah-wadah keramik yang dipakai untuk menyimpan anggur dan arak mungkin sekali kedua jenis minuman ini diimpor dari Tiongkok,” jelas Titi.
- Sukarno Marah Ajudan Salah Cerita Sejarah
BRIGADIR Polisi M. TAMIM tak pernah lupa situasi pasca-diberlakukannya gencatan senjata antara pasukan Indonesia dan Belanda selepas Agresi Militer Belanda II. Perang pengaruh masih begitu kuat di berbagai tempat. Dalam suasana seperti itu, Tamim ditawari menjadi anggota polisi Belanda. Tentu saja Tamim menolak mentah-mentah tawaran itu. “Kalau tidak, obsesinya yang ingin mengabdi kepada keluarga Bung Karno dan dekat dengan Bung Karno akan menguap sia-sia,” tulis Kadjat Adra’i, teman dekat Guntur Sukarnoputra sekaligus wartawan yang pernah mewawancara Tamim, dalam bukunya Suka-Duka Fatmawati Sukarno: Seperti Diceritakan Kepada Kadjat Adra’i . Bagi Tamim, Presiden Sukarno dan keluarganya bukan merupakan orang asing. Ayah Tamim, Nur’ain, merupakan supir di Istana Bogor. Nur’ain tinggal di dalam perumahan karyawan istana yang terletak di kompleks istana. Di sinilah Tamim dilahirkan pada 1926 dan bertumbuh bareng-bareng anak-anak pegawai yang lain. Setelah dewasa, Tamim menjadi anggota Kepolisian Istimewa wilayah Bogor. Komandannya Komisaris Polisi Enoch Danubrata. Saat pemerintah mengungsi ke Yogyakarta, awal 1946, Tamim termasuk yang dipercaya bertugas mengawal keluarga presiden –setelah Resimen Tjakrabirawa dibentuk pada 1962, para anggota polisi pengawal pribadi presiden ini disatukan dalam wadah Detasemen Kawal Pribadi (DKP). Sekitar tahun 1948, Tamim mendapat tugas dari Sukarno untuk mendongengi Guntur setiap malam sebelum tidur. Kehadiran Tamim dengan dongeng-dongengnya saban malam membuat Guntur semakin dekat secara emosional dengan sang ajudan. Tamim pun dibawa serta ketika presiden kembali ke Jakarta pasca-pengakuan kedaulatan. Di Jakarta, Sukarno “menaikkan pangkat” Tamim dari sekadar pendongeng sebelum tidur menjadi pengasuh Guntur. Praktis hari-hari Tamim selalu dihabiskan di samping sang putra sulung presiden, sejak pagi hingga malam ketika Guntur hendak tidur. Sewaktu Guntur sudah masuk Taman Kanak-kanak, saban pagi Tamim mengantarkan ke sekolah yang berada di bagian belakang kompleks Istana Jakarta. Tamim menungguinya hingga jam pulang sekolah. Kegiatan itu berlanjut ketika Guntur masuk ke Sekolah Rakyat Perguruan Cikini. Saban pagi, Tamim mengantar Guntur dengan disupiri Saro’i yang juga dari anggota kepolisian. Di waktu malam, Tamim mesti menunggui Guntur belajar hingga pukul 20.00. Setelah itu, barulah Tamim bisa melakukan tugas terakhirnya: mendongengi Guntur sebagai pengantar tidur. Dongeng biasanya dimulai Tamim begitu Guntur sudah berbaring di dipannya. Karena tugas itu tugas hariannya, Tamim pun sering membawa beberapa buku cerita lantaran terkadang kehabisan topik dongeng. Mayoritas dongeng yang diceritakan Tamim adalah cerita horor karena disukai anak-anak. Namun, sering juga Tamim mendongengkan masa-masa penjajahan dan perang kemerdekaan. Kegiatan itu sering Tamim lakukan di kamar presiden karena Guntur sering tidur di kamar ayahnya. Presiden biasanya sedang asyik membaca ketika Tamim mendongengi Guntur. Suatu hari, di kamar presiden, Tamim dibuat kelipungan karena Guntur belum juga tidur meski dongengnya sudah habis. Alih-alih langsung memejamkan mata, Guntur malah minta didongengkan lagi. Tamim yang sudah kehabisan bahan cerita pun sempat bingung. Untung saja Guntur memintanya mendongengkan cerita masa pendudukan Belanda sebelum Jepang masuk. Tamim yang mengalami periode itu, pun lalu dengan lancar kembali mendongeng. Seperti biasa, Presiden Sukarno duduk di dekat mereka sambil membaca. Cerita terus keluar dari mulut Tamim. Selain mengisahkan tentang keberanian Bung Karno dan para pemuda pejuang lain. Diceritakannya pula kehidupan rakyat dan kekejaman Belanda. Tamim pun selesai dengan dongengnya. Namun, lagi-lagi dibuat bingung karena Guntur belum juga tidur. Sementara, bahan cerita di kepalanya sudah habis. Dalam kebingungan itu, Guntur justru menanyakan kelanjutan cerita. Tamim pun putar otak. “Akhirnya saya punya akal. Saya kemudian mengarang cerita, benar-benar mengarang, karena saat itu saya memang diharuskan bercerita,” kata Tamim, dikutip Kadjat. Guntur kembali asyik mendengarkan dongengan Tamim. Dia tak tahu bahwa dongeng yang dikisahkan Tamim murni fiksi. Tamim pun asyik terus membohongi sang anak. Selagi asik-asiknya membohongi Guntur, tiba-tiba Tamim dikejutkan oleh suara presiden yang diam-diam terus menyimak dongengan. “Nggak ada cerita itu,” kata Sukarno.
- Agen CIA di Medan
DEAN Almy, agen CIA di Konsulat Amerika Serikat di Medan, menerima telegram dari James M. Smith Jr., Kepala Stasiun CIA di Jakarta. Dia diperintahkan untuk menemui Kolonel Maludin Simbolon di Bukittinggi.
- Shili Foshi yang Berubah Jadi San-fo-tsi
Di laut selatan sebuah kerajaan bangsa liar dikenal dengan nama Kerajaan San-fo-tsi. Ia memerintah 15 macam negeri. Letak San-fo-tsi ada di antara Chen-la dan Shepo. Bila angin baik, berlayar dari Kwang-tung ke negara itu bisa ditempuh dalam waktu 20 hari. Negeri itu tak menghasilkan gandum. Mereka memproduksi padi, kapri kuning dan hijau. Masyarakatnya menggunakan huruf Sanskerta. Mereka juga mengenal huruf Tiongkok. Jika mereka mengirim utusan ke Tiongkok mereka menulis dengan huruf itu. Begitu Dinasti Song (960-1279) di Tiongkok mencatat keberadaan kerajaan San-fo-tsi. Sementara itu, berita dari Zhu Fan Zhi atau Catatan Bangsa Asing yang disusun kepala bea cukai di Quanzhou, Fujian, Zhao Rugua pada masa Dinasti Song, menguraikan San-fo-tsi adalah negeri di selatan Ch-uan-hou, yang berhadapan dengan Formosa Utara. Rakyatnya bersarung kain kapas dan berpayung sutra. Mereka pandai berperang, baik di laut maupun di darat. Organisasi ketentaraannya sangat rapi. Banyak ahli, termasuk W.P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa, yang menafsirkan San-Fo-tsi sebagai Kedatuan Sriwijaya yang ada di Palembang . Arkeolog George Cœdès dalam Kedatuan Sriwijaya pun mendukung pernyataan itu. Ia mengutip berita Tionghoa Zhao Rugua yang juga mengatakan kalau San-Fo-tsi berada di tepi laut besar dan menguasai lalu lintas pelayaran dari dan ke Tiongkok. Namun, Slamet Muljana dalam Kuntala, Sriwijaya, dan Suwarnabhumi berteori bahwa San-fo-tsi adalah kerajaan yang berbeda. San-fo-tsi mulai tercatat pada abad ke-10 merupakan kelanjutan dari kerajaan Sriwijaya yang pernah berjaya pada abad ke-7. Sebelumnya, Kerajaan Sriwijaya pernah disebut dalam catatan Tiongkok dengan nama Shili foshi (Che-li-fo-che). Nama ini tercatat dalam Sejarah Baru Dinasti T’ang ( Hsin-t’ang-shu ) dari 618-907, maupun dalam karya biksu Tiongkok I-Tsing yang mampir di Sumatra dalam perjalanannya ke Nalanda. Hsin-t’ang-shu mencatat, Kerajaan Shili foshi mengirim utusan ke Tiongkok dalam kurun waktu 670-673 dan 737-741. Namun, sejak itu, utusan dari sana tak dikabarkan lagi. Beberapa abad setelah Shili foshi tak muncul, dalam perdagangan internasional pada 960 muncul kerajaan di Sumatra yang dicatat dengan nama berbeda, San-fo-tsi. Negeri ini mengirim utusan ke Tiongkok berkali-kali. Sejarah Dinasti Sung ( Sung Shi ) mencatat kedatangan utusan itu ke Tiongkok pada 960, 962, 971, 974, 975, 980, 983, 985, dan 988. Utusan yang terakhir tinggal di Kanton sampai 990. Waktu itu ia medengar negerinya sedang diserang oleh tentara dari negeri Cho-p’o. Hampir bersamaan dengan berita Tiongkok tentang adanya sebuah kerajaan bernama San-fo-tsi di lautan selatan, sejarah India memberikan petunjuk keberadaan kerajaan di tanah Sumatra, yaitu dalam prasasti Nalanda dari abad ke-9. Tersebutlah Raja Dewapaladewa, Raja Benggala di India, memerintahkan membuat prasasti yang memberitakan Sri Maharaja Balaputradewa menghadiahkan beberapa bangunan vihara kepada Universitas Nalanda. Ia berasal dari Suwarnadwipa, yang berarti Pulau Emas, dan menganut agama Buddha. Tertulis pula kakek sang Raja Balaputradewa yang dikenal dengan sebutan Sailendravamsatilaka Sri Wirawairimathana atau permata keluarga Sailendra, pembunuh musuh-musuh yang gagah perwira. Sejarawan Slamet Muljana berpendapat Suwarnadwipa adalah nama Sanskerta asli yang tidak digunakan dalam prasasti-prasasti Jawa dan Melayu. Yang digunakan dalam prasasti Jawa, yaitu Prasasti Amoghapasa (1286), adalah Suwarnabhumi. Arca ini dikirim Raja Kertanegara dari Singhasari kepada Raja Tribhuwanaraja sebagai Raja Suwarnabhumi. Ekspedisi yang terjadi pada 1275 ini kemudian dikenal sebagai Pamalayu. Dengan begitu, San-fo-tsi sebenarnya adalah transliterasi dari kata swarnabhumi. Ia merupakan kelanjutan dari Sriwijaya yang pernah berjaya pada abad ke-7. Pendapat itu kemudian didukung oleh sejarawan Suwardono dalam Sejarah Indonesia Masa Hidu-Buddha. “Kerajaan San-fo-tsi merupakan kelanjutan atau kebangkitan kembali dari Sriwijaya (Shili Foshi),” kata Suwardono. Analoginya, menurut Suwardono, seperti Kerjaan Singhasari yang didirikan oleh Rajasa. Ia kemudian hancur pada 1292. Berikutnya timbul kerajaan baru bernama Majapahit. Mengapa tak diberi nama yang sama oleh Wijaya? Alasannya, Majapahit ibu kotanya tak lagi di tempat di mana Singasari beribukota. Wijaya memindahkannya ke Trik, Mojokerto. Begitu juga dengan Shili foshi yang sempat tenggelam dalam hubungan internasional selama sekira 150 tahun lebih. Ia baru bangkit lagi pada akhir abad ke-9. “Bangkitnya Sriwijaya sebagai negara baru serta nama yang baru yaitu San-fo-tsi (Suwarnabhumi), dengan kota yang baru pula, yakni Jambi." Ibu Kota Baru Sriwijaya Namun, dalam Sriwijaya, Slamet Muljana seakan mengubah pandangannya. Swarnadwipa tak mungkin ditranskripsikan San-fo-tsi dalam tulisan Tionghoa. Sementara Swarnadwipa yang ada dalam prasasti Nalanda jelas merujuk pada pusat pemerintahan yang sama dengan yang disebut dalam prasasti-prasasti Sriwijaya. Alasannya, nama Swarnadwipa telah banyak dikenal dalam berita Tionghoa. I-Tsing menyebut dalam karyanya dengan Chin-chou atau Pulau Emas. Baik Swarnadwipa maupun Swarnabhumi punya arti yang sama dengan itu sebagai sebutan lawas untuk Pulau Sumatra. “Ia tak mentranskripsikannya ke dalam huruf Tionghoa tapi menerjemahkannya,” jelas Slamet Muljana. Pun letaknya, menurut Slamet Muljana, bukan pula di Jambi. Justru Jambi mungkin adalah bawahan San-fo-tsi. Dalam Sung-hui-yao atau catatan pemerintahan pada masa Dinasti Sung, pada 1082, Kerajaan Jambi masih berdiri sendiri sebagai bagian dari kerajaan San-fo-tsi. Kerajaan Jambi itu disebut Chan-pei. Nama yang mirip, yaitu Kien-pi disebutkan dalam Zhu Fan Zhi sebagai salah satu dari 15 negara bawahan San-fo-tsi. Selain Kien-pi, Zhu Fan Zhi yang disusun pada 1225 menyebut negeri bawahan kerajaan San-fo-tsi lainnya yaitu Pong-fong, Tong-ya-nong, Ling-ya-si-kia, Kilantan, Fo-lo-an, Ji-lo-ting, Tsien-mai, Pa-t’a, Tan-ma-ling, Kia-lo-hi, Pa-lin-fong, Sin-to, Lan-mu-li, dan Siam. Slamet Muljana kemudian menyamakan Pong-fong dengan Pahang, Tong-ya nong dengan Trengganu, Ling-ya-si-kia dengan Langkasuka, Ki-lan-tan dengan Kelantan, Ji-lo-ting dengan Jelotong di ujung tenggara Semenanjung, Tan-ma-ling dengan Tamralingga, Kia-lo-hi dengan Grahi, Pal-lin-fong dengan Palembang, Sin-to dengan Sunda, Ken-pi dengan Pulau Kempe di teluk Aru, Lan-wu-li dengan Lamuri (Aceh), Si-lan dengan Cyelon atau Sailan atau Sri Lanka. Karena Palembang dan Jambi masuk ke dalam daftar bawahan San-fo-tsi, artinya kerajaan itu tak bisa dicari di keduanya. Slamet Muljana beranggapan San-fo-tsi haruslah transkripsi dari nama tempat yang sudah ada pada masa Sriwijaya. Pasalnya pada 960 ketika Sriwijaya masih berdiri, nama San-fo-tsi telah muncul dalam sejarah Tionghoa. Selain di dalam catatan resminya juga ada dalam Prasasti Kanton (1079) yang mencatat perbaikan kuil Ti’en Ching atas biaya raja San-fo-tsi bernama Ti-hu-ka-lo. Slamet Muljana lalu menemukan transkripsi San-fo-tsi tak jauh dari nama Sambhogin. Ini didapat setelah ia meminta dua orang Tionghoa menulis Sambhogin dengan huruf Tionghoa. “Keduanya menjawab sulit sekali. Namun mereka berusaha juga untuk menulisnya. Mereka lalu membacanya menurut ucapan Mandarin dan Kanton: San-fo-tsi,” kata Slamet Muljana. Berdasarkan percobaan itu, dia yakin kalau San-fo-tsi dalam sejarah Sung adalah transkripsi dari Sambhogin. Sekarang nama itu menjadi Sabukingking, yang kini ada di timur Palembang, di tepi Sungai Musi. “Demikianlah Sabukingking atau Sambhogin adalah ibu kota Sriwijaya pada abad ke-10 ke atas,” kata Slamet Muljana. Artinya, ibu kota Sriwijaya pada abad ke-10 berpindah. Tapi, perpindahan itu tak jauh, dari Palembang ke Sabukingking. “Orang-orang Tionghoa menyebut nama kerajaan, yang pada waktu itu masih jelas bernama Sriwijaya, dengan nama pusat kerajaannya,” kata Slamet Muljana.





















