Hasil pencarian
9861 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Filantropi Masa Resesi Ekonomi
DIDI Kempot, seniman campursari kesohor, telah berpulang pada 5 Mei 2020 setelah mengalami kelelahan manggung di mana-mana. Dia sempat menggelar konser amal untuk penanganan pandemi Covid-19. Hasilnya Rp7,8 miliar terkumpul dan disalurkan kepada mereka yang membutuhkan. Praktik filantropi pada masa krisis semacam ini seringkali tersua dalam sejarah Indonesia. Resesi ekonomi melanda Hindia Belanda pada 1930-an. Saat itu harga barang ekspor Hindia Belanda turun drastis. Tapi tak ada negara mau membeli. Sebab mereka pun terbelit masalah serupa. Resesi ini bermula dari Amerika Serikat, lalu menyebar ke negara lainnya. Barang-barang pun menumpuk. Pabrik dan perusahaan merugi. Banyak pekerja kehilangan pekerjaan (PHK) dan memilih pulang kampung. Sisanya mencari kerjaan lain. Tapi ada juga yang masih beruntung bisa bekerja meski upahnya menyusut.
- Menak Jingga yang Ganteng
RIBUAN orang memadati pingir jalan protokol di jantung kota Banyuwangi. Mereka begitu terkesima menyaksikan parade kostum etnik modern nan megah dari pagelaran Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2019 yang mengangkat tema “The Kingdom of Blambangan”. Sajian apik lainnya, yang membuka BEC 2019, tak kalah memukau penonton: sedratari Amuke Satria Blambangan . Ia mengisahkan perang antara Kerajaan Blambangan dan Kerajaan Majapahit, yang akhirnya dimenangkan Menak Jingga, adipati Blambangan yang kemudian jadi raja Blambangan. Sendratari dibuka dengan fragmen kemegahan prajurit Blambangan yang melakukan olah kanuragan. Sekira 20 orang dengan kostum dominan hitam melakukan gerak silat ala Banyuwangi, diiringi gending gaya Banyuwangi yang rancak. Lalu masuklah tokoh Menak Jingga. Dia beserta para senapatinya menerima tamu dari Majapahit yang membawa undangan paseban agung ke Majapahit. Menak Jingga pun berangkat beserta keluarga dan prajurit pilihan, meski hal itu sudah dicegah oleh senapatinya. Baca juga: Perlawanan Jagapati sebagai Hari Jadi Banyuwangi Sesampai di Majapahit, dia disambut pasukan di bawah pimpinan Wikramawardhana dan Kencanawungu. Raja Majapahit ini menuduh Menak Jingga datang ke paseban diiringi pasukan pilihan itu hendak menyerbu Majapahit. Menak Jingga tak terima dengan tuduhan itu. Dia mengamuk sejadi-jadinya dengan membawa senjata gadanya. “Lewat BEC penonton diajak menyelami sejarah dengan cara yang menyenangkan. Tidak hanya menampilkan pawai kostum saja, tapi juga disertai narasi sejarah dan tradisi lokal yang menambah wawasan. Inilah yang menjadi keunikan dari BEC,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, dikutip dari laman banyuwangikab.go.id . Satria Menak Jingga Kisah Menak Jingga dikenal di seantero Jawa. Tokoh dari Blambangan –sekarang Banyuwangi– dikisahkan sebagai kubu antagonis dalam persaingan antara Majapahit dan Blambangan. Dalam banyak cerita, Menak Jingga memiliki karakter mudah marah. Penggambaran ini membuat resah beberapa tokoh budaya Banyuwangi. Salah satunya Hasnan Singodimayan. “Dibilang Banyuwangi ini nenek moyangnya Menak Jingga. Berwajah merah. Marah-marah saja sama Majapahit. Keturunannya cantik-cantik, sanghyang wedari gandrung, selendangnya merah,” ujar Hasnan dalam tayangan di laman YouTube. Menak Jingga merupakan tokoh sentral dalam sejarah Blambangan, yang ditempatkan sebagai seorang ksatria atau pemimpin kebanggaan Wong Osing, suku asli Banyuwangi. Sebaliknya, dalam sejarah Majapahit, Damarwulan menjadi tokoh utama karena dapat membunuh Menak Jingga. Blambangan sebagai sebuah negara adalah sebuah kenyataan sejarah. Serat Pararaton menuliskan perluasan kekuasaan Majapahit ke ujung timur Jawa, termasuk Blambangan. Saat pemerintahan Hayam Wuruk, wilayah Blambangan diserahkan kepada anaknya yang bernama Bhre Wirabumi. Baca juga: Temu Legenda Banyuwangi Setelah Hayam Wuruk mangkat, tahta Majapahit diserahkan kepada Wikramawardhana, menantu lelaki Hayam Wuruk. Sepuluh tahun Wikramawardhana berkuasa, tahta Majapahit diberikan kepada anak perempuannya yang bernama Dewi Suhita. Bhre Wirabhumi menolak pengangkatan Suhita dan menginginkan Blambangan lepas dari Majapahit. Majapahit dan Blambangan pun berkonflik (1404-1406) yang berakhir dengan kehancuran Bhre Wirabumi. Lehernya ddipenggal lalu kepalanya dipersembahkan kepada Ratu Majapahit. “Sejarah kematian Bhre Wirabumi mirip dengan salah satu cerita yang dituturkan dalam epik Jawa terkenal Serat Damarwulan . J. L. A. Brandes mengasosiasikan Bhre Wirabumi dengan Raja Menak Jingga, seorang figur antagonis dalam epik tersebut,” catat sejarawan Sri Margana dalam artikel “Jatuhnya Blambangan 1768”. Brandes adalah filolog berkebangsaan Belanda Ada lagi Babad Blambangan yang menceritakan bahwa Menak Jingga adalah anak petapa dari Tengger bernama Ajar Guntur Geni. Atas kesaktiannya mengusir musuh Majapahit, petapa ini memperoleh nama baru dari raja Majapahit: Pamengger. “Guntur Geni yang telah mematahkan serangan di pantai Jawa Timur; serangan yang dilancarkan oleh musuh-musuh raja Majapahit dari seberang laut. Penyerang-penyerang itu adalah orang-orang Siyem (Siam), Kaboja (Kamboja), dan Sukadana (Kalimantan),” tulis H.J. de Graaf dan Th.G. Thomas Pigeaud dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa . Baca juga: Metamorfosis Hadrah Kuntulan Pamengger tak memiliki anak. Dia hanya memiliki seekor anjing. Dia mengubah wujud anjing itu menjadi manusia yang tak sempurna karena masih berkepala anjing. Dia menamainya Menak Jingga. Akhir kisah babad ini juga berujung pada kekalahan Menak Jingga dari Damarwulan. “Bhre Wirabumi, Pamengger, dan Menak Jingga, semua tokoh ini barangkali merujuk pada satu figur yang sama. Jika yang pertama diterima sebagai figur yang lebih historis, maka dua yang terakhir mestinya merupakan personifikasi dari yang pertama,” tulis Sri Margana. Kisah legenda Menak Jingga dan Damarwulan kemudian diadaptasi dalam sejumlah karya sastra. Misalnya, Serat Damarwulan yang ditulis R. Ng Selawinata tahun 1885 atau pada masa Sultan Hamengkubuwana VII. Kisah legenda itu juga diadaptasi dalam seni pertunjukan seperti Langendriyan yang berkembang di Yogyakarta, ketoprak dengan lakon Damarwulan-Menak Jingga, dan Janger di Banyuwangi. Dekonstruksi Selama bertahun-tahun Menak Jingga dalam seni pertunjukan digambarkan sebagai antagonis yang sadis. Namun seniman-seniman Banyuwangi mencoba mendekonstruksi imej Menak Jingga sebagai tokoh buruk rupa, baik postur tubuh, wajah, suara, maupun sifatnya. “Menak Jingga adalah seorang ksatria, tinggi besar, gagah berani, dan merupakan tokoh yang menjadi ikon dalam cerita itu dan sekaligus sebagai pahlawan Blambangan/Banyuwangi,” ujar Adi Purwadi dari Lembaga Masyarakat Adat Using, dikutip dari artikel Novi Anoegrajekti berjudul “Janger Banyuwangi dan Menak Jingga: Revitalisasi Budaya” di jurnal Literasi Volume 4 Juni 2014. Baca juga: Di Balik Ritual Keboan Citra baru Menak Jingga muncul dalam perhelatan BEC 2019. Menak Jingga tidak digambarkan berkaki pincang, berwajah anjing, dan memiliki perut buncit. Namun dia berbadan tegap, berparas layaknya manusia, serta menjadi pemimpin yang dekat dengan rakyat dan prajuritnya. “Ketika melihat opening BEC, itulah Menak Jingga tampilan Blambangan. Orang lain tidak boleh sakit hati, sebagaimana kami tidak sakit hati melihat gambaran Menak Jingga bertahun-tahun yang jelek. Kita membalik bahwa Menak Jingga itu gagah, bijaksana dan tampan,” ujar Abdullah Fauzi dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi di akun BTD channel di saluran daring YouTube.
- Djamila Bouhired Srikandi Aljazair
Monumen Sukarno telah berdiri di pusat kota Algiers, Aljazair. Monumen yang didesain oleh Ridwan Kamil dan Dolorosa Sinaga itu merupakan permintaan pribadi Gubernur Algiers sebagai penghormatan Aljazair pada Sukarno. “Bung Karno sangat dihormai di Aljazair. Karena inspirasi Bung Karno, juga karena semangat Dasa Sila Bandung di KAA 1955 yang memberikan inspirasi bagi para pendiri Aljazair untuk merebut kemerdekaan dari penjajah di sana. Ini merupakan kehormatan nama Indonesia di mata dunia,” ujar Ridwan Kamil di akun twitter -nya, 6 Mei 2020. Hubungan Indonesia dengan Aljazair memang sudah cukup lama terjalin. Sejak Konferensi Asia Afrika yang pertama, Indonesia juga beberapa kali memberi bantuan kepada negara-negara yang belum merdeka termasuk Aljazair. Baca juga: Sokongan Indonesia untuk Kemerdekaan Afrika Utara Dalam pidato Sukarno berjudul To Build The World Anew misalnya Sukano juga menyinggung perjuangan kemerdekaan Aljazair secara khusus di depan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kemudian Panitia Pembantu Perjuangan Kemerdekaan Afrika Utara juga dibentuk dan Indonesia mengusahakan kantor bagi utusan dari Aljazair, Tunisia dan Maroko di Jakarta. Hubungan baik dengan Aljazair ini mengingatkan Indonesia pada salah satu tokoh revolusi Aljazair yakni Djamila Bouhired. Namanya sempat terkenal di Indonesia pada akhir 1950-an hingga awal 1960-an ketika Aljazair berada di puncak perlawanan terhadap penjajahan Prancis. Djamila Bouhired merupakan pejuang kemerdekaan Aljazair yang lahir dari kelas menengah dan mendapat pendidikan di sekolah Prancis. Ketika berusia 22 tahun, Djamila bergabung dengan Front de la Libération Nationale (FLN), kelompok nasionalis yang dibentuk pada 1954. Baca juga: Membebaskan Tjakrabirawa di Aljazair Pada 1957, Bouhired ditangkap bersama beberapa pejuang lainnya atas tuduhan pengeboman sebuah kafe di Algiers. Ia disiksa di penjara dan dijatuhi hukuman mati. Dukungan terhadap pembebasan Djamila Bouhired mengalir dari berbagai kalangan. Georges Arnaud dan Jacques Verges, dua simpatisan komunis, membelanya di depan umum. “...dan mereka menggunakan kisah-kisahnya sebagai simbol keinginan Aljazair untuk merdeka,” tulis Erika Kuhlman dalam A to Z of Women in World History. Akhirnya, hukuman mati tak dilaksanakan dan Djamila Bouhired dipindahkan ke Rheims, Prancis. Pada Mei 1959, El-Moudjahid , media FLN, menyatakan Djamila Bouhired sebagai wanita paling terkenal di Aljazair. Sementara itu, ia tetap dipenjara di Prancis dan baru bebas pada 1962 bersama banyak tahanan Aljazair lainnya. Kisah Djamila Bouhired diangkat ke layar lebar pada 1958. Kabar itu sampai ke telinga sutradara Usmar Ismail yang sebelumnya juga tertarik dengan sosok Djamila Bouhired. Usmar Ismail kemudian menonton film itu ketika mengunjungi Mesir. Tak lama setelah itu, perusahaan film milik Usmar Ismail, Perfini, menyediakan film berjudul Djamila Bouhired itu untuk penonton di Indonesia. Baca juga: Sumbangsih Indonesia untuk Asia-Afrika Menurut Hairus Salim H.S. dalam “Indonesian Muslim and Cultural Networks” yang termuat dalam Heirs to World Culture, Being Indonesian 1950-1965 kisah Djamila Bouhired sebelumnya memang sudah populer di Indonesia melalui serial di surat kabar. Jurnalis Rosihan Anwar adalah orang yang menyusun serial itu di halaman harian Pedoman dari Februari hingga Maret 1958. Kisah berjudul Djamila Srikandi Alzajair itu disukai banyak pembaca dan meningkatkan sirkulasi Pedoman yang dipimpin Rosihan. “Menurut Rosihan, cerita ini ditulis oleh Lakdar Brahimi, yang menjadi perwakilan FLN di Jakarta dan didasarkan pada apa yang ia baca di surat kabar seperti Le Figaro dan l'Humanité . Lakdar menulis ceritanya dalam bahasa Inggris, yang kemudian diterjemahkan oleh Pedoman ,” tulis Hairus. Baca juga: Alkisah Cenderamata Lekra Mochtar Embut, musisi Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), juga terinspirasi oleh Djamila Bouhired. Ia membuat lagu berjudul Djamila yang terkenal setelah dinyanyikan oleh paduan suara Lekra. Liriknya tentu saja berangkat dari perjuangan Djamila Bouhired dan rakyat Aljazair. Lagu ini dibuat sebagai bentuk solidaritas dan dukungan terhadap perjuangan negara-negara Asia-Afrika. Lagu Djamila juga direkam dalam piringan hitam bersama lagu Pudjaan Kepada Pantai, Persahabatan Tiongkok-Indonesia, Asia Afrika Bersatu, Nasakom, Dari Rimba Kalimantan Utara, Lagu Perjuangan, Api Cubana serta beberapa lagu daerah . Piringan hitam tersebut kemudian menjadi cenderamata Lekra dalam rangka misi kebudayaan ke Tiongkok pada 1963. Djamila Bouhired kini masih hidup dan telah berusia 84 tahun. Pada Maret 2019, ia bahkan masih hadir dalam demonstrasi besar di Aljazair yang memprotes upaya Presiden Abdelaziz Bouteflika menjabat untuk yang kelima kalinya.
- Natural History, Ilmu yang Mendorong Penjelajahan Bangsa Eropa
JACOBUS Bontius senang bukan kepalang. Pembuka jalannya untuk meraih gelar profesor terbuka bersamaan dengan datangnya penunjukan dirinya oleh direksi VOC (Heeren XVII) untuk menangani segala urusan medis kapal selama pelayaran ke Asia pada Agustus 1626. Bontius antusias menerima proyek ini. Bontius menjadi satu dari sekian ilmuwan yang terkena "wabah" revolusi saintifik. Harold J. Cook dalam tulisannya “Global Economies and Local Knowledge in the East Indies” menyebut, kala itu dalam dunia ilmu pengetahuan sedang muncul semangat “revolusi saintifik” dengan kebangkitan kembali natural history. Ilmu inilah yang mendorong orang Eropa melakukan penjelajahan dunia untuk mencari rempah-rempah dari sumbernya. Pada mulanya, kebangkitan ilmu natural history sebatas mengkaji teks-teks lama. Setelahnya, orang-orang merasa perlu untuk terjun ke lapangan guna megamati langsung dengan tetap berpegang pada teks lama. “Di sinilah (kebangkitan natural history, red .) yang mendorong mereka melakukan penjelajahan ke Amerika dan dunia timur,” kata Dr. Gani A. Jaelani, sejarawan Universitas Padjajaran, dalam webinar “Rempah-Rempah, Pengetahuan Medis, dan Praktik Kesehatan di Indonesia”, Selasa, 5 Mei 2020. Gani menjelaskan, natural history merupakan bidang ilmu yang mendeskripsikan alam. Para peneliti Eropa abad pertengahan membaca kembali karya-karya natural history seperti milik Pliny the Elder (Gaius Plinius Secundus) yang hidup pada 23-79 SM. Pliny menyusun ensiklopedi alam, astronomi, botani, farmakologi, dan manifestasi pengetahuan kuno yang ada di alam semesta. Naturalis lain yang karyanya dikaji ulang ialah Dioscarides, hidup sezaman dengan Pliny. Ia meluncurkan buku De Medica Materia dengan 550 entri jenis tumbuhan yang punya manfaat untuk kesehatan. Pengkajian karya lama ini kemudian memunculkan pengetahuan baru. Naturalis abad pertengahan Conrad Gesner berpendapat bahwa akal dan pengalaman merupakan pilar ilmu pengetahuan. Akal berasal dari Tuhan dan pengalaman berasal dari manusia. Ilmu pengetahuan merupakan perpaduan keduanya sehingga perlu dilakukan observasi di lapangan. Natural history kemudian berkait erat dengan kolonialisme. Para pegawai kolonial dan naturalis melakukan ekspedisi dalam rangka mengumpulkan informasi demi kepentingan perdagangan dan keilmuan. “Mereka mencari tahu tumbuh-tumbuhan apa saja yang memiliki nilai ekonomis di pasar Eropa. Para dokter punya peran penting dalam penyelidikan manfaat tumbuhan bagi kepentingan ekonomi dan kesehatan,” kata Gani. Para apoteker yang bekerja di kongsi dagang Hindia Timur, VOC, lalu diinstruksikan untuk membawa sampel tumbuhan, mulai daun, biji-bijian, cengkeh, hingga kayumanis sekembalinya menjelajah. Profesor Carolus Clusius dari Universitas Leiden juga menginstruksikan para apoteker yang menjelajah untuk menelusuri produk alam di belahan dunia lain. Salah satu dokter dan naturalis yang ikut ke nusantara ialah Bontius. Setelah penunjukan oleh direksi VOC, Bontius berangkat dengan kapal yang membawa Jan Pieterzoen Coen dan tiba pada 1627 di Maluku. Tinggal selama beberapa bulan di sana, ia melakukan pengamatan tentang penyakit, tumbuhan, dan pengobatan tradisional dengan banyak melakukan wawancara pada warga lokal. Pengamatannya kemudian ia tuliskan setelah pindah ke Batavia pada awal 1628. Karya Bontius diterbitkan tahun 1642 dalam bahasa Latin, De medicina Indorum . Terjemahan bahasa Inggrisnya muncul seabad kemudian. Peneliti lain ialah Georg Eberhard Rumphius. Ia menyusun Het Amboinsche Kruid-Boek , berisi khasiat tanaman obat di Ambon berserta deskripsi cara orang Ambon menggunakan tanaman tersebut. Buku Rumphius dirahasiakan oleh VOC untuk mencegah bangsa Eropa lain datang ke Nusantara. “Selesai ditulis pada 1702, setengah abad setelahnya baru diterbitkan,” kata Gani. Dari Amerika, ada dokter Thomas Harsfield yang datang ke Hindia Belanda pada 1801 dan tinggal hingga 1819. Sepanjang 1804-1812, ia melakukan perjalanan ke Jawa. Laporan ekspedisinya tentang tanaman obat yang digunakan orang Jawa dikirim ke Bataviaasch Genootshap der Kursten en Wetenschappen. Karyanya kemudian diterbitkan pada 1816 dengan judul Short Account on the Medical Plants of Java . Semangat penelitian di negeri ini didorong oleh kepercayaan bahwa obat sebuah penyakit bisa ditemukan di tempat penyakti itu muncul. Dalam periode ini, para dokter Eropa masih takjub pada pengetahuan lokal terkait obat-obatan. Mereka mengumpulkan informasi dengan menyerap pengetahuan dari penduduk lokal. “Bontius dan Rumpihius melaukan wawancara pada pembatu di tempat mereka tinggal,” kata Gani. Namun demikian, setelah abad-19 muncul paradigma baru dalam dunia kedokteren yang menggusur ilmu pengetahuan kedokteran lokal. “Louis Pasteur, Robert Koch menginisiasi pemahaman bakteriologi, bahwa penyakit disebabkan oleh bakteri patogen. Pengobatan dilakukan dengan membunuh patogen penyebab penyakit,” kata Gani. Sejak itu, pola penelitian kesehatan bergeser dari observasi lapangan dan menjelajah alam ke penelitian laboratorium. Hal ini membuat penelitian tanaman obat yang dilakukan dokter Eropa menjadi berkurang. Pada masa ini pula peran perempuan sebagai pengguna dan pemilik ilmu pengetahuan tanaman obat berjasa dalam membantu para peneliti. Pada 1880-an, ada setidaknya 300-an dokter terlatih Eropa di Hindia Belanda. Mayoritas dari mereka bekerja di rumah sakit militer dan hampir semuanya terkonsentrasi di pusat-pusat kota. Di pedesaan dan khususnya di luar Jawa, layanan dokter hampir tak terjangkau. Penduduk di daerah harus menyediakan perawatan medis mereka sendiri. Maka, istri pemilik perkebunan jadi penanggung jawab kesehatan pekerja pribumi. Dengan kata lain, perawatan medis di Hindia disediakan di rumah oleh perempuan. Pada 1888, Chemisch Pharmacologisch didirikan. Di dalamnya terdapat laboratorium yang khusus meneliti kandungan kimiawi dalam tanaman obat. Menurut Hans Pols dalam artikelnya “European Physicians and Botanists, Indigenous Herbal Medicine in the Dutch East Indies, and Colonial Networks of Mediation”, perempuan Indo-Eropa punya peran penting sebagai mediator antara peneliti Eropa dan warga pribumi, pemilik ilmu tanaman obat lokal. Buku pedoman medis yang biasanya dipegang para perempuan, merujuk pada bahan-bahan yang dapat diperoleh dengan mudah di sekitar tempat tinggal. Sebagian besar obat di Hindia adalah obat domestik yang sering digunakan sebagai bumbu masak, sehingga para perempuan amat mudah mengenali dan mengaksesnya. “Obat herbal, yang memanfaatkan tanaman dan buah-buahan yang sering digunakan dalam memasak juga merupakan obat yang paling umum di koloni,” tulis Hans Pols. Banyak perempuan indo-Eropa suka mencatat resep favorit mereka. Pada 1870-an, dua buku catatan perempuan indo-Eropa diterbitkan setelah penulisnya meninggal. Buku pertama ialah buku catatan milik Emelie van Gent-Detelle, perempuan indo-Eropa dari keluarga pemilik perkebunan yang tinggal di dekat Yogyakarta. Kakek Emelie merupakan ahli bedah Jerman untuk VOC bernama Joseph Thomas Coenraad. Selama hidupnya, reputasi Emelie dikenal karena pengetahuannya tentang pengobatan herbal. Buku kedua yang diterbitkan ialah milik Johanna Wilhelmina Gunsch-van Blokland, yang tinggal di Surabaya. Catatan Johanna bersumber dari kumpulan resep yang dikumpulkan ayahnya. Para perempuan indo-Eropa yang paham tentang tanaman medis lokal ini punya posisi terhormat sebagai perantara budaya medis Eropa dan Jawa untuk wawasan medis. Mereka umumnya bisa berbicara bahasa Belanda, Jawa, Sunda, Melayu, atau bahasa lokal lain. Dengan begitu, mereka dapat dipahami oleh banyak kelompok etnis. “Ada pergeseran, penelitian tanaman obat tidak lagi diteliti oleh para dokter, tapi pertanian, atau tak punya latar beakang medis sama sekali,” kata Gani.*
- Di Balik Ritual Keboan
RATUSAN warga berkumpul di sebuah tanah lapang bekas sawah. Sejak pagi suara gamelan dari sebuah panggung mengalun bertalu-talu. Bunyi irama yang berulang-ulang membuat beberapa orang kesurupan dan bertingkah layaknya kerbau. Mereka bermain lumpur di sepetak tanah yang sudah disediakan panitia. Pada saat bersamaan, warga desa menggelar arak-arakan dengan membawa beberapa replika hewan kerbau. Ikut pula puluhan orang dengan tubuh berlumuran cairan hitam –dari arang dan oli. Mereka mengenakan sepasang tanduk buatan dan lonceng di leher. Di tengah perjalanan mereka kerasukan roh leluhur desa dan bertingkah layaknya kerbau. Keceriaan terpancar dari wajah Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi. Untuk kesekian kalinya mereka menggelar ritual adat keboan atau dikenal dengan Keboan Aliyan. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, yang menghadiri acara tersebut, mengatakan bahwa tradisi Keboan Aliyan merupakan salah satu kekayaan budaya asli warga lokal. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi mengangkat tradisi ini sebagai bagian dari Banyuwangi Festival; sebuah bentuk apresiasi pada warga yang terus menjaga warisan leluhur. “Banyuwangi boleh maju, tapi tradisi dan budaya yang ada di tengah masyarakat tidak akan kita tinggalkan. Tradisi ini tidak hanya sekadar ritual rutin tapi juga menggambarkan semangat guyub dan gotong royong warga,” kata Anas , September 2019. Keboan Aliyan rutin digelar setiap tahun; yakni pada hari minggu antara tanggal 1 sampai 10 bulan Suro –penanggalan Jawa. Ritual ini digelar sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah sekaligus upacara bersih desa agar seluruh warga diberikan keselamatan dan dijauhkan dari segala marabahaya. Kisah Dua Dusun Dalam masyarakat agraris, kerbau menempati posisi penting. Kerbau dianggap sebagai mitra dan tumpuan mata pencaharian petani. Kerbau juga dihubungkan dengan kesuburan tanah karena membantu membajak sawah. Selain itu, kerbau dianggap binatang keramat nan suci. Ia memiliki kebajikan, kesabaran, dan welas asih. Ia simbol kekuatan dan pengantar jiwa yang sudah mati menuju alam lain. Sejumlah masyarakat adat memunculkan tradisi yang berkaitan dengan kerbau. Masyarakat suku Osing di Banyuwangi mewujudkannya dalam rituan Keboan Aliyan. Konon, tradisi ini sudah berlangsung sejak abad ke-18. “Tidak mungkin untuk menyatakan dengan pasti berapa umur ritual itu. Meskipun beberapa mengklaim bahwa itu sudah ‘berabad-abad’, yang lainnya hanya menyatakan bahwa ia kembali ke zaman kolonial,” tulis Robert Wessing dalam “Hosting the Wild Buffaloes: The Keboan Rituals of the Using of East Java, Indonesia, NSC Working Paper No. 22, Mei 2016. Menurut tradisi lisan, ritual keboan berawal dari hama penyakit yang menyerang lahan pertanian penduduk. Buyut Wongso Kenongo, pendiri cikal-bakal desa, bersemedi dan mendapat petunjuk agar anaknya bersemedi pula. Petunjuk itu pun dijalankan kedua putra Buyut Wongso. Ada beberapa versi penyebutan nama kedua putra Buyut Wongso. Putra pertamanya, yang kemudian jadi leluhur Krajan, disebut Raden Joko Pekik, Suko Pekik, atau Buyut Pekik. Sementara putra kedua, leluhur Sukodono, disebut dengan nama Raden Pringgo, Rangga, Buyut Wadung, atau Buyut Turi. Terlepas dari perbedaan itu, kedua putra Buyut Wongso bersemedi minta petunjuk. Terjadilah hal yang aneh. Mereka mendadak berperilaku seperti kerbau. Mereka berguling-guling di persawahan. Setelah itu hama penyakit menghilang. “Kejadian yang dilakukan oleh kedua anak Buyut Wongso Kenongo kemudian ditiru dan dilanjutkan oleh masyarakat setempat yang selanjutnya disebut dengan ritual adat keboan” tulis Salamun dkk dalam Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi Jawa Timur: Kajian Ritual Keboan . Menariknya, di Desa Aliyan terdapat dua dusun yang mempertahankan tradisi ini, yakni Krajan dan Sukodono. Secara terpisah kedua dusun ini menjalankan ritual yang sama dan digelar di hari yang sama pula. Hal ini tak lepas dari konflik di antara keturunan Buyut Wongso Kenongo. Karena sama-sama cakap, Buyut Wongso Kenongo sulit memutuskan siapa dari kedua putranya yang akan menggantikannya sebagai pemimpin desa. Bahkan dalam suatu “pertarungan” pun tak ada yang menang. Maka, dia memutuskan untuk memisahkan keduanya: putra pertama tetap di Krajan sementara putra kedua pindah ke Sukodono. “Sejak itu ada ketegangan di antara dua dusun ini, dan mereka merayakan ritual keboan secara terpisah,” tulis Robert Wessing. Kendati terpisah, para sesepuh desa berusaha melaksanakan ritual keboan secara bersamaan. Upaya itu terwujud. Kendati ritualnya sama dan digelar pada hari yang sama, waktu pelaksanaan dan jalur arak-arakannya berbeda. Arak-arakan “manusia kerbau” terbagi menjadi dua arah: barat dan timur. Barat berasal dari Dusun Sukodono, Kedawung, dan Damrejo. Sedangkan timur dari Dusun Krajan, Cempokosari, dan Timurejo. Kedua rombongan tak boleh berpapasan karena roh leluhur yang merasuki tubuh bisa saling serang. Setelah diberi doa di Balai Desa Aliyan, “keboan” dari Krajan bergerak ke arah Krajan, Timurjo, dan Cempokosari, dan kemudian mampir ke makam leluhur. Sementara “keboan” dari Sukodono bergerak ke Kedawung dan Sukodono, dan selanjutnya mampir ke makam leluhur. Tradisi Keboan Aliyan di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, pada 8 September 2019. (Dok. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi). Dewi Sri Turun Pelaksanaan ritual Keboan Aliyan melibatkan partisipasi penduduk desa. Sehari sebelum ritual adat keboan, masyarakat bergotong-royong untuk mempersiapkan segala kebutuhan ritual. Umbul-umbul (bendera berwarna-warni) dipasang di sepanjang jalan desa. Gapura dari bambu didirikan di pintu-pintu jalan masuk desa. Gapura dihiasi dedaunan dan janur dan berbagai macam hasil bumi sebagai perlambang kesuburan dan kesejahteraan. Keesokan harinya, ritual keboan diawali dengan selamatan di empat penjuru desa ( ider bumi ). Usai selamatan, dimulailah arak-arakan “manusia kerbau” keliling desa. Saat itulah mereka kesurupan dan bertingkah layaknya kerbau. Mereka membantu petani membajak, mengairi, hingga menabur benih padi. Seorang perempuan cantik, perwujudan Dewi Sri, lalu menebarkan benih padi ( ngurit ). Para “keboan” berguling-guling di atas benih padi tersebut. Masyarakat ikut berebut untuk mendapatkan benih padi, yang dipercaya memiliki daya magis. Benih padi itu diyakini bisa mempengaruhi kesuburan dan keberhasilan panen serta terhindar dari hama maupun bencana lainnya. “Ritual ngurit disebut sebagai puncak acara, karena dalam ritual ngurit mengekspresikan tujuan dari upacara keboan, yakni Dewi Sri turun dari tandu memberikan benih padi (simbol kemakmuran) kepada pawang untuk disebarkan. Benih padi tersebut sebagai bekal para petani mendapatkan panen yang melimpah,” tulis Salamun dkk. Ritual keboan sempat mati suri pada 1990 hingga 1998. Kini, ritual ini menjadi salah satu atraksi paling ditunggu dalam Festival Banyuwangi. “Tradisi-tradisi ini menjadi identitas dan ciri khas yang membedakan budaya Banyuwangi dengan daerah lainnya. Otensitas inilah yang terus kami dorong dan kembangkan menjadi atraksi daerah yang menarik wisatawan,” ujar Bupati Anas. Selain di Desa Aliyan, tradisi serupa dilestarikan di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, dengan nama Kebo-Keboan. Tapi untuk tahun 2020, hanya Keboan Aliyan yang masuk dalam Banyuwangi Festval dan rencananya ritual itu akan digelar pada 6 September 2020.*
- Kisah Tentara Jadi Diplomat
LETNAN Kolonel Soegih Arto ingin sekali menjadi diplomat. Menurut kabar yang dia dengar dari handai taulan, kerja sebagai abdi negara di luar negeri itu enak. Gaji cukup untuk hidup dan kalau pandai mengatur keuangan dapat ditabung sebagai bekal pulang ke Indonesia. Soegih Arto pun pernah kesengsem melihat Susanto Tirtoprodjo, duta besar Republik Indonesia untuk Belanda yang selalu tampil berpakain rapi dan naik turun mobil kemana-mana. Masa magang sebagai diplomat mungkin sudah dijalani Soegih Arto sewaktu menjabat Komandan Komando Militer Kota Besar di Medan tahun 1956. Meski sebentar, setidaknya Soegih Arto sudah memiliki kontak dengan konsul-konsul dari India, Amerika Serikat, Tiongkok, dan Inggris. Soegih Arto dan istri kerap diundang dalam hajatan ulang tahun negara-negara tersebut. Dia bangga benar ketika diajak ikutan toast gelas sebagai tanda selamatan. Serasa jadi orang penting, katanya. Dalam otobiografinya Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Purn.) Soegih Arto, ada kisah lucu kala dirinya bersua dengan konsul Tiongkok yang hanya mau berbicara dalam bahasa Tionghoa. Sementara Soegih Arto mempergunakan bahasa Indonesia. Perkara beda bahasa ini bikin pekerjaan penerjemah jadi semakin rumit. Kalau si konsul berlelucon, dia sudah ketawa duluan baru Soegih Arto menyusul setelah diterjemahkan. Sebaliknya, giliran Soegih Arto yang menceritakan lelucon, maka dia tertawa lebih dulu, lalu sang konsul ikutan terpingkal setelah penerjemah menceritakan ulang dalam bahasa Tionghoa. Akhirnya, mereka pun tertawa lagi bersama-sama. Makan waktu tapi kocak.
- Pertemuan dr. Soeharto dan Abdurachim
PADA suatu malam di tahun 1937, dr. R. Soeharto yang membuka praktik di Jalan Kramat 128 Jakarta Pusat, dipanggil seorang ibu yang tinggal di Jalan Kesehatan, Jakarta. Ia meminta tolong karena suaminya mengancam akan mencelakai para penghuni jika tidak meninggalkan rumah. Soeharto memeriksanya dengan susah payah, dibantu orang-orang yang memegangnya. Tak ada kelainan baik fisik maupun tanda kena malaria yang dapat menyebabkan penderita mengamuk. Soeharto pun menyimpulkan orang itu kesurupan.
- Saat Hatta dan Kawan-kawan Dikencingi Sukarno
BELUM lagi ketegangan akibat perdebatannya dengan golongan muda mereda, Sukarno dikagetkan oleh panggilan rahasia dari Jenderal Hisaichi Terauchi, panglima tertinggi pasukan Jepang di Asia Tenggara. Terauchi meminta Sukarno, Moh. Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat datang ke Dalat, Vietnam menghadap kepadanya. “Aku gugup. Aku merasakan sesuatu yang penting yang akan terjadi. Tapi apa?” kata Sukarno dalam otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia . Meski tak satupun dari pimpinan bangsa Indonesia tersebut tahu tujuan pemanggilan oleh Terauchi itu, toh mereka tetap terbang pada 8 Agustus 1945 menggunakan pesawat yang disediakan pihak Jepang. Penerbangan sengaja dilakukan pada malam buta karena misi tersebut amat dirahasiakan supaya tak tercium Sekutu. “Perwira Jepang mengantarkan kami ialah Letnan Kolonel Nomura dari Gunseikanbu. Dalam perjalanan ke Dalat, kami menginap semalam di Singapura dan semalam di Saigon,” kata Hatta dalam Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi . Perjalanan menuju Saigon diwarnai hujan lebat dan kabut tebal sebelum pesawat mendarat. Meski pilot sudah memilih membawa pesawat berputar-putar di udara selama sejam, keadaan tak kunjung membaik sehingga memaksanya mendaratkan pesawat. “Kami mendarat dengan keras di suatu lapangan terbuka dan hampir saja menubruk seekor kerbau. Barang-barang berserakan. Kami terhempas dan benjol-benjol. Pikiran kami semua sangat tergoncang karenanya,” kata Sukarno mengenang. Bercampur dengan kecemasan karena tak tahu tujuan pemanggilan mereka oleh Terauchi, pengalaman tak mengenakkan mereka itu belum selesai. Penjemput yang akan membawa mereka ke Saigon belum juga datang setelah beberapa jam. “Selama berjam-jam kami menunggu dengan sangat gelisah dan membikin urat syaraf serasa akan pecah,” kata Sukarno melanjutkan. Mereka akhirnya diterima Jenderal Terauchi selaku perwakilan Tokyo di Asia Tenggara, di Dalat keesokan paginya. Kepada mereka, Terauchi menyatakan Tokyo telah memutuskan memberi kemerdekaan kepada bangsa Indonesia. Bagaimana langkah selanjutnya untuk mewujudkan kemerdekaan itu, Terauchi mempersilahkan pimpinan bangsa Indonesia mengambil sepenuhnya langkah-langkah yang diinginkan, pemerintah Jepang tak ingin mencampuri lagi. “Aku gembira luar biasa sebab hari itu tanggal 12 Agustus 1945, hari ulang tahunku,” kata Hatta. Setelah menginap semalam di Saigon, rombongan Sukarno bertolak ke Singapura untuk transit semalam sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Dalam perjalanan kembali ke Jakarta inilah kesialan kembali dialami rombongan. “Kami tidak lagi naik pesawat penumpang yang enak. Kami diantar oleh seorang penerbang, seorang pembantu penerbang dan dengan pesawat pembom yang sudah uzur dan ringsek ditambah lagi dengan hiasan lubang-luabang bekas peluru. Tidak ada tempat duduk. Kami harus berdiri sepanjang perjalanan atau berbaring. Dan kami membeku kedinginan. Tidak ada pengukur suhu atau pesawat pemanas. Kakus pun tidak,” kata Sukarno. Meski kondisi pesawat tak nyaman, Sukarno memanfaatkan penerbangan itu untuk berdiskusi dengan Hatta. Yang diajak berdiskusi pun tak mengeluhkan fasilitas yang ada karena pikirannya tersedot untuk memikirkan cara-cara apa yang mesti dilakukan untuk mewujudkan kemerdekaan negerinya di tengah kesempatan emas itu. Di tengah diskusi itulah tiba-tiba Sukarno berbisik kepada dokter Suharto, dokter pribadinya. “Saya mau buang air kecil. Bagaimana ya?” Pertanyaan Sukarno membuat sang dokter segera memeriksa keadaan untuk menemukan cara. Setelah tak menemukan cara, Suharto menyarankan Sukarno agar melakukan hajatnya di bagian belakang pesawat tempat kumpulan lubang bekas tembakan berada. Sukarno pun manut dan segera ke belakang meninggalkan Hatta yang tetap di posisinya. “Nah, baru saja kumulai maka angin yang keras bertiup melalui sekelompok lubang peluru dan menerbangkan semua itu memenuhi ruang pesawat. Kawan-kawanku yang malang terpaksa mandi dengan zat cair itu. Dalam keadaan setengah basah inilah Pemimpin Besar dari Revolusi Indonesia sampai di Jakarta,” kata Sukarno.*
- Lebaran Tanpa Mudik di Awal Republik
GUNA mencegah penularan virus corona dari daerah zona merah ke berbagai wilayah lainnya, pada Selasa, 21 April 2020 Presiden Joko Widodo resmi melarang masyarakat mudik Lebaran. Keputusan ini menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat, mengingat mudik adalah salah satu tradisi terbesar umat Islam di Indonesia. Pada saat yang sama mencegah penularan virus juga penting. Pendeknya, ‘perang’ melawan virus menyebabkan terhentinya arus keinginan untuk mudik. Menilik sejarah Indonesia, sebenarnya umat Islam Indonesia tidaklah selalu bisa mudik ke kampung halamannya. Salah satunya pada masa awal pascakemerdekaan Indonesia, saat muslim Indonesia merayakan Idul Fitri yang jatuh pada Rabu, 28 Agustus 1946. Waktu itu mudik sudah jadi tradisi walau belum segencar dekade 1970-an, saat urbanisasi besar-besaran mulai terjadi di Indonesia. Pada 1946 itu, beberapa kota di Indonesia telah cukup besar dan menarik banyak orang, terutama pelajar, pedagang, dan pencari kerja dari luar kota bahkan luar pulau Jawa.
- Demam Drama Korea Lintas Zaman
MIMPI apa Han So-hee sampai harus jadi sasaran luapan kegeraman warganet Indonesia sejak akhir April lalu? Aktris jelita pemeran Yeo Da-kyung di drakor (drama Korea) bertajuk The World of the Married itu dicecar dan dimaki sebagai pelakor alias perebut laki orang. Untung rumahnya di Seoul, Korea Selatan, sekira 5.200 kilometer dari Jakarta jaraknya. Bila ia tinggal di Jakarta, bisa jadi rumahnya disatroni warganet, tak peduli sedang PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) atau tidak dan peduli setan tidak kenal juga. Maka jadilah akun Instagram -nya yang jadi sasaran kemarahan. Menukil Kumparan , 26 April 2020, akun pribadinya @xeesoxee disesaki makian dan hujatan. Kata “pelakor” pun sampai viral di Negeri Ginseng, merujuk pada perannya di drakor itu yang sudah sangat menempel pada citranya. Baca juga: Banjiha , Potret Kemiskinan Korea dalam Parasite “Di Indonesia wanita yang ketahuan selingkuh dengan suami orang lain tidak dapat diterima masyarakat karena mayoritas warganya Muslim. Tapi bagaimanapun sepertinya warganet Indonesia tidak bisa membedakan mana drama dan kenyataan. Mereka mengungkapkan kemarahan pada Han So-hee,” tulis seorang blogger Korsel yang tak disebutkan namanya di laman cafe.naver.com yang dikutip Kumparan. Si cantik Han So-hee yang jadi sasaran hujatan netizen Indonesia. ( jtbc.com ). Toh, So-hee tak paham hujatan yang memakai bahasa Indonesia itu. Lagipula, peran pelakor bukan hanya dimainkan oleh So-hee dan tentunya bukan jadi bumbu cerita milik The World of the Married semata. Cruel Temptation (2008), Pink Lipstick (2010), Woman of Dignity (2017), The Last Empress (2018), 9.9 Billion Woman (2019), hingga V.I.P (2020) juga menampilkan peran serupa. Hanya saja, drakor-drakor lain itu tak se-viral The World of the Married yang tayang dalam 16 episode di saluran JTBC . Drakor garapan sineas Mo Wan-il yang me- remake drama seri BBC , Doctor Foster, itu selain viral jalan ceritanya juga mencetak rekor rating tertinggi dalam sejarah drakor. Di dalam negeri saja, ia mencetak 24,3 persen, melewati rekor sebelumnya yang dipegang Sky Castle (2018-2019) dengan angka 23,8 persen. Baca juga: Parasite dan Seabad Perfilman Korea Memang, drakor baru populer di Asia berbarengan dengan fenomena “ Korean Wave ” atau tren gelombang budaya pop Korea pada akhir 1990-an. Arus itu dalam lidah orang Korsel sendiri dikenal dengan hallyun . Ia berkembang dalam dua genre : kontemporer, yang kisahnya tentang asmara; dan sageuk, drama yang mengambil latarbelakang sejarah kuno era kerajaan. “Pada pengujung 1990-an, tak lama setelah tren dan popularitas drama urban Jepang mulai menurun di Asia, pop-culture Korea dalam bentuk drama televisi menikmati pesatnya pelonjakan popularitas. Sebutan hallyun sendiri merupakan sebutan yang lahir dari media-media China,” ungkap Won Kyung-jeon dalam The Korean Wave and Television Drama Exports, 1995-2005 . Sosok Da-kyung yang dimainkan So-hee yang begitu menggigit hingga memviralkan pula kata kata "pelakor" di Korea. ( jtbc.com ). Hal itu jadi komoditas tersendiri bagi pemerintah Korea Selatan, sambung Kyung-jeon. Badan Perdagangan Dunia (WTO) mendata, pada 2007 Korsel sudah menjadi eksportir jasa audiovisual terbesar ke-10 di dunia. Menurut KOCCA (Korea Creative Content Agency), Korsel juga menjadi eksportir program hiburan berseri kedua terbesar di Asia pada 2010, menguntit Hong Kong. Pada 2011, program siaran hiburan dari Korea mencapai angka USD227,8 juta. “Drama Korea sendiri selalu mempertahankan posisi dominan dalam ekspor siaran konten Korea. Proporsi drama secara keseluruhan dari ekspornya terus meningkat dari 64,3 persen pada 2001 menjadi 87,6 persen pada 2010. Banderol drama Korea juga lebih ekspansif ketimbang Hollywood atau produksi-produksi Jepang di pasar Asia sejak pertengahan 2000-an,” imbuh Kyung-jeon. Sejak awal 2000-an hingga sekarang, Korea berjaya dengan drakor selain dengan K-Pop-nya. Kejayaan itu diraih setelah jeda waktu amat panjang sejak drakor pertamakali muncul pada 1920-an. Jaringan Radio hingga Layar Kaca Drakor pertamakali mengudara lewat jaringan radio, seiring berdirinya Kyosong Pangsongguk (kini Korean Broadcasting System) pada 16 Februari 1927. Mulanya, stasiun radio yang didirikan Gubernur Jenderal Korea Jenderal Ugaki Kazushige itu memberi porsi besar pada program musik dan drama radio berbahasa Jepang. Hanya 30 persen yang berbahasa Korea. Baca juga: Kala Budaya K-pop Menggema “Porsi lebih banyak untuk program musik tradisional atau drama yang dikombinasikan musik klasik Barat baru diperbolehkan pada periode 1934-1936. Tapi tetap saja radio difungsikan sebagai publikasi media untuk imperialisme Jepang ketimbang media populer komersil,” tulis Lee Jung-yup dalam “The Birth of Broadcating Media and Popular Music” yang dimuat buku Made in Korea: Studies in Popular Music . “Oleh karenanya beberapa elit budayawan seperti Kim Yong-pal, Yi Ha-yun, Hong Nan-pa, dan Yi Hae-ku berusaha merepresentasikan program-program ‘ke-Korea-an’ dalam program radio. Baik itu musik tradisional maupun serial drama radio,” sambung Jung-yup. Drakor "The World of the Married" yang memecahkan rekor share rating dalam sejarah Korea. ( jtbc.com ). Sayangnya, tiada catatan soal drama bertajuk apa yang pertamakali diudarakan via radio mengingat banyak arsip tertulis hancur akibat perang. Tetapi, sambung Jung-yup, serial drama radio yang tren saat itu adalah drama bertema kriminal atau cerita detektif. Itu dipengaruhi novel-novel detektif dan kriminal asal Amerika Serikat, Inggris, Prancis dan Jepang yang tengah booming. Setelah absen mengudara akibat Perang Dunia II dan disusul Perang Korea (1950-1953), drama radio baru eksis lagi pada 1954 atau setahun setelah gencatan senjata. Sebagaimana diungkapkan Kim Hwan-pyo dalam Korea Through TV Drama , drakor via radio yang paling populer saat itu bertajuk Cheongsilhongsil (1954). Kisahnya berpusar pada seorang wanita yang ditinggal mati suaminya karena Perang Korea. Baca juga: Di Balik Lagu dan Bendera Pemersatu Korea Drakor tersebut sukses karena kisahnya erat dengan yang dirasakan masyarakat dalam Perang Korea. “Era itu menjadi masa di mana banyak masyarakat Korea yang masih bersedih dan ingin menangis. Drama itu memberikan kesempatan bagi orang-orang untuk menangis dan tertawa sekaligus memberi penontonnya secercah mimpi dan romantisme yang tak bisa mereka temukan dalam kenyataan hidup saat itu,” terang Hwan-pyo. Drakor Korea bergenre sageuk di era 1960-an. Pada 1956, drakor mulai beralih ke layar kaca lewat Stasiun TV HLKZ-TV yang menayangkan Cheongugui mun (Gerbang Nirwana). Drakor itu berbentuk film televisi berdurasi 15 menit. Sementara, drama berbentuk serial pertama baru hadir pada 1962, bertajuk Gukto manri . Drakor berlatarbelakang era Kerajaan Goryeo itu ditayangkan Tongyang Broadcasting ( TBC ). Pada 1970-an hingga 1980-an, drakor ber-genre kontemporer, di antaranya Saeeomma atau Ibu Tiri (1972-1973) dan Saranggwa yamang (Cinta dan Ambisi, 1987), mulai mendominasi. Jam tayangnya pun dimulai pada pagi sebagai strategi untuk menggaet pasar “emak-emak” yang tidak bekerja. Kisah-kisahnya pun disajikan seerat mungkin dengan kondisi para ibu rumah tangga di Korea. Baca juga: Korea Bersatu di Arena “Ibu-ibu rumah tangga mulai jadi plot utama drama-drama TV. Karena ibu rumah tangga cenderung menghadapi stres yang lebih dalam keseharian mereka. Dan karena banyak dari mereka tak punya sasaran pelampiasan stres, mereka pasti mengalihkan emosi mereka ke hiburan televisi, khususnya opera sabun (drama serial),” tambah Hwan-pyo. Drakor kondang "Winter Sonata" yang menggebrak pasar Asia pada awal 2000an. (IMDb). Seiring perjalanan waktu, drakor akhirnya menaklukkan Asia pada awal 2000-an. Pendobraknya adalah drakor Winter Sonata (2002). Melodrama garapan sineas Yeon Seok-ho yang rilis dalam 20 episode itu meniti suksesnya dengan menembus pasar di Jepang. “Boleh dikatakan Winter Sonata yang pertama mengikuti formula dasar untuk kesuksesan di televisi: pemeran-pemeran rupawan, keindahan alam, dan plot manis tentang cinta, kematian, dan harapan akan hubungan romantis, semua itu disempurnakan dengan soundtrack musik yang melankolis,” ungkap Korean Culture and Information Service South Korea dalam K-Drama: A New TV Genre with Global Appeal . Baca juga: Tangan Dingin Moon Jae-in dalam Perdamaian Korea “Semuanya begitu ‘ ngeklik ’ hingga Winter Sonata menjadi sensasi tersendiri di Jepang. Di episode terakhir saja, NHK yang menayangkannya mendapat share rating 20 persen, melebihi acara lain di waktu prime time yang rata-rata 10 persen rating -nya. Di akhir 2004, diperkirakan hampir 70 persen warga Jepang sudah menonton setidaknya satu episode,” lanjutnya. Saking bekennya, Winter Sonata sampai dibuat versi anime -nya dalam bentuk delapan jilid komik pada 2004-2005 dan teater musikal di Tokyo, Osaka, dan Sapporo pada 2006. Formula itulah yang kemudian dicontek drakor-drakor lainnya, termasuk The World of the Married yang bikin geram warganet Indonesia. Yang sabar ya, So-hee!
- Rachmat Kartolo Pahlawan Patah Hati
KABAR berpulangnya Dionisius Prasetyo alias Didi Kempot membuat segenap “sobat ambyar” makin ambyar. Pasalnya, belum lama ini penyanyi campursari kelahiran 1966 itu didapuk sebagai The Godfather of Broken Heart. Fenomena Didi Kempot mengingatkan kita pada pendahulunya, yang juga pernah dijuluki sebagai pahlawan patah hati, Rachmat Kartolo. Rachmat Kartolo lahir di Jakarta pada 13 Maret 1938 dari pasangan seniman Kartolo dan Rukiah. Kartolo dan Rukiah kala itu sudah terkenal sebagai bintang film. Rachmat sendiri ketika muda belum tertarik masuk ke dunia film dan justru menjajal kemampuan seni musiknya. Pada 1940-an, bersama saudaranya, Iman Kartolo dan Jusuf Kartolo, Rachmat sudah membentuk band kecil.
- Gus Dur, Indonesia Banget.
Anak santri cucu pendiri NU yang demokratis, doyan humor, dan peka soal kemanusian dan hak asasi manusia.





















