Hasil pencarian
9658 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- 28 Januari 1939: Ordonansi Kontrak Kopra di Manado
PEMERINTAH kolonial Belanda telah mengajukan rancangan ordonansi kopra kepada Dewan Rakyat di Manado. Tujuan ordonansi ini untuk melindungi kebun-kebun masyarakat dari para saudagar. Rancangan ordonansi memuat larangan saudagar-saudagar kopra membuat kontrak ilegal dengan para petani kopra. Pembuatan kontrak harus mendapat izin dari kepala pemerintahan setempat. Melalui surat izin tersebut, pembelian kopra hanya dapat dilakukan oleh saudagar yang terdaftar oleh Residen Manado. Saudagar yang tidak memperoleh surat izin namun tetap melakukan perjanjian ilegal, akan ditindak dengan hukuman setinggi-tingginya satu tahun penjara atau denda sepuluh ribu rupiah. Ordonansi kopra dibuat dengan pengecualian. Jual beli atau gadai menggadaikan kopra tetap dapat dilakukan oleh masyarakat pribumi. Beberapa lembaga yang mendapat pengecualian seperti Algemeene Volkscredietbank serta badan-badan di bawahnya. Termasuk perkumpulan koperasi yang diakui oleh badan hukum menurut Staatsblad 1927 No. 91, seperti Volksbank Tonsea dan lembaga-lembaga pinjaman lain yang ditentukan oleh Residen Manado. Surat kabar Soeara Rakjat , 28 Januari 1939 mewartakan, urgensi dibuatnya rancangan ordonansi kopra lantaran para pemilik kebun di Keresidenan Manado, khususnya Minahasa, tidak dapat menikmati hak-hak atas perniagaan kopra. Persoalan ini telah menjadi perhatian pemerintah sejak lama. Mulanya perjanjian kopra yang dibuat tanpa izin resmi meminta petani kopra menyerahkan kebun kelapa, baik beserta tanahnya maupun tidak, untuk selamanya atau sementara waktu, yang kelak menjadi tanggungan petani kepada saudagar. Petani juga diharuskan menggadaikan kopranya kepada para saudagar pada waktu lebih dari tiga bulan setelah perjanjian dibuat. Hal ini tentu memberatkan para petani. Skema yang berlaku saat itu para saudagar kopra memberikan uang muka untuk mengikat para petani atau pemilik kebun kelapa. Bagi para saudagar, mulanya uang muka tersebut sebagai kepastian memperoleh kopra. Namun, uang muka tersebut justru menjadi utang bagi para pemilik kebun kelapa sehingga terpaksa menggadaikan tanahnya. Perjanjian ilegal sangat memberatkan kehidupan para petani. Terlebih saat harga kopra turun hingga 20%, pemilik kebun kelapa kian merugi. Dari kenyataan itulah semakin banyak saudagar yang berkuasa, sementara para petani atau pemilik kebun kelapa tidak berhak lagi atas kebunnya. Keadaan tersebut diperparah dengan situasi malaise dan tidak ada lagi uang muka kepada pemilik kebun kelapa Pada akhir 1937 misalnya, para petani terpaksa menggunakan sebagian besar pendapatan penjualan kopra untuk membayar utang kepada saudagar. Penurunan harga kopra kian membuat petani terperosok. Bahkan tak jarang keadaan mereka tak tertolong meski harga kopra kembali naik. Guna memperbaiki keadaan itu, pemerintah berusaha melarang saudagar membuat perjanjian atau mempersulit petani dengan berbagai aturan, serta mendidik mereka. Tujuannya agar para petani tidak tergiur oleh janji manis para saudagar. Sehingga para petani dapat memperoleh keuntungan dari hasil usahanya. Pemerintah telah memberikan pendidikan maupun penerangan kepada petani atau pemilik kebun.Bahkan, sejak tahun 1923 pemerintah telah mendirikan Dinas Penerangan Perkebunan. Melalui lembaga tersebut para petani dapat memperoleh bimbingan guna mendapatkan hasil perkebunan sebagaimana mestinya. Tak hanya itu, pemerintah juga memajukan organisasi rakyat dan memberikan kredit murah. Bantuan tersebut diberikan melalui kerja sama antara pemerintah dan lembaga yang mengaturperkoperasian serta Algemeene Volkscredietbank.*
- 27 Januari 1997: Kerusuhan di Pasar Tanah Abang
PADA Senin, 27 Januari 1997, tepat 30 tahun yang lalu, kerusuhan hebat melanda wilayah Tanah Abang. Pasar Tanah Abang yang biasanya disesaki pedagang dan pengunjung tampak mencekam. Api berkobar dari kendaraan-kendaran yang luluh-lantak. Hari itu, para pedagang Tanah Abang berada di puncak kemarahannya sebagai bentuk perlawanan terhadap pungli atau pungutan liar . “Tanah Abang rusuh,” lansir Berita Yudha , 28 Januari 1997, “7 mobil, 1 sepeda motor, dan Kantor Kecamatan Tanah Abang dibakar dan dirusak.” Dari tujuh mobil plat merah yang dibakar, enam milik Dinas Ketentraman dan Ketertiban (Trantib) serta satu mobil milik wakil camat Tanah Abang. Sebagai pusat perputaran uang di Jakarta Pusat, kerusuhan di Pasar Tanah Abang menyebabkan roda ekonomi lumpuh. Ribuan toko di seluruh blok di Tanah Abang tutup seketika. Kantor camat Tanah Abang dirusak sehingga beberapa dokumen hilang dan terbakar. Selain itu, lalu lintas terpaksa ditutup dari arah Jl. KH Mas Mansyur, Jl. Jati Baru, dan Jl. Petamburan dari pagi hingga tengah hari. Kerugian materil diperkirakan mencapai Rp1,5 miliar. Kerusuhan dipicu ulah petugas Trantib yang merazia pedagang. Bentorkan sempat terjadi karena petugas menagih sewa wajib sambil memukuli pedagang. Para pedagang lain tergerak untuk menolong rekannya lantas mengejar petugas Trantib yang kemudian kabur memacu mobil patrolinya. Di tengah pelarian, mobil Trantib itu menabrak seorang pedagang buah sehingga kakinya patah. Dalam beberapa jam, rombongan pedagang dan warga yang marah mendatangi kantor kecamatan tempat oknum Trantib bersembunyi. Mereka kemudian membakar kantor camat dan mobil-mobil dinas pemerintah. Menurut penuturan para pedagang, mereka kesal lantaran pungutan yang kelewat mengisap kantong mereka. Para pedagang telah dikenai tagihan sewa keamanan ke pihak Trantib sebesar Rp500–Rp1.500 untuk pedagang lesehan dan minimal Rp1.500 bagi pedagang dengan meja. Di sisi lain, para pedagang juga harus menyetor jatah preman yang menguasai pasar Tanah Abang. Apalagi jatah preman yang dipalak semakin besar karena mendekati Lebaran. “ Hansip datang minta uang kebersihan Rp500, kemudian preman sampai ada yang minta Rp30.000, belum lagi oknum ABRI dan polisinya. Lalu di mana keuntungan kami. Kan kami juga perlu untuk Lebaran,” ungkap seorang pedagang pakaian obral dikutip Bali Post, 27 Januari 1997. Pedagang pun ditagih silih berganti oleh macam-macam oknum menjelang kerusuhan. Kerusuhan pecah juga sebagai akumulasi karena kegiatan di Pasar Tanah Abang sempat macet selama satu pekan gara-gara perkelahian antar kelompok preman . Lagi-lagi para pedagang yang paling dirugikan. Kendati pedagang bersikukuh bahwa insiden dipicu Trantib yang kelewatan, pihak pemerintah segera menuding Hercules dan gengnya sebagai provokator. Kasie Trantib DKI Jakarta Toha Reno menyatakan, amuk pedagang bisa jadi akibat pihak ketiga yang menungganginya. Sementara itu, Walikota Jakarta Pusat Abdul Kahfi melihat kerusuhan di Tanah Abang berkait dengan perang antarpeman sebelumnya yang terjadi pada 9 Januari 1997. “Itu berarti para preman masih membangun link up (persekutuan) dengan para pedagang kaki lima. Dan, peristiwa ini wujud dari persekutuan tersebut,” kata Abdul Kahfi seperti dilansir Berita Yudha . Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI R. Hartono ikut buka suara, menyatakan bahwa jelas ada pihak ketiga di balik insiden di Tanah Abang. Namun, Hartono masih menggolongkannya sebagai kasus kriminal biasa. Hercules yang disebut-sebut sebagai pihak ketiga membantah keras tudingan keterlibatan dirinya dalam kerusuhan. Hercules menegaskan dirinya tidak melakukan pungli dan pemerasan terhadap pedagang kaki lima di kawasan pasar Tanah Abang. “Mana buktinya. Saya siap diperiksa jika memang itu benar,” kata Hercules dalam Kompas , 4 Februari 1997. Sebaliknya, Hercules mengaku pihaknya justru melindungi pedagang yang diperas. Nama Hercules disangkutpautkan dalam kerusuhan, seperti diungkapkan sosiolog politik Ian Douglas Wilson, karena penutupan pasar utama oleh Trantib membuat Hercules dan gengnya tidak bisa menarik lagi uang perlindungan dari pedagang. “Dan memberi para petugas Trantib –yang sebagian dari mereka direkrut dari geng pesaing etnis Batak– sebuah kesempatan untuk memapankan pijakan,” catat Wilson dalam Politik Jatah Preman: Ormas dan Kuasa Jalanan di Indonesia Pasca Orde Baru . Sebelas orang ditangkap sebagai pelaku kerusuhan Tanah Abang. Tiga orang dari mereka divonis hukuman masing-masing setahun. Sementara itu, tak jelas tindakan apa yang dikenakan terhadap oknum Trantib yang berbuat ulah sehingga memicu kerusuhan. Kerusuhan Tanah Abang, seperti disebut Ian Wilson, pecah sesudah kerusuhan di Tasikmalaya, Situbondo, dan kekerasan sektarian di Kalimantan. Insiden Tanah Abang ini mendapat banyak sorotan media. Para pengkritik rezim menyimpulkannya sebagai tanda kian gentingnya kekuasaan Orde Baru menuju titik nadir.*
- Jajanan Rakyat Masa Kemerdekaan
DALAM kehidupan modern seperti sekarang, jajajan telah melekat dalam tradisi kuliner maupun kebutuhan pangan masyarakat. Di Indonesia, jajanan atau makanan ringan punya beberapa padanan kata: camilan, kudapan, atau disebut juga penganan. Variannya macam-macam, ada jajanan tradisional, ada pula jajanan modern. Cara memperoleh jajanan pun kian mudah seiring kemajuan zaman. Mulai dari membeli langsung di gerai penjual makanan atau pesan-antar dari lokapasar yang tersedia di aplikasi telepon selular.. Namun, jajanan zaman sekarang dengan zaman dulu tentu saja berbeda. Mulai dari varian rasa, bahan pembuatan, hingga cara memperolehnya. Pada masa-masa menjelang kemerdekaan Indonesia, masyarakat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokok, apalagi untuk jajan. Sejarawan Universitas Indonesia Bondan Kanumoyoso menyatakan, jajanan masyarakat Indonesia masa itu amat dipengaruhi situasi pendudukan Jepang. Untuk memenuhi kebutuhan serdadunya dalam Perang Asia Timur Raya, pemerintah militer Jepang memonopoli sirkulasi beras. Walhasil, bahan makanan yang tersedia bagi masyarakat bumiputra sangat langka. “Beras itu diambil dari masyarakat, kemudian dikirim untuk kepentingan perang. Bahan makanan lain yang bagus-bagus juga dikuasai oleh Jepang,” jelas Bondan dalam bincang publik Yayasan Lembaga Kajian Heritage Indonesia bertajuk “Cerita Makanan Jajanan Rakyat Awal Kemerdekaan” di Jakarta (15/8). Pendapat Bondan selaras dengan Fadly Rahman, sejarawan Universitas Padjajaran yang menekuni sejarah kuliner Indonesia. Dalam bukunya Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia , Fadly menyebut produksi beras tahun 1943 mulai mengalami penurunan karena petani dipaksa menyerahkan sebagian hasil panennya kepada Jepang. Akibatnya, hanya sedikit beras tersisa untuk dikonsumsi petani. Bahan-bahan lain sebagian besar juga mengalami penurunan signifikan kecuali ubi. Selain kebijakan mendahulukan pangan untuk kebutuhan militer Jepang, faktor kekeringan akibat kemarau, menurunnya kapasitas penggilingan, dan tidak memadainya fasilitas transportasi karena kelangkaan bahan bakar dan suku cadang kendaraan memengaruhi sulitnya pasokan beras dari daerah-daerah surplus ke daerah-daerah defisit. “Tak heran jika semua itu berpengaruh terhadap turunnya asupan kalori, kekurangan makanan, dan kelaparan,” catat Fadly. Sejarawan Bondan Kanumoyoso dalam bincang publik “Cerita Makanan Jajanan Rakyat Awal Kemerdekaan” (15/8). Foto: Martin Sitompul/Historia.id Begitu pula dengan kesaksian Haji Bustamam, pendiri rumahmakan Padang Restoran Sederhana. Dalam otobiografinya, Bustamam yang kemudian berjuluk “Raja Masakan Padang” ini bertepatan lahir di awal masa pendudukan Jepang. Dari penuturan orang tua, Bustamam mendapat cerita tentang kehidupan rakyat yang begitu sulit di zaman Jepang. Hasil pertanian penduduk, terutama padi, sering diambil paksa oleh tentara Jepang untuk keperluan makan mereka. “Akibatnya, rakyat kekurangan bahan makanan, sehingga terpaksa makan jagung, ubi kayu bahkan umbi-umbi talas,” tutur Bustamam dalam otobiografinya Kisah Hidup Haji Bustamam Pendiri Restoran Sederhan a yang disunting Hasril Chaniago. Untuk menyiasati langkanya bahan makanan, menurut Bondan, masyarakat mengoptimalkan bahan-bahan makanan yang sifatnya berada di sekitar mereka. Hampir semua bahan makanan yang tumbuh di kebun atau di halaman rumah. Itulah sebabnya jajanan yang popular pada masa itu terbuat dari bahan-bahan makanan berbahan singkong atau umbi-umbian. Dari bahan itu kemudian diolah menjadi kue-kue jajanan pasar. “Kalau makanan itu biasanya pecel. Kalaupun ada makanan yang agak mewah yang sering disebut dalam literatur itu mungkin sate ya, karena membuatnya sederhana dibakar saja,” terang Bondan. Cara menjual jajanan tempo dulu itu pun belum secanggih sekarang. Waktu itu penjaja makanan masih banyak berdagang keliling atau dijual di pasar-pasar tradisional. Orang pembeli jajanan juga masih dengan kemampuan terbatas sehingga susah beli makanan dengan harga mahal. “Jajanan semacam itulah yang tumbuh bersama kita, mungkin sampai generasi 1990-an. Kalau dulu kita jajan cakue , kue pancong, kue rangi, itulah yang dapat menjadi jajanan pasar,” kata Bondan. Meski sederhana, kudapan semacam itulah yang menurut Bondan, memperkuat silaturahmi dan persaudaraan. Ia menjadi warisan budaya dan turut membentuk karakter orang Indonesia. “Kalau kita keluar negeri, kita selalu cari makanan Indonesia. Kekuatan dari makanan Indonesia itu memang membentuk budaya dan karakter kita sehingga kita itu mencintai Indonesia tanpa sadar. Jajanan yang sehari-hari kita makan biasa-biasa itu ternyata memang memiliki semacam cerita dan sejarahnya” tutup Bondan.*
- Emilia Contessa Tinggalkan Panggung Selamanya
KABAR duka mewarnai dunia musik Indonesia. Penyanyi kondang Emilia Contessa tutup usia pada hari Senin, 27 Januari 2025. Dia wafat dalam usia 67 tahun setelah menjalani perawatan medis di RSUD Blambangan, Banyuwangi. Sebelum meninggal dunia, Emilia diketahui memiliki riyawat penyakit diabetes. Sepanjang hidupnya, Emilia sangat mencintai dunia musik dan tarik suara. “Bagi saya tak mungkin ada pernyataan pisah dengan dunia musik dan tarik suara. Kalau pun usia tak memungkinkan saya bertahan sebagai vokalis, saya akan tetap menggeluti bidang musik dari sisi lain. Pokoknya semua aktivitas saya kelak pasti berhubungan dengan musik,” kata Emil ketika diwawancarai Bali Post , 10 Februari 1992. Dunia musik memang telah memberikan segalanya bagi Emilia Contessa yang lahir pada 27 September 1957 dengan nama asli Nur Indah Dewi Citra Sukmahati. Nama yang indah itu, menurut Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982 , kemudian diubah menjadi Zahara Nurul Hazan atas kemauan kakeknya, orang Pakistan. Pada 1969, putri sulung Hasan Ali ini menyabet predikat juara umum kategori penyanyi pop ketika PON VII diselenggarakan di Surabaya. Ajang tersebut membuka jalan baginya menjadi penyanyi profesional. Nama Emilia Contessa pun melekat sebagai nama panggungnya usai menyelesaikan rekaman di Singapura pada 1970. “Dalam perjalanan karir namanya diubah menjadi Emilia Contessa dengan nama akhir yang dipungut dari film yang dibintangi Ava Gardner (“Barefoot Contessa” - red ),” ulas Majalah Pertiwi No. 141, September 1991. Emilia Contessa memiliki warna suara khas, merdu namun menggelegar. Namanya kian melejit setelah tampil di acara pertunjukan TVRI. Panggilan untuk tampil bernyanyi dari panggung ke panggung datang silih berganti. Tembang-tembang yang dinyanyikan Emil pun kerap menembus tangga lagu teratas dalam industri musik Indonesia. Sebut saja seperti “Angin November”, “Flamboyan”, “Biarlah Sendiri”, “Bunga Mawar”, “Melati”, “Rindu”, “Bunga Anggrek”, “Penasaran”, “Kehancuran”, “Layu Sebelum Berkembang”, “Angin Malam”, dan Mungkinkah”. Kebanyakan lagu-lagu yang dipopulerkan Emilia Contessa diciptakan musisi pencipta lagu Aloysius Riyanto. Selain bernyanyi, Emil juga membintangi sejumlah film antara 1971 hingga 1986. Warsa 1970-an adalah tahun-tahun kejayaan Emilia Contessa. Namanya termasuk dalam satu deretan artis Indonesia terkemuka. Sastrawan dan peneliti LIPI Mochtar Pabotinggi dalam memoarnya Burung-burung Cakrawala menyebut, Jakarta pada hari-hari sebelum atau setelah 1974 itu adalah Lilies Suryani, Koes Plus, Emilia Contessa, dan Benjamin-Ida Royani. Sejumlah julukan dan pengakuan melekat pada diri Emilia. Mulai dari “Queen of TVRI”, “The Best Foto Model”, hingga “Ratu Blambangan '75”. Profil Emil bahkan pernah diulas dalam Majalah Asia Newsweek yang menyebutnya sebagai “Singa Panggung dari Asia”. Setelah menikah dengan Rio Tambunan, seorang pejabat teras di lembaga indoktrinasi BP 7 DKI Jakarta, Emil menepi sebentar dari panggung hiburan. Dari pernikahan beda agama pada 1976 itu, pasangan Emil-Rio dikaruniai dua orang anak, Denada dan Enrico. Namun, biduk rumah mereka tak bertahan lama. Rio dan Emil berpisah pada 1983. Emil pun kembali ke dunia musik. Pada 1982, musisi Rinto Harahap menggandeng Emilia Contessa rekaman di bahwa label mayor Musica Studio. Album rekaman itu diberi judul “Salam Rindu” yang dikuatkan oleh musik pengiring dari grup Lolypop. “Emilia Contessa muncul lagi,” demikian diberitakan Berita Yudha, 21 November 1981. Tidak hanya lagu Indonesia, Emilia Contessa juga dikenal dengan lagu-lagu pop Batak yang dipopulerkannya. “Unik juga bahwa ketika tahun lalu Emil menyajikan sebuah album rekaman yang berisi lagu-lagu Tapanuli atau yang dikenal sebagai Pop Batak, salah satu lagu diantaranya yang berjudul ' Inang ' (Ibu, red. ) berhasil menjadi hits dan terkenal bukan saja di kalangan masyarakat Tapanuli. Soalnya semua orang tahu bahwa Emilia Contessa adalah anak Banyuwangi tulen. Toh dia mampu,” ulas Berita Yudha , 26 Juni 1983. Menurut Emilia, kembalinya dirinya ke dunia musik memasuki dekade 1980-an butuh perjuangan keras. Emil mengaku sempat minder dengan kemunculan penyanyi-penyanyi pendatang baru. “Rasanya tak mungkin mengejar mereka,” seperti diungkapkan Emil dalam Berita Yudha , 15 November 1983, “Karena banyak faktor yang tidak memungkinkan, mungkin karena umur, suara, keluarga dan terutama bentuk badan yang umumnya sudah bertambah besar alias gemuk.” Kendati demikian reputasi Emilia Contessa rupanya masih diakui publik dan industri musik. Setidaknya penampilan Emil saban kali manggung dihargai pada angka tertinggi di masa itu. Ya, Emilia Contesaa menjadi salah satu penyanyi dengan bayaran termahal. Amir Pasaribu, manajer PR Hotel Indonesia dalam Suara Karya Minggu , 13 April 1980, mengatakan honor kontrak penyanyi yang sudah punya nama lebih tinggi malah gila-gilaan, “Misalnya sampai Rp1 juta seperti Emilia Contessa per bulannya,” katanya. Sementara itu, dalam Harian Neraca, 23 September 1989, nama Emilia Contessa masuk kategori penyanyi dengan tingkat tarif pertunjukan deret atas, yaitu Rp 4 juta/ show , bersanding dengan Andi Meriem Matalatta, Harvey Malaiholo, dan Chrisye. Angka segitu merupakan tarif pertunjukan biasa, kalau memasuki periode natal dan tahun baru harga paket pertunjukan bisa lebih tinggi lagi. Selain bernyanyi dan rekaman, Emilia Contessa mendirikan sekolah musik Yayasan Evita di bilangan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Sekolah musik ini terdiri dari jurusan aransemen, partitur, instrumen, penampilan, namun yang paling diutamakan adalah les vokal. Di luar kegiatan berkesenian, Emil diisukan sempat dekat dengan penyanyi dan aktor Mark Sungkar. Namun, ayah Emil disebut-sebut tak merestui hubungan itu. Emil kemudian menikah lagi dengan Abdullah Sidik Sukarty (1988—1992) dan untuk ketiga kalinya dengan Ussama Muhammad Al Hadar. Era Emilia Contessa mulai redup memasuki dekade 1990-an. Namun, dia tak serta merta meninggalkan dunia musik. Dari panggung utama, dia kemudian lebih banyak berkecimpung dibalik layar. Di masa ini, Emilia Contessa membesut sejumlah penyanyi muda sebagai manajer. Salah satunya putri sulungnya sendiri, Denada, yang dikenal sebagai pionir penyanyi rap wanita Indonesia. Emil juga membina grup vokal (boyband) Cool Colours yang beranggotakan Ari Sihasale, Surya Saputra, dan Teuku Ryan. Setelah Teuku Ryan keluar pada 1997, dua personel baru masuk, yaitu Ari Wibowo dan Johandi Jahja. Hampir semua personel Cool Colours kemudian menjadi aktor film dan sinetron ternama Indonesia. Setelah meninggalkan panggung hiburan, Emilia Contessa mencoba peruntungan di dunia politik. Sempat mengikuti kontestasi pemilihan kepala daerah sebagai calon bupati Banyuwangi pada 2010, namun gagal. Pada gelaran pemilu berikutnya, Emil kemudian maju sebagai senator mewakili Jawa Timur dan berhasil. Emilia Contessa terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari dapil Jawa Timur untuk periode 2014—2019 dengan torehan 1.660.542 suara. Penyanyi sopran bersuara indah dengan aksi panggung yang memukau itu meninggalkan panggung untuk selamanya pada tahun ini. Emilia Contessa wafat pada 27 Januari 2025. Dari empat anaknya, hanya Denada, sang putra sulung, yang meneruskan jejaknya di bidang seni sebagai penyanyi.*
- Lukisan Koleksi Istana Memakan Korban
PAMERAN lukisan koleksi Istana di Galeri Nasional Jakarta (2-30 Agustus 2017) menampilkan 48 lukisan dari 41 pelukis. Salah satu lukisan yang dipajang adalah “Nyi Roro Kidul” karya Basoeki Abdullah (1915-2015). Sebelumnya, lukisan itu dipamerkan dalam peringatan seabad Basoeki Abdullah di Museum Nasional Jakarta pada 2015. Ada cerita di balik proses pembuatan lukisan Nyi Roro Kidul itu. “Saya melukis Nyi Roro Kidul karena saya memang merasa sering bertemu dengannya,” kata Basoeki seperti dikutip kritikus seni Agus Dermawan T. dalam biografi R. Basoeki Abdullah RA: Duta Seni Lukis Indonesia.
- Hikayat Lukisan Gatotkaca
BUNG KARNO dikenal sangat suka seni lukis dan dunia pewayangan. Tidak aneh, jika suatu hari di tahun 1950-an, dia pernah meminta Basoeki Abdullah, satu dari sekian pelukis kesayangannya, untuk membuatkan suatu karya lukisan bertemakan pewayangan. “Mengapa tidak melukis legenda keluarga Bima, prajurit besar dari keluarga Pandawa?” ujarnya kepada Basoeki Abdullah, seperti dikutip Agus Dermawan T. dalam Bukit-Bukit Perhatian: Dari Seniman Politik, Lukisan Palsu Sampai Kosmologi Seni Bung Karno.
- Melacak Maestro Lukis Indonesia
MUSEUM Basoeki Abdullah menggelar pameran dokumentasi sang maestro dari 7 November hingga 22 November 2017. Sejumlah arsip yang dipamerkan antara lain surat pribadi, surat tagihan, undangan/katalog pameran, laporan kekaryaan lukisan, informasi pribadi, pesan tertulis pelukis, catatan harian, fotografi, sampul majalah, kartu pos, poster, materi iklan produk, buku-buku dan kliping berita surat kabar. Menurut Mikke Susanto, kurator pameran, dibutuhkan tenaga, waktu yang memakan waktu beberapa tahun, dan kesabaran tinggi dalam melacak dokumentasi Basoeki Abdullah. Hal terindah dari proses pelacakan justru karena kepopulerannya. Selama hidupnya Basoeki Abdullah kerap menjadi berita media massa. Dari sejumlah mitra kerja pameran ini terkumpul lebih dari 200 judul kliping media massa.
- Imajinasi Wajah Pahlawan Nasional
SEPULUH lukisan wajah Pahlawan Nasional karya pelukis Basoeki Abdoellah menjadi salah satu koleksi yang dipamerkan dalam eksebisi dokumentasi bertajuk "Lacak" di Museum Basoeki Abdullah, Cilandak, Jakarta Selatan, 7-22 November 2017. Pada sisi dinding pertama, lima lukisan dipajang sejajar, mulai dari Teuku Umar hingga Tuanku Imam Bonjol. Lima lukisan lainnya, mulai I Gusti Ngurah Rai hingga Robert Wolter Monginsidi, di dinding sebaliknya yang juga dipasang berjajar. “Jika lukisan-lukisan tersebut dijajar, saya merasakan kita tengah menyaksikan para ‘ avengers Indonesia’ ada di depan, tengah beraksi. Itulah nilai estetika lukisan-lukisan pahlawan yang dikreasi oleh Basoeki Abdullah,” ujar Mikke Susanto, kurator pameran, kepada Historia . Pada 1975, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Syarif Thayeb mengadakan Proyek Biografi Pahlawan Indonesia. Tujuannya mengumpulkan dan menerbitkan materi-materi biografi Pahlawan Nasional. Sasaran dari publikasi ini adalah anak-anak sekolah dasar hingga menengah, mahasiswa, dan masyarakat umum. Menurut Klause H. Schreiner, “Penciptaan Pahlawan-Pahlawan Nasional” termuat dalam Outward Appearancess, proyek itu sebetulnya berasal dari Lembaga Sejarah dan Antropologi pada masa Sukarno (1959) guna mengkoordinasikan semua sumber publikasi dan tulisan historis untuk mendapatkan historiografi nasional yang bertalian. Biografi tersebut berupa buklet bersampul gambar pahlawan dan tebal isinya mulai dari 50 hingga 200 lembar. Tidak ada yang tahu seperti apa wajah sebenarnya dari para pahlawan ini. Potret yang diwujudkan ini hanya menampilkan wajah yang kokoh. Pemerintah pun menunjuk pelukis Basoeki Abdullah untuk menjadi pelukis wajah pahlawan-pahlawan nasional itu. “Wajah-wajah pahlawan itu dilukis tahun 1976, dan tidak semua Pak Bas (panggilan Basoeki Abdullah, red ) tahu wajahnya. Imajinasi. Salah satu kasus adalah lukisan wajah Cut Nyak Dhien, itu jilbaban atau enggak . Nah, foto yang didapat Pak Bas bukan berjilbab. Mengenai lukisan Sisingamangraja diinspirasi dari pelukis sezaman. Dia karikaturis yang kemudian melukis dengan meriset di keluarga-keluarga Sisingamangaraja. Lukisan itu lalu diterima Sukarno. Nah, Pak Bas melihat itu lalu melukisnya,” terang Mikke. Karikaturis yang dimaksud adalah Agustin Sibarani. Menurut Mikke, Basoeki mampu menerjemahkan pesanan pemerintah Orde Baru yaitu mengedepankan nasionalisme. “Imajinasi Basoeki yang amat kuat dicampur dengan realisasi teknik yang mumpuni, membuat pemerintah nyaris tak punya pilihan yang lebih baik daripada Basoeki. Lukisan-lukisan Pahlawan Nasional karya Basoeki Abdullah yang dikerjakan kisaran 1976 ini telah menjadi representasi kepahlawanan di mata para siswa dan rakyat kebanyakan di Indonesia. Lukisan dari Pak Bas lalu menghiasi buku-buku mengenai sejarah Indonesia, dan untuk digunakan pula dalam buku-buku PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa),” ujar Mikke. Selama bertahun-tahun Mikke mengamati dengan cermat karya-karya Basoeki Abdullah, termasuk karya wajah pahlawan. Menurutnya, pemerintah Orde Baru berusaha menampilkan jiwa nasionalis dan patriotik melalui wajah-wajah Pahlawan Nasional. “Secara teknis, belasan lukisan tema pahlawan karya Basoeki Abdullah, sangat kuat, bahkan terdapat kesan yang melampaui citra aslinya. Jiwa maskulinitas sang figur tajam. Hal ini bisa dirasakan dari warna yang dipakainya. Warna coklat tua, biru dan hijau gelap, dengan kuning oker yang mencitrakan tanah dan air yang membentuk ras Melayu amat kental. Wajah mereka rata-rata keras dan raut muka serius dengan ciri khas masing-masing makin menguatkan kesan maskulin, meskipun di antaranya adalah tokoh perempuan. Goresan kasar yang dipakai dicampur dengan sedikit arsiran halus membuat lukisan mengesankan kelembutan dan kekerasan terpadu,” ujar pengajar di Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini. Saat disinggung mengenai berapa besar proyek lukisan wajah pahlawan yang diterima Basokei Abdullah dari pemerintah, Mikke mengaku belum mendapat angka pasti. “Belum kutemukan informasinya. Rasionalnya begini, setiap pesanan lukisan sepanjang sejarah seni, biasanya pelukis mendapat sejumlah dana. Hal ini sudah dibuktikan pada masa revolusi ketika Sukarno memesan belasan lukisan potret pahlawan pada Sudjojono, Dullah, Harijadi, dll. Apalagi Basoeki Abdullah mengerjakan lebih dari 10 lukisan, pasti dapat ongkos kerja. Info mengenai jumlah dana belum diketahui. Hanya efeknya yang cukup menarik, setelah lukisan tersebut dikerjakan oleh Basoeki, nama dan eksistensinya makin kuat. Kedua, pekerjaan ini tentu memerlukan riset ala seniman, yaitu mencari data visual yang terdekat dengan wajah sang pahlawan,” ujar Mikke. Jika lukisan wajah pahlawan itu hasil imajinasi, tentu timbul pertanyaan, seperti apa wajah asli pahlawan tersebut. “Ini kan perlu mendekonstruksi lagi lukisan pahlawan itu. Misalnya, seperti Pattimura, apakah betul wajahnya seperti itu,” ujar Restu Gunawan, direktur kesenian Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Selain kesepuluh lukisan wajah Pahlawan Nasional itu, lukisan wajah Pattimura karya Basoeki Abdullah juga dipamerkan namun sebagai sampul majalah Pembinaan Pendidikan edisi November 1977.*
- Modifikasi Cuaca Tanpa Pawang Hujan
PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) Jakarta memperpanjang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga hari ini, Selasa (27/1/2026). Tujuannya untuk terus menekan potensi curah hujan tinggi yang bisa berdampak pada banjir atau bencana hidrometeorologi lain di Jakarta dan sekitarnya. OMC itu dilakoni Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta, TNI Angkatan Udara, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dengan metode cloud seeding atau penyemaian awan. Simpelnya, OMC dijalankan oleh tiga kali penerbangan menggunakan pesawat yang akan menaburkan garam dan zat kapur ke awan untuk mengurangi curah hujan. “OMC di Jakarta ini merupakan bagian dari upaya penanganan siaga darurat bencana hidrometeorologi di wilayah Provinsi DKI Jakarta dan sekitarnya. Sebelumnya, OMC juga telah dilaksanakan pada 13-19 Januari 2026 dengan menyemai 21,4 ton NaCL dan 7,4 ton CaO pada total 31 sorti,” terang Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto dalam rilis BMKG di laman resminya . Sebelumnya, OMC sempat mendapat kritikan. Salah satunya dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), yang menyatakan bukan sekadar solusi teknis jangka pendek namun juga akan berpotensi mengakibatkan masalah kesuburan tanah dan sumber air tanah. Persiapan Operasi Modifikasi Cuaca di Lanud Halim Perdanakusumah Jakarta (X @BPBDJakarta) Eksperimen dari Texas hingga Negeri Siam Modifikasi cuaca, baik untuk memuai curah hujan atau mandatangkan hujan untuk kepentingan pertanian, bukanlah barang baru. Upaya pertama pernah dicoba Jenderal (Purn.) Robert St. George Dyrenforth, pejabat Departemen Pertanian Amerika Serikat pada 1891. Menurut Willy Ley di kolom majalah bulanan Galaxy edisi Februari 1961, “Let’s Do Something About the Weather”, Dyrenforth menjajal sebuah eksperimen untuk mendatangkan hujan. Berbekal membaca banyak catatan sejarah, ia datang dari ibukota Washington DC ke negara bagian Texas membawa serta bubuk mesiu dan bahan-bahan peledak senilai 9 ribu dolar. “Eksperimen itu terinspirasi dari cerita yang datang dari Perang Saudara, yang kira-kira berawal di Eropa seabad sebelumnya. Para veteran Perang Tujuh Tahun (Perang Napoleon 1756-1763, red. ) mengatakan kepada semua orang yang mau mendengarkan cerita mereka, bahwa setiap sehabis pertempuran besar pasti terjadi hujan deras. Cerita serupa muncul lagi setelah Perang Saudara (1861-1865) di belahan bumi barat,” tulis Ley. Kisah-kisah itu lantas dikumpulkan, dihimpun, dan dibukukan oleh Edward Powers dalam War and the Weather (1871). Dari sinilah Dyrenforth mendapatkan inspirasi eksperimennya. Teori sederhananya: asap dan uap yang ditimbulkan dari meriam-meriam di pertempuran melayang ke udara dan “merangsang” awan untuk mengguyurkan hujannya ke bumi. Dyrenforth melakoni eksperimennya pada musim panas 1891 di sebuah lahan kosong di High Plains, Texas. Bahan-bahan peledak lalu diledakkannya. Bubuk mesiunya pun diisi ke meriam-meriam tanpa peluru dan juga ditembakkan ke udara. “Pada akhirnya memang terjadi hujan setelah beberapa barel bubuk mesiu diledakkan. Namun banyak warga lokal Texas yang menyaksikan menyatakan bahwa memang pada masa itu sudah akan waktunya hujan. Tak ada yang banyak bisa dikatakan Jenderal Dyrenforth untuk menjawabnya. Meningkatnya curah hujan setelah itu tidak bisa dikatakan ditentukan oleh eksperimen itu,” imbuhnya. Seiring bergulirnya zaman dan pesatnya teknologi, riset hingga eksperimen modifikasi cuaca mulai sering dilakoni via udara ( cloud seeding) . Kala itu metode tersebut untuk “memanggil” hujan dengan menggunakan material-material higroskopis atau senyawa-senyawa yang mudah menyerap seperti perak iodida (Agl), kalium iodida (KI), es kering, hingga garam dapur (NaCl). Pada 1930-an, trio ilmuwan Alfred Wegener-Tor Bergeron-Walter Findeisen meluncurkan teori bahwa kristal es jika ditembakkan ke atas awan akan memicu hujan. Teori tersebut lantas terkonfirmasi secara tak sengaja oleh pakar kimia dan fisika Laboratorium Riset General Electric, Vincent Schaefer dan Irvin Langmuir, pada 1946 kala tengah meriset tentang airframe icing atau lapisan es di luar struktur pesawat. “Dr. Schaefer pada November 1946 mulai mencoba menebarkan es kering kristal ke awan dari udara. Ya, es kristalnya tumbuh dan membuat hujan. Tak lama kemudian periset lainnya, Dr. Bernard Vonnegut juga menemukan bahwa kristal-kristal perak iodida lebih efisien ketimbang es atau es kering. Kristal-kristal perak iodida akan memicu terbentuknya es di suhu yang lebih tinggi dari air es atau kes kering,” tambah Ley. Setelah militer AS kemudian memanfaatkannya untuk operasi-operasi militer, metode ini mulai diikuti negara-negara lain. Salah satu yang paling awal adalah negara yang sekawasan dengan Indonesia, Thailand. Negeri Siam mengalami kekeringan pada 1950-an. Maka Raja Bhumibol Adulyadej pada November 1955 menginisiasi dibentuknya Khrongkhan Fon Luang alias Proyek Pembuatan Hujan Kerajaan. Proyeknya didanai sendiri dari harta pribadi sang raja. “Ia (raja) mempercayakan M.R. Debariddhi Devakula, pakar insinyur pertanian di Kementerian Pertanian dan Koperasi, untuk memimpin risetnya. Ia melakukan riset intensif dan eksperimen dari banyak ragam pengaplikasian di banyak negara, termasuk AS, Australia, dan Israel,” tulis Chamnong Pakaworawuth dalam King Bhumibol and His Enlightened Approach to Teaching. Proyek itu jadi tanggung jawab Departemen Pembuatan Hujan dan Penerbangan Pertanian Kerajaan yang dimulai pada 1959. Butuh satu dekade untuk kemudian proyek itu bisa diujicobakan. Dengan disaksikan langsung oleh sang raja, percobaan pertama dilakukan di Taman Nasional Khao Yai pada 20 Juli 1969. Metode penyemaian awan dengan pesawat via menebar senyawa-senyawa garam hingga es kering ke atas awan dilaporkan berhasil “menciptakan” hujan. Pada 2009, Yordania negara kedua yang mengaplikasikannya dengan seizin Raja Bhumibol. Baru pada 2005 metode itu dipatenkan atas nama Raja Bhumibol. Pengaplikasiannya bisa juga untuk modifikasi kebalikannya. Bahkan Indonesia sendiri sudah mengikutinya pada 2013, baik untuk memicu hujan guna memadamkan asap dan kabut akibat kebakaran hutan di Sumatra, maupun mengurangi curah hujan demi menanggulangi bencana banjir.*
- Slebew, Slang, dan Walikan
ADA banyak hal yang dapat dibahas dari popularitas Citayam Fashion Week yang sempat menghebohkan publik. Salah satunya istilah yang menarik yaitu “slebew”. Kata ini kerap diucapkan anak-anak muda yang nongkrong di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Arti “slebew” mungkin hanya mereka yang tahu. Kata ini tak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia karena bentukan baru sebagai bahasa informal atau slang. Gorys Keraf dalam Diksi dan Gaya Bahasa menjelaskan bahwa slang merupakan kata-kata nonstandar yang informal, yang disusun secara khas; atau kata-kata biasa yang diubah secara arbitrer (manasuka); atau kata-kata kiasan yang khas, bertenaga, dan jenaka yang dipakai dalam percakapan. Kadang kala kata slang dihasilkan dari salah ucap yang disengaja, atau kadang kala berupa pengrusakan sebuah kata biasa untuk mengisi suatu bidang makna yang lain.
- Raja Ali Haji dan Pulau Bahasa Indonesia
LUAS Pulau Penyengat tak sampai 2 km persegi, berada di perbatasan Indonesia dan Singapura. Namun, pulau ini menjadi pusat kebudayaan Melayu dan tumbuh kembang bahasa Indonesia. Pada awal abad ke-19, Pulau Penyengat terkenal sebagai pusat kesusastraan dan literatur. Bisa dibilang, pulau ini menjadi pusat kajian Melayu Islam. "Bukan Melayu kalau belum ke Pulau Penyengat," kata Surjadi, kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, dalam seminar daring berjudul "Warisan Budaya Pulau Penyengat, Tantangan, dan Peluang Pelestarian Serta Pengelolaannya" yang diadakan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatra Barat. Berkat dorongan kerabat istana, pulau yang pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Riau-Lingga itu tumbuh menjadi pusat kegiatan penulisan naskah Melayu. Naskah-naskah Melayu-Riau ditulis dan disalin ke dalam aksara Jawi.






















