Hasil pencarian
9659 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Mengukir Nama di Ladang Cinta
RUMAH dua tingkat di Bintara, Bekasi itu berpagar jerajak besi. Halamannya dipenuhi aneka bunga. Beranda dibiarkan kosong; tak ada meja maupun kursi. Sebuah sepeda mini terparkir di garasi. Dua bocah laki-laki asyik bermain. Mereka cucu si empunya rumah: Fredy Siswanto atau Fredy S. Ruangan di dalamnya cukup luas. Agak menjorok ke dalam, anak tangga meliuk ke lantai dua. Di bawahnya, kolam ikan mini tak lagi terawat. Dinding kolam itu bercorak ala lembah di pegunungan. Kering. Berdebu. “Maaf, agak berantakan. Semenjak Fredy sakit, sempit sekali waktu untuk mengurus rumah. Anak-anak juga sudah tinggal di rumah masing-masing dengan keluarganya. Paling seminggu sekali datang ke mari,” kata Sri Suyati, biasa disapa Yati, istri pertama Fredy S.
- Mohamad Hasbi dari Petrus ke Kedung Ombo
HINGGA hari ini, istilah “gali” masih ada di Yogyakarta. Gali adalah singkatan dari gabungan anak liar. Istilah ini sudah populer di awal dekade 1980-an, ketika diadakan operasi berdarah terhadap premanisme di sekitar Yogyakarta. Apapun nama operasi berdarah itu, lebih banyak orang mengingatkanya sebagai Petrus alias Penembakan Misterius. Kota Yogyakarta adalah wilayah teritorial dari Komando Distrik Militer (Kodim) 0734 yang berada di bawah Komando Resort Militer (Korem) 072 —yang membawahi kabupaten-kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) plus Kabupaten Temanggung, Megelang, Wonosobo, Purworejo, dan Kebumen. Ketika para preman itu diburu, komandan Kodim (Dandim) Yogyakarta adalah Letnan Kolonel CZI Mohamad Hasbi (1939-2022). Dialah yang dianggap sebagai pelopor Petrus tersebut. “Landasan hukum operasi yang ditanganinya adalah Operasi Clurit. Sedang landasan pelaksanaannya adalah tingkat keresahan masyarakat,” terang Hasbi sebagaimana diberitakan Kompas , 15 April 1983. Operasi Petrus Kendati dijalankan secara terukur oleh militer, banyak yang mengkhawatirkan praktik tersebut. Salim Said, pakar politik, termasuk orang yang khawatir dengan Petrus. “Kalau kurang hati-hati Petrus bisa menjalar dari pembunuhan kriminal menjadi pembunuhan politik,” ujar Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto . Sekitar tahun 1983, Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) yang dipanglimai Laksamana Sudomo melancarkan Operasi Clurit untuk menghantam para kriminal yang akhirnya dianggap pemerintah meresahkan. Ketika Jenderal Benny Moerdani menjadi panglima Kopkamtib, operasi terhadap para preman bercap kriminal pun semakin dikeraskan. Operasi yang dipelopori Letnan Kolonel Mohamad Hasbi itu, menurut Salim Said, “kemudian diam-diam diambil alih Pangkopkamtib Moerdani dan diberlakukan di seluruh Indonesia.” Sebelum menjadi Dandim Yogyakarta, Hasbi menjadi Dandim di Kodim 0703 dari tahun 1979-1982. Pria kelahiran Tapaktuan, Aceh, 20 Januari 1939 ini sekitar dua tahun menjadi Dandim di Yogyakarta. Setelah Petrus menewaskan 532 orang yang dicap preman kriminal dan hampir lima tahun Hasbi menjadi Dandim di Cilacap dan Yogyakarta, jabatan Hasbi dinaikkan. “Gubernur Jawa Tengah Ismail tanggal 16 Juni (1984) melantik Letkol CZI M. Hasbi sebagai Bupati Boyolali di gedung Pemda Boyolali. Hasbi menggantikan posisi pejabat sebelumnya MC Tohir,” demikian diwartakan Mimbar Kekaryaan ABRI edisi 162, Juni 1984. Waduk Kedung Ombo Masalah yang dihadapi Hasbi di Boyolali bukan “gali” lagi. Masalah yang dihadapinya, sebuah proyek pembangunan waduk di Kedung Ombo. Sebagai bupati, Hasbi jelas diajak bicara terkait masalah pembebasan tanah. Kala itu, banyak yang menolak ganti rugi untuk pembebasan tanah tersebut. Namun, “tangan besi” rezim Orde Baru meresponnya dengan tindakan tak manusiawi. “Di Kedung Ombo, petani yang membangkang untuk menyerahkan tanahnya dicap sebagai PKI dengan cara diberi kode ET di KTP mereka,” kata Ikrar Nusa Bhakti dalam Militer dan Politik Kekerasan Orde Baru: Soeharto di Belakang Peristiwa 27 Juli . Pelabelan PKI terhadap siapapun yang melawan kehendak pemerintah merupakan praktik umum yang “sakti” rezim Orde Baru. Dengan pelabelan itu, pemerintah tak perlu buang banyak tenaga karena masyarakat dengan sendirinya akan mengucilkan mereka yang dicap, meskipun mereka yang dicap PKI itu sebetulnya tak ada kaitannya dengan masalah 1965. Dengan begitu, cap PKI adalah sesuatu kutukan yang menakutkan banyak orang di zaman Orde Baru. Saking menakutkannya, pernah ada isu bahwa ada petani yang masuk hutan karena takut. Namun, lewat Kompas tanggal 20 Juni 1986, Hasbi membantah isu tersebut. Hasbi menjadi bupati Boyolali selama 10 tahun (1984-1994). Ketika tak jadi bupati lagi, dia masih militer aktif namun hampir memasuki masa pensiun di ABRI. Meski karier militernya kurang cemerlang, sang jebolan Sekolah Calon Perwira ini setidaknya berhasil menjadi perwira tinggi dengan pangkat Brigadir Jenderal. “Tidak banyak data tentangnya,” terang Donny Alamsyah Syeoputra yang mengkurasi keseluruhan jenderal Angkatan Darat. Menurut Apa & Siapa Caleg Golkar Jawa Tengah, DPRD I Pemilu 1997, Hasbi kemudian bergabung dengan Golongan Karya (Golkar) dalam Pemilu 1997, pemilu terakhir Orde Baru. Hingga beberapa tahun setelahya, dia menjadi wakil ketua DPRD Jawa Tengah sebelum tutup usia pada 25 November 2022.*
- Misteri Fredy S
PEMBACA novel populer era 1980 hingga 1990-an tentu tak asing lagi dengan nama Fredy Siswanto atau kerap ditulis Fredy S. Dia penulis produktif di masanya. Novel-novelnya laku keras. Bahkan masih beredar hingga kini. Namun sosoknya dianggap misterius. Siapa dia sebenarnya? Nama aslinya Bambang Eko Siswanto. Lahir di Semarang pada 5 Mei 1954. Sebelum menjadi novelis, dia lebih dikenal sebagai komikus. Beberapa komiknya, umumnya bergenre roman percintaan, terbit. Antara lain Gema Tangismu , Karang Tajam , Segaris Harapan , Kepergian Seorang Kekasih , Lagu Sendu , Selembut Sutra , dan Pengorbanan Ibu . Komik tak mengangkat namanya. Maka, dia mencari penghasilan lain sebagai pelukis poster film. Dia juga sempat menulis beberapa cerita silat seperti serial Retno Wulan dan Pendekar Gagak Rimang dan jadi wartawan sebelum berkiprah sebagai penulis novel populer. Fredy S penulis produktif. Karyanya ratusan judul, diterbitkan di Indonesia maupun di Malaysia dan Singapura. Sebulan dia bisa menghasilkan dua hingga tiga judul novel. Fredy S menyebut dirinya sebagai “sastrawan kaki lima”. Saking tenar, namanya kerap dicatut, atas seizinnya maupun tidak, untuk novel-novel lainnya. Namun namanya tenggelam oleh ratusan karyanya. Bahkan tak diakui dalam dunia kesusastraan Indonesia. Apresiasi terhadap karya-karya Fredy S pernah coba dituangkan Muhidin M. Dahlan, pegiat radiobuku.com . Dia bersama teman-temannya menerbitkan buku setebal bantal bertajuk Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikubur . Karya-karya yang terpilih diresensi, biografi pengarangnya diulas. Bila jeli, tak ada nomor urut 32 di buku setebal 1001 halaman itu. “Ini sebetulnya template yang disiapkan buat Fredy S.,” kata Muhidin M. Dahlan. Namun, karena tak berhasil menelisik sosok Fredy S, ruang itu dibiarkan kosong. Fredy S tak tergantikan. Bagi Muhidin dkk, Fredy S dan novel-novelnya adalah bintang di masa keemasan kedua “sastra picisan” pada 1980-an. Fredy S adalah penanda zaman. Debut Fredy S sebagai novelis mendapat sambutan hangat. Novel pertamanya Senyummu Adalah Tangisku (terbit 1978) diangkat ke layar lebar. Tak tanggung-tanggung lakon yang membintanginya sederet artis papan atas: Soekarno M. Noor, Rano Karno, Anita Carolina, dan Farida Pasha. Setahun kemudian, novelnya Sejuta Serat Sutera juga difilmkan. Bintangnya Rudi Salam dan Tanty Josepha. Dari sinilah, Fredy S terjun ke dunia sinematografi, dari penulis skenario hingga jadi asisten sutradara. Ketika televisi swasta mulai berkecambah dan produksi sinema elektronik (sinetron) mendapat tempat, Fredy S tak mau ketinggalan. Dia menyutradarai beberapa sinetron melalui berbagai rumah produksi. Antara lain Fatamorgana (1995) dan Bukan Sekedar Sandiwara (1997). “Bila di film kurang menonjol, Fredy S mencetak prestasi lumayan waktu pindah ke layar kaca,” tulis Apa Siapa Orang Film Indonesia , yang diterbitkan Direktorat Pembinaan Film dan Rekaman Video Departemen Penerangan. Karya terakhirnya adalah sinetron Jelangkung 2 produksi PT Virgo Putra Film, yang tayang di RCTI tahun 2002. Karena terserang stroke, dia terpaksa meninggalkan dunia film dan sinetron. Bahkan, sekalipun sempat kembali menulis novel, Fredy S akhirnya tutup buku dengan novel populer. Fredy S menghabiskan hari tuanya di rumah istri pertamanya di Bintara, Bekasi, sampai meninggal dunia pada 24 Januari 2015.* Berikut ini laporan khusus Fredy S: Mengukir Nama di Ladang Cinta Hikayat Roman Sepicis Cerita di Balik Nama Fredy S Menggoreskan Nama di Sinema Satu Cinta Tiga Wanita
- Samudra Pasai Kaya Lantaran Berdagang Lada
JELANG dinihari 21 Juni 2024, KRI Dewaruci sudah memasuki perairan Aceh dalam pelayaran Muhibah Budaya Jalur Rempah. Paginya, Dewaruci sudah melewati kawasan Lhoksumawe dan Lhoksukon. Kawanan lumba-lumba sempat terlihat di perairan Aceh Timur sekitar pukul 10.00 pagi. Mereka terlihat di bawah anjungan kapal latih TNI AL itu. Beberapa di antaranya melompat. Dari kejauhan, terlihat tangki-tangki minyak berukuran besar. Aceh dikenal juga karena minyaknya. Kawasan ini dulunya diperkirakan wilayah dari kerajaan Samudra Pasai, salah satu kerajaan besar di Aceh. Dulu, murid-murid sekolah dalam pelajaran sejarah Indonesia diajari bahwa Samudra Pasai adalah kerajaan Islam pertama di Indonesia. Namun setelah ada upaya pelurusan sejarah, disebutkan bahwa Peurelak atau Perlak justru yang merupakan kerajaan Islam tertua di Indonesia. Baik Samudra Pasai maupun Perlak sama-sama di Aceh. Lokasi bekas kerajaan Perlak itu kini menjadi Kabupaten Perlak. “Posisi sekarang berada di Aceh Utara dan Aceh Timur,” kata Miftah Roma Uli Tua Nasution dari Balai Pelestarian Kebudayaan I Aceh, menerangkan tentang Kerajaan Pasai, kepada Historia . Kawasan Kerajaan Pasai itu kini dilewati jalan raya Maden-Banda Aceh. Tua tak tua, Samudra Pasai tetap kerajaan Islam yang penting dan berpengaruh di Selat Malaka. Samudra Pasai adalah penghasil lada. Kawasan Aceh sejak dulu identik dengan lada. “Di Pasai perkebunan lada telah berproduksi sejak abad ke-14,” catat Muhamad Ibrahim dkk dalam Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh . Hingga sekitar tahun 1920, lada tetap tanaman penting di Aceh. Lada banyak diusahakan di pantai barat. Selain lada, sutra dan kemenyan juga dihasilkan di Pasai. Samudra Pasai merupakan kerajaan dagang yang terbuka dengan bangsa-bangsa lain. Pasai menjadikan diri sebagai pelabuhan penting di sisi utara Selat Malaka. Perdagangan di wilayahnya itu telah mengundang banyak pedagang asing untuk dagang. Mulai dari orang orang Gujarat, Keling, Bengal (Benggala), Pegu (Burma), Siam, Kedah, hingga Beruas. “Sebagian besar orang Pasai merupakan orang Bengal, atau keturunan asli dari orang-orang ini,” catat Tome Pires dalam Suma Oriental yang disusun antara 1512-1515. Orang Bengali atau Benggala menjadi yang paling banyak berdagang di Pasai. Bengali kini berada di perbatasan India dengan Bangladesh –yang berada di India menjadi Provinsi Benggala Barat. Adanya relasi antara orang Bengal dan Pasai itu mengakibatkan adanya kedekatan kuliner antara daerah India dengan Aceh. Menurut Andreas Maryoto, penulis buku Jejak Pangan: Sejarah, Silang Budaya, dan Masa Depan , pengaruh India secara garis besar masuk dalam dua gelombang: pertama , abad ke-14 dan kedua , pada masa Kesultanan Mughal. Pengaruh India di Pasai terjadi pada gelombang kedua. Saat itu, Mughal memang memiliki hubungan diplomatik dengan Aceh. “Beberapa makanan yang bisa diduga terkait pengaruh Mughal antara lain makanan yang bersantan dan pedas,” tulis Andreas Maryoto. Sebagai pedagang, masyarakat Pasai tentu mengenal uang. Pada 1500-an, Pires mencatat uang yang digunakan adalah koin-koin kecil yang terbuat dari timah dengan cap raja yang berkuasa di sisi-sisinya. Selain koin timah, ada pula koin kecil emas yang disebut Drama. Sembilan Drama sama nilainya dengan 1 Cruzado. Serbuk emas dan perak juga digunakan dalam perdagangan. Merica dihitung pula dengan satuan Bahar. Namun nilai Bahar di Pasai lebih rendah daripada yang digunakan di Malaka. Perdagangan antarnegara di Pasai melibatkan banyak kapal. Termasuk yang disebut Jung. Masuknya pedagang asing ke Pasai menjadi pemasukan tersendiri bagi kas kerajaan. Besar-kecilnya kapal, menurut Tome Pires, menentukan besaran pajak pedagang dari luar. Untuk barang dari arah barat yang masuk ke Pasai dikenai pajak 6 persen. Untuk seorang budak ada pungutannya pula. Perdagangan antarnegara membuat Pasai kaya-raya. Apalagi ketika Malaka nun jauh di seberang tenggara dan Pedir, yang merupakan musuh bebuyutan Pasai, mendapat masalah. “Kerajaan Pasai memiliki kota bernama Pasai, sebagian orang menyebutnya Camotora (Sumatra),” catat Tome Pires. Kota Pasai dihuni tidak kurang dari 20.000 orang. Kota ini berada di Aceh Timur. Para pedagang asing di Pasai tentu tak kesulitan mencari makanan . Sebelum agama Islam masuk, daerah Pasai diperintah oleh raja pagan. Meurah Silu dianggap sebagai pemimpin Pasai pertama yang masuk Islam. Dia kemudian bergelar Sultan Malikussaleh, berkuasa antara 1267 dan 1297. Setelah dirinya, raja-raja Pasai bergelar sultan. Namun keadaan akhirnya berubah. Tak selamanya keturunan Meurah Silu berkuasa. Di zaman Tome Pires bertualang ke sekitar Aceh, keluarga Meurah Silu sudah tidak berkuasa lagi. “Seratus enam puluh tahun telah berlalu sejak raja tersebut digulingkan oleh pedagang Moor yang licik, yang pada saat itu berada di Kerajaan Pasai. Diberitakan bahwa pada waktu itu, orang-orang Moor telah menguasai pesisir pantai dan mereka akhirmya mengangkat seorang raja Moor yang berasal dari kasta Bengal,” catat Tome Pires. Moor kerap menjadi sebutan untuk orang-orang Timur Tengah yang berkulit agak gelap. Setelah orang Bengali berkuasa, cara pergantian pemerintahan bisa berubah. Siapapun yang bisa membunuh raja bisa menjadi raja. Bekas wilayah Pasai dan Pedir kemudian menjadi wilayah dari Kerajaan Aceh yang muncul di pengujung abad ke-15.*
- Viva Vivian! Transeksual yang Mengubah Jenis Kelamin
INI hari yang membahagiakan bagi Vivian. Bergaun pengantin warna putih, dia terlihat begitu anggun ketika turun dari sebuah Mercy 300 SEL. Dengan luwes dia melangkah memasuki ruangan resepsi di sebuah restoran mewah di Jakarta, menggandeng tangan Felix Rumayar. Dia merasa jadi ratu semalam setelah sebelumnya menikah di sebuah gereja Katolik di Petamburan dan mencatatkan pernikahan di kantor Catatan Sipil, awal November 1975. Sejumlah orang penting hadir, antara lain pengacara kondang Adnan Buyung Nasution dan Gubernur Jakarta Ali Sadikin. Kuncoro, sejawatnya di Viva Kosmetik, memberi sambutan dengan kisah pertemuan kedua mempelai, lalu mengakhirinya dengan teriakan: “Viva Vivian, Viva Felix!”
- Ketika Ali Sadikin Mau Gebuk Sudomo
KENDATI sama-sama berasal dari Angkatan Laut (AL), hubungan antara Ali Sadikin dan Sudomo bisa dibilang fluktuatif. Keduanya adalah pribadi yang berbeda tipikal. Ali Sadikin kritis terhadap pemerintah Orde Baru. Sementara Sudomo membungkam mereka yang menentang rezim. Ketika Ali Sadikin vokal mengkritik pemerintah lewat Petisi 50, Sudomo yang kala itu jadi panglima Kopkamtib melakukan pencekalan (cegah-tangkal). Untuk membawa istrinya berobat ke negeri Belanda, Ali Sadikin kesulitan akibat dicekal. Perintah cekal itu berasal dari Sudomo. Padahal, Sudomo masih terhitung juniornya Ali Sadikin. “Pencekalan itu sebenarnya inisiatif saya, bukan karena diminta Pak Harto. Dengan Bang Ali saya tidak ada masalah, kawan baik. Kita kan tinggal berdekatan, bertetangga, ” kata Sudomo dalam Warnasari , edisi Oktober 1997 mengutip harian Terbit . Namun soal relasi pribadi, Sudomo mengatakan, “Kalau ia ulang tahun saya datang, peluk-pelukan. Pokoknya saya menghormatinya, karena ia kan atasan saya.” Setelah pensiun dari jabatan gubernur Jakarta, Bang Ali –pangglian Ali Sadikin– tinggal di Jalan Borobudur No. 2, Jakarta Pusat, berseberangan dengan kediaman Sudomo. Ali dan Sudomo tampaknya memang berseberangan dalam banyak hal. Mulai dari rumah, pandangan politik, hingga selera wanita. “Mana mungkin sama (selera) antara seorang marinir dengan seorang pelaut. Kalau dia memang dikenal sebagai pemburu wanita,” tutur Ali Sadikin dalam wawancara majalah Detik , 21–27 Juli 1993 termuat di Pers Bertanya Bang Ali Menjawab . Reputasi Sudomo sebagai pecinta perempuan tidak lekang bahkan hingga di usia senjanya. Di masa Orde Baru berkuasa ketika dirinya menjadi orang penting, Sudomo beberapa kali menikah. Sudomo terkenal dengan kelakar khasnya. “Dari pinggang ke atas saya sudah tua tapi dari pinggang ke bawah (masih aktif). Heehee...,” ujar Sudomo dikutip Jakarta Jakarta , 20-26 September 1997. Artinya, meski sudah tua, Sudomo masih kuat vitalitas seksualnya. Pada 1997, pada usianya yang ke -70, Sudomo dikabarkan kembali memeluk Islam setelah sempat pindah agama. Keputusan Sudomo tersebut sempat memantik tanda tanya publik. Sebagian kalangan menilai Sudomo sedang melakukan manuver politik untuk menduduki jabatan wakil presiden. Sebagian lagi menganggap itu akal-akalan Sudomo karena ingin mencari istri lagi. Saat itu, Sudomo santer diisukan dekat dengan perempuan bernama Endah Melati Suci. “Ya ndak . Pokok nya bukan tujuan politik apalagi kawin, ” kata Sudomo kepada Jakarta Jakarta, 20–26 September 1997 ketika ditanya tujuannya pindah agama. “Itu datangnya dari Tuhan yang Maha Kuasa. Dari dulu saya ndak jalanin penuh. Wong , saya kalau bulan puasa ikut puasa kok.” Melihat polemik yang terjadi terhadap Sudomo, Ali Sadikin ikut angkat bicara. Dia tetap berbaik sangka. Perhatian dan simpati juga masih diperlihatkan Bang Ali terhadap junior yang pernah mencekalnya itu. “Kita tidak baik punya pikiran jelek seperti itu. Kita harus percaya ia sudah kembali ke agamanya semula, Tuhan menerimanya,” kata Bang Ali dikutip Warnasari . “Nah, bila nanti ternyata ada niatan lain, atau ini sebuah manuver, ya kita gebukin saja.” Meski demikian, Bang Ali mengakui secara personal, hubungannya dengan Sudomo baik-baik saja. Jika Bang Ali dan Pak Domo berbeda langkah, semua itu terjadi karena iklim politik Orde Baru. “Waktu ulang tahun saya ke-70, ia (Sudomo) datang memberi ucapan selamat,” kenang Bang Ali dalam Warnasari . Saling sowan Bang Ali-Pak Domo ini menandai bahwasanya tidak ada konflik yang berarti apalagi dendam diantara keduanya.*
- Sudomo Sumber Berita
SEKALI waktu, Laksamana TNI (Purn.) Sudomo meninjau Asrama Embarkasi Haji Donohudan di Boyolali. Waktu itu, Sudomo menjabat ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) . Sembari memeriksa fasilitas asrama, Sudomo bercengkrama dengan para calon haji yang sedang menunggu pemberangkatan. Perhatian Sudomo tertuju kepada calon haji tua yang duduk di pinggiran ranjang. “Berapa umur Bapak,” tanya Sudomo. Bapak tua tersebut menjawab bahwa umurnya sudah 80 tahun. Mendengar jawaban itu, Sudomo pun menimpali, “orang yang berumur di atas 80 tahun, Insya Allah dosa-dosanya sudah luntur, alias diampuni Allah,” kata Sudomo yang langsung dijawab, “Amin,” oleh si bapak tua. Sudomo melanjutkan obrolan. “Umur saya sendiri 71 tahun, tapi umur dari alis ke mata atas,” kata Sudomo sambil menunjuk rambutnya yang sudah memutih. Sudomo lahir pada 20 September 1926 di Malang, Jawa Timur. “[Tapi] umur dari alis mata ke bawah, masih tiga puluhan,” sambung Sudomo. Celetukan Sudomo sontak bikin cair suasana. Gelak tawa dari para calon haji memenuhi bangsal asrama. Di tengah riuh jenaka itu, tiba-tiba seorang calon haji setengah baya, tergopoh mendekat dan menyalami Sudomo sambil mohon maaf lahir batin. “ Lha , kamu punya salah apa pada saya,” tanya Sudomo “Saya sering ngrasani (menggunjingkan) Pak Domo, jadi mumpung ketemu saya minta maaf. Lagi pula sebelum saya naik haji, saya berusaha bersih dari dosa,” ujar calon haji itu. Sudomo, sebagaimana diberitakan dalam Solopos , 17 Maret 1998, hanya tertawa saja mendengarnya, sambil mengatakan bahwa dirinya sudah terbiasa dirasani . Tangan Kanan Soeharto Menurut pakar politik Salim Said , Sudomo menjadi satu-satunya perwira Angkatan Laut yang menduduki posisi penting hampir sepanjang sejarah Orde Baru. Sudomo tercatat pernah menduduki jabatan Kepala Staf Angkatan Laut (1969–1973), Kepala Staf Kopkamtib (1974– 1978), Wakil Panglima ABRI merangkap Panglima Kopkamtib (1978–1983), Menteri Tenaga Kerja (1983–1988), Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menkopolkam 1988–1993), dan Ketua DPA (1993–1998). Sebagai langganan masuk kabinet, pencapaian Sudomo barangkali hanya ditandingi oleh B.J. Habibie (Menteri Riset dan Teknologi periode 1978–1998) dan Harmoko (Menteri Penerangan periode 1983–1997). Ketika memimpin Kopkamtib, Sudomo begitu ditakuti. Posisi itu memberinya kuasa untuk mengatur keamanan dan ketertiban, menyensor, hingga menangkap orang. Sudomo juga dikenal sebagai salah satu orang dalam lingkaran Presiden Soeharto. Singkatnya, Sudomo adalah tangan kanannya Soeharto. “Sudomo ini dulu di sekolah paling nakal, susah diatur, kok sekarang sebagai Kas Kopkamtib dapat mengatur masyarakat,” tutur Pak Azis, mantan guru bahasa Indonesia Sudomo di SMT Malang, dalam sebuah acara reuni, seperti dikutip Tempo , 20 Maret 1976. Sudomo pula yang mengeluarkan perintah cekal terhadap kelompok oposisi yang tergabung dalam Petisi 50. Dalam Petisi 50 tergabung sejumlah tokoh seperti Ali Sadikin , Hoegeng Iman Santoso, M. Jasin, hingga Mohammad Natsir dan Sjafruddin Prawiranegara. Akibat dicekal, sebagian dari mereka dilarang berbisnis, keluarganya dipersulit, hingga dilarang keluar negeri. Sudomo bertindak sebagai tukang jagal bagi mereka yang dianggap mengganggu stabilitas pemerintahan rezim Orde Baru. “Sebagai orang yang pada dasarnya baik, mungkin sadar sebagai hanya alat kekuasaan Soeharto, Sudomo terpaksa menujukkan loyalitasnya kepada Bos dengan bertindak keras kepada para seniornya yang tidak disenangi Soeharto,” tulis Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto. Ketika menjabat Menkopolkam, Sudomo berupaya merangkul kelompok Petisi 50 dengan mengundang mereka berdialog ke kantornya. Pertemuan ini cukup menyita perhatian publik bahkan menggegerkan. Konflik antara pemerintah dan Petisi 50 sudah berlangsung satu dekade. Dialog berlangsung seru dan terbuka. Sudomo menawarkan pencabutan pencekalan asalkan kelompok Petisi 50 bersedia mencabut enam butir pernyataan keprihatinan. Dengan kata lain meminta maaf. “Kalau mereka melakukannya, saya kira Presiden akan mempertimbangkan dan otomatis semua pembatasan yang diberlakukan akan dicabut,” ujar Sudomo kepada pers usai pertemuan sebagaimana dilansir Media Indonesia , 22 Mei 1991. Sudomo Bikin Kejutan Pertemuan itu tidak mencapai titik temu karena kelompok Petisi 50 tetap bersikukuh pada prinsipnya. Namun, bagi pers, Sudomo adalah narasumber penting. Ia kerap menjadi buruan awak media, entah itu terkait hal penting atau bukan. Pernyataannya selalu menuai reaksi. Ada lelucon yang berkembang di sebagian masyarakat, bukan Sudomo namanya kalau tak bikin kejutan. “Sudomo memang sering melakukan pelesetan. Ia, misalnya, mempopulerkan SDSB menjadi Sudomo Datang Semua Beres. Atau, Sudomo Datang Semua Berantakan. Tak lama setelah menikah dengan Sisca Widowati, Sudomo mengubah pelesetan SDSB menjadi Sisca Datang Sudomo Senang,” ulas majalah Editor , 17 Juli 1993. SDSB (Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah) adalah undian berhadiah yang dilegalkan pemerintah pada 1989-1994 untuk tujuan sosial seperti untuk olahraga . Namun, SDSB menjadi judi lotre yang memicu banyak masalah. SDSB dihentikan karena dinilai haram dan ilegal. Sudomo memang pernah bikin geger ketika menikah lagi dengan Sisca Widowati pada 1990 yang diikuti dengan pindah agama menjadi Protestan. Sudomo saat itu menjabat Menkopolkam. Namun, pernikahan dengan Sisca tak berlangsung lama. Mereka berpisah pada 1994. Sudomo kemudian kembali masuk Islam. Karena pernah lama menjadi pejabat yang selalu menjadi sumber berita pers, Salim Said menyebut, Sudomo sudah amat terbiasa berurusan dengan wartawan. Dalam suasana persaingan pers yang makin ketat, wartawan tentu senang mendapatkan berita dari orang seterkenal Sudomo. Apalagi Sudomo dikenal ceplas-ceplos, jenaka, dan gampang bergaul dengan awak media. “Dengan latar belakang seperti inilah, munculnya sejumlah komentar Sudomo yang kadang menimbulkan kebingungan publik menjelang berakhirnya rezim Orde Baru,” kata Salim Said . Sudomo dan PDI Ketika terjadi konflik internal dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI) antara kubu Soerjadi dan Megawati Soekarnoputri, Sudomo selaku ketua DPA menawarkan dirinya sebagai mediator. Namun, menurut Sudomo, niatnya itu tidak mendapat tanggapan positif. Meskipun demikian, ia mengaku selalu membuka diri untuk terlibat dalam penyelesaian konflik. “Akhirnya, sejak dulu memang ada pendapat bahwa PDI itu Partai Domo Indonesia,” kata Sudomo sambil terkekeh, diwartakan Berita Yudha , 18 Agustus 1997. Berkaitan dengan PDI, Sudomo sambil bergurau meyakinkan wartawan bahwa sejak dulu dirinya memang PDI, tetapi yang ia maksud bukan Partai Demokrasi Indonesia. “Sekarang Anda saya kasih tahu, pasti sudah tahu tetapi tidak sadar. Sejak dulu saya memang PDI bahkan disebut-sebut menjadi ketuanya. Itu lho PDI singkatan dari Persatuan Duda Indonesia,” kata Sudomo disambut tawa wartawan. Sudomo wafat pada 18 April 2012 dalam usia 85 tahun.*
- Samurai dalam Pembantaian Banda
PULAU kecil di bawah Maluku ini memang tidak semewah Batavia. Tapi ketenarannya mampu memikat orang-orang dari belahan bumi lain untuk datang dan menguasai kekayaan alamnya yang begitu melimpah. Dalam The Banda Islands: Hidden Histories & Miracles of Nature, disebutkan sebelum VOC datang menguasai kepulauan Banda, Inggris telah lebih dahulu melakukan kontak dengan masyarakat di sana. Mengetahui adanya ladang rempah yang sangat melimpah di Banda, Belanda pun merangsak masuk. Kedua negara penjelajah itu akhirnya bersinggungan, dan melakukan cukup lama perang untuk menentukan kekuasaan pulau.
- Petualangan Inspektur Frans Najoan
SEHARI setelah kekacauan akibat Peristiwa APRA –yang dipimpin Raymond Paul Pierre Westerling; menewaskan hampir 100 anggota TNI– di Bandung pada 23 Januari 1950, Kapten Westerling ke Jakarta. Dia mendatangi Hotel Des Indes di bilangan Harmoni untuk menemui Menteri tanpa portofolio Republik Indonesia Serikat (RIS) bernama Sultan Hamid II. Westerling datang bersama Frans Najoan. “Saya memerintahkan Westerling supaya Frans Najoan pada kira-kira jam tujuh menyerbu sidang dewan menteri yang akan bersidang pada jam lima sore. Di dalam penyerbuan itu, semua menteri harus ditangkap sedangkan Menteri Pertahanan Sultan Hamengkubuwono, Sekretaris Jenderal Ali Budiardjo, dan Kolonel Simatupang harus ditembak mati seketika itu juga. Saya harus mendapat luka enteng,” aku Sultan Hamid II –yang mengaku kemudian ingin minta kepada presiden dan wakil presiden RIS untuk diperbolehkan menyusun kabinet baru dan menjadi menteri pertahanan– dalam sidang perkaranya seperti tercatat dalam Process Peristiwa Sultan Hamid II .
- Awak Bomber Perang Dunia II Ikut Westerling
KETIKA tentara Jepang merangsek masuk ke Hindia Belanda pada awal 1942, pemuda Pieter Elia Donald Titaley masuk milisi tentara Hindia Belanda, Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL). Dia termasuk tentara Belanda yang dikirim ke Australia ketika Hindia Belanda hampir dikalahkan tentara Jepang. Dengan segera, pemuda kelahiran 25 Juni 1918 itu dijadikan bintara calon penerbang. Titaley dilatih di sekolah pilot dan navigator di Amerika Serikat, yang dicapainya dengan naik kapal SS Mariposa dari Australia.
- Selamat Jalan Anak Muda Gaul
KABAR duka datang dari Shanty Sys di Kemang Timur, Jakarta Selatan. Suami Shanty, Raden Mas Haryo Heroe Syswanto Ns. Soerio Soebagio atau lebih dikenal dengan Sys NS, meninggal dunia pada 23 Januari 2018 di usia 61 tahun. Sys populer tahun 1970-an sebagai anak muda gaul Jakarta. Lahir di Semarang, 18 Juli 1956, Sys hanya numpang lahir di sana karena tumbuh-besar sebagai anak Jakarta. Ketika ayahnya, RM Soerio Soebagio, dipindahtugaskan ke Semarang pada 1973, Sys berontak. Mulanya dia ikut pindah ke Semarang, tapi dua hari berselang kabur ke Jakarta. Ayahnya yang teguh pada pendirian akhirnya luluh dan menuruti keinginan Sys tetap di Jakarta.
- Dendam Si Londo Klaten
MASA tuanya di Negeri Belanda berisikan kemalangan. Ada kenyataan yang tidak bisa dia terima di masa mudanya. Kedaulatan Republik Indonesia atas Nusantara yang dulunya disebut Hindia Belanda tidak dapat diterimanya. “Jika itu tidak terjadi, saya tidak akan berada di sini hari ini. Maka tidak akan ada orang kulit putih yang kembali dari Indonesia,” kata laki-laki tua itu di koran Nieuwsblad van het Noorden tanggal 27 April 1991.






















