Hasil pencarian
9752 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Gandum Belum Umum
KIRAB gunungan mengawali Festival Panen Gandum yang digelar di Kebun Percobaan Salaran, Semarang, pada 8 September 2016. Acara ini memeriahkan panen gandum varietas dewata, berasal dari galur DWR-162 asal India, yang ditanam Pusat Studi Gandum Fakultas Pertanian dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga bekerja sama dengan PT. Bogasari.
- Artati Sang Srikandi Diplomasi
Dengan radio amatir milik ayahnya, Artati Sudirdjo berusaha terhubung dengan dunia luar. Berbekal pelajaran morse di kepanduan, ia tak kesulitan berkomunikasi menggunakan radio amatir untuk mencari sahabat pena. “Sejak remaja Ibu menjalin hubungan dengan dunia luar melalui sahabat pena,” kata Ceniza Marzuki, putri pertama Artati Sudirdjo, pada Historia. Artati lahir di Salatiga pada 15 Juni 1921 dan tumbuh di Bandung. Ia anak sulung dari 10 bersaudara pasangan R. Sudirdjo Djojodihardjo dengan R.A. Sumiati Reksohaminoto. Artati kecil bercita-cita menjadi pekerja di Dinas Luar Negeri meski ia menganggapnya hanya khayalan, sebab Indonesia belum merdeka. Namun Artati dan adik-adiknya, baik perempuan maupun lelaki, semua mendapat kesempatan sama menempuh pendidikan hingga ke jenjang tinggi dari orang tuanya. Artati bersekolah di Hogere Burgerschool (HBS V) Bandung. Ia lulus pada 1939 kemudian meneruskan ke Rechts Hoge School di Batavia. Namun pendidikannya di sekolah hukum tak bisa dilanjutkan karena Perang Dunia II. Selain diberi kesempatan mengenyam pendidikan formal, semua anak Sudirdjo-Sumiati juga dididik untuk bisa merawat diri sendiri. Sejak kecil Artati dan saudara-saudaranya diajari membersihkan rumah, menjahit, dan memasak. “Saya sangat berterima kasih kepada kedua orang tua saya untuk pendidikan yang menyeluruh dan berimbang ini,” kata Artati seperti dimuat dalam buletin Dharma Wanita Departemen Luar Negeri Nomor 40 tahun XI-1990. Artati juga gemar membaca tentang kehidupan masyarakat negara lain dan belajar bahasa asing. “Malahan saya pernah belajar bahasa Esperanto yang dicita-citakan dapat menjadi bahasa dunia,” kata Artati. Artati Sudirdjo kala berbicara di forum PBB. (Dok. Ceniza Marzuki). Sudirdjo amat mendukung hobi anaknya dengan menyediakan fasilitas untuk menunjang hobi tersebut. Sebagai kepala Tekniksi Stasiun Radio di Malabar, Bandung, Sudirdjo juga jadi tempat Artati belajar komunikasi radio. Artati amat dekat dengan ayahnya. Kala Perang Kemerdekaan, Artati mengikuti Sudirdjo membantu Palang Merah Indonesia. Pada peristiwa Bandung Lautan Api, radio tempat Sudirdjo bekerja pindah ke Dayeuhkolot dan dikuasai para pejuang. Artati bergabung menjadi staf Penerangan Luar Negeri (Voice of Free Indonesia) dan menjadi penyiar yang mengumumkan kemerdekaan Indonesia dalam bahasa Inggris melalui radio tersebut. Pasca-proklamasi, Artati mengawali karier di Kementerian Luar Negeri di bidang politik/konsulet. Ia menjabat sebagai Sekretariat Jenderal Kementerian Luar Negeri ketika ibukota pindah ke Yogyakarta. “Ibu adalah diplomat wanita pertama termuda (29 tahun) yang dikirim ke Perwakilan Tetap Republik Indonesia di New York dan menyaksikan pengibaran bendera Merah-Putih saat Indonesia diterima sebagai anggota PBB ke-60 pada 28 September 1950,” kata Ceniza. Semangat belajar Artati tak pernah hilang. Begitu situasi aman pasca-penyerahan kedaulatan, Artati melanjutkan pendidikannya dengan Kursus Diplomatik dan Konsuler selama setahun di Kementerian Luar Negeri, Jakarta. Ia kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia namun harus terhenti pada 1950 karna mewakili Indonesia di PBB. Sekjen Deplu Artati Sudirdjo duduk bersama Menlu Adam Malik dan pegawai Deplu. (Dok. Ceniza Marzuki). Sebagai mahasiswa, Artati aktif sebagai awak redaksi majalah yang dikeluarkan oleh Unitas Studiosorum Indonesiensis dan Indonesische Vrouwelijke Studenten Vereniging. Ia juga menjadi pengurus redaksi Majalah Karya yang ditujukan untuk perempuan pekerja. Dari 1958 hingga 1961, Artati bertugas di Kedutaan Besar RI di Roma. Setelah itu dia dipercaya menjadi kepala Direktorat Organisasi Internasional Departemen Luar Negeri hingga diangkat menjadi menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan RI (1964-1966). Karier Artati mayoritas dihabiskan di bidang diplomatik. Usai menjadi menteri, ia kembali ke Departemen Luar Negeri sebagai Sekretaris Jenderal (1966-1971) dan Inspektur Jenderal (1971-1973). Pada 1973 hingga lima tahun kemudian, Artati menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung RI. Dari 1978–1982, ia bertugas sebagai Panitia Tetap Hukum Humaniter di Departemen Kehakiman. Pada 1980-an, Artati kembali ke dunia diplomatik dengan menjadi duta besar RI untuk Swiss, Austria, merangkap wakil tetap RI di PBB dan organisasi-organisasi Internasional di Wina. Di antara posisi penting yang dipegang Artati ialah ketua Dewan Gubernur di Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) dan ketua Sidang Khusus tentang Kecelakaan Nuklir di Chernobyl, yang membahas solusi untuk para korban. Artati Sudirjo di masa senja bersama anak pertamanya, Ceniza Marzuki. (Dok. pribadi Ceniza Marzuki). Meneladani Kedisiplinan Artati Dalam ingatan Ceniza, Artati adalah sosok ibu yang disiplin dan perhatian. “Kedisiplinannya kemudian menjadi pedoman Ibu Artati dalam kesehariannya,” kata Ceniza. Sikap disiplin Artati diajarkan oleh ayahnya yang amat disiplin dan terorganisasi. Itu bisa dilihat dari pembagian tugas di rumah kala Artati masih kecil. Kedisiplinan dan sikap terencana Sudirdjo pula yang membuatnya berhasil menyelamatkan alat-alat stasiun radio dalam pengungsian dari Malabar ke Dayeuhkolot saat peristiwa Bandung Lautan Api. Disiplin dan teratur adalah ciri khas karakter Artati. Ia selalu tepat waktu dan suka menata berkas-berkasnya dengan sangat rapi, kronologis, dan terawat. Ceniza mencontohkan, surat dari 30 tahun lalu pun masih disimpan oleh Artati. Hal itulah yang diajarkan dan diturunkan pada Ceniza untuk menjaga dan merawat segala berkas tua. “Hubungan kami unik karena membahas dan mempersiapkan untuk wafatnya, hal mana saat itu dianggap ‘tabu’, membahas persiapan kematian,” kata Ceniza. Ceniza ingat, ibunya selalu berusaha mempersiapkan segala sesuatu untuk dirinya sendiri, anak, ataupun cucunya. Pesan Artati yang masih diingat Ceniza, perempuan dan lelaki memiliki hak dan kewajiban serta kesempatan sama, yang terpenting adalah pembagian tanggung jawab yang seimbang, selaras, dan serasi. “Ayah dan ibu sangat maju pemikirannya. Dalam lingkungan keluarga saya untuk pertama kali melihat penerapan prinsip non-diskriminasi terhadap perempuan. Ketika itu saya tidak menyadari, akan tetapi contoh orang tua saya itu akan sangat berpengaruh dalam kehidupan dan pekerjaan saya kemudian,” kata Artati.
- Bencana Gunung Api Menghantui Majapahit
Endapan lahar Gunung Kelud dari ratusan tahun lalu menjangkau 40 km lebih wilayah di sekitarnya. Tanah yang subur menjadi tandus. Candi, sarana kota, permukiman, semua porak poranda, terkubur material muntahan Sang Giri. Inilah yang terjadi pada pusat Kerajaan Majapahit di timur laut Kelud. "Ini yang mengubur peradaban, yang sekarang ditemukan di beberapa tempat, di antaranya Situs Kedaton di Jombang, Sumberbeji di Jombang, dan Kumitir di Trowulan," kata Amien Widodo, peneliti Departemen Teknik Geofisika ITS, dalam webinar "Bencana Alam dan Jejak Peradaban Abad 12-14 M" yang diadakan Teknik Geofisika ITS. Serat Pararaton mencatat bencana terjadi berkali-kali. Naskah yang ditulis pada masa akhir Majapahit itu menyebut gunung meletus pada 1233 Saka (1311), 1317 Saka (1395 M), 1343 Saka (1421 M), 1373 Saka (1451 M), 1384 Saka (1462 M), dan 1403 Saka (1481 M). Diikuti bencana lainnya, seperti gemuruh lahar dingin ( guntur banyu pindah ) pada 1256 Saka (1334 M) dan muncul Gunung Anyar (Baru) pada 1307 Saka (1385 M). Letusan gunung pada 1343 Saka (1421 M) disusul kekurangan pangan pada 1348 Saka (1426 M). Gempa bumi ( palindu ) terjadi pada 1372 Saka (1450 M) sebelum gunung meletus pada 1373 Saka (1451 M). "Banjir dan perpindahan meander (kelokan sungai di sepanjang alirannya, red .) Kali Brantas menjadi salah satu penyebab terkuburnya peradaban," kata Amien. Menyeret Mundur Majapahit Sejarah aktivitas Gunung Kelud sangat panjang. Gunung ini aktif sejak abad ke-10 hingga masa Majapahit, bahkan sampai sekarang. Dalam Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (2013), peneliti Badan Geologi Bandung, Akhmad Zaennudin, Sofyan Primulyana, dan Darwin Siregar, mengungkap bahwa letusan Gunung Kelud selama kurun waktu 1380–1420 menghasilkan endapan batuan vulkanik berupa endapan aliran piroklastik, jatuhan piroklastik, dan lahar yang menutupi wilayah di sekitar gunung api itu hingga lebih dari 40 km. Mereka memilih empat lokasi endapan piroklastika yang terjadi masa Majapahit, yakni Gunung Pedot, Bambingan, Sepawon, dan Candi Tondowongso. Lokasinyaberada pada sisi barat dan barat laut dari Gunung Kelud. "Bukaan kawah sejak abad ke-10 sampai sekarang belum mengalami perubahan yaitu ke arah barat, sehingga wilayah barat daya, barat, dan barat laut merupakan daerah yang sangat parah terkena dampak letusan khususnya endapan," tulis laporan itu . Penelitian itu mengungkapkanbahwa lahar dari letusan dahsyat Gunung Kelud merusak dan mengubur peradaban Majapahit. Para petani tak bisa lagi menggunakan lahannya karena kekeringan. Bencana itu diduga turut menyeret Majapahit ke kemunduran. "Semua fasilitas hancur tertimbun oleh endapan jatuhan piroklastika dan lahar, sehingga dapat melumpuhkan semua sendi-sendi kehidupan masyarakat dan pemerintahan kerajaan," tulis laporan itu. Situs Terkubur Endapan Lahar Wicaksono Dwi Nugroho, arkeolog BPCB Jawa Timur, menerangkan selama dua tahun terakhir situs-situs yang digali menunjukkan adanya aktivitas vulkanik pada abad ke-12–14. Tampak dari irisan lapisan tanah yang menimbun situs-situs itu. Misalnya, di Situs Petirtaan Sumberbeji di Ngoro, Jombang, ditemukan pecahan porselen dari Dinasti Song. Namun, fragmen porselen dan uang kepeng dari Dinasti Yuan lebih dominan. Jadi,situs ini dari abad ke-13–14. Pada irisan stratigrafi tanahnya terdapat lapisan pasir cukup padat dengan isian krikil dan krakal. "Ini muncul hanya di dinding galian bagian selatan. Lapisan ini sampai ke lantai. Ketika menggali, kami seperti mengupas cor-coran lantai," ujar Wicaksono. Wicak sono mengajukan hipotesis bahwa Situs Sumberbeji bagian dari Situs Kedaton di Sugihwaras. Ia menduga , situs ini merupakan kawasan yang hampir mirip dengan kawasan Trowulan, ibu kota Majapahit. "Dalam catatan sejarah pernah terjadi perpindahan keraton. Hanya pada masa kapan, kenapa, dan bagaimana , butuh waktu untuk menjawab," kata Wicak sono . Di Situs Kedaton dan Bulurejo, Jombang, juga ditemukan lapisan pasir dan isian krakal. "Malah bongkah. Ini karena proses sungai, larutan banjir dari Kelud yang terbawa aliran sungai," kata Wicaksono. Di Situs Kedaton ditemukan pecahan porselen dari Dinasti Yuan dan Ming, fragmen tembikar kasar dan halus bergaya Majapahit, dan fragmen genteng dan ukel (hiasan pinggir atap rumah). Maka,Situs Kedaton dan Bulurejo diperkirakan kompleks situs permukiman atau kedaton Majapahit dari abad ke-13–14. Endapan lapisan tanah serupa juga terindikasi di wilayah selatan dari Trowulan, yakni Situs Kumitir, Tikus, dan Grogol. Situs Kumitir di Jatirejo, Mojokerto, belum lama ditemukan. Saat ditemukan, situs ini tampak tidak signifikan.Situs ini awalnya hanya 10 meter, setelah penggalian dilanjutkan menjadi sepanjang 21 meter. Peneliti mengaitkan temuan talud ( tembok panjang ) di Situs Kumitir dengan temuan yang sudah di data sejak 2017 hingga 2018. Mereka melakukan penggalian di situs ini pada akhir Oktober hingga awal November 2018 . Ada sepanjang 187 m eter struktur lurus yang tampak. Situs Kumitir dihubungkan dengan naskah Nagarakrtagama, Pararaton , dan kitab Wargasari. " Raja Majapahit melewati Kumitir sebagai sisi timur dari Kotaraja Majapahit. Kami simpulkan ada candi pendharmaan di Kumitir milik Mahisa Campaka masa Singhasari, kemudian pada masa Majapahit di Trowulan ini dikembangkan menjadi sisi timur Majapahit," kata Wicaksono. Situs Petirtaan Sumberbeji, Kedaton,dan Bulurejo,terpendam karena banjir lahar Kelud melalui sungai-sungai di sekitarnya, termasuk Sungai Konto. Sementara itu, Situs Kumitir terpendam oleh banjir lahar Arjuno yang diduga mengalir melalui Sungai Pikatan. "Karena sungai ini cukup dekat dengan Kumitir atau mungkin karena erupsi Gunung Welirang, karena gunung ini juga pernah erupsi besar sampai membelah," ujar Wicaksono. Yang terbaru adalah Situs Petirtaan Geneng di Brumbung, Kediri. Endapan vulkanik di situs itu jelas berasal dari letusan Gunung Kelud. Letaknya di Kepung, kecamatan terakhir yang paling dekat dengan aktivitas vulkanik dari Gunung Kelud. "Erupsi Gunung Kelud cukup hebat beberapa kali terjadi, salah satunya beberapa kali pada 1500-an. Mungkin bisa terjadi di tahun-tahun itu untuk Situs Geneng," kata Wicak sono . Amien Widodo menjelaskan keberadaan aliran Kali Brantas di sekitar permukiman membuat dampak kerusakan letusan Gunung Kelud semakin parah. "Lihat Kali Brantas, sungai besar dan panjang, alirannya deras. Jika ditambahi material gunung berapi ini bisa sangat merusak," ujar Amien. Untuk mengantisipasinya, pemukim membuat dawuhan , yakni tanggul disekitar Kali Brantas. Jika tidak, mereka akan hancur karena banjir. "Kerajaan yang ada di sepanjang sungai mestinya sudah melakukan upaya pengolahan sungai agar tidak merusak," ujar Amien. Letusan Gunung Kelud sebelum tahun 1920 dikenal dengan letusan lumpur atau banjir bandang. Sebelum tahun 1920 Gunung Kelud merupakan danau kawah. Pemerintah Hindia Belanda sampai membuat terowongan yang selesai pada 1924. Dengan terowongan itu, ketinggian air dapat dikurangi. "Sebelum itu kalau meletus dikenal dengan letusan lumpur atau banjir bandang," ujar Amien. "Sebelum meletus didahului banjir bandang. Peradaban masa lalu mereka berhadapan dengan hal-hal ini."
- Heydrich, Jagal Nazi Berhati Besi
DI mobil Mercedes 320 convertible hijau yang menggelinding dari rumahnya menuju markasnya di Kastil Praha, 27 Mei 1942 pukul 10.32, SS-Gruppenführer (setara jenderal) Reinhard Heydrich mengobrol santai dengan sopir cum pengawalnya, Oberscharführer (sersan mayor) Hans Klein. Namun tak lama usai melewati tikungan di Distrik Libeň, sang Reichsprotektor Bohemia dan Moravia (kini Rep. Ceko) itu terkejut. Seorang pemuda membidikkan senapan mesin ringan Sten ke arahnya. Seketika Heydrich panik. Untung dia bisa mengendalikan diri untuk kemudian mengambil pistol Luger dari pinggangnya. Lebih beruntung lagi, si pemuda itu gagal melepaskan tembakan lantaran Sten-nya macet. Tetapi hanya sampai di situ keberuntungan Heydrich. Saat ia tengah gencar membalas tembakan dan memerintahkan Klein mengejarnya, seorang pemuda lain melemparkan granat dari arah belakang dan meledak mengenai ban belakang mobil berplat SS 3 itu. Paru-paru, limpa, dan tulang rusuk Heydrich terluka oleh pecahan granat itu. Heydrich yang mengerang kesakitan tertatih-tatih mencoba keluar dari mobilnya untuk mengejar sang pelempar granat. Tapi tak sampai 10 langkah, Heydrich ambruk. Heydrich segera dilarikan ke Rumahsakit Bulovka oleh seorang wanita dan polisi di dekatnya. Mobil Mercedes convertible Heydrich yang hancur akibat percobaan pembunuhan (Foto: Bundesarchiv) Baca juga: Heinrich Himmler, Arsitek Genosida Nazi Mendengar kabar pahit itu, atasannya, Panglima Schutzstaffel (SS) Reichsführer Heinrich Himmler, sampai mengirimkan dokter pribadinya, Karl Gebhardt ke Praha. “Himmler juga sampai datang menjenguknya pada 2 Juni. Tetapi Heydrich jatuh koma pada 3 Juni dan tak pernah siuman lagi. Ia dinyatakan meninggal pada 4 Juni, di mana otopsi menyimpulkan ia meninggal karena infeksi,” ungkap Steven Lehrer dalam Wannsee House and the Holocaust. Kematian Heydrich “si arsitek Holocaust ” kemudian memicu kebrutalan pasukan Jerman-Nazi terhadap ribuan orang tak berdosa atas nama pembalasan. Antisemit Sejak Dini Reinhard Tristan Eugen Heydrich merupakan anak sulung dari tiga bersaudara pasangan Richard Bruno Heydrich dan Elisabeth Anna Maria Amalia Krantz, yang lahirkan pada 7 Maret 1904 di Kota Halle, Jerman. Ia berasal dari keluarga kaya Katolik-Protestan lantaran Bruno Heydrich merupakan salah satu komposter ternama di Jerman. Disingkap Fred Ramen dalam Reinhard Heydrich: Hangman of the Third Reich , mulanya Heydrich seorang bocah pemalu yang menyalurkan energinya lewat musik dan olahraga. Heydrich kecil menutupi rasa mindernya lantaran sering di- bully karena suaranya yang ‘cempreng’ dengan menekuni instrumen biola dan olahraga renang serta anggar. Baca juga: Anggar untuk Hitler Situasi Jerman pasca-Perang Dunia I menyeret Bruno untuk aktif politik di kubu nasionalis antisemit. Kedengkiannya pada Yahudi terpupuk gegara Bruno bertubi-tubi dihantam rumor bahwa dia keturunan Yahudi. “Ibunya menikah lagi setelah ayahnya (Karl Julius Reinhold Heydrich) meninggal dan ibunya memakai nama suami barunya, Suess, di mana di Jerman saat itu nama tersebut berbau Yahudi. Suami barunya itu bukan Yahudi, namun rumor itu membuatnya jauh dari kalangan kelas atas di Halle. Sungguh ironis bahwa orang-orang yang membenci Yahudi mempersekusi seseorang yang juga sangat membenci Yahudi,” tulis Ramen. Politik baru benar-benar merasuk ke diri Heydrich ketika Jerman diguncang Revolusi Jerman pada Februari 1919. Heydrich yang berusia 15 tahun merasa harus terlibat dengan menggabungkan diri ke laskar sukarela Freiwilliges Landesjägerkorps pimpinan Generalmajor Ludwig Maercker. Selepas masa konflik, Heydrich meninggalkan dunia musik untuk menseriusi politik di organisasi pemuda antisemit Deutschvölkischer Schutz- und Trutzbund pimpinan Albert Roth. Kolase foto masa kecil Heydrich (kiri) & saat jadi kadet Reichsmarine (AL Jerman) (Foto: Wikipedia) Namun belum lama berkecimpung di politik, Heydrich terpaksa harus menanggung nafkah keluarganya akibat sekolah musik yang didirikan ayahnya pailit pada 1921 menyusul depresi ekonomi. Demi gaji dan iming-iming tunjangan pensiun menggiurkan, Heydrich memutuskan masuk akademi Reichsmarine (Angkatan Laut Jerman) pada 1922. Cerdas dan disiplin sejak kecil, dalam kurun enam tahun ia mampu mencapai pangkat Oberleutnant zur See (letnan laut). Dengan memadukan paras tampannya, pangkat itu dipergunakan Heydrich untuk menjerat banyak wanita. Salah satu yang terjerat adalah Lina Mathilde von Osten, gadis dari keluarga aristokrat yang ia temui dalam sebuah pesta medio 1930. Baca juga: Perempuan-Perempuan dalam Pelukan Hitler Namun meski sudah punya Lina, Heydrich masih jelalatan dengan wanita lain. Ulah “playboy”-nya itu akhirnya membuatnya dipecat dari Reichsmarine pada April 1931 dengan pesangon 200 Reichsmarks (RM) per bulan selama dua tahun. “Banyaknya petualangan cinta membuatnya mendapat masalah dari atasannya ketika seorang ayah dari salah satu teman wanitanya, seorang direktur I.G. Farben dan teman Laksamana Erich Raeder (Panglima AL), komplain; tidak hanya si gadis hamil, namun saat disidang Heydrich juga berusaha melimpahkan kesalahan pada si gadis,” tulis Richard J. Evans dalam The Third Reich in Power. Penjagal di Bawah Ketiak Himmler Pemecatan tak mengurungkan niat Heydrich bertunangan dengan Lina. Gadis yang merupakan kader Partai Nazi sejak 1929 itu punya tempat tersendiri dalam hati Heydrich. Lina menularkan virus Naziisme dan membuat Heydrich menaruh minat terhadap Partai Nazi hingga masuk partainya Adolf Hitler itu pada 1 Juni 1931. Berbekal pengalaman militer di Reichsmarine sebagai perwira bagian sinyal, Heydrich bergabung ke Schutzstaffel (SS), sayap militer Nazi, enam pekan berselang sebagai perwira bagian informasi. Mengutip George C. Browder dalam Foundations of the Nazi Police State: The Formation of Sipo and SD, Heydrich melihat kesempatan untuk naik jabatan dengan sekejap kala mendengar desas-desus bahwa komandan SS, Himmler, akan membentuk sebuah badan intelijen baru di luar Reichswehr (angkatan bersenjata Jerman). “Jalan pintas” itu ia bangun memanfaatkan kenalan dekat tunangannya yang seorang petinggi Sturmabteilung (SA), Oberführer Baron Karl von Eberstein, ketika akan rapat dengan Himmler soal konsolidasi unit intel baru, Ic-Dienst. Baca juga: Joseph Goebbels, Setia Nazi Sampai Mati Heydrich (kiri/berdiri) & Himmler (duduk, kedua dari kanan) "duet maut" penguasa internal pemerintahan Jerman-Nazi (Foto: Bildagentur für Kunst, Kultur und Geschichte) Dengan kereta malam dari Hamburg, berangkatlah Eberstein membawa serta Heydrich menuju Munich untuk bertemu Himmler di markas Partai Nazi. Tanpa persiapan apapun, Heydrich bakal menjalani interview yang akan mengubah catatan sejarah hidupnya. “Himmler disebutkan bertanya tentang pengalamannya dalam kontra-intelijen dan Heydrich sebenarnya mengarang cerita tentang ini-itu. Himmler lalu memberinya waktu 20 menit untuk membuat kerangka organisasinya. Dengan mudah, Heydrich merancang semuanya mulai dari perlengkapan militernya, hingga jargonnya. Himmler terkesan dan merekrutnya saat itu juga,” tulis Browder. Kandidat-kandidat lain dari perwira kepolisian pun seketika itu disingkirkan Himmler. Heydrich mulai bekerja pada 10 Agustus 1931 di Munich dengan pangkat sturmbannführer (setara mayor). Seksi intel SS saat itu masih bernama Ic-Dienst dan anggotanya baru Heydrich seorang. Ia bertanggungjawab langsung pada Himmler. Baca juga: Selusin Jenderal yang Disingkirkan Hitler (Bagian I) Dalam kurun dua tahun, Heydrich banting-tulang untuk membuat Himmler terkesan. Dengan rapi dan cermat, ia rutin memberi laporan-laporan intelijen dan kontra-intelijen terkait manuver-manuver politik Partai Nazi. Tidak hanya jadi mata-mata di lingkaran luar, namun juga di internal partai. “Heydrich mengembangkan sebuah visi tentang Ic-Dienst sebagai sebuah instrumen pemantauan terhadap segenap kehidupan nasional Jerman, menjamin dominasi total partai, dan dia meyakinkan Himmler tentang visinya ini. Sebagai balasannya, pekerjaan Heydrich sangat diapresiasi Himmler yang menerima laporan-laporan tentang orang-orang yang berpotensi menjadi musuh di luar maupun di dalam partai,” tulis Adrian Weale dalam The SS: A New History. Pembantaian Yahudi dan tahanan politik di Polandia lewat instruksi Heydrich dan Himmler (Foto: nac.gov.pl/Repro "Believe & Destroy: Intellectuals in the SS War Machine" Heydrich pun jadi perwira intel kepercayaan Himmler untuk menjabat kepala unit-unit kepolisian yang diambilalih Himmler. Selain Kepolisian Munich, ada Gestapo (Polisi Rahasia) yang didirikan Hermann Goering. Himmler mempercayakan jabatan deputi kepala Gestapo kepada Heydrich pada 1934. Jadilah Himmler dan Heydrich sebagai duet paling berkuasa dalam internal pemerintahan. Ic-Dienst yang sejak 1932 bertransformasi menjadi Sicherheitdienst (SD), agensi intel saingan Abwehr (Intel Angkatan Bersenjata Jerman), juga jadi dinas yang dipegang Heydrich sebagai direkturnya dengan pangkat brigadeführer (mayor jenderal). Dalam operasi Malam Belati Panjang (30 Juni-2 Juli 1934), operasi pembersihan SA yang dilancarkan Hitler setahun setelah jadi kanselir, Heydrich berperan menyuplai informasi pada Hitler terkait siapa saja yang akan dilenyapkan agar kelanggengan jabatannya sebagai kanselir tak digembosi dari dalam. Baca juga: Selusin Jenderal yang Disingkirkan Hitler (Bagian II–Habis) Dua tahun pasca-aneksasi Jerman terhadap Austria, 12 Maret 1938, Heydrich mengambilalih kepemimpinan Komisi Kepolisian Kriminal Internasional –pendahulu Interpol– (ICPO) sehingga jabatannya merangkap deputi Himmler, kepala Kepolisian Jerman, dan direktur SD. Semakin berkuasanya Heydrich, semakin menyebar pula teror terhadap ras-ras inferior lewat berbagai institusi yang didirikannya. Tak hanya di Jerman dan Austria, namun juga di negeri-negeri yang lantas diduduki Jerman-Nazi. Di Polandia, Heydrich mendirikan cabang Gestapo, Zentralstelle IIP Polen, dan gugus tugas SS, Einsatzgruppen . Unit paramiliter Nazi itu kondang menggelar pengusiran, deportasi, hingga pembantaian massal lewat Operasi Tannenberg dan Intelligenzaktion (1939-1940). Sekira 100 ribu nyawa melayang atas perintah Heydrich lewat dua operasi itu. “Sejak 1941, sangat jelas bahwa Heydrich jadi salah satu motor utama penggerak kebijakan anti-Yahudi. Dia tak hanya mengontrol organisasi polisi, namun organisasi-organisasi lain yang dipercayakan oleh Himmler sebagai perantara antara dia dan Hitler untuk mencari dan mengimplementasikan ‘solusi akhir’,” tutur sejarawan Robert Gerwarth dalam Hitler’s Hangman: The Life of Heydrich . Lewat surat instruksi Reichsmarschall Hermann Goering, Heydrich menggelar Konferensi Wannsee untuk menentukan "Final Solution" (Foto: ihffilm.com/ghwk.de ) Di tahun itu dan tahun berikutnya, Heydrich dipercaya memegang jabatan direktur Reichssicherheitshauptamt (RSHA) atau Badan Keamanan Negara dan Reichsprotektor Bohemia dan Moravia. Pangkatnya dinaikkan menjadi gruppenführer (jenderal). Ia dianggap paling cocok untuk meredam sentimen anti-Jerman yang mulai tumbuh di Praha dan sekitarnya. “Ia dikenal dingin ketika menjalankan tugasnya sebagai motivator (pasukan SS), perencana dan organisator. Pernah satu ketika Hitler memujinya dengan sebutan ‘sosok berhati besi’,” ungkap Mario R. Dederichs dalam Heydrich: The Face of Evil. Baca juga: Hermann Goering, Sang Tiran Angkasa Nazi Jerman Namun, lama-kelamaan para prajuritnya merasa jengah membantai korban dengan penembakan massal. Mereka juga menganggap peluru lebih bernilai untuk kebutuhan perang dibanding untuk genosida. Tak mungkin mereka menghabisi ratusan ribu Yahudi yang tengah ditahan di kamp-kamp konsentrasi dengan metode itu lagi. Maka dibutuhkan solusi final untuk “pertanyaan (tentang) Yahudi” ini. Diungkapkan Christopher R. Browning dalam The Origins of the Final Solution: The Evolution of Nazi Jewish Policy, September 1939-March 1942 , perkara ini ditetapkan Reichsmarschall Hermann Goering dalam suratnya kepada Heydrich pada akhir Juli 1941. Intinya Goering memberi otoritas pada Heydrich untuk merancang solusi apapun guna mengatasi masalah Yahudi. “Rencana tentang solusi itu diresmikan di Konferensi Wannsee, 20 Januari 1942. Konferensi dipimpin langsung Heydrich dan dihadiri 15 pejabat yang mewakili segenap pemerintahan Jerman-Nazi. Dalam rencana itu, sekitar 11 juta Yahudi Eropa akan masuk ke dalam solusi final itu,” tulis Browning. Upacara pemakaman Heydrich (atas) & pembantaian serta penghancuran desa Lidice sebagai pembalasan atas kematian Heydrich (bawah) (Foto: Library of Congress/Bundesarchiv) Hasil dari Konferensi Wannsee itu diimplementasikan dengan pendirian kamar-kamar gas untuk melenyapkan Yahudi yang ada di ghetto-ghetto dan kamp-kamp konsentrasi. Sekira tiga juta Yahudi tewas oleh metode itu sampai perang usai. Heydrich tak pernah mengetahui hasil akhir kebijakan itu maupun Perang Dunia II karena keburu tewas ketika perang masih berkecamuk. Ia tutup usia beberapa hari setelah percobaan pembunuhan oleh dua patriot Ceko yang dilatih intelijen Inggris, Jan Kubiš dan Jozef Gabčík. Kematian Heydrich karena percobaan pembunuhan tak membuat Hitler heran mengingat Heydrich selalu nekat berperjalanan dengan mobil terbuka yang tak dilapisi baja dan tanpa pengawalan. “Tidak hanya pembunuh, pencuri pun punya kesempatan melihat gestur heroik dengan mobil terbuka, tanpa lapisan baja atau berjalan-jalan tanpa pengawalan dan itu tindakan bodoh. Mestinya orang yang tak tergantikan seperti Heydrich tak mengekspos dirinya dari bahaya semacam itu. Saya hanya bisa menyatakan hal ini sebagai kebodohan dan pikiran yang idiot,” kata Hitler ketus menanggapi kematian Heydrich, dikutip Callum MacDonald dalam The Killing of Reinhard Heydrich: The SS ‘Butcher of Prague’ . Kendati begitu, Hitler memerintahkan Himmler melancarkan aksi pembalasan atas kematian Heydrich. Sehari setelah Heydrich dimakamkan di Berlin pada 10 Juni 1942, pasukan SS dan Gestapo mengepung Desa Lidice dan Ležáky, 22 mil barat laut dari Kota Praha. Dua desa itu dicurigai Gestapo sebagai tempat persembunyian para pelaku. Total 1.300 laki-laki warga dua desa itu langsung dieksekusi, sementara 200 warga perempuan dikirim ke kamp konsentrasi. Dua desa itu pun hangus dibakar. Baca juga: Adik Goering Anti-Nazi dan Penyelamat Yahudi
- Dari Cara Mengetahui Waktu hingga Zona Waktu
Bagaimana manusia pada masa lampau mengetahui waktu? Untuk mengetahui waktu, manusia biasanya menggunakan matahari. Seperti dilakukan Ibnu al-Shatir, astronom Arab, pada abad ke-14. Dia memanfaatkan sinar matahari yang menimpa benda tegak pada sebuah bidang landai. Bidang itu terbagi atas 12 sudut. Masing-masing menunjukkan pergerakan waktu karena bayangan benda tegak itu akan bergerak sesuai pergeseran matahari. Tiap pergeseran bayangan satu sudut, Shatir menghitungnya satu jam. Orang mengenal alat ini sebagai jam matahari. Prinsip jam matahari telah dikenal sejak 3500 SM. Kala itu, orang-orang Mesir Kuno membangun sebuah obelisk berupa jam matahari. Dari sinilah, Shatir mengembangkan prinsip jam matahari. Tapi obelisk ini hanya menunjukkan waktu siang. Untuk menyiasatinya, mereka kemudian menggunakan pasir dan air sebagai media penunjuk waktu malam. Bagaimana perhitungan waktu menurut Suku Maya di Meksiko? Perhitungan waktu atau penanggalan yang dipercaya oleh Suku Maya berlandaskan pada perputaran Tanah Suci selama 260 hari, tahun matahari 365 hari, dan satu putaran 18.980 hari. Perputaran tersebut terdiri atas 52 tahun matahari atau 73 tahun suci. Suku Maya yakin bahwa sejarah berulang-ulang dalam daur yang mereka sebut “katun”. Setiap katun mengikuti daur sebelumnya dan berakhir pada hari yang sama dalam perputaran 18.980 hari dan pada hari itu mulailah katun baru. Sistem perhitunganwaktu Suku Maya ini lebih rumit dibandingkan sistem kabisat. Disebut-sebut tahun 2012 menurut perhitungan ini akan terjadi kiamat karena hari dalam waktu penghitungan Suku Maya ini berakhir. Mungkin artinya bukanlah kiamat, tapi tahun ini menjadi perputaran baru daur waktu dengan katun yang baru. Bagaimana cara orang bangun tepat waktu sebelum ditemukan jam alarm? Masyarakat Mesir kuno pada 245 SM telah menggunakan jam mekanik pertama di dunia dengan media air. Caranya air dialirkan ke dalam bejana yang bagian dasarnya dilubangi. Air ditampung wadah yang diberi tanda untuk menunjukkan tingkat perubahan ketinggian air sekaligus menunjukkan waktu. Teknik ini kemudian dikembangkan Tiongkok dengan menambahkan gong atau lonceng sebagai penanda waktunya. Penduduk asli Amerika hingga abad ke-20 punya cara unik: jam biologis. Sebelum tidur, mereka meminum air berlebihan. Hasrat buang air menyebabkan mereka bangun lebih awal. Sementara itu, di Eropa pada era Revolusi Industri, bos-bos pabrik mempekerjakan seseorang untuk mengetuk jendela mess dengan tongkat panjang atau penembak kacang. Cara ini bertujuan membangunkan buruh dan memastikan mereka tiba di pabrik tepat waktu. Bagaimana manusia zaman dulu menentukan arah mata angin? Seorang pangeran dari Tiongkok menghadiahkan sebuah kereta kepada utusan raja muda dari sebelah selatan negeri Tiongkok pada 1000 SM. Kereta itu dilengkapi boneka kayu, dengan magnet di telunjuknya, yang selalu menunjuk ke selatan. Dengan kompas kuno itu, raja muda tak tersesat meski berada di rimba raya. Kompas ini perlahan menggantikan cara menentukan arah dengan melihat matahari atau konstelasi bintang. Orang lalu berpikir menggunakan alat serupa di laut. Orang Arab menyempurnakannya untuk pelayaran pada abad ke-8. Pedoman ini melengkapi alat navigasi lain yang lebih dulu dikenal: peta. Penemuan ini tersebar ke Eropa. Salah satu orang Eropa yang mengembangkan kompas ini adalah Flavio Gioja. Mulanya orang di sana tak percaya dengan sifat magnet pada pedoman. Mereka lebih percaya magnet diisi kekuatan setan. Berapa kali Indonesia mengalami perubahan pembagian zona waktu? Sejak merdeka, Indonesia tercatat mengalami beberapa kali perubahan pembagian zona waktu. Mulanya pengaturan zona waktu masih mengikuti Jepang. Barulah pada 1947, kala Belanda kembali menduduki Indonesia, zona waktu Indonesia berubah. Belanda membagi Indonesia menjadi tiga zona waktu yang berselisih masing-masing enam, tujuh, dan delapan jam dengan Greenwich Meridian Time (GMT). Melalui Keputusan Presiden RI No. 152 Tahun 1950, Indonesia memiliki enam zona waktu dengan selisih 30 menit pada tiap zona waktu. Keputusan ini berubah lagi pada 1963. Indonesia kembali dibagi atas tiga zona waktu dengan selisih 60 menit pada tiap zona waktu. Pada 1987, Keputusan Presiden menyangkut zona waktu dikeluarkan. Namun tak ada perubahan pembagian zona waktu dalam aturan itu. Hanya beberapa wilayah yang ditukar ke dalam zona tertentu. Peraturan tersebut bertahan hingga sekarang .
- Setelah Siliwangi (Diisukan) Takluk
Soempena masih ingat peristiwa itu. Ketika dirinya baru saja akan berangkat memimpin satu seksi pasukan untuk menghajar iring-iringan konvoi militer Belanda di jalur Purwakarta-Karawang pada 23 Juli 1947, tetiba seorang petugas perhubungan dari brigade induk tergopoh-gopoh datang menemuinya. Dalam wajah berduka dia memberitahu Soempena untuk membatalkan pencegatan. “Itu perintah siapa?!” hardik Soempena. “Panglima Divisi barusan mengumumkan di radio: kita harus menghentikan perlawanan karena Belanda terlalu kuat buat kita!” jawab sang petugas. Begitu mendengar itu, sang komandan seksi tersebut langsung lemas. Baginya kabar itu sangat sulit dipercaya. Namun apa boleh buat sebagai bawahan dia harus menuruti perintah atasan tertingginya itu. Sementara itu, Panglima Divisi Siliwangi Kolonel A.H. Nasution sendiri saat itu tengah berkeliling Jawa Barat untuk mengkoordinasi pasukannya. Dari bagian intelijen, Nasution sudah mafhum bahwa Belanda akan mematahkan Perjanjian Linggarjati dengan melakukan agresi ke wilayah-wilayah Republik. Begitu tiba di wilayah Ciwidey, Nasution sangat terkejut ketika Komandan Batalyon 26 (Siluman Merah) Kapten Achmad Wiranatakusumah menyodorkan dua salinan radiogram mengatasnamakan Panglima Divisi Siliwangi. Isinya: perintah kepada Batalyon 26 dan Batalyon 22 untuk menyerah kepada Belanda karena sudah tidak ada gunanya lagi untuk bertempur. Sementara itu salinan radiogram satu lagi berisi perintah agar Siliwangi menangkapi semua anggota badan perjuangan dan kelaskaran terutama pimpinan mereka Mayor Jenderal Djokosujono. Mereka dianggap sebagai para pengkhianat dan pengacau perjanjian damai. “Saya jelaskan bahwa kawat-kawat itu palsu sama sekali, sudah terang (militer Belanda) telah menggunakan cara perang psikologis. Mereka menggunakan zender yang lebih kuat dari zender kita dengan tujuan untuk mengacaukan kita,” ungkap Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Jilid V: Agresi Militer Belanda I. Dalam kenyataannya, persoalan bukan hanya sekadar “lebih besar-nya zender milik militer Belanda dibanding milik TNI”. Menurut buku Siliwangi dari Masa ke Masa karya Sejarah Kodam Siliwangi, adanya perintah palsu itu juga karena telah bocornya sandi-sandi rahasia Siliwangi ke intelijen militer Belanda. Isu takluknya Siliwangi, ternyata “dimakan” juga oleh Markas Besar Tentara (MBT) di Yogyakarta. Menurut Nasution, isu bahwa “Panglima Divisi Siliwangi telah kapitulasi” beredar bukan hanya di kalangan para pejabat sipil RI dan para jenderal di MBT saja, namun juga sudah sampai ke pergunjingan isteri-isteri para menteri. “Mereka bilang saya telah berkhianat dan saat itu tengah ditahan dalam sel di Markas Besar,” kenang Nasution. Sejarawan Robert B. Cribb menyebut isu kekalahan Siliwangi yang selalu dibangga-banggakan sebagai “contoh tentara Republik yang modern”, harus diakui sama sekali bukan berita yang enak didengar oleh kalangan TNI di Jawa Tengah. “Berita kekalahan itu menjadikan mereka semakin yakin bahwa sejatinya yang lebih penting untuk menghadapi Belanda adalah mental berperang,” ungkap Cribb dalam Gangsters and Revolutionaries: The Jakarta People's Militia and the Indonesian Revolution 1945-1949 . Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman (yang langsung percaya akan berita takluknya Siliwangi) langsung bergerak cepat. Dia mengangkat Mayor Jenderal Soedibjo sebagai Komandan Pertempuran Jawa Barat. Nasution sendiri merasa maklum akan tindakan atasannya itu. “Di tangan Presiden, Menteri dan Panglima Besar (memang sebelumnya) sudah bertimbun-timbun pula laporan yang menyebutkan bahwa saya adalah agen NICA,” ungkapnya. Guna membangkitkan kembali semangat perlawanan, pada 2 Agustus 1947, Soedirman mengucapkan suatu pidato yang ditujukan kepada rakyat dan “sisa-sisa” TNI di Jawa Barat. “Ambillah insiatif dan hancurkan musuh yang sangat ganas itu! Jangan bimbang! Percayalah kepada keadilan Tuhan dan kekuatan kita sendiri. Lebih baik negeri ini tenggelam dalam lautan api, daripada dijajah kembali!” Diputuskan pula oleh Soedirman bahwa sebagai pendukung, kekuatan pro Republik di Jawa Barat akan dibantu oleh pasukan-pasukan resmi dari Jawa Tengah. Sejarah mencatat, baik Soedibjo maupun pasukan-pasukan itu tak pernah tiba di Jawa Barat. Yang terjadi kemudian, secara “diam-diam” Soedirman mengirimkan para eks gerilyawan Lasjkar Rakjat (LR) pimpinan Sutan Akbar untuk kembali ke Jawa Barat. Mereka ditugaskan untuk membentuk unit baru bernama Divisi Gerilya Bamboe Runtjing sebagai pengganti Divisi Siliwangi. Seiring kesibukan di Yogyakarta, Nasution sendiri cepat mengkonsolidasikan kembali kekuatan divisi-nya. Rupanya para komandan lapangan di seluruh Jawa Barat masih menaruh kepercayaan yang tinggi kepada eks tentara KNIL itu. Sementara itu, tujuan utama lain dari Operasi Produk yakni menghancurkan kekuatan TNI sama sekali tak terpenuhi. Alih-alih mencapai hasil maksimal, kekuatan TNI secara kilat malah mulai berhasil memukul balik posisi militer Belanda. Seorang Komandan Batalyon militer Belanda bernama Letnan Kolonel J. Flink dari Divisi C mengakui situasi itu. Sebulan lebih setelah Operasi Produk, memang pasukannya bisa mempertahankan kondisi kemanan. Namun mulai 31 Agustus 1947 keadaan berubah. “Batalyon saya mulai mendapat serangan-serangan gencar dan sistematis. Akibatnya, kami tidak hanya mengalami kekalahan demi kekalahan tapi juga meningkatnya kerugian personil di atas tingkat yang normal,” katanya seperti dikutip Himawan Soetanto dalam Yogyakarta 19 Desember 1948 . Apa yang dikatakan oleh Flink memang bukan isapan jempol semata. Sejak kota-kota besar di Jawa dan Sumatera dikuasai oleh militer Belanda, praktis kedudukan para serdadu Belanda terkunci. Jangankan melakukan pembersihan secara total, untuk berpindah dari pos satu ke pos lainnya, mereka harus melewati penghadangan-penghadangan maut yang tak jarang menimbulkan kerugian besar. “Otomatis mereka hanya bisa menunggu. Insiatif serangan justru jadi berpindah ke tangan kita,” ungkap Nasution. Lantas bagaimana dengan Divisi Gerilja Bamboe Runtjing? Alih-alih menjadi mitra Siliwangi dalam menghadapi militer Belanda, yang ada konflik lama di antara mereka malah semakin terpupuk. Harapan Sutan Akbar sendiri yang memimpikan para eks LR akan memimpin revolusi di barat Jawa sama sekali tak terwujud.
- Ketika Orang Jerman Dibuat Kagum Orang Indonesia
Ketika memulai tugasnya sebagai perwakilan perusahaan telekomunikasi Jerman Telefunken di Indonesia pada akhir 1963, Horst Henry Geerken kaget lantaran menemukan banyak hal baru. Udara panas dan bau rokok kretek di hampir tiap tempat yang disinggahinya amat mengganggunya. Namun, hal yang paling sulit dipahaminya adalah kebiasaan “ngaret”, istilah untuk menamakan sikap tidak tepat waktu, orang Indonesia. Bukan perkara mudah baginya untuk bisa menyesuaikan diri dengan kultur tersebut. “Di mata saya, jam karet melambangkan ketidakpedulian terbesar sehingga pada awalnya, saya sulit mengerti karakter orang Indonesia yang satu ini. Jam karet adalah idealisme orang Indonesia. Bagi kami, hal ini membuat pekerjaan jauh lebih sulit dan makan waktu. Salah satu aspek positifnya adalah kelenturan di mana beberapa masalah dapat diatasi dengan lebih mudah dibandingkan di negara-negara lain,” ujarnya dalam memoar berjudul A Magic Gecko: Peran CIA di Balik Jatuhnya Soekarno . Namun, Geerken akhirnya bisa beradaptasi dan mengatasi semua kendala itu. Dari 18 tahun masa tinggalnya di Indonesia untuk mengerjakan beragam proyek pemerintah Indonesia, Geerken berubah menjadi pengagum Indonesia. Dia kagum pada kekayaan alam Indonesia, pada tradisi-budayanya yang amat beragam, dan senang pada orang Indonesia yang umumnya ramah, sopan, setia, dan berselera humor tinggi. “Di mana-mana di negara kepulauan ini, baik di kota besar maupun kota kecil, kita selalu berjumpa dengan orang-orang yang selalu punya bahan tertawaan. Sulit mencari orang Indonesia yang tidak punya selera humor,” ujarnya. Humor berkesan didapatnya ketika berkenalan dengan Ir. Gunung Marpaung, kepala penerbangan sipil di Jakarta, saat mengerjakan proyek bandara internasional Tuban (kini Bandara Internasional Ngurah Rai) di Bali pada awal 1964. Pria berdarah Batak itu memperkenalkan dirinya berdarah Jerman meski berkulit gelap dan postur tubuhnya seperti orang Melayu kebanyakan. Pernyataan itu mengejutkan Geerken yang jelas tak paham arah omongan Marpaung sebagai banyolan “gaya Medan”. Dia baru paham ketika Marpaung menjelaskan lebih lanjut. “Kakek saya makan misionaris Jerman,” kata Marpaung, dikutip Geerken. Kesan baik yang didapat Geerken juga datang dari tingginya penguasaan orang-orang Indonesia pada pekerjaan dan kreativitasnya. Itu antara lain dilihatnya dari seorang pembantu di rumahnya yang bertugas sebagai koki. Meski tak pernah membaca resep, pembantu itu hapal begitu banyak cara memproses masakan dan cepat menguasai ketika diajarkan menu baru. Kemampuan para dukun mengobati juga amat mengagumkan Geerken, yang antara lain didapatnya dari cerita seorang dokter di Kedubes Jerman yang mengalami kecelakaan mobil. Luka-luka sang dokter sembuh begitu diobati seorang dukun atas saran kawannya yang Indonesia. “Setelah pulang, dokter itu bercerita panjang lebar tentang pengobatan ajaib ini. Luka itu tak kelihatan lagi 24 jam kemudian. Dia bisa meneruskan perjalanannya tanpa kesulitan. Katanya, hal ini mustahil dengan pengobatan Barat yang ortodoks,” ujar Geerken. Kreativitas orang Indonesia amat dikagumi Geerken. Yang paling berkesan adalah ketika dia bersama Sudjono, supir Geerken, ke Bali menggunakan mobil. Di tengah perjalanan, tangki mobil mereka bocor setelah menghantam batu besar. Alih-alih bingung, Sudjono bersikap tenang sambil berkata “tidak apa-apa” dan turun dari mobil. Sudjono lalu mengambil sebuah pisang dari pohon yang banyak tumbuh di pinggir jalan. Pisang tersebut lalu diremasnya berbarengan dengan sepotong sabun sehingga bentuknya berubah menjadi seperti permen karet. Adonan itulah yang digunakan Sudjono untuk menambal tangki bahan bakar mobil. Hasilnya, ajaib, tangki tak bocor lagi bukan hanya bertahan sampai bengkel terdekat namun hingga mencapai Bali dan kembali lagi ke Jakarta. “Orang Indonesia memang genius dalam soal improvisasi. Saya terus saja terkaget-kaget dengan keahlian dan kemampuan mereka mengatasi masalah yang paling sulit dengan cara yang paling sederhana,” kata Geerken.
- Romantika Cinta Gus Dur dan Nuriyah
Sejak remaja Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tidak pernah lepas dari buku. Dari sekian waktu yang dijalani, dia lebih memilih menghabiskan untuk membaca. Itulah yang membuat Gus Dur, meski sudah berusia 20-an, belum pernah berkencan, apalagi mempunyai pacar. Fokusnya teralihkan oleh alam pikir yang liar, hasil kebebasan membaca beragam buku. Ditambah dia pun "menggilai" sepakbola dan film. Gus Dur dikenal sebagai pria serius, tapi pemalu. Melihat sifatnya itu, K.H. Fatah, paman Gus Dur merasa khawatir. Apalagi keponakannya itu telah mendapat tawaran kuliah di Kairo, Mesir. Makin jauh saja dia dengan romantika percintaan yang seharusnya dirasakan oleh remaja seusianya. Sang paman menganjurkan agar Gus Dur mencari istri terlebih dahulu sebelum berangkat ke Kairo. “Soalnya, kalau menunggu pulang dari luar negeri, kamu hanya akan mendapat wanita tua dan cerewet,” ujar K.H. Fatah kepada Gus Dur seperti ditulis M. Hamid dalam Gus Gerr: Bapak Pluralisme dan Guru Bangsa . Gus Dur cukup tertegun dengan ucapan sang paman. Rupanya dia juga khawatir jika perkataan itu menjadi kenyataan. Untungnya K.H. Fatah tidak cuma memberi saran saja. Sejak awal dia memang berniat mencarikan calon buat keponakannya. Lalu disodorkan putri seorang pedagang terkenal di Jombang, H. Abdullah Syukur, bernama Sinta Nuriyah. Gus Dur tidak menolak. Sayangnya, Nuriyah tidak langsung menerima Gus Dur. Ada keraguan dalam diri si gadis tentang calon pendamping hidupnya itu. Gus Dur pun mau tidak mau terbang ke Kairo masih dengan status lajangannya. Kepada Greg Barton, Gus Dur mengenang jika selama menghabiskan tahun-tahun di Kairo dia terus berkorespondensi dengan Nuriyah. Surat yang datang secara teratur membuktikan bahwa Gus Dur tidak benar-benar ditolak. Dalam Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of KH. Abdurrahman Wahid , Barton menyebut kalau keduanya mulai yakin satu sama lain menjelang tahun 1966. Bahkan demi meyakinkan dirinya, Nuriyah sempat pergi ke “tukang ramal”. Dia ingin memastikan jika pemuda yang dipilihnya itu benar-benar tepat untuknya. “Jangan mencari-cari lagi. Yang sekarang ini akan menjadi teman hidup Anda,” ujar Nuriyah, menirukan perkataan si “tukang ramal”, kepada Barton. Meski begitu, Nuriyah masih belum sepenuhnya yakin. Gus Dur sebenarnya bukanlah satu-satunya pemuda yang tertarik kepadanya. Banyak pemuda lain yang menaruh hati dan bahkan berusaha meminangnya. Tetapi pribadi yang halus, serta pikiran yang tajam, sebagaimana terlihat dari surat-suratnya, menjadi Gus Dur memiliki nilai lebih di mata Nuriyah. Dan dia menyukai sisi Gus Dur tersebut. Pertengahan tahun 1966, seperti biasa Gus Dur mengirimi Nuriyah sepucuk surat. Namun isi surat kali ini amat berbeda dengan surat-surat sebelumnya. Gus Dur mencurahkan segenap perasaan sedih karena kegagalan studinya di Mesir. Mengungkapkan rasa putus asa, dan segala hal yang telah dialaminya di negeri itu. “Mengapa orang harus gagal dalam segala hal? Anda boleh gagal dalam studi, tetapi paling tidak Anda berhasil dalam kisah cinta,” kata Nuriyah. Surat balasan Nuriyah menjadi obat bagi Gus Dur. Kesedihannya berubah menjadi kebahagiaan. Tanpa menunggu Gus Dur segera menulis surat kepada ibunya di Jombang untuk meminang Nuriyah. Pernikahan Unik Tahun 1968, Nuriyah diterima di Fakultas Syari'ah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Sebelum memulai studi dan mondok di Kota Pelajar itu, orang tua Nuriyah memutuskan agar putrinya melangsungkan pernikahan terlebih dahulu dengan Gus Dur. Namun ada sedikit kendala. Gus Dur saat itu belum pulang ke tanah air. Dia baru setengah jalan menempuh studi di Baghdad, Irak. Setelah berembuk, permasalahan jarak itu akhirnya dapat dipecahkan. Kedua keluarga pun sepakat melangsungkan pernikahan bulan September (sumber lain menyebut Juli) tahun itu juga. Lalu bagaimana dengan Gus Dur yang terpaut jarak lebih dari 12.000 kilometer dari Indonesia? Di sinilah keunikan pernikahannya. “Pemecahan masalah ini malah menimbulkan spekulasi yang tidak-tidak bagi mereka yang tidak tahu apa rencana ini sebenarnya,” ungkap Barton. Gus Dur tidak bisa meninggalkan studinya. Dia juga tidak bisa seenaknya pulang ke tanah air. Sebab tidak bisa hadir langsung sebagai mempelai pria, sosok Gus Dur diwakilkan oleh Kiai Bisri Syansuri, kakeknya. Para tamu mendadak heboh ketika melihat seorang kiai berusia 80 tahun bersanding di pelaminan dengan seorang pengantin perempuan belia. “Walaupun secara teknis Gus Dur dan Nuriyah telah menikah, mereka menganggap pernikahan itu tak lebih daripada sekedar pertunangan. Mereka sepakat bahwa mereka akan hidup bersama hanya setelah keduanya menyelesaikan studi mereka masing-masing,” lanjut Barton. Pada 1971, setelah gagal melanjutkan studi di Eropa, Gus Dur pulang ke Jawa. Pasangan yang selama tiga tahun terakhir menjalani hubungan jarak jauh itu pun akhirnya bertemu. September 1971 mereka mengadakan resepsi pernikahan dan memulai hidup berumah tangga. Nuriyah pun kerap menemani Gus Dur dalam banyak kegiatan, seperti berkunjung secara teratur ke Jombang.
- Ekspedisi Awal ke Pedalaman Papua
Potensi alam Indonesia memang tak ada habisnya. Dengan luas daratan hampir 2 juta km² dan lautan lebih dari 3 juta km², ditambah keberadaan 17 ribu pulau, masih banyak tempat di Indonesia yang tidak terdokumentasi dengan baik. Bahkan di Papua, sebagai pulau terbesar di Indonesia, para peneliti kerap menemukan jenis flora-fauna baru. Artinya potensi alam di tanah Papua sangat terbuka untuk dieksplorasi. Ahmad Yunus dalam Meraba Indonesia: Ekspedisi Gila Keliling Nusantara , mencatat bahwa ekspedisi alam di tanah Papua dilakukan sejak abad ke-19. Saat itu eksplorasi dilakukan oleh tiga bangsa Eropa: Belanda, Inggris, dan Jerman. Belanda lebih banyak menjelajah wilayah sebelah barat sekitar tahun 1848; Jerman menguasai daratan sebelah utara; sementara Inggris di sebelah selatan. Kepentingan Belanda lebih politis ketimbang dua negara lain. Sebagai pemilik Hindia Belanda, aparat Raja Willem II itu melakukan ekspedisi di Papua demi kepentingan kerajaannya. Selama pertengahan abad ke-19, Belanda mengumpulkan banyak informasi terkait kondisi alam di pulau terbesar ke-2 di dunia tersebut. Pada masa itu juga naturalis besar Inggris, Alfred Russel Wallace, berhasil menjelajahi sebagian hutan Papua. Dia meneliti berbagai jenis burung, kupu-kupu, dan hewan lain sepanjang Juni-September 1860. “Sekitar seminggu saya pergi ke gunung mengumpulkan sampel, dan kembali untuk mempersiapkan perjalanan ke Papua. Saya pikir saya akan tinggal di tempat ini dua atau tiga tahun, karena ini adalah pusat dari daerah yang paling menarik dan hampir tidak dikenal,” tulis Wallace dalam Alfred Russel Wallace: Letters and Reminiscence Vol 1 . Pada 1909, tim ekspedisi dari Inggris memasuki wilayah selatan Carstenz. Menurut Anton Sujarwo dalam Wajah Maut Mountaineering Indonesia: Jejak Pendakian Gunung Nusantara , daerah yang dimasuki para ahli burung itu dipenuhi oleh rawa-rawa mematikan. Selama ekspedisi, setidaknya ada 16 orang anggota yang tewas dan lebih banyak yang jatuh sakit. Ekspedisi itu pun dianggap sebagai kegagalan. Pada 1912, Inggris kembali mengirim tim penjelajah, beranggotakan 200 orang lebih. “Tidak ada catatan terperinci mengenai sejauh mana keberhasilan ekspedisi ini mendaki Puncak Carstenz, namun yang jelas tiga orang anggota ekspedisi tewas dalam perjalanan ini,” terang Anton. Sekira tahun 1930-an, giliran Amerika Serikat yang mengirim ekspedisi besar ke tanah Papua. Penjelajahan para naturalis Negeri Paman Sam itu, kata Yunus, merupakan bagian dari penelitian ekologi mendalam yang dilakukan tim American Museum of Natural History, New York untuk mengungkap kekayaan flora-fauna di Papua, melengkapi laporan perjalanan para petualang Eropa sejak abad ke-19. “Mereka melakukan peneltian hingga Pegunungan Jayawijaya. Dari lembaga inilah kemudian lahir para peneliti yang ulung tentang burung-burung Papua di dunia,” terangnya. Dijelaskan Bruce Beehler, dkk dalam Ekologi Papua , perjalanan para ilmuwan AS itu dibiayai penuh oleh pewaris Standard Oil, Richard Archbold. Ekspedisinya pun dikenal sebagai Ekspedisi Archbold. Dia diketahui menaruh minat cukup besar terhadap bidang ekosistem dan flora-fauna. Sebagai seorang pakar mamalia, Richard memimpin langsung ekplorasi, yang disebut-sebut sebagai terbesar, di tanah Papua. AS melakukan tiga kali ekspedisi besar: Ekspedisi Archbold I (Maret 1933- Maret 1934), Ekspedisi Archbold II (Februari 1936- Maret 1937), dan Ekspedisi Archbold III (April 1938- Mei 1939). Tujuannya adalah meliput transek berdasarkan ketinggian di berbagai wilayah berbeda. Richard membawa serta kolektor dan ilmuwan berpengalaman yang ahli di bidang eksplorasi alam. Tim Archbold mencoba memetakan kondisi alam, serta keberadaan flora-fauna di Papua. Pada Ekspedisi Archbold III, tim AS bekerja sama dengan Belanda. Mereka mengirim pakar zoologi, pakar kehutanan dan botani, serta pakar entomologi. Ekspedisi Archbold III fokus menjelajah jajaran Pegunungan Nassau, mulai dari dataran tingi yang saat ini disebut sebagai Gunung Trikora sampai ke Dataran Plain. Sebagian besar rute perjalanan dilalui dengan pesawat amfibi baru, di samping perahu dan jalan darat. “Ekspedisi ini mencerminkan kebanggaan Belanda dan juga kondisi ekonomi yang membaik di Hindia Belanda,” tulis Beehler, dkk. Banyak hal ditemukan Richard dan tim dalam ekspedisi ketiganya itu. Satu di antaranya sebuah lembah yang dikelilingi pegunungan tinggi, yang oleh tim Richard dinamai “Grand Valley” atau “Lembah Baliem” dalam bahasa setempat. Dataran itu dihuni oleh suku Dani, penduduk asli Papua. Dicatat oleh Beehler, para penjelajah yang datang ke lembah Baliem pernah mengadakan kontak dengan orang-orang Dani. Ekspedisi alam di tanah Papua terus berlanjut setelah berakhirnya tiga ekspedisi Archbold. Mayoritas dipelopori oleh Kerajaan Belanda. Meski sempat berhenti akibat pecahnya perang, dan situasi kemerdekaan di Indonesia, beberapa eksepdisi masih tetap dilakukan setelah 1950-an. Bahkan misionaris dari Eropa sempat tinggal di pedalaman Papua untuk misi agama, sekaligus eksplorasi alam.
- Utusan Presiden RI Dikerjai Kala Berupaya Ambil Hati Pemimpin PRRI
Ketika mengunjungi pamannya, Bung Hatta, pada awal 1958, Hasjim Ning mendapat reaksi tak biasa dari Bung Hatta yang berpembawaan tenang. Bung Hatta naik pitam karena diberitahu bahwa Kolonel Ahmad Husein ingin memberontak. “Apa A. Husein sudah gila, mau berontak? Apa ia tidak tahu bahwa anak buahnya yang sudah rata-rata berusia 30 tahun itu tidak lagi seampuh pada waktu berusia 20 tahun? Apalagi mereka itu sudah berkeluarga semua,” kata Bung Hatta, dikutip Hasjim dalam otobiografinya Pasang Surut Pengusaha Pejuang . Apa yang dilakukan Husein merupakan respon lebih lanjut para perwira daerah terhadap jawaban yang diberikan pemerintah pusat tentang permintaan otonomi lebih luas dan pengembalian dwitunggal Sukarno-Hatta. “Pada tanggal 10 Februari 1958 mereka mengeluarkan sebuah ultimatum dari Padang yang menuntut supaya kabinet Djuanda mengundurkan diri dalam tempo lima hari, dan supaya dibentuk kabinet baru oleh Hatta dan Sultan Yogya. Jika tuntutan itu tidak dipenuhi, mereka akan membentuk pemerintah tandingan di Sumatera,” tulis Ulf Sundhaussen dalam Politik Militer Indonesia 1945-1967: Menuju Dwi Fungsi ABRI . Tuntutan itu dijawab PM Djuanda-KSAD Nasution dengan memecat para perwira daerah yang membangkang. “Sikap yang diambil pemerintah pusat itu memaksa kaum pembangkang untuk melaksanakan ancaman mereka. Pada tanggal 15 Februari di Padang dibentuk Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dengan Sjafruddin Prawiranegara sebagai perdana menteri,” sambung Sundhaussen. Rumitnya masalah dan cara penanganan yang mesti diambil itulah isi obrolan Bung Hatta dan Hasjim. Di tengah obrolan itulah Hasjim dipanggil Presiden Sukarno untuk makan malam di Istana Bogor. Hasjim lalu diberi tugas. “Hasjim, temui Husein ke Padang. Katakan kepadanya bahwa aku mau bicara dengan dia di sini. Aku jamin tidak akan terjadi apa-apa atas dirinya. Takkan seorang pun yang boleh dan berani melakukan penangkapan atasnya. Karena dia adalah anakku. Katakan juga kepadanya, kalau pemerintah dan angkatan perang bertekad melakukan tindakan militer, akan sulit bagiku untuk mencegahnya. Ini suatu dilema bagiku. Katakan begitu,” kata Presiden Sukarno memberi perintah sebagaimana dikutip Hasjim. Hasjim tak bisa menolaknya meski tugas itu amat berat. Meski yang akan ditemuinya sesama orang Minang dan dia punya reputasi bagus di sana sekaligus dikenal sebagai keponakan Bung Hatta, Hasjim masih dibayangi kegagalan tugas serupa sebelumnya. Terlebih, utusan-utusan yang berulangkali dikirim Jakarta untuk bernegosiasi dengan A. Husein selalu gagal. Eni Karim, utusan resmi pemerintah pusat; Mr. Hardi, utusan PM Djuanda; Bachtar Lubis, kawan Hasjim yang diutus KSAD Nasution; Mr. Nazir Pamontjak; dan Mr. Zairin Zain merupakan sederet utusan Jakarta yang gagal itu. Maka sebelum berangkat ke Padang, Hasjim kembali menemui Bung Hatta untuk meminta petunjuk. Penjelasan Bung Hatta justru membuat nyalinya ciut. “Aku katakan, Hasjim tidak akan berhasil, karena Husein sedang merasa dirinya di atas angin. Ia pikir rakyat Sumatera Barat mendukungnya. Sebenarnya tidak. Rakyat Sumatera Barat menghendaki daerah otonomi yang lebih luas. Kalau Sukarno mau membicarakan otonomi itu, Husein tidak berarti apa-apa lagi. Karena ia memang tidak berarti apa-apa bagi rakyat,” kata Bung Hatta. Kendati mengkritik cara penyelesaian Sukarno, Hatta tetap menyalahkan Husein. “Tindakan Husein itu sama dengan putsch militer. Itu sangat berbahaya bagi negara dan demokrasi. Penyelesaiannya mesti penyelesaian politik, bukan militer,” sambung Hatta. Hatta sendiri sudah berupaya ikut menyelesaikan persoalan itu dengan mengutus Baharudin Datuk Bagindo dan Bujung Djalil. Keduanya gagal. “Namun,” sambung Bung Hatta, “tidak ada salahnya kalau Hasjim mencoba. Hasjim harus tahu, aku orang partikelir. Beda dengan Sukarno, yang mengutus Hasjim. Karena ia presiden. Kalau Hasjim gagal, A. Husein telah betul-betul menentang pemerintah menurut konstitusi.” Hasjim akhirnya berangkat ke Padang. Di Bandara Kemyoran, dia ketemu Direktur BI Mr. Lukman Hakim. Hasjim dititipi pesan untuk Sjafruddin Prawiranegara yang jabatan resminya presiden Bank Indonesia. “Bung Hasjim, temui Pak Sjafruddin. Katakan kepada beliau, pergilah ke mana saja dalam rangka cuti atas tanggungan Bank Indonesia,” kata Lukman pada Hasjim. Tiba di Padang, Hasjim langsung mencoba menemui Husein namun gagal. Kata orang-orang yang ditemuinya, Husein berada di Bukittinggi. Maka Hasjim langsung menemui Wowo, perwakilan dari Djakarta Motor Company, perusahaan otomotif milik Hasjim, untuk diantar ke Bukittinggi. Hasjim dan Wowo berangkat selepas magrib diantar seorang driver . Dalam keadaan hujan lebat di daerah menjelang Kayutanam, Wowo menghentikan bus dari lawan arah untuk menanyai keberadaan Husein. “Sopir mengulangi pertanyaan itu kepada penumpang. Aku mendengar penumpang berteriak mengatakan bahwa A. Husein tidak ada di Bukittinggi,” kata Hasjim mengisahkan kelakuan supirnya. “Aku sudah mulai curiga pada Wowo. Dahulu ia seorang perwira, kini ia seorang pengusaha. Kok ia menanyakan A. Husein kepada orang banyak. Seolah-olah ia tidak memahami sekuriti militer lagi.” Kecurigaan Hasjim bertambah ketika tiba-tiba mobil yang ditumpanginya mogok dalam perjalanan setelahnya. Hasjim menganggap janggal tindakan Wowo yang, sebagai orang paham mesin, langsung mengatakan perjalanan tak bisa dilanjutkan alih-alih mengecek mesin mobil terlebih dulu. Lantaran dongkol, Hasjim menyerahkan perjalanan selanjutnya kepada Wowo yang kemudian memilih putar arah ke Padang. Setelah keduanya basah kuyup mendorong mobil agar mengarah ke Padang, perjalanan dilanjutkan dengan mobil bergerak di jalan menurun dalam kondisi mesin mati. Atas perintah Hasjim, supir memasukkan persneling ke gigi empat dan mesin pun hidup. Namun, mesin mobil hanya hidup sampai Lubuk Buaya. Kali ini, mobil mogok karena kehabisan bensin. “Aku bertambah dongkol. Masa untuk perjalanan jauh, Wowo tidak menyuruh tangki mobilnya diisi penuh,” kata Hasjim. Hasjim dan Wowo akhirnya menyewa bendi untuk mencapai Padang. Mobil dan supir mereka tinggalkan di tempat. Setelah itu Hasjim tak pernah mau ditemui Wowo meski Wowo dua kali berupaya menemuinya dengan mendatangi hotel. Hasjim berpaling kepada Ketua IPKI –partai politik yang Hasjim ikut dirikan bersama AH Nasution– Padang Mustafa Kamal untuk upayanya menemui Husein. Namun alih-alih membantu, Mustafa justru menasihati Hasjim. “Percuma saja menemui A. Husein. Bung bisa ditangkap dan dikenai tahanan rumah seperti Bujung Djalil yang diutus Bung Hatta baru-baru ini,” kata Mustafa, dikutip Hasjim. Atas saran Mustafa agar segera kembali ke Jakarta sebelum hari ultimatum Husein tiba, Hasjim akhirnya kembali ke Jakarta tanpa bisa menemui Husein. Sempat tanpa sengaja bertemu Sjafruddin Prawiranegara dan menyampaikan pesan dari Lukman Hakim, Hasjim menumpang pesawat Garuda Indonesia untuk kembali esoknya. “Aku pikir, nasihatnya itu benar juga. Ternyata, pada hari keberangkatanku itu A. Husein dan kawan-kawannya mengumumkan pembentukan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia. Jadi, aku benar-benar berangkat dengan pesawat terakhir,” kata Hasjim yang akhirnya membenarkan prediksi Bung Hatta sebelum berangkat.
- Sulitnya Menghadapi Wabah
KASUS penularan virus korona di Indonesia terus naik. Per Juli 2020, jumlah kasus di Indonesia sudah melampaui China. Syahrizal Syarif, ahli epidemiologi Universitas Indonesia, menilai tingginya kasus baru dikarenakan pemerintah tidak serius dalam menangani wabah dengan melonggarkan pembatasan wilayah di saat kondisi belum terkendali. "Harus ada langkah ekstrem dan berani dalam situasi yang sangat longgar saat ini," kata Syahrizal seperti dikabarkan Tempo . Syahrizal juga menilai pemerintah menganggap enteng pandemi yang seolah akan berakhir seiring waktu. Saran dari para ahli kesehatan dan wabah seperti karantina wilayah, penerapan protokol kesehatan, pemeriksaan, dan pelacakan tidak dijalankan secara serius. Sikap pemerintah tersebut juga menyebabkan kelengahan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan pencegahan covid. Beberapa bahkan mengaggap pandemi ini bukanlah situasi genting atau tidak separah yang diberitakan. Kondisi serupa juga terjadi dalam sejarah wabah yang terjadi di Indonesia. Kala wabah tifus menyerang Jawa, pemerintah kolonial tidak sepenuhnya mendengarkan saran dari ahli kesehatan. Gubernur Jenderal J.J. Rochussen mulanya meminta nasihat Kepala Dinas Kesehatan Koloni dokter Willem Bosch, 1847. Pada 13 April 1847, giliran Sekretaris Jenderal C. Visscher meminta Bosch memberi usulan langkah kesehatan yang bisa diambil pemerintah kolonial untuk menangani wabah. Bosch meresponnya dengan melakukan riset kesehatan tentang penyebab wabah. Bosch menemukan: wabah terjadi karena penduduk kurang gizi setelah gagal panen, musim yang tidak menguntungkan, akomodasi buruk, pakaian tidak memadai, dan makanan tidak mencukupi. Ia juga menekankan penduduk membutuhkan bantuan segera agar tak makin banyak korban. Bosch mengusulkan pemerintah memberi bantuan dana, pembagian selimut, karantina wilayah, dan penyediaan obat dan layanan kesehatan. Usulan Bosch pada 25 April 1847 diteruskan Gubernur Jenderal Rochussen kepada Menteri Koloni JC Baud. Namun dalam memonya, Rochussen berkomentar sinis pada usulan Bosch. Rochussen menilai usulan Bosch sebagai sebuah pemborosan besar-besaran. Rochussen menganggap enteng masalah wabah itu dan meyakini Bosch hanya melebih-lebihkan kondisi yang ada. “Saya ingin percaya bahwa epidemi memang terjadi dengan banyak nyawa hilang, tetapi saya tidak percaya bahwa wabah ini seburuk yang dikatakan orang,” kata Rochussen seperti ditulis Liesbeth Hesselink dalam bukunya Healers on the Colonial Market. Liesbeth mencatat, beberapa bupati menjalankan saran Bosch meski Rochussen berkomentar negatif. Sementara kala wabah pes menyerang Jawa, kenaifan penduduk tidak hanya berakibat pada rendahnya kepatuhan pada aturan karantina tetapi juga sempat memicu konflik dengan petugas medis. Dalam tesisnya “Dukun dan Mantri Pes”, Martina Safitry menceritakan kala wabah pes melanda pada awal abad ke-20, tiap desa terjangkit dijaga dua-tiga petugas atau polisi desa saat penduduk diungsikan ke barak karantina. Namun, penduduk sering kucing-kucingan dengan menyelinap keluar kamp karantina pada sore hari. Mereka menjaga rumah masing-masing pada malam hari agar tak kemalingan. Paginya, penduduk kembali ke kamp karantina. Penolakan juga terjadi kala petugas kesehatan hendak mendeteksi penyebab kematian penduduk. Biasanya aktivitas itu dilakukan dengan pengambilan jaringan limfa pada jasad korban oleh mantri. Jaringan limfa kemudian diteliti untuk menentukan penyebab kematian, pes atau bukan. Namun, ketidaktahuan warga seringkali menyulitkan mantri yang bertugas. Mereka menolak prosedur tersebut dan mengusir petugas kesehatan, bahkan melemparinya dengan batu. Menurut Liesbeth, petugas disinfektan bahkan ada yang dibunuh oleh warga. Mereka mengira petugas tersebut dikirim pemerintah kolonial untuk memasang sihir. Proses disinfektasi demi mencegah wabah dikira mereka sebagai ritual ilmu hitam untuk mencelakai desa. Keawaman penduduk terhadap layanan medis juga dijumpai dalam pencacaran di abad ke-19. Sebagaimana diceritakan Baha’Udin dalam “Dari Mantri Hingga Dokter Jawa” yang dimuat jurnal Humaniora Oktober 2006, para orang tua di Madiun enggan mencacarkan anaknya pada 1831. Kabar burung yang tersebar menyatakan bahwa vaksinasi hanya akal bulus residen yang ingin menjadikan anak-anak kampung sebagai makanan untuk buaya peliharaannya. Beredarnya kabar ini membuat para ibu langsung melarikan anak mereka dengan bersembunyi ke hutan. Penolakan vaksin juga terjadi di Pulau Bawean. Seluruh penduduk tidak mau menerima vaksin karena tidak disetujui ulama. Namun ada pula alasan penolakan layanan kesehatan yang bisa diterima akal. Beberapa warga meragukan efektivitas vaksin karena ada anak yang tetap tertular cacar meski sudah divaksin. Mereka tidak tahu di masa itu vaksin rentan rusak bila terpapar panas dan tidak segera digunakan. Maka meski para ilmuwan dan ahli kesehatan terus berupaya memperbarui vaksin dan memberikan layanan kesehatan, penolakan tetap hadir di depan mata.
- Adam Malik Hilangkan Sketsa-sketsa Karya Sudjojono
Pada masa revolusi kemerdekaa, pelukis S. Sudjojono turut bergerilya di tengah pertempuran-petempuran melawan Belanda. Meski tak bisa menembak, ia memiliki senjata untuk berjaga-jaga. Namun, perannya yang lebih penting pada masa ini adalah menggambar sketsa-sketsa yang menjadi sumber sejarah dalam bentuk visual. Dosen FSRD ITB, Aminudin TH Siregar dalam dialog sejarah “Seni dan Politik: Riwayat Sudjojono dan Karya-karyanya” di saluran Facebook dan Youtube Historia.id , Selasa, 21 Juli 2020, menyebut bahwa banyak sketsa yang dibuat Sudjojono merekam berbagai peristiwa di sekitar revolusi. Aminudin mencontohkan, kala itu Sudjojono sering mengisi ilustrasi dalam majalah Suluh Tentara. Tema-tema revolusi seperti situasi gerilya dan keadaan para prajurit banyak ia abadikan dalam sketsa. Sketsa-sketsa itu kemudian ia buat versi lukisannya setelah revolusi fisik usai. Sayangnya, sketsa-sketsa penting periode 1946-1949 itu kini telah tiada. “Nah ini kita kehilangan, karena menurut pengakuan Sudjojono sendiri di tahun 1980-an, dalam satu wawancara dia mengatakan bahwa sebenarnya sketsa-sketsa itu pernah dibeli oleh Adam Malik,” ungkap Aminudin, kandidat doktor Universitas Leiden, Belanda. Sementara itu, Tedjabayu Sudjojono, anak pertama Sudjojono, mengaku sebagai pemilik sketsa-sketsa itu. Sketsa itu diberikan Sudjojono kepadanya. Namun suatu ketika dipinjam lagi untuk keperluan Adam Malik. “Betul sekali dan saya sakit hati karena seluruhnya sketsa-sketsa itu milik saya, Bung. Diberikan kepada saya, lalu dipinjam oleh Sudjojono. Lalu ketika saya tanyakan lagi tahun ‘65 beliau tidak mengaku. Bung Adam Malik saya tanya juga tidak mengaku,” kata Tedjabayu. Tedjabayu menerangkan bahwa sketsa-sketsa tersebut merupakan rekaman peristiwa pada periode ketika keluarga Sudjojono mengungsi di Desa Senden, Yogyakarta. Sketsa-sketsa itu kebanyakan menggambarkan taruna-taruna serta kadet-kadet Militer Akademi (MA) Yogyakarta. Menurut Aminudin, sketsa itu hilang karena kesibukan Adam Malik sebagai seorang diplomat. Adam Malik banyak melakukan perjalanan ke luar negeri yang menyebabkan barang-barangnya sering berpindah-pindah tempat. Hal inilah yang memungkinkan salah satu koper yang berisi sketsa-sketsa itu terselip dan hilang. “Jadi dia bolak-balik dan itu ada terselip dalam satu koper. Menurut pengakuan Pak Djon, Pak Djon juga nanyain ke Adam Malik sketsa-sketsa beliau di mana saat itu. Kata Adam Malik, wah sudah keselip di koper,” kata Aminudin. Hilangnya karya-karya Sudjojono juga tak hanya kali itu terjadi. Aminudin menyebut bahwa pada masa revolusi, sekitar 40 lukisan Sudjojono hilang. Kehilangan besar itu terjadi ketika Sudjojono tengah menyiapkan pameran tunggal. Namun, sebelum pameran terlaksana, Belanda melancarkan agresi militer kedua. Pameran dibatalkan, Sudjojono dan keluarga lalu mengungsi. Sementara itu, lukisan-lukisannya sempat disembunyikan di bawah tanah namun ketahuan oleh Belanda. “Lukisan itu disimpan, kemudian ditemukan dan dihancurkan oleh tentara-tentara Belanda, ditembak-tembak,” kata Aminudin. Selain lukisan, patung-patung pahatan Sudjojono juga tak luput dari amukan serdadu Belanda. Patung-patung itu dibuat ketika berada di Bogem, Yogyakarta, di mana ia banyak memahat batu-batu dari pinggir sungai sebagai bentuk eksplorasi media baru kala itu. Hilangnya karya-karya Sudjojono tentu sangat disayangkan. Selain merupakan bagian dari sumber sejarah dalam bentuk visual, karya-karya itu juga merupakan bagian penting yang bisa melengkapi timeline jejak Sudjojono sebagai seorang seniman.





















