top of page

Hasil pencarian

9792 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Mempertanyakan Eksistensi Sriwijaya

    BARU pada permulaan abad ke-20, pengetahuan tentang Sriwijaya lahir. Itu belum lama sampai akhirnya kadatuan itu dinyatakan fiktif oleh budayawan Betawi, Ridwan Saidi, lewat video yang diunggah di kanal YouTube “Macan Idealis” baru-baru ini. Awalnya, Sriwijaya baru berupa negeri dengan sebutan Tionghoa yang belum diketahui nama aslinya. Negeri itu tadinya belum dipanggil Sriwijaya tapi Shili Foshi. Kebetulan orang Tiongkok-lah yang pertama mencatatnya. Adalah I-Tsing yang menuliskan pengalamannya menetap di negeri itu selama sepuluh tahun. Dia seorang biksu yang sempat mengunjungi Shili Foshi dua kali pada sekira abad ke-7 dalam pengembaraannya belajar agama di Nalanda, India.

  • Mencari Sriwijaya di Jambi

    BEBERAPA ahli ragu kalau pusat Kedatuan Sriwijaya ada di Palembang. Mereka yakin lokasi Sriwijaya harus dicari di Jambi. Salah satunya arkeolog R. Soekmono yang mengemukakan pendapatnya dua kali dalam dua seminar berbeda. Pada 1958, Soekmono menyampaikannya lewat tulisan “Tentang Lokasi Sriwijaya” yang terbit dalam Laporan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional I. Pendapatnya kembali dia perkuat pada 1979 lewat tulisan “Sekali Lagi Tentang Lokasi Sriwijaya” di Pra Seminar Penelitian Sriwijaya. Berdasarkan kajian geomorfologis, dalam tulisannya itu, dia menyimpulkan kalau Sriwijaya tak tepat berlokasi di Palembang sekarang. Namun, lebih tepat di Jambi, di tepian Sungai Batanghari. Menurutnya, letak Jambi istimewa. Lokasinya ada di dalam teluk yang dalam dan terlindung. Namun, ia langsung menghadap ke lautan lepas tempat persimpangan jalan pelayaran antara Laut Cina Selatan di timur, Laut Jawa di Tenggara, dan Selat Malaka di barat laut.

  • Sriwijaya dalam Perdagangan Dunia

    UNTUNGNYA I-Tsing mencatat pengalaman berlayarnya bolak-balik dari Guangzhou sampai India. Sehingga diketahui sebuah negeri bernama Fo-shi, tempat ia mampir dan tinggal selama beberapa tahun di tengah pengembaraannya. Fo-shi adalah nama yang setelah diterjemahkan merujuk pada Sriwijaya. Sang biksu pun menjadi orang pertama yang membuat catatan cukup jelas tentangnya. Hingga seolah kemunculan dan perkembangan pusat keramaian di Sumatra itu muncul begitu tiba-tiba. Pada 671, ketika I-Tsing tiba di sana, kondisi Sumatra sudah ramai oleh lalu lintas kapal. Di sana pun sudah didatangi ribuan biksu yang tengah mendalami ajaran Buddha. Bukanlah kebetulan Sriwijaya muncul sebagai kekuatan maritim yang dominan di kawasan Asia Tenggara. Kondisi ekonomi dan politik kawasan, ditambah keterampilan penguasa Sriwijaya telah memberi jalan bagi dirinya menuju kejayaan selama beberapa abad.

  • Enam Prasasti Kutukan Sriwijaya

    UNTUK mempertahankan hegemoninya, Sriwijaya, sejauh yang sudah ditemukan, mengeluarkan enam prasasti kutukan. Isinya adalah ancaman bagi mereka yang berani melawan penguasa. "Prasasti-prasasti yang berisi kutukan adalah salah satu cara Sriwijaya untuk menancapkan hegemoninya. Ini sebagai bukti bagaimana Sriwijaya diakui," ujar Ninie Susanti, arkeolog Universitas Indonesia. Prasasti kutukan dari masa Sriwijaya yang ditemukan di Palembang, yaitu Prasasti Bom Baru, dan Prasasti Telaga Batu. Prasasti Baturaja ditemukan di Baturaja. Prasasti Kota Kapur ditemukan di Pulau Bangka. Prasasti Karang Berahi ditemukan di Jambi. Sementara Prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Jabung ditemukan di Lampung.

  • Di Balik Prasasti Kutukan Sriwijaya

    SEBAGIAN besar prasasti kutukan yang dikeluarkan penguasa Sriwijaya ditempatkan di daerah strategis dari sisi ekonomi. Tujuannya untuk mengikat masyarakat agar tak memberontak dan patuh terhadap perintah raja. Beberapa prasasti kutukan yang ditemukan di Palembang yaitu Prasasti Bom Baru, dan Prasasti Telaga Batu. Prasasti Kota Kapur ditemukan di Pulau Bangka dan Prasasti Karang Berahi ditemukan di Jambi. Sedangkan Prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Jabung ditemukan di Lampung. Menurut Sondang M. Siregar, peneliti Balai Arkeologi Sumatra Selatan, dalam “Prasasti-Prasasti Kutukan dari Masa Sriwijaya”, termuat di Menggores Aksara, Mengurai Kata, Menafsir Makna, kata “kutuk” dan “semoga” (berkat) sering tertulis di prasasti-prasasti itu. Kutukan ini merupakan pesan penting dari pembuat prasasti kepada masyarakat di lokasi prasasti ditempatkan.

  • Prasasti Kutukan Sriwijaya di Wilayah Taklukkan

    PRASASTI kutukan terlengkap ditemukan Kota Sriwijaya, Palembang. Penguasa Sriwijaya juga menempatkan prasasti kutukan di luar pusat kota, yaitu daerah-daerah yang mereka taklukkan. Dua prasasti kutukan yang ditempatkan di Palembang, yaitu Prasasti Bom Baru dan Prasasti Telaga Batu. Selain itu, ada Prasasti Baturaja yang ditemukan di Baturaja. Prasasti Kota Kapur ditemukan di Pulau Bangka. Prasasti Karang Berahi ditemukan di Jambi. Sementara Prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Jabung ditemukan di Lampung. Bambang Budi Utomo, arkeolog senior Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, menjelaskan Palembang telah dihuni manusia paling tidak sejak abad ke-7, tepatnya pada 682. Ini sesuai dengan pertanggalan Prasasti Kedukan Bukit yang memberitakan keberhasilan perjalanan Dapunta Hiyang, seorang penguasa dari Kedatuan Sriwijaya.

  • Gonjang-ganjing Nasionalisasi Perusahaan Asing

    NASIONALISASI aset-aset selalu jadi persoalan besar pada negeri-negeri pascajajahan. Ia adalah wujud pertarungan yang terus berlangsung kendati negeri tersebut sudah lepas dari belenggu penjajahan. Karena aset-aset bangsa-bangsa penjajah di negeri jajahannya, wujud dominasi kolonial atas ekonomi koloninya, seringkali tak serta merta dikembalikan kepada bangsa yang telah merdeka dari penjajahan. Contoh mutakhir dari nasionalisasi aset asing pada negeri “dunia ketiga” adalah yang dilakukan Hugo Chavez di Venezuela. Pada 2010 lalu, belasan perusahaan minyak asing, di antaranya milik Amerika Serikat, diambil alih oleh pemerintah Venezuela. Bahkan Chavez mengumumkan akan mengambil paksa perusahaan minyak asing yang menolak menyerahkan kilangnya. Pada era 1950-an, dalam rangka dekolonisasi, Indonesia pun pernah melakukan hal yang sama dengan Venezuela. Sebagian besar perusahaan milik negeri asing, terutama Belanda, diambilalih. Mulai sektor pertambangan sampai perkebunan dikuasai oleh pemerintah Republik Indonesia. Namun, nasionalisasi ternyata juga memunculkan banyak persoalan: ketersediaan sumber daya manusia, kemampuan mengelola manajemen sampai dengan isu-isu korupsi dan perebutan posisi serta kekuasaan atas perusahaan dari kalangan kita sendiri. Alih-alih mendatangkan keuntungan bagi negara, nasionalisasi yang salah urus malah jadi sarang korupsi. Dalam laporan khusus ini kami mengangkat seluk-beluk nasionalisasi perusahaan asing tersebut. Ini menjadi penting karena isu nasionalisasi selalu muncul di tengah serbuan modal asing yang masuk ke Indonesia. Ada semacam sentimen terhadap asing yang masih terawat di dalam ingatan sebagian besar orang di negeri ini. Sementara itu, beberapa orang yang menjalankan pekerjaan sebagai komprador, justru menangguk banyak untuk diri sendiri.* Berikut ini laporan khusus sejarah nasionalisasi perusahaan asing: Meniti Jalan Nasionalisasi Dalih Pengambilalihan Massal Terbentuknya Perusahaan Negara Unilever Berkelit dari Situasi Sulit Batu Sandungan di Jerman Nasionalisasi dan Konfrontasi

  • Ibnu Sutowo dan Para Panglima Jawa di Sriwijaya

    RADEN Ibnu Sutowo bin Sastrodiredjo, kakek-mertua aktris Dian Sastrowardoyo yang belakangan kembali menjadi perbincangan di jagat maya, sadar betul mesti siap ditempatkan di mana saja kelak setelah menjadi dokter. Sebagai mahasiswa kedokteran Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS), yang terletak di Surabaya, ia tahu betul risiko dari profesi yang bakal digelutinya sebagai abdi pemerintah kolonial. Maka setelah lulus pada 1940 dan kemudian ditempatkan di Sumatra Selatan (Sumsel), Ibnu santai saja menjalankannya. Sebagai dokter muda pemerintah Hindia Belanda, Ibnu tak menetap di satu tempat saja saat bertugas di Sumsel. Mulanya dia ditempatkan di kantor pemberantasan malaria di Palembang, lalu dipindahkan ke Martapura. “Tugas utama yang diberikan kepada dr Ibnu Sutowo adalah mengawasi kesejahteraan dan kesehatan rakyat,” tulis Mara Karma dalam Ibnu Sutowo: Pelopor Sistem Bagi Hasil di Bidang Perminyakan.

  • Pekik Merdeka Shamsiah Fakeh (Bagian II)

    DALAM tradisi Melayu dan Minangkabau, silaturahim memiliki posisi penting. Ia adalah upaya mempererat persaudaraan dan kekeluargaan. Maka, silaturahim itulah yang diinginkan Shamsiah Fakeh pasca-diizinkan pulang ke negerinya, Malaysia. Shamsiah lebih dari empat dekade jadi eksil dengan cap sebagai komunis. Kiprahnya dalam gerakan kemerdekaan mengusik kolonialis dan para pendukungnya. Ketika pemerintah Malaysia telah berbaik hati, Shamsiah dan suaminya dari pernikahan kelima, Ibrahim Mohamad, diperbolehkan pulang pada 22 Juli 1994. Shamsiah mensyukuri izin itu dengan bersilaturahim ke dua tokoh yang rekannya semasa perjuangannya: Abdul Samad Idris dan Aishah Ghani. Samad merupakan tokoh United Malays National Organisation (UMNO), rival politik Partai Komunis Malaya (PKM) tempat Shamsiah dan Ibrahim jadi kadernya sejak perjuangan kemerdekaan Malaysia dari Inggris. Dalam memoarnya, Dari AWAS ke Rejimen Ke-10, Shamsiah berkisah ia dan suaminya bertamu ke kediaman Samad pada 31 Juli 1994.

  • Riwayat Jackson Record

    SETELAH peristiwa G30S, sekolahnya terbengkalai. Dia hanya duduk sampai tahun pertama SMA. Sebelumnya, dia belajar di SD Chung San dan SMP Sin Wen. Dia lalu bekerja di sebuah toko kaset. Dari sana dia lalu mengenal bermacam-macam musik. “Lama-lama saya jadi tertarik,” aku Thung Hay Tung, yang belakangan dikenal sebagai Jackson Arief, dalam Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia. Bermula dari pembantu di toko kaset, Jackson kemudian menjadi pedagang alat elektronik dan lampu disko. Sekitar tahun 1976, Jackson sudah jadi produser film. Dia pernah bekerjasama dengan Sjamsuddin Sjafi’i dalam memproduksi film-film Rhoma Irama. Pada tahun-tahun itu, Rhoma Irama sudah mulai dikenal sebagai “Raja Dangdut” bersama band Soneta yang dipimpinnya. Rhoma dan Soneta sohor setelah rekaman di Yukawi Record yang dikelola Nomo Koeswoyo.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page