top of page

Hasil pencarian

9792 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Pekik Merdeka Shamsiah Fakeh (Bagian II)

    DALAM tradisi Melayu dan Minangkabau, silaturahim memiliki posisi penting. Ia adalah upaya mempererat persaudaraan dan kekeluargaan. Maka, silaturahim itulah yang diinginkan Shamsiah Fakeh pasca-diizinkan pulang ke negerinya, Malaysia. Shamsiah lebih dari empat dekade jadi eksil dengan cap sebagai komunis. Kiprahnya dalam gerakan kemerdekaan mengusik kolonialis dan para pendukungnya. Ketika pemerintah Malaysia telah berbaik hati, Shamsiah dan suaminya dari pernikahan kelima, Ibrahim Mohamad, diperbolehkan pulang pada 22 Juli 1994. Shamsiah mensyukuri izin itu dengan bersilaturahim ke dua tokoh yang rekannya semasa perjuangannya: Abdul Samad Idris dan Aishah Ghani. Samad merupakan tokoh United Malays National Organisation (UMNO), rival politik Partai Komunis Malaya (PKM) tempat Shamsiah dan Ibrahim jadi kadernya sejak perjuangan kemerdekaan Malaysia dari Inggris. Dalam memoarnya, Dari AWAS ke Rejimen Ke-10, Shamsiah berkisah ia dan suaminya bertamu ke kediaman Samad pada 31 Juli 1994.

  • Riwayat Jackson Record

    SETELAH peristiwa G30S, sekolahnya terbengkalai. Dia hanya duduk sampai tahun pertama SMA. Sebelumnya, dia belajar di SD Chung San dan SMP Sin Wen. Dia lalu bekerja di sebuah toko kaset. Dari sana dia lalu mengenal bermacam-macam musik. “Lama-lama saya jadi tertarik,” aku Thung Hay Tung, yang belakangan dikenal sebagai Jackson Arief, dalam Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia. Bermula dari pembantu di toko kaset, Jackson kemudian menjadi pedagang alat elektronik dan lampu disko. Sekitar tahun 1976, Jackson sudah jadi produser film. Dia pernah bekerjasama dengan Sjamsuddin Sjafi’i dalam memproduksi film-film Rhoma Irama. Pada tahun-tahun itu, Rhoma Irama sudah mulai dikenal sebagai “Raja Dangdut” bersama band Soneta yang dipimpinnya. Rhoma dan Soneta sohor setelah rekaman di Yukawi Record yang dikelola Nomo Koeswoyo.

  • Memahami Preman yang Diberantas Gajah Mada

    KAPOLDA Metro Jaya, Inspektur Jenderal Polisi Fadil Imran berbicara kepada wartawan di Polda Metro Jaya. Ia mengibaratkan aksinya seperti Gajah Mada memberantas premanisme. Menurut Fadil, sosok Gajah Mada dinantikan masyarakat untuk menghentikan aksi preman kampung yang kerap mengganggu. Selama ini preman di Jakarta bertindak seolah tak tersentuh hukum. Masyarakat yang ingin melawan preman itu takut dianiaya, dikeroyok, dan diancam. Sebaliknya, lanjut Fadil, masyarakat pasti senang jika kampungnya terbebas dari premanisme. “Tiba-tiba ada sosok satu orang namanya Gajah Mada datang kemudian berantem sama ini preman, preman ini terbunuh, kira-kira masyarakat ini senang enggak?” kata Fadil sebagaimana dikutip CNN Indonesia.

  • Wajah Lain Gajah Mada

    SUATU hari Muhammad Yamin mengunjungi Trowulan untuk melihat jejak-jejak Kerajaan Majapahit. Saat itulah ia menemukan pecahan terakota berupa kepala pria berwajah gempal dan berambut ikal. “Arca ini digali dekat puri Gajah Mada di Terawulan, Majapahit,” katanya. Yamin kemudian mengidentifikasi wajah itu sebagai arca Gajah Mada. Menurutnya dalam Gajah Mada Pahlawan Persatuan Nusantara, air muka arca itu penuh dengan kegiatan yang mahatangkas. Wajahnya menyinarkan keberanian seorang ahli politikus yang berpandangan jauh. Arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar berpendapat lain soal wajah Gajah Mada. Dalam Gajah Mada Biografi Politik, ia menjelaskan arca Brajanata dan Bima sebagai dua perkembangan dari penggambaran Gajah Mada.

  • Gajah Mada Memadamkan Pemberontakan Kuti

    NYAWA Raja Jayanagara terancam. Raja kedua Majapahit itu diuber komplotan Kuti yang ingin menumbangkan pemerintahannya. Sampai-sampai sang raja menjauh dari istananya. Jayanagara mungkin bukanlah raja favorit rakyat Majapahit. Pararaton menyebut pemberontakan terhadapnya akibat hasutan Mahapati yang berambisi menjadi patih amangkubhumi. Dia menebar fitnah dan mengadu domba para pembesar Majapahit hingga saling bermusuhan. Namun, Slamet Muljana dalam Tafsir Sejarah Nagarakrtagama mengatakan alasan pemberontakan karena tidak puas dengan penobatan Jayanagara.

  • Puasa Zaman Gajah Mada

    GAJAH MADA menyerukan sumpahnya dengan lantang di balairung kedaton, pada sebuah pertemuan yang dihadiri para pejabat tinggi Majapahit. Dia berkata jika Gurun, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, dan Tumasik telah mengakui kejayaan Majapahit, pada waktu itulah dia amukti palapa. Tak ada yang tahu pasti apa maksud amukti palapa. Namun, ada yang menafsirkan Gajah Mada tengah bernazar. Dia akan melakukan puasa mutih demi tercapai angan-angannya. “Ada yang menafsirkan hamukti palapa sebagai tindakan makan nasi saja, tanpa lauk, tanpa perasa, santan. Ada yang menafsirkan begitu,” ujar Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah Universitas Negeri Malang, kepada Historia.ID.

  • Berkaca dari Gajah Mada

    Rene Suhardono, dikenal sebagai career coach, pelaku bisnis dan penulis. Buku Your Job is NOT You Career dan Ultimate U merupakan karya-karya dari pria gesit kelahiran Jakarta 8 Juli 1972 ini. Ia adalah putra tunggal dari pasangan Rini Warsono dan Vicente Canoneo asal Filipina. Rene, sekira 1998, pernah membuka usaha warung gerobak dengan menu western di bilangan Jalan Mahakam, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Dari sekadar gerobak, Rene pun mengembangkannya hingga menjadi jaringan kafe. Ayah empat anak ini, mengaku sebagai penikmat makanan dan sejarah. Dan tokoh yang dia kagumi adalah Gajah Mada. Gajah Mada, senapati tertinggi Majapahit dibawah Hayam Wuruk, memang penuh misteri. Gajah Mada memulai karir di Majapahit sebagai bekel (kepala pengawal) dengan limabelas orang pasukannya yang disebut bhayangkara. Sekali waktu, dia menyelamatkan raja Jayanagara ke Desa Badander. Untuk menjaga keamanan raja, dia tak segan membunuh seorang pengawal yang memaksa ingin kembali ke Majapahit.

  • Misteri Kematian Gajah Mada

    “Tersebut pada tahun saka angin delapan utama (1285). Baginda menuju Simping demi pemindahan candi makam... Sekembalinya dari Simping segera masuk ke pura. Terpaku mendengar Adimenteri Gajah Mada gering. Pernah mencurahkan tenaga untuk keluhuran Jawa. Di Pulau Bali serta Kota Sadeng memusnahkan musuh.” Begitulah bunyi pemberitaan dalam Nagarakretagama pupuh 70/1-3 dikutip Slamet Muljana dalam Tafsir Sejarah Nagarakretagama. Raja Majapahit Rajasanegara atau Hayam Wuruk yang sedang melakukan perjalanan ke wilayah Blitar pada 1364 dikejutkan dengan berita Gajah Mada sakit. Dia segera kembali ke ibukota Majapahit. Kitab yang ditulis oleh Mpu Prapanca itu mengisahkan akhir hidup sang patih digdaya dengan kematian yang wajar. Meski perannya di Kerajaan Majapahit begitu melegenda, akhir riwayat Gajah Mada hingga kini masih belum jelas. Arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar dalam Gajah Mada Biografi Politik menulis, ada berbagai sumber yang mencoba menjelaskan akhir hidup Gajah Mada. Dari cerita-cerita rakyat Jawa Timur, Gajah Mada dikisahkan menarik diri setelah Peristiwa Bubat. Dia kemudian memilih hidup sebagai pertapa di Madakaripura di pedalaman Probolinggo selatan, wilayah kaki pegunungan Bromo-Semeru.

  • Menertawakan Sumpah Palapa Gajah Mada

    PADA 1334, para menteri berkumpul di panangkilan menghadap sang Rani Majapahit, Tribhuana Tunggadewi. Di hadapan sang rani dan para menteri, Gajah Mada yang baru diangkat menjadi mahapatih, bersumpah yang kemudian dikenal dengan Sumpah Palapa. “Jika telah berhasil menundukkan Nusantara; Gurun, Seran, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik telah tunduk, saya baru akan memakan palapa (istirahat),” kata Gajah Mada. Menurut sejarawan Slamet Muljana, sumpah Gajah Mada itu menimbulkan kegemparan. Para petinggi kerajaan merespons dengan negatif. Ra Kembar mengejek Gajah Mada sambil mencaci maki. Ra Banyak turut mengejak dan tidak mempercayainya. Jabung Tarewes dan Lembu Peteng tertawa terbahak-bahak.

  • Lambang Polri Sebelum Gajah Mada

    POLISI Republik Indonesia disebut Korps Bhayangkara merujuk kepada nama pasukan yang dipimpin oleh Maha Patih Gajah Mada. Maka, lambangnya pun patung Gajah Mada. Ternyata, sebelum Gajah Mada, lambang Polri adalah patung Arjuna dan Sri Kresna. Hal itu terungkap dalam biografi terbaru Kapolri pertama, Jenderal Polisi RS Soekanto Tjokrodiatmodjo karya Awaloedin Djamin, mantan Kapolri, dan G. Ambar Wulan. Pada 1 Juli 1955, diadakan peresmian gedung baru Jawatan Kepolisian Negara Republik Indonesia sekaligus peringatan Hari Bhayangkara. Di sebelah kiri gedung terdapat patung Sinar dan Bayangan berwujud patung dua manusia tidak sempurna (pendek) yang menggambarkan hujwala (getaran) pribadi sang Begawan Ciptoning (Arjuna) dan Sri Kresna.

  • Ternyata Patung di Mabes Polri Bukan Berwajah Gajah Mada

    DI MARKAS Besar Polri berdiri monumen Gajah Mada. Ternyata, patung itu hanya badan yang Gajah Mada, sedangkan wajahnya adalah Moehammad Jasin yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional tahun 2015. Ceritanya bermula ketika Kepala Kepolisian Negara Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo menugaskan Komisaris Besar Raden Umargatab, kepala Pengawasan Aliran Masyarakat (PAM), untuk mencari pematung untuk membuat monumen patung Gajah Mada. Monumen ini akan ditempatkan di halaman depan Mabes Polri. Patung ini harus selesai dan diresmikan pada hari ulang tahun (HUT) Polri, 1 Juli 1962. Pematung Catur Prasetya dibantu 30 orang pekerja berhasil menyelesaikan badan patung sebulan sebelum HUT Bhayangkara. Namun, kepalanya belum rampung karena, baik Umargatab maupun pematung tidak tahu pasti wajah Gajah Mada. Sedangkan upacara peresmian tinggal sepekan lagi.

  • Peristiwa Pahit di Pura Majapahit

    PENGERAN Agong Wilis berserta 40 pengikutnya dari Kerajaan Blambangan hijrah ke Bali. Mereka bermukim di sekitar pohon beringin besar di Desa Banyubiru –kini Baluk. Di situ, selain berlindung, mereka membangun Pura Majapahit. Pura Majapahit terletak di Desa Baluk, Kecamatan Negara, Kebupaten Jembrana, Bali. Lokasinya persis di pinggir jalan raya Gilimanuk-Denpasar. Berkendara sekitar 30 menit dari Pelabuhan Gilimanuk. “Nenek moyang kami dari Blambangan. Dulu, Blambangan wilayah jajahan Majapahit. Saat Majapahit runtuh karena terdesak oleh Islam, sebagai wilayah jajahan kami ikut terdesak. Maka lari ke Bali,” kata Mangku Gede Pura Majapahit Wayan Wenen, 63 tahun, kepada Historia.ID.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page