Hasil pencarian
9792 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Tentara Rusia di Angkatan Laut Indonesia
SELASA, 16 JANUARI 1962. Sebuah siaran dari Radio Australia menyampaikan kabar mengejutkan bagi dunia petang itu. Disebutkan pada Senin malam (15 Januari 1962), sebuah kapal cepat torpedo milik Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) berhasil dihancurkan oleh kapal perang Marinir Belanda di Laut Aru, Papua. Melansir pernyataan DPA (Kantor Berita Belanda), sang penyiar menginformasikan bahwa dalam pertempuran laut itu, Marinir Belanda berhasil menawan sekira 50 prajurit Indonesia. “Kapal-kapal perang Belanda mulai menembak pada suatu formasi kapal-kapal Indonesia yang sedang bergerak di perairan territorial Belanda, di arah selatan pantai Papua Barat,” demikian laporan Radio Australia. Berita tersebut ditanggapi langsung oleh salah satu sekutu Indonesia, Uni Soviet. Dalam suatu pernyataan resminya, pemerintah negeri Beruang Merah itu mengecam aksi Belanda tersebut sebagai bentuk provokasi dan mengingatkan potensi bahaya perluasan konflik. “Pada 9 Februari 1962, pemerintah Uni Soviet kembali menegaskan dukungannya terhadap posisi Indonesia,” ungkap sejarawan militer Uni Soviet Alexander Okorokov dalam Тайные войны СССР (Perang Rahasia Uni Soviet). Jauh sebelum terjadinya Insiden Laut Aru, sejatinya Uni Soviet diam-diam telah mengirimkan enam kapal selam jenis Whiskey (W) dari pangkalan angkatan laut mereka di Vladivostok. Pertengahan November 1961, keenam kapal selam itu sudah berada di Pelabuhan Surabaya. “Namun baru pada Maret 1962, bendera Uni Soviet diturunkan dan digantikan oleh bendera Indonesia. Maka sejak itu resmilah sudah kapal-kapal selam tersebut menjadi milik Angkatan Laut Indonesia,” ungkap Okorokov. Selain kapal selam kelas W, sebelumnya Uni Soviet telah menghibahkan Ordzhonikidze. Kapal penjelajah yang memiliki nomor lambung 310 itu kemudian diganti namanya menjadi KRI Irian oleh ALRI. Kendati sudah menjadi milik Indonesia, namun saat itu sebagian besar awaknya masih berkebangsaan Uni Soviet. “Para sukarelawan Uni Soviet di kapal-kapal perang Indonesia itu dipimpin oleh seorang perwira tinggi bernama Laksamana Muda Grigory Chernobay,” tulis Okorokov. Lima bulan kemudian, militer Indonesia merencakan untuk menginvasi Papua Barat lewat Operasi Jayawijaya. Sebagai bentuk dukungan kongkret, Uni Soviet lantas mengirimkan kembali 6 kapal selam jenis W-nya ke Surabaya, yang diawaki langsung oleh orang-orang Rusia. Sumber Uni Sovyet menyebut armada itu sebagai bagian dari Brigade ke-50 pimpinan Laksamana Muda Anatoly Rulyuka. Begitu sampai di Surabaya, para sukarelawan Uni Soviet itu langsung menurunkan bendera merah-nya dan menggantinya dengan bendera merah-putih. Tak lupa mereka juga menanggalkan seragam Angkatan Laut Uni Soviet lalu secepatnya mengenakan seragam ALRI tanpa pangkat dan lencana apapun. Namun penuturan Okorokov itu agak diluruskan oleh Laskmana Muda (Purn) I Nyoman Suharta, eks anggota Korps Hiu Kencana yang saat itu masih berpangkat letnan satu. Menurut Suharta, para sukarelawan Uni Soviet tersebut sama sekali tidak diberikan seragam ALRI. “Yang saya ingat, mereka berseragam krem untuk bagian atas (sejenis jaket) dan celana abu-abu. Tapi itu jelas bukan seragam ALRI,” ungkapnya. Dua belas kapal selam dan KRI Irian lantas dikirim ke Pelabuhan Bitung (Sulawesi Utara) untuk bersiap menghadapi konfrontasi dengan Belanda. Selama berpangkalan di sana, mereka kerap melakukan patroli di sekitar wilayah pantai Irian. Soal kehadiran dan peran penting orang-orang Rusia itu diakui oleh F.X. Soeyatno. Bahkan tidak sekadar sebagai instruktur, mereka pun terlibat aktif dalam patroli. Alumni Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan ke-9 itu bersaksi jika mereka merupakan prajurit bawah laut yang tangguh. “Saya pernah bertugas bersama mereka mengawasi perairan sepanjang Pantai Utara Irian Barat,” ungkap eks awak kapal selam RI Tjudamani tersebut. Kendati hubungan antara prajurit-prajurit AL Uni Soviet dengan prajurit-prajurit ALRI diakui Soeyatno berlangsung cukup baik, namun ada saja muncul masalah. Menurut Okorokov, para sukarelawan Uni Soviet mengeluhkan data intelijen yang dipasok oleh orang-orang Indonesia tidak valid, kacau dan minim informasi. Bahkan lebih dari itu, diam-diam para sukarelawan mencurigai adanya “pengkhianatan”. Indikasi-nya: kapal-kapal selam dari Armada ke-7 Amerika Serikat selalu setiap saat membuntuti pergerakan mereka. Dalam situasi tempur, kondisi itu jelas mengarah kepada suatu kekalahan, kata Okorokov. Situasi kritis itu berlangsung hampir selama dua minggu. Para awak Rusia sudah mempersiapkan diri secara fisik dan mental untuk terlibat dalam suatu perang tanpa batas dengan Belanda yang secara nyata didukung juga oleh Amerika Serikat. Untunglah, kesepakatan damai segera tercipta dan secepatnya mereka pun ditarik kembali ke Surabaya. “Andaikan Belanda ngeyel dan perang pecah di Irian, tentara Rusia itu akan dicatat dalam sejarah sebagai tentara Blok Timur pertama yang langsung berhadapan dengan Belanda yang mewakili Blok Barat,” ungkap Kolonel (Purn) Arifin Rosadi, salah seorang anggota Korps Hiu Kencana yang sempat mendampingi para sukarelawan Uni Soviet tersebut. Menurut data yang dilansir oleh Okorokov dalam bukunya, selama tahun 1962, Uni Soviet telah menempatkan 1.740 tentaranya di angkatan bersenjata Indonesia (termasuk ALRI). Jumlah itu meliputi tenaga instruktur, penasehat militer dan sukarelawan tempur.*
- Ketika Nicolaas Jouwe Bertemu Presiden Kennedy
AMERIKA Serikat (AS) terlibat dalam Perjanjian New York yang menyepakati penyerahan Papua kepada Indonesia sekaligus mengakhiri kekuasaan Belanda. Setelah urusan perjanjian itu selesai, Presiden AS John F. Kennedy hendak bertemu dengan wakil-wakil dari Papua. Ada tiga kandidat yang direkomendasikan. Mereka antara lain Markus Kaisiepo, Nicolaas Jouwe, dan Herman Womsiwor. Markus Kaisiepo, politisi partai Gerakan Persatuan New Guinea (GPNG), adalah yang paling senior. Sementara itu, Herman Womsiwor, pemuda dari desa Numfor, Biak merupakan yang paling muda. Pada Perang Dunia II, Womsiwor diperbantukan sebagai tentara Sekutu berpangkat sersan. Namun, Kennedy menjatuhkan pilihan kepada Nicolaas Jouwe. Selain sebagai penasihat bagi delegasi Belanda, Jouwe merangkap wakil presiden Dewan Papua yang dipersiapkan memimpin negara Papua kelak.
- Bersahabat dan Bertualang dengan Landak Super
PADA suatu hari di sebuah planet nun jauh dari bumi, Sonic (di- voice over Ben Schwartz) si landak antropomorfik begitu lincah berlarian dengan kecepatan supersonik yang jadi kekuatannya. Dia bermain-main sendiri.Padahal, Longclaw (di- voice over Donna Jay Fulks) si burung hantu antropomorfik, mentornya, sudah memperingatkan agar tak menarik perhatian banyak pihak yang jahat. Benar saja. Kelakuan Sonic yang tak bisa diam membuat kawanan echidna ( landak semut ) mengejarnya. Demi bisa menyelamatkan Sonic, Longclaw memberinya sekantong cincin emas ajaib yang bisa jadi portal menuju planet lain: bumi. Sonic pun bisa hidup tenang di sarangnya di bumi, tepatnya di Green Hills, Montana, Amerika Serikat. Saban hari dan malam Sonic acap keluyuran tanpa terlihat manusia berbekal kekuatan berlari secepat kilat. Namunlama-kelamaan Sonic merasa kesepian. Ia sangat mendambakan teman. Saking pilu dan tak bisa menahan emosinya, secara tak sadar Sonic mengempaskan gelombang elektromagnetnya hingga memadamkan listrik seantero Green Hills. Baca juga: Lika-liku Harley Quinn dalam Birds of Prey Kementerian Pertahanan Amerika mengira negeri mereka diserang dengan senjata EMP. Pemerintah kemudian mempercayakan ilmuwan eksentrik Dr. Ivo ‘Eggman’ Robotnik (Jim Carrey) untuk menginvestigasinya. Kedatangan Dr. Robotnik yang menghebohkan itu menutup bagian pembuka film petualangan Sonic the Hedgehog yang dibesut sutradara debutan Jeff Fowler. Kolase aksi petualangan Sonic melawan tokoh jahat Dr. Robotnik ( paramount.com ) Adegan berganti, Sonic diburu Dr. Robotnik.Tak sengaja ia bertemu Sheriff Green Hills, Thomas ‘Tom’ Wachowski (James Marsden).Dalam pertemuan yang tak disangka itu Tom tak sengaja menembak kaki Sonic dengan panah biushinggalumpuh sementara.Tindakan yang terdorong kepanikan itu menyebabkan sekantong cincin emas Sonic terlempar secara ajaib ke sebuah gedung di San Francisco. Merasa bersalah , Tom lalu mengantar Sonic ke San Francisco . D alam dua hari road trip itu perlahan terjalin persahabatan di antara keduanya, ha l yang sejak lama didambakan Sonic. Baca juga: Spider-Man Terjerat Tipu Daya Sayangnya perjalanan mereka bukanlah liburan. Dr. Robotnik dengan segala teknologi canggih yang dimilikinya acap menghalangi. Belum lagi,pemerintah gencar mengkampanyekan Tom dan Sonic sebagai teroris.Dengan topeng tugas dari pemerintah, Robotnik berupaya mewujudkan ambisinya untuk mencari tahu sumber kekuatan Sonic. Petualangan seru memburu Sonic dan upaya Sonic menyelamatkan diri pun dimulai. Bagaimana keseruan petualangan Tom dan Sonic dalam menghindari pengejaran Dr. Robotnik yang sarat akan aksi-aksi kocak dan mengocok perut? Baiknya Anda tonton sendiri Sonic the Hedgehog yang bisa jadi tontonan keluarga pada masa libur Lebaran 2021 di aplikasi daring Mola TV . Ikon Game Ramah Anak Efek visual CGI (computer-generated imagery) yang halus diiringi beberapa tembang lawas nan nge- beat seperti “Don’t Stop Me Now” karya band legendaris Queen, misalnya, menambah kental suasana era 1990-an di mana Sonic jadi bagian keseharian para pecinta video game Sega. Suasana makin berwarna karenasutradara Fowler yang dibantu penulis skenario Jim Carrey menyuguhkan aksi-aksi petualangan dengan kombinasi action dengan komedi ringan yang menyegarkan. Maka kendati alur ceritanya sangat klasik , berupa misi penyelamatan protagonis dari sosok antagonis dengan happy ending , publik menyambutnya dengan antusia s me besar sejak film di rilis terbatas p a da 25 Januari dan rilis umum pada 14 Februari 2020. Sonic the Hedgehog yang berongkos produksi 90 juta dolar nangkring di urutan keenam film terlaris 2020 dengan meraup laba 319,7 juta dolar. “Plotnya sangat simpel. Landak tercepat di dunia yang nakal dan jenaka berlari menyelamatkan diri dari penjahat yang menginginkan kekuatan. Tetapi storyline sederhana itu bisa menemukan cara untuk mengadaptasikan karakter game dengan menambah konsep universal seperti persahabatan ke dalam tensi game aslinya antara alam dan mesin-mesin canggih,” ulas kritikus Aparita Bhandari yang dimuat The Globe and Mail , 13 Februari 2020. Baca juga: Muasal Sub-Zero yang Diperankan Joe Taslim Fowler punya alasan tersendiri mengapa ia bersama Jim Carrey dan tim penulis meracik Sonic the Hedgehog dengan konsep universal. Selain demi bisa lebih diterima sebagai film keluarga, Fowler ingin lebih dulu memperkenalkan pangkalpermusuhan Dr. Robotnik dengan Sonic. “Kami melihat game (Sonic) 1991 dan ingin melihat dari mana segalanya bermula dan membuatnya tetap sederhana. Hanya berusaha menonjolkan bagaimana awalnya perseteruan Sonic dan Robotnik. Memang banyak karakter di semesta Sonic, tapi yang terpenting adalah bagaimana kisah awalnya dan membuat film yang bisa dicintai semua orang,” ujar Fowler, dilansir Comic Book Resources , 27 Februari 2020. Naoto Oshima (kiri) pencipta karakter Sonic the Hedgehog (Game Developers Conference/Sega) Maka ia merasa belum waktunya menyisipkan detail lain tentang Sonic yangada di videogame. Jadi jangan harap karakter-karakter lain Sonic dalam game dan transformasinya menjadi Super Sonic ada di film ini. “Seperti yang saya bilang tentang kesederhanaan dan demi menyuguhkan versi yang paling simpel. Kami berkeputusan untuk menggarap awal mula Sonic dan Robotnik sebelum kami punya potensi membuka lebih luas elemen-elemen dari game -nya (di sekuel) yang dikenal dan dicintai fans,” imbuhnya. Ramah anak dan ramah keluarga. Nilai itu yang diambil Fowler dalammenciptakan semesta Sonic. Nilai itu terinspirasi dari tujuan awal penciptaan Sonic. Pada awal 1990-an, karakter Sonic beserta karakter-karakter pendukungnya diciptakan desainer-desainer game asal Jepang dengan visi ramah anak.Selain anak-anak bisa dengan mudah menggambar karakternya,diharapkan dengan begitu karakter-karakternya akan mudah terekam di ingatan semua usia. Baca juga: Asal-Usul si Kocak Deadpool Sonic dilahirkan pengembang game Sega dengan tujuan khusus: mengimbangi kepopuleran pengembang game saingannya, Nintendo, yang pada akhir 1980-an kondang dengan Mario Bros sebagai ujung tombaknya. Maka pada awal 1990 Presiden SegaHayao Nakayama menggelar sayembara internal untuk tujuan tersebut, dandiikuti 200 desain hasil karya sejumlah desainer game. “Dari 200 desain mengerucut jadi empat opsi final berupa serigala, anjing bulldog, humanoid berbentuk telur, dan kelinci. Saat itu belum ada desain landak tapi seniman Naoto Oshima dengan desain berupa kelinci mendapat kesempatan kedua mengembangkan karakter yang diharapkan bisa laku keras,” tulis Jessica A. Robinson dalam “Sonic the Hedgehog” yang termuat di 100 Greatest Video Games Characters . Desain awal karakter antagonis Dr. Ivo 'Eggman' Robotnik (kanan) dan kemudian diperankan komedian watak Jim Carrey ( paramount.com/rpgamer.com ) Kesempatan itu dimanfaatkan Oshima untuk terbang dari Jepang ke New York, Amerika Serikat. Berlembar-lembar kertas jadi media buatnya mengembangkan desain awalberupa kelinci ke dalam empat gambar berbeda. Empat desain pengembangannya itu –seekor armadillo, landak, anjing, dan seorang pria tua yang kelak jadi desain awal Dr. Ivo ‘Eggman’ Robotnik– laludijadikan bahan polling informal dengan disebar acak ke pengunjung Central Park. “Hasilnya adalah, si landak yang paling populer; kebanyakan orang menunjuk desain ini dan sangat menyukainya karena landak adalah hewan lucu dan melampaui sekat-sekat ras dan gender. Terpopuler kedua adalah Eggman dan yang ketiga adalah desain anjing,” kenang Oshima, disitat Gamasutra , 21 Maret 2018. Baca juga: Wonder Woman 1984 dan Nilai Kejujuran Sepulangnya ke Jepang, Oshima mengembangkan lagi desain landak itu dibantu rekan desainer Hirokazu Yasuhara dan programmer Yuji Naka. Oshima menyempurnakannya dengan bulu dan duri berwarna biru khas warna kebesaran Sega, bersepatu snickers merah, dan bermata besar. Karakter ciptaannya itu lalu dinamakannya Mr. Needlemouse,laludigantijadi Mr. Hedgehog.NamaSonic akhirnya jadi pilihan terakhirnya karena punya kecepatan super sonik. “Bulunya yang berwarna biru juga merepresentasikan perdamaian, kepercayaan dan sosok yang keren. Biru juga sesuai dengan warna logo Sega,” ungkap Naka dikutip Kenny Abdo dalam Sonic: Sonic the Hedgehog Hero. Oshima juga membuat tokoh antagonisnya, Dr. Robotnik, dengan bentuk yang mudah digambar anak-anak. Desainnya dibuat berkepala plontos, berbadan bulat, berkumis tebal mirip Presiden Amerika Theodore Roosevelt, mengenakan kacamata prince-nez, serta mantel merah berkerah kuning, dan celana hitam dengan dua kancing putih. Baca juga: Stan Lee dalam Semesta Marvel Pada medio 1991, serial game Sonic the Hedgehog diluncurkan ke pasaran. Game yang struktur dan temanya terbilang mirip Mario itu dimainkan lewat game console generasi keempat, Sega Genesis. Sambutan yang diterimanya dari para gamer, terutama di Amerika Serikat dan Kanada, terbilang tinggi. “Strukturnya adalah Mario menyelamatkan seorang putri dan Sonic menyelamatkan hewan; Mario mengoleksi koin-koin dan Sonic mengumpulkan cincin-cincin. Tetapi gameplay dan latar belakang Sonic lebih intens, berfokus pada kecepatannya mengitari loop-the-loops saat mengumpulkan cincin demi menyelamatkan hewan-hewan yang terpenjara di dalam robot-robot ciptaan Dr. Robotnik. Hasilnya, Sonic the Hedgehog memapankan franchise game bergenre petualangan dan memperkokoh dampak kulturnya dalam industri game ,” tandas Robinson. Deskripsi Film: Judul: Sonic the Hedgehog| Sutradara: Jeff Fowler | Produser: Neal H. Moritz, Toby Ascher, Toru Nakahara, Takeshi Ito | Pemain: Ben Schwartz (voice over), Jim Carrey, James Marsden, Tika Sumpter, Neal McDonough, Adam Pally, Lee Madjoub, Melody Nosipho Niemann | Produksi: Sega Sammy Group, Original Film, Marza Animation Planet, Blur Studio | Distributor: Paramount Pictures | Genre: Petualangan | Durasi: 98 menit | Rilis: 14 Februari 2020, Mola TV
- Nicolaas Jouwe dari Papua Merdeka ke Republik Indonesia
NAMA Nicolaas Jouwe, mantan tokoh OPM disebut-sebut oleh beberapa media nasional. Kutipan berita Antaranews.com (8/5) misalnya, mewartakan bahwa pendiri OPM itu menyebut Veronica Koman tak berhak berbicara mengenai masalah Papua. Padahal, Nicolaas Jouwe telah wafat pada 16 September 2017 silam. Setelah ditelusuri lagi, ternyata berita Antara mengandung kekeliruan. Pihak Antara telah mengakui kesalahan dalam penyebutan nama dan pemuatan foto. Sosok yang dimaksud bukanlah Nicolaas Jouwe melainkan Nicholas Messet. Kesalahan tersebut berasal dari sumber penulisan berita yakni siaran pers Satgas Nemangkawi. Tidak hanya Antara , kekeliruan serupa juga dikutip media lain seperti, JPNN.com , Okezone.com , dan Beritasatu .
- Mengenang La Grande Inter
WALAU sudah dipastikan juara Serie A musim 2020/2021 sejak 2 Mei lalu, yang menghapus dahaga gelar Liga Italia selama 11 tahun, Inter Milan tetap tancap gas melakoni empat partai sisa. Tampil di rumah sendiri, Stadio Giuseppe Meazza, skuad besutan Antonio Conte itu menolak bermain santai kala menjamu Sampdoria pada giornata ke-35, Sabtu (8/5/2021). Sebelum kick off , Sampdoria melakoni guard of honor sebagai bentuk penghormatan pada Inter yang kini total sudah mengoleksi 19 titel scudetto . Namun penghormatan itu tak membuat Inter tampil lembek. Dalam dua kali 45 menit, Sampdoria dihajar Inter 5-1. Massimo Moratti, bos Inter periode 1995-2013, turut merasakan euforia tersebut. Harapannya kepada Conte untuk membawa Inter tak berpuas diri amat besar. Inter diharapkannya terus terobsesi pada gelar yang lebih prestisius dari yang dicapai semasa kepelatihan José Mourinho di 2010 dengan treble winners -nya atau bahkan era La Grande Inter (1960-1967) di masa Inter dipimpin ayahnya, Angelo Moratti. “Conte seorang yang gigih, tahan banting. Ia mampu mencapai tujuannya, melindungi dan membentuk tim juara. Tim yang penuh karakter dan mampu memberi kejutan. Bagi saya dia pelatih yang luar biasa,” puji Moratti, dilansir Corriere dello Sport , 5 Mei 2021.. Guard of Honor dari Sampdoria untuk jawara Serie A musim 2020/2021, Inter Milan ( inter.it ) Sanjungan senada terhadap Conte dilontarkan Angelo Domenghini (1964-1969), bintang Inter yang jadi bagian Grande Inter . “Inter sangat pantas scudetto . Mereka tim terkuat dan paling kompetitif. Bisa dilihat dari hasilnya dan bagaimana tim dipersiapkan, terutama kekuatan pertahanan. Publik memang menganggapnya (Conte) masih terikat dengan Juve. Tetapi dia juga pernah menang bersama Chelsea. Memang lain era lain permainan sepakbola. Grande Inter juga tim terkuat dengan Juve dan AC Milan sebagai pesaingnya. Musim ini Inter mengalahkan semuanya,” ungkap Domenghini kepada Bergamo News , 5 Mei 2021. Kedisiplinan dan aspek psikologis jadi pegangan penting Conte s ebag a i ma n a Helenio Herrera sang pelaith Grande Inter . Pa ra pemain tak dibiarkan punya gaya hidup bebas. K eteg a san Conte dan Herrera mampu menundukkan ego para pemainnya untuk mau menjalani diet ketat dan pelatihan berat. Conte selalu memperhatikan aspek psikologis dan memotivasi pemainnya sembari terus mengolah taktik sejak sukses bersama Juventus (2011-2014) dan Chelsea (2016-2018). Baginya,seorang pelatih hanya bisa punya prestasi manis di era sepakbola modern jika mampu mengombinasikan semua. “Anda harus punya kemampuan bagus dalam taktik, motivasi, psikologi, serta memenej klub dan media. Anda harus serba-bisa dan Anda hanya akan berhasil jika terus mau belajar,” cetus Conte, disitat ESPN , 8 April 2016. Era Emas di Tangan Il Mago Sebagaimana Conte, Helenio Herrera juga merupakan pelatih berprestasi cemerlang sampai dijuluki Il Mago (si penyihir). Pria kelahiran Buenos Aires, Argentina pada 10 April 1910 tapi berpaspor Prancis itu direkrut bos InterAngelo Moratti pada 1960 dari Barcelona. Tugas membangkitkan Inter dari kubur. Pasalnya sejak Moratti memegang tampuk kepemimpinan pada 1955, tak sekalipun Inter merengkuh titel. “Psikologi dalam sepakbola adalah subyek yang sulit dipahami secara konklusif. Bagi pertandingan antara dua tim kuat, pemenangnya biasanya ditentukan oleh siapa yang mampu menguasai aspek pikiran dan psikologi. Banyak pelatih yang mencoba menanamkan mental juara dan satu contoh pelatih yang kondang atas hasil dari pembentukan attitude dan psikologi adalah Helenio Herrera,” tulis David Hartrick dalam 50 Teams That Mattered. Herrera jel a s butuh waktu mengubah Inter jadi tim juara hanya bermodalkan aspek psikologi. Tiga tahun pertamanya gagal total hingg a nyaris dipecat Moratti lantaran keukeuh menerapkan strategi ofensif sebagaimana kebiasaannya saat menukangi Barça serta Timnas Spanyol. Helenio Herrera Gavilán yang berperan membentuk La Grande Inter ( inter.it ) Di tahun, ketiga Herrera menyontek sistem Verrou atau Catenaccio, sistem pertahanan gerendel, yang diperkenalkan pelatih Swiss Karl Rappan. Sistem itu lalu dia sempurnakan dengan formasi 5-3-2. Herrera menyempurnakannya dengan memindahkan satu pemain gelandang ke posisi sweeper (libero) di belakang empat bek agar kemudian dua bek sayap bisa bergerak bebas membantu serangan balik. “Adalah Armando Picchi yang kemudian menjadi libero terbaik dunia di bawah pelatih Prancis-Argentina itu, sementara Giacinto Fachetti bisa mencetak banyak gol bersumber dari sistem ini. Herrera juga membawa Luis Suárez dari Barcelona untuk jadi jenderal lapangan tengah dengan visi fantastis, sedangkan tornante (sayap kanan) Jair da Costa yang jadi andalan dengan kecepatannya siap menerima setiap asupan umpan dari Suárez,” tulis pengamat sepakbola Sam Tighe dalam ulasannya yang dimuat Bleacher Report , 16 April 2013. Pasukan Herrera tentu bukan hanya bertulangpunggungkan tiga pemain di atas. Grande Inter punya “gladiator” tangguh Tarcisio Burgnich, Artistide Guarneri, Carlo Tagnin, Sandro Mazzola, Mario Corso, dan kiper Giuliano Sarti. “Di belakang Picchi ada kiper Giuliano Sarti yang tangguh di tim Grande. Burgnich dan Guarneri bek berkarakter yang berbagi visi Herrera sebagai gerendel di jantung pertahanan. Tagnin dan Gianfranco Bedin penting sebagai bertahan. Mazzola di kanan depan jadi simbol Inter yang mencetak banyak gol indah. Corso di kiri depan juga pemain jenius dengan kaki kirinya yang andal dalam tendangan bebas dan umpan matang,” sambung Hartrick. Skuad Il Biscione di musim 1964/1965 ( inter.it ) Saat bertahan, Herrera bisa mengarahkan lima sampai tujuh pemain melindungi gawang. Tetapi saat menyerang balik secara vertikal, dua bek sayapnya diperintahkan secara sigap untuk membantu serangan balik. Alhasil pemain seperti Fachetti yang berposisi sebagai bek sayap bisa punya koleksi gol sampai 59 buahdi sepanjang 476 penampilannya berseragam La Beneamata (1960-1978). “Saat menyerang balik, para pemain paham apa yang saya inginkan: sepakbola vertikal dengan kecepatan tinggi, dengan tidak lebih dari tiga passing untuk mencapai kotak penalti lawan. Tak mengapa jika Anda kehilangan bola saat bermain vertikal –tetapi jika kehilangan bola dalam permainan lateral (menyamping) Anda akan membayarnya dengan (kecolongan) gol,” ujar Herrera dikutip Jonathan Wilson dalam Inverting the Pyramid: The History of Soccer Tactics. Tetapi transformasi Inter itu takkan berjalan tanpa aspek kedisiplinan. Herrera amat keras soal kedisiplinan. “Herrera menciptakan kultur di mana setiap keberadaan pemainnya dimonitor dan diukur. Para pemain diharapkan rela mati di lapangan demi tim dan jika tidak siap-siap, ditendang dari klub. Para pemain Inter punya diet yang terkontrol, rutinitas latihan yang keras. Menjadikan timnya sangat disiplin walau tak jarang juga menimbulkan ketegangan antara Herrera dan beberapa pemainnya, di mana salah satunya Picchi,” tambahnya. Capaian manis La Grande Inter meraih trofi European Cup (Liga Champions) musim 1963/1964 (kiri) & musim 1964/1965 ( inter.it ) Dari aspek psikologis, Herrera mencekoki pasukannya setiap kali hendak latihan dan bertanding. Salah satunya dengan cara memasang spanduk bertuliskan“Kelas+Persiapan, Fisik Atletis+Kecerdasan=Scudetto” di kamar ganti tim. Soal psikis, Herrera tak hanya memperhatikan pemain.Eksistensi pendukung dianggapnya jadi suntikan moril bagi timnya. Oleh karenanya dia memberi perhatian pada fans. “Dinamika psikologi Herrera juga kemudian mengarahkannya pada pentingnya peran pendukung. Ia mendesak Moratti membentuk dan membiayai kelompok-kelompok Interisti untuk bisa mendukung tim di laga tandang, baik di (liga) Italia maupun Eropa. Tindakan yang kemudian melahirkan banyak kelompok ultras ,” kataDavid Goldblatt dalam The Ball is Round: A Global History of Football. Hasil racikan Herrera pun berbuah manis. Tiga kali Inter dibawanya merebut scudetto (1962-1063, 1964-1965, 1965-1966), dua kali juara Liga Champions (1963-1964, 1964-1965), dan dua kali memboyong trofi Intercontinental Cup (1964, 1965).
- Suara Penyintas 1965 yang Layak Didengar
GARIS-garis keriput di kulit kedua perempuan usia senja itu mengindikasikan banyaknya tahun yang telah dilalui keduanya. Kusdalini dan Kaminah, kedua perempuan tadi, memang telah berjuang menyambung hidup dalam kemiskinan sembari menanti keadilan sejak muda hingga tua. Mbah Kam dan Mbah Kus, begitu keduanya disapa, merupakan penyintas G30S yang jadi “lakon” utama dalam film You and I (2021) karya Fanny Chotimah. Keduanya dikenal Fanny sejak 2016. Perkenalan mereka bertiga bermula kala kawan Fanny, Adrian Mulya, Amerta Kusuma, dan Lilik HS tengah mengerjakan buku foto Pemenang Kehidupan. Dari perkenalan itu, Fanny makin mengenal keduanya. Lambat laun, timbul perasaan intim dan personal di sudut hati Fanny. “Pas perkenalan pertama itu saya ingin kenal lebih jauh. Awalnya juga sama sekali enggak pikiran mau bikin film. Memang dalam diri aku ingin kenal saja. Aku juga punya semacam ikatan kalau melihat mereka ingat nenekku. Apalagi nenekku juga (mengidap) demensia kayak Mbah Kus. Aku juga jadi punya kesempatan dengar cerita mereka,” tutur Fanny kepada Historia via percakapan di platform Google Meet, Jumat (7/5/2021). Baca juga: Potret Pahit Penyintas 1965 dalam You and I Kaminah dan Kusdalini antusias kala berbagi kisah tentang kegiatan komunitas film Fanny dan kawan-kawannya yang acap memutar film ala “layar tancap” di kampung-kampung. Ternyata ada keserupaan pengalaman, di mana Kaminah dan Kusdalini berkisah di masa muda mereka dulu ikut paduan suara di bawah naungan Pemuda Rakjat (PR) yang juga tampil keliling kampung. “Dari situ intens datang dan sharing-sharing. Lalu aku melihat apa yang mereka lakukan sama dengan yang aku lakukan. Terus mereka dipenjara tanpa pernah diadili. Saya merasa, kalau itu bisa terjadi sama mereka, berarti bisa juga terjadi sama aku kalau misalnya kejadiannya seperti itu,” imbuhnya. Fanny Chotimah & Adrian Mulya bersama duet penyintas 1965: Sri Kusdalini & Kaminah (Dok. Adrian Mulya) Kejadian yang dimaksud adalah pemburuan, pemenjaraan, hingga pembunuhan orang-orang yang diduga PKI dan simpatisannya pasca-G30September 1965. Di situlah Kaminah dan Kusdalini ditangkap dan ditahan tanpa pengadilan lantaran kaitannya dengan PR yang underbouw PKI. Dari situlah Fanny mendapatkan ide untuk menyuguhkan kisah mereka lewat film dokumenter. “Dari situ muncul urgensi untuk, wah, ini harus didokumentasikan, harus dibikin film dokumenter. Secara enggak langsung juga riset sudah terjadi karena aku membangun relasi itu sejak belum punya pikiran membuat dokumenter. Aku terus minta izin untuk mendokumentasikan dan terus disambut sama mereka. Mbah Kam yang menyemangati kami karena merasa ini warisan untuk generasi muda,” tambah sineas kelahiran Bandung, 18 November 1983 itu. Baca juga: Peter Jackson & Dokumenter They Shall Not Grow Old You and I kemudian jadi proyek dokumenter panjang pertama Fanny. Dia dan tim produksi memulai proyeknya pada 2016. Dengan pendekatan observasional, tim mengikuti keseharian Mbah Kam dan Mbah Kus di rumah, lingkungan tempat tinggal, hingga pertemuan dengan sesama penyintas di bawah payung Paguyuban Korban Orde Baru (Pakorba). Penulisan ceritanya pun bergulir seiring syuting keseharian dua penyintas itu. Sembari merekam keseharian, Fanny juga memikirkan titik kekuatan filmnya agar bisa diterima generasi muda sebagai target penontonnya. “Akhir 2016 sudah mulai meski development cerita masih aku tulis. Karena aku tertarik sama memori itu, kedimensian Mbah Kus yang kupikir personal dan dekat dengan aku. Saat lihat banyak footage , kok kuat banget tentang gimana relasi mereka berdua. Malah kemudian kekuatannya ada di relasi mereka,” lanjut Fanny. Kolase di balik layar "You and I" (Dok. Tim Produksi/KawanKawan Media) Tajuk You and I sendiri dipilih Fanny karena andil Mbah Kus. “ You and I itu sebetulnya dari Mbah Kus. Dulu kan Mbah Kus bisa bahasa Inggris dan Jerman. Saat adegan melihat foto mereka berdua, tiba-tiba muncul (celetukan): ‘ Oh iki, You and I. ’ Itu momennya sama dengan adegan bercanda melihat foto. Aku harus pilih mana momen yang paling kuat. Di proses editing itu pertempurannya untuk mana momen yang kusayang. Aku pertahankan yang (adegan bercanda) itu karena terlihat banget kuatnya relasi mereka. Relasi itu yang bisa relate ke semua orang dan semua usia,” lanjut Fanny. Baca juga: Mengintip Belakang Layar Nyanyian Akar Rumput Dalam proses produksi, Fanny mengaku tantangannya bukan dari faktor-faktor eksternal meski film-film yang mengangkat isu 1965 masih sangat sensitif dan acap mendapat penolakan. Tantangan dalam produksi You and I sampai selesainya editing di tahun 2020 justru datang dari diri sendiri. Pasalnya, karyanya tersebut punya keintiman dengannya. “Jadi tantangan tersendiri terutama di momen-momen Mbah Kus butuh bantuan nyuci, duh aku takut banget dia jatuh, misalnya. Kayak pingin menolong dia. Saat adegan susah masuk ke angkot, biasanya kalau enggak syuting yang kita nolongin. Benturan-benturan di dalam diri itu yang kuat. Tapi di beberapa kejadian aku menekankan sama tim bahwa syuting nomor dua dan yang terpenting adalah keselamatan mereka,” imbuhnya. Kolase tim produksi bersama Kaminah sepeninggal Kusdalini yang wafat pada 2017 (Dok. Tim Produksi/KawanKawan Media) Menahan diri dan emosi jadi tantangan terbesar Fanny. Terlebih saat kesehatan Kusdalini mulai menurun medio 2017. Beberapakali Fanny harus berhenti merekam demi bisa membantu mengevakuasinya ke rumahsakit. “Mbah Kus masuk rumahsakit karena stroke , bertahan tujuh bulan di rumah sakit lalu Mbah Kus pergi (meninggal, red. ). Tahun berikutnya masih syuting tapi bobotnya makin berat dan sedih rasanya. Momen di mana Mbah Kam sudah tidak bisa mempertahakan Mbah Kus, itu juga emosional. Syutingnya sambil nangis. Padahal aku ingin film ini memberi harapan, bukan jatuhnya malah sedih dan dramatis. Tapi harus tetap bisa menguasai diri,” tambah Fanny. Narasi Historis dan Strategi Sebagai sineas yang masa kecilnya tumbuh di era Orde Baru, Fanny mengenal narasi 1965 itu lewat film propaganda penguasa garapan sutradara Arifin C. Noer, Pengkhianatan G30S/PKI . Film itu dulu juga jadi tontonan wajib bagi pelajar, termasuk Fanny. Namun ia mengaku tak pernah menontonnya sampai habis. “Horor banget. Aku selalu bertanya-tanya sejak kecil itu nyata atau enggak. Belum cerita-cerita di sekelilingku. Cerita kayak, ‘Oh, paman saya pernah bunuh PKI.’ Itu aku syok, bunuh orang lalu bangga. Itu ada apa? Di SMA ada teman yang sangat vokal dan kritis karena ingin tahu tentang PKI. Dia berdebat sama guru sejarah. Gurunya jadi kayak, ‘Oh, enggak bisa kamu seperti itu. Hati-hati kamu dicap komunis.’ Aku yang menyaksikan, kenapa sih kok begitu? Akhirnya cari referensi lagi,” kenang Fanny. Baca juga: Perkenalan Hanung Bramantyo dengan Tragedi 1965 dan Pram Fanny Chotimah menguraikan banyak kisah di balik layar via daring (Tangkapan Layar/Historia) Selain dari buku non-fiksi dan novel para penyintas 1965 seperti Pulang (2012) karya Leila Salikha Chudori dan dokumenter Shadowplay (2001) karya Lexy Rambadeta, Fanny mendapat sudut pandang lain Peristiwa 1965 dari kakeknya sendiri. “Ada stigma juga dari mamaku yang bilang komunis itu jahat. Tapi sementara aku juga dapat cerita dari kakek di Bandung. Dia juragan tanah dan punya sawah dan ada yang garap (petani penggarap). Dulu kan BTI (Barisan Tani Indonesia) juga dicari ya. Tapi kakekku itu melindungi BTI. Jadi BTI yang lari minta perlindungan kakekku itu selamat,” sambung sineas otodidak yang berkecimpung di komunitas film Yayasan Kembang Gula dan komunitas perempuan Jejer Wadon tersebut. Dari situ Fanny mulai paham bahwa selain rumit dan kompleks, Peristiwa 1965 juga masih jadi isu sangat sensitif, utamanya kala bulan September dan Oktober. Ia juga sempat diperingatkan Kaminah untuk sementara stop syuting dan “tiarap”. Namun hingga selesainya produksi, Fanny dan tim produksi tak pernah mengalami persekusi dan penolakan dari pihak luar. Baca juga: Pemuda Sosialis di Balik Film Legendaris Hal mencekam yang pernah dialami Fanny justru saat diskusi terbatas buku foto Pemenang Kehidupan . Prosesnya kala itu bareng proses syuting You and I . Fanny, Adrian dan rekan-rekannya sempat didatangi intel. Salah satu rekannya bahkan ada yang sampai dipanggil pihak kepolisian. “Aku sudah tahu dan pengalaman dipanggil intel. Ya saat syuting film aku paham ini risikonya walau pas syutingnya tidak terjadi apa-apa. Aku tentu akan pasang badan kalau terjadi apa-apa sama mereka. Kata Mbah Kus dan Mbah Kam: ‘Ya ini risikonya. Ini risiko perjuangan’,” kata Fanny. Oleh karena mengerti risikonya, Fanny pun mengarahkan narasi You and I dengan kompromi sebagai strategi. Tujuannya agar film tidak condong politis dan tetap menyajikan gambaran humanis walau kedua tokohnya punya latar belakang masa silam kelam. Masa muda Kusdalini (kiri) & Kaminah (KawanKawan Media) Fanny hanya sedikit menyuguhkan keterangan tentang Kusdalini dan Kaminah sebagai anggota paduan suara di bawah naungan Pemuda Rakjat. Keduanya sering mentas keliling kampung, bahkan pernah tampil di hadapan Presiden Sukarno di Jakarta. Kusdalini dan Kaminah jadi dua pemudi Sukarnois yang aktif di Pemuda Rakjat. Faktor ideologis itu membuat keduanya harus mendekam di balik jeruji besi tanpa diadili. Kusdalini ditahan dua tahun dan Kaminah tujuh tahun. “Ini strategi karena buatku (isu 1965) sangat rumit dan kompleks, belum lagi penolakan-penolakannya. You and I ini tidak terasa politisnya dan tidak mengupas sejarah itu. Yang kita bicarakan hari ini adalah sisi kemanusiaannya agar lebih mudah diterima. Juga bicara di generasi ini kita harus punya pendekatan khusus. Aku lihat respon dari generasi ini mereka bisa menangkap karena sisi humanis dan persahabatan itu. Kalau peristiwanya (dari segi politis) mereka bisa cari referensi di tempat lain. Yang Aku tekankan humanismenya,” ungkapnya lagi. Strateginya berbuah manis. Tidak hanya mendapat banyak sambutan positif dari sejumlah perwakilan pemerintah daerah, You and I kemudian juga diapresiasi lebih luas dengan memenangkan kategori dokumenter terbaik sepanjang di Piala Citra 2020, DMZ International Documentary Film Festival di Korea Selatan 2020, dan terakhir di CPH:DOX Denmark 2021. “Ya jadi bisa diputar di Bioskop Online (mulai 9 April 2021) dan bahkan waktu pemutarannya di Solo mengundang pemerintah (daerah) juga. Mereka menyambut baik. Karena fokusnya itu tadi, ke kisah dua penyintas dan narasi setiap penyintas penting, layak didengar, dan berharga karena itu juga berisi kehidupan, kesaksian, dan suara mereka,” tandas Fanny. Baca juga: Proses Kreatif Usmar Ismail di Balik Layar
- Ketika Jenderal Nasution “Dikerjain” Presiden Sukarno
Pada akhir September 1964, Jenderal Abdul Haris Nasution berangkat ke Uni Soviet. Saat itu, Angkatan Perang Republik Indonesia perlu peluru kendali jarak menegah. Konflik konfrontasi dengan Malaysia semakin memanas. Sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata, Nasution bersiap-siap apabila pecah perang dengan Malaysia yang didukung Inggris. Ini adalah kunjungan kesekian kalinya bagi Nasution dalam misi pembelian senjata berat. Dia didampingi oleh dua perwira staf Komando Siaga (KOGA), Laksamana Mulyadi dan Brigjen Ahmad Wiranatakusumah. Untuk memperlancar lobi-lobi, Presiden Sukarno direncanakan akan turut bergabung setelah menyelesaikan kunjungannya di Jenewa. Pada hari kedatangan Sukarno ke Moskow, para pejabat tinggi Uni Soviet menyambut di pelabuhan udara. Mereka antara lain Perdana Menteri Nikita Khrushchev, Presiden Anastas Mikoyan, dan Sekjen Partai Komunis Leonid Brezhnev. Ketika melihat Nasution di antara rombongan dari Indonesia, Khrushchev datang menghampiri seraya mengulurkan tangan kepada sang jenderal. Dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 6: Masa Kebangkitan Orde Baru , Nasution menuturkan pembicaraannya dengan Khrushchev. Komunikasi antara mereka tentu saja terjalin lewat bantuan penerjemah. “Jenderal Nas ada di Moskow, semua gudang telah saya kunci, tidak bisa anda mendapatkan senjata-senjata yang kamu ingini,” kata Khrushchev berkelakar. “Itu bukan soal bagi saya, karena saya punya tangan-tangan di Moskow, antara lain Perdana Menteri Khrushchev,” jawab Nasution. Mendengar jawaban itu, Khrushchev malah tertawa terbahak-bahak. Setibanya di Istana Kremlin, pihak Indonesia dan Uni Soviet duduk berhadapan. Di meja perundingan, Nasution membisikan kepada Sukarno kontrak pembelian yang diinginkan. Sukarno meneruskannya kepada pihak Uni Soviet yang kemudian ditanggapi Khrushchev. “Bagaimana saya bisa menolong Indonesia, sudah lama tidak dibayar angsuran,” ujar Khrushchev. Nasution mengakui angsuran tahun 1963 memang memang belum beres. Begitupun dengan cicilan pada tahun yang sedang berjalan. Namun menurutnya, tunggakan itu sudah dibayarkan sebagian. Juru hitung Uni Soviet membuat kalkulasi melalui nota kecil dan secara beranting diteruskan ke jurusan perdana menteri. Ketika nota itu tiba pada Presiden Mikoyan, dia tidak segera meneruskannya kepada Khrushchev. “Beliau dengan agak nakal melihat kepada saya dan saya balas dengan senyuman, kami duduk persis berhadapan di meja perundingan itu,” kenang Nasution. Rupanya juru hitung Uni Soviet dari urusan Perdagangan Luar Negeri itu menyangkal keterangan pembayaran dari Nasution. Kendati demikian, nota kecil itu tetap tertahan pada Mikoyan. Terjadilah lampu hijau untuk urusan jual-beli senjata. Nasution boleh berlega hati. Setelah kontrak pembelian ditandatangani, dua hari berturut-turut diadakan jamuan makan oleh pihak Soviet untuk tamu-tamunya dari Indonesia. Dalam jamuan di Kremlin, Khrushchev secara terang-terangan mengkritik poros Jakarta-Peking yang diprakarsai Bung Karno. Katanya, ”Nasib poros ini akan sama nanti dengan poros Fasis-Nazi, Roma-Berlin dulu”. Khrushchev bicara blak-blakan. Dalam jamuan balasan keesokan hari, Khrushchev tidak bergabung karena ada agenda berlibur dengan cucu-cucunya di Laut Hitam. Hanya Presiden Mikoyan dan Sekjen Brezhnev yang menjadi tamu penting. Bung Karno duduk mendampingi Brezhnev sedangkan Nasution mendampingi Mikoyan. Karena Indonesia sebagai tuan rumah, susunan tempat duduk sudah diatur oleh ajudan Presiden Sukarno. Kebetulan kursi di samping Nasution kosong. Seorang ajudan presiden kemudian mengantarkan seorang perempuan Soviet berparas cantik dan dipersilakan duduk di sebelah Nasution. Setelah berkenalan, Nasution mendapati bahwa wanita itu seorang bintang film. Setelah selesai babak makan, tinggallah babak ngomong-ngomong, Sukarno mendatangi Nasution. Dalam bahasa Belanda, Bung Karno berkata, “Nas, tempat saya ini tochtig (dingin), saya tak kuat. Kamu saja duduk disini, mari tukar tempat.” Keduanya pun lantas bertukar tempat duduk. “Pihak Soviet agak ternganga melihat kami bertukar tempat. Bung Karno jadi sibuk ngomong-ngomong dengan artis tadi dan saya harus meladeni Presiden Mikoyan dan Brezhnev,” kenang Nasution. Selama dua jam acara jamuan makan itu, terjadilah pelimpahan kekuasaan. Bung Karno menyerahkan sepenuhnya kepada Nasution urusan diplomatik dengan pemimpin Uni Soviet.
- Dipancung Jepang di Bulan Ramadan
Serangan Jepang ke Indonesia tidak mendapatkan perlawanan yang berarti dari tentara Belanda. Hal ini disebabkan rakyat Indonesia tidak memberi bantuan. Bahkan di beberapa tempat, rakyat justru menyerbu tentara KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Hanya di beberapa tempat, tentara KNIL memberikan perlawanan sengit kepada Jepang. "Di Sulawesi Tengah, Letnan Infanteri De Jong dan Van Daalen melakukan perang gerilya serta berhasil membunuh banyak serdadu Jepang," tulis sejarawan M. Adnan Amal dalam Kepulauan Rempah-rempah. Mereka menewaskan tujuh perwira dan ratusan –sumber lain: 35 sampai 70– tentara Jepang dalam pertempuran di Lembosalenda (Korondoda) pada 7 Juli 1942. "Tempat itu merupakan daerah yang paling banyak memakan korban pasukan tentara Jepang sehingga mereka melakukan pembakaran mayat secara besar-besaran," catat Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Sulawesi Tengah , terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jepang mendirikan monumen peringatan berbentuk tujuh tugu untuk tujuh perwira yang tewas. Setiap orang yang melewati tempat itu harus memberi hormat dengan membungkuk ( seikerei ) kepada tujuh tugu itu. Sehingga, tempat itu kemudian dikenal dengan nama seikerei . Tempat itu dijaga seinendan (barisan pemuda) untuk mengawasi apakah orang yang lewat memberi hormat atau tidak kepada tujuh tugu itu.Apabila ada yang tidak memberi hormat, dia akan dipanggil dan disiksa oleh Jepang. Setelah pertempuran di Lembosalenda , pasukan De Jong dan Van D a alen bercerai -berai, banyak yang tewas , bahan makanan dan amunisi makin habis. Bantuan makanan dan senjata dari Sekutu melalui udara jatuh ke tangan Jepang . Sebelumnya, Jepang juga menyita kapal S anoa yang membawa bantuan Sekutu dari Australia . Akhirnya, pada Agustus 1942, Van Daalen tertangkap di Korondoda dan De Jong tertangkap di Era. "Kedua perwira KNIL ini akhirnya menyerah dan dideportasi ke Manado," tulis Adnan. Keduanya dicungkil matanya sebelum dipancung pada 28 Agustus 1942. Satu-satunya tentara Belandayang lolos dari penangkapan Jepang adalah Jan Klinkhammer. Dia diselamatkan oleh penduduk setempat di sebuah bukit kecil Majalede di daerah padang luas bernama Pesuaka. Dia selamat sampai Jepang menyerah kepada Sekutu. Van Da a len ditangkap Jepang bersama Lonsi, kepala kampung Tomata, serta beberapa orang dari Bungku dan Salabangka. Di antara mereka yang di tangkap termasuk tokoh-tokoh pergerakan Merah Putih di Bungku dan Salabangka, yaitu Haji Hasan dan Abdullah Macan, serta kawan-kawannya. "Pada September 1942 di depan umum yang sengaja dipanggil Jepang untuk menyaksikan, diadakanlah pemancungan 21 orang tokoh-tokoh pergerakan Merah Putih dicampur dengan bekas orang-orangnya Van Daalen dan De Jong," tulis Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Sulawesi Tengah . Gerakan Merah Putih didirikan dan dipimpin oleh Nani Wartabone dan Kusno Danaupoyo pada Februari 1942. Gerakan yang berpusat di Gorontalo, Sulawesi Utara ini mengirim utusan-utusan ke pelbagai tempat di Sulawesi Tengah untuk merebut kekuasaan dari tangan Belanda menjelang kedatangan Jepang. Setelah tokoh-tokoh pergerakan Merah Putih itu, Sejarah Daerah Sulawesi Tengah mencatat, Raja Tojo Tanjumbulu, pemimpin pemberontakan pada Belanda tahun 1942 di Ampana, bersama guru/mubalig Jamaluddin Datu Tumenggung, tokoh PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia) asal Parigi bernama Abd. Karim (murid HOS Tjokroaminoto), ditambah delapan orang lainnya gugur dipancung Jepang di muka umum pada akhir bulan Ramadan tahun 1942 –awal Ramadan tahun 1942 jatuh pada 12 September. "Pembunuhan besar-besaran itu akibat fitnah bekas Bestuur Asisten Belanda di Poso bernama Warouw," sebut buku terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan itu. " Mereka dituduh mata-mata musuh (Sekutu), kaki tangan pemerintah Hindia Belanda, padahal mereka adalah pejuang-pejuang yang ingin memerdekakan bangsa dan wilayahnya dari penjajahan Belanda."
- Tentara Rusia di Pesawat Tempur Indonesia
SUATU hari di tahun 1962. Beberapa prajurit Resimen Tempur ke-831 dipanggil secara mendadak ke Moskow. Di depan para anggota Angkatan Udara Uni Soviet itu, seorang petinggi militer bernama Letnan Jenderal A.F. Semyonov mengumumkan bahwa dalam waktu beberapa hari ke depan mereka akan ditugaskan di suatu tempat yang merupakan salah satu titik konflik di dunia. “Dia tidak menyebut tempat atau nama negara mana pun saat itu kepada kami. Yang jelas wilayah yang akan dituju, kata dia, memiliki perbedaan adat istiadat dan cuaca yang sangat berbeda dengan negara kami,” ungkap K. Dimitriev, seperti dikutip oleh sejarawan militer Uni Soviet Alexander Okorokov dalam buku Тайные войны СССР (Perang Rahasia Uni Soviet). Beberapa hari kemudian, Dimitriev dan kawan-kawannya sudah berada di pesawat sipil Ilyushin-18 (Il-18). Setelah transit di Tashkent, New Delhi dan Rangoon, mereka belum juga mendapatkan kepastian akan menuju negara mana. Barulah ketika pesawat lepas landas, di atas Rangoon, kopilot memberikan kepada mereka masing-masing sebuah amplop. “Isinya pemberitahuan bahwa kami akan dikirim dalam suatu misi tempur ke Indonesia,” ujar ahli spesialis senjata udara itu. Di Indonesia, para instruktur dan teknisi pesawat tempur Uni Soviet itu kemudian ditempatkan di Pangkalan Udara Iswahyudi, Madiun. Selain anggota Resimen Tempur ke-831, ikut pula para kru Angkatan Udara Uni Soviet dari Personel ke-2 Skuadron Resimen Pesawat Tempur Pengawal ke-32 yang berkedudukan di Pangkalan Udara Kubinka. “Semua sukarelawan Rusia itu dipimpin oleh seorang kolonel udara bernama Loginov,” ungkap Okorokov. * Resminya, kehadiran para tentara udara Uni Soviet tersebut merupakan bagian dari fasilitas pembelian sejumlah pesawat tempur yang dilakukan Indonesia dari negeri Beruang Merah tersebut. Misi Nasution yang dilakukan pada akhir 1960, meniscayakan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) mendapatkan sejumlah pesawat tempur canggih pada era itu, seperti Tu-16KS, MIG-17, MIG-19S, MIG-21 dan pesawat angkut An-12. Untuk mengoperasikan semua pesawat terbang itu, tentunya diperlukan para instruktur dan tenaga teknis dari Uni Soviet. Terutama itu diutamakan untuk jenis pesawat-pesawat tempur yang secepatnya akan diterjunkan di palagan Irian Barat. Maka atas persetujuan langsung dari Perdana Menteri Nikita Khrushchev, para sukarelawan Uni Soviet pun dikirim ke Indonesia. Soal keberadaan para kru AU Uni Soviet itu diakui sendiri oleh Marsda (Purn) R. Wisnu Djajengminardo dalam bukunya Kesaksian: Memoar Seorang Kelana Angkasa. Menurut mantan Asdir Latihan&Operasi Direktorat Operasi Markas Besar Angkatan Udara (MBAU) itu, para penerbang asing tersebut memang pernah ada. Mereka sepengetahuan Wisnu berfungsi sebagai instruktur bagi para calon pilot pesawat tempur AURI. “Instruktur-instruktur itu memberikan latihan terbang transisi pada penerbang-penerbang Tu-16 AURI di Iswahyudi…” ungkap Wisnu. Wisnu malah ingat, salah satu dari instruktur Rusia itu telah tewas dalam suatu latihan terbang malam di landasan Lanud Iswahyudi. Ceritanya, perwira AU Uni Soviet itu sedang melakukan latihan mengoperasikan Tu-16KS dengan seorang penerbang AURI bernama Soewandi. Pada saat akan mendarat, pesawat mengalami kecelakaan ( crash) . Akibatnya, sang penerbang Rusia langsung tewas dan Soewandi luka-luka. “Penerbang-penerbang Rusia itu enggan menggunakan flight helmet , karena menganggap itu suatu luxury… Karena tidak menggunakan helmet , (saat crash ) tengkuknya terpukul oleh batang besi yang lepas dari belakang tempat duduk pilot,” ujar Wisnu. Sumber Rusia mengamini informasi yang disampaikan Wisnu itu. Dalam bukunya, Okorokov mengidentifikasi instruktur yang mengalami kecelakaan tersebut sebagai Mayor Oleg Borisenko. Bahkan sebagai bentuk penghormatan, pemerintah Uni Soviet telah menganugerahi mendiang Borisenko dengan Bintang Panji Merah. Itu nama salah satu penghargaan militer tertinggi di masa Uni Soviet berjaya. Kecelakaan fatal pun pernah dialami oleh kru Uni Soviet lainnya di Lanud Iswahyudi. Adalah Letnan Senior Mikhail Grankov, teknisi MIG-21 yang harus menemui ajal karena mobil GAZ-69 yang dikendarainya ditabrak sebuah truk militer. Berbeda dengan keterangan Wisnu yang menyangkal adanya pilot Rusia yang pernah turun langsung ke palagan Irian Barat, Okorokov justru mendapatkan keterangan yang berbeda dari para veteran yang pernah ditugaskan ke Indonesia. Menurut staf pengajar di Akademi Ilmu Militer Rusia itu, seorang pilot Rusia pernah dikabarkan menerbangkan salah satu pesawat tempur beridentitas AURI lalu menghajar kedudukan sebuah stasiun radar milik Belanda di Manokwari, Kendati diberitakan sukses menghancurkan kedudukan musuh, pesawat tempur itu tak pernah kembali ke Lanud Iswahyudi. Tak jelas benar, apakah pesawat itu jatuh ditembak musuh atau mengalami kecelakaan saat hendak kembali ke pangkalan. “Dia tidak pernah kembali dari misinya…” ungkap Okorokov.
- Menyusun Kamus Bahasa Melayu
PADA 1857, sebuah kapal berpenumpang tiba di Riau. Kapal yang betolak dari Batavia itu sebagian besar diisi orang-orang Eropa. Mereka adalah pegawai negeri di pemerintahan Hindia Belanda yang baru dipindahkan dari wilayah Jawa ke Riau. Seorang peneliti berkebangsaan Jerman, Von de Wall, ada di antara rombongan pegawai tersebut. Von de Wall akan menempati jabatan asisten residen di Riau. Sebelumnya dia tinggal di Kalimantan sebagai wakil pemerintah Hindia Belanda di Kutai. Selama bekerja di sana, Von de Wall menunjukkan ketertarikannya terhadap bahasa dan sastra Melayu. Ketika itu, Von de Wall berhasil menyusun daftar kosakata baru yang belum dikenal. Dia juga cukup fasih mengucapkan bahasa Melayu. Hal itu membuat pemerintah pusat di Batavia terkesan. Mereka lalu mengangkat Von de Wall menjadi pegawai bahasa. Tugasnya: menyusun tata bahasa Melayu, kamus Melayu-Belanda, dan Belanda-Melayu. Kedatangannya ke Riau merupakan bagian dari tugas tersebut.
- Mumi Ibu Hamil dan Janinnya
Selama beberapa dekade, salah satu mumi Mesir Kuno koleksi Museum Nasional di Warsawa sempat disangka mumi pendeta laki-laki. Namun, penelitian terbaru mengungkapkan bahwa mumi itu seorang perempuan hamil dengan janin yang masih di dalam perutnya. “Itu benar-benar tidak terduga,” kata Wojciech Ejsmond, arkeolog Polish Academy of Sciences yang memimpin penelitian itu, sebagaimana dikutip New York Times . Para peneliti dari Polandia menemukan mumi perempuan hamil itu ketika melakukan studi komprehensif yang dimulai pada 2016. Mumi itu salah satu dari 40 lebih mumi koleksi Museum Nasional di Warsawa yang mereka kaji. “Antropolog kami memeriksa ulang area panggul mumi untuk menentukan jenis kelamin mumi dan memeriksa semuanya, dan dia mengamati sesuatu yang aneh di area panggul, semacam anomali,” kata Ejsmond. Anomali itu rupanya adalah kaki kecil janin. Para peneliti menyimpulkan bahwa mumi itu dibuat pada sekira abad pertama SM. Pembalsemmembuatnya dengan hati-hati di beberapa titik. Dia dimakamkan di samping beragam perhiasan dan jimat. “Jenazah itu milik seorang wanita berstatus tinggi yang dibungkus linen dan kain tenun polos dan disertai satu set jimat yang kaya,” jelas Ejsmond. Awalnya Diyakini Mumi Perempuan Belum diketahui pasti dari mana mumi itu berasal. Sebelum menjadi koleksi Museum Nasional di Warsawa, pada 1826 mumi ini adalah sumbangan untuk Universitas Warsawa. Penyumbang mumi itu mengklaim muminya berasal dari makam raja-raja di Thebes, yakni situs permakaman terkenal para Firaun kuno. Namun, dalam beberapa kasus, barang antik diklaim berasal dari tempat-tempat terkenal untuk meningkatkan nilainya. Karenanya para peneliti masih meragukan asal-usul mumi itu. Awalnya mumi itu memang diyakini sebagai mumi perempuan. Mengingat peti matinya ditutupi ornamen warna-warni dan mewah. “Mumi itu disebut ‘mumi seorang wanita’ pada abad ke-19,” tulis para ahli dalam jurnal hasil penelitian mereka yang dipublikasikan bulan lalu di Journal of Archaeological Science . Namun, praduga itu berubah pada abad berikutnya. Pada 1920,terjemahan hieroglif di peti mati dan penutup mumi mengungkap nama pendeta laki-laki Mesir, Hor-Djehuty. Ditambah lagi hasil pemeriksaan radiologi pada 1990-an membuat beberapa orang menafsirkan jenis kelamin mumi itu adalah laki-laki. Sebagaimana dilansir Smithsonian Mag azine , ketika mumi kembali diteliti menggunakan sinar-X dan CT scan pada 2016, para arkeolog masih berharap akan menemukan tubuh laki-laki di bawah pembungkus kuno itu. “Kejutan pertama kami adalah bukannya menemukan penis, tetapi justru payudara dan rambut panjang, dan kemudian kami menemukan bahwa itu adalah wanita hamil,” jelas Marzena Ozarek-Szilke, antropolog dan arkeolog di Universitas Warsawa. “Ketika kami melihat kaki kecil dan kemudian tangan kecil , kami sangat terkejut.” Menemukan mumi seseorang dalam peti mati orang lain tampaknya biasa terjadi di Mesir Kuno. Sebab, orang Mesir kuno menggunakan ulang peti mati yang pernah dipakai sebelumnya. “Ada kalanya mumi tidak sama dengan peti mati tempat mereka disemayamkan,” kata Ejsmond. “Ini terjadi kira-kira 10 persen dari waktu ke waktu.” Tapi ada catatan dalam penelitian itu bahwa kenyataannya selama abad ke-19, para penggali dan penjarah ilegal juga sering membuka sebagian mumi dan mencari benda-benda berharga sebelum mengembalikan mayatnya ke peti mati. “Tidak harus sama dengan tempat mumi itu ditemukan,” tulisnya. Adapun mumi Warsawa ini memang menunjukkan tanda-tanda penjarahan. Kain pembungkusnya rusak pada bagian leher, di mana mungkin dulunya pernah menyimpan jimat dan kalung. Penyebab Kematian Soal penguburan perempuan hamil di Mesir Kuno sebenarnya sudah pernah diketahui. Namun, ini adalah penemuan mumi perempuan hamil yang pertama. “Ini seperti menemukan harta karun saat Anda memetik jamur di hutan,” kata Ejsmond. “Kami kewalahan dengan penemuan ini.” Lewat pemindaian sinar-X diketahui sang ibu meninggal di usia antara 20 hingga 30 tahun. Sementara janin dalam kandungannya, dari ukuran kepalanya, berusia 26 dan 30 minggu. Jenis kelamin janin belum ditentukan. Para ahli juga masih belum mengetahui bagaimana “perempuan misterius” itu meninggal. Namun, mengingat tingginya tingkat kematian ibu di dunia kuno, kemungkinan kehamilan adalah faktor kematiannya. Untuk memastikan penyebab kematiannya, peneliti akan menganalisis sampel kecil darah yang diawetkan di dalam jaringan lunak mumi. Nasib Anak yang Belum Lahir Para peneliti penasaran dengan janin yang dibiarkan utuh di dalam tubuh ibunya. Pasalnya, pada kasus lain, bayi yang lahir mati akan dimumikan dan dikuburkan bersama orang tua mereka. Terlebih lagi, empat organ mumi, kemungkinan paru-paru, hati, perut, dan jantung, tampaknya telah diekstraksi, dibalsem, dan dikembalikan ke tubuh sesuai dengan praktik mumifikasi pada umumnya. Karenanya menjadi pertanyaan, mengapa si pembalsem tak melakukan hal yang sama pada bayi yang belum lahir. Para peneliti berhipotesis bahwa janin pada usia tersebut akan sulit diekstraksi karena ketebalan dan kekerasan rahim. Jadi, pembalsem yang membuat mumi si ibu, mungkin tak dapat mengeluarkan janin tanpa merusak tubuhnya atau janinnya. “Mungkin juga ada alasan agama. Mungkin mereka mengira bayi yang belum lahir itu tidak memiliki jiwa atau akan lebih aman di dunia berikutnya,” kata Ejsmond kepada CNN . Dalam publikasi para peneliti tercatat bahwa “Studi ini membuka diskusi tentang kepercayaan Mesir Kuno, dapatkah seorang anak yang belum lahir pergi ke dunia akhir?” Mereka berhipotesis, janin mungkin masih dianggap sebagai bagian dari tubuh ibunya karena belum lahir. Kepercayaan Mesir Kuno menyatakan bahwa penamaan adalah bagian penting sebagai seorang manusia. Karenanya bayi yang belum memiliki nama mungkin tak dianggap sebagai individu yang berbeda. “Jadi, perjalanannya ke akhirat hanya bisa terjadi jika dia pergi ke dunia akhir sebagai bagian dari ibunya,” tulis para peneliti. Penemuan janin itu pun sangat penting karena kehamilan dan komplikasinya biasanya hanya meninggalkan sedikit jejak. Bahkan tidak ada bukti osteologis. Alexander Nagel, peneliti di departemen antropologi Museum Nasional Sejarah Alam Smithsonian, menyebut temuan mumi hamil itu sebagai “penemuan unik”. “Secara umum, belum banyak perempuan yang menjadi fokus studi di Egiptologi,” kata Nagel . Teks kuno ada yang memberikan beberapa wawasan tentang praktik seputar perempuan hamil pada zaman kuno. Papirus dari sekira 1825 SM misalnya, mengungkapkan bahwa bahan seperti madu dan kotoran buaya digunakan sebagai alat kontrasepsi. Namun tetap saja pengetahuan tentang perawatan prenatal (kehamilan) zaman Mesir Kuno tak banyak. Para peneliti pun berharap dengan mempublikasikan temuannya, keberadaan mumi perempuan hamil ini dapat menarik perhatian dari para dokter dan ahli di bidang lain untuk membantu tahap penelitian selanjutnya. “Ini adalah dasar yang baik untuk memulai proyek yang lebih besar tentang mumi ini,” kata Ejsmond. “Karena akan membutuhkan banyak ahli untuk membuat penelitian interdisipliner yang layak.” Dengan demikian, temuan terbaru dari mumi Warsawa itu membuka jalur baru ke dalam studi kesehatan prenatal dunia kuno.
- Potret Pahit Penyintas 1965 dalam You and I
MENYIAPKAN makan siang, meminumkan obat sirup hingga mengoleskan krim pereda nyeri. Begitu rutinitas sehari-hari Kaminah merawat Sri Kusdalini yang sudah mulai digerogoti penyakit di pengujung usianya. Rutinitas itu dijalani Kaminah dengan tulus ibarat seorang adik kandung yang menyayangi kakaknya. Kaminah aslinya tak punya pertautan darah dengan Kusdalini. Tembok rumah sederhana di gang sempit di kota Solo dengan cat terkelupas di sana-sini dan atap yang hampir ambruk jadi saksi bahwa kedua perempuan renta itu punya sejarah panjang yang membuat keduanya sudah seperti kakak-adik kandung. Keduanya menjalani hidup dalam kemiskinan. Beruntung sejumlah tetangga dekat Kaminah dan Kusdalini begitu peduli. Tidak hanya sering berbagi kebutuhan hidup, mereka juga bergotong-royong memperbaiki atap rumah Kusdalini tanpa imbalan sepeser pun. Baca juga: Hanyut dalam Nyanyian Akar Rumput Potret kehidupan Kusdalini dan Kaminah yang memprihatinkan itu disajikan sineas muda Fanny Chotimah dalam pembukaan film dokumenter bertajuk You and I . Film ini mengikuti keseharian dua penyintas Peristiwa 1965 itu yang berkalang cinta kasih akibat pengalaman getir yang pernah dialami keduanya. Sutradara debutan itu juga menyuguhkan keterangan tertulis dalam sebuah sisipan dengan foto-foto lawas tentang siapa Kusdalini dan Kaminah. Kedua penyintas disebutkan sempat jadi tahanan politik (tapol). Mereka dipenjara penguasa Orde Baru dalam waktu berlainan tetapi menjalin persaudaraan di balik jeruji besi. Sri Kusdalini (kiri) & Kaminah (kanan) di masa mudanya. (KawanKawan Media). Kusdalini dan Kaminah ditangkap pasca-G30S 1965 sebagai bekas anggota dua kelompok paduan suara berbeda yang bernaung di bawah Pemuda Rakyat, onderbouw Partai Komunis Indonesia (PKI). Seperti kebanyakan penyintas 1965, Kusdalini dan Kaminah dipenjara tanpa pengadilan. “Bermula dari Gerwis (Gerakan Wanita Indonesia yang berubah jadi Gerwani). Kita sepaham seperjuangan dan bidangnya itu sama, keputrian. Dia suka nyanyi, aku juga suka nyanyi. Tapi dia di tingkat kota, (kelompok) Gita Patria. Kalau aku kan di tingkat ranting, kecamatan, gitu. Karena satu kelompok gitu (di tahanan), jadi lama-lama makin dekat,” kata Kaminah mengenang dengan logat Jawanya. Kusdalini dibui selama dua tahun. Sementara, Kaminah harus mendekam sampai tujuh tahun. Baca juga: Agar Tak Menguap dalam Senyap Ketika sudah dibebaskan, Kaminah tak diterima lagi oleh keluarganya. Hanya Kusdalini dan mendiang neneknya yang bersedia menampungnya di rumahnya yang sederhana. Untuk menyambung nyawa, Kaminah ikut membantu Kusdalini membatik dan membuka warung makan di depan gang rumahnya. “Yang paling mengesankan (saat) Mbak Kus dipanggil bebas, itu aku…aku sampai pingsan,” imbuh Kaminah menahan sesak di dada dan air mata. Dari ikatan persahabatan yang berubah jadi persaudaraan itu Kusdalini nekat kembali ke penjara demi rutin mengunjungi Kaminah. Ia tak peduli ancaman penjaga penjara demi mengobati lara hati yang masih menerpa Kaminah. “Dia terus jenguk saya. Ngirim (bawa makanan). Sampai diancam Pak Gito: ‘Kus, kamu kok masih ke sini? Mrene kowe arep dilebokke meneh opo piye (Kamu ke sini mau dimasukin penjara lagi atau bagaimana)?’ Katanya, ‘ Mboten’o, Pak. Mesakke adik kulo (Tidak kok, Pak. Kasihan adik saya) kalau tidak dijenguk.’ Dia diancam tidak takut. Sudah di luar, sudah pegang surat pembebasan masak mau diambil lagi? Tapi ya mungkin saja,” tambah Kaminah. Kaminah (kiri) setia menemani Kusdalini saat dirawat di RST Slamet Riyadi. (KawanKawan Media). Kebaikan Kusdalini itu membuat Kaminah tulus membalas budi dengan merawat Kusdalini yang dua tahun terakhir mengalami pikun dan masalah pendengaran. Lutut Kusdalini pun mulai nyeri sampai harus dirawat di Rumahsakit Tingkat III Slamet Riyadi. Di situlah Kaminah setia menemani berhari-hari di kamar rawat inap. Tetapi potret kehidupan Kaminah dan Kusdalini tak melulu pedih. Bercanda kerap dilakukan keduanya untuk mengisi waktu sekaligus membunuh pilu. Seperti saat keduanya menonton program sejarah Metro TV di layar kaca yang berkaitan dengan sejarah kelam Peristiwa 1965. “Itu lho, konco-koncomu (teman-temanmu) dibunuh,” kata Kaminah. “Itu di Jembatan Bacem, arah selatan rumah kita,” timpal Kusdalini. “Jasmerah…” celetuk Kaminah. “Opo Jasmerah?” tanya Kusdalini. “Jangan melupakan sejarah. (Perkataan) Bung Karno…” “Bung Karno? Sukarno masih hidup?” tanya Kusdalini polos. “Ya Allah. Bagaimana Aku bisa omong sama kamu kalau kamu lupa semuanya. Jasmerah itu jangan melupakan sejarah. Kowe kok lali kabeh (kamu kok lupa semuanya),” tukas Kaminah sambil menyunggingkan senyum. Warung makan yang jadi penyambung hidup Kusdalini dan Kaminah usai dibebaskan dari penjara. (KawanKawan Media). Bung Karno merupakan sosok yang paling dipuja Kaminah. Di masa lalu dia ikut paduan suara di bawah sebuah organisasi politik karena mendewakan sang proklamator. “Negara kita sudah makmur tapi adilnya yang belum. Itu yang diperjuangkan, keadilan dan kemakmuran, oleh Sukarno yang begitu gigih, presiden yang tidak korupsi. Makamnya saja sesederhana itu di Blitar. Jomplang sekali dengan makam Pak Harto. Sampai kapanpun mbah (saya) tetap konsisten dengan ajaran Bung Karno,” tandasnya. Untuk mendapatkan detail lebih kehidupan memprihatinkan dua penyintas renta G30S di Solo itu, baiknya tonton sendiri You and I yang diputar via aplikasi daring bioskoponline.com sejak 9 April 2021 Menanti Keadilan hingga Akhir Hayat Jembatan Bacem begitu lekat dalam ingatan Kaminah. Maka ada campur-aduk perasaan di batinnya kala mendapati jembatan dekat perbatasan Surakarta-Sukoharjo itu ditampilkan sebuah program sejarah di layar kaca. Jembatan yang tak jauh dari rumahnya itu bersama Bengawan Solo yang mengalir di bawahnya jadi saksi bisu pembantaian penduduk sepanjang 1965-1966. Menurut sejarawan University of British Columbia Profesor John Roosa dalam Buried Histories: The Anticommunist Massacres of 1965-1966 in Indonesia, Jembatan Bacem sarat sejarah kelam kala pihak militer mengeksekusi ratusan terduga simpatisan PKI tanpa pengadilan. Eksekusi lazimnya dilancarkan setiap malam selama dua tahun hingga membuat Bengawan Solo berwarna merah. “Jembatan yang digunakan tentara sebagai tempat eksekusi memang sudah tidak lagi ada tapi satu pasak bata dan betonnya masih berdiri di tepi sungai bak reruntuhan benteng kuno. Tanpa alasan yang jelas jembatannya dirobohkan dan diganti jembatan baja di sebelahnya. Satu pilar bata yang sudah dirambat tumbuhan vegetasi itulah satu-satunya penanda lokasi eksekusinya,” tulis Roosa. Baca juga: Peliknya Rekonsiliasi Peristiwa 1965 Tak jelas berapa total korbannya. Tetapi, lanjut Roosa merujuk keterangan salah satu penyintas, korbannya tidak kurang dari 144 jiwa. Sebelum dieksekusi, mereka dibawa dengan truk-truk dari sejumlah penjara. Mereka dieksekusi dalam kegelapan malam. “Seorang sesepuh yang tinggal dekat sungai mengatakan bahwa dia dan para tetangganya sering mendengar letusan tembakan setiap malam dari arah jembatan. Setiap subuh tentara memerintahkan warga menyodok-nyodok mayat dengan galah untuk dihanyutkan ke laut saking padatnya sungai itu dengan mayat,” sambungnya. Ilustrasi penangkapan para simpatisan PKI. ( hrw.org ). Surakarta dan daerah-daerah di sekitarnya sejak 1920-an sudah jadi basis komunis, sebut Roosa. Maka pasca-pembunuhan para jenderal di Jakarta dan Yogyakarta, operasi ganyang PKI oleh tentara dan anasir pemuda anti-komunis banyak dilakukan di sana. Pengganyangan di Surakarta dimulai pada 22 Oktober 1965 kala dua kompi RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat, kini Kopassus) datang dari Jakarta. Mereka memegang perintah Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie untuk menangkapi dan melenyapkan para pimpinan PKI dengan mengoordinir militer dan kepolisian setempat. “Saat pasukan RPKAD tiba pada 22 Oktober, Surakarta sudah seperti kota terbuka di hadapan pasukan penginvasi. Para komunis yang mendominasi kota tak diatur atau membuat kubu pertahanan. Para pimpinan PKI juga tidak memerintahkan penduduk desa membuat barikade hingga pasukan yang masuk dari Boyolali tak menghadapi tantangan berarti,” sambung Roosa. Baca juga: Tujuh Tahanan Politik Perempuan di Kamp Plantungan Di masa itulah Kaminah dan Kusdalini ditangkap dan dipenjara tanpa diadili. Sebagaimana para korban lain, keduanya sempat dikumpulkan di Balai Kota Surakarta untuk diinterogasi sebelum dikirim ke sejumlah penjara. Sayangnya, sutradara tak memberi keterangan lebih lanjut di mana Kaminah dan Kusdalini dipenjara. Ada kemungkinan keduanya ditempatkan di Plantungan, Kendal, Jawa Tengah. Kamp itu jadi “Pulau Buru”-nya tahanan perempuan. Mayoritas yang ditahan di Plantungan adalah para perempuan yang terindikasi aktif di politik, seni, atau olahraga dengan payung organisasi-organisasi kiri walau tidak cukup bukti untuk diajukan ke pengadilan. “Seperti Ibu Marniti. Ia diinterogasi semalaman di balai kota tentang aktitivitasnya yang berafiliasi dengan PKI. Ia sebelumnya juga anggota Gerwani dan suaminya adalah Kepala Cabang Pemuda Rakjat Surakarta. Dengan data seperti itu ia dianggap simpatisan dan ditahan tanpa diadili di Plantungan sebelum akhirnya dibebaskan pada 1979,” ungkap Roosa. Upaya menuntut keadilan dari Kaminah, Kusdalini dan para penyintas di Paguyuban Korban Orde Baru (Pakorba) Solo. (KawanKawan Media). Bagi yang lebih apes, nyawa para simpatisan atau terduga PKI melayang di Jembatan Bacem. Kisah getir itu mengendap tidak hanya di ingatan para penyintas tapi juga di banyak warga sekitar, bahkan orang luar. Seperti yang dialami aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) Firman Lubis. Dia mengetahuinya saat menjadi sukarelawan korban banjir di Solo pada akhir Maret 1966. “Saya merinding mendengarkan cerita tentang metode-metode yang digunakan untuk membunuh para terduga komunis. Sangat tidak rasional. Walau saya benci ideologi komunis, tetapi aksi-aksi di luar hukum yang direstui militer seperti itu membuat saya jijik, apalagi tidak semua korban aslinya adalah komunis. Aksi seperti itu tidak bisa dibenarkan. PKI yang mereka ganyang bukanlah kekuatan militer melainkan partai politik legal yang berisi orang sipil. Situasinya tidak bisa dibandingkan dengan masa perang,” tutur Firman, dikutip Roosa. Betapapun mengerikannya kisah penyiksaan itu di mata orang-orang, para penyintas seperti Kaminah dan Kusdalinilah yang bisa merasakan sakitnya. Lebih parah lagi, penderitaan mereka tak berhenti sampai di penjara saja. Setelah bebas dari penjara, mereka tak bisa jadi orang bebas seperti sedia kala. Kaminah tak bisa pulang karena ditolak keluarganya sehingga harus ditampung Kusdalini. Baca juga: Mengintip Belakang Layar Nyanyian Akar Rumput Kaminah tegar menemani Kusdalini di saat-saat terakhirnya. (KawanKawan Media). Keadilan. Itulah yang dituntut Kaminah dan ribuan penyintas lain. Keadilan belum kunjung tiba bahkan ketika Kusdalini dijemput ajal. Potret itu yang dihadirkan secara observatory oleh Fanny Chotimah lewat You and I . Ia mengangkat kisah getir dua penyintas renta itu untuk menyuarakan keadilan dan kemanusiaan. Di tingkat nasional, itu dilakukannya dengan menayangkan You And I secara daring. Di panggung internasional, You And I diikutkan ke dalam berbagai festival dan sempat memenangi film terbaik kategori Asia di DMZ International Documentary Film Festival 2020 di Korea Selatan serta masuk ke daftar 10 film dokumenter Asia terbaik 2020 versi New Musical Express (Inggris). “Ini adalah cerita tentang ironi kehidupan. Saya tak bisa membayangkan bagaimana kita bisa menemukan belahan jiwa di tempat mengerikan yang tak seorang pun mau mengalaminya. Mereka bertemu di masa muda di penjara dan melalui hidup dengan mimpi yang hancur selama lebih dari 50 tahun. Yang mereka alami adalah bentuk ketidakadilan. Bukan tidak mungkin juga terjadi pada kita. Ini yang jadi perhatian saya. Saya percaya pada keadilan dan kemanusiaan,” ujar Fanny dalam rilisnya. Data Film: Judul: You and I | Sutradara: Fanny Chotimah | Produser: Amerta Kusuma, Yulia Evina Bhara, Tazia Teresa Darryanto | Produksi: KawanKawan Media, Partisipasi Indonesia | Genre: Dokumenter | Durasi: 72 Menit | Rilis: 9 April 2021 (Bioskop Online)




















