top of page

Hasil pencarian

9792 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Mengapa Indonesia Tergantung pada Beras?

    MASYARAKAT Indonesia telah lama mengkonsumsi nasi beras sebagai makanan pokok. Bahkan ada anekdot bahwa “belum dianggap makan jika belum makan nasi (beras).” Ketergantungan terhadap beras ini kemudian menimbulkan berbagai persoalan, dari terpinggirkannya pangan lokal hingga polemik mengenai impor beras. Sejarawan gastronomi Fadly Rahman dalam Dialog Sejarah “Keberagaman Pangan di Nusantara: Menggali Akar Silam Citarasa Indonesia,” Jumat, 26 Maret 2021 di saluran Youtube  dan Facebook Historia menyebut bahwa akar ketergantungan terhadap beras bisa dilacak sejak zaman Kerajaan Mataram. Kala itu, beras menjadi salah satu simbol keberhasilan raja dalam memimpin. “Kewibawaan seorang raja, seorang penguasa, itu ditentukan dari keberhasilan penguasa dalam memakmurkan kebutuhan pangan rakyat yang notabene itu adalah beras,” kata Fadly. Pada masa kolonial, Fadly menyebut bahwa VOC juga berkontribusi pada hegemoni beras ini. Ketika VOC memonopoli perdagangan di Nusantara, beras menjadi salah satu komoditas yang dikirim ke berbagai pulau di luar Jawa. George Berhard Rumphius, botanis Jerman yang bekerja untuk VOC di Maluku, mencatat bagaimana perniagaan beras sampai ke kepualauan tersebut. Bahkan, jelas Fadly, Rumphius juga mencatat bahwa masyarakat Maluku menganggap beras sebagai bahan makanan yang sangat prestisius. Padahal, Maluku telah memiliki sagu, ubi rambat, dan talas yang menjadi makanan pokok sejak lama. Sangat ekspansifnya beras mengakibatkan beragam pangan lokal semakin diabaikan. VOC sebenarnya hanya terobsesi pada rempah-rempah. Hal ini membuat banyak lahan pangan pribumi semakin hilang karena mereka dipaksa membudidayakan rempah-rempah yang belakangan dilanjutkan komoditas kopi dan teh. “Dari mulai kebijakan-kebijakan mulai dari Preanger Stelsel, kemudian Cultuur Stelsel, sampai kebijakan ekonomi agraria tahun 1870 itu, menunjukan bahwa diversifikasi pangan kita yang sangat melimpah jenisnya, itu terpinggirkan,” ungkap Fadly. Hilangnya ragam pangan dari meja makan tentu mempengaruhi gizi masyarakat saat itu. Pada akhir abad ke-19, mulai banyak dilakukan penelitian gizi di Hindia Belanda untuk mengubah cara pandang dan selera orang Indonesia terhadap makanan pokok.  Penelitian ini berlanjut hingga pasca-Kemerdekaan. Salah satu hasil dari penelitian ini ialah munculnya program 4 Sehat 5 Sempurna pada 1950-an. Program ini, jelas Fadly, sebenarnya mengadopsi pola edukasi gizi yang dilakukan pada masa kolonial. Sementara pada masa Orde Baru, kebijakan politik beras yang dijalankan Mataram di masa lalu kembali diadopsi. Swasembada beras pada pertengahan 1980-an menjadi salah satu program unggulan dan dianggap sebagai salah satu keberhasilan pemerintahan Soeharto. Fadly menyebut bahwa persoalan ketergantungan beras hari ini tak terlepas dari sejarahnya dan meliputi berbagai aspek yang kompleks. “Ini yang menjadi sangat jelas ya bahwa persoalan mata rantai pangan itu memiliki hubungan yang sinergis antara hulu ke hilir. Dari mulai budidaya pertanian sampai ke urusan gizi ketika makanan itu siap kita asup,” ujarnya. Indonesia sebenarnya masih memiliki banyak potensi pangan lokal. Dari sagu yang banyak tumbuh di Indonesia timur hingga palawija yang tersebar di berbagai daerah. Dari umbi-umbian umum seperti singkong dan ubi, hingga buah berkarbohidrat seperti sukun dan labu kuning. Dosen Teknologi Hasil Pertanian Universitas Slamet Riyadi Yannie Asrie Widanti menyebut bahwa sebenarnya beragam pangan lokal Indonesia bukan hanya memiliki sumber karbohidrat sebagai pengganti beras, melainkan juga kaya serat dan senyawa penting. Dalam ubi ungu, misalnya, terdapat pigmen alami yang mengandung antosianin sebagai antioksidan. Senyawa ini juga berfungsi sebagai anti-kanker dan anti-inflamasi (anti peadangan dan nyeri). Yannie menyebut, banyak penelitian telah dilakukan untuk mengembangkan potensi pangan alternatif. Singkong dan jagung, misalnya, kini dapat diolah menjadi beras analog yang menyerupai beras asli. Ada pula bahan pokok lokal yang diolah menjadi produk modifikasi tepung yang bisa menggantikan terigu. Meski demikian, produk-produk tersebut masih belum populer dan baru dikonsumsi kalangan tertentu. Permintaan dan produksi yang terbatas membuat produk-produk tersebut menjadi lebih mahal Menurut Yannie, kebiasaan ketergatungan beras dan stigma minor terhadap pangan lokal perlu diubah. Pemerintah juga perlu mengembangkan pangan lokal dalam skala nasional. “Sepertinya yang umbi-umbian itu terabaikan selama ini. Gembili dan sebagainya, nggak ada kan gerakan untuk menanam, membudidayakan, dan menghasilkan lebih begitu?” kata Yannie. Yannie menyayangkan industri pangan juga seringkali mengikuti tren luar negeri. Tren kuliner yang kini berkembang menurutnya cenderung minim gizi. Dalam sekotak nasi ayam goreng tepung, misalnya, mengandung terlalu banyak karbohidrat, baik dari nasi muapun tepungnya. Sementara gizi yang dibutuhkan seperti terkandung dalam sayuran masih jarang ditemui. Selain memunculkan masalah kesehatan, hal ini juga setali tiga uang dengan urusan ketahanan pangan. “Padahal kalau kita hanya mengikuti tren dan tidak berusaha menciptakan tren dengan bahan pangan lokal kita itu, ya kita nanti akhirnya akan bergantung dengan produk-produk impor,” jelasnya.*

  • Cerita Impor Beras Indonesia

    PEMERINTAH berencana mengimpor beras 1-1,5 juta ton pada 2021. Beras impor ini untuk mencukupi cadangan beras pemerintah. Menteri Perdagangan Muhammad Luthfi menyatakan cadangan beras pemerintah di Bulog terendah dalam sejarah. Tapi rencana ini mendapat tentangan dari dalam dan luar pemerintah.  Impor beras telah menjadi polemik sejak Indonesia merdeka. Impor beras menunjukkan “ironi bagi Indonesia, sebab negeri ini memiliki segala potensi untuk meningkatkan produksi beras,” tulis Dawam Rahardjo dalam “Politik Pangan dan Industri Pangan di Indonesia”, Prisma , No 5, 1993. Semenjak merdeka, Indonesia berupaya menjaga kedaulatan pangannya lewat pemenuhan kebutuhan beras. Saat itu kebijakan beras selalu identik dengan kebijakan pangan. Keseriusan pemerintah tampak dalam pembentukan Menteri Negara Urusan Pangan pada November 1947 atau Kabinet Amir Sjarifuddin II. Selama masa itu, ancaman bagi Indonesia bukan saja dari bedil tentara Belanda, tapi juga dari kekurangan pangan. “Masalah yang serius sebagai akibat gangguan perang terhadap kegiatan produksi pertanian. Menteri Urusan Pangan mengemban tugas mengatasi masalah pangan ini,” lanjut Dawam. I.J. Kasimo, Menteri Kemakmuran sekaligus Menteri Persediaan Makan Rakyat dalam Kabinet Hatta I (1948) menetapkan program swasembada beras untuk menjamin kebutuhan pangan rakyat. Alasan lain, devisa Indonesia masih terlalu rendah. Membeli beras impor bisa menyedot sebagian besar devisa Indonesia. Kasimo menargetkan swasembada tercapai sebelum 1956. Program itu akan ditopang oleh penyuluhan cara-cara bertani yang lebih baik. Program itu berhasil menambah produksi beras pada 1950–1953. “Ternyata bahwa tambahnya produksi tidak saja dapat mengimbangi tambahnya penduduk akan tetapi bahkan melebihinya,” catat Almanak Pertanian 1954 . Tapi pertambahan produksi beras belum menutup kebutuhan beras Indonesia. Di perdesaan, harga beras ternyata kelewat tinggi bagi kebanyakan orang. Padahal di desalah beras diproduksi. Keganjilan ini mendorong Wakil Presiden Mohammad Hatta menulis artikel “Politik Harga Beras Bagi Kemakmuran Rakjat” termuat dalam Beberapa Fasal Ekonomi terbitan 1954. Untuk menurunkan harga beras agar terjangkau oleh orang banyak, pemerintah terpaksa mengimpor beras. Tapi kebijakan ini mendapat sorotan dari dalam internal pemerintah sendiri. Presiden De Javasche Bank Sjafruddin Prawiranegara heran terhadap kebijakan tersebut. Menurut Sjafruddin, pada masa kolonial, pemerintah sanggup menghasilkan beras begitu banyak. “Sehingga sejak tahun 1940 Indonesia praktis self-supporting  dalam soal beras, meskipun tiap tahun penduduknya bertambah,” tulis Sjafruddin dalam “Herorientasi di Lapangan Pembangunan Ekonomi”, Suara Partai Masjumi, April 1952. Sjafruddin melanjutkan, tetapi sejak kemerdekaan, Indonesia justru harus mengimpor beras. Tiap tahun impor itu tak berkurang. Malahan terus bertambah. “Keadaan itu tak dapat kita biarkan, kalau kita tidak ingin hanyut dalam penderitaan dan kemiskinan di masa datang,” tulis Sjafruddin. Sjafruddin tak sepenuhnya benar. Menurut catatan Almanak Pertanian 1954,  impor beras pada 1952 mencapai 600 ribu ton. Tapi turun menjadi 300 ribu ton pada 1953. Data Tim penulis Seperempat Abad Bergulat dengan Butir-Butir Beras juga menyatakan impor beras menurun pada 1953, 1954, dan 1955. Kemudian naik lagi pada 1956 dan turun lagi pada 1957. Impor beras selama periode 1950–1952 dilakukan oleh Kian Guan Concern melalui penunjukan oleh Yayasan Bahan Makanan (Bama) –pendahulu Bulog. “Bama menetapkan kwantum, kwalitas, shipping schedule, dan negara asal beras, sedang penunjukan eksportir/ supplier  di luar negeri dilakukan oleh Kian Guan Concern,” tulis tim penulis Seperempat Abad Bergulat dengan Butir-Butir Beras. Lisensi tunggal kepada Kian Guan Concern berubah ketika Bama menunjuk konsorsium Thai Grain Syndicate untuk menangani pembelian beras dari Muanghtai (nama lama Thailand). Konsorsium ini terdiri atas Gabungan Pedagang-Pedagang Beras, orang-orang Indonesia yang bermukim di Bangkok (ibu kota Muangthai), dan Kian Guan. Kebijakan impor beras berubah lagi pada 1956. Kali ini, seiring perkembangan perusahaan-perusahaan nasional dalam bidang impor, pemerintah membuka tender impor beras dan membentuk Panitia Tender Beras Impor. “Panitia mengadakan penilaian dan menetapkan pemenang tender berdasarkan persyaratan yang paling cocok, baik mengenai kwalitas, harga, waktu penyerahan maupun komisi yang diminta,” catat tim penulis Seperempat Abad Bergulat dengan Butir-Butir Beras. Masing-masing perusahaan berupaya membangun jaringan di beberapa negara pengimpor beras demi memenangi tender itu. Negara pengekspor beras selama periode 1950–1957 antara lain Amerika Serikat, Brazil, Burma (Myanmar), Italia, Muangthai, Portugal, Spanyol, Taiwan, dan Vietnam Selatan. Burma dan Muangthai tercatat sebagai negara pengimpor beras terbesar untuk Indonesia. Meski pemerintah terus mengimpor beras tiap tahun, kekurangan pasokan beras kerap terjadi. Tak jarang pula harga beras naik. Pernah pada November 1958, pemerintah justru menaikkan harga beras impor untuk injeksi. Beras injeksi adalah beras yang dilempar ke pasar dengan jumlah yang lebih banyak sehingga harga beras dapat turun. Penaikan harga beras impor untuk injeksi itu langsung disambut protes keras dari berbagai kalangan. “Di DPR Jakarta Raya dan di Parlemen RI diajukan mosi ‘penggugatan’ terhadap keputusan pemerintah itu. Mosi itu didukung oleh orang-orang dari semua partai-partai posisi dan bukan oposisi,” catat Frans Seda dalam Penabur,  10 November 1958. Karena impor beras tak menutup kekurangan pasokan beras dan menyelesaikan perkara seputar ketahanan pangan, pemerintah kembali menggiatkan program Padi Sentra untuk swasembada. “Suatu program yang gagal,” sebut L.A. Mears dan S. Moeljono dalam “Kebijaksanaan Pangan” termuat dalam Ekonomi Orde Baru. Impor beras tetap tinggi memasuki dekade 1960-an. “Selama awal tahun 60-an, lebih dari 1 juta ton beras diimpor setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan beras dalam negeri,” lanjut Mears dan Moeljono. Presiden Sukarno menyadari tingginya angka impor beras dan ketergantungan rakyat pada beras. Karena itu, dia berupaya mencari cara lain untuk memperbaiki masalah ini. Caranya dengan penganekaragaman pangan. Antara lain dengan memperkenalkan jagung, sagu, dan ketela sebagai makanan pokok. Tapi program ini tak bertahan lama seiring melemahnya pemerintahan Sukarno.*

  • Kain Kafan, Peti Mati dan Flu Spanyol

    Pandemi Flu Spanyol pada1918 masih tercatat sebagai salah satu bencana kesehatan terburuk di masa Hindia Belanda. Angka kematian akibat virus asal Eropa itu diperkirakan mencapai 1,5 juta jiwa, bahkan lebih. Hampir setiap hari pemerintah  Hindia Belanda, juga media massa melaporkan adanya korban jiwa akibat penyakit itu. Tidak hanya terjadi di kota-kota besar, tapi juga seluruh daerah di Hindia Belanda. Tingginya angka kematian tersebut berbanding lurus dengan maraknya permintaan untuk mengurusi jenazah. Berbagai surat kabar memberitakan bahwa banyak tempat pemakaman yang mendadak penuh. Mereka juga kekurangan tukang gali untuk menguburkan jenazah. Akibatnya ada begitu banyak jenazah korban Flu Spanyol tidak bisa langsung dimakamkan. Bahkan para perempuan harus turun langsung menggotong dan menguburkan jenazah anggota kelarganya. Masa-masa itu ditandai dengan kelangkaan kain kafan. Orang-orang mulai berebut membeli kain kafan. Menurut Arie Rukmantara, dkk dalam  Yang Terlupakan Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda , akibat keadaan yang tidak terkendali itu, para pedagang kain kafan terpaksa menutup tokonya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Mereka sampai enggan berjualan karena takut kepada para pembeli yang bersikap kasar saat membeli kain kafan di tokonya. “Pada suatu saat pedagang kain kafan menutup toko, karena takut serbuan pembeli kain guna membungkus mayat. Polisi terpaksa membuka kembali toko tersebut dan mengawasi penjualannya,” kata Rukmantara, dkk. Kondisi itu juga membuat permintaan akan peti mati di kalangan masyarakat, terutama Eropa dan Tionghoa, begitu tinggi. Diceritakan Ravando dalam  Perang Melawan Influenza: Pandemi Flu Spanyol di Indonesia Masa Kolonial 1918-1919,  saking banyaknya permintaan, para perajin peti di Semarang tidak bisa memenuhi pesanan. Diberitakan  Sin Po , harga sebuah peti di kota tersebut melonjak hingga 100 persen. Jika biasanya sebuh peti dihargai f. 250, ketika masa pandemi harganya menjadi f. 500. Para pembuat peti berdalih bahwa mereka harus menambah jumlah pekerja agar permintaan terpenuhi sehingga ada banyak biaya tambahan yang harus mereka keluarkan. Situasi itu jelas sangat memberatkan para penduduk dari golongan ekonomi rendah. Jangankan untuk membeli peti mati, untuk keperluan sehari-hari saja mereka kesulitan karena tidak adanya pekerjaan. “Ia orang sudah diserang oleh kesusahan ditinggal mati oleh familinya, dan boleh jadi oleh ayah atau saudara lelakinya yang memikul tanggungan rumah tangga, buat kesusahan mana sudah cukup membuat susah kaum serumah tangga, karena jadi kurang tangan yang mencari rezeki, dan sekarang lantaran harga peti jadi naik, kembali ia orang ditambah kesusahan mesti keluarkan ongkos lebih besar buat beli peti,” tulis  Sin Po , 2 Desember 1918, sebagaimana dikutip Ravando. Fenomena kelangkaan peti tidak hanya terjadi di Semarang, tetapi hampir di seluruh kota-kota besar yang jumlah korbannya sangat tinggi. Di Batavia, misalnya, masyarakat seringkali menelantarkan jenazah selama berhari-hari lantaran tidak memiliki cukup uang untuk membeli peti mati. Di pusat pemerintahan Hindia Belanda itu sebenarnya telah dibentuk perkumpulan  Asiatic Begrafenisfonds  (Dana Pemakaman untuk Orang Asia) yang bertugas membantu mengurus dan menyediakan peti mati untuk kalangan masyarakat tidak mampu. Tetapi karena masalah internal, perkumpulan itu terpaksa dibubarkan. Masyarakat pun akhirnya tidak lagi memiliki bantuan untuk urusan pemakaman mereka. Di Surabaya juga terjadi kelangkaan peti mati yang membuat warga Tionghoa di sana harus menghadapi masa-masa sulit. Persediaan di seluruh Surabaya, imbuh Ravando, hampir tidak bersisa. Di kota itu hanya ada peti mati ukuran besar yang harganya sangat mahal. Sejak Flu Spanyol mewabah, permintaan peti mati tidak terkendali di sana. Bahkan banyak pengrajin peti yang memilih tidak membuatnya agar tidak tertekan oleh banyaknya permintaan. Sama seperti di Semarang, para pembuat peti di Surabaya juga memanfaatkan kondisi untuk meraup keuntungan lebih. Mereka menaikkan harga peti hingga lebih dari 100 persen. Kebanyakan pengrajin juga tidak lagi membuat peti kecil karena keuntungannya yang tidak sebanding dengan peti besar yang berharga tinggi. Sekalipun ada permintaan peti kecil, kata Ravando, para pengrajin memiliki banyak alasan untuk tidak memenuhi permintaan tersebut. Kondisi yang terus menjerat golongan masyarakat tidak mampu yang membutuhkan peti mati, membuat surat kabar  Pewarta Soerabaia  menerbitkan sebuah tulisan yang berisi himbauan agar  Song Soe  (Perkumpulan Kematian Tionghoa) turun tangan dan mencari solusi atas permasalahan tersebut. Mereka meminta  Song Soe  bersikap aktif memberikan bantuan agar masyarakat Tionghoa tidak terjerat hutang, dan kehilangan harta bendanya untuk sekedar membeli peti mati untuk kematian keluarga mereka. “Salah satu langkah yang ditawarkan adalah dengan memesan peti mati dari pembuat yang terpercaya, lalu menjualnya kembali kepada orang miskin dengan harga wajar. Cara lain adalah dengan membuat perjanjian dengan toko-toko yang menjual peti mati untuk tidak mengambil keuntungan berlebihan dari kaum yang tidak mampu,” tulis Ravando.

  • Lima Belas Menit yang Mematikan di Pompeii

    PENDUDUK Pompeii tak mampu melarikan diri ketika Gunung Vesuvius meletus pada 79 M. Ledakan gunung berapi aktif satu-satunya di Eropa Daratan sebelah timur Napoli, Italia ini hanya butuh waktu 15 menit untuk menghabisi penduduk kota Romawi Kuno itu. Hal itu diketahui para peneliti Departemen Ilmu Bumi dan Geo-lingkungan Universitas Bari, Italia, lewat studi  mereka yang bekerja sama dengan Institut Nasional Geofisika dan Vulkanologi (INGV) dan Survei Geologi Inggris di Edinburgh. “Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan model untuk mencoba memahami dan mengukur dampak aliran piroklastik di daerah yang dihuni Pompeii, sekitar 10 km dari Vesuvius,” kata Roberto Isaia, peneliti senior Vesuvius Observatory di INGV kepada The Guardian . Aliran piroklastik berupa lava padat, abu vulkanik, dan gas panas bergerak cepat melanda Pompeii beberapa menit setelah gunung berapi meletus. Diperkirakan 2.000 orang meninggal karena lemas di rumah, tempat tidur, atau jalan-jalan dan alun-alun kota. Isaia memperkirakan gas, abu, dan partikel vulkanik menyelimuti kota selama 10 sampai 20 menit. “Kemungkinan puluhan orang tewas akibat hujan lapili yang jatuh di Pompeii setelah letusan, tetapi kebanyakan dari mereka meninggal karena sesak napas,” kata Isaia. Penelitian INGV menggambarkan aliran piroklastik sebagai “dampak paling merusak” dari letusan eksplosif. “Sebanding dengan longsoran, mereka dihasilkan oleh runtuhnya kolom letusan. Debu vulkanik yang dihasilkan mengalir di sepanjang lereng gunung berapi dengan kecepatan ratusan kilometer per jam, pada suhu tinggi dan dengan konsentrasi partikel yang tinggi,” kata Isaia. Sementara awan panas yang mematikan memiliki suhu lebih dari 100 derajat. Di dalamnya terkandung CO2, klorida, partikel, abu pijar, dan kaca vulkanik. “Lima belas menit di dalam awan neraka itu pasti tak ada habisnya. Orang Pompeii hidup dengan gempa bumi, tetapi tidak dengan letusan, jadi mereka dikejutkan dan tersapu oleh awan abu pijar itu,” lanjutnya. Runtuhan Kota Kuno Herculaneum di tengah bangunan-bangunan baru, di belakangnya Gunung Vesuvius. (Pfeiffer/Shutterstock). Bukti Menyeramkan yang Terawetkan Bukan hanya Pompeii, kota Herculaneum juga terkubur di bawah lapisan tebal material vulkanik dan lumpur dari letusan Vesuvius. Sebagaimana dijelaskan History ,  Pompeii dan Herculaneum tumbuh di dekat kaki Gunung Vesuvius. Pada masa Kekaisaran Romawi awal, 20.000 orang tinggal di Pompeii, termasuk pedagang, produsen, dan petani. Mereka mengeksploitasi tanah subur di wilayah itu tanpa tahu bahwa tanah hitam yang subur itu merupakan peninggalan dari letusan Vesuvius sebelumnya. Sementara kota Herculaneum berpenduduk 5.000 orang. Kota ini menjadi tujuan musim panas favorit bagi orang Romawi yang kaya. Herculaneum menyediakan vila-vila dan pemandian yang mewah. Kesenangan dan kemakmuran itu berakhir pada siang hari, 24 Agustus 79 M, ketika puncak Gunung Vesuvius meledak. Penduduk kota melarikan diri dalam ketakutan. Mereka yang tetap tinggal bersembunyi di gudang bawah tanah atau bangunan batu. Mereka berharap letusan segera mereda, tapi tak pernah terjadi. Mereka pun mati pada pagi hari, 25 Agustus 79 M. Kejadian di Herculaneum sedikit berbeda. Mulanya kota ini terlindung berkat angin barat. Namun, awan panas, abu dan gas melonjak di sisi barat Vesuvius, menelan kota dan seisinya. Awan mematikan ini diikuti banjir lumpur vulkanik dan batuan mengubur kota. Pasca bencana, kota-kota itu tak pernah dibangun kembali, terlupakan dalam perjalanan sejarah. Baru pada abad ke-18, Pompeii dan Herculaneum ditemukan dan digali. Yang tersisa di sana memberikan catatan arkeologi yang belum pernah terjadi sebelumnya tentang kehidupan sehari-hari peradaban kuno, yang secara mengejutkan terawetkan. Cetakan dari tubuh seorang pria di saat-saat terakhirnya kala Gunung Vesuvius meletus. (Wjarek/Shutterstock). Sisa-sisa penduduk dari 2.000 pria, perempuan, dan anak-anak, ditemukan di Pompeii. Setelah meninggal karena sesak napas, tubuh mereka tertutupi abu yang mengeras dan mengawetkan. Tubuh mereka membusuk menjadi sisa-sisa kerangka, meninggalkan semacam cetakan gips. Arkeolog yang menemukan cetakan itu mengisi rongganya dengan plester, mengungkap dengan detail pose suram kematian para korban. Sisa-sisa kota menyimpan benda-benda yang bisa menceritakan kehidupan sehari-hari di Pompeii sebelum diamuk letusan Vesuvius. Sementara itu, sisa-sisa penduduk Herculaneum pertama kali ditemukan pada 1982. Ratusan kerangka yang memiliki bekas luka bakar mengerikan, menjadi saksi kematian yang menyeramkan. Saat ini, reruntuhan Pompeii adalah situs arkeologi kedua yang paling banyak dikunjungi di Italia setelah Colosseum di Roma. “Sangat penting untuk dapat merekonstruksi apa yang terjadi selama letusan Vesuvius di masa lalu, untuk melacak karakteristik arus piroklastik dan dampaknya terhadap populasi,” kata Prof. Pierfrancesco Dellino dari Universitas Bari kepada The Guardian . “Memberikan wawasan berharga untuk menafsirkan perilaku Vesuvius, juga dalam hal perlindungan sipil.”

  • Yogyakarta Usai Serangan Umum

    NGUPASAN, YOGYAKARTA masih diselimuti embun pagi itu. Satya Graha tengah menimba air sumur ketika tiga jip berisi serdadu-serdadu berbaju loreng berhenti di muka rumahnya. Beberapa langsung memasuki rumah-rumah penduduk, sebagian lagi bersiaga dalam formasi tempur. Seorang serdadu  tetiba mendatangi Satya. Sambil membentak, dia bertanya dalam bahasa Melayu yang terpatah-patah mengenai keberadaan kaum Republik. Remaja kelahiran Blitar itu lantas menjawab bahwa dirinya tidak tahu apa-apa dan hanya seorang anak sekolahan. “Mungkin karena saya menjawabnya dengan bahasa Belanda, serdadu itu lantas pergi dan membiarkan saya terus menimba,” kenang lelaki kelahiran tahun 1931 tersebut.   Akibat operasi pembersihan pada 2 Maret 1949 itu, 15 warga Ngupasan tewas ditembak. Begitu mencekamnya suasana hingga 15 mayat itu dibiarkan begitu saja. Pun ketika pada hari ketiga saat burung-burung gagak berdatangan untuk mematuki mayat-mayat tersebut. “Tidak ada yang berani merawat sampai hampir seminggu karena takut dilaporkan oleh mata-mata Belanda,” ujar eks kurir pasukan TNI tersebut. Selepas peristiwa serangan umum 1 Maret 1949 yang dilakukan oleh TNI, militer Belanda terkesan panik. Operasi pembersihan kerap dilakukan nyaris setiap hari. Kendaraan tempur hilir mudik melakukan patroli. Kantor IVG (Grup Intelijen dan Keamanan) pun dipenuhi dengan orang-orang yang dituduh sebagai kaum Republik. Begitu mendapat kabar Yogyakarta sempat dikuasai selama 6 jam oleh TNI, Panglima KNIL Letnan Jenderal H.M. Spoor langsung terbang dari Jakarta ke Yogyakarta. Besoknya pada 2 Maret1949, sang panglima mengumpulkan semua perwira utama di rumah dinas Kolonel D.R.A van Langen. Dalam diskusi terbatas itu, kendati menganggapnya biasa-biasa saja, namun Spoor memuji insiatif  serangan 1 Maret 1949 tersebut. “Dia menyebut peristiwa itu sebagai serangan yang sangat terkoordinasi secara baik dan dilakukan bersamaan dari berbagai jurusan…” ungkap Basuki Suwarno dalam Hubungan Indonesia—Belanda Periode 1945—1950 . Basuki yang banyak mengambil riset untuk penulisan buku-nya dari dokumen-dokumen intelijen militer Belanda juga mengungkapkan perintah Spoor pasca serangan itu. Dia menginginkan pasukannya agar lebih aktif lagi menjalankan kombinasi antara operasi intelijen, operasi pembersihan dan operasi teritorial. Namun di lapangan, perintah itu terlaksana secara tidak berimbang. Alih-alih berupaya mengambil hati rakyat Yogyakarta, militer Belanda malah lebih banyak menjalankan aksi-aksi penangkapan dan pembunuhan. Itu tentu saja diadakan berdasarkan informasi-informasi intel yang didapat dari mata-mata mereka yang beredar di seluruh Yogyakarta. Hingga 30 Juni 1949,  operasi pembersihan yang dilakukan militer Belanda di wilayah Yogyakarta telah menyebabkan korban penduduk 2.718 tewas, 539 hilang dan 736 luka-luka. Demikian pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah Daerah Istimewa Yogyakarta dalam sebuah buku yang dikeluarkan Kementerian Penerangan RI, Republik Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta. Situasi itu malah menyebabkan rasa antipati masyarakat Yogyakarta semakin besar terhadap tentara pendudukan. Terlebih sejak Yogyakarta diduduki Belanda pada 19 Desember 1948, nyaris tak ada uluran kerjasama sama sekali dari mereka. Menurut  jurnalis sekaligus akademisi asal Amerika Serikat (AS) George McTurnan Kahin, sikap non kooperasi itu hampir dipastikan absolut. Ketika mewawancarai Mr. B.J. Muller, seorang pejabat Belanda urusan ekonomi di Yogayakarta, dia mendapat informasi bahwa dari sekira 400.000 penduduk Yogyakarta, hanya 6.000 orang saja yang mau bekerjasama dengan pihak Belanda. “Bahkan dia jujur menyatakan keyakinannya bahwa orang-orang itu mau bekerja hanya karena adanya perintah dari Sultan Yogyakarta agar penduduk sipil tidak mengalami penderitaan yang terlalu berat,” ungkap Kahin dalam Nationalism and Revolution in Indonesia. Rasa antipasti rakyat Yogyakarta justru dimanfaatkan secara ciamik oleh kaum Republik. Terbalik dengan upaya militer Belanda, TNI justru menuai sukses dalam menjalan operasi teritorialnya di dalam kota Yogyakarta. Selain kerap membantu dengan menyumbangkan logistik dan obat-obatan, rakyat Yogyakarta juga merupakan “mata-mata terbaik” dalam menginformasikan segala gerak-gerik tentara Belanda. Tidak heran karena asupan informasi itu, TNI dan laskar bisa melakukan serangan-serangan kecil yang mengakibatkan korban besar hampir setiap waktu. Pos-pos militer Belanda di Kaliurang adalah salah satu yang menjadi sasaran favorit para gerilyawan Republik. Serangan intens itu memang sengaja dilakukan oleh TNI. Menurut Komandan Brigade X Wehrkreise III Letnan Kolonel Soeharto hal itu penting selain untuk menurunkan moral pertempuran pasukan Belanda juga sebagai upaya guna menyibukkan anak buah Spoor hingga tak memiliki kesempatan mengganggu rakyat. “Supaya rakyat kita di kota selamat dari pembalasan Belanda…” ujar Soeharto dalam otobiografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (disusun oleh G. Dwipayana dan Ramadhan K.H.).

  • Kiprah Politik Idham Chalid

    Sosoknya diabadikan oleh Bank Indonesia dalam uang pecahan 5.000 rupiah. Idham Chalid aktif dalam berbagai organisasi perjuangan hingga menduduki beberapa jabatan strategis.

  • Ambiguitas Gender Pada Atlet

    Sebelum adanya kewajiban tes dan verifikasi gender pada 1950, kasus ambiguitas gender karena kelainan alat reproduksi banyak terjadi. Berikut beberapa atlet dunia yang mengalaminya.

  • Hotel Semua Bangsa

    MURIEL Stuart Walker alias K’tut Tantri dikenal sebagai salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia. Perempuan asal Amerika Serikat ini pindah ke Bali dan diangkat sebagai anak oleh seorang raja di Bali. Ketika revolusi kemerdekaan, K’tut turut dalam perjuangan di Surabaya melalui Radio Pemberontakan dan dikenal sebagai Surabaya Sue . Pada 1930-an, K’tut di Bali memilih tinggal di antara penduduk desa ketimbang tinggal di puri ayah angkatnya. Suatu hari, ketika berkeliling desa, K’tut terkesan dengan pemandangan sebuah pantai yang memanjang dengan pasir putihnya. Pantai itu masih sepi dan tak berpenghuni. “Pantai di situ indah sekali, tanpa ada sebuah rumah pun. Bahkan gubuk saja tidak ada! Yang ada hanya beberapa pura, serta perahu nelayan yang banyak sekali jumlahnya. Kalau aku membangun rumah di situ, alangkah nyamannya!” tulis K’tut Tantri dalam Revolusi di Nusa Damai. Pantai yang didatangi K’tut tersebut adalah Pantai Kuta, yang kelak menjadi salah satu pantai paling ramai di Bali. Pantai ini sebenarnya telah memiliki sejarah panjang. Pada 1557, pantai ini menjadi lokasi pendaratan pertama kapal-kapal Belanda di Bali. Kemudian pada abad ke-17 hingga 19, Kuta terkenal sebagai pasar budak utama di Bali. Kuta juga pernah menjadi tempat buangan pelarian dan para pengidap penyakit memalukan seperti kusta. Menurut Adrian Vickers dalam Bali: a Paradise Created , pada 1820-an dan 1830-an, Belanda juga mendirikan pos perdagangan di Kuta. Masa di mana K’tut datang ke Kuta sudah berbeda. Wilayah ini sudah sepi. Menurut K’tut, penduduk desa bahkan tidak tahu di mana letak Pulau Jawa. K’tut kemudian menjadi salah satu sarana mereka mengetahui dunia luar. Selain ingin membangun rumah yang damai di pantai, K’tut juga punya impian untuk membangun hotel di Kuta. Namun, hotel yang diimpikan K’tut bukanlah hotel biasa, melainkan hotel yang akan menerima tamu dari semua bangsa. K’tut memang punya pengalaman buruk dengan hotel di Bali. Ketika pertama kali tiba di Bali, ia menginap di Bali Hotel di Denpasar. Hotel ini milik orang Belanda. Semua tamunya berkulit putih. Orang berkulit sawo matang hanya menjadi pelayan di situ. Bali Hotel meninggalkan kesan buruk bagi K’tut. Bali yang ia bayangkan seperti dalam film Bali, The The Last Paradise  yang ia tonton ketika masih di Amerika Serikat, tak ditemuinya di sini. Ia kemudian keluar dari hotel dan pasrah jika kemudian harus tidur di gubuk tepi sawah. Setelah beberapa kali berkunjung ke Kuta, impian membangun hotel K’tut mulai terwujud. Ia menyewa tanah dari penduduk desa meski belum bisa membangun apa-apa di sana. K’tut juga mendapat bekas rumah dari sepupu angkatnya di desa dan menyewakan dua kamar kosong untuk turis dan seniman. “Takkan ada pembedaan warna kulit di sini. Aku akan menerima seniman Belanda, begitu pula Amerika, India, Cina –dan tentu saja juga Indonesia,” katanya. Usaha K’tut bukan tanpa rintangan. Bali Hotel di Denpasar yang telah memonopoli wisata di wilayah itu melancarkan kampanye agar turis tak datang ke rumah K’tut. Mereka juga memperingati supir-supir taksi agar tak mengantar turis ke sana. Rumah K’tut sempat ramai pengunjung dan menjadi rujukan menginap para seniman dari berbagai negara. Seniman terkenal yang juga sahabat K’tut, Walter Spies dan Le Mayeur, juga sering berunjung dan mendukung usaha K’tut. Meski demikian, K’tut masih keteteran mengurus keuangan sehingga masih merugi. Pada 1936, impian K’tut membangun hotel di Kuta kembali bangkit. Ia bertemu pasangan dari Amerika Serikat yang tertarik dengan ide K’tut. Mereka akhirnya membangun dua bungalow di atas tanah yang disewa ketut dari penduduk Kuta. Satu untuk K’tut, satu untuk pasangan tersebut. Sebuah hotel kemudian juga didirikan di dekat bungalow. Inilah Kuta Beach Hotel, hotel pertama di pantai Kuta. Namun, K’tut dibuatnya sangat kecewa. Hotel yang dibangun itu tidak sesuai dengan cita-cita anti diskriminasi K’tut. K’tut pun meninggalkan kerjasama hotel itu. K’tut tak putus asa. Berkat bantuan kawan-kawan dan penduduk desa, ia membangun kembali hotel yang diimpikannya. Kawan-kawan K’tut mengumpulkan uang yang kemudian dipakai untuk membangun hotel yang diberi nama Swara Segara. Swara Segara yang mengadopsi budaya Barat dan Timur cepat populer dan banyak dikunjungi turis. Bahkan menurut K’tut, orang yang hanya punya sedikit uangpun bisa menginap di sini. Kesuksesan Swara Segara membuat Belanda gelisah. Mereka menebar isu bahwa hotel ini menjadi sarang maksiat. Pemerintah kolonial bahkan mengirim surat pengusiran kepada K’tut karena K’tut masih dianggap pendatang. Namun belakangan surat itu dicabut lagi. Pada 1940-an, perang mulai bergolak. Ketika Jepang mulai menduduki Indonesia pada 1942, K’tut meninggalkan Bali dan pergi ke Jawa. Di Jawa, ia turut dalam perjuangan kemerdekaan dan terlibat dalam Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Ketika K’tut di Jawa itulah Hotel Swara Segara dihancurkan Jepang. Tentara Jepang memiliki kebijakan untuk menghancurkan semua properti milik orang kulit putih. Hotel dan bungalow K’tut pun tak bersisa. Harta benda dan lukisan-lukisan K’tut juga telah dijarah. “Tidak ada sepotong bambu pun masih utuh di situ. Tak sampai segenggam batu koral yang masih tersisa dari bangunan pura,” kenang K’tut.*

  • Penyingkiran Jaksa Agung Soeprapto

    H.C.G.J. Schmidt, kapten KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda), bernapas lega. Setelah menjalani kurungan lima tahun penjara akibat terlibat dalam DI/TII, dia bebas pada Maret 1959. Pengadilan Tinggi menyatakan hukumannya telah berakhir. Dia segera meninggalkan Indonesia untuk kembali ke Belanda. Pembebasan Schmidt jadi polemik besar. Media massa seperti Harian Rakjat , Republik, Sin Po,  dan Merdeka mengecam keras pembebasan Schmidt. Anggota parlemen juga menilai pengadilan di Indonesia telah kebobolan atas bebasnya Schmidt yang dianggap musuh negara itu. Organisasi massa berdemonstrasi meminta pengusutan terhadap oknum pengadilan yang membebaskan Schmidt. Schmidt sebenarnya divonis hukuman penjara seumur hidup oleh Pengadilan Negeri. Tapi, dia banding ke Pengadilan Tinggi. Setelah mempelajari laporan proses verbal setebal 800 halaman, hakim di Pengadilan Tinggi mengabulkan banding Schmidt. Menurut mereka, bukti keterlibatan Schmidt tak terlalu kuat. Tapi, dia tetap dianggap bersalah. Hukumannya hanya lima tahun penjara. Kasus Schmidt telah berlangsung lima tahun. Selama itu pula dia menjalani masa tahanan. Itu artinya waktu penahanannya telah berakhir. Pengadilan Tinggi menyatakan dia sudah bebas. Salinan itu kemudian dikirim ke Raden Soeprapto, Jaksa Agung pada Mahkamah Agung merangkap Jaksa Tentara Agung. Kepada Soeprapto-lah, orang-orang menumpahkan kemarahannya atas pembebasan Schmidt. “Ia dituduh sebagai tokoh yang kontra-revolusi karena membebaskan Schmidt,” tulis Fachrizal Afandi, dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, dalam “Peran Jaksa Agung R. Soeprapto dalam Reformasi Hukum Republik Indonesia”. Menanggapi pembebasan Schmidt, menteri kabinet mengadakan rapat darurat di Jakarta pada 31 Maret 1959. Hasilnya, mereka akan segera memberhentikan Soeprapto dari Jaksa Agung sekaligus Jaksa Tentara Agung pada 1 April 1959. Pemberhentian ini bertujuan untuk menyelidiki perkara pembebasan Schmidt. “Menurut pemerintah, Soeprapto telah bertindak independen jauh dari kebijakan pemerintah dalam kasus pengeluaran Schmidt,” tulis Iip D. Yahya dalam biografi Raden Soeprapto, Mengadili Menteri Memeriksa Perwira. Pemerintah menunjuk Mr. Gatot Tarunamihardja sebagai pejabat Jaksa Agung untuk menjadi pengisi jabatan sementara. Keputusan ini mendapat dukungan penuh dari banyak pihak: anggota parlemen, media massa, dan organisasi masyarakat. Tapi keberatan dan pertanyaan terhadap keputusan pencopotan Soeprapto juga mengemuka. Antara lain dari surat kabar Pedoman, Sin Po,  dan Persatuan Jaksa-Jaksa (Perjasa). Mr. Oemar Seno Adji, selaku pengurus besar Persaja, mengaku terkejut atas keputusan tersebut. Dia menyesalkan keputusan itu diambil tanpa mendengar keterangan dari Soeprapto. Saat keputusan tersebut keluar, Soeprapto sedang berada di Jawa Timur menghadiri peringatan hari wafatnya ibunya. Dia baru kembali ke Jakarta pada 3 April 1959. Dia juga menyesalkan keputusan tersebut. Soeprapto memang menerima telepon dari Perdana Menteri Djuanda ketika kembali ke Jakarta. Djuanda menjelaskan alasan pemberhentian Soeprapto. Esok harinya, Menteri Kehakiman Maengkom datang ke kantor Soeprapto dan mengabarkan tentang pemeriksaan terhadap Soeprapto. Maengkom mengatakan, Soeprapto akan diperiksa oleh dua Jaksa Agung Muda bawahannya. Karuan Soeprapto keberatan. Dia merasa yang berhak memeriksanya adalah atasannya, yaitu Menteri Kehakiman atau yang setingkat. Maengkom berjanji akan meneruskan keberatan Soeprapto kepada komisi pemeriksa kasus Schmidt. Tapi hingga kasus itu mereda, Soeprapto tak pernah dimintai keterangan. Menurut Soeprapto, dirinya hanya menjalankan keputusan Pengadilan Tinggi. Pembebasan dan keluarnya Schmidt juga sudah diketahui oleh Maengkom. “Dialah yang memberi izin untuk membawa Schmidt ke luar negeri,” tulis Iip. Versi Soeprapto, setelah salinan dari Pengadilan Tinggi (PT) keluar, seorang perwakilan Belanda mendatanginya. Dia bertanya tentang kemungkinan membawa pergi Schmidt. Soeprapto bilang, hal itu bisa saja. Soeprapto juga mengatakan kepergian Schmidt harus sepengetahuan dan seizin Menteri Kehakiman. Perwakilan Belanda lalu menemui Maengkom. Di sinilah peran Menteri Kehakiman dalam meluluskan permintaan perwakilan Belanda itu. “Maengkom menyatakan bahwa jika Schmidt dibebaskan oleh PT maka tidak ada halangan baginya untuk membawa Schmidt secepatnya ke luar negeri,” tulis Iip. Soeprapto menganggap pencopotan itu sebagai risikonya sebagai Jaksa Agung. Dia mengakui mempunyai banyak musuh akibat sepak terjangnya. Tapi dia tidak ingin menyebut pencopotannya sebagai buah dari konspirasi besar. Dia juga tak mau dianggap sebagai martir keadilan. Fachrizal mencatat, upaya penyingkiran Soeprapto telah berlangsung sejak 1957. Ini terjadi ketika militer mulai mengontrol pemerintahan sipil dengan UU 74/1957 tentang Keadaan Darurat. Dari sini, militer mencoba mengambil alih Kejaksaan. “Pada tahun 1958, militer mengajukan peraturan pemerintah, yang menetapkan bahwa penyidikan yang dilakukan Kejaksaan kepada personel militer harus mendapatkan izin dari komandan,” tulis Fachrizal. Soeprapto menentang rencana itu. Tapi pemerintah justru menerima usul militer dan memberlakukannya. Dari sinilah upaya penyingkiran Soeprapto terus bergulir. Hingga tibalah momentum itu pada kasus Schmidt. Pengganti Soeprapto hanya bertahan empat bulan. Selama empat bulan, Gatot berusaha menjaga independensi Kejaksaan. Tapi dia gagal. “Tanpa disadari, pemberhentian Soeprapto akhirnya menandai terpinggirnya institusi hukum di Indonesia,” tulis Khunaifi Alhumami, kepala Kejaksaan Negeri Ponorogo, dalam “Kejaksaan Republik Indonesia: Lembaga Penegak Hukum diantara Bayang-bayang Dua Kaki Kekuasaan” termuat dalam Bunga Rampai Kejaksaan Republik Indonesia. Posisi Jaksa Agung pun beralih ke kalangan militer dan politisi. Dengan demikian, Jaksa Agung berada di bawah kontrol eksekutif dan militer. Berakhirlah era yang disebut Daniel Lev, Indonesianis sekaligus pakar sejarah hukum Indonesia, masa keemasan hukum pidana Indonesia.

  • Jatuhnya Istana Mataram

    KERUSUHAN besar terjadi di Mataram pada penghujung abad ke-17. Raden Trunajaya beserta pasukannya merangsak masuk ke wilayah ibukota kesultanan. Mereka mengambil alih takhta Mataram yang pengaruhnya saat itu begitu besar, serta menjatuhkan trah Amangkurat dari pucuk kekuasaan raja-raja di Jawa. Menurut Dennys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya jilid 2, salah satu tujuan Trunajaya melakukan penyerangan ke Mataram itu adalah membalaskan dendam atas penghinaan yang pernah diterima keluarganya dari penguasa Mataram. Di samping juga keinginan untuk memperluas kekuasaan Madura ke daratan utama Jawa. Upaya pendudukan Mataram dilakukan Trunajaya pada 1677. Kala itu pasukan pangeran Madura tersebut berusaha merangsak masuk ke Istana Plered, tempat Sultan Amangkurat I berada, tetapi mendapat hadangan dari barisan penjaga istana. Di bawah pimpinan tiga pangeran Mataram -Pangeran Adipati Anom, Pangeran Puger, dan Pangeran Singasari- bala tentara Mataram berjuang mati-matian mempertahankan benteng terakhir penguasa Mataram tersebut. Bentrokan pun tidak dapat dihindarkan.

  • Konflik Beras Kaum Republik

    SEJAK era Hindia Belanda, Karawang kadung dikenal sebagai salah satu lumbung padi terbesar di Pulau Jawa. Menurut sejarawan Aiko Kurasawa, predikat itu tersemat hingga akhir1980-an. Sejak itulah, masyarakat di sana mulai pindah profesi menjadi buruh pabrik. “Dulunya (Karawang) adalah masyarakat pertanian, mayoritasnya petani,” ungkap Aiko dalam suatu seminar bertajuk “Historical and Land Use Transformation in Industrial Society” yang diadakan oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) pada 15 Agustus 2019. Di era revolusi Indonesia tengah berkecamuk (1945—1949), para juragan beras di Karawang mempercayakan pengamanan distribusi beras kepada golongan kaum Republik yang terdiri dari tentara dan kelompok laskar. Selain membiayai kebutuhan pangan tentara dan laskar, mereka pun bahkan menyerahkan sebagian pengelolaan bahan makanan pokok itu kepada kaum bersenjata tersebut. Contoh kasus itu terjadi di wilayah Rawagede. Adalah Bah Inem, seorang juragan beras yang memiliki ratusan hektar sawah yang membentang mulai wilayah Rawagede, Jatimulilit, Patenggong hingga Cilebar. “Bah Inem yang suka berjudi itu memiliki kebiasaan unik yakni kalau lagi kalah judi, dia justru suka membeli sawah orang lain,” ujar Telan ketika saya wawancarai pada 2015. Menurut eks anggota laskar Hizbullah Rawagede itu, Bah Inem memiliki hubungan yang sangat akrab sekali dengan kalangan tentara dan laskar. Bisa dikatakan, dia merupakan donatur utama TRI (Tentara Repoeblik Indonesia) dan kelompok-kelompok laskar yang bermarkas di Rawagede dan sekitarnya. Bukan saja uang dan beras yang mengalir setiap bulannya ke kelompok-kelompok bersenjata itu, namun soal pengelolaan bisnis beras pun, Bah Inem memberikan wewenang kepada mereka. “Beras-beras itu dijual di koperasi-koperasi laskar dan tentara. Namun tak jarang beras-beras itu pun lari ke pasar gelap di Jakarta,” ungkap Kastal, eks komandan regu Hizbullah Rawagede. Soal keterlibatan kaum Republik dalam pengelolaan bisnis beras di Karawang itu, diakui oleh sejarawan Robert Briston Cribb. Mereka yang terdiri dari tentara dan beberapa kelompok laskar (Laskar Rakjat Djakarta Raja, Hizbullah, Barisan Banteng Republik Indonesia, Pemuda Sosialis Indonesia) melakukan kebijakan monopoli terhadap perdagangan beras. “Salah satu yang mereka lakukan adalah melakukan blokade di sekeliling kota agar beras tak masuk ke Jakarta,” ungkap Cribb dalam Gangsters and Revolutionaries. Aksi itu dijalankan tak lain sebagai upaya untuk melumpuhkan Jakarta yang telah menjadi kota pendudukan Sekutu dan Belanda. Bahkan lebih jauh kelompok laskar memberlakukan kembali aturan yang pernah dikeluarkan oleh pemerintah pendudukan Jepang: melarang rakyat melewati batas keresidenan dengan membawa lebih dari 5 kg beras. Situasi itu menyebabkan beras Karawang yang terkenal lezat tersebut menjadi barang yang langka dan sangat mahal di pasar-pasar Jakarta. Aksi penyelundupan pun menjadi tak terhindarkan. Kendati dilakukan pemeriksaan dan penggeledahan yang ketat di batas demarkasi (wilayah Kranji dan Klender), namun tak urung beras-beras asal Karawang ada yang lolos juga masuk ke Jakarta. “Cara yang mudah untuk meloloskannya ya tak ada cara lain dengan menyogok orang-orang laskar dan tentara,” ungkap Haji Sidin, eks tukang beras keliling di Tambun dan Klender pada era 1940-an. Praktik penyelundupan beras itu menumbuhkan kisah-kisah menyedihkan. Soe Hok Gie pernah mengungkapkan tentang nasib para perempuan tukang beras antara Karawang-Jakarta pada era revolusi tersebut. Untuk melancarkan pemeriksaan, para lasykar dan tentara yang menjaga perbatasan garis demarkasi itu tak segan-segan melakukan pelecehan dan pemaksaan seksual terhadap mereka. “Di daerah garis demarkasi yang dijaga serdadu Belanda (Klender), mereka pun harus mengalami kejadian yang sama,” tulis Soe Hok Gie dalam  Zaman Peralihan . Batalyon Beruang Merah adalah salah satu kelompok tentara yang menjadi “subur” karena bisnis penyelundupan beras itu. Begitu sejahteranya kesatuan Divisi Siliwangi asal Tasikmalaya itu, hingga menimbulkan iri kesatuan-kesatuan lain. “Mereka pun segera mendapat julukan 'ber-uang merah' (memiliki uang Belanda yang berwarna merah),” ungkap Cribb. Pertengahan April 1946, Perdana Menteri RI Sutan Sjahrir memutuskan untuk memberikan bantuan beras kepada India yang tengah dilanda kelaparan. Jumlah yang ditargetkan Sjahrir adalah 500.000 ton. Karawang adalaah salah satu wilayah yang menjadi andalan untuk menyediakan beras bantuan itu. Persoalan muncul ketika Laskar Rakjat Djakarta Raja (LRDR)  yang anti Sjahrir menghalang-halangi upaya itu. Pun mereka yang selama berada di Karawang sangat tergantung dengan persedian beras yang disetor oleh para juragan beras tentu saja tidak mau kehilangan jatahnya. “Mereka lantas melarang rakyat untuk menyetorkan beras kepada pemerintah,” ungkap Telan. Aksi itu kemudian disikapi secara keras oleh Batalyon Beruang Merah selaku alat pemerintah RI  yang memang juga menganggap LRDR sebagai saingan dalam soal bisnis beras itu. Tak berhasil menyelesaikan masalah dengan cara damai, pada sekira pertengahan 1946 kedua kelompok kaum Republik pun bersitegang dengan menggunakan senjata masing-masing. “Sempat terjadi tembak menembak di wilayah Tanjungpura dan ada yang luka-luka juga. Tapi setelah sekitar sejam cepat selesai karena keburu datang Polisi Tentara mengamankan mereka,” kenang Telan.*

  • Percasi dari Masa Revolusi

    Sudiro (1911–1992) suka main catur sejak duduk di sekolah dasar HIS Netral (Neutrale Hollands Inlandsche School). Dia belajar pada L.G. Eggink, kepala sekolah yang suka catur dan menjabat hopdaktur  (ketua dewan redaksi) majalah catur NISB (Nederlands Indische Schaak Bond). NISB merupakan perkumpulan catur Hindia Belanda yang didirikan pada 1915 di Yogyakarta. Sudiro kemudian melanjutkan pendidikan ke Sekolah Guru Tinggi (Hogere Kweekschool) di Magelang. Dia meneruskan kegemarannya bermain catur. Bahkan, dia mengaku ikut melawan Max Euwe dalam pertandingan simultan pada 22 September 1930. Juara catur Belanda itu melawan 42 pemain. “Penulis dan seorang teman sekelas bernama Ratib beruntung sekali malam itu, karena penulis dapat mengalahkan sang juara, dan Ratib mencapai remis,” kata Sudiro dalam Pelangi Kehidupan . Menurut penelusuran Dutch Docu Channel di pangkalan data surat kabar Belanda ( Delpher ), surat kabar De Locomotief  yang melaporkan pertandingan simultan itu menyebut bahwa kekalahan Max Euwe karena sangat kelelahan setelah perjalanan yang jauh. Dalam perjalanan hidupnya, Sudiro tidak berkarier sebagai pemain catur. Dia memilih terjun ke pergerakan, menjadi guru dan kepala sekolah. Setelah kemerdekaan, dia bekerja di pemerintahan sebagai residen Surakarta. Pembentukan Percasi Pada suatu hari, Saptogiri, pembantu pribadi Sudiro, meminta izin menggunakan pendopo kantor Karesidenan (bekas Kepatihan) untuk mengadakan pertandingan catur antara Percaso (Persatuan Catur Solo) dan Percam (Persatuan Catur Mataram). “Sebagai seorang penggemar permainan catur, dan yakin bahwa permainan ini baik sebagai cabang olahraga maupun sebagai cabang kesenian, pasti sangat penting artinya bagi pembangunan bangsa Indonesia, penulis segera mengizinkannya,” kata Sudiro. Ketika pertandingan berlangsung, Ketua Percam dr. Suwito Mangkusuwondo, mengusulkan untuk membentuk sebuah organisasi sebagai wadah bagi olahraga catur. Gagasan tersebut mendapat sambutan hangat. Beberapa waktu kemudian, kira-kira pertengahan tahun 1948, bertempat di rumah dr. Kwik Tjie Tik di Jalan Purwosari (sekarang Jalan Slamet Riyadi) 147, berdirilah Percasi (Persatuan Catur Seluruh Indonesia). Menurut pbpercasi.com ,karena situasi saat itu belum pasti dan masih dalam masa peralihan, maka baru pada 17 Agustus 1950 ditetapkan sebagai tanggal resmi berdirinya Percasi dengan memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta berkedudukan di Yogyakarta. Terpilih sebagai ketua umum Percasi pertama adalah dr. Suwito Mangkusuwondo. Pada 1955, kedudukan pengurus Percasi dipindahkan dari Yogyakarta ke Jakarta.Selanjutnya Percasi mulai berkiprah di percaturan internasional dengan menjadi anggota Federasi Catur Internasional atau Federation Internationale Des Echecs (FIDE) pada 1960. Catur Wanita Percasi menggelar kejuaraan nasional (kejurnas) catur pertama kali pada 1953 di Solo. Sejak itu, kejurnas catur digelar setiap tahun, terakhir tahun 2019. Sedangkan kejurnas catur wanita baru pertama kali digelar pada September 1978 di Yogyakarta. “Penulis yang kebetulan turut membidani lahirnya Percasi pada tahun 1948 –tepatnya 30 tahun yang lalu– telah mendapat undangan untuk menghadiri upacara pembukaan perlombaan kejuaraan itu,” kata Sudiro, mantan wali kota (kini gubernur) Jakarta Raya (1953–1960). “…untuk pertama kalinya diadakan kejuaraan catur wanita. Menurut berita terakhir, pertandingan diikuti oleh 15 orang,” kata Sudiro yang kemudian menjadi penasihat Percasi. Merujuk pada pangkalan data catur Indonesia, indonesiabase.com ,kejurnas catur wanita ini diselenggarakan bersamaan dengan tahap kualifikasi kejurnas ke-18 dan kejurnas junior ke-3. Kejurnas catur wanita diikuti 16 pemain dari tiga provinsi: tujuh pemain dari Yogyakarta, lima pemain dari DKI Jakarta, dan empat pemain dari Jawa Tengah. Hasilnya cukup mengejutkan. Hanik Maria dari Jawa Tengah keluar sebagai juara nasional catur wanita pertama. Dia mengungguli pemain-pemain terbaik Indonesia, seperti Imasniti (Jakarta), Mun’yati (Jawa Tengah), dan Nanik Wijaya (Yogyakarta). Bintang Indonesia masa depan, Darmayanti Tamin (Jakarta), yang masih berusia belasan tahun mendapat pelajaran berharga dengan menempati posisi ke-11. Kariernya mencapai puncak pada dekade 1980-an dengan menjadi juara pada kerjunas catur wanita tahun 1980 dan 1982. Dia bersama Nanik Wijaya dan Mun’yati menjadi bagian dari tim Indonesia untuk Olimpiade Catur 1982–1986. Kejurnas catur wanita terus digelar hampir setiap tahun, terakhir tahun 2019. Kejurnas catur wanita ke-21 tahun 2006 melahirkan juara Irene Kharisme Sukandar yang baru berusia 14 tahun. Dia menjadi juara nasional catur wanita berturut-turut (2006, 2007, 2009, dan 2010). Bahkan, Irene menjadi pecatur wanita Indonesia pertama yang mendapatkan gelar Women Grandmaster (WGM) pada 2009. Pecatur wanita kedua dan termuda yang menjadi WGM adalah Medina Warda Aulia tahun 2013. Dan hari ini, Senin (22/03) WGM Irene mengalahkan Dewa Kipas Dadang Subur 3-0 dalam pertandingan yang digelar oleh Master Deddy Corbuzier.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page