Hasil pencarian
9735 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kuntilanak dan Pontianak
JAUH sebelum Suzzanna dikenal karena aktingnya sebagai kuntilanak dalam film-film horornya, kota Pontianak sudah lama diidentikkan dengan kuntilanak. Pontianak bahkan dianggap sebagai nama lain dari kuntilanak. Kuntilanak adalah hantu yang dipercaya berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia. Hantu semacam ini tak hanya dipercaya di Kalimantan Barat ataupun Jawa, di Thailand pun juga. Di Pontianak, kisah tentang kaitan kuntilanak dan nama kota itu dimulai oleh cerita rakyat ( folklore ) yang mengisahkan tentang Sultan Syarif Abdurahman bin Husin Alkadrie (1729-1807) sang pendiri Kesultanan Pontianak. Dalam cerita rakyat dikisahkan, Sultan Syarif Abdurrachman suatu ketika hendak membuka sebuah negeri di Kalimantan Barat. Ketika dia memulai pendirian daerah itu, konon pontianak (kuntilanak) datang untuk mengganggunya.
- Belajar dari Dostoevsky
FYODOR Mikhailovich Dostoevsky tengah berbincang dengan saudara perempuan dari istrinya, Anna Grigorievna, yang baru dinikahinya. Tiba-tiba wajahnya berubah pucat. Tubuhnya merosot dari permukaan sofa dan bersender lunglai pada sisi tubuh istrinya. “Tiba-tiba kami mendengar suara tangisan penuh ketakutan, sebuah tangisan tanpa titik kemanusiaan di dalamnya –hampir menyerupai raungan. Tubuh lunglai suami saya semakin tersender pada saya,” tulis Anna, stenograf yang dinikahi Dostoevsky tahun 1867 setelah kematian istri pertama, dalam Anna Dostoevskaya’s Diary in 1867 (1923). Dostoevsky, penulis besar kelahiran Rusia, mengalami serangan epilepsi dan dia tak menutupi kenyataan. Bahkan, dia mencatat rapi berbagai detail serangan epilepsi yang dialaminya dalam buku harian.
- Breaking the Stigma of Epilepsy
IT was almost five o'clock in the morning. Ahmad Sururi, a student at the Vocational School of Pharmacy, woke up and rushed to ablution. The prayer mat was spread out, and he began to pray. When he prostrated, then rose for the second rakat, his eyes widened. His body suddenly felt light, and in seconds, he lost consciousness. Ahmad fell down and fainted for a few minutes. Once he woke up, he stood up and got ready for school, completely forgetting that he was in the middle of praying. At school, Ahmad had many activities which often made him exhausted. His mind was drained, and he fainted several times. Typical fatigue, Ahmad thought. However, his condition worsened over time and it interfered with his activities. He finally went to the hospital, and the doctor diagnosed him with epilepsy symptoms. Knowing Ahmad had epilepsy, his family became protective and forbade him from participating in many activities. Friends began to rarely invite him to activities. Upset by the different treatment, Ahmad was determined to prove that people with epilepsy could undertake normal activities.
- Beraksi Mengatasi Epilepsi
HAMPIR pukul lima pagi. Ahmad Sururi, seorang siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Farmasi, bangun dan bergegas wudu. Sajadah terhampar. Dia mulai salat. Ketika sujud, lalu bangkit masuk rakaat kedua, pandangannya melamur. Tubuhnya terasa ringan. Kesadarannya hilang. Dan... bluk! Ahmad terjatuh dan pingsan selama beberapa menit. Begitu tersadar, dia berdiri dan bersiap ke sekolah. Lupa bahwa tadi dia sedang salat. Di sekolah, Ahmad punya banyak kegiatan. Dia sering kelelahan. Pikirannya juga terkuras. Dia sempat pingsan beberapa kali. Keletihan biasa, pikir Ahmad. Tapi lama-lama kondisinya memburuk dan mengganggu aktivitasnya. Dia pergi ke rumah sakit. Dokter mengatakan dia terkena gejala epilepsi. Mengetahui Ahmad kena epilepsi, keluarga bersikap protektif dengan melarangnya ikut kegiatan ini-itu. Teman-teman mulai jarang mengajaknya berkegiatan. Kesal menerima perlakuan berbeda, Ahmad bertekad membuktikan penyandang epilepsi bisa beraktivitas normal.
- Kisah Cinta Tragis di Masa Pendudukan Nazi
SELAMA dekade awal abad ke-20, seiring meningkatnya asimilasi Yahudi di Jerman, proporsi orang Yahudi yang menikah dengan non-Yahudi mencapai hampir 50 persen saat Nazi berkuasa. Jumlah ini membuat rezim yang dipimpin Adolf Hitler melakukan tekanan dengan propaganda, pengucilan sosial, hingga memiskinkan orang-orang Jerman yang menikah dengan orang Yahudi. Menurut Nathan Stoltzfus dalam Hitler’s Compromises: Coercion and Consensus in Nazi Germany , orang Yahudi yang menikah dengan pria maupun wanita berdarah Jerman dipandang lebih berbahaya karena memberikan ancaman yang lebih besar bagi tujuan Nazi dibandingkan dengan orang-orang Yahudi lainnya. Bahkan, bagi sejumlah pemimpin Nazi, orang-orang Jerman yang terlibat dalam pernikahan campur dengan orang Yahudi juga sama berbahayanya hingga dipandang sebagai musuh negara.
- Kisah Cinta Aktor Jerman di Bawah Cengkeraman Nazi
SEIRING didapuknya Adolf Hitler sebagai pemimpin Nazi Jerman dan didirikannya Dewan Budaya Reich ( Reichkulturkammer ) pada 1930-an, kampanye di media massa mendorong penonton untuk tidak menoleransi aktor dan aktris non-Arya dan menuntut semua bintang film untuk memberikan bukti asal-usul ras mereka. Lembaga Biro Promosi Seni ( Amt für Kunstpflege ) didirikan untuk mengurusi urusan pribadi para aktor, sutradara, produser, penulis naskah, penerbit, dan sejenisnya. Menurut sejarawan David Welch dalam Propaganda and the German Cinema, 1933–1945 , biro itu pada dasarnya adalah organisasi partai dan bekerja sama dengan Filmkontingenstelle , yang berada di bawah pengawasan Reichsministerium für Volksaufklärung und Propaganda . “Tidak puas dengan menyelidiki asal-usul ras orang-orang yang bekerja di dunia seni, biro ini juga memiliki perhatian yang besar terhadap ‘sikap’ dan pergaulan mereka,” tulis Welch. RMVP atau Kementerian Negara bidang Penerangan dan Propaganda Reich di bawah Joseph Goebbels.
- Unit 731, Alat Pembunuh Massal Militer Jepang
TAHUN 1918. Perang Dunia I berakhir. Saling adu kekuatan negara-negara besar ini menyisakan dua kubu: pemenang dan pecundang. Satu negara di Asia yang terlibat, Jepang, ada di antara para pemenang. Kejadian itu menjadi hajat pertama militer mereka di dunia internasional, pasca kemenangan saat berperang dengan Rusia. Kemenangan di Perang Dunia I begitu membekas di dalam diri prajurit-prajurit Jepang. Sebagai negara yang sedang menarget posisi nomor wahid di wilayah Asia-Pasifik, kuasa atas Perang Dunia I merupakan hadiah yang amat besar. Peristiwa itu menjadi ajang unjuk gigi Jepang di hadapan negara Barat. Juga memberi kesempatan bagi negeri para samurai itu mengembangkan kekuatan militernya. Demi mewujudkan ambisi menjadi negara terkuat di Asia, Jepang berani menggunakan segala cara, termasuk menepikan sisi kemanusiaan mereka. Salah satunya dengan membentuk unit penelitian senjata biologis: Unit Manchuria No. 731 atau Unit 731. Sebuah kesatuan di dalam militer kekaisaran yang disiapkan untuk membuat senjata pemusnah dan menjadi pendukung kekuatan tempur utama. Unit itu turut menyumbang peran menghantarkan Jepang ke panggung utama Perang Dunia II di Asia Pasifik pada 1939 sampai 1945.
- Unit 731 yang Tak Tersentuh
UNIT 731 berhasil menebar teror di Perang Dunia II. Unit penelitian senjata biologis dan kimia milik Pasukan Kekaisaran Jepang tersebut disiapkan untuk menyokong kekuatan tempur Jepang di garis depan pasca kemenangan tidak memuaskan pada PD I. Kesatuan itu beroperasi secara baik hingga Negeri Matahari Terbit mengibarkan bendera putih tanda menyerah pada 14 Agustus 1945. Kawasan Asia-Pasifik, khususnya timur laut Cina, saat itu seolah dijadikan “taman bermain” militer Jepang. Uji senjata hasil kreasi Unit 731 bebas dilakukan terhadap manusia di sana. Ribuan nyawa dari kalangan sipil dan militer melayang. Kekejaman militer Jepang semakin tergambar jelas ketika para sejarawan menyamakan teror Unit 731 dengan Kamp Auschwitz milik Nazi, Jerman.
- Operasi Unit 731 di Indonesia
PADA Agustus 1944, sebanyak 478 (sumber lain menyebut 900, bahkan 1000 lebih) romusha ditemukan kritis. Para pekerja paksa di masa pendudukan Jepang (1942-1945) itu secara bertahap menunjukkan gejala penyakit tetanus. Sekitar 365 orang di antaranya kemudian meninggal dunia. Peristiwa kelam itu terjadi di Klender, Jakatra, salah satu lokasi kamp romusha di ibukota. Menurut sejarawan Jepang Aiko Kurasawa, para romusha itu umumnya berasal dari Pekalongan dan Semarang. Dalam hasil penelitiannya yang pernah dipublikasikan Majalah Tempo pada 2002, Aiko Kurasawa menyebut selama di kamp para pekerja menerima beberapa jenis vaksin imunisasi, termasuk pes dan campuran vaksin TCD (Typhus Cholera Dysentry). Suntikan vaksi inilah yang diketahui menjadi penyebab tewasnya para romusha tersebut.
- Jejak Sejarah di Selembar Kartu Pos
26 MARET 1873 perang Aceh meletus. Panglima Polim dan Sultan Mahmud Syah yang memimpin rakyat Aceh harus menghadapi keganasan sekira 3 ribu serdadu KNIL di bawah pimpinan Jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler. Serangan Belanda sukses dipatahkan, bahkan berakibat fatal. Sang jenderal, Kohler, tewas terbunuh di peperangan pada 14 April 1873. Belanda memang akhirnya sukses menguasai Aceh pada 1904, ditandai penyerahan diri Sultan Muhammad Dawood, anak Sultan Muhammad Syah, kepada Belanda tahun 1903. Sebelum dia ditangkap, dua istrinya, anak serta ibundanya terlebih dahulu ditangkap oleh Belanda. Tetapi kerugian besar baik dari sisi korban maupun materil akibat perang Aceh, harus pula ditanggung Belanda. Sebagai penghormatan bagi para prajuritnya yang meninggal selama perang, Belanda mendirikan Monument Atjeh (Monumen Aceh) di sekitar kompleks Taman Wilhelmina di Batavia. Saat Masjid Istiqlal dibangun pada 1951 dan memakan area taman, Monument Atjeh pun lebur jadi satu dengan tanah.
- Konco Pendiri Kopassus Kombatan Perang Dunia II
ANAK juragan dari Arnhem ini memlih jalan berbeda. Usai bersekolah di sekolah menengah Hogere Burger School (HBS), jiwa mudanya menuntunnya berpetualang ala film laga. Maka mendaftarlah dia ke Legion d’Estranger alias Legiun Asing Prancis di Afrika Utara. Dari rumah yang nyaman dia harus hidup di barak dan tempat latihan. Waktu bersantainya tergerus. Latihan keras dengan disiplin dan kekerasan jadi pengalaman hariannya. Semua itu dijalaninya agar siap ketika mendapat giliran jaga malam di bawah langit berbintang Afrika Utara. Hidupnya dilingkupi bahaya, apalagi ketika Perang Dunia pecah. “Dialah Légionnaire Michels, yang melindungi mundurnya Pasukan Ekspedisi Inggris dengan rentetan peluru dari senapan mesinnya. Dia adalah salah satu yang terakhir naik ke pesawat,” tulis Arnhemse Courant edisi 24 Maret 1949 tentang Robert Cornelis Michels yang bernama alias Bob (1917-1988). Ketika pasukannya mundur, Michiels sudah sekitar dua tahun bertugas di Legiun Asing Perancis. Sesampainya di Inggris, Michiels minta pindah kesatuan. Dia lalu ditempatkan di satuan perintis tentara Inggris. Namun, tak lama di London, Michiels kembali dikirim ke garis depan. Dia kembali bertempur, kini di Norwegia. Michiels lalu minta dipindahkan ke kesatuan tentara Belanda yang berada di Inggris. Setelah mengikuti latihan berat di pelatihan komando Achnacerry, Skotlandia, Michiels ditempatkan di Dutch Army No. 2 yang punya spesialisasi pasukan komando. Di kesatuan dengan baret berwarna merah dan lambang sayap tersebut, Michiels berpangkat kopral. Kopral Michels keahliannya tak hanya berkelahi dan memakai senjata api, tapi juga terjun payung dari pesawat. Terjun itu dialaminya juga saat dilibatkan dalam Operasi Market Garden –yang dilancarkan pasukan Sekutu untuk membebaskan Belanda yang diduduki Jerman-Nasi– pada suatu hari di bulan September 1944. “Awalnya dia ditempatkan di dekat Groningen, tetapi entah bagaimana posisinya di sana menjadi tidak aman, mereka memindahkannya ke tempat kami dekat pertanian kami,” aku Rudy Blatt dalam laporannya To Live You Fight: A War Diary . Rudy ketika itu berada di sekitar Drenthe, Belanda. Rudy merasa prihatin dengan Michiels yang dianggapnya tidak cocok untuk pekerjaan dengan kelicikan menguras mental. Arnhemse Courant tanggal 24 Maret 1949 menulis, di sekitar Veenhuizen dan Drenthe pada Oktober 1944 Michels berusaha melatih orang Belanda yang ikut perlawanan terhadap tentara Jerman di Belanda. Dia terlibat dalam penggerebakan di Rumah Tahanan di Assen. Beberapa anggota pasukan khsusus Belanda yang ikut Operasi Market Garden setelah 1945 dijadikan perwira, termasuk Bob Michels, Rudy Blatt, Raymond Paul Pierre Westerling, dan juga Rodes Barendrecht Visser yang kelak dikenal sebagai Idjon Djambi "sang pendiri Kopassus". Mereka menjadi letnan. Keempat prajurit pasukan khusus Belanda yang dilatih Inggris itu kemudian dikirim ke Indonesia. Di Indonesia yang telah memproklamasikan kemerdekaannya itu, Rudy Blatt ditugaskan di bawah Kolonel Simon Hendrik Spoor selaku kepala Netherlands Forces Intelligence Service (NEFIS). Banyak informasi soal Indonesia mereka kumpulkan. Sementara, Visser bertugas melatih pasukan payung, dan Westerling melatih pasukan baret hijau Depot Special Troepen di Polonia, Jatinegara. Michiels sendiri ditugaskan di kesatuan infanteri biasa. Bob Michels pernah ditugaskan di Sumatra Selatan di bawah komando Kolonel Fritz Mollinger. Di daerah itu pula dia memetik “kemenangan” lantaran aksinya di Veenhuizen-Drenthe pada Oktober 1944 diapresiasi petinggi militer dan Kerajaan Belanda. Berdasarkan Koninklijk Besluit 4 November 1948, Letnan Satu Robert Cornelis Michels dianugerahi Bronzen Leeuwe atau Singa Perunggu. Sebuah upacara penganugerahan lantas diadakan di Palembang. Koran Het Dagblad edisi 14 Februari 1949 memberitakan, penghargaan untuk Michels itu disematkan oleh Komandan Tentara Teritorial Sumatera Selatan Kolonel Mollinger.*
- Hamka dan Patung Nabi Muhammad
SUATU hari Hamka benar-benar dibuat heran. Keberadaan patung Nabi Muhammad SAW di New York, di luar akal sehatnya. Dalam muhibahnya selama 4 bulan (25 Agustus–25 Desember 1952) di Amerika Serikat (AS) itu, Hamka banyak dibuat terkejut. Dan soal patung Nabi Muhammad SAW tersebut menjadi yang paling menohok baginya. Namun di lain pihak, hal itu membuatnya sadar bahwa pengetahuan tentang Islam di negeri Paman Sam saat itu masih sangat kecil. Ada rasa ironik dalam diri Hamka jika mengingat Sang Nabi yang berupaya menjauhkan umatnya dari patung-patung seperti itu sekarang malah dipatungkan. Di dalam memoarnya, 4 Bulan di Amerika , Hamka menelusuri keberadaan patung tersebut dan menghubungkannya dengan pemahaman tentang Islam di negara Barat, khususnya AS.





















