Hasil pencarian
Search this site
9997 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Portugis Menangis di Selat Malaka
SEPANJANG tanggal 26 dan 27 Juni 2024, KRI Dewaruci menyusuri Selat Malaka dari utara. Sudah sejak lama kapal-kapal dagang dari bermacam negara melewati selat kaya ini. Ada banyak kapal penuh muatan berhaga tenggelam di dalam kawasan selat ini. Malaka adalah pasar rempah penting dunia karena bermacam rempai dijual di sana. Dalam sejarah pelayaran dunia mencari rempah-rempah ke Timur, Portugis dan Spanyol dianggap sebagai pelopornya. Inggris dan Belanda kemudian mengikuti dan banyak menguasainya. Afonso de Albuquerque dan Vasco da Gama adalah dua pemuka pelayaran Portugis ke Asia yang cukup sering disebut dalam sejarah kedatangan Portugis ke Asia. Afonso de Albuquerque((1453-1515) berperan penting dalam upaya pembentukan koloni Portugis di Asia. Dia memimpin upaya perebutan Goa di India lalu pada 1511 di Malaka, Semenanjung Malaya. Dirinya menjadi wakil raja Portugis di Asia. Portugis berkuasa di Malaka dari 1511 hingga 1642. Namun Albuquerque tidak lama di Malaka.
- Portugis Kena Prank di Malaka
AIRNYA memang tidak jernih, tapi bersih. Pun pedestrian dan deretan bangunan di kiri-kanannya, semua bersih dan rapi. Begitulah kondisi Sungai Malaka di bagian sebelum muara siang 30 Juni 2024 itu. Tak hanya berisi bangunan modern macam Dataran Pahlawan Melaka Megamall, kawasan di pesisir kota Malaka itu juga kaya bangunan tua. Tak jauh dari tepian Sungai Malaka tadi terdapat kawasan perbentengan Eropa. Salah satunya, Benteng Famosa yang menjadi peninggalan Portugis. Ia saksi bisu ramainya Malaka sebagai bandar utama di Selat Malaka beberapa abad silam yang didatangi orang dari berbagai tempat, termasuk Eropa. Orang Eropa awalnya meyakini bahwa rempah-rempah yang diperdagangkan orang Arab dan India dihasilkan di Malaka, Semenanjung Malaya. Laksamana Portugis Afonso d’Albuquerque pun datang ke Malaka. Albuquerque berambisi mendapatkan rempah yang akan menghasilkan cuan itu.
- Raja Terakhir Singapura Bangun Malaka
KOTA pesisir di Malaysia yang pada 29 Juni 2024 malam hanya terlihat gemerlapan lampunya dari geladak KRI Dewaruci, kini (30 Juni 2024) jadi tempat persinggahan kapal layar milik TNI AL itu dalam pelayaran Muhibah Budaya Jalur Rempah. Malaka, nama kota itu, dijadikan titik singgah karena merupakan salah satu bandar penting di Selat Malaka dalam perniagaan rempah di masa lalu. Malaka tak bisa dilepaskan dari nama Parameswara. Parameswara adalah nama yang dikenal di tiga negara: Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Di Malaka, Malaysia, nama Parameswara dikenal sebagai pendiri Kesultanan Malaka. Dia juga dikenal sebagai raja terakhir dari Tumasek, yang belakangan disebut Singapura. Sosok Parameswara di Malaysia dan Singapura itu diperkirakan kelahiran Palembang tahun 1344.
- Drama Raja Pedir
DI masa lalu, konflik keluarga terkait kekuasaan banyak sekali terjadi di kerajaan-kerajaan di Nusantara. Entah orangtua dengan anaknya, kakak dengan adiknya, atau anggota-anggota keluarga yang lain. Di Banten, misalnya, sekitar tahun 1681 perselisihan terjadi antara Sultan Ageng Tirtayasa dan anaknya, Sultan Haji. VOC yang –membantu salah satunya– mendapat keuntungan. Konflik serupa juga terjadi di Pedir. Konfliknya bukan antara ayah dan anak, melainkan antara paman dan keponakan. Pedir, yang kini menjadi Pidie, di tenggara Banda Aceh, merupakan kerajaan berdaulat yang diperhitungkan di Aceh dan Selat Malaka. Eksistensinya sudah lebih dulu ketimbang Kerajaan Aceh, telah dicatat oleh penjelajah Portugis Joao de Barros.
- Mula Tambang Nikel di Raja Ampat
LANTARAN keindahan alam dan keanekaragaman hayatinya, Kepulauan Raja Ampat di Provinsi Papua Barat Daya sampai dijuluki “Surga Terakhir di Bumi”. Namun penambangan nikel yang terkandung di perut buminya kini dikhawatirkan merusak lingkungannya dan menimbulkan kegaduhan. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pun merespons dengan mencabut Izin Usaha Pertambangan (IUP) empat dari lima perusahaan penambangnya. Keempatnya yakni PT Kawei Sejahtera Mining di Pulau Kawe, PT Mulia Raymond Perkasa di Pulau Batang Pele dan Pulau Manyaifun, PT Anugerah Surya Pratama di Pulau Manuran, dan PT Nurham di Yesner, Waigeo Timur. Pengacualian terjadi untuk PT Gag Nikel, anak perusahaan PT Aneka Tambang, di Pulau Gag. IUP-nya tidak dicabut pemerintah. Salah satu alasannya, PT Gag Nikel tidak beroperasi di kawasan Geopark Raja Ampat. Dalam konferensi persnya pada 11 Juni 2025, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia juga mengungkapkan bahwa aktivitas eksplorasi PT Gag Nikel sudah dimulai sejak 1972 meski Kontrak Karya-nya baru ditandatangani pada 1998.
- Kala Sang Raja Ditolak Cintanya
FENOMENA ghosting sedang ramai di kalangan anak muda. Ghosting adalah sebuah sikap berupa meninggalkan salah satu pihak saat pendekatan menuju relasi romansa tanpa kabar apapun. Alasannya beragam, mulai dari merasa tidak cocok hingga menemukan orang baru untuk diajak kencan. Jika hal ini menyerang laki-laki, maka dia akan dikatakan sadboys. Seorang raja Jawa juga pernah menjadi sadboys. Kisahnya bermula dari Pakubuwono IX, raja Surakarta tahun 1861-1893, ketika menginjak masa puber dan masih namanya masih Raden Mas Suryo Duksina –gelar Pakubuwono IX belum tersemat. Di usia 13 tahun, ia jatuh hati pada seorang gadis bernama Sekar Kadhaton. Sekar Kadhaton adalah putri dari Pakubuwono VII (1830-1858). Di lingkungan keraton Surakarta, ia dikenal sebagai kembang istana karena kecantikan dan kecerdasannya. RM Suryo amat tergila-gila pada Sekar Kadhaton. Akan tetapi, cintanya ditolak meski bukan dengan cara ghosting.
- Persaingan Para Istri Raja
DULU, raja Jawa Tengah selatan bisa memiliki empat istri resmi atau garwa padmi. Bukan hal aneh pula jika raja punya sejumlah istri tak resmi, yaitu selir atau garwa ampeyan. Di Surakarta, Pakubuwono IV memiliki 56 anak dari dua permaisuri. Ada lebih dari 25 garwa ampeyan. Di Yogyakarta, pada periode yang sama, Hamengkubuwono II punya setidaknya 80 anak dari tiga garwa padmi. Sementara dia juga punya 30 selir. J.W. Winter, penerjemah resmi di Surakarta menceritakan bagaimana Sunan Pakubuwono V (1820-1823) biasanya tidur pada malam hari dengan para garwa padmi. Siang harinya, dia tidur dengan selir. Rupanya tak semua selir raja ada pada tingkatan yang sama. Ada yang digolongkan sebagai selir utama. Mereka diambil dari anak-anak perempuan priayi utama atau pangeran dan bangsawan berdarah biru. Berbeda dengan abdi dalem priayi manggung atau prajurit éstri yang selalu menemani raja ketika keluar keraton, selir kelas utama tak boleh menginjakkan kaki keluar istana.
- Daya Tarik Seksual Selir
BEBERAPA raja di Jawa Tengah selatan pada abad ke-19 bangga mempunyai banyak perempuan di Keputren. Kebanggan itu terutama terkait kekuatan seksual sang raja. Raja Jawa Tengah selatan memiliki empat istri resmi atau garwa padmi dan sejumlah istri tak resmi, yaitu selir atau garwa ampeyan. Daya tarik seksual penting dipahami oleh para gadis di lingkungan keraton demi kelangsungan karier sebagai selir. Di antara istri itu terjadi persaingan. Khususnya persaingan di antara para permaisuri yang ingin keturunannya menjadi penerus raja. Karenanya ada kiat-kita jitu agar perempuan di Keputren menjadi terfavorit. Misalnya, terlihat dari pendidikan yang diberikan kepada anak gadis oleh ibunya di Keraton Surakarta. “Pelajaran tentang menulis, membordir, dan menjahit tidak memiliki tempat, yang dianggap perlu untuk anak perempuan adalah melatih mereka bagaimana mengatur kecantikan,” tulis J.W. Winter sebagaimana dikutip Peter Carey dalam Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-VIX.
- Dagelan Politik, Agar Bangsa Sehat Jasmani-Rohani
SELAIN Jokowi-Makruf Amin dan Prabowo-Sandi, ada pasangan calon (paslon) lain yang wajahnya terpampang dalam poster debat. Mereka adalah Nurhadi-Aldo yang populer disingkat Dildo. Dengan wajah penuh senyum, mengenakan peci, dan kemeja putih, foto paslon Dildo dipajang sejajar dengan dua paslon lain. Namun apa daya, pada debat pilpres 17 Januari 2018 lalu, Nurhadi-Aldo tak dapat menyampaikan pendapat. Mereka pun minta maaf lewat akun Instagram-nya. “Kami paslon No. 10 belum sempat mengutarakan pendapat kami, namun sudah terpotong oleh iklan.” Nurhadi-Aldo memang tak pernah benar-benar mencalonkan diri dalam pilpres. Nurhadi merupakan seorang tukang pijat di Kudus, Jawa Tengah. Semantara, Aldo adalah tokoh fiktif. Wajah rekaan Aldo, gabungan dari dua foto politisi terkenal. Mereka adalah paslon fiktif yang dibuat sekelompok anak muda penggemar shitposting, kegiatan berbagi konten “nirfaedah berkualitas rendah” untuk hiburan, seperti laman Facebook Semiotika Adiluhung 1945 dan Penahan Rasa Berak. Poster debat yang memajang wajah Nurhadi-Aldo pun sebatas guyonan.
- Dagelan Hukum The Trial of the Chicago 7
KONSPIRASI. Mulai dari Martin Luther King Jr. hingga Robert Francis ‘Bobby’ Kennedy, pembunuhan yang mengakhiri hidup keduanya itu tak luput kontroversi. Dua tokoh kemanusiaan itu sama-sama jadi “martir” di tahun yang sama, 1968. King dibunuh pada 4 April, sementara Bobby pada 6 Juni. Cuplikan-cuplikan foto dan video tentang nahasnya kedua tokoh tersebut dijadikan gerbang masuk oleh sutradara Aaron Sorkin untuk menggambarkan iklim politik Amerika Serikat yang pada 1968 jadi salah satu titik krisis politik paling panas. Klimaksnya adalah kerusuhan di sela Konvensi Partai Demokrat di Chicago, 28 Agustus, yang berbuntut pada sebuah persidangan kontroversial yang juga jadi tajuk drama historis garapan Sorkin, The Trial of the Chicago 7. Alur cerita lantas melompatkan ke lima bulan pasca-kerusuhan. Pada suatu pagi, Richard Schultz (diperankan Joseph Gordon-Levitt) bersama seniornya sesama jaksa penuntut Distrik Selatan Negara Bagian Illinois, Thomas Foran, menanti dengan sabar di sebuah ruang tunggu di Kementerian Kehakiman Amerika. Diiringi bertubi-tubi bunyi mesin ketik milik seorang sekretaris di hadapannya, jaksa Schultz yang terbengong segera tersadar kala seseorang mengganti sebuah foto besar di dinding ruangan. Foto Presiden Lyndon B. Johnson ditukar foto Richard Nixon, presiden terpilih pada Pilpres Amerika 1968.
- Percy Pantang Kibarkan Bendera Putih
PERGI ke gereja dan menggarap pertanian milik keluarga turun-temurun di Bruno, Saskatchewan, Kanada jadi rutinitas sehari-hari Percy Schmeiser (diperankan Christopher Walken). Namun ketenangan kehidupan petani sederhana berusia 73 tahun itu dan istrinya, Louise (Robert Maxwell), pada suatu siang di bulan Agustus 1998 terusik dengan datangnya sebuah surat. Setelah membacanya dengan cermat, raut wajah hangat Percy langsung berubah 180 derajat. Surat itu berisi tuntutan hukum perdata dari Monsanto Canada Inc. Percy dianggap telah menyimpan dan menggunakan bibit canola GMO (Genetically Modified Organism) yang telah dipatenkan Monsanto tanpa izin oleh produsen bibit bioteknologi raksasa itu. Kebingungan, Percy pun mencari bantuan pada pengacara lokal Jackson Weaver (Zach Braff). Dari detail surat tuntutan yang dikaji sang pencara, intinya Percy diklaim telah mencuri bibit canola dari Monsanto yang dipatenkan. Percy jelas makin bingung karena tak merasa mencuri.
- The Mercy, Berlayar dan Tak Kembali
DI tengah kerumunan wartawan dan pengunjung pameran Earls Court Boat Show ke-25 tahun 1967, Donald Crowhurst (diperankan Colin Firth) tenggelam dalam lamunan kala mendengarkan kisah Sir Francis Chichester (Simon McBurney) di atas panggung. Sir Francis merupakan pelaut pertama yang berlayar mengelilingi bumi seorang diri (1966-1967). Sir Francis yang mengambil jalur lautan selatan mengarungi tiga samudera dengan sekali pemberhentian di Sydney, Australia. Hari itu, Suratkabar The Sunday Times menggelar Golden Globe Race 1968-1969 guna menantang para pelaut untuk berlayar mengelilingi bumi non-stop. “Satu-satunya hal yang bisa saya bayangkan untuk lebih menguji seseorang mengarungi dunia sendirian adalah dengan tidak berhenti sama sekali. Seseorang pernah berkata bahwa gelombang di lautan selatan tak bisa diukur dengan inci atau kaki tapi tingkat rasa takut. Seseorang juga harus menjawab tantangan untuk keluar dari bayang-bayang orang lain dan dengan alasan itu saja, kita harus bersyukur dengan luasnya lautan dan itu jadi panggilan bagi para petualang,” kata Sir Francis di atas panggung.





















