top of page

Hasil pencarian

9656 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ketika Pejabat jadi Bulan-bulanan Massa Rakyat

    SEJUMLAH anggota DPR RI jadi bulan-bulanan masyarakat akibat pernyataan dan tindakan kontroversial mereka melukai hati yang berujung pada gejolak pada akhir Agustus 2025 lalu. Tak hanya kediaman mereka disatroni dan dijarah massa, mereka juga dipermalukan para warganet di aneka media sosial.    Setidaknya ada lima anggota DPR yang lantas dinonaktifkan partai masing-masing usia gelombang demonstrasi yang berakhir ricuh dengan bentrokan massa demonstran dengan aparat keamanan. Selain Ahmad Sahroni dari Fraksi Partai Nasional Demokrat (NasDem), lainnya adalah Eko Hendro Purnomo alias Eko Patrio, Nafa Urbach, dan Surya Utama (Uya Kuya) dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), serta Adies Kadir dari Fraksi Partai Golongan Karya (Golkar).

  • Orang Indonesia dalam Perang Korea

    KINI, lebih banyak orang tahu nama artis-artis K-Pop dibanding jurnalis Mochtar Lubis sebagai orang Indonesia yang pernah berada di Korea saat terjadi perang saudara di sana. Mochtar yang ke sana untuk meliput Perang Korea, kemuudian merilis sebuah buku berjudul Catatan Perang Korea. Namun, lebih sedikit lagi orang yang mengetahuibahwa selain Mochtar Lubis sebenarnya ada orang Indonesia lain di perang tersebut. Mereka sebagai tentara Kerajaan Belanda, yang merupakan bagian dari kubu Blok Barat pimpinan Amerika Serikat bersama Korea Selatan. Mereka melawan Korea Utara yang disokong Blok Timur (Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok) dalam perang tersebut.

  • Mahatma Gandhi, Pejuang tanpa Kekerasan

    MOHANDAS Karamchand Gandhi lahir pada 2 Oktober 1869 di Porbandar, Gujarat, sebelah barat India. Ayahnya menjabat perdana menteri di negara bagian tersebut, dan keluarganya banyak bekerja untuk pemerintah kolonial Inggris. Semasa kecil hingga beranjak remaja, Gandhi dikenal penakut. Dia takut ular, hantu, pencuri dan kegelapan. Sebagai penganut Hindu Waisnawa yang memuja Rama, dia diajarkan oleh Rambha, pembantu setianya, agar menyebut nama Rama untuk mengatasi ketakutan. “Penangkal yang efektif mengatasi ketakutan,” tulis Pascal Alan Nazareth dalam Keagungan Kepemimpinan Gandhi .

  • Kolberg, Film Perang di Tengah Perang

    MENGIRINGI derap kaki ribuan serdadu diikuti barisan milisi yang berparade di jalan-jalan, nyanyian itu membakar semangat rakyat di Kota Breslau, Prusia (kini Wrocław, Polandia) pada pagi 17 Maret 1813. Spirit ini yang tengah dimanfaatkan Jenderal August Neidhart von Gneisenau (diperankan Horst Caspar) saat menghadap Raja Prusia Friedrich Wilhelm III (Claus Clausen). “ Und es zittern schon die Lose. (Dan dadu pun dikocok) Und der Würfel fällt. (Dan dadunya jatuh) Wer legt noch die Hände feig’in den Schoß? (Siapa yang berpangku tangan sebagai pengecut?) Das Volk steht auf, Der Sturm bricht los !” (Bangkitlah rakyat, badai akan berlalu). Begitu bunyi potongan nyanyian bertajuk “Das Volk Steht” (Kebangkitan Rakyat) yang menggema sampai ke ruangan istana tempat Raja Friedrich Wilhlem III. Sang raja tengah bimbang untuk menentukan arah dukungan dalam jalannya peperangan lantaran Grande Armée-nya Kaisar Napoléon Bonaparte babak belur di Rusia setahun sebelumnya.

  • Vanessa Redgrave, Aktris Peraih Oscar yang Membela Palestina

    FILM Julia (1977) tak hanya mengantarkan Vanessa Redgrave meraih piala Oscar kategori aktris pendukung terbaik tahun 1978, tetapi juga membuatnya semakin disorot karena komitmen terhadap perdamaian dan penolakan terhadap perang. Film yang disutradarai oleh Fred Zinnemann ini berkisah tentang kehidupan dan kematian Julia, seorang antifasis yang gigih dan heroik. Vanessa beradu peran dengan Jane Fonda sebagai Lillian Hellman, kawan Julia. Film ini merupakan kisah petualangan berlatar tahun 1934, ketika Lillian diminta menyelundupkan uang ke Jerman, di mana tim perlawanan Julia bekerja untuk membebaskan mereka yang ditawan fasis. Seperti halnya Julia, Vanessa pun antifasis di dunia nyata. Aktris kelahiran London, 30 Januari 1937 itu menentang imperialisme dan perang. Di masa-masa membangun karier di dunia teater, putri sulung aktor Michael Redgrave itu kerap ambil bagian dalam aksi menentang perang.

  • Kisah Tiga Kapal Pesiar: Olympic, Titanic, dan Britannic

    WHITE Star Line, perusahaan pelayaran Inggris yang beroperasi sejak 1845, berambisi menjadi yang terbesar di Eropa. Untuk itu, ia memesan kapal pesiar yang cepat lagi mewah kepada perusahaan pembuat kapal Harland and Wolff di Belfast, Irlandia Utara. Ia ingin mengalahkan rivalnya, Cunard Line, yang membangun kapal pesiar berkecepatan tinggi seperti RMS Mauretania dan RMS Lusitania . “Jika Cunard membangun yang besar, White Star akan membangun yang lebih besar; jika Cunard menawarkan kemewahan, White Star akan menawarkan kemewahan dalam skala yang belum pernah dilihat sebelumnya di Atlantik Utara,” tulis Daniel Allen Butler dalam The Age of Cunard: A Transatlantic History 1839-2003 .

  • Mengusik Titanic

    AGENDA wisata ekstrem ekspedisi selam ke bangkai kapal pesiar RMS Titanic di 435 mil lepas pantai St. John, Newfoundland, Kanada, berujung bencana. Lima orang di dalam kapal selam ekspedisi Titan justru ikut hilang sebagaimana para korban tragedi Titanic 111 tahun silam. Wahana ekspedisi Titan milik perusahaan riset dan ekspedisi OceanGate itu menyelam pada Minggu (18/6/2023) pukul 1 siang dengan membawa lima orang. Selain CEO OceanGate Stockton Rush, di dalamnya ada veteran Angkatan Laut (AL) Prancis Paul-Henri Nargeolet, konglomerat Inggris Hamish Harding, serta pebisnis Pakistan Shahzada Dawood dan putranya Suleman Dawood. Namun ketika sudah memasuki pukul 2.45 siang, Titan yang berukuran 22 kaki (6,7 meter) itu dilaporkan hilang kontak. Sementara perhitungan suplai oksigen di wahana itu dilaporkan hanya cukup sampai 96 jam.

  • Suara dari Rimba Raya

    KUTARAJA, Banda Aceh, 19 Desember 1948. Sore itu, di markas Penerangan TRI Divisi X, Gubernur Militer Aceh Tengku Daud Beureuh menerima kawat kilat. Pesan telegram tertulis, “Kita telah diserang.” Tertera nama si pengirim pesan: Panglima Angkatan Perang Indonesia Letnan Jenderal TNI Soedirman. Belanda melancarkan Agresi Militer II. Akibat agresi itu, ibukota Yogyakarta diduduki tentara Belanda. Sejumlah pemimpin Republik ditahan. Pusat pemerintahan Indonesia di Jawa lumpuh. Radio Belanda, baik Hilversum  di negeri Belanda maupun jawatannya di Jakarta dan Medan, gencar memberitakan bahwa Republik Indonesia telah habis. Berita itu tersiar sampai ke Aceh, yang belum berhasil diduduki Belanda.

  • Pedagang dan Pejuang dari Tanah Rencong (Bagian II)

    SUNGAI Tamiang membentang dari hulu di pegunungan hingga bermuara di Selat Malaka sepanjang 104 kilometer. Ia jadi nadi peradaban di Aceh Timur, utamanya bagi masyarakat yang berdiam di Aceh Tamiang. Wilayah ini terdampak paling parah dalam bencana alam pada akhir November 2025 yang menerjang Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat hingga menewaskan lebih dari 1.100 jiwa. Belum juga pulih, warga Aceh Tamiang yang bermukim di sepanjang Sungai Tamiang terendam akibat luapan sungai yang disebabkan curah hujan tinggi pada awal tahun 2026. Dulu, Sungai Tamiang tak hanya menampung hujan dan menyuburkan lahan-lahan di sekitarnya, tetapi juga jadi jalur perdagangan dan perjuangan di masa revolusi kemerdekaan. Julius Pour dalam biografi Laksamana Sudomo: Mengatasi Gelombang Kehidupan mencatat, upaya Mayor John Lie dengan kapal The Outlaw  bernomor lambung PPB 58 LB mendapatkan persenjataan dari Singapura dan Malaya untuk pasukan Republik di Sumatra berawal dari Sungai Tamiang. Ketika itu, tak sedikit komoditas perkebunan yang dibawa menembus blokade laut Belanda untuk dibarter dengan keperluan militer.

  • Pedagang dan Pejuang dari Tanah Rencong (Bagian III–Habis)

    SIANG itu, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat begitu ramai dengan lalu-lalang kendaraan. Gaduh. Namun setiba di depan sebuah gedung kawasan Kwitang yang tak jauh dari jalan layang Senen dan gedung-gedung sibuk di dekatnya seperti Universitas BSI, Ibis Hotel, dan Museum Sumpah Pemuda, waktu seolah berhenti. Ia seakan membawa kita ke masa lalu. Bak langit dan bumi dibandingkan dengan bangunan-bangunan baru tadi, gedung tua lima lantai yang masih tegak berdiri di Jalan Kramat Raya No. 94-96 itu kumuh dan terbengkalai. Bentuk Gedung CTC (Central Trading Company), demikian bangunan itu dinamai, khas gedung modern era 1950-an. Terdiri dari dua sayap bangunan terpisah, lantai 1 sayap kanan hanya ditempati Bank Mandiri KCP Kramat Raya sebagai tenant -nya. Di gerbang tengah dan trotoar di depannya banyak orang menawarkan jasa cat duco.

  • Habis PNI Terbit Partindo

    RAPAT umum PNI di Yogyakarta bubar pada tengah malam. Sukarno dan Gatot Mangkoepradja bermalam di rumah Mr. Soejoedi, pengacara dan ketua PNI Yogyakarta. Jam lima pagi, 29 Desember 1929, polisi menggedor rumah dan menangkap Sukarno dan Gatot. Keduanya kemudian dibawa dan dimasukkan ke penjara Banceuy di Bandung. Penguasa kolonial melakukan penangkapan besar-besaran kepada anggota dan pimpinan PNI. Razia dilakukan pada 24 Desember 1929 di 37 tempat: 27 tempat di Jawa, 8 tempat di Sumatra, 1 tempat di Sulawesi dan Kalimantan. Jumlah penggeledahan 780: 400 di Jawa, 50 di Sumatra, 28 di Sulawesi, dan beberapa di Kalimantan. Setidaknya 180 pemimpin PNI ditahan, sebagian besar kemudian dilepaskan.

bottom of page