top of page

Hasil pencarian

9735 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Mencegah Kemusnahan Bahasa Betawi

    BUDAYAWAN Betawi Abdul Chaer bilang, banyak orang Betawi, khususnya generasi muda, yang kini tak tahu lagi kata-kata atau istilah-istilah Betawi. “Orang tidak tahu buah kundur. Padahal yang nanya orang umur 30-an. Itu karena buah kundur sudah tidak ada di Betawi,” katanya sewaktu menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk “Pendekar Bahasa dan Budaya Betawi: Abdul Chaer” yang dihelat di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (9/12/17) malam. Hilangnya buah kundur disebabkan oleh perubahan lingkungan yang menjadi sumber pengetahuan masyarakat Betawi. Ketiadaan pohon buah kundur, yang dulu mudah ditemukan di kampung-kampung, itulah yang membuat generasi muda Betawi tak memiliki referensi tentang tanaman yang dulunya populer di lingkungannya.

  • Alkitab Seribu Bahasa

    KETIKA berkunjung ke Perpustakaan Wurttembergische Landesbibliothek di kota Stuttgart, Jerman, Harsiatmo Duta Pranowo, sekretaris umum Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), berniat membuat replika Injil Matius terjemahan Albert Cornelisz Ruyl. Pihak perpustakaan memberikan dukungan dan kemudian mengirim scan naskah Ruyl dalam resolusi tinggi. LAI segera bekerja. Rencananya, replika itu akan diterbitkan pada 2014 saat perayaan 60 Tahun Pelayanan LAI dan 385 Tahun terbitnya Injil Matius tersebut. Namun, sebagaimana diberitakan dalam laman LAI,  alkitab.or.id , permintaan dan pesanan datang dari Pertubuhan Bible Malaysia, yang 5 November lalu memperingati 400 tahun penerjemahan Injil ke dalam bahasa Melayu-Indonesia kali pertama.

  • Bahasa Belanda Gatot Subroto di India

    DI Bandar Udara Kemayoran, sejumlah petinggi negara berkumpul. Tampak di antara mereka Menteri Keamanan Nasional/Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Jenderal Abdul Haris Nasution, yang berbincang dengan wakilnya Letnan Jenderal Gatot Subroto. Selain Nasution, turut mendampingi Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Surjadi Suryadarma bersama Gubernur DKI Jakarta Soemarmo dan Panglima Kodam V Jaya Kolonel Umar Wirahadiusumah. Duta Besar India dan Myanmar beserta atase militer masing-masing pun tampak mengiringi. Mereka hendak mengantar rombongan misi Angkatan Darat bertolak ke India dan Myanmar. “Misi ADRI ke India dan Birma untuk persahabatan dan meninjau objek militer,” demikian diwartakan Harian Patriot , 19 April 1960. Pada 16 April 1960, pesawat Air India membawa rombongan misi Angkatan Darat (AD) yang dipimpin oleh Gatot Subroto. Gatot didampingi sejumlah perwira menengah, antara lain Kolonel Moersjid (Asisten II KASAD), Kolonel Surono (Wakil Gubernur Akademi Militer Nasional), Kolonel Cdm dr. Suyoto (Dinas Kesehatan AD), dan Mayor Nurmanly Aman (Paban Asisten I KASAD sebagai penerjemah), Letkol Soemitro (Wakil Komandan Pusat Infantri), serta Kapten CPM Soedibjo yang bertindak selaku ajudan Gatot Subroto.

  • Memperjuangkan Indonesia Lewat Bahasa

    MESKI terbilang masih muda, 24 tahun, Sarmidi Mangunsarkoro menyampaikan pidato dengan lantang ketika menjadi pembicara di sesi pertama hari kedua Kongres Pemuda tahun 1928. Dalam sesi dengan tema pendidikan kebangsaan itu, Mangunsarkoro menyampaikan gagasan tentang pentingnya kebudayaan bangsa untuk dijadikan landasan pendidikan putra-putri Indonesia. Menurutnya, pendidikan yang berlandaskan kebudayaan bangsa sendiri akan menjadi pupuk istimewa untuk menyuburkan pengetahuan. “Beliau bicara tentang pentignya pendidikan kebangsaan, pendidikan yang seimbang antara sekolah dan rumah, dan pendidikan demokrasi,” kata Anik Yudhastowo Mangunsarkoro, menantu Mangunsarkoro, pada Historia .

  • Perlawanan Lewat Bahasa

    SEKEMBALINYA dari Belanda tahun 1931, Maria Ullfah bertekad mematuhi Sumpah Pemuda dengan cara menggunakan bahasa Indonesia. Untuk itu, bersama Soegiarti (kemudian jadi istri Sutan Takdir Alisyahbana) sahabat karibnya Maria mencari seseorang yang bisa mengajari bahasa Indonesia. Upaya itu berhasil. Pujangga Amir Hamzah bersedia menjadi guru les mereka. Namun, Amir rupanya tak cocok menjadi guru Maria Ullfah dan Soegiarti. Kosakata yang diajarkan Amir terlalu mendayu-dayu dan sangat sastrawi, sementara kebutuhan Maria dan Soegiarti bukan itu. Maria lalu berterus terang pada Amir. “Maaf, Saudara Amir Hamzah. Bahasa Indonesia yang Saudara ajarkan pada kami adalah bahasa pujangga. Kami memerlukan bahasa Indonesia yang biasa untuk berpidato dan bercakap-cakap, bukan untuk menjadi sastrawan,” kata Maria seperti ditulis Gadis Rasyid dalam biografi Maria Ullfah Subadio Pembela Kaumnya.

  • Wadah Pembahasan Arah Kebudayaan dari Beragam Masa

    SETELAH 100 tahun sejak pertamakali diselenggarakan pada 1918, Kongres Kebudayaan akan kembali digelar pada 3-4 Desember 2018. Kongres ini selain berupaya mengingatkan kembali semangat persatuan, juga membahas kondisi budaya terkini dengan makin masifnya arus informasi dan gerak budaya. “Ada kebutuhan untuk merumuskan kembali arah gerak kebudayaan karena kondisi revolusi industri 4.0 saat ini dan keadaan dunia yang cepat berubah,” kata Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid dalam Konferensi Pers Kongres Kebudayaan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayan, Jumat (9/11). Persiapan kongres sudah dimulai sejak Maret lalu lewat kongres kecil di tingkat kabupaten/kota yang membahas berbagai bidang. Ada 27 rumusan dari masing-masing bidang, seperti wayang, kesehatan tradisional, infrastukrur dll. Tiap daerah menyusun pokok kebudayaannya sesuai masalah yang dialami masing-masing daerah.

  • Juru Bahasa Soeharto Ketinggalan di Italia

    PRESIDEN Soeharto dianggap berhasil swasembada pangan. Dia pun diundang untuk berpidato dalam konferensi FAO (Badan Pangan dan Pertanian PBB) di Roma, Italia, pada 14 November 1985. Demi menjamin keamanan perjalanannya, intelijen sampai meminjam alat penangkal serangan rudal dari Israel yang dipasang dalam pesawat kepresidenan. Dalam kesempatan itu, Soeharto menyumbangkan 100 ribu ton gabah kepada FAO untuk disalurkan kepada negara-negara yang dilanda kelaparan, terutama di Afrika. Setelah menghadiri konferensi itu, Soeharto berkunjung ke India. Letkol Soeyono, ajudan Presiden Soeharto, dalam biografinya, Bukan Puntung Rokok , menceritakan bahwa dalam perjalanan pulang dari Italia, ada kejadian yang menegangkan, yaitu ditinggalnya juru bahasa yang biasa mendampingi presiden dalam pembicaraan empat mata. Kemacetan lalu lintas membuat juru bicara itu tidak bisa mencapai pangkalan pemberangkatan tepat waktu.

  • Ridwan Saidi dan Bahasa Armenia

    PRASASTI yang dikeluarkan Kadatuan Sriwijaya dituliskan dalam bahasa Armenia, bukan Senskerta. Selama ini, banyak arkeolog salah mengira tulisan dalam prasasti-prasasti itu berbahasa Sanskerta, karenanya menimbulkan banyak salah arti. Hal itu diucapkan budayawan Betawi, Ridwan Saidi, dalam video yang diunggah di kanal YouTube "Macan Idealis". “Banyak sekali bahasa Melayu menyerap dari bahasa Armenia. Jadi ketika dibaca, oh, ini bahasa Melayu padahal bahasa Armenia,” katanya. Kenyataannya, semua prasasti peninggalan Kadatuan Sriwijaya ditulis dengan aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno. “Jelas kok itu Melayu Kuno. Masa nggak percaya bahasa sendiri,” kata Titi Surti Nastiti, ahli epigrafi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, ketika ditemui di kantornya di Pejaten, Jakarta.

  • Sejarah Penerjemahan Alkitab ke Bahasa Sunda

    NEDERLANDSCHE Zendingsvereeniging (NZV) mengirim tiga zending pertama ke Jawa Barat pada 1863, yaitu C. Albers, D.J. van der Linden, dan G.J. Grashuis. Albers dan Linden untuk menyebarkan agama, sedangkan Grashuis untuk mempelajari bahasa Sunda. NZV didirikan pada 2 Desember 1858 oleh orang-orang yang meninggalkan NZG (Nederlandsche Zendelinggenootschap), lembaga pekabaran Injil terpenting di Belanda, karena menganggap NZG telah dipengaruhi teologi modern. Menurut pandangan mereka, modernisme juga telah menular ke Nederlandsch Bijbelgenootschap (NBG). Mereka khawatir terjemahan Alkitab oleh Lembaga Alkitab Belanda itu akan terjangkit oleh rasionalisme.

  • Kebrutalan Paman Sam dalam Pembantaian My Lai

    AMERIKA SERIKAT (AS) bertanggung jawab atas serangan terhadap Sekolah Dasar (SD) Shajarah Tayyebeh di Minab, Provinsi Hormozgan, Iran 28 Februari 2026 lalu. Demikian bunyi hasil investigasi awal militer AS. Harian New York Times , 11 Maret 2026 mengungkapkan bahwa menurut beberapa pejabat pemerintah AS yang tak disebutkan namanya dan mengetahui temuan-temuan awal investigasinya, AS harus bertanggung jawab atas serangan misil Tomahawk ke SD Shajarah Tayyebeh. Sekitar 175 orang wafat, sebagian besar para siswi putri, serta 95 lainnya terluka. Sekolah itu dulunya merupakan bagian dari kompleks militer Korps Garda Revolusi Iran, IRGC. Bangunan itu lalu ditinggalkan dan kemudian dijadikan sekolah dasar dan area bermain anak. Sialnya, menurut temuan awal laporan tadi, Komando Pusat AS menggunakan data Defense Intelligence Agency yang sudah usang untuk melancarkan serangan. Beberapa investigasi independen lain juga mengindikasikan hal serupa. Salah satu organisasi HAM sampai menyamakan serangan itu dengan Pembantaian My Lai di Perang Vietnam (1955-1975) hampir enam dekade lampau. “Serangan AS terhadap sebuah sekolah di Minab, Iran, sangat keterlaluan, membunuh sekitar 175 orang. Kebanyakan korban tewasnya anak-anak, menjadikannya korban anak-anak terbesar dalam sebuah serangan militer AS sejak Pembantaian My Lai di Vietnam pada 1968. Hal ini seharusnya mengguncang hati nurani bangsa kita, sama seperti jika hal yang sama terjadi pada anak-anak di sebuah sekolah sekolah Amerika,” kecam Jeremy Konyndyk, presiden organisasi HAM Refugees International di laman resminya , 11 Maret 2026. Baca juga: Pembantaian Paman Sam di Vietnam Pemakaman massal korban serangan di sekolah dasar Iran (Wikipedia/Tasnim) Pilot Heli Menghentikan Tragedi Pagi 16 Maret 1968 itu, pilot Letnan Thompson Jr. ditemani Lawrence Colburn (penembak) dan Glenn Andreotta (kru) terbang dengan helikopter Hiller OH-23 Raven. Tugas mereka sekadar pengintaian udara ke empat dusun di Desa Son My, Vietnam, sebagai bagian dari “Operasi Son My” yang dilancarkan Gugus Tugas Barker. “Pagi itu kami melakukan pengintaian untuk operasi darat di (dusun) My Lai 4 yang bagi kami diberi kode ‘Pinkville’. Saya menerbangkan heli intai yang dikawal dua heli serbu. Tugas saya mengintai di garis depan, menginformasikan di mana musuh berada untuk mereka bereskan. Desa itu lebih dulu digempur artileri menjelang serangan,” kenang Thompson dalam sebuah forum akademik di Universitas Tulane medio Desember 1994, dikutip David L. Anderson dalam Facing My Lai: Moving Beyond the Massacre. Gugus Tugas Barker pimpinan Letkol. Frank A. Barker berkomposisi dua kompi: Kompi C dari Batalyon ke-1 Resimen Infanteri ke-20 dan Kompi B dari Batalyon ke-4 Resimen Infanteri ke-3. Kedua unit itu bagian dari Brigade ke-11 Divisi ke-23 AD AS. Letnan Thompson sendiri salah satu pilot dari Kompi Intai Udara B Batalyon Penerbangan ke-123 AD yang turut di-BKO-kan ke gugus tugas tersebut. Dari laporan data intelijen Phoenix Program yang dijalankan dinas intelijen AS CIA, Dusun My Lai 4 di Desa Son My disebutkan sebagai basis persembunyian pasukan Batalyon Lokal ke-38 Viet Cong. Maka pasukan darat diinstruksikan untuk bebas menembak siapapun yang ada di area itu. “Kompi Charlie bergerak untuk menetralisir kampung itu. Sempat terjadi kebingungan di antara para pasukan tentang apa artinya (menetralisir). Bagian yang menjadi masalah itu adalah intelijen yang buruk. Komisi Peers yang menginvestigasi, menyimpulkan bahwa rencana operasinya ‘berdasarkan asumsi yang salah mengenai kekuatan dan disposisi musuh dan soal ketiadaan non-kombatan (sipil) dari area operasi,” ungkap Michael R. Belknap dalam The Vietnam War on Trial: My Lai Massacre and the Court-martial of Lieutenant Calley. Akibat kekeliruan data intelijen yang fatal, Peleton ke-1 Kompi C pimpinan Letnan William Calley Jr. bergerak ke Dusun My Lai 4 dengan melancarkan serangan membabi-buta. Tidak ada pasukan Viet Cong di sana. Hanya ada warga sipil. Hal serupa juga dilancarkan Kompi B ke Dusun My Khe 4. Thompson menyaksikan horor itu di area Dusun My Lai 4 dari udara dengan mata terbelalak seakan tak percaya. “Kami terus terbang berkeliling, mengintai garis depan dan belakang dan tak butuh waktu lama sampai kami melihat banyak mayat. Di mana-mana kami melihat mayat bergelimpangan. Ada balita usia dua, tiga, empat, lima tahun; perempuan; para lansia,” sambung Thompson. Mulanya Thompson dan krunya mengira mereka adalah korban pemboman artileri. Namun setelah melihat sendiri seorang korban sipil terluka dieksekusi Komandan Kompi C Kapten Ernest Medina, dirinya segera menyadari bahwa mereka ternyata dibantai pasukan darat. Kelak, gadis itu teridentifikasi sebagai Nguyen Thi Tau, berusia 20 tahun. “Kami sempat mendarat di sebuah parit yang terdapat banyak mayat namun ada beberapa korban terluka yang masih bergerak. Saya meminta seorang sersan (Sersan David Mitchell dari Peleton ke-1, red) di darat agar ia bisa menolong mereka. Ia bilang, satu-satunya cara menolong mereka adalah mengakhiri penderitaan mereka. Saya kaget. Sempat saya kira ia bercanda. Lalu kami terbang lagi dan kru saya bilang: ‘Ya Tuhan, dia (Sersan Mitchell) menembaki parit’. Sempat dua-tiga kali kami minta agar para korban ditolong tapi setiap kali itu pula korban-korban itu dibunuh,” lanjutnya. Mayat-mayat bergelimpangan korban Pembantaian My Lai (US Army/Wikimedia) Mengutip Trent Angers dalam The Forgotten Hero of My Lai: The Hugh Thompsin Story , Thompson melaporkannya ke markas Gugus Tugas Barker via radio. Ia juga sempat mendarat lagi untuk mengonfrontir Letnan Calley saat melakukan pembantaian di parit yang lain. “Apa yang terjadi di sini, Letnan? Siapa orang-orang ini?” tanya Thompson. “Ini urusan saya. (Saya) hanya menjalani perintah,” jawab Calley. “Perintah? Perintah dari siapa? Mereka manusia, sipil tak bersenjata, Pak,” protes Thompson. “Dengar Thompson, ini urusan saya. Saya yang berwenang di sini. Ini bukan urusan Anda. Baiknya Anda balik ke heli dan urus saja urusanmu,” hardik Calley. Thompson belum menyerah. Di area lain ia mendarat lagi setelah melihat banyak warga sipil terluka di dekat sebuah bunker. Thompson mendaratkan helinya di antara warga sipil dan pasukan Peleton ke-2 pimpinan Letnan Stephen Brooks untuk mencegah pasukan darat membantai mereka. “Hei, dengar, tahan tembakanmu! Saya akan berusaha membawa orang-orang ini dari bunker. Tahan pasukanmu di sini,” Thompson memperingatkan. “Ya, kami bisa membantu Anda mengeluarkan mereka dari bunker – dengan granat tangan!” celetuk Brooks. “Tahan saja pasukan Anda di sini. Saya pikir saya bisa melakukan hal yang lebih baik dari itu!” perintah Thompson. Lantas Thompson memerintahkan para pilot yang menerbangkan beberapa heli Bell UH-1 Huey untuk mengevakuasi sekitar 11 korban terluka dari bunker itu. Sementara ia sendiri kembali ke pangkalan untuk mengisi bahan bakar lagi, sekaligus memberikan laporan secara langsung ke Letkol Barker. Dari markas, Letkol Barker via radio memerintahkan menghentikan pembantaian. Total sekitar 504 nyawa melayang dalam Pembantaian My Lai oleh Kompi C itu, termasuk yang terjadi di Dusun My Khe oleh Kompi B. Banyak dari mereka anak-anak. Investigasi internal yang digelar AD mengungkap, ternyata tak hanya pembantaian namun juga terjadi pembakaran hingga penyiksaan seksual dan pemerkosaan massal terhadap korban perempuan antara usia 10-45 tahun. Sementara, jurnalis investigasi Seymour Hersh juga membongkar tragedinya. Laporannya turut mengguncang pemerintahan Presiden Richard Nixon hingga akhirnya investigasi berskala besar digelar Komisi Peers pimpinan Letjen William R. Peers, dengan Thompson sebagai salah satu saksi kuncinya. Pengadilan militer pada 17 November 1970 mendakwa 12 perwira, termasuk panglima Divisi Infanteri ke-23 Mayhen Samuel W. Koster. Namun, hanya Letnan Calley yang divonis bersalah atas temuan bukti pembantaian 22 warga sipil dengan hukuman penjara seumur hidup –namun kemudian direvisi hanya menjalani masa tahanan rumah selama 3,5 tahun. “My Lai bukan sebuah (pembantaian) yang menyimpang. Sejak akhir 1968 sampai pertengashan 1969, Divisi Infanteri ke-9 AD AS di bawah Mayjen Julian Ewell, juga melancarkan kampanye brutal di populasi padat Delta Mekong dengan tujuan melenyapkan Viet Cong dengan jumlah korban mirip seperti pembantaian My Lai setiap bulannya,” tukas Frank Walker dalam The Tiger Man of Vietnam .

  • Mas Marco dan Politik Busana Kolonial

    PADA pertengahan 1914, Mas Marco Kartodikromo, dalam kolom surat kabar Doenia Bergerak mengisahkan pengalaman buruk jadi korban diskriminasi ketika naik kereta dari Solo ke Semarang. Apa sebabnya? Hanya karena ia mengenakan ikat kepala batik! Ketika itu dia pergi bersama seorang Belanda dan seorang Jawa yang mengenakan setelan Belanda. Mereka membeli tiket kelas tiga. Namun, karena gerbong kelas tiga penuh, ketiganya kemudian pindah ke gerbong kelas dua. Di sanalah persoalan mulai muncul. Ketika kondektur datang, matanya hanya menatap kepada Marco karena dia mengenakan kain kepala, berbeda sendiri dari kedua kawannya. Kondektur itu lantas memintanya untuk menunjukkan tiket, sedangkan dua temannya tak diminta menunjukkan tiketnya. Marco kena denda karena pindah gerbong kelas. Harus bayar ƒ3,65. Sedangkan dua kawannya tidak.

  • Pendeta Nommensen Terpikat Kuda Putih Sisingamangaraja XI

    PENYAKIT cacar hitam yang melanda Tanah Batak memakan banyak korban. Dalam bahasa Batak, penyakit ini disebut Ngenge na birong , karena menyebabkan ruam-ruam berwarna hitam di badan. Hampir setiap hari, sekira 20-30 anak-anak meninggal akibat cacar di kampung-kampung sekitar Lembah Silindung. Wabah epidemi ini merebak sekitar paruh kedua 1860.   Ludwig Ingwer Nommensen, pendeta Kristen asal Jerman, bersama istri yang baru dinikahinya, Karoline Gubrod, terlibat dalam pelayanan kesehatan menyembuhkan orang-orang terjangkit cacar. Di kampung Huta Dame, basis penginjilan yang didirikan Nommensen di Lembah Silindung sejak 1863, tiada seorang pun yang meninggal. Aktivitas pelayanan kesehatan Nommensen ini terdengar sampai ke Bakkara, wilayah kekuasaan Dinasti Sisingamangaraja. Saat itu yang menjadi raja-imam di Bakkara adalah Sisingamangaraja XI.

bottom of page