Hasil pencarian
9656 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Lukisan Koleksi Istana Memakan Korban
PAMERAN lukisan koleksi Istana di Galeri Nasional Jakarta (2-30 Agustus 2017) menampilkan 48 lukisan dari 41 pelukis. Salah satu lukisan yang dipajang adalah “Nyi Roro Kidul” karya Basoeki Abdullah (1915-2015). Sebelumnya, lukisan itu dipamerkan dalam peringatan seabad Basoeki Abdullah di Museum Nasional Jakarta pada 2015. Ada cerita di balik proses pembuatan lukisan Nyi Roro Kidul itu. “Saya melukis Nyi Roro Kidul karena saya memang merasa sering bertemu dengannya,” kata Basoeki seperti dikutip kritikus seni Agus Dermawan T. dalam biografi R. Basoeki Abdullah RA: Duta Seni Lukis Indonesia.
- Hikayat Lukisan Gatotkaca
BUNG KARNO dikenal sangat suka seni lukis dan dunia pewayangan. Tidak aneh, jika suatu hari di tahun 1950-an, dia pernah meminta Basoeki Abdullah, satu dari sekian pelukis kesayangannya, untuk membuatkan suatu karya lukisan bertemakan pewayangan. “Mengapa tidak melukis legenda keluarga Bima, prajurit besar dari keluarga Pandawa?” ujarnya kepada Basoeki Abdullah, seperti dikutip Agus Dermawan T. dalam Bukit-Bukit Perhatian: Dari Seniman Politik, Lukisan Palsu Sampai Kosmologi Seni Bung Karno.
- Melacak Maestro Lukis Indonesia
MUSEUM Basoeki Abdullah menggelar pameran dokumentasi sang maestro dari 7 November hingga 22 November 2017. Sejumlah arsip yang dipamerkan antara lain surat pribadi, surat tagihan, undangan/katalog pameran, laporan kekaryaan lukisan, informasi pribadi, pesan tertulis pelukis, catatan harian, fotografi, sampul majalah, kartu pos, poster, materi iklan produk, buku-buku dan kliping berita surat kabar. Menurut Mikke Susanto, kurator pameran, dibutuhkan tenaga, waktu yang memakan waktu beberapa tahun, dan kesabaran tinggi dalam melacak dokumentasi Basoeki Abdullah. Hal terindah dari proses pelacakan justru karena kepopulerannya. Selama hidupnya Basoeki Abdullah kerap menjadi berita media massa. Dari sejumlah mitra kerja pameran ini terkumpul lebih dari 200 judul kliping media massa.
- Imajinasi Wajah Pahlawan Nasional
SEPULUH lukisan wajah Pahlawan Nasional karya pelukis Basoeki Abdoellah menjadi salah satu koleksi yang dipamerkan dalam eksebisi dokumentasi bertajuk "Lacak" di Museum Basoeki Abdullah, Cilandak, Jakarta Selatan, 7-22 November 2017. Pada sisi dinding pertama, lima lukisan dipajang sejajar, mulai dari Teuku Umar hingga Tuanku Imam Bonjol. Lima lukisan lainnya, mulai I Gusti Ngurah Rai hingga Robert Wolter Monginsidi, di dinding sebaliknya yang juga dipasang berjajar. “Jika lukisan-lukisan tersebut dijajar, saya merasakan kita tengah menyaksikan para ‘ avengers Indonesia’ ada di depan, tengah beraksi. Itulah nilai estetika lukisan-lukisan pahlawan yang dikreasi oleh Basoeki Abdullah,” ujar Mikke Susanto, kurator pameran, kepada Historia . Pada 1975, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Syarif Thayeb mengadakan Proyek Biografi Pahlawan Indonesia. Tujuannya mengumpulkan dan menerbitkan materi-materi biografi Pahlawan Nasional. Sasaran dari publikasi ini adalah anak-anak sekolah dasar hingga menengah, mahasiswa, dan masyarakat umum. Menurut Klause H. Schreiner, “Penciptaan Pahlawan-Pahlawan Nasional” termuat dalam Outward Appearancess, proyek itu sebetulnya berasal dari Lembaga Sejarah dan Antropologi pada masa Sukarno (1959) guna mengkoordinasikan semua sumber publikasi dan tulisan historis untuk mendapatkan historiografi nasional yang bertalian. Biografi tersebut berupa buklet bersampul gambar pahlawan dan tebal isinya mulai dari 50 hingga 200 lembar. Tidak ada yang tahu seperti apa wajah sebenarnya dari para pahlawan ini. Potret yang diwujudkan ini hanya menampilkan wajah yang kokoh. Pemerintah pun menunjuk pelukis Basoeki Abdullah untuk menjadi pelukis wajah pahlawan-pahlawan nasional itu. “Wajah-wajah pahlawan itu dilukis tahun 1976, dan tidak semua Pak Bas (panggilan Basoeki Abdullah, red ) tahu wajahnya. Imajinasi. Salah satu kasus adalah lukisan wajah Cut Nyak Dhien, itu jilbaban atau enggak . Nah, foto yang didapat Pak Bas bukan berjilbab. Mengenai lukisan Sisingamangraja diinspirasi dari pelukis sezaman. Dia karikaturis yang kemudian melukis dengan meriset di keluarga-keluarga Sisingamangaraja. Lukisan itu lalu diterima Sukarno. Nah, Pak Bas melihat itu lalu melukisnya,” terang Mikke. Karikaturis yang dimaksud adalah Agustin Sibarani. Menurut Mikke, Basoeki mampu menerjemahkan pesanan pemerintah Orde Baru yaitu mengedepankan nasionalisme. “Imajinasi Basoeki yang amat kuat dicampur dengan realisasi teknik yang mumpuni, membuat pemerintah nyaris tak punya pilihan yang lebih baik daripada Basoeki. Lukisan-lukisan Pahlawan Nasional karya Basoeki Abdullah yang dikerjakan kisaran 1976 ini telah menjadi representasi kepahlawanan di mata para siswa dan rakyat kebanyakan di Indonesia. Lukisan dari Pak Bas lalu menghiasi buku-buku mengenai sejarah Indonesia, dan untuk digunakan pula dalam buku-buku PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa),” ujar Mikke. Selama bertahun-tahun Mikke mengamati dengan cermat karya-karya Basoeki Abdullah, termasuk karya wajah pahlawan. Menurutnya, pemerintah Orde Baru berusaha menampilkan jiwa nasionalis dan patriotik melalui wajah-wajah Pahlawan Nasional. “Secara teknis, belasan lukisan tema pahlawan karya Basoeki Abdullah, sangat kuat, bahkan terdapat kesan yang melampaui citra aslinya. Jiwa maskulinitas sang figur tajam. Hal ini bisa dirasakan dari warna yang dipakainya. Warna coklat tua, biru dan hijau gelap, dengan kuning oker yang mencitrakan tanah dan air yang membentuk ras Melayu amat kental. Wajah mereka rata-rata keras dan raut muka serius dengan ciri khas masing-masing makin menguatkan kesan maskulin, meskipun di antaranya adalah tokoh perempuan. Goresan kasar yang dipakai dicampur dengan sedikit arsiran halus membuat lukisan mengesankan kelembutan dan kekerasan terpadu,” ujar pengajar di Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini. Saat disinggung mengenai berapa besar proyek lukisan wajah pahlawan yang diterima Basokei Abdullah dari pemerintah, Mikke mengaku belum mendapat angka pasti. “Belum kutemukan informasinya. Rasionalnya begini, setiap pesanan lukisan sepanjang sejarah seni, biasanya pelukis mendapat sejumlah dana. Hal ini sudah dibuktikan pada masa revolusi ketika Sukarno memesan belasan lukisan potret pahlawan pada Sudjojono, Dullah, Harijadi, dll. Apalagi Basoeki Abdullah mengerjakan lebih dari 10 lukisan, pasti dapat ongkos kerja. Info mengenai jumlah dana belum diketahui. Hanya efeknya yang cukup menarik, setelah lukisan tersebut dikerjakan oleh Basoeki, nama dan eksistensinya makin kuat. Kedua, pekerjaan ini tentu memerlukan riset ala seniman, yaitu mencari data visual yang terdekat dengan wajah sang pahlawan,” ujar Mikke. Jika lukisan wajah pahlawan itu hasil imajinasi, tentu timbul pertanyaan, seperti apa wajah asli pahlawan tersebut. “Ini kan perlu mendekonstruksi lagi lukisan pahlawan itu. Misalnya, seperti Pattimura, apakah betul wajahnya seperti itu,” ujar Restu Gunawan, direktur kesenian Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Selain kesepuluh lukisan wajah Pahlawan Nasional itu, lukisan wajah Pattimura karya Basoeki Abdullah juga dipamerkan namun sebagai sampul majalah Pembinaan Pendidikan edisi November 1977.*
- Modifikasi Cuaca Tanpa Pawang Hujan
PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) Jakarta memperpanjang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga hari ini, Selasa (27/1/2026). Tujuannya untuk terus menekan potensi curah hujan tinggi yang bisa berdampak pada banjir atau bencana hidrometeorologi lain di Jakarta dan sekitarnya. OMC itu dilakoni Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta, TNI Angkatan Udara, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dengan metode cloud seeding atau penyemaian awan. Simpelnya, OMC dijalankan oleh tiga kali penerbangan menggunakan pesawat yang akan menaburkan garam dan zat kapur ke awan untuk mengurangi curah hujan. “OMC di Jakarta ini merupakan bagian dari upaya penanganan siaga darurat bencana hidrometeorologi di wilayah Provinsi DKI Jakarta dan sekitarnya. Sebelumnya, OMC juga telah dilaksanakan pada 13-19 Januari 2026 dengan menyemai 21,4 ton NaCL dan 7,4 ton CaO pada total 31 sorti,” terang Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto dalam rilis BMKG di laman resminya . Sebelumnya, OMC sempat mendapat kritikan. Salah satunya dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), yang menyatakan bukan sekadar solusi teknis jangka pendek namun juga akan berpotensi mengakibatkan masalah kesuburan tanah dan sumber air tanah. Persiapan Operasi Modifikasi Cuaca di Lanud Halim Perdanakusumah Jakarta (X @BPBDJakarta) Eksperimen dari Texas hingga Negeri Siam Modifikasi cuaca, baik untuk memuai curah hujan atau mandatangkan hujan untuk kepentingan pertanian, bukanlah barang baru. Upaya pertama pernah dicoba Jenderal (Purn.) Robert St. George Dyrenforth, pejabat Departemen Pertanian Amerika Serikat pada 1891. Menurut Willy Ley di kolom majalah bulanan Galaxy edisi Februari 1961, “Let’s Do Something About the Weather”, Dyrenforth menjajal sebuah eksperimen untuk mendatangkan hujan. Berbekal membaca banyak catatan sejarah, ia datang dari ibukota Washington DC ke negara bagian Texas membawa serta bubuk mesiu dan bahan-bahan peledak senilai 9 ribu dolar. “Eksperimen itu terinspirasi dari cerita yang datang dari Perang Saudara, yang kira-kira berawal di Eropa seabad sebelumnya. Para veteran Perang Tujuh Tahun (Perang Napoleon 1756-1763, red. ) mengatakan kepada semua orang yang mau mendengarkan cerita mereka, bahwa setiap sehabis pertempuran besar pasti terjadi hujan deras. Cerita serupa muncul lagi setelah Perang Saudara (1861-1865) di belahan bumi barat,” tulis Ley. Kisah-kisah itu lantas dikumpulkan, dihimpun, dan dibukukan oleh Edward Powers dalam War and the Weather (1871). Dari sinilah Dyrenforth mendapatkan inspirasi eksperimennya. Teori sederhananya: asap dan uap yang ditimbulkan dari meriam-meriam di pertempuran melayang ke udara dan “merangsang” awan untuk mengguyurkan hujannya ke bumi. Dyrenforth melakoni eksperimennya pada musim panas 1891 di sebuah lahan kosong di High Plains, Texas. Bahan-bahan peledak lalu diledakkannya. Bubuk mesiunya pun diisi ke meriam-meriam tanpa peluru dan juga ditembakkan ke udara. “Pada akhirnya memang terjadi hujan setelah beberapa barel bubuk mesiu diledakkan. Namun banyak warga lokal Texas yang menyaksikan menyatakan bahwa memang pada masa itu sudah akan waktunya hujan. Tak ada yang banyak bisa dikatakan Jenderal Dyrenforth untuk menjawabnya. Meningkatnya curah hujan setelah itu tidak bisa dikatakan ditentukan oleh eksperimen itu,” imbuhnya. Seiring bergulirnya zaman dan pesatnya teknologi, riset hingga eksperimen modifikasi cuaca mulai sering dilakoni via udara ( cloud seeding) . Kala itu metode tersebut untuk “memanggil” hujan dengan menggunakan material-material higroskopis atau senyawa-senyawa yang mudah menyerap seperti perak iodida (Agl), kalium iodida (KI), es kering, hingga garam dapur (NaCl). Pada 1930-an, trio ilmuwan Alfred Wegener-Tor Bergeron-Walter Findeisen meluncurkan teori bahwa kristal es jika ditembakkan ke atas awan akan memicu hujan. Teori tersebut lantas terkonfirmasi secara tak sengaja oleh pakar kimia dan fisika Laboratorium Riset General Electric, Vincent Schaefer dan Irvin Langmuir, pada 1946 kala tengah meriset tentang airframe icing atau lapisan es di luar struktur pesawat. “Dr. Schaefer pada November 1946 mulai mencoba menebarkan es kering kristal ke awan dari udara. Ya, es kristalnya tumbuh dan membuat hujan. Tak lama kemudian periset lainnya, Dr. Bernard Vonnegut juga menemukan bahwa kristal-kristal perak iodida lebih efisien ketimbang es atau es kering. Kristal-kristal perak iodida akan memicu terbentuknya es di suhu yang lebih tinggi dari air es atau kes kering,” tambah Ley. Setelah militer AS kemudian memanfaatkannya untuk operasi-operasi militer, metode ini mulai diikuti negara-negara lain. Salah satu yang paling awal adalah negara yang sekawasan dengan Indonesia, Thailand. Negeri Siam mengalami kekeringan pada 1950-an. Maka Raja Bhumibol Adulyadej pada November 1955 menginisiasi dibentuknya Khrongkhan Fon Luang alias Proyek Pembuatan Hujan Kerajaan. Proyeknya didanai sendiri dari harta pribadi sang raja. “Ia (raja) mempercayakan M.R. Debariddhi Devakula, pakar insinyur pertanian di Kementerian Pertanian dan Koperasi, untuk memimpin risetnya. Ia melakukan riset intensif dan eksperimen dari banyak ragam pengaplikasian di banyak negara, termasuk AS, Australia, dan Israel,” tulis Chamnong Pakaworawuth dalam King Bhumibol and His Enlightened Approach to Teaching. Proyek itu jadi tanggung jawab Departemen Pembuatan Hujan dan Penerbangan Pertanian Kerajaan yang dimulai pada 1959. Butuh satu dekade untuk kemudian proyek itu bisa diujicobakan. Dengan disaksikan langsung oleh sang raja, percobaan pertama dilakukan di Taman Nasional Khao Yai pada 20 Juli 1969. Metode penyemaian awan dengan pesawat via menebar senyawa-senyawa garam hingga es kering ke atas awan dilaporkan berhasil “menciptakan” hujan. Pada 2009, Yordania negara kedua yang mengaplikasikannya dengan seizin Raja Bhumibol. Baru pada 2005 metode itu dipatenkan atas nama Raja Bhumibol. Pengaplikasiannya bisa juga untuk modifikasi kebalikannya. Bahkan Indonesia sendiri sudah mengikutinya pada 2013, baik untuk memicu hujan guna memadamkan asap dan kabut akibat kebakaran hutan di Sumatra, maupun mengurangi curah hujan demi menanggulangi bencana banjir.*
- Slebew, Slang, dan Walikan
ADA banyak hal yang dapat dibahas dari popularitas Citayam Fashion Week yang sempat menghebohkan publik. Salah satunya istilah yang menarik yaitu “slebew”. Kata ini kerap diucapkan anak-anak muda yang nongkrong di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Arti “slebew” mungkin hanya mereka yang tahu. Kata ini tak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia karena bentukan baru sebagai bahasa informal atau slang. Gorys Keraf dalam Diksi dan Gaya Bahasa menjelaskan bahwa slang merupakan kata-kata nonstandar yang informal, yang disusun secara khas; atau kata-kata biasa yang diubah secara arbitrer (manasuka); atau kata-kata kiasan yang khas, bertenaga, dan jenaka yang dipakai dalam percakapan. Kadang kala kata slang dihasilkan dari salah ucap yang disengaja, atau kadang kala berupa pengrusakan sebuah kata biasa untuk mengisi suatu bidang makna yang lain.
- Raja Ali Haji dan Pulau Bahasa Indonesia
LUAS Pulau Penyengat tak sampai 2 km persegi, berada di perbatasan Indonesia dan Singapura. Namun, pulau ini menjadi pusat kebudayaan Melayu dan tumbuh kembang bahasa Indonesia. Pada awal abad ke-19, Pulau Penyengat terkenal sebagai pusat kesusastraan dan literatur. Bisa dibilang, pulau ini menjadi pusat kajian Melayu Islam. "Bukan Melayu kalau belum ke Pulau Penyengat," kata Surjadi, kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, dalam seminar daring berjudul "Warisan Budaya Pulau Penyengat, Tantangan, dan Peluang Pelestarian Serta Pengelolaannya" yang diadakan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatra Barat. Berkat dorongan kerabat istana, pulau yang pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Riau-Lingga itu tumbuh menjadi pusat kegiatan penulisan naskah Melayu. Naskah-naskah Melayu-Riau ditulis dan disalin ke dalam aksara Jawi.
- Jenderal Douglas MacArthur: Rebut Manila!
SUDAH tiga bulan sejak Jenderal Douglas MacArthur menginjakkan kaki lagi di Filipina untuk menunaikan janjinya, “ I Shall Return !”, namun Manila masih belum dikuasainya. Padahal, bagi MacArthur Manila merupakan yang utama di Filipina. MacArthur mendarat kembali ke Filipina pada 20 Oktober 1944. Dia mendarat di Pantai Merah Leyte. Saking semangatnya, MacArthur yang ditemani Presiden Filipina Sergio Osmeña turun dari kapal sesegera mungkin walau celananya harus kebasahan oleh air laut di bibir pantai. “Bagi MacArthur, kembali ke Filipina dan menunaikan janjinya sudah jadi obsesi lamanya, sebagaimana paus beluga bagi Ahab dalam novel (Herman) Melville, Moby Dick . Kepala staf intelijen MacArthur Brigjen Charles Willoughby mengatakan: ‘Setiap pertempuran di Papua, setiap raid di Rabaul atau serangan kapal patroli terhadap kapal-kapal tongkang Jepang, adalah pendahuluan bagi penaklukan kembali Filipina,’” tulis James M. Scott dalam Rampage: MacArthur, Yamashita, and the Battle of Manila.
- Sultan Ternate Diselamatkan Jenderal Douglas MacArthur
PANGKALAN Morotai kala senja 8 April 1945 diwarnai cuaca bersahabat dan kesibukan 33 kombatan gabungan di bawah Unit Khusus Z Angkatan Laut Amerika Serikat yang memuat dua motor torpedo (MBT) 364 dan 178 . Tepat pukul 17.30, keduanya bertolak menuju Pulau Hiri di utara Kepulauan Ternate. Butuh waktu sekira lima jam bagi kedua MBT itu mengarungi Laut Maluku guna mencapai Desa Saki di pesisir Pulau Hiri, 20 kilometer utara Kota Ternate yang masih jadi basis militer Jepang. Setibanya di Saki pada pukul 22.45, mereka langsung disambut seorang warga setempat yang merangkap jadi agen penghubung misi mereka.
- Selamat Jalan Kobe Bryant!
DARI Lionel Messi sampai Diego Maradona, mulai Tiger Woods hingga Lewis Hamilton. Bukan hanya mereka yang berkecimpung di dunia basket, para atlet hingga legenda hidup dari beragam cabang olahraga terguncang oleh kabar getir meninggalnya Kobe Bryant. Kobe dan Gianna Maria Onore (13), putri keduanya, turut jadi korban dalam kecelakaan helikopter yang menewaskan sembilan orang di Cabalasas, California, Amerika Serikat, Minggu (26/1/2020) waktu setempat.
- Tirto Utomo, dari Juru Warta Jadi Pendiri Aqua
BANJIR bandang terjadi di Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat, pada 21 September 2020. Selain menerjang permukiman penduduk, banjir juga merendam pabrik PT. Aqua Golden Mississippi Tbk. di Jalan Siliwangi, Mekarsari, Sukabumi. Video keadaan pabrik Aqua yang kebanjiran itu viral di media sosial sehingga Aqua menjadi trending topic . Aqua didirikan oleh Tirto Utomo hampir setengah abad lalu. Sebelum mendirikan Aqua, dia bekerja sebagai wartawan. Setelah bergelar sarjana hukum, dia memutuskan bekerja sesuai bidangnya di perusahaan minyak milik negara. Di sinilah, dia secara kebetulan mendapatkan ide bisnis mendirikan perusahaan air minum dalam kemasan.






















