Hasil pencarian
9656 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sudomo Sumber Berita
SEKALI waktu, Laksamana TNI (Purn.) Sudomo meninjau Asrama Embarkasi Haji Donohudan di Boyolali. Waktu itu, Sudomo menjabat ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) . Sembari memeriksa fasilitas asrama, Sudomo bercengkrama dengan para calon haji yang sedang menunggu pemberangkatan. Perhatian Sudomo tertuju kepada calon haji tua yang duduk di pinggiran ranjang. “Berapa umur Bapak,” tanya Sudomo. Bapak tua tersebut menjawab bahwa umurnya sudah 80 tahun. Mendengar jawaban itu, Sudomo pun menimpali, “orang yang berumur di atas 80 tahun, Insya Allah dosa-dosanya sudah luntur, alias diampuni Allah,” kata Sudomo yang langsung dijawab, “Amin,” oleh si bapak tua. Sudomo melanjutkan obrolan. “Umur saya sendiri 71 tahun, tapi umur dari alis ke mata atas,” kata Sudomo sambil menunjuk rambutnya yang sudah memutih. Sudomo lahir pada 20 September 1926 di Malang, Jawa Timur. “[Tapi] umur dari alis mata ke bawah, masih tiga puluhan,” sambung Sudomo. Celetukan Sudomo sontak bikin cair suasana. Gelak tawa dari para calon haji memenuhi bangsal asrama. Di tengah riuh jenaka itu, tiba-tiba seorang calon haji setengah baya, tergopoh mendekat dan menyalami Sudomo sambil mohon maaf lahir batin. “ Lha , kamu punya salah apa pada saya,” tanya Sudomo “Saya sering ngrasani (menggunjingkan) Pak Domo, jadi mumpung ketemu saya minta maaf. Lagi pula sebelum saya naik haji, saya berusaha bersih dari dosa,” ujar calon haji itu. Sudomo, sebagaimana diberitakan dalam Solopos , 17 Maret 1998, hanya tertawa saja mendengarnya, sambil mengatakan bahwa dirinya sudah terbiasa dirasani . Tangan Kanan Soeharto Menurut pakar politik Salim Said , Sudomo menjadi satu-satunya perwira Angkatan Laut yang menduduki posisi penting hampir sepanjang sejarah Orde Baru. Sudomo tercatat pernah menduduki jabatan Kepala Staf Angkatan Laut (1969–1973), Kepala Staf Kopkamtib (1974– 1978), Wakil Panglima ABRI merangkap Panglima Kopkamtib (1978–1983), Menteri Tenaga Kerja (1983–1988), Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menkopolkam 1988–1993), dan Ketua DPA (1993–1998). Sebagai langganan masuk kabinet, pencapaian Sudomo barangkali hanya ditandingi oleh B.J. Habibie (Menteri Riset dan Teknologi periode 1978–1998) dan Harmoko (Menteri Penerangan periode 1983–1997). Ketika memimpin Kopkamtib, Sudomo begitu ditakuti. Posisi itu memberinya kuasa untuk mengatur keamanan dan ketertiban, menyensor, hingga menangkap orang. Sudomo juga dikenal sebagai salah satu orang dalam lingkaran Presiden Soeharto. Singkatnya, Sudomo adalah tangan kanannya Soeharto. “Sudomo ini dulu di sekolah paling nakal, susah diatur, kok sekarang sebagai Kas Kopkamtib dapat mengatur masyarakat,” tutur Pak Azis, mantan guru bahasa Indonesia Sudomo di SMT Malang, dalam sebuah acara reuni, seperti dikutip Tempo , 20 Maret 1976. Sudomo pula yang mengeluarkan perintah cekal terhadap kelompok oposisi yang tergabung dalam Petisi 50. Dalam Petisi 50 tergabung sejumlah tokoh seperti Ali Sadikin , Hoegeng Iman Santoso, M. Jasin, hingga Mohammad Natsir dan Sjafruddin Prawiranegara. Akibat dicekal, sebagian dari mereka dilarang berbisnis, keluarganya dipersulit, hingga dilarang keluar negeri. Sudomo bertindak sebagai tukang jagal bagi mereka yang dianggap mengganggu stabilitas pemerintahan rezim Orde Baru. “Sebagai orang yang pada dasarnya baik, mungkin sadar sebagai hanya alat kekuasaan Soeharto, Sudomo terpaksa menujukkan loyalitasnya kepada Bos dengan bertindak keras kepada para seniornya yang tidak disenangi Soeharto,” tulis Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto. Ketika menjabat Menkopolkam, Sudomo berupaya merangkul kelompok Petisi 50 dengan mengundang mereka berdialog ke kantornya. Pertemuan ini cukup menyita perhatian publik bahkan menggegerkan. Konflik antara pemerintah dan Petisi 50 sudah berlangsung satu dekade. Dialog berlangsung seru dan terbuka. Sudomo menawarkan pencabutan pencekalan asalkan kelompok Petisi 50 bersedia mencabut enam butir pernyataan keprihatinan. Dengan kata lain meminta maaf. “Kalau mereka melakukannya, saya kira Presiden akan mempertimbangkan dan otomatis semua pembatasan yang diberlakukan akan dicabut,” ujar Sudomo kepada pers usai pertemuan sebagaimana dilansir Media Indonesia , 22 Mei 1991. Sudomo Bikin Kejutan Pertemuan itu tidak mencapai titik temu karena kelompok Petisi 50 tetap bersikukuh pada prinsipnya. Namun, bagi pers, Sudomo adalah narasumber penting. Ia kerap menjadi buruan awak media, entah itu terkait hal penting atau bukan. Pernyataannya selalu menuai reaksi. Ada lelucon yang berkembang di sebagian masyarakat, bukan Sudomo namanya kalau tak bikin kejutan. “Sudomo memang sering melakukan pelesetan. Ia, misalnya, mempopulerkan SDSB menjadi Sudomo Datang Semua Beres. Atau, Sudomo Datang Semua Berantakan. Tak lama setelah menikah dengan Sisca Widowati, Sudomo mengubah pelesetan SDSB menjadi Sisca Datang Sudomo Senang,” ulas majalah Editor , 17 Juli 1993. SDSB (Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah) adalah undian berhadiah yang dilegalkan pemerintah pada 1989-1994 untuk tujuan sosial seperti untuk olahraga . Namun, SDSB menjadi judi lotre yang memicu banyak masalah. SDSB dihentikan karena dinilai haram dan ilegal. Sudomo memang pernah bikin geger ketika menikah lagi dengan Sisca Widowati pada 1990 yang diikuti dengan pindah agama menjadi Protestan. Sudomo saat itu menjabat Menkopolkam. Namun, pernikahan dengan Sisca tak berlangsung lama. Mereka berpisah pada 1994. Sudomo kemudian kembali masuk Islam. Karena pernah lama menjadi pejabat yang selalu menjadi sumber berita pers, Salim Said menyebut, Sudomo sudah amat terbiasa berurusan dengan wartawan. Dalam suasana persaingan pers yang makin ketat, wartawan tentu senang mendapatkan berita dari orang seterkenal Sudomo. Apalagi Sudomo dikenal ceplas-ceplos, jenaka, dan gampang bergaul dengan awak media. “Dengan latar belakang seperti inilah, munculnya sejumlah komentar Sudomo yang kadang menimbulkan kebingungan publik menjelang berakhirnya rezim Orde Baru,” kata Salim Said . Sudomo dan PDI Ketika terjadi konflik internal dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI) antara kubu Soerjadi dan Megawati Soekarnoputri, Sudomo selaku ketua DPA menawarkan dirinya sebagai mediator. Namun, menurut Sudomo, niatnya itu tidak mendapat tanggapan positif. Meskipun demikian, ia mengaku selalu membuka diri untuk terlibat dalam penyelesaian konflik. “Akhirnya, sejak dulu memang ada pendapat bahwa PDI itu Partai Domo Indonesia,” kata Sudomo sambil terkekeh, diwartakan Berita Yudha , 18 Agustus 1997. Berkaitan dengan PDI, Sudomo sambil bergurau meyakinkan wartawan bahwa sejak dulu dirinya memang PDI, tetapi yang ia maksud bukan Partai Demokrasi Indonesia. “Sekarang Anda saya kasih tahu, pasti sudah tahu tetapi tidak sadar. Sejak dulu saya memang PDI bahkan disebut-sebut menjadi ketuanya. Itu lho PDI singkatan dari Persatuan Duda Indonesia,” kata Sudomo disambut tawa wartawan. Sudomo wafat pada 18 April 2012 dalam usia 85 tahun.*
- Samurai dalam Pembantaian Banda
PULAU kecil di bawah Maluku ini memang tidak semewah Batavia. Tapi ketenarannya mampu memikat orang-orang dari belahan bumi lain untuk datang dan menguasai kekayaan alamnya yang begitu melimpah. Dalam The Banda Islands: Hidden Histories & Miracles of Nature, disebutkan sebelum VOC datang menguasai kepulauan Banda, Inggris telah lebih dahulu melakukan kontak dengan masyarakat di sana. Mengetahui adanya ladang rempah yang sangat melimpah di Banda, Belanda pun merangsak masuk. Kedua negara penjelajah itu akhirnya bersinggungan, dan melakukan cukup lama perang untuk menentukan kekuasaan pulau.
- Petualangan Inspektur Frans Najoan
SEHARI setelah kekacauan akibat Peristiwa APRA –yang dipimpin Raymond Paul Pierre Westerling; menewaskan hampir 100 anggota TNI– di Bandung pada 23 Januari 1950, Kapten Westerling ke Jakarta. Dia mendatangi Hotel Des Indes di bilangan Harmoni untuk menemui Menteri tanpa portofolio Republik Indonesia Serikat (RIS) bernama Sultan Hamid II. Westerling datang bersama Frans Najoan. “Saya memerintahkan Westerling supaya Frans Najoan pada kira-kira jam tujuh menyerbu sidang dewan menteri yang akan bersidang pada jam lima sore. Di dalam penyerbuan itu, semua menteri harus ditangkap sedangkan Menteri Pertahanan Sultan Hamengkubuwono, Sekretaris Jenderal Ali Budiardjo, dan Kolonel Simatupang harus ditembak mati seketika itu juga. Saya harus mendapat luka enteng,” aku Sultan Hamid II –yang mengaku kemudian ingin minta kepada presiden dan wakil presiden RIS untuk diperbolehkan menyusun kabinet baru dan menjadi menteri pertahanan– dalam sidang perkaranya seperti tercatat dalam Process Peristiwa Sultan Hamid II .
- Awak Bomber Perang Dunia II Ikut Westerling
KETIKA tentara Jepang merangsek masuk ke Hindia Belanda pada awal 1942, pemuda Pieter Elia Donald Titaley masuk milisi tentara Hindia Belanda, Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL). Dia termasuk tentara Belanda yang dikirim ke Australia ketika Hindia Belanda hampir dikalahkan tentara Jepang. Dengan segera, pemuda kelahiran 25 Juni 1918 itu dijadikan bintara calon penerbang. Titaley dilatih di sekolah pilot dan navigator di Amerika Serikat, yang dicapainya dengan naik kapal SS Mariposa dari Australia.
- Selamat Jalan Anak Muda Gaul
KABAR duka datang dari Shanty Sys di Kemang Timur, Jakarta Selatan. Suami Shanty, Raden Mas Haryo Heroe Syswanto Ns. Soerio Soebagio atau lebih dikenal dengan Sys NS, meninggal dunia pada 23 Januari 2018 di usia 61 tahun. Sys populer tahun 1970-an sebagai anak muda gaul Jakarta. Lahir di Semarang, 18 Juli 1956, Sys hanya numpang lahir di sana karena tumbuh-besar sebagai anak Jakarta. Ketika ayahnya, RM Soerio Soebagio, dipindahtugaskan ke Semarang pada 1973, Sys berontak. Mulanya dia ikut pindah ke Semarang, tapi dua hari berselang kabur ke Jakarta. Ayahnya yang teguh pada pendirian akhirnya luluh dan menuruti keinginan Sys tetap di Jakarta.
- Dendam Si Londo Klaten
MASA tuanya di Negeri Belanda berisikan kemalangan. Ada kenyataan yang tidak bisa dia terima di masa mudanya. Kedaulatan Republik Indonesia atas Nusantara yang dulunya disebut Hindia Belanda tidak dapat diterimanya. “Jika itu tidak terjadi, saya tidak akan berada di sini hari ini. Maka tidak akan ada orang kulit putih yang kembali dari Indonesia,” kata laki-laki tua itu di koran Nieuwsblad van het Noorden tanggal 27 April 1991.
- Suromo DS, Maestro Seni Cukil Indonesia
PADA awal 1950-an, seni cukil belum diminati secara serius oleh para seniman. Para pelukis dan pematung biasanya hanya membuat cukilan kayu untuk mengisi waktu luang. Peralatan dan bahannya pun sederhana. Misalnya menggunakan kentang atau ubi jalar yang digores seperti membuat stempel, maupun menggunakan batang bambu yang dicukil kemudian dicapkan ke atas kertas merang atau kertas padi. Saat itu, menurut Mustika dalam Seni Rupa Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei , seni cukil hanya dianggap sebagai latihan untuk memperlancar atau mengembangkan teknik atau cara melukis. Namun, dengan ketelatenan yang lebih, seorang seniman asal Surakarta, Suromo DS berhasil menghidupkan nyawa seni cukil di kancah seni rupa Indonesia.
- Peristiwa Belangguan 1993
PETANI di desa Belangguan, Situbondo, Jawa Timur tak berdaya ketika ladang jagung mereka beralih fungsi menjadi area latihan tempur tentara. Asa mulai meronta ketika puluhan mahasiswa datang ke kampung mereka. Berdasarkan hasil rembukan, mahasiswa dan petani sepakat melakukan aksi tanam jagung bersama di ladang yang sudah dikuasai tentara. Para petani menyiapkan bibit jagung yang akan ditanam. Mahasiswa membekali diri dengan poster berukuran sepuluh meter. Tulisannya: HIDUP MATI KAMI DARI TANAH INI. Rencananya aksi tanam jagung dilakukan pagi hari tanggal 23 Januari 1993. Sehari menjelang hari H, sebanyak 26 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi asal Jakarta, Semarang, Yogyakarta dan Surakarta menginap di rumah-rumah penduduk. Mereka aktivis Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi di Indonesia (SMDI) –kemudian hari menjadi Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID). Jelang pukul 11 malam, kampung yang tadinya tenang berubah mencekam. Mobil patroli berputar-putar mengelilingi jalan desa. Tentara berkeliaran memburu mahasiswa. “Rumah-rumah di pinggir hutan itu digeledah. Aksi militer itu membuat kaum perempuan serta anak-anak ketakutan,” tulis dokumen kronologis Komite Solidaritas Rakyat Belangguan (KIRAB) sebagaimana dicuplik buku Menyulut Lahan Kering Perlawanan . Meski daerah itu sudah diblokade oleh militer dengan menempatkan tiga sampai lima tentara di tiap jalan strategis, para petani setempat berhasil menyembunyikan mahasiswa di tempat aman. Petani-petani itu memang hafal tiap jengkal kampung halamannya. Hingga pukul 03:00 dini hari tentara masih mengintimidasi. Di tengah guyuran hujan malam itu, Webby Warouw dan Budiman Sudjatmiko dari UGM memimpin rapat darurat. Setelah menimbang segala sesuatunya, aksi tanam jagung di Belangguan dibatalkan. Aksi dipindahkan ke kantor DPRD Tingkat I Surabaya. Siang itu, usai aksi di kantor DPRD, para mahasiswa berkumpul di terminal Bungurasih menanti bus untuk kembali ke Yogyakarta sebelum pulang ke kota masing-masing. Tanpa disadari, terminal sudah dikuasai aparat berpakaian preman. Tigabelas orang berhasil ditangkap. “Kami dibawa ke sebuah kantor. Tempatnya tersembunyi. Terpencil. Tidak ada papan nama. Di temboknya terukir gambar telinga besar dan di tengahnya ada mata,” ujar Wilson, 47 tahun, saat bertandang ke redaksi Historia , pekan lalu. “Belakangan,” kata Wilson melanjutkan, “baru diketahui bahwa itu kantor Bakorstanasda. Dan gambar mata di tengah telinga besar itu simbol intelijen.” Para mahasiswa diinterogasi bergantian. “Ketika dinterogasi, tiap jemari dililit kabel setrum. Terlihat voltase dari angka 0 sampai 100. Kalau mereka tidak puas dengan jawaban yang kita berikan, voltasenya dinaikkan. Kita juga disuruh menyaksikan kawan yang sedang disiksa,” lulusan Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UI itu mengenang pengalaman buruk semasa rezim militeristik Orde Baru berkuasa. Budiman Sudjatmiko dalam memoarnya, Anak-Anak Revolusi , juga mengenang penangkapan itu. “Mulai saat itu terjadi ritual interogasi dan penyiksaan. Tidak ada manusia di tempat itu, yang ada hanya segerombolan hewan pemburu dan segerombolan hewan buruan mereka. Kami disiksa seperti binatang ... ada yang disetrum, dipukul, dikencingi dan wajahnya dimasukkan ke dalam toilet.” Setelah kenyang menyiksa dan menakut-nakuti, aparat tentara itu memperbolehkan mahasiswa pulang. Mereka meminta agar para mahasiswa itu tak lagi mengulangi aksi “sok pahlawan”. Para aktivis mahasiswa itu pun dipaksa bungkam untuk tidak menceritakan apa saja yang dialami selama dalam tahanan. Tapi tentu, mereka tak tunduk begitu saja. “Walaupun sebagian anggota kami mengalami trauma, sebagian besar tetap berdiri tegar,” kata Budiman Sudjatmiko .*
- Unjuk Bedil Serdadu Ratu Adil
MUSEUM Wangsit Mandala Siliwangi di Jalan Lembong No. 38 Bandung menjadi saksi bisu sejarah berdarah. Museum itu diresmikan Panglima Kodam VI/Siliwangi Kolonel Ibrahim Adjie pada 23 Mei 1966 untuk mengenang pengorbanan Letkol Adolf Lembong, korban peristiwa APRA (Angkatan Perang Ratu Adil). Jalan yang membentang di depan gedung bergaya late romanticism itu pun diganti menjadi Jalan Lembong (sebelumnya Oud Hospitaalweg). Sebelum dijadikan museum, bangunan yang berdiri di atas lahan seluas 4.176 meter persegi ini dipakai sebagai markas Stafkwartir Divisi Siliwangi sepulang hijrah dari Jawa Tengah. “Gedung ini sebelum dipakai Divisi Siliwangi dulunya sekolah zaman Belanda. Pada 1950, pasukan Westerling APRA menyerang dan merebut gedung ini,” kata Kapten Heru Tri, kepala Museum Mandala Wangsit Siliwangi.
- Riwayat Persekutuan Aneh
KARAWANG, Jawa Barat, akhir Januari 1950. Kopral Nasilan Asmin, anggota intelijen Batalion Tadjimalela, mendadak harus pergi ke Ciranjang. Dia mendapat perintah untuk menyelidiki gerak mundur pasukan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), sebuah milisi beranggotakan bekas anggota Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) yang dipimpin Kapten R.P.P. Westerling, setelah menyerang Bandung. “Kami mendapat informasi, setelah dipukul mundur dari Bandung, mereka akan bergabung dengan pemberontak DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) di wilayah Ciranjang,” ujar Nasilan, kini sesepuh di Ciranjang, kepada Historia .
- Riwayat Empat Daan Mogot
MAYOR Daan Mogot tak hanya membawa beberapa perwira dan puluhan taruna Akademi Militer Tangerang, tapi juga delapan serdadu Inggris (Sekutu) asal India. Mereka hendak menipu serdadu Jepang di bawah Kapten Abe di Lengkong, Tangerang. Penipuan itu nyaris sukses karena tentara Jepang mulai percaya kepada Daan Mogot dkk. Ada gelagat tentara Jepang akan menyerahkan senjatanya. Namun, letusan senjata entah dari mana, mengacaukan semuanya. Pertempuran pun pecah, Daan Mogot dan beberapa orang bersamanya gugur dalam Pertempuran Lengkong pada 25 Januari 1946. Elias Daniel Mogo alias Mayor Daan Mogot, kelahiran Manado, 28 Desember 1928, gugur di usia 18 tahun. Sejak 1943, Daan Mogot ikut Seinen Dojo (pelatihan pemuda) di Tangerang bersama Supriyadi, Zulkifli Lubis, dan Kemal Idris. Dari Seinen Dojo , mereka masuk tentara sukarela Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Bersama Kemal dan Lubis, menurut Kemal Idris dalam Bertarung dalam Revolusi , Daan Mogot ikut membantu melatih tentara sukarela di Bali. Daan Mogot adalah anak dari Nicolaas Fredrik Mogot alias Nico Mogot, seorang pegawai negeri dari Minahasa. Daan Mogot masih terhitung sepupu dari Alex Evert Kawilarang, bekas panglima Divisi Siliwangi dan salah satu pendiri Komando Pasukan Khusus (Kopassus). “Seorang pemuda, famili dari pihak ibu saya, muncul. Ia mengenakan peci hijau, menaiki sepeda motor. Saya masih mengenalnya. Tak banyak berubah ia. Itulah Daan Mogot,” kata Alex Kawilarang dalam Untuk Sang Merah Putih . Daan Mogot dan Alex Kawilarang berbagi kabar keluarga mereka. Ayah Alex baru setahun terbunuh di perairan Muko-muko, Bengkulu sekitar September 1944 ketika jadi tawanan Jepang. Ayah Daan Mogot juga baru saja dibunuh oleh pihak yang tak bertanggung jawab pada 1945. Pada masa revolusi kemerdekaan (1945–1949), banyak orang Ambon dan Manado menjadi sasaran, hanya karena banyak yang bekerja kepada pemerintah Hindia Belanda. Bahkan mereka dicap setia kepada Belanda. Padahal orang Jawa juga banyak yang bekerja kepada Belanda. Meski begitu Daan Mogot tidak ragu untuk setia kepada Republik Indonesia. Begitu pula sepupunya, Alex Kawilarang. Ketika Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Laut terbentuk di Jawa Timur, seseorang bernama Daan Mogot terlibat di dalamnya. Buku KRIS 45 Berjuang Membela Negara menyebut Daan Mogot yang ini lalu gugur di Sidoarjo, Jawa Timur. Tidak banyak catatan tentang Daan Mogot yang gugur di Sidoarjo itu. Hal ini tidak aneh karena Mogot adalah sebuah marga Minahasa, Sulawesi Utara. Banyak orang bernama Daniel dari sana yang biasa disingkat Daan. Di dalam laskar Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) masih ada Daan Mogot lain yang pernah menjadi koordinator di KRIS. Beberapa tahun kemudian, dalam pasukan SWK-103A di Godean, Yogyakarta, di bawah Mayor Herman Nicolaas Ventje Sumual terdapat seorang perwira intelijen bernama Daan Mogot. Begitu yang diingat Ventje Sumual dalam biografinya, Menatap Hanya ke Depan . Seperti Ventje Sumual, ia juga pernah aktif di KRIS. Banyak orang Minahasa pendukung Republik bergabung dalam laskar KRIS. Daan Mogot yang terakhir adalah Daan Eduard Mogot. Menurut sejarawan Minahasa, Bode Talumewo, Daan Eduard Mogot berdinas di TNI hingga berpangkat mayor. Ia pernah menjadi komandan Komando Militer Kota (KMK) Manado sebelum menjadi pengusaha. Daan Eduard Mogot terseret arus pergolakan daerah dalam gerakan Permesta. Ia yang mengajak Kolonel Joop Warouw, Atase Militer Republik Indonesia di Beijing, ikut serta dalam Permesta. Sejak muda, Daan Eduard Mogot telah berhubungan dengan luar negeri. Apalagi ia seorang pengusaha. Menurut Bode, ia menikah dengan putri seorang jenderal Taiwan. Ventje Sumual menyebut Daan Eduard Mogot dan Jerry Sumendap berperan dalam usaha mendamaikan Indonesia dan Malaysia yang terlibat konfrontasi.*
- Kisah Tragis Seorang Komandan APRA
JAKARTA 1953. Seorang perempuan bule berparas manis terlihat kebingungan di Kantor Jawatan Imigrasi. Dia tengah mencari informasi tentang seorang lelaki Belanda bernama J.H. van der Meulen yang tak lain adalah suaminya. Namun tak seorang pun petugas imigrasi yang tahu nama tersebut. Seorang petugas imigrasi kemudian berinsiatif membawa perempuan muda bernama Nancy Bruning itu kepada J.C. Princen, yang saat itu baru saja pindah ke jawatan imigrasi. Princen merupakan pejabat imigrasi Indonesia berkebangsaan Belanda yang dulu pernah berdinas di Divisi Siliwangi dan terlibat dalam berbagai operasi militer.






















