top of page

Hasil pencarian

9656 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Niatnya Membuka Jalur Rempah, Pelaut Belanda Nyasar ke Pulau Paskah

    SEJAK pertamakali ditemukan oleh pelaut Belanda tiga abad silam, satu per satu misteri-misteri Pulau Paskah terkuak. Terbaru, para peneliti dari sebuah kampus negeri asal New York menyingkap bahwa ratusan patung raksasa moai yang terdapat pada pulau terpencil di selatan Samudera Pasifik di teritorial terluar Chile itu tidaklah dibuat oleh satu klan atau satu kerajaan saja. Dari sejumlah penelitian terdahulu, sudah diketahui bahwa patung-patung moai itu dibuat oleh bangsa Rapa Nui yang pernah mendiami Pulau Paskah. Patung-patung moai, baik yang hanya berupa kepala maupun patung-patung utuh, dibuat pada 900 tahun lalu. Mengutip Daily Mail , Rabu (26/11/2025), riset terbaru itu dilakukan para peneliti dan arkeolog pimpinan Prof. Carl Lipo dari Binghamton University. Risetnya menggunakan teknologi mutakhir, di mana mereka menggunakan drone untuk mengambil sekitar 22 ribu gambar yang lantas disatukan untuk menjadi satu model tiga dimensi. Hasilnya, didapati sisa-sisa semacam workshop tempat pembuatan dan pemahatan patung yang tersebar di sekitar tambang batu Rano Raraku. Mereka juga menemukan bukti bahwa tambang itu tak dimiliki oleh satu klan atau kerajaan tertentu, melainkan dimiliki bersama oleh beberapa klan yang saling bernegosiasi soal tempat pembuatan patung masing-masing. “Kami melihat tempat-tempat pemahatan batu yang terpisah dan dimiliki beberapa kelompok klan yang berbeda di sebuah area spesifik. Secara grafisnya Anda bisa melihat dari konstruksinya bahwa ada serangkaian patung yang dibuat di sini, serangkaian patung lain di tempat lain, dan mereka saling berdampingan satu sama lain,” kata Prof. Lipo. Namun, sejak ditemukannya pulau itu oleh bangsa-bangsa Eropa pada abad ke-18, populasi bangsa Rapa Nui berangsur-angsur menyusut. Penyebabnya karena persebaran penyakit yang dibawa bangsa-bangsa Eropa ketika menjelajahi pulau seluas 163,7 kilometer persegi itu. Lalu, ekspedisi perburuan budak, hingga bangsa Rapa Nui mesti berpindah ke Tahiti dan daratan Chile yang pada 1888 menganeksasi pulau itu. Tepat 273 tahun sejak pertamakali ditemukan pelaut Belanda Jacob Roggeveen, Pulau Paskah ditetapkan UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia pada 1995. Model 3D temuan banyak tempat pahat patung moai (PLOS One) Mampir ke Pulau Paskah, Ditangkap di Batavia Rempah-rempah dari Kepulauan Maluku merupakan komoditas bernilai tinggi yang bikin iri bangsa-bangsa Eropa. Pada awal abad ke-18, “Kepulauan Rempah” itu sudah berada dalam genggaman Kongsi Dagang Belanda VOC, yang menguasai jalur timur. WIC atau Kongsi Dagang Hindia Barat sebagai rival VOC rupanya mengincar Maluku juga. Menurut Max Quanchi dan John Robson dalam Historical Dictionary of the Discovery and Exploration of the Paficif Islands , atas dasar itulah pada 1721 WIC mengongkosi sebuah ekspedisi pelayaran pimpinan nakhoda Jacob Roggeveen guna membuka rute barat ke Maluku. “Ia pelaut Belanda yang sebelumnya bekerja untuk VOC dan kembali ke Belanda dan mempromosikan sebuah rencana pelayaran komersial dan penjelajahan ilmu pengetahuan ke Pasifik. Perjalanannya disponsori WIC yang sejak lama ingin menembus penguasaan perdagangan rempah-rempah yang selama ini dikuasai VOC,” tulis Quanchi dan Robson. Selain membuka jalur perdagangan rempah via rute barat, misi ekspedisi ilmu pengetahuannya adalah untuk menemukan Davis Land dan Terra Australis Incognita. Davis Land adalah sebuah pulau yang dipercaya tereletak di Samudera Pasifik sebagaimana laporan perompak bernama Edward Davis pada 1687. Sedangkan Terra Australis adalah daratan besar di selatan bumi yang sejak abad ke-15 dipercaya eksis dan terdapat dalam beberapa peta kuno. Davis Land hingga kini dianggap khayalan belaka, sementara Terra Australis ternyata daratan Benua Antarktika. Roggeveen berlayar dengan membawa 223 kru yang terbagi di tiga kapal: Arend , Thienhoven , dan Afrikaansche Galey yang bertindak sebagai kapal komando. Mereka berangkat pada 1 Agustus 1721 dari Pulau Texel dengan rute ke selatan Samudera Pasifik. Menurat Ronald S. Love dalam Maritime Exploration in the Age of Discovery, 1415-1800 , armada kecil Roggeveen mulanya melewati Kepulauan Falkland lantas menuju Selat Le Maire agar lebih mudah mengitari Cape Horn. Dengan melihat gunung-gunung es, arus samudera, dan kawanan burung sepanjang pelayaran, Roggeveen percaya Terra Australis itu eksis dan daratannya saling menyambung hingga Kutub Selatan. “Dari (Cape Horn) sana ia mengubah arah ke utara menuju Kepulauan Juan Fernández lebih dulu guna mendapatkan suplai tambahan untuk pelayarannya, sebelum kembali berlayar ke arah selatan. Justru di sinilah kemudian ia menemukan pulau yang ia namai Pulau Paskah,” tulis Love. Sebelumnya, pulau itu tak eksis di peta-peta penjelajah Eropa manapun. Ketika tiba, Roggeveen memetakan dan menamainya Paasch-Eyland (Pulau Paskah) karena ia menemukannya tepat pada Minggu Paskah, 5 April 1722. Menurut catatan Roggeveen, ketika itu Pulau Paskah didiami sekitar 2.500 jiwa bangsa Rapa Nui. Satu hal yang pasti, ia meyakini pulau itu bukanlah Davis Land yang selama ini dicari-carinya karena kondisi alamnya berbeda dari beberapa catatan tentang Davis Land. “Pulau Paskah itu bukan pantai berpasir seperti yang digambarkan (Edward) Davis. Pulau itu justru memiliki tebing-tebing tinggi seperti menara di atas permukaan laut. Di pulaunya sendiri sangat jarang pepohonan namun punya tanah subur yang ditanami pisang, kentang, dan tebu,” kata Roggeveen dalam catatannya yang dikutip William Judah Thomson dalam Te Pito Te Henua, Or Easter Island. Saat mengetahui kedatangan rombongan Roggeveen, orang-orang Rapa Nui mendatangi mereka dengan perahu-perahu kano. Dengan komunikasi seadanya, Roggeveen merasa aman untuk mengirim 134 krunya ke daratan dengan lima perahu. Namun di pulau sempat terjadi ketegangan yang berujung serangan. Pasukan pelaut Belanda melepaskan tembakan yang menewaskan selusin orang pribumi dan membuat kabur sisanya. Jalur ekspedisi armada kecil Jacob Roggeveen ( Carl Friedrich Behrens's maps) Semakin masuk ke dalam pulau, pasukan pelaut Belanda itu seperti melihat banyak patung. Karena tidak berani mendekatinya, mereka hanya mengamati dari jauh. “Patung-patung itu sepertinya terbuat dari tanah lihat dan batu-batu halus yang dipasang sangat rapat dan rapi sehingga membentuk sosok manusia. Terlihat sedikit tonjolan yang menjuntai ke bawah dari bahu yang membentuk lengan. Mereka dikenakan jubah panjang dari leher hingga telapak kaki. Di kepala mereka ditempatkan keranjang berisi batu-batu putih,” terang Roggeveen. Mereka pun kembali ke kapal-kapal mereka dan berlayar lagi ke arah barat. Roggeveen sempat sial karena kapal komandonya, Afrikaansche Galey, hancur akibat menabrak karang di Atol Takapoto. Keadaan di dua kapal yang tersisa pun kian gawat karena banyak krunya yang kena penyakit kudis. “Roggeveen memutuskan kembali ke Belanda namun hanya bisa melalui jalur teraman berlayar terus ke barat menembus wilayah eksklusif VOC. Setibanya Arend dan Thienhoven di Batavia (September 1722, red .), mereka ditangkap VOC,” ungkap Steven Roger Fischer dalam Island at the End of the World: The Turbulent History of Easter Island. Roggeveen dan para krunya ditahan atas perintah Gubernur Jenderal Hendrick Zwaardecroon. Mereka didakwa dengan pelanggaran hak istimewa lantaran Roggeveen masuk ke wilayah eksklusif VOC tanpa izin. Kedua kapal dan isi kargo-kargonya disita. “Roggeveen dan para awaknya dipulangkan sebagai tahanan ke Belanda dengan kapal VOC. Sesampainya di Belanda, mereka dibebaskan dan setelah perdebatan dan penyelidikan yang panjang, VOC bersedia memberi kompensasi kepada WIC, baik untuk dua kapal yang disita maupun menalangi gaji para krunya. Sejak saat itu, para pelaut Belanda tak lagi tertarik menjelajahi Pasifik dan memilih berkonsentrasi dengan aktivitas-aktivitas kawasan semata di ‘Kepulauan Rempah’ dan VOC di Batavia,” tandas Fischer.*

  • Banjir Aceh dan Tapanuli Tempo Dulu

    BEBERAPA hari lalu, banjir parah melanda sejumlah daerah di Aceh dan Tapanuli, Sumatra Utara. Banjir itu tak hanya menghancurkan permukiman, tapi juga menghanyutkan gelondongan kayu. Banjir di akhir tahun 2025 ini setidaknya telah menewaskan 442 orang.   Lingkungan di sekitar tempat kejadian ini seharusnya diwaspadai. Sejak dulu, beberapa daerah di Aceh dan Sumatra Utara memang rawan banjir pada musim hujan.   Banjir di Aceh dan Tapanuli setidaknya pernah terjadi tahun 1953. Koran Belanda Trouw   dan Het Vaderland tanggal 11 Februari 1953 memberitakan bahwa 82 orang meninggal dunia akibat banjir di Aceh dan Tapanuli. Di Aceh, seperti diberitakan Nieuwsblad van het Noorden edisi 9 Februari 1953, banjir terjadi pada 27 Januari 1953 setelah hujan turun dua hari berturut-turut di lereng Seulawah Agam (Gunung Emas), Kabupaten Aceh Besar. Dampaknya, desa-desa di sekitar Kotaraja (kini Banda Aceh) terendam banjir. Tanggul-tanggul yang memagari air di sekitar kota hancur.   Banjir tersebut merusak sarana komunikasi. Pelayanan pos dan telegram terganggu. Begitu juga pasokan listrik. Stasiun radio lokal yang mengandalkan pasokan listrik pun tak bisa siaran. Banyak jembatan rusak dan jalur kereta api antara Aceh dengan Sumatra Utara juga terganggu. Kerugian akibat banjir itu sekira Rp15 Juta.   Banjir di Aceh diduga akibat penebangan hutan dalam jumlah besar di wilayah sekitar Kotaraja. Sebelum terjadinya banjir, sudah ada peringatan dari pemerintah. Atas banjir yang terjadi di Aceh itu, pada pertengahan tahun 1953, Pos Indonesia merilis prangko khusus tentang banjir. Perbaikan pasca bencana diupayakan pemerintah. Koran De Vrije Pers  tanggal 13 Februari 1953 memberitakan, sebuah komite yang diketuai Residen R.M. Danubroto dibentuk di Aceh pada 10 Februari 1953. Penggalangan dana dilakukan, berhasil menghimpun uang sebesar Rp28 ribu serta 1.875 pakaian serta obat-obatan. Palang Merah Indonesia dari Medan juga ikut memberi bantuan kepada korban-korban di Aceh.   Banjir tahun 1953 itu mengingatkan pemerintah pada banjir-banjir yang terjadi pada masa-masa sebelumnya. Koran Trouw  tanggal 11 Februari 1953 mencatat, pihak berwenang meyakini bahwa banjir 1953 adalah yang terburuk sejak 1917 di Tapanuli. Pembalakan liar besar-besaran pada hutan-hutan di sebagian besar wilayah Sumatra Utara dianggap sebagai biang kerok terjadinya banjir tersebut.   Jauh sebelumnya, Tapanuli pernah pula dilanda banjir. De Sumatra Post  tanggal 12 Januari 1916 memberitakan, karena banjir di Tanah Batu pada akhir tahun 1915, 65 warga terpaksa mengungsi. Banyak rumah rusak dan perabotan hilang. Parahnya dampak yang ditimbulkan banjir itu membuat Ketua Sarekat Islam Tapanuli Haji Ibrahim mengadakan penggalangan dana di kota-kota besar Sumata Utara. Di Medan, jumlah uang yang terkumpul 100 gulden. Ketika itu harga emas sekitar 1,5 gulden.   Tak sampai dua tahun kemudian, awal 1917, Aceh juga dilanda banjir. De Courant tanggal 23 Januari 1917 memberitakan, Aceh Besar rusak berat karena banjir. Banyak jembatan, sawah, dan kebun lada rusak sebagai akibatnya. Banyak ternak warga juga hilang. Setidaknya dua perempuan dan seorang anak tenggelam karena banjir. Banjir serupa terjadi pada 1908, namun banjir tahun 1917 dianggap lebih parah. Aceh dilanda banjir lagi pada 1955 dan 1956. Koran De Locomotief  tanggal 11 Februari 1955 memberitakan daerah Perlak di Aceh Timur mengalami kerusakan karena banjir selama delapan hari. Sementara Het Rotterdamsch Parool  edisi 11 Juni 1956 menginformasikan, banjir terjadi di Aceh Barat dan menghanyutkan 40 rumah serta menghancurkan ratusan hektar lahan pertanian. Beberapa orang diduga tenggelam dimangsa banjir. Penyebab banjir diduga karena hujan yang membuat sungai-sungai di sekitarnya meluap.*

  • Keluarga Reuneker yang Katanya Rumahnya Angker

    DI Salatiga, terdapat rumah tua yang punya reputasi sebagai rumah angker. Rumah tersebut berada di Jalan Pattimura. Banyak orang menyebut rumah itu sebagai rumah Reuneker. Keluarga Reuneker memang sangat terkenal di Salatiga. Dulu, di Salatiga memang terdapat seorang arsitek Belanda bernama Johan Leonard Reuneker. Lebih dari separuh hidupnya dia tinggal di Salatiga. Mantan Menteri Penerangan Boediardjo mengenal dekat keluarga Reuneker sedari remaja. Menurutnya, Johan Reuneker yang biasa disapa Romo Reuneker merupakan pecinta budaya Jawa. Saking cintanya, dia sampai mendirikan dan menjalankan kelompok sandiwara wayang orang yang cukup dikenal, Sri Koentjoro.

  • Foto “Gadis Napalm” yang Kontroversial

    SESOSOK gadis kecil tanpa pakaian histeris seraya berlari bersama empat bocah yang masih kerabatnya dan empat prajurit Vietnam Selatan juga mengevakuasi diri. Phan Thị Kim Phúc, nama gadis berusia 9 tahun itu, menjerit-jerit karena kulitnya melepuh sementara di belakangnya asap hitam nan mengepul dan kobaran api terus mengejarnya.    Kengerian itu terekam dalam sebuah foto yang menjadi salah satu dokumentasi paling dikenal dalam Perang Vietnam (1955-1975). Foto bertajuk “Terror of War” atau populer disebut foto “Napalm Girl” itu populer karena Phúc kecil turut jadi korban pemboman napalm atau bom bakar oleh pesawat-pesawat atau Angkatan Udara (AU) Vietnam Selatan, KVLNCH, di Desa Trảng Bàng pada 8 Juni 1972 gegara desa itu diklaim telah diduduki pasukan Vietkong.    Foto itu merupakan karya fotografer Associated Press ( AP ), Huỳnh Công Út atau Nick Ut. Ia berada di lokasi kejadian bersama beberapa fotografer dan jurnalis lain ketika serangan udara itu terjadi. Fotonya sempat tertunda untuk dirilis karena perdebatan tentang layak-tidaknya menampilkan foto seorang gadis tanpa sehelai pakaian pun di tubuhnya. Pada akhirnya, para dewan redaksi AP memutuskan merilisnya. Hasilnya, Ut memenangkan beraneka penghargaan, di antaranya Pulitzer Prize dan foto terbaik World Press Photo pada 1973.  Namun, belakangan setelah kemunculan film dokumenter The Stringer: The Man Who Took the Photo karya sineas Bao Nguyen, muncul polemik soal foto itu dalam hal atribusi karya fotonya. Film yang premier -nya sudah ditayangkan pada Sundance Film Festival pada 25 Januari 2025 itu mengisahkan investigasi kredit dan atribusi foto “Gadis Napalm”. Film yang sejak September 2025 tayang di Netflix itu menguak beberapa hasil investigasi, di mana salah satunya memunculkan nama Nguyen Thành Nghe, seorang fotografer stringer yang dikisahkan sebagai sosok asli yang menjepret foto “Gadis Napalm” itu dan bukan Ut.    Terang saja film itu bikin geger dunia fotografi . Ketika film dokumenter itu belum diputar untuk umum, AP menggelar investigasinya dengan hasil laporan yang masih samar. Adapun pihak World Press Photo untuk sementara menangguhkan atribusi kepengarangan foto “Gadis Napalm” itu.    “Foto itu sendiri masih tidak terbantahkan dan penghargaan World Press Photo untuk foto momen signifikan pada abad ke-20 itu tetap masih merupakan sebuah fakta. Berdasarkan temuan-temuan sesuai nilai-nilai kami yaitu akurasi, kepercayaan, dan keberagaman, kami menarik kesimpulan (atribusi) terkait foto tersebut,” ujar direktur eksekutif World Press Photo Joumana El Zein Khoury, dilansir The Guardian , 16 Mei 2025.  Foto bertajuk "The Terror of War" alias "Napalm Girl" (vulturevisuelle.org/World Photo Press)   Di Balik Foto “Gadis Napalm” Hari itu, 8 Januari 1972, suasana Desa Trảng Bàng, Vietnam Selatan masih mencekam kendati pasukan Vietkong (komunis Vietnam Utara) sudah lama pergi. Sekitar selusin prajurit AD Vietnam Selatan datang untuk melindungi penduduk seandainya Vietkong datang lagi. Hanya saja, zona desa itu tetap tidak aman karena pesawat-pesawat AU Vietnam Selatan terkadang masih membom area persawahan dan hutan di sekitar desa.    Pada hari itu sudah tiga hari lamanya Phúc bersama saudara-saudaranya mengungsi di kuil desa itu, Cao Ðài, bersama kakaknya Phan Thanh Tam (12 tahun), sang adik Phan Thanh Phuoc (5), dan para sepupunya. Sementara Phúc terpisah dari ayahnya yang menyelamatkan diri di desa lain karena ketika Vietkong mendatangi desa mereka sebelumnya, ayahnya dipaksa mencari stok logistik. Oleh karenanya sang ayah khawatir akan ditangkap dan disiksa saat tentara Vietnam Selatan datang. Phúc begitu rindu rumahnya sendiri dan masakan ayahnya.    “Saat itu kami digiring menuju halaman kuil oleh para tentara (Vietnam Selatan) dan mereka menginstruksikan untuk keluar ke jalan utama Trảng Bàng. Lalu tiba-tiba saya melihat penampakan pesawat mendekati saya. Saya kaget melihat sesuatu yang begitu besar, cepat, dan suaranya menggetarkan bumi. Saya tercengang seiring pesawat itu terbang melesat melewati saya,” kenang Phúc dalam otobiografinya, Fire Road: The Napalm Girl’s Journey through the Horrors of War to Faith, Forgiveness, and Peace. Dalam sekejap, kengerian serangan udara datang tepat di depan matanya. Area kuil turut jadi sasaran serangan pesawat A1-E Skyraider tadi yang menjatuhkan empat bom napalm. Seorang prajurit di belakangnya berteriak memerintahkan Phúc dan saudara-saudaranya untuk lari.    “Keluar (halaman kuil)! Lari! Kita harus meninggalkan tempat ini! Tidak aman di sini. Mereka akan menghancurkan seluruh tempat ini. Pergilah, anak-anak! Pergi sekarang!” imbuh Phúc menirukan teriakan seorang prajurit.    Tetapi sudah terlambat. Beberapa anak lain jadi korban “ditelan” kobaran api dan kepulan asap akibat ledakan napalm-napalm. Phúc sendiri sempat terhempas dan api menyelimuti tubuhnya, membakar habis pakaian yang dikenakannya namun dia masih bisa menyelamatkan diri meski tubuhnya tak lagi terbalut pakaian dan kulitnya mengalami luka bakar.    “ Nóng quá, nóng quá! ” (panas sekali, panas sekali),” Phúc menjerit histeris. Menurut Ut, ia turut hadir di lokasi dan memotret peristiwa itu. Karena merasa iba, Ut juga kemudian membawa Phúc sampai ke Rumah Sakit Barsky di Saigon. Phúc mengalami luka bakar derajat 3 dan butuh 17 kali naik meja bedah plastik sebelum dirawat selama 14 bulan. Sebelum jatuhnya Saigon (30 April 1975), Phúc sudah dievakuasi untuk perawatan lanjutan di Ludwigshafen, Jerman Barat.    “Saya menangis ketika melihat dia (Phúc) berlari. Jika saya tak menolongnya, jika sesuatu terjadi padanya dan dia tewas, mungkin setelah itu saya akan membunuh diri saya sendiri,” kenang Ut saat mengutarakannya pada rekan reporter AP , dikutip LA Times , 13 Maret 2017.    Menurut Ut, ia membawa film dari foto-fotonya ke kepala biro AP di Saigon, Horst Faas. Beberapa editor di biro itu sempat keberatan karena fotonya menunjukkan seorang gadis di bawah umur dalam keadaan telanjang. Setelah beberapa kali berdebat via telex dengan para petinggi AP di New York, akhirnya foto itu diputuskan tetap dirilis namun tidak dengan di- close-up. Versi Nghe jelas berbeda. Dalam dokumenter The Stringer dikisahkan Nghe sejatinya adalah sopir lokal untuk kantor berita NBC namun menyambi jadi fotografer lepas. Ia mengklaim juga berada di lokasi dan memotret peristiwa itu. Hasil jepretannya lalu dijual ke kantor AP biro Saigon. Dalam film itu turut dimuat pengakuan Robinson bahwa Faas memerintahkannya mengubah kredit fotonya dan membuat atribusinya milik Nick Ut.    “Saya bekerja keras untuk memotret foto itu tapi orang lain yang mendapatkan semua pengakuannya,” keluh Nghe kepada The Guardian , 26 Januari 2025.  AP sendiri, sebagaimana diungkapkan di atas, kemudian menggelar investigasi internal selama berbulan-bulan. Namun hasil investigasi mereka yang dirilis pada 6 Mei 2025 tetap saja tak memberi kesimpulan yang terang-benderang.      Dalam laporan bertajuk “ AP Report Update: Investigating claims around ‘The Terror of War’ photograph ”, tim investigasi AP mengaku sudah mewawancarai Phúc si gadis di foto itu, Nick Ut, beberapa mantan pegawai biro Saigon yang masih hidup, dan sejumlah jurnalis yang jadi saksi mata peristiwa itu. Mereka juga berusaha menemui Nghe dan Robinson namun keduanya menolak diwawancarai secara langsung dan sekadar memberi pernyataan tertulis.    AP kemudian tak bisa menemukan bukti-bukti konkret bahwa foto itu adalah hasil karya Nghe dan memberi hipotesa yang masih samar bahwa ada kemungkinan foto itu adalah tetap hasil karya Ut atau mungkin juga bukan. Pasalnya, temuan data analisa forensik film dan fotonya menunjukkan foto “Gadis Napalm” dipotret menggunakan kamera Pentax dan bukan kamera Leica M2. Sementara yang mereka ketahui Ut saat itu bertugas dengan membawa masing-masing dua unit kamera Leica dan Nikon.    “Analisa visual AP secara ekstensif, pemeriksaan semua foto yang diambil pada 8 Juni 1972 dengan disertai wawancara-wawancara dengan para saksi mata, menunjukkan Ut kemungkinan yang mengambil foto ini. (Walaupun) investigasi kami tetap memunculkan beberapa pertanyaan signifikan yang mungkin takkan pernah bisa kami jawab,” ungkap AP yang tetap memberi kredit dan atribusinya pada Ut, di laman resminya , 6 Mei 2025.*

  • Arsip Korupsi Sejak Zaman Kompeni

    KONGSI Dagang Hindia Timur atau VOC berkuasa penuh di Nusantara setelah memperoleh hak oktroi dari pemerintah Kerajaan Belanda. Ibarat negara dalam negara, VOC memiliki pasukan, mencetak mata uang sendiri, dan memonopoli perdagangan. Bercokolnya VOC di Nusantara sejak 1600 menjadi cikal bakal kolonialisme Hindia Belanda. “VOC ini perusahaan Belanda tapi diberikan hak oktroi oleh parlemen Belanda pada 1602. Dia kemudian bangkrut di tahun 1800-an dan ini katanya karena korupsi,” kata Wakil Ketua KPK Agus Joko Pramono dalam seminar “Satukan Aksi Basmi Korupsi” di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), 2 Desember 2025. Dalam acara ini diluncurkan pula naskah sumber arsip Korupsi dalam Khazanah Arsip: Jejak Korupsi Masa VOC hingga Masa Kolonial Belanda terbitan ANRI. Negeri koloni Hindia Belanda kini telah menjadi Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Namun, Indonesia masih belum bebas sepenuhnya dari praktik korupsi. Bahkan, korupsi makin menggerogoti sendi-sendi kehidupan bernegara. Banyak aparat negara terjerat kasus korupsi. Mulai dari eksekutif, legislatif, hingga yudikatif; dari pusat hingga daerah, pejabat tinggi maupun rendah. Tak heran bila Indonesia masuk dalam golongan negara paling korup di dunia. Menurut Agus, sejarah memperlihatkan bahwa praktik korupsi di Indonesia telah berlangsung lama. Terjejaki sejak masa VOC berkuasa dan itu berdampak historis pada sistem pemerintahan. Perangkat sistem pemerintahan Indonesia banyak menganut dari zaman kolonial. Karena itulah mempelajari sejarah korupsi di zaman lampau masih relevan dengan kondisi Indonesia hari ini. “Kita sudah tahu bahwa korupsi dari zaman VOC dan akan tetap terus ada karena ini kaitan dengan kekuasaan, kewenangan, dan keserakahan yang merupakan sifat dasar manusia. Fakta historis menjadi pengingat kita bahwa korupsi bukan hanya persoalan hukum, tapi juga persoalan budaya, tata kelola, dan integritas bangsa,” imbuh Agus. Sementara itu, Kepala ANRI Mego Pinandito mengatakan, jejak historis praktik korupsi di zaman VOC hingga kolonial Hindia Belanda terakam dalam catatan arsip. Arsip-arsip itu berbicara tentang penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan, penyuapan, hingga penggelapan. Mulai dari juragan dagang VOC hingga aparat birokrat pejabat kolonial tersebut dalam skandal korupsi. Khazanah arsip menujukkan bahwa korupsi itu merupakan persoalan yang panjang. Ia memiliki akar historis. Tapi, bukan berarti korupsi tidak bisa diperbaiki atau dihapus sama sekali. “Jejak itu merupakan gambaran mengenai pola yang berulang dalam penyalahgunaan kekuasaan. Dinamika hubungan antar pejabat dan masyarakat, antar kepentingan, dan tentunya dampak sistemik yang ditimbulkan terhadap tata kelola pemerintahan, kepercayaan publik, serta perkembangan sosial ekonomi bangsa ini sendiri,” terang Mego. Seminar “Satukan Aksi Basmi Korupsi” di Arsip Nasional Republik Indonesia, 2 Desember 2025, dalam rangka memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia (Hakordia). (Martin Sitompul/Historia.ID). Arsip-arsip yang membentangkan praktik korupsi zaman VOC dan kolonial Hindia Belanda tersua dalam berbagai khazanah. Mulai dari arsip statis berbentuk tekstual, foto, hingga peta. Seperti misalnya, Arsip Residensi merujuk pada kumpulan arsip administrasi dari masa kekuasaan VOC pada kurun 1601–1799 di berbagai wilayah Nusantara. Selain itu. Arsip Hoge Regering  merupakan pusat administratif dan titik temu berbagai jalur pelayaran VOC. Arsip Algemene Secretarie  merupakan lembaga tempat bermuaranya informasi di Hindia Belanda. Arsip Departement van Burgelijke Openbare Werken  dikenal dengan sebutan Kementerian Pekerjaan Umum pada masa sekarang. Arsip Binnenlands Bestuur (BB) merupakan cikal bakal lembaga Kementerian Dalam Negeri pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Di luar arsip tekstual terdapat arsip foto KIT (Koninklijk Instituut Voor de Tropen) dan arsip peta De Haan. Arsip KIT memuat foto-foto yang mendukung misi kolonial Belanda di bidang ekonomi, kesehatan tropis, dan antropologi. Arsip De Haan berisikan kumpulan peta dan kartografi yang disusun atau dikurasi oleh Frederick De Haan, arsiparis terkemuka Belanda abad 19, lengkap dengan tautan akses serta ringkasan historis. Pada arsip-arsip tersebut, menurut Dharwis Yacob, arsiparis ANRI sekaligus penulis buku Korupsi dalam Khazanah Arsip: Jejak Korupsi Masa VOC hingga Masa Kolonial, memang tidak secara gamblang menyebut kata korupsi dalam pengertian modern. Namun, perkara-perkara yang menjurus ke arah korupsi begitu sering ditemui. Istilah atau kata seperti bedroch (kecurangan), bedriegen  (penipuan), verduystering atau verduysteren  (penggelapan), smokkelarije (penyelundupan), achteruygangh  (kemunduran perdagangan), hingga smokkelhandel  (perdagangan ilegal), telah digunakan untuk menggambarkan tindakan serupa di tubuh VOC. “Hal ini menjadi penanda awal praktik korupsi kolonial di Nusantara dan menjadi salah satu faktor yang mempercepat kemunduran perusahaan dagang terbesar di dunia pada masanya itu,” ujar Dharwis. Begitu pula yang terjadi di masa kolonial Hindia Belanda. Dalam Arsip Departement van Binnenlandsch Bestuur:   Seri Grote Bundel 1862-1960 , No. 51, mengisahkan kasus suap yang melibatkan seorang perempuan Eropa Bernama Ny. Amalia Johanna van Heuven van Staereling, istri seorang pejabat tinggi pada 1935. Kemungkinan besar suaminya berasal dari kalangan Binnenlandsch Bestuur . Johanna disinyalir menerima sejumlah uang atau hadiah tidak resmi dari pihak yang memiliki kepentingan terhadap putusan administratif atau ekonomi di wilayah Cirebon. Praktik semacam ini dalam hukum kolonial masuk kategori penyuapan ( omkoping ). Dalam arsip yang lain, yaitu Arsip Departement van Burgelijke Openbare: Seri Grote Bundel 1854-1933 , No. 2941, mengungkap penyalahgunaan keuangan proyek pembangunan jalan Sibolga-Tarutung di wilayah Tapanuli oleh seorang mandor bernama Rudol. Kasus ini terungkap karena Algemeene Rekenkamer, yang saat itu berwenang melakukan pengawasan dan pemeriksaan internal, menemukan adanya ketidaksesuaian antara anggaran dan realisasi fisik proyek. Kasus ini bertitimangsa 1928–1929. Kasus penyuapan Johanna dan penyelewengan mandor Rudol hanya segelintir kasus korupsi di masa kolonial Hindia yang tercatat dalam arsip. Dari fakta-fakta yang tersaji dalam arsip, Dharwis menyimpulkan, bahwa korupsi bukanlah fenomena baru dalam sejarah Indonesia. Jejaknya dapat ditelusuri secara jelas melalui berbagai dokumen resmi, laporan pengawasan keuangan, putusan hukum, dan surat-menyurat pejabat dari masa VOC hingga pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Kasus yang tercatat dalam arsip memperlihatkan pola yang berulang, seperti penyalahgunaan wewenang, penggelapan kas publik, gratifikasi, manipulasi proyek pembangunan, serta kolusi antara pejabat lokal dan pusat. Praktik demikian sering kali dilakukan oleh pejabat Eropa maupun pribumi yang terlibat dalam struktur pemerintahan kolonial. “Fakta-fakta arsip ini menjadi penting untuk membangun kesadaran sejarah bahwa korupsi memiliki akar panjang dalam struktur politik dan ekonomi kolonial, memperkuat pendidikan antikorupsi berbasis arsip, sehingga generasi kini dapat belajar langsung dari sumber primer,” pungkas Dharwis.*

  • Hind Rajab dan Keheningan yang Memekakkan Telinga

    DI rooftop kantor call center Palestine Red Crescent Society di Ramallah, Tepi Barat, siang, 29 Januari 2024, itu Omar Alqam (diperankan Motaz Malhees) diri bersenda-gurau dengan rekan-rekannya. Namun begitu kembali menerima panggilan di meja kerjanya seusai jam istirahat itu, perasaannya tak pernah lagi sama usai mendengar tangisan bocah 6 tahun, Hind Rajab. Dengan headset -nya, Omar mendengar dengan seksama suara permintaan tolong dari ujung telepon. Sebagai sukarelawan call center PRCS, Omar berusaha menenangkan si penelepon yang berada di utara Kota Gaza. Sejak Oktober 2023 di mana Israel menggempur Jalur Gaza secara membabi-buta dari darat dan udara, semua panggilan darurat warga Gaza dialihkan ke kantor pusat PRCS di Ramallah, sekitar 83,6 kilometer dari Jalur Gaza. “Aku takut. Mereka menembak. Aku mohon jemput aku, ” pinta Hind Rajab. “Siapa namamu?” tanya Omar. “Hind Rajab Hamada. Tolong jangan tinggalkan aku. Aku sendirian,” jawab si bocah. Ternyata situasinya amat gawat. Hind Rajab terjebak dalam kemelut. Serangan tank Israel menghancurkan mobil Kia Picanto hitam yang membawa Hind Rajab beserta sepasang paman dan bibi, serta ketiga sepupunya. Hanya Hind Rajab yang selamat dan terus bersembunyi di kursi belakang mobil sambil minta pertolongan via ponsel. Selugas itu sineas Kaouther Ben Hania mengisahkan awal tragedi Pembunuhan Hind Rajab dalam dokudrama bertajuk The Voice of Hind Rajab . Di antara tiga film di tahun ini – Close Your Eyes Hind dan Hind Under Siege – yang juga sempat diracik sineas-sineas lain tentang tragedi itu, The Voice of Hind Rajab mengangkat lagi kisahnya hanya dengan point of view sukarelawan PRCS yang menerima panggilan darurat Hind Rajab. Tidak hanya Omar yang berusaha menenangkan Hind Rajab. Saat ia harus melapor ke penyelianya, Mahdi Aljamal (Amer Hlehel), headseat -nya diserahkan kepada Rana Faqih (Saja Kilani) dan kadang kepada Nisreen Qawas (Clara Khoury) untuk terus berbicara dan menenangkan Hind Rajab. Dari pencarian data sinyal yang dilakukan Mahdi, diketahui posisi Hind Rajab ada di sebuah jalan dekat SPBU Fares di kawasan Tel al-Hawa, Kota Gaza, Jalur Gaza. Unit ambulans PRCS yang hanya berjarak 2,5 km atau 8 menit dari lokasi Hind Rajab (Willa) Tapi untuk menjemputnya menjadi problem tersendiri. Di Gaza Utara hanya tersisa satu ambulans dan tim first responder : Yusuf Zeino dan Ahmad Madhoun. Mahdi tak ingin gegabah mengirim keduanya meski hanya berjarak 8 menit dari Hind Rajab, sebab militer Israel tak pandang bulu menghantam ambulans manapun tanpa koordinasi keamanan. Koordinasi keamanan melalui setidaknya tiga perantara antara PRCS, Palang Merah Internasional, dan militer Israel. Prosesnya butuh berjam-jam, itupun jika diberi izin dan rute yang disetujui. Padahal, kondisi Hind Rajab sudah begitu gawat. Omar frustrasi. Dia tak berdaya menolong Hind Rajab. Lalu, dari ujung telepon terdengar semburan tembakan dan teriakan Hind Rajab. Hanya keheningan yang tersisa. Omar dan kawan-kawan tenggelam dalam keputusasaan. Apa yang terjadi pada Hind Rajab? Mengapa proses mendapatkan izin penyelamatannya begitu berbelit-belit dan memakan waktu berjam-jam? Baiknya Anda saksikan sendiri The Voice of Hind Rajab . Setelah world premier -nya tayang di Festival Film Venice pada 3 September 2025 dan menerima standing ovation selama 23 menit 50 detik. Film yang juga turut disokong para elite Hollywood sebagai produser eksekutifnya –seperti Brad Pitt, Joaquin Phoenix, Alfonso Cuarón dan Rooney Mara– itu kemudian diputar di berbagai negara, termasuk di beberapa bioskop di Indonesia mulai 26 November 2025. Melawan Lupa Hind Rajab dan Perjuangan Penanggap Pertama Sutradara Ben Hania dan tim produksi tak menghadirkan dokudrama ini muluk-muluk secara sinematografinya. Filmnya bahkan hanya di- shoot di satu lokasi: kantor call center PRCS Ramallah. “Saya sengaja membuatnya hanya di satu lokasi dan tak menyajikan kekejamannya (Israel) karena gambaran-gambaran itu sudah banyak ada di layar kita, di lini masa, di ponsel kita. Yang saya inginkan adalah fokus pada sesuatu yang tak kasat mata: menunggu, rasa cemas, keheningan yang tak tertahankan ketika pertolongan tak jua datang. Kadang apa yang tak bisa Anda lihat itu lebih menghancurkan dari apa yang bisa kita lihat,” dikutip Deadline , 22 Juli 2025. Tidak satu pun adegannya sepanjang durasi 89 menit diiringi music scoring. Toh rekaman asli suara Hind Rajab –yang totalnya berdurasi sekitar 70 menit– sudah cukup membuat penonton bisa menyesapi rasa marah, frustrasi, dan kepedihan dari percakapan Omar dkk. dengan Hind Rajab. Ditambah keheningan yang terasa setelah terdengar rentetan senjata dan jeritan Hind Rajab begitu memekakkan telinga. “Jantung dari film ini sangatlah sederhana dan (tetapi) sangat sulit untuk diterima. Saya tidak bisa terima bahwa ada di dunia ini seorang anak meminta pertolongan dan tidak ada satupun yang datang. Rasanya seperti dunia sudah terbalik dan menghimpit saya. Luka itu, kegagalan itu, adalah tanggung jawab kita semua,” tambah sineas asal Tunisia tersebut. “Saya juga bicara dengan ibu kandung Hind, orang-orang yang berada di ujung telepon yang berusaha menolongnya. Saya mendengarkan mereka, saya menangis, saya menulis (naskahnya). Ini bukan sekadar cerita tentang Gaza. Ini adalah kedukaan universal yang berbicara dengan sendirinya. Dan saya percaya film jadi alat yang lebih kuat daripada breaking news yang gaduh atau rasa lupa dari scrolling (media sosial). Film bisa merawat ingatan. Film bisa melawan amnesia”. Hal lain yang juga ditonjolkan The Voice of Hind Rajab agar tak juga dilupakan publik adalah soal perjuangan para sukarelawan call center dan para penanggap pertama PRCS. Badan kemanusiaan dan pertolongan medis di bawah organisasi Bulan Sabit Merah dan Palang Merah Internasional yang juga berperan banyak menyelamatkan warga sipil Gaza sejak gempuran Israel medio Oktober 2023 hingga hari ini. Meski sudah disepakati gencatan senjata pada 10 Oktober, zionis Israel belum berhenti membantai warga sipil Gaza. Adegan Omar Alqam menunjukkan foto asli Hind Rajab (Mime Films) PRCS sendiri didirikan Dr. Fathi Arafat, adik bungsu pejuang Palestina, Yasser Arafat, pada 57 tahun silam, tepatnya 26 Desember 1968, di bawah naungan PLO atau Organisasi Pembebasan Palestina. Legalitasnya sebagai badan kesehatan dan keselamatan baru diresmikan pada 1 September 1969. PRCS mulai mendirikan klinik-kliniknya pasca-Perjanjian Kairo pada 2 November 1969. PRCS tidak hanya mendirikan kliniknya di kamp-kamp pengungsi di Mesir dan Yordania tapi juga di Lebanon. Inisiatif itu begitu cepat “menular” dan bahkan beberapa klinik secara spontan mengubah nama kliniknya dengan papan nama “Palestine Red Crescent Society”. Hal ini ditemukan sendiri oleh Dr. Fathi Arafat ketika mengunjungi Kamp Pengungsi Tall al-Za’atar di Beirut Timur, Lebanon pada akhir 1969. Ketika ia mendatangi kliniknya sudah ada papan nama PRCS. Dengan ditemani seorang perawat Palestina bernama Nidal, Fathi Arafat menengok keperluan-keperluan dan perlengkapan seadanya di klinik itu. “Kami mendengar bahwa kita sudah mendirikan Bulan Sabit Merah, jadi kami tak ingin menunggu lama. Kami ambil bangsal-bangsal ini dan kami tempatkan tempat tidur kecil, beberapa peralatan, wastafel, dan sebuah selimut putih besar, di mana seorang pelukis di kamp ini melukiskan sebuah (simbol) bulan sabit dan menuliskannya ‘Palestine Red Crescent Society’,” ucap Nidal kepada Fathi Arafat, dikutip Rex Brynen dalam Sanctuary and Survival: The PLO in Lebanon. Inisiatif itu lantas juga mendapat dukungan dari pemerintah Mesir, Lebanon, dan Suriah yang juga terlibat dalam Perjanjian Kairo. Sehingga kemudian PRCS tidak hanya memiliki sejumlah klinik tetapi juga beberapa rumah sakit. “Bulan Sabit Merah Palestina diresmikan pada 1969 (oleh PLO) dengan mengemban tanggung jawab menyediakan fasilitas-fasilitas medis bagi semua warga Palestina, baik sipil maupun para kombatan. Faslitas gratis yang ditawarkan PRCS bagi warga Palestina membutukan banyak keperluan dari (bantuan) negara-negara Arab. PRCS merespon dengan membuka pintu lebar-lebar bagi siapapun yang membutuhkan perawatan medis,” ungkap pernyataan PLO, dikutip Jillian Becker dalam The PLO: The Rise and Fall of the Palestine Liberation Organization. Mulai 1996, PRCS memiliki lebih dari 100 mobil ambulans yang dioperasikan di Tepi Barat dan Gaza. Satu dasawarsa berselang, PRCS – bersamaan dengan MDA atau Perisai David Merah dari Israel, diakui sebagai bagian dan anggota ICRC atau Komite Palang Merah Internasional. Hanya saja sejak Intifada Kedua sepanjang 2000-2008, ambulans-ambulans Bulan Sabit Merah Palestina mulai ikut jadi sasaran Israel. Militer zionis itu menuduh ambulans-ambulans itu dipergunakan para Pejuang Hamas sebagai transportasi pasukan dan persenjataan. Amnesty International dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membantahnya. “Tidak ada penggunaan ambulans-ambulans PRCS untuk mengangkut senjata atau amunisi dan tidak ada penyalahgunaan emblem oleh PRCS,” ungkap kesimpulan Dewan HAM PBB dalam laporannya, “Human Rights in Palestine and Other Occupied Arab Territories: Report of the United Nations Fact Finding Mission on the Gaza Conflict” yang disampaikan pada sesi ke-12 pertemuan Dewan HAM PBB, 15 September 2009. Tak ayal sejak saat itu koordinasi PRCS dengan Palang Merah Internasional beserta Israel acap dipersulit. Hal itu turut tergambarkan di beberapa adegan di film The Voice of Hind Rajab , di atas. Bahwa jika ingin mengirim ambulans ke suatu lokasi di Gaza, PRCS di Ramallah terlebih dulu mesti berkoordinasi dengan Palang Merah Internasional di Yerusalem. Lalu Palang Merah International akan mengkomunikasikannya lagi dengan COGAT atau Koordinator Aktivitas Pemerintah Israel di Wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza, baru ditembuskan ke komando militer lapangan di Gaza. Jika diberi lampu hijau, COGAT akan mengkomunikasikannya kembali kepada Palang Merah Internasional. Baru Palang Merah Internasional akan menginfokan ke PRCS lagi. Sisanya baru PRCS menggerakan ambulans dan para penanggap pertama mereka di Gaza untuk bergerak dengan rute-rute yang sudah ditentukan. Itu pun jika diberikan izin, sebagaimana di atas, akan perlu waktu berjam-jam. Bila ditolak, baik oleh COGAT atau militer di lapangan, PRCS harus mengulang proses melelahkan itu dari awal lagi. Dalam film di atas, ketika tengah frustrasi dengan penolakan COGAT dan militer Israel, pada akhirnya PRCS mencoba “jalan belakang” dengan berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan Palestina. Hasilnya sempat menimbulkan harapan karena PRCS mendapat rute untuk ambulansnya guna mencapai lokasi Hind Rajab dan lampu hijau. Nahas, ambulans yang dikendarai duet penanggap pertama tadi: Zeino dan Madhoun, ikut ditembaki tank Israel, hanya sekitar 300 meter dari lokasi Hind Rajab. Baik Zeino, Madhoun, dan Hind Rajab pun jadi martir. Jasad ketiganya baru ditemukan pada 10 Februari 2024 ketika terjadi gencatan senjata sementara dan pasukan Israel mundur dari kawasan Tel al-Hawa. Tragedinya dan rekaman suara Hind Rajab sempat viral di media sosial dan kanal-kanal berita dunia meski begitu cepat pula tragedinya terlupakan, sebagaimana pembantaian anak-anak Gaza lain oleh zionis Israel. “Setelah banyak kejahatan yang dilakukan, pemerintah Israel selalu punya modus standar: menyangkal, mengalihkan, merekayasa, dan menunggu sampai perhatian dunia berganti ke tempat lain. Kebanyakan media massa ikut berkolaborasi dengan strategi ini yang membuat Israel bisa terus melanjutkan genosidanya. Dalam kasus (Hind Rajab) ini, Israel mengklaim tidak ada pasukan mereka di area itu,” tulis kolumnis Owen Jones di artikel The Guardian , 18 Agustus 2024, “Hind Rajab’s death has already been forgotten. That’s exactly what Israel wants”. Namun banyak masyarakat dunia tak begitu saja ikut arus “strategi” Israel itu. Para mahasiswa Universitas Columbia di New York yang pro-Palestina yang berunjuk rasa pada 29 April 2024, menduduki gedung kampus Hamilton Hall dan menamainya dengan “Hind’s Hall”. Rapper Macklemore merilis lagu protes bertajuk “Hind’s Hall” pula pada 6 Mei 2024 untuk mengenangnya. Sebuah organisasi non-profit Hind Rajab Foundation (HRF) pun didirikan di Brussels, Belgia, medio 2024. Pada 3 Mei 2025, HRF merilis laporan investigasinya dan menemukan klaim bahwa sosok yang paling bertanggungjawab atas pembantaian keluarga Hind Rajab dan kedua penanggap pertama PRCS adalah komandan Brigade Lapis Baja ke-401 Israel, Letkol Beni Aharon sehingga HRF mengajukan kasusnya ke ICC atau Pengadilan Kejahatan Internasional. Tak ketinggalan sebuah komisi PBB di bawah Dewan HAM PBB, Independent International Commission of Inquiry on the Occupied Palestinian Territory including East Jerusalem and Israel, pada 16 September 2025 lalu merilis laporannya terhadap genosida Israel terhadap Gaza bertajuk “Legal analysis of the conduct of Israel in Gaza pursuant to the Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide”. PBB menyertakan tragedi Hind Rajab sebagai salah satu tindakan Israel dalam melakukan genosida di Gaza. “Komisi (PBB) menyoroti pembunuhan lima anak dekat SPBU Faris di kawasan Tel al Hawa di Kota Gaza pada 29 Januari 2024. Pada insiden itu Bashar Hamada Hamouda dan Enaam Mohammad Hamada terbunuh oleh pasukan Israel ketika mengendarai mobil bersama lima anak (empat perempuan dan satu laki-laki) termasuk Layan Hamada yang berusia 15 tahun dan sepupunya, Hind Rajab, berusia 5 tahun. Komisi menemukan bahwa mobil mereka dibidik dan ditembaki beberapa tank, menewaskan orangtua Layan, Bashar dan Eenam, dan tiga saudarinya, membuat Layan dan Hind terluka...pasukan Israel juga menembakkan peluru-peluru tank ke ambulans yang datang ke lokasi untuk mencegahnya mendatangi korban. Hind masih hidup hingga pukul 19:00 hari itu dan kemudian meninggal,” tulis salah satu poin laporan tersebut. Deskripsi Film J udul: The Voice of Hind Rajab Sutradara: Kaouther Ben Hania | Produser: Nadim Cheikhrouha, Odessa Rae, James Wilson Pemain: Motaz Malhees, Saja Kilani, Amer Hlehel, Clara Khoury, Nesbat Serhan Produksi: Mime Films, Tanit Films, Film4, MBC Studios. Watermelon Pictures, Plan B Entertainment Genre: Dokudrama Durasi: 89 Menit Rilis: 3 September 2025 .

  • Pesta Panen dengan Ulos Sadum dan Tumtuman

    WARNA-warni ceria begitu melekat pada motif Ulos Sadum. Dalam tradisi adat Batak, Ulos Sadum berfungsi sebagai handehande, atau kain yang disampirkan pada bahu. Keidentikannya dengan warna-warna cerah seperti merah menggenggam arti sebagai simbol kebahagiaan. Ulos Sadum biasanya dikenakan oleh gadis yang belum menikah. “Sebenarnya yang sudah menikah juga bisa pakai, tapi yang saya mengerti biasanya dipakai untuk gadis yang belum menikah dan pada acara pesta. Cukup ikonik ya Sadum ini, kalau misalnya kita pikir, seperti apa bentuk ulos itu, terus kita pernah lihat yang warna-warni, itulah Sadum. Dan Sadum itu juga macam-macam, ada Sadum Angkola, ada Sadum Toba,” terang Kerri Na Basaria Panjaitan dalam pertunjukan wastra ulos bertajuk “ Mauliate” di Tobatenun Studio & Gallery, Jakarta, 4 Desember 2025. Mauliate  sendiri, lanjut Kerri, berarti terimakasih dalam bahasa Batak Toba. Pertunjukan wastra ini sebagai bentuk ucapan syukur atas satu tahun yang telah dilalui. Terinspirasi dari Festival Gotilon , tradisi untuk mengucap syukur atas tuaian hasil panen di Tanah Batak. Pesta panen gotilon  dulu menjadi ritus adat dalam masyarakat Batak Toba dan berlangsung dua kali dalam setahun. “Tradisi gotilon  telah berlangsung lama sebelum masuknya agama Kristen. Setelah Kristen masuk, [ gotilon] tetap dirayakan di lingkungan gereja,” kata Kerri yang juga pendiri social enterprises  Tobatenun. Ulos Sadum. (Dok. Tobatenun). Ulos Sadum ditenun menggunakan teknik songket yang dalam bahasa Batak disebut jungkit. Teknik jungkit dibuat dengan metode pakan tambah, yaitu menggandakan pakan (benang horizontal yang bergerak) terhadap lungsi (benang vertikal yang diam) untuk menghasilkan motif timbul. Selain ditenun dengan motif-motif warna cerah, Ulos Sadum menjadi populer karena biasa dipakai dalam acara mangulosi  untuk parboru, yang berarti memakaikan ulos untuk perempuan. Selain Ulos Sadum, ulos lain yang ditampilkan ialah Ulos Tumtuman. Dalam bahasa Batak, tumtuman berarti mengikat. Dahulu, Ulos Tumtuman digunakan sebagai ikat kepala laki-laki, khususnya anak laki-laki tertua sebagai simbol kesulungan. Seperti Ulos Sadum, Ulos Tumtuman juga dibuat dengan teknik songket atau jungkit. Dalam P esona Kain Indonesia: Kain Ulos Danau Toba,  Threes Emir dan Samuel Wattimena menyebut Ulos Tumtuman yang ditenun dengan teknik pakan tambahan atau songket digunakan sebagai tali (ikat kepala) raja atau tetua Batak. Tali-tali yang bermotif digunakan oleh anak sulung atau tuan runah yang sedang menyelenggarakan acara adat Batak. Tak hanya itu, motif Tumtuman banyak terinsipirasi dari ikat pinggang ( hohos ) para raja yang disebut suranti , serta selendang pelengkap ulos hande  bagi tokoh kerajaan dan permaisuri. Motifnya juga memiliki kemiripan dengan bagian tinorpa  pada Ulos Ragi Hidup, bagian yang memiliki teknik tenun serupa. Ulos Tumtuman. (Dok. Tobatenun). “Tapi kemudian ia (Ulos Tumtuman) menjadi satu kain set sebagai sarung atau selendang dan menjadi simbol yang cukup luks. Karena dulu orang Batak suka pakai Songket Palembang kalau beracara. Kenapa kita enggak bisa pakai motif-motif kita sendiri padahal kita banyak sekali motif [Batak] yang kaya. Lahirlah Tumtuman ini menjadi satu jenis ulos yang bisa bersanding setara dengan Songket Palembang,” jelas Kerri. Artisan Ulos Sadum dan Ulos Tumtuman tersebar di penjuru Tanah Batak. Mulai dari Silindung dan Tarutung di Tapanuli Utara hingga Angkola dan Mandailing di Tapanuli Selatan. Melalui pertunjukan wastra ini, Kerri berharap membangkitkan minat dan ketertarikan generasi muda terhadap kebudayaan Batak sebagai wujud pemajuan kebudayaan bangsa.*

  • Onghokham Sejarawan Selebritas

    SEBELUM kajian sejarah publik berkembang seperti sekarang, penulisan sejarah Indonesia berkutat pada tema-tema sejarah politik dan peristiwa besar. Namun, Onghokham mengulik tema yang tak banyak dilirik para sejarawan sejawatnya. Dia menulis tentang sejarah kuliner, sejarah seksualitas, hingga sejarah alam gaib. Apa yang dilakukan Ong terbilang nyentrik dan unik. Apalagi Ong menuangkannya dalam kolom pers dengan bahasa popular. Selain itu, produktivitas Ong menulis di media membuat namanya dikenal publik. “Pada tahun 1970-an, 1980-an, Ong satu-satunya sejarawan senior yang menulis tentang ilmunya dalam media-media. Itu yang membuat Ong menjadi semacam celebrity historian  pada zaman itu,” kata sejarawan David Reeve dalam diskusi bertajuk “Onghokham Sejarawan Multidimensi” di Gramedia Jalma, Blok M, Jakarta Selatan, 5 Desember 2025. David Reeve merupakan sejarawan Australia dari Universitas New South Wales sekaligus sahabat dekat Onghokham. Reeve termasuk yang mendampingi Ong di masa-masa terakhirnya hingga wafat pada 30 Agustus 2007. Reeve menulis kenangan tentang Ong sekaligus perjalanan hidupnya sebagai seorang sejarawan dalam biografi berjudul Tetap Jadi Onghokham: Sejarah Seorang Sejarawan  yang terbit pada 2024. David Reeve dalam diskusi publik bertajuk “Onghokham Sejarawan Multidimensi”. (Martin Sitompul/Historia.ID). Tidak seperti Ong, menurut Reeve, sejarawan pada masa itu tidak tertarik menuliskan pemikiran atau riset mereka di media. Reeve menyebut nama-nama sejarawan beken seperti Sartono Kartodirdjo , Taufik Abdullah , dan Mona Lohanda yang merasa segan menulis untuk media massa. Bagi mereka, menulis artikel di media massa hanya sementara, tidak berbobot, terlalu singkat, murahan, bahkan terkesan seperti pelacur intelektual. Berbeda halnya dengan melakukan riset panjang, meneliti arsip, dan membukukannya yang dirasa lebih kekal sebagai warisan intelektual. “Mereka tidak mau membuang talenta dan bakat mereka untuk menulis di pers. Lain sekali dengan sekarang, semua sejarawan muda sekarang buru-buru lari terbirit-birit untuk muncul di media, muncul di televisi, podcast , dan sebagainya,” tandas Reeve dengan bahasa Indonesia yang fasih. Di antara para begawan itu, Reeve mengklaim, Onghokham adalah sejarawan senior satu-satunya yang aktif menulis dalam pers. Aktivitas Ong sebagai sejarawan-kolomnis di media dimulai setelah dirinya menyelesaikan studi doktoral dari Universitas Yale pada 1975. Ong menulis sejarah di media-media terkemuka seperti Kompas , Tempo , The Jakarta Post , hingga jurnal Prisma . Sebagai sejarawan-kolumnis, Ong kerap mengangkat isu sejarah yang aktual, terkadang tabu, namun sebenarnya lekat dengan kehidupan manusia sehari-hari. Ia misalnya menulis tentang “Kekuasaan dan Seksualitas: Lintasan Sejarah Pra dan Masa Kolonial” dalam Prisma , edisi Juli 1991 yang mengangkat tema khusus “Seks dalam Jaring Kekuasaan”. Dalam edisi Prisma Februari 1983, Ong menulis tentang budaya korupsi di Indonesia, “Tradisi dan Korupsi”. Ong juga menulis tentang sejarah tempe dalam Kompas , 1 Januari 2000, “Tempe Sumbangan Jawa untuk Dunia”. Ong bahkan pernah menjadi pembicara dalam “Konferensi Tuyul ” di Semarang pada 1985, yang berkaitan dengan kepercayaan mistik tradisional masyarakat Jawa. Ratusan orang hadir dalam seminar yang diselenggarakan Yayasan Parapsikologi Semesta itu. Hampir semuanya berasal dari kalangan dukun dan paranormal. Ong barangkali satu-satunya sejarawan yang memberikan pemaparan dari perspektif sejarah. Ong kemudian menjelaskan bahwa eksistensi tuyul dan makhluk demit lainnya, seperti Nyai Blorong dan Nyai Roro Kidul , dibentuk lewat konstruksi sosial budaya masyarakat sebagai legitimasi. Ong menuliskannya dalam artikel di Kompas , 13 November 1985, “Legitimasi Melalui Alam Gaib”. “Ong selalu tertarik dengan kepercayaan-kepercayaan tradisional terutama di Jawa. Dan salah satunya adalah Ong menjadi ahli tuyul. Ong terkenal karena tuyul,” tutur Reeve, “Ong adalah satu-satunya sejarawan atau ilmuwan serius terkenal dan muncul di Konferensi Tuyul di Semarang.” Onghohkam semasa muda. Di lingkungan akademis, Ong dikenal sebagai sejarawan dan dosen jurusan sejarah Universitas Indonesia (UI). Namun, ketertarikan Ong untuk menulis dalam pers sudah dilakoninya jauh sebelum menjadi mahasiswa sejarah UI. Ong awalnya menempuh studi hukum di UI seangkatan dengan Harry Tjan Silalahi yang kemudian menjadi politisi Partai Katolik. Namun, Ong tak kerasan belajar hukum. Ong lebih gandrung sejarah, yang menurut Reeve, terinsipirasi dari guru sejarahnya, Broeder Rosarius di HBS (setara SMA) Surabaya. Ketika masih kuliah hukum, Ong mulai menulis di majalah Star Weekly  pada 1950-an. Ong banyak menulis tentang sejarah orang Tionghoa peranakan. Hingga pada 1960, Ong memutuskan pindah menjadi mahasiswa sejarah di Fakultas Sastra UI. Setelah memperoleh gelar sarjana dengan risetnya tentang Gerakan Samin dan Runtuhnya Hindia Belanda, Ong kemudian melanjutkan pendididikan doktoral ke Universitas Yale. Di Amerika, Ong meraih dua keberhasilan. Pertama, gelar doktor dengan disertasi tentang Karesidenan Madiun Abad 19, dan yang kedua, keahlian memasak. Ong lebih bangga pada bagian yang terakhir. “Dia lulus dari Yale tahun 1975 dan kembali ke Jakarta untuk menjadi publik intelektual, sejarawan publik,” tutur Reeve. Menurut Reeve, periode 1971–2001 adalah tahun-tahun produktif Ong sebagai sejarawan publik. Selain menulis kolom sejarah di media, Ong juga banyak diwawancarai wartawan untuk diminta tanggapannya atas apa yang terjadi dari sudut pandang sejarah. Atas caranya menyampaikan sejarah, Ong menjadi favorit wartawan. Tidak hanya wartawan domestik, tapi juga wartawan asing seperti dari Amerika, Jepang, Belanda, dan Australia. “Jadi, Ong adalah [nara]sumber yang sangat baik untuk wartawan-wartawan. Dia tahu topik-topik yang sangat hangat. Dan dia bisa menghubungkan politik hari ini dengan sejarah,” terang Reeve. Dengan pengetahuannya yang luas, begitu pula caranya bertutur, Ong juga menjadi tamu langganan kedutaan asing. Ong sering kali diundang oleh kedutaan dengan alasan yang sama seperti wartawan. Sebagai sejarawan, Ong mengerti konteks politik modern. Dia tahu cerita-cerita mutakhir dari suratkabar sekaligus membicarakan sejarah Indonesia. Selain itu, Ong punya selera humor yang bagus seperti pelawak tunggal atau komika di zaman sekarang. “Di kedutaan, orang suka mengeremuni Ong dan kadang-kadang tertawa. Ong bikin jokes yang saya kira, dia dengan sengaja mengarangnya di rumah dan persiapannya matang. Tapi, kalau kita ke dinner  lain minggu itu, jokes  yang sama keluar lagi. Hanya jokes- nya yang sama tapi audiensnya baru,” celetuk Reeve. Tak pelak, lingkungan pergaulan Ong begitu luas, tak terbatas di kalangan sejarawan. Popularitas Ong juga relatif lebih dikenal. Pada tahun-tahun produktifnya, Ong kesohor sebagai sejawaran yang doyan pesta, makan, dan minum. Namun, Ong juga meninggalkan legasinya: artikel-artikel sejarah yang tersebar di berbagai media masa yang masih relevan untuk dibaca.*

  • Prajurit Keraton Ikut PKI

    WOENTOE dan Tombeng merupakan dua pemuda asal Minahasa yang menjadi tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL). Keduanya bertugas di Batalyon Infanteri ke-15 di Cimahi, Bandung. Pada pertengahan 1927, keduanya berada di Semarang entah karena sedang bertugas atau ada kegiatan lain non-tugas. Ketika di Semarang itu lah pada 13 Juli 1927 Woentoe dan Tombeng bertemu seorang Kopral Wakidi alias Prawirosoengoto dari Legiun Mangkunegara. Ketiganya lalu membicarakan politik.  Algemeen Dagblad  tanggal 26 Juli 1927 menyebut, selain membicarakan tentang Rusia dan Tiongkok yang bergolak, mereka bicara soal “pemerintahan asing dan kaum kapitalis.”     Kopral dari pasukan keraton Mangkunegara itu kemudian kembali ke Solo. Legiun Mangkunegara merupakan hulptroepen  (pasukan bantuan) bagi militer Belanda. Ketika itu yang berkuasa di keraton Mangkunegaran adalah Kanjeng Pangeran Aria Adipati Mangkunegoro VII (Raden Soerjo Soeparto). Woentoe dan Tombeng kemudian juga pergi ke Solo naik mobil. Kedua orang Minahasa itu menuju tangsi tentara kavaleri di Solo guna mereka mencari prajurit kavaleri KNIL bernama Rangkap. Ternyata Rangkap baru saja dari Manado.   Rangkap amat senang bertemu Woentoe dan Tombeng. Suasana hangat menyelimuti pertemuan mereka bertiga. Rangkap lalu diajak ikut dalam sebuah pertemuan di rumah Atmodikromo, yang juga serdadu Mangkunegara, pada Jumat (15 Juli 1927) malam.   Atmodikromo alias Soekarmin berpangkat soldaat   schoenmaker  (prajurit pengurus sepatu) di Legiun Mangkunegara. Ia bawahan dari Wakidi. Di sana, Rangkap berkenalan dengan pria yang tampak hebat di matanya dengan lencana kopral di seragamnya. Wakidi lalu bercerita soal pangkatnya.   “Saya telah melakukan yang terbaik dan belum lama ini diangkat menjadi kopral juru tulis," terang Wakidi kepada Rangkap. Usia Wakidi alias Prawirosoengoto ketika itu 44 tahun. Sedangkan Soekarmin masih 33 tahun. Singkat kata, Rangkap tertarik ikut gerakan yang dihelat di rumah Soekarmin itu. gerakan yang dimaksud adalah gerakan politik. Orang Minahasa dalam KNIL punya catatan setidaknya tiga kali memberontak terhadap Belanda di abad ke-20. Rangkap lalu diberi uang 500 gulden dan diminta mengajak prajuarit-prajurit kavaleri lain di kesatuannya untuk mendukung gerakan rahasia mereka. Rangkap setidaknya hendak membujuk 36 prajurit kavaleri di Solo untuk ikut dalam gerekan. Pun Kopral Prawirosoengoto, juga terus mencari kawan di kesatuannya.   “Dalam bulan ini, akan ada pemberontakan komunis, dan saat itu kau tidak boleh menembak mereka,” terang Kopral Prawirosoengoto.    Di masa itu, prajurit yang terlibat dalam komplotan itu makan mie yang cukup enak dan tak lupa mengajak orang-orang yang mau ikut untuk makan enak pula. Rangkap juga suka berbagi uang kepada kawan-kawannya di kesatuannya yang orang Madura. Masing-masing 5 gulden. Namun, tiada rahasia yang benar-benar aman di dalam kesatuan militer. Dua di antara kawannya itu lalu melapor kepada Kapten Gaerlings di garnisun Solo tentang adanya gerakan makar. Kerusuhan yang direncanakan terjadi pada 17 dan 18 Juli 1927 di Solo itu akhirnya mati sebelum lahir. Pembersihan dengan cepat dilakukan. Rangkap jelas diperiksa komandan kesatuannya, Letnan Dua Fockema. Kopral Prawirosoengoto dan Atmodikromo juga kena gulung.   Rencana pemberontakan militer itu kerap dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada 13 November 1926, orang sipil banyak terlibat pemberontakan yang terkait dengan PKI pula. Seperti orang sipil yang terlibat pemberontakan PKI pada 13 November 1926 di Jawa, Atmodikromo dan Wakidi juga diberi hukuman yang sama. De Indische Courant tanggal 20 Juli 1928 memberitakan, Kopral Prawirosoenggoto alias Wakidi dan Prajurit Atmodikromo alias Soekarmin lalu dibuang ke Boven Digoel. Keduanya adalah propagandis Sarekat Rajat Baroe yang tinggal di Surakarta. Kedua bekas Legiun Mangkunegaran itu pun menjalani isolasi di tengah belantara Papua yang sunyi dan sulit untuk melarikan diri.*

  • Sekolah Tertua di Depok

    SEDARI usia 18 tahun, Johanna Laurentia Laurens sudah menjadi guru. Mula-mula dia mengajar di Bogor, lalu Batavia, Solo, Pontianak, Makassar, Batavia, Tangerang, dan terakhir Sukabumi. Dia pensiun pada 1923 di Sukabumi lalu kemudian tinggal di Depok.   Pada 1948, Johanna sudah berusia 80 tahun. Diperkirakan dia lahir sekitar 1868 di Depok. Johanna  dari keluarga guru. Kakeknya seorang guru terpandang. Tuan Laurens yang dikenal sebagai Masteeer Toea alias Tjang Mètèng, demikian orang-orang menyapanya.   Tjang Mètèng, disebut Jan-Karel Kwisthout dalam Drie eeuwen Depok , guru pertama pada Depoksche School yang dirintis misionaris Kristen di Depok. Koran Het Nieuws van den dag voor Ned. Indie  tanggal 1 Juli 1939 menyebut Tjang Mètèng pernah sekolah di Jakarta dan diajar pendeta Inggris EW King, yang melayani Gereja Rehoboth di Jatinegara. Riwayat Depok terkait dengan komunitas Kristen Protestan pribumi di selatan Jakarta –Depok dianggap singkatan dari De Eerste Protestantse Organisatie van Kristenen (artinya Organisasi Kristen Protestan Pertama). Dulunya, kawasan Depok adalah tanah milih pegawai tinggi bagian pembukuan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) kaya raya bernama Cornelis Chastelein (1657-1714). Yano Jonathan dalam Depok Tempo Doeloe  mencatat, pada 18 Mei 1696, Cornelis Chastelein membeli tanah-tanah itu dari VOC. Tanah itu lalu diberdayakan hingga menghasilkan tebu, lada, pala dan kopi. Chastelein yang punya banyak budak memberdayakan mereka untuk menggarap tanah-tanah itu. Tanah-tanah itu kemudian dibagikan kepada 12 keluarga budak-budaknya yang masuk Kristen. Marga-marga para budaknya itu adalah Bacas, Isakh, Jonathans, Jacob, Joseph, Leon, Laurens, Leander, Tholense, Soedira, Samuel, dan Zadokh. Para bekas budak Chastelein itu dianggap sebagai Kristen pribumi pertama di tanah itu.   Gereja tempat orang-orang Kristen Depok itu menjadi tujuan dari pelayanan pendeta-pendeta Eropa.  De Locomotief  tanggal 5 Juli 1939 menyebut Scheurkogel, Akersloot, W. Medhurst dan H. Wentink adalah misionaris yang melayani gereja Depok pada abad ke-19. Semasa Medhurst melayani di sana, terjadi hal penting: sebuah sekolah diadakan. Diperkirakan sekolah itu dimulai pada 1830. Empat tahun kemudian, Medhurst melaporkan sekolah itu punya 52 murid.   Tjang Mètèng diajak Medhurst mengajar di sekolah itu. Tjang Mètèng kemudian dibantu Meester Jacob, saudaranya. Dengan menggunakan bahasa Melayu sebagai pengantarnya, mata pelajaran yang diberikan adalah membaca, menulis dengan huruf Latin dan Arab, aritmatika, menyanyi, dan agama. Tambahan terjadi ketika Wentink melayani gereja di Depok, di mana kerajinan tangan juga diajarkan.   Mula-mula sekolah itu menempati gedung yang akan rusak. Kemudian pada 1837, kegiatan belajar-mengajar diadakan di gedung baru. Dari masa ke masa, gedungnya pun mengalami perbaikan dan perluasan. Gedung sekolah ini dulunya sering disebut sebagai Russische Gevangenis (Penjara Rusia) setelah diperluas. Sekolah ini dulunya dikenal sebagai sekolah Kristen dengan doa yang mengawali dan mengakhiri hari belajarnya. Beberapa bulan setelah Indonesia Merdeka, kerusuhan anti-Belanda yang membabibuta di Depok terjadi pada Oktober 1945. Gedoran Depok, demikian orang menyebutnya, membuat nyawa orang-orang Depok terancam amuk massa rakyat yang tak mengenyam pendidikan formal sekolah-sekolah kolonial dulu.   Nyawa Johanna Laurentia Laurens juga terancam. Namun, nyawa pensiunan guru ini tertolong berkat bantuan dua mantan muridnya yang tergabung dalam Tentara Nasional Indonesia (TNI). Mula-mula dia diamankan di Kamp Bogor sebelum dibawa ke Jakarta. Setelahnya, Johanna tinggal di Jalan Mampang.   Sementara itu, sekolah pertama di Depok tempat kakek Johanna bernama Tjang Mètèng mengajar dulu, tetap bertahan mesti telah berganti “wajah”. Gedung Ebenhaezer, demikian tempat itu disebut, sempat menjadi gedung pertemuan Komunitas Depok dan kendati tetap menghelat kegiatan belajar-mengajar.   “Kini, Ebenhaezer telah kembali pada fungsi semulanya sebagai gedung sekolah dengan nama SMA Kasih,” tulis Praswasti Pembangunan Dyah Kencana Wulan dalam Digitalisasi Depok Lama: Sejarah, Peristiwa, dan Tinggalan Materinya .*

  • Buku Sejarah Indonesia, Highlight Akar Peradaban hingga Menjadi Indonesia

    PENULISAN kembali sejarah Indonesia yang jadi bagian dari perayaan 80 tahun kemerdekaan Indonesia, akhirnya tiba pada peluncurannya . Kendati sempat menimbulkan polemik, buku sebanyak 11 jilid itu diluncurkan pada Minggu (14/12/2025) petang di Plaza Intan Berprestasi, Kementerian Kebudayaan RI, Jakarta. Buku itu berjudul Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global.  Ditulis oleh 123 penulis dari 34 perguruan tinggi dan 11 penulis dari lembaga non-perguruan tinggi se-Indonesia. Tak lupa diampu 20 editor jilid dan tiga editor umum: Prof. Dr. Susanto Zuhdi (Universitas Indonesia), Prof. Dr. Jajat Burhanudin (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), dan Prof. Dr. Singgih Sulistiyono (Universitas Diponegoro). “Kita memfasilitasi para sejarawan menulis sejarah. Kalau sejarawan tidak menulis sejarah, lantas bagaimana kita merawat memori kolektif bangsa kita?” ujar Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon dalam agenda peluncuran buku tersebut. Ke-10 jilidnya meliputi sejarah panjang bangsa Indonesia sedari awal. Menurut editor umum Singgih, 10 jilid plus 1 jilid “Faktaneka dan Indeks” mencoba menarasikan proses “menjadi Indonesia” yang dimulai dari periode yang sangat awal, tepatnya di Jilid 1, Akar Peradaban Nusantara. Lalu Jilid 2, Nusantara dalam Jaringan Global: Perjumpaan dengan India, Tiongkok, dan Persia berkelindan ke Jilid 3, Nusantara dalam Jaringan Global: Timur Tengah. “Dari jilid satu terjadi komunikasi dan interelasi di antara berbagai macam suku bangsa di Indonesia. Kemudian juga berinteraksi dengan dunia global yang kemudian akhirnya disusul juga karena kegiatan perdagangan, pelayaran. Akhirnya kita terlibat secara aktif di dalam perdagangan dan pelayaran internasional dengan India, dengan China, dengan Persia. Kemudian juga disusul dengan jejaring pelayaran dan maritim dengan Timur Tengah sehingga menghasilkan kebudayaan Indonesia, kebudayaan Nusantara yang sangat khas dan berbeda dengan kawasan lain,” jelas Singgih. Lantas disusul Jilid 4 Interaksi Awal dengan Barat: Kompetisi dan Aliansi  (IV). Lalu Jilid 5 Masyarakat Indonesia dan Terbentuknya Negara Kolonial 1800-1900 , hingga Jilid 6 Pergerakan Kebangsaan , serta Jilid 7 Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan, dan Jilid 8 dengan tajuk Konsolidasi Negara Bangsa: Konflik, Integrasi dan Kepemimpinan Internasional (1950-1965). “Kita, ada satu jilid yang meneruskan jilid sebelumnya, yaitu bagaimana pemimpin kita pada waktu itu di bawah Bung Karno (Presiden Sukarno, red), melakukan konsolidasi negara bangsa dan mencoba menampilkan diri sebagai pemimpin dunia. Kemudian disusul dengan masa pemerintahan Orde Baru yang dipandang berfokus kepada stabilitas ekonomi, politik, dan keamanan. Meskipun di balik itu ada banyak paradoks yang terjadi sehingga akhirnya nanti ditutup dengan jilid yang terakhir tentang konsolidasi demokrasi,” tambahnya. Yang dimaksud adalah Jilid 9 Pembangunan dan Stabilitas Nasional: Era Orde Baru, (1967-1998). Lantas ditutup dengan Jilid 10 Dari Reformasi ke Konsolidasi: Demokrasi (1998-2024) , serta Jilid 11 Faktaneka dan Indeks. Meski tentunya diakui pula oleh Menteri Fadli Zon bahwa ke-11 jilid buku Sejarah Indonesia  itu belumlah sempurna. Makanya ia hanya menegaskan bahwa buku itu seperti sekadar  highlight  atau pembuka jalan bagi sejarah-sejarah yang lebih detail lagi. “Saya kira ini  highlight. Kalau sejarah kita ditulis secara lengkap harusnya 100 jilid. Jadi ini adalah  highlight dari perjalanan soal akar peradaban Nusantara. Ada sejarah yang saya kira penting untuk kita tulis dari salah satu jilid ini tetapi harus kita pertajam, perluas karena kroniknya cukup lumayan banyak, dinamikanya banyak, yaitu sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia 1945-1950. Kita juga perlu menulis sejarah tentang Majapahit yang komprehensif, sejarah tentang Sriwijaya, sejarah tentang Pajajaran, tentang kerajaan-kerajaan, kesultanan-kesultanan, maupun perjuangan-perjuangan lainnya,” terang Fadli. Menetapkan Hari Sejarah Selain peluncuran buku, Fadli Zon juga menetapkan tanggal 14 Desember sebagai Hari Sejarah lewat Surat Keputusan Menteri Kebudayan No. 206/M/2025 tentang Hari Sejarah tanggal 8 Desember 2025. “Ada usulan dari Masyarakat Sejarawan Indonesia tentang penetapan Hari Sejarah. Disesuaikan dengan satu peristiwa seminar sejarah pada tanggal 14 Desember 1957 di Universitas Gadjah Mada (UGM) karena waktu itu kita baru merdeka, lagi melakukan konsolidasi dan menuliskan sejarah dengan cara pandang Indonesia, Indonesia-sentris,” jelasnya. Sebagaimana diketahui, lanjut Fadli, Belanda punya versi berbeda ketika menulis jejak sejarahnya di Indonesia. Sehingga kemudian banyak menimbulkan terminologi-terminologi berbeda dalam sebuah peristiwa sejarah. “Belanda tidak merasa pernah menjajah Indonesia, mungkin, dan apa yang dilakukan merupakan bagian dari modernisasi. Bagi kita apa yang terjadi itu adalah penjajahan. Bagi Belanda Aksi Polisionil. Bagi kita Agresi Militer. Jadi banyak terminologi-terminologi yang berubah dan saya kira ini merupakan satu tuntutan zaman, bagaimana kita memandang sejarah dari perspektif Indonesia dari sisi Indonesia-sentris ini,” lanjutnya. Seperti disebutkan di atas, penetapan tanggal 14 Desember seolah turut memperingati bagaimana tokoh-tokoh sejarah, politikus, cendekiawan, hingga jurnalis berkumpul di UGM dalam Seminar Sejarah Nasional I, 14-18 Desember 1957. Seminar itu bak upaya lanjutan dari terbentuknya Panitia Sedjarah Nasional tahun 1951 yang anggota-anggotanya antara lain Mohammad Yamin, Husein Djajadiningrat, dan RM Ngabehi Poerbatjaraka. Seminar Sejarah Indonesia I di UGM pada 14-18 Desember 1957 disokong Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. Dalam seminar itu, visi dan aspek Indonesia-sentris –sebagaimana digaungkan Fadli Zon– sejatinya sudah eksis sejak seminar itu. Soal visi dan aspek Indonesia-sentris hingga periodisasi sejarah, para hadirin sama-sama satu kata. Hanya saja ketika sudah menyangkut konsepsi filsafat, terjadi “pertempuran” argumentasi dan retorika panas antara Moh. Yamin dan Soedjatmoko. Yamin adalah eks Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1953-1955) dan sudah punya reputasi dengan karya historiografi 6000 Tahun Merah Putih (1951) yang kata pengantarnya diberikan langsung oleh Presiden Sukarno. Sedangkan Soedjatmoko berasal dari kalangan diplomat dan kaum intelektual Partai Sosialis Indonesia (PSI). Ia hadir untuk mewakili Mohammad Hatta yang sakit dan berhalangan hadir. “Yang satu (Yamin) pacak dan lincah yang lain (Soedjatmoko) agak kaku bicaranya. Yang satu bertubuh lebar, sedangkan yang lain jangkung dan langsing. Yang satu orator, yang lain esais. Yang satu pandai mengucapkan kata-kata dan semboyan yang saban-saban memancing tepok tangan yang riuh dari pendengar yang berjumlah ratusan orang. Yang lain senantiasa berbicara dengan tenang; paling banyak reaksi di muka pendengarnya berupa senyuman,” tulis mingguan Star Weekly edisi 28 Desember 1957. Pada perdebatan itu, tampak panitia seminar cenderung mendukung Yamin. Akan tetapi tak sedikit komunitas sejarah yang terbatas condong mendukung Soedjatmoko. Hadir pula dalam seminar itu Sartono Kartodirdjo yang masih sejarawan muda. Ia mengakui meskipun seminar itu belum signifikan menghasilkan buku sejarah versi Indonesia-sentris, setidaknya sudah ada kesadaran menuju ke sana dan jadi tonggak penting penulisan sejarah di era berikutnya. “Meskipun seminar tidak memenuhi harapan peserta, tetapi tidak sedikit manfaatnya untuk memperdalam kesadaran akan peranan sejarah nasional sebagai sarana penting untuk pendidikan warga negara Indonesia, terutama untuk menimbulkan kesadaran nasionalnya dengan mengenal identitas bangsanya melalui sejarahnya,” tulis Sartono di kolom prakata buku Sejarah Nasional Indonesia (1975).*

bottom of page