Hasil pencarian
9656 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ali Alatas Calon Kuat Sekjen PBB
SEKJEN PBB trending topic di X karena berita (13/05) kutipan pernyataan Ketua Umum Solidaritas Merah Putih (Solmet) Silfester Matutina yang menginginkan Presiden Joko Widodo menjadi Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa ketimbang memimpin partai politik. Sebelumnya, Sekjen PBB juga trending topic setelah Joko Widodo menyampaikan pidato secara virtual dalam Sidang Umum PBB pada Rabu, 24 September 2020. Ada yang menilai pidato itu bagus sehingga Jokowi layak jadi Sekjen PBB.
- Coolen Mengkristenkan Jawa
SUATU hari pada dua abad silam. Datanglah orang Jawa jelata kepada seorang pria tua blasteran Jawa-Eropa di Desa Ngoro, Mojokerto. Singotaruno (Singo Stroeno), orang Jawa jelata itu, punya teka-teki yang diwariskan oleh ayahnya. Dia lalu menanyakan teka-teki itu kepada Coenrad Laurens Coolen (1773-1873), yang dikenal sebagai Mbah Coolen, pria sepuh tadi. “Tuan, saya punya teka-teki; siapa pun yang memecahkannya untuk saya, saya akan mengikutinya, dan saya akan menerima kata-katanya tanpa syarat. Teka-teki itu berbunyi sebagai berikut: ‘Di dalam Tuhan ada Tuhan; Tuhan yang terdalam ini, siapakah nama-Nya?” kata Singotaruno.
- Kisah Jenaka Para Petinggi PRRI/Permesta
Kala berjibaku menentang pemerintah pusat, tersua anekdot mengenai kelakuan pentolan Partai Masyumi dan PSI (Partai Sosialis Indonesia). Seperti dituturkan Abdullah Nazir, wartawan koran Masyumi, Abadi , kepada kawan masa kecilnya Ganis Harsono, perjuangan yang dilakoni PSI dan Masyumi menyiratkan ironi perjuangan yang aneh dan menggelikan. “Kalau pemimpin-pemimpin Masyumi seperti Mohammad Natsir dan Sjafruddin Prawiranegara tekun sembahyang lima waktu sehari semalam, mohon doa kepada Tuhan agar membantu perjuangan mereka di tengah-tengah hutan sekitar Bukittinggi. Sementara itu, pemimpin-pemimpi PSI enak-enak bersantai di meja judi di Jenewa, Roma Monte carlo, dan Beirut,” kata Nazir sebagaimana dicatat Ganis dalam memoarnya Cakrawala Politik Era Sukarno . Kepentingan PSI dan Masyumi sejalan dengan para panglima daerah yang juga membangkang terhadap kebijakan pemerintah pusat. Mereka kemudian bersama-sama menyalakan pemberontakan PRRI di Sumatra dan Permesta di Sulawesi pada 1958. Di luar negeri, tokoh-tokoh PRRI-Permesta memproklamasikan Republik Persatuan Indonesia (RPI) untuk mengkoordinasi semua aksi pemberontakan terhadap pemerintah pusat. Sjafruddin Prawiranegara ditunjuk menjadi presiden sekaligus perdana menteri dan menteri keuangan. Baca juga: Beda Cara PSI dan Masjumi Namun, pemberontakan yang disebut-sebut setengah hati itu tak berlangsung lama. Pasukan PRRI-Permesta menyerah kalah setelah ditumpas TNI yang dipimpin Jenderal Abdul Haris Nasution pada 1961. Rasa senasib sepenanggungan baru dialami para petinggi PRRI-Permesta ketika menjadi tahanan negara. Letkol Ventje Sumual, eks Panglima Teritorium VII/Wirabuana-Indonesia Timur yang kemudian menjadi Panglima Permesta, menuturkan pengalamannya waktu dijebloskan ke rumah tahanan di Cipayung, Jawa Barat dalam Memoar Ventje H.N. Sumual . Di situ sudah masuk lebih dulu Zulkifli Lubis, Nun Pantouw (asisten intelijen Ventje Sumual), dan mereka yang menyerah di luar negeri seperti Tan Goan Po, Ir. Herling Laoh. Penghuni baru datang lagi silih berganti. Kolonel Ahmad Husein, Mayor Sahala Hutabarat, dan dedengkot PRRI lainnya dari Sumatra. Yang dari luar negeri ada Willy Pesik, Daan Mogot, Boy Junus, Anwar Muin, dan lain-lain. Sementara itu, Mohammad Natsir, Duski Samad, Kolonel Maludin Simbolon, Sjafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap, dan Mr. Assaat ditempatkan di Jawa Timur dan Jawa Tengah. “Mereka sempat dikumpulkan bersama-sama kami, lantas kemudian disebar ke berbagai tahanan militer di Jawa,” kata Ventje. Baca juga: Drama Malam Natalan: Kisah Penangkapan Kolonel Maludin Simbolon Selama dalam tahanan, banyak kisah suka maupun duka. Mereka kebanyakan para politisi maupun perwira militer yang biasa membicarakan persoalan serius. Tapi, di sela-sela itu, tetap saja mereka manusia biasa yang punya sisi kocak dengan segala rupa gurauan. Misalnya waktu Sjarifuddin Prawiranegara mengobrol berdua dengan Dr. Soumokil. Nun Pantouw berceloteh ke sesama tahanan yang sedang duduk-duduk di tempat terpisah. “Lihat...! Dua Presiden sedang berunding. Presiden RPI dan Presiden RMS (Republik Maluku Selatan)!” kata Nun Pantouw ditirukan Ventje. Semua langsung terbahak-bahak. Apalagi ketika melihat gaya dua tokoh yang ditunjuk Nun itu betul-betul persis seperti sedang merundingkan masalah gawat. Baca juga: VOC di Balik Penangkapan Sjahrir cs. Pada Agustus 1963, sebagian tahanan politik PRRI-Permesta dipindah ke Rumah Tahanan Militer (RTM) di Jl. Budi Utomo dalam pengawasan Kejaksaan Agung. Zulkifli Lubis bahkan dipisahkan dari kawanan lantaran harus menempati sel isolasi bawah tanah di Kejaksaan. Menyusul kemudian masuklah Sutan Sjahrir ke RTM Budi Utomo, pindahan dari rumah tahanan di Jl. Keagungan. Saat itu, kondisi kesehatan Sjahrir memang agak terganggu karena tekanan darah tinggi. Ventje menuturkan, waktu Sjahrir terkena stroke, ia yang pertama kali melihatnya jatuh terduduk dalam kamar mandi. Sjahrir segera dipapah beramai-ramai. Para tahanan melakukan apa saja untuk menolongnya. Ada juga yang melapor ke petugas tahanan untuk diangkut ke rumahsakit. Sementara itu, Natsir dan Burhanuddin Harahap sibuk memijat tangan Sjahrir. “Kami semua berkerumun di sekitarnya. Suasana tegang. Perasaan was-was. Tiba-tiba ada yang nyeletuk, “Lihat..! Masyumi sudah berkoalisi dengan PSI!’,” kenang Ventje. Baca juga: Lelucon Para Kadet Ventje lupa siapa yang berkomentar demikian. Tapi yang jelas, gurauan itu terasa amat lucu. Namun, tak semua candaan berunsur politik. Ada juga lelucon ringan-ringan mirip gurauan anak bocah. Apalagi setelah berbaur dengan tahanan politik lain macam Mochtar Lubis, pemimpin redaksi harian Indonesia Raya . Mochtar dipenjara karena tuduhan bersekongkol dengan Zulkifli Lubis atas kekacauan politik di Sumatra. Meski demikian, selama sepuluh tahun perkaranya tak pernah disidangkan atau diadili. Sekali waktu Mochtar bercanda tentang nama panggilan masing-masing tahanan. Dia bilang yang paling jelek ialah Burhanuddin Harahap. Nama panggilannya: BH. “Ganti saja,” kata Lubis, “BH kan kutang , perabotan wanita.” Mendengar itu, Natsir langsung menambahkan, “ Sama dengan Nun Pantouw, sudah punya istri dan anak tapi masih saja dipanggil Nun, Biarawati!” Baca juga: Boyke Nainggolan, Tragedi Opsir Terbaik Maludin Simbolon tak mau kalah. Dengan nada meledek, ia menyahut, “Sama dengan Boyke Nainggolan, selamanya tetap anak kecil, boy .” Gelak tawa yang lainnya langsung mengikutinya. Mayor Boyke Nainggolan adalah anak buah Simbolon. Dialah yang memimpin Operasi Sabang Merauke yang menguasai kota Medan sebagai operasi militer pertama yang mendukung PRRI. Simbolon sendiri kerap bikin ulah dengan akal-akalan bikin kompor buatan dalam tahanan. Kreasi itu sebagai wujud protes atas menu makanan tahanan yang tak enak. Jadi, kompor buatannya itu berguna untuk memanaskan makanan kiriman keluarga yang membesuk. Biasanya dibeli dari restoran. Perkara kompor Simbolon itu sempat ketahuan dan jadi percekcokan dengan petugas. Tapi, Simbolon memang panjang akalnya. Baca juga: Di Balik Upaya Penangkapan Kolonel Simbolon “Ia meminta para pembezuk/keluarga-keluarga jika datang membawa lilin setiap kali. Lilin-lilin tersebut dilelehkan dalam wadah, ditaruh beberapa sumbu, jadilah kompor. Suatu hari ketahuan petugas dan dirampas! Tapi Simbolon buat lagi yang baru,” tutur Ventje. Masa penahanan berakhir ketika rezim Sukarno lengser. Penguasa Orde Baru yang dipimpin Jenderal Soeharto membebaskan Ventje Sumual dan kawan-kawan pada 1966. Ventje sendiri setelah bebas meniti kariernya sebagai pengusaha. Ia bersama Simbolon dan Ahmad Husein tetap menjadi kompatriot dalam PT Konsultasi Pembangunan, perusahaan yang mereka bentuk bersama.
- Mengenang Ansambel Gembira
MUDJI Astuti Martoyo masih berusia 16 tahun ketika diajak Putu Oka Sukanta mengisi program baca puisi dan cerita pendek di Radio Republik Indonesia ( RRI ) pada 1963. Di kantor radio inilah ia bertemu Sudharnoto, komponis kondang pencipta lagu "Garuda Pancasila". Oleh Sudharnoto, ia lalu diminta bergabung dengan paduan suara paling sohor di ibukota: Ansambel Gembira. Ansambel Gembira didirikan oleh Sudharnoto, Bintang Suradi, dan Titik Kamariah atau Titik Subronto pada 3 Februari 1952. Idenya muncul sejak mereka pulang dari Festival Pemuda dan Pelajar Sedunia di Berlin tahun 1951. Paduan suara yang bernapaskan semangat muda-mudi itu pun dibentuk.
- Potret Sejarah Indonesia
3 Februari 1942: Serangan Jepang SEBUAH kereta api tergelincir. Penyebabnya, pesawat-pesawat tempur Jepang menjatuhkan bom ke wilayah Surabaya. Sasaran utamanya adalah markas besar Angkatan Perang Belanda dan gedung radio NIROM (Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij) di Embong, Malang. Pelabuhan Surabaya juga jadi sasaran, yang menyebabkan seluruh buruh pelabuhan meninggalkan pekerjaan. Inilah awal serangan udara Jepang terhadap sasaran-sasaran di Jawa setelah sebelumnya merebut Tarakan (Kalimantan), Balikpapan, Pontianak, dan Samarinda. Pertempuran terjadi di laut antara armada Jepang melawan armada milik Belanda, Amerika, Inggris, dan Australia. Kemenangan Jepang memudahkan pasukannya untuk mendarat di Pulau Jawa. LIFE , 28 Januari 1946. November 1945: Potret Revolusi di Jawa PARA pemuda, berbekal bambu runcing dan hanya sebagian kecil yang mempersenjatai diri dengan senapan sitaan tentara Jepang, berkumpul dan siap bergerak untuk mempertahankan kemerdekaan. Foto ini, salah satu dari sekian foto yang diambil juru potret majalah LIFE , Johnny Florea, selama dua bulan meliput di Jawa pada November-Desember 1945. Menurut Florea, revolusi di Jawa menyeret situasi kekerasan. Ratusan lelaki Belanda diculik, ditahan, atau dibunuh. Ratusan ribu Belanda dan Indo, yang ditahan Jepang selama empat tahun, menjadi tahanan orang-orang Indonesia. Bentrokan senjata menghilangkan orang atau nyawa ratusan pasukan Inggris. Orang-orang Jawa, tentu saja, kehilangan beberapa kali lebih banyak dalam melawan pasukan Sekutu itu yang didukung persenjataan canggih. Wereldmuseum/Wikimedia Commons. 23-27 Juli 1947: Mengungsi Karena Agresi SEBUAH keluarga dengan dua anaknya yang masih kecil diangkut dalam keranjang, di jalan antara Sumedang dan Bandung. Mereka akan mengungsi karena Belanda melancarkan agresi militer Belanda pertama kepada Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat pada awal puasa Ramadan 1366 Hijriyah. Belanda berhasil menduduki Jawa Barat, Jawa Tengah, –Yogyakarta, Surakarta dan Kedu di luar tujuan operasi–, sebagian Jawa Timur –Bojonegoro, Madiun dan Kediri dalam kekuasaan Republik. Belanda juga menguasai Pantai Timur Sumatera, Pantai Barat Sumatera, dan Palembang. Dengan demikian, daerah-daerah perusahaan perkebunan, tambang, batubara, dan ladang minyak telah kembali ke tangan Belanda. Produksi barang perdagangan terpenting Hindia Belanda (minyak, karet, teh, kopra, dan gula) dapat dimulai lagi. Hindia Belanda kembali mendatangkan uang. Situasi finansial Belanda yang gawat pun berakhir. Dalam agresi militer ini, Belanda kehilangan 76 tentara tewas dan 206 luka-luka. Korban pihak Indonesia tidak diketahui pasti, tapi ditaksir sekira 10.000 orang tewas. IPPHOS 29 Juli 1947: Tragedi Dakota Pesawat Dakota VT-CLA, dengan logo Palang Merah di badan pesawat, yang bertolak dari Singapura dengan membawa obat-obatan sumbangan Palang Merah Malaya, ditembak jatuh pesawat P-40 Kitty Hawk Belanda di Desa Ngoto, Yogyakarta, sebelum mendarat di Pangkalan Udara Maguwo. Tragedi itu menewaskan Komodor Muda Udara Agustinus Adisucipto, Komodor Muda Udara Abdulrahman Saleh, dan Perwira Muda Udara I Adisumarmo Wiryokusumo. Ketiganya diabadikan menjadi nama bandara udara: Adisucipto di Yogyakarta, Abdulrahman Saleh di Malang, dan Adisumarmo di Solo. Tanggal 29 Juli kemudian ditetapkan sebagai Hari Bakti TNI AU. IPPHOS 17 Januari 1948: Perjanjian Renville SETELAH sebelumnya sepakat melakukan gencatan senjata, di atas kapal USS Renville yang berlabuh di Tanjung Priok, Jakarta, delegasi Indonesia dan Belanda menandatangani Perjanjian Renville . Delegasi Indonesia dipimpin Perdana Menteri Amir Sjarifuddin, sementara delegasi Belanda dipimpin Abdulkadir Widjojoatmodjo, orang Indonesia yang memihak Belanda. Penandatanganan disaksikan Frank Graham, wakil Amerika Serikat dalam Komisi Tiga Negara (KTN). Perjanjian Renville merugikan Indonesia karena wilayahnya kian sempit. Sementara Letnan Gubernur Jenderal Van Mook terus mendorong pembentukan negara-negara federal untuk merealisasikan Republik Indonesia Serikat (RIS). Sesuai perjanjian tersebut, Republik Indonesia juga akan menjadi bagian dari RIS. Perjanjian Renville membuat Kabinet Amir Sjarifuddin jatuh.*
- A Historical Pilgrimage to Petamburan, Jakarta (3-End)
From Johan Kepler Panggabean's grave, we continue walking to the back of the Petamburan Public Cemetery, where there is a block of Chinese graves. In one of the rows, we find the grave of Tan Tjeng Bok. Although not grand, the inscription on the gravestone sparks attention. At the top of the gravestone, there is a cross flanked by two angels. The next part explains who is buried there. “Actor of Three Eras. Has returned to the Father's house in Heaven. Born June 4, 1900. Died February 15, 1985. Tan Tjeng Bok (Pak Item),” reads the inscription on the tombstone. Tan Tjeng Bok was a prominent Indonesian artist who spanned three eras. In addition to being a film actor, he was known as a keroncong artist, theater actor, and comedian. As indicated on his tombstone, Tan Tjeng Bok's artistic career spanned three eras.
- Cinta Hoegeng-Mery Bermula dari Sandiwara Radio
SAIJAH, lelaki yang menjadi tunangan seorang gadis Banten, Adinda merantau ke Batavia karena kerbaunya dirampas penguasa. Beberapa lama kemudian dia rindu kembali pulang ke kampungnya di Desa Badur, Lebak. Dia berharap bisa menemui Adinda dan menikahinya segera. Namun tragis, dia mendapati kampungnya telah porak poranda oleh serbuan Belanda. Saijah juga tidak bisa bertemu Adinda. Kabarnya Adinda pergi melarikan diri bersama keluarganya dan beberapa penduduk kampung ke Lampung terus melawan penyerangnya. Besarnya cinta Saijah membuatnya ingin menyusul Adinda. Dia ke Lampung untuk ikut bertempur melawan Belanda. Sayangnya, di sana dia justru kembali menemukan kampung yang hancur terbakar karena serangan penjajah. Dalam huru-hara itu, dia mendapati Adinda mati dengan tragis bersama keluarganya.
- Alarm Perang Dunia Ketiga
TANDA pagar (tagar) “Perang Dunia III” tengah meramaikan jagat maya beberapa hari belakangan. Beberapa meme bertema sama juga mencuat di sana-sini meski belum menghapus kecemasan akan “alarm” Perang Dunia Ketiga yang bukan isapan jempol belaka. Banyak pengamat militer dan politik, bahkan sejumlah pemimpin dunia, mengkhawatirkan potensi itu selepas serangan drone Amerika Serikat yang menewaskan petinggi militer Iran paling dihormati, Jenderal Qassem Soleimani, di Baghdad, 3 Januari 2020. Pasalnya, sehari berselang Iran mengibarkan bendera merah sebagai simbol perhitungan. Baik pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei maupun Presiden Iran Hasan Rouhani, sama-sama menjanjikan pembalasan militer, bukan solusi diplomatis. Gawatnya, Presiden Amerika Donald Trump membalas ancaman itu dengan mengatakan, jika Iran bikin perhitungan secara militer, ia bakal hantam balik 52 lokasi penting Iran. Apakah ini bakal jadi pemicu PD III? Atau mungkin PD III malah bakal bermula di Laut Cina Selatan, mengingat situasi di wilayah laut yang dipersengketakan ini juga memanas beberapa tahun belakangan, dengan yang terbaru sengketa RI-RRC di Natuna?
- Misteri Kematian Kahar Muzakkar
JAKARTA, pertengahan 1980-an. Malam sebentar lagi akan mencapai puncaknya, saat telepon berdering di rumah Anhar Gonggong. Begitu diangkat, seseorang di seberang telepon meminta bicara langsung dengan sejarawan ternama itu. Dialek Bugis sangat kental terasa dalam nada bicaranya. “Andi Anhar?” “Ya saya sendiri,” jawab Anhar. “Kau mau bertemu dengan Pak Kahar Muzakkar?” “Buat apa? Dia sudah meninggal,” Tut tut tut. Tetiba telepon pun terputus. Bagi Anhar Gonggong, wajar jika masih ada orang-orang yang meyakini Kahar Muzakkar masih hidup. Sebagai tokoh kharismatik dan berpengaruh di wilayah Sulawesi, tak sedikit para pengagumnya yang “tetap menginginkannya” hidup.
- Jenazah Kahar Muzakkar Dikenali dari Celana Dalam
PADA akhir Januari 1965, Peleton I/Kompi D seharusnya sudah kembali ke basis karena perbekalan sudah habis sehingga mereka makan dedaunan. Pasukan di bawah komandan Peltu Umar ini bagian dari Operasi Kilat yang mengerahkan empat Kompi Yon 330/Kujang, pasukan RPKAD, dan Kompi Raiders/Hasanuddin. Peltu Umar meneruskan patroli sepanjang Sungai Lasolo karena mendapat petunjuk baru letak markas Kahar Muzakkar, pemimpin DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) yang mendeklarasikan Republik Persatuan Islam Indonesia (RPII). Markas persembunyian Kahar dibocorkan oleh perwira kepercayaannya, Letkol Kadir Junus yang menyerahkan diri kepada TNI. Dia memberitahu bahwa Kahar bersembunyi di suatu tempat di Sulawesi Tenggara, sekitar Sungai Lasolo, Kabupaten Kendari.
- Sinong Kurir Kahar Muzakkar
INI adalah kali ketiga dia memasuki kota Makassar setelah beberapa tahun tergabung dalam kelompok yang tidak puas dengan pemerintah pusat di Jakarta. Minggu-minggu sebelumnya dia berada di Palopo yang –berjarak sekitar 372 km dari Makassar– masih dikuasai kelompok Kahar Muzakkar. Kali ini, di Makassar keberuntungan jauh darinya. Dirinya tertangkap oleh aparat pemerintah di kota tersebut. Koran Java Bode tanggal 14 April 1954 memberitakan kurir malang ini tertangkap pada Senin, 12 April 1954 setelah 11 hari meninggalkan Palopo. Kurir Kahar Muzakkar yang tertangkap ini kemudian diidentifikasi sebagai Sinong, yang berusia 28 tahun.
- Kahar Muzakkar Buka Warung Kala Perang Dunia
La Domeng muda cukup beruntung dibanding anak-anak Indonesia kebanyakan. Setidaknya, dia bisa bersekolah, bahkan pernah sekolah Muhammadiyah di kota Solo. Selama bersekolah di Jawa itu, ada tokoh Muhammadiyah terkena bernama Kahar Muzakkir. Nama itulah yang kemudian digunakan La Domeng hingga akhir hayatnya. Setelah bertahun-tahun belajar di Jawa, Kahar Muzakkar (1920-1965) pulang kampung ke Sulawesi Selatan. Dia membantu bisnis orangtuanya dan terlibat bisnis pengiriman kulit kayu bakko ke Jepang. Namun, kerjasama dagang Jepang itu membawa konsekuensi politik bagi keluarga tersebut. Sebab, Jepang sudah diawasi pemerintah Hindia Belanda sejak sebelum 1940 meski barang-barang buatan Jepang sudah banyak masuk ke Jawa dan kota-kota lain di Hindia Belanda. Arsip Kabinet Perdana Menteri 1950-1959 nomor 939 menyebut nama Kahar kemudian masuk dalam daftar hitam pemerintah Hindia Belanda.




















