top of page

Hasil pencarian

Search this site

9997 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sosok di Balik Corong AD dalam Dokumen Rahasia AS

    PADA 1967, Elliot Haynes, ketua Business International Corporation (BIC), menemui 40 tokoh Indonesia untuk mendiskusikan mengenai kemungkinan investasi modal asing di Indonesia. Hasil pertemuannya dituangkan dalam tulisan bertajuk “Elliott Haynes ‘Indonesian Diary’”, satu dari 39 dokumen rahasia AS yang telah dideklasifikasi pada 17 Oktober 2017. Salah satu tokoh penting yang ditemui Heynes adalah Kolonel Inf. Djojopranoto S, BA. Pertemuan berlangsung pada sore hari tanggal 27 November 1967 di Jalan Medan Merdeka 13, Jakarta. Dalam tulisannya, Haynes menyebut Djojopranoto sebagai pemimpin redaksi harian Angkatan Bersendjata merangkap anggota parlemen untuk keamanan, pertahanan, dan urusan luar negeri. “Kolonel [Djojopranoto] pemimpin redaksi surat kabar yang merupakan juru bicara resmi untuk seluruh militer. Dalam skala nasional memiliki sirkulasi 40.000 tiras sedangkan terbitan lokal mencakup 200.000 tiras. Terbitan ini masuk ke tentara, polisi, dan veteran,” tulis Heynes.

  • Hans Christoffel Memburu Panglima Polem

    ORANG Aceh sulit ditaklukkan oleh militer Belanda. Perang Aceh berkobar sejak 1873. Ekspedisi militer Belanda pertama di Aceh harus memakan korban yang cukup memalukan. Jenderal Mayor J.H.R. Kohler terbunuh oleh penembak runduk Aceh. KNIL kehilangan banyak serdadu di Aceh. Kerkhof (pemakaman) Aceh adalah bukti kegigihan orang Aceh. Setelah tahun 1889, militer Belanda menyadari taktik lama melawan orang Aceh tidak efektif. Pasukan KNIL dalam jumlah besar tak bisa bergerak terpisah jauh dari jalur logistik. Lalu terpikir oleh mereka sebuah pasukan kecil yang mampu bergerak mandiri meski jauh dari pangkalan. “Pada tahun 1889 dibentuk dua detasemen pengawalan mobil yang dapat dianggap sebagai pelopor korps yang sesudah dua puluh tahun akhirnya merupakan jawaban terhadap masalah-masalah militer yang dikemukakan oleh Perang Aceh,” tulis Paul van t’Veer dalam Perang Aceh: Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje.

  • Setelah Surono Mengambil Soetojo

    HARI ini, 30 September, 58 tahun silam. Sersan Mayor Surono Hadiwijono bersama rekan-rekannya bergerak ke sebuah desa di Jakarta Timur yang bernama Lubang Buaya. Letaknya dekat dari Lanud Halim Perdanakusuma. Mereka diperintahkan oleh komandan batalyon mereka, Letkol Untung Sjamsuri. Surono merupakan komandan Peleton II Kompi C Batalyon Kawal Kehormatan 1 Resimen Tjakrabirawa. Pemuda asal Solo berusia 35 tahun itu, menurut buku Gerakan 30 September di Hadapan Mahmillub 2 di Jakarta: Perkara Untung,sehari-harinya tinggal di Asrama Tjakrabirawa Tanah Abang II selama di Jakarta. Surono tentu bangga bisa menjadi bagian dari pasukan pengaman presiden itu. Pasalnya, hanya orang-orang pilihan dari empat matra ABRI yang bisa masuk Tjakrabirawa.

  • Pendiri Pink Floyd Peduli Palestina

    ROGER Waters, pendiri sekaligus pembetot bass Pink Floyd, sial. Sikap politiknya yang mendukung kemerdekaan Palestina membuatnya diboikot. Sejumlah konsernya yang akan dihelat di Argentina, Uruguay, Chile dan lain-lain pun hampir pasti batal kendati tiket sudah terjual habis. Boikot itu, menurutnya, tak lepas dari lobi yang dilakukan pihak Israel. “Mereka baru saja mencoba membatalkan pertunjukan saya... di sini di Santiago, Chile, di mana saya tahu saya sangat populer, bukan hanya karena tiket konser saya suha terjual habis,” ujarnya, dikutip cnnindonesia.com, 6 Desember 2023. Roger konsisten dengan sikap anti-penjajahannya. Tak hanya anti dengan kehadiran tentara pendudukan Israel di permukiman orang-orang Palestina, Roger juga risih dengan tembok pemisah antara orang Israel-orang Palestina yang dibangun pemerintah zionis Israel. Roger pernah menyerukan Israel untuk meruntuhkan tembok pemisah di Tepi Barat yang terbuat dari beton itu.

  • Freddie Mercury yang Tiada Dua

    SEJAK berita film biopik Freddie Mercury, Bohemian Rhapsody, menyebar, nama vokalis band legendaris Queen itu kembali jadi buah bibir. Para fans Queen maupun Freddie di Indonesia ikut memperbincangkannya. “Kualitasnya itu lho. Musikalitasnya tinggi. Notasi lagu (yang, red.) dia buat juga unik. Enggak seperti rata-rata vokalis rock. Gaya dan kostumnya juga unik dan modis,” ujar musisi Ophie Danzo kepada Historia.ID. Opini senada juga diungkapan Paulus Sugito, fans Freddie dan Queen yang lain. “Musiknya bikin hilang kantuk kalau sedang nyetir. Hampir semua lagunya up beat. Apalagi dengar suara khas Freddie yang enggak ada yang bisa menyamakan. Penampilan kostum dan gayanya juga enggak mau mengikuti gaya orang lain, justru jadi trend-setter,” kata wiraswastawan berusia 42 tahun itu.

  • Semaoen dan Sneevliet, Simbiosis Mutualisme Mentor dan Murid

    SUATU hari pada Desember 1918, Semaoen mesti merelakan mentornya pergi. Tiga tahun lamanya, sejak 1915, Semaoen berguru padanya: Hendricus Josephus Franciscus Marie ‘Henk’ Sneevliet sang mentor. Sneevliet diusir paksa dari Hindia Belanda lantaran dianggap gangguan berbahaya oleh pemerintah kolonial yang dipimpin Gubernur Jenderal Johan Paul van Limburg Stirum. Sejak dibebaskan dari penjara pada November 1917, Sneevliet kembali aktif di organisasi Marxis yang didirikannya, Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV/Perhimpunan Sosial Demokrat Hindia) dan serikat buruh keretaapi dan trem Vereniging van Spoor-en Tramswegpersoneel (VSTP). Gubernur Jenderal Limburg Stirum geram pada Sneevliet yang makin ganas menyerang pemerintahannya. Klimaksnya pada 5 Desember 1918, ia menggunakan hak luar biasa, Exorbitante Rechten, untuk membuang Sneevliet tanpa peradilan. Sneevliet pun dicokok lagi lalu “dikapalkan” kembali ke Belanda.

  • Dukungan Paku Alam pada Republik Indonesia

    KGPAA Paku Alam VIII ditetapkan sebagai salah satu pahlawan nasional pada 3 November 2022. Penetapan itu dilakukan pemerintah lewat Keputusan Presiden Nomor 96 TK Tahun 2022 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Penganugerahan tersebut diumumkan Presiden Joko Widodo dalam pidatonya di Istana Negara hari ini, 7 November 2022. Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional terhadap Paku Alam VIII tentu menimbulkan suka-cita bagi warga Yogyakarta. Pasalnya, usulan untuk penganugerahan gelar tersebut kepada Paku Alam VIII sudah lama dilakukan. “Semua elemen masyarakat dan pemerintah daerah DIY menyatakan kebulatan tekad untuk mengusulkan gelar Pahlawan Nasional bagi KGPAA Paku Alam VIII sejak tahun 1997,” demikian dikatakan Dinas Sosial Provinsi Yogyakarta dalam lamannya, dinsos.jogjaprov.go.id.

  • Detik-detik Terakhir Kartosoewirjo

    PADA 4 Juni 1962, satu kompi batalyon Kujang II Siliwangi menyergap dan menangkap Imam Negara Islam Indonesia (NII), Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, dan pengikutnya di daerah Gunung Sangkar dan Gunung Geber di Jawa Barat. Bermain kucing-kucingan dengan Tentara Nasional Indonesia selama masa pengejaran, termasuk bersembunyi dan bertahan di dalam hutan, membuat tubuhnya jadi renta dan tak terawat. Saat tertangkap, dia diserang berbagai penyakit. Badannya kurus. Rambut dan kumisnya memutih. Dia terlihat lebih tua dibanding usianya saat itu, 57 tahun. Usai ditangkap, Kartosoewirjo menjalani persidangan selama 14–16 Agustus 1962. Dia dikenai tiga tuduhan: memimpin dan mengatur penyerangan, hendak merobohkan pemerintahan Republik Indonesia yang sah, dan membunuh presiden. “Tuntutan kedua dan ketiga ditolak oleh Kartosoewirjo,” kata Sardjono Kartosoewirjo, putra bungsu Sang Imam.

  • Akhir Hidup Sang Imam Negara Islam Indonesia

    DELAPAN puluh satu foto terpampang berurutan di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Foto-foto itu memperlihatkan adegan demi adegan saat-saat terakhir hidup imam DI/TII SM Kartosoewirjo. Dalam salah satu foto, Kartosoewirjo enggan menyantap makanan terakhirnya sebelum dia dieksekusi. “Makan terakhirnya nasi rendang,” kata Fadli Zon, penyusun buku Hari Terakhir Kartosoewirjo: 81 Foto Eksekusi Imam DI/TII yang diluncurkan pada 5 September 2012. Foto-foto selanjutnya merekam tahap-tahap pelaksanaan eksekusi mati bagi pemimpin gerakan pendirian negara Islam Indonesia itu. Entah apa yang ada di benak tokoh Islam yang pernah sama-sama Sukarno dididik di rumah Tjokroaminoto itu. Dalam sebuah foto dia tampak termenung memikirkan apa pesan terakhirnya sebelum ajal menjemput.

  • The Four Sorrows of Maria Ullfah

    TWO photographs from historian Harry A. Poeze’s collection capture the final moments of a man dressed entirely in white. He walked with a straight back even as death approached. Several armed soldiers escorted him to his predetermined place of execution. Meanwhile, thousands of pairs of eyes, from small children to adults, stared intently at him. The man was Dr. Wiroreno, the Regent of Pati who sided with Musso during the 1948 Madiun Incident. He served as Chairman of the People’s Democratic Front (FDR) in Pati. Musso was declared responsible for the events in Madiun. The Indonesian Communist Party was accused of being the culprit of the incident. The FDR, led by former Prime Minister Amin Sjarifuddin, was also implicated. As a party deemed guilty by the Sukarno-Hatta government, Wiroreno faced the death penalty imposed by the military authorities. He died after a bullet pierced his heart during an execution under a shady banyan tree in Pati’s town square. That news in November 1948 was the first tragedy for Maria Ullfah and Santoso.

  • Gunung Anak Krakatau dan Tsunami Selat Sunda

    PADA suatu sore, 29 Juni 1927, hampir 44 tahun berlalu dari letusan dahsyat induknya, Gunung Krakatau. Nelayan yang tengah menarik jaring setelah seharian mengayuh perahu, menyaksikan sesuatu yang luar biasa dan tidak terduga. Dengan bergemuruh, gelombang-gelombang gas yang sangat besar mendadak menyembul ke permukaan laut. Gelembung-gelembung itu dengan kombinasi yang aneh dan acak, muncul di mana-mana, mengelilingi perahu. Nelayan itu kebingungan dan ketakutan. Gelembung-gelembung itu meledak, menyemburkan abu dan gas belerang yang berbau busuk. Gelembung-gelembung itu, menurut jurnalis Simon Winchester dalam Krakatau: Ketika Dunia Meledak, 27 Agustus 1883, merupakan indikasi pertama di permukaan bahwa sebuah gunung berapi baru yang mengintai jauh di dasar laut tengah berusaha membangun dirinya.

  • Tulisan dan Media Tulis

    SEBELUM manusia mengenal tulisan, bahasa lisan mendominasi komunikasi manusia. Tak ada yang tahu seperti apa bahasa yang digunakan lantaran tak ada jejaknya. Beberapa cara berkomunikasi lainnya adalah dengan menggambar di bebatuan dan dinding gua. Penemuan tulisan pada 5000 SM menjadi salah satu pencapaian terbesar akal budi manusia. Bangsa Sumeria (huruf paku) dan Mesir (hieroglif) dianggap sebagai peletak tonggak pertama sistem tulisan. Pada 3000 SM, alfabet kuna muncul di Kanaan, Palestina, yang kelak berevolusi menjadi alfabet modern. Secara perlahan, penemuan ini mengubah cara manusia berkomunikasi, mengirimkan pesan, atau mengungkapkan perasaan dan gagasannya.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bottom of page