top of page

Hasil pencarian

9727 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Merayakan Kolaborasi Seni dan Budaya di Festival Seni Multatuli

    FESTIVAL Seni Multatuli hadir lagi di Alun-Alun Timur, tak jauh dari Museum Multatuli, Rangkasbitung, Lebak, Banten. Dengan mengedepankan tema “Orang-Orang Baru dari Banten”, hajatan terbuka untuk umum yang dihelat pada 19-21 September 2025 itu kembali menyuguhkan memori akan Multatuli lewat kolaborasi seni-budaya lokal dan nasional.    Multatuli adalah nama pena dari Eduard Douwes Dekker. Ia pernah bekerja sebagai ambtenaar hingga asisten residen kolonial Hindia Belanda di Sumatra, Purwakarta, dan Lebak pada pertengahan abad ke-19.    Multatuli kondang lewat karyanya, Max Havelaar (1860). Novel satire yang lantas mengguncang kolonialis Belanda itu karena secara gamblang menguak penindasan oleh kolonialis di tanah Hindia. Max Havelaar membangkitkan pemikiran-pemikiran anti-kolonialisme lantaran juga dibaca banyak tokoh dunia.

  • Penggerak Orang Mudik

    BARU-baru ini, Kementerian Perhubungan menyebut Hari Raya Idulfitri tahun 2024 diperkirakan sekitar 193,6 juta orang Indonesia (setara dengan 71,7% penduduk Indonesia) akan mudik ( antaranews.com ). Ini angka yang sangat besar, dan, bila terwujud, akan menjadi Lebaran dengan pemudik terbanyak dalam sejarah Indonesia.   Kemenhub juga melakukan survei terhadap 47.107 responden yang tersebar di 38 provinsi, dan menanyakan alasan mengapa mereka mudik. Tiga alasan terbesar adalah untuk merayakan Idulfitri di kampung (52% responden), berkunjung ke keluarga di kampung (35,2%), dan berwisata (10,6%). Apa yang bisa kita persepsikan dari angka-angka ini, terutama dari tinjauan sejarah? Pada hakikatnya, alasan prinsipil yang menggerakkan hampir 200 juta orang Indonesia berakar pada satu kata: rumah, atau lebih tepatnya, rumah di kampung halaman. Rumah di sini bukan hanya konstruksi bangunan, yang terdiri atas fondasi, dinding, lantai, pintu, jendela, ventilasi hingga atap, tetapi lebih dari itu.

  • Awal Mula Mudik dengan Pesawat Udara

    BEBERAPA minggu terakhir ini masyarakat Indonesia dihebohkan dengan harga tiket pesawat terbang yang naik gila-gilaan menjelang mudik Lebaran. Tiket kelas bisnis dari Bandung ke Medan, misalnya, mencapai Rp21 juta. Seberapa pun para perantau Sumatera di Jawa bekerja keras dan menabung untuk pulang kampung, jumlah sebanyak itu tetap saja terasa sangat berat dan sulit diterima. Akibatnya, kini terjadi penurunan tajam pemudik berpesawat sekaligus lonjakan drastis pemudik yang menggunakan bus, kereta, dan kapal, serta kendaraan pribadi, termasuk sepeda motor yang dinaiki dua hingga empat orang, plus barang-barang. Sejak awal kelahirannya, mudik naik pesawat memang sudah mahal. Setelah kemudian sempat terjangkau, harganya belakangan ini naik lagi. Ada beberapa pertanyaan yang menarik soal mudik berpesawat ini. Kapan sebenarnya masyarakat Indonesia mulai mudik dengan pesawat? Siapa saja yang memilih pesawat untuk mudik dan apa maknanya? Bagaimana dinamika mudik dengan pesawat dalam beberapa dekade terakhir di Indonesia?

  • Pemogokan Buruh Kereta Api di Bulan Puasa

    SEPULUH hari menjelang Lebaran pada Mei 1923. Buruh-buruh kereta api di Jawa murung. Biasanya mereka menyambut lebaran dengan riang. Pengaruh resesi ekonomi sejak pertengahan 1922 masih terasa. Perusahaan kereta api negara dan swasta menghapus sejumlah tunjangan dan memangkas kenaikan gaji. Hidup belasan ribu buruh tak menentu. Buruh-buruh kereta api memutuskan bertindak. Bulan puasa tahun 1923 menjadi puncak perlawanan mereka terhadap kebijakan perusahaan kereta api. Mereka mogok kerja pada 9 Mei 1923, tepat sepuluh hari sebelum Lebaran. Tuntutan buruh sederhana saja: perbaikan kesejahteraan.

  • Alasan Libur Puasa Anak Sekolah Ditiadakan

    DAOED Joesoef baru dua bulan menjabat menteri pendidikan dan kebudayaan (P dan K) pada Mei 1978. Tapi dia sudah kena semprot Majelis Ulama Indonesia (MUI). Musababnya Daoed hendak mengubah libur sekolah selama bulan puasa, dari sebulan lebih menjadi beberapa hari saja pada awal dan akhir puasa. Hamka, ketua MUI, keberatan dengan niat Daoed. Menurutnya, perubahan libur puasa mesti lewat kajian mendalam dari beragam pihak. Tak bisa ujug-ujug muncul dan langsung diterapkan. Libur puasa bagi anak sekolah “mengandung aspek-aspek yang luas dan masalahnya dianggap cukup peka, maka MUI menyarankan supaya diadakan satu lokakarya oleh Departemen P dan K, Departemen Agama, dan Dewan Pimpinan MUI untuk membahas persoalan itu secara mendalam,” tulis Yunan Nasution dalam “Libur Sekolah Bulan Ramadhan” termuat di Serial Media Da’wah , No. 60, Juni 1979.

  • Libur Puasa Anak Sekolah Zaman Belanda

    SABAN datang bulan puasa, anak sekolah kebagian jatah libur cukup banyak. Mereka libur pada jelang puasa sampai hari-hari awal puasa. Kemudian mereka masuk sekolah lagi beberapa hari. Mereka kembali libur ketika dekat lebaran sampai seminggu lepas lebaran. Bagaimana sejarahnya? Libur puasa anak sekolah bermula ketika sistem pendidikan modern masuk ke Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Sistem ini garapan pemerintah kolonial dan berada di bawah naungan Departemen Pendidikan, Agama, dan Kerajinan yang kemudian berubah jadi Departemen Pendidikan dan Agama pada 1912.

  • Boedi Oetomo di Bulan Puasa

    BOEDI Oetomo didirikan oleh para pelajar STOVIA (Sekolah Dokter Pribumi) di Batavia pada 20 Mei 1908 . Ia disebut sebagai organisasi modern pertama sehingga tanggal pendiriannya, 20 Mei ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Sebulan kemudian, Soewarno, sekretaris Boedi Oetomo, mengumumkan pendirian Boedi Oetomo di koran Bataviaasch Nieuwsblad . “Dalam pernyataannya yang pertama ini Soewarno mengumumkan bahwa sidang umum (kongres, red. ) pertama Boedi Oetomo akan diselenggarakan pada bulan puasa (Oktober) di Yogyakarta,” tulis sejarawan Akira Nagazumi dalam Bangkitnya Nasionalisme Indonesia: Budi Utomo, 1908-1918 .

  • Letusan Gunung Tambora Musnahkan Dua Kerajaan

    BARU sehari masuk bulan Jumadilawal. Subuh tak kunjung benderang tatkala petaka menyembur dari dalam Tanah Bima. Seakan meriam perang tengah diletuskan. Batuan dan hujan abu seperti dituang. Tiga hari dua malam tak berkesudahan. Ketika tiba terang, tampaklah rumah dan tanaman rusak seperti diterjang perang. Gunung Tambora telah membawa tamat bagi dua negeri: Tambora dan Pekat. Dari penuturan naskah  Bo’ Sangaji Kai  itu bisa dibayangkan letusan Gunung Tambora seakan kiamat khususnya bagi Kerajaan Tambora dan Pekat. Penyebabnya, menurut naskah itu akibat tindakan jahat Sultan Tambora, Abdul Gafur. Malapetaka baru berakhir berkat orang bersembahyang. Namun, kemelaratan, kelaparan, dan penyakit tak bisa tertolong.

  • Gunung Tambora Meletus dalam Naskah Kuno

    BEBERAPA naskah kuno menyebutkan Gunung Tambora di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, meletus lantaran Abdul Gafur, raja kerajaan Tambora, melakukan kelalaian. Dia memerintahkan pembunuhan seorang warga keturunan Arab dengan alasan telah menghina kerajaan. Dalam Syair Kerajaan Bima karya Khatib Lukman, sebagaimana termuat dalam Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah karya Henri Chambert-Loir, orang yang dibunuh itu bernama Haji Mustafa. Syair yang ditulis sekitar tahun 1830 itu mengisahkan tentang Haji Mustafa yang segala permintaannya selalu dikabulkan Allah karena dirinya pernah mengunjungi Baitullah. Penduduk setempat meyakininya sebagai orang keramat.

  • Tambora Disangka Letusan Meriam Nyi Roro Kidul

    GUNUNG Tambora di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, mulai meletus pada 5 April 1815. Lahar menyelimuti permukaan gunung dan bergerak menyapu desa-desa di sekitarnya. Abu vulkanik menyebar sampai Jawa Barat dan Sulawesi Selatan, diikuti hujan abu seminggu kemudian. Kala itu, mereka yang berada di pulau lain hanya bisa bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Laporan dari petugas kolonial di Makassar, Maluku, dan Jawa senada menyebutkan bahwa pada 5 April 1815 terdengar suara tembakan meriam dari seberang lautan, tetapi tak diketahui dari mana asal-usulnya.

  • Siapakah Sebenarnya Nyi Roro Kidul?

    NYI Roro Kidul telah hidup lama dalam ingatan masyarakat Jawa. Ia disebut memiliki hubungan dengan para raja Jawa. Konon, setiap penobatan raja Jawa sekaligus ritual pernikahan mistis dengan Ratu Pantai Selatan itu. Siapa sebenarnya Nyi Roro Kidul? Asal usulnya ada beberapa versi. Antropolog Robert Wessing dalam “A Princess from Sunda: Some Aspects of Nyi Roro Kidul,” Asian Folklore Studies Vol. 56 tahun 1997, menyatakan bahwa Ratu Kidul ini mulanya adalah putri dari Kerajaan Galuh, sekira abad 13. Ada pula versi yang menyebut dia adalah keturunan penguasa Pajajaran. Kemudian ada yang mengatakan dia keturunan Raja Airlangga dari Kahuripan, bahkan masih ada yang mengaitkannya dengan Raja Kediri Jayabaya.

  • Idul Adha di Kesultanan Aceh

    HARI Raya Idul Adha 1637. Peter Mundy terkagum-kagum kala menyaksikan prosesi itu. Dia melihat semua warga Kesultanan Aceh seolah larut dalam suatu perayaan pesta akbar: seluruh lapangan besar antara pintu masuk istana hingga ke masjid Bait ur-Rahman dihiasi dengan bendera-bendera besar. Sultan datang dengan menaiki gajah yang dihias sangat megah dan mewah. “Kedatangan Sultan diiringi arak-arakan besar yang terdiri atas 30 barisan,” ujar pedagang Inggris tersebut seperti dikisahkan oleh Denys Lombard dalam Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda.

bottom of page