- 31 Agu 2023
- 5 menit membaca
Diperbarui: 31 Jan
CUACA di Melbourne mendadak berubah ekstrem. Bermula 20-an derajat celcius di pagi hari dan terus merangkak sampai ke titik 37 derajat celcius pada siang sampai dengan petang hari. Cuaca panas disertai angin kering itu tak menghentikan rencana saya dan Silvy Wantania, seorang warga asal Indonesia yang menetap di Melbourne untuk menyambangi Ballarat, sebuah kota tua 105 kilometer di sebelah barat kota Melbourne.
Perjalanan menuju Ballarat melintasi padang rumput, hutan yang ditumbuhi pohon eucalyptus dan beberapa kali melewati papan pengumuman untuk mewasapadai koala atau kanguru yang menyeberang. Jalan mulus mempersingkat perjalanan Melbourne ke Ballarat.
Setelah satu jam lebih berkendara dari Melbourne, kami tiba di Ballarat. Panas menyengat di kota itu. Orang-orang agaknya lebih memilih untuk berada di dalam rumah. Menghindari sengatan sinar matahari yang terik menerangi hari Minggu pertengahan Februari lalu.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












