top of page

Hasil pencarian

9754 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kegamangan Sukarno Mengganyang Malaysia

    Sekali waktu, Presiden Sukarno mengundang Brigjen Soegih Arto ke Istana Merdeka. Sang tamu istana merupakan duta besar Indonesia untuk Birma yang dikenal baik oleh presiden. Dengan nada kesal Bung Karno menyatakan betapa konfontasi dengan Malaysia telah membawa akibat yang kurang menguntungkan bagi Indonesia. “Beliau terlihat sangat serius. Jarang saya melihat Bung Karno seperti ini,” kenang Soegih Arto dalam Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur.) Soegih Arto .    Kepada Soegih Arto, Sukarno mengeluarkan unek-uneknya. Presiden berkata bahwa konfrontasi dengan Malaysia sangat menguras tenaga pemerintah Indonesia. Sudah saatnya segala usaha harus dilakukan untuk menghentikan konfrontasi secara terhormat. Untuk itu, Sukarno menunjuk Soegih Arto melakukan penjajakan damai lewat "pintu belakang". Misi terhadap Soegih Arto kian menantang lantaran dirinya bukan ditugaskan ke Malaysia, melainkan ke Inggris. Seperti diketahui, Inggris merupakan negara yang mensponsori pembentukan negara Federasi Malaya. Dalam penugasan ke Inggris, Sukarno mengintruksikan dua hal kepada Soegih Arto. Pertama , supaya pemerintah Inggris memberikan indikasi seolah-olah mereka kewalahan dengan konfrontasi itu. Kedua , mengusulkan agar terjalin perundingan antara Inggris dan Indonesia mengenai penghentian konfrontasi. Sukarno menekankan indikasi penyelesaian sengketa harus datang dari Inggris. Soegih Arto menyebut misi penugasannya ke Inggris sebagai formula Sukarno untuk menyelamatkan citra Indonesia yang terbelit konfrontasi. Sebelum berangkat, Soegih Arto diberikan blangko mandat untuk menjanjikan apa saja kepada pihak Inggris. Andai kata Inggris meminta semua asetnya yang dinasionalisasi, melalui perantaraan Soegih Arto maka pemerintah Indonesia akan menyanggupi. Setelah mafhum dengan tugasnya, Soegih Arto pun permisi dan undur diri. Tidak lupa Bung Karno memberinya sangu untuk ongkos jalan. Soegih Arto berangkat ke London melalui Paris, Prancis. Ketika singgah di kediaman Atase Militer Indonesia untuk Prancis Kolonel Sumpono Banyuaji, Soegih Arto bertemu dengan Mayjen S. Parman. Soegih Arto agak terkejut mengapa Parman berada di Paris namun segan bertanya lebih lanjut. Soegih Arto kemudian mengetahui bahwa Parman sedang melakukan operasi intelijen untuk tujuan yang sama. Hanya saja, koneksi mereka yang berbeda. Bila Soegih Arto diutus ke Departemen Luar Negeri Inggris, maka Parman punya saluran ke Markas Besar Angkatan Perang. Penunjukan Parman tidak lepas dari kapasitasnya sebagai Asisten 1/Intelijen Menpangad. Selain itu, Parman juga pernah menjadi atase militer Indonesia di Inggris sehingga kenal baik dengan beberapa pejabat tinggi di kemiliteran Inggris. Keesokan harinya, Soegih Arto menyaksikan Atase Militer Indonesia untuk Inggris Kolonel Sastraprawira menjemput Parman. “Rupanya Bung Karno mengutus beberapa orang untuk menjajaki kemungkinan menghentikan konfrontasi, tanpa harus menderita malu,” tutur Soegih Arto.  Dalam otobiografinya yang terbit tahun 1989, Soegih Arto mengakui kalau tidak banyak orang yang mengetahui kisah penugasannya ini. “Cerita ini mungkin sukar dipecayai, karena kejadian-kejadian kemudian, tidak mendukungnya,” kata Soegih Arto. Namun, Sukarno sendiri dalam otobiografinya agaknya menyiratkan memang adanya misi rahasia tersebut. “Aku tidak ingin membiarkan konfrontasi ini berlarut-larut. Aku menyadari, bahwa kita sekarang tersangkut dalam rentetan reaksi yang tak ada ujungnya dan disatu saat ia harus dihentikan,” kata Sukarno kepada Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat. Kebenaran cerita misi rahasia Soegih Arto dikaji oleh peneliti politik Hidayat Mukmin dalam disertasinya di Universitas Gadjah Mada. Menurut Hidayat, lobi Soegih Arto ke London merupakan upaya tersembunyi dari Bung Karno untuk mengakhiri konfontasi. “Operasi khusus” Sukarno itu berlangsung pada pertengahan tahun 1964 bersamaan dengan Menpangad Letjen Ahmad Yani menugaskan Mayjen Soeharto menjajaki kemungkinan rujuk dengan Malaysia. Hidayat juga mencatat, pemerintah Indonesia bersedia memberikan kompensasi yang mahal, antara lain pengembalian tanah partikelir milik Inggris di sekitar Ciasem dan Pamanukan yang telah diambil oleh Indonesia.   “Apa yang telah dilakukan Soegih Arto tentunya bukan rekaannya sendiri, karena kenyataannya ia telah melakukan misi itu dan ini merupakan kenyataan sejarah,” kata Hidayat Mukmin dalam disertasinya yang dibukukan TNI Dalam Politik Luar Negeri: Studi Kasus Penyelesaian Konfrontasi Indonesia-Malaysia. Operasi intelijen yang dijalankan Mayjen S. Parman pun bukan isapan jempol semata. Sejarawan Universitas Indonesia Linda Sunarti membenarkan adanya usaha-usaha rahasia dari pihak Indonesia untuk menghubungi pihak Inggris (dan juga Malaysia). Sepanjang bulan Oktober 1964, terdapat sekurang-kurangnya sembilan penjajak perdamaian ( peace feelers ) dari pihak Indonesia yang menjalankan misi penyelesaian konfrontasi. “Tujuan para peace feelers ini adalah berusaha untuk mengakhiri konfrontasi melalui 'jalan belakang', karena perundingan-perundingan formal yang dilakukan tidak berhasil meredakan konflik, bahkan konflik kedua negara mulai mengarah pada konflik terbuka,” tulis Linda dalam disertasi di Universitas Indonesia berjudul “Penyelesaian Damai Konflik Indonesia Malaysia 1963--1966”.    Bukti-bukti adanya usaha dari militer Indonesia menemui Inggris, kata Linda, tercantum dalam dokumen-dokumen milik Foreign Office (Departemen Hubungan Luar Negeri) di London. Diperkirakan, pengiriman misi-misi rahasia tersebut dipengaruhi oleh kekhawatiran pihak militer Indonesia mengenai kemungkinan Inggris akan melakukan serangan besar-besaran setelah pemilihan umum di Inggris tanggal 15 Oktober 1964. Bagaimana kelanjutannya misi Soegih Arto maupun penjajak rujuk lainnya? Nantikan di artikel berikutnya. (Bersambung)

  • Pejuang Belakang Layar

    Berjuang tak harus angkat senjata dan maju ke medan pertempuran. Adalah Bu Ruswo, orang yang berperan penting pada masa revolusi fisik di Yogyakarta. Ia berjuang di belakang layar, menyediakan pengisi perut serta kebutuhan logistik para prajurit.

  • Pudarnya Pesona Hostel Pertama di Jakarta

    Di Jakarta ada satu nama jalan yang unik. Biasanya nama jalan berasal dari nama pahlawan, tokoh setempat, atau tetumbuhan. Tapi jalan yang satu ini diberi nama dari profesi : Jalan Jaksa. Nama ini mengacu pada orang-orang yang pernah tinggal di jalan ini. Sebagian besar mahasiswa Rechts Hogeschool atau Sekolah Tinggi Hukum Batavia. Mahasiswa itu hampir tiap hari mengikuti kuliah di Koningsplein atau sekarang wilayah Monumen Nasional. Banyak diantaranya berasal dari luar Batavia. Mereka mencari penginapan murah yang tak terlalu jauh dari kampusnya. Pilihannya jatuh pada wilayah Gondangdia. Seni mural yang bertuliskan Welcome To Jalan Jaksa terpampang di salah satu tembok jalan legendaris tersebut. (Fernando Randy/Historia.id). Para turis berpose di depan Wisma Delima sekitar tahun 1970. (Fernando Randy/Historia.id). Citra murah ini berlanjut sampai Indonesia merdeka. Penginap di Jalan Jaksa bukan lagi mahasiswa, tapi para pelancong dalam dan luar negeri. Selain penginapan murah, Jalan Jaksa juga sohor karena kafe dan tempat hiburan murahnya sehingga sangat ideal bagi para pelancong berkantong cekak dengan tas ransel ( backpacker ). Salah satu penginapan murah yang tertua di Jalan Jaksa bernama Wisma Delima. Penginapan dengan fasilitas sederhana ini didirkan oleh Nathanael Lawalata, lelaki asal Maluku. “Nama itu berasal dari jumlah keluarga kami saat itu : Papa, Mama, dan tiga anaknya termasuk saya. Ada lima dan pas juga nomor rumah kami nomor lima,” ujar Boy Lawalata (66) putra ketiga Nathanael yang kini mengelola Wisma Delima kepada Historia . Pendiri Wisma Delima Nathanael Lawalata dan istri. (Fernando Randy/Historia.id)  Boy ingat awal mula mereka merintis hostel yang didominasi warna coklat ini. Awalnya masih sepi peminat. Terus seperti itu sampai 1971. Padahal tarifnya sangat murah hanya 200 rupiah atau setara dengan 1 dolar saat itu. Berbagai cara pun ditempuh oleh semua keluarga agar Wisma Delima bisa diketahui oleh turis. “Dulu kami itu setiap hari nongkrong di Bandara Kemayoran untuk cari turis. Kami naik becak kesana. Pulang-pergi,” kata Boy. Tiap turis yang bersedia menginap di Wisma Delima akan diantar menggunakan becak. Jaraknya sekira 6.8 kilometer dengan jarak tempuh becak sejam. Boy Lawalata dan foto salah satu kamar di Wisma Delima. (Fernando Randy/Historia.id). Ibu Ning istri Boy Lawalata yang juga bertugas menyediakan sarapan bagi para tamu. (Fernando Randy/Historia.id). Tapi tamu masih sedikit. Keadaan berubah ketika Nathanael mendaftarkan Wisma Delima pada International Youth Hostel Federation (IYHF) pada 1972. Sejak itu tamu berdatangan. Wisma Delima juga tercantum dalam buku panduan wisata sekelas Lonely Planet. Masa kejayaan Wisma Delima merentang dari 1979 hingga 1990. Pemasukan dari tamu diputar untuk menambah kamar, dari 12 menjadi 14. Juga ada tambahan 2 kamar bertipe khusus untuk rombongan enam orang atau dikenal kamar tipe dormitory. “Setiap musim liburan di Eropa, kamar penuh terus. Bahkan sampai ke lantai. Mereka tidur hanya dengan kantong tidur. Dan kita juga akhirnya mengontrak rumah tetangga kanan-kiri sini buat turis. Karena disini sudah tidak muat lagi,” lanjut Boy. Pak Yanu karyawan yang sudah bekerja sejak 1985 di Wisma Delima. (Fernando Randy/Historia.id). Berbagai sudut di Wisma Delima saat ini. (Fernando Randy/Historia.id). (kiri) Salah satu hiasan ayam di sudut Wisma. (kanan) Moses Lawalata yang bertekad menjadi penerus untuk Wisma Delima. (Fernando Randy/Historia.id). Seiring perkembangan zaman, tantangan Wisma Delima pun berubah. Wisma Delima mulai sepi dari tahun 2014. Saat itu ada kebijakan dari pemerintah kota Jakarta tidak boleh parkir di trotoar. Orang jadi malas kemari karena tidak ada gedung parkir. Selepas itu, pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Di tengah berbagai polemik, Boy berupaya menjaga Wisma Delima dengan sekuat tenaga. Apalagi penginapan yang kini bertarif 200 ratus ribu semalam tersebut sudah menjadi bagian dari sejarah pariwisata di Indonesia.  “Saya akan menjaga Wisma Delima agar terus berdiri di Jakarta,” tutupnya. Foto sang pendiri Wisma Delima Natanael Lawalata. (Fernando Randy/Historia.id).

  • Intelijen Indonesia Kebobolan Agen CIA

    PRESIDEN Sukarno mengunjungi Mesir sebanyak enam kali. Roeslan Abdulgani, mantan menteri penerangan, ikut dalam kunjungan terakhir pada 1965. Di ruang besar hotel tempat rombongan menginap, Roeslan didekati seorang perempuan Amerika Serikat yang menanyakan apakah dia dapat berkenalan dengan Sukarno.

  • Anzio, Palagan Sengit Merebut Roma

    DARI anjungan kapal USS Biscayne , Mayjen John P. Lucas merapal doa dalam hati. Pukul dua dini hari 22 Januari 1944, Panglima Korps ke-6 Tentara ke-5 Angkatan Darat Amerika Serikat (AD AS) itu lantas memelototi binokularnya untuk mengecek keadaan pasukannya yang baru beringsut dari kapal-kapal pendarat menuju kota pantai Anzio, Italia. Operasi Shingle yang jadi tanggung jawab Jenderal Lucas itu pun dimulai. Dua gugus tugas pasukan Sekutu yang terdiri dari Divisi Infantri ke-3, Korps ke-6 AD AS, dan Divisi Infantri ke-1 AD Inggris dengan total 36 ribu personel berangsur-angsur mulai diangkut dengan 16 landing   craft , delapan landing ship infantry, 84 landing ship tank, 96 landing craft infantry, dan 50 landing craft tank dari ratusan kapal dalam konvoi yang berangkat dari Pelabuhan Napoli pada 21 Januari malam. Lucas bersyukur. Di luar dugaan, sekira 20 ribu serdadu Sekutu yang menggelar pendaratan amfibi itu tak sekalipun memicu tembakan meriam maupun senjata lain dari pihak musuh. Unsur pendadakan Operasi Shingle telah tercapai. “Apa yang kami capai boleh dibilang merupakan salah satu kejutan paling komplit sepanjang sejarah. Biscayne  lepas jangkar 3,5 mil di lepas pantai dan saya tak bisa mempercayai apa yang saya lihat ketika berdiri di anjungan dan tak satupun senapan mesin atau tembakan lain terlontar ke pantai,” tulis Jenderal Lucas dalam buku hariannya, dikutip Martin Blumenson dalam Anzio: The Gamble that Failed. Mayor Jenderal John Porter Lucas (kiri) dan skema pendaratan Sekutu di Pantai Anzio. (US War Department). Sejatinya Jerman bukan tanpa pertahanan. Di wilayah pantai dan kota saja menumpuk 20 ribu serdadu Jerman. Namun memang pendaratan Sekutu itu gagal terdeteksi sejak awal. Panglima Grup C AD Jerman Generalfeldmarschall Albert Kesselring baru mendapat kabar Pantai Anzio diserang pada pukul 3 dini hari atau sejam setelah pendaratan dimulai. “Satu-satunya perlawanan datang dari sedikit artileri pantai dan unit anti-pesawat. Dua baterainya menembak ke arah pantai secara sporadis selama beberapa menit sebelum matahari terbit, hingga akhirnya dibungkam meriam-meriam kapal (Sekutu),” imbuh Blumenson. Namun Kesselring sama sekali tak panik. Ia sudah punya serangkaian strategi kontingensi untuk mengatasi serangan mendadak semacam itu. Kuncinya ada pada unit reaksi cepat yang mobile dan senantiasa disimpannya untuk menangkal dan memberi waktu pasukan yang lebih besar mengonsolidasikan pertahanan kuat. Saat Sekutu sibuk merampungkan pendaratan, Kesselring memanggil para jenderalnya. Operasi Shingle Sekutu itu akan ia ladeni dengan Operasi Richard. Modalnya adalah 20 ribu personil yang ia kumpulkan dari unit reaksi cepat Divisi Linud ke-4 dan Divisi Panser “Hermann Göring”. Generalfeldmarschall Albert Kesselring (tengah) yang bertanggung jawab atas semua kekuatan Poros di Italia. (Allgemeiner Deutscher Nachrichtendienst). Bukan untuk menemui Sekutu di pantai, Operasi Richard juga untuk mengamankan jalur-jalur dari pantai menuju kota Anzio sepanjang Perbukitan Alban, Campoleone, dan Cisterna. Itu diharapkan cukup untuk menahan laju Sekutu sampai permintaan pasukan tambahannya direstui Komando Tinggi Militer Jerman (OKW). Saat pagi menjelang, hampir seluruh 36 ribu personil Sekutu beserta 3.200 kendaraan tempur beraneka jenis sudah mengamankan beachhead (pijakan) pantai. Divisi ke-1 Inggris merebut Dermaga Anzio dan mengamankan perimeter sejauh tiga kilometer dari bibir pantai, sementara Divisi ke-3 AS merebut Dermaga Nettuno dengan perimeter lima kilometer. Perlawanan yang mereka temui sekadar memakan korban 13 serdadu Sekutu dan 200 pasukan garnisun pantai Jerman ditawan. Namun, Jenderal Lucas menyetop ofensifnya untuk lebih dulu mengonsolidasikan pasukannya dengan membuat kubu-kubu pertahanan sembari menanti pasukan tambahan. Melihat rintangan alam di sekitar pantai, Lucas tak ingin mengambil risiko lebih besar. Padahal, Perdana Menteri (PM) Inggris Winston Churchill, yang melahirkan konsep Operasi Shingle, menuntutnya bergegas menuju Roma yang jadi target utama operasi. Friksi Amerika-Inggris Sejak Operasi Shingle digaungkan Churchill pada 1943, ia acap ditentang para jenderal Amerika. Salah satu faktor utamanya karena kondisi alam di sekitar Pantai Anzio mayoritas adalah rawa dan dikelilingi Pegunungan Laziali. Selain rawan serangan balik dari daratan tinggi, lokasinya juga rentan memicu wabah malaria. Selain itu, ketersediaan kapal-kapal pendarat amat minim. Terlebih, Sekutu sebelumnya juga mencanangkan Invasi ke Normandia (D-Day) yang direncanakan pada Juli 1944. Amerika enggan mendisposisi kapal-kapalnya dari Inggris ke Italia karena dikhawatirkan akan berdampak pada penundaanrencana D-Day. Berulang kali operasi itu ditentang, namun setiap kali itu juga Churchill bersikukuh sehingga menimbulkan friksi dengan sekutunya sendiri. Terlebih pada 17 Januari 1944, Sekutu masih direpotkan dengan Pertempuran Monte Cassino untuk mendobrak pertahanan Jerman di Gustav Lini, selatan Anzio. “Pihak Amerika menganggap pendaratan ke Anzio malah akan memecah konsentrasi dalam menembus pertahanan Jerman di Monte Cassino. Juga dikhawatirkan jika Monte Cassino tak mampu direbut, pasukan di Anzio justru bakal terperangkap. Tetapi karena (panglima Sekutu) masih berkonsentrasi pada rencana Operasi Overlord (Invasi Normandia, red. ), keputusan soal Anzio diserahkan kepada Churchill dengan catatan, waspada pada kekuatan Jerman yang belum terprediksi,” tulis Rick Atkinson dalam The Day of Battle: The War in Sicily and Italy, 1943-1944. Ratusan personel garnisun pantai Jerman yang menyerah (kiri) oleh pasukan Inggris di Anzio. ( iwm.org.uk ). Di pihak Jerman, lanjut Atkinson, dilema juga melanda Marsekal Kesselring. Pasukan AD ke-10 Jerman masih mati-matian menahan laju AD ke-5 Amerika dan AD ke-8 Inggris di Gustav Lini. Andai ia menarik pasukannya dari Monte Cassino ke Anzio, Gustav Lini akan ambruk. Tetapi jika tidak, Roma akan lebih mudah direbut Sekutu dan otomatis jalur komunikasi pasukannya di Italia Tengah dan Italia Utara bakal terputus. Namun di garis depan, Jenderal Lucas dengan persetujuan atasannya, Panglima AD ke-5 Amerika Letjen Mark W. Clark, pilih menanti pasukan tambahan meski Churchill mendesak untuk terus maju memanfaatkan unsur pendadakan. Baginya, jika harus menuruti perintah resmi menyerang Perbukitan Alban sebagai pijakan menuju Roma, ia butuh setidaknya dua korps pasukan bantuan. “Mereka ingin saya mendarat dengan jumlah pasukan yang tidak laik dan berpotensi jadi bencana. Kalau begitu kejadiannya, siapa yang akan disalahkan? Aroma (bencana) Gallipoli sangat terasa dan sepertinya sosok amatir yang sama (Churchill, red. ) masih jadi penanggungjawabnya,” sambung Lucas di buku hariannya. Kolase Marsekal Kesselring menginspeksi pasukannya di garis depan front Italia. (Bundesarchiv). Sementara pasukan Sekutu bertahan di pantai, waktu yang terbuang dimanfaatkan Kesselring untuk mengonsolidasikan pasukannya. Permintaannya akan pasukan tambahan dijawab OKW dengan mengirim enam divisi dari Prancis, Yugoslavia, Jerman, dan Italia Utara. Sebagian pasukan AD ke-10 yang bertahan di Monte Cassino pun dikirim ke Anzio. Di lain pihak, Jenderal Lucas mendapat pasukan tambahan dari Divisi Infantri ke-45 dan Divisi Lapis Baja ke-1 Amerika pada akhir Januari. Total ia mengomando 69 ribu personil, yang akan berkofrontasi dengan 71 ribu personil Kessering. Dengan tambahan pasukan itu, Sekutu melanjutkan gerak ofensifnya pada 30 Januari dengan menargetkan Campoleone dan Cisterna. Di hari pertama Februari, Kesselring mendapat tambahan Korps Linud ke-1 dan Korps Panser ke-76 sehingga total personilnya berjumlah 100 ribu. Sementara, Sekutu kekuatan bertambah menjadi 76 ribu personil lewat kedatangan Divisi Infantri ke-56 Inggris. Bentrok dua kekuatan besar itu berlangsung pada 3 Februari malam ketika Jerman melancarkan serangan balik ke Campoleone. Namun hingga 23 Februari, pergerakan Sekutu tak mencapai harapan karena kuatnya pertahanan Jerman. Letnan Jenderal Mark Wayne Clark (kiri) mengambil alih Operasi Diadem. ( army.mil / iwm.org.uk ). Akibatnya, Jenderal Lucas dibebastugaskan. Komando diambilalih Jenderal Clark. Ofensif diperbarui dengan menggelar Operasi Diadem yang menargetkan Campoleone, Albano, lalu Roma. Pasukan tambahan kembali diundang. Puncaknya, Sekutu punya 150 ribu serdadu. Sementara, pasukan Jerman yang berkekuatan 135 ribu personil dipusatkan Kesselring di Caesar C Lini, kubu defensif terakhir sebelum kota Roma. Sepanjang Maret hingga Mei, garis pertahanan itu makin menipis akibat serangan bertubi-tubi Sekutu. Adolf Hitler yang khawatir itu akan terjadi Stalingrad kedua, pada 2 Juni memerintahkan Kesselring meninggalkan pertahanan kota Roma. Dengan sisa-sisa pasukannya, Kesselring mundur ke utara kota Roma dan membentuk kubu pertahanan “Roman Switch Line” di dekat pantai Laut Thyrrenian. Kota Cisterna yang jadi puing-puing (kiri) & Kota Roma yang berhasil direbut Sekutu (kanan). ( iwm.org.uk ). Pada dini hari 4 Juni, pasukan Jenderal Clark memasuki kota Roma dan sehari berikutnya mengumumkan pembebasan “kota abadi” itu dari Jerman Nazi. Walau berakhir dengan kemenangan, Sekutu dipaksa Kesselring membayarnya dengan harga sangat mahal. Lloyd Clark dalam Anzio: The Friction of War, Italy and the Battle for Rome 1944 mengungkapkan, selain friksi internal petinggi Inggris dan Amerika meruncing sejak Hari-H yang kemudian berlangsung 136 hari, membuat Sekutu kehilangan tujuh ribu nyawa prajuritnya atau dua ribu lebih banyak ketimbang pihak Jerman. Itu belum termasuk 36 ribu serdadu yang terluka atau hilang. Sementara, Jerman menderita 30 ribu personil terluka atau hilang. “ Blunder yang dilakukan (pasukan) Anglo-Amerika terletak pada keputusan mereka mengulur waktu. Pasukan pendaratnya juga lemah, hanya berkekuatan satu atau dua divisi utuh tanpa kawalan lapis baja. Di situlah letak kesalahan mendasar mereka,” tandas Kesselring, dikutip Clark.

  • Saat Sintong Khawatir Diterjunkan di Pedalaman Irian

    Tak lama setelah mengikuti ekspedisi Peabody Museum of Archeology and Ethnology untuk mempelajari suku Dani di pedalaman Papua, Michael Rockfeller, putra Gubernur New York Nelson Rockefeller, kembali mengunjungi pulau itu untuk mempelajari suku Asmat. Namun, ekspedisi kali ini membawa celaka pada Michael. Pada 17 November 1961, kano yang dinaiki Michael dan antropolog Belanda Rene Wassing serta dua guide  setempat terbalik dan tenggelam. Mereka pun terapung di lautan. “Rene Wassing menatapnya, dan Michael memperhatikan Rene terbakar matahari dan perlu bercukur. Perjumpaan mereka berlangsung singkat. Mereka telah terapung di lautan lepas di lepas pantai barat daya New Guinea selama dua puluh empat jam sekarang, dan tidak banyak yang dikatakan,” tulis Carl Hoffman dalam Savage Harvest: A Tale of Cannibals, Colonialism, and Michael Rockefeller’s Tragic Quest . Setelah mengatakan “saya akan mampu melakukannya,” Michael kemudian berenang menuju pantai meninggalkan Rene. Ketika Rene berhasil diselamatkan keesokan harinya, Michael tak pernah lagi ditemukan meski pencarian intensif terhadapnya dilakukan juga dari udara dan laut oleh AL Belanda dan Australia. Hilangnya Michael menimbulkan beragam dugaan. Salah satu yang populer, dia dikanibal suku setempat. Ketakutan akan dikanibal itulah yang menghantui Lettu Sintong Panjaitan, perwira RPKAD yang di-BP-kan ke Kodam XVII/Tjendrawasih menjelang Penentuan Pendapat Rakyat, ketika hendak terjun dari pesawatnya dalam operasi kemanusiaan Tim Lembah X pada 2 Oktober 1969. “Jangan-jangan nanti setelah mendarat, saya dikroyok oleh suku Lembah X, kemudian dimakan rame-rame ,” kata Sintong membatin sebelum melakukan penerjunan, dikutip Hendro Subroto dalam biografi berjudul Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando . Tim Lembah X dibentuk Pangdam XVII/Tjendrawasih Brigjen Sarwo Edhie Wibowo setelah pada Mei 1969 memberi izin Pierre Dominique Gaisseau, sineas Prancis yang filmnya tentang suku di Lembah X di utara Pegunungan Jaya Papua –berjudul Sky Above and Mud Beneath – menjadi film dokumenter pertama peraih Oscar, untuk membuat film antropologi budaya lanjutan tentang suku di Lembah X. Sarwo menganggap aktivitas sinematografi Gaisseau perlu disertai operasi kemanusiaan. Oleh karena itu, Sarwo membuat operasi kemanusiaan di tempat yang sama sebagai Operasi Bhakti Kodam XVII/Tjendrawasih. “Sehubungan dengan keputusan itu Brigjen TNI Sarwo Edhie mengeluarkan perintah operasi No. 009 untuk menerjunkan dari udara satu Tim ABRI bersama kerabat kerja NBC Lembah X untuk melaksanakan operasi kemanusiaan,” tulis Hendro. Sarwo lalu membentuk Tim Lembah X dan menunjuk Kapten Feisal Tanjung (di kemudian hari menjadi Panglima ABRI) menjadi komandannya. Sintong didapuk sebagai perwira operasi tim dan diplot menjadi orang pertama yang diterjunkan. Selain berisi tujuh personil RPKAD (kini Kopassus) dan dua personil Kodam Tjendrawasih, Tim Lembah X juga berisi tim Gaisseau (empat orang). Anggota yang bergabung di luar skenario awal adalah Peter Jennings, mantan penerjemah Utusan Khusus Sekjen PBB untuk masalah Pepera Fernando Ortiz Sanz, dan wartawan Hendro Subroto. Setelah tim terbentuk, persiapan dilakukan selama berbulan-bulan. Di dalamnya temasuk mencari carteran pesawat yang akan digunakan untuk menerjunkan tim. Sintong bersama Gaisseau empat kali melakukan orientasi medan dari udara dalam persiapan itu. Pada 2 Oktober 1969 pukul 07.30, tim diberangkatkan menggunakan DC-3 Dakota milik Garuda yang -dioperasikan Merpati Nusantara Airlines -dimodifikasi untuk penerjunan karena pesawat carteran gagal didapat. Penerbangan menuju lembah yang “belum terjamah” itu memakan waktu sekitar sejam. “Bahkan dalam penerbangan pesawat kami sempat menerobos hujan. Kami khawatir jika di Lembah X turun hujan, maka penerjunan akan ditunda. Pandangan dari udara menunjukkan bahwa daerah pegunungan di bawah kami, diselimuti oleh hutan belantara yang membentang luas,” kata Hendro Subroto dalam memoarnya, Perjalanan Seorang Wartawan Perang . Para anggota tim dan Brigjen Sarwo sebagai jump master mesti bersabar menjalani penerbangan yang tak mengenakkan itu. Mereka harus bersusah payah untuk bisa duduk sambil memanggul tas parasut dan membawa perlengkapan karena kursi pesawat merupakan kursi penumpang yang sempit, bukan tempat duduk panjang sebagaimana umumnya dalam pesawat untuk penerjunan. Menit demi menit berlalu hingga akhirnya di pintu pesawat terlihat dispatcher Capa Atang Ismail menjatuhkan streamer untuk mendapatkan gambaran keadaan di sekitar dropping zone . Sintong sebagai penerjun pertama pun bersiap di dekat pintu pesawat. Betapapun pandainya Sintong menyembunyikan perasaannya, kecemasan bakal dikanibal tetap menghinggapi batinnya. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Maka begitu Atang menepuk payung utama di punggungnya sambil berteriak “Go!”, Sintong pun segera berjalan agak membungkuk untuk keluar dari pintu pesawat yang kecil lalu terjun. Selang beberapa saat, anggota berikutnya mengikuti. Kendati selama penerjunan mereka disuguhi pemandangan asri belantara Papua yang masih murni, mayoritas mendarat tak sesuai dengan yang direncanakan. Berbeda-beda pengalaman yang mereka rasakan. Sebelum bisa mendarat, Capa Marwoto parasutnya tersangkut di pohon. Sementara dia mencari cara untuk bisa turun, puluhan penduduk dari suku di Lembah X telah mengepungnya di bawah. Upayanya untuk memindahkan posisi senapan AK-47-nya dari punggungnya ke posisi di depan gagal karena tanpa sepengetahuannya senapan itu diikat mati oleh orang yang membantu persiapannya saat di bandara. Ia pun panik. Lain Marwoto, lain pula Sintong. Dia mendarat tepat di tengah kampung, bukan beberapa kilometer dari kampung yang ditetapkan sebagai titik pendaratannya. Akibatnya, dia langsung dikepung puluhan penduduk yang membawa tombak, panah, kapak, dan pentungan sembari berteriak “ Snai e , snai e .” Meski tak mengerti arti kalimat itu, Sintong dibuat takut mendengarnya. Akankah dia akan mengalami kanibalisme sebagaimana yang dikwahatirkannya ketika akan terjun? Dalam kekalutan itu, Sintong segera memindahkan posisi senapan AK-47-nya dari disandang menjadi di depan. Nahas, magasinnya terjatuh entah di mana. Sintong terus berupaya melawan ketakutannya sambil terus mencari cara menghadapi penduduk. Saat itulah dia melihat magasinnya berada di tengah kerumunan penduduk. Namun, tetap saja dia bingung bagaimana mengambilnya. Lagi-lagi, Tuhan menolongnya. Seorang pemuda di antara kerumunan penduduk mengambil magasin itu dan melemparkannya ke Sintong. “Terima kasih Tuhan,” kata Sintong membantin. Setelah memasang magasin dan mengokang senapannya, ketenangan mulai menguasai diri Sintong. Dia lalu teringat saran Gaisseau agar mengangkat kedua tangan ke atas sambil menampakkan senyum dalam menghadapi penduduk. Saran itupun dilakukan Sintong hingga akhirnya seorang tua mendatanginya sambil membawakan sepotong daging babi sebagai jamuan persahabatan. “Ia langsung memakan daging babi itu mentah-mentah. Suku Lembah X yang mengepungnya, mulai tampak lega. Mereka bersorak-sorak sebagai luapan kegembiraan,” tulis Hendro.

  • Sejarah di Balik Dongeng Pasukan Rubah

    HANYA enam menit papan skor di King Power Stadium, markas Leicester City FC, bertahan dengan angka 0-0. Di menit enam itulah bola liar hasil tendangan sudut dikonversi menjadi gol oleh Wilfred Ndidi lewat tembakan first time  keras dan sedikit mengenai tiang sebelum menyentuh jala gawang Chelsea yang dijaga Edouard Mendy. Skor 1-0 untuk tuan rumah. Tetapi itu tak jadi momen bersorak kegirangan kali terakhir buat pelatih Leicester, Brendan Rodgers. Empat menit jelang turun minum, tercipta lagi peluang emas dari through pass  Marc Albrighton. James Maddison yang posisinya tak terkawal langsung menyambutnya dengan mendorong bola ke sudut kiri gawang Mendy. Skor 2-0 itu bertahan hingga laga matchday  ke-19 Liga Inggris, Selasa (19/1/2021) malam itu usai. “Anda telah melihat  spirit tim yang sebenarnya malam ini. Penampilan dan kedewasaan tim diperlihatkan sangat memuaskan. Saya mengerti kami bermain melawan tim penuh talenta (Chelsea) dan kami tak boleh melakukan kesalahan,” ungkap Rodgers pascalaga, dikutip Daily Mail , Rabu (20/1/2021). Tiga poin yang diraih “TheFoxes”, julukan Leicester, itu meroketkan posisinya ke puncak klasemen Liga Inggris musim 2020-2021. Dengan 38 poin, mereka untuk sementara unggul satu angka dari Manchester United di posisi kedua. Para pendukung “The Foxes” pun mulai berharap sejarah “dongeng Cinderella” terulang sebagaimana musim 2015-2016. Di musim itu, publik Inggris terhenyak dan terheran-heran melihat tim medioker itu keluar sebagai juara di bawah asuhan Claudio Ranieri. Pelatih Leicester City, Brendan Rodgers menyemangati para pemainnya daam laga kontra Chelsea ( lcfc.com ) Kendati demikian, Rodgers belum ingin berpikir ke arah situ. Musim ini masih panjang dengan 19 partai tersisa. Terlebih beberapa tim lain macam Tottenham Hotspur dan Chelsea juga sempat dininabobokkan asa serupa saat memuncaki klasemen sementara beberapa pekan sebelumnya. “Jangan lupakan kualitas Manchester City, Liverpool sang juara bertahan, dan Manchester United yang penampilannya juga hebat. Bagi Leicester berada di atas tim-tim dengan level luar biasa seperti itu saja sudah membuat saya senang. Tentu akan jadi tantangan besar memuncaki klasemen namun kami dengan senang hati menghadapi tantangan itu,” sambung eks pelatih Liverpool dan Glasgow Celtic itu. Sebagaimana tim-tim medioker lain di Liga Inggris, Leicester kerap dipandang sebelah mata. Reputasinya tak pernah setara dengan klub mapan macam Arsenal, Chelsea, Liverpool, serta dua tim sekota: Manchester City dan Manchester United. Akan tetapi pandangan itu berbalik 180 derajat kala tim-tim adidaya itu terpuruk dan tanpa dinyana Jamie Vardy dkk. mengangkangi mereka dengan merebut titel lima musim lalu. Padahal sejak berdirinya 137 tahun lampau, Leicester acap kesulitan bertahan di kompetisi teratas Inggris. Jatuh-Bangun Leicester Fosse Football Club, begitu sebutan awal klub ini kala didirikan sekumpulan pemuda Wyggeston School di kota Leicester pada 1884. Sebutan “Fosse” diambil dari nama areal tempat lapangan mereka biasa bermain, Fosse Road. Adalah Joseph Johnson dan Frank Gardner, dua dari lima pendiri klub, yang membentuk satu komite untuk mengembangkan manajemen klub yang bermula dari swadaya para pemainnya. “Para pemain menyumbangkan sedikit uang dan seorang tukang kayu lokal dipercayakan untuk membuat dua set gawang menjelang pertandingan pertama klub di lapangan dekat Fosse Road. Pertandingan pertama mereka adalah melawan Syston Fosse yang berkesudahan 5-0 untuk Leicester. Para pencetak gol pertamanya adalah Hilton Johnson (dua gol), Arthur West (2), dan Sam Dingley,” sebut David Clayton dalam Leicester City FC Miscellany: Everything You Ever Needed to Know about The Foxes. Pertandingan pertama yang dihelat pada 1 November 1884 itu namun belum tercatat sebagai laga kompetitif resmi karena Leicester Fosse baru mengajukan diri dan diterima sebagai anggota The Football Association (FA, induk sepakbola Inggris) pada 1890. Leicester baru memainkan laga kompetisi pertamanya pada musim 1891-1892 di Midland League, kompetisi semi pro di bawah Division Two. Menukil laman resmi klub , Leicester mulanya bermain dengan seragam atas hitam bercorak garis horizontal biru dan celana putih. Saat pertamakali tampil di Midland League pada 1891, warna itu diubah menjadi atasan cokelat dan celana biru. Baru setelah naik ke Division Two pada 1903 Leicester mengubah warna kostumnya jadi biru-putih yang bertahan hingga kini. Stadion Filbert Street & King Power Stadium (atas) serta emblem klub dulu dan kini (bawah) ( lcfc.com ) Markas tim juga sempat beberapa kali pindah. Dari Fosse Road ke Victoria Park, lalu Balgrave Road, County Cricket Ground, hingga Filbert Street yang bertahan sejak 1891. Bersamaan dengan rampungnya pembangunan King Power Stadium berkapasitas 32 ribu penonton pada 2002, Filbert Street pun ditinggalkan klub. Pun dengan logo klub. Sejak 1884 hingga lebih setengah abad, Leicester belum punya logo resmi alias hanya sekadar menyematkan logo kota Leicester berupa perisai “Gules” dengan seekor naga di atasnya. Baru pada 1948 Leicester memiliki logo berupa kepala rubah di tengah perisai putih di seragamnya. Rubah sebagai hewan cerdik dan lincah dijadikan sebagai logo, maskot, dan julukan karena wilayah Leicestershire kondang dengan perburuan rubah. Sayangnya, dari masa ke masa Leicester Fosse acap jatuh-bangun di Divisi Two. Capaian terbaik mereka hanya sekali bertengger sebagai runner-up musim 1907-1908. Sisanya berakhir di papan tengah maupun papan bawah, hingga sempat bangkrut pada 1919 saat Football League hendak dihidupkan lagi setelah absen sepanjang Perang Dunia I (1914-1918). Sempat mati suri, klub lantas diambil alih pemerintah kota pada 1919. Perubahan nama klub dilakukan, menjadi Leicester City Football Club dan bertahan hingga kini kendati sejak 2010 klub sudah dibeli konsorsium Asia Football Investments. Di Balik Dongeng Cinderella Jatuh-bangun mengiringi datang dan perginya pemain dan pelatih Leicester. Pernah menjejakkan kaki di liga teratas, namun sebentar. Itu terjadi pada tahun 1954, setelah juara Division Two Leicester berhak promosi ke Division One. Namun semusim kemudian Leicester terdegradasi lagi. Catatan terlama “Pasukan Rubah” bertahan di Division One terjadi pada musim 1957-1969 saat diasuh Dave Halliday. Sisanya Leicester kembali “wara-wiri” antara kasta kedua dan kasta teratas. Maka ketika Leicester melesat bak meteor pada 2016, semua mata penikmat Liga Inggris terbelalak. “Dongeng Cinderella” itu dimulai kala manajemen klub merekrut Ranieri. Pelatih kelahiran Italia berjuluk “Tinkerman” itu pernah melatih Napoli, Atlético Madrid, Chelsea, Juventus, AS Roma, dan Inter Milan. Dalam “Leicester City’s Title Triumph: The Inside Story of an Extraordinary Season” yang dimuat The Guardian , 3 Mei 2016, kolumnis senior Stuart James menguraikan kunci sukses Ranieri menggoreskan sejarah baru bagi Leicester. Menurutnya, semua berawal dari presentasi Ranieri pada awal Juli 2015 sebelum direkrut sebagai calon pengganti Nigel Pearson yang dipecat. “Ranieri adalah Ranieri: berkharisma, sangat bergairah, dan berwawasan luas. Ada sebuah perasaan yang “nge-klik” antara dia dan (wakil ketua klub, Aiyawatt) Srivaddhanaprabha, saat Ranieri mengungkit nama Francesco Totti dan Gabriel Batistuta yang pernah dilatihnya. Seketika, antusiasme pelatih asal Italia itu meninggalkan kesan mendalam bagi para anggota dewan direksi klub,” ungkap James. Searah jarum jam, Skuad Leicester tahun 1889, 1891, 1898, dan 1913 ( lcfc.com ) Hasilnya, pada 13 Juli 2015 Ranieri resmi diumumkan sebagai arsitek anyar Leicester. Ia dikontrak selama tiga tahun. Keputusan Leicester itu menuai banyak kritik. Banyak pihak meragukan kapasitas Ranieri karena ia pecatan Timnas Yunani setelah kalah memalukan dari tim gurem Kepulauan Faroe. Salah satunya dari Pearson, pelatih Leicester yang digantikan Ranieri. “Jika Leicester menginginkan seseorang yang ramah, mereka sudah mendapatkannya. Tetapi jika mereka menginginkan pelatih yang bisa membuat mereka bertahan di Premier League, maka mereka memilih orang yang salah,” kata Pearson menyindir, dikutip The Guardian , 14 Juli 2015. “Anjing menggonggong, kafilah berlalu,” begitu kata pepatah. Sembilan bulan kemudian, Ranieri membungkam para pengkritik dengan persembahan gelar juara Premier League 2015-2016. Di musim sebelumnya (2014-2015), “The Foxes” di bawah Pearson hanya bisa bertengger di urutan 14 klasemen akhir setelah mati-matian bertahan agar tak terdegradasi. “Kesuksesan Leicester di bawah Ranieri tercatat sebagai salah satu pencapaian paling menakjubkan dalam olahraga manapun. Jangankan pihak luar, di internal klub pun mulanya tak percaya dan seolah masih dalam alam mimpi ketika melihat momen Wes Morgan mengusung trofi Premier League seberat 25 kilogram tinggi-tinggi ke udara,” lanjut James. Claudio Ranieri membungkam para pengkritiknya dengan "keajaiban" ( lcfc.com ) Musim 2015-2016 memang jadi musim yang berat bagi tim-tim top macam Manchester United dan Liverpool. Di akhir musim, Liverpool hanya mampu menempati urutan delapan dan Manchester United di spot kelima meski tetap gagal lolos ke Liga Champions. Di tengah keterpurukan tim-tim mapan itulah Ranieri membawa Leicester melesat ke posisi puncak. Dari total 38 laga, Leicester hanya tiga kali menderita kekalahan. Apa kuncinya? Salah satunya, imbuh James, terletak pada jasa Steve Walsh, asisten pelatih dan kepala perekrutan klub. Walsh turut andil dalam proses mempermanenkan Robert Huth, Shinji Okazaki, dan Christian Fuchs. Ketiganya sebelumnya berstatus pinjaman dari Stoke City, Schalke 04 dan Mainz 05. Lalu untuk menopang serangan yang mengandalkan Jamie Vardy, Walsh mendesak Ranieri untuk mendatangkan gelandang berprospek cerah dari klub Caen (Prancis), N’Golo Kanté. “Kanté adalah pemain kuncinya dan Ranieri, sebagaimana yang ia akui, awalnya tak begitu mengenal pemain ini. Ranieri seperti para pelatih top Premier League lain, tak pernah mendeteksi eksistensi Kanté dalam radarnya. Tetapi setelah melihat sendiri, Ranieri setuju membawanya ke Leicester dengan mahar 5,6 juta poundsterling. Selebihnya bisa dilihat sendiri hasilnya,” sambung James. Figur-figur lain yang tak kalah besar andilnya adalah barisan tim pelatih: Craig Shakespeare, Paolo Benetti, Andrea Azzalin, Matt Reeves, dan Mike Stowell. Mereka menggarap data statistik mentah yang kemudian dijadikan bahan evaluasi setiap pemain oleh Ranieri. Termasuk beberapa pemain yang di musim sebelumnya sering dicadangkan Pearson, seperti Danny Drinkwater, Gökhan İnler, Jeffrey Schlupp dan Marc Albrighton. Mereka inilah yang justru dijadikan pilar kunci oleh Ranieri. Momen Leicester City dalam perayaan gelar juara Liga Inggris 2015-2016 ( lcfc.com ) Kunci sukses lain Ranieri yakni pendekatan berbeda kepada para pemainnya di ruang ganti. Ranieri tak seperti Pearson yang dingin dan melulu serius. “Ranieri sosok yang hangat dan sering menyelipkan humor saat berbicara. Saat Boxing Day , Ranieri memberi bel yang terpahat namanya ke semua pemain sebagai kado Natal. Di sisi lain, ketika di tengah musim sudah mencatatkan 40 poin dan asa juara disuarakan media, Ranieri mengutip slogan Presiden Amerika: ‘Saya ingin bilang: Ya kita bisa! Tetapi saya bukan (Barack) Obama’,” tandas James. Sayang kesuksesan Ranieri hanya seumur jagung. Semusim setelah membawa Leicester juara, ia dipecat. Meski membawa Leicester mencapai babak 16 besar Liga Champions, Ranieri membuat Leicester terpuruk di liga. Saat masih tersisa 13 laga, Leicester terjerembab di papan bawah dengan bertengger satu posisi di atas zona degradasi. Maka ketika ia dipecat pada 23 Februari 2017, banyak pihak menyesalkan. Termasuk para suporter yang membentangkan sebuah spanduk di pertandingan pertama tanpa Ranieri bertuliskan: “ Grazie Claudio” (“terima kasih, Claudio”).

  • Akhir Palagan Jenderal Sayidiman Suryohadiprodjo

    Satu lagi pelaku sekaligus saksi sejarah telah berpulang. Letjen (Purn.) Sayidiman Suryohadiprodjo wafat dalam usia 93 tahun. Setelah sempat dirawat di RSPAD Gatot Subroto, sang jenderal menghembuskan nafas terakhirnya pada 16 Januari pukul 16.35 WIB. Pada tahun-tahun terakhirnya, Pak Sayidiman selalu berkenan membagikan banyak kisah dan memori-nya kepada kami dari Historia . Sayidiman lahir di Bojonegoro pada 21 September 1927. Memulai karier militernya sebagai jebolan Akademi Militer Yogyakarta angkatan pertama tahun 1948. Akademi itu digagas oleh Kepala Staf TKR Letjen Oerip Soemohardjo untuk mencetak tentara profesional. Di sana, Sayidiman merupakan salah satu lulusan terbaik dan ada di peringkat ketiga. Ketika majalah  Historia  (nomor 32) mengangkat ketokohan Oerip Soemohardjo sebagai laporan utama pada 2016, saya ditugaskan untuk mewawancarai Sayidiman. Saya sempat ragu Pak Sayidiman bersedia menanggapi, mengingat usianya yang sudah cukup lanjut saat itu (89 tahun). Ternyata yang bersangkutan berkenan. Ingatannya pun masih cukup segar dalam bertutur. Perbincangan dengan Pak Sayidiman selalu mengalir terbuka dan cukup panjang. “Pak Oerip adalah militer sejati,  a no-nonsense man . Tapi dengan perasaan yang halus. Yang disampaikan beliau agar kita menjadi perwira yang baik, cinta tanah air dan bangsa, penuh rasa tanggung jawab, teguh disiplin,” kata Sayidiman saat itu.  Ketika menjadi kadet di Akademi MIliter (MA), Sayidiman pernah terlibat langsung dalam penumpasan PKI di Madiun . Saat itu, dia adalah komandan kadet MA. Dia ditugaskan untuk bergabung dengan Batalyon Nasuhi yang masuk dalam Divisi Siliwangi untuk menumpas pasukan merah di Madiun.   Ketika menjadi komandan Batalion 309 Siliwangi, Sayidiman turun lagi ke berbagai palagan. Secara guyon, Sayidiman menyebut batalion pimpinannya sebagai “Batalion Aki” (batalion kakek) karena usia rata-rata prajuritnya terbilang senior mendekati usia 30. Bersama Batalion 309, Sayidiman memimpin operasi militer penumpasan Darul Islam di Jawa Barat dan PRRI di Tapanuli.    Ketika bertempur di Tapanuli, Sayidiman menuturkan kepada saya persinggungannya dengan Mayor Boyke Nainggolan, perwira tempur PRRI yang paling menonjol. Sebelum melancarkan serangan, Sayidiman sempat mengirimkan surat kepada Boyke agar turun dari persembunyiannya namun tidak digubris. Menurut Sayidiman, PRRI di Sumatra lebih mengutamakan perlawanan yang gagah berani ketimbang menggunakan taktik gerilya.    “Andai kata iya (bergerilya), akan repot kita hadapi gerilya di Bukit Barisan,” kata Sayidiman. Pada dekade 1960-an, Sayidiman bertugas di Markas Besar Staf Umum Angkatan Darat (SUAD) sebagai perwira pembantu bidang operasi. Penempatan itu memungkinkan Sayidiman mengenal dari jarak dekat para perwira tinggi yang tergabung dalam ring satu jajaran Angkatan Darat. Mulai dari Menteri Panglima Angkatan Darat Jenderal Ahmad Yani hingga para deputi maupun asistennya. Sayidiman mengatakan, Mayjen Moersjid (Deputi I/Operasi) pribadi yang cukup dinamis walupun merupakan deputi termuda. Tipikal komandan pasukan yang sukses dan dapat berpikir Barat. Sedangkan Mayjen M.T. Harjono (Deputi III/Pembinaan), kata Sayidiman adalah seorang intelektual bermutu; kompensasi dari kurangnya pengalaman militer di lapangan. Mayjen S. Parman (Asisten I/Intelijen) disebut Sayidiman sebagai asisten yang paling cerdas. Mayjen Djamin Gintings (Asisten II/Operasi), atasan langsung Sayidiman digambarkan sebagai perwira yang dekat dengan anak buah namun kurang kritis. Sementara itu, Sayidiman mengenang Brigjen D.I. Pandjaitan (Asisten IV/Logistik) sebagai perwira yang enerjik, kritis, tapi mampu menghargai kualitas kinerja staf yang baik.    Meski punya karakter beragam, menurut Sayidiman tingkat intelektual SUAD pada era kepemimpinan Yani tidak dapat ditandingi. Tuturan Sayidiman mengenai para deputi dan asisten Yani tersebut cukup menarik dan telah terkisah dalam artikel di Historia . Selain itu, pengalaman berharga di SUAD sepertinya mempengaruhi Sayidiman dalam membentuk pola pikir militernya.    Selepas dinas dari SUAD, karier militer Sayidiman kian menanjak. Pada 1968, Sayidiman diangkat sebagai panglima Kodam XIV/Hasanuddin di Sulawesi Selatan. Sayidiman kemudian ditarik ke pusat untuk menjabat ketua Gabungan Personil (G-III) di Departemen Hankam. Pada jenjang perwira tinggi ini, Sayidiman lebih dikenal sebagai perwira intelektual. Tipikal jenderal pemikir. Kiprah gemilang Sayidiman membuatnya digadang-gadang sebagai salah satu sosok pemimpin TNI di masa mendatang. Kans ini cukup besar, mengingat Sayidiman juga berasal dari Angkatan 45 yang turut dalam perang kemerdekaan. Pada 1973, Sayidiman menjabat wakil Kepala Staf Angkatan Darat. Nahas bagi Sayidiman terjadi setelah pecah kerusuhan Malapetaka 15 Januari (Malari) 1974. Peristiwa yang sarat intrik politik itu menyebabkan Panglima Kopkamtib Jenderal Soemitro terjungkal dari kedudukannya. Wakil Kepala Bakin Mayjen Ali Moertopo, perwira intelijen perancang Operasi Khusus (Opsus) disebut-sebut berada dibelakang kejadian ini.   Menurut pengamat militer Salim Said, Sayidiman adalah seorang yang di mata Presiden Soeharto tergolong kelompok Soemitro. Sayidiman tersingkir. “Akibatnya, tak seorang pun lulusan MA (Militaire Academie) Yogyakarta yang mencapai pangkat Jenderal bintang empat dan berkesempatan menduduki kursi KSAD” ungkap Salim dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto . Saya sempat menanyakan kepada Pak Sayidiman sehubungan dengan apa yang terjadi padanya dalam peristiwa Malari. Menurut Sayidiman, Soemitro terlalu yakin dengan kekuasannya sebagai pangkopkamtib lantas terjebak oleh kelihaian permainan intelijen Ali Moertopo. Akibatnya, Soemitro, Kepala Bakin Letjen Sutopo Yuwino, termasuk dirinya sendirinya menjadi korban. “Saya dituduh mengatur perwira-perwira muda untuk turut Malari,” ujar Sayidiman dalam percakapan via pesan teks, 10 Januari 2019 silam. Pasca Malari, Sayidiman digeser ke pinggir menjadi gubernur Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas). Pada 1979, Sayidiman diangkat sebagai duta besar Indonesia untuk Jepang. Setelah itu, Sayidiman menjadi duta besar keliling untuk wilayah Afrika. Masa purnabakti itu tiba pada 1 Oktober 1982. Sayidiman pensiun dengan pangkat letnan jenderal.   Sekalipun tudingan yang pernah ditimpakan atas namanya itu tidak terbukti, Sayidiman tetap dapat berbesar hati. “Tapi saya tidak pernah dendam terhadap Ali Moertopo, sama sekali,” katanya. Sayidiman menang dalam pertempuran mengalahkan ego dirinya sendiri. Barangkali rasa legowo dan bebas dari dendam itu pula yang membuat Sayidiman tetap sehat sampai lanjut usia. Hingga pada akhirnya dia boleh beristirahat dengan tenang dari semua palagan di atas dunia. Selamat jalan, Jenderal. Terimakasih telah berbagi kisah dan memori.

  • Siapakah Sarinah?

    RABU, 13 Agustus 1948. Musso tiba di Yogyakarta. Tokoh penting kaum komunis Indonesia itu lantas berkunjung ke Gedung Agung dan disambut hangat oleh Presiden Sukarno. Selain bernostalgia mengingat masa-masa kos di rumah H.O.S. Tjokroaminoto, mereka berdua juga terlibat pembicaraan serius mengenai jalannya revolusi Indonesia. Setelah hampir dua jam berbicara, Musso pamit. Sukarno menahannya sejenak. Dia lantas memberikan sebuah buku yang ditulisnya sendiri. Judulnya: Sarinah . Menurut Fatmawati Sukarno, Si Bung sengaja memberikan buku tersebut agar Musso paham bahwa Sukarno tidak setuju terhadap garis politik PKI saat itu. “Dalam buku Sarinah  ada bab yang mengupas tugas rakyat dalam tahap-tahap revolusi yang berjudul: Kepada Bangsaku. Itu merupakan kritik terhadap politik PKI,” ungkap Fatmawati dalam Catatan Kecil Bersama Bung Karno Bagian I. Sejatinya Sarinah  bukanlah roman. Buku tersebut justru berisi berbagai teori dan pendapat bagaimana seharusnya seorang perempuan Indonesia berpikir dan bersikap. Sejenis penuntun bagi perjuangan kaum perempuan. Lantas siapakah Sarinah yang namanya ditabalkan pada kitab penting itu? Dalam otobigrafinya, Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia  (disusun oleh Cindy Adams), Sukarno mengungkapkan bahwa Sarinah adalah gadis pembantu keluarga orangtua-nya yang memiliki jasa besar ikut membesarkannya. “Sarinah adalah bagian dari rumah tangga kami. Tidak kawin. Bagi kami, dia adalah seorang anggota keluarga kami. Dia tidur dengan kami, tinggal dengan kami dan memakan apa yang kami makan, akan tetapi dia tidak mendapat gaji sepeser pun,” ujar Sukarno. Menurut Bung Karno, dari Sarinah-lah dia mengenal dan belajar tentang arti cinta kasih. Terutama yang terkait dengan kecintaan kepada rakyat jelata. Sukarno ingat saat memasak di gubuk kecil dekat rumah orangtuanya, Sarinah kerap berbicara kepada Sukarno kecil yang duduk di sebelahnya mengenai cinta kasih. “Karno, yang utama kamu harus mencintai ibumu. Akan tetapi kemudian engkau harus mencintai rakyat jelata. Engkau harus mencintai manusia pada umumnya,” kata Sarinah. Begitu dekatnya Sukarno dengan Sarinah hingga saat tidur pun, Sukarno kecil tak pernah bisa lepas dari perempuan sederhana tersebut. Ke mana pun Sarinah pergi, anak lelaki itu selalu menguntitnya. “Bagiku dia adalah satu kekuasaan yang paling besar dalam hidupku,” ujar Sukarno. Wajar saja jika saat dewasa, Sukarno tak pernah bisa melupakan sosok perempuan bersahaja itu.  Bahkan sebagai bentuk rasa terimakasihnya, Sukarno menabalkan namanya untuk buku yang ditulisnya dan obyek penting yang menjadi inspirasinya: Departement Store Sarinah yang merupakan pusat perbelanjaan termodern pertama yang ada di Asia Tenggara. “Dari Mbok Sarinah, saya mendapat pelajaran untuk mencintai rakyat kecil. Dia sendiri memang “orang kecil” tapi memiliki jiwa yang besar,” tulis Sukarno dalam Sarinah: Kewadjiban Wanita dalam Perdjoangan Republik Indonesia . Namun ada satu versi menarik mengenai figur Sarinah yang dituliskan oleh Lambert Giebels dalam Soekarno , Biografi 1901—1950 . Menurut penulis sejarah asal Belanda tersebut, salah satu versi tentang asal-usul Sukarno menyebutkan bahwa Sarinah sejatinya adalah ibu kandung Sukarno sendiri. Dalam versi itu, Sarinah mengandung Sukarno karena hubungan dekatnya dengan seorang karyawan perkebunan berbangsa Belanda. Versi lain malah menyebut orang Belanda itu adalah salah seorang pejabat tinggi atau seorang yang berdarah Indo. “Sesudah Sarinah melahirkan anak majikannya, sepasang suami-isteri mengangkat bayi itu sebagai anak mereka sedangkan Sarinah sendiri menjadi pengasuh putranya sendiri,” tulis Giebels. Sukarno sendiri bukannya tidak tahu soal beredarnya kisah itu di kalangan khalayak. Namun alih-alih menjadi tersinggung atau marah, kata Giebels, dia malah merasa geli, terutama terkait cerita darah Indo-nya yang dia anggap sebagai khayalan semata. “Dia menjelaskan bahwa orang-orang Indo tidak bisa percaya bahwa presiden Indonesia yang penuh semangat, dinamis dan cepat berpikir adalah seorang (keturunan) pribumi sederhana,” ungkap Giebels. Mengenai asal-usul Sarinah, Bung Karno sendiri tak pernah mengisahkan secara detil mengenai riwayat inang pengasuhnya di masa kecil itu. Yang jelas, hari ini di Pekuburan Rakyat Kelurahan Kepatihan Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur terdapat sebuah makam tua yang di nisan-nya bertuliskan nama Sarinah. Disebutkan waktu meninggalnya: 28 Desember 1959. Dalam sejarah Indonesia sendiri, dokumen orsinil mengenai Sarinah hanya terwakili oleh selembar foto milik Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Di foto tersebut terlihat Sarinah yang berusia saparuh baya lebih tengah dirangkul oleh Presiden Sukarno. Jika itu benar, maka bisa dipastikan gambar itu sepertinya diambil beberapa tahun sebelum Sarinah wafat.*

  • Vaksin Wabah Penyakit

    Di masa pandemi, vaksin dipercaya menjadi salah satu pencegahan penyakit yang paling efektif. Berikut beberapa wabah penyakit di Nusantara yang berhasil dicegah dengan menggunakan vaksin.

  • Penghubung CIA dan Badan Intelijen Indonesia

    KESATUAN Aksi Pengganyangan Gerakan 30 September (KAP Gestapu) didirikan sehari setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965. Front aksi sipil ini dibentuk oleh Angkatan Darat untuk menghadapi PKI. Ketuanya Subchan Z.E. dari Nahdlatul Ulama, Sekretaris Jenderal Harry Tjan Silalahi dari Partai Katolik, dan pemimpin pelaksana Jusuf Wanandi.

  • Durán dan Leonard, dari Lawan jadi Kawan

    TAHUN baru, resolusi baru. Bagi petinju Roberto Durán, resolusinya pada Januari 2002 adalah gantung sarung tinju. Keputusan itu diambil setelah ia nyaris tewas beberapa bulan sebelumnya dalam kecelakaan mobil. Kecelakaannya terjadi kala ia berperjalanan ke Argentina dalam rangka promosi rekaman musik salsanya pada Oktober 2001. “Jadi, pada Januari 2002 saya pensiun. Saya tak menyesal meninggalkan tinju dengan keadaan seperti ini karena sebelum kecelakaan, saya tak pernah punya pikiran pensiun, bahkan beberapa bulan sejak saya kalah dari Héctor ‘Macho’ Camacho. Faktanya, kondisi saya yang baik saat melawan Camacho mungkin jadi faktor yang menyelamatkan saya dari kecelakaan maut,” tulisnya dalam, I Am Durán: The Autobiography of Roberto Durán . Total sudah 119 pertarungan ia lakoni sepanjang 33 tahun kariernya dengan 103 kemenangan (70 KO) dan 16 kali kalah. Dua dari 16 kekalahannya didapat dari seteru abadinya, Sugar Ray Leonard. Rivalitas Durán dan Leonard mendapat tempat tersendiri dalam sejarah tinju sebagaimana era Max Schmeling-Joe Louis di 1930-an, Muhammad Ali-Joe Frazier pada 1960-an, Mike Tyson-Evander Holyfield, dan Manny Pacquiao-Floyd Mayweather Jr. Maka kisah mereka acap diabadikan dalam berbagai medium, termasuk layar lebar. Setidaknya sudah tiga film yang mengangkat kisah dua dari jajaran “Four Kings” (empat raja tinju: Durán, Leonard, Thomas Hearns, dan Marvin Hagler) pada era emas terakhir tinju 1980-an itu. Selain serial dokumenter ESPN berjudul 30 for 30: No Más  (2013), ada drama biopik Hands of Stone  (2016) dan dokumenter I Am  Durán (2019). Sugar Ray Leonard (kiri) & Roberto Durán menjalin persahabatan erat di masa senja. ( sugarrayleonard.com ). Seperti para pendahulunya, pada akhirnya Durán dan Leonard menjelma dari lawan jadi kawan. Kala Leonard ikut dalam proyek serial dokumenter 30 for 30: No Más ke Panama, Durán saban malam menjemput Leonard dari hotel untuk makan malam bersama. “Hal yang tak bisa dipercaya. Kami berkendara menjelajahi Panama dan semua orang yang melihat kami membunyikan klakson dan melambaikan tangan pada kami. Saya duduk di samping Roberto Durán di mobilnya dan saya berpikir: ‘Ini takkan terjadi 20, 30 tahun lalu.’ Kami adalah saingan yang saling membenci,” kata Leonard kepada Philly Voice , 26 Agustus 2016. Perang Urat Syaraf Saling benci yang dimaksud Leonard disulut oleh aksi-aksi provokatif Durán jelang duel pertama mereka, 20 Juni 1980 di Olympic Stadium, Montréal, Kanada. Pertarungan bertajuk “The Brawl in Montréal” itu memperebutkan gelar dunia kelas welter versi WBC. Kedua petinju sama-sama tengah berada di masa puncak. Durán belum lama naik dari kelas ringan ke welter dengan catatan 71-1 (8-0 di kelas welter), sementara Leonard belum terkalahkan dalam 27 pertarungan sebelumnya, termasuk dalam beberapa laga mempertahankan gelar WBC yang didapatnya pada Desember 1979. Durán punya ambisi untuk merobohkan Leonard sebagai simbol Amerika yang dibencinya sejak kecil. Sementara Leonard sang anak emas Amerika ingin membuktikan bahwa dia tak hanya petinju flamboyan yang sering nongol di beragam iklan, namun juga mampu berduel dengan petinju beringas seperti Durán. Pertarungan besar itu dipropagandakan secara kolosal oleh promotor kondang Bob Arum dan Don King. Seperti diberitakan suratkabar The Washington Post , 10 Mei 1980, seluruh 75 ribu tiketnya, dengan kursi ringside alias di pinggir ring yang dibanderol 500 dolar, ludes terjual. Leonard sebagai juara bertahan dalam kontraknya dibayar 8,5 juta dolar, sementara Durán sebagai penantang diganjar 1,5 juta dolar. Ketimpangan pendapatan ini jadi salah satu dari beragam faktor Durán menyulut provokasi. Sugar Ray Leonard bersama istrinya, Juanita (kiri) dan pelatihnya, Angelo Dundee yang dihina Durán. (Majalah Jet , 10 Juli 1980/ sugarrayleonard.com ). Dalam konferensi pers jelang laga, Leonard memberi komentar diplomatis, “Saya berada dalam kondisi hebat dan saya yakin Durán juga akan berada dalam kondisi yang sama. Pertarungan ini akan jadi pertarungan luar biasa.” Namun Durán via penerjemah enggan memberi komentar senada. “Saya tak ingin banyak bicara seperti dia. Urusan saya hanya bertarung. Tapi saya rasa ini akan jadi kali pertama Leonard benar-benar harus bertarung seperti pria sesungguhnya,” ujarnya. Namun “ribut” Duran-Leonard tak hanya berlangsung di konferensi pers. Jurnalis Christian Guidice mengungkapkan dalam biografi Hands of Stone: The Life and Legend of Roberto Durán , ketika di hotel yang sama beberapa hari sebelum pertarungan, Durán berpapasan dengan Leonard yang tengah ditemani istrinya, Juanita, dan pelatihnya, Angelo Dundee. Leonard ingin tetap bersikap ramah dan mencoba menyapanya dengan senyum lebar. Alih-alih direspon dengan ramah pula, Durán justru melontarkan ejekan, cacian, dan sejumlah kata-kata hinaan. “Durán datang menghampiri kami dan mulai memberi cacian kepada Ray dan Juanita. Katannya (Durán): ‘Saya akan membunuh suami Anda.’ Ray tak menduga Durán begitu kasar di depan istrinya. Padahal dia juga pria yang sudah berkeluarga,” kenang Dundee dikutip Guidice. Roberto Durán vs Sugar Ray Leonard jilid I yang dimenangkan Durán. ( wbcboxing.com ). Jauh setelah itu, Leonard baru sadar bahwa itu hanya trik dalam perang urat syaraf yang dilancarkan Durán untuk mengacaukan pikirannya di atas ring. Pasalnya ketika pertarungan berlangsung, Leonard benar-benar hanyut dalam emosinya untuk memberi perhitungan kepada Durán. Leonard tak bertarung sebagaimana biasanya dan tak mengindahkan segala strategi yang dilontarkan Dundee. “Dia mengejek saya. Dia menghina dan mengutuk ibu, anak-anak, dan istri saya. Dia mengatakan hal-hal yang tak bisa saya percaya dan saya membiarkan hal itu merasuki pikiran saya,” aku Leonard. Bukannya bertarung sesuai arahan pelatihnya untuk menjaga jarak dan mewaspadai pukulan keras Durán, Leonard justru terseret gaya bertarung Durán yang gemar jual-beli pukulan dari jarak dekat. Walau pertarungan 15 ronde berlangsung sengit, Leonard harus rela kehilangan gelarnya setelah juri memutuskan Durán menang angka. No Más! Sementara Leonard bertekad bangkit dari keterpurukan, Durán justru menjalani kesuksesannya dengan foya-foya. Nahas bagi Duran, tanpa persetujuannya, sang manajer Carlos Eleta dan Don King sepakat menghelat pertarungan ulang. Dalam deal itu, duel Durán vs Leonard II bertajuk “The Super Fight” akan digelar di Louisiana Superdome, New Orleans, Amerika Serikat, 25 November 1980. Durán sama sekali tak siap secara fisik maupun mental untuk naik ring lagi dalam waktu lima bulan. “Saya tidak siap untuk pertarungan itu. Saya tahu bahwa kelak akan ada rematch , namun saya tak menduga akan secepat itu. Berat badan saya naik drastis, hampir 190 pounds (86 kilogram, sementara batas kelas welter maksimal 154 pounds/70 kg, red. ). Itu semua salah manajer (Carlos Eleta). Karena sangat sulit buat saya mengurangi berat badan secepat itu,” ungkap Durán. Eleta berdalih kesepakatannya dengan Don King begitu cepat dibuat karena dia tak senang Durán kembali ke gaya hidup indisipliner dan berpesta saban malam. Baginya, kesepakatan itu demi kebaikan Durán sendiri. Apalagi kesepakatannya sangat menguntungkan Durán. Sang juara bertahan diganjar 8 juta dolar. “Saya menyepakati perjanjian pertarungan ulang itu dalam tiga bulan karena dia mulai sering minum-minum hingga mabuk. Saya khawatir jika akhirnya dia bertarung lagi (dalam tenggat waktu lama), dia justru akan kehilangan reputasinya sebagai petinju unggulan,” aku Eleta kepada Guidice. Sugar Ray Leonard membalas kekalahan di duel jilid II setelah momen " No Mas !" Roberto Durán. ( wbcboxing.com ). Dalam duel Durán-Leonard jilid II itu, Leonard tak lagi terpengaruh apalagi termakan provokasi Duran. Leonard 100 persen fokus untuk kembali pada gaya bertarungnya: meloncat sana-sini, menghindar, dan bergerak bak berdansa seperti kupu-kupu seperti halnya Muhammad Ali. “Sepanjang pertarungan saya bergerak dan terus bergerak. Dan voom ! Saya mengenai kepalanya dengan jab . Voom ! Saya menghantamnya lagi. Dia berusaha mendesak saya ke tali ring namun saya mengelak dan pow ! Saya memukulnya lagi dengan telak,” kenang Leonard. Sementara, kondisi fisik Duran tak 100 persen bugar akibat usaha keras menurunkan berat badan. Durán yang sama sekali tak siap bahkan mengalami keram perut saat pertandingan baru lima ronde. Ditambah gestur-gestur provokatif Leonard, Durán memilih berhenti bertarung di ronde kedelapan. Saat itulah disebutkan Durán menyatakan “ No Mas !” alias tak mau lagi bertarung kepada wasit Octavio Meyran. Hingga sekarang pernyataan itu jadi aib yang tak pernah hilang dari Durán, tak peduli berapa kali pun Durán menyanggahnya. Dalam pembelaannya pada konferensi pers pasca-pertarungan, bukan “No Mas!” yang dikatakan Durán, melainkan “ Ni Sigo, no sigo ,” yang artinya saya tak bisa melanjutkan karena mengalami keram perut. Leonard tak mendengar detail perkataan itu. Baginya bisa membuat Durán menyerah sudah cukup memuaskan hatinya. Gelar WBC kelas welter pun kembali ke pelukan Leonard setelah diputuskan ia menang TKO. “Saya memaksanya menyerah. Untuk bisa membuat seorang petinju menyerah, lebih lagi seorang Roberto Durán, adalah hal yang lebih baik ketimbang membuatnya KO,” cetus Leonard. Rekonsiliasi Sejak saat itu, Durán dan Leonard tak pernah lagi bertatap muka hingga tiga tahun berikutnya. Durán sempat terpuruk dan butuh waktu lama untuk bangkit kala menang atas Davey Moore dalam perebutan kelas super welter versi WBA, 16 Juni 1983. Tanpa dinyana, pascalaga itu Leonard mendatangi Durán dan memberi ucapan selamat. Momen itu mengubah perseteruan Durán dan Leonard menjadi persahabatan. “Malam itu sungguh ajaib. Saya tak ingat berapa banyak yang datang dan mengucapkan selamat, namun yang saya kenang betul adalah Larry Holmes dan Muhammad Ali mendatangi saya. Bahkan teman dan musuh lama saya Sugar Ray Leonard juga datang dan memberikan selamat dengan memeluk saya. Dia bilang: ‘Saya ikut senang dengan kemenangan Anda,’” sambung Durán di otobiografinya. Persahabatan terjalin sejak 1983 meski kemudian kembali naik ring dalam duel jilid III pada 1989. ( boxingrec.com / sugarrayleonard.com ). Kendati mulai berteman, bukan berarti keduanya tak pernah lagi adu otot di atas ring. Durán dan Leonard melakoni pertarungan terakhir mereka, untuk memperebutkan gelar menengah super versi WBC, di The Mirage, Las Vegas, Amerika, 7 Desember 1989. Pertarungannya tak sesengit jilid I atau II. Leonard kembali menang angka setelah melalui 12 ronde. Di luar ring, keduanya tetap berteman dan makin dekat hingga mengakui saling respek dan saling sayang sebagai sahabat. Seiring bertambah usia, keduanya sudah bijak kala mengingat perseteruan pahit mereka, termasuk soal kontroversi “No Mas!”. “Saya mencintai Roberto terlepas apapun yang terjadi dalam pertarungan ‘No Mas!’, entah dia benar-benar mengatakannya atau tidak, namun hal itu meninggalkan cela dalam warisannya. Tetapi saya dan Durán akan selalu saling menghormati. Sejak pertarungan ketiga kami selalu berhubungan. Di mana pun saya bertemu, kami saling mengungkapkan rasa cinta. Selalu jadi hal yang spesial setiap kali bersua dengannya,” tandas Leonard.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page