top of page

Hasil pencarian

9752 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ketika Presiden Soeharto Dijahili Pangeran Kamboja

    Presiden Soeharto pernah kecele di negeri orang. Sewaktu kunjungan kenegaraan ke Kamboja, panitia penyambutan salah putar lagu. Niatnya ingin memberikan kesan seperti di rumah sendiri. Tapi siapa sangka, berkumandanglah lagu “Gendjer-Gendjer” mengiringi kedatangan rombongan Soeharto. Lagu itu terlarang karena lekat dengan citra Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dibasmi oleh rezim Soeharto.

  • Memahami Preman yang Diberantas Gajah Mada

    KAPOLDA Metro Jaya, Inspektur Jenderal Polisi Fadil Imran berbicara kepada wartawan di Polda Metro Jaya. Ia mengibaratkan aksinya seperti Gajah Mada memberantas premanisme. Menurut Fadil, sosok Gajah Mada dinantikan masyarakat untuk menghentikan aksi preman kampung yang kerap mengganggu. Selama ini preman di Jakarta bertindak seolah tak tersentuh hukum. Masyarakat yang ingin melawan preman itu takut dianiaya, dikeroyok, dan diancam. Sebaliknya, lanjut Fadil, masyarakat pasti senang jika kampungnya terbebas dari premanisme. “Tiba-tiba ada sosok satu orang namanya Gajah Mada datang kemudian berantem sama ini preman, preman ini terbunuh, kira-kira masyarakat ini senang enggak ?” kata Fadil sebagaimana dikutip CNN Indonesia . Sesungguhnya tak jelas siapa yang disebut preman dalam kehidupan politik Gajah Mada. Tergantung dari sisi mana memahami jalannya cerita. Gajah Mada Menyelamatkan Jayanagara Sepak terjang Gajah Mada mencuat sejak namanya disebut pertama kali di  Serat Pararaton  sebagai penyelamat raja dalam pemberontakan Ra Kuti. Peristiwa ini terjadi pada era kekuasaan Jayanagara, penguasa kedua Majapahit. Ra Kuti merupakan salah seorang dari tujuh  dharmaputra  yang dibentuk Kertarajasa Jayawardhana atau Raden Wijaya.  Pararaton  menjelaskan,  dharmaputra  ialah  pangalasan wineh suka. Artinya, pegawai yang diistimewakan. Sepuluh tahun berlalu sejak Jayanagara menggantikan Wijaya pada 1309. Kuti dan komplotannya memutuskan untuk menumbangkan pemerintahan. Gerakannya dianggap mengancam hingga raja diungsikan ke tempat persembunyian di luar keraton.  Menurut sejarawan dan mantan Duta Besar Kanada untuk Indonesia, Earl Drake dalam  Gayatri Rajapatni , situasi waktu itu paling merisaukan dari yang pernah terjadi karena meletus langsung di ibu kota. Di tengah kondisi itu, Gajah Mada yang masih tergabung dalam pasukan Bhayangkara,   pasukan khusus pengawal raja, muncul dengan siasatnya. Berkatnya kelompok Kuti dibinasakan. Mengapa Kuti yang kedudukannya dianggap istimewa oleh penguasa sebelumnya kemudian melawan? Raja yang Lemah Bukan hanya Kuti yang tak puas. Sebelumnya telah mencul gerakan yang dicap sebagai pemberontakan. Misalnya, gerakan Ra Nambi pada 1316 M dan Ra Semi pada 1318 M. Nambi adalah sahabat seperjuangan Raden Wijaya. Ia sempat menjabat  patih   amangkubhumi ,   jabatan yang kemudian diduduki Gajah Mada, sebelum mati dilabeli pemberontak. Sementara Semi, sama seperti Kuti, merupakan bagian dari tujuh  dharmaputra . Kendati begitu, Serat Pararaton  dan  Kidung Sorandaka , mengajukan tokoh Mahapati sebagai penyebab kerusuhan di Majapahit. Semua pemberontakan akibat fitnah dan adu domba Mahapati. Namun, perannya itu masih dipertanyakan. Sejarawan Slamet Muljana dalam Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit  berpendapat nama Mahapati seakan muncul tiba-tiba dalam perpolitikan Majapahit. Sebelumnya, Mahapati tak pernah dikenal di antara nama pejuang Singhasari dan Majapahit. Misalnya, ketika melawan tentara Tartar (Mongol). Kalau benar fitnah Mahapati yang mengakibatkan pergolakan di Majapahit, maka Nambi, Semi, dan Kuti bukan pemberontak. Demikian pula Ranggalawe dan Lembu Sora yang melawan pemerintahan Wijaya. Sebaliknya, jika Mahapati hanya tokoh yang ditambahkan saat Serat Pararaton dan Kidung Sorandaka ditulis, maka nama-nama itu memang melakukan pemberontakan. Menurut N.J. Krom, ahli sejarah Jawa dan purbakala, peran Mahapati sengaja ditambahkan kemudian agar berbagai pemberontakan yang terjadi pada awal berdirinya Majapahit bisa menjadi masuk akal. Motif itu bisa dimengerti mungkin karena penulis Serat Pararaton  dan  Kidung Sorandaka sulit memahami bagaimana bisa tokoh-tokoh yang berjasa bagi negara, dipercaya pemerintah, bisa berbalik mengacungkan senjata. Namun, pemberontakan bisa saja terjadi karena dipicu oleh ketidakpuasan pada pemerintah. Sebab, Jayanagara dijuluki Kala Gemet . Julukan ini dipakai oleh pengarang  Kidung Ranggalawe  dan  Pararaton  ketika menceritakan Jayanagara.  Slamet Muljana menjelaskan kata  kala  berarti penjahat. Ini mengandung arti ketidaksukaan rakyat atau pengarang Kidung Ranggalawe dan Pararaton  terhadap Jayanagara. Sementara kata gemet  adalah bentuk yang berubah dari kata  gamet  dan  gamut  yang artinya lemah.  Pararaton  menyebut Jayanagara banyak menderita sakit. “Demikianlah Kala Gemet  adalah nama paraben  yang mengandung arti ‘penjahat yang lemah’,” tulis Slamet. Gajah Mada di Balik Kematian Jayanagara Jayanagara membentuk pasukan Bhayangkara yang dipimpin Gajah Mada untuk menghadapi kemelut dalam pemerintahannya. Kesatuan ini melindunginya setiap saat. “Raja baru ini tampaknya sama sekali tak peduli dengan aspirasi dan kebutuhan mereka (rakyat, red. ),” tulis Drake. Puncaknya, Gajah Mada yang dianggap paling berjasa melindungi Jayanagara justru diyakini sebagai dalang di balik kematiannya. Drake percaya Gajah Mada andil dalam kematian Jayanagara. Drake menyebut desakan halus Gayatri telah membulatkan tekad Gajah Mada. Gayatri mencurigai Jayanagara berupaya menghalangi pernikahan kedua putrinya, Tribhuwana Tunggadewi dan Bhre Daha. Sebab, dia bermaksud memperistri kedua saudari tirinya itu.  Pararaton mencatat tak ada ksatria yang diizinkan datang ke Majapahit. Jika ada, mereka dibunuh. “Rencana busuk ini dirancang agar putri-putri Gayatri tak bisa menikmati perkawinan normal. Raja takut mereka akan menghasilkan pewaris takhta,” catat Drake. Gajah Mada pun bersiasat. Dia mendekati Tanca, seorang  dharmaputra sekaligus sahabat Kuti. Menurut Pararaton ,   Tanca pernah mengadu pada Gajah Mada kalau istrinya digoda Jayanagara. Dendam Tanca dimanfaatkan Gajah Mada. Kesempatan datang ketika diminta mengobati Jayanagara, Tanca menikamnya. Pararaton  dan Nagarakrtagama  mencatat kematian Jayanagara pada 1250 Saka (1328 M). Gajah Mada menggunakan Tanca untuk menyingkirkan penguasa yang tak disukai rakyat. Setelah itu, ia membunuh Tanca. “Demikianlah rahasia itu tertutup. Orang ramai hanya tahu Gajah Mada membalaskan kematian sang prabu dan menusuk Tanca sampai mati,” catat Slamet Muljana.*

  • Harun Kabir, Penyelamat Keluarga Bung Karno

    SUATU senja di bulan September 1945. Hetty Kabir masih ingat beberapa mobil berhenti depan rumahnya di Jalan Ciwaringin No. 33 Bogor. Dari salah satu kendaraan tersebut, keluarlah Achmad Subardjo, Chaerudin Achyar, Presiden Sukarno beserta keluarganya (Fatmawati, Guntur Sukarnoputra, mertua Bung Karno: Hasan Din dan Siti Chadijah). Sebagai tuan rumah, sang ayah Harun Kabir menyambut hangat para tamu penting itu. Tak perlu waktu lama, dari perbincangan singkat antara Bung Karno dengan ayahnya, putri kedua Harun Kabir itu langsung paham bahwa sang presiden akan menitipkan Guntur (putra mereka yang belum berusia 1 tahun), Hasan Din dan Siti Chadijah di rumahnya selama waktu yang tak bisa ditentukan. “Mereka bertiga akan tinggal  bersama kami karena saat itu situasi Jakarta sangat tidak aman,” kenang almarhum Hetty Kabir dalam suatu wawancara yang dilakukan pada 2016. Cerita Hetty itu terkonfirmasi dalam buku Catatan Kecil Bersama Bung Karno Bagian I , karya Fatmawati. Istri Sukarno kelahiran Bengkulu itu membenarkan jika keluarga besar Presiden Sukarno sempat “mengungsi” ke Istana Bogor yang sudah dikuasai oleh para pemuda. Kepindahan tersebut terjadi karena di Jakarta teror tentara NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda bentukan H.J. van Mook) mulai merajalela. Namun ketika di Istana Bogor pun, Fatmawati merasakan hal serupa. Dia tidak merasa betah dengan “situasi revolusiener” di sekitar istana yang banyak melibatkan para jago dan pemuda-pemuda setempat. “Bung Karno dan aku pulang kembali ke Jakarta, tetapi Guntur dan nenek-kakeknya tetap tinggal di Bogor, bersama keluarga Harun Kabir,” ungkap Fatmawati. Siapakah sebenarnya sosok Harun Kabir? Pemerintah Jawa Barat mengakui sosok Harun Kabir sebagai tokoh pejuang di era revolusi. Namanya bahkan tertabalkan di tiga kota: Bogor (Jalan Kapten Harun Kabir yang lalu berganti menjadi Jalan Taman Safari), Cianjur (Jalan Mayor Harun Kabir) dan Sukabumi (Jalan Kapten Harun Kabir). Namun sejatinya Harun Kabir bukanlah berasal dari Bogor, Cianjur atau Sukabumi, seperti banyak diyakini oleh beberapa peneliti sejarah di Jawa Barat. Aslinya dia adalah menak Bandung dan putra tunggal dari Raden Kabir Natakusumah, keturunan langsung dari Bupati Bandung ke-5 Raden Wiranatakusumah I (1769-1794). “Ayah saya lahir di Kapatihan pada 5 Desember 1910,” ungkap almarhum Hetty Kabir (putri ke-2 pasangan Harun Kabir dan R.A. Soekrati). Menjelang pemerintah Hindia Belanda runtuh, Harun Kabir menjabat sebagai Asisten Residen Bogor. Ketika militer Jepang berkuasa (1942—1945), dia ditempatkan sebagai pejabat di Zaimubu  (Departemen Keuangan), Jakarta. Pasca proklamasi 17 Agustus 1945, Harun lantas mendirikan Lasykar 33 yang memakai rumahnya sebagai markas besar.  “Saya ingat beliau sempat menjadi komandan saya di Lasykar 33,” ungkap Sukarna, veteran pejuang kemerdekaan kelahiran 1921. Pada awal 1946, Lasykar 33 dilebur ke dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Menurut buku Siliwangi dari Masa ke Masa karya Dinas Sejarah Kodam III, beberapa bulan kemudian, Divisi Siliwangi mendapuk Harun Kabir sebagai Kepala Staf Brigade Surjakantjana, dengan pangkat mayor. Namun kemudian karena ada pembenahan struktur dari Markas Besar Tentara (MBT) di Yogyakarta, semua pangkat perwira diturunkan menjadi satu tingkat. Harun pun turun pangkat menjadi kapten. Sebagai kepala staf brigade yang membawahi Bogor, Cianjur dan Sukabumi, mobilitas Kapten Harun begitu tinggi. Kendati awalnya dari dunia sipil, Kapten Harun dikenal sebagai sosok perwira yang sangat disiplin dan loyal kepada Republik. “Harun Kabir adalah perwira yang sangat cakap,” ujar Letnan Kolonel (Purn) Eddie Soekardi, eks Komandan Brigade Surjakantjana Divisi Siliwangi (1946-1947). Kesaksian soal itu terlontar pula dari mulut Hetty Kabir. Dia masih ingat bagaimana sang ayah sering jarang pulang ke rumah karena selain sibuk bertugas juga menghindari pengawasan intelijen militer Belanda. “Ayah memang menjadi incaran tentara Belanda. Begitu kritisnya situasi itu, hingga kami harus diungsikan ke rumah kerabat di Garut ” kenang perempuan kelahiran tahun 1936 itu. November 1947, Harun Kabir dan keluarga menyingkir ke wilayah selatan Cianjur. Mereka kemudian diamankan di sebuah bukit yang merupakan ladang huma. Bukit Cioray namanya. Karena pengkhianatan orang terdekatnya, persembunyian Harun Kabir lantas terendus oleh pasukan khusus Belanda. Tanpa memberikan kesempatan untuk diadili. Harun Kabir beserta dua pengawalnya kemudian dihukum mati di depan istri dan ketiga putrinya.*

  • Fakta dan Dramatisasi The Professor and the Madman

    DI sebuah lorong gelap ruang bawah tanah di London, Inggris pada suatu hari di tahun 1872, dr. William Chester Minor (diperankan Sean Penn) dituntun sipir menuju ruang sidang dengan raut wajah dingin. Ia didakwa membunuh seorang pria bernama George Merrett.                                                                                Namun karena pertimbangan ketidakwarasan Minor, hakim mengamini kesimpulan tak bersalah dari para juri. Minor lalu divonis tahanan di Rumahsakit Jiwa Broadmoor. Kehebohan berita tentang kasus yang menjadi pemberitaan berbagai suratkabar itu sampai ke filolog James Murray (Mel Gibson). Tak dinyana, Murray di kemudian hari bersua langsung dengan Minor dalam misi besar merampungkan kamus besar bahasa Inggris terbitan Oxford University Press. Begitulah prolog film drama The Professor and the Madman  yang disajikan sutradara PB Shemran alias Farhad Safinia . Sosok dr. William Chester Minor yang diperankan Sean Penn. ( eaglepictures.com ). Adegan lantas beralih ke sebuah rapat di aula perpustakaan besar di Universitas Oxford. Para akademisinya sedang mendengarkan dengan seksama presentasi Murray. Murray merupakan orang yang dipercaya memimpin perampungan proyek kamus The New English Dictionary on Historical Principles. Proyek tersebut mangkrak dua dekade meski telah dipegang para profesor di Universitas Oxford. Pemilihan Murray tak lepas dari dukungan sahabatnya, Frederick James Furnivall (Steve Coogan). Furnivall percaya bahwa perumusan kamus itu butuh sebuah gebrakan dan metode-metode non-konvensional. Dalam pandangannya, orang yang tepat hanya Murray yang dikenalnya punya segudang pengetahuan linguistik meski putus sekolah sejak usia 14 tahun. Murray juga merupakan poliglot 11 bahasa yang fasih dialek Aramaik, Koptik, Vaudois, Teutonik, Syria, hingga Provençal meski tak punya satupun gelar sarjana. Dengan pengetahuan skill Murray itulah Furnivall mengajukan nama Murray. Gebrakan Murray dimulai dengan mengajukan permohonan partisipasi semua orang yang hidup di bawah payung kolonialisme Britania Raya dan dilegitimasi Universitas Oxford. Dari semua kontribusi via surat yang datang kepadanya, Murray menyaringnya bersama tim yang ia bentuk. Istri dan 11 anaknya ada di dalam tim. Mel Gibson (kanan) memainkan tokoh editor Kamus Besar Bahasa Inggris Oxford James Augustus Henry Murray. (Tangkapan layar Mola TV). Meski begitu, tetap ada sejumlah kata yang sukar ditemukan definisinya oleh Murray dan timnya. Bahkan sampai membuatnya frustrasi. Di tengah kefrustrasian itu, muncullah beberapa kontribusi solutif dari seorang pasien RSJ Broadmoor. Kontributor itu adalah Minor. Besarnya arti kontribusi Minor membuat Murray membulatkan tekad untuk menjenguk Minor ke RSJ Broadmoor. Di situlah kedua figur yang sangat berjasa meracik kamus Oxford bertatap muka. Bagaimana kelanjutan drama yang menaungi keduanya? Baiknya Anda saksikan sendiri The Professor and the Madman yang sudah diputar di bioskop-bioskop sejak 10 Mei 2019 namun masih bisa ditonton secara streaming lewat Mola TV yang menayangkannya sejak 8 Oktober 2020. Dramatisasi The Professor and the Madman bisa jadi salah satu tontonan menghibur sekaligus mencerahkan di masa pandemi COVID-19 ini. Kamus hasil karya dua tokoh utama dalam film itu begitu lekat dengan kita mengingat sejak abad ke-20 kamus itu sudah tersebar luas, termasuk ke Indonesia. Belum lagi secara teknis, di mana pengambilan gambarnya sedari awal hingga akhir diproses dengan presisi oleh editor Dino Jonsater. Sisi entertainment kian kuat dengan iringan musik klasik dari komposer Bear McCreary. Penonton bakal terbawa ke suasana London era pertengahan abad ke-19. The Professor and the Madman diadaptasi dari biografi dr. Chester Minor karya jurnalis Simon Winchester, The Surgeon of Crowthorne: A Tale of Murder, Madness and the Love of Words yang terbit 1997. Setahun kemudian, Mel Gibson mendapatkan hak untuk memfilmkannya walau upaya mengangkat kisahnya ke layar perak baru bisa digarap mulai 2016 dan rampung dua tahun kemudian. Sebelum memfilmkan, Gibson dan sang sutradara terlibat konflik dengan Voltage Pictures selaku distributor. Lantaran dialihwahanakan dari buku ke layar lebar, dramatisasi dimasukkan demi menghasilkan racikan film yang menarik meski harus melenceng dari fakta. Penyebutan “profesor” pada tokoh Murray contohnya. Meski gelar profesi itu tak pernah disandang Murray, tim produksi berdalih memakai sebutan itu berdasarkan apa yang ditulis Winchester. Winchester sendiri pada 1998 mengubah judulnya menjadi The Professor and the Madman: A Tale of Murder, Insanity, and the Making of the Oxford English Dictionary setelah menerima saran untuk edisi yang khusus dirilis di Amerika dan Kanada. Adalah Larry Ashmead, editor Penerbit Harper Collins, yang menyarankan Winchester mengubah judulnya agar kisah perumusan kamus itu lebih mengundang minat pembaca. “Dia (Ashmead) bilang, ‘Saya bisa membuatnya laris. Kita bisa membuat kisah perumusan kamus menjadi cerita keren. Penerbit di Inggris menyebut The Surgeon of Crowthorne . Tapi tiada satupun di sini (Amerika) yang tahu di mana itu Crowthorne. Kita beri judul The Professor and the Madman. ’ Tetapi saya katakan tidak ada seorang profesor di antara mereka. Namun Larry meyakinkan saya untuk tetap memakai judulnya dan hasilnya terjual jutaan copy ,” tulis Winchester dalam kolom obituari mengenang Ashmead yang dimuat The Guardian , 28 September 2010. Dramatisasi tak sesuai fakta lain adalah tentang pemberian terbitan pertama kamus Oxford yang memuat ribuan entri kontribusi Minor. Dalam film, kamus itu diberikan langsung oleh Murray saat menjenguk Minor di Broadmoor. Padahal, menurut Winchester dalam biografi Minor, kamus itu diberikan oleh Eliza Merrett, janda enam anak yang suaminya dibunuh Minor. Kolase tokoh Eliza Merrett, janda korban yang didramatisir memiliki hubungan asmara dengan dr. Minor. ( eaglepictures.com ). Dramatisasi tak sesuai fakta terpenting adalah soal asmara di antara Minor dan Eliza Merrett (diperankan Natalie Dormer). Minor kenal Eliza setelah dikenalkan sipir RSJ Broadmoor Muncie (Eddie Marsan). Muncie mendatangi Eliza untuk memberikan uang pensiunan Minor sebagai purnawirawan kapten Angkatan Darat Amerika, sesuai permintaan Minor. Sebagaimana dituliskan Winchester, memang benar bahwa Minor rutin mengirimkan uang pensiunannya kepada Eliza semenjak jadi pasien di RSJ Broadmoor. Minor bahkan juga mengirimkan uang hibah dari ibu tirinya yang dikirimkan dari Amerika. Namun, perkenalan Minor dan Eliza bukan diperantarai sipir RSJ, melainkan dari utusan Kedutaan Amerika di London. Setelah perkenalan itu, Eliza mengunjungi Minor di Broadmoor pada awal 1880. Keduanya akhirnya saling berkirim surat dan Eliza kemudian sering mengirimkan paket buku dari London ke RSJ Broadmoor. “Salah satu yang dikirimkannya adalah terbitan pertama Murray kamus edisi pertama yang diterbitkan pada April 1879,” tulis Winchester. Dari hubungan itu, Minor perlahan jatuh hati pada Eliza. Dalam film, cinta yang dirasakan Minor tetap berkalang rasa bersalah. Karena itu Minor sampai melakoni autopenectomy (memotong alat kelamin sendiri) demi mencegah perasaannya terhadap Eliza bergulir lebih jauh. Padahal menurut Winchester, Minor melakukannya setelah mengalami schizophrenia . Ia berhalusinasi melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak. Winchester tak pernah mengungkapkan ada hubungan lebih intim antara Eliza dan Minor. “Tidak ada suasana khusus yang eksis dalam pertemuan antara Minor dan Eliza selain sekadar pertemuan biasa dan formal. Dalam setiap pertemuannya, Minor selalu mengemukakan rasa penyesalannya. Tetapi Eliza sudah memaafkan kejadian itu dan menerimanya dengan lapang dada. Eliza memahami bahwa pembunuhan itu terjadi ketika Minor tak mengetahui mana orang yang benar dan salah,” sambung Winchester. Deskripsi Film: Judul: The Professor and the Madman | Sutradara: Farhad Safinia (P.B. Shemran) | Produser: Nicholas Chartier, Gaston Pavlovich | Pemain: Mel Gibson, Sean Penn, Natalie Dormer, Steve Coogan, Ioan Gruffud, Stephen Dillane, Eddie Marsan, Jennifer Ehle | Produksi: Icon Entertainment International, Fastnet Films, Voltage Pictures | Distributor: Vertical Entertainment | Genre: Drama Biopik | Durasi: 124 Menit | Rilis: 10 Mei 2019, 8 Oktober 2020 ( MolaTV ) .

  • Addio Paolo Rossi!

    BELUM habis pemberitaan tentang kepergian Diego Maradona, dunia sepakbola kembali ditinggal satu bintangnya, yakni Paolo Rossi. Pahlawan Timnas Italia di Piala Dunia 1982 itu mengembuskan nafas terakhirnya di usia 64 tahun pada Rabu (9/12/2020) di Roma, Italia. Pihak keluarga menyebutkan, Rossi wafat setelah lama berjuang melawan kanker paru-paru. Sejumlah rekannya di skuad Gli   Azzurri (julukan Timnas Italia) 1982 pun meluapkan kepedihannya. “Saya tak tahu mesti berkata apa, seperti petir di siang bolong. Kami selalu punya hubungan baik dengan Paolo. Sosok yang ramah dan pintar. Kabar ini sesuatu hal yang sulit saya cerna,” kata kiper sekaligus kapten Italia Dino Zoff, dikutip La Gazzetta dello Sport , Kamis (10/12/2020). Paolo Rossi (tengah) dikabarkan meninggal setelah menderita kanker paru-paru ( figc.it ) Menimpali Zoff, bek kanan Pietro Vierchowod merasa kabar duka itu jadi pukulan yang menambah pahitdalam situasi negerinya di masa pandemi COVID-19. “Dia pemain hebat di Piala Dunia 1982 dan lebih dari itu, ia pribadi yang sensitif dan baik. 2020 menjadi tahun yang diawali dan berakhir dengan buruk. Sebuah kehilangan besar bagi sepakbola dunia,” ujarnya. Nama Rossi memang tak setenar Maradona. Namun bersama Garrincha (Brasil) dan Mario Kempes (Argentina), Rossi punya catatan rekor dalam sejarah Piala Dunia yang belum bisa disamai bintang manapun hingga kini. Transformasi "Pablito" Seperti anak-anak di Italia di zamannya, Rossi sudah mengenal si kulit bundar sejak dini dan memainkannya di jalanan sepulang sekolah. Pria kelahiran Santa Lucia, dekat Kota Prato, 23 September 1956 itu sudah meretas karier sepakbolanya di usia muda dengan bergabung ke klub amatir Coiano Santa Lucia, kemudian Cattolica Virtus. “Ibunya Paolo Rossi bekerja di perusahaan saya. Pablito (julukan Rossi) menendang bola pertamanya dengan dilatih saya sebelum pindah ke Cattolica Virtus. Malam di mana ia mencetak tiga gol ke gawang Brasil, saking girangnya saya sampai kena serangan jantung,” kenang Rodolfo Becheri, bos sebuah perusahaan perdagangan sekaligus presiden Coiano Santa Lucia, kepada La Repubblica , 25 April 2012. Sempat menembus skuad utama Juventus, Paolo Rossi lantas dipinjamkan ke Como ( juventus.com/paolorossiacademy.com ) Kala menginjak usia 16 tahun, pemuda kurus itu terdeteksi radar pencari bakat klub Juventus, Italo Allodi, kala menengok kompetisi U-16 di Prato. Rossi bermain sebagai spesialis winger (sayap)kanan. Allodi segera menawarkan Rossi untuk mempertajam skill -nya di akademi Juventus dan bersambut. Rossi bahkan sudah menembus skuad utama Bianconeri (julukan Juventus) pada 1973. Namun, Rossi tipe pemain yang rentan cedera lutut sehingga jarang dimainkan. Akibatnya, Juventus meminjamkannya ke Como selama semusim (1975-1976). Sialnya, Rossi juga gagal bersinar. Titik balik karier Rossi terjadi semusim kemudian saat klub Serie B Vicenza Calcio meminjamnya dari Juventus tak lama dari kembalinya Rossi dari Como. Oleh allenatore (pelatih) Giovan Battista Fabbri, karakter bermain dan posisi Rossi diubah dari pemain pelari dari sektor sayap menjadi penyerang tengah. Dari Fabbri pula Rossi mendapat tempaan teknik finishing dan positioning di kotak penalti. Hasilnya, di akhir musim Rossi mendapat anugerah sepatu emas sebagai top skordengan 21 gol sekaligus mengantarkan Vicenza meraih juara Serie B musim 1976-1977. “Fabbri sudah seperti ayah buat saya. Sosok family man klasik dan selalu memberi nasihat, serta selalu melindungi Anda. Dia juga bisa memastikan persatuan yang solid di antara pemain. Saya berutang banyak padanya karena dialah yang mengubah saya dari winger menjadi penyerang tengah,” kenang Rossi dalam wawancaranya dengan Tutto Juve , 23 September 2013. Pasca-dibuang Juve, Paolo Rossi melejit di Vicenza di bawah asuhan GB Fabbri (lrvicenza.met'paolorossiacademy.com) Prestasi itu membuat pelatih Timnas Italia Enzo Bearzot memanggil Rossi ke skuad jelang persiapan Piala Dunia 1978. Di turnamen itu, skuad Italia didominasi pemain muda. Sebagai hasil besutan Fabbri di Vicenza, Rossi jadi lebih fleksibel untuk bertukar peran dari penyerang tengah kembali jadi pemain sayap dengan dua rekannya di lini depan: Roberto Bettega dan Franco Causio. Di Piala Dunia 1978 pula Rossi mendapat julukan “Pablito” (Paolo kecil) dari fans tuan rumah Argentina. Julukan itu disematkan padanya berkat aksi-aksi ciamiknya yang mengundang decak kagum. Lewat tiga gol dan empat assist yang dibuatnya selama turnamen, Rossi sebagai debutan muda meraih penghargaan bola perak alias pemain terbaik kedua sepanjang turnamen. Habis Skandal, Terbitlah Trofi Piala Dunia Selepas Piala Dunia 1978, Rossi dibeli Vicenza dari Juve dengan banderol selangit, 2,6 miliar lira. Nilai transfer itu mendaulat Rossi jadi pemain termahal pada masanya. Namun sial bagi Rossi karena lagi-lagi dibekap cedera lutut. Akibatnya Vicenza di musim 1978-1979 jatuh lagi ke Serie B. Rossi akhirnya dipinjamkan ke Perugia. Di Perugia, Rossi diterpa cobaan paling getir dalam kariernya. Ia terkena imbas Skandal Totonero atau pengaturan skor di musim 1979-1980 yang melibatkan lima klub Serie B dan delapan klub Serie A, termasuk Perugia. Dari penyelidikan Guardia di Finanza, dinas khusus di bawah naungan Kementerian Keuangan Italia, didapati ada dua pelatih dan 20 pemain dari 13 klub yang terlibat aktif dalam aktivitas perjudian sepakbola dan pengaturan skor. Rossi termasuk di antara 20 pemain itu. “Rossi selalu menyanggah keterlibatannya dan bukti-bukti terhadapnya sebagian besar hanya berdasarkan kata ‘si anu’ dan ‘si anu’. Mungkin saja dia dijadikan kambing hitam karena reputasinya atau bisa saja memang dia benar-benar terlibat. Terlepas dari itu, dia tetap disanksi larangan berman tiga tahun yang kemudian dikurangi menjadi dua tahun,” tulis Nick Holt dalam Mammoth Book of the World Cup. Paolo Rossi berjasa besar kala Italia meraih trofi Piala Dunia ketiganya pada 1982 ( fifa.com ) Meski masih dihukum larangan bermain, Rossi masih diminati Juventus yang merekrutnya kembali pada 1981. Setahun kemudian setelah terbebas dari sanksi, Rossi kembali dipanggil Bearzot ke Timnas Italia. Keputusan berani Bearzot memasukkan nama Rossi ke skuad Italia di Piala Dunia 1982 Spanyol itu membuatnya kebanjiran kritik. Namun, Rossi mampu memberi bukti bahwa keputusan Bearzot bukanlah blunder . Mark Ryan mengungkapkan dalam Lowdown: A Short History of the World Cup , di balik buruknya penampilan Italia di babak grup, tim asuhan Bearzot itu masih bisa lolos dan bahkan mencapai partai puncak. Dari total 10 gol di sepanjang turnamen, enam di antaranya diciptakan Rossi. “Terlepas dari bintang-bintang Amerika Selatan yang sedang bersinar seperti Maradona (Argentina), serta Paulo Falcão dan Zico (Brasil), Paolo Rossi yang justru mencuri perhatian. Menarik karena Italia sebenarnya tampil buruk di fase grup sampai media-media Italia mencibir agar Bearzot sebaiknya membawa tim pulang dari Spanyol. Tetapi entah bagaimana Italia mampu melaju ke fase berikutnya,” tulis Ryan. Rossi jadi kunci keberhasilan Italia melaju. Di perempatfinal kala bersua Brasil di Estadi de Sarrià, Barcelona, 5 Juli 1982, Rossi membalikkan cacian publik Italia menjadi sanjungan lewat hattrick untuk mengunci kemenangan 3-2. Rossi lantas mengubur cap skandal suapnya dengan mencetak sebutir gol dalam kemenangan 3-1 Italia atas Jerman Barat di partai final yang dihelat di Estadio Santiago Bernabéu, 11 Juli 1982. Namun ketika laga berakhir, alih-alih bereuforia dengan berlarian seperti rekan-rekannya, Rossi justru mengunci pandangannya ke arah papan skor. “Saya melihat papan skor. Saya memandangi kerumuman penonton dan rekan-rekan yang merayakan. Tetapi di dalam hati saya terdapat rasa pahit. Saya berkata dalam hati: ‘Sekarang kamu harus menghentikan waktu.’ Itu adalah momen yang takkan saya alami lagi sepanjang hidup saya. Saya merasa, di sinilah akhir perjalanannya,” tutur Rossi kepada Storie di Calcio , 4 Juli 2015. Kolase Paolo Rossi kala berseragam Perugia, AC Milan, hingga Hellas Verona ( paolorossiacademy.com ) Itu jadi trofi Piala Dunia ketiga Italia setelah tahun 1934 dan 1938. Rossi sendiri dianugerahi sepatu emas karena menjadi top skor dengan enam gol, dan bola emas sebagai pemain terbaik. Tiga prestasi yang digapai secara bersamaan itu: trofi Piala Dunia, bola emas, dan sepatu emas, mensejajarkan Rossi dengan Garrincha (Brasil) dan Mario Kempes (Argentina) yang masing-masing meraihnya di Piala Dunia 1962 dan Piala Dunia 1978. Di antara para bintang sepakbola Italia, Rossi jadi pemain ketiga yang meraih Ballon d’Or (1982). Rossi juga tercatat sebagai pemain tersubur timnas di Piala Dunia (1978 dan 1982) dengan total sembilan gol. Rekor tersebut baru bisa disamakan oleh Roberto Baggio dan Christian Vieri beberapa tahun kemudian. Di senjakala kariernya, Rossi mulai sering dicadangkan Juventus gegara rentan cedera. Meski begitu, ia turut berandil mengantarkan Juventus menyabet scudetto Serie A musim 1981-1982 dan 1983-1984, Coppa Italia 1982-1983, Piala Winners 1983-1984, Piala Champion 1984-1985, dan UEFA Super Cup 1984. Setelah dilepas Juventus dan ditampung AC Milan pada 1985, Rossi lantas menutup kariernya di Hellas Verona setahun kemudian. Setelah pensiun, Rossi tetap tak bisa jauh dari sepakbola. Hingga akhir hayatnya, Rossi eksis sebagai komentator di berbagai media seperti Sky dan Rai Sport . Atas dedikasinya terhadap sepakbola dunia, pada 2007 Rossi dianugerai Golden Foot. Namanya juga dimasukkan ke dalam daftar Hall of Fame FIGC (otoritas sepakbola Italia) pada 2016. Addio! Riposare in Pace , Paolo Rossi!

  • Riwayat Pertapaan di Lereng Gunung Ungaran

    HUTAN pinus, hawa sejuk, udara yang bersih, jauh dari hiruk pikuk suasana perkotaan yang ruwet. Di kawasan semacam itulah Kompleks Candi Gedongsongo berada. Secara berkelompok candi-candi dibangun di atas bukit dan mengikuti kontur lereng Gunung Ungaran. Jika hari cerah, Gunung Telomoyo, Merbabu, Merapi, Sumbing, dan Sindoro terlihat di kejauhan. Kompleks Candi Gedongsongo terletak di Desa Candi, Kecamatan Bandungan, dan Desa Jubelan, Kecamatan Sumowono, yang masuk wilayah Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Nama Gedongsongo diberikan oleh penduduk setempat, yang dapat diartikan sebagai rumah ( gedong ) yang berjumlah sembilan ( songo ). Keberadaan candi-candi ini diungkapkan kali pertama oleh Joan Gideon Loten, pejabat Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC), pada 1740. Th. Stamford Raffles dalam bukunya The History of Java  mencatat kompleks tersebut dengan nama “Gedong Pitoe” karena hanya ditemukan tujuh kelompok bangunan. Penelitian yang dilakukan para arkeolog Belanda awal abad ke-20 menemukan dua kelompok candi lain, sehingga namanya diubah menjadi Gedongsongo. Saat ini hanya lima kelompok candi yang masih utuh. Letaknya berpencar. Dimulai dari Candi Gedong I yang terletak paling bawah sampai Candi Gedong V yang tertinggi. Semua kelompok candi didirikan di puncak-puncak bukit yang berbeda. Keberadaannya dibagi menjadi dua oleh ngarai sedalam 50 m. Di sanalah mengalir mata air panas belerang. Gedong I, II dan III terletak di sisi timur ngarai. Sementara kelompok candi lainnya berada di sebelah baratnya. Candi-candi Gedongsongo ini bersifat Hindu-Siwa. Sebuah yoni masih ditemukan di ruangan Candi Gedong I. Yoni melambangkan Dewi Uma atau Parwati yang merupakan pasangan dari Dewa Siwa. Arca Durga Mahisasuramardini juga masih bisa dilihat di relung utara candi. Ada pula arca Ganesa di relung sebelah timur dan Agastya di relung selatan Candi Gedong III. Kendati tak ada prasasti yang menyebutkan masa pembangunan candi, berdasarkan ciri-ciri arsitekturnya, Candi Gedongsongo mempunyai Gaya Klasik Tua atau disebut pula Gaya Mataram Kuno. “Candi Gedongsongo diperkirakan dibangun pada abad ke-8, sedikit lebih muda dari Candi Dieng, yaitu pada masa Kerajaan Mataram Kuno,” sebut Edi Sedyawati dkk dalam Candi Indonesia: Seri Jawa . Tempat Bagi Para Pertapa Arkeolog Veronique Myriam Yvonne Degroot dalam disertasinya di Universitas Leiden berjudul “Candi, Space, and Landscape: a Study on the Distribution, Orientation, and Spatial Organization of Central Javanese Temple Remains” berpendapat, ada alasan kuat untuk bilang bahwa Candi Gedongsongo, dan juga Candi Dieng, tidak berdiri di tengah permukiman. Areanya begitu luas. Wilayahnya berada di ketinggian yang tak cocok untuk budidaya padi basah. Sudah begitu letaknya terpencil. Degroot menyimpulkan, lingkungan di sekitar Gedongsongo lebih cocok sebagai tempat semedi bagi para pertapa dan atau tempat ziarah. Lydia Kieven, arkeolog asal Jerman, dalam Menelusuri Figur Bertopi dalam Relief Candi Zaman Majapahit menulis keterpencilan gunung menarik peziarah yang mencari kesunyian untuk inspirasi dan memahami pengetahuan religius. “Kemungkinan besar, peziarah dari semua bagian masyarakat, khususnya anggota aristokrasi dan bahkan raja-raja, menyepi ke pertapaan guna mencari pengetahuan dan kekuatan spiritual,” tulis Lydia. Degroot punya alasan lain kenapa Gedongsongo layak sebagai tempat semedi. Dia mencermati ada beberapa tahapan pembangunan percandian ini. Berdasarkan orientasi, denah, dan dimensinya, Candi Gedongsongo III, IV, dan VI adalah yang paling awal dibangun. Sementara Gedongsongo I dibangun pada masa berikutnya. “Gedongsongo II dalam hal ini tidak pasti. Secara denah dan dimensi jelas berbeda dari Gedongsongo I, tetapi tidak serupa pula dengan Gedongsongo III, IV dan VI,” jelas Degroot. Tak ada pola yang jelas dalam perencanaan pendirian kompleks percandian ini. Hubungan antarbangunan tampak longgar atau, paling banter, tidak terencana. Sangat mungkin tempat-tempat ini berkembang secara organik dari inti bangunan asli, berbeda dari kompleks candi yang berpola konsentris seperti Kompleks Candi Prambanan yang seluruhnya direncanakan sejak awal. Selain itu, candi-candi Gedongsongo memiliki masa huni yang sangat lama. “Sebuah prasasti abad ke-14 lebih jauh memberi kesaksian bahwa Gedongsongo masih digunakan kala itu,” kata Degroot. Penanaman pohon di area Candi Gedongsongo lewat program Candi Darling. (Dok. Bakti Lingkungan Djarum Foundation). Rawan Longsor Suasana hening di lereng gunung memang mendukung pelaksanaan ritual yang sempurna.Namunsayangnya, karakteristik kawasan Gedongsongo merupakan ekosistem Gunungapi Ungaran yang punya permasalahan, yaitu rawan longsor. Bencana ini juga mengancam bagi keberadaan candi-candi di sana. Menurut Asmara Dewi Balai, peneliti Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, dalam “Implementasi Manajemen Risiko dalam Konservasi Kawasan Cagar Budaya (Studi Kasus Kawasan Candi Gedongsongo)” dimuat Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 9 No. 2, Desember 2015, selain rawan longsor, kawasan ini rentan oleh perubahan status hutan produksi menjadi hutan wisata dan pertanian yang tak sesuai kemampuan lahan. Sayuran wortel, kol, rumput gajah merupakan tanaman musiman di sana. “Pemanfaatan pertanian musiman oleh warga setempat yang sebenarnya tidak dibolehkan karena tidak sesuai karakteristik lingkungannya,” lanjut Asmara. “Perlu penyesuaian jenis tanaman dengan memperhatikan teknik penanaman dan jenis tanah.” Deddy Erfandi, peneliti Badan Litbang Pertanian pada Balai Penelitian Tanah, dalam “Sistem Vegetasi dalam Penanganan Lahan Rawan Longsor pada Areal Pertanian”, dimuat pada Prosiding Seminar Nasional Pertanian Ramah Lingkungan , menjabarkan soal penanganan longsor melalui pengelolaan vegetasi. Tanaman keras yang dijadikan sebagai pagar pada pertanaman semusim bisa menghambat aliran permukaan dan erosi. Perakarannya juga bisa menjadi pengikat struktur tanah. Upaya pelestarian kawasan Kompleks Candi Gedongsongo pernah dilakukan oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation melalui Gerakan Siap Darling (Siap Sadar Lingkungan). Lewat program Candi Sadar Lingkungan (Candi Darling),mereka menanami areal Candi Gedong I dengan bambu jepang, hujan mas, pucuk merah, tabebuia rosea , pinus, cemara, puspa, serta akar wangi. Lalu di kawasan Candi Gedong IV ditanami pinus, cemara, puspa, dan akar wangi. Euthalia Hanggari Sittadewi, peneliti Pusat Teknologi Reduksi Risiko Bencana (PTRRB), dalam “Peran Vegetasi dalam Aplikasi Soil Bioeningeering ” di Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana Vol. 12 No. 2, Desember 2017,mencatat lereng yang tertutupi vegetasi seperti rumput dan bambu membuat lapisan tanah paling atasnya terlindungi. “Untuk kasus tertentu, di mana lereng sangat curam sulit ditanami tanaman besar, maka untuk menstabilkan lereng masih dapat dilakukan dengan penanaman tanaman perdu atau semak kecil,” katanya. Menurutnya, tanaman akar wangi atau rumput vertiver merupakan salah satu yang dapat mengendalikan erosi. Akar wangi mempunyai sistem penetrasi akar yang dalam dan kemampuan mengikat tanah yang baik dan dapat hidup pada berbagai jenis tanah. Dengan begitu apa yang dilakukan gerakan Candi Darling di Gedong Songo kala itu diharapkan bisa mengedukasi, khususnya kepada generasi muda, untuk bisa ikut merawat dan menjaga lingkungan. Salah satunya dengan menghijaukan situs-situs bersejarah warisan leluhur. Gerakan ini telah mengajak 250 mahasiswa ikut serta merawat Kawasan Gedong Songo. Mereka berasal dari 54 universitas di Indonesia, seperti Universitas Diponegoro, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, dan Universitas Negeri Semarang. Bagaimanapun, seperti misalnya diCandi Gedongsongo, situs bersejarah dan lingkungan sekitarnya merupakan kesatuan yang tak terpisah. Bukan hanya candi yang harus dijaga. Kawasannya juga mesti dipelihara. Program penghijauan kawasan candi, karenanya, patut dilanggengkan.Tentunya demi mencegah suasana yang dulu dibangun para pembuat candi-candi Gedongsongo itu sirna.

  • Ketika Dendam Hungaria Terhadap Soviet Terbalaskan di Australia

    Bersama teman-temannya di timnas polo air Hungaria, Ceszi Gyarmati, kapten tim, begitu antusias sore (6/12/56) itu. Mereka menunggu dimulainya laga semifinal polo air putra Olimpiade Melbourne 1956 yang akan mereka mainkan.  “Kami dipesankan harus menang, namun jangan berkelahi, jangan bertinju, dan jangan bermain kasar,” kata Gyarmati menirukan pesan pelatihnya, dikutip Suratkabar The   Age  edisi 7 Desember 1956. Tak hanya datang dari instruksi pelatih, tekad menang itu datang dari dalam diri masing-masing pemain karena lawan yang bakal mereka hadapi adalah Uni Soviet. Kurang dari sebulan sebelumnya, negeri pemimpin Blok Timur itu bertindak brutal memadamkan hasrat para pemuda-rakyat Hungaria untuk merdeka lewat aksi demonstrasi. “Pertandingan Olimpiade 1956 di Melbourne menawarkan kesempatan bagi Hungaria untuk membalas dendam terhadap Uni Soviet hanya sebulan setelah tank Soviet menghancurkan revolusi mereka dengan menyerang Budapest,” tulis Roger I. Abrams   dalam  Playing Tough: The World of Sports and Politics . Revolusi 1956 di Hungaria merupakan protes pemuda terhadap Republik Rakyat Hongaria yang menjadi kepanjangan tangan Soviet. Protes itu dimulai dengan aksi mahasiswa ke gedung parlemen di ibukota, Budapest, pada 23 Oktober. Mereka menuntut sistem politik lebih demokratis dan bebas dari penindasan Soviet. Aksi berubah menjadi kacau setelah sekelompok delegasi mahasiswa yang hendak menyiarkan tuntutan di kantor radio malah ditahan. Tuntutan pembebasan mereka oleh rekan-rekan demonstran justru dijawab dengan tembakan oleh aparat polisi rahasia Allamvedelmi Hatosag (AVH).   Kematian beberapa demonstran membuat kerusuhan segera menyebar. Para demonstran yang didukung rakyat segera membentuk milisi-milisi untuk memerangi AVH dan pasukan Soviet. Mereka membebaskan tahanan politik dan membunuh beberapa pemimpin AVH. Pemerintahan PM Andras Hegedus pun jatuh. Tuntutan para demonstran dikabulkan Partai Buruh Hungaria, yang pimpinannya direbut oleh para politisi pendukung aksi, lewat penunjukan kembali Imre Nagy –anggota partai yang dikeluarkan karena kritiknya terhadap kebijakan Stalinis– menjadi perdana menteri. Nagy melakukan sejumlah gebrakan dalam pemerintahan keduanya. Selain membubarkan AVH, Nagy meminta Soviet menarik pasukannya dari Hungaria, yang sudah berada di sana sejak usai Perang Dunia II; menyatakan keluarnya Hungaria dari keanggotaan Pakta Warsawa; dan ke dalam, menghapus aturan satu partai sebagai respon terhadap tuntutan perbaikan sistem politik lebih demokratis. Soviet yang merasa kehilangan kontrol atas Hungaria setelah kenaikan Nagy tak tinggal diam. Pada 4 November 1956, militer Soviet menginvasi Hungaria. Perlawanan gerilya yang datang dari para pemuda militan Hungaria segera dihancurkan pada 10 November, mengakibatkan tewasnya sekira 3000-an penduduk Hungaria dan pengungsian sekitar 200 ribu lainnya. Perlakuan kejam diberlakukan militer Soviet terhadap siapapun yang melawan, termasuk Nagy yang kemudian ditangkap dan digantung. Invasi dan kekejaman aparat militer Soviet itulah yang terpatri kuat dalam benak para anggota timnas polo air Hungaria. Invasi itu juga membuat tempat latihan mereka sampai dipindah mulai dari ke luar ibukota Budapest hingga ke Cekoslowakia. Kepastian mereka berangkat ke Olimpiade Melbourne didapat pada tanggal 30 Oktober ketika Nagy merestui keberangkatan mereka dengan misi mengusung Hungaria merdeka. Setelah itu, mereka tak mendapat berita lagi tentang situasi negerinya. Mereka baru dapat berita kembali, yang amat mengagetkan, setelah tiba di Melbourne pada 20 November. Meski benak mereka berkecamuk oleh berita buruk dari negerinya, tim polo air Hungaria berhasil bermain baik dalam olimpiade yang dibuka pada 22 November 1956 itu. Usai mengalahkan Amerika Serikat 6-2, mereka kemudian berturut-turut mengalahkan Jerman Barat dan Italia masing-masing 4-0. Kemenangan itu membawa mereka masuk ke semifinal, bertemu Soviet. Maka begitu mendapati lawan mereka di semifinal adalah Soviet, mereka begitu antusias untuk menang. “Mereka mulai menembak kami, para bajingan itu. Api dalam diri kami berdenyut sangat kuat,” kata Istvan Hevesi, anggota tim polo Hungaria, dikutip Simon Burnton dalam “50 Stunning Olympic Moments No7: Hungary v Soviet Union: Blood in the Water” yang dimuat theguardian . com . Meski pesan pelatih untuk bermain bersih terus dipegang masing-masing pemain Hungaria, mereka tetap mencari cara agar dapat memenangkan pertandingan melawan Soviet. “Kami membayangkan jika mereka akan marah, mereka akan mulai berkelahi, dan begitu mereka berkelahi mereka takkan bermain bagus dan jika mereka tak bermain bagus kami akan mengalahkan mereka, dan jika kami mengalahkan mereka kami akan memenangkan Olimpiade,” kata penyerang tengah Ervin Zador. Untuk dapat memenangkan pertandingan, para pemain Hungaria sepakat mesti menerapkan perang urat syaraf. “Saya memiliki cukup (kemampuan, red .) bahasa Rusia untuk melakukan apapun – kami menggunakan ucapan lisan, berharap mereka akan bereaksi secara fisik,” sambung Zador, dikutip Kirsty Reid dalam “Blood in the Water: Hungary’s 1956 Water Polo Gold” yang dimuat di bbc . com , 20 Agustus 2011. Ketika hari yang ditunggu tiba, 6 Desember, para pemain Hungaria telah siap secara mental. Mental mereka makin kuat dengan dukungan komunitas Hungaria di Melbourne yang datang ke stadion untuk menyaksikan laga tersebut. Begitu peluit tanda dimulainya pertandingan dibunyikan, pertarungan panas pun dimulai. Saling pukul dan tendang dari masing-masing tim mewarnai pertandingan tersebut. Wasit sampai mengeluarkan lima pemain akibat permainan kasar mereka. Suasana makin panas karena para fans Hungaria acap meneriakkan “Rusia pulang!” “ memainkan olahraga sama seperti mereka menjalankan hidup mereka –dengan kebrutalan dan mengabaikan fair play,” kata Zador sebagaimana dikutip Sheldon Anderson dalam The Politics and Culture of Modern Sports . Strategi para pemain Hungaria memancing emosi para pemain Soviet berjalan dengan baik. Mereka sudah memimpin 4-0, dua gol di antarnya dicetak Zador, ketika pertandingan masih menyisakan beberapa menit lagi. Namun di masa akhir  laga itulah Zador terlibat konflik dengan Valentin Prokopov. Akibatnya, bawah mata kanan Zador langsung ditinju Prokopov sehingga mengalirkan darah segar. Ketika Zador naik ke atas kolam, orang-orang Hungaria di stadion langsung marah tak terima. Sambil mencela dan meludahi para pemain Soviet, mereka menuju tepi kolam namun berhasil dicegah aparat keamanan yang memberi pengawalan pada tim Soviet. Wasit yang melihat langsung menghentikan pertandingan meski masih menyisakan beberapa menit. Hungaria dinyatakan menang. “Kami merasa kami bermain tidak hanya untuk diri kami sendiri tetapi untuk seluruh negara kami,” kata Zador, yang kemudian enggan pulang ke Hungaria setelah merebut medali emas usai mengalahkan Yugoslavia di final, dikutip Roger I. Abrams dalam Playing Tough: The World of Sports and Politics .

  • Operasi CIA di Indonesia dari Masa ke Masa

    CENTRAL Intelligent Agency (CIA) telah lama beroperasi di Indonesia. Berbagai peristiwa, mulai dari pemilihan umum pertama tahun 1955 hingga Peristiwa 1965 yang diikut penggulingan pemerintahan Presiden Sukarno, diduga turut melibatkan agen intelijen rahasia Amerika Serikat ini. Sejarawan Baskara T. Wardaya dalam Dialog Sejarah “Spionase CIA dari Masa ke Masa” di saluran Youtube  dan Facebook   Historia , Kamis, 10 Desember 2020, menjelaskan bahwa embrio CIA bermula dari Office of Strategic Services (OSS), yang dibentuk pada 1942 untuk mengumpulkan informasi-informasi dari Uni Soviet. Namun, tampaknya hampir semua operasi OSS gagal. Bahkan, OSS sendiri malah diinfiltrasi oleh agen Inggris dan Soviet. OSS kemudian beralih target dari Uni Soviet ke negara-negara yang dianggap dekat dengan Soviet maupun negara-negara yang berideologi atau condong ke komunisme dan sosialisme. Setelah OSS dirombak beberapa kali, pada 1947 Amerika Serikat membentuk CIA. “Dalam perkembangan berikut, tujuannya diperluas. Tidak hanya melawan ideologi Soviet yang komunis tadi tetapi juga lalu memperjuangkan kepentingan ekonomi Barat,” jelas Baskara. CIA kemudian menjalankan berbagai operasi di negara-negara yang dianggap “kiri” dan memiliki pengaruh ekonomi. Pada 1953, CIA menjalankan operasi menurunkan Perdana Menteri Iran Mossadegh terkait isu nasionalisasi perusahaan minyak. Di Guatemala, pada 1954 CIA juga berhasil menjalankan misi melengserkan Presiden Jacobo Arbenz yang mendukung landreform . Di benua Afrika, pada 1961 CIA menjalankan operasi di Kongo untuk menggulingkan Patrice Lumumba yang dekat dengan Soviet. Pada tahun yang sama, di Kuba Fidel Castro juga dijadikan sasaran CIA namun gagal. Dan pada 1964, operasi CIA bershasil menjatuhkan Persiden Brazil Joao Gullard yang mendukung landreform  dan condong ke sosialis. Di Indonesia, redaktur Historia . ID  Hendri F. Isnaeni menyebut agen-agen Amerika Serikat telah diselundupkan sejak 1944 melalui Operasi Iceberg. Ketika Jepang sudah kalah, pada September 1945 agen OSS masuk ke Indonesia bersamaan dengan pendaratan pasukan Sekutu. Tujuan kedatangan agen OSS ialah untuk menggali informasi kebijakan-kebijakan pemerintah Indonesia. Namun, mereka pernah tak didengar oleh pemerintah Amerika Serikat karena pengaruh Belanda. Belanda menyebut para pemimpin Indonesia adalah komunis sehingga membuat Amerika mendukung Belanda kembali menduduki Indonesia. Padahal, menurut agen OSS sendiri, pemimpin-pemimpin Indonesia saat itu adalah para nasionalis. Amerika Serikat baru sadar bahwa pemerintah Indonesia saat itu bukan komunis setelah pecah Peristiwa Madiun. Agen CIA pertama, Arthur Champbell, kemudian dikirim ke Indonesia. Champbell kemudian memfasilitasi hubungan Amerika Serikat dengan Indonesia terutama dalam urusan militer. Intervensi CIA di Indonesia terus berlanjut setelah itu. Pada Pemilu 1955, mereka membantu partai-partai Islam, rival Partai Komunis Indonesia (PKI). Operasi-operasi menjatuhkan Sukarno juga dijalankan. Yang paling menghebohkan adalah propaganda film porno Sukarno. “Sampai 1965, CIA terus melakukan operasi bagaimana caranya untuk menggulingkan pemerintahan Sukarno yang dianggapnya cenderung ke kiri,” kata Hendri. Salah satu peristiwa yang secara gamblang memperlihatkan intervensi CIA di Indonesia ialah pemberontakan PRRI dan Permesta. Agen-agen CIA berkeliaran di Sumatra dan memasok senjata dengan operasi yang dinamakan Operasi HAIK. Namun, operasi yang medukung perlawanan terhadap pemerintah pusat ini gagal. Semenjak agen Allen Pope ditangkap, Operasi HAIK dibubarkan. Namun, menurut Baskara, satu hal penting di sini adalah bahwa AS kemudian menyadari bahwa Angkatan Darat ternyata anti-komunis. Dan sejak itu, sekira 2500 perwira AD disekolahkan di Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat. Di Kansas, para perwira itu bertemu dengan perwira sejenis dari Brazil, Chile, hingga Argentina yang juga sama-sama disekolahkan. Mereka, kata Baskara, kelak menjadi bagian dari operasi CIA di negeri masing-masing. “Kalau misalnya ada kemiripan (penggulingan pemerintahan) antara Brazil, Indonesia, dengan Chile dengan Argentina, Bolivia, mungkin di situ titik temunya. Dan saya kira ini penting untuk digarisbawahi dan penting juga untuk diteliti menurut saya,” sebut Baskara. Baskara menegaskan bahwa penggulingan Persiden Brazil Joao Gullard pada 1964 menginspirasi CIA menggulingkan Sukarno pada 1965. Dalam konteks Brazil dan Indonesia, kedua negara sama-sama tengah menjalankan landreform . “Itu ancaman bagi Amerika. Maka dilakukan upaya untuk membantu menyingkirkan kelompok kiri. Presidennya yang kiri untuk diganti dengan sistem pemerintahan yang kanan dan pro-Barat dalam sistem ekonomi yang pro-modal asing,” ungkap Baskara. Peristiwa kelam 1965 yang berujung jatuhnya Sukarno kemudian menginspirasi penggulingan Salvador Allende di Chile pada 1973. Operasi ini bahkan dinamai Jakarta Method. Jurnalis Vincent Bevins meneliti dan menuliskannya dalam buku The Jakarta Method  (2020). Keberhasilan operasi di Chile berlanjut dengan Operation Condor. Burung kondor dipakai karena merupakan simbol Chile. Operasi ini merupakan operasi menyingkirkan aktivis-aktivis kiri di seluruh Amerika Tengah dan Amerika Selatan.*

  • Koneksi India Ahmad Subardjo

    AWAL tahun 1927, kongres antikolonial berlangsung di Burssel, Belgia. Sebanyak 21 negara dari 5 benua mengirimkan utusannya, baik resmi atau pun sekadar mengirimkan aktivis perkumpulan yang aktif menentang imperialisme. Utusan dari Indonesia juga turut hadir, dengan Bung Hatta sebagai ketua rombongan. Bersama empat orang lainnya, Bung Hatta duduk sebagai perwakilan Perhimpunan Indonesia. Kongres yang berlangsung dari tanggal 10-15 Februari 1927 di Istana Egmont tersebut membahas masalah-masalah kolonial dari berbagai sisi. Para utusan juga mengemukakan kondisi di negaranya masing-masing, dan dampak yang ditimbulkan kolonialisme terhadap kehidupan masyarakat di tanah airnya. Di akhir rapat, kongres membentuk “League against Imperialism and for National Independence” dengan sekretariat tetap di Berlin, Jerman. “Karena saya menaruh perhatian mengenai perkembangan dari kongres ini, yang saya anggap sangat penting dalam sejarah dunia, saya mengambil keputusan untuk mengamati kegiatan sekretariat tersebut dari dekat,” kata Ahmad Subardjo dalam Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi. Ahmad Subardjo datang bersama utusan dari Perhimpunan Indonesia. Namun sewaktu rombongan kembali ke Belanda, dia memilih tetap tinggal di Jerman. Di sanalah kemudian Subardjo bertemu seorang tokoh dari India yang selama kongres cukup menonjol bernama Virendranath Chattopadhaya (akrab dipanggil Chatto). Chatto merupakan keturunan keluarga terkemuka di Bengal, India. Dia telah menetap cukup lama di Jerman sebagai orang buangan setelah usahanya menyelundupkan senjata dari Eropa ke India dalam suatu upaya penggulingan pemerintah Inggris pada waktu Perang Dunia I gagal. Dia dijatuhi hukuman mati. Tetapi entah bagimana caranya Chatto berhasil meloloskan diri dan akhirnya hidup dalam pengasingan di Jerman. Menurut Subardjo, kawan Indianya itu adalah seorang yang pintar, periang, menarik, serta mengesankan. Kegemarannya pun cukup unik: membaca dan menyanyikan sajak Hindu. Chatto bekerja di kantor Sekretariat Kongres Liga. Dia bertugas mengerjakan hasil-hasil konferensi dan menerbitkannya. “Kami menjadi kawan baik. Inilah sebabnya kenapa saya suka pergi ke Berlin karena mempunyai Chatto sebagai penduduk lama dari kota tersebut dan penunjuk jalan yang berpengalaman dan pemimpin,” ucapnya. Chatto memberi banyak pelajaran tentang perjuangan kepada Subardjo. Pernah satu waktu, Subardjo mendengar kabar tentang penangkapan kawan-kawannya di PI oleh pemerintah Belanda. Tanpa pikir panjang, dia mempersiapkan kepulangan ke Belanda. Menurutnya itu adalah suatu bentuk rasa setia kawan. Namun segera dicegah oleh Chatto. Dia menyebut perasaan seperti itu sangatlah baik, tetapi dalam politik terkadang emosi berlebihan tidaklah baik, hanya akan mencelakakan. Maka Chatto pun menawarkan sebuah solusi. “Mengapa tidak menghadiri konferensi Liga yang sedang kami selenggarakan,” ujar Chatto. “Kamu harus berbicara di sana mengecam tindakan-tindakan penindasan dari pemerintah Belanda.” Subardjo setuju. Dia lalu pergi ke Brussel pada pertengahan 1927. Di depan para peserta Liga, Subardjo memberikan pidato tentang penindasan yang dilakukan Belanda di negerinya. Para hadirin memberi kesan baik terhadap pidatonya itu. Dukungan pun mengalir kepadanya. Bahkan banyak yang mendoakan nasib baik untuk kemerdekaan tanah airnya. Selama di Berlin, Subardjo rupanya memiliki hubungan istimewa dengan koneksi-koneksi India-nya yang lain. Mereka datang langsung dari India dan memutuskan menetap di Berlin akibat kondisi gawat di negerinya. Satu yang cukup dekat dengan Subardjo adalah keponakan Chatto bernama Naidu. Dia tercatat sebagai mahasiswa kedokteran di Universitas Berlin. Naidu juga ternyata putra Ny. Saroniji Naidu, seorang tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan di India. Anggota keluarga lainnya adalah Harindranath Chattopadhaya, adik Chatto. Harin, biasa Subardjo menyapanya, diketahui seorang yang berbakat di bidang kesusastraan. Karya-karya syairnya banyak diterbitkan di India. “Saya suka kepadanya. Dia sangat periang, dan bisa mengambil hati saya, dan sebagai penyair dia bersemangat tinggi. Tetapi ia juga suka kepada segala apa yang baik di dunia, seperti saya, dia juga suka makan enak dan mendengarkan musik populer di café-café atau restoran-restoran di Kurfurstendamm, Jerman,” kata Subardjo.

  • Duel Preman Medan Zaman Perang Kemerdekaan

    Rawan. Kata itu menggambarkan keadaan keamanan di kota Medan pada zaman revolusi. Pemerintah Republik Indonesia (RI) kala itu memang belum mantap. Koordinasi antara pusat dengan daerah masih kacau. Sementara kekuasaan tentara Jepang maupun tentara Sekutu tidak dihiraukan orang lagi. Walhasil gerombolan bandit merajalela di sepenjuru kota. Praktik kriminalitas seperti perampokan dan pencopetan seolah tidak terbendung. Dalam situasi penuh ketidakjelasan itu, tersebutlah nama salah satu pentolan preman Medan bernama Amat Boyan. “Amat Boyan, salah seorang residivis yang amat bengal, ‘king’ daripada para penjahat di kota Medan kala itu,” demikian diungkapkan Biro Sejarah Prima dalam Medan Area Mengisi Proklamasi . Menurut Tengku Luckman Sinar dalam Kronik Mahkota Kesultanan Serdang , Amat Boyan berbasis di Tembung, sebelah tenggara kota Medan. Amat Boyan seperti dituturkan seniman  Augustin Sibarani dalam Karikatur dan Politik , termasuk kriminal kelas kakap yang melarikan diri dari penjara. Kejagoan dan sisi brutalnya dipergunjingkan banyak orang. Ulah Amat Boyan yang kerap kali meresahkan mendapat sorotan dari para anggota Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) Medan yang dipimpin oleh Sarwono Sastro Sutardjo. Pada 25 November 1945, Sarwono membentuk badan intelijen dan polisi istimewa bernama Markas Pengawal Pesindo. Mereka yang terlibat dalam badan itu bertujuan menguasai kota Medan dengan jalan menghimpun para bandit lokal. Untuk menundukkan Amat Boyan, ditunjuklah Sibarani, inspektur umum Markas Pengawal Pesindo. Sibarani adalah mantan petinju. Postur tubuhnya besar, tegap, dan kekar. Dia bertugas mengumpulkan semua pencopet, penggarong, dan para residivis lainnya di kota Medan. Hingga suatu ketika, Sibarani harus menguji nyali Amat Boyan, preman yang paling disegani. Sewaktu berhadapan dengan Amat Boyan, Sibarani memberikan dua pilihan. Pilihan pertama, Amat Boyan tunduk kepada Markas Pengawal Pesindo. Pilihan kedua, adu kekuatan dalam duel satu lawan satu tanpa senjata kecuali tangan dan kaki telanjang. Sibarani menjanjikan, kalau Amat Boyan menang, dia boleh keluar menghimpun kekuatan sendiri. Amat Boyan memilih menantang Sibarani untuk baku hantam. Pertarungan antara Amat Boyan dan Sibarani pun terjadi. Duel para abang jago itu berlangsung seru dan lama. Para anggota Markas Pengawal Pesindo menyaksikannya dengan antusias. “Akhirnya, setelah babak belur, Amat Boyan terpaksa mengaku kalah kepada Sibarani dan bersedia menjalankan perintah-perintah Markas Pengawal Pesindo,” tulis Biro Sejarah Prima. Pada 1 Desember 1945, Sarwono membentuk unit pasukan yang berada langsung di bawah pimpinannya sendiri. Barisan bersenjata ini dinamakan “Pasukan Cap Kampak". Dalam Pasukan Cap Kampak, Amat Boyan menjadi salah satu penggeraknya. Mereka menjadi kelompok laskar yang turut mewarnai perang revolusi di kota Medan.   Bagaimana sepak terjang Amat Boyan selanjutnya? Nantikan di artikel berikutnya. (Bersambung).

  • Angin Muson, Mesin Perkembangan Budaya

    Angin muson memungkinkan budaya dan pengetahuan berpindah tempat. Tanpa angin ini pertukaran budaya dan perdagangan maritim di Nusantara sulit terjadi. “Mesin dari perkembangan budaya itu sebetulnya angin muson,” kata Iwan Pranoto, profesor pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB, dalam diskusi daring Jaya Suprana Show, berjudul “Mengintip Matematika Sriwijaya-Nalanda”, Selasa (8/12/2020). Secara geografis, wilayah Asia Tenggara merupakan kawasan strategis. Letaknya di pertemuan dua lautan, Samudra Indonesia dan Pasifik. Wilayahnya berada di tengah rute pelayaran India dan Tiongkok. Faktor ini membuat perannya penting dalam sejarah hubungan perdagangan maritim antara Tiongkok dan India. “Kalau Tiongkok menggunakan narasi jalur sutra, kemudian Indonesia menawarkan jalur rempah, yang fundamental sebenarnya angin muson itu,” lanjut Iwan. Singgih Tri Sulistiyono, sejarawan Universitas Diponegoro,menjelaskan soal angin muson dalam tulisannya, “Peran Masyarakat Nusantara dalam Konstruksi Kawasan Asia Tenggara sebagai Poros Maritim Dunia pada Periode Pramodern” yang terbit di Jurnal Sejarah Citra Lekha , Vol. 5, No. 1, April 2020. Menurut Singgih, angin muson memungkinkan orang-orang yang menghuni wilayah itu mengambil bagian penting dari pelayaran dan perdagangan maritim internasional. Perubahan arah angin muson sangat bisa diprediksi. Perubahan arahnya terjadi secara periodik dalam setiap tahun. Karenanya, perubahan angin muson dijadikan patokan para petani dalam menanam produk pertanian dan perkebunan. Pun oleh para pelaut dalam pelayaran, perdagangan maritim, dankepentingan migrasi. Selama musim kemarau, sekira April sampai Oktober, angin muson bergerak dari timur dan tenggara menuju ke barat. Kecepatan tertinggi terjadi pada Agustus. Di bagian selatan Asia Tenggara atau di tengah kepulauan Indonesia, khususnya di kawasan Laut Jawa, transisi dari musim hujan (muson barat) ke musim kemarau (muson timur) dimulai lebih awal , yaitu pada Maret dan April. Selama pancaroba ini arah angin sering berubah-ubah. Lalu pada Oktober, arah angin mulai berubah hingga November. Pada Desember, angin barat mulai bergerak ke arah yang konstan. Kecepatan tertingginya terjadi pada Januari dan Februari. Dalam pelayaran dan perdagangan maritim pergerakan angin muson sangat menentukan. “Aktivitas pelayaran dan perdagangan secara reguler diuntungkan dari perubahan periodik yang disebabkan oleh angin muson ini,” tulis Singgih. Bertukar Ilmu dan Budaya Lokasi geografis Asia Tenggara yang sangat strategis, tak cuma berkaitan dengan ekonomi, tapi juga politik dan budaya. “Posisi geografis yang strategis ini telah menempatkan Asia Tenggara sebagai pintu masuk vital dalam hubungan kuno pusat ekonomi, politik dan budaya antara India dan Cina,” catat Singgih. Misalnya, jalur perdagangan yang mengikutsertakan Selat Malaka dan Samudera Hindia seringkali dihubungkan dengan kemunculan kekuatan politik Melayu dan Sriwijaya. Sebagaimana pendapat sejarawan Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680, pelayaran yang berdasarkan angin musim inilah yang mengakibatkan lahirnya bandar-bandar perdagangan. Posisi Swarnadwipa (Sumatra) pada era Sriwijaya berjaya, sekira abad ke-7 sampai ke-12, merupakan titik yang strategis dalam pelayaran dunia. Titik temu antarnegara inilah kemudian yang membuat Sumatra menjadi tempat singgah para pelayar dari berbagai negara. Para pelayar yang melakukan perjalanan dengan rute Tiongkok-India biasanya akan singgah di Sumatra. Minimal mereka menghabiskan waktu setengah tahun. Mereka mengikuti musim angin yang berganti enam bulan sekali. Angin ini pula yang membawa I-Tsing atau Yi Jing mampir tiga kali ke wilayah yang dia sebut Laut Selatan. I-Tsing merupakan biksu asal Tiongkok dari masa Dinasti Tang yang melakukan perjalanan ziarah ke India. I-Tsing mendarat pertama kali di Fo-shi (Sriwijaya) pada 672 setelah berlayar 20 hari dari Guangzhou. Kedua kalinya dia ke Melayu yang sudah menjadi bagian dari Sriwijaya , setelah belajar sepuluh tahun (675-685) di Nalanda. Ketiga kalinya, dia kembali ke Sriwijaya dan tinggal selama lima tahun (akhir 689-695) setelah tanpa sengaja terbawa kapal ke Tiongkok pada 689. “I-Tsing itu terdampar berhenti karena badai.Pada 672 tujuan utamanya nggak ke Nalanda, nggak berencana singgah dulu ke Melayu,” jelas Retno Purwanti, peneliti Balai Arkeologi Sumatra Selatan, dalam dialog sejarah “Jejak Sriwijaya di Bumi Jambi” live di kanal Youtube dan FacebookHistoria.id . Demikian halnya dengan kedatangan Atisha Dipankara Sri Jnana ke Swarnadwipa pada 1012-1024. Dia merupakan guru Buddha dari Kekaisaran Pala yang melakukan perjalanan ke Swarnadwipa dengan menumpang kapal pedagang. Tujuan Atisha adalah menerima ajaran langsung dari Sherlingpa Darmakirti, guru Buddhis dari Swarnadwipa yang tersohor pada masa itu. Melihat masanya, kata Junus Satrio Atmodjo, arkeolog yang kini menjadi bagian dari Tim Ahli Cagar Budaya Nasional (TACB), abad ke-11 adalah era ketika perdagangan maritim Nusantara, khususnya Sumatra, begitu ramai. “Kalau lihat banyaknya temuan keramik Tiongkok, dari Dinasti Sung, perdagangan saat itu lagi seru-serunya,” kata Junus. Karenanya dengan kembali mengutip Iwan Pranoto, embusan angin muson membuat hubungan antarkawasan menjadi cukup mudah. Khususnya dalam hal pertukaran barang, ilmu, dan budaya.

  • Pesona Wonder Woman dalam Empat Wajah

    SECANTIK Aphrodite, sebijak Athena, segesit Hermes, dan sekuat Hercules. Begitulah William Moulton Marston menciptakan karakter perempuan dahsyat Wonder Woman. Lama tak beraksi di versi live action , superhero ber-alter ego Diana Princes yang muncul sejak 1941 itu comeback  di bawah naungan waralaba DC Extended Universe (DCEU) dalam Wonder Woman 1984. Jagat maya sontak heboh selepas pihak distributor Warner Bros merilis trailer  terbarunya, Senin (7/12/2020). Wonder Woman 1984  yang tertunda penayangannya akibat pandemi COVID-19, baru akan tayang di bioskop-bioskop terbatas di Inggris mulai 16 Desember 2020 dan 25 Desember 2020 di Amerika Serikat. Pemutaran secara global akan dilakukan via streaming  di HBO Max, juga pada 25 Desember 2020. Aktris cantik Gal Gadot untuk ketiga kalinya memerankan Diana Princes alias Wonder Woman. Gal nongol pertama kali dalam Batman v Superman: Dawn of Justice  (2016), dilanjutkan di Wonder Woman  (2017) dan Justice League  (2017). “Di film pertama ( Wonder Woman , 2017) menjadi awal kelahiran Wonder Woman dan untuk pertama kali dia mengenali kekuatannya sendiri. Dari sosok Diana, dia menjadi Wonder Woman. Di film pertama dia melihat kemanusiaan dari sisi luar dan vokal saat melihat kejahatan, dan menegaskan tentang bagaimana cara melawannya,” ujar Gal kepada The Beat , Sabtu (5/12/2020). Bedanya, dalam Wonder Woman 1984 karakter Diana Prince mulai memahami kerumitan kehidupan manusia di beragam aspek yang ia selami. Diana Prince berbagi penderitaan dan guncangan kehidupan hingga merasakan yang namanya kesepian, sebagaimana manusia biasa lain. Peran pertama sebagai Wonder Woman (2016) terjadi dalam versi live action setelah hampir empat dekade karakter itu menghilang. Dari sekian aktris yang di- casting Zack Snyder, sutradara Batman v Superman , Gal jadi pilihan utama setelah menyisihkan sejumlah nama seperti Élodie Yung dan Olga Kurylenko. “Seperti yang dibayangkan publik, kami sudah mencoba sekumpulan aktris. Namun yang saya lihat dari Gal adalah, dia kuat, cantik dan sosok yang ramah, di mana hal itu menjadi menarik karena di saat yang sama dia juga sosok yang garang. Kombinasi antara garang dan ramah itulah yang kami cari,” papar Snyder dalam wawancaranya dengan FilmInk , 5 Januari 2016. Gal Gadot sebagai Diana Prince/Wonder Woman (tengah) dalam Batman v Superman.  ( warnerbros.com ). Sebagaimana Ban Affleck yang banyak diprotes fans DC Comics, pemilihan Gal sebagai Wonder Woman pun awalnya setali tiga uang. Namun seiring produksi selesai dan Batman v Superman dirilis, kritik-kritik dan protes itu berbalik jadi pujian. Termasuk dari sineas Patty Jenkins yang menggarap Wonder Woman (2017). Wonder Woman sendiri merupakan proyek yang mangkrak sejak 1996. Setelah silih berganti dipegang sineas mulai dari Ivan Reitman, Jon Cohen, hingga Joss Wheldon, akhirnya rumah produksi Warner Bros menjatuhkan pilihan pada Jenkins dan masuk produksi pada 2015. Pun dengan para aktris yang akan memerankannya. Sejak 1996, bermunculan nama-nama kondang mulai dari Sandra Bullock, Mariah Carey, Catherine Zeta-Jones, Lucy Lawless, Kate Beckinsale, Angelina Jolie, Jessica Biel, Élodie Yung, Olga Kurylenko. Akhirnya pilihan jatuh kepada Gal. Aktris kelahiran Petah Tikva, Israel, 30 April 1985 itu tergolong junior di Hollywood. Debutnya baru dijalaninya pada 2009. Kepopuleran Gal melonjak setelah membintangi empat film waralaba Fast & Furious: Fast & Furious (2009), Fast Five (2011), Fast & Furious 6 (2013), dan Furious 7 (2015). “Mereka mencari hal yang sama seperti yang saya inginkan – semua nilai-nilai yang dimiliki Wonder Woman. Dia (Gal) berbagi setiap kualitas yang dipunyai Wonder Woman. Hal seperti itu jarang ditemukan. Dalam casting biasanya semua akan terkuak apakah orang itu akan sangat otentik dengan karakternya, hingga karakter itu sendiri diidentikkan dengan mereka, seperti Christopher Reeve (pemeran Superman era 1980-an) dan Lynda Carter (pemeran Wonder Woman 1975-1979),” kata Jenkins, sineas yang kembali menyutradarai sekuel Wonder Woman 1984, kepada majalah Playboy , 1 Juni 2017. Lynda Carter Kolase Wonder Woman kala diperankan Lynda Jean Cordova Carter. ( ABC /Instagram @reallyndacarter). Empat dasawarsa sebelumnya, karakter Wonder Woman dipopulerkan Lynda Carter hingga menjadi identik dengannya selama empat tahun. Aktris kelahiran Phoenix, Arizona, Amerika Serikat pada 24 Juni 1951 itu terjun ke dunia hiburan pasca-memenangi kontes kecantikan Miss World USA 1972. Warner Bros berada di balik pengorbitan karakter Wonder Woman yang sebelumnya  hanya eksis di media komik-komik terbitan DC Comics. Warner memulainya dengan pilot project bertajuk The New Original Wonder Woman yang penyutradaraannya dipercayakan pada Leonard Horn. Kepopuleran Lynda sebagai ratu kecantikan se-Amerika pada 1972 jadi salah satu faktor utama pemilihannya oleh produser Douglas S. Cramer lewat beberapa kali casting . Proyek pilot itu sukses kala diputar pertama kali oleh stasiun TV ABC pada 7 November 1975 yang berujung pada kelanjutan proyeknya sebagai film seri. Dalam tiga season serial Wonder Woman periode 1975-1979, reputasi Lynda Carter turut melonjak. Terlebih karakternya muncul seiring derasnya arus gerakan feminisme gelombang kedua (1960-an hingga 1980-an), di mana dua isu paling penting yang disuarakan adalah diskriminasi gender dan persamaan hak. Lynda adalah salah satu simpatisannya dari golongan selebriti. “Menurut saya Wonder Woman adalah juara sejatinya kaum feminis. Saya pikir dia memberi citra diri yang lebih baik bagi para perempuan,” tutur Lynda dikutip Carney Maley dalam artikelnya, “Bonding in the Air” yang dihimpun dalam Bound by Love: Familial Bonding in Film and Television since 1950. Namun, kepopuleran film seri Wonder Woman tak hanya mengidentikkan Lynda dengan perempuan super itu tapi juga membuatnya perlahan dijadikan simbol seks oleh kaum Adam. Penyebabnya ada pada kostum vulgar Wonder Woman yang dipakai Lynda. Kostumnya berupa korset merah dengan belahan dada terbuka dan underpant ketat bercorak bintang-bintang. Kostum itu dibuat hampir sama dengan yang ada dalam komik. Kostum Wonder Woman dalam komik sejatinya berubah-ubah dari masa ke masa. Di era “Golden Era” 1940-an, wujud kostum berupa korset dan rok selutut. Pada masa “Bronze Age” di awal 1970-an, kostum bertransformasi menjadi korset dan celana ketat, seperti yang digambarkan Lynda Carter dalam film serinya. Adapun di masa modern di bawah DCEU, sejak era “The New 52” (2011), kostum yang dipakai Gal Gadot seperti gladiator, berupa korset pelindung dada dan rok mini. “Saya tak pernah bermaksud menjadi objek seks siapapun kecuali suami saya. Saya tak pernah berpikir sebuah poster tubuh saya terpajang di toilet pria. Saya benci pria memandangi saya dan memikirkan apa yang mereka pikirkan. Dan saya tahu apa yang mereka pikirkan tentang saya,” tutur Lynda dikutip Herbie J. Pilato dalam Glamour, Gidgets, and the Girl Next Door: Television’s Iconic Women from the 50s, 60’s, and 70’s. Cathy Lee Crosby Cathy Lee Crosby memainkan karakter Wonder Woman dengan kostum berbeda. (IMDb). Walau Lynda Carter paling diidentikkan dengan Wonder Woman, toh dia bukan yang pertama. Figur pertama yang memerankan Wonder Woman di versi live action tak adalah Cathy Lee Crosby. Aktris kelahiran Los Angeles, 2 Desember 1944 itu merupakan atlet tenis profesional pada 1960-an. Dia gantung raket setelah terjun ke dunia hiburan lewat drama seri It Takes a Thief (1968). Cathy dipilih Douglas S. Cramer, salah satu bos Warner Bros, memerankan Wonder Woman sebagai film percontohan Wonder Woman (1974). Pemilihan tersebut ditentang penulis skenario Stanley Ross hingga akhirnya memutuskan keluar dan posisinya digantikan John D.F. Black. “Cathy Lee Crosby adalah (pilihan) keliru! Wonder Woman rambutnya gelap. Cathy perempuan baik. Tetapi dia orang yang salah untuk peran itu. Saya takkan mau melakukannya,” kata Ross dikutip Mark Phillips dan Frank Garcia dalam Science Fiction Television Series: Episode Guides, Histories, and Casts. Sebagai Wonder Woman, Cathy tampil dengan deskripsi berbeda dari komik. Selain rambutnya pirang, kostumnya pun serba tertutup. Maka saat dirilis lewat pemutaran perdananya di stasiun TV ABC , 12 Maret 1974, Wonder Woman berdurasi 75 menit itu rating -nya tak meledak. Padahal, akting Cathy terbilang menawan. Terutama pada adegan-adegan action , di mana Cathy juga belajar beladiri untuk peran itu. “Itu kisah fantasi. Jika Anda ingin melihat sesuatu yang mencerminkan kehidupan nyata, Anda salah. Karena semua orang pun tahu itu hanya fantasi. Namun ini adalah waktunya di mana perempuan harus berada di atas pria. Saya juga tak melihat diri saya sebagai simbol seks potensial. Akan sangat konyol berpikir bahwa saya hanya mengandalkan wajah cantik namun tak bisa berakting,” kata Cathy kepada Suratkabar The Ledger , 17 Maret 1974. Dalam wawancaranya dengan Inside Edition , 1 April 2016, Cathy minim  berkomentar soal perbandingan kostumnya dengan yang dipakai Lynda maupun Gal. “Oh…kostum saya lebih ‘menarik’ dan ‘berwarna’” katanya merujuk cuplikan Wonder Woman dalam seri yang dimainkan Lynda dan Gal dalam Batman v Superman . “Tapi adalah hal yang besar bahwa saya adalah (pemeran Wonder Woman) yang pertama,” tandasnya. Ellie Wood Walker Ellie Wood Walker tercatat jadi aktris pertama yang memerankan Wonder Woman pada 1967. ( Hero-A-Go-Go ). Cathy boleh saja mengklaim sebagai pemeran Wonder Woman pertama. Namun, dia pemeran Wonder Woman pertama yang naik tayang. Sejatinya, aktris pertama pemeran Wonder Woman adalah Ellie Wood Walker. Menukil Michael Eury dalam Hero-A-Go-Go: Campy Comic Books, Crimefighters & Culture of the Swinging Sixties , Ellie dilibatkan produser William Dozier, bos rumah produksi Greenway Productions, dalam film percontohan Who’s Afraid of Diana Prince? (1967). Film parodi berdurasi lima menit itu disutradarai Leslie H. Martinson. Dozier ingin mengangkat karakter DC Comic lain ke versi live action terinspirasi dari kesuksesan film seri Batman (1966-1968). Namun, setelah pilot project itu rampung, filmnya justru ditolak pihak distributor 20th Century Fox sehingga  gagal ditayangkan di manapun. Alasan penolakannya  antara lain, pihak distributor tak tertarik dengan sosok Ellie. Pun dengan jalan cerita yang tak identik dengan edisi komik manapun. “Kegagalannya terletak pada pundak produsernya. Dozier seperti tak punya pemahaman yang jelas tentang nilai-nilai yang diperjuangkan karakternya,” tandas Eury.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page