top of page

Hasil pencarian

9752 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Buku dan Perjalanan Intelektual Sukarno

    Kendati sebagai anak bangsawan rendahan masih mendapatkan diskriminasi, Sukarno tetap beruntung karena sejak kecil berkesempatan mendapat pendidikan formal. Hal ini berperan penting dalam perkembangan intelektualnya. Dari sekolah pula Sukarno mulai mendapat akses terhadap buku. Sosok Sukarno tentu tidak semata dibentuk oleh pendidikan dan buku. Pengalaman pribadi, pertemuan dengan berbagai ide, pengalaman organisasi, serta situasi politik lokal maupun global juga ikut membentuknya. Namun, buku menjadi teman baik dalam petualangan intelektualitasnya. Menurut Rhoma Dwi Aria Yuliatri dalam pembukaan Pameran dan Dialog Sejarah “Bung Karno dan Buku-bukunya ” di Facebook  dan Youtube   Historia , Selasa, 24 November 2020, di luar perpustakaan sekolah, Sukarno juga mendapat bacaan dari perpustakaan teosofi di mana ayahnya bergabung. Dengan meminjam kartu anggota ayahnya, ia bebas membaca buku apa saja. “Dia mengakses informasi terutama tentang sumber-sumber mengenai pemikiran-pemikiran orang-orang Asia,” sebut Rhoma. Banyak buku juga dia pinjam dari guru bahasa Jermannya, C Hartogh, dan mentornya di Bandung, D.G. Koch. Sukarno juga seringkali mendapat hadiah dari teman-temannya dan membaca buku di perpustakaan penjara seperti ketika dipenjara di Sukamiskin, Bandung. Sebagaimana tokoh bangsa lain yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, Sukarno juga berupaya mengkonversi bacaannya dari berbagai buku menjadi ide serta realitas tindakan. Rhoma mencontohkan, satu buku yang banyak dibaca tokoh generasi 1928 adalah Also Sprach Zarathustra karya filsuf Friedrich Nietsche. Beberapa tokoh mengambil spirit pencerahan dan Ubermensch (Adi Manusia) dari Nietsche dan mengaplikasikannya dalam kehidupan. Tan Malaka, misalnya, mengambil spirit ini secara personal meski tidak eksplisit. Sementara Ki Hajar Dewantara dan Sanusi Pane menerjemahkan spirit tersebut dengan kembali berpijak pada tradisi lokal. Sukarno mengambil gagasan tersebut dalam membangun sumber daya manusia di era Indonesia merdeka. Pengaplikasiannya masuk dalam cita-citanya membentuk manusia yang mempunyai jiwa dan mental kuat serta tanpa sekat rasial, salah satunya dengan cara kawin campur. Namun, Sukarno bukan pembebek satu gagasan. Ia seringkali mengkritisinya. Ketika membaca biografi Mahatma Gandhi karya Romain Rolland dan Mijn Ervarigen Uit De Gevangenis karya Gandhi, Sukarno mengambil spirit nasionalisme Gandhi. Namun, Sukarno merasa Indonesia tidak cocok dengan gerakan swadeshinya Gandhi. Dalam tulisannya di Suluh Indonesia Muda pada 1932, Sukarno menolak gagasan swadeshi sebagai upaya Indonesia merdeka. Meski banyak tokoh saat itu menggunakan gagasan swadeshi untuk mengobarkan semangat Indonesia merdeka, Sukarno justru menawarkan gagasan baru: kalau Indonesia mau merdeka, perlu adanya politieke massa actie yang berasas marhaenisme. “Ini artinya apa? bahwa Sukarno tidak mengambil mentah-mentah semua gagasan dari buku-buku yang dia baca,” jelas Rhoma. Menurut Rhoma, setidaknya ada empat tahap proses pembacaan Sukarno. Pertama , memahami berbagai gagasan sebagai pijakan berpikir dengan memisahkan gagasan dengan si pembuat. Kedua , tidak mengambil begitu saja gagasan secara mentah-mentah dan melakukan refleksi. Ketiga , menyesuaikan dengan situasi dan konteks yang ada. Keempat , membuat alternatif solusi sendiri atas situasinya sendiri. Sebagian besar buku yang dibaca Sukarno memang bertema politik. Wartawan senior Roso Daras menyebut hal ini terkait kepentingan Sukarno, tentang bagaimana memerdekakan bangsanya dari kolonialisme. “Tetapi bukan berarti beliau tidak menggemari bacaan-bacaan yang lain. Karena dari tulisan-tulisan yang ada dalam beberapa artikel, utamanya kumpulan tulisan-tulisan yang ada di buku Dibawah Bendera Revolusi, misalnya, itu hampir semua aspek dia kupas,” terang Daras. Sementara menurut Bonnie Triyana, pemimpin redaksi Historia sekaligus kurator pameran “Bung Karno dan Buku-bukunya”, Sukarno dan generasinya merupakan satu generasi yang kosmopolitan. Pada 1928, misalnya, mereka telah selesai pada persoalan rasialitas di mana hari ini isu tersebut justru muncul kembali. “Ini adalah hasil dari pembacaan, hasil dari penyerapan atas ilmu pengetahuan, wacana, dengan dialektikanya zaman waktu itu dan juga melahirkan pikiran-pikiran, gagasan-gagasan, yang membuat kita menjadi sebuah bangsa,” jelasnya. Daras menyebut, meski Sukarno telah banyak melahirkan gagasan melalui buku-bukunya, masih ada gap yang jauh antara Sukarno dan generasi hari ini. Penyebabnya, dari tingkat literasi maupun tingkat kesulitan memahami tulisan Sukarno itu sendiri. “Perlu ada banyak tafsir (terhadap gagasan Sukarno) untuk mempersempit gap sehingga lebih mudah dipahami generasi sekarang,” ujar Daras.

  • Moestopo vs Hatta di Tengah Pertempuran Surabaya

    Akhir Oktober 1945. Brigade Infanteri ke-49 Divisi India ke-23 pimpinan Brigadir A.W.S. Mallaby ada di ambang kehancuran. Menurut sejarawan militer Richard McMillan, para veteran Perang Dunia II itu seolah tak berkutik dalam kepungan arek-arek Suroboyo. Hingga hari ke-2 pertempuran), mereka telah membunuh ratusan serdadu Inggris, termasuk 16 perwira di dalamnya. “Karena suatu “pamer kekuatan”, 427 nyawa dari pasukan yang secara keseluruhan memiliki sekira 4.000 prajurit, melayang begitu saja…” ungkap McMillan dalam bukunya, The British Occupation of Indonesia, 1945-1946 . Para pejuang Surabaya itu dipimpin oleh seorang dokter gigi bernama Moestopo. Lelaki kelahiran Kediri pada 1913 bukanlah orang sembarangan. Selain pernah menjadi salah satu lulusan terbaik sekolah calon perwira PETA di Bogor, dia pun termasuk daidancho (komandan batalyon) kharismatik di Jawa Timur. Moestopo dikenal rekan-rekan seperjuangan dan anak buahnya sebagai sosok komandan cerdas namun nyentrik. Salah satu “kegilaan” itu dia perlihatkan kala secara sepihak mengangkat dirinya sebagai “Menteri Pertahanan Republik Indonesia” saat berhadapan dengan para petinggi tentara Inggris di Surabaya. “Peristiwa itu menimbulkan sedikit kehebohan…” kata sejarawan militer Moehkardi yang pernah mewawancarai Moestopo pada 1970-an. Ketika Inggris semakin tak berdaya, mau tidak mau mereka akhirnya mengundang Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta untuk menyelesaikan pertikaian antar dua pihak di Surabaya. Mereka berdua kemudian datang ke kota yang panas itu pada 29 Oktober 1945 dengan menggunakan pesawat Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF). Sebelum mendarat, Sukarno-Hatta mendengar dari berbagai pihak tentang sepakterjang Moestopo dan tidak sepakat dengan kekeraskepalaan sang pemimpin Pertempuran Surabaya itu yang tidak mau berunding dengan pihak Inggris. Hatta adalah orang yang paling jengkel kepada Moestopo. Begitu jengkelnya, saat bertemu Moestopo, Hatta memakinya sebagai “ekstrimis”. Soal itu dikisahkan oleh Roeslan Abdoelgani dalam Peristiwa 10 November dalam Lukisan . Ceritanya, saat Sukarno-Hatta tengah berada di Kegubernuran Jawa Timur, dengan mengenakan pakaian serba hitam dan ikat kepala, Moestopo datang menemui mereka. Kepada sang presiden, Moestopo melaporkan kelicikan-kelicikan Inggris lengkap dengan memperlihatkan bukti-bukti menurut versinya. Di tengah sesi curhat tersebut, tetiba Bung Hatta diiringi Amir Sjarifuddin dan beberapa perwira Inggris masuk ke ruangan. Alih-alih menyambut Hatta dan Amir, Moestopo malah menepi ke suatu sudut di ruangan tersebut. Dia kemudian duduk di lantai dalam posisi bak orang yang tengah bersemedi.Demi melihat “manusia aneh” di ruangan tersebut, Bung Hatta bertanya kepada Bung Karno. “Siapa orang itu?” bisiknya seraya menunjuk Moestopo. Begitu dijawab oleh Bung Karno bahwa orang itu adalah Jenderal Major. drg. Moestopo, Hatta tak kuasa lagi menahan rasa kesalnya yang sudah menumpuk kepada orang yang dianggapnya kepala batu dan tak mau mengerti strategi politik pemerintah RI. “Lha, ini dia pemberontaknya, ekstrimisnya!” kata Hatta dalam nada sinis. Mendengar ejekan dan makian yang dilontarkan Hatta, wajah Moestopo langsung merah padam. Seperti yang dituturkan dalam buku kecil Memperingati 100 Hari Wafatnya Bapak Prof. Dr. Moestopo , sang jenderal mengaku langsung mendatangi Hatta. Begitu berhadapan, dia langsung mengambil sikap sempurna layaknya seorang militer. “Memang, saya ekstrimis, saya pemberontak. Bukankah lebih baik menjadi pemberontak, mati dalam perjuangan, daripada dijajah bangsa asing lagi?!” jawab Moestopo. Belum puas dengan kata-kata itu, seraya mengambil ujung bendera merah putih yang berada di dekatnya, Moestopo berseru kepada Hatta: “Bung, silakan tembak saya di depan para opsir Inggris itu, biar mereka puas. Arahkan mulut senapan itu kepada saya dan semburkan pelurunya begitu saya selesai memberi hormat kepada Bung! Bagi saya, daripada dijajah kembali, lebih baik saya mati, Bung!” “Tidak!” tetiba Presiden Sukarno berteriak, “Hanya saya Presiden Republik Indonesia yang bisa membunuh Moestopo!” Selanjutnya, terjadilah perdebatan seru antara Hatta dengan Moestopo. Bung Karno lantas melerainya dan dengan nada lembut berkata kepada Moestopo: “Sekarang saudara Moestopo saya pensiunkan dan saya angkat menjadi Penasihat Agung Presiden Republik Indonesia di Jakarta!” “Lalu siapa yang menggantikan saya sebagai Menteri Pertahanan ad interim, penanggung jawab Revolusi Jawa Timur?! Siapa?!” tanya Moestopo. “Saya sendiri!” jawab Bung Karno. Moestopo memberi hormat secara militer lantas berbalik dan pulang menuju rumahnya di Gresik. Sejak itu, ia tak pernah terlihat lagi di front Surabaya.

  • CIA dalam Gerakan Buruh Indonesia

    HARRY Goldberg dan istrinya, Rose, tiba di Jakarta pada September 1951. Dia ditugaskan oleh Jay Lovestone untuk memasuki gerakan buruh di Indonesia. Sebelumnya, dia dan Irving Brown, membantu memecah gerakan buruh di Italia. Tak lama setelah tiba di Indonesia, Goldberg mengabarkan kepada Lovestone bahwa kehadirannya diketahui oleh Presiden Sukarno.

  • Gol Terakhir Ricky Yacobi

    DARI lapangan ke lapangan. Itulah yang dilakukan Ricky Yacobi nyaris sepanjang hayatnya hingga namanya harum sebagai sebagai bintang lapangan hijau. Di lapangan pula dia tumbang dan tutup usia pada Sabtu, 21 November 2020 di usia 57 tahun. Ricky tumbang kala tengah bermain bersama tim Medan Selection di Lapangan A, Komplek Gelora Bung Karno, Jakarta dalam turnamen Trofeo Medan Selection. Menurut rekannya, Lody Hutabarat, sebagaimana dikutip dari Kumparan , Sabtu, 21 November 2020, Ricky mencetak gol dari luar kotak penalti kemudian belari ke arah rekan-rekannya guna selebrasi skor 1-1. Namun sebelum mencapai rekan-rekan setimnya, ia ambruk tak sadarkan diri karena serangan jantung. Walau segera dilarikan ke RSAL Dr. Mintohardjo, nyawa Ricky tak terselamatkan. Mantan kapten Arseto Solo itu dikebumikan di TPU Tanah Kusir, Jakarta. Dunia sepakbola Indonesia pun berduka. Selain banjir ucapan belasungkawa dari berbagai insan sepakbola, Kemenpora sempat menggagas agar mengabadikan nama Ricky untuk menggantikan nama Lapangan ABC, Komplek Gelora Bung Karno. Pada 2018 Ricky Yacobi sempat menjabat Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI. ( kemenpora.go.id ). Anak Medan yang Merumput di Jepang Ricky Yacobi diidolakan banyak pesepakbola tanah air lantaran sebagai salah satu pionir orang Indonesia yang bermain di kompetisi asing. Salah satunya, Timo Scheunemann, eks-pemain dan pelatih Persiba Balikpapan dan Persema Malang. “Saya fans sejak saya masih SMA. Sebagai pemain Indonesia yang pertamakali bermain di Jepang, apalagi beliau striker seperti saya,” ujar pria berdarah Jerman itu kepada Historia . Ricky lahir di Medan, 12 Maret 1963. Kariernya dimulai dari level junior. Sepakbola jadi pilihan Ricky sejak dini, mengikuti jejak ayahnya, Yacob, yang pemain amatir di kompetisi lokal. Sejak akhir 1970-an Ricky mengasah skill- nya di berbagai klub amatir, mulai dari Putra Abadi, Srinaga, PS Teras, hingga Perisai. Dari Perisai yang dinaungi Direktorat Jenderal Pajak, Ricky kemudian ditarik ke PSMS Junior jelang Piala Suratin 1980. Dia tampil gemilang hingga membuahkan trofi. Ricky pun dipromosikan ke tim senior PSMS pada kompetisi Perserikatan 1980. Malang-melintang bersama tim “Ayam Kinantan” (julukan PSMS) dari 1980-1985, Ricky membawa PSMS dua kali juara Perserikatan (1983 dan 1985). Prestasi itu membuatnya digaet klub Galatama, Arseto Solo. Dari situ, Ricky mulai sering dipanggil ke timnas. Dia bahkan menjadi kapten timnas saat Indonesia saat merebut medali emas sepakbola SEA Games pada 1987. Ricky Yacobi (berdiri, pojok kanan) di Timnas Indonesia pada SEA Games 1987. (Repro  Rekaman Peristiwa '88 ). Setahun sebelumnya, Ricky ikut mengantarkan timnas Indonesia hingga babak semifinal Asian Games 1986 namun dikalahkan Korea Selatan 4-0.Meski hanya mencapai empat besar, itu jadi prestasi yang belum pernah terulang lagi. Nama Ricky kian berkibar karena gol spektakulernya kala Indonesia meladeni Uni Emirat Arab di perempatfinal. Konon, sejak saat itulah julukan Paul Breitner-nya Indonesia melekat padanya. “Ricky Yacobi pernah mencetak gol (lewat tendangan) voli lawan Uni Emirat Arab di Asian Games. Gol dari jarak jauh. Breitner juga punya spesialisasi ini. Sepertinya itu salah satu yang bisa mendekati mengapa Ricky Yacobi dijuluki Breitner dari Indonesia,” kata Irfan Sudrajat, pemerhati sepakbola dari harian TopSkor, kepada Historia melalui pesan singkat. Kiprah Ricky di klub senantiasa moncer bersama Arseto. Dituliskan Hardy R. Hermawan dan Edy Budiyarso dalam biografi mantan manajer timnas IGK Manila, Panglima Gajah, Manajer Juara , puncak karier Ricky dijalani di musim 1991di mana dia membawa Arseto Solo juara Galatama. Ricky dua kali menjadi topskorer,  pada 1987 dan 1991. Ciamiknya penampilan Ricky membuatnya ditaksir klub Liga Jepang, Matsushita Electric (kini Gamba Osaka). Dia kemudian dikontrak selama setahun. “Saat saya main di Matsushita tahun 1989, Matsushita juga semiprofesional, karena banyak pemainnya adalah karyawan perusahaan. Beda dengan pemain Galatama, kerjaannya cuma main bola,” kata Ricky kepada Historia delapan tahun silam. Gagal bersinar di Jepang, Ricky Yacobi comeback  ke Arseto Solo pada 1990. (Instagram @rijacobi). Namun, justru di Negeri Sakura itulah karier Ricky mengalami antiklimaks. Cuaca dingin membuatnya tak betah. Dia juga beberapakali dibekap cedera. “Pernah saya waktu bertanding kaki saya dicocor sampai tidak bisa bangun,” ujarnya sambil menunjukkan bagian kakinya yang cedera itu. “Akhirnya saya absen cukup lama.” Seringnya cedera membuat Ricky hanya punya catatan enam kali tampil selama di Jepang. Torehan golnya pun hanya sebutir. Alhasil, dia balik ke tanah air untuk memperkuat Arseto Solo lagi pada 1990. Anehnya, sejak itu beberapa perilakunya berubah drastis. Akibatnya, namanya dicoret dari daftar skuad timnas untuk SEA Games 1991 di Manila, Filipina. “Ricky adalah kapten yang memberi andil besar mengantarkan Indonesia meraih emas SEA Games 1987, emas pertama dalam cabang sepakbola. Setahun sebelumnya gol tendangan voli di Asian Games dari jarak 30 meter untuk sekian tahun berikutnya dijadikan bagian dalam bumper pembuka tayangan program olahraga TVRI. Usianya 28 tahun dan dia top skor Galatama dan pemain yang kharismatik yang tak ada di timnas SEA Games 1991,” tulis Hardy dan Edy. Ricky Yacobi mengasuh bibit muda di SSB Ricky Yacobi. (Micha Rainer Pali/ Historia.id ). Keputusan mencoret Ricky berasal dari manajer tim, IGK Manila, setelah menganalisis yang terjadi pada Ricky dalam beberapa laga uji coba. Kala timnas menghadapi Malta di President’s Cup di Korea Selatan, 7 Juni 1991, Ricky punya peluang 100 persen menjebol gawang Malta namun justru tak mengkonversinya jadi gol. Manila pun menegur Ricky dan mendapat jawaban bahwa di hari itu ia tak boleh menyakiti hati orang lain. Kejadian itu memantapkan hati Manila untuk menyisihkan nama Ricky dari skuad. Keputusan berani Manila itu membuatnya diprotes keras Ketum PSSI Kardono. Namun Manila bersikukuh dan bahkan mengancam mengundurkan diri kalau Kardono memaksanya memasukkan lagi nama Ricky ke skuad. “Ricky sedang galau. Ia mengalami pergulatan spiritual. Lantas ia bertemu seorang guru agama. Kalau tak salah, gurunya itu bermukim di kawasan Tanah Abang,” kata Manila dikutip Hardy dan Edy. Penilaian Manila dibenarkan Ricky saat dihubungi Historia pada akhir Juli 2017. “Iya, saat itu saya memang lagi mencari sesuatu buat diri saya,” kata Ricky tanpa mau membeberkan ada apa dengan dirinya. Setelah itu, Ricky tak pernah lagi mengenakan seragam timnas. Dia gantung sepatu setelah membela PSIS Semarang pada 1995. Namun, perhatiannya tetap dicurahkan pada sepakbola usai pensiun. Dengan sponsor dari sebuah perusahaan, dia mendirikan SSB Ricky Yacobi pada 1996. Demi keberlanjutan sepakbola tanah air, Ricky tak memungut rupiah pada para anak usia 7-12 tahun yang ingin mengasah kemampuan di SSB-nya. “Yang di bawah ini mesti dibenahi dulu, disediakan wadah kompetisi. (Kompetisi, red .) ini, daerah-daerah ini, mesti dihidupkan kembali. Di situ kita bisa lihat mana anak yang bener-bener bagus,” kata Ricky yang pada 2018 diangkat menjadi direktur Pembinaan Usia Muda PSSI.

  • Jenderal Choltitz Penyelamat Paris

    SUATU hari di tahun 1959, Pierre Léjévac tak menyangka akan kedatangan tamu istimewa. Kepala pelayan bar di Hotel Meurice, Paris itu mulanya sempat keheranan pada sang tamu, pria paruh baya berpostur pendek dan gempal yang celingukan memperhatikan suasana bar. Pierre pun menyapa tamunya dengan ramah dan menawarkan bantuan. Alih-alih menjawab dengan permintaan, sang tamu malah menceritakan kenangannya bahwa ia pernah tinggal di hotel itu selama beberapa pekan. Dia lalu meminta izin Pierre untuk melihat kamar lamanya di lantai empat. Pierre yang makin memperhatikan tamunya yang dilihatnya familiar, segera insyaf. Tamu berjas biru gelap rapi itu tak lain adalah Dietrich von Choltitz, mantan jenderal Jerman yang menjabat sebagai Gubernur Militer Prancis dari 7 Agustus-25 Agustus 1944. Maka begitu yakin tamunya merupakan sosok yang dikenal sebagai “penyelamat Paris”, Pierre segera mengontak manajer hotel. “Pak, Anda takkan mempercayai hal ini tapi Dietrich von Choltitz ada di sini dan dia ingin melihat kamarnya,” kata Pierre kepada manajernya via telefon, dikutip Donald dan Petie Kladstrup dalam Wine and War: The French, the Nazis, and the Battle for France’s Greatest Treasure . Sang manajer buru-buru mendatangi bar dan menyambut tamu lamanya itu. Dia langsung mengabulkan permintaan Choltitz dan mengantar sang jenderal ke kamar lamanya yang kebetulan sedang kosong. Di kamar itu, Choltitz langsung melempar pikirannya ke masa lalu dan selama 15 menit tak banyak bicara. Dia melangkah ke balkon sebagaimana kebiasaannya dulu. “Ah ya, (pemandangan) ini yang paling saya ingat,” katanya saat berdiri di balkon dengan view Taman Tuileries di seberang hotel. Setelah 15 menit bernostalgia, Choltitz kembali ke bar diantar manajer. “Kita harus mengenang momen kembalinya Anda, mon général, ” ujar sang manajer sambil menawarkan membuka botol sampanye. “Saya sudah melakukan hal yang saya inginkan dan sekarang saya harus pergi lagi,” Choltitz menolak secara halus. Maklum, hari itu Choltitz  juga punya agenda bertemu kawan lamanya, Pierre Taittinger, walikota Paris di masa Perang Dunia II. Hari itu jadi kali terakhir Choltitz menginjakkan kaki di Hotel Meurice. Tujuh tahun berselang, 5 November 1966, atau empat hari menjelang ulangtahunnya yang ke-72, ia mengembuskan nafas terakhir di Baden-Baden. Dietrich von Choltitz kala bernostalgia ke Paris 14 tahun pascaperang. ( choltitz.de ). Aristokrat Prusia Penentu Nasib Paris Lahir pada 9 November 1894, Choltitz berasal dari keluarga bangsawan Moravia-Silesia. Sejak kecil ia hidup sebagai aristokrat di kastil ayahnya yang seorang perwira di Tentara Kerajaan Prusia, Hans von Choltitz, di Graflich Wiese (kini Łąka Prudnicka, Polandia). Ketika tumbuh remaja, Choltitz dimasukkan ke sekolah kadet militer di Dresden dan lulus beberapa bulan sebelum Perang Dunia I pecah. Dia ditempatkan di Resimen ke-8 Prinz Johann Georg. Pascaperang, Choltitz meneruskan karier militernya, antara lain terlibat dalam pendudukan Sudetenland pada 1938. Choltitz saat itu sudah menyandang pangkat oberstleutnant (letnan kolonel). Memasuki masa Perang Dunia II, sepakterjang Choltitz merentang dari Invasi Polandia (1 September 1939), Pertempuran Rotterdam (10 Mei 1940), Operasi Barbarossa ke Uni Soviet (22 Juni 1941) sebagai komandan Resimen Linud ke-16 AD Jerman, Front Italia (Maret 1944) sebagai Deputi Panglima Korps Panser ke-76, hingga mengomandani Korps Infantri AD Jerman ke-85 di Normandia (Juni 1944). Seiring kian terdesaknya Jerman pasca-D Day (Invasi Sekutu ke Normandia), Choltitz mengemban tanggungjawab besar sebagai gubernur militer di kota Paris per 7 Agustus 1944. Penunjukan itu, diungkapkan David Schoenbrun dalam Soldiers of the Night: The Story of the French Resistance , dilakukan langsung oleh Hitler kala memanggil Choltitz ke Wolfsschanze, markas Hitler di Görlitz (kini Gierłoż, Polandia). Itu jadi momen kedua terakhir Choltitz bertemu führer . Hitler mempercayakan Choltitz untuk jadi panglima Paris yang akan jadi kota garis depan dan kota benteng. “Choltitz ditunjuk sebagai befehlshaber , panglima benteng Paris yang diberi wewenang dan tanggungjawab langsung kepada Hitler. Dia diperintah untuk membasmi semua tindakan terorisme dan mempertahankan posisi dengan meledakkan setiap jembatan, pertempuran dari jalan ke jalan dan dari rumah ke rumah,” tulis Schoenbrun. Kastil keluarga Jenderal Choltitz (kiri) & masa mudanya hobi berkuda. ( choltitz.de ). Penunjukan itu membuat Choltitz bimbang. “Dalam perjalanan pulang dengan keretaapi, Choltitz sadar bahwa dia telah ditunjuk oleh seorang tidak waras. Terlepas dari sifatnya yang loyal dan tradisi profesional sebagai perwira yang taat pada atasan, nurani dan keyakinan Choltitz mulai goyah pada misi barunya itu,” imbuhnya. Tanggungjawab Choltitz kian berat karena hanya punya pasukan berjumla h relatif  kecil, 20-25 ribu personil, yang kebanyakan bukan kombatan berpengalaman dari Divisi ke-48 dan Divisi ke-338 ditambah beberapa unit artileri dan tank. Sekitar 15 ribu di antaranya berbasis di pusat kota Paris dan sisanya di batas kota, di tepi Sungai Seine. Terang saja Jenderal Choltitz pesimis. Pendapatnya kepada Kepala Staf Komando Barat Jenderal Günther Blumentritt bahwa mempertahankan Paris adalah kesia-siaan belaka justru menuai hardikan. Pada 13 Agustus, Choltitz menghadap sendiri ke Panglima OB West Marsekal Günther von Kluge di Saint-Germain-en-Laye. Choltitz meminta pasukan tambahan, namun berujung kandas. “Dua hari kemudian Kluge mengadakan rapat militer untuk memaparkan perintah bumi hangus Paris dari Hitler. Rencana itu dipresentasikan Jenderal Blumentritt yang mengatakan strateginya sangat penting. Jika industri-industri di Paris tak dilumpuhkan, nantinya akan menjadi bumerang bagi Jerman dalam beberapa pekan. Termasuk sektor bahan bakar, listrik, dan sistem air minum,” ungkap Jean Edward Smith dalam The Liberaton of Paris: How Eisenhower, de Gaulle, and Von Choltitz Saved the City of Light. Surat penunjukan General der Infanterie Dietrich von Choltitz sebagai Gubernur Militer Paris ( choltitz.de ) Choltitz yang datang dalam rapat itu mengajukan keberatan. Dia lebih condong untuk mempertahankan Paris, bukan meratakannya dengan tanah. Rencana yang disampaikan Blumentritt menurutnya hanya bisa efektif jika pasukan Jerman sudah meninggalkan kota. Jika rencana tersebut dilakoni prematur, ibarat menyerahkan ribuan buruh ke tangan kelompok Resistance. Lagipula, kata Choltitz, “pasukan kita juga butuh air minum.” Kluge dan Blumentritt bersikeras tetap menjalankan perintah Hitler (membumihanguskan Paris). Bumi hangus itu kemudian tak hanya menyasar sejumlah infrastruktur vital, namun juga menyasar sejumlah situs sejarah dan budaya seperti Louvre, Notre Dame, dan bahkan Menara Eiffel, serta sejumlah jembatan bersejarah. Sesuai keputusan rapat, Choltitz dengan berat hati memerintahkan pasukannya untuk memasang peledak di sejumlah tempat itu, termasuk 65 jembatan di atas Sungai Seine. “Tetapi jangan ledakkan apapun tanpa persetujuan pribadi saya!” Choltitz memerintahkan Kapten Werner Ebernach, komandan sebuah unit yang bertanggungjawab atas peledakan, dalam memoar yang dituliskannya bersama putranya Timo von Choltitz, Brennt Paris? Adolf Hitler (1951, terj. Is Paris Burning? ). “Adalah tanggungjawab saya untuk menjaga ketertiban dengan pasukan yang ada dan memfasilitasi penarikan mundur pasukan yang melewati kota. Perintah meledakkan semua jembatan sepenuhnya jadi tanggungjawab saya yang membuat situasinya makin sulit. Di balik pertimbangan militer, ada niat saya untuk melindungi populasi sipil dan kota mereka yang indah. Saya harus melakukan segalanya untuk mencegah kehancuran Paris,” kata Choltitz. Jenderal Choltitz terduduk di mobil M3 Scout Car usai penyerahan Paris pada 25 Agustus 1944. (Wikimedia/equinoxia21). Namun, aktivitas kelompok-kelompok perlawanan bawah tanah makin meresahkannya. Terlebih setelah aksi mogok aparat Kepolisian Paris yang berujung kericuhan. Sejak 1943, Kepolisian Paris banyak disusupi kelompok bawah tanah pimpinan Henri Rol-Tanguy yang hanya manut pada Jenderal Charles de Gaulle, pemimpin pemerintah pelarian Prancis di Inggris. Untuk itulah Choltitz menggelar pertemuan dengan Walikota Taittinger pada 17 Agustus 1944 di markasnya, Hotel Meurice. Walikota mulanya mempertanyakan maksud pasukan Choltitz menempatkan sejumlah peledak di berbagai lokasi. Choltitz sekadar menjelaskan itu langkah preventif untuk melindungi rombongan pasukan Jerman yang tengah mundur dari Normandia. Choltitz juga mengemukakan soal kekacauan dalam ruang-ruang publik. Ia meminta Taittinger yang punya otoritas untuk bisa meredam. Taittinger hanya berjanji akan melakukan sebisanya lantaran kelompok-kelompok Resistance terdiri dari berbagai sel yang bergerak sendiri. Yang terbesar, pimpinan Rol-Tanguy, hanya patuh pada Jenderal de Gaulle. Sebagai niat baik dalam negosiasi itu, Choltitz menjanjikan akan mencegah Gestapo (Polisi Rahasia Jerman Nazi) mengeksekusi para tahanan, di samping melepaskan lebih dari empat ribu tahanan serta mencegah warga Paris kelaparan dengan membagikan ransum dari persediaan pasukan Jerman. Timbal-baliknya, ia minta aparat Paris membantu mengatur 40 ribu personil nonmiliter Jerman menyeberangi perbatasan Prancis-Jerman. Jenderal Choltitz "Sang Penyelamat Paris" (berdiri, pojok kiri) di kamp tahanan Trent Park, London, Inggris. (Bundesarchiv). Akan tetapi, pada 23 Agustus datang telegram dari Hitler yang berbunyi “Paris tidak boleh jatuh ke tangan Sekutu kecuali dalam kondisi reruntuhan.” Sementara, di sisi lain pikiran Choltitz dikacaukan oleh garis depan Sekutu yang sudah mencapai batas kota. Choltitz lantas menemui Konsul Jenderal Swedia di Paris Raoul Nordling. “Choltitz mengatakan satu-satunya hal yang bisa mencegah penghancuran Paris adalah kedatangan Sekutu dengan sangat cepat. Choltitz mengatakan: ‘Anda harus sadar bahwa apa yang akan saya katakan kepada Anda bisa diartikan sebagai pengkhianatan, karena saya ingin minta bantuan Sekutu’,” sambung Smith. Choltitz lalu memberi Raoul surat jalan agar bisa menembus area Sekutu agar bisa menyampaikan maksudnya untuk menyelamatkan Paris dari kehancuran. Itu artinya Choltitz menolak perintah Hitler; keluarganya di Baden-Baden turut terancam. Namun bila Sekutu yang mendahului merebut Paris, keluarganya bisa aman dari murka Hitler. Negosiasi yang lantas dilanjutkan Rolf Nordling, adik sang konsul jenderal, karena Raoul terkena serangan jantung, berjalan lancar. Choltitz yang menepati janjinya untuk melepas semua peledak yang sudah dipasang, menyerahkan diri pada 25 Agustus 1944. Atas izin Panglima Tertinggi Sekutu Jenderai Dwight Eisenhower, pasukan terdepan, Divisi Lapis Baja ke-2 Prancis pimpinan Jenderal Philippe Leclerc, menerima penyerahan Choltitz dan Garnisun Paris secara tertulis di Kantor Kepolisian Paris. Namun Choltitz meminta pengumuman gencatan senjata dan penyerahan itu tak disiarkan lewat radio karena akan segera sampai ke telinga Hitler. “Oleh karenanya kendaraan-kendaraan militer Jerman dan Kepolisian Paris berkeliling kota dengan pengeras suara untuk mengumumkannya. Warga Paris pun dengan hangat menyambut gencatan senjata dan pembebasan kota yang diiringi pengibaran bendera Prancis di segenap penjuru kota,” tambah Smith. Upacara pemakaman Jenderal Choltitz yang dihadiri para perwira militer Bundeswehr dan Prancis. ( Süddeutsche Zeitung, 11 November 1966 ). Choltitz yang dijuluki “penyelamat Paris” kemudian ditahan dan diserahkan ke pihak Inggris, lalu diterbangkan ke kamp interniran Trent Park di utara London sebelum ke Kamp Clinton di Mississippi, Amerika Serikat. Choltitz, yang kemudian diduga terlibat dalam pembantaian Yahudi di Ukraina dan Prancis serta tindakan brutal dalam Pertempuran Sevastopol, dibebaskan pada 1947. “Ayah saya tergerak dan mendengarkan hati kecilnya untuk melestarikan ibukota Prancis demi generasi mendatang. Mungkin keputusannya dipengaruhi Pertampuran Normandia sebelum menjabat di Paris. Keputusannya didukung Konsul Jenderal Swedia di Paris,” kata Timo von Choltitz, dikutip Karen Farrington dalam Victory in Europe: D-Day to the Fall of Berlin. “Tetapi pemerintah Prancis sampai sekarang (2005) menolak menerima hal itu dan menyatakan Resistance yang membebaskan Paris dengan dua ribu senjata menghadapi tentara Jerman. Bagi pemerintah Prancis, ayah saya adalah babi Nazi namun setiap orang Prancis yang terdidik tahu apa yang dia lakukan buat mereka. Saya bangga pada memori ini,” lanjutnya. Meski beberapa pejabat Prancis enggan mengakui julukan “Penyelamat Paris”, militer Prancis justru sebaliknya. Sejumlah perwira tinggi militer Prancis datang ke Baden-Baden guna menghadiri pemakaman Choltitz yang wafat pada 5 November 1966 akibat penyakit kronis pada paru-paru. Empat hari berselang mereka bahkan memberikan upacara penghormatan militer dalam pemakaman yang dihadiri para perwira Bundeswehr dan Kementerian Pertahanan Jerman Barat, Kolonel Wagner, Kolonel d’Omezon, dan Kolonel de Ravinel dari Markas Komando Militer Prancis di Baden-Baden.    “Hidup seorang prajurit luar biasa telah berakhir. Hari ini kita menundukkan kepala bersama keluarga yang berduka, termasuk Bundeswehr. Di liang ini terbujur seorang perwira yang menjalankan tugasnya di masa perang. Kami, prajurit di Bundeswehr, hanya bisa berterimakasih atas apa yang dilakukan Jenderal von Choltitz di Paris. Kami akan selalu mengenangnya sebagai prajurit yang berani dan humanis,” ujar Mayjen Kohler dalam pidatonya mewakili Bundeswehr, dikutip suratkabar Süddeutsche Zeitung , 11 November 1966.

  • Rahasia Kennedy tentang Sukarno

    Di masa kepresidenan Sukarno, tahun 1961 barangkali menjadi titik balik hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat (AS). Periode penuh kerikil dan subversi berhadapan dengan Presiden Dwight D. Eisenhower berakhir. John Fitzgerald Kennedy, senator muda dari Partai Demokrat menggantikannya. “Inilah orang yang mempunyai pikiran progresif,” kata Sukarno dalam otobiografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang dituliskan Cindy Adams. Kennedy, menurut Sukarno punya kepribadian yang lebih luwes daripada pendahulunya. Dalam cita-cita politik, Sukarno mengakui antara dirinya dan Kennedy banyak kesamaan. Tapi, cara Kennedy memperlakukan dirinya merupakan pengalaman paling berkesan di hati Sukarno.

  • Kisah Petempur Cilik dalam Revolusi Indonesia

    Dua lelaki kecil itu nampak di barisan terdepan para gerilayawan republik. Sikap tubuhnya gagah dengan masing-masing memegang senjata laras panjang, berdiri tegap tanpa alas kaki. Pemandangan dalam foto tua itu (kemungkinan) diambil oleh seorang fotografer dari Kementerian Penerangan Republik Indonesia, sesaat Divisi Siliwangi akan pergi berhijrah ke Jawa Tengah pada awal 1948. Bambang S. Santoso dalam blog-nya menyebut dua bocah perang tersebut merupakan anggota Kompi III Yon 33 Pelopor/ Langlangbuana, salah satu kesatuan yang berafiliasi ke Divisi Siliwangi. Dia mengetahui informasi tersebut berdasarkan keterangan sang ayah yakni Kolonel (Purn.) Loekito Santoso, yang pada zaman revolusi merupakan komandan kompi di kesatuan tersebut. Keterlibatan para bocah dalam revolusi kemerdekaan Indonesia (1945-1949) selama ini kisahnya hanya terketahui lamat-lamat saja. Beberapa film nasional memang pernah mengangkat sekilas peran mereka. Sebut saja dalam film  layar lebar  yang diproduksi  pada tahun 1982: Serangan Fajar  dan Pasukan Berani Mati . Satya Graha (89) adalah salah satu dari para bocah itu. Ketika kali pertama menjadi gerilyawan usianya baru 15 tahun. Dia menggabungkan diri dalam Divisi Ayam Jago pimpinan Mayor Jenderal Moestopo yang dikenal sebagai opsir republik yang sangat nyentrik. Berbagai pertempuran pun pernah diikutinya walau (diam-diam) dia mengaku merasa takut dan gemetaran juga. “Saya ingat kalau setiap bertempur, Pak Moes selalu berada di paling depan. Sambil menembakan senjatanya, dia tak henti berteriak-teriak dalam bahasa Belanda, mengejek para serdadu yang tengah kami hadapi,” ujar mantan jurnalis Indonesia terkemuka di era 1960-an itu. Suatu hari saat tengah beristirahat, dia dipanggil oleh Moestopo ke ruangan utama markas. Saat sampai di sana, alangkah terkejutnya Satya ketika melihat ibunya tengah adu omong dengan Moestopo. Begitu melihat kehadiran Satya, ibunya langsung mengajak dia pulang namun Satya bersikeras untuk bertahan. “Lha itu buktinya saya ndak memaksa, anak-nya kok yang mau ikut berjuang,” kata Moestopo kepada ibunya Satya. Barulah Satya saat itu paham bahwa ibunya dengan sang komandan dulu merupakan kawan sekolahan waktu SMP. Kendati dimarahi dan ditakuti, Satya tetap tak mau pulang ke rumah. Akhirnya tak ada yang bisa dilakukan sang ibu kecuali menyerahkan keputusan kepada anaknya sendiri. Namun sebelum pulang, sang ibu tak henti-nya mengingatkan Moestopo untuk menjaga anaknya. “Saya sempat malu juga kepada komandan, tapi ya gimana saat itu memang saya masih termasuk anak kecil,” kenang Satya. Kisah yang sama juga pernah dialami oleh J.A. Soetjipto (83). Pada 1949, saat dirinya masih berusia 12 tahun, perang melawan tentara Belanda lagi hebat-hebatnya di seluruh timur Jawa. Di desanya, Prambonwetan (masuk dalam wilayah Kabupaten Tuban), pertempuran-pertempuran antara pasukan TNI (Tentara Nasional Indonesia) dengan militer Belanda  kerap terjadi hampir setiap minggu. Gencarnya serangan dan patroli yang dilakukan militer Belanda sepertinya disebabkan keyakinan mereka bahwa wilayah Prambonwetan merupakan salah satu basis terkuat TNI di timur Jawa. Penilaian itu memang benar adanya. Selama 1949, Brigade Ronggolawe menempatkan satuan-satuan kecil dari Batalyon XVI pimpinan Mayor Basuki Rakhmat. “Di sana ada beberapa seksi pimpinan Sersan Sudjiman, Sersan Kemis dan Sersan Safii yang salah satu tugasnya melatih anak-anak muda setempat untuk menjadi tenaga tempur,” demikian disebutkan oleh buku Pengabdian Selama Perang Kemerdekaan Bersama Brigade Ronggolawe karya Panitia Penyusunan Sejarah Brigade Ronggolawe. Kendati belum lulus Sekolah Rakjat (SR), Soetjipto sudah direkrut sebagai tenaga tempur. Dia bergabung dengan kelompok yang dipimpin oleh Sersan Sujiman. Sebenarnya kata “direkrut” tidak begitu tepat karena  bergabungnya Soetjipto ke kelompok tentara itu dilakukan secara sukarela. “Waktu itu saya merasa ikut berperang seperti main-main saja,” ujarnya. Kendati ke mana-mana menyandang sepucuk karaben, aura kebocahannya tetap tidak lepas dari wajah Soetjipto. Dia ingat pada suatu hari dibawa Sersan Sudjiman ke markas komando di sebuah dukuh bernama Manor. Di sana bertemulah dirinya dengan Mayor Basuki Rakhmat yang jadi terheran-heran melihat kehadirannya. “ Iki cah cilik melu-melu , ngapain?” tanya sang komandan. “Dia itu kecil-kecil juga ikut berjuang, Pak…” jawab Sersan Sudjiman sambil terkekeh. Mendengar penjelasan bawahannya, Mayor Rakhmat seolah masih tak percaya. Setelah menatap kembali Soetjipto, sambil tersenyum ia kemudian bilang: “ Yo wis , kamu sana main-main dulu, kami mau ngomong-ngomong dulu…” katanya. Sebagai petempur, Soetjipto tentu saja terlibat dalam sejumlah pertempuran. Namun dari sekian pengalaman tempurnya, hanya kejadian di perbatasan antara Prambonwetan dan Banjararum-lah yang hingga detik ini tak pernah bisa dilupakannya. “Di sanalah saya mengalami pertempuran yang demikian hebat dan mengerikan,” ungkapnya. Ceritanya pada Selasa, 23 Juli 1949 dia terlibat dalam suatu  rencana penyergapan terhadap satu seksi Marinir Belanda pimpinan seorang letnan satu bernama Leen Teeken. Operasi penyergapan itu sendiri dipimpin oleh seorang letnan muda bernama Noortjahjo. “Kami tunggu mereka di balik tanggul sebuah sungai kecil yang mengapit jalanan kampung lalu tanpa ampun menghancurkan pasukan musuh tersebut,” kenang Soetjipto. Akibat penyergapan itu, 3 orang tewas di pihak musuh dan tujuh lainnya berhasil ditawan. Tak ada korban jatuh sama sekali di pihak TNI dan rakyat. “Pertempuran itu berlangsung sangat brutal, dengan mata kepala saya sendiri saya meyaksikan kepala komandan Marinir Belanda itu ditembus serpihan-serpihan granat hingga  menyebabkan otaknya berhamburan dan tercecer di pematang sawah…” ungkap Soetjipto. Lima bulan setelah pertempuran itu, perang pun berakhir. Sebagai seorang anak petani, Soetjipto merasa bahwa hidupnya harus berubah. Dia kemudian kembali ke bangku sekolah dan berhasil masuk Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) dan dari sana dia meniti karir di Badan Pertanahan Nasional (BPN) hingga mencapai pensiun. “Walaupun saya pernah terlibat dalam perjuangan dahulu, namun sesungguhnya saya tak pernah merasa berjasa untuk negeri ini. Bukankah saat itu hampir semua orang berjuang?" ujarnya.

  • Bertahan di Tanah Tandus

    DIBANGUN di atas perbukitan kapur, Situs Ratu Boko terasa sunyi dan tenang. Udaranya sejuk. Pemandangan alam sekitarnya indah. Di kejauhan Gunung Merapi yang mencakar langit terlihat begitu jelas dan menawan. Sementara Candi Prambanan yang megah terlihat bagai miniatur dalam ruang pamer sebuah museum. Membuat siapapun yang berada di sana merasakan kedamaian. Kedamaian itu pulalah yang dicari Rakai Panangkaran, penguasa Mataram Kuno abad ke-8 dari Wangsa Syailendra. Karena ingin fokus pada kehidupan spiritual, dia mengundurkan diri sebagai raja lalu menyepi dan membangun wihara, tempat ibadah sekaligus tempat belajar, berkumpul, dan tinggal para pendeta Buddha, di Bukit Boko. Namun kemudian Bukit Boko pernah digunakan sebagai tempat tinggal penguasa daerah Walaing bernama Rakai Walaing Pu Kumbhayoni yang menganut Siwa atau Hindu. Tampaknya Rakai Walaing kemudian mengubah tempat itu menjadi hunian yang lengkap dengan peribadatan agama Siwa. “Awalnya wihara, selanjutnya menjadi hunian umat beragama Hindu yang dilengkapi sarana peribadatan yakni miniatur candi dan candi pembakaran,” kata Andi Riana, arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (BPCB DIY), dalam diskusi daring “Menyelisik Keraton Prabu Boko” yang digelar BPCB DIY. Dari keterangan prasasti dan peninggalan-peninggalan yang ada, menunjukkan bahwa di dataran Ratu Boko pernah berkembang dua agama, yakni Hindu dan Buddha, antara abad ke-8 hingga 9. Peninggalan ajaran Budha antara lain arca Dhyani Budha, stupika-stupika (stupa kecil), bekas bangunan stupa, dan gua-gua meditasi. Sementara peninggalan Hindu misalnya arca Durga, Garuda, Ganesa, lingga, yoni, candi miniatur, dan fondasi bangunan yang disebut candi pembakaran. Lingkungan Tak Ideal Situs Ratu Boko terletak sekira 3 km di sebelah selatan kompleks Candi Prambanan, 18 km sebelah timur Kota Yogyakarta. Situs ini berdiri di atas bukit dengan ketinggian 196 meter dari permukaan laut. Luas keseluruhan kompleks sekitar 25 hektar. Dibandingkan situs lainnya, Ratu Boko memiliki keistimewaan tersendiri. Peninggalan-peninggalan di sana bukan hanya berwujud bangunan suci tapi juga bangunan lain yang bersifat profan (duniawi) seperti keraton dan situs hunian. Saat digunakan sebagai hunian, kebutuhan para penghuninya pun semakin beragam dan kompleks. Kalau kata Andi Riana, tadinya penghuni wihara terbatas. Namun diperkirakan ada 100 orang yang menempati wilayah itu ketika sudah berubah fungsi. Saat itulah, dari tinggalan yang kini tersisa di Situs Ratu Boko, kita bisa melihat bagaimana masyarakat masa silam beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Situs Ratu Boko berada di wilayah perbukitan yang terdiri tanah berbatu dan cadas. Lokasi yang sebenarnya tak ideal untuk hunian. Menurut arkeolog BPCB DIY Manggarsari Ayuati dalam “Situs Ratu Boko: Suatu Bentuk Efektivitas Pengelolaan Lingkungan Masa Lampau”, Buletin Narasimha No. 4/IV/2011, sifat lapisan batuan di kawasan Bukit Ratu Boko tak mudah lolos air. Padahal keberadaan air tak hanya penting untuk kebutuhan sehari-hari tapi juga kebutuhan ritual. Masyarakat di sana mungkin sudah menyadari. Solusinya, mereka membuat kolam-kolam penampungan air hujan di kawasan situs. Tri Hartini, ketua unit kerja Situs Ratu Boko dan Candi Ijo BPCB DIY, menjelaskan kolam dibuat dengan melubangi batuan induk. Dengan demikian air bisa bertahan selama setahun karena sifat batuannya tak mudah rembes. Ketinggian kolam pun dibuat tak sama. Tujuannya agar air pada satu kolam yang meluap akan mengalir dan mengisi kolam di sebelahnya yang lebih dalam. “Ini hukum Archimedes,” jelas Tri menyebut ahli matematika dan fisika dari Yunani yang tersohor. “Jadi walaupun di sana tidak ada sumber air, ini bukan jadi masalah. Air ini juga dikelola dengan baik sehingga tidak terbuang percuma,” katanya. Berbagai macam pohon dan ribuan bibit semak ditanam di area Ratu Boko untuk mengatasi gersang dan menambah keindahan. (Dok. Bakti Lingkungan Djarum Founfation) Mempercantik Ratu Boko Gersangnya wilayah Situs Ratu Boko masih terasa hingga kini ketika kawasan itu  telah menjadi objek wisata populer di Yogyakarta. Di siang hari, hawa panas menyergap. Untuk mengatasi gersang dan menambah keindahan, berbagai macam pohon dan ribuan bibit semak ditanam di area Ratu Boko setahun lalu melalui Gerakan Siap Darling (Siap Sadar Lingkungan) yang diinisiasi oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation. Penanaman dilakukan dengan menggandeng ratusan mahasiswa dari berbagai universitas di Yogyakarta. Dari 1.350 perdu dan semak berbunga yang ditanam di Situs Ratu Boko, terdapat jenis bugenvill, tanjung, soka, dan kepel. Menariknya, dua tumbuhan di antaranya ternyata pernah ditanam pada masa Ratu Boko dihuni dulu. Nugrahadi Mahanani dalam skripsinya di Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada tahun 2013 berjudul “Vegetasi Lingkungan Situs Ratu Boko: Analisis Atas Pollen Sedimen” menulis kalau soka atau asoka ( Jonesia asoka Roxb ) adalah salah satu tanaman hias di Situs Ratu Boko. Nugrahadi mengidentifikasinya lewat analisis serbuk sari yang ditemukannya dalam sampel tanah di area sebelah barat daya Batur Pendopo dan sebelah barat Batur Miniatur Candi. Sementara tanjung agaknya menjadi tanaman yang umum dijumpai pada masa Jawa Kuno dan dipahatkan dalam relief sejumlah candi. Baik soka/asoka maupun tanjung juga disebut dalam prasasti abad ke-8 hingga 10 dan Kakawin Ramayana , kesusastraan Jawa Kuno yang dibuat sekitar tahun 870 M. “Selain akan mempercantik wilayah Situs Ratu Boko, gerakan ini diharapkan dapat mendorong generasi muda untuk semakin mencintai dan mempelajari warisan sejarah yang ada di Indonesia,” ungkap Tri Hartini yang ikut mengapresiasi Gerakan Siap Darling.*

  • Penerbangan Terakhir Leo Wattimena

    SOEHARTO kenal betul dengan Leo Wattimena. Waktu dia menjabat sebagai Panglima Komando Mandala pembebasan Irian Barat, Leo adalah salah satu wakilnya. Dalam komando operasi itu, Leo punya tugas penting mengorganisasi pasukan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Di kalangan AURI, Leo Wattimena bukan nama sembarangan. Dia dikenal sebagai penerbang ulung dengan jam terbang tinggi, Sebagai pilot tempur berpengalaman, Soeharto pun menaruh percaya kepada Leo. Kalau Leo terbang, seperti dituturkan pakar politik dan pertahanan Salim Said, biasanya Soeharto menanti di pangkalan udara sampai pesawat yang dikemudikan Leo mendarat kembali. “Tapi, hubungan Leo dengan Soeharto menjadi rusak waktu Gestapu (Gerakan 30 September/G30S),” ujar Salim Said dalam Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian . Lantas apa yang terjadi dengan Leo dan Soeharto? Bombardir Markas Kostrad? Peristiwa Gerakan 30 September 1965 berimbas pada AURI yang disudutkan banyak pihak. Angkatan Darat sangat mencurigai AURI terlibat dalam gerakan tersebut. Akar perselisihan bermula dari surat perintah Menteri Panglima AU Laksamana Madya Omar Dani pada 1 Oktober yang menyiratkan dukungan terhadap gerakan. Selain itu, Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma yang merupakan kawasan AURI disinyalir sebagai basis G30S. Hari yang menjadi prahara itu dikisahkan Omar Dani dalam Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku: Pledoi Omar Dani  oleh Benedicta A. Surodjo dan JMV. Soeparno. Pada malam hari, 1 Oktober, Dani bersama Panglima Komando Operasi AURI, Komodor Leo Wattimena melakukan pemantauan situasi keamanan dari udara. Mereka  meninjau kawasan Halim sampai Madiun dengan pesawat Hercules C-130. Memasuki pergantian hari, Dani terasa lelah dan mengantuk setelah enam jam lamanya terbang. Dia meminta Leo untuk berkirim radiogram kepada Panglima Kostrad Mayjen Soeharto. Dani berpesan agar Soeharto tidak perlu menggerakan pasukannya memasuki Pangkalan Halim untuk mengejar pasukan G30S. Karena itu pasukan AD dari Yon 454/Raiders Kostrad yang berusaha memasuki Halim pada sore hari telah dihalau oleh PGT (Pasukan Gerak Tjepat)-AURI. Jika bersikeras masuk, di Pangkalan Halim hanya ada pasukan PGT-AURI, anggota Pangkalan, dan kru pesawat yang sedang dikonsinyasi. Setelah menitipkan pesan itu, Dani tertidur sehingga tidak sempat memeriksa isi radiogram. Siapa nyana, Leo menerjemahkan maksud Dani dengan pesan radiogram yang singkat, padat, dan tegas. “Jangan masuk Halim. Kalau masuk Halim akan dihadapi,” demikian bunyi radiogram yang dikirimkan Leo ke markas Kostrad. Pesan yang sama juga dikirimkan ke Komandan Wing 002 PAU Abdurachman Saleh, Kolonel (Pnb.) Pedet Soedarman di Malang. Soedarman menangkap sinyal “siaga” dan segera mengirimkan dua pesawat bomber B-25 beserta sejumlah pesawat pemburu ke Pangkalan Halim. Menurut Humaidi, sejarawan yang meneliti AURI periode 1960-an, pesan gertakan yang dibuat oleh Leo Wattimena menarik untuk dipertanyakan. Pada intinya, surat itu adalah perintah Omar Dani secara lisan yang kemudian diterjemahkan oleh Leo. “Leo menerjemahkan perintah Omar Dani dengan tidak tepat sasaran,” tulis Humadi dalam Dari Halim ke Nirbaya: Pasang Surut AURI Dalam Politik 1962-1966 . Pesan radiogram itu pada akhirnya sampai ke markas Kostrad. Soeharto yang panik segera memindahkan markas Kostrad ke bilangan Senayan kemudian Gandaria. Dalam otobiografinya  Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya , Soeharto mencatat peristiwa itu sebagai ancaman serius yang pernah dialaminya. Didubeskan ke Vatikan Alasan Leo menafsirkan perintah Omar Dani sedemikian rupa memang sulit dipahami. Tapi, secercah terang dapat ditemui bila mengetahui persis sosok Leo Wattimena sebenarnya. Semangat korsa Leo terhadap korpsnya, AURI sangat kental. Seperti diakui koleganya, Ashadi Tjahyadi, “ Spirit de corps-nya  tinggi. Leo selalu penuh dedikasi,” dalam Pahlawan Dirgantara: Peranan Mustang dalam Operasi Militer Indonesia  suntingan Soemakno Iswadi. Prahara G30S telah menyeret AURI jadi bulan-bulanan angkatan lain. Leo Wattimena tentu mafhum bahwa AURI berada dalam situasi kritis. Gelagat ini diperlihatkan Leo yang sangat tertutup dan tidak pernah bercerita kepada keluarga perihal tugas dan kedinasannya di AURI. Seperti saat Angkatan Darat hendak menyerang kawasan Halim pada 1965, Leo hanya mengatakan kepada keluarganya kalau Halim akan diserang Malaysia. Ketika itu memang Indonesia sedang berkonflik dengan negara federasi Malaysia. Namun sejatinya, Leo sangat marah menyaksikan AURI dipojokkan di sana-sini. Leo bahkan pernah berseru, “Kalau mereka hantam AURI saya akan hajar habis-habisan kalau perlu berjibaku dengan menabrakan pesawat!” Ketika rezim berganti, terjadilah “pembersihan” dalam tubuh AURI. Omar Dani bahkan dipenjara di Rumah Tahanan Nirbaya selama hampir 30 tahun. Leo sendiri ditugaskan ke Vatikan, Italia sebagai duta besar pada 1969. Di Vatikan, Leo bekerja dengan tekun. Seperti dicatat dalam riwayat hidup Leo Wattimena yang disusun Kapten Heri Susanto dari Dispen AU, Leo berupaya menonjolkan ciri khas Indonesia di kompleks kedutaan. Leo juga sering mengenalkan kesenian Indonesia di Italia dengan pentas seni keliling daerah di Italia.    Tetapi, dengan “pengasingannya” ke negeri seberang itu, sesungguhnya memendam luka dalam batin seorang Leo. Dia menjadi sangat terpukul karena harus berpisah dengan cinta pertamanya, yaitu pesawat tempur P-51 Mustang. Bagaikan hilang separuh jiwa, sebab Leo bercita-cita menjadi penerbang bukannya duta besar. Pada 1970, Salim Said berkunjung ke Italia dan bersua dengan Leo Wattimena. Waktu itu Leo masih berharap dapat ditempatkan di Departemen Pertahanan dan Keamanan begitu pulang dari Jakarta selepas jadi dubes. Begitulah keinginan Leo dalam perbincangannya dengan Salim Said.   “Tapi, bagi Soeharto dia sudah selesai,” kata Salim Said. Menepi untuk Selamanya Setelah 21 tahun mengabdikan diri di AURI, Leo mengajukan permohonan pengunduran diri pada 15 Agustus 1971. Pangkat terakhirnya marsekal muda (jenderal bintang dua AU). Selepas pensiun, Leo seperti kehilangan orientasi. Tidak banyak yang diketahui apa yang dilakoni oleh Leo setelah pensiun tapi dia sempat bekerja di perusahaan kabel. Hingga suatu ketika, Kepala Staf AU (KSAU) Marsekal Ashadi Tjahyadi (periode 1977-1982), bertemu dengan Leo secara tidak sengaja di bilangan Blok M, Jakarta. Ashadi kemudian meminta sahabatnya itu untuk menjadi penasihat ahli KSAU. Namun, Leo rupanya tidak sanggup lagi bekerja dengan maksimal. Kondisi fisiknya terus menurun lantaran menderita penyakit asma. Kemana-mana, Leo mulai memakai tongkat untuk menopang tubuhnya yang kian gontai dan lemah. Tubuh gagah Leo tampak mulai kurus. Ketika dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Leo nekat kabur dengan bajaj lantaran tidak betah diopname.         “Kalau saya meninggal rawat anak-anak dengan baik,” itulah pesan terakhir Leo kepada sang istri, Corrie Dingemans. Pada 18 April 1976, pilot legendaris AURI bernama lengkap Leonardus Willem Johannes Wattimena itu wafat dalam usia 47 tahun. Kepergiannya itu ibarat "penerbangan" yang terakhir. Sesuai pesannya, jenazah Leo dikebumikan dengan pakaian lengkap berwarna jingga, khas para pilot AURI saat akan melakukan aksi penerbangan. Leo dimakamkan berdampingan dengan pusara sahabatnya sesama legenda Tim Mustang AURI, Komodor Udara Ignatius Dewanto, di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.*

  • Doa Habib untuk Ratu Belanda

    “Kita doakan Habib Rizieq Allah panjangkan umurnya. Jadi mimpin insyaallah di Indonesia. Yang kedua Allah pendekkan umur Megawati dan Pak Jokowi. Al-Fatihah,” itulah doa Habib Idrus dalam acara Maulid Nabi Muhammad Saw. di markas Front Pembela Islam, Petamburan, Jakarta. Karuan doa ini jadi bahan debat publik. Sebab doa tersebut dianggap kurang pantas. Lebih dari seratus tahun lalu, seorang habib bernama Sayyid Usman bin Yahya juga pernah bikin geger karena doanya di Masjid Pekojan, Batavia, pada 2 September 1898. Dia mendoakan Ratu Wilhelmina panjang umur, sejahtera, dan sehat senantiasa. Dia juga berdoa semoga Kerajaan Belanda bersinar terang dan rakyat Hindia Belanda dikaruniai hasil bumi, perkebunan, dan tambang. Kemudian Habib Usman bin Yahya meminta pemerintah Hindia Belanda turut menyebarluaskan doa ini ke luar Batavia. “Ke antero Jawa, dan menurut Java-Bode  yang menurunkan berita tentang doa ini sehari setelahnya, juga sampai ke Madura,” ungkap Nico J.G. Kaptein dalam “The Sayyid and The Queen: Sayyid Uthman on Queen Wilhelmina’s Inauguration on the Throne of the Netherlands in 1898”, termuat di Journal of Islamic Studies , Volume 9, Nomor 2, 1998. Doa Habib Usman bin Yahya mendapat kecaman keras dari sejumlah umat Islam di Pekojan, Jawa, dan Singapura. “Terus-menerus menulis secara kotor dalam surat kabar berbahasa Arab. Mereka terus merusak nama baik Sayid Usman dengan surat selebaran khusus yang dicetak di Surabaya,” sebut Snouck Hurgronje dalam Nasihat-Nasihat Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Hindia Belanda Jilid IX. Doa Habib Usman bin Yahya untuk Ratu Belanda dalam bahasa Arab. (Nico J.G. Kaptein, Arnoud Vrolijk, dan Liesbeth Ouwehand dalam Sayyid 'Uthman of Batavia [1822-1914] A Life in the Service of Islam and the Colonial Administration ). Snouck membaca beberapa surat dan berita di surat kabar tentang keberatan sejumlah orang terhadap doa Habib Usman bin Yahya. Sebagian mereka menyebut Habib Usman bin Yahya “berlagak beragama di hadapan orang-orang seagama”. Lainnya mempertanyakan “kesalehan apa yang masih tersisa dari dirinya?” Aqib Suminto dalam Politik Islam Hindia Belanda mencatat, tak sedikit pula yang menyebut doa Habib Usman bin Yahya sebagai “Khutbah penjilat”. Habib Usman bin Yahya adalah ulama terkemuka di Batavia sepanjang abad ke-19. Dia lahir pada 2 Desember 1822. Dia mempelajari ilmu-ilmu agama meliputi fikih (hukum-hukum Islam), tasawuf, akhlak, tauhid, tata bahasa Arab, tafsir, dan hadis dari berbagai guru di Makkah, Madinah, Mesir, Aljazair, dan Istanbul.   Sepulangnya ke Batavia pada 1862, Habib Usman bin Yahya membuka pengajaran keagamaan kepada masyarakat. Namanya mulai kesohor. Berkat keluasan dan kedalaman ilmu fikihnya, dia mendapat gelar Mufti Betawi. Dia agak berat menerimanya lantaran merasa belum cukup mempunyai ilmu. Tapi karena banyak orang terus mendatanginya dan bertanya banyak kepadanya, dia menerima gelar itu. Dia beberapa kali mengeluarkan fatwa terkait masalah kehidupan sehari-hari masyarakat. Karena itu, Habib Usman bin Yahya juga mempunyai dasar ketika dia mendoakan Ratu Belanda.   Dalam fatwanya pada 24 September 1898, seperti dikutip dari Nico Kaptein, Habib Usman bin Yahya menyatakan doa kepada penguasa non-muslim diperbolehkan sepanjang penguasa tersebut mengizinkan dan menjamin umat muslim untuk menjalankan ibadahnya. Habib Usman bin Yahya juga menerangkan tugas Kerajaan Belanda dan pemerintah Hindia Belanda adalah menjaga kehidupan, harta benda, dan agama umat muslim di Hindia Belanda. Karena itu, doa untuk Kerajaan Belanda dan pemerintah Hindia Belanda dapat dipandang sebagai bentuk dukungan dan sarana spiritual untuk mewujudkan tugas itu. Habib Usman bin Yahya mengakui tidak mudah untuk membuat keputusan tersebut. Dia sadar posisinya sebagai mufti ibarat jembatan bagi dua pihak: umat muslim dan pemerintah Hindia Belanda. Dia menjembatani dua kepentingan berbeda dari dua kelompok itu. “Kadang menempatkan Sayid Usman dalam keadaan serba salah,” tulis Aqib Suminto. Poster berisi puisi pujian untuk Ratu Wilhelmina yang dibuat oleh anak Habib Usman bin Yahya dalam perayaan 25 tahun penobatan Ratu Wilhelmina pada 1923. Doa Habib Usman bin Yahya untuk Ratu Belanda dalam bahasa Arab. (Nico J.G. Kaptein, Arnoud Vrolijk, dan Liesbeth Ouwehand dalam Sayyid 'Uthman of Batavia [1822- 1914] A Life in the Service of Islam and the Colonial Administration ) Tapi di sisi lain, Habib Usman bin Yahya memandang posisinya memiliki peluang untuk membangun hubungan baik antara dua kelompok itu. Itu diperlukan untuk menjamin adanya kemakmuran bagi umat muslim di Hindia Belanda. Doa untuk Ratu pun sebenarnya bukan inisiatif Habib Usman bin Yahya. Permintaan atas doa tersebut datang dari F.W.M Hoogenstraaten, Residen Batavia. Tapi Snouck Hurgronje telah memperingatkan bahwa doa semacam itu tak perlu karena akan mengundang kasak-kusuk di kalangan umat muslim dan citra buruk bagi pemerintah Hindia Belanda. Habib Usman bin Yahya tak menggubris peringatan itu. Alasannya, “Kalau ia menolak memenuhi permintaan dari kepala daerah, akan menimbulkan kesan keliru padanya,” tulis Snouck, menirukan tanggapan Habib Usman bin Yahya. Pada akhirnya, peringatan Snouck terbukti benar. Umat muslim tak hanya menyerang Habib Usman bin Yahya, tapi juga pemerintah Hindia Belanda. “Doa tersebut telah mengakibatkan arus pernyataan-pernyataan yang menghina terhadap pemerintah Belanda,” sebut Snouck. Habib Usman bin Yahya tampil terdepan membela pemerintah Hindia Belanda. Dia menghadapi cercaan dan serangan itu dengan argumentasi yang berlandaskan ilmu agama. Tak semua orang menerimanya. Tapi tak sedikit pula yang membelanya. “Hukum shara sudah haruskan/ kepada raja kita doakan supaya umurnya Allah panjangkan/ kedua tetap kerajaan yan didudukkan; governemen juga punya kuasa/ yang diperintahkan kampung dan desa-desa.” Begitu syair dukungan bagi Habib Usman bin Yahya dari Abdullah al-Misri, penyair Palembang yang menetap di Kampung Petamburan pada 1898. Meski pernah melakukan hal kontroversial, nama Habib Usman bin Yahya tetap dihormati sebagai ulama terkemuka Betawi. Makamnya di Duren Sawit, Jakarta Timur, selalu penuh peziarah hingga hari ini.

  • Mata-mata CIA dari Indonesia Dieksekusi Mati di Korea Utara

    SALAH satu mata-mata perempuan terkenal di dunia adalah Mata Hari. Lahir di Belanda pada 7 Agustus 1876 dengan nama Margaretha Geertruida Zelle. Ayahnya Belanda, Adam Zelle, sedangkan ibunya keturunan Belanda-Jawa, Antje van der Meulen.

  • Umat Islam Indonesia di Mata Hasyim Asy'ari

    SELAMA sepekan terakhir, muslim Indonesia tengah menjadi sorotan publik karena berbagai hal. Mulai dari perselisihan antara artis Nikita Mirzani dengan seorang pemuka agama; dugaan penghinaan Ust. Maaher At-Thuwailibi terhadap Habib Luthfi Bin Yahya; polemik kedatangan Habib Rizieq Shihab; hingga isi ceramah tokoh Front Pembela Islam (FPI) itu saat memperingati maulid Nabi Muhammad Saw yang dianggap kurang pantas. Perihal ceramah Rizieq, banyak kalangan, termasuk pemuka agama yang menyayangkannya. Menurut mereka, acara peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW seharusnya diisi dengan hal-hal yang bermanfaat, seperti kisah-kisah seputar kenabian Rasulullah SAW, serta kebaikan-kebaikan yang perlu dicontoh oleh umatnya saat ini. Tidak malah menjadikannya ajang mengumbar kebencian. “Saya tadinya menyangka saat beliau sudah lama di tanah suci dan sekembali dari sana akan lebih menjaga lisan dan memelihara tutur kata,” ujar Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ace Hasan Syadzily seperti dikutip RRI. Berbagai peristiwa itu pun membuat publik bertanya-tanya tentang kondisi umat Islam Indonesia. Banyak yang menilai umat Muslim di Indonesia saat ini sedang dalam kondisi tidak baik. Namun kondisi serupa ternyata pernah juga terjadi pada paruh pertama abad ke-20. Kala itu, umat Islam Indonesia terpecah, terbagi ke dalam dua golongan: tradisionalis dan modernis. Keduanya memiliki keyakinan, serta pandangan akan ajaran Islam yang berbeda. Golongan tradisionalis masih mencampurkan urusan agama dengan kebiasaan-kebiasaan yang telah dilakukan secara turun-temurun. Ajaran Islam di kalangan ini didapat dari ulama-ulama terdahulu, yang telah berkembang sejak Islam pertama masuk ke Nusantara. Sementara golongan modernis mendapat pengaruh tokoh-tokoh dari Timur Tengah, seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan sebagainya. Kalangan itu memiliki pandangan baru, yakni Islam harus terbebas dari adat istiadat, sehingga kegiatan-kegiatan di luar Al-Qur’an dan sunah Rasul harus dihilangkan. “Pemikiran pembaharuan yang dipelopori oleh tokoh-tokoh di atas tentu sangat memengaruhi pemikiran umat Islam di Indonesia. Akan tetapi, tidak semua pemikiran tokoh-tokoh tersebut sesuai dengan kondisi masyarakat. Salah satu dampak yang dapat dilihat, yaitu banyaknya di antara kepercayaan dan amalan Muslim tradisional dianggap sebagai bid’ah . Tidak hanya itu, pengetahuan dan posisi kyai sebagai rujukan dalam prakti beragama juga dikritik,” ungkap Afriadi Putra dalam “Pemikiran Hadis KH. M. Hasyim Asy’ari dan Kontribusinya terhadap Kajian Hadis di Indonesia” dimuat Wawasan  Vol. 1 No. 1 Tahun 2016. Kyai Asy’ari sendiri dianggap sebagai salah seorang golongan Islam modernis paling awal di Indonesia. Dia mempelajari Islam di Mekah sejak 1893, dan mendapat kesempatan berguru kepada banyak ulama terkemuka di jazirah Arab. Pemikirannya tentang Islam dan kebebasan pun semakin terbuka. Sekembalinya dari Mekah, Kyai Asy’ari melakukan banyak pembaharuan terhadap ajaran Islam dan menggaungkan perjuangan melawan penjajahan. Berdakwah Melalui Kitab Kyai Asy’ari mempunyai metode berdakwah yang unik, yakni melalui penulisan kitab. Karena itu tidaklah aneh jika dia banyak  melahirkan karya kitab selama hidupnya. Sekira tahun 1920-an hingga 1930-an, Kyai Asy’ari menulis sebuah kitab bernama Risālah Ahl al-Sunnah wa al-Jamā’ah fi Hadith al Mawta wa Ashrat al-Sa’ah wa Bayan Mafhūm al-Sunnah wa al-Bid’ah . Kitab itu berisi hadis-hadis tentang kematian dan tanda-tanda hari kiamat, serta penjelasan tentang sunah dan bid’ah . Menurut Afriadi, kitab tersebut merupakan kunci untuk mempelajari pemikiran Kyai Asy’ari. Meski termasuk dalam golongan Islam modernis, Kyai Asy’ari tidak langsung menganggap ajaran tradsionalis salah atau bid’ah . Seperti diceritakan Lathiful Khuluk dalam Fajar Kebangunan Ulama: Biografi KH. Hasyim Asy’ari , disaat kaum modernis menilai pendirian madrasah sebagai bid’ah  karena tidak diajarkan, Kyai Asy’ari menilainya sebagai bid’ah yang baik dan dianjurkan. Maka melalui kitab Risālah Ahl al-Sunnah wa al-Jamā’ah , dan kitab-kitab lainnya ,  Kyai Asy’ari mencoba menjawab keberagaman dan perbedaan dalam ajaran yang dianut umat Muslim Indonesia kala itu. Di dalam kitab-kitab karyanya juga Kyai Asy’ari memberikan pandangan tentang ajaran-ajaran Sunah , yang tidak selamanya buruk bagi umat Islam di Indonesia. “KH. Hasyim Asy’ari mengatakan bahwa perbedaan pendapat di kalangan madzhab merupakan keuntungan bagi umat Islam dan tanda kebaikan Tuhan. Lebih lanjut, para sahabat Nabi pun mempunyai pendapat yang berbeda-beda mengenai masalah agama. Perbedaan di antara mereka tidak mengurangi kualitas mereka karena mereka masih dianggap sebagai generasi umat Islam terbaik. Para Rasul juga dikirim dengan dibekali berbagai macam hukum yang semuanya menuju ke tujuan yang sama,” tulis Khuluk. Menjaga Persatuan Umat Pada 1926, Kyai Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi itu menjadi jalan baginya untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran tentang ajaran Islam yang baik dan dapat diterima masyarakat Indonesia. Sejak pertama berdiri, NU dianggap sebagai wadah yang menyatukan kalangan modernis dan tradisionalis. Sebagaimana pendapat Kyai Asy’ari, imbuh Khuluk, yang dipakai sebagai dalil kaidah fiqh yang dipegang oleh NU: “menjaga tradisi yang baik, dan membangun inovasi yang lebih baik”. Dikisahkan Syaifruddin Jurdi dalam Kekuatan-Kekuatan Politik Indonesia , pada 1936, dalam kongres NU ke-11 di Banjarmasin, Kyai Asy’ari pernah menyampaikan pidato tentang kebersamaan di dalam keberagaman umat muslim Indonesia. Pada kesempatan itu dia meminta seluruh peserta kongres, yang datang dari berbagai kalangan, untuk mengesampingkan semua pertikaian dan perbedaan, serta membuang semua perasaan ta’assub (fanatik) dalam berpendapat. Kyai Asy’ari menyerukan kalangan tradisional dan modernis untuk bersatu demi kekuatan Islam yang solid. Pada kesempatan lain, Kyai Asy’ari juga mengingatkan agar umat Islam bersikap toleran terhadap pendapat orang lain, dan tidak menganggap pendapat pribadi yang paling benar. Hal itu semata dilakukan untuk menjaga tali persaudaraan antar umat muslim. Juga demi terciptanya kebaikan, serta menghindarkan diri dari kehancuran. “Jadi, kesamaan dan keserasian pendapat mengenai penyelesaian beberapa masalah adalah prasyarat terciptanya kemakmuran. Ini juga akan dapat mengokohkan rasa kasih sayang. Adanya persatuan dan kesatuan telah menghasilkan kebajikan dan keberhasilan. Persatuan juga telah mendorong kesejahteraan negara, peningkatan status rakyat, kemajuan dan kekuatan pemerintah, serta telah terbukti sebagai alat untuk mencapai kesempurnaan,” ujar Kyai Asy’ari seperti dikutip Khuluk. Kyai Hasyim Asy’ari dilahirkan pada 14 Februari 1871 di Desa Gedang, Jombang, Jawa Timur. Dia berasal dari keluarga pesantren dengan ajaran Islam yang kuat sejak kecil. Ayahnya, Kyai Asy’ari adalah pendiri pesantren Keras. Sementara kakeknya, kyai Usman adalah pendiri pesantren Gedang di Jombang. Hasyim Asy’ari sendiri mendirikan pesantren Tebuireng di Jombang pada 1899 dan merupakan ayah dari Wahid Hasyim, sekaligus kakek Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dia wafat pada 25 Juli 1947.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page